Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah. Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantuntan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah serta diisi pula dengan ceramah agama. [al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin, Juz II, hal 364]

Peringatan maulid Nabi seperti gambaran di atas tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid`ah pelaku perayaan maulid. Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shaleh yang dianjurkan agama, mestinya generasi salaf lebih peka, mengerti dan juga menyelenggarakannya. [Ibn Taimiyah, Fatawa Kubra, Juz IV, hal 414].

Oleh karena itulah, penting kiranya untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan tanggapan terhadap yang membid`ahkan.

Bukan Bid`ah yang Dilarang

Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid`ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid`ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini,

وإيَّاكم ومحدثات الأمور؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Artinya: Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setipa bid`ah adalah sesat”. [HR. Ahmad No 17184].

Pemahaman Hadits ini bisa salah apabila tidak dikaitkan dengan Hadits yang lain, yaitu,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya:Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak. [HR al-Bukhori No 2697]

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena kreasi dalam masalah dunia diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Sedangkan kreasi apapun dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama, hal 177]

Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut,

“Barang siapa berkereasi dengan memasukkan sesuatu yang sesungguhnya bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak”

Dapat dipahami bahwa bid`ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid`ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan. Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya. Padahal perayaan maulid hanyalah merupakan format, sedangkan hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun Hadits.

Dan lafadz كل pada hadits tentang bid`ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya di takhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَي

Artinya:  Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (QS al-Anbiya’: 30)

Kata segala sesuatu pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini tecipta dari air, tetapi harus diartikan sebagian benda yang ada di bumi ini tercipta dari air. Sebab ada benda-benda lain yang diciptakan tidak dari air, namun dari api, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار

Artinya: Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala. Oleh karena itulah, tidak semua bid`ah dihukumi sesat dan pelakunya masuk neraka. Bid`ah yang sesat adalah bid`ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Adapun perayaan maulid Nabi tidaklah termasuk bid`ah yang sesat dan dilarang karena yang baru hanyalah format dan instrumennya. Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً” وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.

“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:

وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاعَ لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخَيْرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِاَفْرِادِهَا.

Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Oleh karena itulah, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid`ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala.

Dalil-dalil Syar`i Perayaan Maulid Nabi Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian Ulama` adalah firman Allah:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58) Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat diantara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda. Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang dimaksud dengan الفضل adalah ilmu, sedangkan الرحمة adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi SAW ialah karena adanya isyarat firman Allah SWT yaitu,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Ambiya’:107).”[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, Juz 11, hal. 186]

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, hal 6-7]

Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, Juz 11, hal 431]

Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, Juz 7, hal 9, Syi`bul Iman, Juz 1, hal 443].

Ahmad Muzakki, Santri Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Situbondo

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/73506/maulid-nabi-perspektif-al-quran-dan-sunnah
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad

Bulan Rabiul Awal ini merupakan bulan yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa?, pada bulan tersebut manusia terbaik, hamba Allah dan utusan Allah termulia dilahirkan di dunia. Pada 1400 abad yang lalu, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah Radliya Allahu ‘anhuma.  

Setiap tahun hari kelahirannya dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Berbagai acara mulai di tingkat desa hingga istana negara menyelenggarakan perayaan maulid. Lantas bagaimana pendapat para ulama’ 4 madzhab mengenai tradisi perayaan maulid tersebut? Berikut ini kami rangkum beberapa statemen ulama’ mengenai tradisi tahunan tersebut.  

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ  

“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.  

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ  

“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.  

Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan:  

اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِيْ وُلِدَ فِيْهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  

“Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”.   Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt. Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:   مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَحَلٍّ أَوْ مَسْجِدٍ قُرِئَ  فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ أَهْلَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ   “Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridloan”.  

Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan:  

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  

“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.  

Bahkan merayakan maulid Nabi bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang terdapat banyak kemunkaran. Al-Syaikh al-Mubasyir al-Tharazi menegaskan:  

إِنَّ الْاِحْتِفَالَ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ أَصْبَحَ وَاجِبَا أَسَاسِيًّا لِمُوَاجَهَةِ مَا اسْتُجِدَّ مِنَ الْاِحْتِفَالَاتِ الضَّارَّةِ فِيْ هَذِهِ الْأَيَّامِ.  

“Sesungguhnya perayaan maulid Nabi menjadi wajib yang bersifat siyasat untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang membahayakan pada hari ini”.  

Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi merayakan maulid Nabi Saw merupakan bid’ah yang baik (disunahkan), meski tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi Saw, karena di dalamnya terdapat sisi mengagungkan dan kecintaan kepada Rasulullah Saw.  

Bahkan, hukum merayakan maulid bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang paling efektif untuk mengimbangi acara-acara yang membahayakan moral bangsa. (M. Mubasysyarum Bih)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/84116/penjelasan-para-ulama-tentang-maulid-nabi-muhammad
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Mengenal Rasulullah saw Melalui Ayat Suci Al-Qur’an

Sebelum memulai tulisan kali ini, kami dari Khazanah Al-Qur’an mengucapkan selamat berbahagia kepada seluruh umat Muhammad atas lahirnya Manusia Termulia, penutup para Nabi, Baginda Muhammad saw. Kita semua tau bahwa nama Muhammad saw adalah nama yang paling terkenal di segala penjuru langit dan bumi, namun dibalik kemasyhuran namanya, sulit untuk menjangkau keagungan dan kemuliaannya. Kita hanya mampu mengambil penggalan demi penggalan kemuliaannya melalui kabar dari Penciptanya, dari orang-orang terdekatnya atau dari lisan sucinya sendiri.

Hari ini kita akan memulai untuk mengenal beliau lebih dalam melalui ayat-ayat suci Al-Qur’an, melalui Dzat yang paling mengenalnya, tiada lain adalah Allah Robbul Alamin.

1. Muhammad saw adalah penutup para Nabi.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” (QS.Al-Ahzab:40)

2. Dia adalah Rasul yang diutus untuk seluruh manusia.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua. (QS.Al-A’raf:158)

3. Dia adalah Rasul yang diutus untuk memberi rahmat bagi seluruh alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS.Al-Anbiya’:107)

4. Dia adalah Rasul yang misinya Dijamin dan Dijaga langsung oleh Allah swt.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang Menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang Memeliharanya.” (QS.Al-Hijr:9)

5. Dia adalah Rasul yang tak pernah berbicara kecuali wahyu.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS.An-Najm:3)

6. Dia adalah Rasul yang Allah pernah Bersumpah demi kehidupannya.

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

(Allah Berfirman), “Demi umurmu (Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (QS.Al-Hijr:72)

7. Dia adalah Rasul yang umatnya Dilarang oleh Allah untuk memanggil namanya secara langsung atau tanpa penghormatan.

لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضاً

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (QS.An-Nur:63)

وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ

“Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. (QS.Al-Hujurat:2)

8. Dia adalah Rasul yang Allah dan para Malaikat pun bersalawat kepadanya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS.Al-Ahzab:56)

9. Dia adalah Rasul yang Allah Memberinya gelar dengan Nama-Nya (Rouf dan Rohim.)

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, pengasih dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS.At-Taubah:128)

إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh, Tuhan-mu Maha Pengasih, Maha Penyayang” (An-Nahl:7)

10. Dia adalah Rasul yang perangainya Dipuji oleh Allah swt.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS.Al-Qalam:4)

11. Dia adalah Rasul yang meraih kesempurnaan hingga menjadi suri tauladan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ –

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat” (QS.Al-Ahzab:21)

12. Dia adalah Rasul yang ketaatan kepadanya disamakan dengan ketaatan kepada Allah swt.

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ

“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS.An-Nisa’:80)

13. Dia adalah Rasul yang menjadi saksi para nabi di Hari Kiamat.

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَـؤُلاء شَهِيداً

“Dan bagaimanakah jika Kami Mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami Mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS.An-Nisa:41)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيداً عَلَى هَـؤُلاء

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami Bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami Datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka.” (QS.An-Nahl:89)

14. Dia adalah Rasul yang memiliki kedudukan tertinggi.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu Mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS.Al-Isra’:79)

15. Dia adalah Rasul yang keberadaannya menjadikan umat manusia aman dari adzab yang menyeluruh.

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS.Al-Anfal:23)

16. Dia adalah Rasul yang Allah Ingin Menjadikan dirinya rela.

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

“Dan sungguh, kelak Tuhan-mu pasti Memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS.Adh-Dhuha:5)

17. Dia adalah Rasul yang hampir membinasakan dirinya karena kecintaannya pada umatnya.

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman.” (QS.Asy-Syuara’:3)

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS.Fathir:8)

Inilah ayat-ayat yang berbicara tentang Rasulullah saw. Tentu masih banyak lagi ayat yang membicarakan tentang beliau dan akan kita temukan dalam artikel-artikel selanjutnya.

Selamat menyambut bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw, semoga kita mendapat syafaatnya kelak di Hari yang tiada penolong selain syafaatnya.

Khusus di bulan maulid ini, Khazanah Al-Qur’an akan fokus untuk menyajikan kajian tentang Nabi Muhammad saw. Semoga dapat menambah kecintaan kita kepada beliau.

KHAZANAH ALQURAN

Maulid Nabi Momentum Tingkatkan Toleransi

Mubaligh-mubalighah di acara maulid Nabi diimbau memotivasi umat agar sukai sains.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW jangan hanya dijadikan sebagai seremonial. Umat Islam diingatkan untuk menjadikan peringatan maulid Nabi setiap 12 Rabiul Awal sebagai momen meneladani Rasulullah.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masduki mengatakan, inspirasi terbesar dari Rasulullah yang konteksnya pas untuk Indonesia adalah tasamuh atau toleransi. Karena Indonesia sangat majemuk, kata dia, maka sangat tepat untuk mengembangkan tasamuh yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah.

“Islam adalah agama yang tasamuh, Rasulullah juga menyampaikan agama (Islam) adalah agama yang toleransi,” kata KH Masduki kepada Republika, Kamis (7/10).

Ia mengatakan, tasamuh artinya toleran terhadap hal-hal yang tidak mengganggu prinsip dasar ajaran agama Islam. Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk bisa bertasamuh dengan siapa pun. KH Masduki menambahkan, Nabi Muhammad SAW bisa bertasamuh dengan orang lain yang tidak sama keyakinannya.

“Ketika Rasulullah mendirikan Negara Madinah, misalnya, salah satu prinsip dasar Negara Madinah yang dibuat Rasulullah adalah tasamuh, jadi ada persamaan hak antara orang Islam dan orang beragama lain yang ada di Madinah,” ujarnya.

Ia menerangkan, semua warga Madinah mendapatkan hak yang sama. Umat Islam tidak mempersoalkan mayoritas dan minoritas. Karena itu, para sejarawan menyebut konsep Negara Madinah adalah konsep negara paling modern hingga saat ini. Dahulu, kata dia, orang-orang belum memikirkan persamaan hak, tapi Rasulullah sudah mempraktikkannya.

PBNU juga mengimbau kepada para mubaligh dan mubalighah yang diundang ke acara maulid Nabi supaya memotivasi umat Islam agar menyukai sains. Menurut dia, hal ini penting agar umat Islam memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap sains. “Karena kita umat Islam (Indonesia) tertinggal dalam bidang ilmu sains dari bangsa-bangsa lain,” ujar KH Masduki.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, ada perbedaan pendapat tentang maulid Nabi di kalangan umat Islam. Namun, perbedaan pendapat itu tetap harus saling dihormati. Ia mengatakan, ada hikmah di balik peringatan maulid Nabi, yaitu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah.

“(Nabi Muhammad SAW) adalah sosok yang akan kita tiru dan kita teladani, baik dalam hal yang berhubungan dengan akidahnya, ibadahnya, akhlaknya dan muamalahnya,” kata Anwar kepada Republika, Kamis (7/11).

Ia menerangkan, salah satu hikmah Maulid Nabi adalah umat Islam bisa meneladan cara berpikir, berbicara dan perilaku Nabi. Anwar menjelaskan, hidup pada zaman Nabi memang berbeda dengan saat ini. Namun, tapi hal-hal yang sudah ada ketetapannya yang jelas dalam Alquran dan sunah tidak boleh diubah.

Ia mencontohkan, pada zaman Nabi belum ada bank, pasar modal, dan asuransi. Namun, Rasulullah telah mengajarkan nilai-nilainya sejak dulu, seperti melarang manusia terlibat dalam praktik riba. Umat Islam juga dilarang terlibat dalam praktik tipu-tipu, perjudian, serta berbohong. “Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah itu harus dibawa ke dalam kehidupan dan transaksi bisnis,” kata Anwar.

Karena bisnis bank dan sejenisnya belum ada pada zaman Nabi, kata dia, maka para ulama melakukan ijtihad. Di Indonesia, ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah melakukan ijtihad dan mengeluarkan fatwa. “Sehingga ada ada fatwa yang berhubungan dengan produk-produk bank syariah, ada fatwa yang berhubungan dengan produk asuransi syariah, ada fatwa yang berhubungan dengan pasar modal dan rumah sakit syariah,” ujarnya.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen Umar bin Sumaith juga mengajak umat Islam meneladan akhlak mulia Rasulullah. Ia berpesan agar peringatan maulid Nabi tak sebatas seremonial.

“Bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah perlu diteguhkan, perlu diekspresikan dalam bentuk kecintaan yang tidak hanya dalam bentuk seremonial, tetapi meneladan akhlaknya,” kata Habi Zen saat berbincang dengan Republika, Kamis (7/11).

Habib Zen mengatakan, seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah, harus mencontoh akhlak mulia Rasulullah. Ia menambahkan, perayaan maulid harus dapat mengubah perilaku umat yang memperingatinya. Misalnya, kata dia, dari yang tadinya berperilaku tidak baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi makin baik.

Menurut dia, sah-sah saja peringatan maulid Nabi dilaksanakan sebagai ekspresi kecintaan dan kegembiraan. Namun, hal itu dianggap tidak cukup. Umat Islam juga harus bisa berdakwah sesuai ajaran Rasulullah.

“Kalau misalnya dakwah Rasulullah itu bisa melunakkan semua hati-hati yang keras, kita pun harus bisa seperti itu. Itu di antaranya pesan yang harus dijalankan oleh setiap Muslim,” katanya.

Habib Zen menambahkan, umat Islam juga harus meneladan bagaimana Rasulullah menjalin hubungan dengan sesama Muslim dan non-Muslim. Karena, kata Habib Zen, pada zaman Rasulullah, agama yang dianut di antaranya ada Yahudi, Nasrani, dan agama selain Islam.

Ia mengatakan, Nabi Muhammad pada saat itu memperlakukan non-Muslim dengan baik. “Oleh karena itu, semua orang yang berada di Madinah saat itu sangat nyaman dan terlindungi baik, di kalangan Muslim dan non-Muslim,” katanya.

KHAZANAH REPUBLIKA


Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap dan Cerita Orang-orang yang Merayakannya

Peringatan maulid Nabi saw, yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, masih menyisakan banyak pertanyaan. Penentuan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari ulang tahun kelahiran Nabi Saw adalah hal yang masih samar.

Peringatan maulid Nabi saw, yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, masih menyisakan banyak pertanyaan. Penentuan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari ulang tahun kelahiran Nabi Saw adalah hal yang masih samar.

Kesamaran sejarah tersebut berangkat dari sejarah kalender dalam Islam. Keinginan untuk mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw sendiri baru muncul pada masa khalifah Umar bin Khattab, tepatnya pada tahun 638-an Masehi (22-32 H).

Ketika itu, khalifah Umar ingin menjadikan penanggalan Hijriyah sebagai sistem penanggalan resmi pemerintahan Islam pada masanya. Namun, berbagai pendapat pun muncul untuk menetapkan dasar awal dimulainya kalender resmi itu.

Para sahabat menemukan kesulitan ketika muncul gagasan untuk menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai patokan awal sistem penanggalan Hijriyah. Sebab tidak satupun di antara mereka yang tahu persis kapan dan tanggal berapa Nabi dilahirkan.

Di samping itu, tradisi orang Arab saat itu juga tidak terbiasa mencatat sejarah mereka dengan tulisan kerena kebiasaan menulis merupakan satu hal yang baru pada zaman itu. Mereka juga tidak terbiasa dengan hisab tahun, meski beberapa nama-nama bulan dalam kalender hijriyah saat itu telah dikenal.

Meski demikian mereka biasa mengingat sejarah dengan peristiwa-peristiwa besar, seperti penyerangan Ka’bah oleh tentara bergajah yang dipipin oleh Abrahah yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut diperkirakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi.

Mengenai asal-usul peringatan maulid ini, seorang pengkaji Islam dari Universitas Leiden Belanda, Noco Kptein telah memaparkan dalam disertasinya tentang Maulid Nabi saw. Dalam disertasi tersebut dipaparkan bahwa peringatan maulid ini pertama kali dilakukan pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir, tepatnya pada masa pemerintahan al-Mu’izz li Dinillah yang berkuasa pada pertengahan bad X Masehi (953-975 M), atau empat abad setelah Nabi saw wafat. Terkait kitab yang menjadi rujukannya adalah Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawiy karya al-Imam al-Sandubi.

Al-Mu’izz li Dinillah adalah seorang penguasa yang beraliran Syiah. Ia cenderung menjadikan Maulid sebagai alat untuk mencapai kepentingan legitimasi politik. Mereka ingin menguatkan diri dengan memiliki kaitan silsilah dengan Nabi Muhammad saw.

Di kalangan Sunni, berdasrkan catatan pakar sejarah, peringatan maulid pertama kali digelar oleh penguasa Suriah, Sultan Attabiq Nuruddin (w. 575 H). Pada masa itu, Maulid dilaksanakan pada malam hari yang diisi dengan pembacaan syair-syair yang berisi pemujaan terhadap raja (ode) dan sangat kental nuansa politiknya. Peringatan Maulid pernah dilarang pada masa pemerintahan al-Afdhal Amirul Juyusy, karena dianggap sebagai bid’ah yang terlarang.

Kemudian pada masa sultan Salahuddin al-Ayyubi, tradisi ini dihidupkan kembali. Bagi sebagian kalangan, Sultan Salahuddin al-Ayyubi adalah orang pertama yang mengadakan perayaan maulid nabi. Hal ini bisa benar jika yang dimaksud adalah yang pertama, yaitu menghidupkan kembali tradisi yang telah mati dan sama sekali bukan untuk kepentingan politik.

Selain itu, peringatan maulid ini juga dilakukan untuk membakar semangat juang umat Islam yang sedang terlibat dalam perang Salib melawan bangsa-bangsa Eropa (Perancis, Jerman, dan Inggris.) Pada waktu itu, Yerussalem dan Masjid al-Aqsha dikuasai oleh musuh, tetapi umat Islam banyak yang kehilangan semangat juang. Pasukan Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok politik kecil, sementara kekhalifahan hanyalah dianggap sebagai jabatan simbolik saja.

Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang melihat kedaan tersebut menilai bahwa peringatan maulid Nabi saw akan mampu membangkitkan kembali semangat juang umat Islam. Hal ini karena dalam peringatan tersebut diungkapkan betapa gigihnya perjuangan Rasulullah Saw dan para sahabat dalam menghadapi berbagai serangan kaum kafir.

Pada musim haji tahun 579 H (1183 M), Sultan Salahuddin menginstruksikan kepada seluruh jamaah haji agar sepulang dari menunaikan ibadah haji, mereka memperingati Maulid Nabi setiap tanggal 12 Rabiul Awal melalui berbagai macam kegiatan yang mampu membangkitkan semangat jihad pasukan Islam.

Pada peringatan maulid tahun itu, Sultan Shalahuddin mengadakan sayembara penulisan riwayat Nabi saw dengan menggunakan bahasa yang paling indah. Para ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti sayembara tersebut. Akhirnya Syeikh Ja’far al-Barzanji lah yang berhasil memenangkan sayembara tersebut dengan karyanya yang berjudul ‘Iqd al-Jawahir (kalung permata). Kemudian karya tersebut lebih dikenal dengan kitab al-Barzanji. Kitab inilah yang populer dipakai ketika peringatan maulid Nabi saw, termasuk di Indonesia.

Pada akhirnya, perjuangan Sultan Salahuddin menunjukkan hasil positif, semangat umat Islam pun kembali bangkit. Sultan berhasil menghimpun berbagai kekuatan yang sebelumnya sempat lumpuh. Karenanya, pada 1187 M, atau empat tahun pasca-peringatan ini, Yerussalem dapat direbut kembali dan masjid al-Aqsha pun dapat dibebaskan dari cengkeraman musuh. Sultan Salahuddin membantah klaim yang menyatakan bahwa peringatan maulid adalah bid’ah yang terlarang, karena peringatan ini adalah untuk syi’ar, bukan untuk ritual.

Al-Imam al-Suyuti dalam al-Hawi li al-Fatawa, menyebutkan bahwa gagasan menghidupkan kembali perngatan maulid ini bukan semata-mata dari gagasan Sultan Salahuddin, melainkan usulan dari saudara iparnya, Muzhaffaruddin di Irbil, Irak Utara. Muzhaffaruddin memperingati maulid untuk mengimbangi maraknya perayaan Natal yang dilakukan oleh kaum Nasrani di daerah kekuasaannya.

Pada mulanya, ia mengadakan perayaan ini hanya berskala lokal istana saja dan tidak rutin setiap tahun. Namun kemudian, Sultan Salahuddin menjadikannya sebagai gerakan global untuk membangkitkan semangat juang Muslimin dalam menghadapi tentara Salib.

Mencermati kembali sejarah peringatan Maulid Nabi, menarik kiranya jika semangat Maulid tidak hanya dijadikan sebagai budaya atau tradisi biasa, melainkan harus kembalikan sebagai media syi’ar dan pemersatu umat, dan pembangkit semangat juang umat Islam. Dengan demikian, maulid dapat menjadi media konsolidasi umat Islam.

Wallahu a’lam.

ISLAMI.co

Budaya Berumrah Menziarahi Nabi Pada Peringatan Maulid

Perayaan Maulid Nabi, yakni memperingati kelahiran Nabi Muuhammad SAWA suci pada 12 Rabiul Awwal memang menjadi penyebab banyaknya Muslim di Asa —termasuk India— berberkeinginan untuk melakukan umrah di bulan tersebut.
Dan memang Nabi Muhammad SAW tidak pernah mendorong perayaan kelahirannya. Sikap yang sama juga dilakukan para sahabatnya. Namun, peringatan perayaan Maulid kini telah meluas dan menjadi tradisi di berbagai negara. Bahkan Maulid telah menjadi sebuah adalah festival Muslim paling populer di sebagian besar dunia setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Penerbangan dari sebagian besar kota di Asia Selatan ke Jeddah padat sementara ribuan orang telah menunggu kursi pemesanan tiket umrah untuk Mild-u-Nabi, keberbagai biro perjalanan.

Menariknya lagi, bila orang-orang tersebut yang tidak bisa sampai ke Madinah sebelum tanggal 12 Rabiul Awal, mereka akan merasa puas dengan menghabiskan beberapa hari yang tersisa di kota nabi tersebut. Rabiul Awal adalah bulan yang paling disukai bagi peziarah umrah, terutama orang Asia Selatan, setelah bulan suci Ramadhan.

Banyak orang dari negara itu telah tiba di Makkah dan Madinah jauh-jauh hari sebelum hari perayaaan Maulid tiba.“Secara berkelompok mereka merayakan hari Mualid di kota-kota suci tersebut,’’ kata seorang biro tiur asal negara di belahan Asia Selatan.

Karena tingginya permintaan, semua maskapai besar di India menaikkan harga tiketnya penerbangannya ke Jeddah. Tahun sebelumnya, paket Umrah yang biasanya hanya 32.000 rupee India dari negara-negara selatan, sekarang naik secara drastis menjadi  di atas 55.000 rupee.

“Ada peziarah yang bersedia menanggung dua kali lipat biaya untuk paket Umrah di depan Rabiul Awwal 12,” kata Mohammed Masrat  dari Al-Quba Travel di Hyderabad, India.

“Kami biasanya menagih 65.000 rupee Pakistan untuk paket Umrah dari Lahore, namun karena harga terburu-buru saat ini melonjak menjadi 85.000 rupee,” kata Irfan Malik dari Bukhari Travels, agen perjalanan terkemuka di Lahore, kepada Saudi Gazette melalui telepon.

Oleh: Muhammad Subarkah

IHRAM

Mengapa Tahun Kelahiran Rasulullah Disebut Tahun Gajah?

Menjelang kelahiran Nabi Muhammad shalallahu alahi wassalam, Kabah masuk target penghancuran tentara Raja Abrahah dari Yaman. Peristiwa itu terjadi sekitar 571 masehi, sehingga tahun kelahiran Rasulullah disebut Tahun Gajah. Pertanyaannya, siapa sebenarnya Raja Abrahah, dan mengapa ia ingin menghancurkan Ka’bah?

Raja Abrahah atau Abrahah Al Arsyam mulanya hanya seorang kepala tentara di wilayah Yaman. Wilayah yang dipimpin seorang Gubernur Kerajaan Habasyah, Aryath. Aryath merupakan gubernur pertama di negeri itu yakni pada 535 masehi pascaditaklukannya Himyariyah, sebuah kerajaan yang menguasai Yaman beratus-ratus tahun sebelumnya. Sedang Kerajaan Habsyah sendiri berada di Abissinia, Ethiopia dan diperintah Negus (Najasyi) yang berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi dengan kaisarnya bernama Justin I.

Namun tak lama setelah raja Negus menunjuk dan menempatkan Aryath sebagai guberur di Yaman, terjadilah perselisihan. Abrahah membunuh Aryath dan menguasai seluruh bala tentara negeri Yaman.

Raja Negus mulanya tak membenarkan tindakan Abrahah, bahkan memberikan teguran keras kepada Abrahah. Meski demikian, Abrahah berhasil meluluhkan hati Raja Negus hingga memaafkannya. Negus pun mengesahkan Abrahah sebagai gubernur kerajaan Habasyah di Yaman.

Menyaingi Mekkah

Pada masa itu bangsa Arab dari berbagai penjuru pada bulan-bulan tertentu berbondong-bondong mendatangi Makkah untuk melaksanakan haji, membesarkan Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim. Sebagai gubernur Habasyah, Abrahah mempunyai hasrat untuk menyaingi Mekkah. Ia ingin orang-orang dari berbagai penjuru jazirah Arab tak lagi naik haji dan berjiarah ke Mekkah, melainkan diganti ke Yaman.

Untuk menunaikan keinginannya itu, Abrahah pun meminta bantuan kepada kekaisaran Romawi mengirimkan tenaga kerja terampil di bidang pembuatan mozaik untuk sebuah bangunan. Abrahah pun membangun sebuah gereja besar dan menjulang tinggi di Kota San’a. Gereja bernama Al Qullais (menjulang tinggi) itu menjadi ikon San’a dan merupakan satu-satunya gereja yang paling megah saat itu.

Setelah rampung, Abrahah pun mengumumkan keberadaan Al Qullais di San’a kepada orang-orang di berbagai penjuru jazirah Arab. Ia mengajak orang-orang Arab mengerjakan haji di Yaman dan meninggalkan Ka’bah. Kabar itu pun cepat tersebar dan menjadi buah bibir di kalangan bangsa Arab.

Kabar itu juga didengar keturunan dari Bani Kinanah, sebuah kabilah besar bangsa Arab yang berdiam di Mekkah. Dari Bani Kinanah inilah diturunkan banyak suku, termasuk Bani Quraisy yang merupakan suku asal Nabi Muhammad shalallahu alahi wassalam. Hingga kemudian salah seorang dari Bani Kinanah itu mendatangi Kota San’a di Yaman. Secara diam-diam, orang dari Bani Kinananah itu masuk ke Al Qullais dan melakukan pengerusakan.

Mengetahui kejadian itu Abrahah pun murka. Abrahah pun mendapatkan laporan yang melakukan pengerusakan Al Qullais adalah seorang Arab yang tinggal tak jauh dari Ka’bah. Peristiwa itu membuat Abrahah semakin membenci keberadaan Ka’bah dan berniat menghancurkannya. Meski demikian, terkait pemicu penyerangan Ka’bah ini terdapat sejumlah riwayat yang berbeda.

Dr Jawad Ali dalam Sejarah Arab sebelum Islam menuliskan sejumlah latar belakang yang menjadi pemicu terjadinya serangan ke Mekkah. Misalnya Al Qurtbi yang berkata kebakaran Al Qullais menjadi alasannya karena beberapa orang Quraisy yang pergi ke wilayah Najasyi menyalakan api untuk memasak dan lupa mematikannya. Api tersebut kemudian membakar Al Qullais.

Sebagian riwayat lain menyebutkan penyerangan ke Ka’bah dimulai dari penjarahan pasukan Abrahah di Thaif. Orang-orang Thaif yang tertindas menunjukan Ka’bah sebagai bangunan yang paling dihormati, orang yang bisa menaklukannya maka sempurnalah kekuasaannya.

Upaya Meruntuhkan Ka’bah

Setelah pengerusakan Al Qullais, Abrahah memerintahkan pasukannya ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia juga membawa 15 ekor gajah dalam rencana serangannya itu.

“Maka laskar ini disebut Tentara Bergajah dan tahun terjadinya peritiwa penyerbuan Abrahah ke Mekkah untuk merobohkan Ka’bah disebut tahun gajah (Amul Fiil),” tulis Prof Mukhtar Yahya dalam Perpindahan-Perpindahan Kekuasaan Di Timur Tengah.

Dalam perjalananya ke Mekkah, pasukan Abrahah kerap mendapat hadangan dari orang-orang yang tak sepakat dengan rencananya menghancurkan Ka’bah. Kendati demikian, pasukan Abrahah bisa melaluinya.

Setibanya di Thaif, rombongan pasukannya pun berhenti. Abrahah memerintahkan anak buahnya bernama Al Aswad bin Maqshud untuk terlebih dulu membuat kekacauan dengan merampas harta dan binatang ternak kepunyaan penduduk Mekkah. Abdul Muthalib Ibnu Hasyim (Kakek Nabi Muhammad) menjadi salah satu korbannya. Sebanyak 200 ekor unta milik Abdul Muthalib dirampas Abrahah.

Sesampainya di Mugammas, Abrahah memerintahkan anak buahnya bernama Hanathah Al Himyari mencari tahu pemuka atau tokoh Kota Mekkah. Anak buah Abrahah itu pun menemui Abdul Muthalib setelah memperoleh informasi bahwa Abdul Muthalim merupakan seorang pemimpin dan tokoh di kota Mekkah kala itu.

Kepada Abul Muthalib, anak buah Abrahah itu pun menyampaikan maksud tujuan kedatangan rombongan Raja Abrahah ke Mekkah, yakni bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah. Kemudian Abdul Muthlib pun dibawa untuk bertemu dengan Abrahah. Saat bertemu Abrahah, Abdul Muthalib meminta harta dan unta-unta kepunyaannya yang dirampas dikembalikan.

Abdul Muthalib tak gentar dengan ancaman Abrahah yang berniat menghancurkan Ka’bah. Meski penduduk Mekkah tak mempunyai daya untuk melawan kekuatan pasukan Abrahah, Abdul Muthalib meyakini Ka’bah dalam perlindungan Allah.

Setelah bertemu dengan Abrahah, Abdul Muthalib mengunjungi Ka’bah untuk berdoa. Setelah itu ia memerintahkan penduduk Kota Mekkah pergi dan mencari tempat berlindung.

Sementara pasukan Abrahah pun bergerak menuju Mekkah. Sesampainya di pintu Kota Mekkah. Abrahah mengerahkan gajah-gajah yang dibawanya untuk masuk ke dalam kota itu. Meski demikian, gajah-gajah itu tak mematuhi perintah pasukan-pasukan Abrahah. Gajah-gajah yang dibawanya hanya duduk dan berputar-putar dan kembali ke tempat semua.

Di tengah kebingungannya, berbondong-bondong burung (ababil) datang ke arah pasukan Abrahah. Burung-burung itu kemudian menjatuhkan batu-batu yang dibawanya. Pasukan Abrahah pun panik apalagi dengan penyakit cacar yang datang tiba-tiba. Seketika, pasukan Abrahah pun berguguran.

Sementara Abrahah berhasil kembali ke San’a Yaman. Kendati demikian, Abrahah pun mati dengan kondisinya yang lebih parah dari pasukan-pasukannya. Abrahah meninggalkan dua anak bernama Yaksum dan Marsuq.

Setelah kejadian itu, Mekkah mengalami perubahan cuaca. Mekkah diguyur hujan lebat hingga menyebabkan banjir. Banjir itu pun membawa hanyur mayat-mayat pasukan Abrahah ke laut. “Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong (3) yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar (4) sehingga mereka dijadikannya seperti daun-daun yang dimakan ulat (5),” Alquran Surah Al Fil.

Menurut Prof Mukhtar, bangsa arab kemudian mentarikhan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kalangan mereka dengan Amul Fiil atau tahun gajah. “Tahun terjadinya peristiwa ini mereka jadikan permulaan perhitungan tahun, sedang bulan pertama tetap bulan Muharam. Sebelum terjadinya peristiwa ini, mereka mentarikhkan peristiwa penting dengan meninggalnya Qushai, karena Qushai ini adalah seorang pemimpin mereka yang agung meninggal than 480 Masehi.”

Penyerbuan pasukan Abrahah ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah terjadi pada 12 Muharram tahun 1 Tahun Gajah atau Amul Fill bertepatan dengan 2 Maret 571 Masehi. Menurut riwayat Ibnu Hisyam dari Ziad Ibnu Abdillah Al Kufi dan dari Muhammad Ibnu Ishaq, Nabi Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal tahun 1 Aumul Fiil. Sedangakan menurut Ilmu Falak Mesir, Mahmud Pasha kelahiran Nabi Muhammad bertepatan dengan 20 April 571 M).

KHAZANAH REPUBLIKA

12 Rabiul Awal Kelahiran Nabi Muhammad?

Perbedaan pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad adalah sesuatu yang wajar. Sebab, semua pendapat itu merujuk pada riwayat yang didapat oleh ulama tertentu. Ada riwayat yang kuat ada pula yang lemah.

Jika status sebuah riwayat sudah diketahui, maka seharusnya kita mengambil yang lebih kuat dan meninggalkan yang lemah.

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa terdapat dalil tentang tanggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan. Namun, mereka juga tetap berbeda pendapat tentang kepastian tanggalnya.

Ada yang mengatakan, malam tanggal 2 Rabiul Awal, ada yang mengatakan tanggal 8, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, tanggal 18, dan ada yang mengatakan tanggal 22. Ada pula yang mengatakan bahwa dua pendapat terakhir tidak benar.

Pendapat populer yang dipegang oleh jumhur adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Pendapat ini dinyatakan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya.

Sementara itu, berkaitan dengan tahunnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lahir pada tahun Gajah. Di antara orang yang berpendapat demikian adalah Qais bin Makhramah, Qabats bin Asyyam, dan Ibnu Abbas.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari tentara bergajah menyerbu Ka’bah. Namun, pendapat lain menyangkal kebenaran riwayat ini dengan mengatakan bahwa riwayat ini keliru, karena riwayat yang benar adalah tahun Gajah.

Di antara ulama ada yang menyatakan bahwa pendapat ini sudah disepakati oleh mayoritas ulama dan orang yang tidak sependapat dengan ini, berarti ia telah keliru. Menurut riwayat yang populer, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan 50 hari setelah peristiwa penyerbuan tentara bergajah.

Pendapat lain mengatakan, 55 hari setelah peristiwa tentara bergajah. Ada yang mengatakan, sebulan setelahnya. Ada yang mengatakan, 40 hari setelahnya. Ada yang mengatakan, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan 10 tahun setelah peristiwa tentara bergajah. Ada yang mengatakan, 23 tahun setelahnya.

Di samping itu, ada yang mengatakan, 40 puluh tahun setelahnya, dan ada yang mengatakan, 15 tahun sebelum peristiwa tentara bergajah.

Menurut jumhur ulama, semua pendapat tersebut merupakan kekeliruan dan di antaranya ada yang tidak benar penyandarannya terhadap seorang perawi.

Sebagian tulisan ini dikutip dari kitab Latha`if Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Abu Syafiq

BERSAMA DAKWAH

Merindukan Rasulullah

Alkisah, beberapa tahun setelah Nabi SAW wafat, Abdullah bin az-Zubair (Ibnu az-Zubair), ke ponakan Aisyah RA, pernah bertanya kepada bibinya itu. “Wahai Bibi, beri tahu aku tentang hal paling istimewa yang engkau dapati dalam diri Nabi Muhammad?”

Saat ditanya itu, Aisyah diam, tidak langsung menjawab. Air matanya mulai mengalir. Dia pun menangis seseng gu kan, begitu menyayat hati, hingga Ab dullah bin az-Zubair berpikir mung kin dia bertanya pada momen yang tidak tepat. Ia pun berkata, “Bibi, kalau eng kau tidak bisa menjawab sekarang tidak apa-apa.”

Di sela-sela tangisnya, Aisyah kemudian berkata, “Aduhai betapa rindunya hati ini dengan beliau. Aku be gitu rindu dengan beliau.” Selan jutnya ia berkata, “Wahai keponakanku, engkau bertanya kepadaku tentang hal paling istimewa yang aku dapati dalam diri beliau, aku tak tahu bagaimana menjawabnya karena seluruhnya yang ada dalam diri beliau adalah istimewa.” Dalam kisah lain, Aisyah juga pernah ditanya seseorang mengenai akhlak suaminya, lalu ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Alquran.” Orang itu bertanya lagi, “Apa maksudnya?”

Aisyah menjawab, “Alquran ber cerita tentang orang-orang yang sabar. Ketahuilah, beliau adalah orang paling sabar di dunia. Ketika Alquran bercerita tentang orang-orang yang shalat khu syuk, maka beliau adalah orang yang paling khusyuk shalatnya. Ketika Al qur an memerintahkan ten tang sede kah, ikhlas, memaafkan siapa saja yang ber salah, maka beliau adalah orang yang paling dermawan, ikhlas, dan pe maaf. Andai kata ada orang yang tidak membaca Alquran sekalipun, me lihat beliau saja dia bisa memba yang kan isi Alquran itu seperti apa.”

Nabi SAW memang telah wafat, te tapi kerinduan akan beliau tidak pernah le nyap dalam diri orang-orang terde kat nya, terutama istrinya, Aisyah. Ke rinduan yang membangkitkan lagi gairah untuk mengikuti dan mene ladani akhlak beliau dalam kehidupan.

Semua yang dilakukan Nabi adalah istimewa karena beliau adalah ejawan tah Alquran dan selalu berada dalam bim bingan Allah. Karena itu, Allah me ngatakan bahwa orang yang menga ku mencintai Nabi perlu mem buktikannya dengan mengikuti beliau, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah men cintaimu dan mengampuni dosa-dosa mu.’ Allah Maha Pengam pun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Orang yang benar-benar merin dukan Nabi adalah orang yang tidak hanya mengingat atau menyebutnyebut nama beliau, tetapi yang lebih penting juga adalah meneladani akhlak luhur dan mengikuti ajaran Rasulullah secara kafah. Seseorang belum dikatakan merindukan Nabi SAW jika perilakunya justru berlawanan dengan akhlak luhur beliau. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Fajar Kurnianto

REPUBLIKA

Menikahi Khadijah, Muhammad: Aku tidak Memiliki Apa-Apa…

Usia Muhammad sudah melewati 20 tahun. Ia mulai membawa dagangan orang lain ke luar kota. Dengan kesuksesan berniaga, menikah jadi hal yang memungkinkan.

Sebelum bertemu Khadijah, Muhammad menyukai Fakhitah binti Abi Thalib yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Ummu Hani. Muhammad meminta izin pamannya untuk menikahi Fakhitah. Namun Abi Thalib punya rencana lain. Fakhitah sudah lebih dulu dilamar Hubayrah, putra dari saudara ibu Abi Thalib. Muhammad mencoba meminta izin untuk kedua kali, namun hasilnya tetap nihil. Muhammad menerima keputusan Abi Thalib dengan lapang hati.

Di sisi lain, seorang pebisnis kaya di Mekkah mendengar kredibilitas Muhammad sebagai Al-Amin, ialah Khadijah putri Khuwailid. Satu ketika, Khadijah meminta Muhammad mendagangkan barang milik Khadijah ke Suriah. Muhammad menerima tawaran Khadijah itu disertai tawaran ditemani seorang budak bernama Maysarah.

Di Suriah, Muhammad berhasil menjual barang titipan Khadijah dengan hasil dua kali lipat. Sampai di Mekkah, Muhammad melaporkan perniagaan itu. Khadijah sendiri lebih tertarik dengan penyampai laporan ketimbang isi laporannya.

Meski berusia 15 tahun di atas Muhammad, Khadijah sadar ia masih cantik. Khadijah lalu meminta bantuan temannya, Nufaysah (Nufaisah) binti Muniyah.

Nufaysah lalu datang kepada Muhammad dan menanyakan mengapa pemuda itu belum menikah. ”Aku tidak memiliki apa-apa untuk berumah tangga,” jawab Muhammad.

Nufaysah lalu mengatakan ada seorang wanita yang tertarik kepada Muhammad, Khadijah. Setelah ditanya apakah Muhammad bersedia menikahi Khadijah, Muhammad mengiyakan.

Setelah itu, Khadijah meminta Nufaysah untuk bertemu. Kepada Muhammad, Khadijah menyampaikan perasaannya. ”Putra pamanku, aku mencitaimu karena kebaikanmu padaku. Engkau selalu terlibat dalam urusan masyarakat tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau bisa diandalkan, luhur budi, dan jujur bertutur kata.”

Kemudian kedua keluarga bertemu. Ayah Khadijah, Khuwailid, telah meninggal sehingga keluarga Khadijah diwakili pamannya, Amr putra Asad. Keluarga Muhammad diwakili Hamzah. Kesepakatan dicapai, Muhammad memberi mahar 20 ekor unta betina.

Dari pernikahan selama sekitar 25 tahun bersama Khadijah, Muhammad dikaruniai enam anak. Anak pertama, seorang laki-laki bernama Qasim. Lalu lahir empat putri yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Anak ke enam mereka adalah anak laki-laki, Abdallah. Kedua anak laki-laki Muhammad wafat saat masih anak-anak.

Di hari pernikahannya, Muhammad membebaskan budak yang ia miliki sebagai warisan dari ayahnya, Barakah atau yang dikenal dengan sebutan Ummu Aiman. Khadijah sendiri menghadiahi Muhammad seorang budak berumur 15 tahun, Zaid putra Haritsah. Muhammad sangat menyayangi Zaid, begitu pula Zaid.

Haritsah berasal dari suku Kalb yang daearah kekuasaanya terbentang dari Suriah dan Irak. Ia telah lama mencari Zaid. Mengetahui itu, Zaid menitipkan pesan berupa sebuah syair untuk ayahnya melalui jamaah haji asal Kalb. Syair yang menyatakan Zaid berada di tangan terbaik dari kalangan terhormat.

Haritsah bersama seorang saudaranya, Ka’b, menyusul Zaid ke Mekkah dan menemui Muhammad. Dalam pertemuan itu, Muhammad mempersilakan Zaid memilih dan Zaid memilih Muhammad. ”Keterlaluan kau, Zaid! Engkau lebih memilih perbudakan dibanding kebebasan, memilih Muhammad dibanding ayah dan pamanmu?,” kedua orang Kalb itu menghardik.

Muhammad memotong pembicaraan. Ia lalu mengajak Zaid, Haritsah, dan Ka’b ke Kabah. Berdiri di Hijr, Muhammad berseru. ”Wahai semua yang hadir! Saksikan bahwa Zaid adalah anakku dan ahli warisku.”

Sejak hari itu, Zaid dikenal dengan Zaib bin Muhammad sampai Allah SWT menurunkan wahyu yang menegaskan hubungan anak angkat dan tidak berhaknya mereka atas waris orang tua angkat.

Shafiyyah, bibi termuda Muhammad, sering datang ke rumah Muhammad dan Khadijah. Shafiyyah sering mengajak pelayannya yang setia, Salma, yang membantu semua persalinan Khadijah.

Ibu angkat Muhammad, Halimah, juga beberapa kali berkunjung dan Khadijah selalu bersikap baik kepadanya. Satu ketika saat musim paceklik, Khadijah memberi Halimah 40 ekor domba dan seekor unta.

Abi Thalib yang miskin sering kesulitan memberi makan keluarganya. Muhammad dan pamannya, Abbas, sepakat merawat ke dua anak Abu Thalib. Abbas merawat Ja’far dan Muhammad merawat si bungsu Ali. Ali tumbuh seperti saudara bagi keempat sepupu perempuannya. Ali kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Seorang kerabat yang dekat dengan Khadijah, Halah, sempat berkonsultasi dan meminta Khadijah mencarikan calon istri untuk putranya, Abu Al-Ash. Setelah bicara dengan suaminya, Khadijah mengajukan Zaynab untuk dinikahi Abu Al-Ash. Terlebih Zaynab sudah mendekati usia nikah. Mereka lalu dinikahkan.

Ke dua putri Muhammad lainnya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum juga dilamar dua putera Abu Lahab yakni Uthbah dan Utaybah. Muhammad setuju menjodohkan mereka karena menganggap kedua sepupunya ia laki-laki baik.

Wanita istimewa

Meski telah wafat, Khadijah selalu istimewa buat Rasulullah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Khadijah adalah wanita terbaik di zamannya. Bahkan Aisyah mengaku cemburu bila Muhammad menyebut nama Khadijah.

Muhammad mencintai Khadijah lebih dari sekadar alasan fisik. Setelah Khadijah wafat pun, Muhammad menyatakan tak ada yang bisa menggantikannya. ”Khadijah beriman ketika orang lain inkar, ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, ia membelaku dengan hartanya saat orang lain menghalangi, dan aku dikarunia anak yang tidak aku peroleh dari istri yang lain.”

Khadijah adalah satu-satunya orang yang diberi salam oleh Allah SWT melalui Jibril ketika Jibril menemui Muhammad. Muhammad mendapat peneguhan hati, pelipur lara, dan peringan beban dari Khadijah.

Pada 619 M, tak lama setelah pencabutan pemboikotan atas kaum Muslim di Mekkah, Khadijah wafat pada usia sekitar 65 tahun. Khadijah bukan hanya ibu bagi empat putrinya, tapi juga ibu bagi Zaid dan Ali. Untuk meringankan duka keluarga itu, Jibril datang kepada Muhammad dan menyampaikan Allah SWT telah menyiapkan tempat tinggal bagi Khadijah di surga.

 

REPUBLIKA