Budaya Berumrah Menziarahi Nabi Pada Peringatan Maulid

Perayaan Maulid Nabi, yakni memperingati kelahiran Nabi Muuhammad SAWA suci pada 12 Rabiul Awwal memang menjadi penyebab banyaknya Muslim di Asa —termasuk India— berberkeinginan untuk melakukan umrah di bulan tersebut.
Dan memang Nabi Muhammad SAW tidak pernah mendorong perayaan kelahirannya. Sikap yang sama juga dilakukan para sahabatnya. Namun, peringatan perayaan Maulid kini telah meluas dan menjadi tradisi di berbagai negara. Bahkan Maulid telah menjadi sebuah adalah festival Muslim paling populer di sebagian besar dunia setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Penerbangan dari sebagian besar kota di Asia Selatan ke Jeddah padat sementara ribuan orang telah menunggu kursi pemesanan tiket umrah untuk Mild-u-Nabi, keberbagai biro perjalanan.

Menariknya lagi, bila orang-orang tersebut yang tidak bisa sampai ke Madinah sebelum tanggal 12 Rabiul Awal, mereka akan merasa puas dengan menghabiskan beberapa hari yang tersisa di kota nabi tersebut. Rabiul Awal adalah bulan yang paling disukai bagi peziarah umrah, terutama orang Asia Selatan, setelah bulan suci Ramadhan.

Banyak orang dari negara itu telah tiba di Makkah dan Madinah jauh-jauh hari sebelum hari perayaaan Maulid tiba.“Secara berkelompok mereka merayakan hari Mualid di kota-kota suci tersebut,’’ kata seorang biro tiur asal negara di belahan Asia Selatan.

Karena tingginya permintaan, semua maskapai besar di India menaikkan harga tiketnya penerbangannya ke Jeddah. Tahun sebelumnya, paket Umrah yang biasanya hanya 32.000 rupee India dari negara-negara selatan, sekarang naik secara drastis menjadi  di atas 55.000 rupee.

“Ada peziarah yang bersedia menanggung dua kali lipat biaya untuk paket Umrah di depan Rabiul Awwal 12,” kata Mohammed Masrat  dari Al-Quba Travel di Hyderabad, India.

“Kami biasanya menagih 65.000 rupee Pakistan untuk paket Umrah dari Lahore, namun karena harga terburu-buru saat ini melonjak menjadi 85.000 rupee,” kata Irfan Malik dari Bukhari Travels, agen perjalanan terkemuka di Lahore, kepada Saudi Gazette melalui telepon.

Oleh: Muhammad Subarkah

IHRAM

Mengapa Tahun Kelahiran Rasulullah Disebut Tahun Gajah?

Menjelang kelahiran Nabi Muhammad shalallahu alahi wassalam, Kabah masuk target penghancuran tentara Raja Abrahah dari Yaman. Peristiwa itu terjadi sekitar 571 masehi, sehingga tahun kelahiran Rasulullah disebut Tahun Gajah. Pertanyaannya, siapa sebenarnya Raja Abrahah, dan mengapa ia ingin menghancurkan Ka’bah?

Raja Abrahah atau Abrahah Al Arsyam mulanya hanya seorang kepala tentara di wilayah Yaman. Wilayah yang dipimpin seorang Gubernur Kerajaan Habasyah, Aryath. Aryath merupakan gubernur pertama di negeri itu yakni pada 535 masehi pascaditaklukannya Himyariyah, sebuah kerajaan yang menguasai Yaman beratus-ratus tahun sebelumnya. Sedang Kerajaan Habsyah sendiri berada di Abissinia, Ethiopia dan diperintah Negus (Najasyi) yang berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi dengan kaisarnya bernama Justin I.

Namun tak lama setelah raja Negus menunjuk dan menempatkan Aryath sebagai guberur di Yaman, terjadilah perselisihan. Abrahah membunuh Aryath dan menguasai seluruh bala tentara negeri Yaman.

Raja Negus mulanya tak membenarkan tindakan Abrahah, bahkan memberikan teguran keras kepada Abrahah. Meski demikian, Abrahah berhasil meluluhkan hati Raja Negus hingga memaafkannya. Negus pun mengesahkan Abrahah sebagai gubernur kerajaan Habasyah di Yaman.

Menyaingi Mekkah

Pada masa itu bangsa Arab dari berbagai penjuru pada bulan-bulan tertentu berbondong-bondong mendatangi Makkah untuk melaksanakan haji, membesarkan Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim. Sebagai gubernur Habasyah, Abrahah mempunyai hasrat untuk menyaingi Mekkah. Ia ingin orang-orang dari berbagai penjuru jazirah Arab tak lagi naik haji dan berjiarah ke Mekkah, melainkan diganti ke Yaman.

Untuk menunaikan keinginannya itu, Abrahah pun meminta bantuan kepada kekaisaran Romawi mengirimkan tenaga kerja terampil di bidang pembuatan mozaik untuk sebuah bangunan. Abrahah pun membangun sebuah gereja besar dan menjulang tinggi di Kota San’a. Gereja bernama Al Qullais (menjulang tinggi) itu menjadi ikon San’a dan merupakan satu-satunya gereja yang paling megah saat itu.

Setelah rampung, Abrahah pun mengumumkan keberadaan Al Qullais di San’a kepada orang-orang di berbagai penjuru jazirah Arab. Ia mengajak orang-orang Arab mengerjakan haji di Yaman dan meninggalkan Ka’bah. Kabar itu pun cepat tersebar dan menjadi buah bibir di kalangan bangsa Arab.

Kabar itu juga didengar keturunan dari Bani Kinanah, sebuah kabilah besar bangsa Arab yang berdiam di Mekkah. Dari Bani Kinanah inilah diturunkan banyak suku, termasuk Bani Quraisy yang merupakan suku asal Nabi Muhammad shalallahu alahi wassalam. Hingga kemudian salah seorang dari Bani Kinanah itu mendatangi Kota San’a di Yaman. Secara diam-diam, orang dari Bani Kinananah itu masuk ke Al Qullais dan melakukan pengerusakan.

Mengetahui kejadian itu Abrahah pun murka. Abrahah pun mendapatkan laporan yang melakukan pengerusakan Al Qullais adalah seorang Arab yang tinggal tak jauh dari Ka’bah. Peristiwa itu membuat Abrahah semakin membenci keberadaan Ka’bah dan berniat menghancurkannya. Meski demikian, terkait pemicu penyerangan Ka’bah ini terdapat sejumlah riwayat yang berbeda.

Dr Jawad Ali dalam Sejarah Arab sebelum Islam menuliskan sejumlah latar belakang yang menjadi pemicu terjadinya serangan ke Mekkah. Misalnya Al Qurtbi yang berkata kebakaran Al Qullais menjadi alasannya karena beberapa orang Quraisy yang pergi ke wilayah Najasyi menyalakan api untuk memasak dan lupa mematikannya. Api tersebut kemudian membakar Al Qullais.

Sebagian riwayat lain menyebutkan penyerangan ke Ka’bah dimulai dari penjarahan pasukan Abrahah di Thaif. Orang-orang Thaif yang tertindas menunjukan Ka’bah sebagai bangunan yang paling dihormati, orang yang bisa menaklukannya maka sempurnalah kekuasaannya.

Upaya Meruntuhkan Ka’bah

Setelah pengerusakan Al Qullais, Abrahah memerintahkan pasukannya ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia juga membawa 15 ekor gajah dalam rencana serangannya itu.

“Maka laskar ini disebut Tentara Bergajah dan tahun terjadinya peritiwa penyerbuan Abrahah ke Mekkah untuk merobohkan Ka’bah disebut tahun gajah (Amul Fiil),” tulis Prof Mukhtar Yahya dalam Perpindahan-Perpindahan Kekuasaan Di Timur Tengah.

Dalam perjalananya ke Mekkah, pasukan Abrahah kerap mendapat hadangan dari orang-orang yang tak sepakat dengan rencananya menghancurkan Ka’bah. Kendati demikian, pasukan Abrahah bisa melaluinya.

Setibanya di Thaif, rombongan pasukannya pun berhenti. Abrahah memerintahkan anak buahnya bernama Al Aswad bin Maqshud untuk terlebih dulu membuat kekacauan dengan merampas harta dan binatang ternak kepunyaan penduduk Mekkah. Abdul Muthalib Ibnu Hasyim (Kakek Nabi Muhammad) menjadi salah satu korbannya. Sebanyak 200 ekor unta milik Abdul Muthalib dirampas Abrahah.

Sesampainya di Mugammas, Abrahah memerintahkan anak buahnya bernama Hanathah Al Himyari mencari tahu pemuka atau tokoh Kota Mekkah. Anak buah Abrahah itu pun menemui Abdul Muthalib setelah memperoleh informasi bahwa Abdul Muthalim merupakan seorang pemimpin dan tokoh di kota Mekkah kala itu.

Kepada Abul Muthalib, anak buah Abrahah itu pun menyampaikan maksud tujuan kedatangan rombongan Raja Abrahah ke Mekkah, yakni bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah. Kemudian Abdul Muthlib pun dibawa untuk bertemu dengan Abrahah. Saat bertemu Abrahah, Abdul Muthalib meminta harta dan unta-unta kepunyaannya yang dirampas dikembalikan.

Abdul Muthalib tak gentar dengan ancaman Abrahah yang berniat menghancurkan Ka’bah. Meski penduduk Mekkah tak mempunyai daya untuk melawan kekuatan pasukan Abrahah, Abdul Muthalib meyakini Ka’bah dalam perlindungan Allah.

Setelah bertemu dengan Abrahah, Abdul Muthalib mengunjungi Ka’bah untuk berdoa. Setelah itu ia memerintahkan penduduk Kota Mekkah pergi dan mencari tempat berlindung.

Sementara pasukan Abrahah pun bergerak menuju Mekkah. Sesampainya di pintu Kota Mekkah. Abrahah mengerahkan gajah-gajah yang dibawanya untuk masuk ke dalam kota itu. Meski demikian, gajah-gajah itu tak mematuhi perintah pasukan-pasukan Abrahah. Gajah-gajah yang dibawanya hanya duduk dan berputar-putar dan kembali ke tempat semua.

Di tengah kebingungannya, berbondong-bondong burung (ababil) datang ke arah pasukan Abrahah. Burung-burung itu kemudian menjatuhkan batu-batu yang dibawanya. Pasukan Abrahah pun panik apalagi dengan penyakit cacar yang datang tiba-tiba. Seketika, pasukan Abrahah pun berguguran.

Sementara Abrahah berhasil kembali ke San’a Yaman. Kendati demikian, Abrahah pun mati dengan kondisinya yang lebih parah dari pasukan-pasukannya. Abrahah meninggalkan dua anak bernama Yaksum dan Marsuq.

Setelah kejadian itu, Mekkah mengalami perubahan cuaca. Mekkah diguyur hujan lebat hingga menyebabkan banjir. Banjir itu pun membawa hanyur mayat-mayat pasukan Abrahah ke laut. “Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong (3) yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar (4) sehingga mereka dijadikannya seperti daun-daun yang dimakan ulat (5),” Alquran Surah Al Fil.

Menurut Prof Mukhtar, bangsa arab kemudian mentarikhan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kalangan mereka dengan Amul Fiil atau tahun gajah. “Tahun terjadinya peristiwa ini mereka jadikan permulaan perhitungan tahun, sedang bulan pertama tetap bulan Muharam. Sebelum terjadinya peristiwa ini, mereka mentarikhkan peristiwa penting dengan meninggalnya Qushai, karena Qushai ini adalah seorang pemimpin mereka yang agung meninggal than 480 Masehi.”

Penyerbuan pasukan Abrahah ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah terjadi pada 12 Muharram tahun 1 Tahun Gajah atau Amul Fill bertepatan dengan 2 Maret 571 Masehi. Menurut riwayat Ibnu Hisyam dari Ziad Ibnu Abdillah Al Kufi dan dari Muhammad Ibnu Ishaq, Nabi Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal tahun 1 Aumul Fiil. Sedangakan menurut Ilmu Falak Mesir, Mahmud Pasha kelahiran Nabi Muhammad bertepatan dengan 20 April 571 M).

KHAZANAH REPUBLIKA

12 Rabiul Awal Kelahiran Nabi Muhammad?

Perbedaan pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad adalah sesuatu yang wajar. Sebab, semua pendapat itu merujuk pada riwayat yang didapat oleh ulama tertentu. Ada riwayat yang kuat ada pula yang lemah.

Jika status sebuah riwayat sudah diketahui, maka seharusnya kita mengambil yang lebih kuat dan meninggalkan yang lemah.

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa terdapat dalil tentang tanggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan. Namun, mereka juga tetap berbeda pendapat tentang kepastian tanggalnya.

Ada yang mengatakan, malam tanggal 2 Rabiul Awal, ada yang mengatakan tanggal 8, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, tanggal 18, dan ada yang mengatakan tanggal 22. Ada pula yang mengatakan bahwa dua pendapat terakhir tidak benar.

Pendapat populer yang dipegang oleh jumhur adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Pendapat ini dinyatakan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya.

Sementara itu, berkaitan dengan tahunnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lahir pada tahun Gajah. Di antara orang yang berpendapat demikian adalah Qais bin Makhramah, Qabats bin Asyyam, dan Ibnu Abbas.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari tentara bergajah menyerbu Ka’bah. Namun, pendapat lain menyangkal kebenaran riwayat ini dengan mengatakan bahwa riwayat ini keliru, karena riwayat yang benar adalah tahun Gajah.

Di antara ulama ada yang menyatakan bahwa pendapat ini sudah disepakati oleh mayoritas ulama dan orang yang tidak sependapat dengan ini, berarti ia telah keliru. Menurut riwayat yang populer, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan 50 hari setelah peristiwa penyerbuan tentara bergajah.

Pendapat lain mengatakan, 55 hari setelah peristiwa tentara bergajah. Ada yang mengatakan, sebulan setelahnya. Ada yang mengatakan, 40 hari setelahnya. Ada yang mengatakan, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan 10 tahun setelah peristiwa tentara bergajah. Ada yang mengatakan, 23 tahun setelahnya.

Di samping itu, ada yang mengatakan, 40 puluh tahun setelahnya, dan ada yang mengatakan, 15 tahun sebelum peristiwa tentara bergajah.

Menurut jumhur ulama, semua pendapat tersebut merupakan kekeliruan dan di antaranya ada yang tidak benar penyandarannya terhadap seorang perawi.

Sebagian tulisan ini dikutip dari kitab Latha`if Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Abu Syafiq

BERSAMA DAKWAH

Merindukan Rasulullah

Alkisah, beberapa tahun setelah Nabi SAW wafat, Abdullah bin az-Zubair (Ibnu az-Zubair), ke ponakan Aisyah RA, pernah bertanya kepada bibinya itu. “Wahai Bibi, beri tahu aku tentang hal paling istimewa yang engkau dapati dalam diri Nabi Muhammad?”

Saat ditanya itu, Aisyah diam, tidak langsung menjawab. Air matanya mulai mengalir. Dia pun menangis seseng gu kan, begitu menyayat hati, hingga Ab dullah bin az-Zubair berpikir mung kin dia bertanya pada momen yang tidak tepat. Ia pun berkata, “Bibi, kalau eng kau tidak bisa menjawab sekarang tidak apa-apa.”

Di sela-sela tangisnya, Aisyah kemudian berkata, “Aduhai betapa rindunya hati ini dengan beliau. Aku be gitu rindu dengan beliau.” Selan jutnya ia berkata, “Wahai keponakanku, engkau bertanya kepadaku tentang hal paling istimewa yang aku dapati dalam diri beliau, aku tak tahu bagaimana menjawabnya karena seluruhnya yang ada dalam diri beliau adalah istimewa.” Dalam kisah lain, Aisyah juga pernah ditanya seseorang mengenai akhlak suaminya, lalu ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Alquran.” Orang itu bertanya lagi, “Apa maksudnya?”

Aisyah menjawab, “Alquran ber cerita tentang orang-orang yang sabar. Ketahuilah, beliau adalah orang paling sabar di dunia. Ketika Alquran bercerita tentang orang-orang yang shalat khu syuk, maka beliau adalah orang yang paling khusyuk shalatnya. Ketika Al qur an memerintahkan ten tang sede kah, ikhlas, memaafkan siapa saja yang ber salah, maka beliau adalah orang yang paling dermawan, ikhlas, dan pe maaf. Andai kata ada orang yang tidak membaca Alquran sekalipun, me lihat beliau saja dia bisa memba yang kan isi Alquran itu seperti apa.”

Nabi SAW memang telah wafat, te tapi kerinduan akan beliau tidak pernah le nyap dalam diri orang-orang terde kat nya, terutama istrinya, Aisyah. Ke rinduan yang membangkitkan lagi gairah untuk mengikuti dan mene ladani akhlak beliau dalam kehidupan.

Semua yang dilakukan Nabi adalah istimewa karena beliau adalah ejawan tah Alquran dan selalu berada dalam bim bingan Allah. Karena itu, Allah me ngatakan bahwa orang yang menga ku mencintai Nabi perlu mem buktikannya dengan mengikuti beliau, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah men cintaimu dan mengampuni dosa-dosa mu.’ Allah Maha Pengam pun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Orang yang benar-benar merin dukan Nabi adalah orang yang tidak hanya mengingat atau menyebutnyebut nama beliau, tetapi yang lebih penting juga adalah meneladani akhlak luhur dan mengikuti ajaran Rasulullah secara kafah. Seseorang belum dikatakan merindukan Nabi SAW jika perilakunya justru berlawanan dengan akhlak luhur beliau. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Fajar Kurnianto

REPUBLIKA

Menikahi Khadijah, Muhammad: Aku tidak Memiliki Apa-Apa…

Usia Muhammad sudah melewati 20 tahun. Ia mulai membawa dagangan orang lain ke luar kota. Dengan kesuksesan berniaga, menikah jadi hal yang memungkinkan.

Sebelum bertemu Khadijah, Muhammad menyukai Fakhitah binti Abi Thalib yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Ummu Hani. Muhammad meminta izin pamannya untuk menikahi Fakhitah. Namun Abi Thalib punya rencana lain. Fakhitah sudah lebih dulu dilamar Hubayrah, putra dari saudara ibu Abi Thalib. Muhammad mencoba meminta izin untuk kedua kali, namun hasilnya tetap nihil. Muhammad menerima keputusan Abi Thalib dengan lapang hati.

Di sisi lain, seorang pebisnis kaya di Mekkah mendengar kredibilitas Muhammad sebagai Al-Amin, ialah Khadijah putri Khuwailid. Satu ketika, Khadijah meminta Muhammad mendagangkan barang milik Khadijah ke Suriah. Muhammad menerima tawaran Khadijah itu disertai tawaran ditemani seorang budak bernama Maysarah.

Di Suriah, Muhammad berhasil menjual barang titipan Khadijah dengan hasil dua kali lipat. Sampai di Mekkah, Muhammad melaporkan perniagaan itu. Khadijah sendiri lebih tertarik dengan penyampai laporan ketimbang isi laporannya.

Meski berusia 15 tahun di atas Muhammad, Khadijah sadar ia masih cantik. Khadijah lalu meminta bantuan temannya, Nufaysah (Nufaisah) binti Muniyah.

Nufaysah lalu datang kepada Muhammad dan menanyakan mengapa pemuda itu belum menikah. ”Aku tidak memiliki apa-apa untuk berumah tangga,” jawab Muhammad.

Nufaysah lalu mengatakan ada seorang wanita yang tertarik kepada Muhammad, Khadijah. Setelah ditanya apakah Muhammad bersedia menikahi Khadijah, Muhammad mengiyakan.

Setelah itu, Khadijah meminta Nufaysah untuk bertemu. Kepada Muhammad, Khadijah menyampaikan perasaannya. ”Putra pamanku, aku mencitaimu karena kebaikanmu padaku. Engkau selalu terlibat dalam urusan masyarakat tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau bisa diandalkan, luhur budi, dan jujur bertutur kata.”

Kemudian kedua keluarga bertemu. Ayah Khadijah, Khuwailid, telah meninggal sehingga keluarga Khadijah diwakili pamannya, Amr putra Asad. Keluarga Muhammad diwakili Hamzah. Kesepakatan dicapai, Muhammad memberi mahar 20 ekor unta betina.

Dari pernikahan selama sekitar 25 tahun bersama Khadijah, Muhammad dikaruniai enam anak. Anak pertama, seorang laki-laki bernama Qasim. Lalu lahir empat putri yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Anak ke enam mereka adalah anak laki-laki, Abdallah. Kedua anak laki-laki Muhammad wafat saat masih anak-anak.

Di hari pernikahannya, Muhammad membebaskan budak yang ia miliki sebagai warisan dari ayahnya, Barakah atau yang dikenal dengan sebutan Ummu Aiman. Khadijah sendiri menghadiahi Muhammad seorang budak berumur 15 tahun, Zaid putra Haritsah. Muhammad sangat menyayangi Zaid, begitu pula Zaid.

Haritsah berasal dari suku Kalb yang daearah kekuasaanya terbentang dari Suriah dan Irak. Ia telah lama mencari Zaid. Mengetahui itu, Zaid menitipkan pesan berupa sebuah syair untuk ayahnya melalui jamaah haji asal Kalb. Syair yang menyatakan Zaid berada di tangan terbaik dari kalangan terhormat.

Haritsah bersama seorang saudaranya, Ka’b, menyusul Zaid ke Mekkah dan menemui Muhammad. Dalam pertemuan itu, Muhammad mempersilakan Zaid memilih dan Zaid memilih Muhammad. ”Keterlaluan kau, Zaid! Engkau lebih memilih perbudakan dibanding kebebasan, memilih Muhammad dibanding ayah dan pamanmu?,” kedua orang Kalb itu menghardik.

Muhammad memotong pembicaraan. Ia lalu mengajak Zaid, Haritsah, dan Ka’b ke Kabah. Berdiri di Hijr, Muhammad berseru. ”Wahai semua yang hadir! Saksikan bahwa Zaid adalah anakku dan ahli warisku.”

Sejak hari itu, Zaid dikenal dengan Zaib bin Muhammad sampai Allah SWT menurunkan wahyu yang menegaskan hubungan anak angkat dan tidak berhaknya mereka atas waris orang tua angkat.

Shafiyyah, bibi termuda Muhammad, sering datang ke rumah Muhammad dan Khadijah. Shafiyyah sering mengajak pelayannya yang setia, Salma, yang membantu semua persalinan Khadijah.

Ibu angkat Muhammad, Halimah, juga beberapa kali berkunjung dan Khadijah selalu bersikap baik kepadanya. Satu ketika saat musim paceklik, Khadijah memberi Halimah 40 ekor domba dan seekor unta.

Abi Thalib yang miskin sering kesulitan memberi makan keluarganya. Muhammad dan pamannya, Abbas, sepakat merawat ke dua anak Abu Thalib. Abbas merawat Ja’far dan Muhammad merawat si bungsu Ali. Ali tumbuh seperti saudara bagi keempat sepupu perempuannya. Ali kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Seorang kerabat yang dekat dengan Khadijah, Halah, sempat berkonsultasi dan meminta Khadijah mencarikan calon istri untuk putranya, Abu Al-Ash. Setelah bicara dengan suaminya, Khadijah mengajukan Zaynab untuk dinikahi Abu Al-Ash. Terlebih Zaynab sudah mendekati usia nikah. Mereka lalu dinikahkan.

Ke dua putri Muhammad lainnya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum juga dilamar dua putera Abu Lahab yakni Uthbah dan Utaybah. Muhammad setuju menjodohkan mereka karena menganggap kedua sepupunya ia laki-laki baik.

Wanita istimewa

Meski telah wafat, Khadijah selalu istimewa buat Rasulullah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Khadijah adalah wanita terbaik di zamannya. Bahkan Aisyah mengaku cemburu bila Muhammad menyebut nama Khadijah.

Muhammad mencintai Khadijah lebih dari sekadar alasan fisik. Setelah Khadijah wafat pun, Muhammad menyatakan tak ada yang bisa menggantikannya. ”Khadijah beriman ketika orang lain inkar, ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, ia membelaku dengan hartanya saat orang lain menghalangi, dan aku dikarunia anak yang tidak aku peroleh dari istri yang lain.”

Khadijah adalah satu-satunya orang yang diberi salam oleh Allah SWT melalui Jibril ketika Jibril menemui Muhammad. Muhammad mendapat peneguhan hati, pelipur lara, dan peringan beban dari Khadijah.

Pada 619 M, tak lama setelah pencabutan pemboikotan atas kaum Muslim di Mekkah, Khadijah wafat pada usia sekitar 65 tahun. Khadijah bukan hanya ibu bagi empat putrinya, tapi juga ibu bagi Zaid dan Ali. Untuk meringankan duka keluarga itu, Jibril datang kepada Muhammad dan menyampaikan Allah SWT telah menyiapkan tempat tinggal bagi Khadijah di surga.

 

REPUBLIKA

Peringati Maulid Nabi, MUI Ajak Berbuat Kebaikan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi bisa menjadi momentum untuk berbuat kebaikan.

“Memperingati Maulid Nabi bisa dijadikan momentum untuk berbuat kebaikan meneladani Nabi sebagai model kehidupan,” kata Sekretaris MUI Banyumas, Ridwan, di Purwokerto, Kamis (30/11).

Memperingati Maulid Nabi, kata dia, juga menjadi momentum untuk mengobarkan semangat kenabian. “Momentum untuk mewarisi semangat dan visi kenabian yaitu semangat pembebasan dari ketertindasan ekonomi, sosial, dan budaya,” katanya.

Selain itu, kata dia, Maulid Nabi bisa menjadi momentum bagi seseorang dalam membela mereka yang tertindas. “Pembelaan terhadap kaum tertindas merupakan pesan moral yang harus selalu digelorakan,” katanya.

Memperingati Maulid Nabi, tambah dia, merupakan momentum untuk menjalankan Sunnah Nabi. “Selain itu ini juga bisa menjadi momentum untuk mengedukasi anak-anak kita agar menjadikan Nabi sebagai tauladan,” katanya.

Orang tua, kata dia, bisa mendorong anak-anak mereka untuk mencintai Nabi. “Selain itu orang tua barus memupuk kebaikan pada diri anak mereka dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai model hidupnya,” katanya.

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Maulid Nabi Momentum Perkuat Persatuan Umat Islam

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonedia (MUI), KH Cholil Nafis menjelaskan Maulid Nabi dalam konteks kenegaraan. Menurut dia, hadirnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini telah melahirkan persatuan yang sifatnya pluralis.

“Dalam konteks negara, hadirnya Nabi Muhammad telah mencipatakan persatuan yang sifatnya pluralitas. Walaupun berbeda suku dan agama tetapi dalam bingkai kenegaraan, dalam bingkai kebangsaan,” ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (29/11).
Ia menuturkan, dalam konteks keindonesiaan, umat Islam pun telah mampu meneladani Nabi Muhammad dengan menjaga kebhinnekaan itu dan bersikap toleran pada umat agama lainnya. “Nah konteks Indonesia kita menjalin kebhinnekaan untuk mencapai cita-cita bersama dalam konteks kebangsaan. Maka kita menghormati, kita bertoleransi, kita juga bisa bekerja bersama dalam mengisi kemerdekaan,” ucapnya.
Menurut dia, peringatan Maulid Nabi harus dijadikan momentum umat Islam untuk meneladani Nabi Muhammad, sehingga di era milenial ini tetap bisa menjaga rasa persatuan.
“Inilah momentum keteladanan yang bisa kita implementasikan dan sangat aktual di era sekarang ini untuk membangun persatuan dan kesatuan,” katanya.
Ia mengatakan, momentum Maulid Nabi juga merupakan kabar gembira karena Nabi Muhammad hadir dengan membawa risalah kenabian, sehingga umat Islam dapat meneladaninya. Menurut dia, segala kehidupan manusia yang baik telah dicontohkan oleh Rasulullah.
“Dalam konteks sekarang, Maulid Nabi diartikan untuk begaimana membangun solidaritas, soliditas umat. Kita membangun umat yang bersatu dan menjadi peduli antara satu dengan yang lain,” jelasnya.

Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni

Bulan Rabiul Awal kini telah mendatangi umat Islam yang senantiasa mengisinya dengan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW. Muhammad merupakan nama Nabi Agung yang telah menyelamatkan dan menyempurnakan agama-agama yang pernah disampaikan para nabi sebelumnya dalam satu agama yang dikemas dengan nama Islam untuk dijadikan satu-satunya agama yang diterima dan diridhai Allah swt.

Muhammad artinya orang yang dipuji. Nama ini benar-benar telah menjadi nyata dan terukir dalam sejarah. Dan Allah swt mengakui dan mengumumkan kepada dunia dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki Akhlak yang agung.” (QS al-Qalam [68]: 5)

Tujuan Allah SWT mengutus Rasulullah kepada umat manusia semuanya agar mereka menjadikan teladan dan mengikuti Nabi SAW sehingga para manusia mendapatkan berkahnya dan menjadi Muhammad-Muhammad kecil yang bertebaran di muka bumi ini. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu dapati dalam diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan Hari Akhir serta yang banyak mengingat Allah (QS al-Ahzab [33]: 22).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, MahaPenyayang (QS Ali Imran [3]: 32)

Dikemukakannya beberapa contoh akhlak yang mulia Sayyidina Almusthofa, Muhammad SAW, agar kita mengetahui dan mencontohnya dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari. Sejarah menjadi saksi bahwa semua kaum di Arab sepakat memberikan gelar kepada Muhammad SAW “Al-Amin”. Artinya orang yang terpercaya, padahal waktu itu beliau belum dinyatakan sebagai Nabi.

Peristiwa ini belum pernah terjadi dalam sejarah Makkah dan budaya Arab. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah memiliki sifat itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan dan ingatan kaumnya tidak ada orang lain yang dapat dipandang menyamai dalam hal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman otak mereka dan apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka lagi istimewa.

Diriwayatkan bahwa Muhammad SAW memerintahkan supaya lalu lintas umum tidak boleh dipergunakan sehingga menimbulkan halangan atau menjadi kotor atau melemparkan benda-benda yang najis atau tidak sedap dipandang ke jalan umum atau mengotori jalan dengan cara apa pun karena semua itu perbuatan yang tidak diridhai Tuhan.

Beliau sangat memandang penting upaya agar persediaan air untuk keperluan manusia dijaga kebersihan dan kemurniannya. Umumnya, beliau melarang sesuatu benda dilemparkan ke dalam air tergenang yang mungkin akan mencemarinya dan memakai persediaan air dengan cara yang dapat menjadikannya kotor (Al-Bukhari dan Muslim, Kitabal-Barr wal-Sila)

Rasulullah mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan. Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang bangsawan wanita terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina.

Banyak yang ingin mendesak Rasulullah SAW menghukumnya demi kepentingan orang yang berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka, Usama diserahi tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah SAW, tetapi serentak beliau mengerti maksud tugasnya tersebut. beliau pun sangat marah dan bersabda, “Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena mengistimewakan orang-orang kelas tinggi, tetapi berlaku kejam terhadap rakyat jelata. Islam tidak mengizinkan dan aku pun sekali-kali tidak akan mengizinkan. Sungguh, jika Fathimah, anak perempuanku sendiri melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang adil “ (Al-Bukhari, Kitabul-Hudud)

 

Oleh: Rohani

sumber: Republika ONline

Rasulullah Lahir Pada 9 Atau 12 Rabi`ul Awwal?

Ternyata banyak beda pendapat para ulama tentang tanggal pasti kelahiran Nabi kita Muhammad SAW. Sejak dulu, ada beberapa poin yang disepakati oleh sejarawan muslim tentang  fakta kelahiran Nabi Muhammad SAW. Fakta itu adalah :

  1. Beliau lahir pada tahun gajah
  2. Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal.
  3. Beliau lahir pada hari Senin, karena ada riwayat dari Imam Muslim ketika ditanya mengapa Nabi puasa hari Senin, Beliau menjawab :”itulah hari aku dilahirkan”.

Tiga poin ini yang disepakati oleh seluruh sejarawan Islam. Namun tanggal berapa pastinya beliau lahir, sejarawan berbeda pendapat. Hal ini dikarenakan tidak adanya nash yang jelas dari Nabi tentang tanggal beliau lahir, maka pintu perbedaan pendapat terbuka didepan ulama yang mau meneliti. Para Sejarawan merangkum banyak pendapat yang mengatakan tanggal beliau lahir. Namun yang diperbincangkan adalah tiga pendapat : pada tanggal 9, tanggal 10 atau tanggal 12 Rabiul Awwal.

Pendapat  yang menyatakan tanggal 12 Rabiul Awwal dikemukakan oleh Ibnu Ishaq, tetapi beliau tidak menyebutkan sanad sebagaimana dikemukakan oleh Imam Hakim dalam Mustadrak. Maka termasuk pendapat tidak bersanad dan tidak ada sandarannya. Sementara pendapat tanggal 10 dikemukakan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqatnya dari Imam Al-Baqir. Tapi dalam sanad Ibnu Sa’ad terdapat tiga orang rijal sanad yang diragukan dan diperbincangkan ulama.

Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya al-Isti’ab, mengemukakan bahwa Nabi di lahirkan 8 hari lewat dari bulan Rabiul Awwal (masuk malam ke 9 ). Pendapat ini pula telah dipastikan oleh  Abu Bakar bin Musa Al-Khawarizmi (Penjaga Dar Al-Hikmah Khalifah Ma’mun) sebelumnya. Bahkan Al-Hafizh Umar bin Dihyah dalam kitab ” Tanwir fi Maulid Sirajil Munir” berani memutuskan dengan berkata : “Pendapat itulah yang benar tidak ada yang lain, itu telah menjadi kesepakatan ahli sejarah”.

Jadi para sejarawan sebelum abad modern sebenarnya telah sepakat bahwa Nabi dilahirkan tanggal 9 Rabiul Awwal, walau belum dibuktikan dan ditinjau secara matematis. Sampai datang abad ke-18 M, ahli ilmu falak Mesir benama Mahmud Basya (1302 H), meninjau dan ingin membuktikan keabsahan ketiga pendapat tersebut secara ilmu falak modern dan perhitungan detil angka matematis.

Mahmud Basya mulai meninjau dengan peristiwa langit yang terjadi pada masa Nabi yang bisa ditelusuri tanggal dan jamnya saat ini. Yaitu terjadinya gerhana matahari sebagaimana diriwayatkan oleh ulama hadis dalam hadis shahih pada saat meninggalnya anak Nabi bernama Ibrahim. Beliau mendapati gerhana itu benar terjadi setelah bulan Syawal tahun ke-10 Hijriyah saat umur Nabi 63 tahun. Lalu atas patokan ini, terus dihitung mundur ke tahun pertama Nabi dan bulan pertama dan hari pertama. Karena riwayat shahih Nabi lahir hari senin, di dapati hari senin itu jatuh tanggal 9 Rabiul Awwal bukan 12 Rabiul Awwal, bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.

Riset Mahmud Basya tersebut pertama kali ditulis dalam Bahasa Prancis dan sudah diterjemahkan oleh Ahmad Zaki Basya kedalam Bahasa Arab tahun 1305 H, dengan judul “Nataijul Afham Fi Taqwimil Arab Qablal Islam fi Tahqiq Maulid Annabi wa Umrihi.”

Ahli falak lain bernama Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad dalam kitabnya ” Taqwim Al-Azman menyebutkan : ” Tidak ada ragu sesuai dengan periwayatan yang shahih bahwa Nabi lahir tanggal 20 Nissan/April 571 M, sebagaimana benar adanya Nabi wafat tanggal 13 Rabiul Awwal tahun ke 11 Hijriyah dan itu bertepatan dengan tanggal 11 Huzairan 632 M. Selama tanggal ini diketahui dengan tepat,maka hari lahir dan wafat sangat mudah diketahui begitu juga umur Nabi Saw.

umur Nabi adalah 63 tahun dan sekitar 3 hari.  Dan ini sesuai dengan kesepakatan mayoritas ulama bahwa awal penanggalan Hijriyah adalah tanggal 16 Tamuz (sesuai rukyah) atau 15 Tamuz menurut Hisab. Dengan demikian Nabi lahir hari Senin tanggal 9 Rabiul Awwal tahun 53 Sebelum Hijrah bertepatan denga tanggal 20 April 571H.

Syeikh Zahid Al-Kautsari menyatakan :” Tidak ada bantahan lagi bahwa riwayat yang menyatakan Nabi Lahir  tanggal 9 (Rabi’ul Awwal) yang benar, karena perhitungan matematis tidak akan meleset.” ( Ma Syaa wa Lam Yastbut Fi Siratin Nabi, hal. 8)

Terjadinya perbedaan pendapat dalam penentuan hari dalam sejarah sangatlah lumrah karena Nabi dilahirkan ditengah kaum ummi yang tidak membaca dan menulis sebagaimana diakui oleh Nabi sendiri.

Pertanyaanya, kenapa juga kebanyakan Negara islam merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awwal?

Penanggalan tanggal 12 Rabiul Awwal adalah lebih waspada dan supaya keluar dari perbedaan.  Syeikh Zahid al-Kautsari menjelaskan ” Karena tanggal itu, kelahiran Nabi sudah dipastikan menurut semua pendapat”. Perayaannya dipatok pada tanggal 12 supaya keluar dari khilaf sejarawan, karena tanggal 12, betapa pun tidak tepat, tapi Nabi sudah pasti telah lahir (lihat, Maqalat Al akutsari, hal. 363)

Maka zaman ini sudah tidak layak lagi umat Islam tidak mengetahui pasti kelahiran Nabi mereka Tercinta, karena dengan terbukti tanggal dan hari secara matematis menunjukkan bahwa Nabi kita adalah sosok yang betul-betulnyata dalam sejarah bagi mereka yang mearagukan adanya Nabi pembawa petunjuk dan rahmat bagi umat manusia.

 

Amri Fatmi Lc. MA*

*Penulis adalah mahasiwa program doktoral Universitas Al Azhar Kairo.

sumber: Hidayatulah.com

Maulid Nabi Momentum Bangkitnya Cinta Kasih

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH. Maman Imanulhaq menyatakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bermakna besar bagi pembentukan pribadi serta keimanan seorang Muslim. Maulid Nabi juga menjadi momentum bangkitnya rasa saling mencintai dan mengasihi.

“Nabi Muhammad SAW diutus sebagai kasih sayang untuk semua umat manusia, rahmatan lil ‘alamin dalam menyebarkan nilai cinta kasih pada sesama,” kata Maman, Senin (12/12).

Ia menuturkan peringatan kelahiran Nabi atau maulid harus jadi momentum untuk saling mengasihi dan mencintai. Maman melanjutkan, bahwa saat merebaknya aksi kebencian dan kekerasan atas nama agama, Maulid Nabi harus jadi bahan refleksi diri bagi umat. “Untuk kembali menghadirkan nur Muhammad yang mencerdaskan dan menguatkan umat,” tuturnya.

Maman memaparkan sedikit sejarah Peringatan Maulid Nabi, dimana peringatan kelahiran Rasulullah SAW sejatinya bertepatan dengan 12 Rabiul Awal. Sementara dalam hitungan Masehi, Rasulullah terlahir tanggal 21 April 571 Masehi atau lebih dikenal dengan Tahun Gajah.

“Menurut Ibn Hajar Al-Asqalan, asal dari Maulid tidak ditemukan dari para salaf sejak kurun abad ketiga, tetapi ada kemungkinan merupakan aktivitas yang baik dan bermanfaat,” ujarnya.

Ia menambahkan Maulid Nabi seyogyanya mengukuhkan kesadaran umat untuk meneruskan perjuangan Nabi, yakni menyebarkan dakwah Islam yang mengajarkan prinsip keimanan serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Maman melanjutkan, hal itu mengilhami Raja Arballes Mosul Irak, Abu Sad Muzhaffar dan panglima perang Islam dalam Perang Salib, Salahuddin Al-Ayyub, untuk mengadakan seremonial Maulid.

Cara ini tutur Maman sebagai upaya membangkitkan ketahanan mental yang tinggi serta membangkitkan semangat perjuangan dakwah Islam yang bertujuan membebaskan manusia dari kezaliman menuju cahaya. “Dengan Maulid Nabi, marilah kita segarkan kembali spirit keagamaan kita sehingga keagungan dan keindahan Islam akan terus memancar bagi kehidupan dalam spektrum yang luas”, kata Maman.

Sumber : Antara/Republika Online