Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke – 29)

Kunci bahagiamu bergantung pada rasa syukurmu. Bila engkau ingin selalu bahagia, maka ingatlah selalu berbagai kenikmatan yang kau miliki sebelum mengingat kesedihan-kesedihan yang menimpamu.

Apabila engkau selalu mengingat kenikmatan yang ada padamu, maka engkau akan bersyukur. Namun ketika engkau lebih memperhatikan kenikmatan orang lain, maka engkau akan menjadi hasud dan iri.

Karena itulah Al-Qur’an selalu mengajak kita untuk mengingat kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt dan mensyukurinya, karena bila kita melupakan kenikmatan itu dan fokus pada kesedihan yang menimpa maka hidup kita akan terasa sengsara.

Begitulah Allah swt mendidik Baginda Nabi Muhammad saw dalam firman-Nya :

بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

“Karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur.” (QS.Az-Zumar:66)

Begitu juga perintah untuk Nabi Musa as :

قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِرِسَٰلَٰتِي وَبِكَلَٰمِي فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

(Allah) berfirman, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegang-teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS.Al-A’raf:144)

Siapa yang pandai bersyukur maka ia hidupnya akan tentram dan bahagia. Mengapa banyak manusia yang tidak bahagia dalam hidupnya?

Karena sedikit sekali manusia yang bersyukur. Allah swt berfirman :

وَقَلِيلٌ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS.Saba’:13)

Maka bersyukur lah selalu agar engkau tergabung bersama rombongan para Nabi. Seperti Firman Allah swt kepada Nabi Nuh as :

ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

“(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS.Al-Isra’:3)

Dan seperti firman Allah swt tentang Nabi Ibrahim as :

شَاكِرٗا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ

“Dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS.An-Nahl:121)

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke – 25)

Allah swt Berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا

“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS.An-Nisa’:1)

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS.Ghafir:19)

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS.Qaf:18)

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ – كِرَامٗا كَٰتِبِينَ

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu).” (QS.Al-Infithar:10)

Manusia seringkali merasa dirinya bebas melakukan apapun dan menganggap tidak ada yang mengawasinya. Ia dengan penuh percaya diri melakukan segala sesuatu dan memenuhi keinginan hawa nafsunya tanpa pernah berpikir bahwa ia sedang di awasi selama 24 jam.

Ayat-ayat di atas ingin mengingatkan kembali bahwa manusia selalu di awasi dalam kehidupannya selama 24 jam dan dimanapun ia berada. Bahkan apa yang terlintas dalam pikiran kita juga tercatat dan dalam pengawasan.

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS.Ghafir:19)

Apabila manusia selalu ingat bahwa dirinya sedang di awasi, maka untuk berpikiran buruk saja akan berusaha ia tinggalkan karena segala sesuatu yang terlintas di hatimu akan tercatat.

Belum lagi di tambah para Malaikat yang akan mencatat semua gerak-gerik kita selama 24 jam. Tidakkah kita malu bila berbuat buruk sementara ada yang selalu menyaksikan?

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ – كِرَامٗا كَٰتِبِينَ

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu).” (QS.Al-Infithar:10)

Tak hanya para Malaikat, bahkan setiap anggota tubuh kita akan bersaksi atas setiap langkah dan setiap perbuatan yang dilakukan oleh pemiliknya di dunia.

حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (QS.Fushilat:20)

Bahkan lebih dari itu, bumi tempat kita berpijak dan melakukan segalanya juga akan bersaksi atas apa yang kita lakukan selama ini.

يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا

“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.” (QS.Az-Zalzalah:4)

Maka mari kita sisihkan waktu sejenak untuk memikirkan hal ini, bahwa kita selalu di awasi dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Setiap langkah, perbuatan dan ucapan yang terlontar tidak pernah luput dari pengawasan Allah swt.

Tentunya kita akan malu bila berbuat buruk dihadapan manusia, namun sampai kapan kita tidak malu berbuat keburukan dihadapan Allah swt?

Bulan ini adalah momen terbaik untuk kita kembali meng-aktifkan kesadaran ini. Disaat berpuasa, kita tidak minum dan tidak makan walau tidak ada yang melihat, karena kita yakin Allah swt Maha Melihat. Maka luaskan kesadaran ini sepanjang waktu kehidupan kita, maka Insya Allah kita akan mampu mengontrol diri dari segala keburukan walau di waktu sendirian.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke -21)

Allah swt Berfirman :

وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ

“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS.Luqman:22)

Ayat ini ingin menceritakan beberapa sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang mukmin, antara lain :

1. Berserah diri mutlak kepada Allah swt.

وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ

“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah.”

Sifat utama yang selayaknya dimiliki oleh seorang mukmin adalah kepasrahan mutlak dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah swt. Dia menerima semua ketentuan Allah dan selalu berbaik sangka kepada-Nya.

Sifat ini adalah pembeda antara mukmin dengan mereka yang tidak beriman. Karena seorang mukmin selalu berserah diri bagaimana pun kondisi yang dia hadapi, di kala susah maupun senang dan dikala lapang ataupun sempit. Semua sikap dan langkahnya di niatkan hanya untuk meraih kerelaan-Nya.

2. Selalu berbuat kebaikan.

Berserah diri kepada Allah adalah awal mula dari sifat ikhlas yang mendorong manusia untuk selalu berbuat kebaikan dimanapun ia berada.

Maka dia akan selalu menebar kebaikan dari setiap perbuatan maupun ucapannya. Jiwa yang selalu berserah kepada Allah akan selalu ingin menebar kebaikan kepada sesama hamba Allah.

Poin penting yang perlu kita renungkan adalah bahwa seorang mukmin yang selalu berserah diri kepada Allah dan selalu menebar kebaikan untuk dirinya dan orang lain, maka ia memiliki kekuatan dan kekokohan hati yang membawanya untuk selalu istiqomah di jalan kebaikan. Dia memiliki senjata yang kuat untuk melawan segala rintangan dan rayuan dunia.

فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ

“maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh.”

Apabila dua sifat ini dimiliki seorang mukmin maka ia akan sampai pada derajat orang-orang yang rela kepada Allah dan diridhoi oleh Allah di dunia dan akhirat.

وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ

“Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”

Maka akhir dari kebaikan dan kepasrahan ini adalah surga Allah yang menanti orang-orang mukmin yang sejati. Surga yang menjadi simbol kerelaan Allah swt kepada hamba-Nya.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke – 19)

Hari ini kita akan kembali merenungkan beberapa ayat-ayat suci Al-Qur’an. Allah swt Berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.” (QS.Yunus:81)

وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي كَيۡدَ ٱلۡخَآئِنِينَ

“Dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS.Yusuf:52)

وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦ

“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.” (QS.Fathir:43)

وَيَمۡكُرُونَ وَيَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

“Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS.Al-Anfal:30)

وَمَا يَمۡكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

“Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.” (QS.Al-An’am:123)

Ayat-ayat di atas adalah tiang-tiang kokoh yang harus menjadi pegangan dalam hidup kita. Ayat-ayat ini harus selalu di ingat sebagai senjata kita dalam menolak bujuk rayu setan yang selalu mengajak untuk berbuat keburukan.

Semua ayat di atas ingin memberi isyarat penting bahwa :

1. Segala macam rencana keburukan dan kejahatan yang telah di atur sedemikian rupa, pasti akan digagalkan oleh Allah Swt.

2. Setiap pengkhianatan tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat bau busuk pengkhianatan akan tercium dan rencana kotornya akan terungkap.

Sebagaimana kita saksikan Zulaikha yang telah menyusun rencana untuk menjebak Nabi Yusuf as dengan rapi dan sangat tertutup, namun semuanya terbongkar melalui dirinya sendiri.

قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡـَٰٔنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” (QS.Yusuf:51)

3. Setiap rencana busuk cepat atau lambat pasti akan kembali kepada pelakunya !

Maka tinggalkanlah segala bentuk keburukan dan kebusukan karena Allah tidak akan membiarkan hal-hal tersebut menjadi langgeng dan bertahan lama.

Berhati-hatilah dengan segala bentuk pengkhianatan, karena Allah swt tidak akan membiarkan rencana busuk seorang pengkhianat berjalan mulus. Semuanya akan segera terbongkar pada waktunya.

Dan yang terpenting ingatlah selalu bahwa setiap makar, keburukan dan rencana jahat pasti akan kembali pada pelakunya maka jangan pernah merencanakan dan melakukan suatu keburukan kepada orang lain.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-16)

Allah Swt Berfirman :

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS.Al-Anfal:46)

Ayat ini adalah sebuah larangan yang tegas bagi kaum muslimin untuk tidak berselisih dan menciptakan konflik di tengah tubuh kaum muslimin sendiri.

Dalam ayat ini disebutkan ada dua akibat besar yang akan muncul bila kaum muslimin saling berselisih di antara mereka sendiri, yaitu :

Akibat pertama adalah (الفشل) yaitu perasaan gentar dan takut dalam menghadapi musuh.

Dan akibat kedua adalah hilangnya kekuatan kaum muslimin dalam menghadapi berbagai ancaman dari luar.

Ayat di atas memberi kita gambaran yang tegas bahwa apabila kaum muslimin saling berselisih dan berkonflik, maka akan muncul perasaan “tidak percaya” kepada saudaranya sehingga kekuatan mereka akan melemah dalam menghadapi musuh. Rasa takut kita dihadapan kekuatan musuh adalah akibat dari perselisihan di tubuh kaum muslimin sendiri. Bayangkan apabila setiap kelompok dari kaum muslimin saling percaya dan bersatu, maka tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menandingi kekuatan Islam.

Maka tugas kita hari ini adalah membuang segala perselisihan dan mulai saling menghargai pendapat masing-masing. Perselisihan tidak akan pernah usai bila terus dijadikan pembahasan, namun apabila kita saling menghormati pilihan orang lain maka persatuan Islam akan bisa diwujudkan.

Perselisihan akan membawa kita pada rasa saling curiga kepada sesama saudara muslim dan efek yang lebih jauh adalah menumbuhkan rasa kebencian di tengah kaum muslimin. Sementara Islam di kepung dari segala arah oleh para musuh dan tiada jalan untuk melawan itu semua kecuali dengan persatuan dan saling percaya.

Musuh tidak akan mampu melawan kekuatan Islam tanpa memecah belah kaum muslimin dari dalam. Lalu apabila kita bertanya, darimana perselisihan itu berasal?

Bila kita perhatikan ayat di atas, kita akan mendapatkan jawaban bahwa perselisihan itu muncul karena kita tidak taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Dalam beragama kita masih sering mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga dari situlah banyak perselisihan yang akan muncul. Namun apabila kita berupaya untuk taat kepada aturan Allah dan Rasul-Nya maka perselisihan itu akan mudah diselesaikan, karena semuanya fokus untuk meraih satu tujuan bersama dan mengesampingkan kepentingan masing-masing. Dan apabila hal ini terwujud, maka sebab-sebab untuk datangnya kemenangan akan semakin dekat.

Maka berpeganglah selalu dengan Firman Allah swt :

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS.Ali ‘Imran:103)

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-13)

Allah Swt Berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰائِف مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS.Al-A’raf:201)

Ayat ini bercerita tentang sikap hamba-hamba Allah yang bertakwa. Bahwa ketika mereka mendapat bisikan setan dan dibayang-bayangi oleh pikiran jahat, maka spontan mereka mengingat dahsyatnya siksa Allah dan agungnya pahala dari-Nya, sehingga mereka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Hamba yang bertakwa tau persis bahwa tiada yang bisa menyelamatkan mereka dari bisikan setan kecuali dengan kembali dan berlindung kepada Allah. Hanya dengan bantuan dan bimbingan Allah, seseorang mampu menghadapi dahsyatnya rayuan dan bisikan setan serta hawa nafsu.

Bila kita telusuri lebih jauh, ayat ini sangat berkait erat dengan ayat sebelumnya. Allah Swt Berfirman :

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٌ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS.Al-A’raf:200)

Ayat ini adalah sebuah penekanan bahwa satu-satunya jalan yang akan menyelamatkanmu dari bujuk rayu setan adalah berlindung kepada Allah Swt. Dan kebiasaan orang bertakwa adalah selalu sadar dan selalu meminta perlindungan kepada Allah dalam setiap kondisi dalam hidupnya.

Mari kita simak bagian-bagian dari ayat di atas lebih dekat.

(1) Kalimat :

إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓائِفٌ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ

“Apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan…”

Adalah isyarat bahwa setan berupaya untuk membuat kita lupa dengan “rasa takut” kepada Allah swt. Karena apabila kesadaran untuk takut kepada Allah ini “ditunda” sejenak saja maka ia tidak akan mampu melawan bisikan setan dan mudah untuk mengikuti rayuannya.

(2) Kalimat :

تَذَكَّرُواْ

“Mereka pun segera ingat kepada Allah…”

Namun orang-orang yang bertakwa segera ingat dengan peringatan-peringatan dari Allah dan akibat yang akan mereka dapatkan dari perbuatan dosa tersebut. Dan mereka lebih memilih untuk segera kembali dan meninggalkan semua kebusukan itu demi meraih pahala dari-Nya.

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya.” (QS.Ali ‘Imran:135)

(3) Kalimat :

فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)….”

Maka setelah mereka sadar, setan pun gagal menjerumuskannya ke dalam jurang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka pun selamat dan segera kembali kepada Allah swt.

Uniknya, kalimat مبصرون dalam ayat ini menggunakan bentuk Isim Fa’il dan bukan menggunakan bentuk Fi’i. Yang artinya kesadaran itu sebenarnya telah ada dalam diri mereka sebelumnya. Kesadaran ini bukan hal yang baru muncul ketika mereka hendak berbuat kesalahan. Orang-orang yang bertakwa selalu dalam kondisi sadar dan waspada atas bujuk rayu setan.

Lalu bagaimana seseorang bisa terjerumus dalam bujuk rayu setan? Tentunya semua itu karena ia meninggalkan dzikir dan mengingat Allah swt. Sehingga ia tidak memiliki benteng yang menyelamatkannya dari bisikan dan rayuan setan. Sehingga dengan mudah setan mengarahkannya menuju jalan yang ia kehendaki.

(4) Adapun kalimat :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa…”

Kalimat ini menujukkan bahwa kesadaran itu bersumber dari ketakwaan. Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin kuat benteng kesadaran yang ia miliki untuk melawan bisikan setan. Hati orang yang bertakwa selalu mengajak untuk berdzikir dan mengingat Allah swt. Sehingga apabila pada suatu saat ia lalai, maka dengan segera ia akan kembali dan memohon ampunan kepada Allah swt.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-12)

Pada kajian sebelumnya kita telah membahas tentang makna dari (القول السديد) pada Firman Allah swt :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS.Al-Ahzab:70)

Nah, sekarang kita akan menjawab pertanyaan selanjutnya yaitu :

“Apa hasil yang akan didapatkan apabila kita selalu menjaga lisan dengan perkataan yang baik dan benar?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan menemukan jawabannya pada lanjutan ayat di atas.

يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا

“Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS.Al-Ahzab:71)

Apabila seseorang menjaga lisannya dan tidak berucap kecuali dengan perkataan yang baik dan benar dan menjauhi kalimat-kalimat yang menyakitkan hati, maka ia akan mendapatkan beberapa hal berikut ini :

(1) Ucapan yang baik dan benar akan membimbingmu untuk melakukan amal yang sholeh.

يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ

“Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu..”

(2) Dengan menjaga lisan maka dosa-dosa kita akan di ampuni oleh Alla swt. Karena Allah sangat menyukai hamba yang memiliki lisan yang lembut, penuh dengan kebaikan dan tidak menyakiti orang lain.

وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ

“Dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS.Al-Ahzab:71)

(3) Berucap yang baik dan benar adalah salah satu bentuk ketaatan yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka setiap ketaatan pasti akan mengantarkan manusia menuju keberuntungan yang besar.

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS.Al-Ahzab:71)

Dari sini kita mulai mendapat gambaran betapa besar pengaruh kalimat yang baik dan benar dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Berapa banyak kalimat yang menjerumuskan manusia menuju kesesatan?

Berapa banyak kalimat yang merubah kehidupan manusia yang awalnya tentram dan damai?

Dan berapa banyak kalimat yang membawa kedamaian di tengah kondisi yang mencekam?

Dan berapa banyak pula kalimat yang membawa pada pertikaian dan pertumpahan darah?

Setiap manusia memiliki lisan dan sejarah telah mencatat bagaimana lisan seseorang sangat bisa mempengaruhi kondisi hidup orang banyak. Maka sebelum kita mengucap sesuatu, ingatlah selalu Firman Allah swt :

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيد

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS.Qaf:18)

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-11)

Kalimat adalah penghubung antara seseorang dengan alam di sekitarnya. Berbicara juga salah satu sifat yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia untuk menjaga “penghubung” ini karena segala sesuatu bisa terjadi hanya karena akibat dari apa yang keluar dari lisan seseorang.

Allah swt berfirman :

وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسۡنٗا

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS.Al-Baqarah:83)

وَقُولُواْ لَهُمۡ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا

“Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS.An-Nisa’:5)

Pada intinya Al-Qur’an selalu mengajak manusia untuk bertutur kata yang baik. Namun kita akan berhenti pada Firman Allah berikut ini :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS.Al-Ahzab:70)

Ada beberapa poin menarik yang bisa kita ambil dari ayat ini :

(1) Ayat ini dimulai dengan seruan “Wahai orang-orang yang beriman..”, seruan ini menunjukkan bahwa yang akan disampaikan setelahnya adalah sesuatu yang sangat penting dan perlu untuk diperhatikan.

(2) Seruan “Wahai orang-orang yang beriman..” adalah sebuah penegasan bahwa apabila ada ucapan yang bermaksud untuk menyakiti orang lain yang keluar dari lisan seorang yang mengaku mukmin, maka sebenarnya ia tidak layak disebut mukmin yang sebenarnya.

(3) Adanya perintah takwa sebelum perintah untuk berbicara yang benar adalah isyarat bahwa “berucap yang baik dan benar” adalah cabang dari ketakwaaan, sebagaimana hal itu juga cabang dari keimanan. Takwa dan iman akan sangat kurang bila seseorang tidak mampu menjaga lisannya.

Setelah kita memahami tiga poin penting di atas, kita akan melanjutkan untuk menelisik makna dari قَوۡلٗا سَدِيدٗ. Sebenarnya perkataan macam apa yang Al-Qur’an inginkan untuk terucap dari lisan kita?

(القول) artinya adalah perkataan yang muncul dari lisan manusia.

Dan (السديد) adalah perkataan yang memiliki muatan kebaikan, kebenaran dan kejujuran.

Nah yang dimaksud dengan (القول السديد) adalah mencakup semua perkataan yang baik, benar dan memberikan manfaat. Seperti misalnya memulai salam, berucap yang membuat hati orang lain senang dan bahagia dan ucapan-ucapan yang mendamaikan perselisihan di antara manusia. Begitu pula dengan ucapan dzikir, tasbih dan amar ma’ruf nahi munkar.

(القول السديد) adalah perkataan para Nabi, para Auliya’, para Ulama’ dan orang-orang bijak. Membaca Al-Qur’an, meriwayatkan hadist Nabi dan berbagi ilmu pengetahuan juga termasuk dalam ketegori (القول السديد).

Perkataan yang baik akan membawa manusia menuju cinta dan kebenaran sementara perkataan yang buruk akan membimbing manusia menuju kebencian dan kesesatan. Karena kata-kata adalah pintu dari pintu-pintu kebaikan, sebagaimana ia juga bisa menjadi pintu yang membuka semua keburukan.

Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda :

وهل يَكُبُّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائد ألسنتهم

“Tidakkah wajah-wajah manusia akan ditelungkupkan ke dalam api neraka kecuali karena akibat dari lisan-lisan mereka?”

Kemudian kajian kita akan berlanjut pada pertanyaan selanjutnya, yaitu “Apa hasil yang akan didapatkan apabila kita selalu menjaga lisan dengan perkataan yang baik dan benar?”

Temukan jawabannya dalam kajian Ramadhan esok hari.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-9)

Hari ini kita akan merenungkan sebuah ayat dari Firman Allah swt :

ٱسۡتَجِيبُواْ لِرَبِّكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۚ مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإٖ يَوۡمَئِذٖ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٖ

“Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (atas perintah dari Allah). Pada hari itu kamu tidak memperoleh tempat berlindung dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).” (QS.Asy-Syura:47)

Ayat ini menceritakan tentang kondisi di Hari Kiamat dan bagaimana manusia akan menghadapi dahsyatnya hari tersebut.

Mari kita renungkan bagian demi bagian dari ayat ini.

(1)

ٱسۡتَجِيبُواْ لِرَبِّكُم

“Patuhilah seruan Tuhanmu..”

Sebuah seruan Allah untuk hamba-Nya agar mengikuti perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Seruan ini adalah seruan cinta yang di dasari oleh kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya. Karena Allah swt tidak ingin melihat hamba-Nya terjerumus dalam kehancuran dan kesengsaraan.

(2)

مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۚ

“Sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (atas perintah dari Allah). “

Hari itu adalah hari kiamat. Hari yang tidak diragukan kedatangannya. Hari yang tiada seorang pun yang bisa lari darinya. Hari di saat tak ada beda antara yang kaya dan yang miskin, yang hitam dan yang putih, yang kuat dan yang lemah. Semuanya dalam keadaan ketakutan menanti hasil dari amalnya di dunia.

(3)

مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإٖ يَوۡمَئِذٖ

“Pada hari itu kamu tidak memperoleh tempat berlindung.”

Hari itu tiada tempat bagi siapapun untuk berlindung dari bahaya yang akan menimpanya. Tiada penolong yang mampu melindunginya dari adzab. Semua akan merasakan akibat dari apa yang mereka lakukan di dunia.

(4)

وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٖ

“Dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).”

Hari itu tiada seorang pun yang bisa mengingkari apa yang telah mereka lakukan. Tidak ada yang bisa di suap, tidak ada alasan yang di terima. Semua akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang ia lakukan di dunia.

Maka kesimpulan umum dari ayat ini adalah bahwa Allah swt meminta hamba-Nya untuk mendengar dan mengikuti seruan-Nya. Mengikuti syariat yang di bawa oleh para Nabi dan penerusnya. Ikutilah mereka sebelum semuanya terlambat. Sebelum hari itu akan datang dan hanya tersisa penyesalan.

إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ

“Sesungguhnya apa pun yang dijanjikan kepadamu pasti datang dan kamu tidak mampu menolaknya.” (QS.Al-An’am:134)

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari – 6)

Allah swt Berfirman :

قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَامِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.” (QS.Al-An’am:135)

وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنَّا عَٰمِلُونَ

Dan katakanlah (Muhammad) kepada orang yang tidak beriman, “Berbuatlah menurut kedudukanmu; kami pun benar-benar akan berbuat.” (QS.Hud:121)

قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ – مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيۡهِ عَذَابٞ مُّقِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang mendapat siksa yang menghinakan dan kepadanya ditimpakan azab yang kekal.” (QS.Az-Zumar:39)

Ayat-ayat di atas ingin menekankan bahwa kekuatan Al-Haq (kebenaran) adalah kekuatan yang tak terkalahkan. Maka bagi siapapun yang ingin menyampaikan kebenaran dan memperjuangkannya, ia harus memiliki keyakinan penuh bahwa ia sedang bersandar kepada Pemilik Al-Haq, yang memiliki Kuasa dan Kemampuan yang tak terbatas.

Ayat ini memberikan beberapa gambaran tentang dakwah para Nabi dan para pejuang kebenaran, yaitu :

1. Dakwah para Nabi dan pejuang kebenaran pasti akan selalu mendapat gangguan, halangan dan tekanan dari musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan tinggal diam dan selalu berusaha menggagalkan semua rencana dakwah yang ingin mengajak manusia menuju jalan Allah.

2. Dari ayat-ayat di atas kita juga melihat jaminan bahwa orang-orang yang melawan dan menyerang kebenaran pasti akan mendapatkan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.

3. Kita melihat bahwa terkadang para Nabi juga menggunakan nada ancaman kepada mereka musuh-musuh yang selalu ingin merongrong aktifitas dakwah dan menggagalkannya. Bahkan ayat-ayat juga bernada tantangan bagi siapapun yang ingin menghalangi tersampaikannya kebenaran.
Ketika cara-cara lembut tidak bisa menghentikan mereka yang selalu merongrong dakwah, maka terkadang di butuhkan cara yang tegas untuk melawan mereka. Kita dapat melihat dari tiga ayat di atas, ada satu ucapan yang sama dari para Nabi kepada umatnya yaitu :

ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ

“Berbuatlah menurut kedudukanmu.. !”

Pernyataan ini adalah bukti bahwa para Nabi telah mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi segala ancaman dan rintangan. Mereka memiliki keyakinan yang penuh kepada Allah dan siap mengorbankan seluruh yang mereka miliki di jalan Allah. Duhai umatku, berbuatlah semau kalian ! Kami tak akan pernah mundur selangkah pun untuk memperjuangkan kebenaran !

Ayat ini juga mengingatkan kita bagaimana Nabi Nuh as di tengah dahsyatnya tekanan kepada beliau, Nabi Nuh as dengan lantang menantang seluruh umatnya dengan penuh keberanian seakan beliau memiliki pasukan yang tak terkalahkan. Padahal Nabi Nuh as seorang diri, hanya di temani oleh segelintir pengikut beliau.

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ نُوحٍ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ

Dan bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi.” (QS.Yunus:71)

Sejarah telah membuktikan bahwa pada akhirnya kemenangan hanya di tangan para pejuang kebenaran. Walau mereka sedikit, walau mereka di tindas. Sementara kehinaan dan kehancuran hanyalah milik mereka yang selalu menyeru kebatilan dan memerangi kebenaran.

Dan kesimpulan terakhir dari ayat-ayat di atas, kita ingin di ajarkan oleh Allah bahwa seorang yang benar-benar beriman selalu akan di uji kekokohan imannya, ketabahan hatinya dan konsistensinya dalam menjalankan perintah Allah. Karenanya seorang mukmin harus kuat, karena ia selalu bersandar pada Yang Maha Kuat !

Semoga bermanfaat….

KHAZANAH ALQURAN