Sehat dengan Sholat

Sholat merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim di seluruh dunia.

Sholat merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim di seluruh dunia. Shalat adalah bentuk umat muslim untuk menyembah Allah SWT. Nabi Muhammad juga sering melaksanakan shalat fardhu, bahkan memperbanyak shalat sunnah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Selain itu, shalat juga memiliki beberapa manfaat bagi tubuh.

“Ada empat gerakan pokok di dalam shalat, yaitu qiyam (berdiri tegak), rukuk (membungkukkan tubuh), sujud (meletakkan tujuh rukun sujud di sajadah) dan duduk (di antara dua sujud, tahiyat awal dan tahiyat akhir). Masing-masing gerakan jika dilakukan dengan cara yang benar atau tuma’ninah akan memberikan dampak yang hebat bagi tubuh kita. Subhanallah, Allah tidak menciptakan semuanya sia-sia,” dikutip dari buku karya Prof. Muhammad Sja’bani yang berjudul Dahsyatnya Gerakan Shalat, Kamis (29/02/2024).

Manfaat yang pertama, ialah dapat menyehatkan jantung dengan cara menstabilkan irama denyut jantung selama melaksanakan shalat. Hal itu dapat melancarkan peredaran darah sehingga dapat mengalir secara optimal ke seluruh tubuh.

Kedua, dapat mengurangi nyeri pada pinggang dan dapat memelihara kesehatan tulang belakang. Karena terdapat gerakan – gerakan pada shalat yang bermanfaat untuk melenturkan sendi – sendi pada tulang sehingga dapat merefleksikan tulang yang kaku.

Ketiga, dapat menstabilkan kadar gula dan lemak sehingga meningkatkan elastisitas pembuluh darah. Hal itu dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah dan komposisi dalam darah, seperti Diabetes, Hipertensi, Hiperuricemia, Sklerotik Pembuluh Darah, serangan jantung, dan juga Stroke.

Keempat, dapat meningkatkan aktivitas otot dasar panggul sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan aliran darah pada Disfungsi Ereksi. Kelima, dapat mempengaruhi secara psikis, sehingga dapat menambah ketenangan dan juga meningkatkan daya tahan tubuh dan juga dapat menurunkan proses degeneratif dengan meningkatkan kadar Endorfin dan Eosinofil, penurunan kadar asam urat, penurunan kadar gula, penurunan kadar profil lipid, perbaikan resistensi insulin beserta menurunkan hormon kortisol. 

IHRAM

Ini Dia 6 Cara Hidup Sehat

ADA beberapa cara hidup sehat. Berikut enam di antaranya:

Cara Hidup Sehat yang Pertama: Cek Kondisi Kesehatan Secara Berkala

Tujuan melakukan cek kesehatan secara berkala adalah untuk membandingkan status kesehatan kita sebelumnya, apakah terjadi penurunan atau peningkatan kondisi kesehatan. Gejala penyakit yang tidak terdeteksi dari dini dapat berakibat fatal pada kesehatan.

Cara Hidup Sehat yang Kedua: Enyahkan Asap Rokok

Bahaya asap rokok bagi kesehatan tubuh bukan menjadi rahasia umum lagi. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah dengan menghindari asap rokok bagi perokok pasif, dan berhenti merokok bagi perokok aktif.

Cara Hidup Sehat yang Ketiga: Beraktivitas Fisik

Rajin aktivitas fisik dapat dilakukan dengan cara olah raga secara teratur. Seperti yang kita ketahui bahwa olahraga mempunyai banyak manfaat yang baik bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Olahraga yang dapat kita lakukan banyak jenisnya, contohnya: senam sehat, lari, bulutangkis, tennis, bersepeda, dll.

Cara Hidup Sehat yang Keempat: Diet Sehat Dengan Kalori Seimbang

Makanan sehat adalah makanan yang mengandung gizi seimbang, kaya akan serat dan yang akan dibutuhkan untuk perkembangan tubuh. Dilihat dari kandungannya, makanan sehat adalah makanan yang mengandung karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh.

Cara Hidup Sehat yang Kelima: Istirahat Yang Cukup

Istirahat cukup merupakan bagian dari gaya hidup sehat. Istirahat atau tidur yang cukup dapat berdampak baik bagi kesehatan. Waktu istirahat atau tidur yang ideal bagi orang dewasa adalah 7-9 jam perhari.

Cara Hidup Sehat yang Keenam: Kendalikan Stress

Stress telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehingga mengendalikan stress menjadi bagian yang harus kita biasakan agar dampak buruk dari stress tidak mengganggu kita, terutama mengganggu kesehatan.

Dari beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh seperti yang tersebut diatas, rajin melakukan aktivitas fisik dengan olah raga teratur adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan. Salah satu bentuk aktivitas fisik yang mudah dan menyenangkan untuk dilakukan adalah senam sehat. []

ISLAMPOS

Tata Cara Shalat Sunnah Agar Cepat Sembuh dari Sakit

Dalam buku Panduan Shalat Sunah Lengkap, KH. Muhammad Sholikhin menjelaskan tentang tata cara shalat sunnah syifa’ atau shalat sunnah agar cepat sembuh dari sakit. Shalat ini bertujuan sebagai saran doa kepada Allah agar segera diberi kesembuhan dari sakit atau dari penyakit tertentu.

Shalat syifa’ ini berjumlah dua rakaat dan dikerjakan ketika mengharap kesembuhan dari sakit atau penyakit yang tak kunjung sembuh. Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut;

اُصَلِّيْ سُنَّةً لِشِفَاءِ اْلمَرَضِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالىَ

Usholli sunnatan li syifaa-il maradhi rok’ataini lillaahi ta’aala.

Saya shalat sunnah untuk kesembuhan dari sakit dua rakaat karena Allah Ta’ala.

Kedua, pada rakaat pertama dan kedua membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.

Ketiga, setelah salam kemudian membaca doa berikut sebanyak seratus kali;

يَا بَدِيْعَ اْلعَجَائِبِ بِاْلخَيْرِ اِرْحَمْنِيْ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Yaa badii’al ‘ajaa-ibi bil khoiri irhamnii ilaa yaumid diini.

Wahai Dzat Yang Maha Pencipta keajaiban dengan kebaikan, kasihanilah aku sampai hari penentuan (kiamat).

Kemudian dilanjutkan membaca shalawat syifa’ atau shalawat thibbil qulub berikut;

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ  وَسَلِّم

Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin thibbil quluubi wa dawaa-ihaa wa ‘aafiyatil abdaani wa syifaa-ihaa wa nuuril abshoori wa dhiyaa-ihaa wa ‘alaa aalihi wa shohbihii wa sallim

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada junjungan kami nabi Muhammad Saw, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya, sebagai penyinar penglihatan mata  beserta cahayanya dan semoga rahmat tercurah limpahkan kepada para sahabat beserta keluarganya.

BINCANG SYARIAH

Alasan Mengapa Muslim Penting Harus Senantiasa Sehat?

Kesehatan bagi Muslim sangat mendukung aktivitas ibadah

Agama Islam adalah satu-satunya agama yang menaruh perhatian kepada kesehatan raga persis seperti perhatian kepada jiwa dan roh. 

Meskipun telah berusaha mengangkat jiwa manusia ke tingkat yang tinggi , Islam tetap tidak menelantarkan tubuh dengan tidak memberinya perhatian khusus untuknya.  

“Tidak hanya itu, Islam juga berusaha melindungi dan memeliharanya dari keletihan dan penyakit,” kata  tulis Dr dr Muhammad Washfi dalam bukunya “Menguak Rahasia Ilmu kedokteran dalam Alquran.”   

Menurutnya, satu dari banyak bentuk kebahagiaan orang mukmin adalah segala yang terkait dengan eksistensi mereka dan bisa memelihara tubuh mereka. Dan ini telah dijelaskan secara lengkap dan sempurna oleh Islam. 

“Tujuannya supaya jiwanya sampai pada kesempurnaan mutlak yang telah disyariatkan Allah SWT,” katanya. Dalam surat Ash Shaf ayat 8 Allah SWT berfirman:  

 وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ “….Dan Allah telah menyempurnakan cahayanya meskipun orang-orang kafir benci.”

Orang sakit tidak punya kemampuan untuk melaksanakan kewajiban kemanusiaan yang diwajibkan agamanya. Dan penyakit akan membuatnya tidak maksimal dalam menjauhkan diri dari pikiran pikiran jahat dan bisikan bisikan nafsu. “Penyebabnya adalah hubungan erat antara jasad dan roh,” katanya. 

Seperti yang telah dipahami bahwa penyakit memberi pengaruh pada organ saraf seseorang, pikiran, pemahaman, perasaan, dan aktivitas. Dan dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara penyakit tubuh, gangguan kejiwaan maupun gangguan mental.    

KHAZANAH REPUBLIKA

Inilah Nikmat Terbesar Manusia di Dunia

Nabi Muhammad SAW menempatkannya sebagai nikmat terbaik setelah nikmat keimanan.

Mintalah kesehatan kepada Allah, karena sesungguhnya tidak ada nikmat yang paling utama daripada nikmat kesehatan, selain keimanan (Nabi Muhammad SAW). Dengan kondisi sehat, seseorang dapat bekerja mencari nafkah, dapat beribadah, menikmati makanan, dan pergi berekreasi.

Pendek kata, orang yang sehat dapat melakukan apa saja yang disenanginya. Sebaliknya, bagi orang yang sakit, makanan yang enak pun menjadi pahit dan bahkan terkadang menjadi pantangan.

Kalau sudah demikian, uang jutaan rupiah yang dimilikinya seolah tak ada artinya. Dengan demikian, kesehatan merupakan nikmat terbesar bagi manusia. Nabi Muhammad SAW sendiri seperti dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah di atas, menempatkannya sebagai nikmat terbaik setelah nikmat keimanan.

Dalam konteks ini, amat menarik penafsiran ahli tafsir Ibn Katsir ketika membahas ayat: Rabbana atina fi al-dunya hasanah wafil akhirati hasanah… (QS: 2:201). Menurutnya, muatan ‘kebahagiaan dunia’ yang kita mohonkan kepada Allah dalam ayat itu terdiri dari 10 macam kebahagiaan. Demikian pula kebahagiaan akhirat, juga terdiri dari 10 macam.

Yang menarik dalam tataran ini adalah kebahagiaan dunia yang paling utama dan pertama, menurut Ibn Katsir, adalah nikmat kesehatan. Dalam ibadah sholat, permohonan agar diberi kesehatan menjadi bagian dari doa bacaan sholat, misalnya ketika duduk antara dua sujud dan bacaan qunut.

Doa duduk antara dua sujud adalah: Ya Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku rezeki, angkatkanlah derajat diriku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku dan maafkanlah aku. Sedangkan doa qunut, di antaranya adalah: Ya Allah, tunjukilah aku dan sehatkanlah aku.

Jadi, Islam sangat mementingkan kesehatan dan menempatkannya sebagai nikmat teratas dan terbesar dalam urutan nikmat yang diterima manusia. Nikmat tersebut wajib kita syukuri, dengan cara menggunakannya untuk berbuat baik, seperti menolong orang kesusahan, memperbanyak ibadah, meningkatkan ilmu pengetahuan, bersilaturahmi, dan seluruh amal saleh yang mendatangkan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Namun sangat disayangkan banyak dari kita yang menyia-nyiakan nikmat kesehatan itu. Selain kurang menjaganya, juga menggunakannya untuk hal-hal yang mubazir, atau bahkan bertentangan dengan perintah agama.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dalam menggunakannya, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.” (HR Bukhari). Selanjutnya Nabi SAW juga bersabda, “Sesungguhnya nikmat pertama yang diminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat adalah nikmat kesehatan.” (HR Tarmizi).

Oleh karena itu, kita harus memelihara dan menggunakan nikmat kesehatan itu sebelum kita jatuh sakit. Nabi Muhammad mengingatkan, “Jaga lima sebelum datang yang lima…”. Hal pertama adalah menggunakan kesehatan sebelum sakit.”

Oleh: Agustianto

KHAZANAH REPUBLIKA

Cegah Penyakit Menurut Ilmuwan Islam: Sholat dan Tak Marah

Ilmuwan Muslim mengutarakan langkah cegah penyakit antara lain sholat dan tak marah.

Islam menekankan tidak hanya pentingnya mengobati penyakit, tetapi juga mencegah munculnya penyakit.

Abul Walid Muhammad ibnu Rusyd (wafat 1198) menempatkan metode menjaga kesehatan sebagai salah satu objek penelitiannya. Ibnu Rusyd adalah dokter, filosof, dan hakim kenamaan. Dia pula orang pertama yang menemukan dan menerapkan peranan latihan fisik dalam menjaga kesehatan. 

Uraian mengenai pemeliharaan kesehatan termaktub pula dalam kitab Taqwim as Sihha (Menjaga Kesehatan) karya Ibnu Butlan, ilmuwan asal Irak. Dia mengemukakan enam hal yang dapat memengaruhi kesehatan. 

Pertama, kebersihan udara. Menurut dia, udara bersih bermanfaat memelihara fungsi paru-paru. 

Kedua, memperhatikan kualitas gizi makanan dan minuman. Ketiga, berolahraga atau gerak badan. Keempat, cukup tidur dan beristirahat.

Kelima, menenangkan pikiran dengan memperbanyak humor. Terakhir, tidak mudah marah, kecewa, atau sedih yang berlarut-larut.

Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Tacuinum Sanitatis. Lewat tulisan The Arabs and Mediaeval Europe, N Daniel menyatakan, Ibnu al-Wafid menambahkan aspek spiritual sebagai bagian penting memelihara kesehatan. Misalnya, sholat. 

Melalui sholat dan gerakan-gerakannya, seorang Muslim memperoleh dua keutamaan aspek medis sekaligus baik secara fisik maupun psikis. Beberapa pemikir sufi pada masa itu punya pandangan spiritual senada. Sufisme, dalam berbagai bentuk, memberikan masukan atas kesehatan diri, selain melindungi lingkungan.

Salah satu pemikiran Ibnu al-Wafid, seperti dikutip dari buku Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, adalah praktik zuhud atau menahan hawa nafsu dunia serta menjauh dari kekayaan dan hidup sesederhana mungkin. Para sufi berkeyakinan, zuhud sebagai jalan mencapai kesehatan jiwa dan raga.

Kitab al-Adwiya al-Mufada atau Powers of Medicine and Food karya lain Ibnu al-Wafid menguraikan pengobatan serta makanan. Dia menjelaskan bahwa fungsi pengobatan adalah mengembalikan kesehatan tubuh. Ini mencakup dua hal. Pertama, memahami keseluruhan bagian-bagian tubuh dan fungsinya.

Kedua, pengetahuan tentang obat-obatan dan makanan. Ilmuwan asal Toledo ini percaya, apabila kedua aspek itu dapat terpenuhi, masing-masing orang akan sanggup menjaga kesehatan diri dan lingkungannya sehingga memperkuat langkah preventif. Langkah preventif menjadi gerakan pada masa sekarang ini. 

KHAZANAH REPUBLIKA

5 Rahasia Mengapa Rasulullah SAW Sehat dan Jarang Sakit?

Rasulullah SAW dikenal sehat dan jarang terkena penyakit.

Mengapa Rasulullah SAW jarang sakit? Pertanyaan ini menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah SAW jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. 

Dengan kata lain, beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Alquran dan sunah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan. 

Hal ini mengindikasikan betapa Rasulullah SAW sangat peduli terhadap kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tak kurang dari 80 hadis yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad, dan sebagainya.

Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah SAW selalu tampil fit dan jarang sakit, sebagaimana dikutip dari Jejak Sejarah Kedokteran Islam, karya Dr Ja’far Khadem Yamani, di antaranya:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau, kecuali makanan tersebut memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan tayib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi.

Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air lir dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran” (HR Ibnu Majah dan Hakim). 

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). 

Disabdakan: ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). 

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar. 

Keempat, cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan. 

Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur delapan jam sehari memiliki risiko kematian yang lebih cepat. 

Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidur tidak lebih dari delapan jam.  

Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. 

Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional.

Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan miring ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.

Kelima, istikamah melakukan puasa sunat, di luar puasa Ramadhan. Karena itu, kita mengenal beberpa puasa yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, ayyamul baidh, puasa Daud, puasa enam hari pada Syawal, dan sebagainya. Puasa adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun ruhani.

Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai berbagai ampas makanan, manahan diri dari makanan berbahaya sangat luar biasa. Puasa menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Puasa sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh.

KHAZANAH REPUBLIKA



Jika Tubuh Ingin Sehat Kurangi Makan

DIRIWAYATKAN dari Abu Burzah bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya apa yang paling ditakutkan pada diri kalian adalah syahwat berlebihan dalam urusan perut dan kemaluan serta hawa nafsu yang menyesatkan.” (Musnad Ahmad)

Para ulama dan para salaf saleh terdahulu juga mengikuti teladan dan junjungan kita Nabi Muhammad saw. Mereka membiasakan diri untuk tidak berlebihan dalam urusan makan. Sebuah riwayat menuturkan bahwa Hasan al-Bashri berkata, “Hai anak Adam, makanlah untuk memenuhi sebagian kecil perutmu. Isilah sepertiganya dengan minuman, dan sisakanlah sepertiganya untuk bernapas sehingga kau dapat berpikir dengan baik.”

Dan al-Marwadzi menuturkan bahwa Abu Abdullah, atau Ahmad, terlalu memperlihatkan soal rasa lapar dan kefakiran sehingga ia berkata kepadanya, “Apakah seseorang mendapatkan pahala ketika ia mengendalikan syahwat?”

Ia menjawab, “Tentu saja. Aku mendengar Ibn Umar berkata, Aku tidak pernah kenyang selama empat bulan.”

Al-Mawardzi bertanya, “Apakah hati seseorang yang selalu kenyang akan menjadi lembut?”

“Tidak.”

Diceritakan bahwa Ibrahim Ibn Adham berkata, “Barang siapa yang kokoh perutnya, kokoh pula agamanya, barang siapa yang menguasai rasa laparnya, ia akan memiliki akhlak yang baik. Sesungguhnya maksiat kepada Allah jauh dari rasa lapar, dekat kepada rasa kenyang, dan rasa kenyang akan mematikan hati, yang darinya berasal segala rasa senang, sedih, dan tawa.”

Dan diriwayatkan dari Amr Ibn al-Aswad al-Unsi bahwa ia sering kali meninggalkan dan menghindari rasa kenyang karena takut akan kesombongan (diceritakan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah)

Dan dituturkan dari Utsman Ibn Zaidah bahwa Sufyan al-Tsauri berkata, “Jika kau ingin tubuhmu sehat, dan tidurmu sebentar, kurangilah makan.” (Ibid)

Imam Syafii berkata, “Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena rasa kenyang membebani tubuh, menghilangkan kecerdasan, menimbulkan kantuk, dan melemahkan gairah untuk beribadah.”(Diceritakan oleh al-Baihaqi, Adab al-Syafii)

Abu Ubaidah al-Khawwadh berkata, “Jauhilah rasa kenyang dan cintailah rasa lapar. Jika kau kenyang, kau akan malas dan kemudian tidur. Musuh dengan mudah mendekati dan menyerangmu. Jika kau merasa lapar, kau aman dari ancaman musuh.” [Chairunnisa Dhiee]

 

INILAH MOZAIK

Adab Berobat dalam Islam

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berobat bila sedang sakit. Pada dasarnya, setiap Muslim pasti pernah sakit baik ringan maupun berat. Semua itu merupakan ketentuan dari Sang Khalik. Saat ini, berbagai jenis penyakit berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Berbagai cara dilakukan dan ditempuh untuk mengobati penyakit yang diderita. Ada yang berobat ke dokter, bahkan tak sedikit pula yang melakukan pengobatan secara tradisional.  Sebagai agama yang sempurna, Islam ternyata telah mengatur adab berobat (at-tadaawi) bagi seorang Muslim. Lalu bagaimanakah adab berobat itu?

Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan umat Islam berkaitan dengan proses pengobatan.  Pertama, saat akan berobat, seorang Muslim harus meluruskan niatnya.

”Orang yang sakit berniat untuk menjaga kesehatannya agar ia tetap kuat melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT,” tutur Syekh Abdul Azis. Sedangkan orang yang mengobati harus berniat untuk membantu saudaranya sesama Muslim dan menolong semampunya.  Pengobatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Allah serta memberi manfaat bagi saudaranya sesuai dengan perintah agama.

Kedua, menurut Syekh Abdul Azis,  dalam beberapa hadis dianjurkan agar umat Islam menggunakan obat-obatan syar’i untuk mengatasi penyakit tertentu.  Ada beberapa obat  dan pengibatan yang disebutkan dalam hadis, seperti habbbatus saudaa (jintan hitam),  madu, bekam, daun inai serta ruqyah.

Keutamaan  habbbatus saudaa, misalnya, diungkapan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, ”Habbbatus saudaa adalah obat semua penyakit kecualias-saam (kematian).”

Sedangkan keutamaan dan keistimewaan  madu sebagai dijelaskan dalam Alquran surat an-Nahl ayat 69. Allah SWT berfirman, ”… Di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…” Selain itu, Nabi SAW juga biasa menggunakan daun inai (<i<al-hinaa) untuk=”” mengobati=”” luka=”” atau=”” terkena=”” duri.<=”” p=””></i<al-hinaa)>

Untuk terapi pengobatan, Rasulullah SAW menganjurkan bekam dan ruqyah. Rasulullah SAW bersabda, ”Terapi terbaik untuk kalian adalah bekam dan al-qusthul bahri ( cendana laut.” (HR Bukhari (5696) dan Muslim (1577).  Selain itu, Rasulullan SAW juga bersabda, ”Barang siapa mengeluarkan darah dengan berbekam, maka tidak akan memadharatkan jika ia tak berobat dengan menggunakan obat lain.” (HR Abu Dawud).

Selain itu, terapi lainnya yang diajarkan Rasulullah SAW adalahruqyah al-masyuu’ah yakni ruqyah yang sesuai syariat, seperti ruqyah dengan bacaan Alquran dan lainnya yang tak mengandung kesyirikan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak mengapa melakukan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR Muslim).

”Meruqyah dengan membaca surat al-Fatihah, ayat Kursi, beberapa ayat pada akhir surat al-Baqarah, surat al-Kaafiruu, al-Mu’awwizaat dan ayat-ayat lainnya. Dibolehkan juga membaca do’a-do’a yang sahih dari Rasulullah SAW,” papar Syekh Abdul Aziz.

Adab berobat yang ketiga, tidak menggunakan obat-obatan yang diharamkan. Menurut Syekh Abdul Azis, obat-obatan atau pengobatan yang diharamkan, misalnya, meruqyah dengan lafaz-lafaz yang mengandung kesyirikan. ”Menggunakan ruqyah jenis ini hukumnya haram, bahkan bisa jadi dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam,” tutur Syekh Abdul Azis.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasululllah SAW  melarang umatnya berobat dengan obat-obatan yang kotor. Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menggunakan khamer (arak) sebagai obat. Laki-laki itu berkata, ”Khamer itu obat.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Khamer itu bukan obat, tetapi penyakit.”

”Tak sepantasnya seorang Muslim berpaling dari sabda Rasulullah SAW, dikarenakan pendapat orang lain,”  ujar Syekh Abdul Azis.

Adab keempat, berkonsultasi dengan ahli medis. Seorang Muslim yang berobat hendaknya berkonsultasi dengan kalangan orang-orang yang diketahui bertakwa kepada Allah SWT  dan mengetahui ilmu pengobatan. Hal itu ditegaskan dalam Alquran surat an-Nahl ayat 43. ”… Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Tidak semua orang mengetahui ilmu pengobatan. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya, ada yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak, keciali penyakit as-saam,yaitu kematian.” Oleh karena itu, orang yang sakit hendaknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis penyakit serta obatnya yang cocok.

Adab berobat yang kelima, meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT.  Orang yang sakit serta dokter wajib meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT. Sedangkan obat dan terapi merupakan sebab dari kesembuhan. ”Jika Allah menginginkan, Dia akan menjadikan obat itu bermanfaat dan jika tidak, maka obat tersebut tak akan memberikan pengaruh.”

 

REPUBLIKA

Jangan Ragukan Khasiat Thibun Nabawi

Khasiat thibun nabawi tak perlu diragukan lagi. Saat ini bahkan banyak dokter modern yang menguak khasiat kandungan di balik pengobatan ala nabi. 

Dalam hadis, Rasulullah menganjurkan beberapa obat dan jaminan kesembuhannya. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Kesembuhan itu ada dalam tiga hal, minum madu, bekam, dan kay (sundutan api). Aku melarang umatku berobat dengan kay.” (HR Al-Bukhari).

Dari ‘Aisyah, Nabi bersabda, “Sungguh dalam habbatus sauda itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Aisyah pun bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian.” (HR Bukhari).

Ibnu Abbas berkata, seseorang berdiri di hadapan Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah obat itu berguna terhadap takdir?” Rasulullah kemudian bersabda, “Obat termasuk bagian dari takdir. Obat bermanfat kepada siapa yang Allah kehendaki sesuai yang Allah kehendaki.”

Secara ilmiah, habbatus sauda terbukti mampu mengaktifkan kekebalan spesifik karena mampu meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel T penekan, dan sel pembunuh alami. Kandungan aktif habbatus sauda, yakni thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ), dan thymol (THY).

Begitu pun dengan madu. Berdasarkan penelitian ilmiah, madu memiliki spesifikasi antiproses peradangan (inflammatory activity anti) serta memiliki daya aktif tinggi yang mampu meningkatkan pertahanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress). Madu juga mengandung banyak nutrisi, mampu menurunkan glukosa darah, mengobati infeksi lambung, dan sebagainya.

Banyak penelitian lain yang menyebutkan khasiat thibbun nabawi. Jika kemudian seseorang mempraktikkan thibun nabawi dan tak tampak hasilnya, perlu memperhatikan beberapa hal lain. Seperti, ucapan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, seluruh tabib sepakat pengobatan suatu penyakit berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umur,  kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik. Kadar dan jumlah obat pun harus sesuai dengan penyakit. Jika dosisnya kurang, tidak mampu menyembuhkan secara total. Jika dosisnya berlebih, akan dapat menimbulkan bahaya lain.

Maka, penggunaan thibbun nabawi pun tak boleh asal-asalan. Selain itu, keyakinan kesembuhan datang dari Allah pun perlu ditancapkan dalam hati. Sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim, seperti disebut sebelumnya bahwa thibbun nabawi akan dirasakan manfaatnya jika jiwa menerima dan meyakini bahwa Allah akan memberikan kesembuhan baginya. Sehingga, pengobatan thibbun nabawi hanya cocok bagi jiwa yang baik sebagaimana pengobatan dengan Alquran yang tak cocok kecuali bagi jiwa yang baik dan hati yang hidup.

 

REPUBLIKA