Surga Dibeli dengan Harga Satu Dirham

BETAPA sering kita bersemangat akan hal-hal besar dalam cita untuk memperjuangkan agama, lalu lalai bahwa Rasulullah SAW adalah teladan dalam tiap detak & semua laku, juga untuk hal yang sekecil-kecilnya.

Pada zaman di mana banyak amal besar dikecilkan oleh niat yang tak menyurga; betapa penting bagi kita mentarbiyah niat dalam amal-amal kecil yang luput dilirik manusia, tapi berpeluang menjadi tinggi nilai bersebab niatnya.

“Imam Abu Dawud, penulis Kitab Sunan”, demikian Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ibnu Abdil Barr, “Berada di atas perahu penyeberangan di Sungai Dajlah. Tiba-tiba, beliau mendengar orang bersin di tepian dan membaca “Alhamdulillah”.

Maka Imam Abu Dawud menyerahkan uang 1 dirham pada si tukang perahu agar mau mendekatkan sampannya sejenak ke tepian, sehingga beliau bisa menghampiri orang yang bersin dan mendoakannya, “YarhamukaLlaah”. Maka orang itupun membalas sambil tersenyum, “Yahdikumullaahu wa yushlihu baalakum.”

Perjalanan pun dilanjutkan. Dengan heran, bertanyalah orang kepada beliau mengapa sesusah-payah itu rela membayar demi mendoakan orang bersin dan mendapat doa darinya. Maka beliaupun menjawab,

“Mudah-mudahan menjadi doa yang mustajab.”

Ketika mereka (para penumpang perahu seperjalanan Imam Abu Dawud) tertidur, tetiba semuanya mendengar dalam mimpinya ada yang berkata, “Wahai para penumpang perahu, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.” Merekapun saling menceritakannya satu sama lain.

Kisah ini dicantumkan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari, 10: 610. Beliau menyatakan, “Sanadnya baik.”

Imam Abu Dawud, Allah merahmatinya; hadits telah dilunakkan baginya sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud. Lunak bukan hanya karena riwayatnya yang jadi ilmu manfaat, tak putus pahala hingga hari kiamat. Lunak, sebab hatinya yang lembut amat peka untuk beramal dengan sunnah kekasih yang dirindukannya, meski terlihat remeh dalam pandangan manusia. [Ustaz Salim A Fillah/Fimadani]

 

INILAH MOZAIK

Mau Masuk Surga? Amalkanlah Bacaan zikir Ini

ZIKIR merupakan sumber ketenangan di dalam hati orang-orang yang beriman. Ketenangan hati inilah yang menjadi sebab utama kesehatan pikiran dan fisik seseorang. Tanpa ketenangan, kesehatan adalah kemustahilan.

Zikir juga dikategorikan sebagai salah satu amalan yang paling utama bagi seorang hamba yang beriman. Hal ini didasarkan pada hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abdullah bin Busyr, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Seorang sahabat mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya bertanya, “Ya Rasulallah, sungguh syariat Islam itu teramat banyak untukku. Maka beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang menjadi pegangan pokok untukku.”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah Taala.”

Di antara kalimat-kalimat dzikir yang matsur itu, ada satu kalimat agung yang mafhum kita ucapkan. Luar biasanya lagi, Nabi menyampaikan janji pasti dengan mengatakan, “Siapa yang membacanya, sudah sepatutnya ia masuk ke dalam surga.”

Qaala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Man qaala Radhiitu bi-Allahi Rabbaan, wa bi al-Islami diinaan, wa bi Muhammadi an-nabiyyan wa Rasuulan, wa jabat lahu al-jannatu.

Diriwayatkan secara terpercaya dari Abu Said al-Khudri dalam Sunan Abu Dawud, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa membaca Radhiitu bi-Allahi Rabbaan, wa bi al-Islami diinaan, wa bi Muhammadi an-nabiyyan wa Rasuulan (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan (Nabi) Muhammad sebagai Nabi dan rasulku), maka sudah sepatutnya ia masuk ke dalam surga.”

Kalimat zikir ini amat masyhur. Bahkan, kalimat ini sudah diajarkan kepada kita dan anak-anak kita sejak usianya masih belia. Hendaknya kita meminta kekuatan kepada Allah Taala untuk mendawamkan dzikir ini, lalu mempelajari tafsinya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ya Allah, kami meminta tolong untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan membaguskan kualitas ibadah kepada-Mu.Wallahu alam. [bersamadakwah]

 

INILAH MOZAIK

Tips Masuk Surga Sekeluarga

Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; “Kita kerja sama agar masuk surga sekeluarga yuk?”

Bagaimana caranya? Lihat surat Ath Thur 25-26.
Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga. Mau tahu?

  1.  Ceritanya penghuni Surga saling bercengkerama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu? Kok bisa masuk Surga?
  2. Jawabnya seragam; “Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, di keluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka.”
  3. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka, (At Tahrim; 6).
  4. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.
  5. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa “Neraka”?
  6. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.
  7. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.
  8. Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.
  9. Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan’an.
  10. Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.
  11. Asiah binti Muzahim, tertatih-tatih peringatkan suaminya Fir’aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir’aun.
  12. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.
  13. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.
  14. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.
  15. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram.
  16. Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.
  17. Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.

Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing.
Selamat akhir pekan yang indah bersama keluarga kita sampai akhirat yang khusnul khotimah. Aamiin.

 

[Ust Bachtiar Nasir]

INILAHMOZAIK

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Tak Banyak Amal Tapi Masuk Surga, Apa Bisa? (2)

ADA orang yang tidak banyak amal namun bisa masuk surga. Apa bisa? Bisa, ada dua hal yang mesti ia perhatikan.

Yang kedua karena tidak punya rasa dendam dan hasad (cemburu) pada orang lain.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga. Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin Amr bin Al-Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.”

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya, “Abdullah bin Amr bin Al-Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. Abdullah bertutur, Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.

Dan tatkala berlalu tiga hari dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Orang itu berkata, Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat. Abdullah bertutur,

Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain. Abdullah berkata, Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)/ [Naskah Khutbah Jumat Masjid Jami Al-Adha/Muhammad Abduh Tuasikal]

 

INILAH MOZAIK

Tak Banyak Amal Tapi Masuk Surga, Apa Bisa? (1)

ADA orang yang tidak banyak amal namun bisa masuk surga. Apa bisa? Bisa, ada dua hal yang mesti ia perhatikan.

Yang pertama karena memperhatikan yang wajib. Thalhah bin Ubaidilah radhiyallahu anhu berkata, “Ada seorang lelaki yang beruban kepalanya dari Ahli Najd datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kami dapat mendengar gema suaranya tapi tidak memahami apa yang ia katakan, sampai ia berada dekat dengan beliau.

Ternyata ia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam.”
Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan lagi, “Islam juga mengerjakan puasa di bulan Ramadhan.”
Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”

Thalhah melanjutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan lagi tentang masalah zakat. Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”
Lalu lelaki tersebut berbalik pergi lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan dan juga mengurangi sedikit pun darinya.”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata, “Beruntunglah orang tersebut jika ia jujur.” (HR. Bukhari, no. 46 dan Muslim, no. 11)

Juga disebutkan kewajiban lainnya dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal yang jika aku lakukan, aku dapat masuk surga.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menyembah Allah semata, tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun juga; engkau mengerjakan shalat wajib; engkau menunaikan zakat yang wajib; juga engkau berpuasa di bulan Ramadhan.” Arab Badui tersebut berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada pada tangan-Nya, aku tidak akan menambahkan selain itu.” Ketika orang tersebut berbalik pulang, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang senang melihat seseorang dari ahli surga, maka lihatlah orang ini.” (HR. Bukhari, no. 1397 dan Muslim, no. 14)

 

INILAH MOZAIK

Titah Rasulullah tentang Nikmatnya Surga

RASUL yang mulia shallallahu alaihi wa sallam pernah bertitah tentang kenikmatan surga.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Allah azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (kenikmatan yang) tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kenikmatan surga luar biasa tak terbayangkan.

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kenikmatan yang menyenangkan pandangan mata.” (as-Sajdah: 17)

Karena mengetahui nikmat yang sangat agung tersebut, setiap insan yang beriman kepada Allah azza wa jalla dan percaya adanya hari akhir hendaknya menjadikan surga sebagai impian puncak dan cita-cita tertinggi.

Bagaimana tidak, surga adalah kenikmatan yang tidak ada duanya, kekal abadi, tiada pernah berakhir. Barang siapa masuk ke dalamnya, dia akan terus bersenang-senang dan tidak pernah keluar darinya. Barang siapa dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung karena selamat dari kengerian api neraka.

Apabila Anda, wahai muslimah, termasuk pendamba surga abadi, ada sebuah wasiat yang perlu Anda cermati. Wasiat ini disampaikan oleh sayyidul basyar, pemuka dan junjungan anak manusia, yang memiliki sifat pengasih penyayang kepada umatnya shallallahu alaihi wa sallam[1]. Apakah wasiat tersebut?

Sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiallahu anhuma meridhai beliau dan ayahnya, berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya dalam keadaan beriman kepada Allah azza wa jalla dan hari akhir saat kematian mendatanginya. Hendaklah dia berbuat kepada manusia apa yang dia suka untuk diperbuat terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

Dalam wasiat yang terangkum dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan dua sebab meraih kesuksesan hakikidijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu:

  • Beriman kepada Allah azza wa jalla dan kepada hari akhir.
  • Berbuat baik kepada manusia, dalam bentuk ucapan, perbuatan, harta, muamalah, dan sebagainya.

Dengan demikian, sebab pertama agar seseorang dimasukkan ke dalam surga mengandung penunaian terhadap hak Allah azza wa jalla. Adapun sebab kedua mengandung penunaian hak sesama insan. (Bahjah Qulub al-Abrar, asy-Syaikh al-Allamah as-Sadi, hlm. 218)

  • Beriman kepada Allah azza wa jalla

Beriman kepada Allah azza wa jalla mencakup beriman akan wujud-Nya, beriman akan hak rububiyah-Nya[2], beriman akan uluhiyah-Nya[3], dan beriman akan nama dan sifat-Nya[4]. Apabila hilang salah satu dari empat pokok ini pada diri seorang hamba, niscaya cacatlah keimanannya kepada Allah azza wa jalla. (Syarh Tsalatsah al-Ushul, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Beriman kepada Hari Akhir. Beriman kepada hari akhir mencakup tiga hal:

– Mengimani adanya kebangkitan dari dalam kubur,

– Mengimani adanya hisab atau perhitungan amalan dan balasannya, dan

– Mengimani adanya surga dan neraka.

Termasuk dalam keimanan kepada hari akhir adalah memercayai seluruh kejadian setelah kematian, seperti adanya fitnah (ujian) kuburpertanyaan dua malaikat kepada si mayat tentang tiga masalahdan mengimani adanya nikmat dan azab kubur. (Syarh Tsalatsah al-Ushul)

Keimanan terhadap hari akhir ini berkonsekuensi seseorang beramal untuk “menyambut” hari tersebut. Tidaklah bermanfaat sekadar percaya tanpa dibarengi usaha.

  • Berbuat Baik kepada Manusia

Timbangan yang menjadi tolok ukur berbuat baik kepada manusia adalah lakukan kepada manusia apa yang Anda suka dilakukan kepada Anda.Di sisi lain, tinggalkan semua kelakuan atau perbuatan kepada manusia yang Anda tidak suka apabila Anda diperlakukan demikian.

Semua yang Anda suka untuk diperbuat kepada Anda, maka lakukanlah kepada manusia. Sebaliknya, apa saja yang Anda tidak sukai untuk diperlakukan kepada Anda, jangan lakukan hal tersebut kepada manusia.

Abu Hamzah Anas bin Malik radhiallahu anhu, sahabat yang sejak berusia 10 tahun berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , menyampaikan sebuah hadits dari beliau shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apabila ada sebuah kejelekan yang Anda tidak sukai jika menimpa Anda, tetapi Anda lakukan hal tersebut kepada manusia, berarti Anda telah menyianyiakan pokok yang agung ini.

Hadits Anas radhiallahu anhu di atas menunjukkan wajibnya mencintai untuk saudara seiman apa yang kita sukai untuk diri kita. Sebab, ditiadakannya keimanan (yang sempurna) dari orang yang tidak sukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, menunjukkan bahwa hal tersebut hukumnya.

Selain itu, hadits di atas memperingatkan kita dari sifat hasad dan iri dengki kepada sesama saudara seiman. Sebab, orang yang hasad jelas tidak suka kebaikan diperoleh orang lain, dan justru menginginkan yang sebaliknya.

Apabila ada yang menganggap bahwa hal ini sulit, yakni beratnya mencintai kebaikan agar diperoleh orang lain, sebenarnya tidak demikian. Tidak ada kesulitan asalkan seseorang mau melatih jiwanya untuk berbuat demikian. Apabila sudah terlatih, dengan izin Allah azza wa jalla akan mudah. Sebaliknya, apabila seseorang mengikuti keinginan jiwa dan hawa nafsunya, tentu akan sulit baginya. (Syarh al-Arbain an-Nawawiyah, Fadhilatusy Syaikh al-Allamah Ibnu Utsaimin, hlm. 186187)

Hasil dari menjalankan dua sebab di atas (iman kepada Allah azza wa jalla dan hari akhir, serta mencintai kebaikan untuk manusia) tentulah sangat kita impikan. Sebab, itulah kesuksesan sejati. Allah azza wa jalla berfirman,

“Siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah sukses/beruntung.” (Ali Imran: 185)

Makna “zuhziha” adalah didorong mundur. Sebab, neraka dikelilingi oleh syahwat yang jiwa sebenarnya condong kepadanya. Jiwa ini sebenarnya sangat suka dan menyenanginya. Hampir-hampir seorang insan tidaklah berpaling dari syahwat ini kecuali karena didorong mundur agar menjauhinya. Allah azza wa jalla mengatakan,

Maknanya, dia didorong mundur agar menjauh dari neraka.

Dia pun kemudian dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, dia meraih kesuksesan, selamat dari apa yang ditakuti dan mendapat apa yang dicari. (Tafsir al-Quran al-Karim, al-Allamah Ibnu Utsaimin, 2/512)

Kesuksesan atau keberuntungan tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal, yaitu diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Telah dimaklumi, siapa yang diselamatkan dari neraka, tentulah akan dimasukkan ke dalam surga. Sebab, di akhirat hanya ada dua negeri, yaitu surga dan neraka.

Hendaknya setiap kita melihat diri masing-masing. Apabila kita dapati diri kita beriman kepada Allah azza wa jalla dan hari akhir, dan suka memperlakukan manusia dengan apa yang kita sukai untuk diperbuat kepada kita, hendaknya kita bergembira dengan hadits ini. Sebaliknya tentunya.Wallahul mustaan. (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 515). []

 

Sumber asysyariah

[1] Allah azza wa jalla berfirman menyebutkan sifat Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, “Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri-diri kalian, terasa berat atas Rasul tersebut apa yang menyusahkan kalian, dia sangat bersemangat agar kalian beroleh kebaikan, terhadap orang-orang beriman beliau memiliki sifat pengasih lagi penyayang.” (at-Taubah: 128)

[2] Dia bersendiri dalam hak rububiyah ini. Dia-lah sendiri yang menciptakan, yang memiliki, memerintah, mengatur, memberi rezeki, dan sebagainya. Secara ringkas, bisa dikatakan tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah azza wa jalla dalam perbuatan-Nya.

[3] Hanya Dia sendiri yang pantas dan berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam seluruh macam ibadah. Hak uluhiyah bisa dimaknakan mengesakan Dia dalam perbuatan hamba. Sebab, ibadah adalah perbuatan hamba; dan semuanya secara total ditujukan kepada Allah azza wa jalla semata.

[4] Allah azza wa jalla sajalah yang memiliki al-Asmaul Husna, nama-nama yang baik yang mencapai puncak kebaikan; Dia sajalah yang memiliki ash-Shifah al-Ulya, sifat-sifat yang tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut (sesuai dengan kabar yang datang dalam al-Quran dan as-Sunnah) ditetapkan untuk Allah azza wa jalla sesuai dengan sisi yang layak bagi-Nya, tanpa memalingkannya, menolaknya, memisalkan, ataupun menyerupakannya dengan makhluk.

Sebab, Dia Yang Mahasuci berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.” (asy-Syura: 11)

 

MOZAIK

 

————————————————–
Download-lah Aplikasi CEK PORSI HAJI dari Smartphone Android Anda agar Anda juga bisa menerima artikel keislaman ( termasuk bisa cek Porsi Haji dan Status Visa Umrah Anda) setiap hari!

Surga Diprioritaskan Bagi Orang Miskin

ADA yang bertanya kepada al-Ustadz Ammi Nur Baits, “Apa benar, orang miskin masuk surga 40 tahun sebelum orang kaya? Benarkah Nabi Sulaiman masuk surga tertunda 40 tahun setelah para nabi?”

Bismillah was shalatu was salamu ala Rasulillah, wa badu. Terdapat hadis dari Muadz secara marfu yang menyatakan,

Semua para nabi masuk surga 40 tahun sebelum Nabi Sulaiman bin Daud. Dan kaum muslimin yang miskin masuk surga 40 tahun sebelum kaum muslimin yang kaya. Hamba yang sholeh masuk surga 40 tahun sebelum hamba yang lain

Derajat Hadis:

Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mujam al-Kabir no. 142. Kemudian at-Thabrani memberi keterangan, bahwa sanad hadis ini perawinya secara beruntun hanya satu orang: az-Zuhri Syuaib Amr Harun.

Kata at-Thabrani,

Tidak ada yang meriwayatakan hadis ini dari az-Zuhri selain Syuaib, tidak ada yang meriwayatkan dari Syuaib selain Amr, tidak ada yang meriwayatkan dari Amr selain Harun. Dan tidak ada yang meriwayatkan hadis ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali dengan sanad ini..

Al-Iraqi dalam Takhrij Ihya mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani, dari jalur Syuaib bin Khalid, yang sendirian meriwayatkan dari az-Zuhri, dan beliau orang Kufah yang tsiqqah.”

Sementara al-Haitsami dalam Majma az-Zawaid mengomentari hadis ini, “Diriwayatkan at-Thabrani dari gurunya Ali bin Said ar-Razi, dan beliau layinul hadis (hadisnya lembek). Sementara perawi lainnya tsiqqah, dan ada sebagian perawi yang diperselisihkan ulama.”

Setelah menyebutkan beberapa komentar ulama, tim fatwa Syabakah Islamiyah menyatakan, “Sanad semacam ini lebih dekat kepada derajat dhaif dari pada derajat hasan.” (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 134422).

Karena itulah, sebagian ulama dengan tegas menolak hadis ini. Di antaranya al-Qurthubi dalam tafsirnya. Pernyataan bahwa Nabi Sulaiman alaihis salam tertunda 40 tahun masuk surga, ini bertentangan dengan firman Allah, yang menceritakan tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Sulaiman,

“Inilah anugerah Kami; silakan kamu berikan (kepada orang lain) atau kamu simpan (untuk dirimu sendiri) dengan semuanya tanpa hisab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (QS. Shad: 39 40)

Hasan al-Bashri mengatakan,

Setiap kekayaan manusia, Allah berhak untuk menghisab kenikmatan yang dia miliki, kecuali Sulaiman bin Daud alaihis salam. Karena Allah menegaskan, “Inilah anugerah Kami” (smp akhir ayat)..

Kemudian al-Qurthubi mengatakan,

Ayat ini membantah apa yang disebutkan dalam hadis bahwa nabi terakhir yang masuk surga adalah Sulaiman bin Daud alaihis salam, karena dia menjadi raja dan punya kekayaan di dunia. Dalam riwayat lain, bahwa Sulaiman baru masuk surga 40 tahun setelah para nabi. Dan ini hadis yang tidak ada sanadnya. Karena jika anugrah dari Allah itu dijamin tidak akan dihisab, mengingat itu murni pemberian, maka dengan alasan apa Sulaiman menjadi nabi terakhir yang masuk surga. Sementara Allah telah menegaskan, “sesungguhnya Sulaiman mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Tafsir al-Qurthubi, 15/204).

Mereka Lebih Dulu Masuk Surga

Hanya saja, di sana terdapat hadis shahih tentang orang miskin masuk surga sebelum orang kaya. Akan tetapi tidak ada hubungannya dengan Sulaiman.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma,

“Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678).

Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dan dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Allahu alam

 

konsultasisyariah

“Saya Tahu Jalan Pintas Menuju Surga”

Ja’far al-Khuldi – rahimahullah – berkata: Saya mendengar al Junaid – rahimahullah – berkata: Saya mendengar Sari as-Saqathi berkata, “Saya tahu jalan pintas menuju surga:

Jangan meminta apa pun pada seseorang, jangan mengambil apa pun dari seseorang, sementara Anda tidak memiliki apa pun yang bisa Anda berikan pada orang lain.”

Dikisahkan dari al-Junaid bahwa ia berkata, “Tidak dibenarkan seseorang mengambil sesuatu dari orang lain sehingga la lebih suka mengeluarkan (memberi) daripada mengambil.”

Abu Bakar Ahmad bin Hamawaih, sahabat ash-Shubaihi – rahimahullah – berkata, “Barangsiapa mengambil karena Allah maka ia mengambil dengan penuh hormat, dan barangsiapa meninggalkan (tidak mengambil) sesuatu karena Allah maka ia juga mengambil dengan penuh hormat. Dan barangsiapa mengambil bukan karena Allah maka la mengambil dengan hina dan barangsiapa tidak mengambil bukan karena Allah maka dia juga tidak mengambil dengan hina.”

Saya mendengar Ahmad bin Ali al-Wajihi berkata: Aku mendengar az-Zaqqaq berkata, “Yusuf ash-Shayigh datang menjemputku di Mesir dengan membawa kantong berisi dirham. Ia ingin memberiku sesuatu. Namun tangannya aku kembalikan ke dadanya. Lalu ia berkata, ambillah uang ini dan jangan Anda kembali padaku. Sebab andaikan aku tahu bahwa aku memiliki sesuatu, aku memberi Anda sesuatu, tentu aku tidak akan memberikan pada Anda.”

Saya mendengar Ahmad bin Ali berkata: Aku mendengar Abu Ali ar-Rudzabari – rahimahullah – berkata: Aku tidak pernah melihat etika (adab) yang lebih baik dalam memberikan kelembutan dan kasih sayang pada orang-orang fakir daripada adab yang dilakukan Ibnu Rafi’ ad-Dimasyqi.

Aku melihatnya ketika aku bermalam di rumahnya. Pada malam itu aku bercerita tentang Sahl bin Abdullah yang pernah berkata, “Ciri orang fakir yang jujur adalah tidak meminta, tidak menolak dan tidak menyimpan.” Ketika aku mau pergi meninggalkannya, la membawa sejumlah dirham. Ia berdiri di sebelahku mengangkat tempat air. Lalu ia berkata padaku, “Bagaimana Anda bercerita tentang Sahl bin ‘Abdullah?” Tatkala aku selesai mengisahkannya dan aku berka kepadanya, “Janganlah Anda meminta dan jangan pula menolak, maka ia segera melemparkan dirham-dirham itu ke tempat airku lalu ia pergi meninggalkanku.

Abu Bakar az-Zaqqaq – rahimahullah – berkata, “Kedermawanan bukanlah seorang yang berada memberi pada yang tidak punya, akan tetapi kedermawanan adalah orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berada.”

Dikisahkan dari Abu Muhammad al-Murta’isy – rahimahullah – yang berkata, “Menurut saya, mengambil tidak bisa dibenarkan sehingga Anda datang kepada orang yang Anda mengambil darinya. Maka Anda mengambil untuknya dan bukan untuk Anda.

Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi dari al Junaid – rahimahullah – yang berkata: Satu hari aku pergi menemui Ibnu al-Kurraini dengan membawa dirham yang ingin aku berikan kepadanya, dengan anggapan la tidak mengenalku. Aku meminta padanya agar la sudi mengambil dirham yang kubawa untuknya. Kemudian la berkata, “Aku tidak membutuhkan dirham.”

Ia tidak mau mengambilnya. Lalu aku berkata kepadanya, “Jika engkau tidak membutuhkannya, maka aku adalah seorang muslim yang sangat senang bila engkau mau mengambil pemberianku ini. Maka silakan engkau mengambilnya untuk menyenangkan hatiku.” Akhirnya ia mau mengambilnya.

Disebutkan dari Abu al-Qasim al-Munadi rahimahullah- bahwa jika la melihat asap mengepul dari sebagian rumah tetangganya, maka ia akan berkata pada orang-orang yang ada disekitarnya, “Pergilah Anda kepada mereka, dan katakan pada mereka, ‘Berilah saya bagian dari apa yang engkau masak!” Ada seseorang di antara mereka yang berkata, “Barangkali mereka hanya memasak air.” Maka la berkata, “Berangkatlah kepada mereka, apa yang bisa diandalkan oleh orang-orang kaya itu kecuali memberikan sesuatu pada kita dan mereka meminta syafaat dengan pemberiannya itu di akhirat.”

Al Junaid – rahimahullah – berkata: Aku membawa uang dirham kepada Husain bin al-Mishri, dimana istrinya sedang melahirkan. Mereka sedang berada di gurun sahara yang tidak punya tetangga. Namun la tidak mau menerima pemberianku. Kemudian dirham itu kuambil kembali dan kulemparkan ke dalam kamar di mana istrinya berada sembari berkata, “Wahai istri Husain ini untukmu!” Akhirnya ia tidak bisa berkutik untuk menolak apa yang aku lakukan.

Yusuf bin al-Husain – rahimahullah – ditanya, “Jika aku mempersaudara seseorang karena Allah, kemudian aku keluar, kepadanya dengan membawa semua hartaku. Lalu apakah aku telah menunaikan semua hak-haknya dari apa yang Allah berikan kepadaku?”

Maka la menjawab, “Bagaimana Anda bisa melakukannya dengan rendahnya mengambil dan menemukan kemuliaan memberi bila dalam memberi ada kemuliaan sementara dalam mengambil ada kerendahan?”

-Syeikh Abu Nashr as-Sarraj. [sufinews]

 

MOZAIK

Orang Ini Merasa Paling Layak di Surga

SUATU ketika, seorang yang dikenal saleh melihat Nabi Musa berjalan menuju Bukit Sinai. Mengetahui bahwa Musa ingin bertemu Tuhannya, orang saleh itu mendatangi utusan Tuhan itu.

Ia berkata, “Wahai kalimullah, seumur hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik. Saya melakukan shalat, puasa, dan segala yang diwajibkan dalam agama. Untuk itu, saya banyak menanggung derita. Namun itu tidak menjadi masalah bagi saya, saya hanya ingin memastikan apa yang Tuhan persiapkan untukku di hari kebangkitan kelak. Tolong tanyakan pada-Nya”

“Baik,” kata Musa. Lalu Nabi pembawa risalah Taurat ini melanjutkan perjalanannya hingga bertemu seorang pemabuk di pinggir jalan.

“Mau ke mana,?” tanya pemabuk itu. Belum sempat Musa menjawab, pemabuk itu berkata, “Tolong tanyakan pada Tuhan tentang nasibku. Saya ini peminum yang berlumur dosa. Tidak pernah shalat, puasa dan berbuat amal saleh lainnya. Tanyakan padaNya, apa yang telah dipersiapkan untukku.”

Nabi Musa menyanggupi dan menyampaikan pesannya pada Tuhan. Setelah kembali dari Bukit Sinai, Musa bertemu pertama kali pada orang saleh. Kepadanya Musa menyampaikan jawaban Tuhan, “Bagimu pahala yang besar dan surga.”

“Saya memang sudah menduganya,” kata orang saleh itu sebelum pergi meninggalkan Musa. Tidak lama kemudian, Musa bertemu sang pemabuk yang sedang duduk menanti. Kepadanya Musa berkata, “Tuhan telah mempersiapkanmu tempat yang paling buruk.”

Mendengar jawaban utusan Tuhan itu, pemabuk itu melonjak dari duduknya dengan wajah berseri-seri dan seketika rasa bahagianya meledak dengan haru dan gembira. Musa heran dengan sikap pemabuk itu yang menanggapi apa yang disiapkan Tuhan untuknya dengan gembira.

“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang Tuhan persiapkan untukku. Bagiku yang berlumur dengan dosa ini, sangat senang karena Tuhan masih mengingatku. Ketika semua orang tidak mengenaliku, saya yang hina ini masih dikenal Tuhan!” ungkap pemabuk itu dengan penuh kebahagiaan yang tulus.

Nasib keduanya pun akhirnya berubah di Lauhul Mahfudz. Orang saleh itu bertukar tempat dengan pemabuk. Orang saleh menempati Neraka, dan si pemabuk menempati surga. Karena takjub, Musa bertanya pada Tuhannya dan dijawab, “orang yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak mendapat anugerahKu. Karena anugerahKu tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang kedua membuatKu senang, karena apapun yang Aku berikan padanya ia senang. Kesenangannya pada pemberianKu menyebabkan Aku senang kepadanya.”[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2356871/orang-ini-merasa-paling-layak-di-surga#sthash.ERdM9mx3.dpuf

Jin Masuk Surga Sebagaimana Manusia?

JAWABANNYA: Firman Allah dalam AlQuran: “Dan apabila petunjuk-Ku datang kepadamu.” (Thaahaa: 123)

Adalah ditujukan kepada orang-orang yang diturunkan Allah Ta’ala dari surga dengan firman-Nya, “Turunlah semua dari surga itu kamu berdua, sebagian dari kamu menjadi musuh sebagian yang lain.” (Thaahaa: 123)

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila petunjuk-Ku datang kepadamu.”

Kedua hal di atas ditujukan kepada bapak jin dan bapak manusia. Ini menunjukkan bahwa jin mendapat perintah serta larangan dari Allah Ta’ala. Mereka juga tercakup dalam syariat-syariat para nabi, dan kejahatan mereka juga layak mendapat hukuman. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus kepada mereka
sebagaimana diutus kepada manusia. Semua ini tidak diperselisihan para ulama.

Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang apakah jin yang muslim juga masuk surga? Mayoritas ulama berpendapat bahwa jin muslim akan masuk surga, dan jin yang kafir akan masuk neraka. Ada juga yang mengatakan bahwa pahala jin yang muslim hanyalah keselamatan dari siksa neraka namun tidak akan masuk surga. Karena surga hanya dimasuki oleh Adam dan keturunannya, dan ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Orang-orang yang mengatakan bahwa jin muslim juga akan masuk surga memiliki beberapa argumentasi.

Pertama. Dalam ayat 123 dari surah Thaahaa di atas, Allah Ta’ala memberitakan bahwa barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka ia tidak akan merasa takut, sedih, tersesat dan menderita. Ini merupakan konsekuensi dari kesempurnaan nikmat-Nya. Tidak bisa dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menunjukkan peniadaan azab, karena sudah menjadi kesepakatan bahwa jin mukmin tidak akan disiksa.

Seandainya ayat di atas hanya menunjukkan peniadaan azab, maka itu bukanlah pujian bagi manusia yang mukmin, namun sekedar informasi peniadaan ketakutan dan kesedihan. Sebagaimana diketahui bahwa konteks dan maksud ayat adalah bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang paling besar dan terhindar dari penderitaan yang sangat pedih.

Allah Ta’ala mengungkapkan semua itu dengan meniadakan rasa takut dan kesedihan tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan. Sehingga, ketika Allah Ta’ala menurunkan Adam Alaihi Sallam dari surga, maka ia dirundung rasa takut, kesedihan dan penderitaan. Lalu Allah memberitahukan kepadanya bahwa Dia memberikan janji baginya dan bagi keruturunannya.

Yakni, barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya, maka akan terhapus ketakutan, kesedihan, kesesatan, dan penderitaan darinya. Dan dimaklumi bahwa semua itu tidak akan hilang kecuali dengan masuk ke surga. Tetapi, dengan menyebutkan peniadaan keburukan yang paling berat adalah lebih tepat.

Kedua. Firman Allah Ta’ala, “Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata, Diamlah kamu untuk mendengarkannya. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata, Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.'” (al-Ahqaaf: 29-31)

Dalam ayat di atas Allah Ta’ala memberitahukan kepada kita tentang ancamanNya terhadap para jin, yaitu barangsiapa yang memenuhi seruan utusan-Nya, maka akan diampuni dan dibebaskan dari neraka. Seandainya ampunan bagi mereka hanya berupa pembebasan dari azab, maka cukup dengan firman-Nya, “Dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” Akan tetapi, kesempurnaan ampunan itu adalah masuk ke surga dan selamat dari neraka. Sehingga barangsiapa yang mendapat ampunan dari Allah, maka dia masuk surga.

Ketiga. Firman Allah Ta’ala tentang bidadari di surga, “Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (ar-Rahmaan: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia yang beriman akan masuk surga, dan bahwa bidadari di dalamnya belum pernah disentuh oleh mereka. Maka, ini menunjukkan jin-jin yang beriman dapat menyentuh bidadari setelah mereka masuk surga, sebagaimana yang terjadi pada manusia. Seandainya mereka tidak masuk surga, tentulah tidak pantas bagi mereka menerima berita seperti itu.

Keempat. Firman Allah Ta’ala, “Maka jika kami tidak dapat membuatnya, pasti kamu tidak akan dapat membuatnya. Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga itu, mereka mengatakan, Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 24-25)

Di antara jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana dikatakan oleh jin-jin saleh di antara mereka, “Dan sesungguhnya dari kami ada orang-orang taat dan ada pula orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.” (al-Jinn: 14)

Maka karena golongan jin yang kafir masuk dalam ayat kedua (al-Jinn: 14), maka golongan jin mukmin juga harus masuk dalam ayat pertama (al-Baqarah: 25).

Kelima. Firman Allah Ta’ala tentang jin-jin yang saleh. “Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.” (al-Jinn: 14)

Maksud ar-rusyd di sini adalah petunjuk dan kemenangan, yaitu petunjuk dari Alquran. Maka, barangsiapa tidak masuk surga, dia tidak memperoleh tujuan dari petunjuk tersebut, melainkan petunjuk tersebut sekedar dalam pengetahuannya saja.

Keenam. Firman Allah Ta’ala, “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadiid: 21)

Golongan jin yang mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka termasuk orang-orang yang memperoleh berita gembira dan berhak menerimanya.

Ketujuh. Firman Allah Ta’ala, “Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Yunus: 25)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjadikan seruan-Nya bersifat umum, dan menjadikan hidayah-Nya bersifat khusus. Maka, barangsiapa mendapatkan petunjukNya, dia termasuk yang diseru kepada petunjuk-Nya itu. Jadi jin yang mandapatkan hidayah-Nya, adalah termasuk yang diseru kepada hidayah itu.

Kedelapan. Firman Allah Ta’ala. “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dan golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan-Ku hari ini? Mereka berkata, Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri. Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orangorang yang kafir. Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masingmasing orang memperoleh derajat-derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (al-Anam: 128-132)

Penjelasan ayat ini adalah umum untuk jin dan manusia. Dalam ayat tersebut Allah SWT memberitakan kepada mereka bahwa masing-masing mereka memiliki derajat sesuai dengan amalnya. Sebagai konsekuensinya, maka jin yang melakukan kebajikan juga memiliki derajat sesuai dengan amalnya, sebagaimana manusia.

Kesembilan. Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (Fushshilat: 30)

Dan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaaf: 13-14)

Ayat ini kami jadikan dalil, karena tiga alasan. Pertama, kata penghubung (alladziina) di dalam ayat tersebut bersifat umum. Kedua, disebutkannya pahala setelah hal-hal terpuji yang disebutkan sebelumnya. Dan ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyandang hal-hal tersebut berhak menerima pahala itu. Hal-hal terpuji tersebut adalah ikrar bahwa tiada tuhan selain Allah disertai dengan istiqamah.

Ketetapan ini adalah umum karena keumuman sebab. Apabila masuk surga adalah konsekuensi dari kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan pengakuan akan rububiyah-Nya, disertai dengan konsisten terhadap segala perintah-Nya, maka barangsiapa yang melakukan hal ini, dia pun berhak atas balasan tersebut.

Ketiga, Allah Ta’ala berfirman, “Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaaf: 13-14)

Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih adalah penghuni surga. Dan, tentang siapa yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih telah disebutkan dalam firman Allah, “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak akan merasa takut dan merasa sedih.” (al-Baqarah: 38)

Ayat ini meliputi dua golongan, dan ayat ini menujukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih, maka dia adalah penghuni surga.

Kesepuluh. Jika jin-jin yang kafir masuk neraka karena keadilan Allah, maka masuknya jin-jin yang mukmin ke surga karena kemuliaan dan kasih sayang Allah adalah lebih utama. Sebab, kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya dan kebaikan lebih umum daripada keadilan. Oleh karena itulah, tidak akan masuk neraka kecuali mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka. Berbeda dengan surga, ia dapat dimasuki oleh mereka yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Karena Allah Ta’ala telah menciptakan golongan untuk surga yang akan menempatinya tanpa harus melakukan amal kebajikan. Di dalam surga juga Allah akan menaikkan derajat hambahamba-Nya tanpa ada usaha dari mereka, melainkan karena doa, salat, sedekah dan perbuatan baik yang dihadiahkan orang lain kepada mereka. Merupakan ketetapan Alquran serta kesepakatan umat, bahwa jin kafir akan masuk neraka karena keadilan Tuhan dan karena apa yang mereka perbuat.

Sedangkan, jin-jin mukmin akan masuk surga karena kemuliaan Allah dan karena amal mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa jin-jin mukmin tersebut berada di dasar surga, di mana mereka dapat dilihat oleh penghuni surga lainnya tapi mereka sendiri tidak melihat penghuni surga lainnya. Menurut pendapat ini, kondisi mereka di surga ini kebalikan di dunia, di mana jin-jin tersebut dapat melihat anak-cucu Adam, sedangkan anak-cucu Adam tidak dapat melihat mereka.

Akan tetapi, hal seperti ini tidak dapat diketahui tanpa ada dalil yang tidak bisa dibantah. Dan jika dalil tersebut memang benar, maka itu wajib diikuti. Namun jika tidak ada dalil yang mendukungnya, maka pendapat ini sekedar disampaikan agar dapat diketahui, sedangkan kebenarannya tergantung pada dalil. Wallaahu aalam.

[Sumber: Miftah Darus Saadah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2356295/jin-masuk-surga-sebagaimana-manusia#sthash.nutWnSqu.dpuf