Menggapai Kenikmatan Surga Lewat Pesan Agung Surah Ar-Rahman

Surah ar-Rahman memiliki pesan agung menggapai surga.

Surah ar-Rahman memiliki banyak kandungan makna dan pesan. Salah satu pesan tersebut adalah cara memperoleh kenikmatan surga.

Hal itu disampaikan pendakwah Ustaz Firanda Andirja Abidin di Masjid Al Azhar Summarecon Bekasi, Kamis (3/10) malam. 

Dalam surat yang terdiri dari 78 ayat, disampaikan kenikmatan yang dapat diperoleh oleh manusia di akhirat kelak. Namun kenikmatan tersebut hanya bisa didapatkan bagi mereka yang takut kepada Allah SWT 

“Nikmat-nikmat surga tersebut hanya bisa diperoleh orang yang takut kepada Rabb-nya,” kata Ustaz lulusan s3 Universitas Islam Madinah ini, pada Kamis.  

Dia menjelaskan, Allah telah menyebutkan empat surga dalam surat tersebut, ada surga untuk golongan yang pertama, dan ada surga lagi untuk golongan yang kedua. 

“Kata para ulama ini menunjukkan penghuni surga bertingkat-tingkat, menunjukkan rasa takut yang bertingkat-tingkat. Rasa takut yang luar biasa maka mereka berada pada surga yang di atas, rasa takut yang kurang maka dia berada di dua surga yang ada di bawah,” papar Firanda. 

Dalam surah Ar-Rahman ayat 56 disebutkan, ‘Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya’. Di ayat lainnya juga disebutkan mengenai bidadari surga.  

“Dan tidak mungkin seseorang mendapatkan bidadari yang cantik jelita kecuali memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Maka hati-hati ikhwan di zaman yang sekarang ini yang penuh dengan fitnah,” kata dia. 

Firanda menghimbau agar seorang hamba tetap merasa takut, terutama ketika tengah bersendirian. Seorang Muslim sebaiknya tidak mendengar atau pun melihat sesuatu yang diharamkan. 

Adapun ayat-ayat dalam surah ar-Rahman merupakan surat Makiyyah, yaitu diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke kota Madinah.

Ar-Rahman merupakan salah satu dari nama Allah. Ini biasanya bersamaan dengan Arrahmanirrahim, seperti dalam Bismillahirahmanirahim. Ar-Rahman kembali kepada sifat kasih sayang Allah SWT. “Surah ar-Rahman dengan ar-rahman, yang menunjukkan rahmat Allah,” kata dia. 

Dia mengatakan, setelah itu Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam kenikmatan, baik yang berkaitan dengan agama, dunia, kemaslahatan manusia, dan setiap Allah menyebutkan model-model kenikmatan. 

“Allah tutup dengan ‘Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban’, dan nikmat mana yang mau kalian dustakan wahai jin dan manusia,” ungkap Firanda. 

KHAZANAH REPUBLIKA


Perkara yang Banyak Memasukkan Seseorang ke Surga atau Neraka

Dua tempat yang menjadi tujuan seluruh manusia di Kampung Akhirat kelak adalah surga dan neraka. Namun tentu saja surga menjadi tempat paling favorit, meski ada juga yang menghendaki neraka sebagai persinggahannya.

Hanya tak banyak diketahui bahwa ada dua perkara yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk surga. Pun demikian ada dua perkara yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk neraka. Apa sajakah itu?

Jawabannya dapat diketahui dari sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang perkara yang menyebabkan banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik’. Beliau ditanya juga mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Beliau menjawab, ‘Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan’,” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Takwa kepada Allah Ta’ala, secara umum dimaknai sebagai upaya seorang hanba untuk menjalankan semua perkara yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan semua larangan yang dilarang oleh-Nya.

Inilah makna umum takwa, karena takwa diambil dari kata ‘wiqoyah’, yang berarti bahwa semua manusia meminta perlindungan dari adzab Allah dan tidak ada sesuatupun yang dapat melindungi dari adzab Allah kecuali menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Sementara perkara kedua yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah akhlak yang baik. Akhlak dimaknai sebagai tolok ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.”

Adapun dua perkara yang banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan. Makna dari mulut di sini adalah lisan atau ucapan yang sesungguhnya manusia seringkali berbicara tanpa peduli kalau hal tersebut akan menyebabkan ia masuk ke dalam neraka.

Aktifitas lidah itu tidak melelahkan, maka sering didapatkan orang banyak bicara sesuatu yang membahayakan dirinya, seperti ghibah, namimah, melaknat, mencela, dan mencaci, akan tetapi ia tidak menyadari hal itu, sehingga ia memperoleh dosa yang banyak karena perbuatannya itu.

Adapun farj (kemaluan) maksudnya di sini adalah zina, dan lebih keji dari itu adalah liwath (homo seksual). Hal yang demikian itu banyak menjerumuskan manusia karena seringkali embuat mereka terbuai, sedikit demi sedikit hingga mereka terjerumus pada kemaksiatan dan mereka tidak menyadarinya.

Ketika telah mengetahui hal-hal yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga yaitu takwa dan berbuat baik, maka seorang muslim yang baik tentu akan berusaha mendapatkannya.

Begitu juga sebaliknya, ketika mengetahui hal-hal yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka yaitu, mulut dan kemaluan, maka seorang muslim yang baik akan berusaha untuk menjauhinya.

Lantas, bagaimana caranya?

Allah ‘Azza wa Jalla menganjurkan hamba-hamba-Nya agar segera bertaubat ketika berbuat dosa dan mengerjakan kebajikan dan berlomba untuk memperoleh derajat muttaqin.

Firman Allah, “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133).

Sementara akhlak, maka tolok ukur akhlak yang agung, tentu saja ahlak Nabi Saw., dimana beliau merupakan teladan paripurna bagi seluruh manusia.

Dari manusia agung ini setiap manusia dapat belajar bagaimana menjaga mulut, anggota tubuhnya, termasuk kemaluan agar tidak mendatangkan murka Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam.

MUSLIM OBSESSION

Surga Paling Dekat: Rumah Kita

SURGA yang paling terdekat ialah ada di rumah kita.

Banyak yang tidak tahu bagaimana cara meraihnya dan betapa sulitnya untuk mendapatkan Surga yang belum pernah kita lihat dan tidak dapat kita bayangkan bagaimana wujudnya, sedangkan surga terdekat pun kita lupa bahkan tidak mengetahui bahwa surga itu juga ada di dalam rumah kita sendiri.

Kita boleh merantau sejauh kaki melangkah, hingga di ujung belahan dunia sekalipun. Namun jangan pernah melupakan surga yang ada di rumah kita. Jika tidak sempat bertatap muka, bercengkrama manja, merasakan belaian kasih sayang mereka, bersandar di bahu mereka dan duduk di pangkuan mereka, kita yang jauh dari orangtua bisa bercengkrama lewat telepon.

Kedua orangtua adalah surga bagi kita. Tempat kita mengadu pilu, resah dan sedih ialah kedua orangtua. Maka ketika sudah sukses, jangan pernah lupakan mereka. Jangan lupa dan bagilah kabar sukses, bahagiamu, canda tawamu dan bahagiakanlah mereka dengan kata-kata manismu meskipun lewat telepon. Karena cengkramanya anak kepada kedua orangtua bukanlah gombalan, dan tidak akan dibilang gombal oleh kedua orangtua. Bercengkrama kepada kedua orangtua adalah pribahasa yang murni, bukan gombalisasi.

Saya juga suka duduk di samping teman yang sedang menelepon dengan orangtuanya dan ia juga tidak keberatan saya mendekatinya dan duduk di sampingnya. Saya mendengarkan lantunan kata manis-manjanya kepada kedua orangtuanya, kata-kata yang mengunggah jiwa, dan itu murni lagi-lagi bukan gombal alias basi.

Surga yang dirindukan adalah kedua orangtua.

Ada sebuah cerita dari anak yang sukses. Dia seorang pengusaha, karyawannya banyak. Bahkan setiap tahun ia meng-umrohkan karyawannya dan hampir setiap tahunnya ia berangkat haji.

Sehingga seorang pemuda lain pun yang sedang duduk di dekatnya pada sore itu berkata padanya, “Luar biasa ibadahmu!” Pemuda itu pun berkata, “Saya mau masuk surga” Temannya yang duduk di sampingnya tersenyum mendengarnya, dan tidak lama kemudian sedang asiknya mengobrol, handphonenya berdering, tetapi dia tidak mengangkatnya. Berbunyi lagi dan berbunyi lagi tetapi tetap tidak pernah di angkatnya. Temannya berkata, “Angkat…”

Dia menjawab, “Tidak usah, biar saja, ganggu!”. Tidak lama kemudian handphone itu kembali berbunyi, lalu temanya berkata, “Tidak apa-apa, lebih baik di angkat.”

Namun, temanya malah berkata, “Nanti saja saya urus, bisa saya telepon balik kok.”

Karena temannya penasaran, lalu temannya mengambil handphonenya ternyata dilayarnya tertulis ibunya yang menelpon. Lalu ia sodorkan handphone itu kepada temanya, berkata “Angkat!” Maka dengan sangat terpaksa pemuda Pengusaha itu mengambil handphone itu lalu dia mengangkatnya. Dan dia bilang, “Ada apa bu?”

Ibunya menjawab, “Nak, ibu rindu sama kamu, ibu kangen, datang ke rumah sebentar saja. Ibu mau bertemu kamu, ibu ingin melihat wajahmu. ”

Pemuda itu pun menjawab, “Buk, saya lagi banyak urusan, saya sibuk! Saya banyak pekerjaan, kapan-kapan lah saya datang ke rumah.”

Ibunya menjawab, “Sekali-sekali saja nak.”

“Ya nanti saja bu…”

Lalu ia mematikan handphonenya.

Ketika temannya yang duduk dengannya sore itu sampai di rumah, malam tiba dan temannya itu dikagetkan oleh sebuah telepon yang ternyata adalah dari temannya yang bertemu sore itu (Pemuda Pengusaha). Dia bicara dengan nada yang begitu keras, sehingga temannya tidak bisa mendengar bahwa ia bicara apa, dan temannya bertanya, “Ada apa?”

“Ibu saya meninggal dunia,” jawab pemuda Pengusaha itu.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

Para pembaca teman-teman yang InsyaAllah dimuliakan Allah,…

Kita selalu mencari surga-surga yang jauh, pergi haji berkali-kali, memberi makan anak yatim begitu banyak, amal begitu murah hati dan puasa senin kamis setiap minggu, tetapi kita lupa surga kita yang begitu dekat, begitu mudah kita dapatkan, kita lupakan!

Surga tersebut ada di rumah kita, surga yang paling mudah dan paling cepat kita dapatkan adalah orangtua kita.

*Cerita ini diambil (saya tulis kembali) dari sebuah film yang berjudul, ” Ada Surga di Rumahmu”

Teman-teman semuanya, mari kita raih surga terdekat kita.

Yang lagi jauh dari orangtua, ayo…telepon mereka.

Yang lagi rajin ngaji di Pesantren, orangtua gak bisa datang ke pesantren karena jauh, pinjam handphone ustadz/ustadzah atau hp wartel, telpon surga kita.

Yang lagi kuliah dan ngekos, mari kita telpon surga kita.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Oleh: Muhammad Daud Farma
ulviyeturk94@gmail.com

ISLAMPOS

Baca Buku-Buku Sunnah Digital dari HP Adroid Anda, undu dan instal aplikasinya di sini!

Orang yang Mendapatkan Kamar Khusus di Surga

MASUK surga Allah dan menikmati segala kenikmatan abadi di dalamnya adalah cita-cita seorang muslim. Dan tidaklah kita memasuki surga-Nya, melainkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan di dunia ini.

Secara umum, setiap yang masuk surga akan mendapatkan kenikmatan. Namun ada keistimewaan dan kekhususan di surga yang merupakan balasan bagi orang beriman karena amalan tertentu.

Salah satu kenikmatan yang akan diperoleh orang yang masuk surga adalah kamar khusus. Kamar ini tidak didapatkan dan dihuni oleh semua penghuni surga. Namun beberapa diantaranya akan memiliki kamar ini.

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu ia berkata; Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.”

Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, memberi makan, shaum secara kontinyu, dan shalat pada malam hari di waktu orang-orang tidur.” (HR. Tarmidzi).

Mari pertahankan keimanan kita hingga ajal menjemput kita. Dan isi hidup kita dengan beramal shaleh. Bagi kita yang menginginkan kamar khusus seperti hadits di atas, maka amalkan pula amalan tersebut. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita. [*]

INILAH MOZAIK

Banyak Jalan Menuju Surga

Sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, satu-satunya yang menjadi cita-cita pastilah masuk surga. Untuk mencapai surga, ada berbagai cara yang bisa dilakukan seorang Muslim. Ustaz Ali Hasan Bawazier dalam kajiannya belum lama ini di Masjid Baitul Hakim mencontohkan beberapa cara yang bisa dilakukan agar umat bisa masuk ke surga.

Salah satu yang dicontohkan adalah bersiwak. Bersiwak atau membersihkan mulut dengan kayu dari pohon arak ini memiliki banyak keutamaan. Aktivitas sunah ini sangat disukai oleh Rasulullah SAW. Perihal bersiwak, menurut Ustaz Ali, termasuk salah satu cara untuk mewujudkan hal yang dimuliakan Islam. Islam adalah agama yang sangat memuliakan kebersihan.

“Salah satu syiarnya Islam adalah kebersihan dan bersuci,” ujar dia.

Dalam HR Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Kebersihan sebagian dari iman.” Nabi menegaskan, dengan menjaga kebersihan, itu sudah separuh dari iman. Namun, kebersihan yang dituntut bukan hanya lahiriah atau fisik, melainkan juga batin. Dalam surah al-Baqarah ayat 222, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Dalam salah satu hadis sahih, Nabi menjelaskan tentang keutamaan bersiwak. “Bersiwak itu akan membuat mulut bersih dan diridhai oleh Allah.” Ustaz Ali menjelaskan, ridha Allah merupakan hal yang dicari oleh umat di muka bumi. Dengan menja lankan apa-apa yang disenangi Allah, umat telah satu langkah menuju surga.

Saking gemarnya Nabi dalam bersiwak, dalam HR Bukhari, Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Kalau seandainya aku tidak khawatir hendak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” Maka dengan itu, bersiwak menjadi hal sunah dan tidak wajib dilakukan.

“Penggunaan siwak ini bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Namun, ada beberapa waktu yang ditekankan, lebih sunah. Yaitu saat hendak melakukan shalat, hendak berwudhu, ba ngun tidur sebelum shalat Ta hajud, ketika masuk rumah, ketika merasa ada perubahan bau mulut, dan saat berpuasa. Ini hal-hal yang dilakukan oleh Nabi,” ujar Ustaz Ali kepada jamaah.

Cara lain agar lebih dekat dengan surga adalah dengan menjawab azan. Menjawab azan atau panggilan shalat memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Amal an ini dinilai sebagai suatu yang besar, sekalipun ia hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh muazin.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendengarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Dalam hadis lain nya disebutkan barang siapa yang menjawab adzan, semua dosanya akan diampuni.

Selain itu, dalam HR Muslim, Nabi bersabda, “Ketika muazin mengumandangkan Allahu akbar.. Allahu akbar, lalu kalian men jawab: Allahu akbar.. Allahu akbar. Kemudian muazin mengumandangkan Asyhadu anlaa ilaa ha illallaah.., lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir azan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga.” Perihal ini sudah dijamin oleh Rasulullah SAW.

Cara berikutnya yang dicontohkan adalah dengan menjalankan shalat wajib lima waktu. “Shalat ini salah satu fondasi Islam. Islam dibangun oleh lima perkara; syahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, menjalankan puasa, dan menunaikan haji,” ujar Ustaz Ali.

Salah satu keutamaan menjalankan shalat lima waktu ditulis dalam HR Muslim. Di mana Nabi SAW bersabda,”Antara shalat yang lima waktu, antara Jum at yang satu dan Jumat berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”

Dosa-dosa besar yang dimaksud di sini bukan hanya tujuh hal yang sering disebutkan, seperti syirik, menuduh wanita salehah berbuat zina, sihir, membunuh tanpa haq, memakan harta anak-anak yatim, riba, dan meninggalkan peperangan. Dosa besar yang dimaksud adalah perbuatan yang merugikan tidak hanya dirinya, tapi juga orang lain.

“Secara garis besar, dosa besar adalah segala perbuatan yang diancam hukum di dunia, yang dilaknat Allah maupun Rasul- Nya, dan yang diazab atau dilaknat serta masuk ke neraka tertentu di akhirat. Ini yang diformulasikan oleh imam-imam besar yang ada. Jadi, dosa besar bukan tujuh hal saja,” ujar Ustaz Ali.

Perihal keutamaan menjalankan shalat wajib lima waktu, menurutnya merupakan hal yang sudah jelas aturannya. Shalat adalah pondasi agama dan hal yang pertama kali dihisab atau dihitung oleh malaikat saat di akhirat. Ustaz Ali menyatakan kedudukan shalat dan bersuci atau kebersihan dalam Islam sangat tinggi.

Saya Tahu Jalan Pintas Menuju Surga

JA’FAR al-Khuldi – rahimahullah berkata,” Saya mendengar al Junaid -rahimahullah -berkata: Saya mendengar Sari as-Saqathi berkata, “Saya tahu jalan pintas menuju surga: Jangan meminta apa pun pada seseorang, jangan mengambil apa pun dari seseorang, sementara Anda tidak memiliki apa pun yang bisa Anda berikan pada orang lain.”

Dikisahkan dari al-Junaid bahwa ia berkata, “Tidak dibenarkan seseorang mengambil sesuatu dari orang lain sehingga la lebih suka mengeluarkan (memberi) daripada mengambil.”

Abu Bakar Ahmad bin Hamawaih, sahabat ash-Shubaihi – rahimahullah – berkata, “Barangsiapa mengambil karena Allah maka ia mengambil dengan penuh hormat, dan barangsiapa meninggalkan (tidak mengambil) sesuatu karena Allah maka ia juga mengambil dengan penuh hormat. Dan barangsiapa mengambil bukan karena Allah maka la mengambil dengan hina dan barangsiapa tidak mengambil bukan karena Allah maka dia juga tiak mengambil dengan hina.”

Saya mendengar Ahmad bin Ali al-Wajihi berkata: Aku mendengar az-Zaqqaq berkata, “Yusuf ash-Shayigh datang menjemputku di Mesir dengan membawa kantong berisi dirham. Ia ingin memberiku sesuatu. Namun tangannya aku kembalikan ke dadanya. Lalu ia berkata, fAmbillah uang ini dan jangan Anda kembali padaku. Sebab andaikan aku tahu bahwa aku memiliki sesuatu u aku memberi Anda sesuatu tentu aku tidak akan memberikan : pada Anda.”

Saya mendengarAhmad bin Ali berkata: Aku mendengarAbu Ali ar-Rudzabari – rahimahullah – berkata: Aku tidak pernah melihat etika (adab) yang lebih baik dalam memberikan kelembutan dan kasih sayang pada orang-orang fakir daripada adab yang dilakukan Ibnu Rafi’ ad-Dimasyqi. Aku melihatnya ketika aku bermalam di rumahnya. Pada malam itu aku bercerita tentang Sahl bin Abdullah yang pernah berkata, “Ciri orang fakir yang jujur adalah tidak meminta, tidak menolak dan tidak menyimpan.”

Ketika aku mau pergi meninggalkannya, la membawa sejumlah dirham.Ia berdiri di sebelahku mengangkat tempat air. Lalu ia berkata padaku, “Bagaimana Anda bercerita tentang Sahl bin ‘Abdullah?” Tatkala aku selesai mengisahkannya dan aku berka kepadanya, “Janganlah Anda meminta dan jangan pula menolak, maka la segera melemparkan dirham-dirham itu ke tempat airku lalu ia pergi meninggalkanku.

Abu Bakar az-Zaqqaq – rahimahullah – berkata,”Kedermawanan bukanlah seorang yang berada memberi pada yang tidak punya, akan tetapi kedermawanan adalah orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berada.”

Dikisahkan dari Abu Muhammad al-Murta’isy- rahimahullah -yang berkata,”Menurut saya, mengambil tidak bisa dibenarkan sehingga Anda datang kepada orang yang Anda mengambil darinya. Maka Anda mengambil untuknya dan bukan untuk Anda.

Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi dari al Junaid – rahimahullah – yang berkata: Satu hari aku pergi menemui Ibnu al-Kurraini dengan membawa dirham yang ingin aku berikan kepadanya, dengan anggapan la tidak mengenalku. Aku meminta padanya agar la sudi mengambil dirham yang kubawa untuknya. Kemudian la berkata,”Aku tidak membutuhkan dirham.” la tidak mau mengambilnya. Lalu aku berkata kepadanya, “Jika engkau tidak membutuhkannya, maka aku adalah seorang muslim yang sangat senang bila engkau mau mengambil pemberianku ini. Maka silakan engkau mengambilnya untuk menyenangkan hatiku.” Akhirnya ia mau mengambilnya.

Disebutkan dari Abu al-Qasim al-Munadi rahimahullah- bahwa jika la melihat asap mengepul dari sebagian rumah tetangganya, maka ia akan berkata pada orang-orang yang ada disekitarnya, “Pergilah Anda kepada mereka, dan katakan pada mereka, ‘Berilah saya bagian dari apa yang engkau masak!” Ada seseorang di antara mereka yang berkata,”Barangkali mereka hanya memasak air.” Maka la berkata, “Berangkatlah kepada mereka, apa yang bisa diandalkan oleh orang-orang kaya itu kecuali memberikan sesuatu pada kita dan mereka meminta syafaat dengan pemberiannya itu di akhirat.”

Al Junaid – rahimahullah – berkata: Aku membawa uang dirham kepada Husain bin al-Mishri, dimana istrinya sedang melahirkan. Mereka sedang berada di gurun sahara yang tidak punya tetangga. Namun la tidak mau menerima pemberianku. kemudian dirham itu kuambil kembali dan kulemparkan ke dalam kamar di mana istrinya berada sembari berkata, “Wahai istri Husain ini untukmu!” Akhirnya ia tidak bisa berkutik untuk menolak apa yang aku lakukan.

Yusuf bin al-Husain – rahimahullah – ditanya, “Jika aku mempersaudara seseorang karena Allah, kemudian aku keluar. kepadanya dengan membawa semua hartaku. Lalu apakah aku telah menunaikan semua hak-haknya dari apa yang Allah berikan kepadaku?” Maka la menjawab, “Bagaimana Anda bisa melakukannya dengan rendahnya mengambil dan menemukan kemuliaan memberi bila dalam memberi ada kemuliaan sementara dalam mengambil ada kerendahan?” [Syeikh Abu Nashr as-Sarraj/Sufinews]

INILAH MOZAIK

Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat di Surga?

Setelah manusia meninggal, mereka dipisahkan dengan keluarga dan teman-temannya dengan waktu yang sangat lama. Di mulai dari perpisahan menunggu di alam kubur, padang mahsyar, proses hisab, melewati shirath, kejadian di qantharah.

Perlu diketahui bahwa satu hari akhirat sebagaimana 1000 tahun di dunia. Dengan waktu menunggu yang sangat lama ini, apakah kita masih ingat atau sudah lupa dengan keluarga dan kerabat kita? Apalagi usia manusia di surga dalah 33 tahun, bagaimana jika ada keluarga yang meninggal ketika anak-anak?

Jawabannya: kita tetap bisa mengenal keluarga dan kerabat kita di surga, bahkan kita tetap kenal dengan teman-teman kita selama di dunia yang sudah masuk surga.

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,

هل المسلم إذا دخل الجنة يتعرف على أقاربه الذين في الجنة؟

Apakah seorang muslim apabila masuk surga, ia dapat mengenal kerabat-kerabatnya yang masuk di dalam surga?

Jawaban:

نعم يتعرف على أقاربه وغيرهم من كل ما يأتيه سرور قلبه؛ لقول الله تعالى: ﴿وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين وأنتم فيها خالدون﴾ بل إن الإنسان يجتمع بذريته في منزلةٍ واحدة إذا كانت الذرية دون منزلته كما قال تعالى: ﴿والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم…الآية

Iya, Ia bisa mengenal kerabat- kerabatnya dan selain mereka dari setiap kebahagiaan (keinginan) hati yang datang kepadanya. Karenanya Allah berfirman,

“Dan di dalam surga terdapat apa-apa yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan pandangan kalian, dan kalian di dalamnya kekal selamanya”

Bahkan seseorang akan berkumpul bersama anak keturunannya di dalam satu tingkatan surga. Jika anak keturunannya berada pada tingkatan yang lebih rendah darinya (maka akan disusulkan ke tingkatannya).Sebagaimana firman Allah,

“Dan mereka orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, maka Kami akan pertemukan orang-orang beriman itu dengan anak keturunan mereka.” [Nuur ‘alad Darb. Kaset nomor 195]

Perlu diketahui bahwa seorang muslim yang masuk surga tidak hanya mengenal keluarga dan kerabatnya, tetapi juga mengenal sahabat-sahabatnya selama berada di dunia yang juga masuk surga. Sahabat yang bersama-sama saling menasehati di jalan agama.

Di surga terdapat pasar surga yang merupakan tempat berkumpul manusia. Tentu mereka saling mengenal dengan sahabat-sahabatnya ketika berkumpul di pasar surga tersebut.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai pasar surga,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً. فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim no. 7324)

Salah satu kenikmatan manusia di dunia adalah berjumpa dengan saudara dan teman-teman akrab mereka, saling menyapa, menanyakan keadaan, saling bercanda ringan, saling curhat. Ini menimbulkan kebahagiaan dan kenikmatan, apalagi sudah lama sekali tidak bertemu. Demikian juga di surga, disediakan kenikmatan seperti ini. Dijelaskan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

إن سوق الجنة هو مكان اللقاء للمؤمنين بعضهم لبعض؛ لازدياد النعيم بما يجدونه من لذة وسؤدد ، وتحدث بعضهم لبعض؛ وتذاكرهم بما كان في الدار الدنيا وما آلوا إليه في الدار الآخرة؛ ويتجدد هذا اللقاء كل جمعة كما جاء في الحديث؛ لرؤية بعضهم لبعض وأنس بعضهم ببعض

“Pasar di surga adalah tempat bertemunya kaum muslimin satu sama lain supaya bertambah kenikmatan. Merasakan kelezatan saling berbincang-bincang. Dan saling mengenang apa yang terjadi di dunia dan membicarakan apa yang mereka dapatkan di akhirat. Mereka bertemu setiap Jumat sebagaimana pada hadits, agar mereka bisa saling berjumpa satu sama lain.” [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 54/214]

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/43848-bisakah-mengenal-keluarga-dan-kerabat-di-surga.html