Menyoroti LGBT dari Perspektif Alquran dan Fikih

Diskusi tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) kembali hangat seiring kontroversi legalisasi LGBT di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Pro-kontra sudah pasti mengiringi isu LGBT. Secara garis besar, kubu yang pro LGBT mendasarkan pendapatnya pada hak asasi manusia; sedangkan kubu yang kontra LGBT mendasarkan pendapatnya pada nilai-nilai normatif, terutama norma agama.

Bagi umat Muslim, tidak bisa tidak, ketika mendiskusikan isu LGBT, selalu terngiang perilaku kaum Nabi Luth AS yang dikenal sebagai kaum penyuka sesama jenis (homoseksual). Tulisan ini sekedar berbagi informasi tentang LGBT dari perspektif normatif (Alquran) dan yudikatif (fikih).

Dari 27 ayat yang memuat redaksi Luth, terdapat tiga ayat yang melabeli perilaku kaum Nabi Luth AS sebagai fahisyah, yaitu Surat al-A’raf [7]: 80, al-Naml [27]: 54 dan al-‘Ankabut [29]: 28.

(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (Q.S. al-A’raf [7]: 80).

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (Q.S. al-Naml [27]: 54)

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan fahisyah yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu.” (Q.S. al-‘Ankabut [29]: 28).

Secara bahasa, Ibn Faris menyimpulkan bahwa pola kata fa’-ha’-syin menunjukkan sesuatu yang buruk, keji dan dibenci. Sedangkan al-Ashfahani mengartikan fahisyah sebagai perbuatan atau perkataan yang sangat buruk.

Kata fahisyah disebutkan sebanyak 13 kali dalam al-Qur’an dalam beragam makna. Pertama, perbuatan zina (Q.S. al-Nisa’ [4]: 15, 19, 22, 25; al-Isra’ [17]: 32; al-Ahzab [33]: 30; al-Thalaq [65]: 1). Kedua, dosa besar, seperti riba (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 135), tradisi thawaf dengan telanjang bulat pada masa Jahiliyah (Q.S. al-A’raf [7]: 28), menyebar desas-desus tentang kasus perzinahan (Q.S. al-Nur [24]: 19). Ketiga, homoseksual (Q.S. al-A’raf [7]: 80, al-Naml [27]: 54, al-‘Ankabut [29]: 28).

Sesungguhnya penafsiran kata fahisyah sebagai homoseksual, didasarkan pada tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, yaitu Surat al-A’raf [7]: 80 ditafsiri dengan ayat berikutnya, Surat al-A’raf [7]: 81.

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (Q.S. al-A’raf [7]: 81).

Selain dilabeli sebagai fahisyah, perilaku kaum Nabi Luth AS disebut sebagai “khaba’its”, bentuk jamak dari khabitsah. Tepatnya dalam Surat al-Anbiya’ [21]: 74.

Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan-perbuatan khabits (khaba’its). Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 74).

Secara bahasa, Ibn Faris menyimpulkan bahwa pola kata kha’-ba’-tsa’ adalah antonim dari kata thayyib (baik; bagus; bersih; dan sebagainya). Jadi, khabits berarti “buruk; jelek; kotor; dan sebagainya). Sedangkan al-Ashfahani mengartikan kata khabits sebagai sesuatu yang dibenci, jelek dan hina, baik secara empiris maupun logis. Dari sini al-Ashfahani menyebut bahwa kata khabits dijadikan sebagai metonimi (kinayah) dari homoseksual.

Kata khaba’its hanya disebutkan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, Surat al-Anbiya’ [21]: 74 yang berhubungan dengan perilaku homoseksual. Kedua, Surat al-A’raf [7]: 157 yang berhubungan dengan aneka makanan yang diharamkan, seperti babi, darah dan bangkai.

Simpulan dari paparan di atas adalah al-Qur’an melabeli homoseksual sebagai perilaku fahisyah yang berarti perbuatan keji yang tergolong dosa besar; dan sebagai perilaku khabits yang berarti perbuatan hina, baik secara logis maupun empiris. Secara logis, homoseksual dinilai hina, karena menyalahi fitrah manusia normal yang menyukai lawan jenis. Secara empiris, homoseksual dinilai hina oleh mayoritas umat manusia di berbagai belahan dunia. Tampaknya bukan hanya Islam yang mengingkarinya, melainkan seluruh agama di dunia juga mengingkari perbuatan homoseksual.

Dalam Fikih, terdapat perbedaan terminologi dan konsekuensi hukum dari perbuatan asusila yang berhubungan dengan nafsu kelamin.

Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mengidentifikasi tiga istilah yang relevan dengan topik LGBT, yaitu Zina, Liwath dan Sihaq. Berikut uraian detailnya:

Pertama, Zina. Yaitu hubungan asusila antara laki-laki dengan wanita yang bukan pasangan suami-istri sah. Bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhshan), hukumannya adalah dipukul (dera) sebanyak 100 kali, tanpa perlu dikasihani (Q.S. al-Nur [24]: 2). Bagi pelaku zina yang sudah menikah (muhshan), hukumannya adalah dihukum mati dengan cara dirajam atau dilempari batu dan sejenisnya.

Kedua, Liwath (Gay). Yaitu hubungan homoseksual antara laki-laki dengan laki-laki. Statusnya jauh lebih buruk dibandingkan zina. Salah satu alasannya adalah Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Nabi Luth AS, dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada siapapun sebelumnya.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (Q.S. Hud [11]: 82).

Azab berupa bumi yang terbalik, seolah mengisyaratkan bahwa perilaku kaum Nabi Luth AS memang “terbalik” dibandingkan perilaku manusia normal pada umumnya.

Ada dua pendapat terkait hukuman gay (liwath). Menurut Imam Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hukumannya sama dengan zina. Lalu dipilah lagi, Imam Maliki dan Hambali  berpendapat bahwa hukuman liwath adalah hukuman mati, baik pelakunya berstatus muhshan maupun ghairu muhshan. Menurut Imam Syafi’i, disamakan dengan hukuman pezina, yaitu apabila berstatus muhshan, maka dihukum mati; apabila berstatus ghairu muhshan, maka dipukul sebanyak 100 kali tanpa belas kasih.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Imam Hanafi yang menilai bahwa pelaku gay (liwath) adalah dita’zir. Ta’zir berarti hukuman yang didasarkan pada kebijakan hakim yang berwenang. Dalam kasus ini, hukuman ta’zir tidak boleh berupa hukuman mati.

Ketiga, Sihaq (Lesbi). Yaitu hubungan homoseksual antara wanita dengan wanita. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Perilaku lesbi antar kaum wanita adalah perzinahan” (H.R. al-Thabarani). Hukuman pelaku lesbi (sihaq) adalah dita’zir sesuai dengan kebijakan hakim yang berwenang.

Ada dua penjelasan Fikih terkait Transgender. Pertama, jika Transgender dalam pengertian laki-laki yang berperilaku seperti wanita (waria) atau sebaliknya, maka hukumnya diharamkan, berdasarkan Hadis yang melarang laki-laki berpenampilan seperti wanita atau sebaliknya. Kedua, jika Transgender dikaitkan dengan operasi mengubah kelamin, dari laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya, maka hukumnya juga diharamkan, karena tergolong tabdil atau mengubah ciptaan Allah SWT.

Berbeda halnya dengan takmil (menyempurnakan) dan tahsin (memperbagus) ciptaan Allah SWT yang hukumnya diperbolehkan. Misalnya, Orang memiliki gigi yang tidak rata, lalu diratakan. Orang memiliki rambut keriting (ikal), lalu diluruskan. Dan sebagainya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Oleh: Dr Rosidin MPdI , Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang

 

REPUBLIKA

Saatnya Menolong Pelaku LGBT

Kaum Lesbian, Homoseksual, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia nampaknya menjadi pembicaraan serius minggu-minggu ini. Pembahasan ini sehubungan dengan dugaan seriusnya mereka menjalankan misi terus berkampanye di berbagai tempat agar LGBT bisa diterima di negeri ini.

Hal itu bisa dilihat dari kedegilan mereka dengan mensomasi Harian Umum Republika atas berita dengan judul LGBT Ancaman Serius yang terbit pada Ahad, 31 Januari 2016.

Menariknya, atas reaksi cepat dan massif dari berbagai kalangan umat Islam (tokoh, ormas dan media) pengasong ide LGBT di negeri ini mengeluarkan istilah homophobia. Tentu saja istilahhomophobia ini menarik untuk didudukkan secara objektif.

Menarik apa yang dipaparkan dalam buku Combatting Homophobia Experiences and Analyses Pertinent to Education yang menjelaskan bahwa homophobia adalah perkara yang tidak bisa dilihat secara satu sisi semata. Tetapi, memerlukan beragam pendekatan yang melibatkan banyak aspek.

Anehnya, di negeri ini setiap penolakan yang dilayangkan kepada pengasong ide-ide liberalisme langsung dihantam dengan beragam label; mulai tidak toleran, tidak objektif, kuno, tidak humanis, diskriminatif dan kini disebut dengan istilah homophobia.

Memang di beberapa negara, yang tidak menganggap begitu pentingnya agama seperti di Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin, serta India dan negara-negara lainnya sudah ada yang mengakui LGBT secara legal konstitusional,  sementara Indonesia tidak.

Atas dasar itulah, pengasong ide-ide liberal memberikan banyak label kepada siapa saja yang menolak ide yang mereka anggap modern dan progresif serta telah diakui di banyak negara asing.

Hal itu memang sepintas nampak rasional, teurtama jika menjadikan humanity sebagai satu-satunya cara memandang. Humanity yang dikehendaki Barat nampaknya ingin semua kondisi manusia bisa diterima sebagaimana yang umum diterima di masyarakat, termasuk LGBT. Andalan untuk menjadikan pemahaman ini disambut ialah dengan menggunakan kata sakti lain, yakni “anti diskriminasi”.

Tetapi, dunia tidak mungkin seimbang tanpa diskriminasi. Artinya, tidak meski diskriminasi selalu buruk. Sebagai contoh, tim sepakbola pria tidak dipertandingkan dengan tim sepakbola wanita. Tentu karena kekuatan pria tidak sama dengan wanita. Oleh karena itu, mesti dipisahkan. Hal semacam ini diskriminasi tetapi ini adil. Sama halnya dengan jenis olahraga lainnya, selain bulu tangkis regu campuran.

Kemudian, mari lihat penetapan gerbong khusus wanita di KRL Jabodetabek. Jelas itu diskrimnasi. Tetapi, diskriminasi yang demikian mengurangi bahkan meniadakan potensi pelecehan seksual dan beragam tindak kejahatan lainnya. Oleh karena itu, diskriminasi tidak berlaku mutlak. Bergantung pada dasar dan tujuan dari diskriminasi itu diberlakukan.

Dengan kata lain, pandangan humanity yang menghendaki diskriminasi sebagai basis dalam memandang baik dan salah jelas tidak bisa diterima akal sehat. Sebab pada kenyataannya ada diskriminasi yang justru ketika tidak diberlakukan akan menimbulkan mudharat luar biasa. Di sinilah logika homophobia menjadi tidak tepat. Mengingat homo itu adalah suatu kelainan yang mestinya direhabilitasi. Tetapi oleh Barat justru dilihat sebagai fakta sosial yang mesti diakui keberadaannya.

LGBT Mesti Ditolong

Astry Budiarty mahasiswi Jurusan Sosiologi FISIP Unhas dalam skripsinya yang berjudul Gaya Hidup Lesbian (Studi Kasus di Makassar) menemukan, LGBT secara normal adalah manusia biasa, yang membedakan hanyalah perilaku seksualnya.

“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lesbian dalam menjalani hidupnya sheari-hari hampir sama dengan orang-orang yang normal pada umumnya, yang membedakan hanyalah perilaku seksual mereka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa, lesbian jenis Butch semuanya berasal dari keluarga menengah keatas namun kehidupan keluarga kurang  harmonis, sedangkan lesbian jenis Femme, berasal dari keluarga menengah kebawah dan kehidupan dalam keluarga sangat harmonis.” (Halaman abstrak).

Lebih lanjut Astry menjelaskan bahwa mengapa seorang wanita menjadi lesbi disebabkan beberapa segi, di antaranya kondisi keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang sering cekcok. Orang tua dengan anak-anak tidak harmonis atau bermasalah. Termasuk juga peran ibu yang sangan dominan dalam keluarga, sehingga meminimalis peran ayah (suami).

Bisa jga seseorang menjadi lesbi karena pengalaman seksual buruk yang tejradi pada masa kanak-kanak, seperti pelecehan seksual dan kekerasan yang dialami. Meskipun menurut penelitian jumlahnya tidak siginifikan, gay hanya 7,4% dan lesbi hanya 3,1%.

Kemudian, ada pengaruh lingkungan. Anggapan lama menyebutkan, “Karakter seseorang dapat dikenali dari siapa teman-temannya” atau pengaruh lingkungan yang buruk dapat memengaruhi seseorang untuk bertingkah laku seperti orang-orang dimana dia berada (halaman 48 – 49).

Dengan demikian LGBT mestinya ditolong untuk bebas dari orientasi seksual yang menyimpang. Meskipun LGBT tidak melanggar HAM katakan demikian, tetapi itu akan merugikan mereka secara individu dan pada jangka waktu tertentu akan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kehidupan umat manusia sendiri.

Logikanya sederhana, LGBT tidak tumbuh dari sejak manusia dilahirkan, tetapi ada faktor penyebab. Artinya LGBT adalah penyimpangan dan bisa diluruskan. Hal itu sama dengan fakta mengapa seseorang mencuri. Mungkin karena ditelantarkan orang tua, orang tua telah tiada dan bisa jadi karena dorongan untuk memiliki sesuatu sementara tidak memiliki uang untuk membeli. Tetapi, apapun sebabnya, perilaku mencuri tidak lantas menjadi baik hanya karena pelakunya memelas dan minta maaf.

Oleh karena itu istilah homophobia yang digunakan untuk melegalkan LGBT secara konstitusi di negeri ini jelas tidak relevan. Selain karena LGBT itu adalah suatu bentuk penyimpangan perilaku, dan ia bisa disembuhkan.

Daripada mereka menghendaki LGBT dilegalkan di negeri Berketuhanan Yang Maha Esa ini, lebih baik LGBT didorong untuk dibuatkan UU yang menjadi payung hukum penyakit Kaum Luth itu segera kembali kepada fitrahnya. Bukan malah dijerumuskan ke dalam siksa bathin dunia-akhirat atas nama dan logika HAM yang kadangkala tidak sesuai dengan common sense. Wallahu a’lam.*

 

 

Oleh: Imam Nawawi, Penulis adalah Pimred Majalah MULIA

Rep: Admin Hidcom

Editor: Admin Hidcom

sumber: Hidayatullah.com

Cara Tobat dari Homo

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz.

Saya sekarang sedang bingung dengan masalah yang saya hadapi dan saya mohon bimbingannya, Ustadz. Begini, saya telah terjerumus ke dalam dunia liwath dan itu sudah terjadi sejak lama. Sampai sekarang, sudah pantas rasanya saya untuk membina rumah tangga karena umur saya sudah kepala tiga. Tapi karena liwath itu, saya sampai saat ini tidak ada semangat untuk menjalani pernikahan karena keraguan dalam diri saya akan kemampuan saya menjalani peran sebagai suami kelak. Saya sangat ingin bisa bebas dari pengaruh liwath ini, Ustadz. Mohon petunjuk, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas bantuan Ustadz sebelumnya. Saya tunggu jawabannya, Ustadz.

NN (**@yahoo.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Allahu akbar! Perbuatan liwath (melakukan homoseks antar-sesama lelaki dengan sodomi) adalah dosa yang sangat besar. Allah menyebutnya sebagai “al-fahisyah” (kumpulan perbuatan kekejian). Allah berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” (Q.s. Al-Ankabut:28)

Perbuatan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang nuraninya masih baik. Saking jeleknya perbuatan ini, Allah menghukum umat Nabi Luth yang melanggar, dengan empat hukuman sekaligus:

1. Dibutakan matanya (Q.s. Al-Qamar:37).
2. Bumi yang mereka tempati diangkat dan dibalik (Q.s. Al-Hijr:74).
3. Dihujani dengan batu (Q.s. Al-Hijr:74).
4. Allah kirimkan suara yang sangat keras (Q.s. Al-Hijr:73).

Andaikan hukum Islam ditegakkan, orang yang melakukan liwath akan dihukum dengan hukuman mati. Hanya saja, para sahabat berbeda pendapat tentang cara menghukumnya. Ada yang berpendapat dibakar, ada yang berpendapat dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian dihujani batu dari atas, dan ada yang berpendapat dipenggal kepalanya. Yang jelas, semua sepakat bahwa pelaku homoseks antar-sesama lelaki dihukum mati, baik sudah menikah maupun belum menikah. Dasar masalah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به

Siapa saja yang berjumpa dengan orang yang melakukan perbuatan seperti tindak-tanduk kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (H.R. Ahmad; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Karena itu, bagi Anda yang sempat terjerumus ke dalam perbuatan nista ini, hendaknya serius dalam bertobat kepada Allah. Yang bisa Anda lakukan:

  1. Tinggalkan lingkungan dan semua teman yang menjadi penyebab Anda melakukan kemaksiatan ini.
  2. Banyak memohon ampun kepada Allah, agar Allah menghapuskan dosa dan hukumnya yang menjadi ancaman bagi Anda.
  3. Anda harus bersedih ketika Anda teringat perbuatan ini.
  4. Carilah lingkungan yang baik, yang bisa membimbing Anda untuk melakukan ketaatan.
  5. Penuhi hidup Anda dengan ibadah dan mempelajari agama. Semoga ini bisa menjadi penghalang bagi Anda agar tidak lagi kembali kepada kemaksiatan sebelumnya.
  6. Jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk orang terdekat Anda, termasuk keluarga, istri, orang tua, atau siapa pun dia. Jika Anda ingin berkonsultasi, Anda bisa konsultasikan kepada orang lain yang tidak mengenal Anda, dengan cara yang disamarkan.

Terkait masalah pernikahan, Anda berhak untuk menikah, karena orang yang sudah bertobat itu dianggap tidak melakukan dosa yang dia sesali.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan

Tiga mantan lesbian asal Jakarta mengikuti shalawatan dan santunan yatim di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad (3/1). Mereka mengaku terketuk hatinya saat mengikuti agenda tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH Ayip Abbas Abdullah yang hadir dalam kesempatan itu mengajak seluruh elemen untuk memperlakukan siapapun dengan baik. Tak terkecuali mereka yang tenggelam di dunia hitam. “Agama adalah akhlak. Marilah sama-sama kita berusaha memanusiakan manusia. Siapapun orangnya,” katanya.

Imel (nama samaran), mantan lesbi mengaku hidupnya tenang. Gelisah yang dulu selalu menerpa ketika di dunia lesbi, kini menghilang. “Jiwa saya tenang sekali. Ada perasaan yang sulit digambarkan. Visual dosa saya tergambar dari kecil. Semua dosa terlihat nyata sekali. Saya menyesal menjadi lesbi,” tuturnya.

Imel mengaku baru setahunan berhenti menjadi lesbian. Dalam hidupnya, ia sudah 20 tahun terkungkung dalam dunia perlesbianan. Setiap kali mengikuti shalawatan dan santunan tak kuat untuk membendung tangis.

Kali pertama mengikuti agenda itu ketika di Jakarta setahun lalu. “Pertama ikut, jiwa saya bergejolak. Lalu berpikir dan memutuskan berhenti jadi lesbi. Sangat berat, Mas.”

Segendang sepenarian. Dini merasakan hal sama. Bedanya, Imel sebagai butchy alias buci, lesbi yang jadi pria; sedangkan Dini sebagai lesbi femme, pelaku sebagai pasangan wanitanya.

“Susah diceritain Mas. Rasanya hati adem. Lalu begitu menyesal tercebur ke lesbi. Saya ingin kembali ke agama,” ucap Dini. Ia telah meninggalkan lesbi setahunan juga usai mengikuti shalawatan dan santunan yatim.

Sudah Merambah Remaja Putri

Dini mewanti-wanti para wanita agar jangan sekali-kali tercebur ke dunia lesbi. Rasa sesalnya seumur hidup. Untuk seluruh orang tua, Dini juga mengingatkan agar mengawasi buah hati wanitanya secara ketat.

“Sekarang lesbi ada juga yang masih SMP. Hati-hati untuk orangtua. Virus lesbi menyebar lebih cepat dari narkoba. Bahkan lebih cepat dari api membakar bensin,” ungkap Dini.

Jika sudah tercebur ke dunia lesbi; alkohol, narkoba, dan seks bebas pasti merasakan. Lalu, kegelisahan hidup akan berlipat-lipat. Hidup tidak tenang. Hal itu diamini Imel dan satu mantan lesbi lainnya, Tika. Dini dan Tika sudah tercebur ke dunia lesbi selama 15 tahun.

Ketiganya berhenti jadi lesbi usai mengenal shalawatan dan yatiman. Sejak itu, mereka terus aktif mengikuti dalam kegiatan tersebut. Meski di Cirebon, mereka tempuh juga.

Tika menambahkan, “Kalau dulu kami selalu gelisah, sekarang ketenangan hidup kami begitu luar biasa. Alhamdulillah. Dan ternyata pesta-pesta dalam lesbi cuma kamuflase rasanya. Setelah pesta menambah ketidaktenangan hidup.”

“Please, jangan pernah terjebak di dunia lesbi,” pinta Tika. (Red: Mahbib)

 

sumber: NU Online

Suara Ibu Membuatku Tobat dari Dunia Lesbi

Namaku Rosi, BMI Hong Kong asal Banten. Aku berkenalan dengan pria yang bekerja di Korea lewat internet. Ketika aku benar-benar jatuh cinta kepadannya, tiba-tiba ia mengkhianatiku dengan menikahi gadis lain di kampung. Dari sanalah kisah kelamku bermula.

Awalnya aku sekadar curhat tentang permasalahan yang kuhadapi kepada si T, sesama BMI Hong Kong. Lama – lama ada rasa tenang dan nyaman yang aku rasakan bila ngobrol dengan T. Merasa sepi tanpa kehadirannya.

Perhatian yang diberikan T layaknya seorang lelaki yang menghawatirkan kekasihnya. Walau kenyataan kami sama-sama perempuan. T memberi semangat, menemani ngobrol setiap saat. Dari sinilah imanku mulai goyah.

T menjadi “lelakinya” dan aku yang perempuannya, walau kami sama-sama wanita. Entah setan mana yang merasuk, namun saat itu ku merasakan kenyamanan bersamanya. Karena sakit hati dengan pengkhianatan pacar, aku stres dan hilang kendali.

Dua tahun bekerja di Hong Kong aku tidak mendapatkan apa-apa karena uang dipakai untuk hura-hura. Lalu di kontrak kedua aku memilih jalan sendiri dan menjadi seorang tomboy (TB).

Karena beban berat dan patah hati dua kali,teman-teman TB menasihatiku, jika aku ingin melupakan T, maka aku harus jadi tomboy. Setelah menjadi TB, aku jatuh hati dengan perempuan yang kebetulan juga berinisial T juga. Mulai dari sana seperti hilang kendali, lupa daratan, lupa tujuan, lupa agama, orang tua, bahkan lupa tanah air.

Banyak kegiatan yang kami lakukan berdua agar kelihatan kompak dan serasi. Dari mulai dancer sampai ke gitar. Intinya agar kelihatan keren.

Suatu hari aku memergoki dia telepon cowok. Dari sana mulai ada pertengkaran. Hatiku mulai gelisah. Karena aku tidak bisa melupakannya.

Semakin lama menjadi TB, membuatku percaya diri, bahkan berjanji sehidup semati dengannya. Lagi-lagi uangku habis untuk menghidupi “pacarku” itu.

Lalu aku kenal kegiatan yang mengasah adrenalin. Dari sana aku mulai ada rasa malu, kenapa aku harus menjadi TB?

Lama berkutat dengan kesibukan baruku, sampai pacarku cemburu dan menuduh aku selingkuh.

Aku cerita ke teman baruku tentang pertengkaranku. Namun teman baruku sering cerita kalau dulu semua anak yang belajar di sini pernah lesbi. Tapi setelah masuk sini, mereka tobat.

Bukan hanya teman baruku yang membuatku malu, guruku juga sering nyindir ketika kita foto bersama. Katanya aku “ganteng”. Secara nurani aku tersinggung karena aku wanita.

Hatiku semakin gersang, pertengkaran sering terjadi.

Ramadhan datang. Kegiatanku libur karena aku harus setia menemani ceweku aktif kegiatan di grupnya. Ada pengajian, buka bersama, ngaji bareng, padahal semua anggotanya lesbian.

Suatu saat ada lomba yang diadakan KJRI Hong Kong bekerja sama dengan majelisku. KJRI mengadakan lomba qiroáh dan kebetulan grup kami diundang untuk mengajukan anggota dan berpartisipasi dalam lomba. Terpilihlah aku. Hari itu malam Nuzulul Qur’an. Aku dandan rapi dan cantik dengan berkerudung dan percaya diri ikut lomba qiro.

Acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di KJRI berjalan lancar, walaupun aku tidak menang. Banyak akhwat yang mengikuti acara. Ruangan penuh. Semua anggun berjilbab,ramah, dan murah senyum.

Di antara mereka ada yang menyapaku dan bertanya dari majelis apa, spontanitas aku kaget dan bingung mesti jawab apa karena aku bukan perwakilan suatu majelis pengajian apa pun. Aku perwakilan dari grub dancer. Akhirnya terpaksa aku bohong kalau aku berasal dari Majelis Al-Muslimin.

Hatiku tidak karuan, terasa panas dan mau nangis tidak tahu kenapa. Akhirnya perlombaan selesai. Masing masing peserta sibuk dengan mengaji karena sambil menunggu buka bersama.

Aku dan temanku memutuskan untuk keluar ganti kostum dan mencari makan karena lapar. Kami pura- pura berpuasa dari pagi sampai sore.

Ketika di dekat sebuah warung Indonesia, kebetulan ada akhwat dari salah satu panitia lomba. Ia menyapaku pelan, ”Mbak, tadi ‘kan yang ikut lomba ngaji ‘kan?”.

Aku langsung tertunduk malu. Bingung mau jawab apa karena kostumku sudah ganti ala anak TB. Rambut pun diacak-acak pakai hairspray. Akhirnya aku beranikan diri menjawab, mengiyakan, seraya pamit dan cepat- cepat pergi.

Sepanjang perjalanan KJRI Victori park hatiku gundah seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk menangis. Aku coba tahan karena tidak enak dengan teman sebelahku.

Hampir tiap malam, sebelum tidur, aku tidak menelepon ceweku. Walau dia miscall dan SMS banyak kali. Aku hanya menjawab ngantuk dan capek. Setiap hari sudah mulai malas meneleponnya. Hatiku tidak karuan, teringat sapaan dan pertanyaan Mbak panitia lomba waktu itu. Rasanya malu dan hancur sudah membohongi diri sendiri dan banyak orang.

Pertengkaran terus berlanjut antara aku dan ceweku,tapi ada saja alasanku tidak ingin diganggu.Akhirnya ia menuduhku selingkuh dan macam-macam tuduhan lain. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa tidak mau menjawab teleponnya.

Suatu hari aku bilang ke ceweku “bagaimana kalau kita sama sama pakai krudung?” Ia marah, nangis, bahkan ngancam mau bunuh diri. Dia sempat  menyilet pergelangan tangannya, untung lukanya tidak dalam. Karena merasa kasihan dan khawatir dengan keselamatanya, akhirnya aku urungkan niat untuk pakai kerudung dan berjanji tidak akan meninggalkan dia lagi.

Hari demi hari kami lalui sampai hari raya tiba. Aanehnya, kami merayakan hari raya dengan sangat spesial. Bagi yang TB harus memakai sarung, baju koko, dan peci. Sedangkan yang cewek pakai baju panjang dan berkerudung. Padahal kami pasangan yang menyelewengkan agama, tapi dengan “pedenya” merayakan hari raya Idul Fitri dengan kostum itu.

Setelah lebaran, aktivitas liburku kembali normal. Beladiri, dancer, dan gitar. Hubungan kami pun mulai membaik. Tapi lagi-lagi pertengkaran datang karena adanya perbedaan kegiatan dan minimnya waktu bertemu. Dia memaksaku fokus di dancer, sedangkan aku lebih suka belajar beladiri. Masing masing tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya kuputuskan keluar dari dancer dan gitar.

Hanya datang sebentar di grup menemani dia dancer setelah itu waktuku untuk pelatihan bela diri. Semakin lama hatiku tersiksa dengan hubungan lesbi seperti ini, karena tiap minggu bertengkar masalah waktu.

Semenjak pertengkaran itu, semua teman sering membicarakanku. Ada yang bilang “ngapain lesbian, cewek sama cewek apa enaknya, buang waktu aja.” Ada juga yang menyarankan aku untuk tobat. Telingaku memerah. Hatiku panas.

Akhirnya aku sudah mulai terbiasa tidak berkomunikasi dengan ceweku dan merasakan ketenangan.

Tanggal 30 Desember adalah hari yang kutunggu, karena hari itu pertandingan lomba klubku. Sebelum lomba, aku mendapat SMS dari temanku bahwa ketika lomba aku harus pakai kerudung. Pikiranku semakin kacau antara cewekku dan lomba. “Apa kata orang -orang nanti kalau aku tiba tiba berkrudung? Apa kata gengku nanti?” Semua berkecamuk sampai pusing tujuh keliling.

Sampai di tempat lomba, semua sudah bersiap-siap . Hanya aku yang masih bingung mau bagaimana. Lalu temanku menyodorkan kerudung dan menyuruh aku memakainya.

Dia bilang, boleh dilepas setelah lomba. Akhirnya dengan yakin aku ambil kerudung itu dan sebisa mungkin aku memakainya karena sudah lama tidak pakai.

Perasaan jadi aneh. Semua teman- teman di ruang ganti bengong melihat aksi yang terjadi. Mereka hanya melirik dengan tatapan mata yang bermacam-macam artinya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku keluar dari ruangan ganti menuju arena lomba. Hampir semua teman di arena melihatku seolah tidak percaya, bahkan guru pun sampai tidak mengenaliku. Aku hanya bisa diam, senyum, dan cuek dengan mereka. Bagiku, di hatiku sudah merasa tenang, karena temanku selalu berbisik untuk tidak mempedulikan mereka.

Aku menang dalam lomba dan mendapat gold medal, namun selesai perlombaan tidak tahu kenapa aku ingin mencopot jilbab itu.

Perselingkuhan terjadi. Perasaanku mulai goyah lagi di antara tiga pilihan: lanjut sama ceweku yang pertama, jalan sama ceweku yang kedua, atau memilih tobat dan berkerudung?

Ada yang bilang aku “playboy”, suka gonti-ganti psangan. Ada yang bilang aku munafik karena sudah berkerudung tapi masih lesbian.

Semua gosip membuat telingaku panas. Lama aku merenung, sakit bila melihat status di Facebook. Mereka sengaja menyindirku, bahkan mereka beramai-ramai komen membahas tentangku. Sangat menyakitkan, padahal mereka yang berkomen juga lesbian.

Sabar yang aku jalani tidak cukup membuatku tenang. Hampir sebulan terombang-ambing dalam lautan masalah. Mentok di ujung jurang yang dalam, terpojok. Maju salah mundur terluka parah. Stres yang kurasakan mengingatkanku pada seseorang yang selama ini ku lupakan.

Ibu! Ibu kandungku yang membesarkanku dan mengirimku datang ke Hong Kong untuk mencari uang. Ibu yang selama ini sudah kulupakan. Suatu ketika aku menelepon ibu. Ia menangis karena aku tidak pernah memberi kabar. Berbagai macam pertanyaan ia lontarkan,sedangkan mulutku tidak kuasa menjawabnya. Hanya air mata yang keluar, tanpa ada isak tangis. Ia berpesan agar aku rajin shalat dan mendoakannya agar sehat dan kami bisa bertemu kembali.

Setelah telepon ibu, hatiku sedikit tenang, padahal di luar sana aku lagi jadi sorotan. Aku yang sangat pintar, sering berprestasi, tapi kelakuan “preman”.

Akhirnya aku putuskan memakai jilbab dan menelpon cewek baruku serta meminta maaf atas perbuatanku selama ini. Dia cukup mengerti dan menerima bahkan mendukungku. Kini ku anggap dia sebagai adik saja, terkadang ia juga ke masjid walau belum istiqamah tobat.

Sampai sekarang gosip tentangku masih ada, tapi aku tutup telinga karena butuh pegangan yang erat agar tak terjatuh lagi.

Aku mulai aktif lagi bergabung di majelis taklim yang sudah 10 tahun aku lupakan. Sampai sekarang, alhamdulillah, aku bisa yakin dan benar- benar istiqomah tobat. Aku menangis jika ingat masa lalu di dunia gelap itu. (Seperti dituturkan kepada Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

 

sumber:  DD Hongkong

Kisah Gay Bertato yang Masuk Islam dan Kemudian Insyaf

Imam Masjid New York Shamsi Ali menuturkan beberapa tahun lalu ia ditelpon oleh seorang sopir limo di kota New York. Menurut sopir tersebut ada pelanggangnya yang ingin belajar Islam.

“Saya meminta dia (pelanggan sopir) agar datang ke masjid. Suatu hari datanglah orang itu, orang putih tinggi besar dan bertato,” kata Shamsi, Rabu, (16/2).

Setelah laki-laki tinggi besar itu duduk, Shamsi bertanya mengapa pria itu mau belajar Islam? Dia mengatakan karena dia ingin jalan hidup yang menuntunnya dalam 24 jam selama 7 hari dan seluruh hidupnya.

Pria itu bercerita bahwa ia beragama Budha saat itu. Walaupun lahir sebagai Katolik, ia pindah Protestan, dan akhirnya masuk Budha. Bahkan ketika datang, dia berpakaian biksu untuk tujuan menghargai Shamsi sebagai imam masjid.

Shamsi pun menjelaskan bagaimana Islam menuntun hidup manusia dalam 24 jam sehari semalam. Baru beberapa menit pria itu memotong pembicaraan dan bertanya: apakah benar ia bisa diterima sebagai Muslim?

“Saya jawab, semua manusia dirangkul oleh Islam dan semua memiliki peluang yang sama untuk menjadi yang terbaik. Saya kemudian lanjut menjelaskan tuntunan Islam,” terang Shamsi.

 

Pria itu kembali memotong pembicaraan lagi dan bertanya, “Apa anda yakin, kalau saya akan bisa diterima oleh Islam?”. Karena terkejut Shamsi lalu bertanya mengapa pria itu bertanya demikian? Lalu laki-laki berbadan besar itu mengaku dirinya seorang gay.

“Sejak kapan anda merasakan seperti itu? Apakah sejak kecil?” tanya Shamsi.

Pria itu sempat terdiam sejenak lalu membantahnya. Ia menceritakan ia baru menjadi gay ketika memulai bisnisnya di bidang event organizer dalam bidang fashion show. Pergaulannya di dunia model yang menjadikannya memiliki kecenderungan untuk menyukai sesama lelaki.

Shamsi menerangkan kepada pria itu, menjadi Muslim bukan sekedar pindah agama tapi melakukan perubahan, termasuk untuk mengubah orientasi seksualnya. Shamsi bertanya kepada laki-laki gay itu, apakah anda mau berubah? Laki-laki itu menjawab dengan tegas, ya saya mau.

 

“Alhamdulillah setelah masuk Islam, dua bulan kemudian di bulan Ramadan pria itu menelpon saya memberitahu kalau dia puasa dan merasakan ketenangan,” jelasnya.

Setahun kemudian di musim haji, Shamsi kembali mendapat telpon menyampaikan bahwa pria itu sedang berada di Maroko untuk melamar calon isterinya. Rupanya diam-diam dia mencari jodoh lewat biro jodoh di internet.

“Alhamdulillah, teman kita ini sudah berkeluarga dan berbahagia. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa berubah. Apalagi itu adalah bagian dari preferensi gaya hidup,” ujar Shamsi.

Shamsi mengaku kurang mengerti dengan mereka yang membela homo dan lesbi. Di satu sisi meninggikan ‘kemampuan manusia untuk menentukan pilihan’. Tapi di sisi lain mereka berargumen seolah kaum homo dan lesbi itu tunduk patuh pada ketentuan lahir.

 

sumber: Republika Online

Saat Jenazah LGBT Telantar, Siapa yang Menshalatkan?

Keberadaan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Surabaya disebut memprihatinkan. Pendiri Kawan Pelangi, sebuah ormas yang menangani pasien marginal di Surabaya, Mila Machmudah Djamhari, mengakui kerap menemukan kasus pasien HIV/AIDS yang merupakan LGBT telantar.

Dia pun mengenang kejadian pada April 2015 lalu. Ketika itu, dua korban HIV/AIDS wafat di RSUD Dr Soetomo. Satunya waria, sedangkan lainnya merupakan gay. “Mereka sudah dua hari meninggal, tapi tak ada respons apa pun dari keluarga dan dari teman-temannya,” ungkap Mila saat berbincang denganRepublika.co.id, Selasa (2/2).

Untuk pasien waria, kata Mila, memang sudah tidak ada keluarga yang mendampingi. Sementara itu, pasien gay ditolak oleh keluarga mereka. Pihak Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya pun mengontak Mila untuk meminta solusi atas jenazah dua LGBT tersebut.

Menurut Mila, berdasarkan prosedur dari RSUD Dr Sutomo, jenazah tanpa penanggung jawab akan dikumpulkan hingga sepuluh. Setelah itu, jenazah tersebut akan dikuburkan tanpa mendapat penanganan sesuai dengan agama yang dipeluknya. Kendala tidak adanya keluarga yang menerima jenazah tersebut, pun membuat jenazah itu dalam status telantar.

Tak kehilangan akal, Mila lantas mengontak seorang aktivis organisasi masyarakat (ormas) Islam Abu Taqi Machiky Mayestino Triono Soendoro. Dia meminta saran kepada Abu Taqi apakah ada lembaga Islam yang bersedia menangani jenazah penderita HIV/AIDS tersebut.

“Kemudian, dikonfirmasi kepada saudara di STAI Ali bin Abi Tholib. Dari beliau-beliau direkomendasikan ke saudara Ustaz Hilmi Basyrewan dari Yayasan Dakwah Bil Hal,” kata Mila.

Sebelum meminta kepada sang ustaz untuk menangani dua jenazah tersebut, Mila mengaku menjelaskan kepada Ustaz Hilmi bahwa dua jenazah itu mengidap HIV/AIDS dan memiliki perilaku seksual menyimpang. Kemudian, kata Mila, ustaz itu hanya menjawab. “Asal dia Muslim, itu ladang amal kami,” kata Ustaz Hilmi seperti ditirukan Mila.

Jenazah waria pun dimandikan dan dishalatkan pada sore hari oleh Ustaz Hilmi. Jenazah itu lalu diantar dengan ambulans milik Dinkes Pemkot Surabaya ke permakaman.  Untuk jenazah gay, kata Mila, pihak dinkes melakukan pendekatan kepada keluarganya agar bisa menerima kondisi jenazah putra mereka. “Akhirnya, keluarga dan masyarakat pun menerima untuk memakamkannya di permakaman kampung,” ujarnya.

Kata Mila, tak ada satu pun ormas pro-LGBT yang melakukan pendampingan terhadap para pasien HIV/AIDS yang LGBT di rumah sakit tersebut. “Mereka kan hanya menggerakkan gaya hidup. Pada saat mereka sakit, coba saja di RSUD Dr Soetomo tidak kelihatan. Baru ketika ada proyek ditangani,” katanya.

Dia menjelaskan, hanya ormas waria yang menunjukkan kepedulian. Hanya saja, dia mengungkapkan, mereka terkendala dengan dana dan jaringan. Karena itu, mereka pun bergandengan dengan Kawan Pelangi untuk mendampingi para pasien korban HIV/AIDS.

Mila mengatakan, meski tidak setuju LGBT karena bertentangan dengan ajaran agama, dia memiliki banyak teman LGBT, dari homoseksual hingga waria. Kebanyakan mereka aktif di organisasi Kawan Pelangi bentukannya. Hanya, Mila mengaku kerap berusaha untuk menunjukkan kepada mereka untuk kembali pada fitrahnya masing-masing.

Terkait LGBT, Jokowi Harus Mencontoh Vladimir Putin

Politisi PKS Hidayat Nur Wahid, meminta presiden Jokowi untuk secara tegas menolak eksistensi LGBT di Indonesia. Sebab, hingga saat ini pemerintah tidak pernah memberikan pernyataan yang jelas mengenai LGBT Indonesia ini.

Apalagi, kata dia, ada pernyataan dari pejabat negara bahwa LGBT harus dilindungi. Padahal, hal tersebut jelas semakin jauh dari komitmen Indonesia untuk mengamalkan Pancasila dan asas HAM sesuai UUD.

”Sangat jelas tidak tegas,Jadi menurut saya, sebelum semuanya sangat terlambat, pak Jokowi harus mengambil langkah yang tegas,” kata Hidayat kepada Republika, Senin (15/2) malam.

Bahkan, Hidayat membandingkan sikap tegas Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyelamatkan negaranya dari penyakit LGBT dengan memerintahkan negaranya untuk membuat UU Anti-Gay. Sementara, Indonesia yang jelas punya UUD, dan Pancasila tidak pernah menunjukan sikap tegasnya.

Oleh karena itu, presiden seharusnya berani memerintahkan hal serupa demi melindungi warga negaranya. Kalau alasan pemerintah hal tersebut melanggat HAM, Hidayat berpendapat HAM yang dibicarakan LGBT itu bertentangan dengan UUD 1945.

UUD, lanjut Hidayat, tidak mengenal HAM yang liberal, menghalalkan segala cara dan bertentangan dengan sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. HAM di Indonesia, menurutnya terukur, ada batasan hukum, serta tidak bertentangan dengan agama dan sesuai dengan Pancasila.

”Tugas pemerintah sebagaimana tegas terhadap teroris, harus melakukan penghentian upaya LGBT. Jadi pemerintah jangan takut melindungi seluruh warga bangsa dengan UUD,” ujarnya.

 

sumber: Republika Online

Tolak LGBT, Mahfud MD tak Takut Di-bully

Pakar Hukum Tata Negara yang juga mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mendapat seranganbullying oleh para pendukung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dalam akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd. Musababnya, Mahfud berkicau bahwa LGBT merupakan perilaku yang berbahaya dan menjijikkan.

Akun Pak Moe @Darminhe menulis, “@mohmahfudmd sadar pak? tiap makhluk tetap ciptaan tuhan kan? menjijikkan? berbahaya? eling pak!”.

Akun Atheos ‏@EL_Atheos juga mempertanyakan kicauan Mahfud MD. “Menurut Pak @mohmahfudmd #LGBT itu apa bahayanya? Sekadar ingin tahu pendapat Bapak,” tulis Atheos. Beberapa saat kemudian akun ini juga menulis “1) LGBT bukan penyakit/virus, jadi tidak bisa ditularkan. 2) Merujuk pertanyaan awal, kalau seseorang itu LGBT, apa bahayanya?”

Meski begitu, para pendukung LGBT itu mendapat serangan balik dari para penolak LGBT. Para netizen juga menyatakan dukungannya kepada Mahfud MD.

Akun SS#JanganDiam @SuaraSocmed menulis “Prof @mohmahfudmdmasih di-bully akun2 pro LGBT. Sabar Prof, tidak semua yang kita katakan bisa menyenangkan semua orang. Apalagi soal LGBT.” Sementara, akun S.Q.R @ShaqeerAkhmad menulis “Terus lawan prof…kami mendukungmu…”

Mahfud MD sendiri menanggapi santai tanggapan para pendukung LGBT tersebut. “Alhamdulillah kalau opini saya ‘tentang (LGBT) ini’ berpengaruh. Saya justru mengira opini saya hanya angin lewat,” tulis Mahfud, Selasa (26/1).

 

Menurut Mahfud, yang nge-bully hanya satu dua orang, tapi ada ratusan yang mendukung. “Karena, yang saya sampaikan lebih manusiawi dan Indonesiawi. Siapa takut?” tulisnya. “Sejak dulu saya tak pernah takut di-bully. Track saja di semua medsos. Pem-bullyhanya 0,01 % dibanding pendukung. Rasional saja.”

Mahfud mengatakan, LGBT tidak apa-apa jika hanya dijadikan sebagai objek studi ilmiah karena sudah lama lembaga-lembaga seperti itu ada. “Tapi, dikaji sebagai perilaku menyimpang.”

LGBT, kata dia, tak boleh mejadi gerakan sebagai sifat dan perilaku. Karena itu, seseorang yang terkena LGBT harus diselamatkan. Sama dengan problem sosial lainnya, LGBT harus ditertibkan oleh negara sesuai dengan hukum dan konstitusi.

Mahfud juga menegaskan tidak menuding pribadi seseorang dalam pandangannya, tapi perilaku para LGBT yang dilarang agama sesuai konstitusi. Kalau menuding orang, kata dia, itu sudah melanggar hukum. “Saya tak sebut nama. Tapi, sifat dan perilaku. Kalau perilaku, ya siapa pun, anak-cucu siapa pun sama saja. Dikira saya takut?” tulis Mahfud.

 

Menutup kicauannya pagi ini, Mahfud membuat kesimpulan bahwa LGBT sebagai gerakan yang diorganisasi harus dilarang. Namun, LGBT sebagai penyakit harus dibantu. “Ok. Nanti ganti topik. Saya mengajar dulu ke kampus. Mohon maaf, bagi yang tersinggung. Saya hanya ingin jujur mengatakan apa yang saya yakini benar.”

Sebelumnya, Mahfud mendukung penolakan terhadap keberadaan kaum lesbian. Menurutnya, selain bertentangan dengan nilai-nilai agama, LGBT tidak sejalan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“HAM tak selalu mutlak-universal. LGBT bertentangan dengan nilai ketuhanan, moralitas, dan budaya Indonesia. Pasal 28J (UUD),” ujar Mahfud dalam akun Twitter pribadinya, Senin (25/1).

Berbicara mengenai LGBT, menurutnya, seharusnya menjadi kepedulian bersama. Bukan hanya bidang-bidang ilmu tertentu. Ia mengingatkan, berbicara ihwal keberadaan LGBT berbeda dengan “mengamati”.

Mahfud juga menulis, LGBT merupakan perilaku yang berbahaya dan menjijikkan. Namun, untuk penanganannya, ia menilai, tidak perlu berlebihan, misalnya, dengan pengawalan Brimob. Berbicara mengenai LGBT yang semakin marak, ia mempertanyakan ihwal penerimaan kaum-kaum tersebut dari moralitas nilai-nilai agama.

“Apakah moralitas nilai-nilai agama kita sekarang sudah menerima LGBT?” tulisnya.

 

sumber: Republika Online

Bagaimana Muslim Bersikap Terhadap Lesbian dan Homo?

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) telah menjadi fenomena sosial di tengah masyarakat. Rita Soebagio dari Aliansi Cinta Keluarga (AILA) menilai masyarakat perlu merangkul orang-orang dengan ketertarikan sesama jenis ini, tanpa mengkompromikannya dengan nilai-nilai agama yang tetap. Pandangan Islam terhadap kelompok LGBT sudah jelas.

“Ketika berbicara tentang LBGT, kita berhadapan dengan suatu gerakan sosial. Bukan person to person. Ada orang yang memiliki same sex attraction (SSA) dan gerakan sosial yang mendukungnya,” kata Rita Soebagio dalam Talkshow Holding Hands with LGBT di kampus Universitas Indonesia, Depok, Selasa (22/9) sore.

Bunda Rita menggarisbawahi, kita tidak sedang menumbuhkan kebencian kepada orang per orang. Tidak dipungkiri, ada orang yang mempunyai kecenderungan sesama jenis. Yang ditolak adalah ketika orang-orang ini menampakkan perilaku tersebut di muka umum, membenarkan tindakan mereka, bahkan mempropagandakan LGBT.

Menurut Rita, umat Islam harus mewaspadai gerakan ini. Ada gerakan yang mungkin tidak disadari oleh para SSA sendiri, suatu gerakan didukung oleh dana jutaan dolar. Dengan tuntutan kesetaraan, kelompok LGBT melakukan redefinisi dan dekonstruksi, yang berimbas pada institusi keluarga. Konsep ayah-ibu dirombak sesuai kepentingan kelompok.

Kaum feminis sering berargumen, LGBT sudah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia, lewat tradisi bissu, calabai, warok, dan sejenisnya. Menurut Bunda Rita, itu tidak bisa menjadi pembenaran LGBT sudah diterima secara luas di Indonesia. Kendati artikulasi perilaku seksual sejenis bisa didapati dalam budaya daerah, LGBT baru muncul sebagai fenomena sosial dalam masyarakat perkotaan pada abad ke-20.

 

Homoseksual dan Agama

Peneliti Center for Gender Studies (CGS) itu menguraikan gerakan LGBT dimulai pada abad 20 lewat proses legalisasi beberapa produk hukum. Meminjam teori aktivis LGBT Dede Oetomo, perjalanan kelompok LGBT di Indonesia dibagi tiga tahap. Awal 80-an, kelompok LGBT masih belum berani tampil. Memasuki akhir 80-an, mereka mulai masuk lewat advokasi AIDS. Kemudian, fase paling berani terjadi pasca reformasi. Pergerakan kelompok LGBT semakin masif dan tidak lagi malu-malu.

“Antara homoseksualitas dan agama sampai kapanpun benturannya akan keras sekali. Islam sudah jelas pandangannya terhadap LGBT. Sekalipun banyak tafsir-tafsir baru dari kelompok pro-LGBT bermunculan,” lanjut Bunda Rita. Tahun 2014, MUI kembali menguatkan lewat fatwa No. 57 Tahun 2014 tentang lesbian, gay, sodomi, dan pencabulan.

Menyikapi LGBT, menurut Bunda Rita, seorang Muslim harus berpegang pada nilai-nilai agama yang tetap. Kendati sangat keras terhadap perilaku sesama jenis, Islam yang rahmatan lil ‘alamin ini juga mengajarkan akhlak dan hak-hak terhadap sesama. Islam mengenal prinsip ta’awanu ala birri wa taqwa, menolong para SSA untuk kembali kepada fitrahnya. Ia mengisahkan, tidak sedikit SSA yang datang dengan segenap kegalauan mengisahkan orientasi seksual mereka.

“Jangan sampai lingkungan semakin menguatkan identitas gender yang salah. Termasuk, lewat tindakan bullying. Bagaimana kita tetap merangkul mereka tanpa kompromi dengan nilai-nilai agama yang tetap. Jangan sampai kita menyisihkan mereka sehingga diambil oleh aktivis gender yang mungkin lebih hangat, kemudian menguatkan potensi SSA itu,” tegas Sekjen AILA itu.

 

sumber: Republika Online