Insinyur Muslim Pencipta Jam

Pembuatan jam di dunia Islam juga didorong kebutuhan keagamaan.

slam adalah agama yang mengajarkan pentingnya menghormati dan menggunakan waktu secara optimal. Sebuah syair Arab bahkan mengibaratkan waktu seperti pedang. ”Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’haa qath’aka.”–Waktu laksana pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.

Ajaran pentingnya memanfaatkan waktu telah melecut para sarjana Muslimuntuk menciptakan alat pengukur waktu, yakni jam. Selain didesak tuntutan hidup, pembuatan jam di dunia Islam juga didorong kebutuhan keagamaan. Dengan menguasai teknologi pembuatan jam, umat Islam bisa mengetahui secara pasti waktu shalat.

Al-Jazari

Ilmuwan yang bergelar pemimpin para insinyur Muslim itu telah berjasa membuat jam air. Sejatinya, ia bernama Abu al-‘Iz Ibn Isma’il ibn al-Razaz al-Jazari (1136-1206). Ia biasa dipanggil al-Jazari. Dunia mengenalnya sebagai salah seorang sarjana, penemu, insinyur mekanik, pemahat, seniman, dan seorang astronom. Karyanya yang paling terkenal Kitab fí ma’rifat al-hiyal al-handasiyya (Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices) tahun 1206 M. Dalam kitab itu, al-Jazari menjelaskan sekitar 50 alat mekanik ciptaannya.

Ibnu al-Shatir

Sejatinya, dia bernama Ala al-Din Abu’l-Hasan Ali Ibn Ibrahim Ibnu al-Shatir (1304-1375). Al-Shatir begitu ia biasa disebut. Al-Shatir merupakan astronom Muslim yang juga seorang ahli matematika. Karyanya yang paling terkenal dalam astronomi adalah Kitab Nihayat al-Sul Fi Tashih al-Usul.

Dalam buku itu, ia merombak habis Teori Geosentris yang dicetuskan Ptolemeus. Secara matematis, al-Shatir memperkenalkan adanya epicycle yang rumit (sistem lingkaran dalam lingkaran). Al-Shatir mencoba menjelaskan bagaimana gerak merkurius jika bumi menjadi pusat alam semestanya dan merkurius bergerak mengitari bumi.

Demi Massa Inspirasikan Ilmuwan Muslim Ciptakan Jam

Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya menghormati dan menggunakan waktu.

 

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya menghormati dan menggunakan waktu secara optimal. Sebuah syair Arab bahkan mengibaratkan waktu seperti pedang. ”Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’haa qath’aka.”–Waktu laksana pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.

Ajaran pentingnya memanfaatkan waktu telah melecut para sarjana Muslim untuk menciptakan alat pengukur waktu, yakni jam. Selain didesak tuntutan hidup, pembuatan jam di dunia Islam juga didorong kebutuhan keagamaan. Dengan menguasai teknologi pembuatan jam, umat Islam bisa mengetahui secara pasti waktu shalat.

Apalagi, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar menunaikan shalat tepat pada waktunya. Sebelum jam diciptakan, peradaban manusia menggunakan matahari sebagai patokan waktu. Jika matahari tepat di atas kepala, menunjukkan waktu sudah tengah hari atau sore. Ketika matahari dekat dengan kaki langit, berarti waktu sudah mendekati pagi atau malam.

Tiga Waktu yang Paling Ditakutkan Manusia

DALAM Alquran Allah swt pernah memberi salam khusus kepada Nabi Yahya dan Nabi Isa as, seperti dalam Firman-Nya,

“Dan salam (keselamatan) bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS.Maryam:15)

“Dan salam (keselamatan) semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS.Maryam:33)

Kali ini kita bertanya, kenapa Allah Memberi salam di tiga waktu tersebut? Ada tiga waktu yang paling menakutkan bagi manusia. Waktu pertama adalah ketika hari kelahirannya, terbukti dengan tangisan bayi ketika baru keluar dari perut ibunya.

Waktu kedua adalah hari ketika masuk ke alam kubur (barzakh). Karena di alam ini, hijab dari manusia mulai terbuka dan ia mulai melihat secara nyata hasil dari amalnya di dunia.

Waktu ketiga adalah hari ketika dibangkitkan di padang Mahsyar. Seperti yang digambarkan Allah swt,

“Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut, pandangannya tunduk.” (QS.An-Naziat:8-9)

Hari di saat tidak ada yang dapat menolong kecuali amal baik kita di dunia ini. Allah Memberi salam di tiga waktu tersebut sebagai isyarat keselamatan bagi Yahya dan Isa karena ketiganya adalah waktu yang paling menakutkan bagi manusia.

Sayidina Ali bin Abi thalib pernah menggambarkan dahsyatnya alam kubur dalam bait-bait syairnya,

Jika manusia diberi umur 1000 tahun dalam keadaan muda,

selalu sehat dan segala keinginannya terwujud,

semua itu akan terlupakan dan tidak berarti ketika menghadapi malam pertama di alam kubur.

Marilah kita persiapkan segala upaya untuk menyambut hari itu, karena tidak ada seorang pun yang bisa lari darinya. Semoga kita termasuk orang-orang yang tersenyum disaat seluruh manusia dihinggapi ketakutan yang dahsyat.

 

INILAH MOZAIK

Demi Masa, Bergeraklah!

Demi masa. Demikian sumpah Allah SWT dalam surah al-Ashar ayat pertama. Ini pertanda jelas akan pentingnya waktu. Tak hanya disurah dengan nomor urut ke-103 itu, penegasan akan pentingnya waktu juga ditemukan di banyak surah. Surah ad-Dhuha, misalnya.

Maka, kata Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Prof Ahmad Satori Ismail, waktu bagi umat Muslim tidak hanya sebagai aksesoris saja. Waktu merupakan bagian dari akidah dan keyakinan. “Usia dan aktivitasnya akan dihisab kelak,” katanya.

Dalam konteks ini, maka tepat untuk merenungkan surat seorang tokoh sufi terkemuka, yakni Hasan al-Bashri pada Umar Bin Abdul Aziz. Sang sufi mengatakan, “Sesungguhnya dunia itu jika kamu memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari.”

Seorang Muslim harus mengingat berharganya waktu, layaknya hari kemarin yang tak terulang. Hari ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan hari besok tidak ada yang tahu seorang Muslim masih hidup atau tidak. Dengan adanya waktu, seharusnya seseorang dapat mengingat kematiannya. Oleh karena itu, berbuat baiklah dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba.

Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, saking pentingnya menghargai waktu, Allah SWT pun selalu bersumpah atas nama waktu. Tidak hanya di satu waktu saja, tetapi juga dari waktu subuh bahkan hingga tengah malam.

Kata tersebut di Alquran diulang sebanyak 206 kali. Bahkan, Dia bersumpah baik di waktu subuh, dhuha, siang, ashar, dan malam. Sumpah Allah SWT tersebut dapat diartikan sebagai sebuah nikmat yang tidak dapat tergantikan. “Satu detik saja yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan,” ujarnya.

Berbeda dengan umat Islam, tradisi Barat hanya mengartikan waktu sebatas uang. Waktu tidak hanya berhubungan dengan kehidupan duniawi yang matrealistis. Memang, setiap orang yang bekerja dihitung berdasarkan jam kerja mereka. Produksi yang dihasilkan makin banyak dan cepat akan semakin menguntungkan dan menghasilkan uang yang banyak.

Tetapi, sebagai Muslim, waktu justru ibarat pedang sehingga mereka sebenarnya tidak boleh bermain-main dengan waktu. Bermain dengan waktu sama saja mempermainkan kehidupan mereka sendiri. Sebab, kehidupan seseorang merupakan kumpulan untaian waktu, hari, jam, menit, bahkan detik. Tiap waktu yang dilalui, berarti berkuranglah usia manusia.

Maka, ungkap Satori, cara untuk menghargai waktu pun telah diteladankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasul semasa hidupnya tidak terlepas dari beribadah. Rasul selalu mengisi waktu kosongnya dengan berzikir dan tidak membuang waktu hanya untuk berbicara omong kosong. Waktu tidur yang digunakannya pun terbatas karena sepertiga malam terakhirnya digunakan untuk qiyamul lail. Lihat pula Umar bin Khatab yang tidak pernah tidur sepanjang hidupnya karena khawatir akan terlambat shalat Subuh berjamaah. Waktu tidurnya digunakan untuk membaca Alquran.

Ketua Yayasan Dinamika Umat Ustaz Hasan Basri Tanjung mengatakan, kehidupan seorang Muslim  tidak terlepas dari waktu. Sumpah Allah ditujukan untuk waktu dhuha, fajar, dan malam. Karena itu, seseorang yang mengabaikan waktu berarti abai juga terhadap kehidupannya. Karena mereka yang tidak menghargai waktu termasuk golongan yang merugi. Selain itu, setiap kegiatan manusia baik dari subuh hingga subuh kembali tidak terlepas dari waktu. “Waktu juga merupakan tanda dari kematian seseorang,” katanya.

Imam al-Ghazali pernah berkomentar soal waktu. Hal yang paling jauh adalah masa lalu dan yang paling dekat adalah kematian. Pepatah Barat yang menyebutkan waktu adalah uang hanya sebatas harta duniawi saja. Sedangkan, makna waktu bagi Islam lebih banyak dari itu. Waktu tidak hanya terkait kehidupan manusia di dunia, tetapi juga di akhirat. Seluruh umat manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai macam perbedaan.

Tetapi, mereka diberikan waktu yang sama, satu hari satu malam selama 24 jam. Sehingga, ketika seseorang kehilangan waktu satu menit saja mereka akan sangat merugi. Sebab itulah, waktu adalah anugerah yang paling berharga. Pentingnya waktu merupakan sebuah isyarat yang patut direnungkan.

Waktu menjadi sebuah pengingat untuk seorang Muslim  menghadap Allah SWT. Mereka diingatkan agar setiap waktu dapat bersyukur terhadap nikmat yang selalu diberikan. Rasulullah pun mengingatkan umatnya agar menggunakan lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Di dalamnya disebutkan salah satunya untuk mendahulukan waktu luang sebelum datangnya waktu sempit.

Waktu luang tersebut seharusnya dapat digunakan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Begitu juga Umar bin Khatab yang tidak pernah tertidur karena selalu menggunakan waktu luangnya untuk bekerja dan beribadah. “Dia tidak akan tidur nyenyak sebelum umatnya tidak lagi kelaparan,” ujarnya.

 

sumber: Republika Online

Kiamat dan Waktu

Waktu bagi kebanyakan orang hanyalah sebatas tanda pengingat ketika saat jam kantor. Pengingat masuknya waktu salat, pembeda antara siang dan malam, atau sebagai tanda bergantinya tahun demi tahun yang selalu dirayakan.

Namun, sebenarnya waktu jauh dari sekadar pengingat hal-hal yang diungkapkan di atas. Apa itu? Yaitu pengingat akan dekatnya hari kiamat. Hari berakhirnya kehidupan di alam semesta. Mengapa demikian?

Hal ini terungkap ketika kita mencoba menelaah penggunaan kata-kata al-Waqt dalam Alquran yang sering dikaitkan dengan terjadinya peristiwa hari kiamat. Jadi, al-Waqt dalam Alquran lebih menunjukkan kepada hari kiamat.

Kata al-Waqt hanya dipakai dua kali dalam Alquran, yaitu terdapat pada QS al-Hijr ayat 38 dan QS Shad ayat 81 dalam bentuk kalimat yang sama, Ilaa yaumi al-Waqti al-Ma’luum yang artinya sampai waktu yang telah ditentukan. Tak lain, ini merupakan tanda permulaan hari kiamat.

Dengan demikian, hari kiamat adalah hakikat waktu itu sendiri yang mengingatkan kita kiamat telah dekat. Ada masanya di pengujung perjalanan hidup kita di dunia ini akan bertemu dengan kiamat.

Bagaimana tidak? Semakin bertambahnya waktu hari kiamat semakin dekat, bumi semakin tua, hanya tinggal menunggu waktu hancurnya saja, begitu juga umur kita yang semakin lama semakin tua. Semua itu menunjukkan kiamat itu benar adanya.

Logikanya, makanan yang kita makan memiliki masa kedaluwarsa, tumbuh-tumbuhan, hewan, juga manusia akan melewati masanya, yaitu kematian. Begitu juga jagat raya ini, memiliki masa akhir, yaitu kiamat. Jadi, semua pasti ada akhirnya.

Hidup hanyalah sementara, tidak selamanya. “Allah telah menciptakan kamu sekalian dalam keadaan lemah, lalu menjadikan kamu dari keadaan lemah itu menjadi kuat, lalu menjadikan dari keadaan kuat itu lemah dan beruban.” (QS al-Ruum [30]: 54).

Manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tentang apa yang telah mereka perbuat selama ini. Tidak heran, pertanyaan mendasar yang dilontarkan pada hari kiamat adalah tentang waktu.

Dari Muadz bin Jabal, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Tidak akan bergeser sepasang kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ia ditanya empat perkara; bagaimana umurnya ia habiskan, bagaimana waktu muda ia gunakan, bagaimana harta bendanya didapatkan dan dibelanjakan, dan apa yang telah dikerjakan dengan ilmunya.” (HR Thabrani dengan sanad yang sahih).

Jadi, sudah siapkah kita bertemu dengan hari kiamat? Untuk itu, sudah saatnya kita instrospeksi diri kita, sudah sampai di mana amalan kita? Ke mana saja umur kita habiskan?

Manfaatkalah waktu yang ada sebelum waktu itu berlalu, betapapun panjangnya umur manusia di dunia ini, sesungguhnya ia tetap pendek, selama penutup hidup adalah kematian. Seorang penyair berkata, “Jika akhir usia adalah kematian, tidak ada bedanya panjang atau pendeknya usia itu.”

 

Oleh: Hayat Hidayat

sumber: Republika Online

Kesempatan

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.103:1-3)

Semua karunia Allah SWT yang diberikan kepada manusia berbeda satu sama lain, kecuali waktu. Apapun kedudukan, warna kulit, suku bangsa, agama, budaya dan seterusnya, waktu yang dimiliki sama.

Yakni satu menit 60 detik, satu jam 60 menit, satu hari 24 jam, satu minggu tujuh hari, satu bulan 30 atau 31 hari, dan satu tahun 365 hari (untuk hitungan Qomariyah ada selish 11 hari).

Barangkali, waktu adalah karunia Allah SWT yang paling mahal dan unik. Ia tak tersentuh indra, datang sesuai sunnatullah, tak pernah berhenti dan jika berlalu tidak pernah kembali.

Jika kehilangan waktu, ia tak bisa tergantikan dengan apapun. Pepatah Arab menyebutkan : “al waqtu ka al-saif, in lam taqtho’hu qoto’aka (waktu itu laksana pedang, jika kau tak menggunakannnya, maka ia akan memenggalmu)”.

Begitu pentingnnya, Allah SWT pun bersumpah atas nama waktu agar kita selalu ingat dalam setiap rangkaian waktu melalui shalat fardhu dan sunnah.

Demi waktu fajar (89:1). Demi waktu shubuh (81:18).  Demi waktu dhuha(93:1). Demi waktu siang (91:3). Demi waktu ashar (103:1). Demi waktu malam (92:1).

Pada sepertiga malam untuk tahajjud (17:79), hingga waktu sahursebelum fajar agar istighfar (3:17).  Kita hanya punya satu pilihan yakni lebih baik. Artinya harus ada gerak, perubahan, kemajuan dan dinamika (hijrah).

Dalam Hadits riwayat oleh Imam al-Bayhaqi dan Ibnu Mubarok, Nabi Muhammad SAW. menyuruh kita menggunakan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Ightanim khamsan qabla khamsin(manfaatkanlah lima kesempatan sebelum lima kesempitan.

Pertama ; syabaabaka qobla haromika (masa muda sebelum tuamu). Banyak yang bisa dilakukan ketika usia muda, tenaga masih kuat, semangat dan cita-cita tinggi.  Masa tua seseorang bisa diprediksi dari keadaannya di waktu muda.

Allah SWT sangat kagum melihat seorang pemuda yang taat di tengah berbagai godaan syahwat duniawi, sehingga dapat perlindungan di Hari Akhir (HR. Muttafaq ‘alaih).

Mumpung masih muda bisa ibadah sempurna, belajar yang giat, berbakti kepada orang tua, dan seterusnya. Kalau sudah tua semua menjadi terbatas.

Kedua ; shihhataka qobla saqomika (masa sehat sebelum sakitmu). Nabi SAW. juga pernah mengingatkan nikmat yang seringkali melalaikan manusia adalah kesehatan. Selagi sehat banyak kebaikan yang bisa dikerjakan. Tapi kesehatan pula yang menjerumuskan kita dalam keburukan.

Misalnya, makan tidak proporsional dan kerja tak kenal batas waktu. Selagi sehat lakukan kebaikan, karena jika sudah sakit tak bisa berbuat banyak lagi, bahkan menjadi beban bagi orang lain.

Mumpung masih sehat, berjamaahlah ke masjid, kerja yang sungguh-sungguh, tunaikan kewajiban kepada Allah SWT., orang tua dan sesama.

Ketiga ; ghinaaka qobla faqrika (masa kaya sebelum fakirmu).  Orang miskin bisa menjadi kaya dan orang kaya juga bisa miskin. Tidak semua orang diberi kesempatan kaya. Selagi kaya dan berkuasa, gunakan untuk kemaslahatan agama dan umat.

Banyak orang kaya tapi sedikit yang dermawan. Bukan kaya-nya yang penting, tapi kedermawanannya. Orang kaya bisa miskin dalam sekejap, tapi orang dermawan akan selalu kaya.

Kita patut iri kepada orang kaya yang dermawan. Mumpung masih kaya dan berkuasa, berkaryalah. Jangan sampai jatuh miskin atau tak berkuasa lagi, baru ingin berbuat baik. Terlambat !

Keempat ; farooghoka qobla syughlika (masa luang sebelum sibukmu). Masa luang juga adalah karunia Allah SWT yang sering melalaikan manusia, sehingga terjerumus kepada kemaksiatan.

Ada saatnya kita punya waktu luang yang bisa digunakan untuk melakukan kebaikan. Berkumpul dengan keluarga, orang tua, berjamaah di masjid dan mengunjungi orang-orang terlantar.

Artinya, waktu luang harus bermanfaat bagi kebaikan diri, keluarga dan masyarakat. Karena, jika datang masa sibuk, ketemu anak dan istri pun tak sempat, apalagi shalat berjamaah ke masjid. Hidup seperti mesin, terjebak pada rutinitas yang menjenuhkan.

Kelima ; hayaataka qobla mawtika (masa hidup sebelum matimu). Penutup dari kelima kesempatan ini adalah hidup dan mati. Selagi masih hidup, gunakanlah untuk menebar kebaikan. Hidup di dunia ini hanya sementara, laksana seorang musafir yang beristirahat di bawah pohon rindang.

Perjalanan akan dilanjutkan kembali. Kematian adalah akhir kehidupan menuju hidup abadi. Kematian begitu dekat dan datang tiba-tiba, seakan tak memberi isyarat.

Tinggal menunggu waktu (ajal). Iman dan amal saleh menjadi bekal, agar mati dalam kebaikan (husnul khatimah). Amin. Allahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA, Ketua Yayasan Dinamika Umat dan Dosen Unida Bogor

 

sumber: Republika Online

Bersahabat dengan Waktu

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali mereka yang nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.” (QS. al-Ashr [103]: 1-3).

 

Manusia hidup di dunia sebenarnya berada dalam masa penantian. Penantian suatu waktu ketika dia akan memenuhi panggilan Penciptanya dalam keadaan siap atau pun tidak siap. Suatu waktu ketika segala yang dimiliki dan dikumpulkan di dunia tidak dapat dibawa, kecuali amal saleh yang menyertainya.

 

Alangkah merugi jika manusia hidup tidak memanfaatkan waktunya seefektif mungkin. Waktu yang dijalani tidak dijadikan lahan untuk bekal kepulangannya kelak di akhirat. Waktu yang dimilikinya tidak dialokasikan sebagai aset untuk dapat ia nikmati kelak saat purnabakti di surga-Nya. Naudzubillah.

 

Allah saja bersumpah atas nama waktu dan berfirman bahwa manusia itu sungguh berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memanfaatkan waktunya untuk nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera membenahi waktu-waktu yang kita miliki.

 

Mari kita melirik pembagian waktu yang dicontohkan Rasulullah saw. Beliau membagi waktu menjadi tiga bagian:

 

1.Waktu untuk Allah

Waktu yang beliau pergunakan untuk beribadah secara pribadi kepada Allah. Saat-saat beliau bermesraan dengan Sang Khalik, seperti melaksanakan salat wajib dan salat sunah, tadabur Quran, bermuhasabah, dan ibadah lainnya.

 

2.Waktu untuk diri

Kehidupan Rasulullah tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh orang lain. Beliau pun tidak menggunakan waktunya hanya untuk kegiatan ibadah pribadi saja. Ada waktu-waktu yang beliau pergunakan untuk istirahat, menjahit baju dan memperbaiki sendalnya. Termasuk mempersiapkan diri berjihad dengan cara menjaga staminanya.

 

3.Waktu untuk orang lain

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial bukan individu. Rasulullah mencontohkan dalam kehidupannya, yaitu beliau mengalokasikan waktu untuk melayani kebutuhan masyarakat, mengajarkan ilmu atau berdakwah, dan mengurusi rumah tangganya.

 

Pembagian waktu yang dicontohkan Rasulullah tadi, tentu saja bukan berarti memilah-milah kegiatan. Namun pembagian tersebut adalah untuk memudahkan dan mengingatkan kita bahwa waktu yang dimiliki harus digunakan sebaik mungkin. Hakikatnya semua aktivitas Beliau adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu perbuatan tergantung pada niat yang kita miliki?

 

Sangat bijak bila kita, khususnya kaum muslimah mulai membenahi waktu-waktu yang dimilikinya. Mewaspadai terhadap berbagai “pencuri waktu” yang senantiasa mengintai kelengahan kita. Waspada saat menonton tayangan yang tidak jelas manfaatnya, melamun atau berpanjang angan-angan, mengobrol yang tidak bermanfaat, dan lainnya. Segeralah istighfar, dan mulailah berdzikir kepada Allah agar langkah kita selanjutnya selalu dituntun-Nya.

 

Mulailah bersahabat dengan waktu, mengisinya dengan aktivitas yang diridhai-Nya. Bukan menjadikan waktu sebagai musuh yang akan menjatuhkan kita ke jurang kenistaan.

 

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Al Hasyr [59]: 18).

Penulis: Betty Y. Sundari Sumber: Majalah Swadaya Swadaya

 

sumber: DPU Daarut Tauhid

Mengapa Islam Mengajarkan untuk Menghargai Waktu?

Di antara keutamaan Nabi Muhammad SAW adalah selalu menghargai waktu. Berjalan dengan agak cepat adalah bentuk konsistensi beliau dalam mengatur waktu. Pernah suatu hari Abu Hurairah menirukan jalan Rasulullah SAW pada saat mengantarkan jenazah seseorang.

Apabila dia berjalan dengan langkah biasa maka Rasulullah SAW pasti mendahuluinya tapi apabila berjalan dengan setengah lari baru dapat bersamaan atau mendahului Rasulullah.

Keutamaannya yang lain adalah Rasulullah SAW selalu menghormati orang lain dengan memperhatikan waktunya. Adalah selalu mengunjungi keluarganya seusai perjalanan jauh pada waktu pagi, karena beliau tidak suka mengakhiri perjalanannya pada malam hari ketika hendak pulang kepada keluarganya, bahkan untuk hal ini beliau sampai melarangnya.

Pada ayat-ayat Alquran, Allah SWT banyak menyinggung tentang waktu, termasuk bersumpah demi waktu dalam surah Al-Ashr [103] ayat 1. Pada surah tersebut, Alllah SWT Menekankan betapa pentingnya menghargai waktu dengan selalu beramal shaleh dan menjanjikan keberuntungan besar bagi yang mengamalkannya.

 

Perintah menghargai waktu lainnya adalah tersirat dalam waktu-waktu shalat yang telah Allah SWT tentukan. Selain merupakan bentuk kewajiban paling asasi, shalat dapat pula menjadi media pembelajaran bagi umat Muslim untuk menghargai dan menepatinya.

Melalaikannya berarti gugur ibadah shalatnya dan berdosa. Pepatah arab mengatakan, ”Waktu bagaikan pedang yang apabila kita tidak menggunakannya dengan baik maka celakalah kita.”

Masih banyak tekanan-tekanan untuk menghargai waktu, karena waktu adalah aturan yang tidak tertulis dan barang siapa yang melalaikannya, selain kemudharatan, banyak hal yang menguntungkan kita tidak dapatkan. Dengan mematuhi waktu berarti menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul-nya.

Kita pun mengetahui bahwa di balik perintah dan larangan-Nya ada hikmah dan pelajaran bagi kita. Sejatinya, waktu merupakan rambu-rambu kehidupan yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta Alam berikut instrumen-instrumennya berupa waktu.

Sungguh bukan sikap seorang Muslim apabila mengenyampingkan waktu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat padahal sebaik-baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan segala hal yang tidak berarti baginya.

Perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat sama dengan tidak menghargai waktu dan sia-sialah hidupnya. Sedangkan waktu hidup kita di dunia hanyalah satu kali, apakah kita akan menyia-nyiakannya? Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Oleh Irman Sulaiman Fauzi 

Disiplin dan Tepat Waktu

Berbicara soal disiplin biasanya dikaitkan dengan pemenuhan aturan, terutama sekali pemanfatan waktu. Seseorang kita sebut disiplin apabila mengerjakan tugas dan pekerjaan yang diembannya dengan tepat pada waktunya. Contoh lainnya, seseorang dikategorikan disiplin dalam berlalu-lintas apabila dijalanan mematuhi segenap rambu-rambu lalulintas yang telah digariskan.

Islam mengajarkan bahwa menghargai waktu lebih utama sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Asr  103 ; ayat 1-3 yang artinya, “ Demi waktu, sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Bahkan setiap hari kita diingatkan dengan apa yang disebut Shalat lima waktu, Betapa waktu sangat tertata, itu semua dihadirkan oleh Allah SWT, salah satunya adalah pengingat betapa ketepatan waktu dalam aktivitas adalah sesuatu yang mutlak adanya.

Hidup yang tertib dan teratur sangat menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam mengelola waktu secara disiplin. Oleh karena itu seorang muslim yang baik seyogyanya memanfaatkan waktu secara optimal semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan kuantitas waktu itu yang jadi soal, melainkan apa yang kita kerjakan pada waktu yang sama. Sebab, ada orang yang dalam waktu24 jam mampu mengurus negara dan mengorkestrasi jutaan orang dalam satu gerak dan nafas pembangunan.

Karena itu untuk menumbuhkan etos kedisiplinan dalam diri kita dibutuhkan manajemen waktu agar kualitas diri kita dapat meningkat. Dan itu semua dapat dilakukan sedemikian rupa serta mampu mengatur waktu yang 24 jam itu untuk semua urusan. Biar cepat, efisien, dan selamat. Sudah lazim kita dengar pameo mengatakan, “alon-alon asal kelakon.” Barangkali d iera yang kompetitif seperti ini, pameo itu sudah terasa usang.  Terlalu statis. Pameo itu dapat kita dinamisasikanlagi. Kalau bisa cepatdan efisien, mengapa harus dibuat lambat. Fiman Allah SWT dalam surah 94:ayat 7 yang artinya, “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras(untuk urusan yang lain).”

Jika saja kita benar-benar hidup berdisiplin, maka jalan usaha dan kerja sebagai perwujudan beribadah kepada Allah akan selalu mendapat keridhaan serta kemudahan dari pada-Nya. Bukan oleh orang lain, akan tetapi hasil usaha kita sendiri. “ora et labora”  bekerja dan berdo’a yang harus kita gaungkan. Apabila kita ingin meraih sukses bangun dari tidurmu, lebih dulu dari ayam berkokok pada pagi hari. Maka marilah kita mulai dari sekarang dan dari diri sendiri. Kalau belum bisa sekaligus, marilah kita biasakan sedikit demi sedikit, dicicil, tapi rutin.

Itu tentu akan lebih baik ketimbang melakukan semua usaha kedisiplinan akan tetapi hanya sesaat setelah itu kembali hidup seperti semula. Bekerja dengan tergesa-gesa tidak lebih baik dari bekerja secara terprogram secara sistematik dapat membuahkan hasil yang lebih baik pula.

 

Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

sumber: Republika Online

Kiamat dan Waktu

Waktu bagi kebanyakan orang hanyalah sebatas tanda pengingat ketika saat jam kantor. Pengingat masuknya waktu salat, pembeda antara siang dan malam, atau sebagai tanda bergantinya tahun demi tahun yang selalu dirayakan.

Namun, sebenarnya waktu jauh dari sekadar pengingat hal-hal yang diungkapkan di atas. Apa itu? Yaitu pengingat akan dekatnya hari kiamat. Hari berakhirnya kehidupan di alam semesta. Mengapa demikian?

Hal ini terungkap ketika kita mencoba menelaah penggunaan kata-kata al-Waqt dalam Alquran yang sering dikaitkan dengan terjadinya peristiwa hari kiamat. Jadi, al-Waqt dalam Alquran lebih menunjukkan kepada hari kiamat.

Kata al-Waqt hanya dipakai dua kali dalam Alquran, yaitu terdapat pada QS al-Hijr ayat 38 dan QS Shad ayat 81 dalam bentuk kalimat yang sama, Ilaa yaumi al-Waqti al-Ma’luum yang artinya sampai waktu yang telah ditentukan. Tak lain, ini merupakan tanda permulaan hari kiamat.

Dengan demikian, hari kiamat adalah hakikat waktu itu sendiri yang mengingatkan kita kiamat telah dekat. Ada masanya di pengujung perjalanan hidup kita di dunia ini akan bertemu dengan kiamat.

Bagaimana tidak? Semakin bertambahnya waktu hari kiamat semakin dekat, bumi semakin tua, hanya tinggal menunggu waktu hancurnya saja, begitu juga umur kita yang semakin lama semakin tua. Semua itu menunjukkan kiamat itu benar adanya.

Logikanya, makanan yang kita makan memiliki masa kedaluwarsa, tumbuh-tumbuhan, hewan, juga manusia akan melewati masanya, yaitu kematian. Begitu juga jagat raya ini, memiliki masa akhir, yaitu kiamat. Jadi, semua pasti ada akhirnya.

Hidup hanyalah sementara, tidak selamanya. “Allah telah menciptakan kamu sekalian dalam keadaan lemah, lalu menjadikan kamu dari keadaan lemah itu menjadi kuat, lalu menjadikan dari keadaan kuat itu lemah dan beruban.” (QS al-Ruum [30]: 54).

Manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tentang apa yang telah mereka perbuat selama ini. Tidak heran, pertanyaan mendasar yang dilontarkan pada hari kiamat adalah tentang waktu.

Dari Muadz bin Jabal, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Tidak akan bergeser sepasang kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ia ditanya empat perkara; bagaimana umurnya ia habiskan, bagaimana waktu muda ia gunakan, bagaimana harta bendanya didapatkan dan dibelanjakan, dan apa yang telah dikerjakan dengan ilmunya.” (HR Thabrani dengan sanad yang sahih).

Jadi, sudah siapkah kita bertemu dengan hari kiamat? Untuk itu, sudah saatnya kita instrospeksi diri kita, sudah sampai di mana amalan kita? Ke mana saja umur kita habiskan?

Manfaatkalah waktu yang ada sebelum waktu itu berlalu, betapapun panjangnya umur manusia di dunia ini, sesungguhnya ia tetap pendek, selama penutup hidup adalah kematian. Seorang penyair berkata, “Jika akhir usia adalah kematian, tidak ada bedanya panjang atau pendeknya usia itu.”

 

Oleh: Hayat Hidayat

sumber: Republika Online