Keteguhan Thawus bin Kaisan Hadapi Hadiah Penguasa

Keteguhan Thawus bin Kaisan dalam menjaga kesucian iman dan Ilmu, seperti dinukilkan dari Mereka adalah Tabiin, patut menjadi teladan bagi setiap umat Islam, terutama elite ulama yang memiliki kedekatan dengan para penguasa.

Soal kemantapan iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia, dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal, Thawus adalah teladan yang sangat mengesankan.

Bagaimana tidak, mesti berkali-kali penguasa setingkat gubernur memberikan hadiah demi mengurangi kritikan tajam Thawus terhadap lingkaran kekuasaan, Ia tidak segan menolak dan mengembalikan hadiahnya secara langsung. Bagi Thawus, kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa.

Begitulah sekilas tentang Dzakwan bin Kaisan yang mendapat julukan Thawus (burung merak), ia laksana burung merak bagi para fukaha dan pemuka pada masanya. Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernur negerinya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf yang juga berpengaruh di Makkah.

Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat dan pamornya melejit, terutama sejak ia mampu membendung gerakan Abdullah bin Zubair. Muhammad bin Yusuf mewarisi banyak sifat jahat saudaranya, Hajjaj bin Yusuf, tapi tak sedikit pun kebaikan Hajjaj yang diambilnya.

Kerakusan Penguasa

Suatu hari di musim dingin, kebanyak penduduk setempat memilih diam tidak protes atas kondisi yang menyulitkan akibat kerakusan sang penguasa. Namun, Thawus bin Kaisan dan Wahab bin Munabbih mendatangi Muhammad bin Yusuf.

Setelah duduk di hadapan wali itu, Thawus memberikan nasihat panjang lebar berupa anjuran dan peringatan. Orang-orang duduk di depan amirnya dan tercengang melihat keberanian Thawus memberikan nasihat kepada sang penguasa.

Melihat ketangkasan Thawus menyampaikan pendapat sekaligus nasihat, Muhammad bin Yusuf yang kala itu baru beberapa tahun menjabat sebagai gubernur hanya tersenyum, tak mengindahkan. Dengan santai, Muhammad bin Yusuf berbisik kepada pengawalnya yang sedang memperhatikan Thawus berceramah di depan pusat pemerintahannya.

“Ambilkan seperangkat pakaian berwarna hijau yang mahal, lalu letakkan di bahu Abdurrahman (panggilan lain Dzakhwan bin Kaisan).

“Setelah menyerukan kepada pengawalnya Muhammad bin Yusuf bergumamam. ” Heem, setelah ini kau akan diam,” kata Muhammad.

Ternyata benar, pengawal itu segera melaksanakan perintahnya. Ia megambil seperangkat pakaian warna hijau yang mahal lalu meletakkannya di atas bahu Thawus. Akan tetapi, Thawus terus saja melanjutkan nasihatnya.
Thawus merasa ada beban bertambah di antara pundak kanannya. Tapi, ia tidak menghiraukannya.

 

Diberi Hadiah Emas

Ia sadar dari aromanya nan harum, jika itu adalah sebuah pemberian sang penguasa untuk menghentikan dakwahnya. Namun, perlahan tapi pasti, saat tengah berbicara, sesekali diselingi dengan menggoyangkan bahunya secara halus hingga akhirnya jatuhlah pakaian tersebut.

Setelah itu, ia berdiri dan beranjak dari tempat itu. Muhammad bin Yusuf tersinggung menyaksikan hal tersebut. Wajah dan matanya berangsur memerah, tapi ia tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Thawus dan Wahab sudah berada di luar majelis.

Wahab berkata kepada Thawus, “Demi Allah, sebenarnya kita tidak perlu membuatnya marah kepada kita. Apa salahnya bila Anda menerima pakaian tadi, kemudian Anda jual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin?”

Thawus berkata, “Apa yang Anda katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, `Kami akan mengambil seperti Thawus bin Kaisan,’ (yakni menerima pemberian penguasa), akan tetapi mereka tidak melakukan seperti yang Anda ucapkan (yakni menjual dan menyedekahkannya kepada fakir miskin).”

Berlanjut Upaya Muhammad bin Yusuf menghinakan martabat Thawus dengan menyogoknya tetap dilanjutkan.
Meski usaha pertamanya gagal, dengan kekuasaan yang ia genggam, tak patah semangat. Kali ini, ia ingin melipatgandakan pemberiannya 1.000 kali lebih mahal.

Selang beberapa hari, ia mengutus bendahara negara membawa pundi-pundi berisi 700 dinar emas, lalu berkata, “Berikan bingkisan ini kepada Thawus.” Ia tak ingin pemberiannya kali ini ditolak.

Tak tanggung-tanggung, ia bahkan mengganjar pengawalnya dengan hadiah melimpah untuk membujuk Thawus menerimanya. Dengan wajah riang gembira dan penuh keyakinan, pemberiannya kali ini diterima Thawus, utusan yang mendapat perintah itu langsung berangkat menuju kediaman sang ulama di Desa al-Janad, dekat Shan’a.

 

Menolak Hadiah

Setelah memberi salam, utusan tersebut berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, ini ada nafkah dari amir untuk Anda.”

“Maaf, saya tidak memerlukan itu,” jawab Thawus dengan lembut. Berbagai jurus dan rayuan dilakukan, namun gagal.
“Silakan ambil barang ini sebelum saya berlaku tidak adil,” katanya. Karena sang gubernur mengancam dari awal, jangan sampai pemberiannya kembali lagi, akhirnya utusan itu mencari kesempatan Thawus lengah.

Secara diam-diam, ia taruh pundi-pundi itu di salah satu sudut rumah Thawus. Setelah itu, ia pun kembali dan melapor kepada amir. “Wahai amir, Thawus telah menerima pundi- pundi itu.”

Betapa senangnya sang gubernur mendengar berita itu, tapi ia tak berkomentar sedikit pun. Ia berpikir bahwa Thawus pasti telah membelanjakannya untuk keperluan macam-macam dan habis. Di sinilah upaya balas dendam untuk mempermalukan Thawus dimulai.

Beberapa hari setelah itu, sang gubernur itu mengutus dua orang dan diikuti pula oleh utusan yang membawakan hadiah untuk Thawus. Tujuannya adalah mengambil kembali hadiah yang tempo hari itu diberikan kepada Thawus. Agar tidak ketahuan kelicikannnya, sang gubernur meminta utusannya berkilah jika hadiah tersebut keliru.

“Untuk itu, sekarang kami datang untuk menariknya kembali dan menyampaikannya kepada orang yang benar,” kata pengawal itu kepada Thawus.

Meski tidak tahu bahwa pertanyaan itu adalah jebakan untuk menjatuhkan martabatnya. Thawus menjawab dengan tenang dan apa adanya. “Aku tidak menerima apa-apa dari Anda, apanya yang harus aku kembalikan?”

Namun, kedua pengawal itu bersikeras dan meminta Thawus segera mengembalikannya. “Tapi, Anda telah menerimanya” katanya lagi.

Thawus menoleh kepada utusan gubernur dan bertanya. “Benarkah aku telah menerima sesuatu darimu?”
Utusan itu gemetar karena takut lalu menjawab, “Tidak, tetapi saya menaruh uang itu di lubang dinding tanpa sepengetahuan Anda,” katanya.

Thawus berkata, “Coba lihatlah di tempat tersebut!”

Kedua pengawal itu memeriksa tempat yang dimaksud dan ternyata mereka mendapatkan pundi- pundi berisi uang itu masih utuh seperti semula. Rombongan pun akhirnya menanggung malu karena keteguhan dan kekuatan iman Thawus.

 

 

sumber: Republika Online

Belajar dari Thawus, Ulama yang tak Mempan Disogok (3)

Beberapa hari setelah itu, sang gubernur itu mengutus dua orang dan diikuti pula oleh utusan yang membawakan hadiah untuk Thawus. Tujuannya adalah mengambil kembali hadiah yang tempo hari diberikann kepada Thawus.

Agar tidak ketahuan kelicikannnya. Sang gubernur meminta utusannya untuk berkata. “ Bahwa utusan Thawus dahulu keliru menyerahkan harta itu kepada Anda. Sebenarnya harta itu untuk orang lain.” Katanya. “Untuk itu sekarang kami datang untuk menariknya kembali dan menyampaikannya kepada orang yang benar.” Kata pengawal itu kepada Thawus.

Meski tidak tahu bahwa pertanyaan itu adalah jebakan untuk menjatuhkan martabatnya. Thawus menjawab dengan tenang dan apa adanya.  “Aku tidak menerima apa-apa dari amir, apanya yang harus aku kembalikan?” Namun, kedua pengawal itu bersikeras dan meminta Thawus segera mengembalikannya.  “Tapi anda telah menerimanya.” katanya lagi.

Thawus menoleh kepada utusan gubernur dan bertanya. “Benarkah aku telah menerima sesuatu darimu?” Utusan itu gemetar karena takut lalu menjawab: “Tidak, tetapi saya menaruh uang itu di lubang dinding tanpa sepengetahuan Anda.” katanya.Thawus berkata, “Coba lihatlah di tempat tersebut!”

Kedua pengawal itu memeriksa tempat yang dimaksud dan ternyata mereka mendapatkan pundi-pundi berisi uang itu masih utuh seperti semula. Keduanya harus menyibak sarang laba-laba untuk mengambilnya lalu dikembalikanlah uang itu kepada gubernur.

Peristiwa Thawus telah dizalimi oleh gubernurnya itu diceritakan kepada Hajjaj bin Yusuf ketika berada di Mekah untuk menunaikan ibadah haji.  Hajjaj yang juga saudara dari sang gubernur yang memiliki pengaruh besar di wilayah baitullah itu bertanya-tanya tentang perkara manasik haji yang belum diketahui Hajjaj.

Namun, ketika sedang asik berbicang, Hajjaj mendengar suara seseorang bertalbiah (membaca doa talbiah) di samping Baitullah dengan suara keras dan memiliki gema yang menggetarkan hati.

Karena suara lirih itu Hajjaj berkata. “Bawalah orang itu kemari!” Orang itupun dibawa masuk kemudian ditanya. “Dari golongan manakah engkau?” Dia menjawab, “Saya adalah satu di antara kaum Muslimin.” Hajjaj berkata, “Bukan itu yang aku tanyakan, saya bertanya dari negeri mana engkau berasal?” Dia menjawab, “Saya penduduk Yaman.” Hajjaj berkata, “Bagaimana keadaan gubernurku yang di sana?” (yakni saudara Hajjaj) Dia menjawab, “Waktu saya pergi, beliau dalam keadaan gemuk, kuat, dan segar bugar.”

Mendengarkan jawab yang bukan diharapkannya Hajjaj berkata lagi.  “Bukan itu yang aku maksud.” Dengan nada sedikit kesal, Hajjaj bertanya balik. “Lalu dalam hal apa yang ingin anda ketahui tentang gubernur saya di sana?”. Hajjaj dengan lembaut kembali bertanya lagi.  “Bagaimana perlakuannya terhadap kalian?” Dia menjawab, “Waktu saya pergi, beliau adalah seorang yang zhalim dan jahat, taat kepada makhluk dan membangkang terhadap sang Khaliq.”

Wajah Hajjaj merah padam karena malu mendengar perkataan orang tersebut. Lalu dia berkata, “Bagaimana engkau bisa mengatakan demikian sedangkan engkau tahu kedudukan dia di sisiku (yakni saudaranya)?” Dia menjawab, “Apakah Anda mengira bahwa kedudukan dia di sisi Anda lebih mulia daripada kedudukan saya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sedangkan saya bertamu di rumah-Nya sebagai haji, saya beriman kepada nabi Muhammad SAW, dan saya melaksanakan agama Nabi Muhammad” dam Hajjaj bin Yusuf pun bungkam, tak mampu bicara apa-apa.

 

sumber: Republia ONline

Belajar dari Thawus, Ulama yang tak Mempan Disogok (2)

Muhammad bin Yusuf tersinggung menyaksikan hal tersebut. Wajah dan matanya berangsur memerah, namun dia tidak berkata apa-apa. Sementara itu Thawus dan Wahab sudah berada di luar majelis. Wahab berkata kepada Thawus.“Demi Allah, sebenarnya kita tidak perlu membuat dia marah kepada kita. Apa salahnya bila Anda menerima pakaian tadi kemudian Anda jual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin?”

Thawus berkata, “Apa yang Anda katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, “Kami akan mengambil seperti Thawus bin Kaisan,” (Yakni menerima pemberian penguasa) akan tetapi mereka tidak melakukan seperti yang Anda ucapkan.” (yakni menjual dan menyedekahkannya kepada fakir miskin).

Upaya Muhammad bin Yusuf menjatuhkan kehormatan Thawus dengan menyogoknya mealui barang-barang mewah  tetap dilanjutkan. Meski usaha pertamanya gagal, Muhammad bin Yusuf yang sedang berada pada kekuasaan itu tidak patah arang. Kali ini seakan Muhammad bin Yusuf ingin pemberiannya dengan barang yang 1000 kali lipat lebih mahal dari pada pemberiannya ketika itu.  Yang diibaratkan pemberiaan kali ini sebagai pembalasan karenaThawus bin Kaisan telah menolak pemberian pertamanya

Setelah beberapa hari setelah itu. Muhammad bin Yusuf menyiapkan perbendaharaan hartanya lalu mengutus seorang kepercayaannya membawa satu pundi-pundi berisi 700 dinar emas, lalu dia berkata.“Berikan bingkisan ini kepada Thawus,”

Karena pemberiaan pertamanya telah gagal Muhammad bin Yusuf meminta agar pemberiannya tidak sampai balik lagi. “ Harus diusahakan supaya dia menerimanya.” pintanya. Si penguasa pun tak segan akan memberikan hadiah kepada pengawalnya jika berhasil membujuk Thawus untuk menerima pemberian sang penguasa. “Bila engkau berhasil, aku sediakan untukmu hadiah yang berharga.” Kata Muhammad bin Yusuf lagi.

 

Dengan wajah riang gembira dan penuh keyakinan akan menerima hadia dari sang gubernur, utusan yang mendapat perintah itu langsung berangkat dengan membawa hadiah tersebut ke tempat kediaman Thawus.  Kala itu di sebuah desa dekat Shan’a yang disebut dengan al-Janad tempat tinggal Thawus, dia sedang bersama teman-teman seperjuangannya berbincang ringan.

Setelah memberi salam kepada orang-orang yang ada di dekat Thawus, utusan itu berkata.  “Wahai Abu Abdirrahman, ini ada nafkah dari amir untuk Anda.”  “Maaf, saya tidak memerlukan itu.” Jawab Thawus dengan lembut tanpa sambil melihat apa yang disodorkan utusan gubernur itu.

Meski sempat melihat barang yang disodorkan kehadapannya. Thawus tidak membukan bungkusan itu. “Coba lihat dulu wahai Thawus siapa tahu satu saat kamu membutuhkannya,” kata utusan itu sambil merayunya.

Segala kata dalam rayuan sudah utusan gubernur itu itu keluarkan. Cara-cara juga sudah dia lakukan, Namun hasilnya tetap nihil. Pemberian itu tidak berhasil Thawus terima.  Thawus tak memberikan reaksi apapun.“Silahkan ambil barang ini sebelum saya berlaku tidak adil.” Katanya

Karena sang  gubernur sudah mengancam dari awal jangan sampai peberiannya itu kembali lagi, akhirnya utusan itu mencari kesempatan Thawus lengah. Secara diam-diam dia taruh pundi-pundi itu di salah satu sudut rumah Thawus. Setelah itu diapun kembali dan melapor kepada amir.

“Wahai amir, Thawus telah menerima pundi-pundi itu.” Betapa senangnya amir mendengar berita itu, namun dia tak berkomentar sedikit pun. Dia berpikir bahwa Thawus pasti telah membelanjakannya untuk keperluan macam-macam dan habis. Di sininalah upaya balas dendam untuk mempermalukan Thawus dimulai.

 

 

sumber: Republia ONline

Belajar dari Thawus, Ulama yang tak Mempan Disogok (1 )

Keteguhan Thawus bin Kaisan dalam menjaga kesucian iman dan ilmu patut menjadi teladan bagi setiap umat Islam terutama para  alim yang dekat dengan penguasa. Seperti dikisahkan dalam buku “Mereka adalah Tabiin” , Thawus disebut sebagai sosok yang mantap dalam iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal.

Bagaimana tidak mesti berkali-kali pengusa setingkat gubernur memberikan hadiah demi mengurangi keritikan tajam Thawus terhadap lingkaran kekuasaan, Thawus tidak segan menolak dan mengembalikannya hadiahnya secara langsung. Dia tetap menyampaikan apa yang memang harus disampaikan seperti sebuah nasihat dan ilmu yang juga pernah dia terima dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Thawus memiliki pendapat bahwa kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa. Untuk itu dia tidak segan ketika menyampaikan nasihatnya (berdakwah) selalu menyampaikan sesuai apa yang disampaikan Rasulullah SAW dan Alquran. Karena bila baik pemimpinnya, akan baik pula umatnya. Bila rusak pemimpinnya, rusak pula rakyatnya.

Begitulah sekilas tentang Dzakhwan bin Kaisan yang mendapat julukan Thawus (burung merak) karena dia laksana thawus bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya. Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernur negerinya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf yang juga berpengaruh di Makkah.

Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat dan pamornya melejit, terutama sejak ia mampu membendung gerakan Abdullah bin Zubair. Muhammad bin Yusuf mewarisi banyak sifat jahat saudaranya, Hajjaj bin Yusuf, namun tak sedikit pun kebaikan Hajjaj yang diambilnya.

Pada musim dingin, kebanyakan penduduk Yaman memilih diam tidak protes atas kondisi yang menyulitkan akibat kerakusan sang penguasa. Namun  Thawus bin Kaisan dan Wahab bin Munabbih mendatangi Muhammad bin Yusuf.

Setelah duduk di hadapan wali itu, Thawus memberikan nasihat panjang lebar, berupa anjuran dan juga ancaman. Sementara itu orang-orang duduk di depan amirnya dan tercengah melihat keberanian Thawus memberikan nasihat kepada orang yang kekuasaanya sedang di atas angin.

Melihat ketangkasan Thawus dalam menyampaikan nasihat, Muhammad bin Yusuf yang kala itu baru beberapa tahun menjabat sebagai gubernur hanya tersenyum. Namun penguasa itu menghiraukan nasihat Thawus untuk memperbaiki pribadinya.

Dengan santai Muhammad bin Yusuf berbisik kepada pengawalnya yang sedang memperhatikan Thawus berceramah di depan pusan pemerintahannya.   “Ambilkan seperangkat pakaian berwarna hijau yang mahal lalu letakkan di bahu Abdurrahman (panggilan lain Dzakhwan bin Kaisan).”

Setelah menyerukan kepada pengawalnya Muhammad bin Yusuf bergumamam. “ Heem, setelah ini kau akan diam.” Kata Muhammad sambil menyinggungkan bibirnya.

Ternyata benar, pengawal itu segera melaksanakan perintahnya. Dia megambil seperangkat pakaian warna hijau yang mahal lalu dia meletakkannya di atas bahu Thawus.  Akan tetapi, Thawus terus saja melanjutkan nasihatnya. Bukan karena cara memberinya yang tidak sesuai kehendak Thawus tapi tekadnya untuk mengajak penguasa zalim kembali kejalan yang benar.

Ketika itu Thawus merasa ada beban bertambah di antara pundak kanannya. Namun dia tidak menghiraukannya. Dia sadar dari wanginya kalau itu adalah sebuah pemberian dari yang untuk menghentikan dakwahnya. Namun, perlahan tapi pasti, di tengah ia sedang semangat berbicara, sesekali diselingi dengan menggoyangkan bahunya secara halus hingga akhirnya jatuhlah pakaian tersebut. Setelah itu dia berdiri dan beranjak dari tempat itu.

 

sumber: Republia ONline

Sa’id bin Amir Al Jumahy, Gubernur yang Masuk Daftar Miskin

Sa’id bin Amir Al Jumahy diangkat menjadi Gubernur Homsh di zaman Khalifah Umar bin Khattab. Sesama kepemimpinannya sebagai kepala daerah, Sa’id dikenal sebagai gubernur yang zuhud. Dia menolak gaji yang ditawarkan Khalifah Umar dan hanya menerima sedikit dari yang diberikan Baitul Mal.

Dikutip dari buku 101 Sahabat Nabi yang disusun Hepi Andi Bustoni, beberapa lama setelah Sa’id memerintah di Homsh, sebuah delegasi datang menghadap khalifah di Madinah. Delegasi ini beranggotakan penduduk Homsh yang ditugasi Umar untuk mengamati jalannya pemerintahan di provinsi tersebut. Dalam pertemuan dengan delegasi itu, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Homsh untuk diberikan santunan.

Delegasi itu pun mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar nama itu, terdapat nama-nama orang miskin. Tak terkecuali Sa’id bin Amir Al Jumahy.

Khalifah pun meneliti daftar itu. Umar lalu bertanya. “Siapa Sa’ad bin Amir yang kalian cantumkan?” “Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkah gubernur kalian miskin?” tanya Khalifah Umar keheranan.

“Sungguh ya Amirul Mukminin! Demi Allah, seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan. Mendengar perkataan itu, Umar pun menangis. Air matanya membasahi jenggotnya. Dia pun mengambil pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah ke Homsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin Amir. Uang ini saya kirimkan untuk dia guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,”kata Umar lirih.

Setibanya di Homsh, delegasi pun langsung menghadap Gubernur Sa’id. Mereka menyampaikan salam dan uang kiriman khalifah untuknya. Setelah gubernur melihat uang kiriman Umar, dia pun menjauhkan pundi-pundi itu. Dia lantas berucap. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Mendengar ucapan itu, istrinya lantas keluar karena mengira marabahaya sedang menimpanya. Istrinya pun bertanya. “Apa yang terjadi hai Sa’id?Meninggalkah Amirul Mukminin?” “Bukan. Lebih besar dari itu,”jawab Sa’id bersedih.

“Apakah tentara Muslimin kalah perang?”tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu,”kata Sa’id. Apapulakah gerangan yang lebih besar dari itu?” Sa’id pun menjawab, “Dunia telah datang merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,”kata Sa’id.

“Bebaskan dirimu daripadanya,”kata istrinya.

“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?tanya Said.

“Tentu..!” jawab istrinya semangat. Sa’id pun mengambil pundi-pundi uang itu. Istrinya kemudian disuruh membagikannya ke kaum fakir miskin.

 

sumber: RepublikaONline

Akhlak Mulia Ummu Sulaim

Ummu Sulaim memiliki nama lengkapUmmu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Ia biasa dipanggil Rumaisha.

Ummu Sulaim adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik. Dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia. Karena ia memiliki sifat yang agung tersebut, putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar pun mengajukan diri untuk melamarnya. Dari hasil pernikahannya ini, lahirlah Anas bin Malik, salah seorang sahabat yang agung.

Tatkala cahaya Islam mulai terbit, Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Ia tidak memedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di dalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala.

Adapun halangan pertama yang harus ia hadapi adalah kemarahan Malik, suaminya, yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: “Tidak, bahkan aku telah beriman”.

Suatu ketika, beliau menuntun Anas sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi, ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka Ummu Sulaim menjawab: “Aku tidak merusaknya, melainkan aku mendidik dan memperbaikinya”.

Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar marah dan meninggalkan rumah. Ia juga bergabung dengan kafilah musuh untuk memerangi Islam. Ia pun terbunuh dalam sebuah pertempuran. Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, ia tetap tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyapih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.

Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah dan mengajukan agar buah hatinya, Anas, dijadikan pembantu oleh manusia terbaik di seluruh alam tersebut. Rasulullah menerimanya, sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.

 

sumber: Republika Online

Kopi Panas Pak Haji

Alkisah, ada dua orang bersahabat dari Indonesia yang pergi haji bersama. Kemana-mana mereka selalu bersama. Suatu pagi, habis shalat subuh di Masjid al-Haram mereka kepingin minum kopi panas seperti layaknya jama’ah lain.

Seorang dari mereka berkata “Kang, ayo kita cari kopi panas kang, biar seger”. “Sampeyan bisa ngomongnya nggak?” Wah, aku dulu pernah sekolah di Madrasah Diniyah awaliyah tapi cuma sampai kelas  tiga. Tapi kalau kopi aku masih ingat bahasa arabnya “Qohwah” kang. Bahasa arabnya panas apa ya? Setelah berpikir sejenak ketemu ide “oh ya, yang panas itu kan neraka jahannam kang”. Jadi? Kopi panas ya “qahwah jahannam”.

Sekarang kalau mau bilang “kopi panas, dua” gimana?. Mereka berdua berfikir lagi… dan… “nah, ketemu kang bahasa arabnya dua. Tadi kita kan shalat subuh “rok’ataini” kang. Terus? Kalu gitu nanti ngomongnya ya gampang ” qahwah jahannam rok’atain”.

Begitu, sampai di depan kedai kopi sebelah masjid. Di tengah kerumunan orang banyak dari berbagai negara itu, tanpa ragu lagi salah satu dari mereka berujar ” Qahwah Jahannam rok’atain”. Kontan saja, semua orang Arab yang mendengarnya tersipu-sipu.

Untung, pelayan kedai itu paham maksud orang indonesia itu.

 

sumber Republika Online

Ibu: Bidadari Surga yang Diturunkan Segera

“MAKAN malamlah bersama Ibumu hingga ia senang. Hal itu lebih aku senangi daripada haji sunah yang kamu kerjakan.” (Al-Hasan bin Amr Rahimahullahu)

Hijrah bukan semata keputusan ideologis-teologis, lebih jauh hijrah adalah sebuah keputusan psikologis, terlebih dalam konteks di saat kita dalam posisi seorang anak. Dan hal inilah yang dirasakan oleh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim)

Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.

Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Kabah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan.

Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya rida dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?”

Umar Radhiyallahu Anhu menjawab, “Belum”. “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.

Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan,

“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun di tempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah”

Ibu, benar-benar bidadari surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surga-Nya.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2314956/ibu-bidadari-surga-yang-diturunkan-segera#sthash.f3IDrOTG.dpuf

4 Cara Menuju Haji Mabrur

Menjadi haji mabrur banyak kita dengar menjelang musim haji. Pertanyaanya, bagaimana menjadi haji mabrur?

Doktor fikih muamalat lulusan Al-Azhar University Kairo, Dr Oni Sahroni mengatakan ada empat cara menjadi haji mabrur.  Pertama, berazam atau niat yang kuat untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Contohnya, seseorang cukup hanya memenuhi rukun dan syarat. Orang yang haji diawali tamattu’ (memakai pakaian ihram) dan diakhiri dengan tawaf wada, yang bersangkutan telah berhaji dan telah menyandang gelar haji. Tetapi, rafats (berkata-kata kotor) dan fusuq (berbuat maksiat), etika melempar jumrah untuk tidak mendorong-dorong, dan etika tawaf untuk tidak mencerca tidak masuk dalam kriteria rukun dan syarat dalam fikih.

Kedua, menghayati makna yang mendasar dalam hidupnya, yakni kembali kepada Allah SWT. Hal itu diconthohkan dengan rukun ihram, di mana jamaah haji memakai dua helai pakaian ihram, siapa pun mereka dan apa pun jabatannya.

Ketiga, menghayati totalitas komitmen kepada Allah. Karena dalam fikih maqashid (fikih tentang tujuan-tujuan Allah di balik syariatnya) ibadah haji adalah ibadah yang paling sarat dengan aspek yang tidak logis,

Contohnya, jumlah tawaf tujuh putaran, sai tujuh kali, melempar jumrah, semuanya tidak logis. Bahkan, Umar bin Khattab sempat melontarkan pertanyaan ketika hendak mencium hajar Aswad. Umar berkata, “Engkau hanyalah batu hitam yang tidak memberikan manfaat maupun mudharat. Andaikan Rasulullah tidak memerintahkan aku untuk menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”

Keempat, menghayati makna esensial di balik haji, yakni kemampuan berkorban dan berempati untuk sesama. Sebagaimana dicontohkan dalam surah ash-Shafat tentang kisah penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, Ismail.

Sumber: Pusat Data Republika

Tips Nyaman Saat Terbang ke Tanah Suci

Perjalanan dari Tanah Air ke Tanah Suci memakan waktu sekira sembilan jam. Tidak semua calon jamaah haji (calhaj) pernah menaiki pesawat.

Berikut sejumlah tips yang diperlukan para calon jamaah haji agar nyaman saat penerbangan haji.
Pertama, bebaskan tempat duduk di pesawat dari barang yang mengganggu. Keberadaan barang itu membuat posisi duduk jamaah tidak nyaman.
Bila membawa tas pinggang selain koper dan tas ransel atau tas tenteng, usahakan membawa tas pinggang ukuran sedang atau kecil, jangan terlalu besar, agar bisa ditaruh di bawah kursi. Barang bawaang cukup ditempatkan di koper dan ransel aau tas tenteng.
Kedua, berkenalan dengan jamaah lain di sekitar tempat duduk, khususnya yang satu baris. Lama perjalanan sangat membosankan.
Mengobrol, diskusi atau bertanya dengan teman sekitar kursi duduk pesawat bisa mengurangi kebosanan. Beberapa pesawat ukuran besar tidak menyediakan layar hiburan.
Ketiga, cukup mengonsumsi air dan makanan. Perjalanan yang lama membuat tubuh merasa lelah, lapar dan haus. Bantulah dengan memperbanyak mengonsumsi air secara cukup dan makanan. Supaya tubuh tidak mengalami dehidrasi dan tetap nyaman setelah tiba di bandara Jeddah atau Madinah.
Keempat, gunakan waktu untuk tidur yang cukup dan cermat. Meski selama perjalanan tidak harus tidur terus. Pintar memanfaatkan masa tidur dengan baik. Jika tidur berlebihan, tubuh juga tidak nyaman.
Kelima, bila ingin buang air, jangan ditahan, segera ke toilet. Minta bantuan pramugari atau pramugara bila belum bisa mengoperasikan tombol-tombol di toilet. Jangan ditahan, bisa sakit.
Keenam, bila waktu shalat dan ingin melaksanakan shalat di pesawat, sebaiknya bertayammum, karena air kran di pesawat terbatas, sehingga tidak memungkinkan untuk berwudhu. Shalat dengan cara duduk di kursi.
Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Umi Nur Fadhilah