Menapaki Jejak Rasul di Badr

Kisah perang Badar tentu melekat dalam benak umat Islam. Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 13 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang.

Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu.

Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Makkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.

Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Makkah. Kota Makkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah, dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud. Dalam perang itu 14 tentara Muhammad menjadi korban dan 70 tewan di pihak lawan. Sedangkan 70 lainnya menjadi tawanan perang.

Rabu (19/9/2018) pagi merupakan kesempatan berziarah ke kota Badr. Kota kecil Badr terletak 152 km arah barat daya Madinah yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit dari Madinah. Jalanannya mulus masing-masing terdiri dari tiga jalur dalam dua arah dengan pembatas beton marka yang rapi. Sepanjang perjalanan tidak banyak ditemui pemukiman.

Kanan kiri jalan hanya gunung batu. Setelah 1 jam perjalanan ditemukan kompleks industri Al Musayjid. Tidak jauh berikutnya terdapat pemukiman kota kecil Al Hasaniyah. Ketika bertemu dengan barisan gunung berselimut pasir gurun, pertanda Badr sudah dekat.

Tiba di Badr, kami segera menuju ke maqbarah, pemakaman syuhada’ Badr. Di sini sekitar 70 pasukan yang mati syahid dimakamkan. Kami pun berkesempatan berdoa sejenak setelah Kadaker Airport Arsyad Hidayat mengisahkan pertempuran Badr.

Berbalik arah sekitar 200 meter ditemukan tugu peringatan syuhada Badr. Polisi lokal yang cukup ramah mempersilahkan petugas yang berkunjung untuk berfoto sejenak.

Selain petugas dari PPIH Daker Airport tampak pula beberapa peziarah berkebangsaan Pakistan dan Bangladesh. Badr memang menyimpan sejarah, spirit perjuangan, dan kebangkitan kekuatan dalam membela agama Allah. Tala’al Badru ‘alaina…. (ab/ab).

KEMENAG RI

Menyusul Suami, Haji Zulbaidah Meninggal Usai Salat di Masjid Nabawi

Seorang haji yang tergabung dalam kloter BTJ 09, debarkasi Aceh Selatan, meninggal dunia di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Perempuan bernama Zulbaidah Mak Abad itu tutup usia saat salat sunah di area Raudhah.

“Setelah salat isya, jemaah Indonesia memang mendapat gelombang pertama di Raudhah. Beliau meninggal di area Raudhah,” ujar Kepala Sektor (Kasektor) Khusus Nabawi, Jasaruddin, Senin, 17 September 2018.

Raudhah atau Taman Surga sendiri menjadi lokasi yang istimewa bagi umat Islam. Tempat itu terletak di sebelah barat makam Rasulullah.

Dulunya, ruang itu terletak di antara mimbar dengan rumah Nabi. Tempat ini disebut-sebut sebagai lokasi terkabulnya setiap doa.

Menurut Jasaruddin, Zulbaidah meninggal dunia Sabtu malam, 15 September 2018. Berdasarkan penuturan teman yang mengiringi ke Raudhah, Zulbaidah sempat lemas usai takbiratul ihram saat salat sunah di Raudhah.

“Zulbaidah kemudian terbaring. Melihat kondisi Zulbaidah, petugas dan sejumlah jemaah haji memberi pertolongan. Tapi, nyawa Zulbaidah tidak dapat diselamatkan,” papar Jasaruddin.

Suaminya Sudah Lebih Dulu Wafat

LIPUTAN6

Sekilas Sejarah Perjalanan Bus Shalawat

Makkah (PHU)—Bus Slhalawat merupakan kendaraan pengangkut jemaah haji Indonesia yang terdapat di Makkah yang mempunyai rute hotel-Masjidil Haram pulang pergi (taradudi). Saat ini bus tersebut melayani 12 rute yang menjangkau setiap hotel jemaah. Tahun ini sebanyak 394 bus siap melayani jamaah haji Indonesia selama 24 jam.

Kedua belas rute di seluruh Makkah menjadi jalur utamanya, nantinya masing-masing bus akan datang menjemput di halte yang telah disediakan tiap lima menit.

Namun bagaimanakah kisah perjalanan bus yang identik dengan warna merah dan hijau ini melayani jemaah haji?

Bus Shalawat memulai perjalanannya kali pertama pada tahun 2008, pada tahun tersebut hotel jemaah haji Indonesia jaraknya lebih dari 10 km dari Masjidil Haram, berada di wilayah Aziziyah, Hijrah, Mukhathat Bank, Bakhutmah, Kholidiyah, Syauqiyah, Rushaifah, Awali serta Ka’kiyah dan itu merupakan sudah paling bagus untuk ditempati jemaah haji Indonesia.

Di tahun yang sama, Menteri Agama saat itu Maftuh Basyuni melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi untuk melihat persiapan musim haji, Menag Maftuh tidak kuasa menangis karena tidak menyangka pemondokan jemaah sampai sejauh ini. Pemilihan pemondokan ini akibat dari perluasan besar-besaran Masjidil Haram oleh pemerintah Arab Saudi yang mengakibatkan harga-harga pemondokan di seputaran Masjidil Haram melambung tinggi harganya.

Melihat kondisi seperti itu, akhirnya Menag Maftuh Basyuni memerintahkan untuk menyediakan bus untuk mengantarkan jemaah ke Masjidil Haram pulang dan pergi. Singkat cerita akhirnya pemerintah menyewa 600 bus dengan konsekuensi yang terbilang apa adanya, tidak punya sistem, dan tidak punya petugas.

“Sampai akhirnya Pak Maftuh memerintahkan untuk menyediakan bus, gak punya sistem, gak punya petugas dan gak punya gambaran apapun lah, pokoknya asal nyewa aja, perintah itu sebelum jemaah datang, begitu jemaah datang sewa bis lah 600 bus,” kata Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid saat bercerita mengenang perjalanan Bus Shalawat.

Kerana belum ada sistem, kata Subhan, ini berdampak pada jemaahnya sendiri, tidak ada sistem yang mengharuskan jemaah naik dan turun disuatu tempat pemberhentian yang telah ditetapkan. Terkadang belum sampai tujuan, jemaah sudah diturunkan di tanah kosong, yang lebih parahnya lagi saat mereka mau pulang ke pemondokan setelah beribadah di Masjidil Haram, tempat mereka diturunkan tadi sudah ditutup polisi.

“Karena gak ada sistemnya, pengendaliannya seperti apa?naikkan jemaah dimana, nurunkan jemaah dimana, dijalan-jalan pada naik, di Haram pun diturunkannya bukan diterminal tapi ditanah kosong aja disitu, begitu jemaah mau pulang itu lapangannya udah ditutup sama polisi,” kenang Subhan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya pada tahun 2009 pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerjasama dengan Muasassah (Organisasi yang bertugas dan bertanggung jawab melayani akomodasi, transportasi bimbingan ibadah haji dan pelayanan umum dalam musim haji dan umrah) untuk layanan angkutan jemaah haji. Dari kerjasama dengan Muasassah ini jemaah Indonesia mendapatkan penyewaan bus dari Syarikah Abu Sarhad. Abu Sarhad merupakan salah satu Syarikah (perusahaan bus) yang mempunyai banyak armada bus, dan saat itu Indonesia mendapatkan jumlah yang banyak. Karena saat itu memang tidak tersedianya anggaran untuk menyewa bus setara Saptco, Rawahil, Dalah dan sebagainya.

“Abu Sarhad ini busnya tua-tua dan gak berkualitas tapi armadanya banyak kita dapatnya juga banyak, walaupun sebenarnya waktu itu sudah ada Saptco, Rawahil dll, tapi anggarannya belum ada untuk menyewa bus tsb,” tuturnya.

Untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu, Kementerian Agama Tahun 2010 mulai melibatkan Kementerian Perhubungan RI. Sebagai instansi yang bertanggungjawab pada sektor transportasi publik, Kemenhub dapat membagi ilmunya untuk membuat suatu sistem pengendalian transportasi dalam dan luar kota yang akan diterapkan di Arab Saudi. Dari kerjasama itu dirintislah suatu sistem untuk membuat rute sederhana sampai dengan tahun 2012.

“Dari Kerjasama dengan Kemenhub, maka didapatlah ilmu tentang sistem pengendalian angkutan dalam dan luar kota, mulai dari situ diruntis untuk membuat rute yang masih sederhana smapai 2012,” kata Subhan yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Transportasi Darat Kemenag ini.

Setelah mempunyai suatu sistem pengendalian, Tahun 2013 mulai dibentuk tim transportasi secara mandiri yang diketuai oleh Arsyad Hidayat (Kadaker Bandara saat ini) dan selanjutnya pada tahun 2014 diketuai oleh Subhan Cholid. Menurutnya saat ini secara sistem mulai dari pengendalian dan pengawasannya sudah sangat mapan. Saat ini yang menjadi tantangan baginya adalah memenuhi kenyamanan jemaah dalam arti yang diinginkan jemaah itu agak sulit karena dalam satu waktu seluruh jemaah ingin kesatu tujuan secara bersama-sama.

“Kalau kita bikin rasio diperkecil dari 450 jemaah ke 250 jemaah itu malah gak bisa jalan karena semakin banyak bus dijalan kan semakin macet yang kedua juga gak bisa nampung,” katanya.

Untuk Pembagian terminal itu juga ada aturannya, jemaah yang tinggal diwilayah tertentu disesuaikan dengan terminalnya dan semuanya sudah diatur dalam pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi. Begitu juga dengan rasio pembagian busnya. Sedangkan untuk menentukan syarikah busnya yang dilakukan sebelum pelaksanaan musim haji, pemerintah Indonesia yang dalam hal ini Kementerian Agama menerjunkan tim transportasi ke Arab Saudi untuk membuka tender penyediaan transportasi jemaah haji antara lain angkutan dalam dan luar kota, angkutan sahalawat serta angkutan masyair (Arafah-Muzdalifah-Mina).

“Jadi ada aturannya itu ada pedomannnya, kita sewa juga gak sembarangan sudah diatur juga rasio pembagian busnya, untuk menentukan syarikah busnya kita membuka tender, silahkan mendaftar nanti kita pilih, kita bikin persyaratannya,” jelas Subhan.

Khusus bus shalawat berikut rute yang akan dilayani bus shalawat antara lain :
1. Aziziah Janubiah-Jamarat
2. Aziziah Syimaliah 1-Jamarat
3. Aziziah Syimaliah 2-Jamarat
4. Jamarat-Mahbas Jin-Bab Ali
5. Syisyah-Syib Amir
6. Syisyah-Raudhah-Syib Amir
7. Syisyah 1-Syib Amir
8. Syisyah 2-Syib Amir
9. Raudhah-Syib Amir
10. Biban/Jarwal-Syib Amir
11. Misfalah-Jiad
12. Rea Bakhsy-Jiad

Jemaah yang mendapatkan layanan bus shalawat adalah jemaah haji yang menempati pemondokan pada wilayah dengan jarak diatas 1.500 m dari Masjidil Haram kemudian ada juga wilayah dengan jarak dibawah 1.500 m yang mendapatkan layanan angkutan shalawat antara lain Jarwal (1 Hotel), Misfalah (3 Hotel) serta Rea Bakhsy (11 Hotel).(mch/ha)

KEMENAG RI

Kisah Nenek Zulbaidah Wafat di Raudhah

Buat yang pernah pergi haji, bukan rahasia bahwa memasuki kawasan Raudhah di Masjid Nabawi bukan perkara mudah. Saat jamaah sedang banyak-banyaknya seperti hari-hari belakangan, antrean untuk menuju kawasan berkarpet hijau tersebut mengular panjang.

Pada waktu-waktu tertentu, lokasi antara kediaman Rasulullah dan mimbar lama Masjid Nabawi tersebut dibuka khusus untuk kaum perempuan. Pada Sabtu (15/9) lalu, sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Zulbaidah Mak Abad (61 tahun) berhasil memasuki wilayah tersebut setelah menerobos sela-sela kerumunan.

Dalam Raudhah, jamaah asal Aceh Selatan itu kemudian bersiap melaksanakan shalat sunnah. Namun, saat mengangkat tangan bertakbiratul ihram, ia tiba-tiba lemas. “Padahal menurut teman-teman serombongannya, sebelumnya jamaah tersebut baik-baik saja, ndakada tanda-tanda sakit,” tutur Kepala Seksi Perlindungan Jamaah Daker Madinah, Maskat Ali Jasmun, kepada Republika di Madinah, Senin (17/9).

Menurut Maskat, ia mendapat laporan dari salah satu petugas di lapangan bahwa setelah Zulbaidah roboh, sejumlah askar perempuan di Masjid Nabawi dibantu petugas pendukung PPIH Arab Saudi mencoba memberikan pertolongan.

Meski begitu, nyawa Zulbaidah tak tertolong. Data PPIH Arab Saudi, pihak rumah sakit menyatakan ia meninggal pukul 20.15. Ia wafat di antara lokasi rumah Rasulullah dan mimbarnya yang menurut Shahih Bukhari dan Muslim, disebut Rasulullah terdapat sepetak taman surga.

Maskat juga menuturkan, tepat dua pekan sebelum Zulbaidah, suaminya berpulang terlebih dahulu. Muhammad Hadan Amin, nama suami Zulbaidah, meninggal setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Arab Saudi di Makkah. Menurut catatan PPIH Arab Saudi, Muhammad Hasan wafat terkait penyakit pernapasan yang dideritanya.

Menurut Maskat, saat menemui rombongan kloter keduanya, rekan-rekan Zulbaidah mengatakan yang bersangkutan kerap nampak bersedih. Ia tak tenang melaksanakan umrah di Masjidil Haram karena terus mengingat suaminya yang tengah dirawat. “Dia mengeluh karena nggak bisa menemani sampai akhirnya suami meninggal,” kata Maskat.

Salah seorang petugas sektor khusus Masjid Nabawi, Jasaruddin, mengiyakan kisah Maskat. Kepada tim Media Center Haji (MCH) di Madinah, Jasaruddin menjelaskan bahwa Zulbaidah yang merupakan jamaah dari Kloter 09 BTJ meninggal ketika sedang melaksanakan salat sunnah di area Raudhah, disaat takbiratul ihram.

“Hanya saja menurut pengakuan teman satu kamarnya yang juga ikut membantu memberikan pertolongan, saat diangkat perempuan tersebut sudah tidak tertolong lagi,” ujar Jasaruddin, Senin, (17/9).

Jasaruddin menuturkan, ia bersama Tim Gerak Cepat (TGC) langsung menuju lokasi begitu mendengar ada jamaah yang pingsan. Mereka kemudian membantu mengevakuasi Zulbaidah ke mobil ambulans. “Subhanallah…almarhumah terlihat putih bersih, muka bercahaya dan tersenyum,” tutur Jasaruddin.

Seturut peraturan Kerajaan Saudi, Zulbaidah langsung dikuburkan di Makam Baqi, kompleks pemakaman di bagian timur Masjid Nabawi yang juga jadi lokasi makam sejumlah keluarga dan sahabat Rasulullah. Sementara suaminya telah dikuburkan terlebih dahulu di Makkah.

Berdasar data Siskohat Dirjen PHU Kemenag, Muhammad Hasan Amin dan istrinya tinggal di Cot Muling Kedai Panjang, Kluet Utara, Aceh Selatan. Mereka sehari-hari menghidupi diri mereka dengan berlaut sebagai nelayan.

Dengab hasil pekerjaan sebagai nelayan itu juga mereka melunasi biaya haji pada 23 April 2018. Seturut jadwal kepulangan Kloter 09 Banda Aceh, mereka seharusnya pulang ke kampung halaman pada 22 September melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah.

 

REPUBLIKA

Burung (Kota) Suci

Madinah (PHU)—Ahad (9/9/2018) siang itu sudah setengah hari saya ‘terkapar’ lemas di kamar 208 Wisma Daker Madinah. Ketidakberdayaanku itu hari merupakan seri lanjutan dari hari sebelumnya saat masih berada di Jeddah sejak Jum’at (7/9) lalu. Memang di hari terakhir tugas di Jeddah banyak petugas Daker Airport sakit, termasuk saya, mungkin sebagai bentuk solidaritas sesama petugas atau efek dari akumulasi kelelahan dan kangen keluarga yang lama tertahan. Ah sudahlah semoga semua teman yang masih bertugas selalu diberikan kesehatan dan istiqamah sampai akhir tugas.

Saat tengah sendirian di dalam kamar tidak banyak yang bisa saya kerjakan, hanya sesekali membuka hand phone untuk membaca Whats App (WA) siapa tahu ada kiriman foto anak dari keluarga. Ketika sedang membaca WA tiba-tiba terdengar suara ‘kemriyik’ dari luar jendela kamar. Suara merpati-merpati yang mungkin sedang bercumbu dengan pasangannya saya pikir.

Sungguh sesaat tiba-tiba saya terbawa pada suasana kecil, saat di mana saya pernah begitu dekat dengan banyak merpati. Seumuran SD sekitar kelas III kala itu, selain di rumah memiliki banyak merpati di rumah Simbah saya juga memelihara banyak merpati. Bahkan saat saya belajar di Madrasah Diniyyah soredi kampung juga sering mendapatkan tugas tambahan mengecek ‘piyikan’ merpati oleh Mbah Kaji, pemilik rumah yang dipakai belajar diniyyah saat itu.

Lalu bagaimana di tanah suci (Makkah dan Madina) ada begitu banyak merpati? Bahkan di kota-kota lain merpati juga tidak terbilang hitungannya, termasuk di Jeddah. Dari mana mereka berasal?

Tentu banyak pertanyaan seperti itu muncul dari orang yang pernah berkunjung ke Makkah dan Madinah. Merpati ada di berbagai sudut kota. Bersarang di gedung-gedung menjulang, di hotel mewah sekalipun mereka tidak diusir. Di susut-sudut tinggi bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga mudah ditemukan kawanan burung lambing kesetiaan ini. Menurut Guru Biologi saya sewaktu masih belajar di Madrasah Aliyah Negeri Semarang, merpati konon burung yang hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya. Bahkan Bu Kris guru saya itu, menganggap kesetiaan merpati seperti Mimi Mintuno, binatang laut yang banyak dijumpai berpasangan di pantai-pantai utara Jawa.

Kembali ke asal-usul merpati di tanah suci. Burung yang jumlahnya ribuan dan hidup bebas itu banyak dipercaya merupakan keturunan merpati peliharaan Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Dari sisi fisik, merpati Aisyah tidak berbeda dengan burung pada umumnya. Warnanya biru laut cenderung gelap. Penggemar burung menyebutnya warna megan.

Merpati Aisyah biasa beterbangan di tanah lapang beraspal arah pintu 21 atau Pintu Raja Fahd Masjid Nabawi. Juga ada di pemakaman Baqi yang berada di sebelah timur masjid. Bisa jadi merpati di kedua tempat ini burung yang sama. Mereka muncul hampir bersamaan dengan aktivitas ibadah jemaah.

Saat jemaah keluar dari masjid dari Pintu King Fahd, merpati Aisyah satu komando beterbangan dari atap hotel-hotel mewah dan turun ke trotoar lapang. Mereka seolah paham bahwa jemaah akan melemparkan makanan. Benar saja, beberapa jemaah membeli biji-bijian dari beberapa anak kecil penjual pakan burung, kemudian menaburkan ke trotoar.

Karena sudah biasa dengan manusia, merpati Aisyah tak terlalu khawatir bakal ditangkap atau disakiti oleh jemaah. Kalau sekadar di-gusah atau diusir, tidak masalah. Cukup beringsut sedikit, maka jemaah tak bakal mengejar. Bahkan ada keyakinan lain yang berkembang di masyarakat Arab, pantangan besar menyakiti merpati-merpati ini. Bagi pelanggarnya bisa terkena bala yang luar biasa seperti kematian atau sakit jiwa.

Selain diyakini sebagai keturunan merpati Aisyah, merpati tanah suci juga diyakini sebagai keturunan merpati yang pernah menolong Rasul saat bersembunyi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah. Di gua itulah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Ashiddiq, pernah bersembunyi setelah lolos dari kepungan orang-orang kafir. Waktu itu para kafir pengejar itu sudah menemukan gua. Tetapi mereka tak percaya nabi bersembunyi di gua itu, sebab di pintu gua ada sarang laba-laba dan merpati yang bertelur. Tiga hari, Rasul dan sahabatnya itu beristirahat di sini. Setelah kafir Quraisy itu pergi, nabi dan Abu Bakar menuju Madinah.

Cuplikan cerita tentang Jabal Tsur ini adalah penggalan kisah hijrah nabi. Cerita tentang Nabi Muhammad di Jabal Tsur ini terdapat dalam kita suci ummat Islam, Al-Quran. Misalnya dalam Surat Al Anfal (8) ayat 30; “dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memiliki daya upaya terhadapmu (Nabi SAW) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Dalam Islam, ada keyakinan tidak boleh menyakiti hewan. Apalagi di Tanah Suci dan hewan tersebut dipercaya berkaitan dengan Nabi Muhammad seperti merpati Aisyah atau merpati Gua Tsur. Bahkan kalau bisa harus menyayangi. Karena itulah, merpati-merpati tanah suci berkembang biak dengan baik. Lalu sebenarnya merpati ini darimana tidak ada kepastiannya, wa Allah a’lam. (ab/ab).

KEMENAG RI

Petugas Haji Diminta Tetap Layani Jamaah

Kepala Daerah Kerja Mekkah, Endang Jumali meminta petugas haji tetap disiplin melayani jamaah haji. Petugas harus tetap semangat menjaga posnya masing-masing kedisiplinan harus tetap ditingkatkan dan tidak boleh loyo.

Dia mengingatkan petugas agar tidak kehilangan fokus pada pelayanan jamaah usai fase Armina, muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pada masa Armuzna biasanya banyak jamaah bertumbangan ketika lempar jumrah dan mabit di Mina.

Usai fase tersebut, jamaah tinggal melaksanakan ibadah yang tergolong lebih ringan dari Armuzna, seperti Tawaf Ifadhah, Tawaf Wada’ dan kegiatan lainnya. Sebagian jamaah juga sudah mulai pulang ke Tanah Air usai Armuzna sementara lainnya secara berangsur bergerak ke Madinah.

“Dari masa puncak menanjak lalu sekarang sudah mulai berkurang sekarang semua petugas harus tetap fokus di posnya masing-masing,” tambah dia.

Dalam fase saat ini, sebut dia jamaah mulai meninggalkan Mekkah sedikit demi sedikit. Meski jamaah berkurang bukan berarti pelayanan di Makkah turun.

Daker Makkah, lanjut dia tidak memiliki waktu jeda untuk bertugas karena usai Armuzna petugas harus melayani jamaah yang beraktivitas di kawasan Masjidil Haram sementara yang lain ke Jeddah untuk pulang ke Indonesia dan sebagian lain jamaah ke Madinah untuk melakukan Shalat ‘Arbain.

“Jamaah Madinah dari Mekkah terakhir 16 September selesai, jadi fokus kita adalah pada persiapan pemulangan itu ke Jeddah maupun pendorongan ke Madinah,” kata dia.

Hudaibiyah Jadi Pilihan Miqat Jamaah Indonesia

Jamaah haji Indonesia mengisi waktu mereka di Makkah dengan melakukan umrah sunah. Mereka  memilih titik mula (miqat) berumrah dari Masjid Hudaibiyah. Alasannya, memilih miqat di kawasan tersebut untuk sekaligus menapaktilasi perjuangan Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya.

Meski begitu, jarak antara miqat Hudaibiyah dan Makkah sekitar 38 kilometer sebagaimana ditunjukkan aplikasi peta telepon seluler. Untuk menuju kawasan itu jamaah haji menggunakan bus yang disewa secara berombongan dan beberapa dikoordinasi oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).

Masjid Hudaibiyah itu terletak di pinggiran kota Mekkah yaitu di Jalan Jeddah Lama. Tengara masjid ini menjadi salah satu tujuan wisata rohani jamaah dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di dekat kawasan masjid tersebut terdapat juga Benteng Hudaibiyah yang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah haji yang ingin dalam satu waktu melakukan wisata rohani.

Sebagai titik miqat umrah, Hudaibiyah sejatinya memiliki nilai historis yang tinggi bagi perjuangan Islam di masa Rasulullah Muhammad SAW. Di tempat inilah terjadi Perjanjian Hudaibiyah antara Muslimin dan musyrikin Quraisy untuk gencatan senjata selama 10 tahun.

Terdapat butir-butir perjanjian penting lainnya yang akhirnya menjadi titik tolak Muslimin untuk menaklukkan kota Makkah dari kekuasaan musyrikin karena terjadi pelanggaran perjanjian oleh Kafir Quraisy. Kaum musyrikin ditengarai melakukan penyerangan atas sekutu Muslimin di mana tindakan itu tidak boleh dilakukan selama Perjanjian Hudaibiyah berlaku.

Penaklukan yang dikenal sebagai Fatkhul Mekkah itu terjadi tanpa ada pertumpahan darah dan awal Muslimin bisa menguasai kota dengan Ka’bah dan Masjidil Haram itu. Setelah penaklukan, Muslimin bisa menghancurkan berhala-berhala jahiliyah di sekitar Ka’bah.

Kendati memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, Masjid Hudaibiyah cenderung kurang terawat jika dibanding miqat umrah lain seperti Masjid Ji’ronah dan Masjid Tan’im. Salah satu pengukurnya adalah karpet yang cenderung usang jika dibanding di Ji’ronah dan Tan’im. Selain itu, toilet dan tempat wudhu di Masjid Hudaibiyah relatif kurang bersih dan sesekali tercium aroma tidak sedap.

Tempat parkir di Hudaibiyah juga kurang luas yaitu bus peziarah hanya bisa berhenti di pinggiran jalan saja. Berbeda dengan di Ji’ronah yang memiliki parkir luas, toilet dan tempat wudhu lebih bersih dan tempat lebih nyaman untuk shalat.

REPUBLIKA

Pemulangan Jemaah Haji Gelombang Dua Dimulai

Jemaah haji Indonesia mulai menjalani fase pemulangan gelombang II dari Bandara Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah pada Ahad (9/9/2019) dini hari. Kloter 41 Debarkasi Jakarta-Bekasi jadi yang pertama terbang ke Tanah Air.

Sebanyak 410 jemaah berangkat dalam rombongan tersebut. Menurut Kepala Seksi Pelayanan Kedatangan dan Pemulangan Daker Airport Muhammad Syarif, rombongan tersebut diberangkatkan dari dua hotel di Madinah secara bersamaan pada Sabtu (8/9) pukul 20.30 waktu setempat. Mereka akan bertolak ke Tanah Air pada Ahad (9/9) pukul 4.30 dini hari dengan penerbangan Saudia Airlines.

Setelah kloter tersebut, akan dipulangkan Kloter 38 Debarkasi Surabaya (450 jemaah) dengan pesawat yang berangkat setengah jam kemudian. Lalu menyusul Kloter 30 Debarkasi Jakarta-Pondok Gede (376 jemaah) pada pukul 5.30.

Sebanyak 17 kloter dipulangkan pada hari pertama pemulangan gelombang pertama tersebut. Sedikitnya 7.000 jemaah akan dipulangkan dari Bandara Madinah pada hari ini.

Pada waktu bersamaan, di Bandara King Abdulaziz Jeddah juga berangkat kloter terakhir pemulangan gelombang pertama pada Ahad (9/9) dini hari. Sampai dengan pukul 01.30 WAS sebanyak 5 kloter.

“Ada 1.916 orang terdiri dari jemaah haji 1.891 orang dan petugas kloter 25 orang,” ujar Syarif.

Secara keseluruhan pemulangan jemaah haji gelombang satu dari Jeddah telah melayani 218 kloter. Total ada 88.944 penumpang dengan rincian jemaah haji 87.853 orang dan petugas kloter 1.091 orang. (mch/ab).

KEMENAG RI

Ini Cara Menurunkan Angka Kematian Jemaah Haji

Angka kematian jamaah haji asal Indonesia sejauh ini bisa ditekan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Selain kerja petugas haji Indonesia, Kerajaan Arab Saudi ternyata juga menerapkan strategi khusus terkait hal itu.

“Masya Allah, tabarakallah,  karena kebaikan Allah untuk tahun ini terutama di Masyair (waktu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, serta melontar jumrah), dan Makkah bisa kita turunkan angka kematiannya,” kata Kepala Pelayanan Kesehatan Komite Haji Arab Saudi untuk Asia Tenggara, Ehsan A Bouges di Jeddah, Rabu (5/9).

Ehsan mengepalai badan yang menjalankan operasional pelayanan kesehatan di Makkah, Arafah, dan Masyair. Dia melayani sekitar 300 ribu jemaah Asia Tenggara dan Cina. Sebanyak 120 petugas ia komandoi guna menjalankan ambulans serta menangani operasional klinik kesehatan di wilayah tersebut.

Pria keturunan Bugis-Sunda itu menuturkan, sepanjang fase wukuf dan mabit di Muzdalifah dan Mina serta melontar jumrah dan penempatan jamaah di Makkah, angka kematian jemaah Indonesia sejauh ini tercatat sebanyak 234 orang. Jumlah itu tak sampai separuh dari angka kematian tahun lalu yang mencapai 600 orang lebih.

Ehsan menuturkan, sebelum musim haji dimulai, mula-mula mereka memetakan dahulu sejumlah faktor-faktor terkait kesehatan jemaah. Di antaranya, jumlah jemaah Indonesia yang 60 persennya berusia di atas 60 tahun. Selain itu, berangkat juga sebanyak 147 ribu jemaah berisiko tinggi terkena penyakit di Tanah Suci. Kebiasaan-kebiasaan jemaah Indonesia juga mereka petakan.

Setelah itu, insinyur teknik industri dari Universitas King Abdulaziz Jeddah itu bersama koleganya merancang sistem pelayanan di Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Makkah.

“Jadi kami melakukan restrukturisasi dan reorganisasi tahun ini belajar dari pengalaman sebelumnya,” kata dia.

Diantara terobosan tahun ini adalah penempatan klinik yang lebih banyak dengan sistem pendingin ruangan yang lebih baik di lokasi-lokasi tersebut. Tak kalah penting, Arab Saudi mengoperasikan 28 ambulans yang dibagi di tiga wilayah berbeda.

Hal itu memungkinkan penjemputan jemaah sakit di klinik-klinik yang perlu dirujuk lebih cepat. Ia juga menempatkan perwakilan di rumah sakit untuk mempercepat pengurusan perawatan jemaah.

Pengerahan sumber daya manusia juga disesuaikan dengan kepadatan lokasi. Pada saat wukuf, tenaga pelayanan kesehatan dikonsentrasikan di Arafah, kemudian dipindahkan ke Muzdalifah, Mina, dan Makkah berturut-turut sesuai waktu-waktu padat masing-masing lokasi.

“Jadi pusing kepalanya berpindah-pindah,” kata dia berkelakar.

Tak hanya soal pelayanan kesehatan, Ehsan mengatakan, pelayanan katering juga punya peran krusial menyokong kesehatan jemaah. Menurutnya, Saudi setuju menyesuaikan cita rasa makanan dengan lidah jemaah Indonesia agar jemaah banyak makan dan terjaga kesehatannya.

Faktor lain, kata Ehsan, adalah anggapan keliru jemaah mereka harus berumrah tujuh kali sebelum wukuf. Menurut dia, hal ini menguras tenaga jemaah higga akhirnya mereka kelelahan di Arafah dan saat melempar jamarat. Ia mengatakan, pengelola haji dari Cina, Thailand, dan Malaysia sudah melarang sama sekali praktik tersebut.

Sementara Indonesia mulai juga menyerukan imbauan itu. Upaya-upaya tersebut, didukung kerja sama yang baik Arab Saudi dengan petugas Indonesia ia harapkan mampu lebih menjaga keselamatan jemaah.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Sri Ilhami Lubis sebelumnya mengakui peningkatan pelayanan Arab Saudi. Menurutnya, ada peningkatan kerja sama antara pihak Saudi dan Indonesia yang berujung pada peningkatan pelayanan tahun ini. (fz/ab).

Ditulis oleh Abdul Basyir

 

KEMENAG RI

Pemerintah Waspadai Penyakit yang Terbawa Jamaah Pasca-Haji

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, menyambut kedatangan jemaah haji kloter 16 JKG di Asrama Haji Pondok Gede, 4 September lalu.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen P2P didampingi Kakanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, Kepala KKP Kelas I Soekarno Hatta, Direksi RS Haji Jakarta dan Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Haji JKG.

Anung mengatakan, pemerintah telah memberikan pelayanan, pembinaan dan perlindungan yang sebaik-sebaiknya kepada jamaah haji, semua itu dilakukan agar jamaah haji Indonesia terjamin kebutuhannya dari semua bidang, termasuk bidang kesehatan.

Anung menegaskan bahwa petugas kesehatan telah membagikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH), agar apabila jemaah haji mengalami sakit demam, batuk, dan sesak dalam 14 sejak kedatangan di tanah air, segera berobat ke puskesmas terdekat dengan membawa K3JH tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah mewaspadai berbagai penyakit dialami jamaah akibat terbawa pascahaji.

“Pemerintah mewaspadai berbagai penyakit yang kemungkinan terbawa oleh jamaah haji antara lain MERSCoV, Meningitis, Kolera, dan lain lain,” jelas Anung.

Setiap jamaah haji Indonesia telah dibekali Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH) sejak di Tanah Air yang berfungsi sebagai alat deteksi dini kesehatan.

Setelah yang bersangkutan tiba di Tanah Air dari Arab Saudi melaksanakan ibadah haji, sesampainya di Bandara, satu lembar dokumen K3JH diambil oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Embarkasi, kemudian satu lembar lagi dipegang jamaah.

Menurutnya, bila ada tanda-tanda pernapasan yang berat, batuk, demam di atas 38 derajat celcius, jamaah haji diimbau segara menghubungi Puskesmas terdekat untuk memeriksakan diri.

Bila tidak ada tanda-tanda gejala penyakit menular seperti di atas, jamaah haji kembali ke rumah dengan dinyatakan sehat. Namun, jika terbukti melalui pemeriksaan terdapat gejala penyakit menular di atas, seperti Mers-COV, akan dilakukan pengambilan sampel dahak.

‘Apabila hasilnya positif akan dilakukan isolasi, selanjutnya dilakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan keluarga bersangkutan dan teman selama perjalanan untuk mengetahui penularan kepada pihak lain dan mengetahui penyebabnya.

Selanjutnya, bila hasil laboratorium negatif, jamaah diperbolehkan kembali ke rumah. Masa deteksi dini K3JH berlaku selama 14 hari sejak kepulangan dari Tanah Suci.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan bahwa fase Armina pasca-Armina ini perlu diwaspadai.

“Biasanya jamaah yang sudah selesai berhaji mengalami penurunan daya tahan tubuh karena malas makan,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek melalui keterangan yang diterima Okezone, Senin (27/8/2018).

Guna menekan risiko sakit pada jamaah haji pasca-Armina, tugas tim medis, khususnya di kloter (TKHI) dan pada jamaah, harus lebih ditingkatkan.

Terkait hal ini, Menkes Nila Moeloek menyampaikan tiga pesan kepada TKHI dan jamaah haji.

Pertama, TKHI diminta meningkatkan early diagnostic terhadap jamaah di pondokan kloter masing-masing, terutama usai puncak ibadah haji.

“Waspada terhadap jamaah pascarawat di KKHI atau RSAS, terutama yang mengidap penyakit kardiovaskuler dan memastikan intake yang cukup pada jamaah sakit karena pasca armina kondisi ini menjadi risiko yang dapat menyumbang angka kematian tinggi,” kata Menkes Nila.

Kedua, jamaah gelombang 1 diimbau menjaga kesehatan dan kebugaran karena akan kembali ke Tanah Air. Begitu juga dengan jamaah gelombang 2 yang masih akan ke Madinah untuk beribadah di sana.

Ketiga, jamaah haji diimbau mengatur aktivitas, jangan berlebihan dan sesuai prioritas. “Tetap menjaga waktu istirahat dan menjaga asupan makannya,” pesan Menkes Nila.

Ia berharap perilaku hidup sehat yang sudah dijaga sebelum Armina tetap dipertahankan. Caranya dengan menjaga pola makan, rajin minum, dan cukup istirahat.

OKEZONE