Banyak Jamaah Bercita-cita Wafat di Tanah Suci, Alasannya?

Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menilai, banyaknya jamaah haji yang wafat tidak menentukan keberhasilan penyelenggaran haji. Namun, hal ini disebabkan oleh perspektif dan keinginan masyarakat untuk meninggal di Tanah Suci.

Wakil Ketua Umum Himpuh Muharom menjelaskan, banyak masyarakat yang bercita-cita meninggal di Tanah Suci. Karena berdasarkan hadis, ungkap dia, barangsiapa yang meninggal di Tanah Suci dan ia shaleh, maka akan mati syahid.

“Jadi, keyakinan ini, tidak menghalangi kepada mereka untuk berangkat haji, kalaupun dihadapkan dengan maut. Oleh karena itu, besar atau tingginya jumlah jamaah haji wafat, tidak menjadi ukuran sukses atau tidaknya pelayanan kesehatan, karena tidak ada kaitannya,” kata Muharom kepada Republika.co.id, Selasa (7/11).

Muharom menuturkan, jamaah haji yang rentan adalah yang memiliki penyakit risiko tinggi (risti) dan lanjut usia. Namun, untuk jamaah haji lansia, saat ini masih dianggap di atas 87 tahun.

Hal ini, menurutnya, menjadi kondisi dilematis para petugas haji, yang dalam posisi ingin menyampaikan sudah tidak wajib berangkat haji, tapi juga ada cita-cita terpendam puluhan dan belasan tahun dari calon jamaah haji agar bisa berangkat haji.

Sementara itu terkait layanan kesehatan, Muharom menilai, penyelenggaraan haji tahun ini sudah lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Pihaknya akan lebih concern kalau ada jamaah haji sakit tapi pelayanan kesehatan tidak baik.

“Jadi kita tetap apresiasi kepada Kemenkes dan Kemenag yang memberikan pelayanan optimal. Tapi kalau masalah usia bukan tanggung jawab penyelenggara haji, dan selama mereka kalau sakit mendapatkan pelayanan bagus, ya manajemennya bagus,” katanya.

 

IHRAM

454 Kloter Jamaah Haji Indonesia Sudah Pulang, Selasa Ini Dijadwalkan 19 Kloter

Fase pemulangan jamaah haji Indonesia gelombang kedua tinggal empat hari terhitung sejak kemarin. Kloter terakhir dijadwalkan terbang ke Tanah Air pada 5 Oktober mendatang.

Selasa (03/10/2017) ini, 19 kloter dengan 7.817 jamaah dijadwalkan akan kembali diberangkatkan ke Tanah Air dari Bandara AMAA Madinah.

Rilis Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Daker Bandara mencatat, sampai dengan Senin (02/10/2017), total 203 kloter dengan 80.128 jamaah dan 1.003 petugas kloter sudah diterbangkan ke Indonesia melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah, Arab Saudi.

Sebelumnya, 251 kloter dengan 100.621 jamaah dan 1.255 petugas sudah lebih dulu pulang ke Indonesia. Mereka adalah jamaah gelombang pertama yang diberangkatkan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah dari 6 – 21 September 2017.

Jadi, sampai kemarin, todal sudah 454 kloter jamaah haji Indonesia yang sudah kembali ke Tanah Air. Total ada 187.007 orang, terdiri dari 180.749 jamaah dan 2.258 petugas.

Total jamaah haji Indonesia tahun ini terbagi dalam 512 kloter. Artinya, masih ada 58 kloter yang akan diberangkatkan secara bertahap dalam 11 hari ke depan, lansir laman resmi Kemenag.*

 

HIDAYATULLAH

Jangan Coba-Coba Foto Polisi Makkah, Fatal Akibatnya!

Wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah, Arab Saudi

Ini prosedur: Jangan sesekali Anda memotret polisi yang tengah sibuk bekerja di berbagai kawasan Makkah. Entah kalau di luar Makkah, tapi tampaknya sama saja ketentuannya. Asal masih di Arab Saudi, mending jangan coba-coba. Panjang urusannya.

Siang itu, Rabu (30/8), adrenalin saya terpacu mencoba mengambil gambar para polisi lalu lintas yang sedang mengatur penutupan terowongan King Fahd. Terowongan ini adalah akses terdekat yang menghubungkan ke arah Mina dan lokasi jamarat.

Pos jaga mereka berada di seberang jalan, Kantor Misi Haji Daker Makkah, di Distrik Shisha. Secara diam-diam tentu. Jika izin pasti sudah ditolak.

Semula saya memotret mereka dari jarak jauh. Lalu perlahan mendekat hingga akhirnya benar-benar tepat di depan polisi, pos jaga, dan portal yang mereka pasang sebagai penutup jalan.

Saya juga mengambil gambar aksi mereka di pintu masuk toilet yang ada di sebelah pos. Suasana saat itu memang sedang benar-benar ramai. Jalanan Makkah jelang masa puncak haji bisa jauh lebih padat ketimbang jalanan Jakarta.

Otoritas Saudi memberlakukan penutupan sejumlah akses utama menuju lokasi-lokasi ritual haji (masya’ir). Di antaranya akses ke Masjid al-Haram, Mina, lokasi Jamarat, dan jalan utama menuju Arafah dan Muzdalifah.

Pengalihan rute alternatif bisa jadi jalannya memutar lebih jauh. Itulah mengapa antrean mobil tampak mengular di beberapa ruas jalan protokol. Tak sedikit pengendara memilih memutar arah dengan menerjang pembatas jalan.

Saya sukses mendapat empat jepretan askar, begitu orang kita menyebutnya. Semula semua berjalan lancar. Tiba-tiba dari kejauhan, sang kapten dengan berlari kecil mengampiri saya.

Waduh, alamat brabe dah. Dia mendekati saya dengan berteriak, menegur saya, dengan sangat keras. Dengan dialek gaul Jakarta-an, kurang lebih maknanya: “Lo ngapain foto-foto kami, bodoh, pergi lo!.”

Dia merebut kamera saya dan gelagatnya, gerakan tangan Si Kapten hendak membanting kamera saya yang sudah berpindah tangah. Eitss gawat ini.

Kalau sampai benar-benar dibanting, pusing. Pusing ganti rugi ke kantor, bisa potong gaji tiap bulan! Pikiran itu terus berkutat di benak.

Saya berusaha tetap tenang. Tidak membalas teriakannya. Hingga tiba-tiba dia berteriak sembari mengangkat kerah saya, ”Enta Hayawan!” Anda binatang! Begitu makna teriakannya.

Dia terus keras berteriak. Saya mencoba jelaskan. Dia tidak mau terima. Saya didorong. Kacamata saya jatuh. Pundak saya dipukul.

Untung bukan kepala. Sang Kapten kelihatan menghindari memukul bagian kepala, dia sadar betul, pukulan di kepala tanpa alasan kuat, bisa kena pasal. Apalagi pelanggaran saya tidak berat.

Di sejumlah negara Timur Tengah, silakan Anda berkelahi adu jotos, asal jangan kepala sasarannya, sungguh rumit urusan, kawan.

Sang Kapten terus mendesak saya. Saya jelaskan, saya wartawan Kantor Misi Haji Indonesia. Dia tak peduli. Lalu memaksa meminta film kamera saya. Apa? Film? Saya tertawa dalam hati. Saya tak banyak cakap.

Zaman sekarang semua serba digital, barangkali yang dimaksud adalah micro sd. Tapi saya memilih diam. Saya meminta dan memohon dengan sangat, kembalikan kamera saya dan berjanji, akan hapus semua foto di depan dia.

Dia terlihat melunak, meski tak berhenti meneriaki saya, enta hayawan! Suasana juga sempat tegang.

Semua mata tertuju pada kami. Beberapa jamaah haji Pakistan penasaran mendekat dan ingin tahu, apa yang sedang terjadi. Saya pun menghapus satu per satu gambar jepretan saya, di hadapan dia dan beberapa anak buahnya.

It’s done. Terhapus semua. Sang Kapten pun menjauh. Lantas apakah dia berhenti ‘mengoceh’? Tidak. Dia masih tidak terima, dari kejauhan satu kalimat saya dengar. “Kalau bukan Anda sudah saya jebloskan ke penjara.” Di tengah kemelut ini, saya masih beruntung!

Kemudian beberapa saat kemudian saya tunjukkan tasrih izin dari Kementerian Penerangan yang saya dan tim Media Center Haji (MCH) 2017 peroleh untuk melakukan liputan kepada salah satu anak buah si kapten. Dia menerangkan izin ini untuk memotret suasana masya’ir, bukan polisi.

Saya berkilah, justru dengan jepretan ini saya ingin tunjukkan kepada publik Indonesia keseriusan dan komitmen tinggi Arab Saudi mengamankan peyelenggaraan haji. Tidak ada faedah, kata dia.

Suara keras si kapten kembali terdengar nyaring di telinga, ruh enta hayawan! Pergi Anda binatang. Baik saya pergi, tapi dengar juga teriakan saya: ana musy hayawan, ana insan!Saya bukan hewan saya manusia, Kapten!

 

REPUBLIKA

Info Haji 2017: Tukang Becak Maksum Terkagum Telah Sampai di Tanah Suci

Orang bijak berkata haji adalah panggilan. Maka, orang yang berhaji kerap disebut sebagai orang yang mendapat panggilan.

Hal itu diyakini benar oleh Maksum Sapii Bunet bin Wahab. Niatnya menggebu meski secara materi, kakek 79 tahun asal Madura ini jauh dari kesan mampu.

Maklum, profesinya adalah tukang becak dengan penghasilan harian yang tidak menentu. Adakalanya sampai Rp 50 ribu, namun tidak jarang juga jauh dari angka itu.

Tapi semangat Kakek Maksum tak surut. Pelajaran rukun iman yang didapatnya sewaktu kecil menjadi pondasi dasar keyakinannya menunaikan rukun Islam kelima ini. “Saya dulu ngaji arkanul iman (rukun iman). Satu, harus percaya kepada Allah, baik dan buruknya takdir Allah,” ujarnya saat ditemui di hotel 605 tempatnya menginap yang berada di wilayah Syisyah, Makkah, Rabu (23/8).

Hatinya meyakini satu pesan ayat Surah Yasin, yakni innama amruhu idza arada syaian an yaquula lahu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi. “Saya percaya itu. Jadi kuncinya percaya kepada Allah, lalu berusaha sambil meminta. Kalau Allah menakdirkan, saya yakin. Kalau Allah menghendaki, saya akan berangkat,” katanya.

Kepercayaan akan kekuasaan Allah adalah pondasi utama. Selanjutnya, Maksum berusaha untuk mewujdukan niatnya berhaji di Baitullah.

Dengan becak, Maksum mencari nafkah untuk dirinya yang kini sudah tidak lagi direpoti anak-anaknya. Enam dari 14 keturunannya yang masih hidup sudah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Maka, jika masih ada sisa dari hasil menarik becak, Maksum mengumpulkannya. Sedikit demi sedikit selama 20 tahun hingga dia bisa mendaftar haji pada 2010.

“Saya nabung sedikit demi sedikit. Sebab, pendapatannya tidak tentu, kadang dapat Rp 50 ribu, kadang kurang,” katanya.

Sehari-hari dia menarik becak di Pasar Atum Surabaya. Meski tiap hari menarik becak, namun belum tentu ia bisa menabung setiap hari.

Setelah menunggu selama tujuh tahun, Maksum bisa berangkat haji tahun ini. Tergabung dalam kloter 6 Embarkasi Surabaya (SUB 06), dia mengaku bahagia dan kaget bisa memenuhi panggilan Allah, sesuai yang dicitakannya sejak lama. “Alhamdulillah. Sampai di sini juga. Saya merasa kagum dan kaget,” katanya dalam Bahasa Jawa.

Maksum mengaku sampai sekarang masih menarik becak, meski usianya sudah mulai senja. Sepulang haji, dia juga mengaku ingin terus menarik becak karena profesi itu yang selama ini ia jalani. “Setelah haji, tetap narik becak. Kalau masih kuat kerja, masih pengen terus agar tidak merepotkan anak,” ujarnya.

Selamat menunaikan ibadah haji Kakek Maksum. Semoga mendapatkan haji mabrur. Amin.

 

IHRAM

Info Haji 2017: Jamaah Haji Indonesia Tunggu Antrean dengan Bershalawat

Jamaah haji Indonesia menjadi sorotan dunia. Pasalnya, saat menunggu antrean pemeriksaan pasport dan visa di Madinatul Hujjaj, Bandara Jeddah, Arab Saudi, sekitar ratusan jamaah haji Indonesia melantunkan shalawat badriyah (badar) kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Dalam video yang diunggah akun @makkahmadinah, Selasa (22/8) kemarin, terlihat sekira ratusan jamaah haji berpakaian ihram terlihat berbaris rapi. Terdengar suara mengumandangkan shalawat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang menggema dalam bangunan bandara.

“Ritme Sholawat Khas Indonesia berkumandang di Airport Haji atau Madinatul Hujjaj Jeddah.. Masya Allah Tabarokallah… Shollu ‘alal nabiy,” tulis akun @makkahmadinah dalam caption di akun Instagram tersebut.

Video shalawat yang dilantunkan jamaah haji Indonesia itu pun langsung menjadi viral di dunia maya. Sejumlah akun lainnya juga memposting video serupa sembari memberikan pujian dalam keterangannya. Salah satunya hafiz Alquran asal Amerika Serikat, Fatih Seferagic.

Tak lupa, Fatih yang juga terkenal di Indonesia tersebut memberikan pujian. “Jamaah haji melantunkan dan mengirim penghormatan untuk Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam saat menunggu dalam antrean di bandara. Membuat hati saya senang,” kata Fatih.

Hafiz berdarah Bosnia ini mengaku rindu dengan Indonesia pascamendengar shalawat tersebut. “Sejujurnya, saya tidak sabar kembali ke Indonesia dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang luar biasa ini. Semoga Allah terus memberkahi Indonesia dan rakyatnya,” tulis pria berusia 22 tahun ini.

Shalawat badar merupakan puji-pujian kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabat yang gugur di medan Perang Badar. KH Ali Manshur merupakan orang di balik shalawat. Ulama Nahdatul Ulama (NU) itu menggubah syair Shalawat Badar sekitar 1960-an.

Berikut syair shalawat Badar gubahan Kiai Ali Manshur:
Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah.

 

IHRAM

Catat, 27 Agustus Katering di Makkah Berhenti Sementara

MAKKAH — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan jamaah haji Indonesia layanan katering akan dihentikan sementara jelang puncak haji Arafah dan Mina (Armina).

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi Basori mengatakan bahwa distribusi layanan katering di Makkah ini akan dihentikan sementara jelang puncak haji, tepatnya mulai 27 Agustus 2017 dan kembali normal pada 7 September 2017.

“Hal ini bertepatan dengan kegiatan haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang biasa disebut dengan Armina,” kata dia Sabtu (18/8) di Makkah  seperti di laporkan wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah, Arab Saudi.

Dia menjelaskan jamaah haji Indonesia tahun ini mendapatkan layanan katering sebanyak 25 kali dalam bentuk boks selama di Makkah. Katering itu berupa makan siang, makan malam, dan roti untuk snack pagi.

Direktur  Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis menjelaskan bahwa selama di Armina jamaah haji akan mendapat layanan katering  yang disiapkan oleh 18 perusahaan penyedia katering.

Menurutnya, 18 perusahaan tersebut sudah siap untuk memberikan layanan katering kepada jamaah haji Indonesia. Menurut Sri Ilham, jamaah haji Indonesia akan terbagi dalam 71 maktab saat Armina.

Ada dua pihak yang akan memberikan pelayanan katering,  45 maktab akan dilayani Muasasah Asia Tenggara, 26 maktab dilayani Pemerintah Indonesia yang telah mengontrak 18 perusahaan katering.

“PPIH ingin memastikan bahwa layanan katering armina sudah dalam tahap siap sesuai kontrak yang disepakati,” terang Sri Ilham.

Rincian Layanan Armina

-16 x makan yang terdiri dari:

 

  • 15x makan berat
  • 1x snack selama lima hari semenjak 8–12 Dzulhijjah.
  • Pada 8 Dzulhijjah, jamaah diberikan makan malam plus tiga botol minum ukuran 330 ml.
  • Pada 9-12 Dzulhijjah,  3x makan  plus tiga botol minum ukuran 330 ml. Pada 13 Dzulhijjah, 2x makan saja, pagi, dan siang.

 

Paket Muzdalifah

-Paket snack berat yang berisi:

  1. Roti manis
  2. Kurma sukari satu kotak
  3. Jus buah
  4. Mie instan cup
  5. Air mineral tiga botol ukuran 330 ml
  6. Buah
  7. Coffee kid (kopi empa sachet, teh emam sachet, kremer 19 sachet, gula pasir 30 sachet gelas melamine/kaca)
  8. Kecap botol ukuran 140 ml
  9. Saos botol ukuran 140 ml

 

IHRAM

Menjaga Asupan Gizi Saat Berhaji

Melakukan ibadah haji membutuhkan persiapan yangmatang dan terencana. Selain ruhani dan finansial, persiapan jasmani adalah salah satu yang tidak bisa diabaikan. Sebab, untuk dapat menjalankan ibadah dengan lancar, tubuh juga harus dalam kondisi sehat dan bugar.

Aktivitas yang tinggi di Tanah Suci serta kondisi iklim yang berbeda dengan Indonesia, tentunya akan membuat jamaah kewalahan jika tidak diimbangi dengan asupan makanan yang sehat dan gizi seimbang. “Untuk itu, sebelum berangkat asupan gizi harus seimbang mulai dari karbohidrat, protein dan lemak,” ujar spesialis gizi klinik RSCM dr. Dian Permatasari, Selasa (1/8).

Dian juga menyarankan agar calon jamaah haji memperbanyak mengonsumsi buah dan sayuran. Di dalam buah dan sayuran terdapat kandunganvitamin dan mineral yang berfungsi menjaga daya tahan tubuh supaya tidak mudah menurun. Makanan yang dikonsumsi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan kalori.

Tidak hanya memperhatikan asupan makanan, calon jamaah hajijuga disarankan untuk rutin berolahraga sebelum berangkat ke Tanah Suci. Tujuannya, agar tubuh lebih siap dan tidak kaget dengan tingginya aktivitasfisik.

Sementara itu, selama di Tanah Suci, Dian menyarankan, agar jamaah haji tetap menjaga waktu makan sebanyak tiga kali sehari dengan memperbanyak asupan protein dan karbohidrat untuk mendapatkan energi lebih. Sebagai camilan, Dian menyarankan, jamaah haji sebisa mungkin membawa makanan yang bisa langsung dimakan seperti biscuit dan buah-buahan.

“Perbanyak proteindari hewani atau pun nabati. Dibutuhkan juga ekstra makanan seperti susu untukmenambah kalori dan tenaga,” kata Dian menambahkan.

Jika diperlukan, jamaah boleh mengonsumsi multivitamin demi mempertahankan stamina tubuh. Untuk meningkatkan kekebalan tubuh, jamaah juga bisa mengonsumsi madu atau minuman herbal. Sebaiknya, minuman herbal yang dibawa berasal dari rempah-rempah asli Indonesia agar tubuh bisa langsung menyesuaikan diri.

Mengingat cuaca ekstrim dengan suhu yang tinggi di TanahSuci, Dian menyarankan, agar jamaah haji tidak lupa memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh. Jika pada saat cuaca normal seseorang harus mengonsumsi minimal dua liter air per hari, maka pada cuaca ekstrim seperti di Tanah Suci jamaah haji harus menambah asupan cairan minimal 2,5 liter air per harinya.

“Usahakan kemana-kemana bawa air putih dan minum setiap satujam sekali di saat haus ataupun tidak haus,” kata Dian.

Selama di Tanah Suci, jamaah haji juga sebaiknya menghindari makanan yang dapat memicu batuk dan diare karena akan sangat mengganggu kelancaran ibadah.

 

REPUBLIKA

Kiswah Ka’bah Dinaikkan, Tanda Dimulai Musim Haji Tahun Ini

Saban tahun, Kiswah, atau kain hitam yang menutupi Ka’bah dinaikkan dan bagian yang rentan kemudian ditutup dengan spanduk berwarna putih sepanjang dua meter.

Prosedur itu dilakukan setiap tahun sebagai tindakan pencegahan untuk mencegah Kiswah dari menjadi rusak. Kain Kiswah lazimnya disentuh oleh para Jamaah sedang mereka bertawaf, kata Direktur Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Ka’bah, Dr Muhammad Bajouda.

Kiswah dinaikkan setiap tahun sebagai simbol dimulainya musim haji, lapor situs Arab News.

Sebelum ini, Kiswah dinaikkan pada hari pertama Zulhijjah sebagai mengumumkan dimulainya ibadah itu.

“Dengan berkurangnya jumlah Jamaah, tanggal menaikkan Kiswah dikedepankan karena jumlah Jamaah sangat sedikit dan agak sulit untuk banyak jamaah datang pada waktu itu,” Dr. Muhammad dikutip Arabnews.

Namun dengan kondisi ekonomi yang membaik dan transportasi yang lebih baik, tanggal itu diubah ke pertengahan Zulkaeda, lapor Arab News.

Dia mengatakan jumlah Jamaah, yang melebihi dua juta, adalah salah satu alasan untuk menaikkan Kiswah, yaitu untuk memeliharanya.

Kiswah dinaikkan dari mataf, yaitu tiga meter dari ketinggian Ka’bah 14 meter. Saldo 11 meter masih terus menutupi Ka’bah sampai 12 haribulan Muharram, “kata Dr. Muhammad.

Kiswah akan dikonversi setahun sekali, pada musim haji, pada pagi hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Ia akan ditutup kembali sampai 12 Muharram, lapor Arab News.

Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah setiap tahun, semua bagian yang dihiasi sulaman emas dialihkan, “kata dia.

Sebagaimana diketahui, Kiswah adalah kain hitam dengan hiasan kaligrafi dari ayat-ayat Al-Quran dari benang emas yang menghiasi Ka’bah. Ketinggian mencapai 14 meter, panjang 47 meter dan berat hampir 700 kilogram. Setiap tahun Saudi mengganti Kiswah melalui acara khusus. *

 

HIDAYATULLAH

Kabar Jemaah Telantar, Kadaker: Jangan Asal Posting di Medsos!

Madinah – Unggahan seseorang di Facebook soal jemaah bernama Slamet asal Jember telantar membuat petugas kaget. Sebab, Slamet sejauh ini dalam kondisi baik. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Amin Handoyo, meminta jemaah atau pihak lain tak asal posting.

“Ada WA Center, jangan asal posting di media sosial. Kalau ingin penyelesaian, silakan lewat itu (WA Center),” kata Amin di kantor Daker, Kamis (10/8/2017).

Nomor WA Center Kantor Urusan Haji (KUH) Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah adalah 050 35000 17, sedangkan call center 9200 1 3210. Layanan ini berpadu dengan aplikasi SiskoPPIH (Sistem Komunikasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) dan teruji saat seorang jemaah kehilangan tas berisi Rp 40 juta. Dalam 3 jam, masalah terselesaikan.

“Kalau asal posting, mungkin niatnya lain,” kata Amin.

Sekadar diketahui, kondisi Slamet tak seperti gambaran unggahan di Facebook, Rabu (9/8). Di situ disebutkan, Slamet sakit stroke dan telantar. Enam hari di Madinah, ia baru sekali beribadah ke Masjid Nabawi. Itu pun ditempatkan di area yang panas.

Dalam pengecekan, Slamet memang sakit stroke. Ia lebih banyak berbaring di kamar Hotel Borg Almoktarah, pemondokan sektor 5 Madinah. Menurut dokter pendamping, hal itu keinginan Slamet sendiri. Karena jika duduk atau beraktivitas, dia tidak nyaman.

Kunjungan petugas ke Slamet dan jemaah yang berisiko sakit, dilakukan tiap hari. Jika Slamet ingin beribadah, maka petugas siap menggendong maupun mencarikan kursi roda.

“Petugas selalu siap. Kalau ada masalah, silakan menghubungi,” tutupnya.
(try/nkn)

 

DETIK

Jamaah Haji Risti Diminta Teratur Konsumsi Obat

Jamaah haji risiko tinggi (Risti) diminta mengonsumsi obat secara teratur sesuai resep dokter agar penyakitnya tidak kambuh. Kasubsi Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Bandara Mirwan Yasin mengatakan perjalanan jauh dan kondisi suhu udara di Madinah yang sangat panas menyebabkan jamaah haji Risti mengalami kekambuhan. Mirwan berharap jamaah haji tidak menganggap sepele obat yang diberikan dokter.

“Jamaah dengan hipertensi rutin mengonsumsi obat seumur hidup, jadi kalau di Tanah Air minumnya tiga kali sehari itu minumnya tidak boleh putus,” ujar Mirwan, Senin (31/7).

Selain obat, Mirwan meminta jamaah Indonesia tidak melupakan air minum. Minumlah, 300 cc atau satu gelas air per jam tanpa menunggu haus. Temperatur udara di Madinah yang berkisar 45 derajat Celsius rentan membuat jamaah haji dehidrasi. “Jangan lupa minum yang banyak untuk memperbaiki sirkulasi ginjal,” katanya.

Menurutnya, dari beberapa kasus kesehatan yang dihadapi jamaah haji, memang lebih banyak pada bawaan sejak di Tanah Air. Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah setiap hari didatangi jamaah yang memeriksakan kondisinya. Jika berat dan membutuhkan perawatan, jamaah akan menjalani rawat inap. Jika tidak bisa rawat jalan.

 

IHRAM