Kisah Gagal Panen sebagai Azab di Dunia

ALQURANUL Karim sepertiganya adalah kisah, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama Alquran. Itu artinya, betapa pentingnya posisi sejarah untuk membangun generasi peradaban. Kita ambil satu kisah, yang kisah ini merupakan salah satu kisah yang awal diturunkan oleh Allah kepada Nabinya dalam mengawali langkah di Makkah. Kisah ini diturunkan karena Nabi mulai berhadapan dengan orang-orang musyrik Makkah yang menentang dakwah beliau. Allah berikan kisah ini dalam surat Al-Qalam.

Allah berfirman dalam Surat Al-Qalam ayat 17: “Sesungguhnya kami telah menguji mereka, yaitu orang-orang musyrik Makkah, sebagaimana kami menguji para pemilik kebun ketika mereka dulu bersumpah bahwa mereka benar-benar akan panen di pagi hari.”

Said bin Zubair rahimahullah, sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, beliau berkata bahwa para pemilik kebun ini adalah mereka yang tinggal di sebuah tempat yang bernama Dharawan, di mana tempat ini lokasinya 6 mil dari Kota Shana di Yaman. Kisahnya adalah bahwa para pemilik kebun ini dulunya punya ayah. Ayahnya adalah orang yang mulia, baik, dermawan sekali. Setiap dia panen, dia panggil orang-orang miskin ikut panen menikmati kebunnya. Orang miskin datang ada yang membawa tempat, keranjang, atau menggunakan tangannya untuk membawa hasil panen yang sama-sama dinikmati itu.

Ayah yang baik ini sudah mengukur bahwa dia memanfaatkan apa yang bisa dia manfaatkan dari kebunnya, disimpan sebagiannya untuk makan dia dan keluarganya selama setahun, dan sisanya disedekahkan. Ketika dia meninggal, anak-anaknyalah yang mewarisi kebun itu. Tapi mereka berkata, “Ayah kita ini tidak cerdas. Andai kita tidak berikan pada orang-orang miskin, kita akan lebih kaya dari sekarang.” Ini hitungan matematis, bukankah begitu?

Maka berhati-hatilah punya anak yang hanya diajari hitungan matematika dunia, tapi tidak pernah diajari hitungan Allah Yang Maha Memberi Keberkahan, Yang Memiliki kekayaan di langit dan di bumi serta seluruh isinya. Seperti anak-anak pemilik kebun ini, mereka pandai berhitung. Jelas mereka tahu hitungannya, andai tidak diberi kepada orang miskin maka mereka lebih kaya. Tapi ketahuilah, inilah yang membuat mereka kehilangan keberkahan. Bahkan tidak hanya kehilangan keberkahan, mereka kehilangan kebun mereka dan tidak bisa panen!

Pada Surat Al-Qalam ayat 19, ayat mengatakan bahwa kebun mereka dihabisi oleh Allah saat mereka tidur, sehingga ketika esok paginya mereka harus panen, kebun mereka telah hangus dan gosong. Akhirnya mereka menyesal di ujungnya. Mereka tidak bisa panen. Maka hilanglah semuanya, hilanglah rezeki mereka sepanjang tahun, hilanglah kebun mereka, bahkan hilanglah kesempatan untuk bersedekah.

Dan Allah menutup pada Surat Al-Qalam ayat 33: “Itulah azab di dunia, dan azab di akhirat lebih besar lagi kalau mereka tahu.”

Oleh karenanya, berilah haknya orang tidak mampu pada harta kita. Jangan zalimi mereka. Apa yang kita simpan dari harta, atau hak orang lain yang ada di harta kita itu tidak ada baiknya. Yang ada justru menghilangkan keberkahan di harta kita. Maka ambil berkahnya, berikan hak orang lain, berikan hak-hak orang miskin di harta kita.

Wallahu alam bisshawab. [Ust. Budi Ashari, Lc.]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2345383/kisah-gagal-panen-sebagai-azab-di-dunia#sthash.tn9podYt.dpuf

Membedakan Bencana ini Karena Takdir/ Ulah Manusia

SUDAH tampak kini, bencana alam semakin sering terjadi. Gempa sering mengguncang bumi. Kebakaran hutan, pencemaran sungai, danau, serta lautan niscaya semakin memperparah bencana banjir, tanah longsor, polusi udara, air, dan ancaman sinar ultra violet matahari sebagai akibat dari semakin menipisnya lapisan ozon. Beberapa gunung berapi mulai aktif dan memperlihatkan gejala peningkatan. Di saat yang sama, pemanasan bumi (global warming) mengakibatkan es di kutub selatan dan utara mencair, siap menenggelamkan pesisir kepulauan. Jika sudah demikian, kemana manusia hendak berlari, berlindung, serta menyelamatkan diri?

Manusia harus berusaha maksimal untuk dapat mendeteksi hingga mampu meminimalisir berbagai bencana yang mungkin terjadi. Satu hal fundamental yang justru banyak terlupakan adalah bertobat meninggalkan perbuatan merusak alam dan senantiasa memohon keselamatan terhadap Allah Taala. Karena sesungguhnya bencana alam adalah peringatan bagi orang beriman yang lalai, serta hukuman bagi orang-orang yang kafir. Karena hanya di tangan Allah lah, kemampuan untuk mendatangkan dan menolak bala bencana seluruhnya. Lalu, kepada siapa lagi manusia dapat meminta perlindungan dan keselamatan kalau bukan kepada Allah Azza wa Jalla.

Berikut ini adalah salah satu doa perlindungan yang diajarkan oleh Rasulullaah shalallahu alaihi wa sallam, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam urusan agamaku, urusan duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku, berilah keamanan kepada hatiku dari ketakutan-ketakutan. Ya Allah, jagalah aku dari marabahaya yang mengancamku dari arah depan, arah belakang, arah kanan, arah kiri, dan arah atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu dari pembunuhan secara licik dari bawah.”

Ingatkah dengan bencana tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, yang dahulu telah merenggut nyawa dan harta sebegitu besarnya. Ingatkah dengan gempa bumi di pesisir selatan Pulau Jawa yang juga telah memporak-porandakan berbagai kota. Melalui berita, kita dapat menyaksikan betapa perih luka saudara-saudara kita tertimpa bencana. Apabila kita cermati secara kasat mata, letusan gunung berapi, badai topan, gempa bumi, serta tsunami adalah musibah yang terjadi tanpa ada unsur kelalaian manusia. Ia terjadi semata kehendak Allah Taala.

Berbeda lagi dengan bencana bajir bandang dan tanah longsor yang merupakan akibat dari penggundulan hutan dan pembangunan yang menghilangkan tanah resapan. Tangan-tangan manusia rakus harta yang tak memiliki nurani menjadi awal dari datangnya rentetan bencana. Punahnya berbagai spesies hewan dan tumbuhan di lautan juga terjadi akibat ulah tangan manusia, melalui limbah pabrik, tumpahan minyak, pemakaian bahan peledak, dan lainnya. Mencairnya lautan es di kutub utara, juga melibatkan ulah manusia dengan pabrik-pabrik industri besar dan gas rumah kaca yang mengurangi lapisan ozon.

Demikianlah, ada bencana yang murni kehendak Allah tanpa unsur kesalahan manusia, adapula bencana yang terjadi sebagai akibat dari ulah tangan-tangan jahat manusia. Itulah sebabnya, dalam doa di atas, doa tersebut di awali dengan permohonan maaf lalu diiringi dengan permohonan perlindungan. Kaitannya sangat jelas, dengan memanjatkan doa ini, seorang muslim telah memohon kepada Allah agar tidak dihukum dengan bencana, baik ia bersalah maupun tidak, baik merusak alam maupun tidak. Saat berbuat dosa yang memang selayaknya mendapatkan hukuman, memanjatkan doa ini sama seperti merengek agar tidak dihukum. Adapun saat tidak melakukan dosa, doa ini berarti permohonan agar tidak menjadi korban atas dosa orang lain yang menyebabkan terjadinya bencana. Melalui doa dan dengan kemurahanNya, kesalahan kita (yang selayaknya diganjar dengan hukuman), bisa dimaafkan, asalkan bertekad tidak mengulanginya lagi. Dengan kebijaksanaanNya pula, kesalahan orang lain tidak akan menyebabkan bencana bagi diri kita.

Wallahu alam bish shawab. [Zulkifli Muhammad Ali]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347342/membedakan-bencana-ini-karena-takdir-ulah-manusia#sthash.O2Skg1N4.dpuf

Nabi Muhammad: Mulia dalam Segalanya

SETIAP yang dipuji sesungguhnya masih memiliki celah untuk dihina, kecuali keterpujian Nabi Muhammad SAW. Keterpujian Rasulullah adalah keterpujian yang sempurna. Karena itulah Allah menyebutkan dalam QS Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah pemilik kepribadian yang agung.”

Tak mungkin seseorang memiliki ruang untuk menghinanya kecuali jiwa orang itu adalah jiwa terhina. Benar sekali harapan sang kakek saat memberi nama cucunya dengan nama Muhammad (yang terpuji) agar beliau menjadi manusia terpuji di langit dan di bumi.

Kesempurnaan jasmani Nabi Muhammad diungkapkan panjang lebar dalam beberapa kitab yang menjelaskan ciri-ciri dan karakter Rasulullah. Ada kitab al-syifa yang ditulis yekh Fudlail bin Iyadl, ada pula kitab Syamaail al-Nabi yang ditulis A-Tirmidzi, serta banyak kitab yang lain.Tak satupun menyebut ada cacat pada tubuh beliau, semuanya memuji kesempurnaannya. Tentang kepribadian beliau pun demikian, semuanya menggambarkan puncak kemanusiaan yang harus diteladani oleh semua manusia.

Nabi Muhammad dilahirkan 50 hari setelah tahun gajah, yakni 50 hari dari saat Abrahah berkehendak menghancurkan kabah, sebuah peristiwa yang menggemparkan dunia karena akan merusak penyangga utama peradaban atas nama iri hati dan dengki plus kebencian.

Nabi Muhammad dilahirkan 500 tahun setelah Nabi Isa, saat dunia diselimuti kegelapan. Apa yang dilakukan Abrahah dan tentaranyaitu sesungguhnya adalah salah satu bentuk dari kegelapan iu sendiri,kegelapan hati yang lama yang disinari hidayah. Maka lahirlah Rasulullah pada waktu fajar.

Beberapa sejarawan mengomentari saat kelahiran nabi Nabi bahwa ada pelajaran penting di sana, yakni ketika kegelapan telah mencapai titik paling pekat, kebrutalan telah sangat menyengat dan musibah serta derita terus meningkat menujutitik kulminasinya maka saat itulah akan hadir fajar baru kehidupan. Allah tak akan pernah membiarkan semua hal terjadi melampaui batas, semua akan menuju titik ekuilibrium.

Masa kegelapan yang disematkan pada masa sebelum diutusnya Rasulullah, lazim dikenal dengan istilah masa jahiliah yang makna bahasanya adalah masa kebodohan. Untuk mengetahui makna sesungguhnya, ada baiknya kita membuka al-Quran untuk melihat penggunaan kata jahiliyah lengkap dengan konteksnya. Ada empat kali al-Quran menyebut kata jahiliyah ini, keempatnya seakan menjadi karakter utama masyarakat jahiliah pada waktu itu.

Perhatikan kata dhann al-jaahiliyyah (prasangka atau gaya pikir jahiliah dalam QS Ali Imran ayat 154: Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.”

Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa hidup ini berjalan dengan sendiri dengan pengaturan manusia tanpa ada grand design dari Allah. Sungguh keyakinan seperti ini adalah keyakinan fatal yang akan mengantarkan pada kebuasan dan kerakusan tak berujung.

Perhatikan pula kata hukm al-jaahiliyyah (hukum jahiliyyah) dalam QS Al-Maidah ayat 50: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” Ayat ini memberi kesan kuat bahwa masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang menjauh dan menolak hukum-hukum Allah. Kalau saja mereka yakin bahwa yang menciptakan dan mengatur dunia ini adalah Allah, maka mereka tak akan memiliki alasan apapun untuk menolak prinsip dan auturan hidup yang ditetapkan Allah.

Setelah itu, perhatikan pula penggunaan kata tabarruj al-jaahiliyyah (berhias cara jahiliyyah) dalam QS Al-Ahzab ayat 33: “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Berhias diri dengan cara tak tepat, di saat tak tepat dan untuk peruntukan yang tak tepat adalah cara berhias masyarakat jahiliyah. Ternyata,masalah pakaian menjadi urusan penting. Masyarakat bisa rusak karena masalah berhias model jahiliyah ini.

Lalu, yang terakhir, perhatikanlah kata hamiyyah al-jaahiliyyah (kesombongan jahiliyah) yang disebutkan dalam QS Al-Fath ayat 26: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Kesombongan jahiliyah adalah kesombongan penuh fantasi kesukuan.Yang dibela bukan kebenaran melainkan kesukuannya, kebanggaan yang dilengkapi oleh kesombongan atau arogansi.

Rasulullah lahir dan diutus untuk mengubah karakter jahiliyyah tersebut di atas. Rasulullah sukses mengantarkan dunia Arab bahkan , pada tahapan berikutnya, seluruh dunia menuju masyarakat yang berperadaban. Senjata andalan Rasulullah adalah kemuliaan diri, karakter diri yang dipenuhi sifat-sifat terpuji. Hal ini menjadi kaidah penting dalam kepemimpinan menurut Islam bahwa kesuksesan kepemimpinan sangat kuat berdiri di atas kepribadian pemimpinnya.

Orang yang banyak cacat kepribadian, seperti sombong, arogan, pemarah, penyiksa dan tidak adil janganlah dipilih menjadi pemimpin. Memilihnya berarti telah mendukung berputarnya arah kehidupan kembali ke arah zaman jahiliyyah. Bahwa memang tidak ada manusia yang sempurna sesempurna Rasulullah adalah fakta, namun hilangnya nilai-nilai utama dalan seseorang sudah cukup untuk menjadialasan menghapuskan namanya dari daftar calon pemimpin. Nilai-nilai utama itu adalah tauhid dan akhlak.

Sebagai muslim yang baik, janganlah lupa merenungkan dan berpegang pada QS Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Lengkapi pula dengan perenungan makna QS Ali Imran ayat 164: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Untuk tidak kembali ke zaman jahiliyyah, zaman kesesatan, sungguh diperlukan hadirnya manusia-manusia yang senantiasa meneladani kepribadian Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupan kita di zaman modern ini untuk menjadi teladan, panutan, pimpinan yang menunjukkan dan mengantarkan pada jalan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan hakiki bukanlah kebahagian tubuh saja, melainkan kebahagiaan batin. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347683/nabi-muhammad-mulia-dalam-segalanya#sthash.C6XIeQA5.dpuf

Rahasia Dajjal di Balik Danau Tiberias

DANAU tiberias terletak di bagian bawah dataran tinggi golan yang kini dikuasai Suriah dan dataran timur kota Galilea Palestina. Garis pantainya membentang sepanjang 53 km dengan luas 166km2. Kedalamannya mencapai 46 m. Meski secara geografis danau ini terletak antara Suriah dan Palestina, namun secara politis danau ini dikuasai oleh zionis israel lanatullah alayh. Danau yang terletak pada posisi 213 m di bawah permukaan laut ini, merupakan danau air tawar terendah di dunia, dan juga sekaligus menjadi dana terendah kedua secara umum setelah danau Laut Mati yang merupakan danau air asin. Danau Tiberias ini adalah sumber utama kebutuhan air bersih penduduk Palestina dan penjajah Israel. Danau ini pun merupakan lokasi terpenting bagi pemeluk semua agama samawi.

Bangsa Yahudi membangun pemukiman di tepi danau Tiberias, juga membangun resort dan penginapan bagi petinggi militer Israel, karena letaknya yang sangat berdekatan dengan wilayah Palestina dan Suriah, sebagai antisipasi penyusupan pihak-pihak yang tidak dikehendaki.

Adapun keterkaitannya dengan kemunculan Dajjal, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa turunnya permukaan air danau ini menjadi salah satu tanda-tanda kedatangan Dajjal. Saat ini permukaan air Danau Tiberias telah mengalami penyusutan. Ini tentu menjadi musibah bagi kita semua, karena masa kemunculan Dajjal semakin dekat, sedangkan kedatangannya itu akan membawa fitnah yang besar bagi umat Islam di mana saja mereka berada; sebagian besar manusia terkena fitnah tersebut. Sang Dajjal, saat kemunculannya, mengaku sebagai Tuhan, mengaku sebagai yang memiliki surga dan neraka. Dalam keterangan tentang Dajjal dinyatakan bahwa kaum wanita adalah yang terbanyak mendatanginya sehingga para laki-laki pulang menemui ibu, putri, saudari, dan bibi mereka, mengikat mereka dengan kuat, karena takut wanita-wanita itu keluar menemui Dajjal. Oleh karena itu Rasulullah shallallahun alaihi wa sallam bersabda, “Hal yang paling saya takutkan akan menimpa kalian adalah al-Masih ad-Dajjal.”

Agar lebih jelas apa dan mengapa dengan sosok Dajjal ini, berikut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Fatimah binti Qais radhiyallahu anha. Dalam riwayat tersebut dinyatakan bahwa dia berkata, “Saya mendengar juru panggil Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyeru: Salat Jemaah! Salat jemaah” (panggilan seperti ini biasanya hanya pada waktu salat atau apabila ada sesuatu yang sangat penting). Fatimah binti Qais melanjutkan, “Maka saya pun pergi ke masjid dan salat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan saya berada pada shaf pertama para wanita. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah selesai beliau duduk di atas mimbar.

Beliau tertawa kemudian berkata, Hendaklah masing-masing tetap di tempat! Tahukah Anda semua mengapa saya kumpulkan? Para Shahabat menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Bukan karena suatu kabar gembira, bukan pula karena suatu ancaman, tetapi karena Tamim ad-Dari tadinya seorang pemeluk Nasrani lalu dia datang menyatakan keIslamannya dan menceritakan kepada saya kejadian yang sesuai dengan yang pernah saya sampaikan kepada kalian semua tentang al-Masih ad-Dajjal. Dia menceritakan kepada saya bahwa dia berlayar dengan tiga puluh orang dari Lakhm dan Juzam, lalu ombak besar membuat mereka terombang ambing di lautan sebulan lamanya hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau di arah timur matahari. Mereka pun turun dan duduk beristirahat dekat kapal mereka lalu memasuki pulau tersebut. Mereka kemudian bertemu dengan makhluk melata yang dipenuhi bulu. Saking banyaknya bulunya mereka tidak tahu mana bagian depan dan bagian belakangnya. Mereka berkata, Makhluk apakah Engkau ini?

Makhluk itu berkata, Aku adalah Jassasah (Pengintai). Mereka bertanya, Apa itu Jassasah? Makhluk tu menjawab, Pergilah kalian menemui laki-laki yang ada di gedung besar sana, dia sangat ingin mendengar berita dari kalian. Tamim berkata, Ketika dia menyebut nama seorang laki-laki, kami takut bahwa makhluk itu adalah setan. Maka kami pun bergegas pergi sampai kami menemukan bangunan besar itu lalu masuk ke dalamnya. Di sana ada seorang manusia yang paling besar dan paling kuat yang pernah kami lihat. Kedua tangannya terbelenggu ke lehernya di antara kedua lutut dan sikunya. Kami berkata, Celakalah engkau, makhluk apakah engkau ini?

Dia menjawab, kalian mampu menemukanku, beritahu saya siapa kalian ini! Mereka (Tamim dan rombongan) menjawab, Kami adalah orang-orang Arab, kami naik kapal laut, tiba-tiba ombak pasang dan kami pun terombang-ambing selama satu bulan sampai akhirnya terdampar di pulau Anda ini. Kami pun merapat dan memasukinya. Tiba-tiba kami bertemu dengan makhluk melata yang berbulu sangat lebat sehingga sulit mengetahui mana depan dan mana bagian belakangnya. Kami berkata kepadanya, Celakalah engkau, makhluk apakah kau ini?

Dia menjawab, Aku adalah jassasah (Pengintai). Kami pun berkata, Apakah jassasah itu? Dia berkata, Pergilah temui laki-laki yang ada di bangunan besar itu karena dia sangat ingin mendengarkan berita dari kalian! Maka kami pun bergegas menemuimu, dan merasa takut dengan makhluk itu dan menyangka dia adalah setan. Laki-laki besar itu berkata, Beritahukan kepada saya tentang kebun kurma Baisan! Kami berkata, Tentang apanya yang ingin engkau ketahui? Dia berkata, Tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah? Kami berkata, Ya. Dia berkata, Ketahuilah kurma-kurma itu hampir tidak lagi berbuah.

Beritakan kepadaku tentang danau Tiberias! Kami pun berkata, Tenting apanya yang ingin engkau ketahui? Dia berkata, Apakah di sana ada airnya? Kami menjawab, Danau itu banyak airnya, Dia berkata, Ketahuilah airnya tak lama lagi akan habis. Beritahu saya tentang sumber air Zagar! Kami berkata, Tentang apanya yang ingin engkau ketahui? Dia berkata, Apakah masih banyak airnya? Apakah penduduk sekitarnya memanfaatkan airnya untuk bercocok tanam? Kami menjawab, Ya, airnya banyak, penduduk sekitar memanfaatkannya untuk bercocok tanam.

Dia berkata, Beritakan kepada saya tentang Nabi kaum yang ummi, apa yang telah dilakukannya? Mereka menjawab, Dia telah muncul di Mekkah dan tinggal di Yasrib, Dia berkata, Apakah orang-orang Arab memerangi mereka? Kami menjawab, Ya. Dia berkata, Apa yang dilakukannya kepada mereka? Maka kami pun memberitahurnya bahwa telah tampak para pengikutnya dari kalangan orang-orang Arab, mereka mematuhinya. Dia berkata, Itu sudah terjadi? Kami menjawab, Ya, Dia berkata, jika demikian maka yang terbaik bagi kalian ialah mematuhinya. Aku beritahukan kepada kalian siapa sesungguhnya aku ini. Aku adalah al-Masih, hampir datang waktunya aku diizinkan keluar, lalu akan berjalan mengelilingi bumi, tidak satu kampung pun yang tidak kusinggahi dalam waktu empat puluh malam kecuali Mekkah dan Taibah karena keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku berusaha untuk memasuki salah satu dari keduanya aku akan dihadang oleh Malaikat yang memegang pedang mengusir saya menjauhi kedua kota itu. Setiap celah kota itu dijaga oleh para malaikat.”

Fatimah binti Qais (perawi hadis) berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghentakkan tongkat beliau ke mimbar dan berkata, Inilah Taibah, inilah Taibah (maksud beliau Madinah). Bukankah saya pernah menyampaikannya hal seperti ini kepada kalian? Para hadirin menjawab, Benar, Beliau shallallahu alaihi wa sallam melanjutkan, Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Tamim membuatku kagum karena sesuai dengan yang pernah saya sampaikan kepada kalian tentang Dajjal, Madinah dan Mekkah. Dia berada di laut Syam atau laut Yaman; bukan, tetapi dia ada di timur, dia ada di timur, dia ada di timur! Beliau pun memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur. Fatimah melanjutkan, “Maka saya pun menghafalnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Dengan demikian tidak asing lagi bagi kita semua bahwa turunnya permukaan air Danau Tiberias merupakan salah satu pertanda semakin dekatnya kemunculan Dajjal. Zionis Israel saat ini dilanda kecemasan yang tinggi karena debit air Danau berkurang secara signifikan, karena hal ini berpengaruh besar terhadap sektor pertanian bahkan masa depan mereka di bumi penjajahan. Semenjak tahun 2004 pemerintahan zionis membuat garis merah dan garis hitam untuk mengontrol debit air Danau. Sungguh mengejutkan, semenjak tahun 2004 permukaan Danau mengalami penyusutan setinggi 16 M. Terakhir Menteri Pertanian Zionis menyatakan secara terbuka melalui kantor berita mereka bahwa debit air danau Tiberias mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan. Berita ini tentunya tidak saja menjadi ancaman bagi rezim Zionis tetapi juga bagi kita umat Islam, karena penurunan permukaan air danau Tiberias adalah salah satu tanda dekatnya waktu kemunculan Dajjal.

Saya teringat bahwa Syekh Bin Baz rahimahullah sebelum beliau wafat, ketika mendengar berita turunnya permukaan air danau Tiberias, beliau menangis dan berkata, “Inilah zaman kemunculan Dajjal.” [Syeikh Mamduh Farhan Al-Buhairi]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347314/rahasia-dajjal-di-balik-danau-tiberias#sthash.ue7DRsFb.dpuf

Nabi Isa Segera Datang, Inilah 8 Ciri-cirinya

NABI Isa AS, yang oleh orang Nasrani disebut Yesus, menjadi bahan kontroversi antara Islam, Nasrani, dan Yahudi.

Orang Yahudi mempercayai bahwa mereka telah membunuh Isa, dan orang-orang Nasrani meyakini bahwa Isa telah disalib dan dikubur. Namun, kaum Muslimin meyakini dengan jelas dan tegas bahwa Nabi Isa tidak disalib atau dibunuh, melainkan diangkat oleh Allah SWT. Nabi Isa akan kembali ke dunia, di suatu masa, di akhir zaman.

Ada 33 hadis shahih yang menegaskan bahwa Nabi Isa akan kembali turun ke bumi. Bahkan, ada yang mengatakan sampai 90 hadis.Dari hadis-hadis tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa ada tujuh ciri kedatangan kembali Nabi Isa:

Pertama, Nabi Isa akan turun di Menara Putih, yakni Masjid Bani Umayyah di Damaskus Timur.

Kedua, Isa akan membunuh Dajjal (gembong penjahat yang mengaku sebagai penyelamat) di Dataran Tinggi Golan (Syria).

Ketiga, Isa akan bertemu Yajuz dan Majuz, dan semua tokoh jahat dan pengikutnya itu akan tewas.

Keempat, Isa akan mendakwahkan agama Tauhid seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad maupun nabi-nabi lain sebelumnya.

Kelima, Isa akan melakukan haji dan umrah.

Keenam, Isa datang, dunia penuh keberkahan. Misalnya, sebutir buah delima bisa membuat 40 orang kenyang.

Ketujuh, setelah Isa datang, selama tujuh tahun kondisi dunia sangat aman.

Kedelapan, Nabi Isa sekarang ini belum meninggal. Dia akan turun lagi di akhir zaman untuk menegakkan Islam.[rol]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347349/nabi-isa-segera-datang-inilah-8-ciri-cirinya#sthash.smWLYNKL.dpuf

Bahkan Injil telah Mengetahui Ciri Rasulullah

HUBUNGAN antara pemeluk Islam dan Kristen dalam sirah nabawiyah cukup unik, khususnya kalau dibandingkan dengan di masa sekarang ini, khususnya dalam kontek bangsa Indonesia. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, umat kristiani umumnya digambarkan punya kedekatan khusus, dibandingkan dengan umat Yahudi yang sama-sama ahli kitab. Apalagi dibandingkan dengan bangsa Arab Musyrikin Mekkah, yang teramat besar permusuhannya.

Kalau kita telurusi sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat, kita temukan banyak sekali kejadian yang menunjukkan betapa dekatnya para pemeluk agama masehi dengan umat Islam. Dan hal itu dibenarkan di dalam Alquran juga.

1. Kesaksian Alquran

Alquran sejak awal membedakan karakteristik hubungan umat Islam dengan yahudi dibandingkan dengan nasrani. Yahudi disebutkan punya hubungan yang keras kepada umat Islam. Sebaliknya, nasrani justru punya hubungan yang jauh lebih baik. Alquran menggunakan istilah aqrabahum mawaddatan, yaitu yang paling dekat kecintaannya. Silahkan simak ayat ke-82 dari surat Al-Maidah berikut ini:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”.. (QS. Al-Maidah: 82)

2. Nasrani Sudah Mengenal Ciri Muhammad dalam Injil

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146)

[baca lanjutan: Ketika Seorang Pendeta Melindungi Rasulullah]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2346762/bahkan-injil-telah-mengetahui-ciri-rasulullah#sthash.TYR0F88V.dpuf

Meski Dekat dengan Nasrani, Waspadai 4 Hal ini!

DI balik kedekatan-kedekatan secara sirah dan syariah, tetap saja ada garis yang tegas dan tegak, yang membedakan antara Islam di satu sisi dengan Kristiani di sisi yang lain.

1. Meski Dekat Tetapi Tetap Kafir

Di antara ketegasan itu adalah pandangan bahwa pemeluk agama masehi adalah orang kafir. Salah satu penyebab yang paling utama adalah apa yang telah disepakati oleh umat Kristiani sedunia bahwa mereka menyembah Nabi Isa, bahkan mengaku punya tiga tuhan (trinitas). Dalam hal ini Alquran secara tegas menyebut mereka sebagai kafir.

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, (QS. Al-Maidah: 72)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”. (QS. Al-Maidah: 73)

2. Haram Menjadikan Wali

Syariat Islam melarang umat Islam menjadikan orang nasrani sebagai wali, khususnya wali dalam keluarga. Oleh karena itu bila seorang wanita muslimah punya ayah yang masih beragama Krsiten, maka ayahnya itu tidak sah untuk menjadi wali dalam pernikahan.

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala berikut ini: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nasrani sebagai wali. Sebagian menjadi wali buat sebagian yang lain.” (QS. Al-Maidah: 51)

Namun bila wanita yang dinikahi masih beragama nasrani dimana ayahnya juga nasrani, syariat Islam membolehkannya. Selain tidak boleh dijadikan wali dalam pernikahan, syariat Islam juga melarang orang nasrani dijadikan wali dalam arti pemimpin pemerintahan, khususnya dalam format negara Islam.

3. Dilarang Mengikuti Peribadatan Nasrani

Meski ada kedekatan antara nasrani dan Islam, namun dalam masalah ibadah tidak boleh terjadi campur baur. Syariat Islam melarang umat Islam beribadah bersama-sama dengan agama lain, termasuk nasrani juga. Dalam hal ini ada ketegasan dari Alquran:

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun : 1-6)

4. Dilarang Meniru Penampilan Khas

Syariat Islam juga melarang umat Islam berpenampilan khas agama lain, termasuk agama Kristen. Penampilan itu misalnya lambang salib yang sudah khas di seluruh dunia. Termasuk juga jubah khas para pendeta, pastor dan sejenisnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347294/meski-dekat-dengan-nasrani-waspadai-4-hal-ini#sthash.Yt5zOyWu.dpuf

Setan, Jin Berkeliaran di Waktu Magrib Bukan Mitos

MAGRIB merupakan waktu salat tiga rakaat yang dilakukan ketika bumi berpindah waktu dari siang menjadi malam hari. Saat magrib tiba, orangtua biasanya menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan menghentikan aktivitas di luar rumah.

Mereka percaya bahwa saat magrib tiba, akan banyak setan dan jin yang berkeliaran. Setelah magrib, mereka kembali membiarkan anak-anaknya untuk bermain di luar rumah.

Bagi umat Islam, larangan ini merupakan mitos yang dipercaya secara turun temurun. Biasanya mereka hanya meneruskan kebiasaan orangtua dan tidak mengetahui bahwa sebenarnya larangan ini ada dalam hadis Nabi. Dalam sabdanya, Nabi SAW mengatakan bahwa ketika Magrib, akan banyak setan dan jin yang berkeliaran. Ternyata, hadis Nabi ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Dalam hadis Nabi Muhammad SAW bersabda “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,” (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim).

Selain itu dijelaskan dalam Sahih Muslim Nabi, bersabda: (Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu, jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu pintu rumah dan sebutlah nama Allah sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. Dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.”

Hadis Nabi SAW ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Sebuah buku ilmiah keagamaan karya Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS berjudul The Science Of Shalatyang diterbitkan Qultummedia menjelaskan bahwa menjelang magrib, alam akan berubah menjadi spektrum cahaya berwarna merah.

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis (EM) yang memiliki spektrum warna yang berbeda satu sama lain. Setiap warna dalam spektrum mempunyai energi, frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.

Dalam bukunya dijelaskan bahwa ketika waktu maghrib tiba, terjadi perubahan spectrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis, yakni spektrum warna merah. Pada waktu ini, jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam. Pada waktu Maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.

Dalam Islam, pada waktu magrib dijelaskan bahwa setan bersamaan dengan datangnya kegelapan mulai menyebar mencari tempat tinggal, karena mereka tersebar dengan pemandangan luar biasa biasa dan jumlah yang tidak ada yang tahu selain Allah. Sebagian setan takut dari kejahatan setan yang lain, sehigga setan harus memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat berlindung dan mencari tempat aman.

Maka ia bergerak dengan cepat melebihi kecepatan manusia dengan kecepatan berlipat lipat, beberapa dari mereka berlindung dalam wadah kosong, berlindung ke rumah kosong, dan beberapa dari mereka berlindung kepada sekelompok manusia yang sedang duduk duduk. Mereka tentu tidak merasakannya, mereka ikut menimbrung supaya menjadi aman dari penindasan saudara sesama setan yang juga berkeliaran seperti angin di bumi karena yang boleh hidup hanya yang kuat saja.

Kadang kala setan mengganggu anak kecil manusia untuk dijadikan tempat berlindung. Selain itu setan juga berlindung ditempat yang kotor seperti pada popok bayi yang sudah kotor. Mereka lebih memilih popok bayi karena najis sebagai tempat persembunyian, sehingga mendorong mereka untuk tinggal.

Anda pasti pernah menemukan beberapa anak menjerit tiba-tiba dan beberapa yang menggelepar dalam tidurnya karena gangguan setan yang merasukinya saat dijadikan tempat berlindung.

Pada waktu magrib, kita diimbau untuk menjauh dari hewan, seperti kucing, burung, dan mengurangi kecepatan saat mengemudi mobil karena dikuatirkan menabrak anjing atau hewan lain yang bisa jadi telah dirasuki setan. Tidak boleh pula berjalan-jalan di tempat sepi atau duduk di tempat itu, atau melempar batu ke dalam kamar mandi, kebun dan laut.[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347345/setan-jin-berkeliaran-di-waktu-magrib-bukan-mitos#sthash.4ZFHPS2v.dpuf

Inilah Ciri Orang Kuat Menurut Rasulullah

DALAM sebuah hadis Nabi SAW bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al Bukhari).

Ketika membaca hadis ini, kita lebih sering mengartikannya sebagai kekuatan mental, kekuatan karakter. Dan tidak salah. Namun, ada kekuatan lain yang ditemukan oleh para peneliti sehubungan dengan hadis ini.

Penelitian dari University of California San Diego tahun 2012 menemukan bahwa orang-orang yang bisa melepaskan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang lain cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah. Pada penelitian itu, 200 relawan diminta memikirkan saat temannya menyinggung perasaan. Separuh relawan diperintahkan untuk berpikir mengapa hal tersebut bisa membuatnya marah, sedangkan separuh lainnya didorong untuk memaafkan kesalahan tersebut.

Worthington Jr, Pakar Psikologi di Virginia Commonwealth University AS, mempublikasikan hasil penelitiannya pada 2005 di jurnal ilmiah Explore. Pada penelitian hubungan antara memaafkan dan kesehatan itu ditemukan, sikap memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan. Dengan menggunakan tekonologi canggih, terungkap perbedaan pola gambar otak orang pemaaf dan yang tidak memaafkan.

Orang yang tidak memaafkan atau terbawa kemarahan dan dendam ditemukan mengalami penurunan fungsi kekebalan tubuh, tekanan darah lebih tinggi, ketegangan otot dan detak jantung.

Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Lebih rinci, ditemukan lima manfaat memaafkan seperti dikutip Hidayatullah dari sejumlah penelitian:

Mengurangi stress

Marah dan dendam membuat tubuh melalui strain yang sama dengan gangguan stres: ketegangan otot dan tekanan darah meningkat. Memaafkan membuat tubuh terhindar dari hal-hal tersebut.

Menyehatkan jantung

Salah satu studi menemukan, memaafkan membuat denyut jantung menjadi stabil dan beban kerja jantung menurun.

Hubungan lebih kuat

Studi lainnya menunjukkan bahwa perempuan yang mampu memaafkan pasangan mereka dan merasa baik hati terhadap mereka bisa menyelesaikan konflik secara lebih efektif. Hubungan yang lebih kuat secara otomatis berkebalikan dengan hubungan penuh ketegangan. Hal ini juga berdampak positif terhadap kesehatan.

Mengurangi rasa sakit

Sebuah studi kecil pada orang dengan sakit punggung kronis menemukan bahwa orang-orang yang berlatih meditasi yang berfokus pada menekan kemarahan bisa mengurangi rasa nyeri.Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Duke University Medical Center, memaafkan juga dapat menurunkan rasa sakit pada fisik.

Lebih sehat

Salah satu survei menunjukan bahwa orang yang berbicara tentang memaafkan selama sesi psikoterapi mengalami peningkatan kesehatan yang lebih besar dibanding mereka yang tidak.

Dari kelima hal ini saja, nyatalah bahwa orang yang memaafkan dan mampu menahan diri ketika marah memang orang yang kuat; bahkan secara kesehatan. Wallahu alam bish shawab.[bersamadakwah]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2346860/inilah-ciri-orang-kuat-menurut-rasulullah#sthash.HA0qdvxk.dpuf

Jika Salat Tak Khusyuk, Haruskah Diulang?

TIDAK khusyuk bukan penyebab batalnya salat. Khusyuk bukan rukun salat. Memikirkan hal duniawi dalam salat selama tidak berdampak secara gerakan dan bacaan dalam salat, termasuk kategori yang bisa terjadi, namun sebaiknya dihilangkan.

Umar bin Al Khathab Radhiallahu Anhu berkata: “Sesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedang salat.” (Riwayat Bukhari)

Tentang ucapan Umar Radhiallahu Anhu ini, Imam Bukhari membuat judul: “Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syaia fish shalah”

Dari Uqbah bin Al Harits Radhiallahu Anhu, katanya: “Aku salat asar bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: “Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang salat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman, maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.” (HR. Bukhari No. 1221, Ahmad No. 16151, Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahadits Wal Matsani No. 477)

Walau hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas salat. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata: “Meskipun salatnya tetap sah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang salat itu menghadapkan hatinya kepada Allah dan melenyapkan segala godaan dengan memikirkan ayat-ayat dan memahami hikmah setiap perbuatan salat, karena yang dicatat dari perbuatan itu hanyalah apa-apa yang keluar dari kesadaran.” (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang selesai salatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari salatnya.” (HR. Abu Daud No. 211, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 211). Sekian.

Ada pun salat yang tidak tumakninah, sehingga gerakannya sangat cepat, maka itu dianjurkan untuk diulang berdasarkan riwayat berikut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, masuklah seorang laki-laki ke masjid lalu dia salat, lalu dia datang ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda: “Kembalilah, dan salatlah, sesungguhnya kamu tadi belum salat!”

Lalu dia kembali dan shlat sebagaimana salat sebelumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda: “Kembalilah, dan salatlah, sesungguhnya kamu tadi belum salat!”

Lalu dia kembali dan salat sebagaimana salat sebelumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda: “Kembalilah, dan salatlah, sesungguhnya kamu tadi belum salat!” Diulangi 3 kali. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Kisah ini, kata Imam An Nawawi, menjadi dalil bagi mayoritas ulama wajibnya tumakninah, baik saat rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, kecuali menurut Abu Hanifah yang tidak mewajibkannya. Demikian.

Sekian. Wallahu Alam. [Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2345670/jika-salat-tak-khusyuk-haruskah-diulang#sthash.Tc8fWmGP.dpuf