Hukum Menerima Bantuan dari Non Muslim Saat Bencana

Bagaimana hukum menerima bantuan dari non muslim saat terjadi bencana alam? Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, viral di media sosial video sekelompok orang yang mencabut banner yang bertuliskan logo suatu agama tertentu di tenda pengungsian. Diketahui tenda ini merupakan tempat penampungan bantuan dari non muslim.

Tindakan ini ternyata menuai kritikan, hingga petinggi daerah setempat pun menyesalkan tindakan tersebut. Ia pun menyebutkan jika bencana tidak asal pilih dan bisa datang kapan pun dan di mana pun tanpa melihat apa suku, bangsa, ras dan agama.

Bantuan yang datang pun seharusnya juga tidak pilih-pilih, karena dari mana pun asal dan agama pemberi bantuan, semuanya memiliki niatan yang sama. Yaitu membantu sesama manusia yang tengah mengalami suatu bencana.

Oleh petinggi tersebut disebut jika berdirinya spanduk atau logo dari institusi, agama atau kelompok tertentu dari bantuan yang diberikan merupakan hal wajar. Karena bisa saja, pencantuman ini merupakan salah satu bentuk pelaporan yang menjadi tanggung jawab dari donatur.

Bantuan dan tindakan kemanusiaan ini seharusnya tidak perlu dinodai dengan tindakan di atas, akibat rasa benci antar golongan tertentu. Melihat peristiwa di atas, maka perlu pengamalan sila ke-2 dari Pancasila yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Peristiwa ini mungkin saja tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Masih ada prasangka dan stigma yang masih bercokol di dalam pikiran masyarakat kita. Padahal,  rasanya selagi masih merupakan sesuatu yang baik dan tidak bertentangan dengan agama dan hukum, maka tidak masalah menerima bantuan dari pihak mana pun.

Lantas bagaimana Islam menanggapi isu hukum menerima bantuan dari non muslim?

Pada dasarnya Islam memperbolehkan adanya interaksi  sosial antara kaum muslimin dan non muslim. Baik itu interaksi sosial berupa jual beli, hutang piutang, sewa, hibah hingga bantuan kemanusiaan.

Hal ini pun tercantum betul di dalam Q.S Al-Mumtahanah ayat 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Jika merunut pada Tafsir as-Sa’di oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, dijelaskan bahwa ayat di atas berisikan bahwa Allah tidak melarang kaum muslimin untuk berbuat baik terhadap orang yang tidak memerangi diri dan agama, atau mengusir dari kampung halaman.

Selain itu tidak masalah jika menyambung tali kekerabatan, saling berbalas kebaikan antar muslim dengan non muslim.

Dari ayat di atas jelas sudah bahwa saling berbuat kebaikan satu sama lain meski berbeda agama tidaklah dilarang dalam Islam. Kecuali, interaksi sosial ini memaksakan suatu kehendak yang tidak baik, seperti ajakan yang menyangkut pada keimanan. Atau, bantuan yang diberikan memiliki unsur politik dan ini tidak diperkenankan.

Selain itu dilansir dari Bincang Syariah, ada penguat lain jika dalam agama boleh menerima bantuan dari orang non muslim.

Hal ini dilihat dari pandangan Syekh Musthofa Al-Maraghi.  Seorang ulama kontemporer yang terkenal dengan kitab tafsirnya yang juga dinamai dengan Tafsir Al-Maraghi, menjelaskan persoalan ini,

و للمسلمين أن يقبلوا من الكافر مسجدا بناه كافر او صبي ببنائه أو ترميمه اذا لم يكن ضرار دينيّ و لا سياسيّ كما لو عرض اليهودي الآن على المسلمين ان يعمروا المسجد الاقصى بترميم ما ان قد تداعى من بنائه او بذلوا لذلك مالا لم يقبل منهم لأنهم يطمعون في الاستيلاء على هذا المسجد وربما جعلوا ذريعة لادعاء حق لهم فيه

Artinya: “Orang Islam diperbolehkan menerima pemberian masjid dari orang kafir atau dari anak kecil berupa pembangunan atau perbaikan.

Hal itu jika tidak berdampak negatif pada agama dan tidak ada unsur politik semisal berupa perbaikan/perehaban masjid al-Aqsho yang butuh untuk direhab, atau memberi uang untuk perehaban, maka orang Islam tidak boleh menerima, sebab mereka mengharapkan agar bisa menguasai masjid.”

Oleh karena itu bisa disimpulkan jika tidak mengapa menerima bantuan dari non muslim. Selagi tidak bertentangan dengan keimanan, memerangi atau mengarah pada hal yang tidak baik. Saling membantu dan melakukan aktivitas kemanusiaan bahkan dianjurkan agar dapat meringankan masalah yang tengah dihadapi, sebagai manusia yang memiliki hati nurani.

Tulisan ini telah terbit di Bincangmuslimah.com

Lima Macam Ujian dan Bala’ Manusia

Bala’  atau ujian yang menimpa manusia bisa  berupa rasa takut dan lapar, kematian bahkan kekurangan buah-buahan

SIAPAPUN orang akan mengalami ujian dan bala’ selama hidup dunia. Hal ini sudah janji yang disampaikan Allah SWT untuk menguji kesungguhan keimanan.

Selama hidup di dunia, kaum Muslim akan banyak mengalami ujian sehingga diketahui siapa yang benar-benar beriman atau pura-pura beriman, siapa berbohong; siapa bersabar, siapa kufur, siapa munafik, dan siapa yang lemah iman.

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.” (QS: Al-Ankabut [29]: 2-3).

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَاۡتِكُمۡ مَّثَلُ الَّذِيۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِكُمۡؕ مَسَّتۡهُمُ الۡبَاۡسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُوۡا حَتّٰى يَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَهٗ مَتٰى نَصۡرُ اللّٰهِؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ

“Apakah kalian mengira akan (dapat) masuk surga sedang belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS: Al-Baqarah [2]: 214).

Ada perbedaan antara ujian dan bala’. Bala’ adalah sesuatu yang menimpa manusia secara masal,  bisa berupa sesuatu yang baik dan bisa pula sesuatu yang buruk.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”  (QS; Al-Anbiya [21: 35).

Ayat di atas menunjukkan bahwa bala’ mencakupi sesuatu yang buruk dan yang baik. Adapun musibah adalah sesuatu yang menimpa manusia ataupun menimpa benda lain, bisa menimpa pribadi ataupun menimpa manusia secara massal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”  (QS: Al-Hadid [57]:22).

Dalam ayat lain disebutkan;

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ `َنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: Al-Baqarah [2]: 155).

Ayat di atas menunjukkan bahwa musibah mencakup musibah yang menimpa bumi (benda- benda) dan yang menimpa manusia . Dalam ayat ini Allah menyebutkan lima macam bala’ yang menimpa manusia secara massal, keterangannya adalah sebagai berikut;

Pertama, khauf (rasa takut)

Ini adalah bala’ dari sisi kejiwaannya dengan rasa takut, panik, trauma, tidak tenang, khawatir dan lainnya. Ujian kejiwaan ini sebenarnya kalau direnungkan jauh lebih berat dari musibah fisik, karena akan selalu mengganggu fikiran dan jiwanya.

Sehingga kita dapatkan sebagian orang menjadi stres bahkan gila karena tidak bisa mengendalikan fikiran dan jiwanya. Oleh karenanya Allah meletakkan bala’ / rasa takut ini pertama kali sebelum bentuk bentuk bala’ yang lain.

Sebagian ulama menafsirkan rasa takut pada ayat ini dengan rasa takut terhadap musuh, berkata Ibnu Abbas, “ maksud takut di sini adalah takut terhadap musuh dan panik di dalam peperangan.”

Kedua, rasa lapar

Rasa lapar atau kelaparan adalah bala’ dan ujian yang menimpa (fisik manusia) karena kelaparan dapat membuat tubuh manusia menjadi lemas dan tidak berdaya, bahkan tidak sedikit yang berakhir meninggal dunia.  Di daerah Afrika sering terjadi kelaparan secara massal, sehingga terlihat manusia di sana kurus-kurus, hanya kelihatan  tulang-tulangnya , tidak ada daging yang menutupi tubuh mereka.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian meninggal dunia karena tidak ada yang bisa dimakan. Krisis kelaparan benar-benar terjadi di dalam kehidupan manusia. Bala’  dan ujian berupa rasa takut dan lapar juga disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

 فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ

“Karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS: An-Nahl  [16]: 112).

Ayat di atas menyebutkan pakaian kelaparan dan ketakutan. Ini untuk menunjukkan bahwa kedua hal itu benar-benar meliputi mereka dan lekat dengan mereka sebagaimana pakaian yang meliputi badan seseorang.

Ibnu Katsir berkata, “Karena orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, bala’ dan ujian pada keduanya akan sangat nampak terlihat jelas. Oleh kerenanya, Dia berfirman, “ pakaian kelaparan dan ketakutan.”

Ketiga, kekurangan harta

Setelah menyebutkan ujian yang menimpa jiwa dan badan, Allah kemudian menyebutkan bala’ (ujian) yang menimpa harta. Dengan firman-Nya; “Dan kekurangan harta.”

Artinya seseorang mesti punya harta , tetapi hartanya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Ini bisa disebabkan karena musibah yang menimpa hartanya, seperti dicuri, dirampok,  kebakaran, terkena gempa, ditipu orang dan musibah-musibah lainnya.

Sebagian orang kekurangan harta bukan karena tertimpa musibah. Sebagaimana di sebutkan di atas. Tetapi karena hidupnya memang kekurangan harta. Ini di bagi menjadi dua golongan :

  • Fakir, yaitu orang yang pendapatannya (hartanya) tidak mencukupi setengah dari kebutuhan hidupnya sehari-hari.
  • Miskin,  yaitu orang yang pendapatannya (hartanya) tidak mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya, tapi sudah mencukupi setengah dari kebutuhan hidupnya. Berkata Al-Qurthubi, “harta berkurang karena sibuk berperang di jalan  Allah.”

Empat,  berkurangnya jiwa

Maksud berkurangnya jiwa di sini adalah banyaknya kematian yang menimpa orang-orang di sekitarnya . Misalnya meninggalnya istri, anak, kerabat, sahabat, dan orang-orang yang dicintainya.

Berkata Ibnu Abbas, “terjadinya pembunuhan dan kematian di dalam jihad.”

Untuk saat ini yang paling terasa adalah ketika meninggal karena terkena wabah Covid-19.  Betapa banyak dari sahabat, teman, guru, murid, tetangga dan orang-orang yang dikenal begitu cepat meninggal dunia dan dalam waktu berdekatan. Berkata Asy-Syabi’I, “berkurangnya jiwa karena tertimpa penyakit .”

Lima, kekurangan buah-buahan

Dalam Al-Quran  sering disebutkan buah-buahan untuk mewakili makanan-makanan lain. Hal itu karena buah-buahan sebagai makanan terbaik, karena kandungan gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh manusia. Selain itu, buah-buahan pengelolaan dan pertumbuhannya langsung dari Allah , tanpa campur tangan manusia seperti halnya makanan-makanan lain , kecuali dalam beberapa hal saja.

Di antara ayat-ayat yang menyebutkan buah-buahan sebagai rezeki dan makanan pokok manusia adalah sebagai berikut;

-Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

“Dan sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan musim kemarau) bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran.”  (QS: Al-A’raf [7]: 130).

Ayat di atas menunjukkan musibah yang menimpa keluarga Fir’aun berupa musim paceklik dan kekurangan buah-buahan.

-Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (Negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”  (QS: Al-Baqarah [2]: 126).

Ayat di atas menyebutkan doa Nabi Ibrahim agar penduduk Makkah diberikan rizki berupa buah-buahan.

Berita gembira untuk yang bersabar saat ditimba musibah dan bala’

Setelah menjelaskmenimpap-macam ujian yang menimpap manusia secara massal, Allah memberikan berita gembira kepada yang sabar dalam menghadapi berbagai ujian yang disebut di atas. Kemudian menjelaskan kriteria orang yang sabar pada ayat berikut ini;

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS: Al-Baqarah [2]: 156).

Para ulama menjelaskan bahwa sabar yang mendapatkan pahala besar adalah sabar ketika musibah baru saja menimpa. Ini sesuai dengan hadist,

إنما الصبر عند الصدمة الاولي

“Kesabaran (yang mendapatkan pahala besar) adalah ketika musibah baru saja menimpa.”  (HR: Al-Bukhari).

Hal itu, orang yang sabar pada saat musibah baru saja terjadi membuktikan kekuatan hati, dan keteguhan jiwanya. Berbeda ketika musibah sudah berlalu lama, maka setiap orang dapat bersabar.

Musibah terbagi menjadi dua yaitu, musibah dunia dan musibah agama, adapun musibah dunia, semua orang akan menjalaninya. Sedangkan musibah agama, kita diperintahkan untuk berlindung darinya.

Dalam sebuah doa disebutkan,

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

“Ya Allah janganlah engkau jadikan musibah atas agama kami.”

Adapun  terhadap musibah dunia , kita diperintahkan untuk meminta keyakinan agar ringan di dalam menghadapi musibah dunia tersebut, di dalam doa lain disebutkan,

وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا

“Dan (berikanlah kami) keyakinan yang meringankan kami di dalam  menghadapi musibah dunia.”

Di antara hadist yang menunjukkan keutamaan orang yang membaca “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” adalah hadist Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha –istri Nabi ﷺ berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan “INNAA LILLAHI WA INNAA ILAIHI RAaJI’UN. ALLAHUMMA’JURNII FII MUSHIBATII WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA” (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik) melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.’” Ummu Salamah kembali berkata: “Ketika Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun mengucapkan doa sebagaimana yang Rasulullah ﷺ ajarkankan padaku. Maka Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah ﷺ.” (HR: Muslim, no. 1526).

Orang yang bersabar ketika terkena musibah dan mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” akan mendapatkan shalawat dari Tuhan mereka serta  rahmat-Nya dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اُولِٰٕۤكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولِٰٕۤكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqarah [2]: 157)

Dikatakan bahwa maksud “Rahmat” pada ayat di atas adalah,

كشف كربة وقضا ء الحاجة

“Terangkatnya musibah dan terpenuhinya hajat (kebutuhan).“

Berkata Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu Anhu,  “dalam setiap musibah yang aku alami pasti aku mendapatkan tiga nikmat”

  • -Musibah itu tidak menyangkut agamaku,
  • -Musibah itu tidak lebih besar,
  • -Allah memberikan balasan atasnya.

Kemudian beliau membaca firman Allah (QS: Al-Baqarah [2]: 157) di atas. Wallahu A’lam.*/Dr Ahmad Zain an-Najah

HIDAYATULLAH

Doa Agar Seharian Dijaga dari Bencana

عن أبي ذر، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قالمَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلاَةِ الفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ، وَحُرِسَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ إِلاَّ الشِّرْكَ بِاللَّهِ

Dari Abu Dzar radhiyallahu `anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Siapa yang mengatakan di setelah shalat fajar sedangkan ia bersandar kepada kedua kakinya (yakni dalam duduk tasyahud sebelum pergi), sebelum berbicara,’Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, hanya Dia semata, tidak ada baginya sekutu, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia mampu atas segala sesuatu.’

Sepuluh kali, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan, dan dihapuskan darinya sepuluh keburukan, ditinggikan untuknya sepuluh derajat, dan ia di harinya itu semuanya dalam penjagaan dari seluruh perkara yang dibenci (dari bencana-benacana)  dan dijaga dari syaitan, dan tidak boleh ada dosa yang ia kerjakan mencelakakannya dan membatalkan amalan-amalannya di hari itu, kecuali syirik kepada Allah.”

( Riwayat At Tirmidzi [2474], dan Ia mengatakan,”Ini adalah Hadits hasan shahih gharib)

HIDAYATULLAH

Ketika Kenikmatan Menjadi Bencana

Allah Swt Berfirman :

وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS.Al-A’raf:182)

فَذَرۡنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِۖ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ

“Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS.Al-Qalam:44)

Salah satu dari Sunnatullah bagi kebanyakan manusia yang menyimpang dan menentang-Nya adalah dengan memberi siksa berupa “Istidraj”. Dan perkara ini sampai di ulang dua kali dalam Al-Qur’an.

Istidraj artinya Allah Swt mengulur “kenikmatan” kepada hamba-Nya sehingga ia semakin tenggelam dalam maksiat dan semakin lupa diri di bawah kendali hawa nafsunya, sampai pada akhirnya ia terjerumus dalam kehancuran.

Allah Swt Berfirman :

إِنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS.Ali ‘Imran:178)

Kenikmatan yang tak di syukuri, apalagi kenikmatan yang digunakan untuk menentang Allah dan bermaksiat kepada-Nya seringkali akan berubah menjadi bencana.

Perlakuan kita terhadap sebuah nikmat itulah yang menentukan nilai dari kenikmatan itu sendiri. Nikmat yang direspon dengan rasa syukur akan membawa seseorang menuju kenikmatan yang lebih besar, karena Allah Swt telah berjanji bahwa bila kita bersyukur maka pasti kenikmatan akan bertambah.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim:7)

Dan apabila respon kita terhadap sebuah nikmat adalah respon yang “negatif” dalam arti tidak bersyukur dan malah menjadikan nikmat itu sebagai modal maksiat, maka kenikmatan itu akan menjadi bumerang yang menenggelamkan manusia dalam kehancuran dan kerugian. Seorang yang terbiasa menggunakan nikmat Allah untuk maksiat perlahan akan merasa aman dari Murka Allah Swt. Tidak ada lagi rasa takut atau penyesalan dalam hatinya ketika berbuat maksiat.

Sayyidina Ja’far As-Shodiq pernah berpesan :

“Sesungguhnya apabila Allah Swt menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, lalu hamba ini melakukan sebuah dosa maka Allah akan segera menyertainya dengan sebuah cobaan sehingga ia beristighfar.

Dan apabila Allah Swt tidak menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, lalu hamba ini melakukan sebuah dosa maka Allah akan menyertainya dengan nikmat sehingga ia lupa beristighfar dan terus menerus melakukannya. Itulah yang difirmankan oleh Allah Swt

سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ

“Akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”

Yaitu dengan diulurkan nikmat ketika ia bermaksiat.

Semoga Bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Resep ‘Obat Kuat’ Hadapi Musibah

MENYAKSIKAN  musibah yang terjadi belakangan, kiranya tak berlebih menyebut Indonesia sebagai negeri darurat musibah. Betapa tidak, bencana terus menimpa bumi pertiwi secara maraton. Belum lekang duka atas musibah gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, disusul peristiwa serupa di Palu, Banten dan kemudian Sukabumi.

Belum selesai proses pemulihan, fisik maupu psikis dari korban, kembali bangsa ini ditimpa musibah, Tsunami di selat Sunda, khususnya Lampun dan Banten. Sama dengan dua kejadian sebelumnya, bencana ini telah memporak-porandakan bangunan-bangunan, dan merenggut nyawa ratusan orang.

Sebagai orang beriman, tentulah memaknai musibah ini secara bijak dan benar. Sebab kalau tidak, keadaan ini bisa menggiring diri kepada pribadi yang merugi. Seperti bersikap putus asa. Karena merasa tidak ada lagi daya untuk meneruskan hidup. Tersebab, segala yang dimiliki, mulai dari harta, hingga sanak keluarga secara sekejap hilang dari sisi. Merasa tak mendapat lagi tumpuan hidup.

Lebih jauh dari, bahkan bisa menjerumuskan diri kepada kekufuran kepada Allah. Menganggap Dia Dzat yang tidak adil. Bahkan zholim, karena telah menimpakan musibah yang telah memusnah segala hal yang dipunyai. Seperti sindiran Allah yang tertera dalam suran al-Fajr;

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Maka adapun manusia, apa bila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apa bila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku.” (QS: al-Fajr: 15-16)

Na’udzubillah min dzalik. Jangan sampai ada kaum muslimin yang tengah terkena musibah, terjerembab dalam hal ini. Karena sungguh Allahberlepas dari segala tuduhan buruk itu. Hanya kerugian nan berlipat ganda bagi mereka bersikap demikian.

Pertama; ia telah kehilangan apa-apa yang dimiliki. Yang kedua, ia semakin jauh dari sumber keselamatan (dunia dan akhirat); Allah. Tuhan semesta alam. Ibarat kata pepatah; sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Teladan Hamba Shalih

Dalam kitab ‘Qishashu al-Anbiya,’ pada bab Kisah Nabi Ayyub as, Ibnu Katsir mengutip, al-Lait telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa pada hari kiamat nanti Allah swt akan berhujah dengan Nabi Sulaiman as kepada orang-orang kaya. Dengan Nabi Yusuf  as kepada hamba sahaya. Dan dengan Nabi Ayyub as, kepada orang-orang tertimpa musibah. Dijelaskan, Ibnu Asakir juga meriwayatkan hal serupa.

Kita fokuskan pembahasan pada ketetapan dijadikannya Nabi Ayyub as, sebagai hujjah bagi orang-orang tertimpa musibah di dunia. Itu tidak lain, karena Ayyub merupakan hamba Allah yang pernah diuji dengan musibah yag sangat berat.

Seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ; “Orang yang mendapat cobaan yang paling berat adalah para nabi kemudian orang-orang sholih, kemudian orang-orang semisalnya, dan seterusnya.” (HR. Ahmad)

Apa cobaan yang menimpa Nabi Ayyub??

Sebelum masuk ke bagian itu, ada baiknya, sedikit digambarkan profil nabi Ayyub sebelum mendapat ujian. Sehingga tergambar secara utuh, bagaimana pedih dan berat ujian yang menimpa.

 

Seperti yang ditulis oleh Ibnu Katsir pada buku di atas. Mulanya Nabi Ayyub adalah orang terpandang di kaumnya. Ia memiliki kekayaan nan melimpah ruah. Baik berupa peternakan, maupun lahan pertanian yang terbentang luas di daerah Huruan. Kehidupan keluarganya pun diliputi suka-cita dan kebahagiaan. Ia memiliki beberapa anak.

Keadaan ini berjalan sekian lama. Sampai 70 tahunan. Namun, atas kehendak Allah swt, musibah demi musibah secara bergilir menyapa Nabi Ayyub. Seluruh anak dan ternaknya mati. Usahanya pertaniannya guling tikar, hingga akhirnya jatuh miskin. Tidak hanya itu, dirinya pun tertimpa satu penyakit, di mana tidak ada secuil daging dari tubuhnya pun selamat, kecuali lidah dan hatinya.

Penyakit ini berjalan begitu lama, hingga ia disingkirkan oleh kaumnya di tempat pembuangan sampah. Ia hanya ditemani oleh sang istri yang setia. Sedangkan orang-orang disekitarnya, pada menjauh, tak terkecuali sanak saudaranya.

Mereka jijik menyaksikan perawakan Ayyub yang tengah tergerogoti penyakit. Dan mereka khawatir tertular. Semakin hari penyakit Ayyub bertambah parah. Di sisi yang lain, sang istri mulai kepayahan untuk mencukup konsumsi. Sebab, ia sulit mendapat pekerjaan, karena terus ditolak. Hingga akhirnya beliau berinisiatif menjual kepang rambutnya. Menjadi gundullah sang istri.

Tergambar dengan jelas, betapa kondisi nabi Ayyub saat itu, berubah 180 derajat, dari keadaan sebelum. Mulanya hidup penuh dengan kemuliaan, kebahagiaan, dan kehormatan, kini berganti dengan kesengsaraan yang sangat. Pelecehan, pengucilan, penistaan, serta pengasingan dari masyarakat.

 

Lalu, patah harapkah Nabi Ayyub dengan kondisi demikian? Tidak sama sekali. Dan itu tercermin dari jawabannya, ketika suatu hari, sang istri meminta agar sang suami memunajatkan doa kepada Allah, agar disembuhkan.

“Duhai Ayyub, seandainya engkau berdoa memohon kepada Tuhan-Mu, niscaya Dia akan menyembuhkanmu.” Terhadap permintaan ini, Ayyub menjawah;

“Aku telah menjalani hidup dalam keadaan sehat selama tujuh puluh tahun. Oleh sebab itu, tidak sewajarnyakah jika aku bersabar kepada Allah dalam menjalani ujian yang lebih pendek dari tujuh puluh tahun?”

Laa haula wa laa quwwata illa billah.Alangkah dahsyat jawaban yang diberikan Nabi Ayyub di atas. Dan perkataan itu hanya bisa keluar dari lisan orang-orang yang relung hatinya dipenuhi keimanan. Ia jadikan musibah sebagai wahana pendekatan diri kepada Allah. Dan itu yang dilakukan oleh Nabi Ayyub. Dengan lisan dan hatinya yang masih ‘sehat,’ ia terus berdzikir kepada Allah.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ

Pada akhirnya, Nabi Ayyub as sukses melalui ujian berat itu. Sebagai imbalan, Allah kemudian mengembalikan seluruh apa yang tadinya hilang. Bahkan melipat gandakannya. Turun hujan emas dan perak memenuhi dua lumbung milik nabi Ayyub. Tubuhnya kembali segar, bahkan jauh lebih muda. Ia pun kembali dikaruniai anak, yang jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.

Kebahagiaan dan keberkahan hidup pun menaungi nabi Ayyub dan keluarga. 

 

Kokohkan Iman

Sebagaimana telah sedikit disinggung di atas, bahwa iman kepada Allah menjadi kata kunci keberhasilan Nabi Ayyub menghadapi musibah. Untuk itu, memperkokoh iman menjadi keniscayaan, agar juga ikut jejak Nabi Ayyub, sukses dalam melalui musibah.

Jaminan kebahagiaan, jelas dijanjikan Allah untuk mereka yang bersabar dalam menghadapi musibah. Tidak meraung-raung. Menyakar-nyakar wajah dan pipi. Apa lagi sampai menuduh Allah yang bukan-bukan. Namun, sekali lagi, hal buruk ini hanya bisa dihindari oleh mereka yang bersabar. Dan kesabaran itu hanya diperoleh oleh mereka yang hatinya diterangi cahaya iman.

Sabda Rasulullah ﷺ; “Sungguh menakjubkan (‘ajaban) urusan orang beriman itu. Sesungguhnya setiap urusannya baginya ada kebaikan. Dan perkara itu tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin. Sekiranya ia diberi sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur, maka kebaikan baginya. Dan sekiranya apa bila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar, maka kebaikan baginya.” (HR. Muslim.)

Inilah resep ‘obat kuat’ yang ditawarkan Islam bagi kaum mukminin, dalammenghadapi musibah itu. Wallahu ‘alamu sish-shawab.*/

 

 Khairul HibriPengajar di STAI Luqman al-Hakim, Surabaya, dan kordinator PENA Jatim       

HIDYATULLAH

Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA yang telah men ceritakan bahwa anak Abu Thalhah RA menderita sakit keras. Ketika Abu Thalhah keluar rumah, anaknya itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya kepada istrinya, Ummu Sulaim, “Bagaimana keadaan anakku?” Ummu Sulaim, ibu si anak tersebut menjawab, “Ke ada annya sekarang sangat tenang.”

Selanjutnya, Ummu Sulaim menyajikan makan malam kepada suaminya, dan suaminya menyantapnya. Sesudah itu, ia melakukan hubungan suami istri dengannya. Setelah se galanya usai, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Anak kita sudah dikebumikan.”Singkatnya, pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepa da Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu kepadanya, ma ka Rasulullah bertanya, “Apakah tadi malam kalian berse tubuh?” Abu Thalhah menjawab, “Ya.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah, berkatilah keduanya.”

Beberapa waktu kemudian, Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki dan Abu Thalhah berkata kepadanya, “Aku akan membawanya kepada Nabi SAW.” Dan Abu Thalhah membawa beberapa buah biji kurma. Nabi SAW bertanya, “Adakah dibawakan sesuatu untuknya?” Abu Thalhah menjawab, “Ya, beberapa butir kurma.”

Nabi SAW pun mengambil kurma itu dan mengunyahnya. Sesudah itu, Nabi mengeluarkan lagi kurma tersebut dari mulutnya dan memasukkannya ke dalam mulut bayi untuk mentahniahnya dan memberinya nama Abdullah.

Kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita, kaum Muslimin. Musibah yang menimpa bila disikapi dengan bijak dan ikhlas maka akan mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan hidup di dunia, dan di akhirat masuk surga. Karena ridha Allah kepada kita yang senantiasa ridha dan ikhlas menerima setiap ujian yang ditimpakan kepada kita.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah. Dan siapa yang murka (tidak ridha) maka akan mendapatkan murka Allah,” (HR Tirmidzi).

Selain diberikan keberkahan hidup, bagi yang ridha dan ikhlas menerima ujian maka ditinggikan derajatnya. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, tapi tidak ada satu amal yang bisa mengantarkannya ke sana. Maka itu, Allah senantiasa mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya sehingga dia bisa sampai pada kedudukan yang dikehendaki oleh Allah.” Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita menerima musibah yang terjadi, diberikan solusi dan jalan keluar. Sehingga, di balik musibah itu ada keberkahan dalam hidup. Aamin.

OLEH Imam Nur Suharno

Tujuh Penyebab Musibah

Ada apa dengan negeri ini? Belum kering air mata ini dengan derita Palu dan Donggala yang dihantam tsunami dan likuefaksi. Kini, Selat Sunda mengempaskan gulungan ombaknya kuat-kuat di Banten dan Lampung. Dan sudah pasti, kembali berjatuhan korban; meninggal, luka berat, hilang, rumah dan hotel rata, semua porak poranda.

Rasanya, tidak salah jika tulisan ini mengajak kita semua untuk benar-benar bertobat, merenung dan bermuhasabah atas apa saja yang pernah kita lakukan, baik sebagai pribadi antara kita sebagai hamba ciptaan-Nya dengan Allah sebagai Sang Khaliq maupun sebagai anak bangsa dalam perilakunya di negeri tercinta.

Jujurlah, dalam hidup yang sebenarnya sebentar ini terlampau banyak dosa dan maksiat kita. Tiap-tiap detik kedurhakaan kita sampai kepada-Nya. Sementara ibadah dan amal shaleh kita seba gai bekal pulang menghadap-Nya juga teramat sedikit. Anehnya, yang meluncur deras kepada kita karunia dan rezeki-Nya. Sudah wa hai saudaraku dan cukup. Ingat, kalau nasihat ulama, Alquran dan Sunah sudah tidak didengar, alam yang milik Allah ini akan bicara. Wahai peduduk Indonesia yang diberi iman oleh Allah, dengan musibah yang beruntun menghantam negeri ini, tidakkah kita menya dari bahwa alam benar-benar sedang menasihati kita.

Camkanlah tujuh amal penyebab musibah beruntun menimpa kita. Pertama, dosa yang sangat besar. Dalam surah Yassin ayat 19 dijelaskan dengan terang benderang bahwa kemalangan demi kemalangan, musibah yang susul-menyusul, semua itu terjadi karena dosa keterlaluan kita kepada Allah.

Kedua, karena kedurhakaan dan kezaliman. Surah al-Qasas ayat 59 menerangkan, Allah tidak akan menghancurkan suatu daerah, kecuali para penduduknya yang berbuat zalim. Anak durhaka kepada orang tua, istri berani kepada suaminya, banyak perampokan, pembunuhan, dan perzinaan. Kezaliman dan kedurhakaan yang tak bertepi ini pengundang cepat bala bencana.

Ketiga, perusakan alam yang sistemis dan masif. Surah Ar- Rum ayat 41 mengingatkan, telah tampak kerusakan di da-ratan dan lautan karena ulah tangan-tangan jahil manusia, agar mereka merasakan akibat perbuatanny dan mereka kembali kepada-Nya.

Keempat, karena pemimpin maksiat dan zalim kepada rakyatnya. Baca dengan iman, wahai penduduk Indonesia yang mulia, “Bila kami ingin menghancurkan suatu negeri, para tokohnya diingatkan untuk taat kepada Allah, tapi mereka maksiat, tapi mereka berbuat zalim, tapi mereka berkhianat kepada-Ku dan makhluk-Ku, maka haklah untuk mereka datang bala bencana.”

Ingat azab yang dialami sejumlah kaum sebelum Nabi Muhammad SAW, antara lain, kaum Adh, kaum Samuth, kaum Luth, dan kaum Nuh. Mereka Allah hancurkan sehancur-hancurnya. Lalu siapa tokoh itu? Para pemimpin kita yang disumpah Alquran di kepalanya.

Demi Allah tidak korupsi, lalu korupsi. Siapa lagi? Hartawan atau orang-orang kaya yang dengan hartanya berfoya-foya, sombong, maksiat dengan kekayaannya di tengah banyak orang yang menderita. Siapa lagi? Ulama yang menjual ayat-ayat Allah dengan murah.

Kelima, orang baik diam. Bukannya tidak ada orang baik. Banyak orang baik di negeri ini. Tapi mereka lebih memilih diam. Dan melakukan pembiaran terhadap kejahatan dan kemungkaran.

Alquran Surah al-Anfal ayat 25, “Takutlah kalian dengan musibah yang tidak hanya menimpa orang yang maksiat, orang yang berbuat zalim, tapi juga kalian yang shaleh.” Maka, masa bodoh dengan kemaksiatan bukanlah sikap seorang Mukmin. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah amal cerdas orang yang beriman. Keenam, rahmat Allah. Musibah katanya sebuah peringatan agar manusia kembali ke jalan-Nya. Dengan musibah Allah hadirkan mahkamah kesadaran kita bahwa ini adalah sebuah jalan untuk kembali (baca QS al-Baqarah, 2: 155-157).

Ketujuh, teguran agar tetap bersabar. Musibah pun dapat dijadikan pelajaran agar semakin giat beribadah dan berbuat baik. Bagaimana yang maksiat tapi selamat? Mereka tenang-tenang saja. Yang berbuat zalim, malah sukses? Di mana keadilannya?

Allah Mahaadil, “Barang siapa mencari kemenangan dunia lalu dia menghalalkan semua cara, apa kata Allah? ‘Kami beri, tapi di akhirat tidak mendapatkan secuil pun kenikmatan, malah nikmat di dunia yang menjadi bahan bakar. Azab untuk dirinya. Itulah istidraj, orang beriman menjadikan peristiwa apa pun sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah,” (QS Hud, 15-16). Wallahu A’lam.

Oleh: KH Muhammad Arifin Ilham

Bencana: Antara Fenomena Alam dan Iman

Sambungan artikel PERTAMA

Dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah dan Abu Said r.a. kedua mereka berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan, atau kerisauan hati dan pikiran melainkan itu semua akan menjadi penebus dosa bagi orang tersebut.” ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Bencana alam dan musibah itu  merupakan ujian keimanan berlandaskan pada hadis dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabat : “Apakah kamu termasuk orang yang beriman ? Sahabat yang mendengar pertanyaan itu semuanya  terdiam, dan tiba-tiba Umar bin Khattab menjawab : Ya Rasulullah, benar, kami ini orang yang beriman. Rasulullah bertanya lagi : “Apakah tanda kamu termasuk orang yang beriman ?. Sahabat segera menjawab : Tanda kami beriman ialah kami bersyukur jika mendapat nikmat, kami sabar jika mendapat musibah dan kami ridha dengan segala takdir dan ketentuan Allah.“(Hadis Riwayat Thabrani).

Oleh sebab itu,  dapat dikatakan bahwa iman itu mempunyai dua sendi, yaitu yakin dan sabar. Sebagaimana  dikatakan oleh Syahar bin Hausyab bahwa : “ Sesuatu yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu adalah yakin dan sabar “. Artinya di dalam melihat sesuatu kejadian kita meyakini bahwa iu semua datang dari Allah dengan penuh kebaikan dan rahmatNya, oleh sebab itu kita harus menghadapinya bencana dan musibah itu dengan penuh kesabaran, sebab jika kita sabar dalam menghadapi  musibah dan bencana tersebut maka kita akan mendapatkan pahala, mendapatkan ampunan dosa, dan juga mendapatkan kenaikan pangkat dan kedudukan di depan Allah subhana wa ta’ala.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata dalam pidatonya;  “ Apa yang dianugerahkan Allah kepada seorang hamba daripada nikmat, lalu dicabutnya nikmat tersebut, dan kita menghadapinya  dengan sabar maka apa yang digantikan Allah tersebut (sabar) lebih utama daripada nikmat yang dicabutNya sebab pahala sabar itu merupakan pahala yang tidak terhingga “ kemudian dia membaca ayat : “Sesungguhnya  orang yang sabar itu akan disempurnakan Allah ganjaran pahala atas kesabaran tersebut dengan balasan  pahala yang tiada terhingga. “ (QS: az Zumar: 10).

Bencana membuat kita ingat kepada Allah atas segala dosa, kemaksiatan , kesombongan diri kita di depan Allah, dan bayangkan jika masyarakat yang berdosa tersebut dibiarkan dalam kemaksiatan maka bencana iman, bencana akidah akan lebih berbahaya bencana alam, sebab bencana alam hanya  berdampak kepada  kerugian dunia saja, sedangkan bencana iman dan agama akan memberikan kerugian di dunia dan akhirat yang merugikan kita untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, Khalifah Umar bin Khattab jika mendapat bencana alam, maka dia berkata : “ Tidaklah aku mendapat bencana melainkan ada padanya empat nikmat : (1) Bencana itu bukan bencana yang merusak agamaku, (2) Tiada terjadi bencana yang lebih besar daripadanya (3) Dengan bencana , aku mendapatkan sikap redha kepada takdirNya (4) Dengan bencana, aku bersabar dan mendapatkan pahala dari bencana tersebut.

Demikianlah pandangan muslim terhadap musibah dan bencana alam yang terjadi, dimana bencana alam dan musibah itu dapat menjadi sebuah peringatan Tuhan atas dosa dan kemaksiatan yang dilakukan, dan disisi lain, bencana alam juga  merupakan ujian keimanan bagi seorang hamba. Bagi mereka yang berdosa, musibah itu merupakan peringatan, sedang bagi mereka yang tidak berdosa, maka musibah itu merupakan ujian iman, dan kematian mereka merupakan kematian yang mulia, syahid dan itu lebih baik daripada hidup bergelimang dengan maksiat dan dosa.  Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap musibah dan bencana yang terjadi. Fa’tabiru Ya Ulil albab.*

 

Oleh: Dr Muhammad Arifin Ismail, Penulis, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur – Malaysia periode 2011 – 2013

HIDAYATULLAH

Bencana: Antara Fenomena Alam dan Iman

BANYAK orang berkata bahwa bencana alam itu adalah hanya sebuah bencana yang harus terjadi sebab bencana alam seperti gempa dan lain lain, itu merupakan sebuah proses dari fenomena alam itu sendiri, tanpa ada hubungan dengan perbuatan manusia atau takdir Tuhan. Ini merupakan pendapat dan pemahaman bencana alam dari pandangan sekuler atau pemahaman orang yang tidak percaya dengan kewujudan dan kekuasaan Tuhan (paham Atheis ) yang banyak diikuti oleh masyarakat pada dewasa ini.

Ada lagi yang berpendapat bahwa bencana alam itu sebagai tanda marahnya alam terhadap manusia, sehingga untuk memadamkan kemarahan alam tersebut, diperlukan sesajen (sajian khas untuk alam)  dan memberikan sesuatu sebagai persembahan kepada alam, seperti memberikan kepala sapi, kepada laut atau gunung, dan lain sebagainya. Ini adalah pandangan orang yang masih terpengaruh dengan ajaran animisme atau dinamisme dan merupakan perbuatan syirik.

Dalam pandangan hidup  Islam, setiap apapun yang terjadi di atas permukaan bumi  semuanya tidak terlepas dari takdir dan perbuatan Tuhan, sebagaimana firman Allah:

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata “ Lauhul Mahfudh.“ (QS: Al An’am : 59) .

Oleh sebab itu, sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setiap  bencana dan musibah adalah perbuatan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Disamping itu kita juga meyakini bahwa dalam setiap bencana atau musibah dan apa saja yang  terjadi itu merupakan takdir ilahi yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu sebab tidak ada kejadian di muka bumi ini terjadi dengan sia-sia tanpa kebaikan dan tujuan tertentu.

“Dan (ingatlah) bahwa  Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya/21 : 16 / QS. ad Dukhan/44 : 38).

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu kejadian yang terjadi tanpa ada maksud dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah Subhana wa taala. Berarti dalam konsep Islam, tidak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan, tetapi semua tejadi dengan takdir Tuhan. Demikian pula dengan setiap bencana alam yang terjadi, baik itu gempa, banjir, dan lain sebagainya, semua itu terjadi dengan takdir Tuhan yang memiliki maksud dan tujuan tertentu, bukan sekedar kejadian alam semata-mata.

Setiap bencana alam merupakan takdir Ilahi, dan segala takdir yang terjadi merupakan perbuatan Tuhan yang Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Berarti dalam setiap bencana yang terjadi terdapat kebaikan dan rahmat Ilahi.

Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ melarang umatnya untuk mencaci maki  taqdir seperti musibah atau kejadian apapun yang telah terjadi, sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “Janganlah kamu menuduh Allah dengan suatu tuduhan yang tidak baik pada setiap kejadian yang sudah ditaqdirkanNya“. (Hadis Riwayat Imam Ahmad ).

Bencana alam atau musibah  juga dapat merupakan peringatan Allah kepada manusia agar segera kembali kepadaNya.

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

Pada waktu mereka lupa atas apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami akan bukakan bagi mereka semua pintu-pintu segala sesuatu, dan apabila mereka bergembira dengan apa ( nikmat ) yang datang kepada mereka, Kami akan ambil apa yang telah Kami berikan tersebut, dan mereka akan gagal sepenuhnya. “ (QS. Al An’am : 44 ).

 

Peringatan Allah berupa bencana dan musibah itu dapat terjadi disebabkan manusia telah lupa dengan perdoman hidup sehigga manusia berbuat dosa dan kemaksiatan tanpa mengingat perintah dan laranganNya. .“Dan tidaklah suatu musibah itu terjadi, melainkan akibat perbuatan manusia itu sendiri. “ (QS. An Nisa : 79 ). Dalam ayat  lain dinyatakan, “Maka apa saja musibah dan bencana yang menimpa kamu itu semua merupakan perbuatan kamu sendiri, dan Allah telah memaafkan sebagian besar dari kesalahan kamu. “ (QS al Syura : 30 ).

Bencana dan musibah itu sebagai peringatan Tuhan kepada sekelompok manusia yang melakukan kemaksiatan, kedzaliman, dan dosa-dosa lainnya. Tetapi musibah itu terjadi bukan hanya kepada mereka yang berbuat dosa dan dzalim, tetapi juga kepada semua orang dan masyarakat, baik yang berbuat dosa atau tidak berbuat dosa.

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kamu kepada bencana yang akan terkena bukan saja kepada orang yang dzalim diantara kamu, dan ketahuilah Allah itu maha keras dalam memberikan balasan. “ (QS. al Anfal : 25 ).

Oleh sebab itu, dapat kita katakan bahwa bagi orang yang berbuat dosa, maka bencana alam itu merupakan peringatan Tuhan, sedangkan bagi orang yang tidak berbuat dosa, maka bencana itu merupakan ampunan dosa  dan  peluang pahala.

Ada yang berkata bahwa jika bencana alam itu merupakan azab dan peringatan bagi orang yang bermaksiat dan berdosa, mengapa ada orang yang berdosa di tempat lain tidak mendapat bencana, malah mereka hidup terus dalam kesenangan. Bagi orang yang berbuat dosa tetapi tidak terkena bencana maka itu merupakan suatu “istidraj”, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran.

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ

Dan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka kami akan biarkan mereka ( istidraj ) dalam pendustaan tersebut sehingga suatu saat Kami akan beri balasan atas perbuatan mereka itu  tanpa mereka sadar atas kesalahan mereka tersebut. “ (QS. al A’raf : 7 ).

 

Mereka yang berbuat maksiat dan kedzaliman, tetapi Tuhan biarkan dan tidak diberi peringatan sampai suatu saat terakhir nanti Tuhan berikan balasan langsung. Sedang bagi orang yang melakukan kemaksiatan dan diberi peringatan dengan musibah dan bencana,  berarti Allah masih sayang kepada mereka, masih mengajak mereka agar kembali kepadaNya dengan bencana dan musibah yang ditakdirkannya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang  berkata : Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan kembali kepadaNya “Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. “ (QS. al Baqarah : 155-156).

Oleh itu dapat dikatakan bahwa musibah itu memiliki dua sisi. Pada suatu sisi, musibah itu merupakan peringatan Tuhan atas perbuatan manusia, sedangkan disisi yang lain musibah itu merupakan ujian keimanan agar kita bersabar, dan dalam kesabaran itu terdapat pahala dan kebaikan bagi manusia.

Allah telah berfirman: “

“Kami jadikan kebaikan dan keburukan itu untuk menjadi ujian bagi kamu. “ (QS. Al Anbiya : 35 ). << (Bersambung)>>

 

Oleh: Dr Muhammad Arifin Ismail

HIDAYATULLAH

Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat dan Bencana yang Tiba-Tiba

Ketika banyak muncul bencana tiba-tiba seperti gempa, banjir, kebakaran dan musibah lainnya hendaknya kita memperbanyak membaca doa berikut.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu; dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu. (HR. Muslim)

Maksud dari kata-kata (فَجْأَةِ نِقْمَتِكَ) “siksa yang tiba-tiba” adalah bencana dan musibah yang tiba-tiba, hal ini lebih parah daripada bencana yang tidak datang tiba-tiba. Syaikh Abdul Mushin Az-Zamili menjelaskan,

ﻓﺠﺄﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﺃﻭ ﻓﺠﺎﺀﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻼﺀ ﺃﻭ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺳﺒﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﺠﺄﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺧﻒ

“Siksa yang tiba-tiba yaitu berupa bencana atau musibah yang datang secara mendadak.Tentunya berbeda dengan musibah yang didahului oleh sesuatu (sebagai awalnya semisal penyakit) dan tidak mendadak, hal ini lebih ringan perkaranya.”. (Syarh Bulughul Maram)

Bencana seperti gempa, banjir dan musibah akan menghilangkan nikmat dan bisa jadi merupakan murka dari Alllah karena banyaknya kesyirikan dan maksiat. Untuk menghindari terjadi musibah dan bencana pada kita hendaknya kita benar-benar memhami bahwa sebab turunnya musibah dan bencana akibat keyirikan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Hendaknya kita melakukan muhasabah dan segera kembali kepada Allah serta menghentikan keyirikan dan kemaksiatan yang merajalela agar terhindar dari hilangnya nikmat, datangnya bencana dan terhindar dari murka Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalahdisebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura: 30).

Bisa jadi Allah kirimkan bencana dan musibah kepada manusia agar manusia takut kepada Allah dan agar kaum muslimin kembali kepada Allah dan menghentian kesyirikan dan maksiat.

Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti“. (Al-Isra’ : 59)

 

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksud menakuti-nakuti di sini adalah agar manusia takut kepada Allah. Beliau berkata,

أذن الله سبحانه لها في الأحيان بالتنفس فتحدث فيها الزلازل العظام فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم

“Terkadang Allah subhanahu mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat, maka muncul rasa takut dan khawatir pada hati hamba-hamba Allah dan agar mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri dihadapan-Nya serta menyesal (atas dosa dan maksiat).” (Miftah Daris Sa’adah 1/229)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: raehanul Bahraen

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/43134-doa-agar-terhindar-dari-hilangnya-nikmat-bencana-yang-tiba-tiba.html