Kehidupan Yang Damai dan Penuh Toleransi dalam Al-Qur’an

Salah satu bagian terpenting dari Al-Qur’an adalah bagaimana manusia dapat menjalin hubungan baik dengan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu wajah Islam yang paling menonjol adalah tingginya toleransi didalamnya.

Ayat-ayat Al-Qur’an dan hukum syariat didalam Islam semuanya mengatur bagaimana mewujudkan kehidupan damai diantara manusia. Islam membimbing secara detail bagaimana menjalin hubungan dan bertoleransi dengan sesama agama, bahkan dengan yang lain agama.

Pertama, kita akan menyaksikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an menjadikan asas persaudaraan dan kasih sayang sebagai pondasi hubungan diantara kaum mukminin.

Allah swt berfirman,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَة

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS.Al-Hujurat:10)

Kedua, Islam sangat anti terhadap pergaulan yang diwarnai dengan kebencian dan fanatisme golongan.

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS.An-Nahl:90)

Begitulah sejarah Rasulullah saw yang selalu memberi yang terbaik. Islam jauh dari kemarahan, kebencian dan kebengisan apalagi sikap rasis antar golongan.

Ketiga, Islam juga selalu mengajak kaum muslimin untuk menyelesaikan persoalan bersama-sama dan disertai gotong royong.

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS.Al-Ma’idah:2)

Keempat, Islam melarang keras untuk berbuat dzalim walau kepada musuh-musuh Islam sekalipun. Bahkan hanya menghina atau mencaci keyakinan orang lain juga tidak diizinkan sedikitpun dalam agama suci ini.

Allah swt berfirman,

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (QS.Al-An’am:108)

Islam selalu mengajak untuk hidup damai dengan siapapun. Walau dengan mereka yang tak seagama, walau dengan mereka yang tak sepemikiran. Kita dilarang untuk mengganggu kehidupan mereka.

لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.Al-Mumtahanah:8)

Akan tetapi saat orang-orang kafir menyerang kaum muslimin, maka kita diperintahkan untuk melawan dan membela diri.

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al-Baqarah:190)

Hal ini tentu disepakati oleh semua orang yang berakal bahwa setiap ada serangan kita wajib membela diri. Namun lihatlah bagaimana Islam membimbing kita dengan mengakhiri ayat ini dengan kalimat “Tetapi jangan melampaui batas.!

Artinya perlawanan dan balasan kita pun bukan dengan menghalalkan segala cara. Semua ada aturannya.

Dan perlu kita pahami bahwa tidak semua orang dapat menyimpulkan bahwa Islam sedang diserang dan kita wajib melawan, prosedurnya telah disebutkan dalam buku-buku fikih tentang siapa yang disebut orang kafir yang melawan Islam.

Dan ketika peperangan berkecamuk, tetaplah Islam memberi jalan untuk berdamai. Bukankah Allah swt berfirman,

۞وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلۡمِ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS.Al-Anfal:61)

Dari ayat-ayat diatas kita akan mendapat gambaran wajah Islam yang menginginkan kedamaian dan penuh toleransi. Walaupun kedzaliman harus dilawan, tapi tetap ada prosedur dan tata caranya.

Dalam peperangan pun kita melihat keindahan Islam dalam menjaga peperangan itu agar jangan menyakiti orang tua, wanita dan anak-anak, jangan memutilasi musuh, jangan memutus air, jangan menghancurkan tempat ibadah dan sebagainya.

Inilah Islam yang selalu mengajak menuju kedamaian hidup dan selalu mempermudah hal-hal yang sulit.

Semoga bermanfaat

 

KHAZANAHALQURAN

Menyoal Kembali Arti Toleransi dalam Momentum Perayaan Natal

Di bulan Desember ini, persoalan toleransi kembali menemukan momentum untuk dibicarakan. Seolah menjadi ajang diskusi rutin tahunan, isu-isu yang bertemakan toleransi beragama menjadi topik hangat yang mengundang komentar dan sikap dari banyak kalangan. Hal itu karena di bulan Desember ini, Umat Kristiani merayakan hari natal pada tanggal 25 Desember.

Sebenarnya, garis toleransi dalam Islam telah demikian jelas. Ia terangkum dalam firman Allah, “Lakum diinukum wa liya diin.” (untukmu agamamu dan untukku agamaku).

Ulama asal Tunisia, Samahatu al Ustadz Muhammad Thahir Asyur rahimahullah dalam Tafsirnya yang fenomenal, “Tafsiru al Tahrir wa al Tanwir” berkata mengenai ayat diatas, “Dalam kedua kalimat diatas, nampak didahulukan musnad (lakum/liya) atas musnad ilaihnya (diinukum/diin), untuk menegaskan pembatasan. Artinya, agamamu, hanya terbatas untukmu, tidak melampauimu sehingga menjadi milikku. Dan agamaku juga terbatas untukku, tidak melampauiku sehingga menjadi milikmu. Maksudnya, karena jelas mereka tidak menerima Islam. Al Qashr (pembatasan dalam ayat ini) termasuk qashr ifraad. Dan huruf ‘laam’ dalam kedua kalimat diatas bermakna kepemilikan, yaitu keshususan dan keberhakan.

Adapun ‘Diin’ bermakna akidah dan millah, ia adalah hal-hal yang diketahui dan diyakini oleh seseorang, dimana amal perbuatan dilandaskan kepadanya.” (vol. 30, hal. 648)

Dari ayat ini, toleransi seharusnya dimaknai sebagai sikap mengakui dan menghargai eksistensi non-muslim dan agama yang dianutnya, tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam karena tidak ada paksaan dalam agama, memberi kebebasan kepada pemeluknya untuk menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinannya, tidak mengganggu dan mengusik ketenangan pemeluk agama lain, namun juga mengambil sikap tegas untuk berlepas diri dalam urusan-urusan yang termasuk ranah akidah dan agama mereka.

Penting untuk dicermati, toleransi tidak boleh dimaknai sebagai upaya mencampuradukkan keyakinan, ritual ibadah, tradisi dan simbol-simbol antar agama-agama. Karena itu berarti menghancurkan sendi-sendi agama. Toleransi hendaknya dilandaskan pada pengakuan terhadap keberagaman (pluralitas), bukan dibasiskan pada pengakuan ideologi semua agama adalah sama dan benar (pluralisme).

Dengan demikian, seorang muslim tidak dibenarkan meyakini hal-hal yang ada dalam keyakinan agama lain, melakukan ritual ibadah agama lain, ikut serta meramaikan tradisi agama lain, urun rembuk mensukseskan perayaan hari besar agama lain dan mengenakan simbol-simbol serta atribut-atribut agama lain. Menjadi haram hukumnya dan berdampak serius pada akidah seorang muslim, jika ia melakukan hal-hal seperti itu.

Syaikh al ‘Allamah Muhammad al Amin Asy Syanqithi rahimahullah ketika menafsirkan surat al Kafirun berkata, “Dalam surat ini terkandung sebuah garis tegas reformasi; yaitu sikap menolak segala bentuk pencampuradukkan (agama). Karena mereka (orang-orang kafir) sebelumnya menawarkan opsi untuk melakukan serikat dalam ibadah, yang dalam logika mereka, merupakan solusi pertengahan, karena masing-masing agama memiliki kemungkinan benar. Sehingga datanglah sebuah counter yang tegas melarang, karena dalam opsi itu termuat penyamaan antara yang benar dan salah, penggantungan masalah, pengakuan atas kebatilan, jika beliau menyepakati mereka walau pun hanya sesaat. Surat ini menjadi garis pembeda antara kedua belah pihak, akhir dari rekonsiliasi, sekaligus awal perseteruan.” (Tatimmah Ahdwaa` al Bayaan, vol. 9, hal. 585)

Diantara prinsip seorang muslim adalah, meyakini bahwa Islam satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh Allah (lihat: QS. Ali Imran: 19). Siapa saja yang beragama dengan selain Islam, maka agamanya akan tertolak (lihat: QS. Ali Imran: 85). Hal ini sangat gamblang diterangkan dalam Kitab suci umat Islam, al Qur`an al Karim. Prinsip ini kemudian terformulasi dalam konsep al Wala (loyalitas) dan al Bara (antiloyalitas) dalam akidah Islam. Loyal kepada Islam dan kaum muslim, serta antiloyal kepada agama selain Islam dan non-muslim. Dan diantara perwujudannya, adalah hanya membatasi diri dalam soal keyakinan, ritual ibadah, perayaan, tradisi, simbol dan atribut Islam, serta menjauhkan diri dari semua yang ada pada agama lain dalam urusan-urusan tersebut, tanpa menghalangi untuk saling berinteraksi, bermasyarakat, bekerjasama dalam kebaikan, hidup berdampingan dan bahkan memperlakukan mereka dengan cara yang baik selama dalam koridor urusan dunia.

Toleransi dalam wujud ini, diantaranya Allah terangkan dalam firman-Nya (yang artinya),

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Itulah kiranya pula yang menjadi alasan para ulama melarang umat Islam mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani, apalagi menghadiri perayaannya, membantu mereka dalam urusan agama mereka dan memakai atribut-atribut agama mereka seperti memakai baju atau topi sinterklas pada momen natal seperti sekarang ini yang sangat disayangkan, atas nama toleransi beragama, sejak beberapa tahun kebelakang telah ditradisikan oleh sejumlah perusahaan pada para karyawan dan karyawati mereka, khususnya para pelayan toko, restaurant dan mall, yang notabene beragama Islam.

Untuk itu, penulis mengajak kepada segenap kaum muslimin, agar kembali mengokohkan jati diri kita sebagai umat Islam. Ikut-ikutan meramaikan tradisi dan perayaan agama lain adalah sikap imperior yang seharusnya tidak eksis dalam dada-dada kita. Karena kita yakin, sekali lagi, agama yang benar dan kelak akan mengantarkan kita ke surga hanyalah Islam. Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/23963-menyoal-kembali-arti-toleransi-dalam-momentum-perayaan-natal.html

Jangan Ragukan Toleransi Islam, Barat Pun Mengakuinya

Toleransi berarti menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Khotimah dalam artikelnya pada Jurnal Ushuluddin (2013) menjelaskan, istilah bahasa Arab untuk kata toleransi adalah at-tasamuh, yang berarti ‘bermurah hati’.

Dalam konteks hubungan antarumat beragama, toleransi bermakna membiarkan situasi tetap tenang dan rukun, sehingga setiap orang dapat menjalankan ibadah atau ajaran agamanya masing-masing tanpa disertai konflik.

Prinsip serupa sesungguhnya juga berlaku di internal umat suatu agama. Perbedaan antar-mazhab, umpamanya, seyogianya dihadapi dengan penuh toleran agar tidak menjurus pada kekerasan.

Toleransi mengandaikan kemajemukan di tengah masyarakat. Alquran telah mengisyaratkan adanya kuasa Allah SWT di balik fakta tersebut. Misalnya, surah Yunus ayat 99 yang artinya, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Maka dari itu, tidak ada gunanya memaksakan penyeragaman (homogenisasi) karena keberagaman justru merupakan sunnatullah yang sepatutnya disyukuri.

Sepanjang sejarah, sikap toleran sudah mewarnai hubungan antara kaum Muslimin dan non-Muslim.  Sir Thomas Walker Arnold dalam The Preaching of Islam. A History of Propagation of the Muslim Faith mengomentari besarnya penghargaan Islam terhadap prinsip toleransi.

Bahkan, menurutnya, kaum non-Muslim menikmati toleransi yang begitu besar di bawah aturan penguasa Muslim. Padahal, di saat yang sama, Eropa masih belum mengenal toleransi sama sekali. Barat baru menyemarakkan tenggang rasa antar-dan-internal umat beragama belakangan ini pada zaman modern.

Lebih lanjut, Sir Thomas mengungkapkan, ketika berabad-abad lamanya dinasti-dinasti Muslim berkuasa, banyak sekte Kristen yang dibiarkan hidup, berkembang, dan bahkan dilindungi aturan negara.

Amat jarang kasus persekusi yang dilakukan orang Islam terhadap komunitas non-Muslim. Menurut orientalis Inggris tersebut, keyakinan yang diajarkan Alquran, “Tidak ada paksaan dalam agama” berperan amat penting.

Reza Shah-Kazemi melalui karyanya, The Spirit of Tolerance in Islam, mengemukakan beberapa dinasti yang menunjukkan pentingnya toleransi dalam peradaban Islam. Ambil contoh Kekhalifahan Abbasiyah yang mempersembahkan kepada peradaban dunia Bait al-Hikmah.

Perpustakaan itu dibesarkan Sultan Harun al-Rasyid di Baghdad. Di dalamnya, berlangsung kegiatan-kegiatan ilmiah, mulai dari penerjemahan teks-teks asing ke dalam bahasa Arab hingga riset dan observasi. Sang sultan mengedepankan prinsip toleransi dan meritokrasi di atas identitas.

Buktinya, dia mengangkat I’yan Syu’ubi, seorang Persia yang anti-Arab, sebagai kepala perpustakaan. Hal itu disinggung Prof Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam. Tidak sedikit pula orang Yahudi yang bekerja sebagai penerjemah teks-teks Yunani Kuno ke bahasa Ibrani dan Arab di Bait al-Hikmah. Ada juga sarjana-sarjana dari India yang aktif berkontribusi di sana.

REPUBLIKA

Toleransi dan Teladan Rasulullah

Toleransi antarumat beragama bukanlah produk masyarakat modern yang hidup dalam tingkat kera gaman yang tinggi. Meski baru menjadi kebijakan resmi di negara berbahasa Inggris pada 1999, toleransi telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada periode awal Islam.

Sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar menjelaskan hal itu. Ia berkata, “Dua orang Yahudi lelaki dan perempuan telah berzina dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah bertanya, ‘Apakah hukum an kepada orang yang berzina se perti yang terkandung di dalam Taurat?’ Mereka (yang membawa orang Yahudi tersebut) menjawab, ‘Kami mencoreng muka mereka dengan warna hitam, dan menaikkan mereka ke atas kendaraan, lalu membawanya berkeliling.’ Rasulullah berkata, ‘Datang kanlah kitab Taurat itu sekiranya kamu berlaku jujur.’

Mereka pun mengambil Taurat dan membacanya. Ketika bacaan mereka sampai pada ayat rajam, tibatiba pemuda Yahudi itu meletakkan tangannya di atas ayat tersebut dan hanya membaca ayat yang sebelum dan setelahnya. Abdullah bin Salam yang turut bersama Rasulullah SAW berkata kepada beliau, ‘Perintahkanlah ia untuk mengangkat tangannya.’ Pemuda itu lalu mengangkat tangannya sehingga Rasulullah dan para sahabat segera mengetahui bahwa ayat yang berusaha ia tutupi ialah ayat tentang rajam. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar kedua orang yang berzina tadi dihukum rajam.”

Dari hadis itu nampak jelas bahwa Rasulullah memerintahkan penjatuh an hukuman rajam pada umat Yahudi berdasarkan hu kum yang tertera pada kitab mereka dan bukan menurut ketentuan Alqur an. Maka, toleransi adalah perihal muamalah yang telah diterapkan se jak masa awal Islam, dengan cara pandang yang berasas kan multikulturalisme.

Sikap tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa menyakiti seorang dzimmi (kaum kafir yang tidak memusuhi Islam dan tunduk dalam pemerintahan Islam) maka sungguh ia menyakitiku. Dan, barang siapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah.” (HR Thabrani).

 

REPUBLIKA

Meski Dekat dengan Nasrani, Waspadai 4 Hal ini!

DI balik kedekatan-kedekatan secara sirah dan syariah, tetap saja ada garis yang tegas dan tegak, yang membedakan antara Islam di satu sisi dengan Kristiani di sisi yang lain.

1. Meski Dekat Tetapi Tetap Kafir

Di antara ketegasan itu adalah pandangan bahwa pemeluk agama masehi adalah orang kafir. Salah satu penyebab yang paling utama adalah apa yang telah disepakati oleh umat Kristiani sedunia bahwa mereka menyembah Nabi Isa, bahkan mengaku punya tiga tuhan (trinitas). Dalam hal ini Alquran secara tegas menyebut mereka sebagai kafir.

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, (QS. Al-Maidah: 72)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”. (QS. Al-Maidah: 73)

2. Haram Menjadikan Wali

Syariat Islam melarang umat Islam menjadikan orang nasrani sebagai wali, khususnya wali dalam keluarga. Oleh karena itu bila seorang wanita muslimah punya ayah yang masih beragama Krsiten, maka ayahnya itu tidak sah untuk menjadi wali dalam pernikahan.

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala berikut ini: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nasrani sebagai wali. Sebagian menjadi wali buat sebagian yang lain.” (QS. Al-Maidah: 51)

Namun bila wanita yang dinikahi masih beragama nasrani dimana ayahnya juga nasrani, syariat Islam membolehkannya. Selain tidak boleh dijadikan wali dalam pernikahan, syariat Islam juga melarang orang nasrani dijadikan wali dalam arti pemimpin pemerintahan, khususnya dalam format negara Islam.

3. Dilarang Mengikuti Peribadatan Nasrani

Meski ada kedekatan antara nasrani dan Islam, namun dalam masalah ibadah tidak boleh terjadi campur baur. Syariat Islam melarang umat Islam beribadah bersama-sama dengan agama lain, termasuk nasrani juga. Dalam hal ini ada ketegasan dari Alquran:

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun : 1-6)

4. Dilarang Meniru Penampilan Khas

Syariat Islam juga melarang umat Islam berpenampilan khas agama lain, termasuk agama Kristen. Penampilan itu misalnya lambang salib yang sudah khas di seluruh dunia. Termasuk juga jubah khas para pendeta, pastor dan sejenisnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347294/meski-dekat-dengan-nasrani-waspadai-4-hal-ini#sthash.Yt5zOyWu.dpuf

Rasulullah Larang Toleransi Kebablasan dalam Agama

SIKAP toleransi, ternyata sudah diajarkan dalam agama Islam. Kita harus menghargai perbedaan satu sama lain, terutama dalam hal yang berhubungan dengan keyakinan. Ya, setiap orang memiliki kepercayaannya tersendiri. Dan kita harus menghargai itu.

Tapi, banyak orang yang kebablasan dalam bertoleransi. Mereka cenderung melakukan hal yang diyakini oleh agama lain. Padahal, kita tahu bahwa ajarannya berbeda dengan kita. Dan seharusnya, kita tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh non-Muslim, yang bertentangan dengan syariat Islam.

Ternyata, toleransi berlebihan ini, sudah ada ajakannya sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan agama Islam.

Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy yaitu Al Walid bin Mughirah, Al Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menawarkan toleransi kebablasan kepada beliau, mereka berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”

Kemudian turunlah ayat berikut yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini, “Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku,” (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Maka, dalam bertoleransi, kita pun harus memiliki sikap yang bijak. Toleransi bukan berarti kita mengikuti keyakinan non-Muslim. Tetapi, kita cukup menghargai saja apa yang mereka lakukan dengan membiarkannya dan tidak berbuat keributan. Biarkanlah mereka lakukan apa yang mereka yakini, sedang kita fokus pada apa yang kita yakini. [muslim.or.id]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2346285/rasulullah-larang-toleransi-kebablasan-dalam-agama#sthash.BZI2YhE9.dpuf

Tak Ada Perbedaan Kayakinan dalam Berbagi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Irfan Genc, manajer Muslim sebuah restoran menawarkan makanan gratis kepada lansia pada hari Natal. Ia mengungkapkan bagaimana dirinya tidak memikirkan perbedaan keyakinan dalam berbagi. Poin tersebut menginspirasi sikapnya tersebut.

Genc mengungkapkan kepada The Independent bagaimana ide tersebut lahir dari pertemuan tak terduga dengan seorang wanita tua yang datang ke Shish Restaurant di Sidcup, London. Wanita itu meminta staf restaurant menutup jendela di rumahnya. Ia tak mampu menggapai lantaran ketinggian.

Staff melakukan perjalanan selama dua menit menuju rumah wanita tersebut. Usai masalah terselesaikan, ia mengucapkan terimakasih dan memeluk staf restaurant lantaran berhasil menutup jendela sehingga ia terhindar dari hawa dingin. Pada hari berikutnya, wanita itu kembali untuk memakan di restoran tersebut. Menurut Genc petugas restoran merasa iba, karena wanita itu mengaku kesepian.

“Dia (wanita tua) mengaku pasrah dan tidak ingin melakukan apa-apa selain menunggu kematian. Itu karena ia kehilangan suaminya yang meninggal setahun lalu sehingga tak ada yang merawatnya. Dia mengatakan ia akan sendirian pada hari Natal,” tutur Genc.

Sang manajer Muslim Restoran itu merasa iba setelah mendengar kisah wanita tua tersebut. “Tidak peduli apapun agama dan bahasa, kita di sini saling membantu dan mendukung di Hari Raya (Natal). Kami tidak ingin ada yang terlewatkan,” ujar Genc menjelaskan.

Genc dan para manajer lain memberi lampu hijau untuk berbagi. Mereka menggratiskan tiga jenis hidangan pada pukul 12.00 siang hingga pukul 06.00 malam. Tiga hidangan tersebut antara lain Sup dan Cacik sebagai pembuka, pilihan casserole ayam, casserole sayuran atau shish ayam sebagai hidangan utama dan puding beras untuk pencuci mulut.

Menag: Toleransi Itu tidak Harus dengan Cara Meleburkan Diri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan fatwa Majelis Ulama Indonesia soal haramnya Muslim menggunakan atribut non-Islam merupakan bentuk toleransi umat beragama tanpa meleburkan diri dengan keyakinan agama lain. “Jadi semangatnya adalah toleransi itu tidak harus ditunjukkan dengan cara masing-masing pihak meleburkan diri,” kata Lukman di Jakarta, Jumat (16/12).

Lukman mengatakan fatwa tersebut agar dipatuhi umat Islam tanpa harus mengurangi rasa hormat pada lingkungan sekitar dan rasa menghargai keyakinan agama lain. “Semangat itulah menurut saya harus kita tangkap,” kata dia.

Menag mengatakan prinsip dari fatwa tersebut adalah toleransi, saling menghargai dan menghormati keyakinan serta kepercayaan agama lain. “Tidak harus masing-masing dari kita menggunakan atribut keagamaan yang bukan dari keyakinan kita,” kata dia.

Terkait Hari Natal yang jatuh pada 25 Desember, Lukman berharap umat Islam dan saudara sebangsa untuk menghargai dan menghormati perayaan itu. Karena warga Indonesia juga tidak sedikit yang memeluk agama Kristiani.

Sumber : Antara

Toleransi Bukan Berarti Mencampuradukkan Ajaran Agama

Islam telah mengajarkan secara tegas mengenai prinsip toleransi. Dalam Islam, toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama termasuk penggunakan atribut atau simbol agama lain.

Demikian ditegaskan Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Karenanya, dia melarang, umat Islam untuk berpakaian menyerupai dan menggunakan simbol-simbol ajaran agama lain. “Terkait dengan pemakaian simbol-simbol natal, pegawai Muslim sebaiknya tidak perlu menggunakannya,” ujar dia kepada Republika.co.id, Jumat (9/12).

Namun, pegawai Muslim di sebuah perusahaan harus tetap berkomunikasi dengan pimpinan perusahaan tersebut terkait komitmen agamanya. Ini merupakan hal penting untuk menghindari konflik. “Komunikasi dengan pimpinan kantor penting agar tidak terjadi ketegangan dan dugaan pemaksaan oleh pemeluk agama tertentu,” kata dia.

Sementara itu, MUI saat ini sedang membahas mengenai fatwa penggunaan atribut Natal. Fatwa tersebut rencananya akan selesai dalam waktu sepekan kedepan.

Sebelumnya, MUI dimasa kepemimpinan Buya Hamka telah mengeluarkan fatwa mengenai haram umat Muslim yang ikut serta dalam acara Natal. Fatwa tersebut dikeluarkan pada 7 Maret 1981.

 

 

sumber: Republika Online

Di Saat ‘Toleransi’ Dipertanyakan

“Pak, teman-teman pada bertanya dan kecewa. Kok Bapak nampaknya sekarang kurang memperlihatkan toleransi?”.

Itulah penggalan pesan singkat seorang teman, teman yang saya anggap dekat, bahkan selama ini mempromosikan dan bangga dengan kerja-kerja saya dalam membangun hubungan ‘antaragama’. Intinya, beliau dan teman-teman dekatnya, kecewa berat dengan beberapa pernyataan saya, baik di media maupun di tulisan-tulisan yang pernah dimuat oleh media sosial.

Mendengar kekecewaan itu, saya kemudian bertanya pada diri sendiri. Benarkah saya tidak toleran? Benarkah toleran itu artinya sejalan dengan kepentingan orang lain? Benarkah bahwa toleransi itu tidak berhak menyuarakan apa yang dianggap benar jika berseberangan dengan pihak lain?

Saya kemudian teringatkan oleh ayat-ayat Alquran, sejarah perjalanan umat ini, hingga kepada realita abad modern. Sesungguhnya siapa yang paling toleran di antara manusia?

Kekhawatiran saya adalah terjadi dogmatisasi bahwa toleran itu adalah mendukung kepentingan kelompok tertentu. Bukan kelompok yang berseberangan, walau kebenaran berpihak kepada kelompok seberang itu.

Atau dogmatisasi yang seolah mengatakan membela kelompok sendiri, walau benar, adalah bentuk intoleran.

Ayat-ayat toleransi Alquran seolah kembali ditampilkan depan mata saya. Ayat per ayat kembali mengingatkan bahwa bersikap toleran itu bukan sekadar isu sosial, bahkan bukan sekadar isu legal dan moral. Tapi merupakan bagian dari keimanan itu sendiri.

Pertama, kalaupun umat ini diperintah mendakwahkan agama ini, tapi kewajiban itu sebatas pada kewajiban ‘tabligh’ (penyampaian). Ini karena memang hidayah ada sepenuhnya di tangan Allah. “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki”.

Kedua, umat ini meyakini bahwa keyakinan itu adalah kata hati yang paling dalam. Oleh karenanya, ‘iman’ harus tumbuh secara alami dalam hati. Pemaksaan itu adalah antitesis dari iman. Maka Alquran menegaskan: “tiada paksaan dalam agama”.

Ketiga, umat ini meyakini bahwa kebebasan itu adalah “Godly guaranteed” (pemberian dan jaminan Tuhan). Oleh karenanya, kebebasan, termasuk kebebasan dalam memilih keyakinan adalah hak dasar. Di sinilah Islam menghormati pilian setiap orang: “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Keempat, umat ini meyakini bahwa keragaman itu adalah ‘sunnatullah‘ (hukum Allah) yang baku. Hingga kapan pun keragaman akan selalu ada, dan dalam segala aspeknya, termasuk keyakinan. Oleh karenanya, hadirnya agama lain tidak perlu dilihat sebagai ancaman: “Kalau Allah berkehendak, niscaya Allah menjadikan kamu satu umat (kelompok manusia”.

Praktik Rasul SAW

Segera setelah pindah dan menetap di Madinah, Rasulullah SAW melakukan berbagai kebijakan, baik secara internal (umat) maupun secara umum (penduduk Madinah).

Salah satu di antaranya adalah dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin Madinah (sebagai negara baru) adalah pembentukan konstitusi negara yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Piagam Madinah’. Piagam Madinah sekaligus dikenal dalam sejarah sebagai konstitusi sipil pertama dalam sejarah manusia.

Terlepas dari konten konstitusi itu, barangkali yang paling menarik sekaligus diterima sebagai kenyataan yang membanggakan adalah bahwa proses pembentukannya ternyata bukan ketetapan rasul seorang. Bahkan bukan komunitas Muslim sebagai komunitas mayoritas saat itu. Tapi, melibatkan seluruh komponen masyarakat Madinah sebagai share holders, termasuk Yahudi, Kristen, bahkan Arab musyrik sekalipun.

Sehingga, tidak mengherankan bahwa salah satu pasal terpanjang dalam konstitusi itu adalah jaminan hak-hak minoritas yang tinggal di tengah-tengah mayoritas Muslim.

Sebagai jaminan pribadi sekaligus jaminan iman, Rasulullah SAW kemudian bersabda: “barangsiapa yang menyakiti kelompok non-Muslim minoritas, maka saya akan menjadi musuhnya di hari kiamat”.

Tentu kekaguman kita tidak saja pada proses dan konten dari Piagam Madinah itu. Tapi, juga pada konteks waktu dan tempat di mana Piagam itu dibentuk. Awal abad ketujuh dan padang pasir Arabia. Mungkinkah sebuah konstitusi yang highly civilized dibuat?

Benar kata sebagian ahli tafsir bahwa Muhammad (SAW) membawa pemikiran dan perubahan yang jauh melampaui zamannya. Di mana diakui pula bahwa penerus-penerus beliau memang belum siap untuk meneruskan peradaban itu.

Sejarah umat

Sepeninggal rasul alam semesta, Muhammad SAW, para sahabat lalu thobiin dan penerus mereka mengambil amanah kepemimpinan itu. Toleransi rasul bahkan ketika kembali masuk Makkah dengan kekuatan tentaranya tetap dilanjutkan.

Kita kenal bahwa di saat rasul masuk kembali ke tanah kelahirannya setelah terusir selama kurang dari 13 tahun, Beliau memberikan public amnesty  kepada kaum yang pernah mengusirnya. Tidak satu kata pun yang terlontar dari mulut beliau memerintahkan penduduk Makkah untuk menerima Islam sebagai agama mereka.

Dari zaman Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali (radhiyallahu anhum), bahkan penerus mereka dari kalangan thabi’in dan murid-murid mereka (thabi’i at-thaabi’in), senantiasa menjaga toleransi ini sebagai amanah “iman”.

Dan sejujurnya, inilah pula fakta-fakta besar yang hingga kini masih kita dapatkan di dunia modern. Bandingkan sebagai misal saja, di negara-negara yang dulu dikuasai oleh Kristen, lalu kini dikuasai oleh dunia Islam. Insya Allah karena amanah iman itulah Anda niscaya masih menemukan gereja-gereja yang tetap utuh terjaga. Anda bisa dapati itu misalnya di negara-negar yand saat dikenal dengan nama Syaam (Suriah, Jordan, Palestina dan Lebanon).

Sebaliknya, jika Anda melakukan kunjungan ke negara-negara yang dulu dikuasai oleh Islam, lalu saat ini dikuasai oleh Kristen, masihkah ada masjid-masjid megah yang pernah dibangun di masa keemasan Islam itu? Anda akan temukan kalau tidak dijadikan gereja sudah pasti menjadi museum atau bahkan tempat-tempat kemaksiatan seperti night club.

Intinya adalah bagi saya toleransi itu adalah amanah iman dan sejarah. Oleh karenanya, komitmen saya kepada tolerasi tidak bisa dipertanyakan. Mempertanyakan toleransi saya kepada agama lain sama dengan mempertanyakan iman itu sendiri.

Kejujuran dalam toleransi

Saya kembali berpikir tentang toleransi itu sendiri. Kok rasanya ada yang salah dalam menempatkan toleransi. Atau mungkin ada pemaksaan defenisi tentang toleransi itu sendiri. Atau ada dogmatisasi tentang makna toleransi.

Seolah jika saya membela apa yang saya anggap benar, dan kebetulan kebenaran itu barada di pihak umat Islam, itu bukan toleransi. Tapi intoleransi yang seolah mengoyak hak orang lain.

Saya sangat yakin bahwa semua nilai yang kita bangun dan junjung itu harus terbangun di atas nilai-nilai ‘kebenaran dan keadilan’ (shidqan wa adlan). Toleransi yang dibangun di atas ketidakjujuran, tapi kepalsuan lewat pemaksaan persepsi dengan kekuatan media dan sebagainya, pada akhirnya melahirkan kepura-puraan.

Akibat dari toleransi kepura-puraan ini adalah mudahnya hilang nilai-nilai tolerasi pada sikap manusianya di saat teruji. Pada tingkatan tertentu sebagian masyarakat Amerika saat ini sedang teruji. Bahwa, selama ini, Amerika tidak saja menjamin kebebasan beragama. Tapi juga mempromosikannya ke berbagai penjuru dunia.

Yang parah pula adalah ketika toleransi dipahami secara tidak adil. Toleransi kita hormati di saat berpihak pada kita. Ketika toleransi itu memang harus berpihak kepada orang lain, maka dengan mudah dialihkan menjadi intoteransi. Di sini pun terjadi ‘kemunafikan’ besar dalam toleransi.

Maka toleransi, sebagaimana konsep-konsep lainnya, mutlak bebas batas. Artinya, tidak dimaksudkan hanya untuk sebagian. Tapi untuk keseluruhan.

Ketika orang lain berdemo atas ketidaksetujuan mereka atas sesuatu, itu adalah ekspresi kebebasan dalam ruang lingkup demokrasi. Tapi, di saat umat Islam melakukan demo karena menuntut hak, mereka melakukan intoleransi. Bahkan, dianggap berbahaya dan makar.

Yang lebih runyam, dengan kehebatan propaganda yang didukung oleh media dan corporates, mereka mampu membalik konsep-konsep itu. Toleransi menjadi intoleransi. Dan intoleransi boleh berbalik menjadi “kebebasan ekspresi”.

Itu dunia yang penuh sandiwara dan kemunafikan!

 

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America

================

sumber:Republika oline