Aku Ingin Semulia Bahagia Rasulullah

BAGI semua orang Islam yang beriman, pastilah Rasulullah Muhammad diyakininya sebagai manusia teladan dalam segala hal. Pertanyaannya adalah apakah semua kita berkeinginan untuk meledani beliau? Semua orang Islam yang beriman berkeyakinan bahwa Rasulullah Muhammad adalah tuan dari semua nabi dan utusan, dan karenanya maka Nabi Muhammad adalah manusia paling mulia dan bahagia dari semua makhluk. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Peranyaannya, jika kita ingin bersama beliau dan mulia bahagia mengikuti beliau, inginkah kita mengikuti gaya hidup beliau?

Mari kita timbang-timbang posisi gaya hidup kita dengan posisi gaya hidup beliau. Satu hal saja sebagai ukuran paling mudah, yakni hubungan kita dengan harta duniawi. Gunung Uhud menawarkan diri untuk menjadi emas agar bisa dimiliki dan digunakan Rasulullah. Rasulullah menolaknya. Bagaimanakah dengan seandainya batu atau kerikil yang ada di sekitar kita menawarkan diri kepada kita untuk menjadi emas. Apakah kita akan menolak? Ataukah memang keajaiban seperti itu yang kita inginkan?

Banyak yang bertanya mengapa Rasulullah menolak? Ada beberapa jawaban yang bisa dikemukakan yang saya sarikan dari berbagai kitab bacaan saya selama ini. Jawaban pertama dan utama adalah untuk menunjukkan kepada umat manusia semuanya bahwa kepemilikan harta benda itu TIDAK MENJADI UKURAN MULIA BAHAGIA SESEORANG.

Benar bahwa Nabi Sulaiman itu kaya dan mulia, namuan Fir’aun juga kaya jaya namun menjadi manusia yang dilaknat Allah. Benar bahwa Sayyidina Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Urwah bin Zubair itu kaya mulia dan bahagia, namun Qarun juga kaya tapi tidak mulia bahagia. Kalau kita setuju, berhentilah memandang mulia seseorang karena kepelikan hartanya. Tanyakan dari mana hartanya dan untuk apa hartanya itu. Inilah ukuran mulia bahagia.

Kedua adalah bahwa ujian orang yang memiliki kekayaan harta jauh lebih tinggi atau lebih berat dibandingkan dengan ujian orang tidak memiliki kekayaan harta dunia. Buktinya mudah saja saja, lihatlah betapa yang punya harta banyak itu tidak ada yang menjamin lebih santai dan lebih nyenyak tidur serta tidak stress.

Yang punya potensi kehilangan sesuatu adalah yang memiliki sesuatu. Yang tidak memiliki apapun maka tak akan pernah kehilangan apapun. Yang kehilangan mobil adalah yang punya mobil, yang kehilangan jabatan adalah yang punya jabatan. Demikian juga kepemilikian yang lain. Yang berbagaia adalah yang menyatakan: “SEMUA INI ADALAH MILIK ALLAH YANG SEDANG DITITIPKAN KEPADA SAYA.”

Alasan lainnya mengapa Rasulullah menolak gunung UHud menjadi emas adalah karena khawatir umatnya nanti memiliki pekerjaan utama sebagai pencari harta duniawi. Tidak diberikan contoh berburu dunia saja kita bisa lihat betapa banyak manusia yang mengejar harta sampai melupakan teladan Rasulullah yang penting diaplikasikan dalam hidup ini. Termasuk saya, barangkali. Ya Allah bimbing kami menuju ridlaMu.

Masih banyak alasan yang lain yang “nonjok” banget pada gaya hidup kita sebagai umatnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan dan bagaimanakah gaya hidup terbaik yang harus kita tampilkan dalam hubungannya dengan harta ini. Apa plus minus kepemilikan harta dan mana yang lebih baik antara menjadi kaya, menjadi miskin dan menjadi sedang-sedang saja. Pertanyaan ini perlu dibahas dalam forum pengajian yang berdurasi panjang. Semoga ada kesempatan. Salam, AIM

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Jumlah Haji yang Dilakukan Rasulullah Setelah Hijrah

Berapa kali Nabi Muhammad SAW  berhaji dalam hidupnya? Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Berapa kali kamu berperang menyertai Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Tujuh belas kali.” Kata Abu Ishaq, “Kemudian Zaid bin Arqam bercerita kepadaku bahwa Rasulullah SAW
pernah berperang sembilan belas kali, dan beliau berhaji sekali setelah beliau berhijrah, yaitu haji wada’.” (Muslim bab Haji Nabi SAW).

Sementara itu Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah tinggal di Madinah selama sembilan tahun namun beliau belum berhaji.

Kemudian pada tahun kesepuluh beliau mengumumkan bahwa beliau akan berhaji, sehingga banyak orang yang hadir ke Madinah yang kesemuanya ingin turut serta bersama Rasulullah SAW dan melakukan amal ibadah seperti beliau.” (Muslim bab haji Nabi SAW)

IHRAM

Dia Bagaikan Ibu Bagi Nabi Muhammad

Kita ketahui bersama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggal wafat oleh ibunya saat beliau berusia kurang lebih enam tahun. Di usia kanak-kanak itu, ia diasuh oleh kakek kemudian pamannya. Saat bersama pamannya, Abu Thalib, inilah beliau mendapatkan seseorang yang tampil sebagai seorang pengganti ayahnya dan pengganti ibunya. Pengganti ayahnya adalah sang paman yang begitu menyayangi beliau. Dan pengganti ibunya adalah istri dari Abu Thalib yang juga masih bibi beliau dari sisi nasab. Ia adalah Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha.

Fatimah binti Asad adalah seorang sahabat perempuan yang saat wafat dikafani dengan pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini secuplik tentang kisah kehidupannya, radhiallahu ‘anha.

Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha adalah seorang wanita dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat. Ia memeluk Islam di Mekah setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya setelah ia wafat,

رحِمَكِ اللهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي؛ تَجُوعِينَ وَتُشْبِعِينِي ،وَتَعْرَيْنَ وَتُكْسِينِي وَتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبًا وَتُطْعِمِينِي تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ

“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru pen.) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”

Kehidupannya

Nama dan nasabnya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia adalah ibu dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 7/212). Ibu dari Fatimah adalah Hubba binti Haram bin Rawahah. Juga seorang wanita Quraisy (Ibnu Qutaibah: al-Ma’arif, 1/203).

Fatimah tumbuh besar di masa jahiliyah, di Kota Mekah (az-Zarkali: al-A’lam, 5/130). Ia menikah dengan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Dari keduanya lahirlah Ali bin Abu Thalib dan saudara-saudaranya. Yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far, Jumanah, Ummu Hani’. Semuanya memeluk Islam (Ibnu Qutaibah: al-Ma’arif, 1/203).

Kedudukan lainnya yang dimiliki oleh Fatimah binti Asad adalah wanita Bani Hasyim pertama yang memiliki putra seorang khalifah. Kemudian disusul oleh Fatimah binti Rasulullah. Yang putranya, Hasan bin Ali, juga menjadi seorang khalifah. Lalu Zubaidah, istri Harun al-Rasyid, ibu dari khalifah Abbasiah, al-Amin (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 7/212). Merekalah wanita-wanita ahlul bait nabi yang melahirkan khalifah.

Memeluk Islam

Fatimah binti Asad memeluk Islam setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib. Kemudian ia bersama anak-anaknya hijrah ke Madinah (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 3/130). Ia juga seorang periwayat hadits. Ada 40 hadits yang ia riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Umar Ridha Kahhalah: A’lamun Nisa Fi ‘Alamil Arabi wal Islam, 4/33).

Tidak hanya mengandalkan sisi kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah juga berusaha menjadi pribadi yang baik. Ia adalah seorang wanita shalihah dan bagus agamanya. Di antara bentuk kedekatan Nabi dengannya adalah Nabi sering mengunjunginya dan tidur siang di rumahnya (Ibnu Hajar: al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 8/269).

Wafatnya

Ada yang meriwayatkan bahwa Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha wafat sebelum hijrah. Pendapat ini tentu tidak benar. Yang benar adalah beliau wafat sekitar tahun kelima hijrah (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 9/41).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, tatkala Fatimah Ummu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anha wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas bajunya dan memakaikannya pada bibinya itu. Nabilah yang membaringkan sang bibi di makamnya. Ketika kuburnya sudah ditimbun, orang-orang bertanya,

يا رسول الله، رأيناك صنعت شيئًا لم تصنعه بأحدٍ، فقال صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي أَلْبَسْتُها قَمِيصِي لِتَلْبَسَ مِنْ ثِيَابِ الْجَنَّةِ، وَاضْطَجَعْتُ مَعَهَا فِي قَبْرِهَا لَيُخَفَّفَ عَنْهَا مِنْ ضَغْطَةِ الْقَبْرِ، إِنَّهَا كَانَتْ أَحْسَنَ خَلْقِ اللَّهِ إِلَيَّ صَنِيعًا بَعْدَ أَبِي طَالِبٍ».

“Hai Rasulullah, kami lihat Anda melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan kepada orang lain.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku pakaikan untuknya bajuku agar ia memakai pakaian dari surga. Aku masuk ke dalam pembaringannya di kuburnya agar ringan untuknya sempitnya kubur. Sesungguhnya dia adalah makhluk Allah yang paling berbuat baik kepadaku setelah Abu Thalib.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (6935) 7/87).

Dari Anas bin Malik radahillahu ‘anhu, ia berkata, “Tatkala Fatimah bin Asad bin Hasyim Ummu Ali radhiallahu ‘anhuma wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda,

رحِمَكِ اللهُ يا أمِّي كنْتِ أمِّي بعدَ أمِّي تجوعين وتُشْبِعيني وتَعْرَينَ وتُكْسيني وتَمْنعينَ نفسَكِ طيِّبًا وتُطْعِميني تُريدين بذلك وجهَ اللهِ والدَّارَ الآخرةَ»

“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru pen.) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”

Kemudian beliau perintahkan agar dimandikan tiga kali. Tatkala telah tersedia air yang sudah dicampuri dengan kapur barus, Nabi tuangkan air tersebut dengan tangannya. Kemudian beliau buka bajunya dan dikafankan kepada bibinya. Setelah itu dilapiskan di atasnya kain burdah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khattab, dan seorang budak laki-laki yang hitam untuk menggalikan makamnya.

Saat kedalaman tanah telah mencapai batas tertentu, Rasulullah sendiri yang menggalikan untuknya. Setelah cukup, Nabi turun ke liang kuburnya dan meletakkan sang bibi di pembaringannya. Beliau berdoa:

اللهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ اغْفِرْ لِأُمِّي فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Allah Yang Maha menghidupkan dan mematikan. Dialah Allah Yang Maha hidup tidak mengalami kematian. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Bimbinglah dia dalam hujahnya (menjawab pertanyaan kubur pen.). Lapangkanlah untuknya liang kuburnya dengan hak nabimu dan para nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”

Beliau menshalatkan bibinya dengan empat kali takbir. Dan memasukkanya ke liang lahad bersama Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq (Diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam Mujma’ az-Zawaid, 9/259. Dalam hadits ini terdapat Ruh bin Shalah. Seorang yang ditsiqatkan oleh Ibnu Hibban. Namun terdapat kedha’ifan padanya. Sementara perwai lainnya adalah rijal yang shahih. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath 12/351 (871), dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya, 3/121).

Sumber: https://islamstory.com/ar/artical/3408527/فاطمة-بنت-اسد?fbclid=IwAR2ZbaliY_qJwkYUDoPex-klDwY6gXCuxf5Q_zcQgzlz4vPV2UNCwSmk65I

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/6439-dia-bagaikan-ibu-bagi-nabi-muhammad.html

Mengapa Nabi Muhammad Diutus di Arab?

Usia bumi telah tua. Lebih tua dari masa pertama saat Adam dan istrinya, Hawa, menginjakkan kaki di permukaannya. Silih berganti zaman dan keadaan. Manusia yang hidup di atasnya pun bergiliran. Allah utus rasul-rasul untuk mereka. Menyempurnakan fitrah yang telah dibawa. Hingga akhirnya diutus Muhammad bin Abdullah ﷺ di Jazirah Arab.

Lalu timbul pertanyaan, “Mengapa Arab?” “Mengapa tanah gersang dengan orang-orang nomad di sana dipilih menjadi tempat diutusnya Rasul terakhir ini?” Tidak sedikit umat Islam yang bertanya-tanya penasaran tentang hal ini. Mereka berusaha mencari hikmahnya. Ada yang bertemu. Ada pula yang meraba tak tentu arah.

Para ulama mencoba menyebutkan hikmah tersebut. Dan dengan kerendahan hati, mereka tetap mengakui hakikat sejati hanya Allah-lah yang mengetahui. Para ulama adalah orang yang berhati-hati. Jauh lebih hati-hati dari seorang peneliti. Mereka jauh dari mengedepankan egoisme suku dan ras. Mereka memiliki niat, yang insya Allah, tulus untuk hikmah dan ilmu.

Zaid bin Abdul Karim az-Zaid dalam Fiqh as-Sirah menyebutkan di antara latar belakang diutusnya para rasul, khusunya rasul terakhir, Muhammad ﷺ, di Jazirah Arab adaalah:

Pertama: Jazirah Arab adalah tanah merdeka.

Jazirah Arab adalah tanah merdeka yang tidak memiliki penguasa. Tidak ada penguasa yang memiliki kekuasaan politik dan agama secara absolut di daerah tersebut. Berbeda halnya dengan wilayah-wilayah lain. Ada yang dikuasai Persia, Romawi, dan kerajaan lainnya.

Kedua: Memiliki agama dan kepercayaan yang beragam.

Mereka memang orang-orang pagan penyembah berhala. Namun berhala mereka berbeda-beda. Ada yang menyembah malaikat. Ada yang menyembah bintang-bintang. Dan ada pula yang menyembah patung –ini yang dominan-.

Patung yang mereka sembah pun bermacam ragam. Setiap daerah memiliki patung jenis tertentu. Keyakinan mereka beragam. Ada yang menolak, ada pula yang menerima.

Di antara mereka juga terdapat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan sedikit yang masih berpegang kepada ajaran Nabi Ibrahim yang murni.

Ketiga: Kondisi sosial yang unik mungkin bisa dikatakan istimewa tatkala itu. Mereka memiliki jiwa fanatik kesukuan (ashabiyah).

Orang Arab hidup dalam tribalisme, kesukuan. Pemimpin masyarakat adalah kepala kabilah. Mereka menjadikan keluarga sendiri yang memimpin suatu koloni atau kabilah tertentu. Dampak positifnya kentara saat Nabi ﷺ memulai dakwahnya. Kekuatan bani Hasyim menjaga dan melindungi beliau dalam berdakwah.

Apabila orang-orang Quraisy menganggu pribadi beliau, maka paman beliau, Abu Thalib, datang membela. Hal ini juga dirasakan oleh sebagian orang yang memeluk Islam. Keluarga mereka tetap membela mereka.

Keempat: Jauh dari peradaban besar.

Mengapa jauh dari peradaban besar merupakan nilai positif? Karena benak mereka belum tercampuri oleh pemikiran-pemikiran lain. Orang-orang Arab yang tinggal di Jazirah Arab atau terlebih khusus tinggal di Mekah, tidak terpengaruh pemikiran luar. Jauh dari ideologi dan peradaban majusi Persia dan Nasrani Romawi. Bahkan keyakinan paganis juga jauh dari mereka. Sampai akhirnya Amr bin Luhai al-Khuza’I kagum dengan ibadah penduduk Syam. Lalu ia membawa berhala penduduk Syam ke Jazirah Arab.

Jauhnya pengaruh luar ini, membuat jiwa mereka masih polos, jujur, dan lebih adil menilai kebenaran wahyu.

Kelima: Secara geografi, Jazirah Arab terletak di tengah dunia.

Memang pandangan ini terkesan subjektif. Tapi realitanya, Barat menyebut mereka dengan Timur Tengah. Geografi dunia Arab bisa berhubungan dengan belahan dunia lainnya. Sehingga memudahkan dalam penyampaian dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia. Terbukti, dalam waktu yang singkat, Islam sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ke Eropa dan Amerika.

Keenam: Mereka berkomunikasi dengan satu Bahasa yaitu bahasa Arab.

Jazirah Arab yang luas itu hanya memiliki satu bahasa untuk komunikasi di antara mereka, yaitu Bahasa Arab. Adapun wilayah-wilayah lainnya memiliki banyak bahasa. Saat itu, di India saja sudah memiliki 15 bahasa resmi (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Abu al-Hasan an-Nadawi, Cet. Jeddah: Dar asy-Syuruq. Hal: 22).

Bayangkan seandainya di Indonesia, masing-masing daerah berbeda bahasa, bahkan sampai ratusan bahasa. Komunikasi akan terhambat dan dakwah sanag lambat tersebar karena kendala bahasa saja. Dalam waktu yang lama, dakwah Islam mungkin belum terdengar ke belahan dunia lainnya karena disibukkan dengan kendala ini.

Ketujuh: Banyaknya orang-orang yang datang ke Mekah.

Mekah telah menjadi tempat istimewa sejak masa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Oleh karena itu, banyak utusan dari wilayah Arab lainnya datang ke sana. Demikian juga jamaah haji. Pedagang. Para ahli syair dan sastrawan. Keadaan ini mempermudah untuk menyebarkan risalah kenabian. Mereka datang ke Mekah, lalu kembali ke kampung mereka masing-masing dengan membawa berita risalah kerasulan.

Kedelapan: Faktor penduduknya.

Ibnu Khladun membagi bumi ini menjadi tujuh bagian. Bagian terjauh adalah kutub utara dan selatan. Inilah bagian yang ia sebut dengan bagian satu dan tujuh. Kemudian ia menyebutkan bagian dua dan enam. Kemudian bagian tiga dan lima. Kemudian menunjuk bagian keempat sebagai pusatnya. Ia tunjuk bagian tersebut dengan mengatakan, “wa sakanaha (Arab: وسكانها).

Penduduk Arab adalah orang-orang yang secara fisik proporsional; tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Tidak terlalu besar dan tidak kecil. Demikian juga warna kulitnya. Serta akhlak dan agamanya. Sehingga kebanyakan para nabi diutus di wilayah ini. Tidak ada nabi dan rasul yang diutus di wilayah kutub utara atau selatan. Para nabi dan rasul secara khusus diutus kepada orang-orang yang sempurna secara jenis (tampilan fisik) dan akhlak. Kemudian Ibnu Khaldun berdalil dengan sebuah ayat:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran: 110). (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Cet. Bairut: Dar al-Kitab al-Albani. Hal: 141-142).

Karena pembicaraan pertama dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang Arab, yakni para sahabat. Kemudian barulah umat Islam secara umum.

Secara realita, kita juga meyakini, memang ada bangsa yang unggul secara fisik. Contohnya ras Mongoloid. Sebuah istilah yang pernah digunakan untuk menunjuk karakter umum dari sebagian besar penghuni Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania. Memiliki ciri mata sipit, lebih kecil, dan lebih pendek dari ras Kaukasoid.

Ras Kaukasoid adalah karakter umum dari sebagian besar penghuni Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan dan India Utara. Walaupun penelitian sekarang telah merubah steorotip ini. Namun hal ini bisa kita jadikan pendekatan pemahaman, mengapa Ibnu Khladun menyebut Timur Tengah sebagai “sakanaha”.

Artinya ada fisik yang lebih unggul. Mereka yang sipit ingin mengubah kelopak mata menjadi lebih lebar. Mereka yang pendek ingin lebih tinggi. Naluri manusia menyetujui bahwa Kaukasia lebih menarik. Atau dalam bahasa lain lebih unggul secara fisik.

Namun Allah Ta’ala lebih hikmah dan lebih jauh kebijaksanaannya dari hanya sekadar memandang fisik. Dia lengkapi orang-orang Kaukasia yang ada di Timur Tengah dengan perangai yang istimewa. Hal ini bisa kita jumpai di buku-buku sirah tentang karakter bangsa Arab pra-Islam. Mereka jujur, polos, berkeinginan kuat, dermawan, dll. Kemudian Dia utus Nabi-Nya, Muhammad ﷺ di sana.

Mudah-mudahan bermanfaat…

Daftar Pustaka:
– Az-Zaid, Zaid bin Abdul Karim. 1424 H. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuria.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/5006-mengapa-nabi-muhammad-diutus-di-arab.html

Kelahiran Nabi Muhammad dan 5 Peristiwa Besar yang Mengiringinya

Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat agung bagi manusia, bahkan bagi alam semesta. Sebab beliau adalah rahmatan lil ‘alamin.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya: 107)

Berikut ini sejarah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan peristiwa-peristiwa besar yang mengiringinya.

Kelahiran Nabi Muhammad

Rasulullah Muhammad lahir di Mekkah pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah. Bertepatan 20 April 571 M. Ayahnya adalah Abdullah dan ibunya adalah Aminah.

Rasulullah biasa puasa Senin Kamis. Ketika ditanya tentang hari senin, beliau menjelaskan bahwa itu adalah hari lahirnya.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Rasulullah ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda: “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim)

Saat itu, bahkan hingga masa Islam, Arab belum memiliki angka tahun. Penamaan tahun diambilkan dari peristiwa besar yang terjadi pada tahun itu. Tahun lahirnya Rasulullah disebut tahun gajah karena pada saat itu terjadi penyerbuan pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Namun pasukan yang dipimpin Abrahah itu dihancurkan Allah sebelum mencapai Ka’bah.

Saat Rasulullah lahir, keluar cahaya hingga menerangi istana-istana di Syam. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah berkata, “Setelah bayiku lahir, aku melihat ada cahaya yang keluar dari jalan lahirnya, menyinari istana-istana di Syam.” Imam Ahmad juga meriwayatkan hal senada.

Saat Rasulullah lahir, ayah beliau Abdullah telah wafat. Ia wafat di Yatsrib (Madinah) saat diutus Abul Muthalib untuk mengurus kurma di sana.

Setelah bayinya lahir, Aminah mengirim utusan menemui Abdul Muthalib. Mendengar kabar gembira itu, Abdul Muthalib datang dengan penuh suka cita. Diambilnya bayi itu dan dibawahnya ke Ka’bah seraya berdoa kepada Allah.

Jangan heran jika sebagian orang Mekkah berdoa kepada Allah karena demikianlah ajaran Ibrahim dan Ismail yang masih tersisa. Hanya saja seiring dengan waktu telah terjadi banyak penyimpangan hingga pada kondisi kronis menyembah berhala dan berdoa kepada berhala.

Abdul Muthalib lantas memberikan nama Muhammad untuk cucunya itu. Nama yang belum dikenal di Arab dan mungkin belum pernah dipakai oleh siapapun.

Nasab Nabi Muhammad

Dari segi nasab (keturunan), Rasulullah adalah orang pilihan. Ia terlahir dari keturunan pilihan sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allah memilih Kinanah di antara keturunan Ismail, dan memilih Quraisy di antara keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim di antara suku Quraisy. Dan Allah memilihku di antara Bani Hasyim. (HR. Muslim dan Ahmad)

Ayah Rasulullah adalah Abdullah. Ia wafat pada usia 25 tahun. Merupakan laki-laki terpandang di kalangan Quraisy. Ia putra Abdul Muthalib, pemimpin kaum di Makkah yang memiliki otoritas pemeliharaan Ka’bah. Abdul Muthalib dikenal dengan gelar Al Fayyadh (Sang Dermawan) karena kedermawanannya.

Ibu Rasulullah bernama Aminah. Lengkapnya adalah Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Aminah adalah wanita paling terpandang di kalangan Quraisy. Baik karena nasabnya maupun kedudukannya.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri menjelaskan ada tiga bagian nasab Rasulullah yaitu:

  1. Bagian yang disepakati kebenarannya oleh para pakar sirah dan nasab, yakni sampai Adnan
  2. Bagian yang diperselisihkan. Yakni dari Adnan hingga Ibrahim ‘alaihis salam.
  3. Bagian yang di dalamnya ada hal-hal yang tidak benar. Yakni dari Ibrahim ‘alaihis salam ke atas hingga Adam ‘alaihis salam.

Bagian pertama dari nasab Rasulullah adalah 22 generasi yang namanya disepakati para pakar sirah. Yakni Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Peristiwa yang Mengiringi Kelahiran Nabi Muhammad

Ada lima peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Satu peristiwa besar itu terjadi sebelum Rasulullah lahir dan empat peristiwa besar lainnya terjadi setelah Rasulullah lahir.

1. Hancurnya Pasukan Gajah

Seperti disinggung di atas, Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah. Disebut tahun Gajah karena saat itu Abrahah membawa pasukan bergajah menyerang Ka’bah.

Abrahah adalah penguasa di Yaman. Ia membangun gereja besar di Kota Shan’a dengan maksud agar orang-orang berkunjung ke sana dan mendatangkan pemasukan besar bagi Yaman. Ia ingin menggeser kedudukan Ka’bah yang selalu ramai didatangi orang dari seluruh penjuru Arab.

Namun, bangunan yang megah dan indah itu tak kunjung ramai. Orang-orang Arab tetap berdatangan ke Makkah untuk mengunjungi Ka’bah yang memiliki nilai historis tinggi. Terlebih pada musim haji.

Syaikh Mahmud Al Mishri dalam Sirah Rasulullah menyebutkan, seorang laki-laki Arab dari Bani Kinanah masuk gereja tersebut dan meletakkan kotoran di dalamnya. Ini yang memicu kemarahan Abrahah hingga ingin menghancurkan Ka’bah.

Abarah menyiapkan pasukan dalam jumlah besar. Sebagiannya mengendarai gajah. Dengan sombong dan pongah mereka bergerak menuju Makkah. Tujuannya hanya satu, menghancurkan Ka’bah.

Orang-orang Makkah yang mendengar kabar itu merasakan ancaman besar. Pasukan bergajah itu bukan tandingan mereka. Bahkan Abdul Muthalib sebagai pemimpin Makkah pun tak bisa berbuat banyak. Ia menyerahkan perlindungan Ka’bah sepenuhnya kepada Allah.

Saat mengetahui 200 untanya dijarah Abarah, Abdul Muthalib menemui Abrahah meminta untanya dikembalikan.

“Kamu datang hanya untuk meminta untamu kembali? Lalu bagaimana dengan Ka’bah yang akan kuhancurkan?” Abrahah keheranan dengan sikap Abdul Muthalib.

“Unta itu milikku, maka aku memintanya kembali. Sedangkan Ka’bah itu milik Allah, maka Dia sendiri yang akan melindunginya,” jawab kakek Nabi Muhammad itu.

Abrahah merasa besar diri karena tak ada yang mampu melawannya. Unta Abdul Muthalib pun dikembalikan.

Namun belum sampai di Makkah, datang burung berbondong-bondong dari arah laut. Burung-burung itu membawa batu-batu panas dan menjatuhkannya ke pasukan Abrahah. Mereka pun jatuh bergelimpangan. Tewas mengenaskan.

Abrahah tidak langsung mati saat terkena batu itu. Namun luka parah. Ketika dilarikan ke Yaman, kondisinya semakin melemah. Dan akhirnya tewas dengan dada terbelah dan jantungnya keluar.

2. Keluar cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad

Peristiwa yang tak kalah ajaib adalah keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad. Cahaya itu keluar dan menerangi ke arah istana-istana di Syam.

Jika peristiwa gajah diabadikan Allah dalam Surat Al Fil, keluarnya cahaya ini diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan Imam Ahmad.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Aminah ibunda Rasulullah berkata, “Setelah bayiku lahir, aku melihat ada cahaya yang keluar dari jalan lahirnya, menyinari istana-istana di Syam.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Al Irbadh bin Sariyah dengan riwayat yang hampir sama.

Peristiwa ini memberikan isyarat bahwa kelak agama Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sampai ke Syam yang saat itu masih di bawah kekuasaan Romawi. Dan kita kemudian bisa melihat sejarah, Syam menjadi negeri muslim. Baitul Maqdis dibebaskan pada masa khalifah Umar bin Khattab. Bahkan Damaskus menjadi ibu kota khilafah Bani Umayyah. Dan hingga saat ini Suriah, Lebanon dan Palestina menjadi negeri-negeri muslim.

3. Runtuhnya 14 balkon istana Kisra

Runtuhnya 14 balkon istana Kisra saat kelahiran Nabi Muhammad ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Seakan memberi isyarat bahwa nantinya Persia akan jatuh.

Dan ternyata benar, Persia akhirnya jatuh. Peperangan terakhir yang kemudian disusul dengan jatuhnya Persia adalah perang qadisiyah.

4. Padamnya api yang biasa disembah majusi

Peristiwa besar lain yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad adalah padamnya api yang biasa disembah Majusi. Peristiwa ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Seakan memberi isyarat bahwa nantinya banyak orang Majusi masuk Islam.

Di kemudian hari, banyak orang majusi masuk Islam. Salah satunya yang paling terkenal adalah Salman Al Farisi.

5. Runtuhnya gereja di Buhairah

Runtuhnya gereja di Buhairah setelah ambles ke tanah ini juga diriwayatkan Al Baihaqi sebagaimana dua peristiwa sebelumnya. Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri mencantumkannya di Ar Rakhiqul Makhtum. Namun riwayat ini diperselisihkan.

Berbeda dengan peristiwa pasukan gajah dan keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad, yang keduanya disepakati para ulama.

Demikian sejarah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan peristiwa-peristiwa besar yang mengiringinya. Serta nasab beliau yang mulia. Semoga semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Keistimewaan Nabi Muhammad, Terlahir dalam Keadaan Sudah Terkhitan

Tidak disangsikan lagi bahwa Nabi Muhammad merupakan makhluk paling mulia di sisi Allah. Beliau diberi banyak kemuliaan dan keistimewaan oleh Allah, baik sebelum lahir, setelah lahir dan setelah wafatnya. Di antara keistimewaan yang diberikan oleh Allah adalah beliau terlahir dalam keadaan sudah terkhitan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Thabarani dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مِنْ كَرَامَتِيْ عَلَى اللهِ أَنْ وُلِدْتُ مَخْتُوْنًا وَلَمْ يَرَ أَحَدٌ سَوْأَتِيْ

Termasuk bagian kemuliaan dari Allah yang dianugerahkan kepadaku, aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan, dan tidak seorang pun melihat auratku.

Hadis ini dijadikan hujjah oleh sebagian ulama bahwa Nabi Saw terlahir dalam keadaan sudah terkhitan. Bahkan dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakr Syatha mengamini riwayat mengenai kelahiran Nabi Saw yang sudah terkhitan ini. Beliau berkata;

روي أن نبينا صلى الله عليه وسلم ولد مختونا كثلاثة عشر نبيا

Diriwayatkan bahwa Nabi kita Muhammad Saw dilahirkan dalam keadaan terkhitan, sebagaimana tiga belas nabi lainnya.

Selain Nabi Saw, menurut Syaikh Sulaiman Al-Bujairimi, terdapat beberapa nabi yang dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan. Beliau mengatakan bahwa secara keseluruhan, ada 15 nabi yang dilahirkan dalam keadaan terkhitan, sebagaimana beliau sebutkan dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib berikut;

وولد من الأنبياء مختوناً خمسة عشر نبياً : آدم ، وشيث ، ونوح ، وهود ، وصالح ولوط ، وشعيب ويوسف وموسى وسليمان وزكريا ، ويحيى وعيسى وحنظلة بن صفوان نبي أصحاب الرس ونبينا محمد

Lima belas orang nabi dari kalangan para nabi dilahirkan dalam keadaan terkhitan, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Handzalah bin Shafwan, dan Nabi Muhammad Saw.

BINCANGSYARIAH



Ulama: Jangan Contoh Tokoh Selain Nabi Muhammad

Pembina Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru Syekh H Ismail Royan meminta masyarakat agar tidak mencari teladan hidup selain Nabi Muhammad SAW. Sebab, Nabi Muhammad telah mencontohkan dengan baik segala sisi kehidupan.

“Semua contoh telah ada mulai dari beliau (Nabi Muhammad SAW) remaja, bekerja, berkeluarga atau memimpin masyarakat hingga memimpin negeri yang cukup luas, ” tutur Syekh H Ismail Royan usai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pelataran Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru, Senin (20/11) malam.

Dia mengatakan keteladanan Nabi Muhammad itu berlaku hingga akhir jaman karena selalu sesuai dengan kondisi yang ada. Pemimpin Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan ini berharap generasi muda saat ini tidak melupakan sejarah Nabi Muhammad SAW.

“Jangan cari contoh lain selain dari Nabi Muhammad,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Babussalam itu sendiri dihadiri ratusan orang, baik para santri maupun warga sekitar. Bahkan hadir pula sesepuh Tuan Guru Babussalam Syekh H Hasyim Al Syarwani, Gubernur Riau terpilih Syamsuar, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad itu dilakukan dengan cara zikir bersama serta mendengarkan kajian Ustadz Zulhendri di pelataran pondok. Pondok Pesantren Babussalam sendiri berdiri di dalam lahan seluas sekitar 10 hektare dan diresmikan pada 1985 oleh Imam Munandar, Gubernur Riau saat itu.

Rasulullah Sang Majikan Teladan

DALAM catatan sirah, Rasulullah ﷺ memiliki beberapa pembantu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam “Zādu al-Ma’ād” (1/113), menyebutkan beberapa pembantu nabi ﷺ di antaranya: Anas bin Malik (bagian melayani kebutuhan Rasulullah ﷺ), Abdullah bin Mas`ud (bagian pembawa sandal dan siwaknya), `Uqbah bin `Āmir al-Juhani (bagian pemandu keledainya), Asla` bin Syuraik (bagian urusan safari), Bilal (sebagai Mu`adzin), Sa`ad maula Abu Bakar, Abu Dzar al-Ghifari, Aiman bin `Ubaid (bagian menyiapkan tempat bersuci dan yang berkaitan dengannya).

Bagi yang membaca lembaran hayat Nabi, interaksi beliau bersama pembantu sangat mengesankan. Sebagai contoh, simak baik-baik pernyataan `Aisyah berikut ini, “Rasulullah tak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, baik itu perempuan, maupun pembantu, melainkan dalam jihad (perang) di jalan Allah .” (HR. Muslim).

Sebuah kesaksian luar biasa yang menggambarkan kelembutan dan kasih sayang rasul ﷺ kepada pelayannya.

Sebagai tuan dari pembantunya, beliau ﷺ mengingatkan dengan cara yang baik dan tak pernah membentak.

Ini bisa dilihat dari kesaksian Anas bin Malik, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau ﷺ menyuruh Anas untuk suatu keperluan. Ia pun menjawab: “Demi Allah, aku tidak mau pergi (seolah-olah Anas tidak mau melakukan perintah Rasulullah ﷺ, namun hal itu terjadi karena beliau masih kecil), akan tetapi dalam hatiku aku bertekad akan pergi untuk melaksanakan perintah Nabi kepadaku.”

Lalu akhirnya Anas pun pergi, hingga melewati beberapa anak yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ memegang tengkuknya (leher bagian belakang) dari belakang.

Anas bercerita: “Lalu aku menengok ke arah beliau, dan beliau tersenyum.” Lalu kata beliau: ‘ Wahai, Anas kecil! Sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan?’ “Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah..” Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, selama sembilan tahun aku membantu Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah mengetahui beliau menegurku atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan: “Mengapa kamu melakukan begini dan begitu.” ataupun terhadap apa yang tidak aku kerjakan, dengan perkataan: “Kenapa tidak kamu lakukan begini dan begini.” (HR. Muslim).

Interaksi luhur dengan pembantu juga bisa dilihat dalam nasihat beliau berikut yang ditujukan kepada Abu Dzar al-Ghifari, “Saudara-saudara kalian adalah budak dan pembantu kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan (kekuasaan) kalian. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (kekuasaannya), hendaklah ia memberinya makanan dari apa-apa yang dia makan, memberinya pakaian dari jenis pakaian apa yang dia pakai, dan janganlah kalian membebani (memberi tugas) mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.”(HR. Bukhari).

Pada hadits itu dijelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan agar pelayan diperlakukan sama dengan majikannya. Sehingga, tidak ada yang namanya diskriminasi atau merendahkan profesi pembantu. Mereka –seperti halnya manusia lainnya- memiliki hak untuk memakai pakaian dan makanan yang layak.

Di samping itu, yang tak kalah penting adalah jangan membebaninya tugas di luar kemampuannya. Bahkan, terkait masalah gaji, beliau juga pernah mengingatkan:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Artinya, jangan sampai menyepelekan hak dari pesuruh, pembantu atau pekerja. Bila perlu, gaji segera diberikan sebelum keringatnya kering.

Lebih dari itu, Anas menceritakan, saat pembantu nabi ﷺ (anak Yahudi) sedang sakit, dengan cepat beliau ﷺ membesuknya. Beliau juga mendakwahkan Islam padanya. Dengan suka hati –di samping dukungan orang tuanya-, akhirnya pelayan tersebut masuk Islam. Demikianlah akhlak dan interaksi Nabi dengan para pembantunya (HR. Bukhari).

Sebagai tuan atau majikan, beliau mampu menunjukkan tauladan terbaik, sehingga menimbulkan kesan mendalam bagi pembantu-pembantunya sebagaimana Anas bin Malik dan lainnya. Maha Benar Allah yang berfirman dalam Kitab SuciNya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

“Dan sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Qs. Al-Qalam: 4).

Dengan akhlak luhur, beliau sukses menjadi majikan teladan yang patut diteladani oleh semua manusia.*/Mahmud Budi Setiawan

HIDAYATULLAH

Ketika Rasulullah Menjahit Pakaian dan Perbaiki Sandal

Sikap Teladan Rasululah sallallahu alaihi wasallam di kehidupan sehari-hrinya.
Rasulullah sallalllahu alaihi wasallam adalah utusan Allah subahanhau wa ta’ala yang diberikan tugas yang berat, yaitu menegakkan Islam di dunia ini. disamping beliau adalah seorang Rasul, Rasulullah juga memiliki sikap dan akhlak yang sempurna yang membuat takjub dan pantas untuk diteladani.

Walaupun begitu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah seorang manusia. Memiliki tugas yang berat, Rasulullah tidak pernah melupakan perannya dalam keluarga. Beliau membantu istri-istrinya dalam rumah tangga, beliau juga bersosialisasi denga lingkungan sekitar.

Dari sikap teladannya ini mengajarkan kaum Muslim agar semua pekerjaan yang ada di dunia  tidaak boleh menghalangi dirinya melakukan pekerjaan kecl yang sangat bernilai dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Dalam buku Teladan Rasulullah yang ditulis oleh Dr. Ahmad Hatta, disebutkan beberapa sikap teladan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menjadi sunnah dan mendatangkan pahala bila dikerjakan, di antaranya:

1. Melakukan pekerjaan rumah.

Aisyah meriwayatkan, “Aku pernah ditanya tentang apa yang telah diperbuat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di rumhnya.” Aisyah menjawab, “Rasulullah senantiasa melakukan pekerjaan rumah tangga (membantu urusan rumah tangga). apabila waktu shalat tiba, maka beliau pun keluar untuk shalat.”(HR. Bukhari)

2. Menjahit pakaian dan memperbaiki sandal.

Aisyah meriwayatkan, bahwa ia ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah di rumahnya. ‘Aisyah menjawab. “Beliau menjahit pakaiannya dan memperbaiki sandalnya sendiri.”
Aisyah menambahkan, “Beliau juga senantiasa mengerjakan apa yang dikerjakan para lelaki di rumah mereka.”(HR. Ahmad)

3. Mengunjungi Anak Kecil Yang Sakit.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Dahulu ada seorang anak laki-laki Yahudi yang senantiasa melayani Rasulullah sallallhu alaihi wasallam kemudian ia pun sakit. Lalu Rasulullah pun datang menjenguknya kemudia duduk disebelah kepalanya dan bersabda kepadanya, ‘Masuk Islamlah’ Anak Yahudi itu melihat kea rah bapaknya sementara bapaknya itu berada di sisinya. Lalu, bapaknya berkata kepadanya, ‘Patuhilah Abu al Qasim (Rasulullah sallallahu alaihi wasallam)’. Akhirnya anak Yahudi itu pun masuk Islam. kemudian, Rasulullah keluar seraya bersabda, ‘Segala puji bagi Allag yang telah menyelamatkanya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

 

REPUBLIKA

Teladan Rasulullah Mempersatukan Umat

Peringatan Maulid Nabi tahun ini jatuh pada Jumat (1/12) besok. Maulid Nabi merupakan momentum untuk mempererat ikatan persaudaraan umat Islam, sehingga tercipta persatuan yang kokoh dan harmonis di tengah masyarakat.

Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Prof Muhammadiyah Amin mengatakan bahwa dalam rangka memperingati Maulid Nabi, umat Islam harus meneladani cara Nabi Muhammad mempersatuan umat yang berbeda keyakinan saat berhijrah ke Madinah.
“Jadi pertama bahwa Nabi Muhammad menyatukan umat yang berbeda. Jadi jangankan sesama umat Islam tapi umat yang berbeda keyakinan saja bisa disatukan,” ujarnya kepada Republika.co.id, Kamis (30/11).
Ia mengatakan, Nabi Muhammad pernah menyatukan antara suku Suku Aus dan Khazraj yang telah bermusuhan sejak zaman jahiliyah. Ketika Nabi berhijrah dari Makkah ke Madinah, permusuhan di antara mereka pun berhenti karena Rasulullah telah mendamaikannya.
“Waktu hijrah dari Makkah ke Madinah bisa menyatukan antara kaum yang berbeda-beda itu. Di kalangan umat sendiri juga harus bisa mempersatukan umat. Karena itu, kami berharap bahwa yang perlu diteladani dari nabi itu meningkatkan kesatuan dan persatuan umat,” kata Muhammadiyah.
Islam sendiri menyatakan bahwa seluruh kaum Muslimin adalah bersaudara sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 10, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”.
Saat hijrah ke Madinah, Rasulullah berhasil mempersatukan umat muslim menjadi bersaudara dan Rasulullah membuat perjanjian dengan kaum Yahudi untuk bersahabat. Saling tolong menolong terutama bila ada serangan musuh di Madinah dan mereka harus sama-sama memperhatikan negeri.
Selain itu kaum Nasrani juga merdeka memeluk agamanya dan bebas beribadah menurut kepercayaan mereka. Itulah salah satu perjanjian yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.