Masjid Manakah yang Pertama Kali Dibangun Rasulullah?

Hampir semua umat Islam akan serempak menjawab masjid Quba. Memang benar, masjid inilah yang pertama kali didirikan Rasulullah SAW, saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beberapa kilometer sebelum memasuki Madinah, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar membangun masjid di daerah Quba, yang sekarang dinamakan dengan Masjid Quba.

Masjid ini didirikan pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 M. Ketika itu, Rasul SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk segera berhijrah dan menghindari kekejaman kafir Quraisy.

Dalam upaya hijrah itu, lokasi pertama yang disinggahi Rasulullah SAW adalah Gua Tsur. Di dalam gua ini, Rasulullah SAW bersembunyi bersama Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy. Setelah kondisinya dirasa aman, Nabi SAW kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Rasul memilih jalan yang berbeda dari jalan umum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pertemuan secara langsung dengan orang-orang kafir Quraisy.

Dan sebelum tiba di Madinah, Rasul sempat singgah di beberapa tempat dan salah satunya adalah Quba. Beliau tinggal di daerah ini selama beberapa hari, sambil menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib RA dari Makkah, bersama rombongan. Ketika itu, saat akan berhijrah, Ali diperintahkan Rasulullah SAW untuk menggantikannya tidur di tempat tidur Rasul. Ini dimaksudkan untuk mengelabui perhatian kaum kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi SAW.

Quba adalah satu daerah yang terletak di wilayah Madinah. Jaraknya sekitar dua mil atau kurang lebih lima kilometer dari pusat kota Madinah. Hanafi al-Malawi dalam bukunya Tempat Bersejarah yang dikunjungi Rasulullah SAW, menjelaskan, Nabi SAW tinggal di Desa Quba selama empat hari dan kemudian membangun sebuah masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Quba.

Inilah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketakwaan Rasulullah SAW kepada Allah SWT. ”Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah [9]: 108).

Menurut hadis yang diriwayatkan Tirmidzi RA, orang yang melakukan shalat di Masjid Quba sama pahalanya dengan melaksanakan umrah. Seperti disebutkan dalam Sahih Bukhari, Nabi SAW terbiasa mengunjungi Masjid Quba dengan berjalan kaki atau jika tidak seminggu sekali. Abdullah bin Umar biasa mengikuti sunah ini.

Dalam riwayat lain disebutkan, Masjid Quba ini adalah salah satu masjid yang paling disucikan (dimuliakan) oleh Allah setelah Masjid al-Haram (Makkah), Masjid Nabawi (Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina). Selama berada di Quba, jelas Al-Mahlawi, Rasul SAW tinggal di rumah Kultsum bin al-Hadam bin Amr al-Qais, seorang lelaki tua yang masuk Islam sebelum Rasul hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah).

Para sejarawan menyebutkan, tanah yang menjadi lahan pembangunan Masjid ini mulanya adalah lapangan milik Kultsum bin Hadam, yang biasa digunakan untuk menjemur kurma. Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Allah SWT menyebutnya dengan dasar takwa, sebagaimana diterangkan dalam ayat 108 di atas.

Hal ini dikarenakan perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Allah yang harus dilalui dengan penuh rintangan dan halangan. Kaum kafir Quraisy hampir setiap saat selalu memantau dan mengawasi aktivitas Nabi SAW. Dan ketika kesempatan berhijrah datang, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mendirikan masjid sebagai pusat perjuangan dan dakwah Islam. Ini pulalah yang dilakukan Rasulullah SAW begitu tiba di Madinah dengan mendirikan Masjid Nabawi, setelah sebelumnya membangun Masjid Quba.

IHRAM

Ramadan, Bulan Bazar Pahala

BULAN Ramadan adalah bulan bazar pahala. Di bulan mulia ini, Allah SWT melipatgandakan perhitungan amal ibadah sekalian hamba-Nya.

Ramadan sekaligus bulan perjamuan Ilahi. Di bulan ini, Allah membentangkan jalan lapang bagi hamba-Nya. Beragam amal ibadah sesuka hati boleh dipilih, semampu hamba bisa menjalankan.

Allah mengungkapkan puasa sebagai ibadah rahasia antara hamba dengan diri-Nya. Di jamuan Ramadan ini, ibadah salat, membaca Alquran, zikir, sedekah meski sebiji kurma, adalah jalan menuju keridaan-Nya.

Kita berusaha memintal benang ibadah demi ridha-Nya, menjalankan ibadah di bulan berkah karena mencintai Sang Kekasih. Simak kisah semut dengan Nabi Daud as berikut, ihwal pecinta yang rela mati demi menggapai kekasihnya.

Suatu ketika, saat melewati padang pasir, Nabi Daud melihat seekor semut mengangkut debu dengan perlahan, dari gundukan kecil dan memindahkannya ke tempat lain. Nabi Daud pun meminta Allah SWT untuk mengungkap rahasia semut itu.

Semut itu berkata, “Saya mempunyai kekasih yang telah menetapkan suatu syarat untuk terjadinya penyatuan kami, yakni dengan membawa semua debu dari bukit itu ke tempat ini.”

“Berapa lama engkau mampu untuk memindahkan gundukan besar debu tersebut? Dan apakah hidupmu cukup untuk melakukan itu?” Tanya Nabi Daud.

“Saya tahu semua ini. Namun kebahagiaan saya terletak di sana, yaitu ketika saya mati di jalan ini,” kata semut. “Karena niscaya saya mati di jalan sang kekasih!”[IslamIndonesia]

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382048/ramadan-bulan-bazar-pahala#sthash.j2eH3c01.dpuf

Ramadan Bulan Melatih Kesabaran

ADALAH sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

Di antara faedah yang besar itu adalah diraihnya kesabaran, baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi takdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Berikut penulis bawakan terjemah dari makalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Taala, yang bersumber dari situs resmi beliau [1].

Berkata Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Taala, “Sesungguhnya kesabaran adalah asas yang terbesar bagi setiap akhlak yang indah dan bagi upaya menghindari akhlak yang hina. Dan sabar itu adalah menahan diri dari perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih rida Allah dan pahalanya.”

Termasuk cakupan kesabaran adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, dalam menghindari maksiat kepada Allah dan dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba). Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini- tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.

– Ketaatan-ketaatan -khususnya yang berat, seperti jihad di jalan Allah, ibadah yang kontinyu, seperti menuntut ilmu dan terus menerus berucap dan berperilaku yang bermanfaat- (semua itu) tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran melakukannya dan melatih diri untuk terus menerus, senantiasa melakukannya dan membiasakan diri dengannya. Jika melemah kesabaran, melemah pula amalan-amalan saleh ini, bahkan bisa jadi berhenti dilakukan.

– Dan demikian pula menahan diri dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan -khususnya kemaksiatan yang hawa nafsu berselera tinggi terhadapnya- tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran dan berusaha untuk sabar dalam menyelisihi hawa nafsu dan tahan merasakan beratnya hal itu.

– Demikian pula musibah-musibah, ketika menimpa seorang hamba, sedangkan ia hendak menghadapinya dengan rida, syukur dan memuji Allah atas anugerah musibah itu[2], tidaklah bisa muncul sikap-sikap tersebut kecuali dengan sabar dan mengharap pahala Allah.

Kapanpun seorang hamba melatih diri untuk sabar dan mempersiapkan diri untuk tahan di dalam merasakan berat dan sulitnya hal itu, bersungguh-sungguh dan berjuang untuk menyempurnakan sikap-sikap tersebut, maka akibatnya adalah keberuntungan dan kesuksesan.

Dan tidaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu dan diiringi dengan kesabaran melainkan ia akan membawa kemenangan, namun orang yang bersungguh-sungguh seperti ini jumlahnya sedikit.

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadan ini dan di sisa umurnya.

Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu terdapat dalam beberapa hadis, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang shallallahu alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadan dengan “bulan kesabaran”.

Hadis Tentang Bulan Ramadan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadan ini dan di sisa umurnya.

Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu terdapat dalam beberapa hadis, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang shallallahu alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadan dengan “bulan kesabaran”.

Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Hadis Abu Qotadah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. [3]

“Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir, dari Al-Arabii berkata saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dan beliau menyebutkan hadis bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan menghilangkan wahar[4] dada”. [5]

An-Nasa`i meriwayatkan dari Al-Bahili radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan” [6]

Dalam ketiga hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mensifati bulan Ramadan sedbagai bulan kesabaran, hal itu dikarenakan terkumpul dalam bulan Ramadan seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba)

Penjelasannya sebagai berikut:

Di dalam bulan Ramadan terdapat ibadah puasa, salat Tarawih, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, zikir, doa, tobat, istighfar dan selainnya dari berbagai macam ketaatan-ketaatan, dan (semua) ini membutuhkan kesabaran, agar seseorang bisa melakukannya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama.

Di dalam bulan Ramadan terdapat sikap menahan lisan dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota tubuh lainnya dari melakukan seluruh kemaksiatan, dan (semua) ini (tertuntut) di bulan Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan kesabaran, sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya agar tidak terjatuh kedalamnya.

Di dalam bulan Ramadan terdapat sikap meninggalkan makan, minum dan semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya.

Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat (yang halal) dan kelezatan (yang mubah), seperti bersetubuh dan pendahuluannya, dan (semua) ini jiwa tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka (kesimpulannya) Ramadan mencakup seluruh jenis kesabaran.[Sa’id Abu Ukkasyah/muslimordi]

Catatan kaki

[1] dalam situs resmi beliau : http://al-badr.net/muqolat/2516

[2] Hakekatnya musibah yang menimpa dunia seseorang itu adalah anugerah Allah kepada hamba-Nya, karena banyak faedah yang didapatkan dari adanya musibah tersebut, bagi orang yang beriman.

[3] [Musnad Imam Ahmad (75678965) dan Imam Muslim (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].

[4] Wahar dada adalah benci & memusuhi serta waswas hati, ada yang berpendapat: benci & memusuhi dalam hati serta marah dan ada pula yang berpendapat selainnya. [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm]

[5] Musnad Imam Ahmad (22965). Dan Hadits dengan lafadz yang sama diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Ath-Thabarani dan Al-Baghawi terdapat dalam Shahiih Jaimiish Shaghiir 3804, [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm].

[6] HR. An-Nasa`i ( 2756) , lihat Shahiihul Jaami (3794).

 
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382760/ramadan-bulan-melatih-kesabaran#sthash.YAjVouOh.dpuf

Puasa Terlama 21 Jam Tercepat 11 Jam Sehari, Ini Daftar Negaranya

Muslim di seluruh dunia sedang menjalani ibadah puasa Ramadan 1438 Hijriah atau 2017 Masehi. Selama satu bulan, umat Islam akan menahan lapar dan haus sejak fajar sampai matahari terbenam. Lama berpuasa di tiap negara berbeda-beda karena bergantung pada lamanya matahari menyinari suatu daerah.

Lamanya matahari menyinari suatu daerah, biasanya terkait dengan musim. Musim panas yang saat ini berlangsung di Cina, misalnya. Di sana durasi waktu umat Islam untuk menahan lapar dan minum sekitar 16 jam. Sedangkan di Australia yang kini sedang musim dingin, waktu puasanya relatif pendek sekitar 11 jam.

Durasi puasa di Indonesia tergolong sedang: tidak lama dan tidak pendek, sekitar 13 jam sehari. Berikut ini durasi lama berpuasa di pelbagai negara.

Benua Eropa
Islandia | 21 jam
Finlandia | 19 jam 56 menit
Norwegia |19 jam 48 menit
Rusia | 19 Jam 7 menit
Jerman | 18 jam 51 menit
Inggris | 18 jam 34 menit
Prancis | 17 jam 11 menit
Spanyol | 16 jam 43 menit
Turki | 16 jam 40 menit
Benua Amerika
Greenland | 21 jam 2 menit
Kanada | 17 jam 24 menit
Amerika Serikat | 16 jam 29 menit
Kolombia | 13 jam 33 menit
Peru | 12 jam 42 menit
Argentina | 11 jam 32 menit

Benua Afrika
Nigeria | 13 jam 50 menit
Ghana | 13 jam 43 menit
Kenya | 13 jam 17 menit
Zimbabwe | 12 jam 26 menit

Benua Australia
Selandia Baru| 11 jam 37 menit
Australia | 11 jam 35 menit

Benua Asia
Kazakstan| 18 jam 12 menit
Cina | 16 jam 14 menit
Jepang | 15 jam 45 menit
India | 15 jam 5 menit
Taiwan | 14 jam 47 menit
Hong Kong | 14 jam 35 menit
Brunei | 13 jam 34 menit
Malaysia | 13 jam 29 menit
Indonesia | 13 jam 2 menit

Timur Tengah
Iran | 16 jam 4 menit
Suriah | 15 jam 52 menit
Yordania | 15 jam 42 menit
Mesir | 15 jam 36 menit
Arab Saudi | 14 jam 41 menit
Yaman | 14 jam 18 menit

AHMAD FAIZ | GULFNEWS | ALJAZEERA

Tips Berpuasa Aman bagi Penderita Maag

Para penderita maag harus memperhatikan asupan makanan dan minuman saat berpuasa.  

“Sebaiknya menghindarkan diri dari makanan yang menyebabkan atau memperberat gejala sakit maag,” kata Dokter Ari Fahrial Syam, spesialis Penyakit Dalam dari Departemen Ilmu Panyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Berikut sederet makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari, saran dari Ari Fahrial Syam, saat ditemui di Jakarta, Rabu, 31/5.

  1. Hindari makanan minuman yang banyak mengandung gas dan terlalu banyak serat. Misalnya: sayuran tertentu (sawi, kol), buah-buahan tertentu (nangka, pisang ambon), makanan berserat tertentu (kedondong, buah yang dikeringkan), serta minuman yang mengandung gas (seperti minuman bersoda).
  2. Hindari makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung, seperti kopi, minuman beralkohol 5-20 persen, anggur putih, sari buah sitrus atau susu full cream.
  3. Hindari makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung.  Makanan jenis ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung. Misalnya: makanan berlemak, kue tar, cokelat, dan keju.
  4. Hindari makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, yaitu makanan yang mengandung cuka dan pedas, merica, serta bumbu yang merangsang.
  5. Hindari makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan. Misalnya: alkohol, cokelat, makanan tinggi lemak, dan gorengan.
  6. Hindari sumber karbohidrat, seperti: beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung, ubi singkong, tales, dan dodol.
  7. Hindari asupan yang meningkatkan gas di dalam lambung, misalnya permen karet dan merokok.

 

 

TEMPO

Bolehkah Penderita Maag Berpuasa?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Departemen Ilmu Panyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Ari Fahrial Syam mengatakann hikmah dari puasa Ramadan yaitu ‘berpuasalah agar kamu sehat’. “Jadi jelas jawabannya bagi orang yang sakit maag apalagi yang tidak mempunyai sakit maag diwajibkan berpuasa agar menjadi sehat,” kata Ari dalam pesan tertulis kepada Tempo, Kamis, 31 Mei 2017.

Namun, pertanyaan berikutnya apakah ini berlaku bagi semua yang sakit maag? “Tentu kalau seseorang sedang mengalami sakit maag yang akut, sedang mual dan muntah, bahkan muntah darah atau buang air besar hitam mereka jelas tidak boleh berpuasa,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Jaya ini.

Ari menjelaskan, secara umum sakit maag dengan istilah medis yang sering digunakan Dispepsia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu sakit maag fungsional dan sakit maag organik. “Kepastian pembagian ini tentu selelah dilakukan peneropongan dengan alat yang disebut endoskopi,” kata Ari yang juga menjadi Ketua Umum PB Perhimpunan Gastrointestinal Indonesia (PEGI).

Dispepsia fungsional terjadi apabila pada pemeriksaan lebih lanjut dengan endoskopi (teropong saluran pencernaan atas) tidak didapatkan kelainan secara anatomi. Adapun dispepsia organik adalah secara pemeriksaan lebih lanjut dengan endoskopi didapatkan kelainan secara anatomi.

“Misalnya luka dalam atau luka lecet pada kerongkongan, lambung atau usus dua belas jari, polip pada kerongkongan, lambung atau usus dua belas jari serta kanker pada organ pencernaan tersebut,” kata dia.

Menurut Ari, pada saat berpuasa, terutama setelah 6-8 jam perut kosong akan terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala sakit maag. “Keadaan ini biasanya berlangsung hanya pada satu pekan puasa pertama dan gejala ini Insya Allah tidak dirasakan lagi pada minggu-minggu berikutnya,” ujarnya.

Pada orang yang sehat, Ari melanjutkan, keadaan ini dapat diatasi dengan pilihan makan yang tepat saat berbuka dan sahur, dan kegiatan yang tidak menyebabkan terjadinya peningkatan udara di dalam lambung, serta peningkatan asam lambung. Adapun pada orang yang memang terdapat kelainan organik, puasa akan memperberat kondisi sakit lambungnya jika tidak diobati dengan tepat.

Namun, jika sakit lambungnya diobati, mereka yang mempunyai sakit lambung tadi dapat melakukan ibadah puasa seperti orang normal umumnya. “Karena itu, saya sampaikan bagi para penderita sakit maag agar pergi ke dokter untuk mengevaluasi apakah sakit maag yang diderita, termasuk yang mempunyai kelainan organik atau fungsional,” kata Ari.

 

AFRILIA SURYANIS/TEMPO

Mau Masuk Surga Tanpa Hisab? Inilah Tipsnya

SEORANG pengajar melalui aplikasi messengernya menuliskan kalimat: Masuk surga tanpa hisab. Kalimat itu tentu mengundang pertanyaan, juga rasa keingintahuan yang tinggi oleh teman di daftar pertemanan; apakah bisa?

Apa yang tidak mungkin bagi Allah bila Allah sudah berkehendak? Jadi fayakun. Sosok pemimpin yang hasil pencitraan dan op(l)osan saja mudah bagi Allah untuk menjatuhkan dan mempermalukan sedemikian rupa tanpa rakyat yang kerja keras menurunkan.

Ya, tawakkal. Balasan Allah bagi orang yang mempunyai tawakkal tinggi sungguh tak tanggung-tanggung. Mereka akan masuk surga tanpa hisab. Rasulullaw Saw bersabda:

“Akan masuk surga dari ummatku 70 ribu orang tanpa hisab.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jampi, tidak bertathoyyur (bersikap pesimis karena sesuatu), tidak melakukan kay (berobat dengan besi yang dipanaskan) dan kepada Allah mereka bertawakal”. (HR.Muslim)

Sementara itu, Mufassir Ibnu Katsir menjelaskan tentang hakikat tawakkal:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak mengharapkan, menuju, berlindung, memohon bantuan dan mencintai kecuali hanya karena Allah semata. Mereka tahu bahwa apa yang dikehendaki takkan terjadi. Dialah yang mengatur kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dialah yang Maha Cepat hisab-Nya”.

Said bin Jubari pernah mengatakan:”Tawakal kepada Allah merupakan puncak keimanan.”

Begitulah. Mudah bagi Allah untuk memasukkan kita ke surga tanpa hisab. Wallahualam.[BersamaDakwah]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2382014/mau-masuk-surga-tanpa-hisab-inilah-tipsnya#sthash.jJiCX5x5.dpuf

Janji-janji Allah kepada yang Telah Menikah

KETIKA seorang Muslim-pria atau wanita-akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping.

Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada perasaan keraguan. Namun, ada juga muncul rasa kekhawatiran. Bagi calon suami, maka rasa khawatir menghantui pikirannya. Khawatir bagaimana nanti setelah menikah? Apakah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga atau tidak? Bagaimana nanti setelah mempunyai anak, mampukah membimbing dan mendidik mereka? Apalagi kebutuhan hidup sehari-hari semakin mahal dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak memiliki kekhawatiran soal ekonomi dan sudah memiliki calon pasangan, namun sengaja tidak segera menikah. Mereka berasalan, bahwa menikah itu tidak gampang, harus menemukan kecocokan dulu, harus berpendidikan tinggi dulu, harus kaya terlebih dulu. Maka hal itu akan menjadi tumpukan dosa jika melewati masa-masa matang tidak mempersibuk diri dengan kebaikan.

Persoalan utama seseorang yang akan menikah adalah penyakit ragu-ragu. Jika penyakit tersebut hinggap dalam pikiran dan hati seseorang, maka saat itu juga waktu yang paling tepat untuk introspeksi diri terhadap keyakinannya. Karena itulah kunci utama dalam melangkah ke depan dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup.

Berkaitan dengan kekhawatiran itu, yang karenanya seseorang tidak segera menikah padahal sudah mempunyai calon pasangan, Allah Taala berkalam,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nur [24]: 32)

Jika memang Allah Taala berjanji demikian, kenapa harus ragu? Jika memang janji dari Zat yang Mahabenar itu sudah jelas tertulis di dalam al-Quranul Karim, mengapa mesti ada ketakutan untuk segera menikah? Padahal, calon pasangan sudah ada. Padahal, umur sudah waktunya dan memang pantas segera menikah.

Maka jalan keluarnya adalah berikhtiar. Jika berikhtiar sudah dilakukan, maka jangan pernah berhenti sekaligus berdoa. Percayalah, Allah Taala telah menentukan saat-saat yang tepat dan terbaik bagi hamba-Nya yang tak pernah putus asa dari Rahmat-Nya.

Adalah kewajiban kita untuk mempercayai janji Allah. Jangan sampai bisikan-bisikan setan menyusup ke dalam hati. Karena itu dapat menggoyahkan keimanan kita terhadap kebenaran janji Allah Taala, termasuk ketika Allah Taala berjanji akan memampukan hamba-Nya yang miskin bila menikah. Tiada yang sulit bagi Allah Taala jika ingin memberikan karunia kepada hamba-Nya. Sungguh, Allah Taala Maha Pemurah dan Pemberi rezeki. Tinggal kita meyakini atau tidak. Dengan keyakinan itu, hidup kita akan optimis dan selalu berpikir posititf.

Berkaitan dengan karunia Allah Taala, yang dimaksud adalah rezeki. Rezeki dapat berupa materi atau non materi. Namun dikatakan rezeki jika di dalamnya terdapat manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Misalnya, seorang ikhwan tidak memiliki sepeda motor yang dapat memberikan manfaat yang banyak setelah menikah. Pergi ke mana-mana naik angkutan umum atau bis. Namun, dengan kebaikan-kebaikan yang tulus, maka Allah Taala membuka pintu-pintu rezeki. Tiba-tiba ada dermawan yang menghibahkan sepeda motor untuk keperluan dakwah dan sebagainya. Maka motor tersebut menjadi manfaat untuk menambah kebaikan. Sehingga Allah Taala terus membukakan pintu-pintu karunia-Nya sebagai “hadiah” karena memanfaatkan nikmat pada jalur yang bijak.

Demikian pula rezeki non materi. Sebagai contoh, seseorang yang belum menikah juga mempunyai kesehatan, kesempatan, atau bahkan kemampuan yang sama dengan setelah menikah. Memang hidupnya sederhana setelah menikah. Namun dia dapat hidup bahagia dengan keadaan yang dijalani. Kariernya semakin memuncak, tatapan matanya terhadap masa depan senantiasa optimis, dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Itulah janji-janji Allah Taala bagi yang telah menikah dengan keyakinan yang mantap dan keimanan yang benar.

Pintu-pintu rezeki akan terbuka lebar jika seseorang telah mengalami sebuah jenjang membahagiakan bernama pernikahan. Setelah kita berusaha dan berdoa, rezeki akan datang dengan segera.

Dengan menikah, kita mengharapkan Allah Taala menganugerahkan rezeki yang barakah. Yaitu rezeki yang dapat menentramkan hati dan mensucikan jiwa. Sehingga semakin membuat kita berbahagia dan meningkatkan rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah Taala berikan dengan semakin giat dan tekun dalam beribadah dan bekerja.

Hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2382289/janji-janji-allah-kepada-yang-telah-menikah#sthash.12DNGr87.dpuf

Umat Islam Dilarang Perutnya Besar

RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan generasi terbaik yakni generasi beliau, kemudian generasi sesudahnya, dan generasi sesudahnya lagi.

Setelah itu beliau menyebutkan sebuah zaman yang dipenuhi kejelekan. Salah satu tandanya adalah banyak orang kegemukan. Beliau bersabda:

“Umat terbaik di antara kalian adalah pada generasiku ini, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi.” Imran (Imran bin Hushain, sahabat yang meriwayatkan hadis ini) mengatakan, aku tidak ingat apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan dua generasi setelahnya atau tiga generasi. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya setelah generasi kalian nanti akan muncul suatu kaum yang berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka memberi kesaksian tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan kesaksiannya, mereka bernadzar tapi mengingkarinya, dan pada zaman itu banyak orang yang mengalami kegemukan” (HR. Al Bukhari)

Dalam hadis ini hanya disebutkan bahwa pada zaman tersebut banyak orang mengalami kegemukan. Tidak secara tegas dikatakan bahwa kegemukan itu jelek sebagaimana jeleknya khianat, kesaksian palsu dan mengingkari nazar.

Namun yang perlu kita renungkan, setiap yang berlebih-lebihan merupakan hal yang tidak baik. Gemuk itu baik, tapi kalau sudah kegemukan, menjadi tidak baik. Setidaknya dari segi kesehatan.

Di zaman sahabat juga ada orang yang kegemukan, namun jumlahnya tidak banyak. Salah satunya pernah bertemu dengan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

“Mengapa perutmu besar seperti ini?”, tanya Umar bin Khattab sewaktu berpapasan dengannya di sebuah jalan.

Ini adalah karunia dari Allah,” jawab orang itu.

“Ini bukan barakah, tapi azab dari Allah!” kata Umar, “Hai sekalian manusia, hindarilah perut yang besar. Sebab itu membuat kalian malas menunaikan salat, merusak organ tubuh dan menimbulkan banyak penyakit. Makanlah secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Imam Syafii memberikan nasihatnya tentang kegemukan, “Sama sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany.”

Lalu ada yang bertanya, “Mengapa demikian wahai Imam?”

“Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya, sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti ia sama saja dengan hewan.”[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2382356/umat-islam-dilarang-perutnya-besar#sthash.dNksUkVk.dpuf

Saat Berbuka, Jangan Budayakan Balas Dendam

Saat berbuka puasa, memang harus disegarakan membatalkan puasa. Namun, alangkah baiknya, konsumsi makanan tidak boleh seperti balas dendam karena sudah menahan lapar dan haus seharian.

Menurut Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, konsultan penyakit lambung dan pencernaan dari FKUI/RSCM, seperti yang dikutip dari siaran pers, budaya balas dendam dengan berpikir untuk menggandakan makan siang dan makan malam saat berbuka harus dihindari. Membiasakan diri untuk berhenti makan dua jam sebelum tidur agar pencernaan bisa bekerja optimal.

“Sebaiknya ketika berbuka, makan dengan porsi sedang. Misalnya dimulai dengan makanan ringan dalam porsi kecil, lalu menunggu hingga setelah sholat Magrib,” kata Ari seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Rabu (31/05/2017).

Masih menurutnya, hal tersebut dilakukan sebelum melanjutkan dengan makanan utama setelah sholat Magrib dan sebelum sholat tarawih. Tetapi tetap dengan jumlah yang tidak berlebihan.

“Tidak boleh terlalu berlebihan. Setelah makan usahakan menunggu 2 jam hingga waktu tidur. Ini akan membuat pencernaan Anda lebih baik dan lancar. Sehingga gejala GERD (gastroesophageal reflux disease) tidak akan timbul,” tambahnya. (tka)

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382282/saat-berbuka-jangan-budayakan-balas-dendam#sthash.TuRM1NbF.dpuf