Janji-janji Allah kepada yang Telah Menikah

KETIKA seorang Muslim-pria atau wanita-akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping.

Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada perasaan keraguan. Namun, ada juga muncul rasa kekhawatiran. Bagi calon suami, maka rasa khawatir menghantui pikirannya. Khawatir bagaimana nanti setelah menikah? Apakah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga atau tidak? Bagaimana nanti setelah mempunyai anak, mampukah membimbing dan mendidik mereka? Apalagi kebutuhan hidup sehari-hari semakin mahal dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak memiliki kekhawatiran soal ekonomi dan sudah memiliki calon pasangan, namun sengaja tidak segera menikah. Mereka berasalan, bahwa menikah itu tidak gampang, harus menemukan kecocokan dulu, harus berpendidikan tinggi dulu, harus kaya terlebih dulu. Maka hal itu akan menjadi tumpukan dosa jika melewati masa-masa matang tidak mempersibuk diri dengan kebaikan.

Persoalan utama seseorang yang akan menikah adalah penyakit ragu-ragu. Jika penyakit tersebut hinggap dalam pikiran dan hati seseorang, maka saat itu juga waktu yang paling tepat untuk introspeksi diri terhadap keyakinannya. Karena itulah kunci utama dalam melangkah ke depan dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup.

Berkaitan dengan kekhawatiran itu, yang karenanya seseorang tidak segera menikah padahal sudah mempunyai calon pasangan, Allah Taala berkalam,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nur [24]: 32)

Jika memang Allah Taala berjanji demikian, kenapa harus ragu? Jika memang janji dari Zat yang Mahabenar itu sudah jelas tertulis di dalam al-Quranul Karim, mengapa mesti ada ketakutan untuk segera menikah? Padahal, calon pasangan sudah ada. Padahal, umur sudah waktunya dan memang pantas segera menikah.

Maka jalan keluarnya adalah berikhtiar. Jika berikhtiar sudah dilakukan, maka jangan pernah berhenti sekaligus berdoa. Percayalah, Allah Taala telah menentukan saat-saat yang tepat dan terbaik bagi hamba-Nya yang tak pernah putus asa dari Rahmat-Nya.

Adalah kewajiban kita untuk mempercayai janji Allah. Jangan sampai bisikan-bisikan setan menyusup ke dalam hati. Karena itu dapat menggoyahkan keimanan kita terhadap kebenaran janji Allah Taala, termasuk ketika Allah Taala berjanji akan memampukan hamba-Nya yang miskin bila menikah. Tiada yang sulit bagi Allah Taala jika ingin memberikan karunia kepada hamba-Nya. Sungguh, Allah Taala Maha Pemurah dan Pemberi rezeki. Tinggal kita meyakini atau tidak. Dengan keyakinan itu, hidup kita akan optimis dan selalu berpikir posititf.

Berkaitan dengan karunia Allah Taala, yang dimaksud adalah rezeki. Rezeki dapat berupa materi atau non materi. Namun dikatakan rezeki jika di dalamnya terdapat manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Misalnya, seorang ikhwan tidak memiliki sepeda motor yang dapat memberikan manfaat yang banyak setelah menikah. Pergi ke mana-mana naik angkutan umum atau bis. Namun, dengan kebaikan-kebaikan yang tulus, maka Allah Taala membuka pintu-pintu rezeki. Tiba-tiba ada dermawan yang menghibahkan sepeda motor untuk keperluan dakwah dan sebagainya. Maka motor tersebut menjadi manfaat untuk menambah kebaikan. Sehingga Allah Taala terus membukakan pintu-pintu karunia-Nya sebagai “hadiah” karena memanfaatkan nikmat pada jalur yang bijak.

Demikian pula rezeki non materi. Sebagai contoh, seseorang yang belum menikah juga mempunyai kesehatan, kesempatan, atau bahkan kemampuan yang sama dengan setelah menikah. Memang hidupnya sederhana setelah menikah. Namun dia dapat hidup bahagia dengan keadaan yang dijalani. Kariernya semakin memuncak, tatapan matanya terhadap masa depan senantiasa optimis, dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Itulah janji-janji Allah Taala bagi yang telah menikah dengan keyakinan yang mantap dan keimanan yang benar.

Pintu-pintu rezeki akan terbuka lebar jika seseorang telah mengalami sebuah jenjang membahagiakan bernama pernikahan. Setelah kita berusaha dan berdoa, rezeki akan datang dengan segera.

Dengan menikah, kita mengharapkan Allah Taala menganugerahkan rezeki yang barakah. Yaitu rezeki yang dapat menentramkan hati dan mensucikan jiwa. Sehingga semakin membuat kita berbahagia dan meningkatkan rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah Taala berikan dengan semakin giat dan tekun dalam beribadah dan bekerja.

Hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2382289/janji-janji-allah-kepada-yang-telah-menikah#sthash.12DNGr87.dpuf

Tafsir Mawaddah dan Rahmah

Di antara tujuan pernikahan disebutkan dalam Surat Ar Rum ayat 21, agar suami istri mendapatkan mawaddah dan rahmah.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)

Apa itu mawaddah dan rahmah? Dalam Tafsir Al Qurthubi, dikutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa mawaddah adalah cintanya seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya untuk tidak menimpakan sesuatu yang tak disukainya.

Lebih jauh, Muhammad Al Ghazali menerangkan tentang rahmah. “Rahmah itu,” terangnya dalam Qadhaya al Mar’ah bainat Taqalid ar Rakidah wal Wafidah, “tidak muncul dari kasih sayang ketika melihat pipinya yang indah, akan tetapi ia muncul dari dalam hati yang bersih, akhlak yang baik dan latar belakang yang mulia.”

Jadi, mawaddah adalah cinta yang timbul karena pertimbangan fisik atau materi. Karena istrinya adalah seorang wanita yang memiliki sesuatu yang menarik kemudian suami mencintainya, itulah mawaddah. Seseorang yang melihat istrinya kemudian timbul hasrat dan dengannya mereka saling bercinta, itulah mawaddah.

Sedangkan rahmah adalah cinta yang tidak mempertimbangkan fisik melainkan karena faktor non fisik; ruhiyah, akhlak dan sejenisnya. Rahmah inilah yang membuat pasangan suami istri tetap bersama meskipunsudah tua. Rahmah inilah yang membuat suami istri tetap setia meskipun tak bisa lagi saling bercinta. Rahmah inilah yang membuat suami istri tetap saling menyayangi meskipun tidurnya saling berpunggungan. Rahmah inilah yang menjelaskan mengapa kakek-kakek dan nenek-nenek tetap bersama dan saling menjaga.

Maka jika ingin keluarga kita abadi hingga maut memisahkan, dua sayap cinta mawaddah dan rahmah ini harus kita punya. Hubungan yang hanya didasari oleh mawaddah, ia hanya bisa bertahan beberapa tahun. Sesudah kulit keriput, rambut memutih dan mata rabun, rahmah-lah yang bekerja. Maka, temukan alasan non fisik yang membuat kita mencintai pasangan kita.

[Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Untukmu yang Merindukan Pernikahan…

MERINDUKAN pendamping hidup adalah fitrah setiap insan. Wanita, sebagai makhluk Allah yang cenderung ingin diayomi atau dilindungi, tentu wajar berharap pula akan kehadiran seorang ikhwan dalam hidupnya.

Dan saat menanti adalah ujian berat bagi seorang gadis. Sebagai bunga yang sedang mekar atau yang mungkin telah mekar sekian lama, seringkali ia terlena dengan tawaran manis si kumbang yang datang mempesonanya.

Sayang, kebanyakan kumbang-kumbang itu sekedar ingin menggoda saja. Malah ada pula yang sekedar ingin menghisap madunya tanpa mau bertanggung jawab. Naudzubillah! Begitulah fakta di masa kini.

Realita fitnah syahwat yang terjadi di mana-mana hingga banyak wanita kehilangan kehormatannya. Karena itu, setiap gadis muslimah hendaknya pandai-pandai menjaga diri dan selalu berhati-hati, jangan sampai tertipu. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang gadis muslimah dalam penantian?

a. Memperbanyak amal ibadah

Seorang muslimah dalam masa penantian hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah. Pendekatan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal ibadah, khususnya ibadah sunnah. Karena ia bisa menjadi perisai diri dari berbagai godaan.

b. Doa dan tawakal

Rezeki, maut, termasuk jodoh manusia sudah diatur oleh Allah, dan Dia Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya, yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar dan berdoa, kemudian bertawakal kepadaNya.

Hanya kepada Allah kita berserah diri dan mohon pertolongan. Berdoalah agar segera dikaruniai jodoh yang shalih, yang baik agamanya, dan bisa membawa kebahagiaan bagi kita di dunia dan akhirat. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik. Bukankah Dia akan mengikuti persangkaan hambaNya? Karena itu jangan pernah berburuk sangka terhadap Allah.

c. Mempersiapkan diri, membekali diri dengan ilmu

Bekali diri dengan ilmu, khususnya ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan kerumah tanggaan. Lalu, bekali diri dengan keterampilan berumah tangga. Seorang suami tentu saja akan senang bila istrinya terampil dan cekatan.

Terakhir, persiapkan diri menjadi istri shalihah dan sebaik-baik perhiasan bagi suami. Jangan lupa untuk merawat diri agar selalu tampil cantik dan segar. Tapi ingat, kecantikan itu tidak untuk diumbar sembarangan, persembahkan hanya untuk suami tercinta kelak.

Kepada para ikhwan

Bagi para ikhwan, ketahuilah sesungguhnya telah banyak akhwat yang siap. Mereka menunggu pinanganmu. Mereka menunggu keberanianmu. Tunggu apalagi jika engkau pun sudah siap menikah dan merindukan seorang istri?

Ayolah, jangan ikhlaskan wanita-wanita shalihah itu dinikahkan dengan lakilaki yang tak baik agamanya. Ingat bahwa Allah akan menolong seorang pemuda yang berniat menikah demi menyelamatkan agamanya. Karena itu, bersegeralah mencari pendamping yang bisa membantumu bertaqwa kepada Alloh. [Majalah Nikah]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2348689/untukmu-yang-merindukan-pernikahan#sthash.vsKIStfy.dpuf

Hukum Agama yang Disalahgunakan Sebagian Istri

Kriteria utama dalam menikahi wanita adalah yang taat beragama, selain kekayaannya, kecantikannya dan keturunannya. Sebab, agama adalah faktor utama dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

Jika suami taat dalam bergama, maka istri akan terpengaruh untuk taat. Demikian juga sebaliknya.

Kehidupan rumah tangga itu saling mendukung dan memengaruhi. Siapa saja yang mempunyai pengaruh yang kuat, maka pasangannya akan mengikutinya.

Terkait masalah agama, sebagian sebagian istri ada memfilter dirinya dalam menerima hukum-hukum fikih sesuai dengan kepentingan mereka. Bisa jadi karena kurang paham dalam ilmu agama atau bisa jadi karena hawa nafsu belaka.

Di antara hukum tersebut adalah seperti yang disebutkan dalam buku Kado Pernikahan karya Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Dawud sebagai berikut:

1. Menyangkal kebolehan berpoligami dengan menggunakan argumentasi salah dalam memahami ayat Al-Qur`an, bahwa kalian tidak akan adil antara istri-istrimu meskipun kalian telah mengerahkan segenap kemampuan. Dia menyitir firman AllahTa’ala,

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. (QS. An-Nisa’: 129).

Padahal, bukan itu yang dimaksud dalam ayat tersebut.

2. Melarang suami agar tidak berpikir tentang perceraian, karena perceraian adalah hal halal yang paling dibenci oleh Allah.

Ketika sang suami hendak berpoligami, maka dialah pihak pertama yang melayangkan gugatan cerai dan mendorong suaminya untuk melakukan hal yang paling dibenci Allah.

Selain itu, hukum agama pun dia permainkan mengikuti kemauannya.

3. Menasihati suami agar takut kepada Allah mengenai hal-hal yang menjadi kepentingannya saja.

Dia menakut-nakuti suaminya agar tidak melihat dan dekat wanita lain. Pada saat yang sama, dia membiarkan suaminya meninggalkan shalat, dan mendengarkan hal-hal yang haram.

Yang terpenting baginya adalah hak-hak dan kepentingannya terpenuhi. Dia memperdaya diri sendiri dengan memayungi kepentingannya dengan label agama.

4. Berbohong dalam menyebutkan usia.

Kebohongannya semakin menggumpal seiring bertambahnya usia. Dalam sebuah peribahasa arab disebutkan,

“Jika kamu ingin mengetahui kebohongan seorang wanita, maka tanyalah berapa usianya.”

5. Mencari fatwa-fatwa lemah dan bertanya kepada para mufti yang terkenal longgar dalam berfatwa mengenai perempuan, tanpa menghiraukan dalil dan argumentasi yang lebih kuat dan mufti lain yang lebih terkenal lebih bertakwa.

Jika sang istri mendengar beberapa ulama mengharamkan sesuatu, lalu ada seorang ulama yang cocok dengan seleranya dan berfatwa sebaliknya seraya berkata, ‘Sesungguhnya hukum syari’at tentang hal ini adalah boleh,’ maka tanpa ragu dia mengikuti fatwa itu dan membelanya.

6. Beralasan dengan kesalahan-kesalahan ummahatul Mukminin (istri-istri Rasulullah) secara lahir, tanpa mengikuti kebaikan-kebaikan mereka dan sifat-sifat terpuji mereka.

Engkau pasti terheran-heran ketika menemukan sekumpulan istri dengan sangat lancar menyebutkan bukti-bukti dari daftar kesalahan ummahatul Mukminin. Pada saat yang sama, mereka tidak mengetahui sama sekali tentang ummahatul Mukminin selain daftar kesalahan mereka.

7. Boleh memata-matai suami dengan dalih demi kebaikan bersama atau agar jika suami melakukan kesalahan dapat langsung menegurnya.

Ini tentu tidak dibolehkan, karena akan menimbulkan prasangka buruk yang terus-menerus dalam hati isti.

Solusinya adalah para suami mendidik istrinya dengan baik dan mengajarinya ilmu-ilmu agama, agar semua permasalahan rumah tangga diselesaikan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Wallahu A’lam.

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Taati Suami, Jangan Membangkang

Dunia mode Barat pada saat ini benar-benar hendak mengubah penampilan perempuan menjadi laki-laki dan mengenakan pakaian seperti halnya laki-laki.

Hingga kita mendengar sebagian wanita muslimah menyuarakan slogan-slogan kaum sekularis yang telah bercokol di dunia Islam sebelumnya.

Mereka benar-benar telah menghancurkan tabiat wanita muslimah terhadap suaminya dengan mengenalkan ide-ide yang mereka ambil dari revolusi Prancis.

Salah satu slogan mereka adalah, “Suamimu tidak lebih sebagai partner hidup, bukan sebagai pemimpinmu yang bertanggung jawab atasmu.

Kamu adalah partner hidupnya, bukan budaknya atau orang yang dimilikinya, sehingga engkau menuruti segala permintaannya. Ajaklah suamimu berdialog, tunjukkan eksistensimu sebagai wanita merdeka dan jangan tinggal diam.”

Menurut kaum sekularis itu, membangkang kepada suami adalah alat untuk menunjukkan eksistensi seorang wanita.

Mereka melupakan sifat alamiah yang telah dilekatkan oleh Allah kepada suami, yaitu sebagai pelindung bagi istri. Sungguh AllahTa’ala telah berfirman,

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa`: 34)

Ini merupakan musibah yang menjadi latar belakang semboyan “Kehidupan suami istri dibangun berdasarkan kesepakatan” dan “Hak berpendapat.”

Orang Yahudi merupakan donatur terbesar dalam merusak dunia Barat yang telah porak poranda. Terlebih dalam kehidupan keluarga yang menjadi dasar terciptanya suatu komunitas masyarakat.

Mereka menciptakan wanita yang senantiasa membangkang terhadap suaminya dan menuntut persamaan dalam kehidupan sosial.

Mereka menganjurkan para istri untuk bersama-sama menanggalkan prinsip al-qawamah(kepemimpinan suami) dalam rumah tangga dan mendorong mereka menyaingi posisi suami sebagai pemegang kendali keluarga.

Mereka mentransfer itu semua melalui film-film sinetron, film layar lebar, novel-novel, dan cerita-cerita. Akhir-akhir ini, pemikiran tersebut semakin vulgar dan terang-terangan dibincangkan dalam dialog dan seminar.

Setelah itu, tanpa menyaringnya, sebagian dari saudara kita menelannya mentah-mentah; bahwa suami tidak lagi mempunyai hak untuk menyuruh dan mengeluarkan perintah, taat dan patuh kepada suami bukan merupakan suatu kewajiban dan semua urusan kehidupan rumah tangga harus berdasarkan kesepakatan.

Menurut mereka, kesepakatanlah yang menjadi landasan adanya ketaatan atau tidak. Pihak istri harus terlebih dahulu setuju agar dia patuh dan taat.

Para istri yang telah terpengaruh oleh pemikiran Barat itu lupa bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhannya kepada suami akan diperhitungkan kelak pada hari kiamat.

Setajam apa pun perbedaan dengan suaminya dan mengenai apa pun, dia harus menuruti perintah dan permintaan sang suami. Tugasnya hanyalah mengharap pahala dari Allah atas kepatuhannya.

Jangan lupa, bahwa kesepakatan itu bisa terjadi antara dua hal yang sama posisi dan hak, sementara dalam pernikahan, tidak ditemukan adanya kesamaan antara suami dan istri, sebagaimana dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Allah Ta’ala tentu tidak begitu saja memilih suami memegang al-qawamah, kecuali telah mengetahui rahasianya dan mengerti sisi-sisi perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Sungguh, Allah Ta’ala telah berfirman,

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui. (QS. Al-Mulk: 14).

Wahai para istri, taatilah suamimu, semoga hidupmu selamat di dunia dan Akhirat. Amin.

Demikian ditulis kembali dari buku Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Dawud berjudul Kado Pernikahan.

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Lima Jenis Perkawinan Ini Dilarang, Apa Sajakah?

Islam mengajarkan umatnya sampai kepada jenis-jenis perkawinan yang boleh dan yang dilarang. Dalam Alquran, hal ini termaktub dalam surat An-Nisa ayat 23-24 yang menyebutkan lima jenis perkawinan dilarang. Berikut ulasannya seperti dikutip dari buku Ensiklopedi Muhammad karya Afzalur Rahman.

 

1. Menikahi Saudara Sepersusuan

Nabi Muhammad melarang perkawinan antara orang-orang yang memiliki hubungan saudara sepersusuan. Hal ini sama seperti larangan mengawini orang-orang yang memiliki hubungan sedarah.

Ummu Al-Fadi menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Orang yang disusui sekali atau dua kali tidak menyebabkan perkawinan menjadi tidak sah,” (HR Muslim).

Selain itu Ummu Salamah juga mengatakan Rasulullah bersabda: “Hubungan persaudaraan sesusu yang menyebabkan perkawinan tidak sah adalah susu yang diambil dari payudara, kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk dan diambil sebelum waktu penyapihan,” (HR Tirmidzi).

 

2. Pertukaran Perkawinan 

Dalam pertukaran perkawinan atau biasa disebut Al-Syighar, orang-orang menukarkan putri-putri atau saudara-saudara perempuan mereka tanpa membayar mahar.

Ibn Umar mengatakan Rasulullah melarang pertukaran perkawinan yang berarti ketika si A menikahkan putrinya dengan B. Maka B ini pun menikahkan putrinya dengan si A. Apalagi pernikahan tersebut jika dilangsungkan tanpa membayar mahar tergolong dilarang dalam Islam.

 

3. Menikahi Ibu, Anak, Bibi, atau Saudara Perempuan dari Istri

Rasulullah mengatakan dalam hadisnya bahwa jika seseorang laki-laki menikahi seorang perempuan dan sudah berhubungan intim dengannya, maka dia tidak boleh menikahai anak perempuan istrinya itu. Namun jika dia belum melakukan hubungan intim dengan perempuan itu, dia boleh menikahi anak perempuan dari perempuan itu.

“Dan, jika seseorang laki-laki menikahi seorang perempuan, dia tidak boleh menikahi ibu perempuan itu, terlepas apakah dia telah melakukan hubungan intim atau belum dengan perempuan itu,” (HR Tirmidzi).

Selain itu, Abu Hurairah mengatakan Rasulullah melarang menikahkan perempuan dengan pria yang pernah menikahi bibi dari perempuan itu. Baik bibi dari garis ayahnya maupun garis ibunya.

Ditambah lagi, Rasulullah melarang menikahkan seorang bibi dari garis ayah dengan pria yang telah menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki bibi itu (keponakannya). Seorang bibi dari garis ibu dengan pria yang pernah menikahi anak perempuan dari saudara perempuan bibi itu (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Darimi dan Nasa’i).

Dalam suatu riwayat, Al-Dahhhak ibn Fairuz AD-dailami menceritakan kisah ayahnya. “Wahai Rasulullah, aku telah menerima Islam (sebaga agamaku) dan aku telah menikahi dua orang kakak beradik. Rasulullah  menjawab pilihlah seorang dari mereka yang kau inginkan,” (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibn Majah).

 

4. Menikahi Perempuan Musyrik

Dalam surat Al-Baqarah ayat 221 disebutkan jangan menikahi perempuan musyrik, sebelum perempuan itu beriman. Dalam ayat itu dikatakan menikahi hamba sahaya (budak) perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meski menarik hati.

“Mereka (pasangan musyrik) mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya. Allah menerangkan ayat-ayatnya supaya manusia mengambil pelajaran,” tulis ayat itu.

 

5. Menikahi Pezina

Dalam surat An-Nur Ayat 24 dijelaskan bahwa pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik. Pezina perempuan pun tidak boleh menikah kecuali dengan pezina pria atau dengan pria musyrik.

“Dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki dirinya), maka sungguh Allah maha pengampun.”

sumber: Republika Online

Memaafkan Kesalahan Suami, Ini 4 Caranya!

Sahabat Ummi, pernahkah mendapati suami melakukan kesalahan fatal terhadap diri kita?

Kesalahan ini kemudian mencederai kepercayaan, mengikis rasa cinta, menyemai benih benci, dan membuat kita sulit memaafkannya?

Kalau pernah, mari kita renungkan bersama hal berikut ini…

Rasanya tiada suami yang sempurna selain Rasulullah shalallaahu alaihi wassalaam, oleh sebab itu selain Beliau, pria lain merupakan suami yang sangat mungkin melakukan kesalahan dan kekhilafan, bahkan yang berskala besar sekalipun.

Lalu apakah kita harus memaafkan kesalahannya padahal kekhilafan tersebut menghancurkan hidup kita? Demi Allah, ya!

Jika kita tidak ingin lebih hancur dan tidak ingin keadaan semakin memburuk, maka kita harus bisa melepaskan hati kita dari rasa dendam, yakni dengan memaafkannya!

Sudah jelas, memendam emosi negatif hanya memberi efek buruk untuk kesehatan kita (bukan kesehatan suami), dan juga membuat psikologis kita terganggu (bukan psikologis suami), jadi… Buat apa bersikeras tidak memaafkannya?

Jangan salah paham! Memaafkan adalah pekerjaan hati, jadi bukan berarti dengan memaafkan kita tidak memberikan tindakan hukum untuk kesalahan suami yang bersifat melanggar hukum. Kita bisa saja memintanya dijatuhkan sanksi hukum tapi hati kita sudah lapang dan tenang.

Jadi, yang perlu kita fokuskan adalah memaafkan untuk kelapangan hati kita sendiri!

Berikut ini Ummi sharingkan bagaimana cara memaafkan kesalahan suami, semoga bermanfaat untuk menyembuhkan luka hati Sahabat Ummi:

1. Tukar maaf kita dengan ampunan Allah!

Apakah kita tidak mempunyai kesalahan? Apakah kita tidak ingin Allah mengampuni kesalahan kita?

Jika kita mengharapkan ampunan Allah, maka tukarlah kemaafan kita untuk suami dengan ampunan Allah!

2. Tukar maaf kita dengan tiket ‘doa yang pasti terkabul’!

Orang yang didzolimi sesungguhnya memiliki tiket doa yang pasti terkabul, maka…

Daripada menyia-nyiakan tiket tersebut untuk mendoakan kesialan bagi suami (tidak ada untungnya juga buat kita), lebih baik pergunakan untuk mendoakan rezeki, kelimpahan dan keberkahan untuk kehidupan dunia dan akhirat kita.

3. Tukar maaf kita dengan kesehatan tubuh!

Orang yang mudah memaafkan sudah pasti terjauh dari penyakit berbahaya, dikarenakan hatinya lapang dan pikirannya damai.

Sebaliknya, orang yang penuh emosi dan kebencian: marah pada suami, mertua, tetangga, saudara, sudah pasti lebih gampang terkena penyakit darah tinggi, stroke, kanker, atau penyakit membahayakan lainnya.

Ini disebabkan emosi negatif berefek buruk untuk tubuh kita.

4. Tukar maaf kita dengan surga!

Bohong jika kita lebih memilih neraka daripada surga! Maka, didzolimi orang lain tapi bisa memaafkannya adalah cara tercepat meraih surga.

Allah mengetahui bahwa memaafkan bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh nafsu dan ego manusia. Sebab itu, salah seorang sahabat Rasulullah yang ibadah khususnya biasa-biasa saja, mendapat undangan ke surga dikarenakan kebiasaannya memaafkan kesalahan orang tiap sebelum tidur.

Sungguh alangkah indahnya hidup ini jika kita bisa meneladani pribadi Rasulullah yang mudah memaafkan kesalahan. Selamat menikmati hidup bahagia dengan memaafkan!

 

sumber: Ummi-Online

Takut Miskin karena Menikah, Maka Pertanyakan Keimananmu !!!

“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui” Begitulah janji Allah dalam QS An Nuur :32) , pada anda yang mau menikah, Anda pasti kaya!

Imam Al Qurtubi, mengatakan , ayat tersebut mengandung makna, bahwa jangan biarkan kemiskinan seorang laki laki dan seorang wanita menjadi sebuah alasan untuk tidak menikah semata semata meperoleh ridha Allah dan mencari tempat perlindungan dari ketidak patuhan padaNya, Allah akan memampukannya dan Allah akan mengkayakannya. Ayat itu merupakan bukti bahwa menikah itu tidak pandang bulu. Anda diperbolehkan menikahi orang miskin. Karena itulah, tidak seharusnya anda berkata, “ Bagaimana aku akan menikah jika aku tidak punya uang?” atau berkata, “ Susah sekali jika aku menikahi orang miskin, jangan jangan aku akan menjadi semakin miskin?’ jangan pernah berkata dan berfikiran seperti itu. Mengapa? Sebab rizki telah dijanjikan oleh Allah, dan makanan pun telah dijamin oleh Allah.

Merujuk pada pemaparan pemaparan tersebut, tidak sepatutnyalah kita takut menikah hanya karena kita miskin, justru saat miskin itulah kita harus berani menikah. Bismillah !!!

Menikah karena Allah , niscaya Allah menjamin kehidupan kita. Lihatlah betapa Rasulullah menunjukan kepada kita bahwa kemiskinan bukanlah penghalang buat menikah. Buktinya ? beliau berani menikahkan seorang perempuan yang datang kepada beliau dengan seorang lelaki miskin yang tidak mempunyai apa apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

Hal ini penting saya tekankan, lantaran kebanyakan faktor orang takut menikah karena mereka miskin, sehingga dengan menikah, mereka mengira akan semakin miskin dan susah hidupnya. Padahal, Allah berkata lain, justru dengan menikah  Dia akan mengayakan dan memampukan kita.

Coba pahami dan resapi perkataan sahabat Nabi di bawah ini, kalau kalian masih takut miskin karena menikah, maka pertanyakan keimananmu !!!

“ Patuhilah Allah dalam apa apa yang Dia telah perintahkan padamu untuk menikah. Dia akan memenuhi janjiNya untuk membuatmu kaya.” (Abu Bakar Ash Shiddiq)

“ Carilah kekayaan lewat pernikahan ! aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih aneh daripada seorang laki laki yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan. Padahal Allah telah menjanjikan “…Jika mereka miskin, maka Allah akan mengumpulkan mereka dengan karuniaNya “(Umar bin Khattab)

“Temukanlah kekayaan dengan menikah.” (Abdullah bin Mas’ud)

Jadi, wahai hamba Allah ! Apakah sekarang masih ada lagi yang menghalangi anda untuk menikah? Bukankah janji Allah ini tidak cukup bagi anda?

(Anif  sirsaeba)- berani kaya, berani takwa-Republika

Bila satu isteri belum cukup bagimu, bila memang itu kebutuhanmu, maka nikahlah dengan 2, 3, dan 4 Isteri. Adillah dalam menjalankannya, maka kalian akan lebih diberikan karuniaNya dan lebih kaya insyaAllah dari sebelumnya. Wallahu Alam.

 

sumber: Era Muslim

Foto: Tempo.co