Ta’awudz

Allah SWT memerintahkan hambanya agar senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya. Memohon perlindungan dalam bahasa Arab disebut dengan ta’awudz. Lafaznya sangat populer, yakni “A’uudzubillahi minas syaithan ar rajiim”. Kalimat ini biasa diucapkan sebelum membaca Alquran berdasarkan surah an-Nahl: 98, “Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Dua surah terakhir dalam Alquran mengandung perintah memohon perlindungan. Oleh karena itu, surah al-Falaq dan an-Naas disebut juga al-Mu’awwidzataani. Dalam surah al-Falaq, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon perlindungan kepada Allah hanya satu kali dari empat hal. Perlindungan dari keburukan makhluknya, malam apabila gelap gulita, kejahatan tukang sihir yang meniup buhul-buhul, dan dari orang yang dengki.

Dalam surah an-Naas, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT sebanyak tiga kali, yakni sebagai Rabb, Malik, dan Ilah manusia. Tiga kali permohonan ini guna melindungi manusia hanya dari satu hal, yakni keburukan bisikan yang tersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, baik dari bangsa jin maupun manusia.

Dua surah di atas mengajarkan kepada kita bahwa ancaman yang paling berbahaya bagi manusia bukanlah yang berasal dari luar dirinya. Hal ini tampak saat Allah SWT hanya memerintahkan ta’awudz sebanyak satu kali untuk empat ancaman. Namun, ancaman yang sesungguhnya adalah dari dalam diri manusia sendiri, yakni hawa nafsu dan bisikan setan. Isyaratnya adalah Allah SWT memerintahkan manusia memohon perlindungan tiga kali hanya untuk satu ancaman.

Pada kenyataannya, banyak manusia yang tergelincir ke lembah dosa bukan karena dorongan eksternal, tapi karena ketidakmampuan mengendalikan dirinya sendiri. Seorang manusia sering kali menang melawan tantangan-tantangan yang berasal dari luar dirinya. Namun, banyak orang yang justru terjerumus karena menuruti hawa nafsu dan setan yang menggodanya.

Saat diusir dari surga, Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).\” (QS al-A’raf: 16–17).

Iblis kembali berkata, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlasin (ikhlas).” (QS Shaad: 81-82). Artinya, ada segolongan manusia yang tidak dapat disesatkan oleh setan, yakni hamba-hamba yang diikhlaskan oleh Allah SWT (mukhlashin).

Hidayah dan rahmat Allah yang membuat manusia selamat dari godaan setan. Hal tersebut bisa didapat jika kita senantiasa membiasakan memohon perlindungan kepada-Nya.

Oleh: Robby Karman

 

REPUBLIKA

Kematianmu Akan Jelaskan Siapa Dirimu

Sungguh, dalam kematian banyak ibrah, pelajaran, yang bisa diambil manusia yang hidup. Kehidupan dunia cuma sesaat, apalagi saat ini di mana usia pengharapan hidup manusia semakin singkat. Katakanlah enampuluh tahun. berapa usiamu sekarang? 40 tahun? Itu berarti 20 tahun lagi engkau akan meninggalkan dunia fana ini. Duapuluh tahun bukan waktu yang lama. Ia sangat dan sangat singkat. Ketika engkau bertemu dengan kawan-kawanmu semasa SMA, bukankah seperti baru kemarin engkau merayakan kelulusan dan berpisah dengan mereka? Padahal itu sudah berlalu lebih dari duapuluh tahun lalu.

Sekarang, bisa jadi engkau dihormati karena ada bintang di pundak dengan baju seragam dan tongkat komando di tangan.

Sekarang, bisa jadi engkau merasa dunia milikmu karena jutaan orang berada di dalam genggaman tanganmu. Engkau merasa besar dan mirip dengan tuhan.

Sekarang, engkau bebas menyiksa manusia hanya karena dugaan, bahkan sampai menghilangkan nyawanya. Padahal dia rajin beribadah ke masjid. Engkau merasa sebagai pedang keadilan, menurut versimu sendiri, tentunya.

Tapi lihat, beberapa tahun lagi engkau akan menemui kematian. Ya, kematian. Waktunya tidak bisa ditunda sedetikpun, atau dipersingkat. Kematian itu pasti adanya.

Apakah nanti ketika engkau mati, tanah akan menerimamu dengan lapang?

Apakah nanti ketika engkau mati, jasadmu mengeluarkan bau bangkai yang sangat busuk atau harum laksana kesturi?

Apakah nanti ketika kau mati, jutaan orang akan menangis sedih atau malah merayakan dengan kegembiraan?

Apakah ketika kau mati nanti, wajahmu akan berseri-seri laksana bulan purnama, atau malah menghitam dan kehilangan cahaya kebaikan? Jika di dunia saja wajahmu sudah kusam, perutmu menggelembung laksana diisi jutaan larva, maka bagaimanakah lagi dengan kematianmu kelak?

Engkau mungkin saat ini tidak sadar, dan mungkin merasa bisa hidup seratus tahun lagi, tapi tahukah engkau jika malaikat maut senantiasa menguntitmu dari dekat, melebihi dekatnya dengan urat nadimu?

Hanya orang-orang beruntung dan ikhlas yang selalu mengingat kematian. Bukan mengingat dunia. Kematian akan menjelaskan siapa hakikat dirimu. Apakah kamu itu pengikut iblis atau pengikut Muhammad SAW. Kematian akan menerangkan kepada yang hidup, siapa dirimu. Sudah siapkah segala perbekalan untuk itu?

 

ERA MUSLIM

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Adab Berobat dalam Islam

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berobat bila sedang sakit. Pada dasarnya, setiap Muslim pasti pernah sakit baik ringan maupun berat. Semua itu merupakan ketentuan dari Sang Khalik. Saat ini, berbagai jenis penyakit berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Berbagai cara dilakukan dan ditempuh untuk mengobati penyakit yang diderita. Ada yang berobat ke dokter, bahkan tak sedikit pula yang melakukan pengobatan secara tradisional.  Sebagai agama yang sempurna, Islam ternyata telah mengatur adab berobat (at-tadaawi) bagi seorang Muslim. Lalu bagaimanakah adab berobat itu?

Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan umat Islam berkaitan dengan proses pengobatan.  Pertama, saat akan berobat, seorang Muslim harus meluruskan niatnya.

”Orang yang sakit berniat untuk menjaga kesehatannya agar ia tetap kuat melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT,” tutur Syekh Abdul Azis. Sedangkan orang yang mengobati harus berniat untuk membantu saudaranya sesama Muslim dan menolong semampunya.  Pengobatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Allah serta memberi manfaat bagi saudaranya sesuai dengan perintah agama.

Kedua, menurut Syekh Abdul Azis,  dalam beberapa hadis dianjurkan agar umat Islam menggunakan obat-obatan syar’i untuk mengatasi penyakit tertentu.  Ada beberapa obat  dan pengibatan yang disebutkan dalam hadis, seperti habbbatus saudaa (jintan hitam),  madu, bekam, daun inai serta ruqyah.

Keutamaan  habbbatus saudaa, misalnya, diungkapan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, ”Habbbatus saudaa adalah obat semua penyakit kecualias-saam (kematian).”

Sedangkan keutamaan dan keistimewaan  madu sebagai dijelaskan dalam Alquran surat an-Nahl ayat 69. Allah SWT berfirman, ”… Di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…” Selain itu, Nabi SAW juga biasa menggunakan daun inai (<i<al-hinaa) untuk=”” mengobati=”” luka=”” atau=”” terkena=”” duri.<=”” p=””></i<al-hinaa)>

Untuk terapi pengobatan, Rasulullah SAW menganjurkan bekam dan ruqyah. Rasulullah SAW bersabda, ”Terapi terbaik untuk kalian adalah bekam dan al-qusthul bahri ( cendana laut.” (HR Bukhari (5696) dan Muslim (1577).  Selain itu, Rasulullan SAW juga bersabda, ”Barang siapa mengeluarkan darah dengan berbekam, maka tidak akan memadharatkan jika ia tak berobat dengan menggunakan obat lain.” (HR Abu Dawud).

Selain itu, terapi lainnya yang diajarkan Rasulullah SAW adalahruqyah al-masyuu’ah yakni ruqyah yang sesuai syariat, seperti ruqyah dengan bacaan Alquran dan lainnya yang tak mengandung kesyirikan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak mengapa melakukan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR Muslim).

”Meruqyah dengan membaca surat al-Fatihah, ayat Kursi, beberapa ayat pada akhir surat al-Baqarah, surat al-Kaafiruu, al-Mu’awwizaat dan ayat-ayat lainnya. Dibolehkan juga membaca do’a-do’a yang sahih dari Rasulullah SAW,” papar Syekh Abdul Aziz.

Adab berobat yang ketiga, tidak menggunakan obat-obatan yang diharamkan. Menurut Syekh Abdul Azis, obat-obatan atau pengobatan yang diharamkan, misalnya, meruqyah dengan lafaz-lafaz yang mengandung kesyirikan. ”Menggunakan ruqyah jenis ini hukumnya haram, bahkan bisa jadi dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam,” tutur Syekh Abdul Azis.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasululllah SAW  melarang umatnya berobat dengan obat-obatan yang kotor. Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menggunakan khamer (arak) sebagai obat. Laki-laki itu berkata, ”Khamer itu obat.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Khamer itu bukan obat, tetapi penyakit.”

”Tak sepantasnya seorang Muslim berpaling dari sabda Rasulullah SAW, dikarenakan pendapat orang lain,”  ujar Syekh Abdul Azis.

Adab keempat, berkonsultasi dengan ahli medis. Seorang Muslim yang berobat hendaknya berkonsultasi dengan kalangan orang-orang yang diketahui bertakwa kepada Allah SWT  dan mengetahui ilmu pengobatan. Hal itu ditegaskan dalam Alquran surat an-Nahl ayat 43. ”… Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Tidak semua orang mengetahui ilmu pengobatan. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya, ada yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak, keciali penyakit as-saam,yaitu kematian.” Oleh karena itu, orang yang sakit hendaknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis penyakit serta obatnya yang cocok.

Adab berobat yang kelima, meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT.  Orang yang sakit serta dokter wajib meyakini bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT. Sedangkan obat dan terapi merupakan sebab dari kesembuhan. ”Jika Allah menginginkan, Dia akan menjadikan obat itu bermanfaat dan jika tidak, maka obat tersebut tak akan memberikan pengaruh.”

 

REPUBLIKA

Jangan Ragukan Khasiat Thibun Nabawi

Khasiat thibun nabawi tak perlu diragukan lagi. Saat ini bahkan banyak dokter modern yang menguak khasiat kandungan di balik pengobatan ala nabi. 

Dalam hadis, Rasulullah menganjurkan beberapa obat dan jaminan kesembuhannya. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Kesembuhan itu ada dalam tiga hal, minum madu, bekam, dan kay (sundutan api). Aku melarang umatku berobat dengan kay.” (HR Al-Bukhari).

Dari ‘Aisyah, Nabi bersabda, “Sungguh dalam habbatus sauda itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Aisyah pun bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian.” (HR Bukhari).

Ibnu Abbas berkata, seseorang berdiri di hadapan Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah obat itu berguna terhadap takdir?” Rasulullah kemudian bersabda, “Obat termasuk bagian dari takdir. Obat bermanfat kepada siapa yang Allah kehendaki sesuai yang Allah kehendaki.”

Secara ilmiah, habbatus sauda terbukti mampu mengaktifkan kekebalan spesifik karena mampu meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel T penekan, dan sel pembunuh alami. Kandungan aktif habbatus sauda, yakni thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ), dan thymol (THY).

Begitu pun dengan madu. Berdasarkan penelitian ilmiah, madu memiliki spesifikasi antiproses peradangan (inflammatory activity anti) serta memiliki daya aktif tinggi yang mampu meningkatkan pertahanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress). Madu juga mengandung banyak nutrisi, mampu menurunkan glukosa darah, mengobati infeksi lambung, dan sebagainya.

Banyak penelitian lain yang menyebutkan khasiat thibbun nabawi. Jika kemudian seseorang mempraktikkan thibun nabawi dan tak tampak hasilnya, perlu memperhatikan beberapa hal lain. Seperti, ucapan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, seluruh tabib sepakat pengobatan suatu penyakit berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umur,  kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik. Kadar dan jumlah obat pun harus sesuai dengan penyakit. Jika dosisnya kurang, tidak mampu menyembuhkan secara total. Jika dosisnya berlebih, akan dapat menimbulkan bahaya lain.

Maka, penggunaan thibbun nabawi pun tak boleh asal-asalan. Selain itu, keyakinan kesembuhan datang dari Allah pun perlu ditancapkan dalam hati. Sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim, seperti disebut sebelumnya bahwa thibbun nabawi akan dirasakan manfaatnya jika jiwa menerima dan meyakini bahwa Allah akan memberikan kesembuhan baginya. Sehingga, pengobatan thibbun nabawi hanya cocok bagi jiwa yang baik sebagaimana pengobatan dengan Alquran yang tak cocok kecuali bagi jiwa yang baik dan hati yang hidup.

 

REPUBLIKA

Alasan Emmanuel Adebayor Memutuskan Masuk Islam

Emmanuel Adebayor mengungkapkan alasannya masuk Islam. Striker Tottenham Hotspur ini mengaku masuk Islam karena melihat kesamaan Islam dan agamanya sebelumnya, Nasrani yang akhirnya menuntun dia kepada kebenaran.

“Yesus mengajarkan bahwa hanya satu Tuhan dan hanya Allah yang pantas untuk disembah seperti dalam Deut 6:4 dan Mark 12:29. Sedangkan Islam pun demikian di surat An Nisa 4: 171,” katanya kepada The Herald yang dilansir Abna24, Selasa (4/8/2015).

Kemudian skuat timnas Togo itu juga menjelaskan beberapa alasannya memilih Islam. Dia kemudian mengunggah videonya di Youtube. Dalam video tersebut dia menggunakan jubah berwarna putih dan mendeklarasikan kepercayaan barunya itu.

Wa asyhadu anna muhammadur rasulullah,” demikian yang dia ucapkan dalam video yang diunggahnya.

Di antara beberapa alasannya tersebut adalah:

1. Nabi Isa (Yesus) juga tidak makan daging babi seperti halnya umat Muslim, karena babi adalah binatang yang kotor dan tidak sehat untuk dimakan

2. Kata Assalamu ‘alaikum dan Inshaa Allah yang tercantum dalam kitab suci umat Islam, Alquran, ternyata juga digunakan oleh nabi Isa

3. Dia juga menemukan ternyata nabi Isa juga selalu membasuh muka, tangan dan kakinya sebelum beribadah, seperti yang dilakukan umat Islam

4. Ternyata nabi Isa dan nabi-nabi lainnya juga beribadah dengan bersujud ke tanah (lihat Matthew 26:39). Hal tersebut seperti yang disebutkan dalam surat Al Imran 3:43

5. Nabi Isa juga berjenggot dan mengenakan jubah. Di mana hal itu merupakan sunnah bagi para Muslim

6. Nabi Isa mentaati syariat dan juga percaya pada semua nabi, seperti yang tercantum dalam Matthew 5:17. Hal itu sama dengan Alquran yang menyebutkannya pada surat Al Baqarah 2:285 dan Al Imran 3:84

7. Seperti yang dia sebutkan sebelumnya, baik di Injil maupun Alquran menyebutkan hanya Allah yang patut untuk disembah

 

REPUBLIKA

Doa Pierre Setelah Bersyahadat

Pierre mengamati tato Yesus di dadanya. Tato yang sengaja ia buat saat kembali sebagai umat Protestan yang taat. Sebagai lambang kecintaan pada Tuhannya.

Namun, ia malah bertanya-tanya ihwal alasan sebenarnya membuat tato itu. Perdebatan mulai muncul dalam benaknya.

“Kenapa bikin tato Yesus. Karena gua cinta sama dia. Yakin cinta sama dia, emang kenal sama dia. Dia Tuhan. Tahu dari mana dia Tuhan? kata Pierre mengenang perdepatan di dalam dirinya dilansir dari kanal Vertizone TV, Senin (13/2).

Pierre dihantui pertanyaan itu. Ia mencari jawaban terhadap rasa penasarannya melalui Alkitab. Sekedar ingin tahu, Yesus itu siapa? Meskipun lahir sebagai umat Protestan. Namun, Pierre menggap itu agama turunan dari keluaranya. Ia mempelajari bibel. Namun, menemukan banyak kejanggalan.

“Mohon maaf, menurut saya nggak masuk akal konsep tiga jadi satu, menurut saya nggak logis,”ujar dia.

Pertanyaan dan kejanggalan itu membuatnya kembali malas ke gereja. Padahal, saat itu ia baru saja ingin kembali ke jalan Tuhan. Tepatnya setelah mendapat perawatan selama 21 hari di rumah sakit (RS) Azra Bogor, Jawa Barat pada 2013 silam. Sakit yang disebabkan kenakalan remaja, seperti minuman keras dan obat terlarang.

Pierre tak serta merta berlabuh ke Islam. Sebenarnya, kekagumannya pada Islam sudah ada sejak lama. Ia teringat saat masih menjadi sorang Protestan, masa jahiliah Pierre menyebut itu, melihat kakek-kakek shalat Subuh di masjid.

“Awalnya saya salut sama orang Islam, Subuh-subuh, kakek-kakek bangun pagi,”ujar dia.

Keraguan Pierre terhadap Tuhannya tak pernah dibahas lagi. Hingga ia bertemu dengan seorang teman bernama Syakib. Salah satu pertanyaan yang pernah dilontarkan Syakib dalam obrolan ringan, “kenapa Pierre menyembah Yesus?”

Pertanyaan itu tak pernah ia pikirkan lagi. Syakib juga menanyakan, apakah Yesus pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan?

Obrolan itu menggelitik Pierre untuk mulai membaca bibel lagi. Ia meyakini, tak ada satupun tertulis di bibel menyatakan Yesus sebagai Tuhan. Ia menyebut, salah satu bukti yakni ada di Matius ayat 4 sampai 10 yang mengisahkan Yesus diganggu iblis di padang gurun. Maka berkatalah Yesus kepadanya: Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!

“Itu baru satu, belum perjanjian lama,”ujar dia.

Sejak itu ia mulai terbayang-banyak apa Islam sebagai agama yang benar. Namun, belum ada keyakinan terhadap pemikirannya itu.

Suatu ketika, ia mengingat peristiwa saat kelas V sekolah dasar. Saat itu, waktunya menyerahkan tugas hafalan di sekolah minggu. Dari 10 anak, hanya dirinya yang salah membaca dengan tepat. Padahal pasal dan ayat yang ia baca sama dengan teman lainnya.

Penasaran, ia menanyakan pada seorang kakak di sekolah minggu. Kakak tersebut mengatakan tak ada yang salah dengan tugas Pierre. Hanya, jawaban teman-temannya berasal dari bibel yang disempurnakan. Sementara Pierre membaca bibel terbitan 1990an.

Saat itu ia tak mempermasalahkan atau memikirkan lebih dalam soal penyempurnaan kitab suci. Namun, saat dewasa, keraguan terhadap agamanya muncul, Pierre kembali memikirkan peristiwa itu.

“Kalau benar bibel itu kitab suci, kenapa banyak revisi. Menurut saya, kitab suci itu suci, nggak boleh ditambah, dikurangi. Kalau ada intervensi manusia di sana, apa bisa itu dikategorikan sebagai kitab suci, kannggak,”tutur Pierre.

Terkait kenapa pilihannya jatuh ke Islam, bagi Pierre, Islam satu-satunya agama yang bisa diterima oleh akal dan logika, agama tanpa kontradiksi, agama sempurna yang mengatur dari cara menggunting kuku hingga bernegara. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Akhirnya ia memberanikan diri membaca Alquran. Ia menemukan surat Al Baqarah ayat 23-24 tentang tantangan Allah SWT. Dengan membaca basmalah, Pierre melantuntan dan mengartikan kedua ayat itu.

“Jika kamu meragukan Alquran yang kami turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, coba datangkan satu surat yang semisal Alquran itu. (Al baqarah:23) Tantangan itu langsung diberikan jawaban oleh Allah SWT. Kamu sesungguhnya tak akan bisa, dan pasti tak akan bisa. (Al Baqarah:24). Namun, yang menjadi pegangan Pierre yakni QS Al Hijr:9, Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kami yang akan menjaganya.”

Menurut dia, bukti surat itu yakni ada banyaknya hafidz Alquran dari dulu hingga saat ini. Sehingga, setiap kata dan huruf dalam Alquran tak pernah berubah.

Pun ia melihat kalimat politik Allah SWT ada dalam QS Al Ikhlas, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. Pierre menganggap itu adalah definisi Tuhan yang sebenarnya, yakni tak berwujud, tak terlihat, tetapi bisa dirasakan.

Pada 2015 ia memberanikan diri membaca kalimat syahadat. Namun, ia merasa belum menjadi Muslim yang sebenarnya lataran masih sering mabuk-mabukan dan bolong shalat lima waktu.

Ia meminta pekerjaan pada Allah SWT. Doanya langsung dijawab. Ia mendapat pekerjaan sebagai petugas depan salah satu hotel bertaraf internasional di Cikarang. Sesuatu yang sangat ia syukuri mengingat dirinya hanya lulusan sekolah dasar.

Salah satu target setelah menjadi pegawai, yakni tak mau meninggalkan shalat lima waktu. Namun, posisinya sebagai petugas depan menyulitkan melaksanakan shalat tepat waktu.

Terbesit keinginan untuk berhenti kerja. Kemudian, ia menjalankan shalat Istikharah tiga hari tiga malam, meminta petunjuk Allah SWT. Sebuah peristiwa membuatnya yakin untuk berhenti bekerja di hotel itu.

Pierre hijrah ke Yogyakarta. Awalnya ingin ziarah ke makam ayahnya. Namun, ia malah tinggal lama di rumah makdhe-nya di Kotagede.

Pierre mulai mengenal Islam lebih dalam. Ia bisa mempraktikkan keinginannnya untuk shalat lima waktu, tepat waktu, dan berjamaah. Ia sempat tinggal di masjid dan pesantren selama beberapa lama.

Pierre mendapat ketenangan yang tak pernah ia dapat sebelumnya. Ketenangan yang tak ada saat ia menjadi seorang Protestan.

Ia mendapat dua pekerjaan sekaligus, yakni pengantar katering dan penjaga pulsa. Terhadap janji Allah SWT, ia teringat suatu hadist, Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

“Itu janji Allah. Saya resign (berhenti kerja) karena ingin shalat lima waktu, tepat waktu, dan berjamaah, kalau bisa,” tutur dia.

Disingung penerimaan keluarganya, Pierre menyesalkan salah ambil sikap mengabarkan ihwal peralihannya pada Islam. Apalagi orang tuanya adalah seorang Protestan yang taat. Ibunya bahkan pernah mewanti-wanti agar Pierre tak menjadi mualaf.

Informasi tentang hijrahnya Pierre mulai sampai ke telinga ibunda. Apalagi, ia kerap shalat di masjid.

Saat itu, ibunya mencoba mengklarifikasi kabar itu. Sambil menangis, ibunya mengatakan kekecewaanya kenapa tak membicarakannya dahulu pada keluarga saat hendak beralih ke Islam.

Tak sanggup melihat tangis ibunya, Pierre mengucap, Apa perlu saya balik, biar mama berhenti nangis. Namun, ibunya melarang. Ibunda justru meminta Pierre menetap pada pilihannya, menjalankan kewajiban sebagai Muslim.

Itu menjadi cambuk untuknya membuktikan diri sebagai Muslim, bukan sekedar beragama Islam dalam KTP. Merasa ditinggalkan kelurga besar, pernah ia rasakan. Namun, ia tak terlalu mengambil pusing. Hal itu bukan lantaran ia tak peduli dengan keluarga.

“Saya berdoa, ya Allah, ambil semua yang Allah mau dari saya, pekerjaan, keluarga, teman. Cuma satu, jangan ambil keislaman saya,”kata dia.

Sambil meneteskan air mata, Pierre mengatakan Islam sudah menyelamatkan hidupnya. Ia tak bisa membayangkan bisa hidup damai tanpa Islam, bila masih menjadi non-Muslim. Bisa saja, ia sudah meninggal karena pergaulan bebas.

Pierre berpesan pada teman mualaf, jangan malas menjalankan shalat lima waktu. Sebab, itu kewajiban Muslim, pilar agama. Ia beranggapan meninggalkan shalat artinya seseorang telah meninggalkan segalanya.

Jangan malas belajar ilmu agama, ambil baiknya buang buruknya. Nggak perlu mengotak-kotakkan ustaz, selama yang disampaikan baik dan menambah keimanan kita, terima, tutur dia.

 

REPUBLIKA

Rasulullah: Apa yang Aku Larang maka Jauhilah

ABU Hurairah radhiallahu anhu, menceritakan bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:

“Apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)-nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang yang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mereka (yang mereka ajukan) dan perselisihan mereka dengan para Nabi-Nabi (yang diutus kepada) mereka”. (H.R.Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut kita diperintahkan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan menjauhi apa saja yang dilarang oleh beliau. Larangan tersebut dimaksudkan agar kita tidak terjebak dengan apa yang telah menimpa umat-umat terdahulu yang hancur dan binasa gara-gara terlalu banyak bertanya kepada Nabi-Nabi mereka tentang sesuatu yang tidak ada faedahnya begitu juga seringnya mereka berselisih dan membantah Nabi-Nabi mereka tersebut.

Secara global, barangsiapa yang melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi saw dan menjauhi apa yang dilarang oleh beliau dan memfokuskan diri pada apa yang diperintahkan kepadanya, terlepas dari yang lainnya maka dia akan mendapakan keselamatan di dunia dan akhirat sedangkan orang yang berbuat sebaliknya dengan menyibukkan dirinya berdasarkan pertimbangan logika dan perasaan semata, maka dia telah terjerumus kedalam apa yang dilarang oleh Nabi saw sama seperti halnya Ahlul Kitab yang binasa lantaran terlalu banyak bertanya dan berselisih dengan para Nabi mereka dan ketidaktundukan serta ketidaktaatan mereka kepada para Rasul yang diutus kepada mereka.

 

INILAH MOZAIK

Menebar Manfaat

ALHAMDULILLAAHI Robbil aalamiin. Semoga Allah Yang Maha Menatap, senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita menjadi orang-orang yang istiqomah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesulitan dari seorang muslim dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Allah akan selalu menolong seseorang selama ia menolong orang lain.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi).

Saudaraku, pada hakikatnya manusia selalu membutuhkan keterlibatan orang lain dalam hidupnya. Pada helai baju yang kita pakai hari ini saja, banyak tangan yang sudah terlibat di sana. Ada keterlibatan petani kapas, ada keuletan pembuat kain, ada kesungguhan pedagang dan keterampilan penjahitnya, dan seterusnya hingga sampai di badan kita. Begitu juga pada makanan yang kita nikmati hari ini. Ada keterlibatan petani padi, pembuat garam, tangan dingin yang memasak dan seterusnya.

Maasyaa Allah! Sungguh banyak manfaat yang sudah kita terima dari orang lain. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita pun berbuat demikian, menjadi manfaat bagi orang lain. Karena sebagaimana yang Rasulullah Saw mengajarkan bahwa manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Tidak boleh kita hidup individualis apalagi egois hanya mementingkan kepentingan diri sendiri saja. Karena pada dasarnya fitrah manusia tidaklah demikian. Kita adalah makhluk sosial yang sebenarnya kebahagiaan sejati akan kita rasakan manakala kita bisa membahagiaan orang lain.

Dan, Rasulullah Saw adalah figur teladan yang paling depan dalam urusan membantu sesama dan membela kepentingan umat manusia, sampai-sampai di akhir hayat beliau pun beliau masih saja memikirkan kepentingan umatnya. Semoga kita termasuk pengikut beliau yang juga meneladani akhlak mulianya untuk bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan kita. Barang siapa menolong sesama, maka niscaya Allah Swt. akan menolongnya. WAllahualam bishowab. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Teladan Peduli Hamka pada Kaum Papa

Kali kedua kaki Kons Kleden menginjakkan kaki ke rumah Buya Hamka di Kebayoran Baru. Pada kunjungan pertama, Desember 1980, wartawan Katolik ini gagal mewawancarai Hamka. Pasalnya, pada waktu yang telah disepakati, sang tuan rumah mendadak ada acara yang tidak bisa ditepikan. Istri Buya Hamka, mewakili sang suami, memohonkan maaf pada sang wartawan. Lalu janji pertemuan pengganti pun dibuat.

Pada kunjungan kedua untuk meliput pandangan sang ulama terhadap masa depan Islam di tanah air, Kons memiliki kans bersua Hamka. Pukul lima sore ia dijadwalkan bersua penulis Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial ini. Kons bukan tak tahu tamu sang tuan rumah berjibun bak pasien mengantre di rumah dokter spesialis satu-satunya di daerah pinggiran. Tebersit di hati apakah dirinya bisa diterima pada waktu yang dijanjikan.

Ada aneka latar tamu yang datang hari itu. Dari yang berpenampilan kaya, intelek hingga—maaf—compang-camping. Tatkala waktu mendekati pukul lima, tamu yang berbusana kumal menyalip Kons. Sebenarnya, Kons mestilah diterima lebih dulu kendati waktu belum tepat di angka lima. Ternyata lelaki dengan penampilan tak sedap dipandang itulah yang dipanggil lebih dulu tuan rumah.

Buya Hamka menerima para tamunya di beranda rumah. Apa yang dilakukan tuan rumah pada salah satu tamu, diketahui tamu-tamu lainnya.

“Sama hangatnya, sama penuh perhatiannya, seperti Buya menerima tamu-tamu yang datang bermobil atau berdasi,” sebut Kons terhadap penerimaan Hamka pada tamu yang menyalipnya itu.

Sang tamu yang menyalip Kons tampak menyampaikan berkas pada Hamka. Di kolom harian Pelita yang kemudian dimuat ulang dalam Perjalanan Terakhir Buya Hamka, buku hasil suntingan tim wartawan Panjimas (1982), Kons bercerita lebih lanjut.

Setelah berbincang sebentar dengan lelaki serupa gelandangan itu, Hamka masuk ke rumah. Tak lama menghampiri sang tamu itu dan menyerahkan sesuatu ke dalam tangannya.

“Mataku masih sempat melirik bahwa di dalam tangan Buya terselip beberapa lembar uang ribuan,” jelas Kons bersaksi.

Perasaan kecil hadir dalam hati Kons mendapati adegan di hadapannya itu. Sampai akhirnya namanya disebut tepat pada pukul lima.

Tidak hanya kali itu saja orang-orang yang datang bertamu menghajatkan soal suramnya dapur rumah tangga mereka. Sebabnya beragam musibah. Seperti disebutkan putra Hamka, Rusjdi, dalam Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr K.H. Hamka (1981), hal biasa apabila rumah mereka didatangi perempuan gelandangan yang menggendong anak dan meminta bantuan.

“Untuk orang-orang yang malang itu, biasanya dikasih makan dan diberi uang ala kadarnya, Rp 1000,- atau Rp 500,-, kadang-kadang Ayah tak punya uang dan anak-anak tak ada di rumah. Mereka (para tamu itu) pulang dengan hampa tangan, setelah dihibur dan dibujuk dengan nasihat-nasihat,” cerita Rusjdi.

Orang yang tahu keseharian Buya Hamka mafhum, sang ulama ini bukan orang yang kaya raya secara harta benda. Reputasi namanyalah yang membuat orang percaya hingga tak enggan membantu. Tapi Hamka tentunya pantang meminta-minta. Di luar sebagai juru dakwah, menulis buku adalah profesinya, dengan honorarium dari royalti inilah yang bisa dijadikan pegangan menghidupkan anak dan istrinya. Ada keberkahan dalam kecukupan harta yang ada, kendati menurut penglihatan orang banyak jumlahnya itu kecil secara nominal. Yang jelas, tatkala ada orang yang menitipkan atau mengamanahi uang padanya, uang itu pula yang kemudian diberikan Buya kepada para tamu.

Mengapa Buya Hamka berbelas kasih pada para papa yang hanya memenuhi beranda rumahnya saban hari itu?

“Kadang-kadang musuh itu bukanlah berupa perbarangan, tetapi berupa keadaan. Di dalam seluruh dunia sekarang ini, dan di dalam negeri kita sendiri pun terdapatlah pula tiga musuh besar, …  ialah kebodohan, kemelaratan alias kemiskinan, dan penyakit.” Demikian Buya Hamka berkhutbah dalam shalat Idul Adha 1382 Hijriah di halaman Masjid Al Azhar (materi khutbah dimuat ulang dalam Gema Islam No 32, 15 Maret 1963).

Ini tampaknya hujjah dan jawaban mengapa Hamka ringan tangan membantu kalangan dhuafa, selain tentunya untuk menuruti sang junjungan Rasulullah. Jihad melawan kemiskinan sudah menjadi agenda lama Buya Hamka. Ia pahami betul denyut nadi sebagai anak dari keluarga yang lebih mementingkan ilmu ketimbang menghimpun harta benda. Merantau ke negeri orang diniati bukan untuk memperkaya diri, selain dalam soal kedalaman ilmu. Risiko ini yang belum mesti dipedomani saudara seagamanya yang “ditakdirkan” sebagai orang miskin harta. Maka, Hamka terpanggil untuk menyerukan Muslimin untuk saling membuka tangan membantu sesama. Agar saudara mereka tidak dicaplok oleh orang beriman lain tapi menyimpan misi lain.

Yang disaksikan banyak orang, semisal Kons Kleden, adalah bukti realisasi komitmen Buya Hamka untuk membantu mereka yang berada dalam posisi di bawah. Tak semata nasihat penyemangat untuk terus gigih bekerja, tapi juga bekal meski jumlahnya ala kadar dalam amplop di sebalik jabatan pada para tetamu berhajat itu. Buya tentu ingin mengajarkan dirinya yang acap diundang dan bicara soal Islam di mana-mana perlu memberikan contoh. Ia yang terbatas tetap perlu memberi, sekecil apa pun. Hingga yang lain, para muhsinin jamaah pengajiannya atau simpatisan dakwahnya yang dikaruniai rezeki berlimpah, tergerak mengikuti. Teladan nyata dari alim akan membekas dalam ingatan dan tindakan umat.

Teladan yang bersahaja dan praktis seperti di atas, lebih dinantikan umat ketimbang seruan mengagetkan yang terkesan “menegakkan syariat” tetapi melupakan keteladanan para penyerunya pada aspek syariat lainnya. Semisal wacana menarik zakat maal sebesar 2,5% pada aparat sipil negara tiap bulannya. Seolah peduli pada mengentaskan kemiskinan dengan instrumen zakat, tapi disebalik itu tidak disiapkan kesungguhan dan kejujuran mengajak kebaikan pada syariat lainnya. Yang gamblang, pada waktu lain justru teladan yang menyakitkan umatlah yang ada.

Oleh: Yusuf Maulana, Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku “Mufakat Firasat”, dan “Nuun, Berjibaku Mencandu Buku”.

 

REPUBLIKA

Buya Hamka Politisi dan Ulama yang Konsisten

Direktorat Dakwah dan Sosial Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar menyelenggarakan seminar nasional dengan tema Membedah Pemikiran Buya Hamka dalam bidang Teologi, Fiqh, Harakah, Sastra, Pendidikan dan Tasawuf. Seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka Milad ke-66 YPI Al Azhar dan Milad ke-110 tahun Buya Hamka.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Yunan Yusuf menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut. Menurutnya, Buya Hamka merupakan seorang politisi dan ulama yang konsisten.

Prof Yunan mengatakan, hal yang bisa ditiru dari sosok Buya Hamka di bidang keulamaan dan politik adalah sikapnya yang konsisten. Buya Hamka tidak pernah bergeser ke mana-mana sebagai seorang ulama. Jadi Buya Hamka memadukan antara keulamaan dan kepolitikan.

“Dulu beliau anggota Konstituante Masyumi, yang saya lihat, beliau tidak pernah terbawa oleh arus mana pun, kepolitikan Buya Hamka bernuansa ulama dan ada politiknya,” kata Prof Yunan kepada Republika di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Kamis (15/2).

Ia mengatakan, kalau Buya Hamka berbicara tentang politik, Buya Hamka juga berbicara nilai-nilai Keislaman. Buya Hamka juga termasuk seorang politisi yang piawai memainkan perannya.

Ia menceritakan, Buya Hamka sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa larangan mengucapkan selamat Natal bagi Muslim. Buya Hamka sangat konsisten saat itu. Ketika Buya Hamka berhadapan dengan pemerintah, beliau mengambil jalan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

“Beliau tidak memisahkan agama dengan politik, tetapi memberi nuansa moral agama ke dalam politik,” ujarnya.

Mengenai pandangan Prof Yunan terhadap perpolitikan saat ini, menurutnya secara menyeluruh perpolitikan di Indonesia sekarang ada yang berubah. Sekarang politiknya adalah politik kepentingan. Jadi kepentingan politik dikedepankan, sementara nilai-nilai moral dan agama dikebelakangkan.

Ia berharap, para politisi kembali menjunjung nilai-nilai kenegaraan, kebangsaan dan agama. Agar para politisi tidak terbawa arus dan terjerat kepentingan sesaat dan uang. “Sekarang kita tidak bisa menghindarkan diri dari politik transaksi yang disebut-sebut itu, sekarang ini biaya pilkada mahal sekali dan tidak mungkin tanpa uang,” ujarnya.

 

REPUBLIKA