Belajar Lega Hati dan Luas Dada Sikapi Peristiwa

“MENGAPA hal yang terjadi padaku selalu saja tidak sesuai dengan keinginanku?” Pertanyaan seperti ini banyak terlontar dari mulut orang yang antara harapan dan kenyataannya berbanding terbalik.

Biasanya para guru menjawab: “Itu adalah cara Allah menyadarkanmu bahwa kamu ada manusia yang penuh keterbatasan. Allah ingin engkau bergantung kepadaNya.” Saya setuju dengan jawaban ini.

Lalu, ada juga yang bertanya: “Mengapa dia menyakitiku padahal aku tak berbuat salah padanya?” Ada yang menjawab: “Itu adalah cara Allah memberitahu dirimu bahwa sakit itu tak enak dan karenanya maka sayangilah orang yang tersakiti dan janganlah pernah menyakiti. Lalu Allah mengangkatmu menjadi guru kehidupan yang bijaksana.” Saya setuju dengan jawaban ini.

Sesungguhnya, setiap peristiwa yang terjadi itu memiliki banyak ibrah dan hikmah yang sangat berguna. Sayangnya, bacaan kita akan peristiwa itu masih bagai bacaan anak TK yang mengeja huruf menjadi kata tanpa tahu makna yang dimaksud. Karena itu maka kita belum bisa menikmati indahnya kisah hidup. Bagi pembaca yang sudah mahir, semua jenis kisah hidup adalah pesan indah dari Sang Pencipta. Karena itu, jadilah pembaca yang cerdas.

Pembaca yang cerdas akan memiliki karakter terpuji. Dia akan selalu tampil lega hati dan luas dada menyikapi semua peristiwa. Dia tak akan menyimpan benci dan memelihara dendam. Dia akan tetap tersenyum karena mudah memaklumi dan memaafkan apapun yang tak sesuai dengan keinginan perasaannya sendiri. Hebat, bukan?

Seorang ulama ternama bernama Ahnaf bin Qays berkata: “Jika datang kepadamu seseorang meminta maaf atas kesalahannya, maka sambutlah dia dengan wajah suka dan bahagia.” Demikian keterangan yang dikutip di kitab Bahjatul Majalis jilid 1 halaman 106. Tidak mudah menyambut permohonan maaf dengan wajah suka dan bahagia. Hanya orang cerdas hatilah yang mampu melakukannya. Kebanyakan orang masih terus curiga dan berburuk sangka. Inilah yang menjadikan mereka gagal menjadi manusia pilihan. Salam, AIM. [*]

 

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi |

Nekat Berangkat Haji/Umrah tanpa Suami/Mahram!

KEBIJAKAN pemerintah saudi dengan menetapkan mahram bagi para wanita yang hendak berangkat haji atau umrah itu berdasarkan panduan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. “Dari Abu Daid al-Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wanita tidak boleh melakukan safar selama 2 hari, kecuali disertai suaminya atau mahramnya.” (HR. Bukhari 1197).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar selama sehari semalam, sementara dia tidak ditemani mahramnya.” (HR. Bukhari 1088).

Bahkan, mengingat pentingnya mahram dan pendamping bagi wanita ketika safar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah meminta salah seorang sahabat untuk menunda keikut sertaannya dalam jihad. Agar bisa menemani istrinya ketika hendak haji. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan, ada seorang sahabat melapor kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, saya ingin tergabung dengan pasukan perang ini tapi istriku ingin pergi haji.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Berangkatlah haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari 1862).

Karena islam memuliakan wanita. Bentuk penjagaan islam terhadap wanita, adanya SOP bagi wanita yang melakukan safar. Sebagaimana pejabat ketika keluar rumah, dia diikat dengan SOP protokoler. Bukan dalam rangka mengganggu kebebasan mereka. Namun untuk menjaga kehormatan dan keselamatan mereka. Secara nurani, sekalipun orang tidak tahu dalil, ketika ada wanita yang melakukan safar sendirian, orang yang melihatnya akan merasa ada yang kurang. Bahkan bisa jadi akan muncul dugaan buruk, suudzan kepada wanita itu. Kita layak bersyukur kepada Allah, ketika situs-situs haji ditangani oleh pemerintahan yang sangat perhatian dengan aturan islam, semoga Allah menjaga mereka.

Yang lebih penting dalam mahram bukan masalah surat. Surat hanya persyaratan administrasi, sebagi bukti bahwa wanita yang masuk tanah suci ini, benar-benar ditemani oleh suaminya atau mahramnya. Yang sangat memprihatinkan, ketika surat ini justru menjadi peluang terjadinya penipuan. Terutama ketika ada jemaah wanita yang berangkat tanpa diiringi suaminya atau mahramnya. Untuk tetap bisa lolos, travel haji atau umrah membuat surat mahram palsu. Ini jelas penipuan. Semua yang terlibat, dia menanggung dosanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menipu kami (umat), maka dia bukan bagian dari kami.” (HR. Muslim 294)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menipu, maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Muslim 295)

Pendidikan itu penting! Kata kunci pendidikan selalu dibutuhkan dimana-mana. Tidak ada ujungnya. Sepanjang masih ada kehidupan, long life education. Terkadang ada travel yang misi besarnya hanya mencari untung. Siapapun jemaah, siap tampung, sekalipun wanita muda yang hendak berangkat tanpa mahram. Urusan mahram, bisa pakai surat mahram. Sehingga penipuan memang sudah jadi rencana sejak awal. Ada juga travel yang sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ingin sesuai dengan sunah, namun sayang jemaahnya kurang diedukasi. Sehingga ada sebagian wanita yang dengan jumawa tetap nekat berangkat haji atau umrah tanpa mahram, dengan siasat surat mahram.

Karena itu, edukasi untuk semuanya itu penting agar semuanya satu frekuensi. Baik travel maupun jemaah harus sama-sama menyadari bahwa dalam perjalanan ini harus ada mahram. Travel siap menunda keberangkatan jemaah wanita yang tanpa mahram. Sebaliknya, jemaah wanita juga siap untuk mengundurkan diri, jika ternyata dia tidak bisa berangkat karena kendala mahram. Agar kebiasaan menipu, tidak terlalu menjamur di negara kita.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semuanya untuk tetap di atas jalan kebenaran. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

 

Jaminan Surga Bagi Istri Taat

Dalam pernikahan, suami bisa menjadi surga atau neraka bagi seorang istri.

 

Taat kepada suami menjadi sebuah kewajiban bagi seorang Muslimah yang telah menikah. Meski demikian, ketaatan istri kepada suami harus terlepas dari segala kemaksiatan.

Dalam HR Ahmad, Nabi SAW pernah bersabda, “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan di katakan padanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun yang kau mau’.”

Dalam pernikahan, suami bisa menjadi surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhaan suami menjadi ridha Allah SWT. Istri yang tidak diridhai suaminya karena tidak taat, dikatakan sebagai istri yang durhaka atau kufur nikmat.

Dalam HR Bukhari Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa baginda melihat wanita merupakan penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita bertanya mengenai alasan hal tersebut. Nabi menjawab di antaranya karena wanita banyak yang durhaka pada suaminya.

Dalam surah an-Nisa ayat 34, Allah SWT berfirman, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” Ketaatan seorang istri akan memengaruhi kelanggengan dan keharmo nisan sebuah hubungan keluarga. Islam pun memuji istri yang taat kepada sua minya. Istri yang taat dianggap sebagai wanita terbaik.

Dari Abu Hurairah ra, Ia berkata, “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang sifat wanita penghuni surga. Ia berkata, “Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya. Apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha’.”

Dikisahkan pada zaman Rasulullah, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya ke pada Rasul. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan ke perluannya, Nabi bertanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?”, Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.” Mendengar hal itu Nabi menjawab, “Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) surgamu dan neraka.”

Kewajiban lain dari seorang istri adalah benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya. Baik menjaga harta suami hingga rahasia-rahasianya, dan bersungguh-sungguh mengurus urus an-urusan rumah. Rasulullah SAW ber sabda, “Dan wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.”

Namun, ketaatan yang harus dila kukan oleh seorang istri kepada suami adalah hal-hal yang ma’ruf dan baik da lam hal agama. Ajakan untuk kebaik an, seperti shalat, berpuasa, menggunakan pakaian syari, dan menghadiri majelis ilmu.

Kewajiban istri untuk menaati suaminya bukan sebuah ketaatan tanpa batas an. Dalam HR Al-Bukhari disebutkan, “Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat Maksiat, tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik.” Ketaatan istri ini harus dibarengi oleh sikap suami yang suka berkonsultasi dan meminta masukan dari istrinya, komunikasi seperti ini bisa memperkuat ikatan dalam keluarga.

 

REPUBLIKA

Kebodohan dan Fanatisme Penyebab Manusia Lari dari Kebenaran !

Allah swt berfirman,

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡۘ تَشَٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡۗ قَدۡ بَيَّنَّا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يُوقِنُونَ

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kita?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin. (QS.Al-Baqarah:118)

Kebodohan dan fanatisme adalah penyebab utama larinya seseorang dari kebenaran. Inilah yang tercantum dalam Al-Qur’an dalam sepanjang sejarah para Nabi dan Rasul.

Para penentang kebenaran selalu mengarang alasan dan meminta bukti-bukti yang aneh dan mengada-ada untuk dapat lari dari kebenaran. Mereka telah menyaksikan berbagai argumen bahkan mukjizat yang diberikan oleh para Nabi, namun kebodohan dan fanatisme membuat mereka lari dari kebenaran yang nyata dihadapan mereka.

Terkadang mereka mengarang, meminta atau menyarankan sesuatu kepada Nabi dengan permintaan yang aneh. Seperti contoh :

“Mengapa Allah mengutus Nabi dari kalangan manusia, bukan dari Malaikat?”

“Kami tidak akan beriman sebelum kami melihat Allah. Datangkan Allah kepada kami !”

“Kami tidak akan beriman sebelum engkau mengeluarkan apa yang ada didalam bumi atau engkau memiliki kebun yang luas dan menghasilkan berbagai buah-buahan.”

Contoh-contoh semacam itu begitu banyak dalam Al-Qur’an. Mereka meminta permintaan yang aneh dan mengada-ada untuk mencari celah agar bisa lari dari kebenaran.

Orang yang berilmu dan hatinya terhindar dari fanatisme akan menerima kebenaran hanya dengan satu bukti saja. Banyaknya bukti dan dalil yang diberikan oleh para Nabi hanya akan menambah keimanan mereka.

Namun aneh sungguh aneh, orang yang hatinya dipenuhi fanatisme dan kebodohan walaupun diberi ribuan dalil dan bukti yang jelas, tetap mereka akan lari dari kebenaran. Mereka selalu merasa menjadi yang paling benar dan tidak mau mendengar pendapat orang lain.

Walau semua permintaan mereka telah diberikan, orang-orang semacam ini tetap mencari dalih untuk menolak kebenaran.

Karena itu buang jauh-jauh kebodohan dan kefanatikan dengan cara mencari ilmu dan mau mendengar argumen orang lain.

Jangan pernah merasa paling benar sehingga menutup telinga dari pendapat yang lain.

Semoga bermanfaat…

 

KHZANAHALQURAN

Berdoa Saat Lapang, Agar Dikabulkan Saat Sempit

BERDOA adalah ibadah yang mestinya tidak hanya dilakukan pada saat atau kondisi lapang atau pun sempit saja. Melainkan pada semua keadaan. Karena hakikatnya kita membutuhkan pertolongan Allah. Baik untuk keluar dari masalah atau ujian yang kita hadapi, maupun demi lancar dan suksesnya urusan kita.

Orang yang memperbanyak berdoa, pada bagaimana pun keadaannya, niscaya peluang dikabulkannya doa jauh lebih banyak daripada orang yang berdoa pada satu kondisi tertentu saja.

Tersebut dalam hadits dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang”. (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Maka bagi siapa saja yang ingin agar doanya di kala susah atau sedih, hendaknya ia memperbanyak berdoa pada saat lapang, sesuai perintah Nabi. Berdoa di saat lapang misalnya dapat dalam bentuk permintaan agar dijaga dari celaka atau dari orang-orang yang dzalim. Agar dilanggengkan sehat, dan lain-lain.

Seorang mukmin sangat ditekankan selalu berdoa kepada Allah sebelum kesempitan atau kesusahan melanda. Hal ini sekaligus untuk membedakan dengan keadaan orang kafir dan dzalim sebagaimana Allah kabarkan dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 8.

Allah berfirman, “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu“.

Masih tentang sifat mereka, firman Allah dalam surat Yunus ayat 12, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya“.

Maka bagi siapa saja yang menginginkan doa-doanya dikabulkan, hendaknya ia memperbanyak berdoa pada waktu lapang agar doa Anda dikabulkan pada saat lapang dan sempit. [*]

Lindswell Kwok Siap Menyambut Ramadhan

Lindswell memiliki semangat yang tinggi untuk beribadah sebaik mungkin.

Dalam sebuah kejuaraan Wushu yang digelar oleh klub Rajawali Sakti, terlihat sesosok perempuan menggunakan hijab panjang. Jilbab berwarna Pas tel berpadu dengan baju longgar dengan warna senada, berbalut anggun di perawakan wanita keturunan Tionghoa ini. Dia tampil di tengah keramaian para penonton. Lokasinya di sebuah Pusat Belanja kawasan Jakarta Utara beberapa waktu lalu.

Sesekali perempuan ini berdiri untuk bisa menyaksikan lebih jelas, para atlet Wushu andalan DKI Jakarta yang sedang beradu kemampuan. Gerakan meliuk-liuk, tendangan, pukulan baik dengan tangan kosong ataupun yang menggunakan pedang, dari mulai remaja hingga dewasa ini, tak lepas dari sorot tajam Muslimah ini.

Peraih medali emas Asian Games 2018 dan sejumlah gelar juara dunia ini mulai menceritakan alasannya mundur dari Wushu. Ya wanita berhijab panjang berwarna pastel yang begitu anggun tersebut adalah sang Ratu Wushu Dunia kebanggaan Indonesia, Lindswell Kwok.

Saat waktu menunjukkan pukul 15.20 yang bertepatan dengan Shalat Ashar. Perempuan ini dengan ditemani seorang pria berjanggut panjang dengan celana cing krang meninggalkan lokasi pertandingan. Keduanya menunaikan kewajiban sebagai Hamba Allah.

Setelah menunaikan Shalat Ashar, mereka kembali untuk melanjutkan kembali menyaksikan para juniornya bertanding. Sesekali saat haus perempuan ini sambil duduk, dengan tangan kanannya meneguk minuman dari botol air mineral dengan tiga tegukan.

Dengan didampingi suaminya, Ahmad Hulaefi, Lindswell menyatakan dirinya mundur faktor utamanya adalah karena cedera yang dialaminya. Sebenarnya, sejak tahun 2015 saya sudah ingin pensiun. Faktor utama adalah cedera sehingga membuat latihan susah banget. Ternyata kemudian ada ASIAN Games 2018, dan multy event terbesar di Asia ini di gelar di Indonesia. Sehingga, pengurus memintanya terjun lagi dalam pentas olahraga tersebut.

Lalu, dia menanyakan bagaimana dengan cedera? Kemudian diputuskan ganti pola latihan, yang dulunya latihan 100 persen, sekarang 50 latihan, 50 terapi, agar nanti saat hari-H (pertandingan) peak Performance bagus, jelasnya.

Ternyata keputusan Lindswell menunda pensiunnya berbuah manis, dirinya mampu menyempurnakan prestasi di dunia Wushu dengan medali emas.

“Alhamdullilah sepertinya hampir semua pertan dingan Wushu bergengsi sudah saya ikuti. Dan Asian Games 2018 adalah persembahan terakhir saya sebagai atlet untuk bangsa Indonesia,” katanya.

Hasil ini membuat Lindswell semakin mantap untuk pensiun. Apalagi, setelah Asian Games 2018, tepatnya pada Hari Ahad, 9 Desember 2018 Lindswell melepas masa lajangnya. Dia dipinang rekannya di Pelatnas Wushu, Ahmad Hulaefi.

Ketika menyaksikan para atlet Wushu Lindswell mengaku agak geregetan, bukan karena ingin tampil lagi, tapi ingin membenarkan gerakan yang tidak tepat. Kalau ingin tampil lagi sebagai atlet saya tidak, tetapi geregetan saja lihat atlet jika gerakannya salah, ingin membenarkannya terutama untuk para atlet junior.

Setelah pensiun dari olahraga yang membesarkan namanya kini sang Ratu Wushu Asia ini sedang merintis bisnis pakaian Muslim. Sejak kecil dia sudah menyukai fesyen. Awalnya dia meminati keterampilan menjahit. Pakaian yang dikenakannya adalah hasil jahitan tersendiri. Kalau memakai pakaian jadi, biasanya kurang sreg. Ukuran dan modelnya tak sesuai selera.

Tak hanya diri sendiri. Kini dia menjahit dan merancang pakaian untuk orang banyak. Proses perancangan pakaian dilaksanakan olehnya dan saudara sepupu. Sementara ini hanya memproduksi pakaian Muslimah.

“Ke depannya kita ingin mem bidik segala usia,” jelas Kwok.

Pihaknya masih terus menyiapkan berbagai produk pakaian yang diproduk sinya untuk segera diluncurkan. Rencana nya, pada Ramadhan nanti sudah bisa mela kukan launching produk dan tempat penjualan. Lindswell mengaku rencana ini didukung oleh suami yang sejak lama berbisnis busana Muslim pria. Fokus terhadap bisnis yang tengah dirintisnya membuat dirinya masih belum memikirkan kariernya sebagai pelatih Wushu.

Pada Pengujung tahun 2018, kemunculan Ratu Wushu dengan hijab syar’i sem pat viral di dunia maya. Menpora Imam Nahrawi dalam Instagram-nya mem-posting dirinya yang menerima kedatangan pasangan Lindswell dan Hulaefi. Ketika itu, Lindswell terlihat mengenakan pakaian Muslimah.

Kemunculannya dengan berpakaian plus jilbab syar’i yang panjang, menghebohkan jagat maya. Awak media termasuk Republika berusaha mendapatkan informasi mengenai pengalaman spritualnya sehingga memutuskan untuk memeluk agama Islam. Namun, karena kondisi yang belum memungkinkan Lindswell melalui suaminya Hulaefi belum siap untuk menyebarluaskan kabar bersyahadat.

Sebelum menikah saya sudah mualaf, tepatnya tahun 2015 akhir. Mengenai di mana tempatnya tidak usah saya ungkap di sini, terangnya. Lindswell mengaku penasaran dengan ajaran Islam. “Setelah membaca berita adanya Orang Islam yang dituduh teroris. Saya penasaran terus mencoba mencari tahu, apa benar ada ajaran agama yang mengajarkan tindak kekerasan seperti seorang teroris, ujarnya.

Dia mencari melalui internet. Hasilnya, ternyata tidak demikian. Ajaran Islam penuh dengan kedamaian dan cinta. Saya juga penasaran dengan ajaran Islam yang mewajibkan berhijab, waktu itu saya pikir ini mengekang kebebasan. Namun, setelah saya jalani dengan mengenakan jilbab secara bertahap, justru memberi ketenangan kepada saya jelasnya.

Selain ketenangan setelah mengenakan hijab syari, dirinya juga tidak lagi dikatakan sombong jika menolak berpose ber sama penggemar. Selain melalui internet, dirinya juga kerap bertanya dan berdiskusi dengan Hulaefi, temannya di Pelatnas Wushu. “Saya juga sering mendengarkan kajian tentang Islam. Ustaz Khalid Basalamah salah satu yang kajiannya sering saya dengar kan. Referensi kajian dan ustaznya saya dapatkan dari Hulaefi,” kenangnya.

Sampai kini Lindsewell masih rajin mengikuti kajian, bahkan menurut Hulaefi. Lindswell sering diajak datang langsung ke kajian. Dia biasanya mendatangi kajian Islam di Masjid Blok M Square, kebetulan dekat dengan tempatnya bekerja di Kantor Wali Kota Jakarta selatan.

Perempuan kelahiran Binjai, 24 September 1991 ini mengaku hu bungan dengan keluarga dan orang tualah yang terasa berat. “Saat awal-awal mejadi mualaf memang orang tua dan keluarga sulit menerima. Inilah yang paling berat yang harus saya jalani sebagai mualaf,” kata dia.

Sedangkan, melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa masih lebih ringan dibandingkan hubungan yang meregang antara dirinya dengan orang tua dan keluarga. Namun, setelah sabar dan istiqamah untuk selalu menjaga hubungan baik, akhirnya Allah menunjukkan jalan untuknya kembali berhubungan dengan keluarga.

Alhamdulillah, katanya, saat ini orang tua sudah mau berkomunikasi. Kalau dengan keluarga besar memang masih belum, tetapi yang terpenting kedua orang tua sudah mau komunikasi, ujarnya. Jika dengan Lindswell sudah mau komunikasi, lain halnya dengan Hulaefi. Peraih medali perunggu ini mengaku komunikasinya dengan orang tua Lindswell belum pulih. “Kalau Lindswell sudah komunikasi, namun saya belum. Semoga secepatnya bisa komunikasi, ujar Hulaefi.

Saat ini keduanya tinggal dalam satu rumah di Tangerang Selatan. Tempat tinggal itu adalah hasil dari berbagai bonus, termasuk Asian Games 2018 lalu. Sedangkan, bonus rumah yang dijanjikan pemerintah sampai saat ini menurutnya belum ada kejelasan.

“Alhamdulillah keluarga baru, rumah baru dan siap menjalani kehidupan baru,” kata dia.

Kini kedua pasangan ini sudah dipersatukan dengan ikatan pernikahan secara islami. Mereka juga tidak lagi disibukkan dengan latihan Wushu karena keduanya sudah pensiun dari atlet wushu. Jika Lindswell mengurus bisnis busana Muslim yang baru dirintisnya, sang suami kini fokus bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan tidak terikat Pelatnas Wushu keduanya mengaku kini siap menyambut bulan Ramadhan pertama mereka sebagai keluarga.

“Jika sebelumnya saat puasa, tak jarang saya kurang maksimal beribadah karena bentrok dengan latihan wushu. Kebanyakan pelatnas Wushu digelar di Cina. Kini untuk pertama kalinya saya bersama istri akan bersiap me nyam but Ramadhan dan berusaha memaksimalkan dalam beribadah nanti,” kata Hulaefi.

Bagi Lindswell sendiri walaupun ini Ramadhan pertamanya bersama Hulaefi sebagai suami, tapi dia sebelumnya juga pernah menjalani ibadah puasa. “Saya sudah pernah puasa Ramadhan, bahkan juga pernah puasa Senin-Kamis.”

“Shalat Tarawih pun saya juga pernah. Namun, tentu Ramadhan kali ini akan berbeda karena sekarang saya sudah memiliki suami. Sudah tidak sabar menanti datang nya bulan penuh keberkahan,” ujar Lindswell.

Hulaefi menyatakan, kalau Lindswell memiliki semangat yang tinggi untuk beribadah sebaik mungkin. Di antaranya adalah menghafal surah pendek dalam Alquran. Dengan penuh kesabaran, Hulaefi mengajarkan Lindswell bagaimana membaca Alquran.

Pasangan peraih medali Asian Games 2018 ini juga ingin secepatnya memiliki buah hati. Inginnya sih secepatnya mendapatkan buah hati. “Mohon doanya agar kami secepatnya mendapatkan keturunan,”ungkap keduanya mengakhiri perbincangan.

Oleh: Fitriyanto, Wartawan Republika

REPUBLIKA

Pandangan Yusuf al-Qaradhawi Soal Kafir dalam Bernegara

Non-Muslim mempunyai hak yang sama dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Polemik penggunaan kata kafir yang muncul sebagai hasil Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) beberapa waktu lalu, pada dasarnya adalah diskursus lama bahkan kerap menjadi bahasan para cendekiawan Muslim lintas generasi.

Pandangan tentang posisi kafir dalam konteks berbangsa dan bernegara pun, tak luput dari sorotan Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Tokoh kelahiran Mesir, yang kini menjabat sebagai Sekjen Aliansi Ulama Islam Dunia itu, memaparkan gagasannya tentang status orang-orang kafir dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara itu, tertuang dalam mahakaryanya berjudul Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama’ al-Islami yang terbit  lebih dari satu dasawarsa itu.

Kitab tersebut dikarang Syekh Yusuf Qardhawi dengan berlandasan ilmu dan pikiran, serta berporoskan fikih dan sejarah. Kitab ini untuk mempersatukan umat beragama, bukan memecah belah.

Hubungan antara masyarakat antara sesama warga negara, antara Muslim dan non-Muslim ditegakkan sepenuhnya atas toleransi, keadilan, kebajikan dan kasih sayang.

Qardhawi mengungkapkan bahwa landasan hubungan umat Islam dengan non-Muslim terdapat dalam Alquran surah al-Mumtahanah ayat 8-9, yang berbunyi:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang tiada pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Berdasar ayat itu, menurut Qaradhawi, setiap Muslim dituntut agar memperlakukan semua manusia dengan kebajikan dan keadilan, walaupun mereka itu tidak mengakui agama Islam. Umat Islam harus adil kepada non-Muslim selama tidak menghalangi penyebaran Islam, tidak memerangi pengikutnya, dan tidak menindas para pemeluknya.

Toleransi Islam yang tak ada bandingnya tersebut dikupas lebih tajam oleh Qaradhawi di bagian akhir buku ini. Dia mengungkap tentang praktik-praktik toleransi yang dilakukan dalam perdaban Islam. Bahkan, dia membagi toleransi (tasamuh) keagamaan atas beberapa peringkat.

Dalam buku Qaradhawi ini, warga non-Muslim tidak disebut sebagai kafir, yaitu sebuah istilah yang baru-baru ini menjadi polemik di Indonesia. Tapi, dia menyebutnya sebagai ahludz-dzimmah atau dzimmiyyun (Orang-orang dzimmi), sebagaimana tradisi dalam Islam.

Kata dzimmah berarti perjanjian, jaminan dan keamanan. Warga non-Muslim disebut demikian karena mereka memiliki jaminan perjanjian (‘ahd)Allah dan Rasul-Nya serta jamaah kaum Muslimin, sehingga mereka bisa hidup dengan aman dan tentram di bawah perlindungan Islam dan dalam masyarakat Islam.

“Jadi, mereka berada dalam jaminan keamanan kaum Muslimin berdasarkan ‘akad dzimmah’,” kata Qaradhawi.

Akad dzimmah ini adalah akad yang berlaku selama-lamanya dan membolehkan non-Muslim tetap menganut agama mereka. Bahkan, mereka juga mendapatkan perlindungan dan perhatian dari jamaah kaum Muslim, dengan syarat ia membayar jizyah atau pajak per kapita.

Dalam buku ini, Qaradhawi juga menjelaskan tentang kondisi hukum syariat bagi non-Muslim yang hidup di tengah mayoritas umat Islam, baik dari segi kewajiban mereka ataupun hak-hak mereka yang dijamin sepenuhnya oleh umat Islam.

Di antara hak-hak non-Muslim tersebut adalah hak menikmati perlindungan negara Islam dan masyarakat Islami. Negara akan melindungi warga non-Muslim yang mendapat masalah di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga mereka merasa aman dan tentram.

Perlindungan terhadap kezaliman dari luar negeri itu juga ditegaskan dalam salah satu kitab dalam mazhab Imam Hambali, yaitu  Mathalib Ulin-Nuha: “Seorang imam wajib menjadi keselamatan ahludz dzimmah dan mencegah siapa saja yang menganggu mereka.”

Sementara, perlindungan terhadap kezaliman yang berasal dalam negeri adalah sesuatu yang sangat diwajibkan. Islam memperingatkan kepada umat Islam agar jangan sekali-kali menganggu dan melanggar hak ahludz-dzimmah, baik dengan tindakan maupun ucapan.

Terdapat banyak hadis yang secara umum mengharamkan kezaliman terhadap non-Muslim ahludz dzimmah. Salah satunya hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan al-Baihaqi berikut ini. Rasulullah bersabda:

“Barang siapa bertindak zalim terhadap seorang yang terikat perjanjian keamanan dengan kaum Muslimin atau memerangi haknya atau membebaninya lebih dari kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa ridhanya, maka akulah yang akan menjadi lawan si zalim itu kelak di hari kiamat.”

Namun, setiap hak yang didapatkan warga non-Muslim di negara mayoritas Islam tersebut tentu harus diimbangi dengan kewajiban yang harus dilakukan.

 

KHAZANAH REPUBLIKA