Shalat Dhuha, Ibadah Sunah Sarat Faedah

Rasulullah mewasiatkan kepada Muslim agar membiasakan shalat dhuha.

Shalat dhuha merupakan suatu ibadah sunah yang sangat bagus untuk dibiasakan kaum Muslimin. Ibadah ini dilaksanakan pada pagi hari ketika matahari sudah menampakkan sinarnya.

Sunday, 24 May 2020 20:55 WIB

Shalat Dhuha, Ibadah Sunah Sarat Faedah

Rasulullah mewasiatkan kepada Muslim agar membiasakan shalat dhuha.Red: Hasanul RizqaMgIT03

Ilustrasi Shalat Dhuha

Ilustrasi Shalat Dhuha

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Shalat dhuha merupakan suatu ibadah sunah yang sangat bagus untuk dibiasakan kaum Muslimin. Ibadah ini dilaksanakan pada pagi hari ketika matahari sudah menampakkan sinarnya.

Baca Juga:

Rasulullah SAW bersabda, “Shalat dhuha dilakukan apabila anak-anak unta telah merasakan kepanasan (karena tersengat matahari)” (HR Muslim).

Nabi Muhammad SAW pun membiasakan diri beliau untuk mengamalkan shalat dhuha. Seperti dijelaskan Abu Hurairah, “Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan kepada tiga hal. Pertama, berpuasa tiga hari tiap bulan. Kedua, shalat dhuha dua rakaat. Ketiga, supaya shalat witir sebelum tidur”(HR Bukhari-Muslim).

Menurut Ibnul Qayyim al-Jauzi, jumlah rakaat shalat dhuha tidak ada batas maksimal, tergantung kemampuan dan kesempatan seorang Muslim yang hendak mengamalkannya. Aisyah berkata, ”Biasanya Rasulullah melakukan shalat dhuha empat rakaat dan beliau menambah.” (HR Muslim).

Allah SWT akan menjauhkan dari siksa api neraka dan mengganti dengan surga bagi yang mengamalkan shalat dhuha. ”Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada orang memanggil. Di mana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” (HR Tabrani).

Keistimewaan lainnya adalah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan setiap persendian di tubuh kita. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan bahwa di tubuh manusia bersemayam 360 sendi yang setiap harinya harus disedekahkan. Dan sebagai penggantinya adalah shalat dhuha.

Shalat dhuha juga sebagai sebuah pengharapan supaya Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat, baik fisik maupun materi, sepanjang hari yang kita lalui. ”Allah SWT berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yakni shalat dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari.” (HR Hakim dan Tabrani).

KHAZANAH REPUBLIKA

Hadits Pendek: Keutamaan Sedekah dan Sholat Dhuha

Hadits pendek kali ini soal anjuran memperbanyak sedekah yang bisa diamalkan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Bersyukur atas nikmat sehat dan perlindungan Allah SWT dari bencana dan malapetaka.

Dikutip dari Syarah Riyadhus Sholihin jilid I, Allah SWT maha tahu bahwa manusia tak akan mungkin sanggup mengeluarkan sedekah setiap hari. Sehingga Allah kemudian menggantinya dengan dua rakaat sholat dhuha.

“Keutamaan sholat dhuha, dan ia merupakan sholatnya orang-orang yang ingin kembali kepada Allah SWT, sehingga tidak ada yang mampu memelihara dalam mengerjakannya kecuali mereka yang hendak kembali kepada-NYA,” begitu kandungan hadits pendek ini seperti dikutip dari Syarah Riyadhus Sholihin jilid I.(erd/erd)

DETIK HIKMAH

Jangan Lewatkan Shalat Dhuha, Ini Hadis-Hadis Keutamaannya

Shalat Dhuha sangat dianjurkan Rasulullah SAW untuk umatnya.

Banyak sekali bimbingan Rasulullah SAW melalui hadis-hadisnya yang menerangkan bagaimana keutamaan shalat dhuha. Beberapa hadis tentang keutaman shalat dhluha adalah sebagai berikut:

1. Riwayat Abu Dzar RA. ”Rasulullah SAW bersabda: ”Hendaklah masing-masingmu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka, tiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

2. Hadis qudsi seperti diriwayatkan Hakim dan Thabrani yang semua perawinya dapat dipercaya, Allah SWT berfirman: ”Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan siang (yakni shalat dhuha), nanti akan Kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya.”

3. Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Dalam tubuh manusia itu tiga ratus enam puluh ruas tulang, ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu. Para sahabat bertanya: ”Siapa yang kuat melaksanakan itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, ”Dahak yang ada di masjid lalu ditutupnya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya kuasa cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

4. Rasulullah SAW bersabda: ”Hendaklah masing-masingmu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka tiap kalai bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

5. Dari Abdullah bin Amr katanya: ”Rasulullah SAW mengirimkan sepasukan tentara lalu banyak mendapatkan harta rampasan dan cepat pulang. Orang-orang mempercakapkan cepatnya perang itu dan banyaknya harta rampasan yang didapat. Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Maukah kamu saya tunjukkan sesuatu yang lebih cepat dari peperangan semacam itu, lebih banyak pula rampasan yang diperoleh bahkan lebih cepat pulangnya dari itu? Yaitu seorang yang berwudlu lalu pergi ke masjid untuk bersembahyang sunnah dhuha. Orang itulah yang lebih cepat perangnya, lebih banyak rampasannya dan lebih segera pulangnya.” (HR Ahmad, Thabrani, Abu Ya’la)

6. Dari Abu Hurairah ra katanya: ”Nabi SAW yang tercinta memesankan kepadaku tiga hal yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan berwitir dulu sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim). Dari Anas RA katanya, ”Saya melihat Rasulullah SAW di waktu bepergian, bersembahyang dhuha sebanyak delapan rakaat. Setelah selesai beliau bersabda: ”Saya tadi bersembahyang dengan penuh harapan dan diliputi kecemasan. Saya memohonkan kepada Tuhan tiga hal lalu diberi-Nya dua dan ditolak-Nya satu. Saya memohon supaya ummatku jangan diuji dengan musim paceklik dan itu dikabulkan, saya memohon pula agar ummatku tidak dapat dikalahkan musuhnya dan ini pun dikabulkan lalu saya memohon agar ummatku jangan sampai berpecah belah menjadi beberapa golongan dan ini ditolak-Nya.” (HR Ahmad, Nasai, Hakim, dan Ibnu Khuzaimah)

KHAZANAH REPUBLIKA

Haruskah Baca Surah Ad-Dhuha saat Salat Dhuha?

SALAT dhuha mempunyai keutamaan yang sangat banyak sekali. Di antaranya terdapat dalam hadits riwayat Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,

Pada setiap pagi hari wajib atas setiap ruas salah seorang di antara kalian dikeluarkan sedekahnya, maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, tahmid sedekah, tahlil sedekah, takbir sedekah, amar makruf sedekah, nahi mungkar sedekah, dan sesuatu yang mencukupi itu semua adalah dua rekaat yang dia kerjakan pada waktu dhuha. (Hr. Muslim: 720)

Setahu kami pula, tidak ada bacaan tertentu yang wajib dibaca saat salat tersebut, kecuali bacaan yang dibaca seperti salat lainnya. Wallahu alam.

[Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 12, tahun ke-7, 1430 H]

INILAH MOZAIK

Waktu Terbaik Shalat Dhuha

SHALAT dhuha memiliki banyak keutamaan. Shalat yang dihukumi sunnah ini termasuk shalat ringan yang dikerjakan pada siang hari. Yakni antara waktu setelah matahari terbit hingga menjelang dzuhur. Lalu kapan waktu terbaik untuk shalat dhuha?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam Nabi melarang melaksanakan shalat dan mengubur jenazah pada tiga waktu berikut. Pertama ketika matahari terbit sampai tinggi, kedua ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir, dan ketia ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.

Berdasarkan hadits tiga larangan waktu untuk shalat di atas, maka di mana waktu dhuha (dibolehkannya shalat)? Shalat dhuha bisa dilakukan setelah matahari terbit dan matahari meninggi hingga jarak satu tombak (sekira dua meter).

Bila diukur dengan keumuman waktu zaman ini adalah sekitar limabelas menit. Jadi sebaiknya apabila hendak shalat dhuha di awal waktu, maka kita dapat melaksanakan pada lima belas menit setelah waktu terbit matahari.

Lalu kapan batas akhirnya? Batas akhirnya adalah hingga sebelum waktu terlarang kedua untuk shalat sebagaimana disebutkan hadits di atas. Atau bila diukur dengan keumuman waktu sekarang, kurang lebih lima belas menit sebelum dzhuhur tiba.

Sedangkan waktu yang utama untuk shalat dhuha adalah ketika matahari sudah mulai panas. Dalam shahih Muslim, disebutkan bahwa Zaib bin Al Arqam radliyallahu anhu melihat beberapa orang sedang shalat dhuha, dan kemudian beliau berkata, “Andai mereka tahu bahwa shalat dhuha setelah waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Shalat awwabin adalah ketika anak onta mulai kepanasan”.

Karenanya, ulama menjelaskan, yakni waktu ketika matahari mulai panas adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat dhuha, meskipun dibolehkan shalat sejak terbit matahari hingga menjelang tergelincirnya matahari.

Allahu Alam. [*]

INILAH MOZAIK

Yuk Salat Dhuha! Setiap Bacaan Tasbih Sedekah

SALAT dhuha mempunyai keutamaan yang sangat banyak sekali. Di antaranya terdapat dalam hadits riwayat Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,

“Pada setiap pagi hari wajib atas setiap ruas salah seorang di antara kalian dikeluarkan sedekahnya, maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, tahmid sedekah, tahlil sedekah, takbir sedekah, amar makruf sedekah, nahi mungkar sedekah, dan sesuatu yang mencukupi itu semua adalah dua rekaat yang dia kerjakan pada waktu dhuha.” (Hr. Muslim: 720)

Setahu kami pula, tidak ada bacaan tertentu yang wajib dibaca saat salat tersebut, kecuali bacaan yang dibaca seperti salat lainnya. Wallahu alam.

[Ustaz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 12, tahun ke-7, 1430 H]

Ayo Buktikan, Inilah 6 Keajaiban Salat Duha

Salat duha memiliki keutamaan yang luar biasa.

Berikut ini enam keutamaan salat duha sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis sahih:

1. Diwasiatkan Rasulullah agar dikerjakan setiap hari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata:

“Kekasihku (Muhammad) shallallahu alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan (ayyamul bidh), salat duha dua rakaat dan salat witir sebelum tidur” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

“Kekasihku mewasiatkan tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga mati yakni berpuasa tiga hari setiap bulan, salat duha dan salat witir sebelum tidur” (HR. Al Bukhari)

2. Salat duha adalah salat awwabin dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata:

“Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang aku tidak meninggalkannya: agar aku tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir, agar aku tidak meninggalkan dua rakaat salat duha karena ia adalah shalat awwabin serta agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan” (HR. Ibnu Khuzaimah; sahih) Awwabin adalah orang-orang yang taat. Merutinkan salat duha, dengan demikian, berarti menjadikan seseorang dicatat sebagai orang-orang yang taat.

3. Salat duha dua rakaat senilai 360 sedekah

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang berbuat munkar adalah sedekah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim).

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

4. Salat duha empat rakaat membawa kecukupan sepanjang hari. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

5. Salat duha merupakan ghanimah terbanyak Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar para sahabatnya membicarakan tentang ghanimah (harta rampasan perang), maka beliau menunjukkan amal yang lebih banyak dari pada ghanimah-ghanimah itu; “Barangsiapa berwudhu kemudian pergi pada waktu pagi ke masjid untuk melaksanakan salat duha, maka hal itu adalah peperangan yang paling dekat, ghanimah yang paling banyak, dan kembalinya lebih cepat” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan shahih).

Penjelasan hadis ini mengisyaratkan dengan keutamaan salat duha dan hubungannya dengan rezeki. Bahwa siapa yang mengamalkan salat duha, ia mendapatkan lebih banyak dari harta rampasan perang; baik dalam hal kuantitas harta atau keberkahannya.

6. Pahala salat duha senilai dengan pahala umrah. Untuk keutamaan keenam ini, penjelasannya bisa dibaca di salat duha berpahala umrah

Demikian enam keutamaan salat duha, semoga semakin memotivasi kita dalam mengamalkan sunah Nabi ini, serta menjadikan salat duha sebagai salah satu kebiasaan rutin.

 

INILAH MOZAIK

Doa Sholat Dhuha dan Penjelasannya

Banyak orang yang bertanya tentang doa sholat dhuha. Khususnya mereka yang memahami bahwa salah satu keutamaan sholat dhuha terkait dengan kelancaran rezeki.

Seperti kita tahu, sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang istimewa. Karena ia memiliki banyak keutamaan (fadhilah) sebagaimana diterangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa hadits. (Baca: Keutamaan Sholat Dhuha)

Dan tidak salah jika sholat dhuha disebut terkait dengan kelancaran rezeki karena dalam hadits disebutkan bahwa salah satu keutamaan sholat dhuha, jika dikerjakan empat rakaat, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

Imam Ath Thayyibi ketika menjelaskan hadits ini mengatakan, “dicukupi kesibukan dan kebutuhanmu serta Allah menghindarkan segala hal yang tidak engkau sukai setelah engkau melakukan shalat ini hingga akhir siang.”

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa keutamaan shalat dhuha lebih banyak daripada ghanimah (harta rampasan perang).

Doa Sholat Dhuha

Tidak ada doa sholat dhuha yang secara khusus diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dalam kitab-kitab Fiqih, ketika menerangkan tentang sholat dhuha, para ulama sama sekali tidak mencantumkan doa sholat dhuha.

Jika kita lihat dalam Fiqih Sunnah, Fiqih Manhaji mazhab Imam Syafi’i, maupun kitab-kitab fiqih lainnya, tidak disebutkan adanya doa secara khusus karena memang tidak ada haditsnya sama sekali. Sehingga, kita boleh berdoa secara umum dengan doa apapun yang baik.

Ada satu doa sholat dhuha yang sangat populer, yakni:

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalih”.

Doa ini bukanlah berasal dari hadits Nabi. Doa ini dicantumkan oleh Asy Syarwani dalam Syarh Al Minhaj dan disebutkan pula oleh Ad Dimyathi dalam I’anatuth Thalibiin.

Bolehkah membaca doa itu setelah sholat dhuha?

Meskipun bukan berasal dari hadits Nabi, boleh-boleh saja seseorang membaca doa tersebut dan doa lainnya asalkan baik. Bahkan, diperbolehkan pula berdoa dengan bahasa Indonesia sekiranya tidak bisa bahasa Arab. Karena itu doa di luar sholat.

Ada pun di dalam sholat, maka kita harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana sabda beliau:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga ketika membaca Surat Al Fatihah dan doa-doa lain yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh menggantinya dengan bahasa lain.

Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Bersamadakwah]

 

BERSAMA DAKWAH