Tidak Boleh Melakukan Tipu Daya untuk Menghindari Pembayaran Zakat

Jika kita memiliki harta yang sudah melebihi nishab tetapi belum tercapai haul-nya, maka tidak boleh bagi kita untuk dengan sengaja mengurangi harta kita tersebut agar kita bisa menghindari pembayaran zakatnya.

Misalnya, jika seseorang memiliki harta yang wajib dizakati seperti uang tunai dan tabungan yang sudah melebihi nishab-nya, maka tidak boleh baginya untuk dengan sengaja menggunakan sebagian uangnya tersebut sehingga jumlahnya sekarang menjadi kurang dari nishab, dalam rangka agar dia tidak perlu membayar zakat atasnya.

Dia bisa saja menggunakan sebagian uangnya itu untuk membeli harta jenis lainnya yang juga wajib dizakati, seperti binatang ternak (kambing, sapi, dan unta), atau harta yang tidak dizakati, seperti kendaraan atau telepon seluler yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan untuk dijual lagi sebagai barang dagangan). Tidak peduli bagaimana dia menggunakan uangnya tersebut, selama ada niat untuk menghindari pembayaran zakat, maka ini adalah perbuatan yang terlarang secara syari’at.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ * وَلَا يَسْتَثْنُونَ * فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ * فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak menyisihkan (hak faqir miskin). Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”

Dari serangkaian ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum para pemilik kebun tersebut karena mereka tidak mau menunaikan hak kaum faqir miskin dari sebagian hasil panen mereka. Demikian pula, jika kita dengan sengaja mengurangi harta kita hingga di bawah nishab karena tidak mau untuk membayar zakatnya, maka ini adalah perbuatan yang tercela dan haram secara syari’at.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menulis kepada beliau apa yang diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai zakat,

ولا يُجمَع بين متفرِّق، ولا يُفرَّق بين مجتمِع، خشيةَ الصدقة.

“Hendaknya harta yang terpisah itu tidak digabungkan, atau harta yang tergabung itu tidak dipisahkan, karena ingin menghindari zakat.”

Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa tidak boleh untuk melakukan hilah (tipu daya) agar kita terhindar dari kewajiban membayar zakat. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia tetap wajib untuk membayar zakat tersebut, karena di antara kaidah syari’at mengenai masalah tipu daya adalah bahwa pelaku tipu daya itu dihukum dengan ditetapkan baginya suatu ketetapan yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang buruk tersebut.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitab fenomenal beliau I’lamul-Muwaqqi’in ‘an Rabbil-’Alamin berkata,

وكذلك إذا كان في يده نصاب فباعه أو وهبه قبل الحول، ثم استردَّه، قال أرباب الحيل: تسقط عنه الزكاة، بل لو ادَّعى ذلك لم يأخذ العامل زكاته، وهذه حيلة محرَّمة باطلة، ولا يُسقِط ذلك عنه فرضَ الله الذي فرضه وأوعد بالعقوبة الشديدة مَنْ ضيَّعه وأهمله، فلو جاز إبطاله بالحيلة التي هي مكر وخداع لم يكن في إيجابه والوعيد على تركه فائدة.

وقد استقرت سنة الله في خلقه شرعا وقدرا على معاقبة العبد بنقيض قصده، كما حرم القاتلُ الميراثَ، وورَّث المطلَّقةَ في مرض الموت، وكذلك الفارُّ من الزكاة لا يُسقِطها عنه فراره ولا يُعَان على قصده الباطل فيتم مقصوده ويسقط مقصود الرب تعالى، وكذلك عامة الحيل إنما يساعد فيها المتحيِّل على بلوغ غرضه ويُبطِل غرض الشارع.

“Demikian pula jika dia memiliki harta yang sudah mencapai nishab kemudian dia menjualnya atau menghadiahkannya kepada orang lain sebelum haulnya, kemudian memintanya kembali dari orang tersebut, maka orang yang melakukan tipu daya ini akan berkata bahwa zakat tidak wajib atasnya, dan jika dia mengucapkan klaim ini maka ‘amil zakat tidak akan mengambil zakatnya, maka ini adalah hilah (tipu daya) yang haram dan bathil. Perbuatannya ini tidak menggugurkan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan telah Allah ancam orang yang melalaikannya dan meremehkannya dengan hukuman yang berat. Jika menggugurkan kewajiban zakat dengan cara melakukan tipu daya itu dibolehkan, yang ini merupakan perbuatan makar dan kecurangan, maka tidak ada faidah ketika syari’at mewajibkannya dan memberikan ancaman hukuman bagi orang yang meninggalkannya.

Telah tetap Sunnatullah pada makhluk-Nya baik secara syar’iy maupun qadariy tentang menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang tersebut. Sebagaimana diharamkan harta warisan bagi orang yang membunuh, dan perempuan yang ditalak oleh suaminya ketika suaminya tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya itu tetap mendapatkan harta warisannya, maka demikian pula orang yang hendak lari dari kewajiban membayar zakat, perbuatannya ini tidaklah menggugurkan kewajibannya tersebut. Maksud dan tujuannya yang bathil itu tidak akan didukung oleh syari’at sehingga membuat maksudnya itu bisa tercapai dan gugurlah maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, seluruh tipu daya itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan maksud si pelaku dan menggugurkan maksud syari’at.”

Syaikh Mushthafa ar-Ruhaibaniy rahimahullah dalam kitab beliau Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha berkata,

ولم تسقط الزكاة بإخراج عن ملكه ببيع أو إبدال بأنقص من النصاب، لقوله تعالى: {إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ} الآيات، فعاقبهم تعالى بذلك لفرارهم من الزكاة، ولأنه قصد به إسقاط حق غيره، فلم يسقط، كالمطلق في مرض موته.

“Kewajiban zakat itu tidak gugur ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya dengan cara menjualnya atau menukarnya dengan harta yang lebih sedikit dari nishab, berdasarkan firman Allah Ta’ala“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, …” maka Allah Ta’ala menghukum mereka karena mereka ingin menghindari pembayaran zakat, dan karena dia bertujuan untuk menggugurkan hak orang lain, sehingga hak orang lain tersebut tetap tidak gugur, sebagaimana seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya.”

Dari penjelasan para ulama’ di atas, kita simpulkan beberapa faidah penting berikut:

Pertama: Haram bagi kita untuk melakukan perbuatan hilah (tipu daya) untuk menghindari kewajiban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syari’at-Nya.

Kedua: Jika perbuatan tipu daya untuk menghindari kewajiban seperti ini dibolehkan, maka apa gunanya ada kewajiban tersebut dalam syari’at? Apa gunanya ada ancaman dari syari’at untuk orang-orang yang melalaikan dan meremehkan kewajiban tersebut?

Ketiga: Konsekuensi bagi orang yang melakukan tipu daya itu ada dua:

  1. Dia berdosa karena perbuatan tipu dayanya itu adalah perbuatan yang haram.
  2. Kewajiban yang ingin dia hindari tersebut tetap wajib dan tetap tidak gugur untuknya. Ini yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas dengan redaksi: Allah menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang bathil tersebut.

Keempat: Bahwa syari’at Islam memiliki maqashid (maksud-maksud) di balik setiap ketetapannya. Melakukan tipu daya untuk menghindari ketetapan syari’at itu sama saja dengan menggugurkan maksud dari syari’at dalam ketetapannya tersebut. Padahal, maksud dari syari’at dalam setiap hukum dan ketetapannya adalah untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan madharat bagi setiap individu muslim, bagi kaum muslimin secara umum, dan bahkan bagi seluruh manusia dan seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini!

Kelima: Contoh tipu daya yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas adalah:

  1. Orang yang membunuh kerabatnya karena ingin cepat mendapatkan harta warisan dari kerabatnya tersebut. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga pelakunya berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tidak akan mendapatkan harta warisan dari kerabatnya yang telah dibunuh olehnya tersebut.
  2. Seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya, dengan tujuan agar istrinya tidak mendapatkan harta warisan darinya. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga suami tersebut berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu sang istri tetap berhak atas harta warisan darinya.

Kita simpulkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tipu daya untuk menghindari pembayaran zakat atas hartanya, maka dia telah berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tetap wajib membayar zakatnya tersebut walaupun sekarang hartanya sudah kurang dari nishab. Jika dia melakukan perbuatan tipu daya ini pada setiap tahunnya, maka pada setiap tahun itu pulalah dia tetap wajib untuk membayar zakat atas hartanya.

Terakhir, kami hendak menekankan di sini bahwa apakah suatu perbuatan merupakan tipu daya atau tidak itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”

Oleh karena itu, jika kita melakukan sebuah transaksi yang efeknya bisa membuat kita tidak wajib lagi membayar zakat ketika haulnya sudah tiba, karena ada suatu keperluan atau hajat tertentu, tanpa ada niatan untuk menghindari pembayaran zakat tersebut, maka ini tidak mengapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta kita, dan semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh-Nya untuk menjalankan syari’at dengan ridha’ dan penuh keikhlasan, hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Artikel: Muslim.or.id

Hikmah Pagi: Jangan Pernah Merasa Sudah Berilmu

Allah swt selalu mendorong hamba-Nya untuk menambah ilmu. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki karena orang yang paling sombong adalah yang merasa telah mengetahui segalanya.

Tengoklah pribadi mulia Rasulullah saw. Yang telah diberi oleh Allah segala ilmu di masa lalu dan yang akan datang.

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui.” (QS.An-Nisa’:113)

Namun disisi lain Allah mendidik Nabi-Nya yang telah diberi berbagai ilmu untuk terus memohon tambahan ilmu dari-Nya.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS.Tha-Ha:114)

Artinya, apabila Rasulullah saw yang telah diberi semua ilmu oleh Allah kemudian diperintahkan untuk tetap memohon tambahan ilmu maka hal ini adalah isyarat penting bagi kita untuk jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki. Teruslah mencari dan memohon tambahan ilmu dari-Nya.

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah saw bersabda,

“Apabila satu hariku terlewatkan tanpa aku menambah ilmu maka hari itu adalah hari yang paling sial bagiku.”

Sering kita melewati hari tanpa ada ilmu yang bertambah. Dihadapan kita banyak kejadian yang memberi pelajaran, banyak buku-buku yang berdebu dan berserakan, namun rasa malas kita mengalahkan keinginan untuk menambah ilmu.

Dan yang lebih parah lagi adalah ketika seseorang diberi nasihat ataupun pelajaran namun ia menjawab, “Tak perlu kau menasehatiku, sudah cukup ilmu yang kumiliki.”

Coba renungkan sejenak…

Bukankah hanya dengan ilmu kita bisa mengenal Allah?

Bukankah hanya dengan ilmu kita bisa meresapi makna syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw?

Bukankah hanya dengan ilmu kita bisa hidup damai dan saling memberi yang terbaik?

Memang ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang terkait dengan Allah swt. Apapun itu bentuk ilmunya, apabila dihubungkan dengan Allah, dicari dengan niat ingin mendekatkan diri kepada-Nya maka itulah ilmu yang akan memberi manfaat dan menyelamatkan kita.

Bukankah ketika Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk membaca kemudian disusul dengan perintah “Dengan Nama Tuhanmu !”

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS.Al-‘Alaq:1)

Artinya bacalah semua buku. Pelajari semua ilmu. Tapi jangan pernah memisahkan ilmu itu dari Allah swt. Hubungkan selalu dengan Allah. Karena ilmu yang tidak dihubungkan dengan Allah akan membawa bencana bagi dirinya dan bagi orang lain.

Semoga bermanfaat ..

HAJINEWS



Jawaban Al-Qur’an untuk Berbagai Masalahmu ! (Bag 2)

sambungan dari Bagian 1

(6) Bila dirimu berkata : “Bagaimana mungkin cita-citaku akan terwujud.”

Al-Qur’an menjawab :

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS.Ghafir:60)

(7) Bila dirimu berkata : “Aku benar-benar dalam kesulitan.”

Al-Qur’an menjawab :

إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا

“Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah:6)

(8) Bila dirimu berkata : “Hidupku selalu dipenuhi kesumpekan dan kegelisahan.”

Al-Qur’an menjawab :

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ra’d:28)

(9) Bila dirimu berkata : “Tambah.. Tambah.. Ya Allah !”

Al-Qur’an menjawab :

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS.Ibrahim:7)

Semoga bermanfaat…

‘Bahaya’ Belajar Agama secara Autodidak

DI TERAS kehidupan dunia, mencari ilmu  sangatlah penting. Bahkan dalam kacamata Islam  mencari ilmu bukan semata-mata dianjurkan, tetapi diwajibkan atas setiap laki-laki dan perempuan. Kewajiban menuntut ilmu adalah satu proses yang berkelanjutan, dimana titik akhirnya adalah ketika seseorang meninggal dunia.

Islam merupakan agama yang sangat menghormati, memuliakan dan memberi penekanan pada kepentingan ilmu. Apa pun yang dihubungkan dengan ilmu akan menjadi mulia. Para ulama mulia karena penguasaan dan pengamalannya terhadap ilmu. Suatu tempat menjadi mulia bila ditempati untuk majelis ilmu. Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah Ta’ala akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Dia Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan.” (QS:  al-Mujadalah: 11).

Dari situ nampak jelas, bahwa sebuah kemuliaan bermula dari ilmu. Ilmu merubah seseorang yang mulanya hina menjadi mulia, yang bukan siapa-siapa menjadi didengar suaranya. Maka seyogyanya seorang muslim juga memuliakan ilmu. Diantaranya adalah dengan menjaga karakteristik ilmu itu sendiri. Khususnya ilmu agama Islam.

Ilmu agama tidak bisa dipahami hanya dengan modal membaca buku (autodidak) dan searching di internet saja. Melainkan juga perlu adanya bimbingan dari ustadz yang ahli di bidangnya.

Said bin Ya’kub suatu saat bertanya kepada Imam Ibnu Mubarak, “Kami menemui nasihat-nasihat di buku-buku, apakah kami bisa mengambilnya?” Imam Ibnu Mubarak menjawab, ”Tidak mengapa jika engkau mendapati di tembok tertulis nasihat-nasihat, ambilah maka engkau memperoleh nasihat.” Dikatakan lagi kepada Imam Ibnu Mubarak, ”Bagaimana dengan fiqih?” Imam Ibnu Mubarak menjawab, ”Tidak lurus (fiqih) kecuali dengan menyimak.” (al-Jami’ li al-Akhlak ar-Rawi, 2/318-319)

Berkaca kepada para ulama, ditemukan keteladanan yang sudah semestinya diamalkan kaum muslimin saat ini. Mari buka mata, lihatlah! Lihatlah  lembaran-lembaran sejarah generasi terbaik umat ini. Biarkan hidung meraba, mencium harum jejak kebaikan yang mereka tapaki.

Betapa menakjubkan, mereka sangat ketat dalam menjaga sanad keilmuan. Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, juga ulama salaf terdahulu belajar langsung dari sumbernya, face to face (bertatap muka).

Perjalanan jauh ditempuh untuk menuntut ilmu, tidak peduli meski jaraknya ribuan kilo meter. Guru di negeri seberang didatangi, tidak peduli meski terik matahari memanggang sekujur tubuh. Karenanya, seorang ulama bernama Abdullah bin al-Mubarak menyebutkan;

Sanad adalah bagian dari agama. Tanpa adanya sanad, maka siapa saja akan berbicara sesuka hatinya .” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/15)

Sanad terbagi menjadi dua; riwayah dan dirayah. Kajian kelimuan secara sanad riwayah berguna agar teks yang dikaji tidak ada penyelewengan baik berupa pemalsuan teks maupun kesalahan tulisan yang akan berimplikasi terhadap kesalahan makna dan arti teks yang tertulis. Sementara kajian kelimuan berlandaskan sanad dirayah (kontekstual) mempunyai tujuan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam mengkaji suatu teks keilmuan.

Realita hari ini

Dalam bukunya A History of Knowledge: Past, Present, and Future, Charles Van Doren, seorang cendikiawan asal Amerika, menggambarkan bahwa zaman sekarang dikenal dengan zaman ledakan ilmu pengetahuan (knowledge explosion).  Gambaran Van Doren tersebut benar adanya.

Setiap tahun, ratusan buku dan jurnal diterbitkan. Ilmu pengetahuan baru dan laman web selalu bermunculan dan tersebar di mana-mana. Hanya dalam hitungan detik saja, melalui teknologi internet misalnya, kita dapat mengetahui berbagai kejadian di berbagai belahan dunia, dari ufuk Timur hingga ufuk Barat.

Dizaman yang serba canggih seperti  ini banyak hal instant yang mudah diperoleh. Dimanapun, dalam kondisi bagaimanapun, dan kapanpun kita dapat mengakses ilmu agama yang sedang dibutuhkan lewat media cetak, internet, dan lainnya.

Mengkaitkan dengan hukum pemanfaatnnya, tentu kesemuanya sah-sah saja, boleh hukumnya dalam Islam. Seandainya ada seorang muslim belajar dari sumber tersebut ia tidak berdosa sama sekali.

Hanya saja, alangkah lebih baiknya jika pemahaman dari buku bacaan dikonfirmasikan dengan bimbingan dari ustadz yang mumpuni di bidangnya. Orang bisa saja menggali ilmu sendiri secara autodidak, namun yakinlah bahwa ilmunya tidak akan sempurna.

Bahaya, selalu waspadai!

Lebih parahnya, belajar agama tanpa bimbingan ustadz sangat rawan gagal paham ilmu agama. Taruhlah seseorang yang ingin mengetahui makna al-Qur’an. Sesungguhnya lafadz al-Qur’an bisa berupa metafora, mengandung makna ganda dan sifatnya global. Sehingga perlu rincian untuk menemukan hakikat makna sebenarnya.

Tanpa belajar dan tanpa bertanya ke salah seorang ustadz, guru atau orang alim, maka dapat dipastikan dia akan menemui kesulitan. Dan seringnya kesulitan maupun kebingungan yang tidak terarah menyebabkan seorang gagal paham. Jika sudah gagal paham, justru kesimpulan yang dia ambil berpotensi salah dan menyesatkan.

Oleh karena itu, fungsi dari mencari ustadz merupakan satu proses untuk menjaga kemurnian agama dan memastikan keotentikan disiplin ilmu yang diwarisi. Hal ini berdasarkan perintah Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengembalikan amanah kepada mereka yang berhak.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil.” (QS: An-Nisa’: 58)

Juga memerintahkan untuk bertanya kepada orang yang berilmu (ahlu dzikir) jika tidak mengetahui sesuatu.

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43). Wallahua’lam bish showab.*

Ma’had Aly Annur, Waru Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah

Oleh: M Rizka Arrosyid

HIDAYATULLAH

Bolehkan Perempuan Pergi Haji tanpa Suami atau Mahram?

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan al-Baihaqi, Umar bin Khattab diceritakan pernah memberikan izin kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW untuk menunaikan ibadah haji. Khalifah Umar lalu mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk mengawal mereka.

“Utsman kemudian mengumumkan kepada orang-orang agar tak ada seorang pun yang mendekati mereka (istri-istri Nabi SAW), dan jangan memandangi mereka kecuali hanya sekilas. Mereka berada di dalam sekedup di atas unta. Selanjutnya, Utsman menurunkan mereka di atas lorong bukit. Lalu, Utsman bersama dengan Abdurrahman turun dari belakang unta. Dan, tak ada seorang pun yang naik ke atas bukit untuk menemui mereka,” demikian hadis tersebut.

Berdasarkan dalil itu, mazhab fikih Imam Maliki menetapkan, “Perempuan boleh pergi menunaikan ibadah haji dengan syarat disertai teman perempuan atau pendamping yang bisa dipercaya, apabila jarak antara Makkah dan tempat tinggalnya dalam jarak tempuh perjalanan sehari semalam.”

Pendapat senada juga diambil mazhab Imam Syafii, “Perempuan boleh keluar bersama beberapa kaumnya yang bisa dipercaya, apabila melakukan perjalanan jarak jauh.”

Pendapat berbeda disampaikan mazhab Hanafi dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Keduanya menetapkan, perempuan tak boleh keluar untuk pergi menunaikan ibadah haji apabila tidak disertai suami atau mahramnya.

Terkait hadis di atas, keduanya berargumen bahwa baik Utsman maupun Abdurrahman bin Auf masih termasuk mahram bagi istri-istri Nabi SAW.

IHRAM



Kisah Profesor Matematika Jadi Mualaf Sebab Surat Az-Zariyat

Karena banyaknya ayat Alquran yang ilmiah, Profesor Matematika menjadi mualaf.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.

Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan.

Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat.
Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan. Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto.

Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller.

Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak lagi menghujani pemuka agama dengan berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan. Dia mem baca buku-buku tentang Islam karangan orientalis.

Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis. Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras. Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Miller menginginkan kebenaran. Jika Muhammad adalah orang yang baik dan cerdas, mengapa dia harus berbohong untuk mengklaim kenabiannya. Atau, jika Rasul gila sehingga tidak sadar dengan tindakannya, bagaimana mungkin dia memahami wahyu Ilahi.

Jawaban tentang semua kegelisahan Miller ternyata ada dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 52-53. Bunyinya adalah,

“Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Alquran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta.

Kemudian, pandangannya kembali terbuka ketika membaca kisah anak Rasul Ibrahim yang meninggal dunia. Ibrahim meninggal bersamaan dengan gerhana matahari yang terjadi. Seorang sahabat Nabi pernah berkata, matahari hilang karena anak Rasulullah telah wafat. Rasulullah pun membantah perkataan sahabat,

“Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hilangnya nyawa seseorang.” Jawaban itu adalah bukti yang jelas bahwa Nabi Muhammad bukan pembohong ataupun orang gila.

Inspirasi dari kalam Ilahi itu menghadirkan kepuasan tersendiri. Miller kemudian makin semangat mendalami Islam. Pada tahun 1977 dia memutuskan untuk membaca Alquran. Dia juga mencari tahu apa yang benar dan salah di dalamnya. Dalam tiga hari dia membaca ayat-ayat Ilahi. Setelah selesai, dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah keyakinan yang telah saya katakan dan percaya selama 15 tahun terakhir ini.”

Pada mulanya dia meyakini, Alquran merupakan otobiografi yang membahas kehidupan Nabi Muhammad, keluarga, dan lingkungannya. Dia menganggapnya seperti kitab agama sebelumnya yang berisi hikayat orang-orang dulu.

Namun, ia terkejut menemukan hal yang tak terduga. Ternyata Alquran hanya menyebutkan nama Rasulullah sebanyak lima kali. Sementara, Alquran menyebutkan nama Nabi Isa sebanyak 25 kali. Adapun nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali.

Dia makin tercengang ketika menemukan surah Maryam. Sebaliknya, dia tidak menemukan satu surah pun dengan nama Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Dia juga tidak menemukan cerita yang berhubungan dengan perasaan pribadi Rasulullah.

Selain itu, tak ada ayat Alquran yang menceritakan euforia kemenangan Perang Badar atau penderitaan setelah Perang Uhud. Miller menemukan tidak ada satu kata pun yang disebutkan dalam Alquran tentang kesedihan yang menimpa Rasulullah. Karena kitab ini berasal dari Allah, bukan Muhammad.

Pada saat pertama kali mengetahui Alquran, dia sempat berpikir bahwa konten di dalamnya adalah pengetahuan kuno yang dibuat oleh pria gurun pasir ribuan tahun lalu. Setelah membaca ayat-ayat di dalamnya, dia menyadari prediksi itu tidak tepat.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Miller kemudian memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Alquran.

Dua ratus tahun lalu, ilmuwan Belanda Antony Leeuwenhoek telah menemukan bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Dia tidak tahu bahwa Alquran telah lebih dahulu menyebutkannya. Allah mengatakan hal itu dalam surah al-Anbiya ayat 30 dan Fussilat ayat 11.

Hal yang sama terjadi di tahun 2011 ketika Saul Perlmutter, Adam Riess, dan Brian Schmidt telah memenangkan Nobel fisika. Penghargaan yang mereka terima adalah untuk menemukan fenomena percepatan ekspansi alam semesta. Sekali lagi, fakta ilmiah ini sudah ada di dalam Alquran dalam surah az-Zariyat ayat 47. 

Ayat Embrio

Alquran juga telah berbicara tentang tahap-tahap embrio. Surah al-Hajj ayat 5 menarik perhatian Profesor Keith Moore, rekan sejawat Miller di Universitas Toronto. Moore adalah profesor embriologi dan penulis buku terkenal, The Developing Human. Buku ini merupakan referensi mahasiswa fakultas kedokteran dunia.

Alquran membuat tanda di buku-buku Profesor Keith Moore. Dalam edisi selanjutnya, dia menambahkan informasi yang dia pelajari dari Alquran tentang embriologi.

Namun, dunia telah bangkit saat Keith Moore mengeluarkan buku tentang embriologi klinis. Di dalamnya, dia menulis tentang diutamakannya Alquran dalam menyebutkan fakta perkembangan embrio.

Miller kagum dengan kesepakatan penulis Barat bahwa Alquran tidak dapat ditulis oleh Rasulullah. Karena ini adalah buku pengetahuan berisikan topik yang menakjubkan. Kesimpulan tersebut menunjukkan dengan arif bahwa Alquran adalah wahyu Ilahi.

Klaim yang paling mudah adalah bahwa beberapa komite anonim membantu Rasul mengerjakannya. Namun, ada yang bilang, setan membantunya mengarangnya. Ini adalah kesimpulan yang penuh fitnah. Miller memikirkan secara mendalam tentang klaim terakhir dan menganggapnya sebagai semacam pelarian dan kegagalan untuk menghadapi kebenaran.

Jika Alquran diilhami setan, mengapa iblis mengisi bukunya dalam penghinaan terhadap setan. Makhluk pengganggu manusia itu selalu mengajak manusia untuk mengingkari perintah Allah sehingga mereka akan masuk ke dalam neraka penuh siksa.

Banyak buku tidak dapat menyuguhkan penjelasan yang dapat diterima tentang keajaiban Quran. Berbagai kesimpulan buruk tentang Islam selalu dilontarkan dalam berbagai media. Namun, itu semua justru menjadi pemicu orang untuk lebih mendalami hakikat Islam.

Gary Miller memeluk Islam pada tahun 1978. Dia memilih nama mualaf Abdul Wahid Omar. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di departemen matematika dan lebih memilih mengabdi untuk berdakwah di Kanada. Buku yang ditulisnya menarik perhatian banyak orang berjudul The Stunning Quran.

KHAZANAH REPUBLIKA

Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan Diri

Terkadang kita mendapatkan ujian dari Allah berupa keadaan yang sulit atau susah, bahkan dalam keadaan stres. Sebagian orang ketika keadaan susah atau stres, mereka tidak memperhatikan keadaan diri. Ketika stress, mereka tidak memperhatikan makan-minumnya sehingga terlihat kurang gizi dan lemah, atau mereka tidak memperhatikan penampilan diri sehingga terlihat lusuh, kusut dan tidak terawat, atau bisa jadi tidak memperhatikan kesehatan diri.

Perhatikan kisah Maryam, beliau mendapatkan ujian berupa beberapa keadaan sulit yaitu mendapat fitnah bahwa ia wanita berzina, kemudian terpaksa menjauh dari kaumnya dan melahirkan sendiri tanpa ada bantuan siapapun dari keluarga dan orang dekatnya. Dalam keadaan sulit seperti ini, Maryam tetap diperintahkan untuk bersenang hati, makan dan minum, serta memperhatikan keutuhan hidup dan keadaan dirinya.

Allah berfirman mengenai kisah Maryam,

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا. وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا. فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا

“Maka menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (QS:Maryam | Ayat: 24-26).

At-Thabari menjelaskan hal ini dan beliau berkata,

فكلي من الرطب الذي يتساقط عليك، واشربي من ماء السريّ الذي جعله ربك تحتك، لا تخشي جوعًا ولا عطشًا( وَقَرِّي عَيْنًا ) يقول

وطيبي نفسا وافرحي بولادتك إياي ولا تحزني

“Hendaknya Maryam makan kurma basah yang jatuh padanya dan minum air yang Allah jadikan muncul di bawah kakimu. Janganlah takut (susah) dalam keadaan lapar dan haus, bersenanglah hatimu dan bergembiralah dengan kelahiran bayimu dan jangan bersedih.” [Tafsir AT-Thabari]

Perhatikan juga cara agar bahagia adalah dengan mensyukuri nikmat Allah yang ada pada saat ini, karena nikmat Allah itu sangat banyak. Yang perlu kita ingat:

“Bersyukur dahulu baru bahagia, bukan menunggu bahagia dahulu baru bersyukur”

Inilah maksud dari firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih”. QS. Ibrahim (14): 7.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bersyukur tersebut dengan menggunakan nikmat Allah untuk mencari ridha Allah. Beliau berkata,

والشكر: هو اعتراف القلب بنعم الله والثناء على الله بها وصرفها في مرضاة الله تعالى. وكفر النعمة ضد ذلك

“Bersyukur adalah mengakui dengan hati atas nikmat Allah, memuji Allah atas nikmat serta menggunakan nikmat untuk mencari ridha Allah. Kufur nikmat adalah kebalikan dari hal ini.” [Tafsir As-Sa’diy]

Setelah tahu bahwa bersyukur itulah yang membuat kita bahagia, lalu bagaimana cara kita agar bisa selalu bersyukur? Caranya adalah sering-sering melihat orang lain yang dunianya di bawah kita untuk memudahkan kita bersyukur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) , maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya. [HR. Bukhari dan Muslim]

Jadi termasuk orang yang tidak bersyukur adalah yang tidak menggunakan nikmat Allah berupa ketersediaan makanan dan minuman serta rasa aman tersebut. Jika keadaan susah atau stres kemudian ia tidak memperhatikan keadaan diri, maka termasuk yang kufur nikmat.

Semoga kita selalu bisa mensyukuri nikmat Allah agar kita selalu bahagia dengan ridha Allah.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Untuk Apa Kamu Hidup?

Bismillah.

Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.

Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. 

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3)

Imam al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)

Imam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)

Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)

Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (al-Mulk : 2)

Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)

Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) 

Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”

Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)

Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?

Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah

Allah berfirman (yang artinya), “Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (al-Haj : 11)

Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) 

Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)

Hasan al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)

Syaikh as-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) 

Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175)

Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (al-’Ankabut : 2-3)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)

Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)

Ketundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)

Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)

Penulis: Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

Dua Waktu Salat Terberat bagi Orang Munafik

INI nasihat berharga bagi yang malas bangun Subuh dan salat Subuh. Kita tahu bahwa salat yang paling berat dilakukan oleh kita adalah salat Subuh. Karena ketika itu keadaan kita masih berat untuk bangun dan sulit untuk beraktivitas. Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan motivasi yang besar untuk menjaga salat Subuh tersebut.

Dari Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan salat bardain (yaitu salat subuh dan asar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari, no. 574; Muslim, no. 635)

Dari Jundab bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang salat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang salat Subuh tanpa jalan yang benar. Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahanam.” (HR. Muslim, no. 657)

Namun hati-hati kalau tidak menjaga salat Subuh dapat tergolong dalam orang-orang munafik. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada salat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari salat Subuh dan salat Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua salat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657)

Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua salat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54).

Akan tetapi, salat Isya dan salat Subuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena salat Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Subuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). []

INILAH MOZAIK


Usamah bin Zaid, Kesayangan Rasulullah

Usamah bin Zaid adalah kesayangan Rasulullah. Ia putra dari orang yang juga merupakan kesayangan Rasulullah dan anak angkat beliau. Yaitu Zaid bin Haritsah.

Masa Kecilnya

Nama dan nasabnya adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah al-Kalbi. Ayahnya, Zaid, dulu budak dari Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha. Lalu diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat Zaid masih kecil, ayah dan pamannya pernah datang menjemputnya ke Mekah. Keduanya ingin menebus dan membebaskannya dari perbudakan. Ternyata Zaid menolak itu ikut bersama ayahnya. Ia lebih memilih tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah, Rasulullah sangat mencintainya. Beliau membebaskannya dari status budak dan mengangkatnya sebagai anak. Kedudukan Zaid di sisi Rasulullah juga terbawa pada anaknya, Usamah.

Karena termasuk orang kesayangan Rasulullah, Usamah juga digelari “Hubbu Rasulillah” (kesayangan Rasulullah). Usamah lahir di Mekah 7 tahun sebelum hijrah. Sejak lahir, Usamah tumbuh di tengah keluarga muslim. Karena itulah ia tak mengenal masa jahiliyah. Saat perintah hijrah ditetapkan, Usamah kecil turut hijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

Ibunya adalah Ummu Aiman radhiallahu ‘anha. Namanya adalah Barakah. Sang ibu juga merupakan budak Rasulullah dan wanita yang pernah menyusui beliau. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membebaskan Zaid, beliau menikahkannya dengan Ummu Aiman. Dari pasangan ini kemudian lahir Usamah.

Pengaruh Rasulullah Pada Usamah

Pada tahun ke-6 diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lahirlah Usamah bin Zaid dari pasangan Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman Barakah binti Tsa’labah. Tumbuhlah Usamah kecil di lingkungan dan pendidikan islami. Ia tidak merasakan gelapnya jahiliyah.

Sejak kecil, Usamah selalu menyertai Nabi. Ia sangat dekat dengan lingkungan nubuwwah. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahamd, dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Saat di Arafah, aku dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Lalu ontanya miring dan terjatuhlah tali kekangnya. Beliau raih tali itu dengan salah satu tangannya. Sementara tangan satunya tetap terangkat berdoa.”

Ini menunjukkan kedekatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kondisi haji dan sedang menunaikan rukun terbesarnya, beliau membonceng Usamah. Anak kecil itu duduk erat bersama beliau. Menyaksikan aktivitas Nabi di hari yang paling mulia.

Dalam Riwayat al-Bukhari disebutkan, dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah memegangku dan al-Hasan. Beliau bersabda,

اللهم أحبهما؛ فإني أحبهما

“Ya Allah cintailah keduanya. Karena aku mencintai keduanya.”

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencintai Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu.

مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُبْغِضَ أُسَامَةَ ، بَعْدَمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ كَانَ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلْيُحِبَّ أُسَامَةَ

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Tidak boleh bagi siapapun untuk membenci Usamah setelah aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka cintailah Usamah’.”

Usamah juga adalah orang yang memahat cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi menikahkannya saat ia berusia 15 tahun.

Dimarahi Rasulullah

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Urwah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhuma, diceritakan di zaman Rasulullah, tepatnya saat fathu Mekah, ada seorang wanita yang melakukan pencurian. Keluarga besarnya takut kalau si wanita ini akan diqishahsh. Mereka pun melobi Usamah bin Zaid. Saat Usamah membicarakan hal itu dengan Rasuullah, berubahlah rona wajah beliau. Beliau bersabda,

أتكلمني في حد من حدود الله؟!

“Apakah engkau melobi untuknya dalam permasalahan hukum Allah”!?

Usamah menjawab, “Mohonkan ampun untukku wahai Rasulullah.”

Di sore harinya, Rasulullah berkhutbah di hadapan khalayak. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya. Kemudian berkata,

أما بعد، فإنما أهلك الناس قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد، والذي نفس محمد بيده لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها

“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang terpandang yang melakukan pencurian, mereka biarkan. Apabila yang melakukan pencurian orang yang lemah, mereka tegakkan hukum. Demi Allah yang jiwaku berada dalam gengamnya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar tangan wanita tersebut dipotong. Kemudian wanita tersebut baik dalam taubatnya. Dan iapun menikah. Aisyah berkata, “Setelah itu ia datang menemui Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memenuhi keperluannya.”

Bimbingan Ummu Aiman

Ummu Aiman radhiallahu ‘anhu adalah seorang wanita yang sempat menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang mujahidah yang turut serta di medan pertempuran bersama Rasulullah. Ia hadir di Perang Uhud dan juga di Khaibar. Tugasnya adalah memberi minum pasukan. Dan mengobati mereka yang terluka.

Ummu Aiman juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam al-Ishabah, Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هذه بقية أهل بيتي

“Dia ini (Ummu Aiman) adalah bagian keluargaku yang tersisa.”

Ayah Usamah, Zaid bin Haritsah, yang merupakan suami Ummu Aiman syahid di Perang Mu’tah. Kemudian di Perang Hunain, gugur juga Aiman, putra Ummu Aiman, saudara se-ibu dari Usamah. Di bawah bimbingan Ummu Aiman-lah Usamah tumbuh besar. Ia menjadi seorang pejuang dan pahlawan. Ia diajarkan akan nilai-nilai jihad, perjuangan, dan kepemimpinan. Dari hasil didikan itu, di usia 18 tahun, Usamah telah memimpin pasukan besar yang juga dianggotai tokoh-tokoh sahabat Muhajirin dan Anshar.

Memimpin Mujahidin Menghadapi Romawi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Usamah yang masih begitu beliau untuk memimpin pasukan menghadapi Romawi. Beliau berkata, “Usamah, berangkatlah atas nama Allah dan keberkahan dari-Nya. Saat engkau sampai di tempat terbunuhnya ayahmu (wilayah Romawi), berhentikan pasukan. Aku angkat engkau sebagai pimpinan pasukan ini…” kemudian Rasulullah serahkan pasukan kepada Usamah. Beliau berkata, “Berangkatlah dengan nama Allah.”

Pengangkatan Usamah tentu sedikit kontroversi. Karena secara kultur, bangsa Arab terbiasa mengangkat orang-orang yang ber-usia dan memiliki pengalaman. Jarang mereka menuakan seseorang yang tidak diketahui rekam jejaknya sebelumnya. Karena itu, sebagian sahabat mempertanyakan pengangkatan Usamah. Bukan karena hasad dan tidak suka. Tapi karena hal itu tak biasa.

Mengetahui penolakan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan ekspresi ketidak-sukaan. Beliau keluar dari rumahnya kemudian naik ke mimbar. Beliau berpidato, “Saudara-saudara sekalian, ucapan apa dari kalian yang sampai padaku tentang penunjukan Usamah bin Zaid? Demi Allah, kalau kalian mencela keputusanku menunjuk Usamah. Artinya kalian juga mencela keputusanku sebelumnya yang telah menunjuk ayahnya. Demi Allah, kalau kepemimpinan itu ada syarat kepatutan, maka anaknya ini memiliki kepatutan setelah ayahnya. Kalau kepemimpinan itu karena orang yang paling aku cintai. Usamah ini adalah orang yang paling aku cintai. Dia dan ayahnya representasi dari setiap kebaikan. Aku wasiatkan kepada kalian agar berbuat baik padanya. Karena dia termasuk orang terbaik di tengah kalian.”

Saat Usamah tengah berada di pinggiran kota, utusan Ummu Aiman mendatanginya. Utusan itu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Usamah pun mengarahkan pasukannya kembali ke Madinah. Saat itu Umar, Abu Ubaidah bin al-Jarah berada di tengah pasukan. Mereka menatap jasad Rasulullah. Rasulullah wafat saat matahari di hari senin 12 Rabiul Awal itu sudah bergeser dari tengah.

Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menggantikan beliau memimpin umat. Saat itu, banyak orang-orang Arab pinggiran murtad. Para tokoh sahabat datang menemui Abu Bakar. Mereka berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, orang-orang Arab (luar Madinah) dari segala sisi telah membatalkan perjanjian denganmu. Karena itu, jangan Anda buat pasukan ini terpisah-pisah ke berbagai daerah. Buatlah pasukan terkumpul di satu titik untuk menghadapi orang-orang murtad itu. Alasan lainnya, (kalau pasukan keluar) Madinah tidak akan aman. Padahal di dalamnya ada anak-anak dan kaum wanita. Pertimbangkanlah untuk menunda menghadapi Romawi agar kita tidak dikalahkan oleh orang-orang sekitar kita sendiri. Setelah orang-orang murtad ini kembali atau ancaman pedang mereka hilang, barulah Anda kirim Usamah. Saat itu baru kita hadapi ancaman Romawi.” Namun Abu Bakar ash-Shiddiq tetap teguh untuk memberangkatkan pasukan Usamah. Ia berkata, “Demi Allah, seandainya ada hewan buas memangsaku di Kota Madinah, aku tidak akan membatalkan keberangkatan pasukan ini.”

Berangkatlah pasukan Usamah. Dan pasukan ini berhasil menyelesaikan misinya dengan baik. Mereka kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan. Kewibawaan Usamah pun bertambah. Meskipun ia masih sangat muda, namun penunjukannya adalah sesuatu yang tepat. Ia benar-benar bisa diandalkan.

Pengiriman pasukan ini ternyata memberi dampak besar terhadap kokohnya Daulah Islamiyah di Madinah. Padahal setelah wafatnya Nabi, kondisi Jazirah Arab goncang. Banyak kabilah yang murtad. Mereka bersiap berbalik menyerang Madinah. Ternyata pasukan yang keluarnya dikira akan melemahkan materi kaum muslimin di mata musuh, malah sebaliknya. Allah munculkan kekuatan secara moral. Justru mental musuh-musuh mereka yang melemah.

Pasukan besar yang diberangkatkan jauh meninggalkan Madinah berhasil mengalahkan Romawi. Runtuhlah rencana makar kabilah murtad tersebut. Niat mereka untuk menyerang tiba-tiba rontok begitu saja. Sebab terbesarnya adalah karena keteguhan Abu Bakar untuk memberangkatkan pasukan yang telah Rasulullah siapkan. Ia tak ingin menarik apa yang telah disiapkan oleh Rasulullah. Dari sini kita bisa ketahui, kemenangan itu bukan hanya berbekal persiapan materi. Ada faktor maknawi yang bisa jadi jauh lebih kuat. Yaitu menaati Allah dan Rasul-Nya.

Jiwa Kepemimpinan

Usamah bin Zaid adalah salah seorang sahabat yang mendapat bimbingan langsung dari rumah Nabawi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidiknya dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan padanya. Hasilnya, di usia 15 tahun ia memimpin pasukan besar untuk menghadapi Romawi. Satu kerajaan kuat dengan pengalaman militer yang panjang. Cukup sebagai bukti kemampuan kepemimpinannya, Rasulullah mengangkatnya menjadi pemimpin pasukan yang di dalamnya terdapat Umar bin al-Khattab dan Abu Ubadidah bin al-Jarrah. Dua tokoh sahabat senior.

Melihat pemuda yang tidak berpengalaman memimpin sahabat-sahabat senior yang berpengalaman, orang-orang pun meragukan. Mereka mulai berkomentar terhadap Usamah. Namun Rasulullah membela. Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka yang mencela kepemimpinan Usamah juga telah mencela kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, kalau kepemimpinan itu ada syarat kepatutan, maka anaknya ini memiliki kepatutan setelah ayahnya. Kalau kepemimpinan itu karena orang yang paling aku cintai. Usamah ini adalah orang yang paling aku cintai sepeninggal ayahnya.”

Bersama Rasulullah

Dari Muhammad bin Usamah bin Zaid, Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai padaku pakaian Mesir yang tebal. Pakaian ini adalah hadiah dari Dihyah al-Kalbi kepada Rasulullah. Lalu pakaian itu kupakaikan pada istriku. Rasulullah bertanya, ‘Mengapa kau tidak memakai pakaian Mesir itu’? Aku menjawab, ‘Kupakaikan pada istriku’. Rasulullah berkata, ‘Perintahkan dia untuk memakai pakaian di dalamnya. Karena aku khawatir akan terbentuk tubuhnya’.”

Usamah bin Zaid berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat Anda berpuasa begitu sering seperti di bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Karena bulan itu orang-orang lalai padanya. Antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu diangkat amalan-amalan menuju Rabbul ‘alamin. Dan aku suka amalanku diangkat saat aku berpuasa.” [Hadits Hasan Riwayat Ahmad (21753) dan an-Nasai (2358)].

Bersama Para Sahabat

Bersama Umar bin al-Khattab

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, tatkala Umar bin al-Khattab menetapkan pembagian, ia menetapkan 5000 untuk Usamah bin Zaid. Sementara untuk anaknya, Abdullah bin Umar, ia beri 2000. Abdullah bin Umar pun mengomentari, ‘Anda melebihkan Usamah, padahal aku menghadiri peperangan yang tidak dia hadiri’. Umar menjawab, ‘Sesungguhnya Usamah lebih dicintai oleh Rasulullah dari dirimu. Dan ayahnya lebih dicintai Rasulullah dibanding ayahmu’.”

Pengaruh Keilmuannya

Setidaknya ada 30 orang sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Di antara para sahabat yang meriwayatkan hadits darinya adalah Saad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum. Sementara tabi’in, seperti: Said bin al-Musayyib, Ibrahim bin Saad bin Abi Waqqash, Amir bin Syurahbil, Syaqiq bin Salamah, dll.

Dari budaknya Usamah bin Zaid, ia menceritakan bahwa ia pernah berangkat bersama Usamah menuju Wadil Qura. Mereka ke sana dalam rangka mengambil harta milik Usamah. Katanya, Usamah adalah seorang terbiasa puasa Senin dan Kamis. Budaknya berkata pada Usamah, “Mengapa Anda rutin berpuasa di hari Senin dan Kamis, padahal Anda sudah tua”? Usamah menjawab, “Sesungguhnya Nabinya Allah terbiasa puasa di hari Senin dan Kamis. Beliau ditanya mengapa melakukan itu, beliau menjawab,

إن أعمال العباد تعرض يوم الاثنين ويوم الخميس

“Sesungguhnya amalan-amalan hamba diangkat pada hari Senin dan Kamis.”

Di antara hadits yang diriwayatkan oleh Usamah adalah sebuah hadits yang dicatat oleh al-Bukhari. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

“Tidak kutinggalkan ujian yang lebih berbahaya bagi laki-laki melebihi ujian wanita.”

Demikian juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Dari Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يرث المسلم الكافر، ولا يرث الكافر المسلم

“Orang muslim tidak mewariskan kepada kafir. Demikian juga orang kafir tidak mewariskan kepada muslim.”

Wafatnya

Ketika terjadi fitnah di tengah para sahabat, Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu mengambil sikap untuk tidak ikut-ikutan dalam masalah tersebut. Ia tidak memihak kubu Ali. Tidak juga kubu Muawiyah.

Dan Usamah wafat di akhir pemerintahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu. Ia sempat di al-Mizzah. Sebuah daerah yang terletak di Barat Damaskus. Setelah itu kembali ke Wadil Qura dan tinggal di sana. Akhirnya, ia Kembali ke Madinah dan wafat di kota suci tersebut.

Sejarawan berbeda pendapat tentang kapan wafatnya Usamah bin Zaid. Ada yang berpendapat ia wafat pada tahun 54 H. Ada pula yang mengatakan ia wafat pada tahun 61 H.

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com