Pilih Jadi Mualaf, Putra: Saya Damai Lihat Ibadah Islam

Putra merasakan kedamaian saat melihat ibadah yang dilakukan umat Islam.

Putra, pria berusia 36 tahun ini mulai mengenal Islam sejak dia merantau ke Jambi. Beruntung di perantauan dia tidak seorang diri. 

Dia merantau untuk meneruskan pendidikan sarjana. Dia sempat menempuh pendidikan di Medan hanya satu tahun, karena satu dan lain hal Putra memutuskan untuk pindah ke Jambi. 

Di Jambi, Putra tinggal dengan kakek dan nenek dari ayahnya. Putra sebenarnya lahir dan besar di Jakarta, kedua orang tuanya pun kini menetap di Jakarta. 

Namun mereka berasal dari Jambi, kakek dari ayahnya Tionghoa sedangkan neneknya Banjar, Kalimantan. Dengan latar belakang keluarga yang multikultural, Putra pun tumbuh di keluarga dengan multiagama. 

Kakek dan neneknya Konghucu, sedangkan kedua orang tuanya menganut Katolik. Namun  belakangan baik adik dan kakak dari ayahnya menjadi mualaf.  

Lingkungan yang Islami baik keluarga maupun teman-teman dekat membuatnya tertarik dengan Islam. Pergaulan mereka yang Muslim pun terlihat penuh kebaikan apalagi ketika mereka beribadah.  

Dengan latar belakang agama yang beranekaragam, tentu adat dan budaya mereka pun berbeda terutama saat beribadah dan dalam kegiatan sehari-hari. Ketika berada di keluarga muslim, Putra mengakui bahwa kehidupan mereka terasa lebih damai dan nyaman.  

“Jujur saya tertarik dengan Islam karena ibadah di Islam yang berbeda dan membuat hati saya terasa lebih damai melihatnya”ujar dia sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Selasa (6/10).

Bagi Putra, Islam memiliki ajaran yang sesuai dengan pemikirannya. Berbeda dengan agama sebelumnya. Islam buat dia lebih logis.  

Putra pun kemudian mulai memperhatikan saudaranya sholat, mengaji dan berpuasa. Dia pun mempelajari dan mempraktikannya.  

Putra mengaku kesulitan apalagi menghafal bacaan arab yang jauh dari kebiasaan sebelumnya. Dan hal itu dilakukan ketika sudah dewasa. Putra terus melakukan hal tersebut sambil terus menguatkan keyakinannya. Sembari mempelajari Islam diapun tetap berkuliah.  

Sebelumnya dia kuliah satu tahun di Medan,  kemudian melanjutkan ke Jambi. Tepat pada Juni 2005, Putra yakin untuk bersyahadat di depan ulama besar Jambi KH Nasution saat majelis taklim.  

Usai bersyahadat, Putra terus istiqamah untuk mempelajari Islam. Dia bersyukur keluarga muslimnya sangat mendukung dan mendampingi Putra untuk belajar terutama mengaji dan sholat. Butuh waktu lama untuk bisa membaca bacaan sholat dengan lancar. Hingga berbulan-bulan lamanya.  

Untuk puasa, diakui Putra mampu menjalaninya tanpa kendala. Dia merasa tidak berat ketika menjalaninya. Karena Putra juga tidak terlalu suka dengan makanan minuman yang diharamkan, untuk meninggalkan hal tersebut juga tidak terlalu berat.  

Di tengah mempelajari Islam, Putra harus menghadapi ujian ketika berhadapan dengan orang tua. Dia hanya dua bersaudara tentu memiliki hubungan yang sangat dekat. Komunikasi tetap lancar meski dia telah memeluk Islam. 

Namun karena khawatir orang tua marah, Putra memang tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Benar saja, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Putra baru memberitahu setelah kuliah selesai. 

Kedua orang tua pun awalnya tidak bisa menerima dan kecewa atas pilihannya tersebut. Apalagi Putra memberitahu setelah bersyahadat.  Putra terus meyakinkan kedua orang tuanya bahwa itu adalah pilihan hati dan keyakinannya. Lambat laun mereka pun menerimanya.  Kini ketika hari raya keduanya, mereka pun tetap saling menghormati. Meski mereka berbeda agama.

Istri Putra pun tidak mempermasalahkannya, karena sejak dekat sebelum menikah. Istrinya mengetahui dan paham mengenai perbedaan dengan orang tuanya.  

Putra yang kini menjabat Kasubag TU Kantor Badan Pertanahan Kerinci ini pun mengakui ujian terberat setelah mualaf adalah penerimaan keluarga. Memang membutuhkan waktu, namun dia bahagia karena kini hubungan mereka baik-baik saja. 

Bahkan banyak keberkahan yang dia dapatkan setelah memeluk Islam, dari mulai karir, keluarga dan terutama nikmat iman dan Islam. “Alhamdulillah saya mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT, keluarga yang sempurna dengan istri dan dua anak. Karier yang terus membaik dan keberkahan lainnya,”ujar dia. Satu hal yang saat ini belum tercapai adalah beribadah haji dan umrah baik sendiri maupun bersama keluarga. 

Dia juga bersyukur, sebelum wafat sang nenek juga telah menjadi mualaf, meski kakek belum sempat merasakan keindahan Islam. Saat ini Putra terus berproses mendalami Islam, seperti mengaji terutama memperbaiki bacaan Alquran. 

Di lingkungan tempat tinggalnya biasanya ada pengajian rutin untuk bapak-bapak. Putra pun berusaha untuk meluangkan waktu. Diakui Putra, dengan kesibukan kerja saat ini dia tidak mengikuti komunitas pengajian tertentu.  

Dia berharap, meski memiliki perbedaan agama baik itu di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, antarumat beragama dapat terus saling menghormati dan menghargai.

KHAZANAH REPUBLIKA

Kisah Profesor Matematika Jadi Mualaf Sebab Surat Az-Zariyat

Karena banyaknya ayat Alquran yang ilmiah, Profesor Matematika menjadi mualaf.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.

Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan.

Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat.
Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan. Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto.

Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller.

Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak lagi menghujani pemuka agama dengan berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan. Dia mem baca buku-buku tentang Islam karangan orientalis.

Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis. Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras. Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Miller menginginkan kebenaran. Jika Muhammad adalah orang yang baik dan cerdas, mengapa dia harus berbohong untuk mengklaim kenabiannya. Atau, jika Rasul gila sehingga tidak sadar dengan tindakannya, bagaimana mungkin dia memahami wahyu Ilahi.

Jawaban tentang semua kegelisahan Miller ternyata ada dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 52-53. Bunyinya adalah,

“Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Alquran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta.

Kemudian, pandangannya kembali terbuka ketika membaca kisah anak Rasul Ibrahim yang meninggal dunia. Ibrahim meninggal bersamaan dengan gerhana matahari yang terjadi. Seorang sahabat Nabi pernah berkata, matahari hilang karena anak Rasulullah telah wafat. Rasulullah pun membantah perkataan sahabat,

“Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hilangnya nyawa seseorang.” Jawaban itu adalah bukti yang jelas bahwa Nabi Muhammad bukan pembohong ataupun orang gila.

Inspirasi dari kalam Ilahi itu menghadirkan kepuasan tersendiri. Miller kemudian makin semangat mendalami Islam. Pada tahun 1977 dia memutuskan untuk membaca Alquran. Dia juga mencari tahu apa yang benar dan salah di dalamnya. Dalam tiga hari dia membaca ayat-ayat Ilahi. Setelah selesai, dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah keyakinan yang telah saya katakan dan percaya selama 15 tahun terakhir ini.”

Pada mulanya dia meyakini, Alquran merupakan otobiografi yang membahas kehidupan Nabi Muhammad, keluarga, dan lingkungannya. Dia menganggapnya seperti kitab agama sebelumnya yang berisi hikayat orang-orang dulu.

Namun, ia terkejut menemukan hal yang tak terduga. Ternyata Alquran hanya menyebutkan nama Rasulullah sebanyak lima kali. Sementara, Alquran menyebutkan nama Nabi Isa sebanyak 25 kali. Adapun nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali.

Dia makin tercengang ketika menemukan surah Maryam. Sebaliknya, dia tidak menemukan satu surah pun dengan nama Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Dia juga tidak menemukan cerita yang berhubungan dengan perasaan pribadi Rasulullah.

Selain itu, tak ada ayat Alquran yang menceritakan euforia kemenangan Perang Badar atau penderitaan setelah Perang Uhud. Miller menemukan tidak ada satu kata pun yang disebutkan dalam Alquran tentang kesedihan yang menimpa Rasulullah. Karena kitab ini berasal dari Allah, bukan Muhammad.

Pada saat pertama kali mengetahui Alquran, dia sempat berpikir bahwa konten di dalamnya adalah pengetahuan kuno yang dibuat oleh pria gurun pasir ribuan tahun lalu. Setelah membaca ayat-ayat di dalamnya, dia menyadari prediksi itu tidak tepat.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Miller kemudian memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Alquran.

Dua ratus tahun lalu, ilmuwan Belanda Antony Leeuwenhoek telah menemukan bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Dia tidak tahu bahwa Alquran telah lebih dahulu menyebutkannya. Allah mengatakan hal itu dalam surah al-Anbiya ayat 30 dan Fussilat ayat 11.

Hal yang sama terjadi di tahun 2011 ketika Saul Perlmutter, Adam Riess, dan Brian Schmidt telah memenangkan Nobel fisika. Penghargaan yang mereka terima adalah untuk menemukan fenomena percepatan ekspansi alam semesta. Sekali lagi, fakta ilmiah ini sudah ada di dalam Alquran dalam surah az-Zariyat ayat 47. 

Ayat Embrio

Alquran juga telah berbicara tentang tahap-tahap embrio. Surah al-Hajj ayat 5 menarik perhatian Profesor Keith Moore, rekan sejawat Miller di Universitas Toronto. Moore adalah profesor embriologi dan penulis buku terkenal, The Developing Human. Buku ini merupakan referensi mahasiswa fakultas kedokteran dunia.

Alquran membuat tanda di buku-buku Profesor Keith Moore. Dalam edisi selanjutnya, dia menambahkan informasi yang dia pelajari dari Alquran tentang embriologi.

Namun, dunia telah bangkit saat Keith Moore mengeluarkan buku tentang embriologi klinis. Di dalamnya, dia menulis tentang diutamakannya Alquran dalam menyebutkan fakta perkembangan embrio.

Miller kagum dengan kesepakatan penulis Barat bahwa Alquran tidak dapat ditulis oleh Rasulullah. Karena ini adalah buku pengetahuan berisikan topik yang menakjubkan. Kesimpulan tersebut menunjukkan dengan arif bahwa Alquran adalah wahyu Ilahi.

Klaim yang paling mudah adalah bahwa beberapa komite anonim membantu Rasul mengerjakannya. Namun, ada yang bilang, setan membantunya mengarangnya. Ini adalah kesimpulan yang penuh fitnah. Miller memikirkan secara mendalam tentang klaim terakhir dan menganggapnya sebagai semacam pelarian dan kegagalan untuk menghadapi kebenaran.

Jika Alquran diilhami setan, mengapa iblis mengisi bukunya dalam penghinaan terhadap setan. Makhluk pengganggu manusia itu selalu mengajak manusia untuk mengingkari perintah Allah sehingga mereka akan masuk ke dalam neraka penuh siksa.

Banyak buku tidak dapat menyuguhkan penjelasan yang dapat diterima tentang keajaiban Quran. Berbagai kesimpulan buruk tentang Islam selalu dilontarkan dalam berbagai media. Namun, itu semua justru menjadi pemicu orang untuk lebih mendalami hakikat Islam.

Gary Miller memeluk Islam pada tahun 1978. Dia memilih nama mualaf Abdul Wahid Omar. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di departemen matematika dan lebih memilih mengabdi untuk berdakwah di Kanada. Buku yang ditulisnya menarik perhatian banyak orang berjudul The Stunning Quran.

KHAZANAH REPUBLIKA

Natalia Iriani, Temukan Hidayah Usai Kaji Mendalam Alkitab

Natalia Iriani menemukan hidayah Islam usah mengkaji Alkitab.

Natalia Iriani, perempuan asal Malang Jawa Timur ini mengisahkan kegelisahan hatinya ketika dia berusaha mencari kebenaran dari kitab suci yang selama ini diyakininya. 

“Dulu saya masuk Islam bukan karena Alquran, tetapi karena Alkitab. Saya enggak pernah baca buku tentang Islam juga, enggak pernah nonton acara-acara Islam atau ceramah-ceramah ustadz, apalagi tentang perbandingan agama. Itu enggak pernah belajar,” ujar dia dalam video Youtube yang telah dikonfirmasi Republika.co.id, beberapa hari lalu.

Natalia bahkan mengaku bahwa awalnya dia tidak suka pada Islam. Mendengar adzan saja membuat hatinya terasa kurang nyaman. Dia akan langsung mematikan televisi ketika secara tidak sengaja menjumpai tayangan adzan atau ceramah keagamaan Islam.  

Dahulu, Natalia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Orang tuanya juga kala itu cenderung mengamini stigma bahwa Islam bukanlah agama yang benar. “Bahkan, keluarga juga wantiwanti saya untuk jangan jadi seperti kakak saya yang dekat dengan orang Islam, menikah, dan menjadi mualaf,” ujar dia.  

Ketika Natalia semakin mendalami kitab suci agamanya yang dulu, dia menemukan hal yang membuatnya tercengang, yaitu bahwa Tuhan ternyata Esa. Natalia tentu bukanlah orang yang tak paham dengan agamanya di masa lalu.  

Ibunya yang dahulu sebenarnya seorang Muslimah pun ikut memeluk agama sang ayah. Namun, Natalia tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Semakin dia mempelajari kitab suci agamanya yang dulu, semakin dia merasa ragu terhadap apa yang diajarkan orang-orang di sekitarnya selama ini. 

Natalia sebenarnya telah merasakan keraguan batin tentang kepercayaan yang dipeluknya. Krisis itu dialaminya setidaknya sejak duduk di bangku sekolah. Dahulu, Natalia sangat menggemari kisah-kisah tentang Nabi Isa. Keimanannya bahkan semakin kuat karena sering melihat ayahnya melayani masyarakat dengan sepenuh hati. 

Akan tetapi, semakin dia mendalami cerita tentang nabi berjuluk al-Masih itu, semakin dia merasa ragu dengan agamanya kala itu. Ketika itu, Natalia memiliki beberapa teman Muslim. Dia telah mengetahui bahwa Tuhan dalam kitab sucinya dan Tuhan dalam Islam memiliki nama yang sama, yaitu Allah. Hanya saja, pelafalannya mungkin berbeda.

Natalia tidak berhenti mencari jawaban atas keraguannya. Dia kemudian melakukan penelitian dengan menguji apakah ajaran pendeta telah sesuai dengan isi kitab suci. Namun, dari semua pendeta yang ditemuinya, tidak ada yang membenarkan pernyataan dalam kitab suci bahwa Isa adalah utusan Tuhan. 

Natalia berprinsip bahwa agama itu benar jika isi kitab suci keseluruhan benar karena kitab suci berisi firman Tuhan. Bagi dia, firman Tuhan tidak pernah salah. Jika isi kitab suci saling bertentangan dan salah, kitab itu sudah diubah melalui campur tangan manusia. 

“Kedua setiap ayat Alquran itu saling mendukung dan tidak boleh bertentangan. Misalnya, di satu ayat tentang melarang sesuatu, kemudian di ayat selanjutnya jangan sampai membolehkan sesuatu yang dilarang sebelumnya,”ujar dia. Kemudian, dia bersahabat dengan teman Muslim lainnya. 

Saking dekatnya, dia sering berdiskusi mengenai kitab suci agama mereka masing-masing. Hal ini juga yang membuatnya lebih mengenal dan mendalami Bibel serta Alquran. Ternyata benar, ada 12 ayat yang ditemukannya di Bibel saling bertolak belakang. Namun, hal ini dianggap waktu itu masih dalam batas kewajaran.

Sebab, perbedaan latar belakang, waktu, bahasa dan tempat penulisan diakui ada. Bagaimanapun, jawaban sebatas itu tidak serta merta menghilangkan keraguannya. Dia yakin betul, seharusnya kitab suci meski dengan latar belakang tempat, bahasa, dan waktu penulisan yang berbeda berisikan hal yang tidak kontradiktif. Sebab, sumbernya satu dan sama saja, yaitu firman Ilahi. 

Dari sanalah, dia tidak hanya mulai meragukan ajaran pendeta. Kini, dia mulai merenungkan kembali ihwal kebenaran pada isi kitab sucinya. Untuk itu, Natalia pada saat itu terus mencoba untuk meneliti isi kitab suci.  

“Sampai-sampai saya menangis dan berdoa untuk menemukan kebe naran dan meyakini Tuhan itu satu, yakni Tuhan semesta alam yang harus disembah. Namun saat itu saya bingung Tuhan mana yang harus saya sembah, apakah Tuhan yang saya sembah itu sudah benar atau menyembah Tuhan yang salah?” tutur dia. 

Saat itu dia berdoa meminta ampun kepada Tuhan karena keraguannya, karena dia tidak tahu dan salah telah menghambakan diri. Karena dia meyakini bahwa dia menghambakan dii kepada Tuhan semesta alam dan eminta untuk ditunjukkan kebenarannya. Setelah berdoa, anehnya ayahnya kemudian menunjukkan ayat kitab suci yang menunjukkan Isa adalah tuhan. Di situ keraguan dia sempat agak berkurang.  

Beberapa hari kemudian, Natalia mendiskusikan temuannya itu bersa ma dengan kawannya yang Muslim. Dia lantas mendapatkan pertanyaan kembali. Apakah kitab aslinya menyebutkan hal yang sama? Setelah dia mencari di kitab suci yang sama, tetapi dengan bahasa aslinya, ternyata Nabi Isa ditegaskan tidaklah mengaku sebagai Tuhan. Sosok al-Masih menegaskan dirinya sebagai guru dan bapak (junjungan), yang dalam bahasa Ibrani diistilahkan sebagai kurios.

Akhirnya, hatinya mulai mantap. Dia telah menyadari betul, kebenaran datang dari Islam yang secara tegas menyatakan Nabi Isa AS hanyalah utusan-Nya, tidak pernah mengakuaku sebagai tuhan. Dengan penuh kesadaran, Natalia menerima ini sebagai fakta, dan langkah awal baginya untuk menemukan pijakan yang lebih teguh.  

Kepada kawannya, perempuan itu menyampaikan niat ingin menjadi seorang Muslim. Betapa gembira temannya itu saat mendengarkan curahan hati (curhat) Natalia.

Termasuk ketika dikatakannya, bahwa tidak ada satu pun ayat dalam kitab sucinya dahulu yang menyebutkan Nabi Isa AS sebagai tuhan. Padahal, lagi-lagi dirinya berkata gamblang, kitab suci seharusnya 100 persen benar, tidak saling kontra diktif dalam isinya. Untuk itulah, lanjut Natalia, dirinya mengakui kebenaran Alquran. Dan, dia ingin menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Hari yang bersejarah dalam kehidupannya terjadi pada 7 Oktober 2016. Dengan ditemani kawannya, dia mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang Jawa Timur. 

Di hadapan para ustadz dan ulama setempat, Natalia menyatakan ingin memeluk Islam. Mereka pun membimbingnya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. Sesudah itu, hati Natalia bagaikan lepas dari beban berat. dIa merasa lega dan sangat bersyukur karenanya.  

KHAZANAH REPUBLIKA


Kegemparan Saat Uskup Agung Uganda Umumkan Memeluk Islam

Mantan uskup agung Lutheran Mwaipopo alami ujian setelah memeluk Islam.

Martin John Mwaipopo memberanikan diri mengumumkan soal keIslamannya. Di hadapan jemaatnya, Martin yang menjabat sebagai Uskup Agung ketika itu, mengumumkan ia meninggalkan Kristen untuk Islam.

Momen ini terjadi pada 23 Desember 1986, dua hari menjelang Natal. Jemaat yang mendengar berita itu begitu terkejut. Bahkan, administratornya langsung bangkit dari tempat duduk, menutup pintu dan jendela. Ia mengatakan kepada para anggota gereja, bahwa pikiran sang Uskup gusar dan telah gila.

Bagaimana tidak, hanya beberapa menit sebelumnya, Mwaipopo mengeluarkan alat musiknya dan menyanyi begitu mengharukan bagi anggota gereja. Namun, di dalam hati sang Uskup, ada keputusan yang hendak ia utarakan yang akan membuat seisi gereja gempar. Hiburan itu nyatanya hanyalah pesta perpisahan.

Reaksi jemaat sama mengejutkannya. Mereka bahkan memanggil polisi untuk membawa sang Uskup yang disebut ‘gila’ itu pergi. Mwaipopo ditahan di sel hingga tengah malam ketika Sheikh Ahmed Sheik, orang yang mengakuinya masuk Islam datang untuk menyelamatkannya.

Kejadian itu hanyalah awal dari guncangan ringan baginya. Reporter Al Qalam, Simphiwe Sesanti, berbicara kepada mantan Uskup Agung Lutheran kelahiran Tanzania tersebut. Setelah masuk Islam, Mwaipopo kemudian dikenal dengan nama Al Hajj Abu Bakr John Mwaipopo.

Sang penulis merasa terpancing keingintahuannya setelah diberi tahu oleh saudara laki-laki asal Zimbabwe, Sufyan Sabelo, setelah ia mendengarkan ceramah Mwaipopo di Wyebank Islamic Center, Durban. Sufyan inilah yang menceritakan tentang Mwaipopo, yang tidak hanya memperoleh gelar BA dan Master, tetapi juga doktor, di Divinity, namun kemudian beralih agama kepada Islam.

Mwaipopo memperoleh diploma dalam Administrasi Gereja di Inggris dan gelar-gelar terakhir di Berlin, Jerman. Sebelum menjadi seorang Muslim, ia pernah menjadi Sekretaris Umum untuk Afrika Timur di Dewan Gereja-Gereja Dunia, yang meliputi Tanzania, Kenya, Uganda, Burundi, dan bagian-bagian dari Ethiopia dan Somalia.

Di Dewan Gereja, dia bercampur baur dengan ketua Komisi Hak Asasi Manusia Afrika Selatan, Barney Pityana, dan ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Uskup Desmond Tutu. Sang penulis, Sesanti, kemudian menceritakan kisah kehidupan Mwaipopo, pria yang lahir 61 tahun yang lalu, tepatnya pada 22 Februari di Bukabo, sebuah wilayah yang berbatasan dengan Uganda.

Dua tahun setelah kelahirannya, keluarga Mwaipopo membaptisnya. Lima tahun kemudian, mereka menyaksikan dia dengan bangga menjadi alter boy (seseorang yang membantu anggota pendeta di gereja. Keluarga begitu bangga ketika melihatnya membantu menteri gereja, mempersiapkan ‘tubuh dan darah’ Kristus. Pikiran sang ayah dipenuhi dengan ide-ide untuk masa depan putranya itu.

“Ketika saya berada di sekolah asrama, kemudian, ayah saya menulis kepada saya, menyatakan dia ingin saya menjadi seorang imam. Dalam setiap surat, dia menulis ini,” kenang Mwaipopo, dalam artikel di laman Islamweb, dilansir Selasa (4/8).

Namun, Mwaipopo alias Abu Bakr memiliki ide sendiri tentang hidupnya, ia bergabung dengan kepolisian. Namun pada usia 25, Mwaipopo menyerah pada kehendak ayahnya. Tidak seperti di Eropa di mana anak-anak dapat melakukan apa yang mereka kehendaki setelah usia 21 tahun, di Afrika, anak-anak diajarkan menghormati kehendak orangtua mereka di atas kehendak mereka sendiri.

“Putraku, sebelum aku menutup mataku (mati), aku akan senang jika kau bisa menjadi pendeta”, begitulah kata ayahnya pada Mwaipopo.

Nasihat sang ayah kemudian mendorongnya melangkah ke Inggris pada 1964, untuk mengejar diploma dalam Administrasi Gereja. Setahun kemudian, dia pergi ke Jerman untuk membuat gelar BA. Sekembalinya, setahun kemudian, dia diangkat menjadi Penjabat Pelaksana. Hingga kemudian meraih gelar Master. Pada saat mengambil gelar doktor, Mwaipopo mulai mempertanyakan berbagai hal.

“Selama ini, saya hanya melakukan berbagai hal, tanpa bertanya. Saya mulai bertanya-tanya … ada agama Kristen, Islam, Yahudi, Budha, masing-masing agama yang berbeda mengklaim jadilah agama yang benar. Apa kebenarannya? Saya menginginkan kebenaran,” ujarnya.

Sejak itu, Mwaipopo memulai pencarian hingga ia menguranginya menjadi empat agama besar. Suatu waktu, ia mendapatkan salinan Alquran. Ketika pertama kali membuka lembaran Alquran, ayat-ayat yang pertama ia temukan adalah surah al-Ikhlas.

“Katakan: Dialah Allah, Yang Esa dan Satu-Satunya; Allah, Yang Abadi, Mutlak; Dia tidak beranak, juga tidak diperanakkan; Dan tidak ada yang seperti Dia?” demikian Mwaipopo coba mengingatnya.

Saat itulah, benih-benih Islam mulai tertanam untuk pertama kalinya. Kala itu, dia menemukan Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang telah dihilangkan oleh manusia sejak wahyu tersebut diturunkan.

“Dalam menyimpulkan tesis doktoral saya, saya mengatakan demikian. Saya tidak peduli apakah mereka memberi saya doktor atau tidak, itu adalah kebenaran dan saya sedang mencari kebenaran,” kata Mwaipopo.

Dalam pikiran demikian, Mwaipopo memanggil Profesor Van Burger. Kala itu, ia menutup pintu dan menatap mata sang profesor. Mwaipopo lantas bertanya, mana yang benar dari semua agama di dunia.

Sang profesor menjawab, “Islam.” Mwaipopo lantas bertanya, “Kalau begitu, mengapa kamu bukan seorang Muslim?”

Profesor menjawab, “Pertama, saya membenci orang Arab, dan kedua, apakah Anda melihat semua kemewahan yang saya miliki? Apakah Anda pikir saya akan menyerahkan semuanya untuk Islam?”

“Ketika saya memikirkan jawabannya, saya berpikir tentang situasi saya sendiri juga,” kenang Mwaipopo.

Kala itu, yang terlintas dalam imajinasinya adalah misinya dan hartanya, seperti mobilnya. Dia berpikir dirinya tidak bisa memeluk Islam dan selama satu tahun lamanya dia melupakannya.

Namun kemudian, mimpi menghantuinya, ayat-ayat Alquran terus muncul, orang-orang berpakaian putih terus berdatangan, terutama pada hari Jumat, hingga dia tidak tahan lagi. Hingga akhirnya, pada 22 Desember 1986, dia secara resmi memeluk Islam. Mimpi-mimpi itu yang membimbingnya untuk masuk Islam. Mwaipopo meyakini bahwa mimpi bukan takhayul.

“Tidak, saya tidak percaya bahwa semua mimpi itu buruk. Ada yang memandu Anda ke arah yang benar dan yang tidak, dan mimpi-mimpi ini, khususnya, membimbing saya ke arah yang benar, kepada Islam,” katanya.

Karena keputusannya memeluk Islam itulah, gereja menyita rumahnya dan mobilnya. Istrinya pun harus mengepak pakaiannya, mengambil anak-anaknya dan pergi. Mwaipopo menjamin sang istri tidak diwajibkan untuk menjadi seorang Muslim.

Ketika Mwaipopo pergi kepada orang tuanya, mereka juga telah mendengar cerita tentang langkahnya itu. Kala itu, sang ayah justru memintanya mencela Islam. Sementara sang ibu mengatakan dia tidak ingin mendengar omong kosong dari Mwaipopo.

Namun begitu, Mwaipopo mengungkapkan perasaannya bahwa dia telah memaafkan orang tuanya. Sebab, dia akhirnya bisa menemukan waktu untuk berdamai dengan ayahnya sebelum sang ayah meninggal.

“Mereka hanya orang tua yang tidak tahu. Mereka bahkan tidak bisa membaca Alkitab, yang mereka tahu hanyalah apa yang mereka dengar dari pendeta yang membaca,” ungkapnya.

Setelah meminta untuk menginap satu malam, pada hari berikutnya, ia memulai perjalanannya ke tempat asal keluarganya, Kyela, di dekat perbatasan antara Tanzania dan Malawi. Orang tuanya telah menetap di Kilosa, Morogoro.

Selama perjalanannya, dia terdampar di Busale di rumah satu keluarga yang menjual bir buatan rumah. Di sanalah ia bertemu calon istrinya, seorang biarawati Katolik, dengan nama Suster Gertrude Kibweya, yang sekarang dikenal sebagai Suster Zainab.

Bersama biarawati itulah, Mwaipopo pergi ke Kyela. Di sana, ia bertemu lelaku tua yang memberinya tempat berteduh malam sebelumnya. Lelaki tua itu juga yang mengatakan kepadanya bahwa di situlah dia akan menemukan Muslim lainnya.

Tetapi sebelum itu, pada pagi harinya Mwaipopo mengumandangkan adzan (seruan sholat). Mendengar adzan, penduduk desa keluar dari rumah masing-masing. Mereka bertanya kepada sang tuan rumah, mengapa dia menyimpan seorang pria ‘gila’.

Beruntung, kala itu sang biarawati menjelaskan Mwaipopo tidak gila, melainkan seorang Muslim. Suster Zainab juga yang membantu Mwaipopo membayar biaya pengobatannya di Rumah Sakit Misi Anglican, ketika dia sakit parah.

Kisah berlanjut tatkala Mwaipopo bertanya kepada sang biarawati soal mengapa dia mengenakan rosario. Suster Zainab kala itu menjawab, hal itu karena Kristus digantung di sana.

“Tapi, katakanlah seseorang telah membunuh ayahmu dengan pistol, akahkah kamu berkeliling membawa senjata di dadamu?”

Sang biarawati itu berpikir, benaknya menantang keyakinan lamanya. Tidak lama kemudian, Mwaipopo melamar Suster Zainab, dan sang biarawati itu pun menerimanya.

Mereka kemudian menikah secara diam-diam. Empat pekan kemudian, Suster Zainab menulis surat kepada otoritasnya perihal kepergiannya. Lelaki tua yang memberinya perlindungan, yang juga paman Suster Zainab, mendengar pernikahan tersebut, mereka diberitahu agar meninggalkan rumahnya. Sang paman tidak bisa menerima keputusan Suster Zainab. Ayahnya pun begitu marah dengan keputusan Zainab.

Dari rumah Uskup itu, Mwaipopo pergi dan kemudian tinggal di rumah lumpur yang dibangunnya sendiri. Dari mencari nafkah sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Dunia Gereja untuk Afrika Timur, ia mulai mencari nafkah sebagai pemotong kayu dan mengolah tanah beberapa orang.

Selain pekerjaan demikian, Mwaipopo juga berdakwah Islam di muka umum. Hal inilah yang menyebabkan serangkaian pemenjaraan jangka pendek, karena khutbah yang dianggap penghinaan terhadap Kristen.

Saat melaksanakan haji pada 1988, tragedi melandanya. Rumahnya dibom, dan akibatnya tiga bayinya terbunuh. “Seorang uskup, yang memiliki ibu dan ibu saya sendiri adalah anak dari ayah yang sama, terlibat dalam rencana tersebut,” kenang Mwaipopo.

Namun, alih-alih melemahkan, semangat Mwaipopo justru kian bertambah. Sebab, jumlah orang yang memeluk Islam kala itu kian meningkat, termasuk ayah mertuanya.

Pada 1992, ia ditangkap selama 10 bulan, bersama dengan 70 pengikut. Dia didakwa melakukan pengkhianatan. Hal ini terjadi setelah beberapa toko daging babi dibom.

Dia memang berbicara menentang penjualan daging babi tersebut. Dia mengatakan, secara konstitusional, sejak 1913, ada undang-undang yang menentang keberadaan bar, klub, dan toko daging babi di Dar es Salaam, Tanga, Mafia, Lindi dan Kigoma.

Beruntung, kala itu dia dibebaskan. Segera setelah itu, dia melarikan diri ke Zambia. Dia mengasingkan diri setelah diberitahu ada rencana untuk membunuhnya.

Mwaipopo mengatakan, pada hari dia dibebaskan, polisi datang untuk menangkapnya kembali. Namun, menurutnya, para wanita mengatakan mereka akan menentang penangkapan Mwaipopo secara fisik terhadap polisi. Mereka juga yang membantu Mwaipopo melintasi perbatasan tanpa diketahui.

Saat itu, Mwaipopo dipakaikan pakaian perempuan. Karenanya, ia mengatakan itulah salah satu alasan yang membuatnya mengagumi wanita.

“Wanita harus diberi tempat tinggi, mereka harus diberi pendidikan yang baik dalam Islam. Kalau tidak, bagaimana dia bisa mengerti mengapa seorang pria menikahi lebih dari satu istri. Adalah istri saya, Zainab, yang mengusulkan agar saya menikahi istri kedua saya, Shela (temannya), ketika dia harus pergi untuk studi Islam di luar negeri,” kata Mwaipopo.

Mwaipopo atau Haji Abu Bakr pun berpesan kepada umat Islam. Ia mengatakan, ada perang melawan Islam, yang membanjiri dunia dengan literatur. Saat ini, kata dia, umat Islam dibuat merasa malu untuk dianggap sebagai fundamentalis.

“Muslim harus menghentikan kecenderungan individualistis mereka. Mereka harus bersama (bersatu). Anda harus membela tetangga Anda jika Anda ingin selamat,” katanya.

Dalam pesannya, ia juga menyerukan umat Islam untuk berani. Ia lantas mengutip Ahmed Deedat dari Pusat Dakwah Islam Internasional.

“Orang itu tidak terpelajar, tetapi lihat cara ia menyebarkan Islam,” tambahnya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Zainadine Johnson, Mualaf yang Terpikat Isi Surat Al Kafirun

REPUBLIKA.CO.ID, Brisbane, Australia, menjadi tempat Zainadine Johnson tahun dilahirkan. Di sana dia tumbuh menjadi bocah yang sangat aktif berolahraga. Olahraga rugby menjadi kesukaannya. Dia bermain dan bergabung bersama temannya di grup Mitchelton.

Keahlian bermain telah mengantarkannya menjadi juara sekolah. Para guru dan teman-teman mengapresiasinya. Tak hanya rugby, Johnson juga gemar berselancar. Badannya tak bisa diam bila melihat ombak berarak di lautan. Dia langsung berdiri di atas papan dan berselancar mengikuti kemana ombak menjilati pantai. Johnson aktif mengunjungi Gereja Prebysteran. Bersama keluarga tercinta, dia selalu menyanyikan pujian di hadapan pastor yang mengkhotbahinya setiap akhir pekan.

Selesai menempuh pendidikan mendekati milenium ketiga, dia pindah ke Sunshine Coast untuk mencari pekerjaan dan menekuni hobinya berselancar. Di sana dia bergaul dengan teman-teman yang gemar hidup hedonistis. Hobi mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, dan terjebak dalam pergaulan bebas. Yang menyedihkan, ada temannya yang tewas karena overdosis.

Selama mata mengedip, dia selalu ingin dalam keadaan sadar penuh. “Apa iya saya harus mengikuti mereka? sepertinya tidak. Saya punya jalan sendiri,” ujarnya. Dia bertemu calon istrinya, Fernanda Gonzalez, seorang mahasiswa internasional dari Columbia. Mereka menikah pada 1999 dan putra pertama mereka lahir segera setelahnya.

Pada saat itu dia bekerja sebagai konsultan investasi dan keuangan. Dia membantu masyarakat untuk memahami seluk beluk keuangan dan cara pengelolaannya. Ibadah akhir pekan masih terus di jalani. Hingga akhirnya dia terobsesi untuk menjadi manusia suci. Namun dia tidak menemukan cara terbaik.

Kemudian dia mengundang teman-temannya yang Muslim. Mereka berkumpul di rumah untuk bersilaturahim. Johnson kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya tentang Islam dan segala seluk beluknya. Ketika itu Islam menjadi sasaran fitnah yang luar biasa. Media massa menggambarkannya sebagai agama setan. Penuh dengki dan permusuhan. Namun, gambaran itu sama sekali tak ditemuinya saat berkumpul bersama Muslim.

Dia melihat Muslim adalah sosok yang santun. Mereka melebur dalam kehidupan dan kebersamaan. Johnson menyukai Islam ketika mengetahui agama tersebut tidak memaksa orang lain untuk bersyahadat. “Bagimu agamamu. Bagiku agamaku. Saya suka ajaran yang terdapat dalam surat Al Kafirun itu, ujarnya. .

Peselancar ini juga menghabiskan waktu membaca buku tentang Muhammad dan Islam. Di situ dia terkesan dengan perjuangan Rasulullah yang sangat gigih mendakwahkan tauhid dan menginspirasi kehidupan dunia selama ribuan tahun. Dari situ dia semakin meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang harus ditempuhnya. Dia pun memutuskan untuk mengunjungi Masjid Lab rador untuk bertemu imam di sana.

photo

Zainadine Johnson kini aktif berdakwah. – (Dok Istimewa)

Saat memasuki masjid, dia melihat orang-orang di dalamnya sangat ramah. Semuanya tersenym “Yang saya ingat tentang masjid adalah semua orang tersenyum, yang sangat berbeda dengan apa yang Anda lihat di TV.” Di sana dia menyatakan kesaksiannya bahwa Allah adalah satusatunya Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pendamping hidupnya juga telah memeluk Islam.

Memberitahukan tentang keislamannya kepada keluarga bukanlah proses yang mudah. Ibunda Imam Zainadine sebelumnya menyuruhnya memilih agama, tetapi bukan Islam. “Saya ingat itu setelah saya menjadi Muslim. Selama sekitar empat bulan aku tidak memberitahunya,” jelasnya. Namun ibu mengetahui anaknya sudah berubah. Dia pun pada akhirnya mempersilakan Johnson untuk melanjutkan dan memegang keimanan nya.

Pada 2004, dia membawa istri dan keluarga ke Afrika Utara, suatu perubahan besar yang membawa pada suatu perjalanan penemuan. Men jelajahi negara-negara seperti Suriah, Mesir, Yaman, dan bahkan Indonesia, dia melakukan perjalanan, belajar Islam.

Imam Zainadine melakukan perjalanan ke Afrika Utara dan juga Indonesia pada 2004 di mana dia belajar hukum syariah dan belajar bahasa Arab. Dia digambarkan bersama Dr Zakir Naik seorang pengkhotbah Islam dari India.

Tapi kemudian dia teringat rumah masa kecilnya sehingga menggugah hatinya kembali ke Sunshine Coast. “Tempat ini selalu ada di hatiku, aku ingin kembali ke sini dan bekerja dengan komunitas Muslim. Aku punya hubungan dekat dengan Sunshine Coast.” ujar Imam Zainadine.

September 2016 dia kembali ke Sunshine Coast untuk mengambil peran sebagai pemimpin komunitas Muslim. Dia berharap dapat membangun jembatan antara Muslim dan mereka yang menentang agama dan juga kembali di papan selancar.

KHAZANAH REPUBLIKA

Youtuber Mualaf Jay Kim: Dulu Takut Masjid, Sekarang Favorit

Youtuber Jay Kim yang kini mualaf sangat gembar mendatangi masjid.

Bagi Anda yang gemar berselancar di jejaring media sosial Youtube, nama Jay Kim (28 tahun) tidaklah asing. Kini youtuber dengan 1,16 juta subscriber itu telah memeluk Islam, Jumat (25/9/2019) di Masjid Agung Itaewon, Seuol. Dia dibimbing langsung Imam Masjid Itaewon, Rahman Lee Ju Hwa. 

Sebenarnya, dia bertemu imam masjid tersebut bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya dia beberapa kali mengunjungi Masjid Itaewon untuk shalat dan melihat kehidupan umat muslim di masjid tersebut.  

Jumat, (11/9) tepatnya dia melaksanakan shalat Jumat dan bertemu pertama kali dengan imam masjid di sana. Tujuh bulan lalu adalah pertama kalinya dia datang ke masjid. 

“Awalnya aku takut datang ke masjid, tapi kini majid merupakan tempat favoritku dan aku merasa damai berada di masjid,”ujar pria yang memiliki nama asli Kim Jae han dalam unggahan video di channel youtube pribadinya @jaykim. Ketika datang ke majid dia merasa ada banyak keberkahan dan bertemu Muslim. Jay Kim merasa bahagia karena dapat berkumpul dengan orang-orang baik. “Mereka seperti mendapat cahaya dari Allah,”tutur dia.  

Ketika bertemu imam masjid tersebut, dia menyambutnya karena tertarik dengan Islam. Berbeda dengan yang lain, dia tidak langsung memaksa untuk langsung bersyahadat. 

Dia justru meminta Jay untuk tidak terlalu terburu-tetapi, tetapi kapan saja dia siap untuk membimbingnya bersyahadat. Menurut Imam tersebut melaksanakan perintah Allah sama halnya dengan sebuah keimanan, ini yang harus dipikirkan lebih mendalam.  

Karena banyak orang Korea yang menjadi mualaf karena pernikahan atau penasaran, tetapi mereka jarang shalat dan memilih murtad. Melaksanakan perintah Allah SWT jauh berbeda dengan budaya yang selama ini ada di Korea. “Aku harus benar-benar memikirkannya dan yakin sanggup untuk menjalani perintah Allah, aku dapat bersyahadat kapanpun,” jelas dia. 

Dia memahami bahwa menjadi Muslim harus memiliki dua hal, iman dan ketakwaan. Jadi, sekalipun sangat beriman tetapi tidak melakukan perintah Allah SWT itu tidak akan berhasil, sebaliknya melakukan perintah Allah tetapi tidak beriman itu akan percuma. Iman dan takwa merupakan gabungan untuk menjadi mulim yang sempurna. 

Tidak mudah melakukannya terutama ketika hidup di Korea, tetapi jika memiliki keinginan yang kuat dan iman akan bisa melakukannya dimana saja. Dalam mempelajari Islam juga banyak paham dan luas, sehingga imam tersebut menyarankan untuk berpegang pada hal yang utama yakni Alquran dan hadis.  

Menurut Jay, Islam itu seperti istana, membutuhkan kunci keimanan untuk memasukinya. Namun tak cukup hanya memiliki kunci, sebagai Muslim wajib memiliki petunjuk arah agar dapat berjalan dengan benar, Alquran dan hadis inilah petunjuk arah terebut.

Ketika memiliki keduanya maka mulim akan benar-benar melihat istana yang indah tersebut bertahan lama di sisa hidup bahkan hingga akhirat. Dia tidak benar-benar meyakininya. Ini berawal ketika dia belajar di sekolah dan mempelajari ilmu sains. 

Ilmu Sains mengajarkan berbagai hal yang ada di bumi, bumi yang begitu besar dan isinya membuat Jay berpikir bahwa mereka pasti ada yang menciptakan dan itu adalah sesuatu yang sangat besar dan hebat. Dia meyakininya bahwa ini hanya satu saja yang terhebat, bertentangan dengan keyakinannya. 

Kini dia menemukan jawabannya, Allahlah yang terhebat dan menciptakan bumi serta segala isinya. Semakin lama, dia semakin ingin mencari jati dirinya, seperti untuk siapa dia diciptakan dan akan kemana setelah dia meninggal nantinya.

Setelah dia banyak melakukan penelitian dan mempelajari Islam dari berbagai sumber, Jay kembali menemui Lee Ju Hwa. Dia yakin untuk bersyahadat dan menjalani segala perintah dan larangan Allah. 

Jumat, (25/9), Jay kembali mengunjungi Masjid Besar Itaewon. Sebelum bersyahadat ju Hwa kembali mengingatkan agar Jay benar-benar yakin untuk memeluk Islam. 

Ju Hwa kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai kewajiban seorang Muslim. Hal yang paling penting dalam menjadi Muslim adalah meyakini dan menjalani apa yang ada di dalam rukun iman dan rukun Islam. 

Selain itu menjadi seorang Muslim tidak boleh mendapat paksaan dari siapapun. Bersyahadat harus niat dari diri sendiri. Imam Masjid tersebut berharap, bersyahadatnya Jay bukan karena ketenaran, tetapi karena dia meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar yang dapat menjadi cara hidupnya  

Ju Hwa pun menasehati, beryahadat di hadapan kamera bisa saja akan ada sebagian orang yang berpikir bahwa ini akan menurunkan nilai religiusnya. Namun Jay juga mendapat pujian karena mampu belajar puasa satu bulan ketika Ramadhan karena telah memiliki keimanan. 

Setelah bersyahadat, dia pun mendapat ucapan syukur dan selamat dari teman dan ustaz yang mendampinginya. Kini dia memiliki nama Muslim Daud Kim, yang memang sebelumnya dia memiliki nama baptis David. Karena di Islam, nama David merupakan Nabi Daud.

Sebagai seorang Muslim, Daud berusaha agar dapat menjadi muslim yang sesuai dengan perintah Allah. Kini dia memiliki pakaian Muslim sehingga tidak bisa sembarangan dalam bersikap.

Dia harus mampu membuktikan Islam sejati dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dia juga disarankan untuk sering-sering mengunjungi masjid sehingga semakin menguatkan keimanannya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Suami Istri Meksiko Masuk Islam Berkat Drama Serial Turki

Suami istri masuk Islam disaksikan pemain langsung drama Turki itu.

Sepasang suami istri asal Meksiko terinspirasi untuk masuk Islam setelah menonton serial televisi Turki yang terkenal, ‘Resurrection: Ertugrul’, Selasa (3/12). Keduanya juga telah bertemu dengan salah satu aktornya dalam sebuah acara di Los Angeles, Amerika Serikat. 

“Kami terpengaruh oleh serial TV Turki ‘Resurrection: Ertugrul’ dan aktivitas kemanusiaan Turki di seluruh dunia, dan kemudian memutuskan untuk menjadi Muslim,” kata pasangan Meksiko itu, dilansir dari laman Yenisafak, Rabu (4/12). 

Celal Al, yang memerankan Abdulrahman Alp dalam drama tersebut menghadiri pertemuan tahunan ke-22 Muslim American Society (MAS). Adalah sebuah organisasi Muslim, dan ia turut memberikan pidato tentang serial tersebut dan Turki. 

Al yang merupakan tamu Zakat Foundation, disambut dengan penuh hangat di acara tersebut. Sebuah acara yang memungkinkan umat Islam dari seluruh AS untuk bertemu. Di akhir pertemuan, pasangan Meksiko itu masuk Islam dengan membaca syahadat dibantu Al.  

Setelah menjadi Muslim, Al menghadiahi pasangan itu dua Alquran, satu dalam bahasa Inggris dan satu lagi dalam bahasa Spanyol, serta bendera Turki. “Sangat menyenangkan bagi kami untuk melihat bahwa orang-orang di seluruh dunia sangat tertarik dengan kegiatan kemanusiaan Turki. Saya sangat senang melihat contoh ini di Los Angeles,” kata Al. 

Berlangsung di Anatolia abad ke-13, ‘Resurrection: Ertugrul’, bercerita tentang periode sebelum berdirinya Kekaisaran Ottoman sekitar kehidupan Ertugrul Gazi, ayah dari pemimpin pertama kekaisaran. Serial ini menggambarkan perjuangan Ertugrul, dan prajuritnya melawan sejumlah besar musuh dari Ksatria Templar hingga penjajah Mongol.  

Adapun Turki merupakan salah satu dari lima negara pengekspor serial terbesar di dunia, negara tersebut memikat penonton dari Amerika Latin ke Asia Tengah. Menurut Kementerian Kebudayaan Turki, puluhan serial Turki diikuti lebih dari 500 juta pemirsa di lebih dari 150 negara. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Alicia Brown: Islam Menyelamatkanku dari Dunia Gelap

“Aku bagai lahir kembali, bebas dari segala sesuatu. Segala dosa yang menjerat dan semua hal yang telah terjadi di dalam hidupku, tak penting lagi,” ucap Alicia, tepat sehari setelah ia memeluk Islam. Berjilbab rapi, wajahnya cerah bak mentari terbit.

Senyumnya pun mengembang laksana bunga mekar di pagi hari. Melihat binar wajahnya, tak akan ada yang menyangka bahwa ia memiliki sederet catatan hitam dalam hidupnya.

Alicia Brown, wanita asal Texas, AS, tersebut menemukan cahaya hidayah setelah bertahun-tahun kekacauan melanda hidupnya. Ia terjerumus dalam kubangan dosa. Alkohol, narkoba, hingga seks bebas menjadi teman hidupnya. Mengapa ia lakukan semua itu? Alicia memang ingin merusak hidup yang sangat ia benci. Ia sangat membenci dirinya, membenci segala sesuatu di sekitarnya.

Dunia gelap membelenggu Alicia setelah musibah melanda keluarganya. Orang tuan Alicia bercerai. Saat itu, usianya baru 10 tahun. Terpaksa, Alicia tinggal dengan ayah yang sangat membencinya dan sangat ia benci. Caci-maki menjadi kalimat rutin yang ia dengar dari sang ayah setiap hari selama enam tahun.

“Ayah sangat kejam kepadaku dan adik laki-lakiku. Dia tak terlalu kejam pada adik perempuanku, tapi dia benar-benar kejam padaku, sangat kejam. Mungkin karena aku mengingatkannya pada ibuku,” tutur Alicia.

Di usia 16 tahun, Alicia pindah ke rumah kakek neneknya. Namun terlambat, karena didikan kejam sang ayah, saat itu Alicia telah benar-benar diselimuti kebencian. Ia pun mulai merusak hidupnya dengan kesenangan semu. Ia memulai gaya hidup merusak diri.

“Aku membenci diriku dan semua yang ada di sekitarku.  Aku ingin melakukan apapun yang bisa untuk menyakiti diri sendiri. Aku coba narkoba, alkoho, dan seks bebas.”

Setahun dengan gaya hidup itu, Alicia tak merasa batinnya terpuaskan. Ketika usianya 17 tahun, ia tinggal dengan sang ibu. Alicia sempat berpikir, tinggal dengan ibu mungkin bisa membuatnya berbenah diri. Tapi rupanya, Alicia telah terjatuh sangat dalam pada jerat dunia hitam. Ia tak bisa lepas bahkan terus memburuk dari hari ke hari.

Di sekolah menengah atas, ia bertemu dengan seorang pria. Ia lalu tinggal bersama pria itu selama bertahun-tahun tanpa ikatan pernikahan. Lagi-lagi Alicia berharap itu menjadi kehidupan baru yang membentangkannya kesempatan untuk berubah. Celakanya, pasangan Alicia pun memiliki kebiasaan sama. Ia peminum dan pecandu.

Masalah pun kian rumit ketika Alicia hamil. “Awalnya, itu tak terlalu masalah. Setidaknya, kami memiliki seseorang untuk saling dimiliki. Tapi, saat bayiku lahir, ketika itulah pacarku dan ayahnya benar-benar menjadi pecandu berat,” kisahnya.

Hari demi hari, keuangan keluarga ini kian menipis digerogoti alkohol dan narkoba. Beruntung, kehadiran si jabang bayi membuat Alicia tersadar bahwa ia harus menghentikan kecanduannya demi tumbuh kembang sang buah hati. Sementara, kekasihnya tak mau peduli. Dia tetap saja menjadi pecandu narkoba. Karena kesal, Alicia pun meninggalkan kekasihnya yang juga ayah biologis putrinya.

Hari-hari pertemuan Alicia dengan hidayah Islam kian dekat. Hal itu bermula ketika putri kecilnya divonis menderita sindroma Guillain-Barre, suatu kelainan berupa sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf pusat. Akibatnya, penderita mengalami pelemahan otot dan tak mampu bergerak.  Tak pelak, anaknya harus dirawat di rumah sakit.

Saat di rumah sakit menemani putrinya itulah, Alicia berkenalan dengan beberapa Muslimin, salah satunya bernama Hayat. Dari Hayat, ia mulai mengenal agama Islam. Alicia pun banyak mengajukan pertanyaan tentang Islam pada kenalan barunya ini.

Ketika kondisi putrinya membaik dan boleh dirawat di rumah, Alicia tetap menjaga kontak dengan Hayat. Jelas sekali, Alicia mulai tertarik dengan Islam. Ia pun menyadari bahwa banyak orang mendapat informasi yang salah tentang Islam. “Aku pikir banyak orang mengira bahwa itu (Islam) seperti agama Hindu. Aku pun tadinya berpikir, Islam merupakan agamanya orang Timur Tengah.”

Alicia memang buta sama sekali tentang Islam. Sejak kecil ia dibesarkan di tengah keluarga yang jauh dari agama. Meski mengaku sebagai Kristen, keluarga Alicia sangat jarang ke gereja. “Mereka Kristen Baptis, tapi kami tipe keluarga yang tidak pergi ke gereja secara teratur,” ujarnya.

Sejak bertemu Hayat, Alicia baru mengetahui bahwa Islam berasal dari akar yang sama dengan agama yang dianutnya. Namun, berangkat dari perenungan dan diskusi panjangnya dengan beberapa Muslimin, Alicia mulai mendapat kejelasan arah yang harus ia tuju. Ya, arah yang jelas itu adalah Islam.

Namun Alicia tak serta-merta berislam. Alicia sangat takut karena selama ini ia meyakini bahwa mengatakan Yesus bukan anak Allah merupakan sebuah penghujatan. Sementara, penghujatan merupakan dosa tak terampuni. “Artinya, Anda akan masuk neraka,” tuturnya.

Diakui Alicia, selama ini pun ia telah bergelimang dosa. Hanya saja, dalam keyakinannya, itu bukan dosa yang tak terampuni. Dicekam kebingungan dan ketakutan, Alicia setiap malam senantiasa menengadahkan tangan, berdoa meminta petunjuk. “Ya Allah, tolong beri petunjuk. Petunjuk yang jelas untuk mengetahui bahwa inilah jalan yang harus hamba tuju.’”

Suatu hari, Alicia bertemu ibunda Hayat, Hana. Ia membacakan ayat Alquran. Alicia tak ingat ayat apa yang dibaca saat itu. Yang pasti, di ayat tersebut Yesus berkata, “Saya bukan anak Tuhan.”

Kemudian, di akhir ayat, kata Alicia, disebutkan, “Untuk setiap pencari petunjuk, terdapat petunjuk dari dirinya sendiri. Bagiku ini sungguh luar biasa. Aku pun menangis karena merasa ini merupakan petunjuk untukku.”

Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari ayat Alquran itu, Alicia tak ragu lagi untuk memeluk Islam. Jalan hidup baru sebagai Muslimah pun terbentang.

Islam membuka lembaran hidup baru bagi Alicia. Ia benar-benar meninggalkan dunia hitamnya, bertobat, dan memperbaiki diri. Tak pernah ia merasakan kebahagiaan, kecuali setelah memeluk Islam. “Aku benar-benar merasakan kasih dan dukungan.”

Selama ini, Alicia hidup dalam suramnya dunia. Ia yang sebelumnya senantiasa berselimut dosa, kini merasakan iman yang begitu menyegarkan. Belenggu ketakutan dan kecemasan pun serta-merta lenyap. Ia bagai terlahir kembali.

“Aku benar-benar merasa jauh lebih baik. Aku merasa beban berat telah diangkat. Aku pun bisa bernapas lebih lega dari sebelumnya,” ungkapnya.

Jika sebelum berislam teman setianya adalah alkohol, narkoba, dan seks bebas, kini Alicia hanya bersandar kepada Allah. Alquranlah yang menjadi teman setianya sehari-hari. Ia sangat suka membaca Alquran. Baginya, kitab suci umat Islam ini sangat memesona.

“Alquran terasa begitu asli dan mudah dipahami,” katanya

KHAZANAH REPUBLIKA

Cerita Tere Soal Hidayah

Perjalanan menemukan hidayah cukup panjang bagi penyanyi, Tere Pardede. Tere lahir dan tumbuh dalam keluarga non-Muslim.

Hanya sebagian kecil keluarga jauhnya beragama Islam. Keluarga inti menyebut mereka sebagai saudara yang tersesat.

“Itu yang ditanamkan sejak kecil pada saya, mereka (keluarga yang beragama Islam) adalah domba tersesat,” kata dia dalam acara Hijrah Fest 2018 di Senayan JCC, Jakarta, Ahad (11/11).

Muslimah bernama bernama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini mulai terbuka ketika duduk di jenjang SMA. Dia tidak lagi menempuh pendidikan di sekolah homogen. “Pas SMA saya lihat manusia macem-macam. Ada pelajaran Islam, dan yang non-Muslim dipersilahkan keluar,” kata Tere.

Saat duduk di bangku kuliah, dia berada di masa kebebasan berpendapat mulai menjadi hal awam. Dia berbincang dengan nenek teman dekatnya, yang mana seorang mualaf. Pembahasan berbagai topik dilakukan mulai dari ideologi hingga agama.

Dari pembahasan itu, dia mengetahui bahwa Islam juga mengenal Isa Al-Masih. Namun, Islam menganggapnya bukan Tuhan, melainkan nabi. Kemudian, Tere mulai tertarik membaca Alquran.

Tere mengaku beruntung karena mengambil jurusan komunikasi. Salah satu mata pelajarannya, yakni ilmu cek info sebagai hoaks atau bukan. Dia mempertanyakan ihwal adanya tiga agama yang mengaku pewaris Ibrahim AS.

Menurur Tere, tidak mungkin ada tiga, pasti ada satu yang paling utama. Kemudian Tere kembali mempelajar Alkitab dan Alquran lagi. Hingga akhirnya menemukan hidayah dari Alquran.

“Saya sempat agnostik 1,5 tahun. Banyak info yang saya pertanyakan tentang ajaran agama saya sebelumnya. Tapi kalau tanya dibilang kurang beriman. Namun jelas sekali tak ada keraguan di Alquran,” tutur dia.

Menurur Tere proses mendapatkan hidayah tidaklah mudah. Sebab, Tere harus berjihad dengan diri sendiri dari keraguan menjadi tak ada keraguan sama sekali.

“Proses hanya proses kalau tak ada effort (upaya). Jangan berubah. Tetap istiqamah dengan kalimat tauhid,” kata Tere.

Prof Dr Tagatat Tejasen: Alquran adalah Keajaiban

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nisa:56).

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Tetapi, tidak demikian bagi Prof Dr Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konfe rensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuwan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Tejasen yang beragama Buddha kemudian menga takan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuwan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut kepada mereka.

Setahun kemudian, pada Mei 1982, Tejasen mengha diri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuwan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri atas tiga lapisan global, yakni epidermis, dermis, dan subcutis. Pada lapisan yang terakhirlah, yakni subcutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi combustio grade III (luka bakar yang telah menembus subcutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan oleh tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent. Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, tetapi juga membuktikan kebenaran Alquran.

Ayat 56 surah an-Nisa mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuwan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu, dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberi tahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah. Kemudian, Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuwan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan, Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Tejasen yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai itu kembali ke negaranya, di mana ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worldofislam. infomenyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi ke-8 Kedokteran Saudi yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Pada akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konfe rensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga ke kagumannya pada maka lah Keith Moore yang membuatnya me yakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Mahapencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan meng ucap dua kalimat syahadat, “ Laa ilaaha illallaah, Muhammadur rasuulullaah.”