Itu Buah Doamu, Terimalah dengan Lapang Dada

SALAH seorang alim yang saya sukai adalah Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi. Nasehat-nasehatnya menyentuh hati dan merangsang pikiran untuk lebih cerah dan terbuka. Kali ini saya ingin berbagi kalimat penuh makna dari beliau.

Beliau berkata: “Jangan sedih saat sebagian orang itu menjauh darimu atau berubah sikap kepadamu. Jangan-jangan itu adalah buah dari doamu pada suatu malam, saat kau katakan: Ya Allah jauhkanlah dariku segala kejelekan apa yang kau tetapkan.”

Yakinkan bahwa kita selalu memohon yang terbaik kepada Allah. Lakukan semua kebaikan yang bisa dilakukan. Maka ketaknyamanan yang terjadi tak usah lagi menjadikan diri ini resah dan gelisah. Barangkali dengan cara tak nyaman itu Allah akan migrasikan kita ke tempat yang berderajat mulia.

Tafsir positif atas setiap musibah dan ujian sangatlah penting. Namun menafsirkan secara positif semua ujian adalah sesuatu yang sulit karena ada setan dan nafsu yang mendorong diri menjadi pribadi egois dan mau menang sendiri.

Seorang yang selalu mendapat musibah dilepari batu setiap hari oleh orang yang menganggapnya gila akhirnya memiliki rumah sendiri. Semua orang curiga dari mana dia mendapatkan biaya. Dengan senyum dia selalu menjawab: “Kubangun rumah ini dari batu-baru yang kau lemparkan setiap hari kepadaku.”

Doa untuk Kebahagiaan yang Sesungguhnya

ORANG yang paling terkenal sebagai pemilik mutiara hikmah di dunia Islam, salah satunya, adalah Ibnu Athaillah As-Sakandari. Kitab Hikamnya sangat mendunia, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, disyarahi oleh banyak ulama. Saya adalah salah satu penikmat petuah-petuahnya.

Salah satu petuah yang ingin saya share malam ini adalah sebagai berikut: “Kalau Anda memohon kepada Allah saat dekatmu kepadaNya, mintalah kepadaNya agar memperbaiki keseluruhan hidupmu. Berdoalah “Ya Allah, perbaikilah keadaanku, semuanya”.

Dan mintalah kepadaNya untuk memperbaiki ridlamu akan pengaturanNya, yakni dengan pasrah dan menerima akan ketetapanNya dan takdirNya serta kemampuanmu untuk mampu menyerahkan urusanmu kepadaNya.

Baca dan perhatikan baik-baik doa tadi. Bahagianya seseorang bukan hanya karena satu sisi kehidupannya, melainkan keseluruhan sisi hidupnya. Bahagiakan orang yang hanya punya harta tapi tak punya iman? Jawabannya adalah tidak.

Perhatikan juga hati yang ridla, jiwa yang pasrah dan mental yang kuat menjalani takdir. Begitu pentingnya dalam kehidupan sampai menjadi doa pokok yang diajarkannya. Di manakah kita mengajari hati tentang ini? Indahnya hidup tanpa keluhan, damainya hidup dengan rasa syukur dan ridla.

 

INILAH MOZAIK

Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

DENGAN sifat-Nya yang Agung, Allah akan senantiasa mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Ada sebuah hadis yang menyampaikan dengan indah bahwa Allah mengabulkan doa dengan tiga cara: 1) Allah mengabulkan secara langsung doa yang dipanjatkan; 2) Allah menunda untuk mengabulkan doa tersebut; 3) Allah menggantikan doa tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

Meski demikian, pernahkan kita merenung mengapa doa-doa kita tidak kunjung diijabah? Allah sungguh Maha Penyayang yang sangat mengerti keinginan setiap hamba-Nya. Namun, hendaknya tidak dikabulkannya doa juga menjadi bahan untuk muhasabah. Kisah pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib berikut ini insya Allah akan melimpahkan banyak hikmah yang dapat mengingatkan kepada kita tentang sebuah doa.

Dikisahkan pada masa Bani Israel, ada sepasang suami istri yang selalu berdoa kepada Allah swt, agar mereka segera dikaruniai seorang buah hati. Hingga tahun kelima yang sedih karena merasa Allah telah menjauh darinya bertanya kepada Khalifah Ali yang kebetulan sedang memberikan khutbah. “Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tak diijabah? Padahal Allah swt berfiman bahwa berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu.”

Ali bin Abi Thalib balik bertanya, “Apakah engkau sudah menjaga pintu-pintu doamu?”

Sang suami mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti ucapanmu, wahai Amirul Mukminin.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan melaksanakan kewajibanmu sebagai hambaNya? Kau beriman kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Apakah kau menjaga pintu doamu dengan beriman kepada Rasulullah? Kau beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kau menentang sunah dan mematikan syariatnya.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan mengamalkan ayat-ayat Alquran yang kau baca? Ataukah kau juga belum sadar tatkala mengaku takut kepada neraka, tetapi kau justru mengantarkan dirimu sendiri ke neraka dengan maksiat dan perbuatan sia-sia? Ketika kau menginginkan surga, sebaliknya kau lakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga,” Tanya Ali bin Abi Thalib bertubi-tubi. “Apakah kau telah menjaga pintu doamu dengan bersyukur kepada-Nya saat Dia memberikan kenikmatan? Sudahkah engkau memusuhi setan atau malah sebaliknya kau bersahabat dengan setan? Apakah kau pernah menjaga pintu doamu dari menjauhi mencela dan menghina orang lain?” lanjut sang khalifah.

Sang suami terdiam mendengarnya. Khalifah Ali kembali berucap, “Bagaimana doa seorang hamba akan diterima sementara kau tidak menjaga, bahkan menutup pintu doa tersebut? Bertakwalah kepada Allah, perbaikilah amalanmu, ikhlaskanlah batinmu, lalu kerjakanlah amar makruf nahi munkar. Insya Allah, Dia akan segera mengabulkan doa-doamu.”

 

INILAH MOZAIK

Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

DENGAN sifat-Nya yang Agung, Allah akan senantiasa mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Ada sebuah hadis yang menyampaikan dengan indah bahwa Allah mengabulkan doa dengan tiga cara: 1) Allah mengabulkan secara langsung doa yang dipanjatkan; 2) Allah menunda untuk mengabulkan doa tersebut; 3) Allah menggantikan doa tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

Meski demikian, pernahkan kita merenung mengapa doa-doa kita tidak kunjung diijabah? Allah sungguh Maha Penyayang yang sangat mengerti keinginan setiap hamba-Nya. Namun, hendaknya tidak dikabulkannya doa juga menjadi bahan untuk muhasabah. Kisah pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib berikut ini insya Allah akan melimpahkan banyak hikmah yang dapat mengingatkan kepada kita tentang sebuah doa.

Dikisahkan pada masa Bani Israel, ada sepasang suami istri yang selalu berdoa kepada Allah swt, agar mereka segera dikaruniai seorang buah hati. Hingga tahun kelima yang sedih karena merasa Allah telah menjauh darinya bertanya kepada Khalifah Ali yang kebetulan sedang memberikan khutbah. “Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tak diijabah? Padahal Allah swt berfiman bahwa berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu.”

Ali bin Abi Thalib balik bertanya, “Apakah engkau sudah menjaga pintu-pintu doamu?”

Sang suami mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti ucapanmu, wahai Amirul Mukminin.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan melaksanakan kewajibanmu sebagai hambaNya? Kau beriman kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Apakah kau menjaga pintu doamu dengan beriman kepada Rasulullah? Kau beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kau menentang sunah dan mematikan syariatnya.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan mengamalkan ayat-ayat Alquran yang kau baca? Ataukah kau juga belum sadar tatkala mengaku takut kepada neraka, tetapi kau justru mengantarkan dirimu sendiri ke neraka dengan maksiat dan perbuatan sia-sia? Ketika kau menginginkan surga, sebaliknya kau lakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga,” Tanya Ali bin Abi Thalib bertubi-tubi. “Apakah kau telah menjaga pintu doamu dengan bersyukur kepada-Nya saat Dia memberikan kenikmatan? Sudahkah engkau memusuhi setan atau malah sebaliknya kau bersahabat dengan setan? Apakah kau pernah menjaga pintu doamu dari menjauhi mencela dan menghina orang lain?” lanjut sang khalifah.

Sang suami terdiam mendengarnya. Khalifah Ali kembali berucap, “Bagaimana doa seorang hamba akan diterima sementara kau tidak menjaga, bahkan menutup pintu doa tersebut? Bertakwalah kepada Allah, perbaikilah amalanmu, ikhlaskanlah batinmu, lalu kerjakanlah amar makruf nahi munkar. Insya Allah, Dia akan segera mengabulkan doa-doamu.”

 

INILAH MOZAIK

Berlebihan dalam Berdoa Melampaui Batas

“BERDOALAH kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Araaf : 55).

Imam As-Sadi menjelaskan maksud firman Allah Ta’ala di atas,

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” maksudnya, melampaui batas dalam segala hal. Termasuk tindakan melampaui batas adalah meminta sesuatu yang tidak pantas, berlebihan dalam berdoa atau mengeraskan suara dalam berdoa. Semua ini termasuk bentuk melampaui batas yang dilarang.” (Tafsir As-Sadi, hlm. 291)

Dari Abu Nuamah bahwasanya Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu mendengar anaknya membaca doa, “Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan Surga”.

Mendengar ini, ayahnya spontan memberi nasihat kepada anaknya, “Wahai anakku mintalah kepada Allah Surga dan berlindunglah kepadaNya dari api Neraka, sebab saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

“Akan muncul dari umatku sekelompok kaum yang berlebihan dalam bersuci dan berdoa” (HR. Ahmad 20554, Abu Daud 96, Ibnu Majah 3864, Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini hasan).

Imam Al-Munawi menjelaskan hadis ini. Makna: “berlebihan dalam berdoa” adalah melampaui batas, dengan meminta sesuatu yang tidak boleh atau mengeraskan suara ketika berdoa atau memaksakan lafazh bersajak dalam berdoa. Kemudian beliau menukil keterangan At-Turbasyti,

Imam Turbusyti mengatakan, yang dimaksud berlebihan dalam berdoa bisa memiliki banyak pengertian. Intinya dia melanggar batasan dari kondisi merasa butuh menjadi tidak butuh sama sekali, termasuk doa dengan sikap ekstrim: berlebihan atau meremehkan.

Untuk kepentingan dirinya maupun orang lain. Baik doa kebaikan maupun doa keburukan.

Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu melarang anaknya berdoa seperti itu karena permintaan tersebut tidak sesuai dan tidak mungkin bisa diraih oleh amal perbuatannya. Dimana dia meminta kedudukan para nabi dan para wali.

Beliau memahami permintaan seperti itu termasuk berlebihan dalam berdoa, serta tidak pantas karena menganggap sempurna terhadap diri sendiri. [Faidhul Qadir 4/130]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diantara bentuk doa yang terlarang adalah bersikap melampaui batas ketika berdoa.”

Seperti memohon sesuatu yang tidak selayaknya, yang menjadi keistimewaan para nabi padahal dia bukan seorang nabi atau memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan Allah subhanahu wa taala.

Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan beberapa contoh bentuk melampaui batas dalam berdoa,

Misalnya memohon agar dia menduduki posisi wasilah, yang hanya boleh dimiliki oleh salah satu hamba Allah, atau memohon agar dia diberi kemampuan untuk bisa mengetahui segala sesuatu, atau berkuasa atas segala sesuatu atau memohon agar diperlihatkan sesuatu yang ghaib. [Majmu Fatawa 10/713-714]

Termasuk berlebihan dalam berdoa, membatasi kebaikan hanya untuknya, dan tidak boleh untuk yang lain. Misalnya, seseorang berdoa, Ya Allah, berikanlah aku karunia dan jangan Engkau berikan yang lainnya.

Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata:

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau memberi rahmatMu kepada selain kami. Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Kamu telah menyempitkan yang luas.” Maksud beliau adalah rahmat Allah. (HR. Bukhari 6010)

Doa di atas diucapkan oleh seorang badui karena ketidak tahuannya dan baru mengenal Islam. Seharusnya seseorang berdoa untuk dirinya dan teman-temannya agar pahalanya bertambah. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Jangan Pernah Berhenti Berdoa

ANDA tentu pernah memohon sesuatu kepada Allah, lalu terkabulkan. Di sisi lain, Anda juga pasti pernah memohon sesuatu, namun hingga kini tak kunjung terkabulkan. Sesungguhnya sebagai hamba tugas kita adalah berdoa dan meminta. Bahkan hal tersebut memiliki nilai ibadah sebagaimana sabda Rasulullah, “Doa itu ibadah.” (HR Abu Daud & Tirmidzi).

Allah Swt. sebagai Sang Pencipta memerintahkan agar kita berdoa pada-Nya. “Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir [40]: 60)

Berdoa adalah salah satu bentuk penghambaan kita kepada Sang Pencipta. Doa merupakan pengakuan atas kelemahan yang kita miliki sebagai hamba. Pada ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak berdoa adalah wujud dari kesombongan yang akan berakhir dengan hukuman dari-Nya.

Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah mengijabah doa-doa yang kita panjatkan. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri menyebutkan, “Seorang muslim yang berdoa dalam keadaan tanpa dosa dan tidak memutus silaturrahim, Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: disegerakan pengabulan doanya (mewujudkan harapan dan permintaanya sesegera mungkin), menyimpan permohonannya untuk kehidupan akhirat (sebagai balasan dari Allah), atau dihindarkan dari keburukan (dijauhkan dari musibah yang akan menimpanya).” Para sahabat lalu bertanya, “Bagaimana jika doa kita banyak?” Rasulullah Saw. menjawab, “Yang ada di sisi Allah masih jauh lebih banyak dari yang kalian minta.” (HR Ahmad)

Sebuah hadits Qudsi menyebutkan, ” Wahai hamba-Ku, andaikata mulai orang pertama sampai akhir, bangsa jin dan manusia, berdiri di satu bukit dan berdoa kepada-Ku, lalu Kupenuhi permintaan tiap-tiap orang, semua itu tidaklah mengurangi apa-apa yang ada di sisi-Ku, melainkan seperti berkurangnya air laut yang dimasuki jarum”

Sekalipun doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya sangat banyak, Allah tidak akan kekurangan apapun untuk memenuhi permintaan-permintaan tersebut. Hal ini diibaratkan dengan sebuah jarum yang dimasukkan ke dalam samudera. Sungguh tidak akan berkurang apa-apa kecuali hanya sedikit air yang menempel pada jarum tersebut.

Teruslah berdoa atas segala apapun yang kita harapkan. Berusahalah menjaga pintu doa tersebut dengan memenuhi perintah-Nya agar doa kita diijabah. Sesungguhnya semua itu teramat mudah bagi Allah. Berdoalah kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, niscaya Dia memperkenankannya. [An Nisaa Gettar]

Wallahualam bishawab

(referensi: buku Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al Qaradhawi)

 

INILAH MOZAIK

Pengaruh Makanan Haram pada Terkabulnya Doa

SEBAGIAN muslim tidak mempedulikan apa yang masuk dalam perutnya. Asal enak dan ekonomis, akhirnya disantap. Tidak tahu manakah yang halal, manakah yang haram. Padahal makanan, minuman dan hasil nafkah dari yang haram sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seorang muslim, bahkan untuk kehidupan akhiratnya setelah kematian. Baik pada terkabulnya doa, amalan sholehnya dan kesehatan dirinya bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim begitu urgent untuk mempelajari halal dan haramnya makanan. Dan yang kita bahas kali ini adalah seputar pengaruh makanan yang haram bagi diri kita. Moga bermanfaat.

Pertama: Makanan haram mempengaruhi doa

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan Allah juga berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim no. 1015)

Begitu pula Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan pada Saad, “Perbaikilah makananmu, maka doamu akan mustajab.” (HR. Thobroni dalam Ash Shoghir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dhoif jiddan sebagaimana dalam As Silsilah Adh Dhoifah 1812)

Ada yang bertanya kepada Saad bin Abi Waqqosh, “Apa yang membuat doamu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lainnya?” “Saya tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Saad.

Dari Wahb bin Munabbih, ia berkata, “Siapa yang bahagia doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanannya.”
Dari Sahl bin Abdillah, ia berkata, “Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka doanya akan mudah dikabulkan.”
Yusuf bin Asbath berkata, “Telah sampai pada kami bahwa doa seorang hamba tertahan di langit karena sebab makanan jelek (haram) yang ia konsumsi.”

 

INILAH MOZAIK

Empat Doa yang tidak Ditolak Allah SWT

MENDOAKAN adalah salah satunya cara yang kita lakukan sebagai bentuk rasa kasih sayang sesama saudara muslim. Menyebutkan nama saudara kita tersebut dan mendoakannya dalam setiap kita mengangkat telapak tangan dan dengan khusyuk mengirimkan doa-doa baik untuk diri sendiri juga saudara atau orang lain.

Dan mendoakan orang lain atau pun saudara dalam setiap doa kita merupakan salah satu doa yang mustajab.

“Empat doa yang tidak akan ditolak, yaitu: doa orang yang haji hingga kembali, doa orang yang berperang (berjihad) hingga berhenti, doa orang yang sakit hingga sembuh, dan doa seseorang terhadap saudaranya tanpa sepengetahuannya. Dan doa yang paling cepat diterima di antara doa-doa tersebut adalah doa seseorang terhadap saudaranya tanpa sepengetahuannya.” (HR.Ad-Dailami)

Sungguh tiada nikmat indah dalam diri dan kehidupan kita, melainkan segala nikmat yang datangnya dari Allah swt. Karena dengan mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya, selain kita mendapatkan pahala, juga Allah menjanjikan anugrah dan rahmat yang sama untuk kita seperti yang didapat oleh orang yang kita doakan.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang mejadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata “aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang dia dapatkan.” (HR.Muslim : 2733)

Subhanalah, sungguh Islam adalah agama yang sangat mulia sangat menghendaki umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi terhadap sesama saudara muslim lainnya, melalui doa-doa tulus dan ikhlas. Kita dapat mempererat silahturahmi dengannya, juga mendapatkan balasan kebaikan yang sama dengan orang yang kita doakan. Subhanallah. [Chairunnisa Dhiee]

 

INILAH MOZAIK

Ikatan Hati Terkuat adalah dengan Doa

MASIH ingat nama Uwaisy al-Qarni? Ya, beliau adalah orang baik yang disebut Rasulullah sebagai ahli surga. Beliau adalah orang yang doanya senantiasa terkabul. Beliau adalah orang yang hadirnya senantiasa memberikan hikmah dan kebersamaan dengannya membawa berkah. Siapa yang tak ingin selalu bersamanya?

Suatu hari ada seseorang yang memohon kepadanya agar membangun hubungan shilaturrajim dengan berharap beliau berkunjung ke rumahnya. Beliau menjawab begini: “Sesungguhnya aku telah bersambung denganmu dengan sesuatu yang lebih baik dari berkunjung dan bertemu. Sesuatu itu adalah DOA yang dipanjatkan tanpa diketahui oleh yang didoakan. Berkunjung dan bertemu bisa jadi terputus, namun pahala doa akan tetap abadi.”

Demikian yang tertulis dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir jilid 9 halaman 449. Betapa saling mendoakan kebaikan adalah sesuatu yang sangat baik dalam sebuah pola hubungan. Mendoakan itu akan menjadi pagar yang sangat efektif yang menghalangi kita untuk berbuat tak baik pada saudara dan sahabat kita. Berniat tak baik saja tak mungkin terbersit di hati mereka yang tulus dan serius dalam berdoa.

Power doa itu luar biasa. Rasulullah menyebut doa sebagai otaknya ibadah. Dalam sabdanya yang lain beliau menyebutnya sebagai senjatanya orang mukmin. Sudahkah kita miliki otak ibadah kita? Sudahkah kita gunakan senjata tercanggih dalam menghadapi musuh kehidupan kita?

Berdoalah untuk kita dan orang lain, maka kita akan punya banyak sahabat dan saudara dalam kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan.

 

INILAH MOZAIK

Dua Macam Doa

Doa adalah salah satu cara seorang hamba menyampaikan keinginan terhadap sesuatu atau hal apapaun yang ingin disampaikan kepadaa Allah subhanhau wa ta’ala. Daan sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa. Karena Allah senang dengan  hamba-Nya yang selalu berdoa kepadanya-Nya.

Dalam buku Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri dijelaskan bahwa doa terbagi menjadi dua macam, yaitu doa Ibadah dan doa permintaan. Yang mana antar satu dengan lainnya saling berkaitan.

1.  Doa Ibadah.

Doa ibadah adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk meraih apa yang diminta, menolak yang dibenci atau menyingkirkan bahaya dengan cara mengiklaskan ibadah hanya kepada-Nya saja. Firamn Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al Anbiya: 87-88)

2. Doa permintaan.

Doa permintaan adalah permohonan sesuatu yang bermanfaat bagi yang berdoa untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(QS. Ali Imran: 16)

Dan ketahuilah bahwa semua doa adalah senjata. Senjata bisa ampuh degan kekuatan sabetan dari pemakainya, bukan hanya karea factor tajamnya senjata, tetapi juga didukug dengan kondisi senjata yang sempurna, tidak cacat, seperti badan yang kekar dan tangan yang sangat kuat.

Doa sebagai senjata orang beriman akan bermanfaat sesuia dengan kondisi fluktuasi keimanannya, sesuai kadar kuatnya keyakinan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. keistiqamahan dalam menjalani perintah-Nya dan kesungguhan menjunjung tinggu kalimat-Nya, maka saat itulah doa akan terkabulkan.

Sumber: Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri. Bagian kedua fikih dan ash sunnah. Dua macam doa. Hal 361-362).

 

REPUBLIKA