Peringati Maulid Nabi, MUI Ajak Berbuat Kebaikan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi bisa menjadi momentum untuk berbuat kebaikan.

“Memperingati Maulid Nabi bisa dijadikan momentum untuk berbuat kebaikan meneladani Nabi sebagai model kehidupan,” kata Sekretaris MUI Banyumas, Ridwan, di Purwokerto, Kamis (30/11).

Memperingati Maulid Nabi, kata dia, juga menjadi momentum untuk mengobarkan semangat kenabian. “Momentum untuk mewarisi semangat dan visi kenabian yaitu semangat pembebasan dari ketertindasan ekonomi, sosial, dan budaya,” katanya.

Selain itu, kata dia, Maulid Nabi bisa menjadi momentum bagi seseorang dalam membela mereka yang tertindas. “Pembelaan terhadap kaum tertindas merupakan pesan moral yang harus selalu digelorakan,” katanya.

Memperingati Maulid Nabi, tambah dia, merupakan momentum untuk menjalankan Sunnah Nabi. “Selain itu ini juga bisa menjadi momentum untuk mengedukasi anak-anak kita agar menjadikan Nabi sebagai tauladan,” katanya.

Orang tua, kata dia, bisa mendorong anak-anak mereka untuk mencintai Nabi. “Selain itu orang tua barus memupuk kebaikan pada diri anak mereka dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai model hidupnya,” katanya.

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Ini Keistimewaan Senin 1212

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, KH Ahmad Mukri Ajie, mengungkapkan keistimewaan hari Senin 12 Desember 2016.

”Hari ini adalah hari Senin (12/12) yang sangat istimewa. Hari ini bertepatan dengan peringatan maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW,” ungkap kiai Mukri Ajie di hadapan jamaah Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid Riyadlush Shalihin Parung, Bogor, Senin (12/12).

Menurut dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, belum tentu umat Muslim yang saat ini bisa melaksanakan ibadah shalat Subuh berjamaah di hari Senin bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, akan bisa bertemu lagi.

”Mungkin dibutuhkan waktu puluhan tahun, kita baru bisa melakanakan shalat Subuh di hari Senin, bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” ungkap ulama yang biasa mengisi pengajian Subuh di Masjid Riyadlush Shalihin Parung.

Kiai Mukri mengajak jamaah shalat Subuh, terutama para remaja masjid untuk gemar melaksanakan shalat Subuh berjamaah. ”Alhamdulillah, kita harus mensyukuri nikmat Allah SWT bisa bangun sebelum shalat Subuh, sehingga mampu menghirup udara segar yang menyehatkan tubuh,” jelas kiai Mukri.

Salah seorang jamaah, Cut Paryanto (60), karyawan sebuah peruasahaan milik BUMN, mengaku senang bisa mengikuti Gerakan Subuh Berjamaah yang dicanangkan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) yang diselenggarakan pengurus Dewan Keluarga Masjid Riyadlush Shalihin Parung.

”Saya sangat bersyukur bisa mengikuti shalat Subuh berjamaah bertepangan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini sebuah gerakan yang harus didukung umat Islam karena memberi semangat persaudaraan,” ungkap Cut Paryanto kepada Republika.co.id, Senin (12/12).

Hal senada diungkapkan Dadan Sumengkar. Guru SMKN 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat yang kebetulan sedang berlibur di rumah orang tuanya di Parung, mengaku sangat senang bisa bersilaturahim dengan jamaah Masjid Riyadlush Shalihin melalui Gerakan Subuh Berjamaah.

”Gerakan Subuh Berjamaah ini sangat membantu kehidupan umat Muslim. Dengan bangun pagi, hidup lebih sehat. Tak hanya itu, insya Allah dengan bangun pagi, bisa lebih mudah untuk mendapatkan rizki dan keberkahan. Itu yang diajarkan banyak orang tua kepada anaknya,” jelas Dadan Sumengkar.

Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid Riyadlush Shalihin Parung, tak hanya diikuti kaum bapak dan kaum ibu, juga banyak hadir dari kalangan remaja dan anak-anak. Ustaz Taufiqurrahman bertindak sebagai imam Shalat Subuh.

 

sumber: Republika Online

Mufti Besar Arab Saudi Sebut Perayaan Maulid Nabi Bidah

Mufti Besar Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Asheikh membuat fatwa kontroversial. Dia memperingatkan terhadap kaum Muslim yang merayakan ulang tahun Nabi Muhammad Saw, sebagai bentuk praktik tahayul yang secara ilegal ditambahkan ke dalam ritual agama.

“Ini adalah bidah (inovasi agama yang berdosa) yang merayap keIslam setelah tiga abad pertama ketika para sahabat dan penerus dari para sahabat hidup,” katanya dalam kutbah Jumat di Masjid Imam Turki bin Abdullah di Riyadh sebagaimana dilansir Arab News, Ahad (4/1).

Sebaliknya, ia memperingatkan umat Islam untuk wajib mengikuti ajaran Rasulullah sebagaimana tercantum dalam Sunnah. Asheikh mengatakan bahwa mereka yang mendorong orang lain untuk merayakan Maulid Nabi adalah jahat dan korup.

“Cinta sejati Rasulullah diwujudkan dengan mengikuti jejaknya dan mendukung sunnahnya … itu adalah bagaimana cinta untuk Nabi (saw) dinyatakan.”

Dia mengatakan, Allah Swt telah menyatakan, “Katakanlah: ‘Jika Anda mencintai Allah, ikutilah aku: Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'”.

Dia pun memperingatkan, seorang Muslim memiliki kewajiban untuk percaya pada Nabi Muhammad, yang dikirim sebagai panduan untuk seluruh alam semesta.

Karena itu, menjadi tugas umat Islam untuk mencintai dan menghormati nabi terakhir tersebuit. Mereka, pesan Asheikh, juga harus membelanya terhadap orang-orang yang salah menafsirkan ajaran-ajarannya, para ateis yang menyangkal Beliau, dan mereka yang menyalahgunakan atau mengejek Beliau.

“Ini adalah tugas umat Islam yang benar-benar mencintai Nabi (saw),” kata ketua Dewan Ulama Senior Arab Saudi itu.

 

 

sumber: Republika Online