Al-Azhar: ‘UU Rasis’ Israel akan Gagal Halangi Perjuangan Bebaskan Baitul Maqdis

Al-Azhar asy Syarif mengecam keras langkah ‘Israel’ menyetujui UU Negara Yahudi, sebagai langkah rasial yang mengungkap hakikat penjajah tanah Palestina.

Al-Azhar menegaskan, langkah illegal yang ditempuh ‘Israel’ merupakan rangkaian pelanggaran baru terhadap eksistensi bangsa Palestina, dimulai dari perjanjian Balfour 1917, dilanjutkan klaim Amerika Serikat (AS) yang memindahkan kedutaannya ke Yerusalem (Baitul Maqdis) Ibu Kota ‘Israel’,  pada Senin,  14 Mei 2018.

“Al-Azhar dengan keras mengecam … apa yang disebut ‘Undang-undang Negara Bangsa (Yahudi)’ dalam sebuah langkah mencerminkan rasisme yang buruk dan membuktikan sifat sebenarnya dari pendudukan itu,” kata lembaga Islam bersejarah itu dalam pernyataannya yang dibagikan pada akun media sosialnya sebagaimana dikutip al Ahram.

Hari Kamis, anggota parlemen Zionis ‘Israel’, Knesset,  menyetujui dan meloloskan ‘Undang-undang Negara Bangsa’ yang mendefinisikan ‘Israel’ sebagai negara bangsa dari orang-orang Yahudi dan menjadikan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi. Penjajah juga mendefinisikan ‘UU rasis’ pembentukan komunitas Yahudi sebagai alasan kepentingan nasional.

Undang-undang apartheid ini telah memprovokasi kekhawatiran dunia yang akan menyebabkan meminggirkan warga Arab di ‘Israel’.

Undang-undang yang didukung oleh 62 anggota parlemen dan ditolak oleh 55 anggota itu menempatkan warga Arab di ‘Israel’ sebagai “orang asing permanen”.

Undang-undang rasis ini dinilai akan memulai proses jangka panjang yang akan mengikis hak dan status warga Muslim dan Kristen Arab ‘‘Israel’’, menurut kritikus.

Menurut Al Azhar, langkah rasial ‘Israel’ ini akan gagal menghadapi keteguhan dan pengorbanan bangsa Palestina, dan komitmen mereka untuk mendirikan hak negara merdeka dengan Ibu Kota Baitul Maqdis.

“Langkah tersebut merupakan babak baru dalam katalog pelanggaran dan serangan yang diderita oleh warga Palestina,” kata  pemegang jabatan ulama Islam Sunni yang dihormati dan jabatan publik penting di Mesir ini dalam sebuah pernyataan.

Al-Azhar al-Syarif menegaskan bahwa Palestina akan tetap sebagai bagian Negara Arab, yang tak bisa ditawar, meski beragam agama dan suku.

“Palestina akan selalu tetap menjadi Negara Arab, hak yang tidak dapat dicabut untuk orang-orang Arabnya terlepas dari agama dan sekte mereka,” sebagaimana dikutip MENA.

“Keputusan rasis ini akan gagal dalam menghadapi ketahanan dan pengorbanan rakyat Palestina dan hak mereka untuk memiliki negara merdeka yang ibukotanya adalah Yerusalem,” kata Al-Azhar.

Al-Azhar dianggap sebagai salah satu institusi Ahlus Sunnah (Sunni) terbesar dan paling berpengaruh di dunia.*

HIDAYATULLAH

Gerakan Rp 5.000 Sehari untuk Berbagi Ifthar Palestina

Saat kita sibuk memilih menu apa untuk iftharatau buka puasa, saudara kita di Palestina tidak lagi memikirkannya. Bagi mereka sekadar melepas dahaga dan sedikit potongan roti sudah cukup sebagai menu berbuka.

Bahkan untuk mencari tempat-tempat kongkow ifthar bareng pun tidak lagi mereka hiraukan. Bagi mereka, Ramadhan ini merupakan momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan terus berharap akan datangnya sebuah hari kebebasan.

Kebebasan akan kemerdekaan sebagai bangsa yang merdeka, terlepas dari kekejaman dan penjajahan zionis Israel. Bahkan meski bulan Ramadhan, bom dan desingan peluru seakan menjadi teman mereka di kala sahur dan berbuka.

Bukan tidak mungkin di saat sahur mereka bersama, namun ada yang terpisahkan di waktu berbuka, yakni ajal yang menjemput. Sahabat, mari bantu saudara-saudara kita dengan donasi Berbagi Ifthar untuk Palestina. Dengan Rp 5.000 sehari bisa menjadi kontribusi kamu bagi rakyat Palestina.

Dana bisa disalurkan melalui rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) 700 153 4917 – Dunia Islam. Bisa juga melalui QR Code BSM. Cukup pindai QR codenya dari ponsel atau smartphone. Pastikan sudah update BSM mobile banking terbaru ya.

Di sisi lain, di penghujung akhir Ramadhan 1439 Hijriah ini, Laz BSM Umat membuka penyaluran zakat bisa secara daring di www.bsmu.or.id atau www.pastiberkah.com. Penyaluran zakat juga bisa melalui telepon 021-4228999 dan Whatsapp 08119 466 466 atau 0813 1747 4702.

Laz BSM Umat juga menerima zakat melalui QR Code BSM dan rekening Bank Syariah Mandiri 702 620 2595 A/N Yayasan BSMU – ZKT 2. Diharapkan umat Muslim bisa menyalurkan zakatnya ke Laz BSMU, sehingga penggunaan dana zakat bisa terus disinergikan untuk kemaslahatan umat.

 

 

REPUBLIKA

Takbir Iringi Keberangkatan Jenazah Imam asal Palestina menuju Gaza

Lautan takbir iringi jenazah Dr Fadi M R Albatsh,  Imam asal Palestina yang juga dosen di Malaysia sebelum diberhentikan di Surau Medan Idaman, Setapak  untuk dishalati.

Sekitar 2.000 jamaah hadir untuk ikut shalat dan memberi penghormatan terakhir kepada almarhum.  “Laillahaillallah, as-Syahid Habibullah” bergemuruh di Surau Medan Idaman, Setapak, ketika jenazah Imam  Fadi Al-Batsh dibawa ke kompleks surau.

Ikut hadir dalam shalat, para mahasiswa dan staf UniKL BMI dan Duta Besar Palestina Palestina Dr Anwar Al Agha. Anwar ikut bergabung dengan konvoi sekitar 10 mobil yang menyertai almarhum Fadi menuju bandara.

Suasana haru menyelimuti surau ketika ada jemaat menangis. Usai dishalati,  alhamrhum kemudian diberangkatkan menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Sebagaimana diketahui bahwa jenazah akan dibawa ke Gaza melalui Mesir.

Direktur Eksekutif Humanitarian Care Malaysia ( MyCARE) Kamarul Zaman Shaharul Anwar mengatakan bahwa jenazah  akan dibawa dengan menggunakan ambulance ke Perbatasan Rafah.

“Perjalanan akan memakan waktu sekitar lima jam ke Rafah, tiba di Rafah, akan dibawa ke Gaza, Palestina.

“Kedua orang tua dan saudara-saudara mereka akan menunggu mereka yang diharapkan tiba pukul 9 pagi,” katanya sebagaimana dikutip laman HMetro, Malaysia.

MyCARE mengaku akan ikut mengirim dua orang untuk mendampingi istri almarhum Enas Albatsh dan ketiga anaknya.

“Keluarga almarhum juga akan tinggal di Gaza, Palestina dan kami berharap perjalanan mereka akan dimudahkan,” katanya.

Jenazah Fadi dibawa keluar dari Rumah Sakit Selayang, pukul 12.45 siang  dengan ditutupi bendera Palestina.

Dr Fadi M R AlBatsh Fatma, yang juga pengajar di Universitas Kuala Lumpur British Malaysian Institute (UniKL BMI) ditembak dua pria asing hari Sabtu (20/04/2018) saat akan melaksanakan shalat Subuh.

Jenazah Fadi akan dibawa pulang ke Jalur Gaza, melalui Mesir melalui penerbangan Egypt Air yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Kuala Lumpur (KLIA) pada 7 malam.

Sementara itu, penjajah Zionis mendesak pemerintah Mesir untuk tidak mengizinkan jenazah ilmuwan Palestina yang ditakuti Israel itu melewati pelintasan perbatasan Rafah menuju Jalur Gaza yang terblokade.

Menteri Perang Zionis Israel, Avigdor Lieberman, mengungkapkan hari Ahad (22/04/2018), Al-Batsh, katanya, sedang mengerjakan perbaikan roket-roket yang selama digunakan pejuang Hamas melawan penjajah.*

 

HIDAYATULLAH

Sumbangsih Pertama Indonesia untuk Palestina

Pada Desember 2017, serombongan relawan asal Indonesia melakukan misi kemanusiaan dengan mengunjungi beberapa kamp pengungsi Palestina. Melalui Hayat Yolu, sebuah lembaga non-pemerintah asal Turki yang menangani pengungsi Palestina di Beirut, mereka menyerahkan bantuan untuk musim dingin senilai 250 ribu dolar Amerika.

“Alhamdulillah, bantuan untuk pengungsian Palestina di Beirut Lebanon sudah sampai melalui Hayat Yolu. Kami tidak bisa menyaksikan secara langsung karena pemerintah setempat tidak menjamin keselamatan kami di sana,” kata artis Melly Goeslaw, yang bersama penyanyi religi Opick ikut dalam rombongan, di akun Instagram-nya, @melly_goeslaw, 23 Desember 2017.

Pemberian bantuan untuk musim dingin itu sejatinya bukan yang pertama dilakukan Indonesia. Pada pertengahan Desember 1953, Menlu Sunario Sastrowardoyo –kakak dari kakek aktris Dian Sastrowardoyo– mengirim Duta Besar Keliling (mantan menteri luar negeri di Kabinet Presidensil) Ahmad Subardjo dan anggota parlemen dari Partai Persatuan Tarbiyah Islam (Perti) Siradjuddin Abbas ke Yerusalem guna memenuhi undangan dari General Islamic Congress/Conference atau Muktamar Umum Islam. Kedua wakil Indonesia itu datang sebagai peninjau.

Muktamar tersebut diprakarsai Ikhwanul Muslimin dengan sokongan dana 100 ribu dolar Amerika dari pemerintah Arab Saudi. Namanya sengaja mengambil nama sama dengan muktamar sebelumnya yang dipimpin Mufti Besar Yerusalem Mohammad Amin al-Husayni pada 1931. Harapannya, ujar pakar politik Islam dan Timur Tengah Martin Kramer mengutip Al Ahram edisi 10 Desember 1953 di laman pribadinya, martinkramer.org, “Amin bersedia memimpin muktamar itu lagi. Ketika itu Amin bermukim di Damaskus, namun otoritas Yordania mencekalnya (ke Palestina).”

Kedua wakil Indonesia itu berangkat dari Jakarta pada 1 Desember via Singapura, Bangkok, Karachi, Baghdad dan mendarat di Kairo pagi dua hari kemudian. Siangnya, mereka menemui mantan sekjen Liga Arab Abdurrachman Azam di Kairo.

“Haji Abbas dan saya diterima di kediamannya. Dinyatakan penghargaan tinggi atas beleid pemerintah Indonesia untuk mengirim peninjau-peninjau ke Muktamar Islam di Yerusalem. Ini berarti betapa besar minat rakyat Indonesia terhadap perkembangan Islam di dunia,” tulis Subardjo dalam Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi.

Hari berikutnya, Subardjo dan Abbas terbang ke Yerusalem menggunakan pesawat Air Jordan. Di Yerusalem, anggota peninjau Indonesia di muktamar itu bertambah dua dengan masuknya Salim al-Rasjidi (staf perwakilan Indonesia di Mesir) dan Abdul Mukti Ali (mahasiswa merangkap perwakilan Indonesia di Karachi).

Muktamar yang sedianya dibuka sejak 3 Desember itu menjadi forum masing-masing perwakilan negara peserta menyuarakan pandangan tentang situasi Palestina, terutama setelah Israel merebut sebagian besar Yerusalem. Hanya Yerusalem Timur kala itu satu-satunya wilayah yang masih dikuasai militer Yordania.

Usai muktamar, keesokan harinya para partisipan diajak mengunjungi sejumlah situs di kota tua Yerusalem. Mereka juga mengunjungi kamp-kamp pengungsian di perbatasan Israel-Palestina seperti di Deheisha dan Qibya. Subardjo dan ketiga koleganya melihat sendiri betapa memprihatinkan keadaan kamp-kamp pengungsian itu. Kondisi para pengungsi begitu mengenaskan. Mereka tak hanya kekurangan makanan tapi juga pakaian tebal untuk melewati musim dingin. Beberapa utusan yang berpidato di hadapan para pengungsi tak jarang diiringi emosi dan air mata.

“Saya mengunjungi Qibya dan meragukan apakah kita semua manusia. Semoga keraguan ini tak bertahan lama,” cetus Sayyid Qutb, salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin, dikutip Kramer dari suratkabar Ha-Po’el Ha-Tza’ir, 22 Desember 1953.

Bantuan yang mengalir masih jauh dari tuntutan kebutuhan para pengungsi. Meski ada UNRWA atau Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, kala itu masih sedikit negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendonasikan bantuan. Indonesia termasuk di dalamnya –itu menjadi sumbangan nyata pertama Indonesia untuk Palestina. “Indonesia juga turut menyumbangnya, kira-kira 60 ribu dolar Amerika, khusus untuk Palestine Relief Fund (Sumbangan Pengungsi Palestina),” lanjut Subardjo.

Subardjo dan Abbas sempat menghadiri jamuan Raja Yordania Hussein bin Talal sebelum kembali ke tanah air keesokan harinya. Setibanya di Jakarta, Subardjo dan Abbas menyampaikan hasil dan kesimpulan muktamar berupa resolusi dan anjuran. Inti resolusi, persoalan Palestina harus menjadi tanggung jawab umat Islam di seluruh dunia dengan bersatu dalam persaudaraan. Adapun usulan lain yang diharapkan adalah dibangunnya jalur keretapi Hejaz-Amman, dan pendirian konsulat di Yerusalem oleh negara-negara Islam.

Sementara, anjuran yang dihasilkan dari muktamar itu berisi tujuh poin desakan kepada pemerintah negeri peserta. Antara lain, pemerintah negara peserta muktamara memikul persoalan Palestina sebagai persoalan setiap Muslim dan memaknai bahwa mempertahankan tanah suci di Yerusalem sebagai kewajiban fardlu ain, menurut kesanggupan masing-masing; menentang dan mengharamkan setiap hubungan perdagangan dengan Israel; melakukan tindakan nyata untuk membuka jalan bagi beraneka bantuan terhadap para pengungsi Palestina; memperingatkan negara-negara yang pro-Israel bahwa sokongannya terhadap Israel berarti permusuhan terhadap negara-negara yang pro-Palestina; dan menjadikan tanggal 27 Rajab sebagai Hari Palestina. Tanggal ini merujuk pada hari pembuka muktamar, 3 Desember 1953 yang bertepatan dengan 27 Rajab dalam kalender Islam.(kl/historia)

 

Penulis: Randhy Wirayudha

ERA MUSLIM

Melly Goeslaw: Warga Palestina Sengsara di Negeri Sendiri

Sebagai negara dengan pendududk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia tentu memiliki kontribusi besar dalam membantu negara sesama Muslim yang mengalami keadaaan yang memprihatinkan, termasuk Palestina. Beberapa tahun belakangan, Indonesia fokus melakukan gerakan untuk membantu saudara-saudara sesama Muslim yang kurang beruntung di Palestina.

Kondisi Palestina yang hingga kini masih memprihatinkan, mengingat dentuman bom dan nuklir yang menghantam dataran Palestina tanpa kenal ampun. Tak terhitung sudah jumlah orang dewasa, perempuan hamil, hingga anak balita yang tewas akibat serangan biadab Israel. Bukan hanya harta dan nyawa yang hilang, tapi juga psikologis yang rapuh dan trauma mendalam yang tertinggal bagi mereka yang selamat dari dentuman bom.

Banyak warga Palestina yang diungsikan di negara-negara tetangga seperti Iran, Libanon dan Suriah untuk mengembalikan kondisi psikologis mereka. Meskipun banyak diantara mereka yang memilih menetap dengan harapan dapat menemukan jenazah keluarga mereka yang tertimbun puing-puing bangunan.

Keprihatinan serta rasa empati warga Indonesia sebagai saurada sesama Muslim ditampung oleh banyak asosiasi dan kelompok-kelompok penggiat sosial. Aliran donasi, bantuan berupa makanan, pakaian, hingga obat-obatan juga dikumpulkan utuk selanjutnya disalurkan kepada tangan-tangan kecil warga Palestina yang menanti uluran kasih.

Giat sosial untuk Palestina pada satu waktu saja, tapi juga berlanjut hingga sekarang. Sahabat Palestina Memanggil (SPM) salah satunya. Asosiasi yang dipimpin oleh Salim Assoba ini, terus berkontribusi dengan mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari tangan-tangan dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu sesama.

Menurut Direktur Utama SPM, Salim Assoba, kegiatan sosial yang telah tergerak sejak pertengahan tahun ini, tepatnya 31 Mei 2017, SPM berhasil mengumpulkan sekitar Rp 5 miliar bagi warga Palestina. Donasi yang berupa uang, obat-obatan dan bahan makanan itu, kata Salim akan diberikan kepada warga Palestina yang saat ini tengah mengungsi di Iran, Libanon dan Suriah.

“Kita telah siapkan 15 orang yang akan langsung memberikan donasi (ke Iran, Libanon, dan Suriah),” kata Salim saat memberikan keterangan kepada awak media di acara Peringatan Palestine Solidarity Day 2017, Depok, Ahad (26/11).

Di antara 15 orang tersebut, turut bergabung pula penyanyi kondang seperti Melly Goeslaw dan Opick yang akan mewakili SPM menyalurkan bantuan dari Indonesia untuk Palestina. Rombongan ini, lanjut Salim, rencananya akan berangkat pada 13 Desember 2017 nanti, dan menghabiskan waktu sekitar 13 hari untuk menemui para pengungsi Palestina yang tersebar di Iran, Libanon dan Suriah.

“Pertama mereka akan ke Iran dulu, karena di sana pengungsinya paling banyak, mungkin di Iran bisa sekitar sembilan hari,” kata dia.

Terkait donasi yang telah terkumpul, Salim mengatakan, sangat bersyukur dengan apresiasi dan empati dari masyarakat Indonesia yang mau menyisihkan sedikit kekayaannya untuk membantu saudara sesama muslim yang kurang beruntung. Dia juga berharap, dengan diadakannya acara ini, sisi kemanusiaan masyrakat Indonesia akan lebih terbangun sehingga citra Indonesia sebagai negara yang memiliki solidaritas tinggi dapat lebih terbentuk.

“Kami sangat senang, karena tidak mengalami banyak kesulitan saat proses pengumpulan dana berlangsung. Kami juga ucakan banyak terima kasih, semoga segala keikhlasan dan kepedulian para donatur dapat digantikan berjuta kali lipat oleh Allah SWT,” kata Salim.

Melly Goeslaw mengaku, sangat senang dan bersyukur karena diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam kegiatan SPM. Saat ditanya mengenai perasaannya mendapatkan kesempatan bertegur sapa langsung dengan warga Palestina, Melly mengaku, kehilangan kata-kata.

“Saya tidak bisa berkata apa-apa, yang jelas saya harap bantuan yang telah sama-sama kita kumpulkan ini dapat berguna bagi mereka (Palestina),” kata Melly.

Pelantun Ayat-ayat cinta ini menganggap, kegiatan membantu Palestina, bukan hanya berpatok pada dasar agama, namun juga kemanusiaan. Penderitaan dan kesengsaraan yang harus diterima Palestina di negara mereka sendiri, kata Melly, seharusnya dapat membangkitkan rasa syukur kepada siapapun yang nasibnya lebih beruntung, khusunya Indonesia.

“Kita (Indonesia) jauh lebih beruntung karena masih bisa bekerja dengan nyaman, beribadah juga aman, dan masih bisa berkumpul bersama keluarga. Ini bukan hanya berbicara tentang agama, tapi asas kemanusiaan,” ujar Melly.

Sebagai sesama manusia yang memiliki keinginan untuk dapat hidup tenang, kata Melly, tentu kejadian yang menimpa Palestina dapat menggetarkan hati nurani, bukan hanya sesama muslim tapi juga seluruh dunia. Tangisan kehilangan, rasa sakit, dan luka fisik dan mental yang dirasakan Palestina akan membangkitkan kesadaran dan jiwa sosial setiap manusia untuk saling bahu-membahu menolong mereka yang kesulitan, terlepas dari status, pangkat, agama, negara dan RAS.

“Walalupun saya tidak mengenal mereka (Palestina) tapi mereka tetap saudara saya. Karena saudara bukan hanya yang terhubung oleh aliran darah, tapi juga rasa saling peduli,” kata wanita yang akrab disapa Teh Melly itu.

Salah satu donatur, Khodijah mengatakan, sangat mendukung kegiatan SPM. Menurut dia, acara sosial seperti ini harus terus berjalan, bukan hanya untuk Palestina tapi juga orang-orang yang dianggap membutuhkan bantuan. Saat ditanya mengenai pendapatnya tentang Palestina, ibu dua orang anak ini langsung dibendung air mata.

‘Prihatin’ adalah kata pertama yang keluar dari mulut ibu berusia 45 tahun ini. Dia mengatakan tak dapat membayangkan jika dia dan keluarganya yang harus mengalami kejadian seperti yang dialami warga Palestina. Dia juga berharap, warga Palestina dapat diberikan ketabahan dan kekuatan untuk terus berjuang melanjutkan kehidupan.

“Tidak ada yang bisa saya lakukan. Meskipun donasi yang saya berikan tidak banyak, tapi saya harap bisa sedikit membantu penderitaan mereka (Palestina),” kata Khodijah sambil menyapu air matanya.

Saat berkunjung nanti, rombongan Sahabat Pelestina Memanggil (SPM) rencananya akan mengunjungi posko-posko pengungsian untuk memastikan agar seluruh donasi yang telah terkumpul benar-benar dapat dinikmati langsung oleh warga Palestina. Selain itu, kegiatan ini juga telah didukung oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) yang secara jelas menyatakan Masjidil Aqsa sebagai warisan milik Palestina, bukan Israel.

“SPM mengajak PBB dan seluruh masyarakat seluruh dunia untuk lebih memperhatikan para nagara-negara yang membutuhkan bantuan, khususnya Palestina,” kata Direktur Utama SPM, Salim Asooba.

 

REPUBLIKA

Baitul Maqdis Indikator Kekompakan Umat Islam

Baitul Maqdis atau Al Quds atau Yerusalem, adalah indikator penting untuk melihat kondisi umat Islam. Apakah umat Islam kuat atau lemah, bersatu atau terpecah, akan dengan cepat berdampak pada kota ini. Kota yang memang sangat diinginkan oleh para penguasa dan bangsa-bangsa, terutama penganut agama Abrahamik.

Ya, sejarah selalu berulang. Bila umat Islam sedang kuat dan bersatu, maka Baitul Maqdis selalu berada dalam naungan Islam. Sebaliknya, jika umat Islam sedang lemah dan berpecah, maka Baitul Maqdis selalu lepas ke tangan orang lain. Tarikh Islam, sejak era Khulafaur Rasyidin sampai dengan zaman now, merupakan cermin yang sangat jelas menunjukkan hal itu.

Pembebasan pertama

Kabar gembira (bisyarah) pembebas an kota para nabi itu, sudah disampaikan Nabi Muhammad SAW. “Perhatikan enam tanda-tanda hari Kiamat: pertama, wafatku; kedua, penaklukan Baitul Maqdis….” (HR Bukhari No 3217 dari sahabat’Auf bin Malik RA). Dan, realisasi bisyarah segera cepat ter wujud, tepat berurutan seperti yang disam paikan Nabi. Sebab, pembebasan itu hanya berlangsung kurang dari lima tahun sejak wafatnya Sang Nabi. Nabi wafat pada Juni 632. Sedangkan, Baitul Maqdis dibebaskan pada April 637. Pembebasan itu terjadi 17 ta hun sejak peristiwa Isra’ Mi’raj yang ber langsung pada tahun 620.

Pembebasan pertama ini, merupakan yang paling mulus. Ini sekaligus memper lihatkan kekuatan Islam yang sedang me mun cak. Betapa tidak, setahun sebelum Khalifah Umar memasuki Baitul Maqdis, pa sukan Muslim lebih dulu mengalahkan dua superpower, yaitu Romawi Byzantium dan Sassanid Persia, dalam dua perang habishabisan dan menentukan jalannya sejarah, yaitu Perang Yarmuk dan Perang Qadisiya.

Romawi Byzantium dikalahkan secara telak dalam Perang Yarmuk oleh pasukan Muslim yang dipimpin Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Sedangkan, Sassanid Per sia dikalahkan, juga secara telak, dalam Pe rang Qadisiya, oleh pasukan Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash. Kedua kemenangan desesif tersebut berhasil diraih kendati pasukan Islam berjumlah sedikit dan tertinggal dari sisi teknologi. Bisyarah penaklukan kedua adikuasa itu juga pernah disampaikan Nabi: “Jika Kisra binasa maka tidak akan ada lagi Kisra lain sesudahnya dan jika Kaisar binasa maka tidak akan ada lagi Kaisar lain sesudahnya.

Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengambil perbendaharaan kekayaan keduanya di jalan Allah” (HR Bukhari). Peristiwa itu kemudian terjadi. Setelah Perang Qadisiya yang diikuti pembebasan Al Madain (Ctesiphon), ibu kota Sassanid- Per sia, sisa pasukan terakhir Persia dikalah kan dalam pertempuran Nihawand pada 642. Setelah itu kekaisaran Persia tamat, dan tak pernah ada lagi kisra yang muncul.

Sedangkan, riwayat kekaisaran Romawi berakhir dengan penaklukan Konstantino pel, ibu kota Romawi Byzantium, oleh Mu hammad Al Fatih pada tahun 1453, dan sete lah nya kekaisaran Romawi pun tutup buku. Memang, di Barat, pada saat itu, sempat muncul pula Kekaisaran Romawi Suci (Holy Roman Empire), dengan kaisar terkenalnya yang bernama Charlemagne. Kekaisaran ini beribu kota Aachen, yang merupakan kota bekas tempat mantan presiden BJ Habibie menimba ilmu di Jerman. Tapi, betapapun namanya mirip, dan kaisar Romawi Suci ini dimahkotai oleh Paus di Roma, namun tidak ada hubungan genealogis dengan kekaisaran Romawi yang didirikan Augustus Caesar.

Setelah menang dalam dua peperangan besar tersebut, pasukan Muslim kemudian menuju Baitul Maqdis, dan mengepungnya selama enam bulan, sejak November 636 sampai dengan April 637. Akhirnya, Yerusa lem menyerah dengan syarat, kota itu dise rah kan langsung kepada Khalifah Umar bin Khattab. Dan, kunci kota itu kemudian diserahkan oleh Patriark Sophronius, wakil Romawi Byzantium di Yerusalem, kepada Khalifah Umar.

Jatuh ke tangan Pasukan Salib

Selama ratusan tahun kemudian, Baitul Maqdis berada dalam naungan Islam. Yang berganti hanya kekhalifahan atau daulah yang memerintahnya. Setelah berada di bawah Khalifah Rasyidun yang berpusat di Madinah, Baitul Maqdis berturut-turut berada di bawah Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus; Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Seiring melemahnya Abbasiyah, kontrol efektif kawasan Asia Tengah, Syam, sampai dengan Asia Kecil (Anatolia), berada di tangan Kesultanan Seljuk Turki, sedangkan Kekhalifahan Baghdad hanya menjadi sim bol. Sementara, Mesir dan wilayah tanduk Afrika diperintah oleh Dinasti Fathimiyah.

Belakangan, Kesultanan Seljuk Turki (Sel juk Raya) yang berpusat di Isfahan pun ter bagi dua, dengan terbentuknya Kesul tan an Seljuk Rum. Terpecahnya Kesultanan Seljuk Raya itu terjadi sepeninggal Sultan Alp Arsalan, salah satu sultan legendaris Sel juk Raya, yang berjasa mengakhiri pengaruh Romawi Byzantium di sebagian besar Anatolia. Kesultanan Seljuk Rum didirikan Kilij Arsalan, salah seorang keponakan jauh Alp Arsalan. Selain itu, sebagian wilayah Anatolia juga dikuasai oleh negara-negara kecil yang disebut beylik-beylik (setara dengan emirat atau principality-Red).

Seljuk dan Fathimiyah, yang kebetulan menganut mazhab berbeda, sering terlibat persaingan, konflik, dan pertikaian. Ter utama, dalam memperebutkan pengaruh di wilayah Syam dan Hijaz, yang merupakan lo kasi tiga tanah suci, yaitu Makkah, Madi nah, dan Baitul Maqdis. Perpecahan dan pertikaian itulah, yang kemudian berujung pada terlepasnya Baitul Maqdis.

Saat Pasukan Salib bergerak dari Eropa, yang pertama kali berhadapan dengan me reka adalah Kesultanan Seljuk Rum. Pada awal 1097, Pasukan Salib ‘tak resmi’ yang terdiri dari orang-orang biasa (people cru sade) yang dipimpin Peter Amien, memasuki wilayah Anatolia, dengan mudah dikalahkan oleh pasukan Kilij Arsalan. Namun, tidak demikian dengan Pasukan Salib I yang dipimpin oleh para pangeran atau dikenal sebagai Princes’ Crusade. Pasukan Salib I yang dipimpin Godrey, Raymond, dan Bohe mond, memasuki Anatolia pada pertengah an 1097 dan mereka berhasil mengalahkan Seljuk Rum, memaksa Kilij Arsalan mundur dan memindahkan ibu kotanya dari Iznik (Nikosia) di tepi Laut Aegean, ke Konya.

Maka, pasukan Salib pun melanjutkan ber gerak menuju wilayah Syam, yang meru pa kan daerah kekuasaan Kesultan Seljuk Raya dan mengambil alih satu per satu kota dan benteng Muslim, sampai akhirnya me reka tiba Intakiyyah (Antioch). Selama lima bulan mereka mengepung kota tersebut, sejak Oktober 1097. Pada Maret 1098, kota penting di utara Suriah itu akhirnya jatuh. Ke sultanan Seljuk mengirimkan pasukan untuk merebut kembali kota itu, namun gagal.

Sebuah cerita mengenaskan tentang per tikaian internal yang parah pun kemudian terungkap di sana. Saat Pasukan Salib telah berada di Intakiyyah, Fathimiyah justru melihatnya sebagai peluang untuk mengusir Seljuk. Alih-alih bekerja sama untuk meng usir Pasukan Salib, para pembesar Fathi miyah justru menegosiasikan kesepakatan pembagian wilayah Seljuk dengan Pasukan Salib. Kesepakatan yang mirip dengan Per janjian Sykes Picot. Perjanjian itu diteken kedua belah pihak di Intakiyyah pada Fe bruari 1098. Fathimiyah mendapatkan wila yah Tyre dan Sidon, yang terletak di pantai timur Mediterania.

Para sejarawan menilai, dalam perjan jian tersebut Fathimiyah seolah tak mema hami bahwa goal Pasukan Salib sesungguh nya adalah Baitul Maqdis atau Yerusalem. Padahal, saat perjanjian itu dibuat, kontrol atas Baitul Maqdis telah berada di bawah Fathimiyah, yang baru saja mengambil alih kota itu dari Seljuk. Bahkan, seolah percaya Pasukan Salib tak akan menyerang Baitul Maqdis, Fathimiyah hanya menempatkan pasukan kecil untuk menjaganya, yang jumlahnya tak lebih dari lima ribu orang.

Pada Mei 1099, Pasukan Salib dengan personel ratusan ribu orang bergerak me nuju Baitul Maqdis. Pasukan Salib mema hami betul bahwa butuh waktu sekitar dua bulan bagi Fathimiyah untuk membentuk pa sukan besar untuk mempertahankan Baitul Maqdis. Pasukan Salib pun bergerak cepat dan mengepung kota itu pada 7 Juni 1099. Hanya sebulan kota itu mampu berta han, dan pada 15 Juli 1099, kota itu akhirnya jatuh, diiringi pembantaian mengerikan atas penduduknya. Para saksi mata mencatat genangan darah sampai setinggi mata kaki dan mayat ditumpuk-tumpuk bak piramida.

Selanjutnya, Masjid Al Aqsa diubah men jadi istana Kerajaan Yerusalem, sedang kan Masjid Kubah Batu diubah menjadi gereja. Sejak 1141, Masjid Al Aqsa yang diubah na ma nya menjadi Templum Salomonis (Kuil Su laiman), menjadi markas Ksatria Templar, sedangkan Masjid Kubah Batu yang diberi nama Templum Domini (Kui Tuhan) tetap menjadi gereja.

Untuk merebut Baitul Maqdis, Fathimi yah kemudian menyiapkan pasukan besar yang langsung dipimpin wazir Al Afdal Sya hansyah. Namun, mereka dikalahkan secara te lak dalam Pertempuran Askalon pada Agus tus 1099. Dan, sejak itu, Kerajaan Yeru salem berdiri di sana, di tengah wilayah kaum Muslim, persis seperti saat ini. Muslim yang terpecah belah, dengan bermuncul annya raja-raja kecil, lebih tertarik mengurus wilayahnya masing-masing, ketimbang meng amblih alih Baitul Maqdis.

Pembebasan kedua

Setelah shock kehilangan Baitul Maqdis, perlahan muncullah angin segar. Aljazeera, dalam film dokumenter bertajuk The Crusa des, An Arab Perspective, menggambarkan nya dengan kemunculan tipologi kepemim pinan baru di dunia Islam, yaitu warrior king/princes. Dengan model pertamanya adalah Maudud ibn Altuntash, seorang atabeg (semacam emir atau gubernur) Sel juk di Mosul. Dialah yang ditunjuk oleh Sul tan Seljuk, Muhammad I, untuk melawan Pasukan Salib di berbagai front, untuk mem pertahankan sejumlah kota seperti Damas kus dan Aleppo.

Suatu hari, Gubernur Damaskus, Tugh te kin, meminta bantuan Maudud untuk meng hadapi Pasukan Salib. Dan, dalam Per tempuran Sannabra di dekat Danau Tiberias, pada 28 Juni 1113, pasukan Maudud berhasil mengalahkan Pasukan Kerajaan Yerusalem yang langsung dipimpin Raja Baldwin I. Menyikapi kekalahan Pasukan Salib terse but, sejarawan Kristen, William of Tyre, me nu lis bahwa “Langit telah menolak Pasukan Salib”. Sebab, bila Tuhan bersama Pasukan Salib, William mengatakan pastilah mereka tak akan terkalahkan.

Namun, saat diundang oleh Tughtekin ke Damaskus pada akhir 1113, Maudud ter bu nuh menjelang shalat Jumat. Sejumlah se jarawan menilai, para pemimpin Islam saat itu mengkhawatirkan popularitas Maudud yang kian menanjak, sehingga mengi rimkan seorang hasyasyin untuk mem bunuhnya. Meski demikian, model kepemimpinan warrior princes tersebut kemudian berlanjut kepada para pahlawan Islam sesudahnya yang kebetulan dari Di nasti Zanki yang berkuasa di Mosul, seperti Imaduddin, Nuruddin, hingga Salahuddin.

Sebelum mengambil alih Baitul Maqdis, sebagian besar waktu yang dihabiskan Ima duddin, Nuruddin, dan Salahuddin, adalah mempersatukan wilayah Islam, mulai dari Damaskus sampai Mesir. Setelah berhasil mempersatukan wilayah Muslim, barulah Salahuddin memusatkan perhatiannya ke Baitul Maqdis. Dan, Salahuddin Al Ayyubi akhirnya berhasil mengalahkan Pasukan Salib secara telak pada Pertempuran Hittin yang berlangsung 3-4 Juli 1187, dan mena wan Raja Yerusalem, Guy de Lusignan.

Dua bulan kemudian, pada 27 Rajab 583 Hijriyah, atau bertepatan dengan 2 Oktober 1187, Salahuddin berhasil merebut Baitul Maqdis, dan dua masjid di Kompleks Haram al Sharif, Masjid Al Aqsa dan Masjid Kubah Batu, dikembalikan kepada fungsinya se mula. Maka, sejak itulah, adzan kembali ber ku mandang di tanah para nabi itu, setelah tak terdengar selama 88 tahun.

Hilangnya Yerusalem, membuat Barat menjadi shock. Dan, kemudian mengirim kan ekspedisi berikutnya. Namun, Pasukan Salib II yang dipimpin para raja, terutama Richard the Lion Heart, maupun gelombang Pasukan Salib berikutnya yang berjilid sam pai angkatan VII, tak berhasil merebut Baitul Maqdis.

Memang, pada 1229, Sultan Dinasti Ayyubiyah, Al Kamil, pernah menyerahkan Baitul Maqdis secara damai kepada pihak Kristiani, demi mengakhiri Perang Salib VI. Penyerahan itu menyusul kesepakatan Al Kamil dengan Kaisar Romawi Suci, Frede rick II. Perjanjian tersebut, antara lain men syaratkan tempat-tempat suci umat Islam tetap dikontrol oleh Dinasti Ayyubiyah yang saat itu berpusat di Mesir.

Penyerahan Baitul Maqdis ini terbilang kontroversial. Namun, sejumlah sejarawan memandang langkah tersebut sebagai se buah taktik belaka, untuk menghindari per tumpahan darah, karena sepanjang Mesir dan Suriah dalam kontrol Muslim, Baitul Maqdis akan tetap mudah diambil alih. Pada 1239, An Nasir Ad Dawud, emir Ayyubiyah di Kerak, mengambi alih Baitul Maqdis. Dia hanya sebentar menguasainya. Namun, se belum meninggalkan kota itu, dia meng hancurkan bentengnya, sehingga setiap saat kota itu mudah dimasuki. Pasukan Salib tetap menguasai kota itu hingga tahun 1244.

Pada 1244, Baitul Maqdis diambil alih oleh pasukan Khawarizm yang diundang oleh salah seorang penguasa Ayyubiyah yang sedang bertikai. Namun, pada 1246, Dinasti Ayyubiyah kembali mengontrol Baitul Maq dis.

Eropa kemudian melancarkan Perang Salib VII untuk merebut Yerusalem, namun pimpinannya Raja Louis IX dari Perancis, ditangkap oleh Sultan Turansyah dari Dinas ti Ayyubiyah. Namun, kemudian dilepaskan. Perang Salib VII tersebut merupakan gelom bang terakhir serangan dari Kristen Latin.

Jatuh ke tangan Mongol

Tapi, pertikaian internal Dinasti Ayyu biyah kemudian terjadi, yang berbuntut ter bunuhnya Sultan Turansyah. Hasilnya, ke sultanan itu terbagi dua. Di Mesir kemu dian berdiri Kesultanan Mamluk yang dipimpin Aybak, sedangkan Kesultanan Ayyubiyah merelokasi ibu kotanya ke Damaskus. Ayyu biyah tetap mengontrol Baitul Maqdis hing ga sepuluh tahun berikutnya, sebelum da tangnya gelombang serangan Mongol.

Tentara Mongol memasuki Baitul Maq dis pada tahun 1260. Serangan Mongol ini di pimpin oleh Jenderal Kitbuqa, seorang Kristen Nestorian. Setelah berhasil merebut Baitul Maqdis, Hulagu Khan menyurati Raja Louis IX, bahwa Yerusalem telah kembali ke pangkuan Kristen di bawah aliansi Franco- Mongol.

Saat itu, negeri-negeri Islam takluk di bawah Mongol, bahkan Baghdad dibuat hancur lebur. Benteng terakhir umat Islam yang menolak menyerah kepada Mongol saat itu adalah Mesir di bawah Dinasti Mam luk. Dan, dari Mesir lah, upaya mengambil alih Baitul Maqdis kembali dilanjutkan.

Pembebasan ketiga

Pasukan Mamluk yang dipimpin Sultan Saifuddin Qutuz dan Baibars, akhirnya ber hasil mengambil alih Baitul Maqdis setelah mengalahkan Pasukan Mongol yang dipim pin Kitbuqa dalam Pertempuran Ain Jalut pada September 1260. Mitos bahwa Pasukan Mongol tidak terkalahkan, seketika pupus di Ain Jalut. Hasilnya, pertempuran ini bu kan hanya berhasil mengusir Mongol dari Baitul Maqdis, tapi juga berlanjut pada pembebasan wilayah Islam lain dari tangan Mongol.

Sejarawan Arnold Toynbee, menyebut Pertempuran Ain Jalut sebagai salah satu pertempuran yang sangat penting, karena menjadi titik balik sejarah. Dalam pertem puran tersebut, tulisnya, Pasukan Muslim bukan hanya menghadapi Pasukan Mongol, tapi juga para penguasa Kristen di sekitar nya seperti Raja Armenia maupun Pangeran Antiochia. “Setelah kejatuhan Khawarizm, Baghdad, dan Suriah, maka Mesir merupa kan benteng terakhir Islam di Timur Te ngah,” katanya.

Saat Perang Ain Jalut sedang berlang sung, Pasukan Salib dari Eropa juga sudah ber siap-siap mendarat ke pantai timur Medi terania (kawasan Syam), dan menjadi an cam an sangat serius bagi Dunia Islam. Ka rena itu, menurut Shayyal, “Masa depan Islam dan Kristen Barat, sangat bergantung pada hasil Perang Ain Jalut.”

Setelah kemenangan di Ain Jalut, Mo ngol dibantu Raja Armenia sempat menye rang Baitul Maqdis, namun tak berhasil mengambil alih kota itu secara permanen. Dan, Baitul Maqdis tetap dalam naungan Islam. Setelah era Mamluk, Baitul Maqdis beralih ke tangan Khilafah Usmani pada 1516. Baitul Maqdis berada di tangan Us mani selama lebih dari empat ratus tahun, merupakan yang paling lama dalam sejarah dibanding kontrol Baitul Maqdis oleh ke khalifahan-kekhalifahan sebelumnya. Jatuh ke tangan Inggris dan Zionis Pada Desember tahun 1917, Baitul Maq dis jatuh ke tangan Inggris. Seperti sebelum nya, selain karena serangan langsung, lepas nya Baitul Maqdis itu didahului oleh per pecahan internal umat Islam.

Lepasnya Baitul Maqdis ini, diawali be be rapa peristiwa yang berjalin kelindan. Per tama, dibuatnya perjanjian rahasia (Per janjian Sykes-Picot) antara Inggris dan Pe ran cis –yang kemudian diikuti oleh Rusia dan Italia, untuk membagi-bagi wilayah Us mani di Timur Tengah. Perjanjian ini diteken pada 16 Mei 1916. Kedua, dibuatnya Dekla rasi Balfour pada 2 November 1917, yang berisi dukungan Inggris untuk pendirian ta nah air bagi orang Yahudi di tanah Pales tina. Ketiga, dihasutnya para penguasa Mus lim-Arab untuk melawan Khilafah Usmani.

Hanya sebulan setelah Deklarasi Balfour diteken, pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Edmund Allenby, memasuki Yeru salem. Inggris mengambil alih kontrol atas Palestina, setelah mengalahkan tentara Usmani pada Perang Yerusalem. Jenderal Allenby memasuki Yerusalem dari arah yang dulu digunakan Khalifah Umar saat mema suki Yerusalem dengan berjalan kaki. Salah satu pernyataan Allenby yang terkenal saat memasuki Yerusalem adalah: “Baru seka rang lah Perang Salib berakhir.”

Di berbagai media Inggris saat itu, ilus trasi Perang Salib memang banyak dimun culkan. Salah satunya, dimuat dalam laporan utama Majalah Punch, edisi 19 Desember 1917, yang mendeklarasikan “The Last Crusade”, dengan ilustrasi Raja Inggris, Richard The Lion Heart sedang memandang Yerusalem dari ketinggian, sambil mengang guk puas dan bergumam: “Mimpiku akhir nya menjadi nyata.”

Memang, pers Inggris mendapat instruk si dalam sebuah memo tertanggal 15 Novem ber 1917, untuk tidak merefer operasi militer melawan Khilafah Usmani dengan istilah Perang Suci, Perang Salib Modern, atau istilah apapun terkait dengan soal ke agamaan. Namun, memo tersebut di abaikan, dan mereka tetap tetap mengguna kan istilah “Crusade” dalam mendiskusikan okupasi terhadap Yerusalem.

Hatem Bazian, pengajar Universitas Cali fornia, Berkeley, dalam tulisannya bertajuk Revisiting the British Conquest of Jerusalem di laman Aljazeera, menyatakan bahwa memo tersebut dibuat untuk mencegah friksi dengan personel militer Islam yang direkrut Inggris untuk berperang melawan Usmani. Juga untuk mencegah timbulnya masalah dengan Sharif Husein, Gubernur Usmani di Makkah, yang saat itu bekerja sama dengan Inggris untuk melawan Usmani.

Pernyataan serupa tercatat disampaikan oleh Jenderal Henri Gouraud, pimpinan militer Perancis, usai mengalahkan pasukan Raja Faisal di Suriah. Sang Jenderal, seperti dikutip Tariq Ali dalam bukunya, Clash of Fundamentalism: Crusades, Jihads and Mo dernity, menyatakan sang jenderal me ma suki Damaskus bersama pasukannya, ke mu dian pergi ke makam Salahuddin, me nen dangnya, dan berseru: “Perang Salib telah berakhir sekarang! Bangun Sala hud din, kami telah kembali! Kehadiranku di sini menahbiskan kemenangan Salib terhadap Bulan Sabit.”

Tak berselang lama setelah jatuhnya Baitul Maqdis, pada tahun 1923, Khilafah Usmani, major power terakhir umat Islam, juga dibubarkan. Sementara, pada tahun 1948, ‘negara panjajah’ Zionis-Israel yang digerakkan oleh Yahudi Eropa (Ashkenazi) berdiri di atas tanah Palestina. Bahkan, pada Desember 2017 lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyerahkan Baitul Maqdis kepada Zionis.

Dan sejarah pun berulang. Saat ini, para penguasa negeri-negeri Islam, khususnya di Timur Tengah, sibuk bersaing dan bertikai, sehingga Baitul Maqdis tak kunjung bisa dibebaskan, bahkan warga Palestina sema kin dalam terpuruk dalam penderitaan. Per tikaian Arab Saudi dan Iran saat ini, misal nya, mengingatkan pada pertikaian Seljuk dengan Fathimiyah di masa lalu.

Pendudukan Yahudi atas Baitul Maqdis ini, semakin banyak dipandang dari sisi eskatologis, tentang takdir akhir zaman di mana Muslim akan berperang dengan Ya hudi, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi selama lebih dari seribu tahun, karena orang Yahudi tak pernah menjadi kekuatan politik dan militer berarti. “Hari Kiamat belum akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi orang Yahudi. Mereka diserang oleh kaum Muslimin hingga bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun, batu maupun tumbuh an akan berkata, “Wahai Muslim, wahai ham ba Allah, di belakangku ada orang Ya hudi. Kemari dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon Gharqad. Sebab pohon Gharqad adalah pohonnya orang Yahudi.” (Hadits Riwayat Muslim).

REPUBLIKA

Israel Tembak Kepala Demonstran Palestina

Ibrahim Abu Thraya, demonstran terkenal asal Palestina, tewas ditembak kepalanya saat berlangsung demonstransi anti-Israel di Gaza. Diduga kuat, pelakunya adalah penembak jitu Israel.

Namun, Angkatan Darat Israel mengatakan, tentara memang menggunakan peluru tajam untuk membubarkan demonstrasi itu, tapi Abu Thraya bukan sasarannya. Laporan itu menyimpulkan “tidak mungkin diketahui siapa yang melepaskan tembakan” yang mematikan itu.

Menurut catatan Dines Medis Palestina, Abu Thraya ditembak dua minggu lalu saat berunjukrasa anti-Israel.

Banyak orang Palestina menganggap Abu Thraya sebagai lambang perlawanan terhadap Israel. Thraya menggunakan kursi roda setelah kehilangan kedua kaki pada 2008. Keluarganya mengatakan Thraya luka-luka dalam serangan udara yang dilancarkan Israel, ketika ia sedang membantu korban lain dalam serangan itu. Kantor berita Associated Press mengatakan Abu Thraya cedera dalam bentrokan dengan pasukan Israel di sebuah kamp pengungsi.

Kematiannya menambah kemarahan rakyat Palestina sejak Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan akan memindahkan Kedubes AS ke kota itu dari Tel Aviv. Aksi-aksi protes yang disertai kekerasan telah menewaskan 12 orang Palestina sejak itu.

Palestina menghendaki Kota Yerusalem timur sebagai Ibu Kota Palestina kelak, tapi Israel menganggap seluruh kota Yerusalem sebagai ibu kotanya yang permanen. [voa/lat]

 

INILAH MOZAIK

Yahudi Saat Ini Bukanlah Turunan Bani Israil

Saat ini, apakah anda mengetahui siapakah mereka yang di sebut dengan yahudi? Apa latar belakang mereka, bagaimana niat mereka untuk kuasai dunia? , berikut tulisan Ahmad Thomson, berkebangsaan Inggris, dan beliau seorang mualaf , memberikan gambaran secara jelas siapa itu yahudi.

Yahudi, yang diduga merupakan keturunan bani Israel yang menolak Isa dan Muhammad, (semoga rahmat dan kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka), dimana penolakan mereka tersebut berlanjut hingga kini, terbagi dalam dua kelompok yaitu kaum Sephardim dan kaum Ashkenazim. Jumlah kaum Ashkenazim jauh lebih banyak dari kaum Sephardim. Asal usul mereka sangat berbeda satu sama lainnya.

Kaum Sephardim, pada umumnya adalah Yahudi yang sejak zaman dahulu telah tinggal di Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa Tenggara. Dan pada suatu masa mereka juga pernah tinggal di Spanyol pada zaman muslim berkuasa disana (711 A.D- 1609 A.D), namun mereka dimusnahkan ataupun terpaksa melarikan diri pada saat pendudukan Kristiani Trinitas pada tahun 1492 A.D. Setelah ini sesungguhnya tidak ada lagi kaum Sephardim yang tinggal di Spanyol, dan banyak dari mereka yang tinggal di Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa Tenggara dikenal sebagai Yahudi yang berasal dari Spanyol ataupun keturunannya bukan sebagai keturunan Yahudi yang tinggal di wilayah tersebut diatas sejak zaman Musa dan Isa ataupun pada masa sebelumnya dari suku bani Israel.

Sangatlah jelas bahwa asli dari ‘Yahudi Spanyol’ adalah orang-orang yang bermigrasi dari Eropa tenggara, Timur tengah dan Afrika Utara selama pemerintahan muslim di Spanyol-namun seperti yang akan kita lihat nanti, Insya Allah-kemungkinan beberapa Yahudi dari Spanyol bukanlah imigran Sephardic dari timur, melainkan Yahudi Ashknazi dari Utara. Sejak saat itu Yahudi Ashknazi dikenal sebagai Yahudi bukan keturunan bani Israel, namun keturunan dari ‘Yahudi Spanyol’ bukan Yahudi Sephardic-walaupun pada masa ini mereka dikenal dengan nama tersebut.

Ashkenazi pada umumnya adalah Yahudi dari abad ke delapan dan seterusnya tinggal di Eropa dan terakhir di Amerika. Tidak dapat disangkal bahwa Yahudi Ashkenazi bukanlah keturunan bani Israel asli. Arthur Koestler menyebut mereka, ‘bani yang ke tiga belas’ dalam bukunya

Singkatnya, kisah Ashkenazi adalah sebagai berikut:

Pada abad ketujuh A.D. terdapat suku Turky yang dikenal kaya dan mempunyai kekuasaan yang besar di sekitar laut mati dan laut Kaspia. Mereka dikelilingi oleh Kristiani Eropa dari utara, dan oleh Muslim dari selatan. Untuk menjaga keamanan kerajaan mereka, dan untuk alasan kebijaksaan politik semata dan bukanlah alasan-keagamaan-pemimpin mereka memutuskan bahwa seluruh suku Khazar harus menganut agama Yahudi, dengan alasan Kristiani Eropa tidak akan mengganggu mereka jika mereka menyembah Tuhan, begitu juga kaum muslimin akan memperlakukan mereka sebagai ‘ahli kitab’, dan juga tidak akan mengganggu mereka.

Alasan lainnya, jika mereka memilih Kristiani atau Muslim, tentunya mereka akan terlibat di dalam pertikaian yang sudah ada diantara Kristiani Eropa dan Muslim-sehingga memilh agama Yahudi adalah jalan yang paling aman bagi mereka.

Michael Rice menggaris bawahi asal usul dan sejarah Khazars di dalam bukunya Keturunan Palsu, dalam kalimat berikut:

Khazar adalah salah satu suku Turki yang pindah kearah barat sebagai konsekuensi dari adanya tekanan besar di Asia, dimulai dengan menetap di sebelah Utara kerajaan Byzantine, dalam pertengahan abad pertama millennium AD. Kedatangan mereka disebabkan oleh adanya invasi Mongol. Khazar pertama kali muncul di Rusia Selatan, di wilayah antara Kaukasus, Don dan Volga; kemudian mereka mulai memperlihatkan sifat nomadennya dan mulai berusaha untuk mendapatkan kedudukan di dalam pemerintahan.

Khazar, suku ini hidup dengan makmur. Akibatnya Byzantin dan kerajaan Muslim mulai tertarik dengan mereka dan pada kenyataannya tidaklah mudah bagi satu sama lainnya untuk melakukan komunikasi.Kedua kekuatan ini baik kristiani Eropa maupun Muslim sama-sama menekan kaum penyembah berhala ini (Khazar) untuk menerima ajaran agama mereka yang masing-masing meyakini bahwa agama merekalah yang paling benar. Kaum Khazar dikenal sebagai orang-orang yang pandai, yang sangat cemas akan kondisi yang ada sehingga mereka tidak memilih salah satu agama baik dari Kristiani Eropa maupun dari Muslim.Karena jika mereka memilih salah satu dari kekuatan besar ini, artinya mereka akan mengasingkan kekuatan yang lain. Sehingga Khazar mulai mencari solusi untuk memecahkan masalah ini. Solusi tersebut adalah dengan menganut agama Yahudi dengan harapan bisa menghindarkan tekanan dari kedua kekuatan besar mereka.

Khazar melakukan penelitian secara mendalam agama apakah yang dapat diterima oleh kedua kekuatan besar Kristiani dan Muslim sebagai agama yang terhormat dimana masalah ini tertulis di dalam Korespondensi Khazar. Didalam korespondensi Khazar ini dilaporkan bahwa utusan Muslim yang datang kepada mereka untuk merubah agama mereka menjadi Islam, mereka mengajukan pertanyaan, ‘ Agama mana yang anda lebih hargai, Yahudi atau Kristiani? Tanpa ragu-ragu Muslim menjawab agama Yahudi. Sebaliknya mereka juga bertanya kepada kaum Byzantin, yang mempromosikan agama Kristen orthodox, ‘Agama mana yang anda lebih hargai, Yahudi atau Islam? Kaum Kristiani dengan serentak menjawab, ‘ Yahudi’. Oleh karena keputusan segera dibuat dan Khazars resmi menjadi Yahudi.

Karena itulah dalam waktu relatif singkat, seluruh khazar menjadi Yahudi, walaupun tidak ada satupun nenek moyang mereka yang pernah tinggal di tanah suci, dan tidak ada satupun dari mereka yang berasal dari keturunan bani Israel yang mendapatkan ajaran Musa secara langsung.

Sangat jelas bahwa kelompok Yahudi Eropa ini tidak pernah dapat mengakui bahwa mereka mempunyai garis keturunan dengan Yahudi yang pernah tinggal di tanah suci ataupun disekitarnya. Mereka sesungguhnya mempunyai posisi yang sama dengan kaum Kristen Eropa, yang menjadi Kristen karena agama dan ketaatan terhadap agama, namun bukan keturunan Kristen dari bani Israel yang pernah tinggal di tanah suci ataupun disekitarnya.

Selanjutnya, seperti lazimnya agama Kristen di Eropa yang sangat jauh dari ajaran Isa yang asli, begitu juga ajaran agama Yahudi yang dipeluk oleh Khazar bukanlah ajaran asli Musa

 

ERA MUSLIM

Mengapa Saya, Kamu dan Kita Semua Harus Membela Palestina?

Suara sumbang kerap ditujukan kepada para aktivis Pro Palestina dengan mengatakan, “Ngapain jauh membela Palestina, di sini saja banyak yang perlu di bantu”. Berikut ini 10 alasan syar’i, kenapa kaum Muslim harus membela saudara-saudara Muslim yang ada di Palestina :

1. Kaum Muslimin sedunia adalah saudara seiman.

Allah berfirman:” Sesungguhnya orang-orang yang beriman tak lain adalah saudara”.(QS. Al-Hujurat:10) .
Sudah tentu dengan firmannya itu Allah Maha Tahu bahwa orang mukmin di dunia ini tidaklah terkategori dalam tiga penjuru persaudaraan nasab dekat yaitu ke atas (ayah/ibu dst), sederajat (kakak/adik) , ke bawah (anak, cucu dst) barangkalai mereka baru ketemu nasab di umatnya nabi Nuh yang selamat. Walaupun begitu Ia menyatakan bahwa mereka adalah saudara yaitu saudara seiman. Rasulullah menegaskan dengan sabdanya: “Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (HR. Bukhari no: 2262 dan Muslim no: 4650). Dan tak satupun ulama yang berpendapat bahwa persaudaraan tersebut adalah persaudaraan nasab bukan iman.Bila demikian, maka poin ke dua di bawah ini adalah hak saudara yang harus ditunaikan saudara yang lain.

2. Membebaskan saudara dari sasaran kedzaliman adalah wajib, bahkan dari berbuat kedzaliman.
Sedangkan membiarkannya berarti terancam laknat Allah Yang menjadi dasar dari kewajiban ini adalah terusan hadis di atas, dimana selengkapnya Nabi bersabda: “Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak berbuat dzalim kepadanya juga tidak membiarkannya tersakiti/terdzalim i”. Dasar lain yang cukup populer adalah sabda Rasul : “Tolonglah saudaramu dalam kondisi dzalim maupun didzalimi” (HR. Bukhari no:2263) Dalam shahih Muslim diterangkan tentang maksud hadis tersebut, di mana Nabi bersabda: “Jika dia berbuat dzalim, maka kau cegah dia dari kedzalimannya itu, itulah yang disebut menolongnya. Tetapi bila ia didzalimi maka wajib pula bagi yang lain untuk menolongnya terbebas dari kedzaliman itu” (HR. Muslim , no:4681). XII,463.

Saudara kita Muslimin di Gaza Palestina adalah korban kedzaliman yang sangat keji sepanjang sejarah dunia modern” ini. tak ada alasan bagi kaum Muslimin dunia untuk tidak membela mereka semaksimal mungkin. Bila tidak, Ibnu Abbas telah meriwayatkan dari Rasulullah sebuah hadis qudsi dimana Allah befirman: “Demi keperkasaanku dan keagunganku, sungguh aku akan membalas orang dzalim di dunia maupun akhirat dan sungguh aku juga akan membalas dendam orang yang menyaksikan orang yang terdzalimi sementara ia mampu menolongnya kemudian ia tidak membelanya” (HR. Thabrani dan Hakim)

3. Jihad fisik adalah fardhu kifayah saat cukup dengan sebagian, bila tidak adalah fardhu ‘ain.

Pada saat ini sungguh nyata bahwa bila kaum Muslimin di Gaza dibiarkan bertumpu pada kekuatan dan potensi sendiri, jelas tidak seimbang dari berbagai sisi, personil, senjata maupun logistik. Israel Defence Forces (IDF, angkatan bersenjata Israel) memiliki 176 ribu infanteri bersenjata lengkap. IDF juga mendapat dukungan serangan udara dari 286 helikopter serbu, dan 875 jet tempur berkecepatan supersonik. Juga, 2800 tank dan 1.800 senjata artileri (meriam, rudal, peluncur roket) yang semuanya on load (siap digunakan).

Sebaliknya, Hamas hanya berkekuatan maksimal 20.000 pejuang. Tanpa pesawat tempur, jet, atau helikopter patroli satu pun. Mereka hanya memakai roket Al Banna dan Al Yaasin, modifikasi rudal PG-2 Rusia yang mampu menghancurkan tank Merkava dalam radius 500 meter. Roket lainnya, yang juga hasil modifikasi, maksimal hanya bisa meluncur 55 kilometer. Itu hanya cukup sampai Kota Sderoth, yang bukan jantung komando Israel.

Kurang lengkapkah penderitaan dan keprihatinan kondisi saudara kita di sana untuk mengubah hukum fardhu kifayah menjadi fardhu ‘ain? Jelas berlebih. Maka fardhu ‘ain bagi setiap Muslim untuk berjihad untuk membantu saudaranya itu sesuai kemampuan maksimal masing-masing. Bagi yang mempunyai potensi fisik, sarana dan skill, maka –selama memungkinkan- wajib bergabung dengan saudaranya di Gaza. Yang lain wajib saling melengkapi, antara yang berkemampuan secara fisik maupun perbekalan/biaya. (Lihat: Ibn Hajar, Fath al-Bari :IV, 431, Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim : VI, 335, Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, II,621)

4. Mengenyahkan kemungkaran adalah wajib.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan/kekuasaannya , jika tidak mampu maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya dan yang demikian adalah (indikasi) selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim no:70)

Itulah perintah Nabi untuk menyikapi kemungkaran secara umum, sedangkan yang terjadi di Gaza tak sekedar kemungkaran biasa, tetapi adalah kekejian (fahisyah) alias kemungkaran tingkat tinggi.

5. Orang mukmin harus membantu tetangganya yang membutuhkan.
Dalam rangka solidaritas kepada tetangga untuk urusan perut Rasulullah bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam kondisi kenyang sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya” (HR. Thabrani dan Hakim). Bagaimana dengan urusan nyawa? Masih adakah sisa keimanan bila seorang Muslim sengaja tidak berjibaku untuk membantu?

6. Israel adalah perampok wilayah kaum Muslimin Palestina secara nyata tanpa diragukan sedikitpun.

Terlalu banyak catatan sejarah pencaplokan Israel terhadap tanah Palestina sejak 1946 hingga saat ini

7. Israel memproses pengambilalihan dan penghancuran Masjid al-Aqsa, warisan Islam.
Masjid Al-Aqsa adalah salah satu bangunan yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) atau dikenal Al-Haram asy-Syarif.

Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra’ Mi’raj.)

Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, merupakan kiblat shalat umat Islam yang pertama sebelum dipindahkan ke Ka’bah di dalam Masjidil Haram. Umat Muslim berkiblat ke Baitul Maqdis selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Mekkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat shalat dipindah ke Ka’bah (di Masjidil Haram, Mekkah) hingga sekarang.

Masjid yang direnovasi oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H ini akhirnya disepakati menjadi warisan suci kaum Muslim sedunia. Karena itulah, tatkala kaum Yahudi berusaha membakarnya tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam (OKI), saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama “Shalahuddin Al-Ayyubi” terbakar habis.

8. Israel telah Membunuh Banyak Nyawa Kaum Muslim dan Warga Palestina lain.
Dalam sejarahnya pendirian Negara Israel (14 Mei 1948), kaum Yahudi ini tak pernah kering dari genangan darah dan air mata warga Palestina.

9 April 1948, Menachem Begin memimpin pasukan Irgon Israel menyerang desa Der Yasin dan melakukan pembantaian warga desa di sana. Dalam aksi ini, Zionis-Israel membantai lebih 254 orang Palestina laki-laki, wanita dan anak-anak (dalam sebagian riwayat disebutkan jumlahnya lebih 360 orang dari jumlah total penduduk desa 600 jiwa) secara keji dan biadab.

Sebagian besar jasad korban dibuang ke dalam sumur-sumur yang ada. Bergabung dalam pembantaian itu, dua geng “teroris” Yahudi, Shtern yang dipimpin oleh Yizhak Samer yang mewarisi Menachem Begin menjadi PM Israel di awal tahun 80 an dan kelompok “teroris” Yahudi, Hagana dengan pimpinan David Ben Gorion. Geng-geng Yahudi tersebut dibentuk dengan nama “pertahanan Israel”.

Menachem Begin, yang kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri Zionis Israel 1977 -1983 bahkan diberi hadiah Nobel perdamaian. Ia sempat mengungkapkan kebanggaannya dengan pembantaian ini, serta menganggapnya sebagai alasan penting dalam pendirian negera Yahudi dan pengusiran Arab (Palestina).

Begin mengatakan, “…Orang-orang Arab mengalami goncangan dahsyat tanpa batas setelah berita (pembantaian) Der Yasin. Mereka mulai melarikan diri guna menyelamatkan nyawa-nyawanya… , dari 700 ribu jumlah orang Arab yang tinggal di Israel sekarang tidak tersisa kecuali 165 ribu saja” … “apa yang terjadi di Der Yasin dan apa yang diberitakan tentangnya telah membantu pelempangan jalan kita untuk menggapai kemenangan di dalam pertempuran sengit di arena perang. Legenda Der Yasin telah membantu kita secara khusus menyelamatkan perang Haifa” … “pembantaian Der Yasin memiliki dampak dan pengaruh luar biasa dalam jiwa orang-orang Arab (Palestina) yang menyamai 6 kebahagian serdadu-serdadu.

Kasus pembantaian seperti di Der Yasin terjadi berulang-ulang di desa-desa Arab (Palestina) lainnya saat terjadi perang tahun 1948. Kasus serupa terjadi di Thantura, Nashiruddin, Bet Daras dan yang lainnya. Seorang sejarawan Israel yang juga seorang peneliti dalam militer Israel kala itu, Aryeh Yeshavi telah mengakui hal itu dengan mengatakan, “Jika kita total fakta-fakta dan realita kita mengetahui bahwa pembantaian Der Yasin terjadi terlalu jauh dari tabiat yang semestinya guna menduduki desa Arab, terjadi pernghancuran terbanyak jumlah rumah di dalamnya. Dalam aksi-aksi ini telah dibunuh banyak sekali wanita, anak-anak dan orang tua.”

6 Februari 2001, Tatkala Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri, menggantikan Ehud Barak, Mantan Menteri Pertahanan Israel tahun 1982 itu, membantai 2.000 lebih pengungsi Palestina di Sabra dan Satila.

5 Maret 2002, pusat Rehabilitasi Tuna Netra al-Nur, yang didirikan dan dijalankan oleh PBB dan satu-satunya sekolah untuk anak tuna netra di Gaza, dibom. Menteri Pendidikan Palestina mengungkap bahwa 435 anak-anak tertembak mati antara September 2000 dan Maret 2002, 150 di antaranya anak-anak usia sekolah, dan 2402 anak-anak terluka.

Tahun 2006, Sharon juga terlibat mengerahkan 90.000 tentara Israel ke Libanon, yang didukung 1.200 truk, 1.300 tank, dan 634 pesawat tempur dengan peralatan canggih. Dalam tempo satu pekan, sebanyak 200.000 penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal, 20.000 orang mengalami luka-luka, dan ribuan terbunuh.

9. Israel Pelangggar Perjanjian dan Konvensi Paling Utama.

Entah ada berapa kali perjanjian damai antara Israel dan Palestina selalu dikhianati Israel. Semua rancangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Amerika Serikat (AS) semua berantakan gara-gara ulah Israel yang selalu mengabaikan resolusi apapun. Israel tetap melakukan pelanggaran dan senantiasa meneruskan membunuh dan pengusiran warga Palestina demi perluasan wilayah.

Yang tidak banyak orang tahu, jumlah resolusi yang diabaikan oleh Israel telah mencapai 69 buah. Bayangkan seandainya satu Negara Islam mengabaikan 1 resolusi PBB, apa yang akan dilakukan oleh Amerika?

10. Israel Sumber Agresor & Kerusakan.
Israel berada di belakang Amerika dan Uni Eropa dalam menolak kemanangan Hamas setelah memenangkan Pemilu secara demokratis bulan Januari tahun 2006. Bersama Amerika pula, Israel memasukkan Harakah Muqowamah Al-Islamiyah (Hamas) sebagai kelompok-kelompok “teroris”. Israel juga berada dibalik pelarangan setiap bentuk dialog dengan Hamas, meski kelompok ini menang Pemilu, sebagaimana diinginkan dunia Barat dan Eropa.

Sikap Amerika dan negara-negara Eropa dan Israel yang menolak Hamas menunjukkan betapa perdamaian dan demokrasi yang seringkali dielu-elukan Barat selama ini hanyalah sekedar slogan, tidak lebih. Mereka menggembar-gemborka n perdamaiandan demokrasi tetapi mereka menghianatinya sendiri. Kasus serupa juga terhadi di Aljazair tahun 1991 dan Somalia, ketika Islam memenangkan suara.

Al-Quran sangat jelas menyebut karakter “aggressor” dan ulah pembuat kerusakan ini. Sebagaimana firman Allah, “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan meyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. al-Isra’: 4].

[islamedia]

Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab

Jerusalem adalah kota suci bagi tiga agama besar di dunia –Islam, Yahudi, dan Kristen-. Karena latar belakang sejrah yang panjang, ratusan atau mungkin ribuan tahun, kota ini memiliki beberapa nama Jerusalem, al-Quds, Yerushaláyim, Aelia (Umar bin Khattba menyebut dengan nama ini dalam surat perjanjiannya), dll. semua nama tersebut mencirikan karakter dan warisan yang beragam. Kota ini juga merupakan tempat tinggal beberapa nabi, seperti: dari Nabi Sulaiman dan Nabi Daud hingga Nabi Isa ‘alahimussalam.

Di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau pun pernah menginjakkan kaki di tanah para nabi ini. Dalam suatu perjalanan dari Mekah menuju Jerusalem, kemudian dari Jerusalem menuju Sidratul Muntaha, perjalanan ini kita kenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Jerusalem tidak pernah menjadi bagian dari negeri Islam di masa hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, negeri penuh berkah tersebut baru masuk menjadi wilayah Islam pada masa Umar bin Khattab.

Perjalalan Menuju Suriah

Kekaisarabn Bizantium membuat sebuah relasi yang jelas dengan umat Islam di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak menginginkan agama yang baru saja berkembang di Selatan kekaisaran mereka ini masuk dan berkembang di teritorial Bizantium. Ketegangan dimulai pada Oktober 630 M, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 30.000 pasukannya menuju Tabuk, daerah perbatasan Kekaisaran Bizantium. Walaupun kontak fisik gagal terjadi, namun ekspedisi Rasulullah untuk menyambut serangan Bizantium di Tabuk menunjukkan era baru hubungan Madinah dan Bizantium.

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq (632-634 M), tidak terjadi kontak dengan wilayah kekuasaan Bizantium. Barulah pada masa Umar bin Khattab, Madinah mulai serius mengekspansi ke wilayah Utara menuju area kekuasaan Bizantium. Umar mengirim pasukan yang terdiri dari jawara-jawara Arab seperti Khalid bin Walid dan Amr bin Ash menuju Kekaisaran Romawi Timur ini. Perang ini dikenal dengan perang Yarmuk, perang yang terjadi tahun 636 M. Perang ini merupakan pukulan telak bagi Bizantium, sejumlah kota di Suriah berhasil jatuh ke tangan umat Islam, termasuk kota utama Damaskus.

Kedatangan umat Islam ke daerah tersebut disambut dengan baik oleh penduduk lokal, baik Yahudi atau Kristen, termasuk aliran yang ortodok yang meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan bukan hanya anak Tuhan. Mereka semua menyabut kehadiran dan era kepeminpinan Islam di wilayah mereka walaupun banyak perbedaan secara teologi.

 

Memasuki Jerusalem

Pada tahun 637 M, pasukan Islam sudah mendekati wilayah Jerusalem. Saat itu Jerusalem dibawah tanggung jawab Uskup Sophronius sebagai perwakilan Bizantium dan kepala gereja Kristen Jerusalem. Ketika pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota suci tersebut Sophronius tetap menolak untuk menyerahkan Jerusalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

Mendengar kabar tersebut, Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Jerusalem. Sang khalifah berangkat dengan hanya berkendara keledai dengan ditemani satu orang pengawal. Setibanya di Jerusalem, Umar disambut oleh Sophronius yang benar-benar merasa takjub dan kagum dengan sosok pemimpin muslim satu ini. Salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya.

Umar diajak mengelilingi Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa dimakamkan di

gereja ini). Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja namun Umar menolaknya. Umar khawatir kalau seandainya ia shalat di gereja tersebut, nanti umat Islam akan merubah gereja ini menjadi masjid dengan dalih Umar pernah shalat disitu sehingga menzalimi hak umat Nasrani. Umar shlat di luar gereja, lalu tempat Umar shalat itu dibangun Masjid Umar bin Khattab.

 

Perjanjian Umar bin Khattab

Sebagaimana kebiasaan umat Islam ketika menaklukkan suatu daerah, mereka membuat perjanjian tertulis dengan penduduk setempat yang mengatur hak dan kewajiban antara umat Islam Jerusalem dan penduduk non-Islam. Perjanjian ini ditandatangani oleh Umar bin Khattab, Uskup Sophronius, dan beberapa panglima perang Islam. Teks perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipakasa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerusalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuhi tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).

Penduduk Jerusalem diwajibkan membayar pajak sebagaimana penduduk kota-kota lainnya, mereka juga harus mengeluarkan orang-orang Bizantium, dan para perampok. Orang-orang Jerusalem yang tetap ingin tinggal di wilayah Bizantium, mereka boleh membawa barang-barang dan salib-salib mereka. Mereka dijamin aman sampai mereka tiba di wilayah Bizantium. Setelah itu mereka pun masih diperbolehkan kembali lagi ke Jerusalem jika ingin berkumpul dengan keluarga mereka, namun mereka wajib membayar pajak sebagaimana penduduk lainnya.

Apabila mereka membayar pajak sesuai dengan kewajiban, maka persyaratan yang tercantum dalam surat ini adalah di bawah perjanjian Allah, Rasul-Nya, Khalifah, dan umat Islam. (Tarikh at-Thabari).

Pada waktu itu, apa yang dilakukan Umar bin Khattab adalah langkah yang benar-benar maju dalam masalah pakta (perjanjian). Sebagai perbandingan, 23 tahun sebelum Jerusalem ditaklukkan umat Islam, wilayah Bizantium ini pernah ditaklukkan oleh Persia saat itu Persia memerintahkan melakukan pembantaian terhadap masayarakat sipil Jerusalem. Kejadian serupa terjadi ketika Jerusalem yang dikuasai umat Islam ditaklukkan pasukan salib pada tahun 1099 M.

Perjanjian yang dilakukan oleh Umar membebaskan penduduk Jerusalem beribadah sesuai dengan keyakinan mereka adalah pakta pertama dan sangat berpengaruh dalam hal menjamin kebebasan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan. Meskipun ada klausul dalam perjanjian yang mengusir Yahudi dari Jerusalem, klausul ini masih diperdebatkan (keshahihannya). Karena salah seorang pemandu Umar di Jerusalem adalah seorang Yahudi yang bernama Kaab al-Ahbar, Umar juga mengizinkan orang-orang Yahudi untuk beribadah di reruntuhan Kuil Sulaiman dan Tembok Ratapan, padahal sebelumnya Bizantium melarang orang-orang Yahudi melakukan ritual tersebut. Oleh karena itulah, klausul yang melarang orang Yahudi ini masih diperdebatkan.

Perjanjian tersebut menjadi acuan dalam hubungan umat Islam dan Kristren di seluruh bekas wilayah Bizantium. Orang-orang Kristen di wilayah Bizantium akan dilindungi hak-hak mereka dalam segala kondisi dan orang-orang yang memaksa mereka untuk mengubah keyakinan menjadi Islam atau selainnya akan dikenakan sangsi.

Menata Kembali Jerusalem

Setelah Jerusalem dikuasai oleh umat Islam, Khalifah Umar bin Khattab segera menata kembali kota suci ini dan menjadikannya kota penting bagi umat Islam. Umar memerintahkan agar area Kuil Sulaiman –area tempat Nabi berangkat menuju sidratul muntaha- dibersihkan dari sampah-sampah yang dibuang orang-orang Kristen untuk menghina orang Yahudi. Bersama para tentaranya dan dibantu beberapa orang Yahudi, Umar membersihkan wilayah tersebut kemudian merenovasi komplek Masjid al-Aqsha.

Selanjutnya, di masa pemerintahan Umar dan masa kekhalifahan Bani Umayyah Jerusalem menjadi kota pusat ziarah keagamaan dan perdagangan. Pada tahun 691 M, Dome of Rock (Qubatu Shakhrah) dibangun di komplek tersebut untuk melengkapi pembangunan al-haram asy-syarif. Lalu menyusul dibangun masjid-masjid lainnya dan institusi-instusi publik di penjuru kota suci ini.

Penaklukkan Jerusalem pada masa pemerintahan Umar bin Khattab di tahun 637 M benar-benar peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam. Selama 462 tahun ke depan wilayah ini terus menjadi daerah kekuasaan Islam dengan jaminan keamanan memeluk agama dan perlindungan terhadap kelompok minoritas berdasarkan pakta yang dibuat Umar ketika menaklukkan kota tersebut. Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, dan Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk pada pakta itu untuk sebagai solusi konflik antara umat bergama di sana.

 

 

Sumber: Lostislamichistory.com dan islamstory.com

KISAH MUSLIM