Taubati Keburukan Sekecil Apapun

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang kuasa menggilirkan siang dan malam kecuali Allah. Tiada yang mampu menciptakan dan memelihara segala yang ada kecuali Allah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisaa [4] : 79)

Saudaraku, hal ini perlu sering kali kita ingat kembali. Bahwa tidak ada yang membuat kita sengsara, tidak ada yang membuat kita celaka, tidak ada yang membuat kita resah dan gelisah selain dari keburukan diri kita sendiri.

Bahkan, bukan syaitan yang membuat kita celaka. Syaitan hanya membisiki saja, mengajak kita untuk berbuat maksiat. Sedangkan yang menentukan pilihan apakah kita akan mengikuti ajakan syaitan ataukah kita menolaknya, maka itu di tangan kita sendiri. Allah Swt memberikan kita kemampuan untuk memilih yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

Namun, yang membuat repot adalah kita lebih melihat keburukan orang lain sebagai ancaman bagi kita, daripada keburukan diri kita sendiri. Padahal keburukan yang kita lakukan sekecil apapun adalah bagaikan kita menebar paku di jalan yang pasti akan kita lewati, kita sendiri yang akan terluka karena menginjaknya.

Maka, jika kita merasa hidup kita banyak sulitnya, hati kita lebih banyak tidak bahagianya, lebih banyak orang yang menyakiti kita daripada yang menyayangi kita, maka langkah terbaik adalah muhasabah diri dan bertaubat. Sekecil apapun keburukan, taubatilah. Supaya Allah melapangkan jalan dalam hidup kita. Insyaa Allah. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Taubat yang Lengkap

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui setiap bisikan hati manusia, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang istiqomah di jalan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammmad Saw.

Saudaraku, kita perlu mandi untuk menjaga kebersihan diri. Sehari saja kita tidak mandi maka kita akan merasa tidak nyaman, begitu juga orang lain yang berada di dekat kita. Sehari saja kita tidak gosok gigi maka kita akan merasa tidak nyaman, begitu juga orang yang berada dekat dengan kita.

Seperti itulah gambaran jikalau kita banyak dosa. Meskipun baju kita bagus, penampilan kita keren, jikalau kita banyak dosa maka tetap saja kita tidak akan merasa nyaman dan tenang. Dan, orang lain pun akan merasa demikian karena aura kita tetap keluar. Maka, mandilah, bersihkanlah diri kita, bersihkanlah dengan taubat nasuha.

Dalam hadits qudsi Allah Swt. berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni engkau atas dosa apa saja yang ada padamu dan Aku tidak peduli sebanyak apapun dosamu itu. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli dengan dosamu yang banyak itu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatupun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR. Imam Tirmidzi)

Allah Yang Maha Baik telah berjanji bahwa Dia akan mengampuni kita jikalau kita memohon ampunan kepada-Nya atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Dan, Allah tidak mungkin inkar janji. Kita memelas, menyesali dosa dan memohon ampunan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, tidak menjadikan sesuatu selain Allah sebagai sandaran, inilah kuncinya.

Mengapa ada orang yang bertaubat namun tidak begitu berhasil taubatnya? Karena hatinya lebih sibuk dengan sesuatu selain Allah. Dia masih lebih senang dengan penilaian orang, masih sibuk mencari penilaian orang daripada penilaian Allah. Aneh, ketika memohon ampunan ia ingat kepada Allah tapi sehari-harinya ia sibuk mengingat makhluk. Hati-hati saudaraku, kesibukan kita mencari kedudukan di hati makhluk bisa membuat kita lupa mencari kedudukan di sisi Allah Swt.

Oleh karena itu, memohon ampunlah, bertaubatlah kepada Allah secara lengkap, yaitu dengan memohon ampunan, bertekad tidak mengulangi dosa seraya tidak mempersekutukan-Nya. Sungguh, setiap orang adalah tempat melakukan salah dan dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ampunan Allah Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Tobat Sarana Kesuksesan

Setiap insan mendambakan apa yang menjadi cita-citanya dapat tercapai. Untuk itu, ia mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya, baik berbentuk materi, tenaga, maupun pikiran. Tujuannya agar cita-citanya tercapai. Namun, setelah segala upaya dilakukan, tidak jarang cita-cita yang didambakannya tak kunjung tercapai, bahkan kegagalanlah yang diraihnya.

Penyebabnya bisa karena jalan yang ditempuhnya salah, terlalu percaya terhadap kemampuan diri sehingga melupakan Allah SWT, bisa juga karena tidak bersabar meniti tangga kesuksesan. Kegagalan ini terkadang membuat kita berputus asa.

Padahal, berputus asa merupakan perbuatan yang dilarang. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS Az-zumat [39]: 53).

Lantas, apa yang harus kita lakukan saat upaya kita meraih cita-cita diadang kegagalan? Bersegeralah bertobat kepada Allah SWT. Mengingat kembali apa yang telah kita lakukan, menyesali perbuatan salah yang pernah kita lakukan, bertekad memperbaikinya disertai memohon ampunan Allah SWT. Sebab, tobat merupakan sarana yang disediakan Allah SWT untuk menggapai cita-cita bagi orang-orang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya.

Penjelasannya, ketika kita bertobat akan menjadikan diri kita sadar atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan menyadari bahwa kita adalah makhluk lemah yang tidak memiliki kemampuan apa-apa bila tidak ada pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Kesadaran ini akan menjadikan kita memperbaiki diri dan selalu berdoa serta bergantung pada Allah SWT. Selain itu, ketika bertobat akan menjadikan diri kita rendah diri di hadapan Allah SWT dan rendah hati terhadap sesama. Hal inilah yang akan menjadikan kita mendapatkan pertolongan Allah SWT dan disukai serta dibantu sesama karena manusia sealalu memiliki perhatian dan ingin membantu orang-orang yang rendah hati.

Contoh nyata tobat sebagai sarana meraih kesuksesan dapat kita lihat dari kisah Nabi Yunus ketika beliau merasa gagal dan putus asa atas dakwah yang dilakukannya. Kisah ini tercantum dalam Alquran.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian, Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedangkan ia dalam keadaan sakit.

Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada 100 ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS ash-Shaffat [37]: 139-148).

Untuk itu, bila kita mengalami kegagalan dalam meniti cita-cita, janganlah kita berputus asa. Namun, hendaknya kita bersegera bertobat karena ia sarana yang disediakan Allah SWT untuk meraih kesuksesan yang tertunda. Allahu’alam.

 

OLEH Moch Hisyam

REPUBLIKA

Tobat Sehari Hapuskan Dosa Maksiat 40 Tahun

PADA zaman Nabi Musa, kaum Bani Israil pernah ditimpa musim kemaru yang panjang. Karena tidak kuat menanggung cobaan dari Allah itu, mereka berkumpul untuk menemui Nabi Musa dan berkata, “Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami.”

Kemudian berdirilah Nabi Musa a.s bersama kaumnya. Mereka berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumalah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

Kepada Nabi Musa, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya,”Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun.

Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”

Nabi Musa kembali berkata,”Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat di dengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang.”

Allah SWT berfirman,”Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka.” Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa a.s berseru kepada kaumnya,”Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini, karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT.”

Mendengar seruan dari Nabi Musa a.s itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian, tahulah dia bahwa yang dimaksudkan Nabi Musa itu adalah dirinya ssendiri. Karena itu dia ingin bertobat, tetapi ia ragu untuk mengakuinya di tempat itu.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka terimalah tobatku,” begitu doanya.

Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata,”Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah diantara kami tidak ada seorangpun yang keluar mengakui dosanya?”

Lalu Allah SWT berfirman,”Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu.”

Kemudian Nabi Musa berkata,”Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?”

Allah berfirman,”Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?”

Akhirnya Kaum Nabi Musa mengerti bahwa Allah Maha Pemaaf.Maksiat selama 40 tahun bisa dihapus dengan tobat sehari.[ ]

 

INILAH MOZAIK

Anjuran Shalat Taubat

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bersemangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mendekatkan diri pada-Nya, dan tidak terjerumus dalam kubangan maksiat. Namun bagaimana jika seseorang terlanjur terjerumus dalam dosa? Jawabnya, ia punya kewajiban untuk bersegera bertaubat dan kembali pada Allah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyunnahkan shalat taubat ketika seseorang benar-benar ingin bertaubat.[1] Berikut tuntunannya.

Shalat taubat adalah shalat yang disunnahkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab[2]. Hal ini  berdasarkan hadits Abu Bakr Ash Shiddiq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.[3]” (HR. Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)[4]. Meskipun sebagian ulama mendhoifkan hadits ini, namun kandungan ayat (Ali Imron ayat 135) sudah mendukung disyariatkannya shalat taubat.[5]

Shalat taubat ini bisa cukup dengan dua raka’at dan cukup niat dalam hati, tanpa perlu melafazhkan niat tertentu.

Kapan waktu pelaksanaan? Tidak ada keterangan waktu pelaksanaannya, boleh dilakukan siang atau malam hari. Bahkan di waktu terlarang untuk shalat sekalipun, seseorang boleh melakukannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ

“Demikian pula shalat taubat (termasuk shalat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalat[6]). Jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat taubat sebanyak dua raka’at. Lalu ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq.”[7]

Setelah seseorang mengetahui shalat taubat, ia pun harus memenuhi syarat-syarat taubat. Apa saja syarat-syaratnya? Secara ringkas dikatakan oleh para ulama sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir,

“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[8]

Secara lebih rinci, syarat-syarat taubat adalah:

1.  Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar, “Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.”[9] ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa taubat adalah dengan menyesal.[10]

3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa saat ini. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.

4.  Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan taubat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.[11]

5. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.[12]

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

 

Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu taat kepada-Nya dan menjauhi setiap dosa serta menjadikan kita hamba-hamba yang gemar bertaubat atas dosa yang tidak bosan-bosannya dilakukan. Amiin Yaa Mujibas Saailin.

RUMAYSHO

Jangan Berhenti Perbaiki Diri

SAUDARAKU, tidak selamanya hal yang terjadi sesuai keinginan kita. Padahal, bisa jadi kepala terbentur itu adalah hal terbaik daripada dielus-elus orang. Anehnya, kita hanya siap jika yang terjadi adalah hal-hal yang menyenangkan. Giliran tidak menyenangkan, kita cenderung menghindar.

Beberapa prinsip yang bisa dijadikan acuan agar bisa menerima semua ketentuan Allah,di antaranya:pertama, berani melihat kekurangan diri. Tanyakan pada diri apakah saya orangnya pemarah, kikir, pembenci? Jika iya segera perbaiki. Jangan malu-malu.

Kedua, manfaatkan orang terdekat yang berani mengatakan kekurangan langsung kepada kita. Istri, suami, anak-anak adalah orang-orangterdekat. Mereka jauh lebih tahu tentang diri dibandingkan oranglain. Orang lain bisa saja menilai bapak itu saleh, padahal tidak menurut penilaian istrinya.

Ketiga, kunjungi orang-orang yang lebih adil dalam menilai pribadi. Seperti kita pergi ke dokter. Dokter tidak bangga dengan penyakit yang kita derita,tapi ada keinginan mengobati kita. Pun datang ke ulama. Tidak serta merta mereka menertawakan kita,tapi membantu mendeteksi kekurangan kita.

Keempat. Manfaatkan dengan baik orang-orang yang tidak menyukai kita. Jangan takut kepada orang yang terus gigih mencari kejelekan kita. Simak baik-baik. Jika benar adanya,segera perbaiki diri. Cukuplah orang mengkritik kita. Ada punkita, sibuk memperbaiki diri. Mungkin hari ini kita sesuai dengan yang dihinakan, bisa jadi suatu saat orang pun melihat siapa yang menghina dan siapa yang dihina. Maka sebaik-baik atas penghinaan, kritikan jawabannya adalah memperbaiki diri.

Kelima, tafakuri kejadian di sekitar kita. Apapun yang terjadi adalah ilmu, masukandari Allah. Kalau ada orang yang akhlaknya kurang baik, pertanyaan pertama adalah saya mirip dia atau tidak. Kalau ada orang yang bicaranya jelek, saya mirip dia atau tidak. Kalau ada yang pelit,tanyakan hal serupa.Apapun yang jelek,kita harus tanya pada diri.Jangan-jangan, kitabisa jadi lebih jelek. Maka dari itu, kitabelajar sebagai bahan pembanding.

Jadisaudaraku, andaikan kita mendapatkan kekurangan, seperti saat kita dicemooh, itu lebih baik daripada dipuji-puji padahal banyak kekurangan. Salah satu kecintaan Allah adalah menunjukan kekurangan diri untuk diperbaiki. Marilah kita belajar mengurangi kerinduan untuk dipuji orang, ketakutan dihina orang. Mulai minimalisir mengharapkan sesuatu dari mahluk. Senanglah dipuji Allah, PemilikAlam Semesta ini. Wallahu alam bishshawab.[*]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2355632/jangan-berhenti-perbaiki-diri#sthash.rBM0ol9Y.dpuf

 

 

TIPS: Jangan lupa, carilah artikel mengenai Taubat dan Istigfar lainnya melalui kolom Pencarian ( masukkan keyword: taubat,tobat, atau istigfar)

Jangan Pernah Berhenti Tobat

NABI Muhammad Saw saja meminta ampunan Allah Swt hingga seratus kali sehari. Maka, marilah bertobat terus-menerus, dengan kesungguhan hati.

Saudaraku, sesungguhnya kita adalah makhluk lemah yang tiada pernah luput dari kesalahan. Setiap hari dosa-dosa kita lakukan. Baik dosa besar maupun dosa kecil. Namun, bukan besar-kecilnya dosa yang perlu kita waspadai. Yang penting kita waspadai adalah jikalau kita sampai meremehkan dosa.

Mari kita periksa hati kita, kita nilai diri kita sendiri dengan sejujur-jujurnya. Hari ini sudah berapa kali kita berburuk sangka kepada orang lain. Sudah berapa kali kita membicarakan keburukan orang lain. Sudah berapa kali kita mencibir dan memandang rendah orang lain. Atau, coba kita periksa juga diri kita hari ini, sudah berapa kali kita merasa bangga dan hebat karena perbuatan kita (ujub). Sudah berapa kali kita berbicara dengan tujuan didengar dan dipandang tinggi oleh orang lain (sumah). Sudah berapa kali hati kita meremehkan nasehat karena kesombongan kita.

Seandainya saja setiap perbuatan dosa kita mengeluarkan bau busuk, tentu saja tak akan ada orang yang sudi duduk di dekat kita. Anak kita tak akan mau berada di pangkuan kita. Pasangan kita tak akan mau berada di dekat kita. Akan tetapi, Allah Swt Yang Maha Pemurah masih menutupi semua dosa-dosa kita itu. Sehingga kita masih dihormati orang lain. Padahal mereka menghormati kita bukan karena kebaikan kita, tapi karena mereka tidak mengetahui keburukan-keburukan kita.

Betapa banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Hati kita yang awalnya putih bersih, kini sudah berlumur noda hitam legam karena bekas dari dosa-dosa yang kita lakukan. Oleh karenanya sahabatku, tiada pernah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda taubat. Tiada pernah ada alasan bagi kita untuk lalai memohon ampun kepada Allah Swt. Kita ini hanyalah manusia biasa. Bayangkan sosok mulia nana gung, kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw. Beliau yang sudah dijamin oleh Allah untuk bersih dari dosa-dosa(mashum)saja masih memohon ampunan Allah Swt setiap hari hingga seratus kali. Maka, kita seharusnya kita serius untuk bertobat terus-menerus.

Rasulullah Saw. bersabda,”Tidakkah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali.”(HR. An Nasai). Dosa-dosa yang kita lakukan akan meninggalkan noda hitam pada hati kita. Sehingga hati kita tidak mampu menangkap sinyal-sinyal kebenaran, tidak peka pada panggilan-panggilan kebaikan. Lalu, kita pun semakin tersesat di jalan yang gelap gulita. Apa yang akan terjadi jika kita berjalan namun mata tak mampu memandang jalan yang akan kita lintasi? Kemungkinan besar kita akan celaka.

Begitulah hati apabila penuh noda. Seperti mobil yangwipernya rusak, ketika kita mengendarainya dan di luar sedang hujan deras, kemudian kita tak mampu melihat jalan di depan kita, maka tentu kita akan gelisah. Karena kita takut celaka. Apakah kita gelisah karena tidak ada jalan? Tentu bukan! Jalan itu ada, namun kita gelisah karena tidak bisa melihat jalan. Sesungguhnya inilah yang terjadi ketika kita diliputi kegelisahan, kecemasan, ketidakbahagiaan. Itu adalah ciri bahwa hati kita kotor. Maka, marilah kita perbanyak taubat agar Allah Swt mengampuni dosa kita, sehingga tenanglah hati kita.

Karena sesungguhnya Allah Swt sangat suka kepada hamba-Nya yang gemar bertobat. Allah Swt berfirman,”…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”(QS. Al Baqarah [2] : 222).

Jika Allah Swt sudah menyukai hamba-Nya, maka niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepadanya sehingga selamat dalam kehidupan. Seorang ibu yang memandikan anaknya tiada lain bertujuan agar tubuh anaknya itu bersih dari berbagai kotoran. Semakin anak itu pasrah dan nurut kepada ibunya, maka semakin cepat tubuhnya bersih.

Demikian pula kita ketika bertobat kepada Allah Swt. Tak perlu macam-macam atas perintah dan larangan Allah. Nurut saja. Diperintah bertobat maka bertobat saja dengan kesungguhan hati. Sesungguhnya perintah dan larangan Allah tiada lain adalah bertujuan untuk kebaikan dan keselamatan kita.

Saudaraku, mari kita bertaubat secara serius, setiap hari, setiap saat, terus-menerus. Basahkan lisan dan hati kita dengan berdzikir dan beristighfar. Semoga Allah Swt. mengampuni setiap dosa-dosa kita. Aamiin yaa Allah yaa Mujibassaa-iliin. [*]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2379608/jangan-pernah-berhenti-tobat#sthash.OAh3hIa5.dpuf

Jangan Lewatkan Ramadhan dengan Taubat

Ramadhan merupakan bulan yang mengandung peluang emas untuk bertaubat kepada Allah ta’aala. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam berpuasa di bulan ini, maka Allah ta’aala akan mengampuni segenap dosanya sehingga ia diumpamakan bagai berada di saat hari ia dilahirkan ibunya. Setiap bayi yang baru lahir dalam ajaran Islam dipandang sebagai suci, murni tanpa dosa.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ

شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ

فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR Ahmad 1596)

Subhanallah…! Wahai para pemburu ampunan Allah ta’aala. Marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Alangkah baiknya di bulan pengampunan ini, kita semua berburu ampunan Allah ta’aala.

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunanKu agar Aku mengampuni kalian.” (Hadits Qudsi Riwayat Muslim 4674)

Marilah kita ikuti contoh teladan kita, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Beliau dikabarkan tidak kurang dalam sehari semalam mengucapkan kalimat istighfar seratus kali. Padahal beliau telah dijanjikan oleh Allah akan dihapuskan segenap dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Bahkan dalam satu riwayat beliau dikabarkan dalam sekali duduk bersama majelis para sahabat beristighfar seratus kali. Masya Allah…!

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya rabbku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)

Ibadah puasa Ramadhan ditujukan untuk membentuk muttaqin (orang bertaqwa). Sedangkan di antara karakter orang bertaqwa ialah sibuk bersegera memburu ampunan Allah ta’aala dan surga seluas langit dan bumi.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Dalam kitabnya “Yakinlah, Dosa Pasti Diampuni”, ‘Aidh Al-Qarni menulis mengenai pentingnya bertaubat sebagai berikut:

”Saya serukan kepada setiap insan untuk bergegas menuju pelataran Tuhan pemilik langit dan bumi. Dialah Allah ta’aala yang rahmat-Nya lebih luas dari segala sesuatu, dan pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka dari segala penjuru. Anda semua harus tahu bahwa suara yang paling merdu adalah suara orang yang kembali kepada Allah ta’aala, orang yang membebaskan diri dari penghambaan terhadap setan serta mengarahkan semua anggota tubuhnya menuju kepada Allah ta’aala semata. Melalui risalah ini, mari kita kenali cara kembali dan bertobat kepada Allah ta’aala dari segala dosa dan maksiat.”

”Manusia hanya memiliki satu umur. Jika disia-siakan, maka dia akan rugi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Pintu taubat selalu terbuka, anugerah Allah ta’aala selalu dicurahkan, dan kebaikan-Nya senantiasa mengalir, pagi dan siang.”

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa penghulu istighfar ialah ucapan seorang hamba: “Ya Allah, Engkaulah rabbku. Tidak ada ilah selain Engkau. Engkau telah menciptkanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dengan-Mu (bersaksi dengan tauhid) dan janji terhadap-Mu selama aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu terhadapku. Aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Engkau.” Siapa yang mengucapkannya dengan yakin di siang hari, lalu ia meninggal hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga. Dan siapa saja yang mengucapkannya dengan yakin di malam hari, lalu dia meninggal sebelum subuh, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)

 

 

sumber:Era Muslim

Antara Istighfar dan Taubat

Sebagian ulama berpendapat jika istighfar disebutkan terpisah dari taubat, maka makna istighfar adalah sebagaimana makna taubat, bahkan merupakan taubat itu sendiri. Demikianlah pendapat Ibnul Qayyim rahimahullah

Allah Ta’ala terkadang menyebutkan taubat secara terpisah dari istighfar, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ

Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.” (QS. Al-Maidah [5]: 39).

Demikian pula, Allah Ta’ala terkadang menyebutkan istighfar secara terpisah dari taubat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”(QS. Fushshilat [41]: 6).

Namun di ayat yang lain, terkadang Allah Ta’ala menyebutkan keduanya secara bersamaan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Huud [11]: 90).

Lalu, apa beda antara istighfar dan taubat dalam firman Allah Ta’ala di atas?

Jika Taubat dan Istighfar Disebutkan secara Terpisah

Sebagian ulama berpendapat jika istighfar disebutkan terpisah dari taubat, maka makna istighfar adalah sebagaimana makna taubat, bahkan merupakan taubat itu sendiri. Demikianlah pendapat Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau mengatakan,Istighfar yang disebutkan sendirian (terpisah dari taubat, pen.) memiliki makna taubat, bahkan taubat itu sendiri, yang terkandung di dalamnya meminta ampunan dari Allah, yaitu terhapusnya dosa, dihilangkannya dampak dosa, dan penjagaan dari keburukan dosa tersebut. Hal ini tidak sebagaimana sangkaan sebagian orang yang mengatakan bahwa ampunan adalah ditutupinya dosa kita. Karena Allah menutupi dosa orang yang memohon ampun kepada-Nya dan yang tidak memohon ampun kepada-Nya. Akan tetapi, ditutupinya dosa adalah konsekuensi dari diampuninya dosa atau sebagian dari konsekuensinya.(Madaarijus Saalikiin, 1/307-308).

Jika Taubat dan Istighfar Disebutkan secara Bersamaan

Jika taubat dan istighfar disebutkan secara bersamaan sebagaimana firman Allah,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubat kepada-Nya.”(QS. Huud [11]: 3).

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan istighfar adalah bertaubat dari dosa-dosa yang telah terjadi. Sedangkan yang dimaksud dengan taubat adalah istighfar dari dosa yang mungkin akan terjadi setelah dosa tersebut benar-benar terjadi.

Oleh karena itu, makna ayat menjadi, bertaubatlah kepada Rabb kalian atas dosa-dosa yang telah kalian lakukan, dan bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa yang akan kalian lakukan. Kata ثُمَّkemudian” dalam ayat di atas zahirnya menunjukkan waktu yang akan datang.

Ulama yang lain berpendapat, sesungguhnya istighfar terkadang digunakan untuk menunjukkan makna taubat. Maka yang dimaksud adalah istighfar yang diperintahkan, yaitu istighfar yang didahului dengan taubat, yang berarti penyesalan. Maka seolah-olah AllahTa’ala berfirman (yang artinya), Memintalah ampun kepada Tuhanmu setelah taubat (menyesal), kemudian bertaubatlah (yaitu, ikhlaslah dalam taubat dan istiqamahlah di atasnya.Ini sebagaimana pendapat yang dipilih oleh Al-Alusi rahimahullah.

Al-Alusi rahimahullah berkata,Sesungguhnya istighfar adalah taubat, sehingga kata ثُمَّ dalam ayat tersebut bermakna ‘dan’.” (Lihat Tafsir Al-Alusi, 11/207).

Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau merinci masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud adalah meminta perlindungan dari kejelekan (dosa) yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari kejelekan yang dia takutkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan kejelekan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan (maghfirah) akan melindungi diri kita dari keburukan dosa (yang telah terjadi). Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan (berupa maslahat atau kebaikan, pen.). (Madaarijus Saalikin, 1/308-309).

Pendapat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah inilah yang tampaknya lebih tepat. Karena seorang hamba wajib untuk memohon ampun kepada Allah terlebih dahulu dari dosanya untuk menghilangkan kejelekannya. Sehingga dia mendahulukan istighfar dari taubat. Tidaklah seorang hamba memiliki tekad berkaitan dengan kehidupan di masa mendatang (untuk tidak kembali berbuat maksiat) kecuali dengan menyucikan diri terlebih dahulu dari pengaruh dosa dan maksiat (yang telah lewat). Sebagaimana kata ulama,

التخلية مقدمة على التحلية

Membersihkan diri itu lebih utama daripada menghiasi diri.”

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk di antara hamba-Nya yang gemar untuk bertaubat. [1]

***

Selesai disusun ba’da maghrib, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 26 Jumadil Akhir 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari kitab At-Taubah, fii Dhau’il Qur’anil Kariim, Dr. Amaal binti Shalih Naashir, Daar Andalus Khadhra’, cetakan pertama, tahun 1419, hal. 81-86.

Artikel Muslim.Or.Id