Temukan Segala Sesuatu dalam Al-Quran

SEMALAM saya ceramah motivasi di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Amanah Jombang. Pagi ini sayapun isi kajian untuk santri di Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. Salah satu ayat yang saya bahas adalah ayat 38 surat nomor 6 (al-An’am): “Tidak Kami tinggalkan segala sesuatupun dalam kitab al-Qur’an ini.”

Ayat ini bermakna bahwa al-Qur’an menyimpan semua ilmu, semua bidang kehidupan. Tak ada yang tak tercakup dalam al-Qur’an. Pertanyaannya adalah sudahkah kita temukan jawaban dari al-Qur’an segala pertanyaan hidup yang kita hadapi?

Kalau belum kita temukan, berarti kita belum membaca dan memahami al-Qur’an dengan benar. Kalau kita temukan namun kita tak menggunakannya maka itu berarti kita telah meremehkan al-Qur’an dan merendahkan Allah.

Dalam ceramah itu, saya sampaikan beberapa contoh pesan al-Qur’an yang jarang diungkap sebagai sumber keilmuan kontemporer, mulai kesehatan atau kedokteran, teknologi penerbangan, fikih lingkungan dan fikih makanan. Penasaran? Kapan-kapan kita mengaji bersama.

Tak salah kalau kemudian Ibnu Arabi berkata “Murid adalah orang yang menemukan semua yang diinginkannya di dalam al-Qur’an.”

Nah, menjadi murid saja syaratnya berat seperti itu. Lantas bagaimana untuk menjadi guru ya. Saya belum pangkatnya menjadi guru. Menjadi murid dalam definisi di atas saja masih belum, karena yang kuinginkan belum semua kutemukan dalam al-Qur’an karena kebodohanku tentang al-Qur’an. Yuk kita mengaji bersama. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

Kiswah Ka’bah Dinaikkan, Tanda Dimulai Musim Haji Tahun Ini

Saban tahun, Kiswah, atau kain hitam yang menutupi Ka’bah dinaikkan dan bagian yang rentan kemudian ditutup dengan spanduk berwarna putih sepanjang dua meter.

Prosedur itu dilakukan setiap tahun sebagai tindakan pencegahan untuk mencegah Kiswah dari menjadi rusak. Kain Kiswah lazimnya disentuh oleh para Jamaah sedang mereka bertawaf, kata Direktur Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Ka’bah, Dr Muhammad Bajouda.

Kiswah dinaikkan setiap tahun sebagai simbol dimulainya musim haji, lapor situs Arab News.

Sebelum ini, Kiswah dinaikkan pada hari pertama Zulhijjah sebagai mengumumkan dimulainya ibadah itu.

“Dengan berkurangnya jumlah Jamaah, tanggal menaikkan Kiswah dikedepankan karena jumlah Jamaah sangat sedikit dan agak sulit untuk banyak jamaah datang pada waktu itu,” Dr. Muhammad dikutip Arabnews.

Namun dengan kondisi ekonomi yang membaik dan transportasi yang lebih baik, tanggal itu diubah ke pertengahan Zulkaeda, lapor Arab News.

Dia mengatakan jumlah Jamaah, yang melebihi dua juta, adalah salah satu alasan untuk menaikkan Kiswah, yaitu untuk memeliharanya.

Kiswah dinaikkan dari mataf, yaitu tiga meter dari ketinggian Ka’bah 14 meter. Saldo 11 meter masih terus menutupi Ka’bah sampai 12 haribulan Muharram, “kata Dr. Muhammad.

Kiswah akan dikonversi setahun sekali, pada musim haji, pada pagi hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Ia akan ditutup kembali sampai 12 Muharram, lapor Arab News.

Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah setiap tahun, semua bagian yang dihiasi sulaman emas dialihkan, “kata dia.

Sebagaimana diketahui, Kiswah adalah kain hitam dengan hiasan kaligrafi dari ayat-ayat Al-Quran dari benang emas yang menghiasi Ka’bah. Ketinggian mencapai 14 meter, panjang 47 meter dan berat hampir 700 kilogram. Setiap tahun Saudi mengganti Kiswah melalui acara khusus. *

 

HIDAYATULLAH

Ulama Menjadikan Pasar sebagai Sumber Pahala

PASAR– tempat mencari uang, bagi para sahabat dan ulama tabiin, bisa menjadi sumber pahala. Bukan karena mereka menjadikan pasar sebagai tempat ibadah, namun mereka memanfaatkan kelalaian manusia di pasar, di tempat kerja, untuk mengajak mereka dan mengingatkan mereka agar mengingat Allah.

Dari situ mereka berharap bisa mendapat pahala besar, karena mengingatkan manusia untuk taat kepada Allah, di saat mereka semua lupa Allah. Atau setidaknya, mereka menjadi manusia yang dekat dengan Allah, di saat semua orang lupa Allah.

Kita akan simak, bagaimana aktivitas orang-orang saleh itu, ketika di pasar. Pertama, keterangan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Beliau mengatakan,

“Sungguh aku berangkat ke pasar bukan karena butuh apapun, selain agar aku bisa menyampaikan salam dan diberi salam. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 26260).

Kedua, praktik Ibnu Sirin. Ulama tabiin, Muhammad bin Sirin, berguru kepada Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiyallahu anhuma. Salah satu kebiasaan Ibnu Sirin, beliau ke pasar di siang hari, untuk memperbanyak takbir, tasbih, dan mengingat Allah. Hingga ada orang berkomentar,”Hai Ibnu Sirin, jam segini di pasar anda rajin berdzikir?”

Jawab Ibnu Sirin, “Ini waktu banyak orang lalai (dari mengingat Allah).” (Hilyah al-Auliya, 2/272).

Ketiga, mereka ingat siksaan akhirat ketika di pasar. Ibnu Masud radhiyallahu anhu, setiap masuk pasar, lalu beliau melihat pandai besi menyalakan apinya yang menyembur, maka beliau menangis.

Seperti itu pula yang dilakukan Thawus. Setiap beliau di pasar melihat ada tukang sate yang membakar kepala kambing, malam harinya beliau tidak bisa tidur.Mereka ingat neraka ketika di pasar.

Keempat, mereka sedih, melihat kelalaian manusia ketika di pasar.Amr bin Qais, seorang ulama tabiin, muridnya Numan bin Basyir dan Abdullah bin Amr bin Ash.Ketika beliau melihat orang-orang sibuk di pasar, beliau menangis. Ia berkata, “Betapa mereka telah lalai dari apa yang dijanjikan untuk mereka.” (Hilyah al-Auliya, 5/102).

Inilah rahasia, mengapa shalat di waktu dhuha memiliki keutamaan khusus. Senilai 360 sedekah, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat muslim dari Abu Dzar radhiyallahu anhu. Karena shalat di waktu dhuha, tantangannya adalah kesibukan kita dalam bekerja.

Kelima, mereka rajin berdzikir di pasar. Abdullah bin Abi Hudzail. Pernah berguru kepada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Masud, Abu Hurairah dan beberapa sahabat lainnya. Beliau mengatakan,

“Allah mencintai ketika seseorang berdzikir di pasar. Karena ketika itu manusia sedang lalai. Sungguh aku datang ke pasar, tidak ada kebutuhan apapun selain untuk banyak berdzikir kepada Allah.”

Ada juga Humaid bin Hilal. Salah satu ulama tabiin. Beliau menasehatkan,

“Perumpamaan orang yang berzikir di pasar, seperti sebatang pohon hijau di tengah pepohonan yang mati.”

Hasan bin Soleh pernah masuk pasar. Beliau melihat berbagai aktivitas manusia, ada yang menjahit, ada yang buat roti, ada pandai besi. Lalu beliau menangis dan berkomentar,

“Perhatikan mereka. Semua sibuk sampai datang kematian. (Hilyah al-Auliya, 7/329).

Kisah Menakjubkan

Inilah arti penting kawan yang baik. Kawan yang mengingatkan anda untuk akhirat.Abu Qilabah ulama tabiin, muridnya Anas bin Malik dan Samurah bi Jundub. Beliau pernah bercerita,

Ada dua orang bertemu di pasar. Tiba-tiba, salah satu mengajak temannya,

“Kawan, mari kita berdoa kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, di tengah manusia yang sedang lalai. Semoga Allah mengampuni dosa kita.”

Lalu merekapun banyak berdoa dan memohon ampun kepada Allah.Hingga salah satu meninggal.Keesokan harinya, orang yang masih hidup ini bermimpi. Dalam mimpinya dia bertemu dengan temannya di pasar itu,

“Kawan, aku merasa, Allah telah mengampuni dosaku di hari ketika kita ketemu di pasar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 36842).

 

 

Sumber : Artikel Ustadz Ammi Nur Baits di Konsultasisyariah

Ketika Mubaligh tak Lagi Pancarkan Aura Sakral

SAAT televisi menjadi semacam tuhan baru, tak terelakkan jika budaya yang muncul adalah budaya massa, budaya pop.

Dalam kendali budaya pop, tak ayal media massa turut mengemas dakwah dan mubalighnya. Dalam budaya pop yang instan, kualifikasi mubaligh bukan pada keluasan ilmu, melainkan selera pasar. Bukan kefaqihan, tapi justru rating.

Karena itu jangan heran bila para mubaligh pun tak lagi memancarkan aura sakral. Yang ada hanya sinar lampu sorot, dan kilat kamera. Bukan min asyari sujud, melainkan polesan make up juru rias.

Pada saat seperti ini, kian terasa kita perlu para mubaligh yang istiqamah, para pewaris Nabi yang tekun menjalani jalan sunyi. Mereka yang senantiasa mengadukan setiap derita umatnya kepada Tuhan, dalam sepi dini hari. Dalam hening yang khusu’, jauh dari tepuk tangan dan sorot lampu.

 

MOZAIK

Bung Hatta Naik Haji, Kembang ‘Alfatihah’: Teladan yang Hilang!

Tak banyak diketahui orang, hari ini 12 Agustus atau lima hari sebelum peringatan hari ulang tahun kemerdekaan, merupakan hari ulang tahun salah satu bapak bangsa sekaligus proklamator, serta wakil presiden pertama Indonesa, Moh Hatta (Bung Hatta). Kalau beliau masih hidup kali ini adalah hari ulang tahunnya yang ke -115 (Bung Hatta lahir 12 Agustus 1902, wafat 14 Maret 1980).

Bila melintas kompleks makam beliau yang ada di bilangan Tanah Kusir, Jakarta, memang tetap seperti hari-hari biasa yang selalu tenang dan khidmad. Ingar-bingar jalan Tanah Kusir yang sepanjang waktu selalu ramai dan di siang hari hingga malam selalu macet, tak berpengaruh pada situasi area makam yang berada di tengah kompleks kuburan rakyat biasa itu.

“Bung Hatta berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bila meninggal, beliau ingin dimakamkam di kuburan biasa. Alasannya agar selalu dekat dengan rakyat,” begitu kalimat penyiar TVRI ketika menyiarkan secara langsung upacara pemakaman sang Proklamator. Kala itu, media massa baik radio maupun cetak pun ikut memberitakan wasiat Bung Hatta ini.

Dan kenangan ini melekat kuat, karena pada saat itu banyak orang tua dan dewasa yang menangis ketika menonton siaran televisi tersebut. Di layar televisi hitam putih yang pasokan daya listriknya masih memakai aki bekas truk, terlihat tayangan kerumunan masa yang berjajar di tepi jalanan, mengular dari pusat ibu kota hingga ke arah jalan pemakaman umum Tanah Kusir yang saat itu tempatnya bisa dikatakan berada di pinggiran Jakarta. Selama sepekan, pemerintah Indonesia menyatakan masa berduka dan bendera dikibarkan setengah tiang.

Nah, keharuan yang sama pun segera menyergap saat kemarin sore mendatangi permakaman itu. Dibandingkan dengan suasana pemakaman pasangan proklamatornya Bung Karno di Blitar, tak ada keriuhan yang terdengar di area makam cucu ulama besar Nagari Minangkabau, yakni Syekh Abdurrahman atau Syekh Batu Hampar, itu . Tak ada kerumunan peziarah, atau pasar suvenir yang ramai menjual aneka pernak-pernik barang kerajinan tangan yang mengesankan mengultuskannya.

Selain itu, tak ada penjagaan yang ketat. Situasi ini jangan dibandingkan dengan kompleks mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, atau makam filsuf sekaligus Bapak Bangsa Pakistan M Iqbal di Lahore. Di dua makam orang penting tersebut, penjagaan luar biasa ketat.

Di makam Iqbal yang lokasinya berada di dalam benteng kuno dan di samping Masjid Badhsahi peninggalan Kesultanan Mughal India, area makamnya dijaga selama 24 jam oleh tentara bersenjata dan berseragam lengkap. Yang akan masuk ke makam harus berbaris dan satu per satu berdoa di pinggir makam. Di atas pusara Iqbal selalu diletakkan seikat kembang. Dan di batu nisan tertulis: Makam pemikir besar maulana M Iqbal.

Namun, hal itu tak ditemui pada makam Bung Hatta yang bersisian dengan makam sang istri tercinta, Ibu Rachmi Hatta. Penjagaan terasa longgar dan pada siang hari kompleks makam selalu terbuka untuk dikunjungi.

Sedangkan, di atas nisan hanya tertulis kalimat pendek namanya, lengkap dengan gelar haji dan kesarjanaannya. Dan di bawah tulisan itu tertulis kata “proklamator dan wakil presiden Indonesia”. Di jendela kaca yang ada di bagian belakang makam hanya tergores tulisan kaligrafi bergaya kufi.

Uniknya, meski tak ada kesan kemewahan dan mengagungkan diri, setiap kali berziarah selalu ada seikat kembang yang ditaruh di atas nisan. Taburan bunga berwarna merah dan putih juga ikut terlihat di sana. Dan bila melihat kondisi kelopak bunganya yang masih segar, maka dipastikan bunga itu belum terlalu lama ditaburkan.

Tampaknya, pemilihan lokasi makam di “tempat biasa” atau bukan taman makam pahlawan memang tepat. Bung Hatta paham kalau makamnya berada di tempat khusus maka rakyat biasa akan susah menziarahinya.

Kesederhanaan itulah yang membuat batin rakyat biasa terasa mantap dan khidmat ketika memanjatkan doa, membacakan surah al-Fatihah, atau sekadar menabur bunga di atas pusaranya.

Entakkan ingatan soal sosok Bung Hatta kembali muncul ke benak publik, ketika sekitar setahunsilam  (24 Mei 2015), di salah satu talkshow televisi Guru Besar Fakultas Hukum UII Yogyakarta Prof Moh Mahfud MD kembali menyitir tulisan Bung Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita” yang terbit pada tahun 1960 dan dimuat pertama kali oleh Majalah Panji Masyarakat.

Mahfud dalam talkshow yang menyoal “Kontroversi Pemberian Gelar Pahlawan Kepada Soeharto” itu menukil tulisan tersebut yang di antaranya menyebut soal istilah “kudeta” dan “diktator” yang menjadi ancaman demokrasi saat kekuasaan negara berubah menjadi otoriter.

Mahfud mengingatkan agar sejarah dan politik tidak dilihat dalam kacamata hitam-putih.

Apa yang terjadi di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran hidup.

”Mungkin banyak yang tidak tahu ketika Bung Karno mengeluarkan dekrit membubarkan DPR, Badan Konstituante, Bung Hatta menulis buku Demokrasi Kita. Di situ Bung Hatta pun mengatakan Bung Karno itu (melakuka–Red) kudeta. Artinya, kalau ada yang mengatakan Soeharto melakukan kudeta, maka sebelumnya pun sama, sebelumnya pun sama,’’ kata Mahfud yang mencoba menjelaskan asal usul hadirnya rezim otoriter di Indonesia.

Dan bila kemudian menukil tulisan Bung Hatta yang saat itu dimuat di Majalah Panji Masyarakat, maka itu memang merupakan kritikan yang keras atas situasi negara meski dilakukan dengan pilihan kalimat yang santun. Akibatnya, tak beda dengan era rezim Orde Baru, pada saat itu rezim Sukarno yang tengah berada di puncak kekuasaan menjadi gerah, Majalah Panji Masyarakat pun diberedel.

Berikut ini cuplikan dari tulisan Bung Hatta dalam buku Demokrasi Kita yang menyebut soal “kudeta” dan “diktator” seperti yang disebut Mahfud dan ramai dibincangkan dalam talkshow yang digawangi wartawan senior Karni Ilyas itu:

.……. Kemudian Presiden Soekarno membubarkan konstituante yang dipilih oleh rakyat, sebelum pekerjaanya membuat Undang-undang Dasar baru selesai. Dengan suatu dekrit dinyatakannya berlakunya kembali Undang-undang Dasar tahun 1945. Sungguhpun tindakan Presiden itu bertentangan dengan Konstitusi dan merupakan suatu coup d’état (kudeta–Red), ia dibenarkan oleh partai-partai dan suara yang terbanyak didalam Dewan Perwakilan Rakyat.

Tidak lama sesudah itu Presiden Soekarno melangkah selangkah lagi, setelah timbul perselisihan dengan Dewan Perwakilan Rakyat tentang jumlah anggaran belanja.

Dengan suatu penetapan Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat dibubarkan dan disusunnya suatu Dewan Perwakilan Rakyat baru menurut konsepsinya sendiri. Dewan Perwakilan Rakyat baru itu anggotanya 261 orang, separoh terdiri dari anggota anggota partai dan separoh lagi dari apa yang disebut golongan fungsionil, yaitu buruh, tani, pemuda, wanita, alim-ulama, cendekiawan, tentara dan polisi. Semua anggota ditunjuk oleh Presiden.

Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki membuka jalan untuk lawannya diktatur. Seperti diperingatkan tadi, ini adalah hukum besi dari pada sejarah dunia.

Tetapi sejarah dunia memberi petunjuk pula bahwa diktatur yang bergantung kepada kewibawaan orang seorang tidak lama umurnya. Sebab itu pula sistim yang dilahirkan Soekarno itu tidak akan lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri.

Umur manusia terbatas. Apabila Soekarno sudah tidak ada lagi, maka sistimnya itu akan rubuh dengan sendirinya seperti satu rumah dari kartu…..

Akhirnya enam tahun kemudian apa yang ditulis Bung Hatta terbukti!

 

Sebagai cucu ulama besar, Hatta jelas paham mengenai apa yang dimaksud dengan istilah ‘wara’ dan ‘zuhud’ itu. Dua istilah ini sangat dikenal di dunia sufi atau tarekat serta dipakai untuk menyebut sebuah pribadi insan yang saleh secara pribadi dan soal, tidak tergila-gila gemerlap dunia, dan hidup sederhana.

Hal ini biasanya merujuk kepada kehidupan Nabi Muhammad SAW yang jauh dari suasana gemerlap. Rumah nabi di Madinah hanya berukuran 3 x 4 (seluas kamar kontrakan di Jakarta), hanya punya dua pasang pakaian, tidur dengan dipan pelepah kurma, kerap tak punya makanan atau meneruskan berpuasa setelah sebelumnya berbuka dengan tiga butir kurma dan meminum air putih, tak mengenakan perhiasan emas dan sutra (Rasul hanya memakai cincin besi dan berpakaian dari kain kasar), serta hanya memakan gandum olahan yang juga kasar.

Nah, dalam kehidupan nyata, kebiasaan pengikut tarekat seperti itu dijadikan acuan oleh Bung Hatta. Hingga wafat, tak ada skandal yang pernah dia lakukan. Tak ada uang negara yang dipakai tanpa hak. Bahkan, saking hati-hatinya, Hatta kerap harus menabung bila ingin membeli sesuatu, seperti misalnya keinginannya membeli sepatu Bally yang saat itu merupakan sepatu favorit dan berharga mahal.

Bila mengunjungi rumahnya yang berada di Jl Diponegoro (di seberang kantor DPP PPP atau di samping kediaman Kedubes Palestina) tak ada hal yang mewah yang akan dilihat. Dekorasi rumahnya sederhana. Yang ada hanya perabot biasa dan lemari berisi buku. Halamannya pun sempit dan tak ada taman atau pendopo yang luas atau bangunan garasi yang bisa dimuati banyak mobil.

Bahkan, beberapa tahun silam ada kehebohan yang muncul. Sang menantu Bung Hatta, Prof DR Sri Edi Swasono, sempat menyatakan ada tangan jahil yang menukar lukisan pemandangan yang ada di dinding “rumah tua” itu.

Menurut Edi, ada orang yang diam-diam menukar lukisan pemandangan karya pelukis kondang Basuki Abdullah. Indikasinya, setelah diperhatikan dengan saksama tiba-tiba terasa ukuran lukisan tersebut mengecil. Maka ia pun mencurigai ada pihak yang jahil pada karya lukis itu.

Kesederhanaan ini pun kemudian bersesuaian dengan cerita mengenai sikap Bung Hatta yang memilih pergi haji dengan cara membayar sendiri ongkosnya dari royalti penjualan buku karangannya.

Padahal, saat itu status Hatta adalah wakil presiden. Bahkan, Presiden Sukarno pun sudah menyediakan pesawat khusus serta membeberkan semua fasilitas kendaraan yang diperlukan Bung Hatta untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Namun, tawaran Presiden Sukarno pun dia tolak.

Menurut dia, urusan naik haji bukanlah urusan seorang pejabat negara dengan Allah, melainkan itu urusan seorang insan manusia biasa yang pergi ke Tanah Suci.

Maka, bila dirinya menunaikan ibadah haji ke Makkah, itu merupakan kepergian ibadah sebagai seorang Mohammad Hatta pribadi, bukan sebagai seorang wakil presiden.

Alhasil, apakah masih ada pejabat negara seperti itu sekarang? Jangankan bisa sedikit meniru sosok kesederhanaan hidup Nabi Muhammad SAW, mampu mengikuti jejak perilaku Bung Hatta saja kini merupakan hal yang langka.

Dalam soal urusan naik haji, misalnya, sudah dimafhumi bila banyak cerita yang beredar bahwa pejabat negara acap kali meminta jatah kursi kuota haji ke menteri agama. Di forum pengadilan kasus korupsi haji di KPK, misalnya, soal bagi-bagi kursi haji untuk pejabat negara di periode pemerintahan sebelumnya sudah banyak yang menyebut.

Selain itu, juga bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak pejabat negara masa kini yang hidupnya bergelimang dalam kemewahan, kaya raya layaknya “raja-raja kecil” di abad pertengahan Eropa. Rumahnya seperti istana, mobilnya berjibun, dana deposito serta uang yang tersimpan di rekening banknya menumpuk bahkan kerap disebut meluber sampai ke luar negeri.

Apakah zaman sudah berubah dan apakah akan datang Hatta-Hatta baru di negeri tercinta ini? Jawabnya: ya entahlah!

Namun, yang pasti, almarhum Bung Hatta telah membuktikan bahwa sosok orang saleh bukan hanya ada di dalam cerita komik. Dia benar-benar ada di kehidupan yang nyata.

 

IHRAM/REPUBLIKA

 

—————————————————————-
Download-lah Aplikasi CEK PORSI HAJI dari Smartphone Android Anda agar Anda juga bisa menerima artikel keislaman ( termasuk bisa cek Porsi Haji dan Status Visa Umrah Anda) setiap hari!
—————————————————————-

Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar?

ADA yang bertanya kepada Syaikh Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief, Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi di sekitarnya?

Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan lalu dikubur? Lalu apakah mayat tersebut dapat mendengarkan suara-suara disekelilingnya? Saya sempat membaca sebuah hadis yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar hentakan sandal orang yang menguburkannya. Benarkah?

 

Sang Syaikh menjawab sebagai berikut sebagaimana dituliskan kembali oleh laman muslimorid:

Keadaan asalnya, orang mati tidak dapat mendengar, berdasarkan firman Allah Taala:

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar (QS. An Naml: 80)

Allah Subhanahu Wa Taala juga berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar (QS. Ar Ruum: 52)

Juga firman-Nya: Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar (QS. Fathir: 22)

Serta ayat-ayat yang lain. Selain itu, mati itu seperti tidur. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa tidur adalah Al Wafaat Ash Shughra (kematian kecil). Firman Allah Taala:

Dan Allah-lah yang mewafatkan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari (QS. Al Anam: 60)

Dan kita tahu bersama, bahwa orang yang tidur tidak bisa mendengar orang berbicara padanya. Maka orang mati tentu lebih tidak bisa lagi.

Adapun orang mati dapat mendengar suara hentakan sandal ini merupakan pengecualian khusus dari keadaan asal, pengecualian ini dikarenakan terdapat dalil yang menyebutkannya. Wallahualam.[]

Sumber: http://www.alabdulltif.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=28121

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (3)

Menurut Al Ghazali, Umar bin Abdul Aziz sudah terbebas dari kegelisahan yang diakibatkan sebab-sebab dari luar dan dalam diri. Dia tidak lagi dicengkeram oleh kepedihan dan kesenangan demi mencapai tujuan-tujuan luhur yang lebih unggul.

Al Ghazali menulis, manusia diberi kehendak terbatas. Tergantung apakah ia akan mengenali wujudnya dengan mengutamakan diri dan kepentingannya atau mencampakkan kepentingannya dan mengidentifikasi diri secara khusus dengan Allah di dalam dan di luar dirinya.

Al Ghazali pun berpesan, Tuhan telah mengangkat Syahibul Islam sebagai seorang perdana menteri di Kerajaan Seljuk. Waktunya tiba bagi Syahibul Islam untuk menginginkan tingkatan lebih tinggi dari sekadar menjadi pejabat.

“Jika Anda memperolehnya dan merasa puas dengannya, Anda akan teralihkan dari tahap ini menu ju tahap lain yang lebih tinggi. Anda akan terpalingkan ke arah yang lebih terhormat dan akan diganjar dengan perasaan kecu kupan diri. ”

Untuk itu, Al Ghazali memberi wasiat agar manusia lepas dari ketergantungan ke pada selain Allah. Hawa nafsu ditanggalkan untuk bisa mengatasi yang lain-lain. Jiwa mesti sama sekali tenggelam di dalam uzlah dan menjadi tenggelam sehingga ia kembali ditemukan. Musuh yang sebenarnya ada pada dalam diri kita yang harus diperangi.

Ruh pengabdian sebenar nya menuntut agar kita bersyukur kepada Allah dalam kemakmuran dan bertawakal dalam kesengsaraan. Allah berfirman. “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka dengan itu bergembira. Karunia Allah dan rahmat- Nya itu adalah lebih baik dari apa yang me reka kumpulkan.” (QS Yunus:58).

Al Ghazali pun menyayangkan akan orang-orang yang menggantungkan kebahagiaan kepada manusia. Padahal, manu sia tempat mereka bergantung tidak luput dari kesalahan dan membuat kerusakan. Allah SWT pun membuat perumpamaan. “Per umpamaan orang-orang yang meng am bil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat ru mah. Dan, sesungguhnya rumah yang pa ling le mah adalah rumah laba-laba jika sa ja mere ka mengetahui.” (QS Al Ankabut: 41).

Menurut Al Ghazali, tidak ada satu pun kekuatan dan kekuasaan selain Allah. Pada zaman ini, manusia dipenuhi berbagai ke su litan dan kehinaan hanya karena ketergantungan mereka kepada dunia. Mereka tidak acuh kepada akhirat dan Hari Per hitungan yang pasti akan tiba. “Jika Anda lebih mempercayai Rabb Anda ketimbang manusia, Anda lebih setia kepada-Nya dan Dia benar-benar Rabb Anda.”

Lebih lanjut, Al Ghazali pun mendoa kan Syahibul Islam agar Allah menjadi kan nya selalu selaras dengan perintah-pe rintah dan keagungan rohani-Nya. Dia ber doa semoga Allah SWT memampukan perdana menteri untuk menyelenggarakan tugas-tugas seorang hamba Allah bagi orang yang tertekan. “Kekuasaan dan ke kuatan terletak di tangan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” (Disarikan dari buku Surat-Surat Al Ghazali kepada Pa ra Penguasa, Pejabat Negara dan Ulama kar ya Abdul Qayyum).

 

REPUBLIKA

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali untuk Penguasa (2)

Abu Hamid Muhammad Al Ghazali meneruskan surat-suratnya kepada penguasa. Kali ini, dia menulis surat kepada Yang Mulia Syihabul Islam, seorang perdana menteri dari Kerajaan Seljuk yang hidup sekitar abad ke-11. Imam Al Ghazali menasihati Syihabul Islam agar tidak terjebak kepada penyakit hati.

Al Ghazali menjelaskan, penyakit fisik dan penyakit hati adalah sesuatu yang berbeda. Penyakit yang paling umum terjadi dan berakibat fatal adalah penyakit hati. Menurut Al Ghazali, hanya dengan berzikir dan mengingat Allah penyakit hati itu bisa ditaklukkan.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada.” (QS Yunus :57).

Dengan mengingat Allah, hati manusia bisa menikmati kedamaian sejati. Menda pat kan kedamaian dalam hidup yang pe nuh keperihan adalah hal terbaik di antara semua. Di sisi lain, orang dengan hati yang telah mati tidak bisa mendatangkan ke akrab an dengan Allah SWT. Peringatan ha nya bisa dirasakan oleh orang-orang ‘ber hati’.

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.” (QS Qaf:37).

Pada surat lainnya, Al Ghazali mendorong agar sang perdana menteri bisa menanjak ke capaian sejati yang lebih tinggi. Menurut sang imam, ada dua jenis maqamat atau kebijakan capaian. Pertama adalah kebenaran, kedua adalah kesalahan. Seseorang yang mengangkat dirinya menuju Dia akan mendapatkan kebenaran.

Yang menilai objek-objek duniawi lebih daripada-Nya tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kepalsuan. “Dan orang yang menghalangi pandangannya untuk mengingat Yang Maha Pemurah kami tu run kan kepadanya setan yang akan men jadi temannya.” (QS Az Zukhruf:36).

Al Ghazali lantas menukil kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai sosok moralis praktis. Sebelum berkuasa, ketika sepotong pakaian berharga seribu dinar dibawa kepadanya, Umar berkata: “Aduh, pakaian ini terlalu kasar untuk kupakai.” Namun, setelah berkuasa, jika sepotong pakaian seharga lima rupee dibawa kepadanya, ia akan berkata: “Pakaian ini terlalu baik untuk kupakai.”

Umar, kata Al Ghazali, lantas mengungkapkan, betapa inginnya dia mengenakan pakaian dari karung yang sedemikian kasar. Umar bertamsil, dengan memegangnya saja, kulit tangannya akan tergores di sana-sini.

Sebelum pengangkatannya sebagai khalifah, dia memiliki cita rasa sedemikian halus sehingga tidak bisa berpuasa dengan apa yang diperolehnya. Dia pun selalu berupaya untuk mendapatkan hal yang lebih baik.

“Tetapi, setelah pengangkatan, saya mengikuti suatu disiplin yang keras dan menjalani kehidupan yang begitu sederhana dan prihatin sebagai seorang fakir paling miskin. Saya selalu ingin sedikit saja dan saya selalu mendapatkan yang sedikit dari yang saya ingini itu.”

 

REPUBLIKA

Nasihat-Nasihat Imam Ghazali Untuk Penguasa

Nizamuddin Fakhrul Mulk merupakan seorang perdana menteri dari Kesultanan Seljuk yang mengangkat Abu Hamid Muhammad Al Ghazali sebagai seorang mufti di Baghdad. Tidak hanya itu, Al Ghazali pun diberikan posisi sebagai seorang rektor di Universitas Nizamiah.

Meski demikian, sang imam tidak ragu untuk mengingatkan Nizamuddin agar selalu bertakwa kepada Allah SWT. Kepada Nizamuddin, Al Ghazali mengingatkan untuk menghindari pemakaian gelar-gelar yang sifatnya memuji. Dia pun mengutip salah satu sabda Rasulullah SAW. “Saya sebagaimana juga orang-orang yang rendah hati dan takwa di antara umatku, membenci gelar-gelar dan julukan yang muluk-muluk.”

Imam Al Ghazali mengungkapkan makna sebenarnya dari seorang Amir. Al Ghazali menjelaskan, Amir memiliki arti harfiah di dalam Islam, yakni seseorang yang dapat menguasai nafsu dan syahwatnya secara mutlak. Bagi Al Ghazali, hanya orang dengan keutamaan Amir sejati yang menjadi Amir sesungguhnya meski semua manusia tidak memanggilnya dengan sebutan Amir. Sebaliknya, seorang tanpa kualitas Amir bukanlah Amir sesungguhnya meski dia dipanggil Amir.

Dalam suratnya yang kedua, Imam Al Ghazali mengingatkan kepada Nizamudin tentang bencana besar yang akan terjadi jika dia menunjuk seorang hakim ber akhlak buruk. Mereka pergi ke Tanah Suci di Makkah, tetapi saat berada di Baghdad, mereka menghabiskan hari-harinya de ngan anggur dan objek kesenangan yang haram.

Menurut sang imam, peradilan merupakan lembaga yang diharapkan dapat menyelenggarakan tugas-tugas warisan Nabi SAW. Hakim-hakim pun dituntut untuk mengambil keputusan sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah. Dia mesti mengadili sesuai dengan ajaran Allah tentang keadilan yang diwahyukan dalam Alquran.

“Jika Anda tidak mau luput dari kasih sayang dan penghargaan sejati yang semestinya Anda berikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan berkehendak untuk melayani orang-orang Islam dengan hati yang ikhlas, tentu Anda hanya akan mengangkat seseorang yang sudah dikenal rasa tanggung jawab, ketulusan dan kesalehannya untuk menempati jabatan hakim.”

Imam Al Ghazali pun memberi gambaran bahwa salah satu tugas utama hakim adalah menjaga hak milik anak yatim. Jika seorang hakim tidak melaksanakan tugastugas dengan jujur dan tulus terhadap anak yatim, bagaimana dia bisa diharapkan untuk melaksanakan keadilan secara baik terhadap orang lain. Lain halnya hakimhakim jujur dan saleh. Dengan keputusan mereka yang baik, mereka akan menghibur orang-orang patah hati. Hakim-hakim ini pun akan menaungi orang-orang miskin tertindas yang dicampakkan oleh ketidakadilan dan kejahatan pegawai negara.

Dalam surat lainnya, Imam Al Ghazali menekankan keharusan penguasa untuk memihak kepada rakyat miskin. Di dalam surat ini, secara khusus imam Al Ghazali meminta Nizamuddin untuk bertafakkur selama satu hingga dua jam. Perdana men teri itu diminta untuk bertafakur tentang orang-orang miskin yang darah dan ke ringat nya telah dihisap oleh pegawai-pe gawai pemerintah. Imam berjuluk Hujjatul Islam ini pun merumuskan satu doa untuk dibaca oleh Nizamuddin.

‘Ya Rabbi! Saya berdoa kepada-Mu un tuk melindungi saya dari kejahatan-kejahatan yang Engkau ketahui. Pencipta se gala, Yang Maha Kuasa dan bijaksana, ban tulah saya di dalam zikir kepada-Mu, dan agar menjadi orang yang sungguh ber syukur kepada-Mu atas keadaan saya se karang dan apa yang saya harapkan ter jadi. Penguasa bumi, Yang Mempunyai Kerajaan Yang Kekal dan Yang Kedau lat an-Nya Abadi, kasihanilah raja-raja yang kerajaannya berada di tepi bencana yang paling mengerikan. Bangunkan dia dari tekanan jiwa, dan mampukan dia untuk bekerja dengan jujur dan penuh semangat bagi rakyat banyak, baik secara moral maupun ekonomi. ‘

‘Tahun-tahun saya diliputi dengan kegelisahan tentang masa depan Kerajaan Seljuq. Engkau adalah penolong bagi orang yang menderita dan penawar semua kegetiran. Tawarkanlah kegelisahan-kegelisahan saya. Jika tidak Engkau ulurkan kasih- Mu kepada diri yang ikhlas seperti ini, tidak akan ada lagi bantuan lain bagi suatu jiwa yang patah, dan tidak ada lagi pelipur bagi hati yang terluka.’

Al Ghazali pun berkata, sedikit kemurahan di dalam kerajaan duniawi ini di anugerahkan kepada abdi-abdi-Nya. Rasa syukur terbaik yang bisa disampaikan ada lah dengan menegakkan kebenaran, menghapus kekejaman, dan penindasan. Ber belas kasih kepada orang-orang yang hina dan miskin. Allah SWT pun telah meng isyaratkan ini di dalam Alquran. “Hai Daud! Sesungguhnya Kami jadikan kamu khalifah di muka bumi. Maka, berilah ke putusan di antara manusia dengan adil. Dan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS 38:26).

Dalam surat terakhirnya kepada Niza muddin, Imam Al Ghazali mengungkapkan, penolakannya untuk kembali menerima jabatan sebagai imam besar di Uni versitas Nizamiah di Baghdad. Al Ghazali mengaku, sudah bahagia berada di Thus. Berkumpul dengan murid dan keluarga nya. Jika pergi ke Baghdad, Al Ghazali mengatakan, kepergiannya itu hanya akan didasari satu di antara dua alasan. Perta ma, demi kekayaan dan kemuliaan dunia wi. Kedua, demi menambah prestasi-pres tasi keagamaannya.

Lagi pula, Imam Al Ghazali mengung kapkan, dia telah mengucap janji saat me ngunjungi makam Hadrat Ibrahim AS. Per tama, dia tidak akan mendatangi istana raja. Kedua, tidak akan menerima segala bentuk pembayaran dari pemerintah. Ke tiga, tidak akan menyibukkan diri dalam segala bentuk perselisihan keagamaan. (Disarikan dari buku Surat-Surat Al Gha zali Kepada Para Penguasa, Pejabat Nega ra dan Ulama karya Abdul Qayyum).

 

REPUBLIKA