Bocah Nigeria Jadi Hafiz Alquran di Usia Tiga Tahun

Emir Zazzau (Emirat Zaria) di negara bagian Kaduna di Nigeria, Alhaji Shehu Idris, memberikan penghargaan atas keunggulan yang dimiliki seorang murid bernama Muhammad Shamsudeen. Sang anak dianugerahi penghargaan karena mampu menghafal Alquran dalam usia tiga tahun.

Pada 2016 bertepatan dengan usia tiga tahun, Shamsudeen menghafal Alquran secara lengkap. Hal ini membuatnya lolos untuk berpartisipasi dalam kompetisi internasional di Arab Saudi.

Dalam kompetisi itu, ia berada di urutan kedua. Kini, Shamsudeen telah berusia lima tahun.

Karena kemampuannya itulah, Emir baru-baru ini memberikan penghargaan kepada anak laki-laki tersebut di istananya di Zaria. Emir, yang berbicara melalui salah satu pemimpinnya, Alhaji Shehu Garba, mengatakan kepada keluarga Shamsudeen dan para simpatisan istananya akan terus mengakui dan menghargai keunggulan yang dimiliki warganya.

Pemimpin tradisional berusia 80 tahun ini memuji orang tua sang anak dan sekolahnya karena membantunya menghafal Alquran dalam waktu kurang dari dua tahun. Selain itu, juga karena mewakili Nigeria dalam kompetisi internasional.

“Emirat Zazzau bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberkati kami dengan anak kecil yang luar biasa ini. Anak lelaki dan sekolahnya telah bekerja dengan baik dan itulah mengapa kami menghormati mereka hari ini di istana,” kata Alhaji Shehu Idris, dilansir di Nigerian Tribune, Jumat (29/6).

Sang Emir mengatakan, emirat ini akan terus mengakui dan mengapresiasi kemampuan keunggulan di semua level dan di seluruh tingkatan usia. Ia mengaku bangga dengan Shamsudeen, yang telah mewakili Negara Bagian Kaduna dengan baik di tingkat lokal, nasional dan internasional.

“Kami memuji ibunya yang telah ada untuknya sejak dia kehilangan ayahnya pada usia enam bulan. Kami juga berterima kasih kepada Kelompok Sekolah Profesor Internasional, di sini di Zaria, terutama manajemen dan para guru dari Shamsudeen atas pekerjaan baik yang mereka lakukan,” katanya.

 

REPUBLIKA

Aturan Daftar Haji Setelah 10 Tahun Tidak bagi Pembimbing Ibadah

Kementerian Agama telah menerbitkan aturan bahwa jamaah yang sudah pernah berhaji, tidak diperkenankan mendaftar lagi, kecuali setelah 10 tahun. Namun, aturan ini tidak berlaku bagi pembimbing ibadah haji.

Hal ini disampaikan Kasubdit Dokumen Haji Nasrullah Jassam saat Sosialisasi Peningkatan Pelayanan Jamaah Haji di Arab Saudi 1439H/2018M di Medan, Sumatera Utara.

“Jamaah pernah haji, baru boleh daftar lagi setelah 10 tahun. Aturan ini tidak berlaku bagi pembimbing,” tegasnya di Medan, Jumat (29/06/2018) lansir Kemenag.

Meski demikian, lanjut Nasrullah, sejumlah ada persyaratan yang harus dipenuhi bagi pembimbing ibadah haji. Pertama, pembimbing ibadah mendapat rekomendasi dari KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang berizin dan masih berlaku.

Kedua, memiliki sertifikat pembimbing yang dikeluarkan oleh Kemenag. “Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah menargetkan melakukan sertifikasi bagi 5.000 pembimbing haji,” ujarnya.

Ketiga, calon pembimbing itu memiliki jamaah yang akan dibimbing minimal 45 orang. “Itu dibuktikan dengan daftar nominatif yang dilegalisir Kemenag Kab/Kota,” ujarnya.

Keempat, nama pembimbing telah ditetapkan dalam SK Kepala Kankemenag Kab/Kota.

“Jika keempat syarat ini terpenuhi, pembimbing ibadah bisa langsung mendaftar tanpa harus menunggu 10 tahun dari hajinya yang terakhir,” tandasnya.*

 

HIDAYATULAH

Menomorsatukan Allah Kebutuhan Rezeki Terpenuhi

SEBAGAI makhluk hidup tentu kita mengharapkan hidup dengan layak dengan rezeki yang berkecukupan tentu dengan rezeki yang berkah. Dan dalam Islam kita diminta berjuang dan bekerja keras mencari rezeki Allah berada di segala penjuru arah.

Rezeki berlimpah tidak didapat hanya dengan usaha atau ikhtiar, terlebih lagi bila kita menginginkan rezeki bisa membawa berkah atau kebaikan dalam hidup kita. Maka dari itu selain dengan usaha atau ikhtiar, rezeki berlimpah dan penuh berkah bisa kita jemput dengan melakukan banyak ibadah sebagai bentuk pendekatan diri pada Illahi. Seperti bunyi sebuah hadis:

“Wahai Bani Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki.” (HR Hakim).

Karena pada dasarnya, ibadah dan semua kebaikan yang kita lakukan tentu hanya ingin berharap rida Allah untuk kehidupan kita, sekiranya Allah memberikan kita rezeki yang penuh berkah. Keberkahan yang bukan hanya untuk kita, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita.

Tapi sesungguhnya, harta dan kenikmatan dalam hidup kita semata hanyalah titipan yang sebenarnya bila kita bisa menyadari, Allah sedang menguji kita dengan semua harta dan kenikmatan tersebut. Kita jangan pernah sampai terlena dengan materi dunia, apalagi bila rezeki tersebut malah menjauhi diri, hati, pikiran juga langkah kita dari-Nya. Sungguh Allah sangat membenci hal tersebut.

“Wahai Bani Adam, jangan menjauh dari-Ku. Sebab jika kalian menjauh dari-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dunia” (HR Hakim)

Naudzubillah, jangan sampai Allah memenuhi kedua tangan kita dengan kesibukan dunia, tanpa sedikit pun mengingat-Nya. Padahal roh dalam diri ini adalah pemberiannya, sangat tidak adil bila kita sombong dengan menomorsatukan urusan dunia di atas segalanya.

Yakinlah, lebih dari rezeki yang kita butuhkan akan Allah berikan, bila kita selalu menomorsatukan-Nya dalam setiap hela napas kita, dalam setiap langkah kita, dalam setiap kedipan mata kita, dan selalu mencintaiNya dalam hati dan jiwa kita.

 

INILAH MOZAIK

11 Fakta dan Keuntungan Orang Bertakwa

ALLAH SWT menciptakan manusia untuk beribadah. Ibadah, menurut Alquran, adalah jalan lapang bagi manusia untuk memperoleh ketakwaan. Tapi apa sebenarnya takwa? Apa keuntungan orang yang bertakwa?

Apa rahasia di baliknya? Berikut 11 fakta dan keuntungan tentang takwa menurut Alquran:

1. Takwa adalah wasiat (perintah) Allah untuk seluruh umat manusia.

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)

2. Takwa adalah perisai penjagaan dari tipu daya setan.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (Ali Imran: 120) .

3. Takwa adalah jalan untuk memperoleh solusi kehidupan dan rezeki yang tidak terduga-duga.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3)

4. Takwa adalah media untuk mensucikan diri dari semua kekurangan dan aib.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (Al-Ahzab: 70-71)

5. Takwa adalah jalan untuk menjadi kekasih Allah.

“Maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 76)

6. Takwa adalah syarat diterimanya amal manusia.

“Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27)

7. Takwa adalah salah satu kendaraan menuju kemuliaan.

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)

8. Takwa adalah media untuk memperoleh bimbingan Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan Memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu.” (Al-Anfal: 29)

9. Takwa adalah penyelamat dari siksaan.

“Kemudian Kami akan Menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 72)

10. Takwa adalah pintu terbukanya ilmu pengetahuan.

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

11. Takwa akan mendatangkan kebulatan tekad.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (Ali Imran: 186). [Islam Indonesia]

 

INILAH MOZAIK

Sudahkah Anda Merasakan Lezatnya Ibadah?

MENGAPA para ulama dan salafus saleh di zaman dulu mampu melakukan amal ibadah yang membuat kita saat ini berdecak kagum? Salah satunya, karena mereka telah merasakan kenikmatan ibadah.

Di bawah ini beberapa hal yang berhubungan dengan kelezatan ibadah

1. Kelezatan ibadah adalah nikmat Allah dan sekaligus balasan amal ibadah di dunia.

Berkata Ibnu Taimiyah, “Apabila kamu belum mendapatkan balasan amal berupa kenikmatan dalam hatimu, kelapangan dalam dadamu maka curigailah amalnya, maka sesungguhnya Allah Maha Syukur, yaitu Dia harus memberi balasan orang yang beramal atas amalnya di dunia berupa kenikmatan dalam hatinya. Juga kekuatan, lapang dada, dan kesenangan. Maka jika dia belum mendapatkannya, maka amalnya pasti rusak.”

Dalam Tahdzib Madarijus Salikin hal: 312, beliau juga berkata: “Sesungguhnya di dunia ada jannah, barangsiapa yang belum memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki jannah di akhirat.” Demikian pula dalam Al Wabil ash Shoyib Minal Kalim ath Thoyib, hal: 81

2. Sebab-sebab mendapatkan kelezatan ibadah

a. Mujahadatun nafs di atas ketaatan kepada Allah sehingga dia terbiasa taat, kadang kala jiwa maunya lari dari mulai menjalani mujahadah.

Berkata seorang salaf: “Aku senantiasa menuntun jiwaku kepada Allah, sedangkan dia dalam keadaan menangis hingga aku selalu menuntunnya sedangkan dia keadaan tertawa.”

b. Jauh dari dosa, dosa kecil maupun besar. Maka sesungguhnya maksiat adalah penghalang yang mencegah dari merasakan kelezatan ibadah karena ia akan mewariskan kerasnya hati, kasar dan kebengisan.

Berkata seorang salaf: “Tidaklah Allah menimpakan kepada hamba siksa yang lebih besar melainkan kerasnya hati.”

b. Meninggalkan berlebih-lebihan dalam makan, minum, ngobrol dan mengumbar pandangan.

Berkata seorang salaf: “Kesenangan hati dalam sedikit dosa, kesenangan perut dalam sedikit makan, kesenangan lisan dengan sedikit bicara.”

c. Hendaklah hamba menghadirkan hati bahwa ibadah yang dilakukan dalam rangka taat untuk Allah dan hanya mencari rida-Nya, dan bahwa ibadah ini dicintai Allah, diridai dan bisa mendekatkan dirinya kepada-Nya.

d. Hendaklah hamba menghadirkan hati bahwa ibadah ini tidak sia-sia dan hilang begitu saja seperti harta. Dia sangat membutuhkannya, akan mendapatkan buahnya di dunia dan di akhirat. Maka barangsiapa yang menghadirkannya, dia tidak mempermasalahkan apa yang tidak didapat di dunia. Dia menyenangi ibadah dan mendapatkan kenikmatannya.

3. Perbaiki ibadah Anda segera. Hal itu bisa dilakukan dengan berusaha:

-agar kita salat dengan khusyuk’

-agar kita baca Alquran dengan tadabur (memikirkan dan memahami)

-agar hati kita tidak lalai dalam zikir dan doa

-agar kita bisa menikmati jalan dakwah dan jihad. []

Sumber: Kiriman pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Madiun.

Pernah Temukan Uang atau Barang di Jalan?

KITA mungkin pernah menemukan sesuatu barang di jalan dan mengambilnya. Bagi orang yang berbaik hati, mereka akan mencari tahu pemiliknya dan mengembalikannya.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak bertanggung jawab, mereka akan mengambilnya untuk kepentingan pribadi mereka. Mereka tidak peduli kalau barang yang mereka temukan adalah hak dan milik orang lain, apalagi barang tersebut berupa uang yang tidak sedikit jumlahnya yang tergeletak begitu saja di jalan. Lantas bagaimanakah hukum menemukan uang atau barang di jalan?

Barang temuan dalam fiqih disebut dengan luqothoh. Luqothoh mempunyai empat bahasa, yaitu:

– Luqoothoh (huruf qof dibaca panjang)
– Luqthoh
– Luqothoh (huruf qof dibaca pendek)
– Laqotho

Luqothoh menurut syara adalah: “sesuatu yang berupa harta yang ditemukan di suatu tempat yang tempat itu tidak ada pemiliknya atau barang yang dikhususkan yang tersia-sia disebabkan jatuh atau lupa dan semisalnya”.

Apabila barang yang ditemukan berada di tanah orang lain, maka barang tersebut tidak dikatakan luqothoh (barang temuan), melainkan adalah milik orang yang memiliki tanah, ketika orang yang memiliki tanah tersebut berdakwa bahwa barang tersebut adalah barangnya. Apabila ia tidak berdakwa memiliki, maka barang tersebut adalah milik orang yang memiliki tanah tersebut sebelumnya dan seterusnya. Apabila tidak ada yang berdakwa memiliki, maka baru bisa dikatakan luqothoh.

Disunnahkan bagi orang yang merasa bisa menjaga amanahnya untuk mengambil barang temuan (Barang yang ditemukan adalah amanah bagi yang menemukannya). Dalam hadits disebutkan: “Allah selalu menaungi (menolong) abdinya selama abdi tersebut menaungi (menolong) saudaranya”. (HR. Muslim)

Sebab disunnahkannya karena memang itu adalah hanya sebuah amanah bagi yang menemukan. Namun, bagi orang yang merasa bisa menjaga amanah, apabila tidak mau mengambilnya, ia terkena hukum makruh seperti apa yang telah dikatakan oleh Imam Al-Mutawalliy dan Imam lainnya.

Bahkan, ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang merasa bisa menjaga amanah atas barang temuan tersebut wajib mengambilnya untuk kemudian dicari tahu pemiliknya (diumumkan) dengan cara yang telah di atur oleh syara. Adapun bagi orang yang fasiq, dimakruhkan untuk mengambil barang yang ia temukan.

NB: Maksud dari orang yang takut tidak bisa menjaga amanah adalah ia takut setelah mengambil barang temuan akan berkhianat nantinya.

Dari keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum menemukan uang atau barang di jalan adalah sunnah (pendapat lain wajib) apabila orang yang menemukan uang atau barang tersebut percaya bahwa dirinya bisa menjaga amanah.

Apabila merasa tidak bisa percaya akan bisa menjaga amanah (nanti setelah mengambilnya), maka tidak disunnahkan untuk mengambil barang temuan tersebut. Namun, menurut qoul (pendapat) yang lebih kuat, ia boleh mengambilnya, karena belum pasti ia akan khianat atau tidak nantinya. [Mughni Al-Muhtaaj]

 

INILAH MOZAIK

 

Pelajaran Membutakan dari Abdullah

Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku “Mufakat Firasat”, dan “Nuun, Berjibaku Mencandu Buku”.

Namanya hadir diingat karena kecintaan untuk berjihad walau kedua matanya tak dapat melihat. Tersebab “protes” atas dasar cinta sebab tak tergolong mereka yang siaga berjihad dan bukan pula yang duduk-duduk malas, hadir tiga kata: ghayru ulidh-dharar, orang-orang yang memiliki uzur (berjihad).

An-Nisa ayat 95 seperti yang kita baca dalam mushaf Utsmani, sebagai rekam jejak Abdullah Ibnu Ummi Maktum tersebut. Toh kendati sudah ada ayat rukhsah, ia bergeming dari berjihad. Demikian termaktub, antara lain, dalam karya Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar juz V (2984), hlm. 276-280, ihwal asbab turunnya ayat ini.

Arkian, ia pun langkahkan kaki bersama pasukan muslimin di medan Badar. Apa yang bisa diperbuat oleh prajurit tanpa belah mata? Pedang dan tombak, apalagi panah, hanya sia-sia. Tapi Abdullah pemegang suara syahdu kala azan ini punya rencana.

“Letakkan aku di antara dua shaf pasukan muslimin, dan berikan aku panji Liwa, bendera Rasulullah!” Tandasnya penuh tekad.

Pemegang panji pasukan itu sebuah pertahanan diri yang tangguh. Tapi ini rasional mengingat kondisi Abdullah. Betapa pula sebuah panji-panji itu simbol eksistensi dalam pertempuran.

“Mataku tak dapat melihat, aku akan berdiri di sini bersama kalian. Dan aku tak akan pernah melarikan diri!” Ungkapnya.

Seorang tunanetra bakal melarikan diri? Takkan! Ia beda dengan sesiapa yang bisa menatap aras pergerakan lawan yang terjangannya mengerikan. Atau bilamana pasukan lawan berlipat jumlah dan kualitas persenjataan sebagaimana berlangsung di Badar. Semua itu tak dianggap oleh sosok yang tak dapat menilai lawan di hadapannya.

Inilah yang ditempuh Abdullah ibn Ummi Maktum kala Badar. Posisi yang sama ditempuhnya, dan ia memang terpilih oleh sang Khalifah Rasulullah Umar ibn Khathab, kala menaklukkan Persia dalam pertempuran Qadisiyyah. Sebuah laga jihad yang menyisakan banyak luka di tubuh Abdullah hingga nyawanya terbang ke jannah. Ia gapit panji-panji muslimin dengan setia lewat lehernya, sebelum akhirnya syahid.

Kalkulasi kalah dan menang memang terkait erat ikhtiar insani. Harus ada persiapan matang berikut strategi dan perbekalan menghadapi lawan. Tapi ikhtiar belum tuntas bilamana makna tawakal dihempaskan. Seolah semua hanya bergantung pada soal usaha yang diperbuat. Pun begitu, tak memadai bila perjuangan hanya menguatkan sisi tawakal sementara ikhtiar insani diabaikan.

Prediksi, jajak pendapat, opini pakar di media, semua ini adalah aspek ikhtiar yang berperan menjadi penanda dan pengingat. Yakni seberapa jauh posisi kita dibandingkan lawan. Ada kalanya semua perkiraan itu setali dengan hasil. Lain waktu malah meleset.

Kemelesetan ini bukan untuk menyandarkan keengganan untuk melipatkan energi keberanian yang lebih mirip di mata orang awam seperti kenekatan. Sebagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum tadi. Ia hanya ingin penuhi seruan Rabbani. Tak terbayangkan soal hasil akhirnya bagaimana. Kenekatan Abdullah adalah soal bagaimana memberikan andil terbaik dan tertinggi; gagasan sampai sukma satu-satunya.

Bilalah amatan ikhtiar sesiapa saja masih tempatkan sosok yang kita usung sebagai pemimpin itu di bawah lawan, tak perlu risau. Elektabilitas hanya soal kesiapan kita dan mereka. Kekuatan memang pada mereka. Nah, tinggal bagaimana menjadi sosok serupa Abdullah ibn Ummi Maktum. Bukan mereka yang frustrasi karena elektabilitas usungan hanya statis di angka merah, sementara lawan terus moncer saban hari.

“Butakan” mata kita! Kosongkan pikiran dari konsentrasi pada kalkulasi insani. Bukan itu tak penting bagi sebuah pertempuran politik bernama demokrasi dan pilihan raya. Tapi ini soal bagaimana kita melaju memberikan hak terbaik dan tertinggi di tengah lautan optimisme kemenangan lawan.

Bukankah betapa banyak kader dakwah memilih bersikap “realistis” karena lawan PASTI unggul? Sementara ia enggan buat mempertahankan panji-panji kehormatan bahkan dengan hanya gigitan gigi terakhirnya, sebagai umpama.

Hari-hari ke depan pertempuran itu bakal hadir di depan mata. Tak perlu risau dengan angka-angka. Karena, sekali lagi, ia hanya tolok ukur kita harus bagaimana. Bila diunggulkan, jangan jumawa.

Medan Hunain pernah menguji muslimin hingga seperti kehabisan napas terakhirnya. Bila diremehkan, lakukan “pembutaan” mata, alias pikiran dan fokus kita, pada narasi kehebatan lawan. Andaikan kita ditakdirkan kalah, masih ada medan-medan lain untuk merebutnya dengan jalan elegan dan memuliakan.

 

Oleh: Yusuf Maulana,

REPUBLIKA

Janji Kemenangan

Pada satu ketika, Nafi’ bin Utbah pernah bersama dalam Rasulullah SAW dalam satu peperangan. Nabi SAW menemui suatu kaum berbaju wol di dekat suatu bukit.

Mereka berdiri sementara Rasulullah SAW duduk. Dalam hati, Nafi’ berkata untuk mendatangi pertemuan tersebut. Dia hendak berdiri di antara mereka dan Rasulullah SAW demi menjaga Rasulullah SAW dari penyerangan.

Nafi’ pun mengikuti kata hatinya untuk mendatangi dan berdiri diantara mereka. Nafi’ lantas menghafal empat kalimat Nabi SAW.

Nabi SAW bersabda: “Kalian akan memerangi jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya, setelah itu Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya selanjutnya kalian memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Haji Jabir, kami tidak berpendapat Dajjal muncul hingga Romawi ditaklukkan.” (Hadis Riwayat Muslim No 5161).

Nubuwat Nabi terbukti. Pada 642 Masehi, Khalifah Umar mengerahkan pasukan kaum Muslimin untuk menaklukkan Kekaisaran Persia. Jaraknya hanya sepuluh tahun sejak Nabi SAW wafat.

Lantas, pada 674, pasukan kaum Muslimin telah sampai di tembok Konstantinopel untuk memulai kampanye penaklukan terhadap Romawi Timur. Meski pasukan yang dipimpin Yazid bin Muawiyah gagal, namun cita-cita untuk menaklukkan Romawi masih digantung dengan dikuburnya Abu Ayyub al-Anshari di dekat tembok Konstantinopel. Pada 29 Mei 1453, sultan ketujuh Turki Utsmani, Muhammad al Fatih menaklukkan konstantinopel saat usianya baru 21 tahun.

Adi bin Hatim juga pernah menjadi saksi nubuwat dari Nabi SAW. Adi yang tadinya beragama Nasrani lari ke Syam untuk menghindari kaum Muslimin. Dia membawa harta dan keluarganya tetapi meninggalkan saudarinya, Saffanah binti Hatim. Saffanah pun meminta kepada Rasulullah untuk menjemput Adi ke Syam. Permintaan tersebut dikabulkan. Adi berhasil dibawa ke Madinah.

Adi datang ke Madinah dengan kalung salib peraknya. Saat masuk ke masjid, ia mendengar Rasulullah SAW sedang membaca firman Allah. “Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahibrahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS at-Taubah: 31).

Usai bertemu Nabi SAW di masjid, Adi lantas diundang Rasulullah SAW menjadi tamunya. Nabi memegang tangannya un tuk datang ke rumahnya. Di rumah Nabi, Adi hanya melihat rumah sederhana berupa kamar kecil berlantai tanah.

Di sana ada bantal usang berisi sabut. Nabi SAW memberinya bantal untuk memuliakan Adi sebagai tamu. Adi tak menerima bantal itu, tapi Nabi berkeras. Dalam Islam, memuliakan tamu adalah kewajiban.

Kemudian, terjadi dialog antara Nabi SAW dengan Adi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Adi! Aku tahu hal yang menghalangimu masuk Islam! Engkau terhalang masuk Islam karena melihat kefakiran kaum Muslimin dan kekayaan musuh-musuh mereka! Wahai Adi! Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini hingga harta melimpah di hadapan kaum Muslimin sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya!”

Nabi kembali bersabda kepadanya: “Wahai Adi! Aku tahu hal yang menghalangimu masuk Islam! Engkau terhalang masuk Islam karena melihat minimnya kaum Muslimin dan banyaknya musuh mereka!”

“Wahai Adi! Pernahkah melihat Kota al-Hirah?” Adi menjawab: “Aku pernah mendengar tapi belum pernah melihatnya.” Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini hingga wanita (wanita yang berada di atas untanya) berjalan dari al-Hirah ke Baitul Haram untuk thawaf disana tanpa disertai siapa pun. Dia tidak takut kecuali kepada Allah”. Adi berkata dalam dirinya dimanakah penyamun Thayyi yang membegal dan membunuh manusia?

Nabi kembali bersabda: “Wahai Adi! Aku tahu hal yang menghalangimu masuk Islam! Engkau terhalang masuk Islam karena melihat eksistensi kerajaan dan kekuasaan di tangan musuh-musuh mereka! Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga istana-istana kisra ditaklukkan dan harta-harta simpanannya menjadi milik kaum Muslimin!”

Adi meminta penjelasan Rasulullah dengan bertanya: “Kisra bin Hurmuz? Ya, Kisra bin Hurmuz.” Usai dialog tersebut, Adi yang notabene berasal dari keturunan bangsawan, tampak puas. Dia pun menyatakan diri untuk masuk Islam. Adi beruntung bisa berumur panjang. Dia bisa menyaksikan dua ramalan Nabi SAW yang disampaikan langsung kepadanya. Dari penaklukan Kisra hingga keamanan di negeri kaum Muslimin. Nubuwah ketiga terjadi usai wafatnya Adi bin Hatim.

Buya Hamka mengungkapkan, faktor penting yang menjadi penyebab kaum Muslimin bisa menundukkan dua kerajaan adidaya itu tak lain karena kepercayaan terhadap Nubuwah Nabi SAW. Pada masa jahiliyah, siapalah bangsa Arab itu. Mereka hanya bangsa yang terkotak-kotak dalam kabilah dan suku-suku tanpa seorang raja. Mereka tak memiliki persatuan politik.

Rasulullah yang diutus menjadi Nabi di jazirah nan tandus itu membawa angin perubahan. Di bawah kepemimpinan Rasulullah yang diteruskan para khalifah, mereka menekuk dua negara penguasa dunia.

Tidak heran ahli sejarah Inggris Arnold Toynbee mengungkapkan, peristiwa seja rah kebangkitan Islam di bawah kepemim pinan Nabi SAW adalah satu dari tiga yang terhebat pada masa itu. Iman generasi awal umat Islam begitu paripurna. Tak terkecuali dengan takdir yang dinubuwatkan lewat pesan dari baginda Rasulullah SAW. Bahkan untuk kasus Konstantinopel, Nabi pun mengungkap “Sesungguhnya Konstantinopel itu pasti akan dibuka (dibebaskan). Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya,” HR Bukhari.

Meski demikian, sejarah mencatat kejayaan umat Islam kian memudar setelah Turki Utsmani runtuh. Negeri-negeri kaum Muslimin dipecah dan menjadi ghanimah negeri-negeri Barat. Romawi yang dahulu pernah takluk di bawah kekuasaan umat Islam. Hingga kini, hancurnya Suriah akibat fitnah di antara kaum Muslimin hing ga penjajahan terhadap Palestina masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dibayar.

Ikhtiar umat ini untuk mengubah nasibnya agar kembali meraih kejayaan se per ti pada masa Rasulullah SAW dan saha bat masih berjalan. Janji Allah jika Islam akan dimenangkan semestinya menjadi motivasi bagi umat usai merayakan syawal, bulan kemenangan.

“Dialah yang meng utus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan- Nya terhadap semua agama. Walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai,” (QS at-Taubah: 33).

Nabi SAW pun bersabda: “Sesungguhnya Allah melipatkan bumi untukku bagian barat dan bagian timurnya. Dan kelak kerajaan umatku akan mencapai semua bagian yang dilipatkan bagiku darinya.” Namun, Nabi SAW memberi catatan terhadap para penguasa. Alih-alih memuliakan mereka, Nabi SAW pun bahkan mengancam mereka dengan api neraka dan memberi syarat kepada yang penguasa yang selamat.

“Sesungguhnya kelak akan dibukakan bagi kalian belahan timur dan belahan barat bumi ini dan sesungguhnya orang-orang yang menguasainya dimasukkan ke dalam neraka, kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan menunaikan amanat.”

REPUBLIKA

Amalan Setelah Beramal

Setelah kita melakukan suatu amal kebaikan, baik yang bersifat habluminallah maupun hablumminannas bukan berarti urusan selesai. Masih ada amalan lanjutan yang harus kita lakukan. Yakni, berdoa agar amal yang telah kita lakukan diterima oleh Allah SWT.

Berdoa agar amalan yang telah kita lakukan diterima oleh Allah SWT merupakan bentuk dari kekhawatiran diri kita atas amal yang telah dilakukan karena tidak setiap amal yang dilakukan itu diterima-Nya.

Allah SWT berfirman, Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (QS al-Furqon [25]:23).

Khawatir terhadap amal yang telah kita lakukan yang dilanjutkan dengan berdoa semoga amal kita diterima-Nya merupakan bagian dari sikap seorang mukmin. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut, sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.

Dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan tentang hal ini, sebagaimana terdapat di dalam surah al-Mukminun (23) ayat 60, Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Aisyah RA mengatakan, Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khamr?

Nabi SAW lantas menjawab, Wahai putri Ash Shidiq! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan, yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, tapi ia khawatir amalannya tidak diterima.

Sikap seperti ini diamalkan oleh para salafussalih.Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Aziz bin Abi Rawwad rahimahullah:

Aku perhatikan mereka bersungguh-sungguh dalam beramal saleh. Jika mereka telah merampungkannya, mereka pun merasa prihatin; apakah amal mereka itu diterima ataukah ditolak.

Bahkan, sikap ini pun dilakukan oleh para nabi dan rasul. Hal ini bisa kita lihat di dalam Alquran surah al- Baqarah (2) ayat 127, Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan, kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita raih bila kita membiasakan diri berdoa agar amal yang telah kita lakukan diterima oleh Allah SWT sebagai bentuk kekhawatiran kita terhadap amal yang telah kita lakukan.Pertama, akan menjauhkan diri kita dari sikap sombong atas amal yang telah kita lakukan.

Allah SWT berfirman, Dan Tuhanmu berfirman:’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina (QS al-Mukmin [40]: 60).

Kedua, memotivasi diri kita untuk meningkatlan kualitas amal-amal yang akan kita lakukan. Karena ketika kita kekhawatiran amal tidak diterima berkumpul dengan keinginan agar amal kita diterima akan menjadikan kita bersungguh-sunnguh dalam setiap beramal. Ketiga, menghantarkan kita meraih kemuliaan. Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa(HR at-Tirmidzi).

 

OLEH MOCH HISYAM

REPUBLIKA

Makna Memberi Maaf

Memberi maaf merupakan terapi atau cara Allah SWT memberi dan menyucikan jiwa dan hati. Dengan memberi maaf kepada sesama, maka tidak ada lagi ganjalan beban pada pikiran dan hati seseorang.

Pesan ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat Halal Bihalal Idul Fitri 1439 Hijriyah keluarga besar Kementerian Agama di Auditorium HM Rasyidi, Kementerian Agama, Jakarta. “Mudah-mudahan di bulan Syawal ini setelah menempa diri satu bulan penuh di Ramadhan, mengendalikan diri, kita tergolong orang yang kembali kepada fitrah, tidak hanya fitrah basyariah juga fitrah insaniah kita,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (1/7).

“Idul Fitri hakikatnya agar bagaimana kembali ke fitrah kita, mengembalikan fitrah basyariah juga menumbuh kembangkan fitrah insaniyah kita,” ujar Lukman.

Menurutnya, hakikat Idul Fitri adalah bagaimana kembali kepada fitrah manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, juga mampu menumbuhkembangkan fitrah insaniah. Dia mengatakan ada unsur bahamiyah (binatang) dalam diri  manusia, misal unsur rasa tidak tahu malu, agresif dan buas.

“Yang ini perlu kita kendalikan, dan sisi lain kita terus menumbuhkembangkan fitrah insaniyah kita. Kita mahluk beragama, setiap manusia sejatinya fitrahnya beragama, apapun agamanya,” ucapnya.

Lukman juga mengajak masyarakat senantiasa menebarkan kedamaian.

REPUBLIKA