Kemenag Luncurkan Quran in Word

Jakarta (Kemenag) — Kementerian Agama meluncurkan Quran in Word, yang merupakan aplikasi yang dapat diinstal pada dekstop atau pun laptop berbasis Windows. Peluncuran Quran in Word dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bersamaan dengan pembukaan Expose Hasil Kelitbangan dan Kediklatan Badan Litbang dan Diklat Kemenag, di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama Jln MH Thamrin, Jakarta.

Menag amat mengapresiasi capaian ini. Menurutnya, ini merupakan upaya Kemenag dalam menyediakan sarana bagi umat dalam beragama. “Kemenag melalui Balitbang Diklat harus betul-betul mampu menangkap esensi tugas menjaga kehidupan beragama. Oleh karena itu, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) terus melakukan pengembangan,” ujar Menag, Selasa (24/09).

Saat ini, menurut Menag, LPMQ tidak hanya menyediakan terjemahan dalam betuk digital yang mudah diakses. Namun juga melakukan kajian-kajian untuk melakukan revisi terjemahan dan tafsir Al-Quran. “Terjemahan yang direvisi, bukan ayat-ayatnya. Terjemahan itu sangat dipengaruhi oleh konteks, situasi, kondisi strategis yang ada pada saat itu. Jadi ini cara kita beragama. Jangan kita merasa yang paling benar dalam beragama,” sambung Menag.

Sementara, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurahhman Mas’ud menuturkan Quran In Word merupakan salah satu bentuk inovasi kelitbangan yang dilakukan oleh LPMQ untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Dalam masa pre launching, kurang dari tujuh hari sebelum hari ini, Quran In Word sudah diakses lebih dari 18.500 orang. Artinya aplikasi ini banyak peminatnya dan merupakan kebutuhan masyarakat,” ujar Abdurahman.

Ia berharap, ke depan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag dapat menyajikan hasil-hasil inovasi penelitian kehidupan keagamaan yangd apat menjawab kebutuhan masyarakat. “Jadi hasil penelitian tidak hanya berakhir di perpustakaan,” tuturnya.

Sementara, Kepala LPMQ Muchlis Hanafi menjelaskan bahwa Quran in Word merupakan aplikasi yang dapat diinstal pada komputer berbasis windows dan diintegrasikan pada Microsoft Word. “Setidaknya ada empat kelebihan bila  masyarakat menggunakan aplikasi ini,” tutur Muchlis.

Pertama, pengguna diberikan kemudahan untuk mencari ayat dan mengutipnya dalam word. Kedua, font yang digunakan mengunakan Rasm Usmani sesuai dengan mushaf standar indonesia. Font, yang merupakan karya anak bangsa Ustadz Isep Misbag ini, dikembangkan oleh tim IT LPMQ. “Fontnya pun mudah dibaca,” imbuh Muchlis.

Ketiga, dalam aplikasi ini dilengkapi dengan terjemahan bahasa indonesia dan bahasa inggris, serta tafsir Tahlili Kemenag. Keempat, aplikasi ini memudahkan  pencarian berdasarkan tema-tema dalam Al-Quran.

Aplikasi ini dapat diunduh secara gratis pada website  LPMQ Kemenag

KEMENAG RI

Keutamaan Belajar Ilmu Agama (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Belajar Ilmu Agama (Bag. 1)

Pahala Ilmu akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya telah Meninggal Dunia

Termasuk dalam pahala agung yang Allah Ta’ala siapkan untuk para penuntut ilmu yaitu jika mereka meninggal, maka pahala ilmunya akan sampai kepadanya meskipun mereka berada dalam kuburnya, selama manusia mengambil manfaat dari ilmunya. Maka pahala ini seolah-olah kehidupan yang lain setelah kematian mereka, ketika manusia yang lain terputus dari pahala amal mereka setelah meninggal dunia. Sehingga seakan-akan orang yang berilmu itu senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4310) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

أَرْبَعٌ مِنْ عَمَلِ الأَحْيَاءِ يَجْرِي لِلأَمْوَاتِ: رَجُلٌ تَرَكَ عَقِبًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ يَتْبَعُهُ دُعَاؤُهُمْ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ لَهُ أَجْرُهَا مَا جَرَتْ بَعْدَهُ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَعُمِلَ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهِ شَيْءٌ

”Empat amalan orang hidup yang (pahalanya) tetap mengalir setelah orang tersebut meninggal dunia. Seseorang yang mempunyai anak shalih yang berdoa untuknya dan doa tersebut bermanfaat untuknya. Seseorang yang bersedekah, maka pahalanya mengalir untuknya selama sedekah itu berpahala setelahnya. Seseorang yang mengajarkan ilmu dan mengamalkannya setelahnya, maka baginya pahala sebesar pahala orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang mengamalkannya tersebut.”  (HR. ThabraniDinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir  no. 890)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرهن و هُوَ فِيْ قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلِمَ عِلْمًا أَوْ أجرى نَهَرًا أو حفر بِئْرًا أو غرس نَخْلًا أو بَنَى مَسْجِدًا أو وَرَثَ مُصْحَفًا أو تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرَ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

”Tujuh amalan yang pahalanya mengalir kepada seorang hamba meskipun ia berada di dalam kuburnya setelah meninggal: barangsiapa yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau mempunyai seorang anak yang memohonkan ampun untuknya setelah dia meninggal.” (HR. Al-Bazzaar. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir  no. 5915)

Menuntut Ilmu Lebih Baik daripada Ibadah Sunnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika menuntut ilmu dengan niat yang baik dan bagus, maka hal itu lebih baik daripada ibadah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ ، وَخَيْرُ دِينِكِمُ الْوَرَعُ

“Keutamaan ilmu itu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agamamu adalah wara’ (bersikap hati-hati, pent.).” (HR. Al-BazzaarDinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir  no. 7663)

Allah Ta’ala Menjadikan Ahlul ‘Ilmi sebagai Saksi

Allah Ta’ala mengambil persaksian ahlul ilmi atas suatu persaksian yang mulia dan agung. Persaksian tersebut adalah mentauhidkan Allah Ta’ala, mengesakan-Nya dalam uluhiyyah, dan meniadakan sesembahan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 18) 

Sisi penunjukan dalil dari ayat ini kepada keutamaan ilmu dan kemuliaanya dapat dilihat dari beberapa sisi sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah. Sisi pertama, bahwa Allah Ta’ala menjadikan ulama sebagai saksi, bukan semua orang. Ini adalah bukti keutamaan mereka di atas makhluk lainnya. Sisi ke dua, bahwa Allah Ta’ala menyejajarkan antara persaksian ulama tentang keesaan-Nya dalam uluhiyyah dengan persaksian-Nya sendiri terhadap masalah ini. Sisi ke tiga, Allah Ta’ala menyejajarkan persaksian mereka dengan persaksian para malaikat-Nya. Sisi keempat, dalam persaksian ini terkandung tazkiyah (rekomendasi) dan pujian terhadap para ulama karena Allah Ta’ala tidaklah mengambil persaksian dari makhluk-Nya kecuali dari makhluk-Nya yang shalih. (Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1: 48) 

Orang yang Berilmu Lebih Tinggi Derajatnya

Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11) 

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

قِيلَ فِي تَفْسِيرهَا :يَرْفَع اللَّه الْمُؤْمِن الْعَالِم عَلَى الْمُؤْمِن غَيْر الْعَالِم . وَرِفْعَة الدَّرَجَات تَدُلّ عَلَى الْفَضْل ، إِذْ الْمُرَاد بِهِ كَثْرَة الثَّوَاب ، وَبِهَا تَرْتَفِع الدَّرَجَات ، وَرِفْعَتهَا تَشْمَل الْمَعْنَوِيَّة فِي الدُّنْيَا بِعُلُوِّ الْمَنْزِلَة وَحُسْن الصِّيت ، وَالْحِسِّيَّة فِي الْآخِرَة بِعُلُوِّ الْمَنْزِلَة فِي الْجَنَّة

“Salah satu tafsir ayat tersebut adalah Allah mengangkat derajat seorang mukmin yang berilmu di atas mukmin yang tidak berilmu. Sedangkan pengangkatan derajat itu menunjukkan atas keutamaan, karena yang dimaksud dengannya (pengangkatan derajat, pent.) adalah pahala yang banyak yang dengannya diangkatlah derajatnya. Diangkatnya derajat itu terkandung makna yang abstrak, berupa kedudukan yang tinggi dan nama yang masyhur di dunia. Dan terkandung pula makna yang konkret, yaitu berupa kedudukan yang tinggi di surga.” (Fathul Baari, 1: 92)

Di dalam Shahih Muslim terdapat sebuah riwayat dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di ‘Usfan (nama suatu daerah). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. 

‘Umar bertanya,”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”  

Nafi’ menjawab,”Ibnu Abza.” 

‘Umar bertanya,”Siapakah Ibnu Abza itu?”  

Nafi’ menjawab, ”Salah seorang bekas budak kami.” 

‘Umar kemudian mengatakan,”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?”  

Nafi’ menjawab,”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan dia juga ahli ilmu faraidh (ilmu waris).” 

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ 

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim no. 1934)

Allah Ta’ala Memerintahkan Rasul-Nya untuk Meminta Tambahan Ilmu Syar’i

Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa dan meminta kepada-Nya berupa ilmu yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaaha [20]: 114) 

Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan beliau untuk berdoa meminta tambahan sesuatu kecuali tambahan ilmu syar’i. Hal ini tidak lain disebabkan karena keutamaan dan kemuliaan ilmu syar’i yang sangat agung. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

( وَقَوْله عَزَّ وَجَلَّ : رَبّ زِدْنِي عِلْمًا ) وَاضِح الدَّلَالَة فِي فَضْل الْعِلْم ؛ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى لَمْ يَأْمُر نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَلَبِ الِازْدِيَاد مِنْ شَيْء إِلَّا مِنْ الْعِلْم ، وَالْمُرَاد بِالْعِلْمِ الْعِلْم الشَّرْعِيّ الَّذِي يُفِيد مَعْرِفَة مَا يَجِب عَلَى الْمُكَلَّف مِنْ أَمْر عِبَادَاته وَمُعَامَلَاته ، وَالْعِلْم بِاَللَّهِ وَصِفَاته ، وَمَا يَجِب لَهُ مِنْ الْقِيَام بِأَمْرِهِ ، وَتَنْزِيهه عَنْ النَّقَائِض

“Firman Allah Ta’ala (yang artinya), Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’  mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.” (Fathul Baari, 1: 92)

[Bersambung]

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/51544-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-2.html

Mengabdilah dengan Baik kepada Suamimu…

INI Syuraih al-Qadhi bersama istrinya. Syuraih adalah seorang tabiin yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab menjadi pejabat hakim di wilayah kekhalifahan Islam. Setelah Syuraih (seorang tabiin) menikah dengan seorang wanita bani Tamim, dia berkata kepada Syabi (seorang tabiin), “Wahai Syabi menikahlah dengan seorang wanita bani Tamim karena mereka adalah wanita.”

Syabi bertanya, “Bagaimana hal itu?” Syuraih bercerita, “Aku melewati kampung bani Tamim. Aku melihat seorang wanita duduk di atas tikar, di depannya duduk seorang wanita muda yang cantik. Aku meminta minum kepadanya.”

Wanita itu berkata kepadaku, “Minuman apa yang kamu sukai?” Aku menjawab, “Seadanya.” Wanita itu berkata, “Beri dia susu. Aku menduga dia orang asing.” Syuraih berkata, “Selesai minum aku melihat wanita muda itu. Aku mengaguminya. Aku bertanya kepada ibunya tentang wanita itu.”

Si ibu menjawab, “Anakku.” Aku bertanya, “Siapa?” (maksudnya siapa ayahnya dan bagaimana asal usulnya). Wanita itu menjawab, “Zaenab binti Hadhir dari bani Hanzhalah.” Aku bertanya, “Dia kosong atau berisi?” (maksudnya bersuami atau tidak).

Wanita itu menjawab, “Kosong.” Aku bertanya, “Kamu bersedia menikahkanku dengannya?” Wanita itu menjawab, “Ya, jika kamu kufu (sepadan).

Aku meninggalkannya pulang ke rumah untuk beristirahat siang, tetapi aku tidak bisa tidur. Selesai salat aku mengajak beberapa orang saudaraku dari kalangan orang-orang yang terhormat. Aku salat asar bersama mereka. Ternyata pamannya telah menunggu. Pamannya bertanya, “Wahai Abu Umayyah, apa keperluanmu?”

Aku menjelaskan keinginanku, lalu dia menikahkanku. Orang-orang memberiku ucapan selamat, kemudian acara selesai. Begitu sampai di rumah aku langsung menyesal. Aku berkata dalam hati, “Aku telah menikah dengan keluarga Arab yang paling keras dan kasar.” Aku ingat kepada wanita-wanita bani Tamim dan mereka keras hatinya.

Aku berniat menceraikannya, kemudian aku berubah pikiran. Jangan ditalak dulu, jika baik. Jika tidak, barulah ditalak. Berapa hari setelah itu para wanita Tamim datang mengantarkannya kepadaku. Ketika dia didudukkan di rumah, aku berkata kepadanya, “Istriku, termasuk sunah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk salat dua rakaat dan dia pun demikian.”

Aku beridiri salat, kemudian aku menengok ke belakang, ternyata dia juga salat. Selesai salat para pelayannya menyiapkan pakaianku dan memakaikan jubah yang telah dicelup dengan minyak zafaran. Manakala rumah telah sepi, aku mendekatinya. Aku menjulurkan tangan ke arahnya. Dia berkata, “Tetaplah di tempatmu.”

Aku berkata kepada diriku, “Sebuah musibah telah menimpaku.” Aku memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dia berkata, “Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu. Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya.”

Aku berkata kepadanya, “Aku suka ini dan ini (aku menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang aku sukai) dan juga membenci ini dan ini.” Dia bertanya, “Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?”

Aku menjawab, “Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh.” Aku melalui malam yang penuh kenikmatan. Aku tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian aku pergi ke majlis pengadilan (mulai bekerja kembali). Tidak ada hari yang aku lalui tanpa kebaikan darinya.

Satu tahun kemudian (setelah pernikahan kami), tatkala aku pulang ke rumah, aku melihat seorang wanita tua yang memerintah dan melarang, ternyata itu adalah ibu mertuaku. Aku berkata kepada ibu mertuaku, “Selamat datang.”

Ibu mertua berkata, “Wahai Abu Umayyah, apa kabarmu?” Aku menjawab, “Baik, alhamdulillah.” Ibu mertua bertanya, “Bagaimana istrimu?” Aku menjawab, “Wanita terbaik dan teman yang menyenangkan. Ibu telah mendidiknya dengan baik dan mengajarkan budi pekerti dengan baik pula kepadanya.”

Ibu mertua berkata, “Seorang wanita tidak terlihat dalam suatu keadaan di mana prilakunya paling buruk kecuali dalam dua keadaan. Jika dia telah memperoleh tempat di sisi suaminya dan jika dia telah melahirkan anak. Jika kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah darinya, maka pukullah (dengan pukulan yang membimbing, tidak membekas). Karena laki-laki tidak memperoleh keburukan di rumahnya kecuali dari wanita bodoh dan manja.”

Syuraih berkata, “Setahun sekali ibu mertuaku datang, dia pulang setelah bertanya kepadaku, Bagaimana menurutmu jika kerabatmu ingin mengunjungimu? Kujawab, Terserah mereka.” Dua puluh tahun aku bersamanya. Aku tidak pernah mencelanya atau marah kepadanya.

Inilah pedoman yang harus dimengerti dan dipahami dengan baik oleh seorang wanita, sebagai pijakan cahaya dalam hidupnya. Mengabdilah dengan baik kepada suamimu, niscaya kamu berbahagia dan mendapatkan suami yang berbahagia dan berhasil dalam pekerjaannya.

[Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf]

INILAH MOZAIK

Tahukah Dari Mana Datangnya Rizkimu?

SUATU hari ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah dengan membawa keluhan bahwa dialah satu-satunya yang bekerja dalam keluarganya, sementara saudaranya selalu sibuk dengan mencari ilmu. Bagaimanakah tanggapan Rasulullah akan keluhan itu? Beliau bersabda: “Jangan-jangan engkau diberi rizki oleh Allah karena saudaramu yang mencari ilmu itu.”

Seringkali kita mengklaim bahwa rizki kita itu adalah semata-mata karena pekerjaan kita. Padahal, kalau saja semua sebab akibat rizki kita itu dibuka dan dibacakan, maka kita akan terkaget-kaget bahwa rizki kita adalah karena anak yatim piatu yang kita santun, karena fakir miskin yang kita perhatikan, para gelandangan yang kita sekolahkan kembali, yayasan sosial dan agama yang kita bantu/sumbang atau lainnya.

Kalaulah begitu, janganlah sombong saat berkelimpahan rizki, jangan ungkapkan kata kasar kepada siapapun yang secara ekonomi bergantung kepada kita. Surga itu diperuntukkan bagi mereka yang lembut hati dan lembut budi, halus rasa dan halus pekerti. Surga yang dimaksud bukan hanya surga di akhirat kelak, melainkan pula kebahagiaan surgawi di dunia kini.

Jalan rizki begitu banyak dan tak terhitung jumlahnya. Kebaikan kita menjaga perasaan semut sebagaimana yang dilakukan Nabi Sulaiman sangat mungkin menjadikan kita diberi rizki bagai Nabi Sulaiman. Ternyata, bahkan bsrsikap baik kepada binatangpun menjadi jalan rizki ini.

Persembahkan yang terbaik pada manusia, berikan perawatan yang terbaik pada alam semesta dan dedikasikan hidup zecara ikhlas karena Allah, maka rizki kita bisa hadir dari mana saja dan kapan saja. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Asmaul Husna: Daftar, Tulisan, dan Arti

Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik milik Allah SWT. Daftar Lengkap, Arti, dan Tulisan 99 Nama Allah dalam Asmaul Husna.

Pengertian Asmaul Husna

Secara harfiyah, pengertian Asmaul Husna adalah “nama-nama yang baik”. Asma artinya nama-nama. Husna artinya baik.

Asma al-Husna merujuk kepada nama-nama, gelar, sebutan, sekaligus sifat-sifat Allah SWT yang indah lagi baik.

Istilah Asmaul Husna (أسماء الحسنى) juga dikemukakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaa’ul husna (nama-nama yang baik)” (Q.S. Thaha:8).

وَللَّهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَاۖ وَذَ رُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَـٰئِهٖۚ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah al-Asma-ul Husna (nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama baik itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A‘raf: 180)

Doa dengan Asmaul Husna

Umat Islam dianjurkan berdoa kepada Allah sambil menyebut Asmaul Husna. Misalnya, saat seorang Muslim memohon ampunan-Nya, maka ia berdoa mohon ampun sambil menyebut “Al-Ghoffaar” (Yang Maha Pengampun) dan seterusnya.

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Katakanlah (olehmu Muhammad): Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa’ul husna (nama-nama yang terbaik)…” (Q.S Al-Israa’: 110).

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…” (QS. Al-A’raaf : 180).

Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad Saw bersabda: 

إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah Swt mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam surga” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Baihaqy).

Daftar Asmaul Husna dan Artinya

Berikut ini daftar lengkap dan pengertian asmaul husna. Ke-99 Asmaul Husna atau Nama-Nama Allah SWT yang Baik berserta pengertiannya adalah sebagai berikut:

No.NamaArabIndonesia
AllahاللهAllah
1Ar RahmanالرحمنYang Maha Pengasih
2Ar RahiimالرحيمYang Maha Penyayang
3Al MalikالملكYang Maha Merajai/Memerintah
4Al QuddusالقدوسYang Maha Suci
5As SalaamالسلامYang Maha Memberi Kesejahteraan
6Al Mu`minالمؤمنYang Maha Memberi Keamanan
7Al MuhaiminالمهيمنYang Maha Pemelihara
8Al `AziizالعزيزYang Maha Perkasa
9Al JabbarالجبارYang Memiliki Mutlak Kegagahan
10Al MutakabbirالمتكبرYang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11Al KhaliqالخالقYang Maha Pencipta
12Al Baari`البارئYang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13Al MushawwirالمصورYang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14Al GhaffaarالغفارYang Maha Pengampun
15Al QahhaarالقهارYang Maha Memaksa
16Al WahhaabالوهابYang Maha Pemberi Karunia
17Ar RazzaaqالرزاقYang Maha Pemberi Rezeki
18Al FattaahالفتاحYang Maha Pembuka Rahmat
19Al `AliimالعليمYang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20Al QaabidhالقابضYang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21Al BaasithالباسطYang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22Al KhaafidhالخافضYang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23Ar Raafi`الرافعYang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24Al Mu`izzالمعزYang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25Al MudzilالمذلYang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26Al Samii`السميعYang Maha Mendengar
27Al BashiirالبصيرYang Maha Melihat
28Al HakamالحكمYang Maha Menetapkan
29Al `AdlالعدلYang Maha Adil
30Al LathiifاللطيفYang Maha Lembut
31Al KhabiirالخبيرYang Maha Mengenal
32Al HaliimالحليمYang Maha Penyantun
33Al `AzhiimالعظيمYang Maha Agung
34Al GhafuurالغفورYang Maha Pengampun
35As SyakuurالشكورYang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36Al `AliyالعلىYang Maha Tinggi
37Al KabiirالكبيرYang Maha Besar
38Al HafizhالحفيظYang Maha Memelihara
39Al MuqiitالمقيتYang Maha Pemberi Kecukupan
40Al HasiibالحسيبYang Maha Membuat Perhitungan
41Al JaliilالجليلYang Maha Mulia
42Al KariimالكريمYang Maha Mulia
43Ar RaqiibالرقيبYang Maha Mengawasi
44Al MujiibالمجيبYang Maha Mengabulkan
45Al Waasi`الواسعYang Maha Luas
46Al HakiimالحكيمYang Maha Maka Bijaksana
47Al WaduudالودودYang Maha Mengasihi
48Al MajiidالمجيدYang Maha Mulia
49Al Baa`itsالباعثYang Maha Membangkitkan
50As SyahiidالشهيدYang Maha Menyaksikan
51Al HaqqالحقYang Maha Benar
52Al WakiilالوكيلYang Maha Memelihara
53Al QawiyyuالقوىYang Maha Kuat
54Al MatiinالمتينYang Maha Kokoh
55Al WaliyyالولىYang Maha Melindungi
56Al HamiidالحميدYang Maha Terpuji
57Al MuhshiiالمحصىYang Maha Mengkalkulasi
58Al Mubdi`المبدئYang Maha Memulai
59Al Mu`iidالمعيدYang Maha Mengembalikan Kehidupan
60Al MuhyiiالمحيىYang Maha Menghidupkan
61Al MumiituالمميتYang Maha Mematikan
62Al HayyuالحيYang Maha Hidup
63Al QayyuumالقيومYang Maha Mandiri
64Al WaajidالواجدYang Maha Penemu
65Al MaajidالماجدYang Maha Mulia
66Al WahiidالواحدYang Maha Tunggal
67Al AhadالاحدYang Maha Esa
68As ShamadالصمدYang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69Al QaadirالقادرYang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70Al MuqtadirالمقتدرYang Maha Berkuasa
71Al MuqaddimالمقدمYang Maha Mendahulukan
72Al Mu`akkhirالمؤخرYang Maha Mengakhirkan
73Al AwwalالأولYang Maha Awal
74Al AakhirالأخرYang Maha Akhir
75Az ZhaahirالظاهرYang Maha Nyata
76Al BaathinالباطنYang Maha Ghaib
77Al WaaliالواليYang Maha Memerintah
78Al Muta`aaliiالمتعاليYang Maha Tinggi
79Al BarriالبرYang Maha Penderma
80At TawwaabالتوابYang Maha Penerima Tobat
81Al MuntaqimالمنتقمYang Maha Pemberi Balasan
82Al AfuwwالعفوYang Maha Pemaaf
83Ar Ra`uufالرؤوفYang Maha Pengasuh
84Malikul Mulkمالك الملكYang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85Dzul Jalaali Wal Ikraamذو الجلال و الإكرامYang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86Al MuqsithالمقسطYang Maha Pemberi Keadilan
87Al Jamii`الجامعYang Maha Mengumpulkan
88Al GhaniyyالغنىYang Maha Kaya
89Al MughniiالمغنىYang Maha Pemberi Kekayaan
90Al MaaniالمانعYang Maha Mencegah
91Ad DhaarالضارYang Maha Penimpa Kemudharatan
92An Nafii`النافعYang Maha Memberi Manfaat
93An NuurالنورYang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94Al HaadiiالهادئYang Maha Pemberi Petunjuk
95Al BaadiiالبديعYang Indah Tidak Mempunyai Banding
96Al BaaqiiالباقيYang Maha Kekal
97Al WaaritsالوارثYang Maha Pewaris
98Ar RasyiidالرشيدYang Maha Pandai
99As ShabuurالصبورYang Maha Sabar

Asmaul Husna Tambahan (Versi Lain)

Selain 99 Nama Asmaul Husna di atas, terdapat versi tambahan. Jumlah 99 adalah yang paling masyhur berdasarkan hadis shahih:

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa menghafal seluruhannya maka dia masuk surga” (HR Bukhari).

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa memeliharanya dia masuk syurga” (HR. Turmudzi dari Abu Hurairah).

Selain kedua riwayat di atas, Ibnu Majah meriwayatkan jumlah Asmaul-Husna sampai 114 nama. Al-Qurtubhy menyebutkan 117 nama. Imam Thabrani bahkan meriwayatkan Asmaul Husna sampai 130 nama.

Berikut ini nama-nama Asmaul Husna tambahan dari 99 nama di atas. (Lihat juga: Nama-nama Allah Ta’ala Tidak Terbatas 99 Nama).

Tambahan Asma-Ul-Husna Menurut Versi Thabrani
1. ar-Raab = Maha Memelihara
2. al-Ilah = Tuhan
3. al-Hanan = Maha Kasih
4. al-Manan = Maha Pemberi Anugerah
5. al-Bari’ = Maha Menjadikan
6. al-Qaimul Fard = Maha Berdiri Sendiri
7. al-Qadir = Maha Menentukan
8. al-Farad = Maha Sendiri
9. al-Mughits = Maha Membantu
10. ad-Da’im = Maha Kekal
11. al-Hamid = Maha Terpuji
12. al-Jamil = Maha Indah
13. as-Shadiq = Maha Benar
14. al-Muwalli = Maha Memimpin
15. an-Nashir = Maha Penolong
16. al-Qadim = Maha Dahulu
17. al-Witru = Maha Esa
18. al-Fathir = Maha Pencipta
19. al-Allam = Maha Mengetahui
20. al-Malik = Maha Raja
21. al-Ikram = Maha Mulia
22. al-Mudabbir = Maha Mengatur
23. al-Maalik = Maha Memiliki
24. as-Syakur = Maha Mensyukuri
25. ar-Rafi’ = Maha Tinggi
26. Zul Thawil = Maha Mempunyai Kekuasaan
27. Zul Ma’arij = Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
28. Zul Fadhlil = Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
29. al-Mun’im = Maha Pemberi Nikmat
30. al-Mutafadhal = Maha Utama
31. as-Sari’ = Maha Cepat

Tambahan Asma-Ul-Husna versi Ibnu Hazmi

1. al-Khafi = Maha Tersembunyi
2. al-Ghallab = Maha Menang
3. al-Musta’an = Maha Penolong

Tambahan Asma-Ul-Husna versi Ibnu Majah Dari Al-Araj
1. al-Bari’ = Maha Pemelihara
2. al-Rasyid = Maha Cendikiawan
3. al-Burhan = Maha Pembukti
4. as-Syadid = Maha Keras
5. al-Waqi = Maha Pemelihara
6. al-Qaim = Maha Berdidi
7. al-Hafiz = Maha Menjaga
8. an-Nazhir = Maha Melihat
9. as-Sami’ = Maha Mendengar
10. al-Mu’thi = Maha Pemberi
11. al-Abad = Maha Abadi
12. al-Munir = Maha Menerangi
13. at-Taam = Maha Sempurna
14. al-Qadim = Maha Kekal
15. al-Witru = Maha Esa

Semoga kita dapat menghafal dan memahami arti Asmaul Husna, berdoa & berdzikir dengan nama-nama itu, dan Asmaul Husna kian menguatkan iman dan takwa kita. Amin…! Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://www.risalahislam.com, dari berbagai sumber shahih).*

RISALAH ISLAM

Menjaga Kemurnian Al-Quran dan Sunnah Rasulullah

PERHATIAN mendalam Abu Bakar dalam menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan hidup tidak perlu diragukan lagi. Ia begitu menjaga kemurnian Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Untuk itu, masjid difungsikan sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, baik untuk menghafal ataupun mempelajari ilmu Al-Qur’an. Bahkan, untuk memotivasi kaum muslimin dalam menghafal Al-Qur’an, disediakan santunan khusus bagi penghafal sesuai dengan jumlah Al-Qur’an yang dihafal.

Hal ini juga didasari dengan awal pengumpulan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan di masa kekhalifahannya, yang juga dilakukan atas usul dari ‘Umar bin Khattab setelah melihat banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang syahid pada perang Yamamah.

Setiap kali dihadapkan pada permasalahan, Abu Bakar akan mencari landasan hukumnya di dalam Al-Qur’an. Apabila didapatinya, maka ia akan mencari jalan keluarnya dalam sunnah Rasulullah.

Dalam mencari sunnah Rasulullah, Abu Bakar kerap meminta masukan kepada sahabat yang lain, “Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah pernah mengatakan sesuatu (hukum) terhadap masalah ini?”

Jika ada sahabat yang mengetahui hadist yang belum diketahuinya, maka salah satu dari mereka akan menyampaikannya dengan mengatakan, “Rasulullah pernah berkata demikian,” atau “Rasulullah pernah memerintahkan kami seperti ini.”

Setelah mendapat informasi dari sahabat, maka Abu Bakar mengucap syukur, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan orang-orang di antara kita sebagai penjaga sunnah Rasulullah.”

Apabila permasalahan yang dicari tidak didapati Abu Bakar dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Abu Bakar berijtihad dengan beberapa sahabat, minimal dengan dua orang sahabat yang terpercaya. []

Sumber: DR. Ahmad Hatta MA., dkk. Januari 2015. The Golden Story of Abu Bakar Ash-Shiddiq. Jakarta Timur: Maghfirah Pustaka.

ISLAMPOS



Rasulullah dan Susu dari Kambing Kurus

SELEPAS tiga hari bersembunyi di Gua TSur’, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Mereka ditemani dua sahabat yang lain, yaitu Amir bin Fuhairah dan Abdullah bin `Uraiqith. Mereka berempat berjalan dengan menyusuri padang pasir dan tebing-tebing terjal. Abdullah sebagai penunjuk jalan, memilih jalan yang jarang dilalui, agar terhindar dari kejaran kaum Quraisy.

Sesampainya di sebuah perkampungan bernama Khuza’ah, Rasulullah dan ketiga sahabatnya kehausan dan kelaparan. Beruntung, mereka melihat sebuah kemah di kejauhan. Mereka segera menuju ke sana. Rupanya, kemah itu milik Ummu Ma’bad. Wanita tua itu sengaja mendirikan kemah di tengah gurun untuk menjual makanan dan minuman bagi para musafir.

“Bu, adakah makanan dan minuman yang dapat engkau sediakan untuk kami?” tanya Rasulullah.

“Oh, maaf, Tuan. Daging dan susu kambing kami baru saja dibawa suami saya untuk dijajakan pada para kafilah,” jawab wanita itu.

Di saat yang sama, Rasulullah melihat seekor kambing kurus yang ditambatkan di samping kemah.

“Wahai Ibu, bolehkah kami memerah susu dari kambingmu itu?” tanya Rasulullah.

Ummu Ma’bad memandang kambingnya sejenak, lalu memandang Rasulullah. Karena ia tak yakin dengan kambing kurusnya tersebut. Baginya tak mungkin kambing kurusnya tersebut akan mengeluarkan air susu.

“Tuan, kambing itu sangat kurus dan sudah tidak menghasilkan susu,” jawab Ummu Ma’bad jujur.

“Tidak apa-apa, Bu. Bolehkah kami memerahnya?” tanya Rasulullah lagi.

“Jika Tuan merasa dapat memperoleh susu darinya, silakan!” jawab Ummu Ma’bad.

Rasulullah kemudian melepas kambing itu. Beliau mengusap puting susu kambing itu seraya berdoa sebelum memerahnya. Atas kuasa Allah Subhanahu wa ta’ala, kambing kurus itu mengeluarkan banyak susu. Rasulullah menaruhnya ke dalam mangkuk, lalu memberikannya kepada Ummu Ma’bad dan ketiga sahabat. Setelah semuanya kenyang, barulah beliau minum. Kemudian Rasulullah memerah satu mangkuk lagi. Ummu Ma’bad menerimanya dengan terbengong-bengong. Ia masih tak percaya kambing kurusnya menghasilkan banyak susu.

“Berikan susu ini kepada suamimu nanti, Bu,” sabda beliau.

“Ya…, ya, Tuan,” jawab Ummu Ma’bad gugup, karena masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.

Usai melepas dahaga, Rasulullah dan ketiga sahabatnya pun berpamitan. Tinggallah Ummu Ma’bad sendirian. Namun tak lama kemudian, suaminya pulang. Ia terkejut mendapati semangkuk susu untuknya.

“Dari mana kau dapatkan susu ini, sedangkan tak seekor pun kambing kita yang mengeluarkan susu?” tanyanya.

Ummu Ma’bad lantas menceritakan kejadian aneh yang baru dialaminya.

“Bagaimana ciri-ciri orang itu, Istriku?” tanya Abu Ma’bad penasaran.

“la seorang laki-laki yang tampan dan gagah. Tuturnya katanya lembut namun berwibawa. Wajahnya bercahaya seperti rembulan, seluruh alam seolah terang karenanya. Tingkah lakunya sangat sopan, hatinya begitu lembut. Jika dia berbicara, ketiga temannya selalu menurutinya. Rambut dan alisnya tebal, serta matanya bercelak,” jawab Ummu Ma’bad.

“Beliau pastilah Rasulullah, Muhammad Saw. Beliau adalah orang Quraisy yang dikabarkan menjadi utusan terakhir. Sejak lama aku ingin bertemu dan mengikutinya,” kata Abu Ma’bad.

“Kalau begitu, kita berangkat sekarang, Suamiku.” kata Ummu Ma’bad.

Maka, kedua orang itu segera bersiap mengejar Rasulullah dan ketiga sahabat ke Madinah. Di sana, mereka bertemu Rasulullah dan menyatakan masuk Islam.

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

ISLAMPOS

Kapan Waktu yang Tepat untuk Lakukan Shalat Istisqa?

SHALAT istisqa adalah salat sunah muakkad dua rakaat untuk meminta turunnya hujan kepada Allah. Tata cara shalat minta hujan mirip shalat Id, termasuk soal jumlah takbir dan adanya khotbah setelah shalat.

Para ulama mendefinisikan istisqa adalah,

طلبه من الله عند حضور الجدب على وجهٍ مخصوص

“Meminta hujan kepada Allah, ketika terjadi kekeringan, dengan aturan dan tata cara tertentu.” (Fathul Bari, 2:492).

Shalat istisqa yaitu berdoa meminta hujan yang disertai shalat, dengan tata cara tertentu yang telah diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ada juga doa meminta hujan yang tidak  disertai shalat.

Dari Abbad bin Tamim bahwa pamannya, Abdullah bin Zaid mengatakan:

Dari Abbad bin Tamim bahwa pamannya, Abdullah bin Zaid mengatakan:

أَنَ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وسلم) ، خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَجَعَلَ الْيَمِينَ عَلَى الشِّمَالِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lapangan untuk shalat istisqa, beliau menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dan membalik kain atasan pakaian beliau, dibalik bagian kanan diletakkan di sebelah kiri.” (HR. Bukhari)

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pelaksanaan shalat yang disertai doa Istisqa. Ada yang berpendapat dilaksanakan pada:

1. Waktu pagi seperti waktunya shalat hari raya ‘ied.

2. Waktu pagi seperti waktunya shalat hari raya ‘ied, sampai tiba waktu asar.

3. Tidak ada batasan waktu tertentu, boleh pagi, siang ataupun malam. Asal tidak di waktu-waktu yang dimakruhkan melaksanakan shalat.

Tampaknya pendapat ke-tiga inilah yang paling kuat (rajih). Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama (Jumhur). (Lihat : Al-Majmu’ Imam Nawawi, 5/77 dan (Al-Mausu’ah Al-fiqhiyyah 3/308).

Itulah pendapat para ulama mengenai kapan waktu dilaksanakannya shalat istisqo yang tepat. []

ISLAMPOS

Ulama Punya Tanggung Jawab Menjaga Umat

Para ulama adalah benteng-benteng yang kokoh dari syariatnya Allah.

Para ulama dan elemen umat Islam memiliki tanggungjawab dalam upaya mengokohkan nilai-nilai luhur perintah Allah SWT, guna menyelamatkan umat di dunia dari kehancuran dan kebinasaan.

Hal ini ditegaskan ulama besar Yaman, Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz dalam Multaqo Ulama Internasional ke-13, yang digelar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), di auditorium Sultan Agung, kompleks kampus Unissula, Rabu (25/9).

Menurutnya, umat di dunia tengah menghadapi perkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Jika ini tidak diimbangi dengan penguatan nilai- nilai dari ajaran Allah SWT maka ilmu dan teknologi yang diciptakan hanya akan membawa kehancuran bagi umat.

Maka Habib Umar mengajak semua umat Islam untuk menyambungkan dan menyeimbangkan pendidikan –baik pendidikan Islam dengan pendidikan umum– mulai dari pendidikan- pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Sehingga akan umat bisa melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik- baiknya. “Karena setiap ilmu pengetahuan dan teknologi yang disambungkan dengan ruh Islam maka ini akan menjadi sebuah kesempurnaan,” katanya.

Pada bagian lain, Habib Umar juga mengungkapkan, jika akhir- akhir ini banyak pemikiran yang menyimpang, yakni pemikiran sebagian kelompok yang menginginkan agama hendaklah melepaskan diri dari menjalaankan syariat.

Pemikiran menyimpang tersebut juga mengajarkan hendaknya meninggalkan alat teknologi yang bisa bisa menghambat mereka untuk mencapai kedudukan di sisi Allah SWT serta menganggap tidak penting ijazah yang ada di sekolah.

Sebaliknya, ada juga kelompok mereka yang memiliki pemahaman batil, di mana mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia maka mereka harus meninggalkan ponpes, meninggalkan pengajian- pengajian untuk bisa bisa mencapai cita- cita dunia mereka.

“Semua ini merupakan pemikiran sesat yang memecah belah umat dan di balik itu semua ingin diwujudkan untuk memanfaatkan kelemahan di tengah- tengah kaum muslimin,” ungkapnya.

Oleh karena itu, habib Umar mengajak seluruh umat Islam untuk senantiasa menjaga amanah Allah SWT dengan baik dan melaksanakan syariat sesuai ajaran Rasulullah –dalam segala hal—untuk memperkuat umat dari ajaran ajaran atau faham yang menimpang.

Dalam hal ini, peran para ulama sangat penting. Para ulama adalah benteng- benteng yang kokoh dari syariatnya Allah dan merupakan pelindung yang kuat terhadap diri manusia, agar manusia tidak terperdaya dengan berbagai godaan- godaan dari kejahatan, setan, jin maupun dari sesama manusia.

“Diantara tugas para ulama adalah menjaga janji terhadap Allah SWT seraya memenuhi hati mereka dengan ketulusan beramal di jalan Allah SWT, hingga nanti mereka berjumpa dengan Allah untuk mempertanggungjawabkan janjinya selama di alam dunia,” tegasnya.

Ulama- ulama yang ikhlas adalah ulama ulama yang tidak terpengaruh dan tidak terperdaya oleh kemewahan dunia dan berbagai macam godaan yang akan menjadikan mereka keluar dari amanah yang telah menjadi tanggungjawabnya.

“Karena para ulama menyadari bahwa yang memberikan tugas mulia ini dan juga membebankan amanah ini adalah Allah SWT, dan hanya kepada Nya lah meeka akan mempertanggungjawabnya,” lanjut Habib Umar.

KHAZANAH REPUBLIKA


Pemberian dan Penolakan

KETIKA kita diberi pinjaman atau direstui saat melamar, bagaimanakah wujud kegembiraan kita terhadap orang yang memberi tersebut? Apakah menjadi sangat baik sampai bersedia melakukan apapun dan berlebihan kepadanya? Namun, bagaimana sebaliknya, jika pengajuan pinjaman atau lamaran kita ditolak? Apakah kita akan kecewa, sakit hati, marah, bahkan dendam?

Apabila jawabannya iya, itu menandakan kalau kita masih kekanak-kanakan dalam ketauhidan. Kita masih menganggap makhluk sebagai penentu. Padahal, setiap pemberian dan penolakan adalah Allah Ta’ala yang menggerakkan.

“Apabila engkau diberi merasa gembira karena pemberian, dan jika ditolak merasa sedih karena penolakan, maka ketahuilah yang demikian itu masih ada tanda-tanda dari sifat kekanak-kanakan padamu; dan belum bersungguh-sungguh dalam sifat kehambaanmu kepada Allah.” (al-Hikam, No.158)

Jadi, kalau kita diberi sesuatu, gembiralah karena yakin pemberian itu dari Allah Ta’ala. Adanya pemberian sepatutnya membuat kita semakin yakin bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Menggerakkan. Maka, hanya kepada-Nya kita memohon dan berharap. Kalau kita hanya gembira terhadap barang pemberian dan orang yang memberi, berarti kita masih berharap kepada makhluk. Hal inilah yang akan membuat kita kecewa, sakit hati dan dendam ketika tidak diberi.

Allah yang menggerakkan suatu sehingga lahirlah pemberian dan penolakan. Dialah yang menggenggam dan membolak-balik hati semua manusia. Lalu, misalnya, mengapa Allah Ta’ala menggerakkan seseorang untuk menolak meminjami kita uang? Boleh jadi, Allah tidak ingin menambahkan beban utang pada kita. Atau, Dia ingin memberi rezeki di tempat lain. Dialah Yang Maha Tahu segalanya.

Jangan bersandar kepada makhluk karena hanya Allah yang kuasa menentukan. Apa pun yang terjadi, hanya terjadi dengan izin-Nya. Bersyukur dan ucapkanlah hamdalah baik ketika memperoleh pemberian maupun saat mendapat penolakan. Sebab keduanya merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada-Nya.

Maka, terhadap orang yang menolak memberi, kita tidak usah kecewa dan dendam. Begitu juga kepada orang yang memberi, kita tidak perlu berlebihan. Misalkan ketika lamaran diterima, tidak perlu sampai sujud mencium kaki calon mertua. Sebab diterimanya lamaran masih belum tentu jodoh. Siapa tahu sehari sebelum akad nikah digelar, kita atau calon pasangan meninggal dunia.

Saudaraku, kita selayaknya menerima pemberian dan penolakan dengan satu keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah Zat menggerakkan dan menentukan.Termasuk saat diberi sehat dan sakit, kita bisa mengucap hamdalah; diberi pujian tidak menjadi Iarut dan ujub, diberi hinaan tetap tenang. Kemudian, perdalamlah penghambaan kita kepada-Nya dan segera tinggalkan sifat kekanakkanakan.

Kita harus selalu siap dengan yang cocok maupun yang tidak cocok dengan keinginan. Sesungguhnya, dengan kemahasempurnaan ilmu-Nya, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, hamba-Nya.

* Sumber: Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah Jilid 1

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar *

INILAH MOZAIK