Makna Dalam dari “Mak…Udah!”

“Mak…udah!”

Apa yang terpikirkan dengan kalimat di atas? Penulis mencoba mengatakan kepada seorang teman di kantor mengenai kalimat pendek di atas. Kontan ia langsung tertawa terbahak. Pikirannya langsung teringat masa kecil ketika sedang pup atau awal-awal belajar pup di kamar mandi. Lalu memanggil ibu dengan kalimat pamungkas “Mak…udah!”

Ibu kemudian datang dengan segera, gerakannya langsung cekatan mengambil gayung lalu membersihkan kotoran kita yang baunya semerbak khas. Ibu tidak jijik atau menutup kedua lubang hidungnya.

Anda mengalami hal yang sama ketika kecil? Ibu kita tampak begitu heroik, menjadi pahlawan pertama pembasmi ketidakberesan di rumah. Setelah kita dewasa, ibu kita secara biologis pun makin menua. Lalu, bagaimana kita memperlakukannya?

Penulis jadi teringat sesuatu. Ketika memberikan tautan video murottal seorang reciter suatu malam, tiba-tiba kawan penulis memberikan sebuah foto. Seorang perempuan tua mengenakan kerudung putih, berkacamata plus, bergamis batik biru, sepatu putih dan di depannya tas selempang berwarna kuning. Di tas itu terpampang foto sang perempuan tua dan sebuah tulisan “cek out”.

“Tadi ada jamaah umrah yang tersesat. Kasihan nenek-nenek,” kata kawan, malam itu pukul 21.56 WIB.

Kawan ini bernama Abdurrahman Nasrullah Erwin. Ia sedang menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia.

“Beliau sudah tidak kuat berjalan,” lanjut Anas, begitu teman akrab disapa. Nenek yang berusia sekitar 70-an tahun itu terbawa arus jamaah luar negeri lainnya. Anas tak terlalu paham dengan penuturan nenek yang bernama Cekoni Jamal Wahid–terlihat dari identitas name tagnya. “Saya tidak terlalu paham bahasanya. Bahasa yang beliau pakai bahasa Melayu, lebih ke bahasa Palembang,” tutur Anas. Namun ada sedikit yang ia pahami, “Ia bilang ‘tadi saya ikutin orang-orang yang jalan, dekat fly over di luar Nabawi’,” kata pemuda yang pernah kuliah di STIU Al-Hikmah Jakarta itu, menirukan kalimat nenek Cekoni. Jarak yang lumayan jauh. Circa lima kilometer.

Nenek yang masih bagus pendengarannya tersebut menurutnya tidak tampak mengeluh sama sekali. Hanya saja, nek Cekoni banyak terdiam.

Anas bersama keempat temannya yang bergegas menghubungi travel yang tertulis di name tag nek Cekoni. Travel Zafa Tour. Tak lebih dari 45 menit, mutawwif sang nenek pun datang. Kata mutawwifnya, nek Cekoni awalnya mengisi air zam-zam, setelah itu ia mengikut jamaah yang lain. Di saat itulah nenek kehilangan arah.

Ketika dijemput oleh mutawwifnya, awalnya sang nenek ketakutan dan tidak mau diajak. Namun setelah dibujuk sedemikian rupa akhirnya ia mau ikut ke rombongan kembali.

“Ya Allah, bayangkan kalau itu orangtua kita..” tutur Anas tidak tega.

Al Birr bermakna kebaikan. Rasulullah SAW. bersabda: “Al Birr adalah baiknya akhlak.” (HR. Muslim).

Sehingga Birrul Walidain berarti berbuat baik kepada kedua orangtua, menjauhi apa-apa yang tidak mereka sukai, serta mentaati mereka (selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah).

Sang kawan tadi benar, bagaimana kalau itu orangtua? Bukan tentang anak dari orangtua tersebut, namun tentang kita memperlakukan orangtua. Orangtua yang sudah mengalami masa senja akan mengalami penurunan pula pada fungsi fisiknya. Apalagi jika orangtua mengalami kelumpuhan yang mengganggu saraf motoriknya, ia hanya hidup di atas tempat tidur atau kursi roda. Maka, yang akan membersihkannya adalah kita. Anak-anaknya. Ketika pup pun kita yang akan merawatnya. Maka kalimat pamungkas “Mak..udah!” yang kita gaungkan ketika kecil berubah menjadi “Mak, udah?”

Fawwaz La’bun pernah mengatakan bahwa yatim itu ada dua macam. Pertama yatim kecil, yang artinya kehilangan orangtua. Yang kedua, yatim besar: kehilangan ridha orangtua. Semoga kita tak yatim yang terakhir itu.

Wallahua’lam.

 

BersamaDakwah

 

Mandul, Allah akan Siapkan Anak di Surga

ADA wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan, ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak.

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakhai.

Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif karena musalsal bil mahajahil)

Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173)

Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.”

Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71). Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik. [Muhammad Abduh Tuasikal]

 

INILAH MOZAIK

Kisah Foto Mengharukan: Anak Peluk Hangat Ayah nan Renta

GARA-gara pemandangan di depannya, pegawai negeri sipil itu nyaris menangis dalam perjalanan di atas kereta api. Cerita bermula dari “pertemuannya” dengan seorang kakek renta di ruang tunggu penumpang Stasiun Jenar Purworejo, Jawa Tengah.

Ia melihat kakek yang ditaksir berusia 75-80 tahun itu datang untuk duduk di ruang tunggu dengan dipapah oleh anaknya, diperkirakan berumur 50 tahun.

Ternyata kemudian, pagi itu, ia dan dua orang yang disebut bapak-anak itu satu perjalanan di atas Kereta Api Prambanan Ekspress (KA Prameks) relasi Kutoarjo-Solo. Ia kebagian tempat duduk di depan keduanya, sehingga bisa melihat secara dekat dan jelas aktivitas mereka.

“Saat itu belum terbersit sesuatu yang istimewa dari apa yang ada di depan saya,” ungkap Restoris A Fatiha, nama pria itu, saat mengobrol dengan hidayatullah.com, Jumat, 27 Oktober 2017.

Singkat cerita, pandangan Restoris terus tertuju ke arah kedua penumpang “istimewa” di depannya. Ia melihat kakek itu tidak memakai alas kaki, hanya menggunakan kaos kaki.

Di dalam kereta, dua penumpang “istimewa” itu duduk berdampingan kursi. Sejurus kemudian, sekitar pukul 06.20 WIB, tiba-tiba kakek itu mengubah posisi duduknya. Ia bersandar dan berbaring di dada dan paha anak yang duduk di sisi kirinya. Kedua tangan dan kakinya dilipat, dirapatkan karena sempitnya kursi.

Seketika itu pula anaknya yang baru menerima panggilan telepon memeluk orangtua itu dengan tangan kanannya. Selesai menelepon, ia pun memeluk dengan kedua tangannya. Kehangatan itu seperti orangtua yang sedang memeluk anak yang masih kecil.

“Momen yang bikin saya terenyuh dan terharu dan berpikiran untuk mengabadikan,” ungkap PNS di Pemerintah Kabupaten Kulon Progo ini. “Saya melihat sesuatu yang membuat hati saya langsung merindukan orangtuaku, langsung membuat ‘trenyuh’ dan rasanya pengenmeneteskan air mata.”

Episode keharuan itu bertambah saat pemandangan lain tertangkap oleh pandangan mata dan perasaan Restoris, masih dalam perjalanan itu.

“Awalnya saya cuma fokus untuk ambil gambar si anak dan si bapak tersebut,” tuturnya. “Tapi tiba-tiba pandangan saya juga tertarik pada kursi di sebelah beliau yang saat itu saya lihat (duduk) seorang bapak dan ibu sedang bercanda, gurau dengan cucunya.”

Pria 30 tahun ini tak sendirian hanyut dalam suasana “bawa perasaan”. Pemandangan di depannya juga mengundang “baper” banyak kalangan warga bahkan yang nun jauh darinya.

Pasalnya, momentum keakraban dua keluarga itu ia abadikan dengan kamera di genggamannya. Lalu, 30-60 menit kemudian, akunya, foto-foto kisah penuh kasih itu diunggahnya ke akun medsosnya di Facebook, pada hari “istimewa” itu, Rabu, 18 Oktober 2017.

Sontak saja, para pengguna media sosial dibikin terenyuh oleh kiriman Restoris berupa foto dan tulisannya. Jagat dunia maya mengharu biru. Sudah sepekan lebih kehangatannya masih terasa hingga kini, dibicarakan dan disyiarkan di berbagai media sosial, termasuk aplikasi berbagi foto, Instagram.

Pengamatan hidayatullah.com, kehangatan dua keluarga tersebut memang begitu menyentuh perasaan. Sebagaimana foto unggahan Restoris, di sisi kanan ada sepasang pria dan wanita berjilbab –tampaknya suami-istri–begitu akrab dengan seorang bocah laki mungkin anak atau cucunya. Tatapan ketiganya sama-sama mengarah pada sebuah telepon genggam, dengan raut wajah terlihat penuh senyum dan keceriaan. Melambangkan kebahagiaan.

Sementara di sisi kiri, seorang pria merangkul hangat orangtua berpeci yang wajahnya terlihat sudah mengerut. Kedua manusia beda generasi itu seakan berbicara dari hati ke hati. Melambangkan kedekatan, kesetiaan.

Sedangkan para penumpang lain tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Drama itu menampilkan siklus nilai-nilai kemanusiaan yang rasa-rasanya sudah jadi barang langka di era modern saat ini; anak menyayangi orangtua dan orangtua mengakrabi anak.

Widya Restianda, salah satu warganet, menggambarkan foto itu dengan sebuah komentar pada unggahan tersebut:

“Foto yang kanan seperti flashbacknya si bapak yang fotonya sebelah kiri, ketika dia dipeluk bapaknya dan diajak bercanda oleh bapak ketika ada maknya juga. Dan sekarang tinggal dia sama bapaknya dan sekarang giliran si bapak itu pula yang memeluk bapaknya. Sebuah ‘kebetulan’ yang luar biasa. MasyaAllah.”

“Saat itu pula saya teringat masa kecil saya. Dan terbayang bahwa ini seperti sebuah siklus kasih sayang. Dirawat dan kemudian merawat,” ungkap Restoris.

 

“Sayangi Orangtuamu”

Tapi ada yang ia sayangkan. “Saya belum sempat ngobrol dengan beliau-beliau yang ada di foto. Cuma sesekali terdengar obrolan antara si bapak yang memeluk anaknya dengan yang bapak dan ibu yang bawa cucu itu.”

“Sepertinya mereka akan pergi ke Jogja/Solo untuk berobat/kontrol. Biasanya mereka naik bis, tapi ini mereka baru sekali nyoba pakai kereta api Prameks. (Tentang) itu yang samar-samar saya dengar dari percakapan (mereka),” ungkapnya.

Ia terpaksa berpisah dengan para penumpang “istimewa” itu karena ia harus segera turun di Stasiun Wates dan berganti kereta tujuan Jakarta.

Jadinya, penumpang- penumpang itu sejauh ini belum ia ketahui identitasnya. Yang pasti, pesan-pesan moral tentang berkasih sayang dalam keluarga sudah menyebar luas di dunia siber.

Termasuk yang ia sampaikan kepada para pembaca:

“Sayangilah orang tuamu, sebagaimana orang tuamu menyayangimu, membesarkanmu, mendidikmu, dan merawatmu dgn sepenuh hati…

Sungguh pemandangan yg sangat sederhana ini mampu menggugah hati dan mengingatkan kita sebagai seorang anak untuk selalu menyayangi dan mencintai orang tua kita walaupun dgn cara yg sederhana…. -RAF-.”

Pesan-pesan itu, pantauan hidayatullah.com hingga Sabtu  (28/10/2017) malam sekitar pukul 20.00 WIB, setidaknya sudah 7.381 kali dibagikan dan diganjar 15 ribu tanggapan positif dan apresiatif.

“Sedih, Mas, bacanya. Semoga nanti saya bisa seperti itu,” komentar Ananta Putra Achmad.

“Ya Allah beri hamba kekuatan dan kemampuan untuk selalu membahagiakan orangtua saya di dunia dan akhirat,” tulis Iwan Hermansyah.*

 

HIDAYATULLAH

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Wahai Para Orang Tua, Ciumlah Anak-Anakmu

Di antara bentuk ungkapan cinta Anda kepada anak-anak adalah mencium mereka. Ciumlah anak Anda setiap hari dan izinkan mereka mencium kepala Anda dan kepala ibunya setiap hari pula.

Sungguh, ciuman seorang ayah atau ibu memiliki pengaruh positif kepada anak-anaknya. Sebab, ciuman merupakan ungkapan cinta, perhatian, kerinduan dan lain sebagainya dari makna-makna keindahan yang mampu menjaga keharmonisan rumah tangga.

Berusahalah Anda untuk mencium anak-anak Anda setiap hari dalam rangka mengungkapkan rasa sayang dan cinta Anda kepada mereka.

Hal ini juga dilakukan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Suatu ketika, beliau bertanya kepada seorang badui,

“Apakah kalian mencium anak kalian setiap hari?”

Orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak yang tidak pernah aku cium satupun di antara mereka.”

Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya,

“Apa yang telah engkau lakukan? Sesungguhnya Allah telah mencabut rahmat dari hatimu.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

Telah diriwayatkan dalam sebuah atsar dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, bahwa ia menuturkan,

“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di rumahku. Ketika itu pembantu mengatakan bahwa Ali dan Fathimah ada dalam kamarnya.

Ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku,

Bangunlah kamu tolong panggilkan ahli baitku.”

Mendengar sabda beliau itu, aku bangkit dan berdehem di dekat rumah. Seketika itu juga, masuklah Ali dan Fathimah, bersama kedua anaknya Al-Hasan dan Al-Husain yang masih balita

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menggendong kedua balita tersebut dan meletakkannya di atas pangkuannya lalu mencium keduanya.

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memeluk Ali pada satu tangannya dan Fathimah pada tangan yang lain, beliau mencium Fathimah dan mencium Ali, kemudian Rasulullah memberi mereka sebuah kain hitam, kemudian beliau berdoa,

“Ya Allah, aku minta kepada-Mu agar menjauhkan aku dan keluargaku dari neraka.”

Aku (Ummu Salamah) katakan, “Aku bagaimana wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Kamu juga.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya [6/296]).

Dikutip dari buku Kaifa Takûnâ Abawain Mahbûbain karya Dr. Muhammad Fahd Ats-Tsuwaini. Semoga bermanfaat.

 

Abu Syafiq/BersamaDakwah

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Awas! Iblis Bersama Harta dan Anak Anda

SEPENGGAL hikmah di surat al-Isra: 61 65. Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam.

Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya. Allah berfirman, “Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Isra: 64)

Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari, “Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah, baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci, atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai, atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup, atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu, semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak.

Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya. (Tafsir Ibnu katsir, 5/94).

Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak. Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.

Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung mengendalikan harta dan anak kita. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

MOZAIK

Harta dan Anak jangan Bikin Lalai Mengingat Allah

AGAMA Islam mengajarkan kepada umatnya agar berhati-hati dengan pelit dan menjadi dermawan. Janganlah pelit dan memiliki akhlak yang tercela.

Tidaklah berkumpul kedua (sifat) ini bersama keimanan yang benar. Jadilah orang yang dermawan dengan harta dan bersikap lemah lembutlah.

Arti dari bait kalimat di atas adalah berhati-hatilah apabila berkumpul dalam dirimu sifat pelit dan akhlak yang tercela. Karena kedua sifat itu tidak mungkin berkumpul di dalam diri seseorang yang beriman. Dengan kata lain, iman tidak mungkin ada dalam diri seseorang apabila kedua sifat [pelit dan akhlak tercela] itu ada di dalam dirinya.

Karena pelit itu lahir dari prasangka buruk (su’udzan) kepada Allah dan tidak yakin kepada jaminan Allah atas orang-orang yang dermawan. Sedangkan akhlak yang tercela lahir dari hati yang sempit.

Dalil Alquran tentang sifat pelit, Allah berfirman:
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki llah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya (hatinya) sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (al-Anaam 125)

Dalil dari hadis Nabi Muhammad tentang hubungan pelit, akhlak tercela dan seorang mukmin, yang artinya: “Dua perkara yang tidak berkumpul dalam hati seorang mukmin: pelit dan akhlak yang tercela.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengandung peringatan yang keras atas dua perkara yang tercela tersebut. Karena kedua perkara pelit dan akhlak tercela dapat menghilangkan kesempurnaan iman dalam diri seseorang, yang selanjutnya dapat mencabut iman dari diri seseorang dan berakhir dengan mati dalam keadaan su’u al-khatimah. Semoga Allah memberikan kita ampunan dan melindungi kita dari kedua perkara tercela tersebut.

Alquran memuji sifat dermawan

Mengenai pujian atas kedermawanan dan celaan atas sifat pelit telah dijelaskan dalam Alquran: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (al-Lail [92]:5-ll)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada hari ketika seorang hamba memasuki waktu pagi kecuali kedua malaikat berdoa. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah berilah kepada orang yang berinfak gantinya.’ Dan malaikat yang satu berdoa, ‘Ya Allah berikan kepada orang yang pelit kehancuran.”‘ (HR. Bukhari- Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda, “Wahai anak Adam, sesungguhnya apabila kamu menginfakkan harta yang lebih milikmu itu baik bagimu dan apabila kamu pelit atasnya itu buruk bagimu, dan tidaklah tercela bagi orang-orang yang memiliki harta sebatas yang dibutuhkan.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan oleh Ibn Masud, Rasulullah bersabda, “Allah menghidupkan dua hamba dari hamba-hambaNya setelah keduanya meninggal dunia. Keduanya adalah orang yang memiliki harta dan anak yang banyak. Allah berkata kepada salah satu dari kedua orang itu, ‘Apa yang kamu lakukan atas apa yang telah Aku berikan kepadamu?’ orang itu berkata, ‘Aku meninggalkannya untuk anak-anakku karena aku takut mereka menjadi miskin.’ Allah berkata kepadanya, ‘Apakah kamu tidak yakin dengan kemurahanku. Sesungguhnya apa yang kamu takutkan atas mereka telah Aku turunkan kepada mereka (kemiskinan).’ Lalu Allah berkata kepada yang satunya, ‘Apa yang kamu lakukan atas apa yang telah Aku berikan kepadamu?’ orang itu berkata, ‘Aku infaqkan dalam ketaatan kepadaMu, dan aku yakin dengan nasib anak-anakku sebab kemurahanMu.’ Allah berkata, ‘Apa ang telah kamu yakini atas mereka, sungguh telah aku berikan kepada mereka (kekayaan).'” (Thabrani).

Imam Ghazali berkata: Ketahuilah! Sesungguhnya sifat pelit itu akan membawa kepada kerusakan yang sangat besar. Dasar dari sifat pelit adalah cinta kepada harta, baik atas harta miliknya atau milik orang lain yang ingin dimilikinya.

Ketahuilah! Memiliki harta itu bukanlah hal yang tercela. Karena setiap orang untuk menuju Allah memerlukan kendaraan yaitu tubuhnya. Dan, tubuh itu memerlukan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Akan tetapi orang yang memahami tujuan dari harta itu, dia tidak akan mengambilnya kecuali sebatas apa yang diperlukan. Apabila berlebihan, maka seperti seorang musafir yang membawa bekal terlalu banyak sehingga memberatkan dirinya sendiri dan dia dapat celaka dengan barang bawaannya sendiri.

Begitu pula, memiliki harta yang lebih dari apa yang diperlukan dapat membawa kerusakan, karena ia dapat membawa hawa nafsunya dalam kemaksiatan. Hal itu disebabkan dia dapat melakukan apa saja dengan harta yang dimilikinya. Sedangkan untuk menjaga dirinya dia tidak mampu, karena sabar atas apa yang dia mampu lakukan sangatlah erat. Selain itu, harta yang berlebih dapat memalingkan dirinya dari kikir dan beribadah kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagian yang abadi. Dan, bagi yang menyia-nyiakan keduanya (dzikir dan ibadah) akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-munaafiquun [63]:9)

Hal itu dapat terjadi, ketika hati disibukkan dengan urusan perusahaan seperti pengaturan manajemen, mencari solusi dalam pertengkaran di antara karyawan atau manajemen keuangan. Semua itu akan menyibukkan hati dan raganya dari ibadah kepada Allah, bahkan akan membuatnya cinta kepada dunia dan kebencian akan kematian. Yang berarti dia benci bertemu dengan Allah dan orang yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci bertemu dengannya.

Selanjutnya dia akan melakukan hal-hal yang dimurkai Allah, seperti mencari muka dihadapan manusia, riya (pamer), munafik dan mengatasnamakan agama untuk kepentingan duniawi. Bukan hanya itu saja, akan timbul permusuhan dan pertengkaran untuk meraih itu semua. Dan, masih banyak lagi hal-hal negatif yang ditimbulkan darinya.

 

MOZAIK

Anak yang Kurang Beruntung

Sehebat apa pun seorang ayah, ia tidak mampu menggantikan peran ibu dalam mengasuh anak. Begitu pun sebaliknya, seorang ibu tidak bisa menggantikan peran ayah mengisi relung lubuk hati anaknya. Keduanya mesti hadir bersamaan dalam peran yang berbeda untuk menanamkan akidah tauhid, syariat, dan adab yang baik (QS 31:12- 19). Tentu saja setiap orang tua ingin anaknya menjadi penyejuk hati dan pemimpin umat (QS 25:74).

Anak yang kurang beruntung itu karena mengalami salah satu dari empat kejadian, yaitu: Pertama, anak yang ditinggal mati orang tuanya. Sebagian anak tak sempat bertemu orang tuanya kecuali selembar foto yang tersisa. Anak yang ditinggal ibu saat melahirkan atau ayah sewaktu masih dalam kandungan dan terlahir sebagai anak yatim atau piatu (QS.4:6). Ada pula anak yang tak tahu rupa dan gaya ayah ibunya, kecuali dari cerita kaum kerabat yang mengasuhnya. Namun, ia selalu mendoakan mereka dan tegar menjalani hidup dan menjadi orang yang berjaya.

Kedua, anak yang ditinggal lama orang tuanya. Kesulitan hidup sering kali menjadi alasan untuk bekerja ke negeri orang. Keinginan mengubah nasib itu membuat seorang ayah atau ibu rela berpisah dan meninggalkan anaknya. Jika ayah yang pergi, ibu mengasuh anak dalam kesendirian. Jika ibu yang pergi, ayah berubah menjadi ibu rumah tangga dan menanggung kesepian tanpa belaian istri. Anak pun tumbuh dalam ketimpangan kasih sayang orang tua seperti digambarkan dalam sinetron “DuniaTerbalik.”

Ketiga, anak yang ditinggal pergi orang tuanya. Malang nian nasib anak semacam ini, karena orang tua yang melahirkan tak tahu rimbanya. Sungguh sedih anak ditinggal mati atau lama, tapi lebih sedih anak yang ditinggal pergi orang tua. Walau hidup dalam penantian, ia selalu berdoa agar suatu saat nanti ayah atau ibunya kembali. Mereka pergi karena perceraian atau lari dari tanggung jawab dan anaknya pun tumbuh dalam kegalauan dan ketidakpastian.

Keempat, anak yang ditinggal zamannya. Orang tuanya masih hidup, tapi mereka dibalut kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Tinggal jauh di pedesaan yang tidak terjangkau akses pendidikan dan kesehatan. Tertinggal oleh kemajuan zaman sebab ketidakadilan dalam pemerataan pembangunan. Begitu pula nasib anak-anak di negeri konflik seperti Myanmar yang menderita di pengungsian, mati kelaparan, atau tenggelam di lautan. Mereka lari dari kebiadaban penguasa zalim dan orang tuanya tak berdaya menyelamatkan.

Orang tua wajib menjaga anak-anaknya dari segala macam sengsara (QS.66:6). Jika orang tua tidak mampu mengendalikan keadaan, tentulah apa yang terjadi atas izin Allah SWT, dan semua kembali kepada-Nya (QS.64:11,2:156). Namun, jika orang tua abai, tentu akan ada balasannya. Segeralah mohon ampun, sebab setiap kejahatan akan kembali kepada pelakunya. (HR Tirmidzi). Allahu a’lam bishawab.

 

 

Oleh: Hasan Basri Tanjung

REPUBLIKA

Anak Sebagai Ujian

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Dzat Yang Maha Menguasai langit dan bumi beserta segala apa yang ada di dalamnya. Tiada yang patut disembah selain Alloh, tiada yang bisa dimintai pertolongan kecuali Alloh. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, mudah-mudahan Alloh Swt. memberikan kita petunjuk dan kekuatan supaya kita bisa melalui setiap ujian dengan baik, karena hidup di dunia ini adalah rangkaian ujian demi ujian. Seperti anak yang akan naik kelas di sekolahnya, senantiasa akan dihadapkan dengan soal-soal ujian. Demikian pula kita dalam hidup ini. Setiap ujian yang kita hadapi hakikatnya adalah agar derajat kita naik di hadapan Alloh Swt.

Salah satu bentuk ujian dari Alloh itu adalah berupa anak atau keturunan. Jika dilihat dari satu dimensi, maka anak adalah karunia. Dilihat dari dimensi lain, anak merupakan amanah. Dan dilihat dari dimensi yang lain, anak merupakan ujian. Alloh Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal [8] : 27-28)

Oleh karena itu, melihat anak seperti melihat soal ujian. Orang akan stress menghadapi soal ujian kalau dia tidak belajar, meski jawaban dari soal itu sebenarnya sangat mudah. Dan, yang namanya ujian tidak selalu berupa kesusahan. Punya anak yang sukses itu juga bentuk ujian. Tidak jarang ada orangtua yang ujub, takabur, sombong, gara-gara kesuksesan anaknya. Kemana-mana memamerkan prestasi anaknya. Pada banyak kesempatan memamerkan anaknya sembari merendahkan anak orang lain yang tidak sukses sebagaimana anaknya.

Anak sukses itu adalah ujian. Jangan sampai kita yang sudah diamanahi oleh Alloh menjadi orangtua, merasa ujub, takabur, sombong karena kesuksesan anak kita. Karena sesungguhnya anak sukses adalah karunia dari Alloh Swt. Bersikap tawadhu dan berserahdiri kepada Alloh ketika melihat kesuksesan anak, maka itulah orangtua yang sukses. Sedangkan jika kita ujub, takabur, sombong, maka sesungguhnya kita sedang gagal menyikapi ujian berupa anak.

Anak-anak bisa berprestasi di sekolahnya, tinggi nilai ujiannya, lulus dengan nilai yang mengagumkan, tiada lain adalah karena Alloh mengkaruniakan kepadanya otak dan akal pikiran, kesehatan, dan perlindungan.

Demikian halnya ketika anak tidak sesuai harapan. Mungkin prestasi di sekolahnya yang biasa saja, atau bahkan mungkin sempat tidak naik kelas. Kuliahnya berlarut-larut. Atau secara duniawi pekerjaannya biasa saja dibandingkan teman-temannya yang lain. Ini juga ujian bagi orangtua. Ada orangtua yang malu, minder dan berkeluh kesah melihat anaknya yang demikian. Sampai orangtua lupa bahwa surga tidak identik dengan gelar sarjana, dengan rangking pertama atau dengan jabatan mentereng di kantornya.

Bukankah banyak anak-anak yang hanya lulus SMA, atau kuliah tapi tidak sampai jadi sarjana, namun mereka justru akhirnya mampu menggaji para sarjana. Anak-anak seperti ini banyak jumlahnya.

Maka dari itu, bagi para orangtua hendaknya senantiasa rendah hati, penuh syukur dan tawakal kepada Alloh Swt. menghadapi bagaimanapun kondisi anak-anak kita. Tugas para orangtua adalah merawatnya, membimbingnya, dan mendidiknya sesuai dengan apa yang Rosululloh Saw. ajarkan. Yang terpenting dari anak kita adalah mereka menjadi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan cinta kepada rosul-Nya. Inilah prestasi tertinggi bagi sang anak dan orangtuanya. Wallohualam bishowab.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

[smstauhiid]

Anak Saleh Investasi yang tak Ternilai

Pada masa itu, tahun 51 Hijriyah, al-Rabi’ bin Ziyad al-Haritsy, sahabat Rasulullah SAW, ditunjuk menjadi gubernur Khurasan. Penunjukan Rabi’ bukan tanpa alasan. Rabi’ bin Ziyad merupakan sahabat Rasulullah yang bersemangat menegakkan panji-panji tauhid melalui jihad.

Setelah dipercaya menjabat gubernur di Khurasan, Rabi’ berjanji menyeberangi Sungai Saihun, sungai besar yang terletak setelah Kota Samarkand. “Dengan izin Allah juga akan aku pandang panji tauhid di barisan negeri ma wara’a an nahar (negeri-negeri di seberang sungai istilah yang ditujukan untuk negeri-negeri bekas jajahan Rusia itu),” bisik Rabi bin Ziyad seperti yang ditulis buku Kerinduan Seorang Mujadid.

Hal yang paling mengesankan dari Rabi’ bukan hanya semangatnya membela agama Allah, melainkan juga kebijaksaannya dalam membebaskan seorang budak dan membagi harta hasil rampasan secara merata. Budak yang selama ini diajak Rabi’ berperang di jalan Allah adalah seorang pemuda bernama Farrukh. Farrukh merupakan budak yang paling setia menyertai Rabi sebagai tuannya menjemput surga di bawah kilatan pedang.

Dari kebijaksanaan Rabi’ memerdekakan Farrukh sebagai budak dan membagi harta rampasan perang yang pada akhirnya menjadikan putra Farrukh seorang yang alim karena disekolahkan dengan harta warisan Farrukh.

“Terimalah bagianmu dari rampasan perang ini! Dan sejak hari ini, aku bukan tuanmu lagi. Mulai hari ini engkau adalah orang merdeka,” kata Rabi’.

Mendengar perkataan yang jarang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki budak, Farrukh seakan tidak percaya. Untuk itu, dia menegaskan lagi dengan bertanya kepada tuannya. “Benarkah apa yang dikatakan Tuan tentang kemerdekaan untukku?” Rabi’ tersenyum melihat kebahagiaan Farrukh melalui pertanyaan singkatnya itu dan menjawab sebagai penegasan.

“Iya. Farrukh. Sejak sekarang engkau bebas membawa dirimu ke mana saja engkau mau. Dan engkau berhak mendapatkan itu semua,” ujarnya.

Setelah mendengarkan perkataan dari mantan tuannya itu, cahaya kebahagiaan tidak bisa disembunyikan dari wajah Farrukh.

Hari itu ia mendapatkan dua karunia duniawi sebelum kelak mendapatkan karunia akhirat karena memiliki anak saleh dan berilmu. Dua tahun setelah peristiwa itu, bekas tuannya meninggal. Farrukh pun bersedih dan mendoakan kepergian sang mentor di medan perang itu. Hari-hari setelah kepergian mantan tuannya, dia merasa kesepian dan memutuskan untuk kembali ke Madinah.

“Aku akan kembali ke Madinah,” ujar Farrukh kepada teman sejawatnya.

Setelah kembalinya di kota Rasulullah, ia bergumam. “Kota ini semakin hari semakin ramai saja,” kata Farrukh ketika pertama kali menginjakkan kakinya kembali di Madinah.

Karena tidak ingin terlalu lama dalam kesepian, Farrukh yang sudah berkepala tiga itu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis pilihannya. Meski tinggal di rumah bersama istri yang salehah, semua itu tak mampu meredam kerinduannya untuk berjihad di jalan Allah.

Suatu hari seorang khatib Jumat memberi kabar gembira tentang berbagai kemenangan yang diraih kaum Muslimin. Ia mendorong para jamaah untuk terus melanjutkan perjuangan.

Dengan semangat yang tinggi, Farrukh bergabung dengan pasukan perang yang akan berangkat. Saat itu istrinya sedang hamil tua. Ia hanya meninggalkan uang 30 ribu dinar. “Pergunakanlah secukupnya untuk keperluanmu dan bayi kita nanti kalau sudah lahir,” ujarnya seraya berpamitan.

Beberapa bulan setelah keberangkatan Farrukh, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki tampan. Sang ibu menyambutnya penuh bahagia sehingga melupakan perpisahannya dengan sang suami.

Bayi laki-laki itu diberi nama Rabi’ah. Begitu menginjak dewasa, Rabi’ah diserahkan kepada beberapa guru untuk diajarkan ilmu agama dan akhlak. Untuk itu, sang ibu memberikan imbalan yang memadai dan hadiah bagi guru-guru itu. Setiap kali ia melihat perkembangan ilmu putranya, setiap kali itu pula ia menambah hadiah untuk pengajar Rabi’ah.

Rabi’ah terus menimba berbagai ilmu pengetahuan. Ia tak bosan-bosan belajar dan menghafal apa yang diberikan gurunya. Akhirnya ia menjadi seorang alim yang pandai dan terkenal.

Malam terang di musim panas. Seorang prajurit tua berjalan pelan memasuki Madinah. Usianya hampir 60 tahun, tapi langkahnya masih tegap dan mantap. Ia telusuri lorong-lorong menuju sebuah rumah. Dalam benaknya bergejolak berbagai pertanyaan. Apakah yang sedang dilakukan istrinya di rumah? Apakah anaknya sudah lahir? Laki-laki atau perempuan? Di jalan-jalan masih terlihat orang lalu lalang.

Namun, tak seorang pun yang memedulikannya. Ia memandang sekeliling. “Ah, ternyata telah banyak perubahan,” gumamnya. Tiba-tiba, tanpa disadari ia telah berada di depan sebuah pintu yang terbuka. Spontan ia menyeruak masuk.

Si empunya rumah yang mengetahui seorang laki-laki tua menyandang senjata masuk ke rumahnya tanpa permisi segera melompat menghadang. Pergulatan seru pun terjadi karena laki-laki tua itu memaksa masuk.

Para tetangga yang mendengar keributan itu segera berdatangan. Termasuk ibu tua yang sedang tidur nyenyak terbangun. Melihat siapa yang sedang bergulat, ibu tua itu segera sadar dan berteriak, “Rabiah, lepaskan! Ia ayahmu. Wahai Abu Abdurrahman, ia anakmu. Jantung hatimu.”

Mendengar seruan itu, dua orang yang sedang bergulat segera berdiri. Hampir tak percaya mereka berpelukan, melepaskan rindu. Mereka benar-benar tak menyangka pertemuan itu akan berlangsung begitu rupa.

Kini Farukh duduk bersama istrinya. Ia menuturkan segala pengalamannya selama di medan jihad. Namun, dalam hati, istrinya tidak bisa tenang karena bingung menjelaskan pengeluaran uang yang ditinggalkan suaminya sebelum berangkat.

“Bagaimana aku menjelaskannya? Apakah suamiku akan percaya kalau uang sebesar 30 ribu dinar itu habis untuk biaya pendidikan anaknya?” ujar sang istri dalam hati. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba Furukh berkata, “Wahai istriku, aku membawa uang 4.000 dinar. Gabungkan dengan uang yang kutinggalkan dulu.” Sang istri semakin bingung. Ia terdiam tak menjawab ucapan suaminya.

“Lekaslah, mana uang itu?” tanya Farukh lagi.

 

Dengan wajah agak pucat dan bibir bergetar, istrinya menjawab, “Uang itu kuletakkan di tempat yang aman. Beberapa hari lagi akan aku ambil, insya Allah.”

Azan Subuh tiba-tiba berkumandang. Istrinya menarik napas lega. Farrukh bergegas mengambil air wudhu, lalu keluar sambil bertanya, “Mana Rabi’ah?” “Ia sudah berangkat lebih dahulu ke masjid!” jawab istrinya. Setibanya di masjid ruangan sudah penuh. Para jamaah mengelilingi seorang guru yang sedang mengajar mereka.

Farrukh berusaha melihat wajah guru itu, tetapi tak berhasil karena padatnya jamaah. Ia terheran-heran melihat ketekunan mereka mengikuti majelis ilmu tersebut. “Siapakah ia sebenarnya?” tanya Furukh kepada salah seorang jamaah.

“Orang yang Anda lihat itu adalah seorang alim besar. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Laits bin Sa’ad, dan lainnya. Di samping itu, ia sangat dermawan dan bijaksana. Ia mengajar dan mengharapkan ridha Allah semata,” jawab orang itu.

“Siapakah namanya?” tanya Farrukh.
“Rabi’atur Ra’yi.”
“Rabi’atur Ra’yi?” tanya Farukh keheranan.
“Benar.”
“Dari manakah ia berasal?”
“Ia adalah putra Farrukh yang berjuluk Abu Abdurrahman. Ia dilahirkan tak lama setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid. Ibunyalah yang membesarkan dan mendidiknya,” kata orang itu menjelaskan.

Tanpa terasa air mata Farukh menetes karena gembira. Ketika kembali ke rumah, ia segera menemui istrinya. Melihat suaminya menangis, sang istri bertanya, “Ada apa wahai Abu Abdurrahman?”

“Tidak ada apa-apa. Saya melihat Rabiah berada dalam kedudukan dan kehormatan yang tinggi yang tidak kulihat pada orang lain,” jawab Furukh.

Ibu Rabiah melihat hal tersebut merupakan kesempatan untuk menjelaskan amanat suaminya berupa uang 30 ribu dinar. Ia pun segera berkata, “Manakah yang lebih baik dan kau sukai antara uang 30 ribu dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

“Demi Allah, inilah yang lebih kusukai daripada dunia dan segala isinya,” jawab Farukh.

“Ketahuilah suamiku. Aku telah menghabiskan semua harta yang engkau amanatkan untuk biaya pendidikan putra kita. Apakah engkau rela dengan apa yang telah kulakukan?” tanya ibu Rabiah.

“Aku rela dan berterima kasih atas namaku dan nama seluruh kaum Muslimin,” jawab Farrukh gembira.

Kebahagiaan Farrukh dan tidak lagi masalah dengan harta 30 ribu dinar yang telah habis digunakan istrinya untuk biaya pendidikan putranya yang menjadi seorang yang berilmu.

 

REPUBLIKA

Keterkaitan Anak dan Orang Tua

SALAH satu alasan mengapa kita harus menjadi orang tua yang baik adalah karena kita bertanggung jawab atas baiknya kehidupan anak kita kelak. Memiliki banyak anak bukanlah sebuah prestasi, sebagaimana tak memiliki anak bukanlah sebuah aib. Memiliki anak yang baik atau ikut membantu generasi masa depan dengan baik itulah yang menjadi prestasi.

Sudah sering saya jelaskan bahwa masa depan anak sangat ditentukan oleh karakter, sikap dan perbuatan orang tuanya. Kali ini saya ingin sekali menukil sebuah ungkapan sastra Arab yang berkaitan dengan hal ini “Anak kecil itu tumbuh atas dasar apa yang ada pada orang tuanya# Sesungguhnya akar, di atasnyalah pohon itu tumbuh berkembang.”

Orang tua yang tidak pandai menata diri bukanlah orang tua yang baik. Orang tua yang tak peduli pada karakter diri dan karakter anak adalah orang tua yang tak berkarakter baik. Orang tua yang hanya fokus pada urusan perut adalah orang tua yang salah jalan yang perlu diingatkan dan dibimbing.

Sungguh orang tua punya peran penting dalam mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Kalau begitu, kita semua dan pemerintah kita sungguh perlu membangun dan mengembangkan sekolah khusus orang tua.

 

MOZAIK