Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam

Doa merupakan senjata utama seorang mukmin. Dan ia merupakan ibadah yang dibawa oleh para utusan. Termasuk di antaranya adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam. Allah ‘Azza Wajalla menyebutkannya dalam Al-Qur’an,

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’” (QS. Al-Anbiya: 87)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda dalam sebuah hadis,

دعوةُ ذي النُّونِ إذ دعا وهو في بطنِ الحوتِ لا إلهَ إلَّا أنتَ سبحانَك إنِّي كنتُ من الظالمينَ فإنَّه لم يدعُ بها رجلٌ مسلمٌ في شيءٍ قطُّ إلَّا استجاب اللهُ له

Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam tatkala beliau terperangkap di perut ikan adalah “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin”. Sungguh, tidaklah seorang muslim membacanya terus menerus, kecuali Allah akan kabulkan keinginannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3505)

Doa ini menyimpan kandungan yang begitu luar biasa, yaitu pengakuan seorang hamba akan kesempurnaan uluhiyah Allah ‘Azza Wajalla. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu,

فأقر لله تعالى بكمال الألوهية، ونزهه عن كل نقص، وعيب وآفة، واعترف بظلم نفسه وجنايته

Di dalam doa ini, Nabi Yunus ‘alaihissalam mengakui kesempurnaan dan keesaan Allah dalam hal peribadahan yang khusus untuk-Nya, menyucikan-Nya dari segala macam bentuk kekurangan, aib, dan cacat. Serta mengakui diri sendiri sebagai seorang yang berlaku zalim (berbuat salah).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 529)

Tidak ada hal yang lebih agung dibandingkan pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah ‘Azza Wajalla atau tauhidnya. Karena itulah tujuan diciptakan manusia. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Al-Hakim At-Tirmidzi rahimahullahu menyebutkan keutamaan doa ini,

العَبْد إِذا وَحده وَنفى عَنهُ الشّرك ثمَّ نزهه عَمَّا رَآهُ عَلَيْهِ من السوء واعترف بِأَنَّهُ من الظَّالِمين تكرم عَلَيْهِ ربه وتفضل على العَبْد فَلم يخيبه فِيمَا أمل وَرَجا وَكَذَلِكَ وعد الله فِي تَنْزِيله الْكَرِيم

Tatkala seorang hamba mengesakan Allah, tidak melakukan kesyirikan, kemudian menyucikannya dari segala macam keburukan, dan mengakui dirinya sebagai hamba yang zalim, maka Allah akan muliakan ia dan beri keutamaan, Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan dan keinginannya. Demikianlah yang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an yang mulia.” (Nawadir Al-Ushul fii Ahadits Al-Rasul, 2: 24)

Wallahu a’lam

***

Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/83103-doa-nabi-yunus.html

Pengertian dan Obyek Kajian Fikih Lalu Lintas

Secara sistematis, ulama mendefinisikan fikih sebagai pengetahuan tentang hukum Islam terperinci yang digali dari sumbernya dan dibangun atas dasar kewajiban muslim mukallaf untuk mentaati syariat Allah. Dari sini kemudian kita bisa pahami bahwa  pengertian fikih lalu lintas berarti pengetahuan hukum Islam yang menuntut untuk ditaati oleh muslim mukallaf saat berkendara di jalan raya.

Sebagaimana hukum fikih lainnya, fikih lalu lintas ini masih berada dalam kerangka dasar kaidah dasar penerapan syariat Islam, yakni demi kemaslahatan kehidupan manusia dan menepati prinsip dasar syariat yang diantaranya ialah bertujuan untuk menjaga kehidupan (hifdz nafs).

Secara sistematis, ulama mendefinisikan fikih sebagai pengetahuan tentang hukum Islam terperinci yang digali dari sumbernya dan dibangun atas dasar kewajiban muslim mukallaf untuk mentaati syariat Allah. Dari sini kemudian kita bisa pahami bahwa  pengertian fikih lalu lintas berarti pengetahuan hukum Islam yang menuntut untuk ditaati oleh muslim mukallaf saat berkendara di jalan raya.

Sebagaimana hukum fikih lainnya, fikih lalu lintas ini masih berada dalam kerangka dasar kaidah dasar penerapan syariat Islam, yakni demi kemaslahatan kehidupan manusia dan menepati prinsip dasar syariat yang diantaranya ialah bertujuan untuk menjaga kehidupan (hifdz nafs).

BINCANG SYARIAH

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan

SALAH satu kebiasaan yang dilakukan umat Islam sebelum memasuki Ramadhan adalah bermaaf-maafan. Mengapa demikian? Apa hukum bermaaf-maafan sebelum Ramadhan?

Sebagian besar melakukan hal itu dengan mengacu pada sebuah hadis:

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan: 3 Hal 

Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Akan tetapi, jika ditelusuri lebih lanjut, yang menuliskan hadis ini hampir tidak ada yang menyebutkan periwayat hadisnya. Hadis ini pun tidak ada di kitab-kitab hadis. Yang ada adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, 3:192 dan Ahmad, 2:246, 254. Ternyata, pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, 3:192, juga pada kitab Musnad Imam Ahmad, 2:246 dan 2:254 sebagai berikut:

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan: Tanya dari pada Sahabat

“Dari Abu Hurairah; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu bersabda, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.” (Al-A’zhami berkata, “Sanad hadis ini jayyid”)

Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan: 2 Hadist Berbeda

Jelaslah bahwa kedua hadis di atas adalah dua hadis yang berbeda. Lalu, bagaimana mengenai kebiasaan bermaaf-maafan sebelum Ramadhan tersebut?

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Kata “hari ini” dalam hadis tersebut, menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan segera karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Dari hadis ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Jika ada yang berkata, “Manusia ‘kan tempat salah dan dosa. Mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari.” Itu memang benar, namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui?

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan: Rasulullah dan Sahabat Tidak Mencontohkan

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian. Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 1675; Al-Baihaqi, 7:356; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 4:4; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun tidak dibenarkan dalam Islam.

Hukum Bermaaf-maafan sebelum Ramadhan: Jangan Tunggu Ramadhan

Menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga bulan Ramadan tiba merupakan hal tidak dibenarkan. Sebab, seharusnya permintaan maaf itu diutarakan langsung dan tidak ditunda-tunda dengan sengaja hingga waktu yang lama.

Meski demikian, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf, sebagai bagian dari berbuat kebaikan. Sebab, meminta maaf juga merupakan sebuah perbuatan baik. []

SUMBER: KONSULTASI SYARIAH

Radio Cawang dan Sholawat Asyghil yang Pernah menjadi Corong Persatuan Umat Islam di Betawi

Cawang dijadikan menjadi nama sebuah stasiun.  Bahkan Radio Tjawang, yang digagas Alm. Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel didasari semangat nasionalisme untuk menciptakan integrasi bangsa di awal kemerdekaan

WARGA Jakarta pada umumnya mengenal nama Cawang sebagai salah satu kawasan yang kini secara administratif berada di wilayah Jakarta Timur yang letaknya berada dekat dengan Kampung Melayu.

Namanya pun lebih melekat sejak Cawang dijadikan menjadi nama sebuah stasiun. Para pengguna kereta api yang hilir mudik berpergian turun dan naik dari arah stasiun yang berbeda terbiasa dengan menyebut nama Cawang Atas dan Cawang Bawah.

Nama Cawang juga dikenal orang –khususnya warga Jakarta– sejak di sepanjang jalan itu bermunculan para penjual kompor dan berbagai alat memasak lainnya berbahan logam yang ditempa. Orang-orang pun menyebutnya dengan sebutan Cawang Kompor.

Konon nama Cawang diambil dari nama seorang Letnan Melayu yang bekerja pada seorang Belanda pada Abad 18. Orang-orang dimasa itu memanggilnya Encik Awang yang berarti paman Awang, istilah penyebutan kaum lelaki dalam kekerabatan bangsa Melayu terutama di Sumatera, Kalimantan dan Malaysia.

Encik Awang bersama Kapiten Wan Abdul Bagus, atasanya yang bekerja pada Belanda itu disebut-sebut pula sebagai pendiri kampung Melayu yang sekarang masuk dalam kecamatan Jatinegara.

Salah satunya yang terkenal di kawasan itu adalah keberadaan Terminal Kampung Melayu, tempat hilir mudiknya angkutan umum yang beroperasi melintasi banyak ruas jalan di Kota Jakarta.

Dari sumber lainnya ada pula yang menyebutkan, nama Cawang berasal dari nama seorang pedagang Tionghoa, Cai Wang Hui yang lolos dari tragedi Geger Pecinan dan mendirikan sebuah kediamannya di sana dan kelak di kemudian hari dikenal orang sebagai daerah Cawang saat ini.

Di masa yang silam, selain ada Wan Kadir yang bernama asli Sayyid Abdul Kadir bin Muhammad Al-Hadad yang terkenal “jago” sebagai ahli “maen pukulan” dan selalu tampil heroik dalam membasmi berbagai bentuk kedzaliman, di masa yang sama pada abad ke-20 di Cawang pernah bermukim Bang Sairin salah seorang pesilat beraliran kebathinan yang kesohor.

Bang Sairin atau ada yang memanggilnya dengan Bapak Cungak, dituduh oleh pemerintah kumpeni Belanda sebagai dalang kerusuhan di daerah Tanggerang pada tahun 1924. Ia juga dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut di Condet yang berlangsung sekitar tahun 1916.

Nama Cawang menjadi semakin terkenal ke hampir seluruh pelosok seantaro negeri bahkan sampai ke negara jiran sekalipun, sejak mulai diproduksinya radio transistor nasional pertama di Tanah Air.

Meski terkesan dibuat-dibuat, alat komunikasi yang dinamakan dengan Radio Tjawang yang keberadaan perusahaannya itu memang letak pabriknya berada di daerah Cawang, konon kata Tjawang itu sendiri adalah kependekan dari kata “Tjari Wang”.

Radio Tjawang yang mulai di produksi pada tahun 1950-an ini dapat dikatakan sebagai radio transistor tekhnologi pertama di Indonesia untuk menggantikan radio lama, yang sebelumnya masih menggunakan tabung hampa dan lampu sebagai penanda radio tabung itu akan dinyalakan, orang-orang pada masa itu menyebutnya dengan istilah lampu mata kucing.

Radio Tjawang yang diproduksi sebagai penanda kebangkitan produk radio transistor modern nasional ini menurut pelopornya, Alm. Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel didasari oleh semangat nasionalisme-nya yang menginginkan adanya alat komunikasi baru untuk menciptakan integrasi bangsa di awal kemerdekaan.

Bagi warga Jakarta, Keberadaan radio transistor yang dioperasikan menggunakan batu baterai tersebut telah membawa corak baru pada perubahan gaya hidup di masanya. 

Demikian pula dengan siaran Radio As-Syafi’iyah yang mengudara berkat sosok kharismatik Allahyarham KH Abdullah Syafei ulama Betawi sebagai pendirinya pada tahun 1967, melalui radio transistor Tjawang itu pula telah ikut mengudarakan siaran dakwahnya keseluruh pelosok  Jakarta dan sekitarnya, bahkan hingga ke luar daerah, menyiarkan program-program dakwah dan ceramah agama sebagai pedoman bagi umat Islam pada masa itu. 

Sholawat Asyghil atau dikenal luas pula sebagai “Sholawat Betawi”, lantunan pembacan tarhim menjelang beduk megerib, hingga “Mars Panggilan Jihad” yang diciptakan oleh Allahyarham Buya Hamka dan dipopulerkan oleh Allahyarham KH Abdullah Syafei dalam siaran radionya tersebut, semua itu menjadi kenangan indah dan syahdu yang tiada terlukiskan oleh warga Jakarta bersama Radio Tjawang.

“Shalawat Asyghil” yang dahulu amat akrab di telinga kaum muslimin karena sering terdengar dari masjid-masjid dan mushola-mushola menjelang maghrib yang juga pernah menggema dan menjadi trade mark muslimin di Betawi yang berkumandang sepaniang senja lewat Radio Tjawang.

Shalawat hasil gubahan ulama Nusantara ini kembali diperdengarkan dengan memukau di hadapan ribuan pasang mata yang menangis mendengarnya lewat suara syahdu Azam Nur Mukzizat, anak yang lahir tanpa kelopak mata, bersama Majda, Sayyed Hasan Syauqi Alaydrus dan Yasmin Najma dengan iringan komponis Adi MS, saat tampil dalam perhelatan akbar bertajuk 1 Abad NU di Gelora Delta Sidoarjo, Surabaya Jawa Timur.*/Abdullah Abubakar Batarfie, Ketua Pusat Dokumentasi Al-Irsyad Bogor

HIDAYATULLAH

21 Adab Berdoa

SAHABAT mulia Islampos, agar permohonan kita cepat dikabul, ada beberapa adab berdoa yang harus kita ketahui.

Berdoa memiliki artian yang sangat penting yaitu meminta kepada Sang Pencipta Allah SWT sesuatu yang kita inginkan maka harus sopan dan beradab. Misalkan, kita meminta kepada orang tua, ingin dibelikan baju baru. Jika kita meminta hal tersebut kepada orang tua dengan tidak sopan, apakah orang tua akan memberikannya?

Pasti tidak. Karena orang tua tidak suka dengan sikap kita yang tidak sopan. Dan sebaliknya, jika kita meminta hal tersebut secara baik-baik, penuh penghormatan, dan sopan santun serta tidak memaksa. Maka Insya Allah orang tua akan memberikan baju baru sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Begitupun saat kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT. Apalagi Allah-lah Sang Pemilik Kerajaan di langit dan di bumi. Maka harus dengan cara yang beradab. Hal yang paling penting dalam berdoa adalah berserah kepadaNya bukan doa yang memaksa harus dikabul.

Berikut ini adab berdoa atau meminta kepada Allah SWT:

1. Menjauhkan diri dari yang haram, baik itu pakaian, makanan dan sebagainya.
2. Ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
3. Berdoa dan bertawasul dengan amal-amal shaleh yang pernah kita lakukan.
4. Berwudhulah sebelum berdoa.
5. Menghadap ke kiblat saat berdoa.
6. Shalat dua rakaat.

Adab Berdoa: Pujian pada Allah dan Mengakui Dosa

7. Memanjatkan puja dan puji kepada Allah SWT.
8. Memanjatkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.
9. Membuka dan mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan pundak lalu mengucapkan doa.

10. Sopan, khusyu, dan merendahkan diri dihadapan Allah SWT.
11. Hendaklah orang itu memohon dengan berbagai asma Allah yang agung.
12. Memanjatkan doa-doa yang diwariskan dan disunahkan.
13. Mengucapkan doa dengan suara lembut dan sayu.
14. Mengakui dosa-dosanya.

Adab Berdoa: Untuk Diri sendiri sampai Mengaminkan

Keutamaan Berdoa, doa Nabi Musa, Waktu Doa yang Mustajab, Waktu Mustajab untuk Berdoa di Hari Jumat, Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah untuk Diri Sendiri, Doa yang Dibaca ketika Sujud dalam Shalat,, Adab Berdoa, adab berdoa
Foto: Pinterest

15. Memulai doa dengan mengajukan permohonan untuk dirinya, namun tidak mengkhusyukan doa tersebut untuk diri pribadi, terutama kalau bertindak sebagai imam.
16. Memohon dengan tekad bulat, menghadirkan kalbu, dan memurnikan harapannya.
17. Mengulang-ngulang doa dengan sungguh-sungguh.
18. Tidak berdoa tentang hal yang mengandung dosa.
19. Dan jangan bersikap kaku dan mempersempit yang lapang.
20. Mintalah semua hajat.
21. Yang berdoa dan mendengar hendaklah mengaminkan. []

Milih Ngurus Anak atau Ikut Pengajian?

Belum lama ini media sosial kembali dihebohkan dengan pernyataan dari Presiden RI yang kelima yakni Megawati Soekarno Putri dengan pernyataannya yang seolah menyindir kegiatan ibu-ibu majlis taklim yang doyan untuk pergi ke pengajian. Pernyataan yang dipotong itu pun memang tidak lengkap dan menjadi kontroversi.

Megawati mempertanyakan bahwa kenapa akhir-akhir ini banyak ibu-ibu yang suka ke pengajian, namun kurang memperhatikan anak dan keluarganya. “Saya ngeliat ibu-ibu tuh ya maaf ya, sekarang kayaknya budayanya beribu maaf, kenapa toh seneng banget ikut pengajian ya, “Maaf beribu-ribu maaf, saya sampe mikir gitu, iki pengajian ki sampai kapan toh yo, anake arep dikapakke (ini pengajian sampai kapan, anaknya mau diapain)?”

Pernyataan Megawati ini diungkapkan pada saat kegiatan Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, Kekerasan dalam Rumah Tangga, serta Mengantisipasi Bencana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan statemen yang dikeluarkan oleh Megawati ini jika tidak dipotong dan dipahami secara keseluruhan.

Pada akhir pernyataan itu Megawati menegaskan bukan melarang dan mempertanyakan masalah pengajian, tetapi ibu-ibu dengan aktifitas pengajian itu tidak sampai melupakan kewajiban menjaga, mendidik dan merawat anaknya. Pernyataan ini memang ada benarnya karena kewajiban mendidik dan menjaga anak menjadi salah satu tanggungjawab orang tua.

Islam mengajarkan pada umatnya untuk lebih mengutamakan hal yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab sebenarnya dari seorang ibu. Jelas saja, tanggungjawab seorang ibu adalah dengan mengurus anak dan rumah tangganya. Apabila seorang ibu telah menjalankan kewajibannya dengan baik, maka diperbolehkan bagi seorang ibu menjalankan hal lain namun tentu saja dengan seizin suami.

Imam Ibnu Katsir ra menafsirkan ayat dalam al-Quran “Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (Al-Ahzab:33). Artinya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk di antara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Maksud dari ayat dan penjelasan di atas ialah, boleh bagi seorang istri untuk mengikuti kajian agama untuk menambah pengetahuan tentang agama, selama tugas rumah tangga tidak terlalaikan, termasuk mendidik anak di rumah, karena mendidik anak di rumah merupakan hal yang lebih prioritas. Memang menuntut ilmu adalah hal yang baik, namun kewajiban untuk mengurus anak jelas lebih mulia.

Itulah alasan menjadi seorang ibu harus lebih mampu untuk memadukan kedua sumber kebaikan tersebut. Akan tetapi jika memang tidak bisa dipadukan, hendaklah didahulukan mengurus anak, adapun belajar bisa dengan cara lain seperti membaca atau mendengarkan ceramah dari sosial media, namun dengan catatan penceramah yang didengarkan jelas sanad keilmuannya.

Tentu saja dengan aktifitas majlis taklim ibu-ibu dapat menambah ilmu dan keberkahan majlis taklim. Dengan catatan, kewajiban menjaga, mendidik dan merawat anak berjalan seimbang. Di majlis taklim ibu-ibu juga bisa menimba ilmu tentang mendidik anak.

Namun, tentu akan menjadi masalah jika majlis taklim yang rutin setiap hari melalaikan tugas seorang ibu atau istri di rumah. Membiarkan anak kelaparan atau meninggalkan tugas sebagai seorang istri dan ibu adalah suatu hal mudarat bagi seorang wanita, walaupun belajar agama adalah sebuah maslahat, tetapi kaidah umum dalam syari’at adalah menolak kerusakan lebih didahulukan dibandingkan meraih kemaslahatan.

Butuh kearifan dalam bersikap seimbang dan moderat dalam menjalani kehidupan beragama. Tanggungjawab yang melekat harus diprioritaskan. Kebahagiaan dan kesuksesan serta amal ibadah terbesar ibu dan istri adalah di dalam keluarga yang Sakinah, mawaddah wa rahmah.

ISLAMKAFFAH

Filosofi Sya’ban Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Berikut ini adalah filosofi Sya’ban menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.  Sya’ban merupakan kalimat yang terdiri dari 5 huruf, yaitu Syin, Ain, ba’, alif dan nun. Setiap huruf ini memiliki nilai filosofis tersendiri, Syekh Abdul Qadir menyatakan;

(فصل) شعبان خمسة أحرف، شين وعين وباء وألف ونون، فالشين من الشرف، والعين من العلو، والباء من البر، والألف من الألفة، والنون من النور، فهذه العطايا من الله تعالى للعبد في هذا الشهر.

“Syin merupakan akronim dari Syaraf, yang berarti mulia. Ain akronim dari Al-Ulu, yang berarti Luhur. Ba’ dari Al-bir yang berarti kebaikan. Alif dari Ulfah yang berarti kasih sayang. Nun dari lafadz Nur yang berarti cahaya. kesemuanya ini akan diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya pada bulan ini. 

Bulan Sya’ban memiliki keistimewaan. di dalam bulan ini terkandung pelbagai kabaikan dan keberkahan. Bahkan, bulan Sy’ban juga dijuluki sebagai bulan shalawat. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan panjang lebar menyatakan;

وهو شهر تفتح فيه الخيرات، وتنزل فيه البركات، وتترك فيه الخطيئات، وتكفر فيه السيئات، وتكثر فيه الصلوات على محمد -صلى الله عليه وسلم- خير البريات. وهو شهر الصلاة على النبي المختار، قال الله تعالى: {إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليمًا} [الأحزاب: 56].

Pada bulan ini akan dibuka banyak kebaikan, turun keberkahan, kesalahan akan ditinggalkan, dosa akan dihapus dan sholawat akan menggema kepada Baginda Rasulullah SAW sang makhluk yang paling baik.

Bulan ini disebut dengan bulan shalawat, karena pada bulan ini turun firman Allah dalam Alquran surat al-ahzab ayat 56 yang artinya “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Untuk itu, saat bulan Sya’ban seyogianya diisi dengan pelbagai hal yang mendatangkan pada kebaikan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuntun seorang muslim ketika muslim ketika beradad dalam bulan Sya’ban. Menurutnya, seyogianya diisi dengan membersihkan diri dari dosa dan bertobat atas kesalahan di masa lalu. 

Lebih lanjut, seyogianya di bulan ini juga memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah. Memandang mulianya bulan ini, Syekh Abdul Qadir berpesan;

فينبغي لكل مؤمن لبيب ألا يغفل في هذا الشهر، بل يتأهب فيه لاستقبال شهر رمضان بالتطهر من الذنوب والتوبة عما فات وسلف فيما مضى من الأيام، فيتضرع إلى الله تعالى في شهر شعبان، ويتوسل إلى الله تعالى بصاحب الشهر محمد -صلى الله عليه وسلم- حتى يصلح فساد قلبه، ويداوي مرض سره، ولا يسوف ويؤخر ذلك إلى غد، لأن الأيام ثلاثة: أمس وهو أجل، واليوم وهو عمل، وغدًا وهو أمل، فلا تدري هل تبلغه أم لا، فأمس موعظة، واليوم غنيمة، وغدًا مخاطرة. وكذلك الشهور ثلاثة: رجب فقد مضى وذهب فلا يعود، ورمضان وهو منتظر لا تدري هل تعيش إلى إدراكه أم لا؟ وشعبان وهو واسطة بين شهرين فليغتنم الطاعة فيه.

“Seyogyanya bagi setiap mukmin yang Arif untuk tidak melupakan pentingnya bulan ini, akan tetapi seharusnya ia bersiap-siap untuk menyambut datangnya bulan Ramadan dengan membersihkan diri dari dosa dan bertobat atas kesalahan di masa lalu.

Maka hendaklah dia berdoa di bulan Sya’ban, dan bertawasul dengan Rasulullah SAW sehingga hatinya diperbaiki oleh Allah SWT, sakitnya diobati dengan segera. 

Karena sejatinya hari itu ada tiga macam, yaitu kemarin, yang berarti ajal, sekarang adalah beramal dan besok adalah berangan-angan. Iya tidak akan tahu apakah iya bisa hidup lama atau tidak, maka hari kemarin merupakan mauidhoh atau nasehat, dan hari sekarang adalah harta (rampasan) dan hari besok adalah spekulatif. 

Demikian pula dalam konteks 3 bulan yakni Rajab telah lewat dan ia tidak akan bisa kembali, serta Romadhon Telah Menanti. 

Sedangkan kita tidak bisa mengetahui Apakah kita bisa sampai pada bulan Ramadan tersebut atau tidak, sehingga bulan Sya’ban merupakan pelantara di antara dua bulan maka hendaknya seseorang itu memperbanyak amal baik pada bulan tersebut.” (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghunyah li talibi tariq al-haq, Juz 1 halaman 341). 

Pada sisi lain, Syekh Abdul Hamid Qudus mengatakan bahwa seyogianya di bulan Sya’ban ini seorang muslim terbiasa melatih diri untuk memperbuat kebajikan. Pasalnya, itu akan memudahkan di bulan Ramadhan untuk terbiasa melakukan kebajikan.  

Syekh Abdul Hamid Kudus mengingatkan;

من عود نفسه فيه بالاجتهاد فاز في رمضان بحسن الاعتياد

siapa yang membiasakan dirinya untuk melakukan kegiatan positif pada bulan tersebut, niscaya ia akan terbiasa untuk melaksanakannya pada bulan Ramadhan. (Kanz wa al-Najah wa al-Surur,  halaman 149) 

Dengan demikian seyogianya membiasakan diri pada bulan Sya’ban ini untuk melakukan kegiatan baik, sehingga kelak pada bulan puasa itu kita akan terbiasa untuk melakukannya. Jika demikian, kita akan bisa memanen buah yang sangat banyak dan semoga Allah SWT menerima amal kita.

Sekian penjelasan terkait filosofi Sya’ban menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH

Biasakan Hidup Sehat Menjelang Ramadhan, Ini Nasihat Ahli Gizi dari Abu Dhabi

Ramadhan waktu terbaik meremajakan pikiran dan tubuh, waktunya atur makanan kaya nutrisi, olahraga  dan waspadai kafein

AHLI gizi di Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan umat Islam harus mulai mempraktikkan kebiasaan sehat menjelang Ramadhan. Hal ini penting untuk menghindari kenaikan berat badan atau komplikasi kesehatan selama bulan suci.

Archana Baju, ahli diet klinis di Rumah Sakit Burjeel Abu Dhabi, mengatakan bahwa umat Islam harus mulai bersiap dari sekarang agar selalu sehat saat berpuasa.  “Ramadhan sudah dekat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk merencanakan Ramadhan yang sehat dan bergizi,” katanya, dilansir Al-Arabiya (21/02/2023).

Kebiasaan Sehat

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kontrol kafein. “Minuman berkafein tidak hanya menuntut Anda waspada, tetapi juga bersifat diuretik dan membuat dehidrasi. Selama berpuasa, soal dehidrasi perlu diperhatikan. Jadi, usahakan untuk tidak minum kopi sebelum bulan suci dimulai,” jelas Baju.

Umat Islam juga harus banyak mengkonsumsi cairan mulai sekarang, mengontrol porsi makanan, dan memilih makanan yang sehat. Bahkan, Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan.

“Persiapan Ramadhan ini akan membantu tubuh Anda beradaptasi dengan fase puasa dengan cara yang tepat. Makanan sehat dan gaya hidup aktif, itu penting. Air putih, jus buah segar, susu, dan infused water merupakan pilihan yang baik. Masukkan buah dan sayuran yang mengandung air seperti mentimun, selada, semangka, persik, apel, dan tomat.”

Tambahnya, umat Islam juga harus memasukkan karbohidrat kompleks seperti biji-bijian, kacang-kacangan, polong-polongan, buah-buahan, dan sayuran saat berbuka dan sahur.

“Beradaptasilah dengan metode memasak yang sehat. Misalnya makanan dipanggang sebagai pengganti yang digoreng. Juga, gunakan produk susu versi rendah lemak dalam memasak. Masukkan berbagai bumbu dan rempah-rempah yang dapat meningkatkan rasa sekaligus mengurangi minyak agar lebih sehat.”

“Yang penting, hindari makanan berminyak, gorengan, dan bergula untuk mencegah masalah pencernaan, kembung, mulas, dan masalah pencernaan lainnya,” jelas Baju.

Diet Ramah Ramadhan

Ahli diet klinis dari Rumah Sakit Medor Dubai, Juliot Vinolia, mengatakan kepada Al-Arabiya bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menghidupkan kembali dan meremajakan pikiran dan tubuh. Itulah sebabnya orang yang berpuasa harus memasukkan serat dan makanan kaya nutrisi selama Ramadhan.

“Puasa membantu tubuh kita untuk memulai kembali dan menghapus racun. Pembuluh darah dan usus dibersihkan dari lemak tidak sehat dan bahan kimia penyebab kanker yang kita kumpulkan karena sering mengonsumsi makanan olahan,” kata Vinolia.

“Puasa bila dikombinasikan dengan makanan yang tepat dapat memotong materi genetik penyebab penyakit. Tubuh menyerap paling banyak pada usus selama berpuasa.”

Vinolia menambahkan, ada hormon dan enzim unik yang hanya diproduksi selama puasa yang sehat. Untuk mendapatkan yang terbaik dari enzim ini, seseorang harus memiliki pola makan yang cukup nutrisi, termasuk lebih banyak makanan segar berbasis tanaman yang dimasak di rumah yang sehat, hemat biaya, dan juga ramah lingkungan.

Sementara Davi Telan, ahli diet klinis di Rumah Sakit Salma Abu Dhabi mengatakan, seseorang harus memasukkan serat ke dalam makanan untuk memperpanjang rasa kenyang dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Pastikan untuk makan lengkap yang mencakup buah-buahan, sayuran, makanan bertepung, susu, makanan kaya protein, dan lemak alami. Makanan lengkap akan membantu mengendalikan nafsu makan dan bahkan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ingatlah bahwa kualitas, bukan kuantitas, makanan Anda selama sahur dan berbuka adalah yang penting,” kata Telan.

Dia juga menganjurkan agar makan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan untuk memastikan asupan vitamin dan mineral yang diperlukan.

Makanan Berbeda untuk Sahur dan Buka

Menurut para ahli, makanan sahur dan buka puasa tidak sama. Apa perbedaannya?

“Sahur merupakan makanan penting yang harus mengandung karbohidrat kompleks, protein, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Tak perlu makan sebanyak mungkin, sebab makanan bisa memberi energi yang cukup sepanjang hari. Hindari kopi saat sahur,” jelas Baju.

Vionlia menjelaskan, sahur tidak boleh dilewatkan. Hindari minuman manis dan berkarbonasi serta karbohidrat olahan seperti sereal sarapan manis, kue kering, biskuit, dan roti putih.

Sedangkan menurut Telan, hindari terlalu banyak mengonsumsi gorengan dan makanan olahan karena dapat memperparah risiko penyakit kronis dan menyebabkan kenaikan berat badan.

“Hindari terlalu banyak garam karena ini akan membuat dehidrasi dan haus di siang hari. Sebagai pengganti garam, gunakan bumbu dapur, rempah-rempah, lemon, atau jeruk nipis untuk menambah cita rasa masakan,” jelas Telan.

Adapun untuk buka puasa, mulailah secara tradisional dengan tiga buah kurma untuk mengisi kembali nutrisi dan energi yang cukup.  “Minumlah air/susu/sup untuk rehidrasi dengan tepat. Makanan utama harus mencakup pilihan protein (misalnya ayam tanpa lemak, ikan, kacang-kacangan) dengan karbohidrat kompleks (beras merah, pasta gandum) dan 1-2 cangkir sayuran berwarna,” kata Baju.

Vinolia menyarankan agar menghindari makanan pedas dan gorengan. Selain itu, mengonsumsi gula dan lemak berlebihan setelah jam puasa dapat menyebabkan perlemakan hati dan meningkatkan risiko batu empedu dan ginjal.

Bagaimana dengan Olahraga?

Baju mengatakan, meskipun berpuasa, umat Islam harus tetap aktif. Namun jangan terlalu berat.

“Jalan-jalan kecil dan peregangan di antara jadwal duduk yang lama adalah pilihan yang bagus. Hindari aktivitas (fisik) yang terlalu berat. Orang dengan kondisi medis tertentu harus berkonsultasi dengan dokter tentang puasanya untuk menghindari komplikasi kesehatan,” katanya.

Saran Vinolia, mulailah setiap hari dengan rutinitas peregangan intensitas rendah untuk mencegah kekakuan otot dan menjaga otot usus tetap aktif. Waktu terbaik untuk berolahraga selama berpuasa adalah setidaknya 1 jam setelah berbuka.

Hal itu akan memastikan bahwa hidrasi seseorang terisi kembali, memberi waktu untuk mendapatkan kembali glukosa menjadi energi dan otot yang kekurangan air.

“Tampaknya memungkinkan untuk berolahraga sekitar pukul 16.00 hingga 18.00, tetapi hal itu dapat menyebabkan dehidrasi yang rumit, menyebabkan cedera otot, robekan ligamen, dan migrain,” dia mengingatkan.

Selain itu, menyesuaikan karbohidrat, protein, dan lemak yang selaras dengan olahraga dapat membantu seseorang menghilangkan lemak dan mencapai berat badan yang sehat.

Adapun menurut Telan, latihan intensitas tinggi harus dihindari. Seseorang harus memprioritaskan latihan kekuatan daripada latihan kardio untuk memperlambat proses kehilangan otot saat berpuasa.*/Pambudi

HIDAYATULLAH

Optimalkan Ibadah Di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Ada juga ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena di saat penamaan bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan:

وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ.

“Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban)

Adapun hadits yang berbunyi:

إنَّمَا سُمّي شَعْبانَ لأنهُ يَتَشَعَّبُ فِيْهِ خَيْرٌ كثِيرٌ لِلصَّائِمِ فيه حتى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Sesungguhnya bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena di dalamnya bercabang kebaikan yang sangat banyak untuk orang yang berpuasa pada bulan itu sampai dia masuk ke dalam surga.” (HR Ar-Rafi’i dalam Tarikh-nya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Maudhu’, ” dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2061)

Hadits tersebut tidak benar berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang menyepelekan bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hal tersebut di dalam hadits berikut:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban ?” Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa”. (HR An-Nasai no. 2357. Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan An-Nasai)

Ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para as-salafush-shalih pada bulan ini. Amalan-amalan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak puasa

Amalan-amalan apa yang disyariatkan pada bulan ini?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa pada bulan-bulan yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721)

Begitu pula istri beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلاَّ شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ.

“Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai)

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir berpuasa Sya’ban seluruhnya. Para ulama menyebutkan bahwa puasa di bulan Sya’ban meskipun dia hanya puasa sunnah, tetapi memiliki peran penting untuk menutupi kekurangan puasa wajib di bulan Ramadhan. Seperti shalat fardhu, shalat fardhu memiliki shalat sunnah rawatib, yaitu: qabliyah dan ba’diyah. Shalat-shalat tersebut bisa menutupi kekurangan shalat fardhu yang dikerjakan. Sama halnya dengan puasa Ramadhan, dia memiliki puasa sunnah di bulan Sya’ban dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal. Orang yang memulai puasa di bulan Sya’ban insya Allah tidak terlalu kesusahan menghadapi bulan Ramadhan.

2. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an mulai diperbanyak dari awal bulan Sya’ban , sehingga ketika menghadapi bulan Ramadhan, seorang muslim akan bisa menambah lebih banyak lagi bacaan Al-Qur’an-nya. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Begitu pula yang dilakukan oleh ‘Amr bin Qais rahimahullah apabila beliau memasuki bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan mengosongkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an. (Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 138)

3. Mengerjakan amalan-amalan shalih

Seluruh amalan shalih disunnahkan dikerjakan di setiap waktu. Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika di bulan Ramadhan. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan:

مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.

“Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.” (Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 130)

4. Menjauhi perbuatan syirik dan permusuhan di antara kaum muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni orang-orang yang tidak berbuat syirik dan orang-orang yang tidak memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.

Sesungguhnya Allah muncul di malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin.” (HR Ibnu Majah no. 1390. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)

Musyahin adalah orang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga secara khusus tentang orang yang memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis dan akan diampuni seluruh hamba kecuali orang yang berbuat syirik kepada Allah, dikecualikan lagi orang yang memiliki permusuhan antara dia dengan saudaranya. Kemudian dikatakan, ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai’” (HR Muslim no. 2565/6544)

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar, begitu juga kita menjauhi segala bentuk permusuhan dengan teman-teman muslim kita.

5. Bagaimana hukum menghidupkan malam pertengahan bulan Sya’ban?

Pada hadits di atas telah disebutkan keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban. Apakah di-sunnah-kan menghidupkan malam tersebut dengan ibadah? Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

وَصَلَاةُ الرَّغَائِبِ بِدْعَةٌ مُحْدَثَةٌ لَمْ يُصَلِّهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ، وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ وَكَذَلِكَ الصَّلَاةُ الْأَلْفِيَّةُ.

“Dan shalat Raghaib adalah bid’ah yang diada-adakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat seperti itu dan tidak ada seorang pun dari salaf melakukannya. Adapun malam pertengahan di bulan Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan, dulu di antara kaum salaf (orang yang terdahulu) ada yang shalat di malam tersebut. Akan tetapi, berkumpul-kumpul di malam tersebut untuk menghidupkan masjid-masjid adalah bid’ah, begitu pula dengan shalat alfiyah.” (Al-Fatawa Al-Kubra (V/344))

Jumhur ulama memandang sunnah menghidupkan malam pertengahan di bulan Sya’ban dengan berbagai macam ibadah. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan secara berjamaah. (Lihat: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (XXXIV/123))

Sebagian ulama memandang tidak ada keutamaan ibadah khusus pada malam tersebut, karena tidak dinukil dalam hadits yang shahih atau hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah menyuruh untuk beribadah secara khusus pada malam tersebut. Hadits yang berbicara tentang hal tersebut lemah.

6. Bagaimana hukum shalat alfiyah dan shalat raghaib di malam pertengahan bulan Sya’ban ?

Tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menyebutkan keutamaan shalat malam atau shalat sunnah di pertengahan malam di bulan Sya’ban . Baik yang disebut shalat alfiyah (seribu rakaat), dan shalat raghaib (12 rakaat). Mengkhususkan malam tersebut dengan ibadah-ibadah tersebut adalah perbuatan bid’ah. Sehingga kita harus menjauhinya. Apalagi yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Mereka berkumpul di masjid, beramai-ramai merayakannya, maka hal tersebut tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam An-Nawawi mengatakan tentang shalat Ar-Raghaib yang dilakukan pada Jumat pertama di bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban:

وَهَاتَانِ الصَّلاَتَانِ بِدْعَتَانِ مَذْمُومَتَانِ مُنْكَرَتَانِ قَبِيحَتَانِ ، وَلاَ تَغْتَرَّ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَالإْحْيَاءِ

“Kedua shalat ini adalah bid’ah yang tercela, yang mungkar dan buruk. Janganlah kamu tertipu dengan penyebutan kedua shalat itu di kitab ‘Quutul-Qulub’ dan ‘Al-Ihya’’. (Al-Majmu’ lin-Nawawi (XXII/272). [13] HR Ibnu Majah no. 1388. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Sanadnya Maudhu’,” dalam Adh-Dha’ifah no. 2132)

7. Bagaimana hukum berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban ?

Mengkhususkan puasa di siang pertengahan bulan Sya’ban tidak dianjurkan untuk mengerjakannya. Bahkan sebagian ulama menghukumi hal tersebut bid’ah. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا.

Apabila malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah di siang harinya.”13

Maka hadits tersebut adalah hadits yang palsu (maudhu’), sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Akan tetapi, jika kita ingin berpuasa pada hari itu karena keumuman hadits tentang sunnah-nya berpuasa di bulan Sya’ban atau karena dia termasuk puasa di hari-hari biidh (ayyaamul-biid/puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah), maka hal tersebut tidak mengapa. Yang diingkari adalah pengkhususannya saja. Demikian beberapa ibadah yang bisa penulis sebutkan pada artikel ini. Mudahan kita bisa mengoptimalkan latihan kita di bulan Sya’ban untuk bisa memaksimalkan ibadah kita di bulan Ramadhan. Mudahan bermanfaat. Amin.

Daftar Pustaka

  1. Al-Khulashah fi Syarhil-Khamsiin Asy-Syamiyah. ‘Ali bin Nayif Asy-syahud. Darul-Ma’mur.
  2. At-Tibyan li Fadhail wa Munkarat Syahri Sya’ban. Nayif bin Ahmad Al-Hamd.
  3. Sya’ban, Syahrun Yaghfulu ‘anhu Katsir minannas. Abdul-Halim Tumiyat. www.nebrasselhaq.com
  4. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/21581-optimalkan-ibadah-di-bulan-syaban.html

Khutbah Jumat; Larangan Melakukan Kekerasan dalam Islam

Teks khutbah berikut ini mengajak kepada para jamaah untuk mengenal kembali ajaran Islam yang penuh dengan kasih sayang, dan melarang berbagai perbuatan kekerasan dengan bentuk dan motif apa pun, dengan judul, “Khutbah Jumat; Larangan Melakukan Kekerasan dalam Islam.”

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفَ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ.

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Segala puji bagi Allah swt, yang telah memberikan kita semua hidayah dan inayah untuk terus istiqamah dalam melaksanakan shalat Jumat ini. Shalawat dan salam semoga terus mengalir kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw yang telah mengorbankan segala waktunya hanya untuk menyebarkan Islam dengan penuh kasih sayang, sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Semoga kita bisa bersamanya kelak di hari kiamat, amin.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dengan memperbanyak ibadah dan kebajikan, serta menjauhi semua larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang lebih baik untuk dibawa menuju akhirat selain ketakwaan.

Berikut ini khatib akan membawakan tema tentang Khutbah Jumat tentang larangan melakukan kekerasan dalam Islam. Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Tindakan kekerasan sangat kontraproduktif dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Dalam ajarannya, kekerasan sangat tidak dibenarkan, dan siapa saja yang melakukan kekerasan, maka berarti telah keluar dari ajaran yang dibawa oleh nabi.

Segala tindakan anarkis atau kekerasan hukum diharamkan dalam Islam. Sebab, perbuatan tersebut akan menimbulkan berbagai fitnah dan ketidakstabilan dalam beraktifitas, hilangnya keharmonisan, kerukunan dan kasih sayang yang sudah dibangun sejak sebelumnya. Selain itu, orang yang melakukannya akan dijauhi oleh orang lain.

Berkaitan dengan hal ini, Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran [3]: 159).

Ayat ini dengan tegas menyuruh umat Islam untuk tidak melakukan kekerasan dengan bentuk apa pun, bahkan Allah juga tidak memperbolehkan kepada Rasulullah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kekerasan dalam Islam.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Kita semua diperintah untuk mengikuti nabi dalam setiap hal, baik dalam beribadah kepada Allah, maupun bersosial dengan sesama. Dalam hal sosial, nabi selalu mengajarkan kasih sayang kepada umatnya, sekalipun dalam keadaan yang sangat genting.

Salah satu contohnya adalah ketika nabi diserang oleh orang-orang Quraisy, hingga pelipisnya berdarah, ia tidak lantas mendoakan keburukan dan kehancuran kepada mereka, justru mendoakan hidayah. Hal ini sebagaimana direkam oleh Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitab monumentalnya.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Doa Nabi Muhammad tersebut merupakan representasi dari adanya ayat yang menjelaskan bahwa diutusnya Rasulullah merupakan rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Sulaiman al-Jamal al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqaiqil Khafiah, juz V, halaman 176,

أَلَا تَرَى أَنَّهُمْ لَمَّا شَجُّوْهُ وَكَسَرُوْا رَبَاعِيَتَهُ حَتَّى خَرَّ مُغْشِيًّا عَلَيْهِ. قَالَ بَعْدَ اِفَاقَتِهِ اللهم اهْدِ قَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Tidakkah anda lihat, bahwa ketika orang-orang Quraisy melukai dan mematahkan beberapa gigi nabi, hingga ia terjatuh dan pingsan, kemudian ketika sadar ia berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah! Berilah hidayah untuk kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’”

Potret keseharian nabi adalah kasih sayang. Tidak ada dalam catatan sejarah yang merekam jejak kekerasan darinya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyidah Aisyah ketika ditanya perihal akhlak nabi, ia mengatakan:

فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Rasulullah bukanlah pribadi yang keji dan berbuat keji. Ia tidak pernah berteriak di pasar, ia (juga) tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan berlapang dada.” (HR. Tirmidzi).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah menegaskan bahwa dirinya diutus sebagai pembawa rahmat dan kasih sayang, sebagaimana dikatakan:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِى طَعَّانًا وَلَا لَعَّانًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى دَاعِيًا وَرَحْمَةً، اللهم اهْدِ قَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Sungguh Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang merusak dan bukan (pula) orang yang melaknat. Akan tetapi Allah mengutusku untuk menjadi penyeru dan pembawa rahmat. Ya Allah! Berilah hidayah untuk kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR Al-Baihaqi).

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Mari kita teladani segala perbuatan nabi, baik dalam berbuat, berucap, dan melangkah. Dalam ajarannya, Rasulullah tidak pernah mengajarkan kekerasan dan anarkis kepada umat Islam. Oleh karena itu, mari kita tinggalkan segala bentuk kekerasan yang tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi.

Semua ini penting untuk kita lakukan, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, serta untuk menjaga kerukunan dan kedamaian antar sesama.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat

Demikian khutbah singkat pada ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab untuk meningkatkan ibadah, ketakwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Demikisn khutbah Jumat tentang larangan melakukan kekerasan dalam Islam. Semoga bermanfaat. 

BINCANG SYARIAH