Ayat-Ayat Alquran yang Menjelaskan Akhlak Rasulullah

Rasulullah ﷺ memiliki akhlak agung yang ada dalam Alquran. 

Dikutip dari buku Jangan Takut Hadapi Hidup karya Dr Aidh Abdullah Al-Qarny, Sa’id bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha tentang akhlak Rasulullah ﷺ.  Sayyidah Aisyah berkata “Akhlak Rasulullah ﷺ adalah Alquran”. Untuk itulah pada saat kamu membaca dan merenungkan Alquran, maka seakan-akan kamu sedang melihat kehidupan Rasulullah secara langsung.

Ada beberapa ayat Alquran yang menjelaskan tentang akhlak Rasulullah ﷺ, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS Al-Qalam ayat empat).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal,” (QS Ali Imran ayat 159).

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah ayat 128).

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada para sahabat bagaimana hidup di bawah naungan Alquran dan As-sunnah beliau, yang darinya akan terpantul cahaya sebagai penerang hati. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim disebutkan Rasulullah ﷺ bersabda,  القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ “Bacalah Alquran karena hal itu akan menjadi syafaat pada Hari Kiamat kelak”.

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan Imam Bukhari dari Anas Radhiyallahu Anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya”.

Maksudnya, demi Allah, bahwa orang yang terbaik, termulia dan teragung di antara kalian adalah mereka yang hidup dengan bimbingan Alquran. Inilah mahkota yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Mahkota yang tidak akan dimiliki orang-orang yang hidup dengan kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi yang sering kali manusia mengelu-elukan kehidupan mereka karena kekayaan, jabatan, keturunan dan pangkat yang disandangnya.

Tidak, namun yang terbaik dari kalian adalah orang yang memelajari dan mengaji kandungan Alquran lalu mengajarkannya kepada orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menempatkan mereka (para sahabat) sesuai dengan kualitas interaksi mereka dengan Alquran. 

IHRAM

Enam Makna Ghibah dalam Ayat Alquran

Betapa buruknya ghibah dalam pandangan Alquran.

Ulama Turki Badiuzzaman Said Nursi menyebutkan sebuah ayat mulia yang menjelaskan betapa buruknya ghibah dalam pandangan Alquran. Dia pun menjelaskan makna kata per kata dalam ayat tersebut.

Allah SWT berfirman,

اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا….

“Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?…” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

Dalam bukunya yang berjudul Risalah Ikhlas dan Ukhuwah, Nursi menjelaskan karena ditujukan kepada mereka yang menggunjing orang lain, maka ayat tersebut memiliki beberapa makna. Menurut Nursi, kata pertama dalam ayat tersebut ialah hamzah.

Ayat tersebut bermaksud menegur pembacanya dengan hamzah (pertanyaan) “Apakah engkau tidak mempunyai akal, yang bisa engkau gunakan untuk berpikir, sehingga engkau bisa mengerti betapa buruknya perilaku gibah ini?!”

Dalam kata kedua, yaitu (يُحِبُّ) “suka”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apakah hati yang engkau gunakan untuk mencintai atau membenci telah rusak sehingga engkau mencintai perilaku yang paling buruk dan sangat menjijikkan?” 

Dalam kata ketiga, yakni  (اَحَدُكُمْ) “salah seorang di antara kalian”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang telah terjadi dengan kehidupan sosial dan perabadan kalian, yang mengambil vitalitasnya dari  jamaah, sehingga  kalian menerima sesuatu yang begitu meracuni kehidupan sosial kalian?!” 

Dalam kata keempat, yakni  (اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ) “memakan daging”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang  terjadi dengan rasa  kemanusiaan kalian sehingga kalian tega memangsa teman akrab kalian sendiri?!”

Dalam kata kelima, yaitu (اَخِيْهِ) “saudaranya”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Tidakkah engkau mempunyai belas kasihan terhadap sesama manusia? Apakah engkau tidak memiliki hubungan silaturahim yang mengikatmu dengan sesamamu sehingga engkau tega menerkam saudaramu sendiri, dilihat dari beberapa sisi, secara biadab?”

“Apakah orang yang tega menggigit anggota badan saudaranya sendiri bisa dikatakan memiliki akal? Bukankah orang seperti itu adalah orang gila?” kata Nursi.

Dalam kata keenam, yaitu (ميتا) “yang sudah mati”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Di manakah hati nuranimu? Apakah fitrahmu telah rusak sehingga engkau melakukan suatu tindakan yang paling buruk dan menjijikkan, yaitu memakan daging saudaramu sendiri yang telah mati, yang selayaknya mendapatkan penghormatan?!”

KHAZANAH REPUBLIKA

Kisah Mualaf Menjadi Trendsetter Jilbab Dunia

Penggemar fashion hijab, tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok bernama Hana Tajima. Ia seoarang mualaf asal Inggirs dan mengukuhkan namanya sebagai salah satu trendsetter dunia fashion pakaian muslim.

Label produk pakaian muslimahnya yang didirikannya, mendulang kesuksesan di Inggris dan global. Ciri khas dari gaya hijabnya yang  populer di dunia fashion adalah hijab layer, yaitu gaya hijab berlapis-lapis atau bertumpuk. Bagaimana perjalanan suksesnya dan mengapa ia masuk Islam?  Tonton videonya di sini

HIDAYATULLAH

Mengapa Al-Qur’an Memakai Bahasa Arab?

Mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an

SEBAGIAN kelompok mempertanyakan otentisitas Al-Qur’an karena diturunkan dalam bahasa manusia, yaitu bahasa Arab. Menurut mereka, wahyu merupakan transformasi dari alam pesan ke alam kebudayaan. Atau lebih tepatnya dari alam meta bahasa ke alam bahasa.

Bahasa terikat sejarah, sehingga  diperlukan pemahaman dan pengakuan tentang historisitas bahasa. Dengan demikian berarti wahyu Allah sudah tidak otentik lagi karena bertranfromasi melalui bahasa Arab yang dipengaruhi sejarah.

Tentu saja pernyataan ini sangat lemah dan tidak berdasar. Pilihan Allah terhadap bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an karena bahasa tersebut memiliki tipologi eksklusif.

Al-Quran mengatakan sendiri:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (3) وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memahami. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. ” (QS: Az Zukhruf: 3-4).

Di antaranya, keluasan dalam bahasa dan terminologinya, konstan dan solid dalam struktur bahasa, keragaman dalam perubahan, dapat diberikan tanda baca, memiliki derivasi dan lain sebagainya.

Bahasa Arab memiliki sistem akar kata yang lengkap dengan arti dasar yang saling berkaitan sehingga dapat menjaga makna kata dan idenya dari perubahan sosial dan penafsiran yang subjektif. Disamping itu telah mengalami dokumentasi leksikal yang final sejak jaman jahiliyah.

Karenanya, aspek historisitas bahasa Arab tidak mempengaruhi kemampuan muslim hari ini untuk memahami makna yang benar terhadap bahasa wahyu ini. Jadi, problem historisitas terhadap bahasa Arab sebagai bahasa wahyu dan kenabian seperti yang terjadi dalam agama lain, sudah tidak terjadi lagi.

Selain itu bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat tua dan terjaga.  Semakin tua sebuah bahasa, semakin kaya dengan kosakata, semakin sempurna gramatikalnya dan banyak simbol-simbol makna.

Dengan beberapa tipologi eksklusif ini membuat bahasa Arab sebagai bahasa paling sempurna di antara semua bahasa yang ada. Menurut Ibnu Faris (w. 395), ahli bahasa, ketika Allah Ta’ala memilih bahasa Arab untuk menjelaskan (firman-Nya), menunjukkan bahwa bahasa-bahasa yang lainnya, kemampuan dan tingkatannya di bawah bahasa Arab (as-Shahibi fi Fiqh al-Lughah, 1/4).

Makna Ayat

Dalam Tafsir Muyassar disebutkan,  Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan bahasa Arab, agar umat Nabi Muhammad memahami dan merenungkan makna-makna dan hujjah-hujjahnya. Dan sesungguhnya ia di lauhil mahfudz di sisi Allah, benar-benar memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi, muhkam (bermakna jelas) tanpa ada perselisihan dan pertentangan padanya (dalam Tafsir Muyassar, 489).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang fasih lagi jelas supaya dapat dipahami. Yakni agar kaum Muslimin dapat memahami dan merenungkannya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS: Asy-Syu’ara: 195).

Al-Qur’an itu jelas kemuliaannya di kalangan mala-ul a’la (para malaikat) agar penduduk bumi memuliakan, membesarkan, dan menaatinya.

Firman Allah Swt, “Innahu” yakni sesungguhnya Al-Qur’an itu. Fi Ummil Kitabi, yakni di Lauh Mahfuz, menurut pendapat Ibnu Abbas r.a. dan Mujahid. Ladaina yakni di sisi kami, menurut Qatadah dan lain-lainnya. La’aliyyun, yakni mempunyai kedudukan yang besar, kemuliaan, dan keutamaan, menurut Ibnu Qatadah. Hakimun, yakni muhkam (dikukuhkan) bebas dari kekeliruan dan penyimpangan.

Semuanya ini menonjolkan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ  تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (QS: Al-Waqi’ah: 77-80)

Dan firman Allah Swt.: Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti (‘Abasa: 11-16).

Berdasarkan kedua ayat ini para ulama menyimpulkan dalil, bahwa orang yang berhadas tidak boleh menyentuh mushaf, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis —jika sahih— yang menyebutkan bahwa dikatakan demikian karena para malaikat menghormati semua su­huf (kitab-kitab suci) yang antara lain ialah Al-Qur’an di alam atas, maka penduduk bumi lebih utama lagi untuk menghormatinya.

Mengingat Al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan khitab-nya ditujukan kepada mereka, maka mereka lebih berhak untuk menerimanya dengan penuh kehormatan dan kemuliaan serta tunduk patuh kepada ajarannya dengan menerima dan menaatinya, karena firman Allah Swt. yang mengatakan:

وَاِنَّهٗ فِىۡۤ اُمِّ الۡكِتٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِىٌّ حَكِيۡمٌؕ

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS: Az-Zukhruf: 4) (Tafsir Ibnu Katsir, 1676).

Dari penjelasan di atas teranglah bahwa Allah sengaja menurunkan Al-Qur’an yang suci dalam bahasa Arab karena setiap nabi diberi kitab dengan bahasa kaumnya. Disamping itu menggunakan bahasa yang sangat fasih yang menerangkan maksud kandungannya dan mudah dipahami. Ini hanya bisa ditangkap oleh bahasa Arab yang memiliki kekayaan linguistik.

Menurut Imam Suyuthi bahasa Arab memiliki banyak sinonim yang tidak dimiliki bahasa lain. Semua orang yang berilmu mengetahui hal ini (dalam al-Mazhar fi Ulum al-Lughah, 1/254).

Keistimewaan Bahasa Arab

Umat Islam menyakini bahasa Arab lebih istimewa dari bahasa lain karena ia merupakan bahasa Al-Qur’an, pedoman hidup Islam. Bahasa ini digunakan dalam beribadah, ilmu-ilmu dan sastra Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.

Banyak ulama yang mengerahkan kemampuannya dalam menyingkap rahasia al-Qur’an. Karena teks al-Qur’an merupakan sumber utama keilmuan bagi seluruh orang Muslim.

Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan akan mengakibatkan lemah dalam memahami berbagai permasalahan agama.

Karena itu Imam Syafi’i mewajibkan umat Islam mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ (Ar-Risalah, 1/48).

Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.

Dan yang perlu dipahami, hubungan bahasa Arab dengan agama Islam membuat bahasa ini istimewa dibanding bahasa lain. Hubungannya dengan Al-Qur’an juga menjadikan sebab kuat dan kekalnya bahasa tersebut. Karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam menjaga dan mendalami bahasa Arab sesuai kemampuannya.*

Oleh: Bahrul Ulum

HIDAYATULLAH

Mengapa Rasulullah Menyebut Muharram sebagai Bulan Allah?

Dalam sebuah riwayat An-Nasa’i, Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bulan dan malam apa yang yang paling baik, wahai Rasulullah?” Lalu Rasul menjawab, “Malam terbaik adalah pertengahan malam, dan bulan terbaik adalah bulan Allah yang kamu sebut Muharram.”

Rasulullah SAW dalam riwayat itu menyebut Muharram dengan bulan Allah.Lantas mengapa disebut demikian?

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, Nabi Muhammad SAW menyebut bulan Muharram dengan sebutan bulan Allah karena untuk menunjukkan keagungan dan karunia-Nya. Allah yang menghubungkan Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Yakub dan Nabi-Nabi lainnya sebagai hamba-Nya.

“Dan bulan ini (bulan Muharram/bulan Allah), adalah bulan yang khusus untuk disandarkan kepada Allah ta’ala,” demikian penjelasan Ibnu Rajab.

Imam As-Suyuti, dalam kitab syarah Shahih Muslim, menjelaskan, bulan Muharram memiliki perbedaan dengan bulan lain. Nama bulan-bulan yang lain sudah ada pada masa jahiliyah, sedangkan nama bulan Muharram baru ada saat Islam datang.

Orang-orang pada masa jahiliyah menyebutnya dengan bulan Safar Awal, lalu Allah SWT mengganti nama tersebut dengan Muharram, sehingga kemudian bulan ini juga sering disebut dengan bulan Allah.

Hal itu menjadi petunjuk bahwa bulan Muharram itu adalah milik Allah yang Mahaperkasa dan Mahaagung. Tidak ada seorang pun yang berhak merubah nama bulan tersebut sebagaimana nama yang digunakan pada masa jahiliyah terdahulu.

Amalan yang diutamakan pada bulan Muharram adalah puasa. Hal ini merujuk pada riwayat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama di luar bulan Ramadhan adalah di bulan Muharram. Dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR Muslim) 

Karena itu, sudah sepantasnya pula bahwa puasa termasuk di antara amalan-amalan yang khusus disematkan kepada Allah SWT pada bulan Muharram. Dan kita sebagai seorang Muslim tentu harus melaksanakan ibadah puasa tersebut di bulan Muharram dengan penuh khidmat.

IHRAM

Pesan KH Cholil Nafis Terkait Muharram

Beberapa hari lagi umat Muslim di seluruh dunia akan memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah. Ketua komisi dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis mengajak umat Muslim di Indonesia untuk bermuhasabah diri dalam mengisi pergantian tahun Hijriah. 

Kiai Cholil mengatakan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan. Dalam sebuah keterangan ada empat bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam yakni Dzulkadah, Dzulhijah, Rajab dan Muharram. Karena kemuliaan dan keistimewaan Muharram, umat Muslim pun diharapkan banyak mengisinya dengan memperbanyak ibadah. 

“Tentunya kita melakukan muhasabah karena setahun kita hidup, kemudian kita akan masuk pada tahun baru. Kita muhasabah terhadap dosa-dosa kita, kebaikan-kebaikan kita, ketulusan-ketulusan kita, dan amal-amal kita kepada orang lain,” kata kiai Cholil kepada Republika.co.id pada Jumat (6/8).

Lebih lanjut kiai Cholil menganjurkan agar umat bisa mengisi Muharram dengan berpuasa sunah terutama pada hari Asyura atau pada 10 Muharram. Sebab terdapat kebaikan yang ada di dalam ibadah puasa pada waktu tersebut. 

Kiai Cholil juga mengajak umat agar menjadikan momentum pergantian tahun baru Islam membawa semangat perubahan pada diri sehingga semakin baik. 

“Jadi mari kita semua ikuti semangat hijrah, namanya tahun baru, spirit berjihad , spirit perjuangan di jalan Allah, kita sabar terhadap apa yang menimpa kita, sabar terhadap tantangan dan rintangan dari sebuah perjuangan kita,” katanya.

Andrian Saputra

KHAZANAH REPUBLIKA

Tanda Sabar, Iman, dan Berakal Menurut Rasulullah SAW

Di antara wasiat Rasulullah kepada sahabat Ali bin Abi Thalib adalah tentang tanda-tanda orang yang sabar, beriman, dan berakal. 

Ini dapat ditemukan dalam kitab Washiyat Al-Musthafa yang berisi wasiat-wasiat Rasulullah ke Ali bin Abi Thalib yang disusun Syekh Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy Syarani Al Anshari Asy Syafi’i Asy Syadzili Al Mishri atau dikenal sebagai Imam Asy Syaran.

Tanda orang sabar

يَا عَلِيُّ، عَلَامَاتُ الصَّبْرِ حُسْنُ السَّرِيْرَةِ عِنْدَ اللهِ وَحُسْنُ الْخِدْمَةِ “Wahai Ali, Tanda-tanda orang sabar itu bagusnya hati di sisi Allah, dan bagus khidmatnya (pada agama).” 

Maksudnya orang tersebut memiliki hati yang baik dan ditunjukan dengan khidmat yang baik kepada agama, ulama, umat. 

Tanda orang beriman

يَا عَلِيُّ، لِلْمُؤْمِنِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ بُغْضُ الْمَالِ وَبُغْضُ النِّسَاءِ وَبُغْضُ الْكَلَامِ فِيْ أَعْرَاضِ النَّاسِ “Wahai Ali, orang yang beriman itu punya tiga tanda, tidak senang menumpuk-numpuk harta (adapun punya harta digunakan untuk kemaslahatan di jalan Allah), dan tidak senang wanita (yang melemahkan dalam agama), dan tidak senang membicarakan tentang kecacatan orang lain.” 

Tanda orang berakal

يَا عَلِيُّ، لِلْعَاقِلِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ اَلْاِسْتِعَانَةُ بِالدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَاخْتِمَالُ الْجَفَا وَالصَّبْرُ عَلَى الشَّدَائِدِ “Wahai Ali, orang yang punya akal waras itu tandanya ada tiga. Yaitu menggunakan dunianya untuk kepentingan akhirat, dan sabar diperlakukan kasar orang lain, dan sabar atas situasi-situasi sulit.”  

KHAZANAH REPUBLIKA

Doa Menggunting Kain Kafan Mayat

 Sebelum jenazah dishalati, wajib dimandikan dan dikafani terlebih dahulu. Adapun hukum mengkafani jenezah  adalah fardu kifayah. Hal itu berdasarkan hadits yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Abbas, Nabi dalam hadits tersebut bersabda:

اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ

Artinya; mandikanlah jenazah itu dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Rasulullah juga menerangkan agar orang yang ingin mengkafani jenazah agar memperbagus kain kafan tersebut. Itu sunnah dilakukan sebagaimana Sabda Nabi Muhammad;

إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ

Artinya; Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya yang muslim, maka hendaklah ia memperbagus kain kafannya (HR. Imam Muslim).

Pada sisi lain, kain kafan untuk mayit itu sunah menggunakan warna putih. Pasalnya, warna putih adalah kain kesukaan Nabi. Hal itu berdasarkan sabda Nabi bersabda:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

Artinya; Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] telah menceritakan kepada kami [Zuhair] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Utsman bin Khutsaim] dari [Sa’id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas] ia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pakailah pakaian yang putih, sebab ia adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah jenazah kalian dengannya. Sesungguhnya sebaik-baik celak kalian adalah itsmid (sejenis tumbuhan), itsmid dapat mempertajam pandangan dan menumbuhkan rambut.

Doa Menggunting Kain Kafan Mayat

Tak kalah penting, ketika hendak memotong atau menggunting kain kapan membaca do’a. Adapun doa memotong kain sebagai berikut;

بسم الله اللهم اجعل لباسه عن الكريم وادخله الجنة برحمتك يا ارحم الراحمين

Bismillah Allohumma aj’al libāsuhu ‘ani alkarīm wa adhilhu al jannata birohmatika yā arhama ar rāhimīn

Artinya; Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jadikan pakaiannya dari kemuliaan, dan masukkanlah ia ke dalam surga Mu, Ya Tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang.

BINCANG SYARIAH

Nama-Nama Hari Kiamat

Hari kiamat merupakan hari dimana hancurnya alam semesta beserta isinya dan akhir dari seluruh mahluk Allah SWT. Tak sedikit al-Qur’an menyinggung tentang hari kiamat di dalamnya. Hari kiamat sendiri memiliki banyak sekali nama. Apa saja nama-nama hari kiamat tersebut?

Hari kiamat merupakan hari akhir bagi segala kehidupan di alam semesta. Allah berfirman dalam surah Ali Imran :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S Ali Imran ayat 185)

Dalam kitab Al-Iimaan bil Yaumil Aakhir karya Ibnu Taimiyah disebutkan pendapat para ulama tafsir tentang jumlah nama-nama hari kiamat. Diantaranya, imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir. Al-Qurthubi mengatakan bahwa jumlah nama-nama hari kiamat lebih dari 50 nama. Sementara imam Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa jumlah nama-nama hari kiamat lebih dari 80 nama. Namun, dari semua nama-nama tersebut, inilah nama-nama hari akhir yang paling populer yakni :

  1. As-Saa’ah (Hari yang Menentukan)
  2. Yaumul Qiyaamah (Hari Kiamat)
  3. Yaumul Wa’iid (Hari yang Dijanjikan)
  4. Yaumud Diin (Hari Pembalasan)
  5. Yaumul Hasrah (Hari Penyesalan)
  6. Ad-Daarul Aakhirah (Negeri Akhirat)
  7. Yaumut Tanaad (Hari Saling Memanggil)
  8. Yaumul Jam’i (Hari Berkumpul)
  9. Yaumul Fashl (Hari Pemisahan atau Keputusan)
  10. Yaumul Hisaab (Hari Perhitungan)
  11. Yaumul Khuluud (Hari yang Kekal)
  12. Yaumul Khuruuj (Hari Dikeluarkan dari Kubur)
  13. Yaumut Taghaabun (Hari Penyesalan atau Kerugian)
  14. Yaumut Talaaq (Hari Pertemuan)
  15. Yaumul Aazifah (Hari yang Dekat)
  16. Al-Aazifah (Suatu yang Dekat)
  17. Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat)
  18. Al-Haaqqah (yang Pasti)
  19. Al-Qaari’ah (Ketukan Keras)
  20. At-Thaammatul Kubraa (Bencana Besar)
  21. As-Shaakhkhah (Teriakan)
  22. Yaumul Ba’ats (Hari Kebangkitan)
  23. Al-Ghaasyiyah (Hari Pembalasan)

(Ibnu Taimiyah, Al-Iimaan bilyaumil Aakhir, hal 4)

Demikianlah ulasan mengenai nama-nama hari kiamat beserta artinya. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH

Kalender Hijriyah 1443 Beserta Asal Usul dan Sejarah

Sebentar lagi kita memasuki tahun 1443 hijriyah. Bagaimana sejarah awal mula kalender hijriyah hingga kemudian menjadi kalender Islam seperti sekarang? Berikut ini penjelasan asal usul dan sejarah lengkap beserta kalender hijriyah 1443.

Sejarah Kalender Hijriyah

Bagaimana asal usul alias sejarah kalender hijriyah? Mengapa sekarang baru tahun 1443? Lantas bagaimana penanggalan orang-orang Arab sebelum itu? Kita simak sejarah ringkasnya.

1. Penanggalan Arab sebelum kalender hijriyah

Orang-orang Arab di zaman dulu, baik di era jahiliyah maupun di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak memiliki angka tahun. Mereka biasa menamakan tahun dengan peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.

Misalnya tahun kelahiran Rasulullah disebut tahun gajah (amul fil) karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa penyerangan pasukan gajah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun, sebelum berhasil mencapai Ka’bah, pasukan pimpinan Abrahah itu hancur binasa. Allah mengutus kawanan burung ababil untuk menghancurkan mereka. Peristiwa itu Allah abadikan dalam Surat Al Fil.

Ada pula yang namanya tahun fijar (amul fijar) karena saat itu terjadi perang fijar. Ada tahun nubuwah karena pada tahun itu Rasulullah menerima wahyu. Ada tahun yang disebut amul huzni karena pada tahun itu Rasulullah dan para sahabat bersedih setelah kehilangan dua orang yang berperan penting dalam dakwah yakni ummul mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib. Dengan meninggalnya dua pembela dakwah itu, tribulasi dan penindasan kaum kafir quraisy semakin menjadi-jadi.

Demikian tahun demi tahun berjalan tanpa angka. Hingga pada tahun ketiga masa pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, datang satu masalah. Ketiadaan angka tahun membuat sebagian pejabat pemerintah mengalami kesulitan.

Gubernur Basrah Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, salah satunya. Beliau mengadu kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. “Wahai Amirul Mukminin, telah datang surat Anda kepada kami tetapi kami kesulitan menindaklanjutinya. Di surat tersebut tertulis bulan Sya’ban, namun kami tidak tahu apakah yang dimaksud adalah Sya’ban tahun ini atau Sya’ban tahun kemarin?”

2. Lahirnya kalender hijriyah dan penetapan tahun pertama

Mendapati masalah ini, Umar merasa perlu menetapkan angka tahun. Beliau kemudian meminta para Sahabat Nabi mengusulkan penetapan tahun.

Ada yang mengusulkan mengikuti tahun Romawi, tetapi usulan ini tertolak karena tahun Romawi terlalu jauh. Para sahabat kemudian mengusulkan penetapan tahun dengan pertimbangan yang terbagi dalam empat usulan. Pertama, kalender Islam dimulai dari tahun kelahiran Rasulullah. Kedua, awal kalender Islam terhitung sejak tahun nubuwwah. Ketiga, awal kalender Islam terhitung sejak tahun hijrah. Dan keempat, awal kalender Islam terhitung sejak tahun wafatnya Rasulullah.

Usulan pertama dan kedua tidak diambil. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, sebagian sahabat berbeda pendapat mengenai tahun kelahiran dan tahun nubuwah. Kedua, baik kelahiran maupun tahun nubuwah, keduanya adalah semata-mata anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak ada upaya atau perjuangan manusia (juhud basyari) sama sekali.

Usulan keempat juga tidak diambil. Alasannya, jika wafatnya Rasulullah menjadi tahun pertama kalender Islam, hal itu bisa mengulang kesedihan.

Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu mengusulkan kalender Islam dimulai dari tahun hijrah. Inilah tahun dimulainya peradaban baru Islam. Inilah tahun perubahan umat Islam dari yang semula tertindas di Makkah menjadi kekuatan di Madinah. Dan berbeda dengan kelahiran dan nubuwah Rasulullah yang sama sekali tak ada upaya manusiawi, hijrah merupakan perjuangan besar umat Islam yang dipenuhi dengan banyak sejarah pengorbanan (tadhiyah).

Maka ditetapkanlah tahun hijrah sebagai tahun pertama kalender Islam. Dan karenanya, penanggalan ini disebut sebagai kalender hijriyah.

Baca juga: Niat Puasa Asyura

3. Penetapan bulan pertama kalender hijriyah

Selanjutnya, bulan apa yang menjadi bulan pertama dalam kalender hijriyah? Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Muharram. Mengapa? Pertama, sejak dulu orang Arab menganggap Muharram adalah bulan pertama. Kedua, umat Islam telah menyelesaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah. Ketiga, bulan Muharram merupakan bulan munculnya tekad hijrah ke Madinah setelah pada Dzulhijjah terjadi Baiat Aqabah II.

Maka usulan ini menjadi kesepakatan bersama. Bulan pertama dalam kalender hijriyah adalah bulan Muharram. Dengan demikian, tahun baru Islam jatuh pada tanggal 1 Muharram.

Kalender Hijriyah 1443

Kalender hijriah 1443 telah tersedia di atas, di bawah judul. BersamaDakwah menyusun kalender ini dari penetapan tahun baru hijriyah oleh pemerintah.

Tanggal-tanggal penting terkait pelaksanaan ibadah seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha kepastiannya menunggu ketetapan pemerintah.

Jika sesuai kalender 1443 hijriyah di atas:

  • 1 Ramadhan 1443 jatuh pada Ahad, 3 April 2022
  • Idul Fitri (1 Syawal 1443) jatuh pada Selasa, 3 Mei 2022
  • Idul Adha (10 Dzulhijjah 1443) jatuh pada Ahad, 10 Juli 2022

Namun sekali lagi, kepastiannya tetap menunggu ketetapan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama.

Demikian sejarah kalender hijriyah dan gambar dengan format jpg yang telah tersedia. Resolusi besar kalender hijriyah 1443 telah tersedia di Telegram BersamaDakwah.

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]