Puasa Mengajarkan Kejujuran

Di antara pelajaran terbesar yang kita peroleh dari Ramadhan adalah Muraqabatullah ( adanya perasaan diawasi Allah SWT ). Sebenarnya, saat berpuasa, baik ketika kita berada di rumah, di kantor, maupun di suatu tempat ketika sendirian, bisa saja kita membatalkan puasa dengan makan dan minum. Namun, hal itu tidak dilakukan, karena adanya keyakinan bahwa Allah SWT  mengetahui dan mengawasi seluruh apa yang kita lakukan.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullahu, muraqabah merupakan pengetahuan seorang hamba secara terus-menerus dan berkeyakinan bahwa Allah mengetahui zhahir dan bathin-nya. Dengan kata lain, kita menyakini bahwa Allah mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataannya, mengetahui perbuatannya, di setiap waktu dan di manapun tempat, mengetahui setiap hembusan napasnya, dan tidak sedetik pun ia lolos dari pengetahuan-Nya.

Muraqabah merupakan ‘ubudiyah dengan Asma’-Nya (nama-nama Allah): Ar-Raqib, Al-Hafidz, Al-‘Alim, As-Sami’, dan Al-Bashir (Maha Mengawasi, Menjaga, Mengetahui, Mendengar, dan Maha Melihat). Barang siapa memahami asma’ ini dan beribadah menurut ketentuan-Nya, berarti dia telah sampai ke tingkat muraqabah.

Dalam hadits tentang pertanyaan Malaikat Jibril ‘Alaihissalam tentang Islam, iman dan ihsan, ihsan dijawab oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menyatakan bahwa ihsan berarti kita beribadah seakan-akan melihat Allah. Jikalau tidak mampu, maka yakinlah bahwa Allah pasti melihat kita. Penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang ihsan ini merupakan isyarat atas sikap muraqabah.

Semestinya, setelah Ramadhan berlalu, sikap Muraqabatullah ini tetap ada pada diri kita, sehingga Ramadhan benar-benar memberikan hasil yang optimal dalam mengantarkan kita menjadi manusia baru, manusia pada tingkatan ihsan.

Kalau sikap Muraqabatullah ini tertanam pada umat Islam di Indonesia, tentu akan membawa perbaikan dalam hal pemberantasan korupsi yang sudah menjadi penyakt akut di negeri ini.

Dikutip dari Darussalam Online

 

 

Doa Seorang Calon Ayah: Rabbi Habli Minash Sholihin…

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

“Allahu Akbar… Allahu Akbar..” Suara adzan menggema di seantero jagad raya saat masuk waktu Zhuhur di hari Jum’at itu. Sepasang suami istri masih berada di motornya. Mereka gelisah saat harus mencari masjid di daerah itu. Akhirnya ditemukanlah sebuah masjid di pinggir jalan meski harus memutar arah.

“Alhamdulillah, Allah sayang kita karena dipertemukan masjid saat adzan berkumandang. Ini menjawab doa dari harap cemas sedari tadi apakah bisa ketemu masjid di sepanjang jalan ini,” jelas sang istri ingin menenangkan sang suami yang sudah gusar tidak bertemu masjid sejak 30 menit sebelum adzan berkumandang tadi.

Setelah motor diparkirkan di halaman masjid yang cukup luas. Sang istri menunggu di luar masjid, dan suaminya pun bergegas masuk ke dalam masjid. Hari itu hari libur maka terlihat lengang seisi masjid. Hanya terlihat beberapa orang saja, mungkin tak lebih dari 50 orang yang sudah duduk di dalam masjid itu. Ruang utama masjid yang besar seakan mengecilkan jumlah jamaah yang hadir di majelis jumat itu.

Selesai shalat Jum’at, sang suami langsung menghampiri istrinya agar bisa bergantian shalat dan menjaga barang-barang yang kami bawa. Sekilas terlihat awan hitam menggumpal tebal di atas langit masjid, pertanda akan turun hujan lebat. Air yang jatuh pun tak ayal turun dari langit sebagai karunia dari Allah Ta’ala untuk seluruh alam. Meski hanya rintik hujan, tapi sudah mampu membuat sejuk udara kota yang panas dan terik di siang itu.

“Astaghfirullah…” gumam sang suami tatkala hadir seorang bapak tua yang menggunakan baju koko lusuh, celana mengatung, dan peci putih kusam, mengucapkan salam padanya. “Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh,” tukas lelaki itu bermaksud menjawab salam dari bapak tua itu.

“Boleh saya duduk di sini. Sambil nunggu hujan..,” terang sang bapak.

“Silakan pak duduk di sini, tidak basah kok, karena terlindungi dari air hujan,” jawab sang suami sambil mempersilakan duduk bapak tua itu.

Terlibatlah mereka dalam satu pembicaraan santai. Sampai bapak tua itu mengutarakan kisah tentang dirinya bisa sampai di masjid itu. “Saya mencari anak saya ke Beji Depok pakai kereta karena saya cuma punya uang 20 ribu buat bolak balik. Rumah saya di Mauk Tangerang. Saya cari anak saya cuma pengin dia pulang, ibunya sakit-sakitan tambah parah. 3 bulan lalu anak saya pamit mau kerja kuli bangunan di Beji Depok. Bulan pertama, bulan kedua masih ngirim uang buat berobat. Cuma kok sekarang dah bulan keempat gak ada kabar juga dari dia. Makanya saya beranikan diri cari dia ke Beji Depok walaupun hanya berbekal alamat dari surat yang pernah dia kirim ke rumah,” jelas bapak tua itu mengisahkan.

Tak tahan jua bapak tua itu menahan air mata, akhirnya jatuh jua. Namun cepat-cepat ia seka agar tak terlihat lawan bicaranya. Lalu dia bertanya balik, hendak ke mana, dari mana, bersama siapa, dan naik apa. Satu harapannya, dia berharap ada orang yang mau menolong untuk pulang ke Mauk dengan kendaraan karena ia sudah letih berjalan dari Beji Depok hingga masjid ini karena kehabisan uang.

“Bapak sudah makan?” tanya sang lelaki itu, yang tak lain adalah suami dari wanita tadi yang sedang shalat Zhuhur, memecah kebisuan suasana yang terbangun seraya mengeluarkan nasi kotak dan satu botol air mineral yang baru saja ia dapat dari mengisi pengajian di jumat pagi itu. “Ini untuk bapak, silakan dimakan. Saya punya dua kotak lagi kok…” jelas lelaki itu agar bapak tua tak bermaksud menolak makanan yang diberikannya.

Langsung saja, dia pergi ke tempat wudhu untuk mencuci tangan lalu memakan nasi dalam kotak itu dengan lahap. Tak sampai 10 menit, nasi kotak itu sudah habis.
“Luar biasa laparnya bapak ini…” lirihnya dalam hati.

“Mas sudah punya istri?” tanya bapak tua itu.

“Alhamdulillah, sudah Pak. Sekarang sedang shalat Zhuhur di dalam,” jawab lelaki itu.

“Sudah berapa putranya?” tanya bapak tua itu lagi menimpali jawabanku.

“Saya belum punya Pak. Masih muda umur pernikahannya, belum satu tahun. Mohon doanya agar bisa segera diberi keturunan,” jawabnya dengan penuh harapan dan mata berbinar.

“Anak yang sedang saya cari ini juga dikasih Allah setelah 5 tahun menikah. Saat itu saya sudah putus asa, sampai-sampai keluarga istri menganggap saya mandul. Akhirnya kita periksa ke dokter, ternyata kita berdua baik-baik saja. Saya coba buat datang ke masjid terus. Ikut pengajian tiap malam kamis. Nah di situ saya dapat ilmu buat dapatin anak. Saya diminta untuk shalat taubat dan shalat tahajjud yang rutin. Baru 5 bulan saya jalanin, alhamdulillah istri saya hamil. Baru lahiran anak pertama, ga sampai 1 tahun sudah hamil lagi. Sekarang anak saya tiga,” terang bapak tua itu dengan sangat menggugah hati.

“Rabbi, terima kasih kau kirimkan hamba bapak tua ini yang telah memberikan ilmu pada hamba. Engkau sungguh adil dan lebih tahu tentang kebutuhan hamba…” doa lelaki itu dalam hati. Doanya terhenti ketika terdengar ucapan salam dari suara wanita yang tak lain adalah istri dari lelaki itu yang telah kembali dari shalat Zhuhur. Mereka pun bergegas berpamitan pada bapak tua itu untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa mereka menitipkan sedikit rezeki untuk istrinya yang sakit dan cukup untuk perjalanan pulang bapak tua itu dengan kendaraan umum atau kereta api.

Di motor, sang suami mengisahkan seluruh pelajaran yang didapatkan dari bapak tua tadi. Tak terelakkan sang istri pun menitikkan air mata di pundak suaminya. Meski tak terdengar tangis, tetapi basah di pundak menjadi tanda bahwa sang istri begitu merindukan buah hati. Bahkan sudah menyiapkan nama untuknya, kelak ia lahir nanti.

Beberapa hari setelah kejadian itu, sebelum sampai rumah, pelajaran itu pun datang kembali. Saat keduanya naik motor dan sang istri berkeinginan membeli segelas es pisang hijau. Penjualnya yang seorang ibu paruh baya bertanya pada sang istri, “Ibu lagi hamil ya? Ibu enak, saya aja baru setelah 10 tahun nikah dikasih anak sama Allah, dijaga bu ya. Hamil pertama ya bu?” tanya ibu itu dengan rentetan fakta yang membuat suami istri terdiam sejenak.

Padahal baru 3 bulan lalu, sang istri keguguran. Sang suami mencoba menenangkan istrinya, dengan mengelus punggungnya dan mencoba menghibur dengan senda gurau yang mengundang tawa. “Alhamdulillah kalau hamil. Semoga ibu ga salah liat karena perut saya juga seperti orang hamil…hehehe…” canda sang suami ke ibu penjual itu agar suasana renyah dan tak menimbulkan sedih di hati istrinya.

Sesampainya di rumah, pelajaran itu pun masih datang dari Allah. Ibu mertua mereka entah mengapa tiba-tiba membicarakan hal yang sama. “Ibu dulu waktu hamil kamu itu juga lama. Ibu nunggu 4 tahun baru kamu ada di perut ibu. 4 tahun itu ibu ga putus minta sama Allah pas tahajjud. Ibu minta biar dikasih anak biar jadi ibu yang sempurna,” jelas sang ibu mertua kepada mereka hingga membuat mereka terdiam seribu bahasa tak mampu berkata apa-apa.

***

Ikhwatil iman…

Setiap orang yang telah berumah tangga pasti menginginkan si buah hati. Buah hati yang menjadi titipan Allah Ta’ala kepada suami istri yang telah mengikatkan jalinan suci di hadapan Allah untuk menyeberangi samudera kehidupan dengan kapal keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Buah hati yang mampu menjadi pelipur lara orang tuanya kala duka itu hadir. Buah hati yang memberikan semangat kerja keras pantang menyerah kepada seluruh ayah di muka bumi ini. Mereka senantiasa berjuang agar keluarganya bisa menjadi keluarga yang tercukupi dan menjadi anak-anak yang berprestasi dan shalih-shalihah.

Saudaraku, ikhwatil iman rahimakumulloh…

Ujian ini telah dialami pula oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS. Beliau berdua mendapatkan ujian yang sama, yaitu di masa tua belum memiliki keturunan yang menjadi penerus risalah kenabian dan menjaga keberlanjutan nasab. Hingga Nabi Zakaria AS berdoa, “Rabbi hablii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka sami’ud du’aa’.” (Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa). Allah pun mengabulkan doa Nabi Zakaria melalui malaikat Jibril AS.

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim AS. Beliau pun berdoa kepada Allah, “Rabbi habli minash sholihiin (Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih).” Lalu Allah mengabulkan doa beliau dengan memberi kabar kehamilan dari istrinya, Sarah.

Ikhwatil iman…

Berpuluh-puluh tahun dua orang nabi kecintaan Allah diberikan ujian itu. Berpuluh-puluh tahun pula pastinya mereka berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan. Hingga akhirnya di masa tua mereka barulah diberikan kebahagiaan dengan kabar adanya keturunan. Di masa sekarang, saya juga pernah jaulah dengan seorang ustadz di salah satu daerah di jawa barat yang sudah menikah 21 tahun belum juga dikaruniai anak. Mereka terus berusaha dan berdoa hingga Allah mengabulkan doa mereka nanti. Mereka adalah orang-orang beriman dan shalih yang Allah berikan ujian dan mereka bersabar dengan ujian itu.

Ikhwatil iman…

Saudara-saudaraku yang Allah rahmati karena kecintaan kita kepada-Nya, usahlah kita gusar dan gelisah bila Allah belum menitipkan buah hati di tahun ini. Teruslah berusaha dan tawakal agar Allah melihat setiap amalan shalih yang kita perbuat. Hingga Allah Ta’ala ridha atas segala yang kita usahakan dan doa kita dikabulkan Allah Ta’ala. Entah kapan, mungkin sama seperti Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS di hari tua, mungkin juga lebih cepat.

Saudaraku, dari kisah di atas ada ibrah yang bisa diambil sebagai salah satu usaha untuk mempercepat datangnya buah hati. Pertama, dari bapak tua yang memberikan pelajaran bahwa beliau mendapatkan anak pertamanya setelah 5 tahun dengan cara shalat taubat dan shalat tahajjud. Kedua, pelajaran dari ibu mertua yang mengisahkan kehamilan pertamanya baru pada tahun keempat pernikahan setelah membiasakan diri shalat tahajjud meminta karunia buah hati yang shalih shalihah. Ketiga, bersabar dengan berusaha dan tawakal kepada Allah adalah pelajaran terbaik dari orang-orang beriman, bertaqwa, dan dicintai umat ini.

Semoga tulisan ini menjadi pelipur lara hati yang gundah atas datangnya sang buah hati selama bertahun-tahun. Saat buah hati itu hadir, ujian itu lebih real kita rasakan untuk bisa menjadikan mereka anak-anak yang berprestasi, shalih, dan berakhlaq. Kesabaran dengan berusaha dan tawakal tetap menjadi kunci dalam mendidik buah hati. Betapa banyak hari ini orangtua yang mendidik anaknya tanpa hati. Mereka hanya mengandalkan fisik dan otak belaka hingga anak-anak berubah seperti robot dan mesin hitung, tanpa memiliki keshalihan dan akhlaqul karimah.

Sungguh, kehadiran buah hati yang dipercepat atau diperlambat oleh Allah Ta’ala tetap memiliki persamaan. Allah telah mengaturnya terkait hal itu. Kedekatan kepada Allah Ta’ala sebagai Pencipta dan Pemilik Hati menjadi kunci utama. Semoga Allah berikan kebahagiaan pada kita semua di akhir masa nanti, melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pemimpin umat yang shalih, adil, dan menyejahterakan umat.

 

sumber: Dakwatuna

Warga Diajak Wakaf Al Quran

Masyarakat Indonesia diajak untuk mendukung gerakan wakaf Al Quran untuk dapat memenuhi kebutuhan dua juta kitab suci bagi umat Islam di Tanah Air.

“Lebih dari 200 juta umat muslim tersebar di penjuru tanah air, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (BPS, 2010). Sedangkan data Kemenag tahun 2014 menyebutkan kebutuhan Al Quran di Indonesia mencapai lebih dari dua juta setiap tahunnya,” kata Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Khajar, Senin (6/7).

Kondisi tersebut menginisiasi lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama salah satu produsen kertas Al Quran, Sinar Mas – Asia Pulp & Paper (APP) untuk mengajak masyarakat, organisasi dan institusi lainnya berperan aktif mewaqafkan Al Quran dalam usaha pemenuhan kebutuhan Al Quran di Indonesia dengan meluncurkan website waqafquranku.org.

“Melalui program ini, kami harapkan dapat mendukung pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan Al Quran di tanah air, dan menyalurkan Al Quran tersebut tepat sasaran, serta dapat mengajak berbagai kalangan untuk turun tangan membantu kekurangan tersebut,” kata Ibnu Khajar.

Program wakafquranku merupakan program berbasis website (www.waqafquranku.org) yang memiliki tujuan berbagi kebaikan melalui donasi berupa mushaf Al Quran yang dapat diberikan oleh siapapun, baik individu maupun lingkup organisasi.

Selain itu bagi yang belum berkesempatan melaksanakan program wakaf, juga dapat berbagi informasi terkait daerah atau masjid yang memerlukan bantuan Al Quran.

Target pendistribusian Al Quran akan disalurkan ke masjid-masjid, komunitas masyarakat, dan daerah bencana yang mengalami kerusakan infrastruktur, sarana umum serta sarana ibadah, yang akan disinergikan dengan program ACT, seperti pembangunan shelter dalam rangka pemulihan daerah pasca bencana.

 

sumber: Republika Online

Ensiklopedi Akhlak Nabi SAW: Klasifikasi Akhlak Mulia

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, seorang ulama membagi akhlak mulia dalam dua klasifikasi; akhlak mulia kepada Allah SWT dan akhlak mulia kepada para makhluk-Nya.

Akhlak mulia kepada Allah bermakna meyakini segala sesuatu yang berasal dari diri kita pasti pmemungkinkan terjadinya kesalahan sehingga kita perlu memohon ampunan. Adapun segala sesuatu yang berasal dari Allah SWT patut disyukuri. Jadi, kita harus senantiasa bersyukur, memohon ampunan-Nya, mendekat kepada-Nya, serta berusaha menelaah dan mengintrospeksi diri.

Akhlak mulia kepada makhluk terangkum dalam dua hal, yaitu banyak mengulurkan tangan untuk amal kebajikan serta menahan diri dari perkataan dan perbuatan tercela. Kedua hal ini mudah dilakukan jika memiliki lima syarat, yaitu ilmu, kemurahan hati, kesabaran, keseharan jasmani, dan pemahaman yang benar tentang Islam.

Dengan ilmu seseorang dapat mengenal dan mengetahui akhlak mulia dan akhlak tercela. Kesederhanaan adalah sikap kemudahan memberikan sesuatu kepada orang lain sehingga menjadikan nafsunya bersedia mengikuti kata hati yang baik.

Sabar merupakan sifat yang sangat penting karena jika seorang hamba tidak dapat bersabar atas apa yang menimpa dirinya, ia tidak akan berhasil mencapai derajat luhur. Fisik yang sehat dibutuhkan karena Allah telah menciptakan manusia dengan karakteristik mudah mencerna dan cepat meresap nilan-nilai kebajikan.

Memahami Islam dengan baik juga dibutuhkan karena hal itu merupakan dasar untuk melakukan sifat-sifat mulia. Dengan begitu, tindakan yang didasarkan pada akhlak mulai dapat “diakui” oleh sang Pencipta. Semakin kuat dan mantap keyakinan seseorang bahwa kelak akan memperoleh pahala yang pasti diterimanya, semakin mudah pula ia melewati latihan berakhlak mulai. Di samping itu, ia semakin mudah menikmati ketenteraman hati.

 

sumber: Rapubika Online

Menepati Janji

Menepati janji merupakan identitas seorang mukmin. Ketika menepati janji, ia telah menghormati janjinya dan komitmen dengan ucapannya. Jika seseorang dengan mudahnya melanggar kesepakatan, perjanjian dan persetujuan, ia tidak mengindahkan pasal-pasal yang telah mereka buat sendiri dan masuk ke dalam ciri-ciri orang munafik.

Allah SWT berfirman, “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabnnya”. (QS Al-Isra’:34).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, Dan di antara mereka orang yang telah berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling. Mereka memanglah  orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka, Allah menimbulkan kemunafikan pada hari mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta (QS Al-Taubah:75-77).

Dalam hadist riwayat Muslim, dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA, Nabi SAW bersabda, “Empat keadaan manakala salah seorang berada di dalamnya, ia benar-benar termasuk orang munafik. Apabila berada di salah satu dari empat keadaan tersebut maka ia tergolong orang munafik, kecuali ia meninggalkannya. Empat keadaan yang dimaksud adalah: apabila diberi amanah, ia mengkhianatinya; apabila berbicara, ia bohong; apabila ia berjanji, ia melanggarnya; apabila ia berselisih, ia curang.”

Sungguh indah kehidupan ini apabila ajaran Islam dijalankan dengan ketulusan dalam bermuamalah. Saling berbagi kebaikan, termasuk saling menepati janji.

 

 

Sumber: ensiklopedia akhlak muslim/Muslim Daily

Agar Mag Tidak Kambuh, Begini Lho Panduan Buka Puasanya

Berbuka puasa bagi pengidap mag tidak bisa sembarangan. Jika berbuka sembarangan bukan rasa kenyang yang didapat, malah mag bisa kambuh dan menyebabkan perut tak nyaman.

dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, konsultan saluran cerna dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan pada dasarnya berbuka haruslah hati-hati. Hindari terlalu banyak minuman manis, minuman dingin dan makanan berminyak agar lambung tidak kaget dan tidak menimbulkan nyeri.

“Saat berbuka, sebaiknya minum teh manis hangat atau air putih, hindari minuman terlalu manis atau dingin dan makanan berminyak. Saat awal sebaiknya yang hangat-hangat karena kalau air dingin lambung kaget karena sekian jam tidak minum, dianjurkan yang hangat agar proses penyerapan langsung lebih efektif. Kalau dingin kaget, jadi perih nyeri bahkan merangsang timbulnya batuk,” tutur dr Ari dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis Rabu (1/7/2015).

Pendapat yang sama juga dikatakan oleh Rita Ramayulis DCN, MKes, ahli gizi sekaligus dosen di Politeknik Kesehatan II Jakarta. Menurutnya terlalu banyak makan makanan manis dan dingin, akan meningkatkan produksi asam lambung dan membuat mag kambuh.

“Asam lambung akan diproduksi ketika mengonsumsi makanan yang ekstrem, terlalu manis itu ekstrem. Gula yang kita tambahkan dalam cairan tidak boleh melebihi 10 persen, cairan 200 cc gula nggak boleh lebih dari 20 gram atau 2 sdm datar. Kalau manis lebih dari itu ditambah sirup dan susu kental manis bisa merangsang produksi asam lambung,” urai Rita.

Selain makanan yang terlalu manis dan dingin, orang dengan penyakit mag juga sebaiknya menghindari makanan dengan kadar lemak yang tinggi seperti daging atau makanan yang digoreng. Sebabnya, lemak merupakan salah satu zat yang sulit dicerna. Lambung akan bekerja lebih keras dan bisa menimbulkan nyeri.

Pengidap mag juga sebaiknya menghindari makanan dan minuman yang mengandung gas dan bersifat asam ketika berbuka puasa. Nangka, durian, kol, olahan cuka, merica, cabai yang terlalu pedas merupakan makanan yang mengandung benzoat yang tinggi. Produksi asam lambung akan berlebih dan akhirnya menyebabkan inflamasi atau peradangan di lambung.

Lalu jika banyak yang dilarang, bagaimana pengidap mag dapat menikmati santanpan saat berbuka? Rita mengatakan meski banyak makanan yang tidak dianjurkan, bukan berarti tak boleh dimakan sama sekali. Makanan seperti es krim atau daging boleh dimakan namun jangan terlalu banyak. Jangan lupa pastikan perut sudah diisi terlebih dahulu dengan cemilan sehingga tidak kaget ketika diisi makanan lainnya.

“Pilih makanan yang lebih padat seperti camilan, kalau mag pilihlah dari tepung-tepungan yang dipanggang atau dikukus, misal bolu kukus atau kue tradisional. Buah untuk gastritis, pepaya, mengandung enzim papain yang bisa membantu mencerna protein. Makanan dan minuman yang punya prebiotik juga bisa karena menyeimbangkan bakteri yang bisa merusak mukosa lambung,” pungkasnya.

 

 

sumber: Detik.com

Tanda dari Malam Lailatul Qadar

Assalaamu a’laikum Wr.Wb

Ustadz tiga pertanyaan mengenai Lailatul Qodar.

1. Ciri-ciri akan/turunnya malam Lailatul Qadar dan sesudahnya turunnya Lailatul Qadar

2. Perbedaan waktu/jam dengan negara lain tentang turunnya Lailatul Qodar.

3. Ciri-ciri orang yang mendapatkan curahan rahmat Malam Lailatul Qodar (kalau kita pas lagi ibadah  menyambut Lailatul Qadar, kebetulan malam itu Lailatul Qodar turun).

Itu saja pertanyaan saya, mudah-mudahan ustadz berkenan memberikan jawaban.

Terimakasih.

Wassalaamua’laikum Wr.Wb

Muhtadin

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Adin yang dimuliakan Allah swt

Ciri-ciri Lailatul Qodr

Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾

Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :

1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.

2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)

4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

Perbedaan Waktu Antar Negara

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)

Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)

Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo Lc-

 

sumber: Era Muslim

Ramadhan, Momentum Menjaga Keluarga dari Jilatan Api Neraka

Aktivis perempuan Netty Heryawan mengatakan tidak ada institusi yang mampu menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa kecuali dimulai dari institusi kecil yaitu keluarga. Karena Alquran sudah menyatakan itu beratu-ratus tahun yang lalu.

“Sudah sangat jelas bahwa Allah SWT memerintahkan untuk selalu menjaga keluarga kita dari jilatan api neraka.” Istri dari gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan juga menambahkan bahwa momentum bulan suci Ramadhan menjadi sala satu ruang bagi kita untuk membangun keluarga yang memiliki imunitas dan anti bodi.

Aneka Jenis Sahabat, Hanya 1 Yang Kekal Hingga Akhirat

Rasulullah SAW memiliki kawan dari kalangan orang-orang yang setia, hormat, dekat, dan selalu siap mengorbankan harta dan jiwanya untuk melindunginya dari setiap marabahaya di dalam menyampaikn risalah Islam. Mereka kita kenal dengan istilah sahabat. Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i pernah berkata: “Sahabat (صحابي, ash-shahabi) ialah orang yang bertemu dengan rasulullah S.A.W, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam.”

Secara tabiat, manusia pada umumnya pasti memiliki kawan dan sahabat. Ada berbagai macam jenis persahabatan. Setidaknya ada tujuh jenis persahabatan, namun hanya 1 yang kekal di dunia hingga akhirat.

1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn Allah, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam di penghujung malam, ia doakan sahabatnya.

Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan di atas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),

“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).

Selalu saling mengingatkan dlm kebaikan dan kesabaran.

 

sumber: Muslim Daily

Masih Ada Waktu Menghadapi Setengah Perjalanan Ramadhan Berikutnya

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini sudah kita lewati setengah perjalanan. Masih ada waktu untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan ini. Jangan sampai bulan yang katanya kita rindukan, kita harapkan kehadirannya terlewat hanya sia-sia dan tak ada kesan apa­-apa.

Berikut kiat­-kiat sukses di bulan Ramadhan, agar setengah perjalanan menuju hari kemenangan dapat dimaksimalkan dengan sebaik­-baiknya.

  1. Tilawah Al Qur’an. Setengah bulan berlalu, sudah berapa lembaran Al Qur’an yang dibaca? Sudah berkali­kali khatam, sekali khatam, belum khatam atau bahkan belum terbaca samasekali. Masih ada waktu setengah perjalanan lagi membacanya, mengkaji setiap ayatnya, karena ada pahala berlipat­lipat dari setiap ayat yang kita baca.
  2. Qiyamul Lail. Begitu sibuknya kita, hingga tarawih tak dilaksanakan, karena pulang yang kemalaman atau sholat malam kita yang terlewatkan, karena tidurnya kurang panjang hingga hanya cukup untuk makan sahur yang mendekati fajar. Yuk diperbaiki lagi sholat malam kita agar dapat membersihkan jiwa, agar lebih dekat dengan pemilik jiwa, serta pahala tentunya.
  3. Memperbanyak Infaq. Bukan hanya saat lapang, saat sempitpun sebaiknya kita tetap berinfaq. Ada harta orang lain di dalam harta kita, ada pembersihan harta kita dan In Syaa Allah akan dilipatgandakan rejeki kita.
  4. Mengontrol diri. Lewat bicara yang baik, lewat muhasabah yang terus menerus. Karena yang mengerti diri kita adalah kita sendiri, maka yang bisa mengontrol dan memperbaiki diri kita dari hal­hal yang negatif.
  5. Memberi Makan Kepada Orang Yang Berbuka. “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi)
  6. Memperbanyak Istighfar. “maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun.” (QS: Nuh 71:10)
  7. Memperbanyak Doa. “Dan apabila hamba­hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada­Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)­Ku dan beriman kepada­Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Al Baqarah 2:186)
  8. Itikaf. Memaksimalkan sepuluh hari terakhir dengan memakmurkan masjid, beritikaf, berharap mendapatkan malam lailatul qadr dan beribadah sebaik mungkin, semaksimal mungkin, memberikan yang terbaik di Ramadhan ini. Sahabat, semoga kita dapat memaksimalkan setengah perjalanan Ramadhan ini, dapat memperbaiki ibadah­ibadah yang belum maksimal dan dapat sukses dalam bulan Ramadhan tahun ini.

dikutip dari Ummi Online