Umar bin Khattab Ungkap Doa Datangkan Pertolongan Allah SWT

Umar bin Khattab menekankan manfaat doa yang bisa mendatangkan pertolongan.

Kekuatan doa begitu dahsyat. Doa dalam islam bahkan disebut sebagai inti atau otak dari ibadah itu sendiri. 

Pemahaman tentang keutamaan doa itu juga dipahami dengan baik oleh para generasi salaf, tak terkecuali generasi sahabat. 

Dahulu Umar bin Khattab RA memohon pertolongan atas musuhnya dengan doa. Bahkan dia menganggap doa sebagai tentara yang terhebat.

Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Beliau berkata kepada para sahabatnya: 

“Kalian tidak mendapatkan pertolongan dengan jumlah kalian yang banyak, tetapi kalian mendapatkan pertolongan dari langit.”

Umar juga berkata, “Sesungguhnya yang aku pentingkan bukan pengabulan, tetapi doa atau permohonan itu sendiri. Apabila kalian berdoa, maka pengabulan akan ada bersamanya”.

Barang siapa yang diberi ilham untuk berdoa maka sesungguhnya Allah SWT hendak mengabulkan permohonannya.

Allah SWT berfirman: ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ  “…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS Al Mu’minun ayat 60).

Dalam Sunan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah niscaya Dia akan murka kepadanya”.

Hal ini menunjukkan bahwa ridha-Nya terletak pada permohonan dan ketaatan kepada-Nya. Jika Allah ridha, maka seluruh kebaikan akan berada dalam ridha-Nya, sebagaimana setiap bencana dan musibah itu terjadi karena kemaksiatan kepada Allah dan murka-Nya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Umar bin Khattab: Agama tidak akan Mati Karena Kita

Umar bin Khattab mengingatkan agama tidak akan mati karena kita.

Suatu ketika, Umar bin Khattab saat menjadi khalifah, mendapati seorang laki-laki yang selalu memamerkan dirinya ketika sedang beribadah. Seolah-olah dengan ibadahnya itu, dia akan mati besok.

Lalu, Umar menegurnya sambil memukul laki-laki itu dengan cambuknya. Umar berkata, “Agama tidak akan mati karena kita. Tetapi Allah yang akan mematikanmu.”

Syifa binti Abdullah meriwayatkan, bahwa dia pernah melihat beberapa orang pemuda yang berjalan santai dan berbicara pelan. Syifa bertanya, “Siapakah para pemuda itu?”

Orang-orang yang ada di sekitarnya menjawab, “Mereka adalah ahli ibadah.”

Syifa binti Abdullah berkata, “Demi Allah. Sesungguhnya Umar bin Khattab, kalau berbicara pasti terdengar jelas. Kalau berjalan cepat dan bergegas. Kalau memukul sakit. Demi Allah, dialah ahli ibadah yang sesungguhnya.”

KHAZANAH REPUBLIKA

Dialog Umar Bin Khattab dan Uwais Al-Qarni Saat Ibadah Haji

Nabi Muhammad SAW bercerita tentang Uwais Al-Qarni, padahal beliau belum pernah bertemu dengannya. Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia (Uwais Al-Qarni) berasal dari negeri Yaman, dari kampung Qarn, suku Murad. Ayahnya meninggal dunia dan dia hidup bersama ibunya. Dia anak yang berbakti kepada orang tua. Suatu hari dia terserang penyakit kusta. Dia berdoa memohon kepada Allah dan Allah menyembuhkannya. Penyakit itu berbekas. Di kulit kedua lengannya ada bekas sakitnya seperti tempelan uang dirham. Dia adalah pemimpin para pengikutku.”

Kemudian, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Umar bin Khattab, “Jika engkau sempat bertemu dengannya dan minta didoakan ampunan, maka lakukanlah.”

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, dia bertanya-tanya kepada jamaah haji siapa yang mengenal Uwais Al-Qarni.

Umar          : “Adakah di antara kalian Uwais Al Qarni?”

Jamaah Haji: “Tidak.”

Umar          : “Bagaimana bisa kalian meninggalkanya?”

Mereka (jamaah haji) menjawab tanpa mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni.

Jamaah Haji: “Kami meninggalkannya karena dia tidak punya harta, pakaiannya usang.”

Umar          : “Celakalah kalian! Sesungguhnya Nabi telah menceritakan tentang dia. Kemudian beliau bersabda kepada saya, “Jika engkau sempat bertemu dengannya dan minta didoakan ampunan, maka lakukanlah.”

Setiap musim haji tiba, Umar terus mencari dan menunggu Uwais Al Qarni. Sampai suatu hari, tanpa sengaja Umar bertemu dengan seorang haji dari Yaman. Umar ingin mencari kepastian apakah yang ditemuinya itu adalah Uwais Al-Qarni.

Umar  : “Siapa namamu?”

Uwais  : “Uwais.”

Umar  : “Berasal dari mana?”

Uwais : “Dari Qarn.”

Umar : “Dari kabilah apa?”

Uwais : “Kabilah Murad.”

Umar : “Bagaimana kabar ayahmu?”

Uwais : “Saya hidup bersama ibu, sedangkan ayah saya sudah lama meninggal.”

Umar : “Bagaimana keadaan bersama ibumu?”

Uwais : “Saya harap semoga saya menjadi anak yang berbakti.”

Umar : “Apakah engkau pernah sakit?”

Uwais : “Ya. Saya sakit kusta, lalu berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penyakit saya, dan saya sembuh.”

Umar : “Apakah ada suatu bekas sakitmu dulu?”

Uwais : “Ya, ada bekasnnya di lengan saya seperti uang dirham.”

Uwais menunjukkan lengannya itu. Ketika Umar menyaksikan tanda itu, dia langsung memeluknya dan berkata.

Umar: “Engkaulah orangnya yang diceritakan Nabi dan kucari-cari selama ini. Berdoalah dan mintakanlah saya ampunan dari Allah.”

Uwais : “Wahai Amirul Mukminiin, apakah saya harus memohon supaya engkau diampuni?”

Umar : “Benar.”

Umar terus memintanya dan akhirnya dia didoakan. Kemudian, Umar menanyakan tujuan Uwais setelah melaksanakan ibadah haji.

Uwais : “Saya akan pergi ke Murad menemui penduduk Yaman, lalu ke Irak.”

Umar  : “Bagaimana kalau saya menuliskan surat tentang dirimu untuk gubernur Irak.”

Uwais : “Demi Allah, saya bersumpah. Jangan sampai engkau melakukan itu wahai Amirul Mukminin!”. Biarkan saya berjalan di tengah-tengah orang-orang seperti orang asing, sebagaimana orang lain.”

Siapa Uwais Al-Qarni?

Siapa Uwais Al-Qarni ini sehingga namanya disebut oleh Nabi dan Umar bin Khattab meminta doa darinya? Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, seorang pemuda bernama UwaisAl-Qarni. tinggal di negeri Yaman. Ia seorang fakir dan yatim dan hidup bersama ibunya yang lumpuh dan buta.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai penggembala domba. Hasil usahanya hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Bila kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin. Uwais Al-Qarni dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. ia sering kali berpuasa.

Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya sering bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Sedang ia sendiri belum pernahberjumpa dengan RasulullahSAW. Namun, kKetika mendengar gigi Nabi Muhammad patah karena dilempari batu oleh kaum thaif yang enggan diajak dalam dakwahnya, segera Uwais ikut mematahkan giginya dengan batu hingga patah.

Ia rindu ingin mendengar suara Nabi SAW, kerinduannya karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya.

Ia tak dapat membendung lagi keinginannya itu. Pada suatu hari Uwais datang mendekati ibunya mengeluarkan isi hatinya dan mohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Setelah ia menemukan rumah Rasulullah, hanya bertemu istri Aisyah r.a. Sementara, di waktu yang sama ia ingat pesan ibunya agar cepat pulang ke Yaman. Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya itu mengalahkan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah pun pulang dari medan pertempuran. Sesampainya di rumah beliau menanyakan kepada Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Aisyah ra menjelaskan bahwa memang benar ada yang mencarinya, tetapi karena tidak menunggu, ia segera kembali ke Yaman karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa orang itu penghuni langit. Nabi menceritakan kepada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Nabi pun menyarankan para sahabatnya ketika bertemu dengan Uwais Al-Qarni, “Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi.”

IHRAM

Teladan Umar Bangunkan Keluarga untuk Salat Malam

WAHAI anak yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Taala! Apabila Allah memuliakanmu dengan memberikan kepadamu orangtua yang selalu memberikan perhatian kepadamu dalam permasalahan salat, menganjurkan, serta memotivasimu, maka hati-hatilah jangan sampai kamu merasa direpotkan oleh orang tuamu. Janganlah engkau merasa marah karena pengawasannya padamu!

Demi Allah sesungguhnya orangtuamu itu sedang berusaha untuk menjauhkanmu dari murka Allah Azza wa Jalla, dan berusaha untuk menghantarkan kamu kepada keridaan Allah Subhanahu wa Taala. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan rida denganmu sampai kamu termasuk dari orang-orang yang melaksanakan dan menjaga salatnya.

Perhatikanlah pujian Allah yang sangat harum kepada Nabi-Nya Ismail Alaihissallam. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

“Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Rabbnya.” (QS Maryam: 55)

Nabi Ismail Alaihissallam orang yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Taala, karena dia melakukan segala sebab yang bisa mendatangkan keridaan Allah Azza wa Jalla, dan diantara sebab yang paling agung adalah memerhatikan salat dengan menjaga dan terus menjaganya, serta mengajarkan kepada keluarga kebiasaan menjaga salat.

Imam Malik rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Muwattha dari Zaid bin Aslam Radhiyallahu anhu dari bapaknya, bahwasanya Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu melakukan qiyamul lail (salat malam) sebanyak bilangan yang Allah Azza wa Jalla kehendaki. Tatkala berada di akhir malam, beliau Radhiyallahu anhu membangunkan keluarganya untuk melakukan salat. Beliau Radhiyallahu anhu membacakan kepada mereka firman Allah Subhanahu wa Taala:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132)

Kaum Muslimin, perhatikanlah dan renungilah keadaan dan sikap para assalafus shalih Radhiyallahu anhum terhadap arahan agung dari Allah Azza wa Jalla ini! Kemudian, bandingkanlah realita keadaan umat manusia yang cenderung melalaikan, menyia-nyiakan arahan ini, serta keengganan mereka untuk menunaikan kewajiban yang agung ini.

Alangkah perlunya kita dalam permasalahan ini untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjaga salatnya, kemudian mengawasi anak-anak kita dalam melaksanakannya! Alangkah butuhnya kita untuk selalu memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan kita dan anak-anak kita termasuk orang-orang yang melaksanakan dan selalu menjaga salatnya.

Di antara doa yang paling agung dalam permasalah ini adalah doa Nabi Ibrahim Alaihissallam, “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat! Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim: 40)

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberikan taufiq kepada kita dalam menjaga salat, dan memperbaiki keadaan anak-anak kita, serta menjadikan kita dan mereka termasuk dari orang-orang yang mendirikan salat. [Majalah As-Sunnah/Syaikh Abdur Razzaq]

 

INILAH MOZAIK

11 Bulan ke Depan yang Penuh Duri

Suatu hati, Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab tengah berbincang. Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri?Ubay bin Ka’ab menjawab, Ya, pernah. Apakah yang engkau lakukan? tanya Umar kembali.

“Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya! jawab Ubay bin Ka’ab. Itulah yang dinamakan takwa, ujar Umar.

Apakah yang dikatakan Sayyidina Umar akan dihadapi umat Islam selama 11 bulan ke depan. Ramadhan telah dilalui, dengan beragam ilmu di dapat. Sikap disiplin, welas asih, sabar, dan lainnya telah kita pelajari selama sebulan. Ujian sesungguhnya bukan di bulan Ramadhan melainkan setelah Ramadhan. Di bulan-bulan berikutnya, kita akan tahu apakah Ramadhan telah mengubah kita?

Sekiranya, Ramadhan merupakan anuegerah bagi umat Islam. Dalam setahun, ada satu lagi nikmat yang harus disyukuri. Ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah SAW selalu memanjatkan doa, Ya Allah anugerahkan kami keberkahan di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikan kami bulan Ramadhan dan wujudkanlah tujuan kami.”. Dari doa Rasulullah ini, dapat simpulkan betapa istimewanya Ramadhan. Keistimewaan inilah yang harus kita jaga.

Kuncinya adalah Istiqomah. Manusia itu bila diibaratkan seperti sinyal ponsel. Kadang naik. Kadang Turun. Kadang banyak turunnya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) berdukacita.  Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka  kerjakan.” (QS al-Ahqaf [46] : 13-14).

Ayat tersebut memberikan petunjuk kepada kita, akan pentingnya istiqamah. Apa itu Istiqamah? Begini cirinya, seseorang yang istiqamah tak ada sedikit pun di hatinya rasa ragu lagi bimbang. Ia teramat yakin  sehingga ia terus melaju dalam rel keimanan. Tak pula didapati dalam hati orang yang istiqamah  kesedihan. Ia bergembira, maka ia ingin terus mempertahankan kegembiraan itu.

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Siddik dalam tulisannya yang dimuat di Republika.co.id, menyebut untuk menjadi Istiqamah ada caranya. Pertama, kita harus menguatkan keyakinan jika Allah SWT. Selanjutnya memperbanyak istighfar, berkumpul dengan orang saleh, dan memperbanyak belajar dari kaum Muslimin.

Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra, Ustaz Muhammad Arifin Ilham menuliskan, amal istiqamah adalah amal malaikat. Seperti kita tahu, dari awal penciptaannya, malaikat terus beribadah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya. Berarti orang yang istiqamah sedang beramal sebagaimana amal malaikat. Dan, karena itu sangat dikaguminya.

Dalam petuahnya Hujattul Islam, Imam Al Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya. Apakah yang paling besar di dunia ini. Mendengar pertanyaan tersebut, para murid ada yang menjawab, gunungm matahari, bumi dan lainnya. Lalu beliau menjawab, yang paling besar di dunia ini adalah hawa nafsu.

Kata kunci dari fitrah adalah hawa nafsunya bisa dikendalikan. Karena semua yang mengotori fitrah manusia adalah hawa nafsu.Pakar Fiqih Muamalah, Ustaz Oni Sahroni menyebut, kemampuan manusia menjaga hawa nafsu akan melindungi dirinya dari hal buruk seperti korupsi dan tidak amanah.

Ustaz Hasan Basri Tanjung dalam bukunya Karunia Tak Ternilai menuliskan Idul Fitri akan melahirkan manusia yang mencintai kebenaran, kebaikan dan keindahan yang merupakan nilai-nilai universal. Ia kemudian menjadi tipe manusia yang positif, kontributif, dan produktif.

Manusia-manusia inilah yang akan optimistis menghadapi 11 bulan ke depan. Ingat, tahun politik, tak lama lagi datang. Dapat dipastikan, suhu akan memanas. Manusia-manusia lulusan Ramadhan yang akan membuat perbedaan. Ia akan santun saat memilih dan bijak ketika melihat perbedaan.

Perhatikan sabda Nabi SAW, yakni Sebaik-baiknya manusia di sisi Allah adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi sesama. Rasulullah mendorong setiap individu untuk mengambil peran, berbagi kelebihan (ilmu, harta, tenaga, dan kekuasaan) kepada insan yang kurang beruntung. Menjadi bagian dari solusi, dan bukan menjadi bagian dari masalah.

Selamat Idul Fitri, Mohon Lahir dan Batin. Selamat datang manusia Ramadhan..

oleh Agung Sasongko, Penulis adalah redaktur Republika.co.id

 

REPUBLIKA

Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan (2)

Alkisah, akhirnya Hurmuzan menghadap amirul mukminin, Umar Bin Khattab.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

“Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap,” lanjut Khalifah Umar.

Salah satu utusan berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya,” kata ‘Umar.

Setelah  Hurmuzan berganti dengan pakaian biasa,  ‘Umar kemudian berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

“Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami,” ujar Hurmuzan.

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”

Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkannya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

Tiba-tiba Hurmuzan membuang air tersebut. Melihat hal itu Umar menyuruh seseorang agar mengambilkan air dan memberikannya kepada Hurmuzan. “Jangan sampai kalian membunuhnya dalam keadaan haus,” kata Umar.

Tapi ternyata Hurmuzan menolak pemberian ‘Umar.

“Aku tidak butuh air,” jawabnya. “Aku sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan jaminan keselamatan darimu,” tandasnya dengan tenang.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu sekarang juga,” kata ‘Umar.

“Tapi engkau telah memberikan jaminan keselamatan padaku.”

“Engkau bohong,” sahut ‘Umar.

Tiba-tiba Anas bin Malik yang berada di tempat itu berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukminin,” Anas membenarkan ucapan Hurmuzan. “Engkau telah memberinya jaminan keselamatan,” lanjutnya.

“Celaka engkau wahai Anas,” kata ‘Umar kepada Anas. “Mungkinkah aku memberikan jaminan keselamatan kepada orang yang telah membunuh al-Barra’ bin Malik?, (yang tak lain saudara kandung Anas bin Malik sendiri, red).  Sebaiknya engkau menjelaskannya. Kalau tidak, aku akan menghukummu,” tegas Umar kepada Anas bin Malik.

“Pertama engkau mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau meminumnya” kepada Hurmuzan,” kata Anas menjelaskan. Engkau juga mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau menceritakannya kepadaku.” Lanjut Anas mengingatkan Umar.

Bahkan orang-orang yang berada di situ juga membenarkan perkatan Anas.

Umar lalu menghadap kepada Hurmuzan dan mengatakan, “Engkau telah menipuku,” katanya. “Demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali engkau masuk agama Islam,” tambah ‘Umar.

Ternyata setelah itu Hurmuzan menyatakan diri masuk Islam. Maka Umar pun memperlakukan Hurmuzan dengan baik dan menyuruhnya menetap di Kota Madinah.

Sebagai penutup, kata-kata bersejarah Umar yang dicatat oleh Sayyid bin Husain Al-‘Affani ini patut untuk dijadikan renungan terkait betapa pentingnya nilai Izzah bagi umat Islam:

“Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina.”  (dalam buku Anwâr al-Fajr fî Fadhâ`ili Ahli Badr”, 2006:504).*/Mahmud Budi Setiawan

 

HIDAYATULLH

Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan

ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin menjadikan Izzah sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54, disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.

Dalam bahasa Arab, kata “Izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus tersebut, ‘Izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.

Salah satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab “al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”

Semua orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’ ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan pemerintahan sangat masyhur.

Umar bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua. Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.

Namun siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja Persia yang bernama Hurmuzan.

Tiga orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangkapnya atas permintaan Khalifah Umar.

Dikisahkan bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada Umar bin Khattab.

Menjelang tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.

Sepanjang perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia. Fikirannya  sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui sang Khalifah.

Kisah pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh nyata bagaimana karakter Izzah ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.

Dalam buku “Nizhâm al-Hukûmiyah al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam bab “Fîman Kâna Yudhrabu bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).

Menukil cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu hebat Izzah beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas- untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).

Kebetulan, saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini -demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang aku rasakan kehebatan –Izzah nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”

Izzah yang dimiliki Umar benar-benar membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya. Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.

Hurmuzan tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua raksasa super power dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).

Terkejutnya Hurmuzan,  pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.

‘Umar baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi terciptanya keadilan untuk rakyat.

Senada dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964: 126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir (Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas pasir berbantalkan tongkat kecilnya.

“Orang yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab. Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.

 

HIDAYATULLAH

Delapan Nasehat Umar yang Bikin Kita “Tertampar”

Sejak masuk Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu telah membuat bumi Makkah bergetar. Orang-orang kafir Quraisy pun gemetar.

Tak lama setelah memproklamirkan diri sebagai muslim, ia mengajak para sahabat untuk terang-terangan keluar. Melihat para sahabat thawaf mengelilingi ka’bah dipimpin Hamzah dan Umar, kaum musyrikin Makkah serasa menyaksikan kobaran kilat dan suara halilintar.

Ketika hijrah, Umar pergi dengan tantangan terbuka. “Aku mau berangkat hijrah. Siapa yang ingin anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, silahkan hadang aku!” Dan tak ada yang berani menghalangi. Seluruh ksatria kaum musyirin gentar.

Ketika menjadi khalifah setelah wafatnya Abu Bakar, Umar menorehkan sejarah sebagai pemimpin Islam yang fenomenal. Keadilannya tersebar dari Madinah hingga batas negeri terluar. Maka Michael H Hart pun memasukkannya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Umar tercatat menghasilkan futuhat Islamiyah terbesar.

Sahabat mulia bergelar al faruq ini tak hanya ahli memimpin negara dan perkasa di medan perang. Ia juga seorang inspirator ulung yang nasehat-nasehatnya menyentuh jiwa dan produk ijtihadnya menjadi khazanah keilmuan dari zamannya hingga zaman kita.

Salah satu nasehat Umar bin Khattab diabadikan dalam kitab Nashaihul ‘Ibad. Ada delapan nasehat Umar bin Khattab dalam sebuah atsar beliau yang oleh Syekh Nawawi Al Bantany diberi judul Delapan Nasehat Umar:

  1. Barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu maka dia akan diberi hikmah
  2. Barangsiapa meninggalkan penglihatan yang tidak perlu maka dia akan diberi kekhusukan dalam hati
  3. Barangsiapa meninggalkan makan yang berlebihan maka dia diberi kenikmatan beribadah
  4. Barangsiapa meninggalkan tertawa yang berlebihan maka dia akan diberi kewibawaan
  5. Barangsiapa meninggalkan humor maka dia akan diberi kehormatan
  6. Barangsiapa meninggalkan cinta duniawi maka dia akan diberi kecintaan kepada akhirat
  7. Barangsiapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aibnya sendiri
  8. Barangsiapa meninggalkan pembahasan tentang bagaimana wujud Allah maka dia akan terhindar dari nifaq

Nasehat-nasehat ini luar biasa. Mari kita berusaha mengamalkannya. Meskipun di zaman sekarang, tantangannya relatif lebih besar. Medsos yang memfasilitasi kita lebih banyak berucap, mobilitas dan media yang memfasilitasi kita lebih banyak memandang, aneka acara humor yang menstimulus kita untuk lebih banyak tertawa, hingga mudahnya akses informasi yang membuat kita terjebak menguiti aib sesama. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

 

BERSAMA DAKWAH

Uwais Al-Qarni, Pemuda Sederhana Yang Dicari-Cari Oleh Khalifah Umar Bin Khattab

“Mohon kalian semua duduk,” kata Umar kepada rombongan yang datang di sekitaran Ka’bah. Saat itu Umar sudah menjabat sebagai seorang khalifah. Artinya, itu adalah era di mana Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalaam dan Abu Bakar As-Shidiq sudah meninggal dunia.

Keadaan cukup ramai karena sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Musim haji telah tiba. Orang-orang dari segala penjuru mendatangi kota Mekah untuk beribadah. Dan wajarnya ibadah haji pada era itu, yang dibawa pun sekalian barang dagangan. Ibadah sekalian berjualan. Itulah yang membuat keadaan di pusat kota Mekah saat Umar mengumpulkan para calon jamaah haji jadi terlihat semakin riuh.

“Silakan duduk, kecuali orang-orang yang berasal dari daerah Qaran,” lanjut Umar bin Khattab. Semua orang-orang yang di hadapan Umar duduk bersila. Sedangkan orang-orang dari Qaran tetap berdiri.

“Siapa di antara kalian yang bernama Uwais?” tanya Umar kepada orang-orang yang masih berdiri.

Semua orang yang berdiri bergeming. Saling pandang satu sama lain, seperti saling menyelidik dan bertanya-tanya. Umar pun paham, di antara orang-orang ini, tidak ada orang yang dimaksud.

“Adakah di antara kalian yang mengenal orang yang bernama Uwais al-Qarni?” tanya Umar lagi dengan suara keras mengingat di hadapannya ada cukup banyak orang.

Kasak-kusuk mulai terdengar, orang-orang ini mulai bingung. Ada apa sosok seterhormat khalifah Umar menanyakan Uwais? Orang-orang Qaran ini heran. Uwais hanya orang biasa, rakyat jelata, dan tidak punya kedudukan apapun. Bahkan bagi penduduk Qaran, Uwais hanyalah orang gila yang dikucilkan dari masyarakat. Itulah yang kemudian membuat salah satu pria yang berdiri sedikit maju ke depan untuk berbicara kepada Umar.

“Wahai, Umar. Apa yang Anda inginkan darinya? Uwais adalah orang yang tidak dikenal kecuali oleh orang-orang sekitarnya. Ia tinggal di gubuk reyot. Hidup sendiri dan tidak bergaul dengan manusia,” kata perwakilan orang Qaran ini.

Tanpa diduga oleh orang-orang Qaran dan calon jamaah haji yang duduk, Umar justru sumringah. Seperti menemukan seseorang yang selama ini ditunggu-tunggu. Dengan sedikit terburu-buru Umar mendatangi orang tersebut.

“Sampaikan salamku padanya. Pada Uwais. Mohon, mintakan kepadanya untuk segera menemuiku di Mekah,” kata Umar.

Tentu saja semua yang melihat ini bertanya-tanya. Siapa orang yang dimaksud Umar itu? Dan apa yang membuatnya jadi terlihat begitu istimewa sampai seorang Umar—salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad, khalifah penerus Abu Bakar As-Shidiq—seperti berupaya keras untuk menyelidiki dan mencari sosoknya. Rasa penasaran yang tidak hanya muncul dari orang-orang Qaran, tapi juga jamaah haji yang sedang duduk.

Rasa penasaran itu mengerucut pada satu pertanyaan: Siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni?

Uwais adalah pria tambun, berkulit coklat gelap, kepalanya botak, berjenggot tebal dan lebat. Sering mengenakan sorban dari kain wol, wajahnya cukup menjengkelkan sekaligus punya tatapan mata yang menakutkan.

Paling tidak, itulah kesan yang dilihat oleh Harim bin Hayyan al-‘Abdi, seorang muslim yang bertemu dengan Uwais setelah kabar seorang Khalifah Umar mencari sosok tidak dikenal itu sampai ke Kota Kufah di tepi Sungai Efrat.

Seperti yang diceritakan ulang oleh Abu Al-Qasim An-Naisaburi dalam kitab Uqola al-Majaaniin, kitab kebijaksanaan orang-orang yang dianggap gila atau memang gila betulan, setelah mendapat pesan dari Umar, orang Qaran ini pun pulang ke kampung halamannya setelah ibadah haji. Ia menyampaikan pesan istimewa ke Uwais dengan penuh tanda tanya. Barangkali dalam hatinya, ada urusan apa seorang Uwais, sosok yang dicampakkan di perkampungannya, malah mendapat “undangan kenegaraan” langsung dari khalifah umat Islam sedunia.

Mendapat undangan istimewa tersebut, tentu saja Uwais segera ke Mekah mendatangi Umar. Begitu keduanya bertemu, Umar langsung menyapa, “Apakah benar Anda adalah Uwais? Uwais Al-Qarni?” tanya Umar.

“Ya, benar, wahai Amirulmukminin,” jawab Uwais.

“Apakah Anda pernah memiliki penyakit kusta, lalu Anda berdoa dan penyakit Anda sembuh? Lalu Anda berdoa kembali agar dikembalikan lagi penyakit kusta tersebut, lalu dikabulkan lagi, tapi hanya setengah dari penyakit yang pertama?” tanya Umar.

Uwais terkejut luar biasa melihat Umar tahu hal tersebut. Mengingat Uwais hanyalah sebatang kara dan dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya.

“Benar apa yang Anda sampaikan, Amirulmukminin,” kata Uwais masih terkejut, “Siapa yang mengabari Anda tentang semua itu? Demi Tuhan, tidak ada yang mengetahui peristiwa tersebut kecuali Tuhan.”

Umar lalu menjawab, “Yang memberitahuku adalah Rasulullah. Beliau memerintahkanku untuk memohon kepada Anda agar berkenan mendoakan saya.”

Karuan saja Uwais semakin heran dengan penjelasan Umar. Namun sebelum keluar kata-kata dari Uwais, Umar kembali melanjutkan kata-katanya.

“Karena beliau bersabda tentang seorang pria yang memberi syafaat kepada orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari Bani Rabi’ah dan Mudlar. Lalu beliau menyebut namamu,” jelas Umar.

Apa yang disampaikan Umar adalah hadis dari riwayat Hasan. Suatu kali Nabi Muhammad bersabda, “Ada orang-orang dalam jumlah lebih banyak dari Bani Rabi’ah dan Mudlar kelak yang akan masuk surga karena syafaat seorang pria dari umatku. Maukah kalian aku beritahu siapa nama pria itu?”

Para sahabat menjawab, “Tentu saja, Wahai Rasulullah.”

“Pria itu adalah Uwais Al-Qarni.”

Setelahnya lalu keluar perintah Nabi untuk Umar, “Wahai Umar, apabila engkau menemukannya, sampaikan salamku untuknya, berbincanglah dengannya sehingga dia mendoakanmu.” Sebuah riwayat yang juga terdapat dalam kitab Shahih al-Jami ash-Shaghir karya Jalaluddin as-Suyuthi.

Mendengar segala keistimewaan itu Uwais bukannya jadi besar kepala, pesannya pun sederhana kepada Umar, “Wahai Amurilmukminin, saya punya permohonan untuk Anda,” kata Uwais.

“Apa itu, Uwais?” tanya Umar.

“Tolong sembunyikan soal jati diri saya yang Anda dengar dari Rasulullah dan izinkanlah saya untuk segera beranjak dari tempat ini,” kata Uwais.

Umar pun mengabulkan permohonan tersebut. Dalam kesaksian Harim bin Hayyan, Uwais berkata kepadanya, “Aku tidak suka perkara ini,” setelah Harim meminta hadis dari riwayat Uwais.

“Aku tidak ingin menjadi mukhaddits (ahli hadis), kadi (hakim), dan mufti (pencetus fatwa). Aku tak suka diriku sibuk dengan manusia,” jawab Uwais yang ingin menjauh dari gelar-gelar duniawi sekalipun itu terlihat seperti gelar dari agama.

Di tempat persembunyiannya itulah Uwais menghabiskan sisa hidupnya. Sampai kemudian keberadaan Uwais yang tidak terdeteksi oleh orang banyak itu muncul kembali saat ditemukan dalam keadaan syahid saat Perang Shiffin bergejolak. (fath/tirto/arrahmah.com)

 

ARRAHMAH

Doa Umar bin Khattab Usai Berhaji

Saat berhaji, Khalifah Umar bin Khattab pernah diundang Sufyan bin Umayyah. Dalam acara makan tersebut, tersedia empat nampan besar beserta pelayannya.

Mereka pun makan, tetapi Umar melihat pelayan-pelayan itu berdiri saja menyaksikan orang lain makan. Umar bertanya kepada Sufyan,”Mengapa para pelayanmu tidak makan bersama?”

“Tidak demi Allah ya, Amirul Mukminin,” jawab Sufyan. “Mereka makan sesudah kita makan untuk menunjukan kebesaran kita”.

“Tidak bisa begitu,” kata Umar geram.

“Setiap kaum yang merendahkan pelayannya, maka dia akan direndakan Allah. Ayo para pelayan, silahkan makan bersama-sama,” kata Umar.

Pelayan itu akhirnya makan bersama-sama. Sudah menjadi prinsip Umar mendahulukan kepentingan rakyatnya. Karena prinsip itu, Umar pernah hanya memakan minyak selama sembilan bulan. Beliau bersumpah tidak akan makan lauk selain minyak sehingga Allah memberi kelapangan kepada kaum Muslimin. Beliau juga pernah memikul karung-karung sendiri untuk diberikan kepada janda-janda dan anak-anak yatim.

Selesai berhaji pada tahun 23 hijriyah, Umar berdoa kepada Allah di Abtha. Beliau mengadu kepada Allah tentang usianya yang senja, kekuatan yang melemah, sementara rakyatnya menyebar luas di berbagai penjuru. Umar khawatir tidak bisa menjalankan tugasnya dengan sempurna. Beliau pun berdoa kepada Allah agar wafat dengan mati syahid serta dimakamkan di Madinah.

Doa itu diwujudkan Allah. Umar bin Khattab wafat 25 Zulhijah 23 Hijriyah setelah ditikam seorang majusi bernama, Abu Luluah Fairuz ketika hendak melaksanakan shalat Subuh.

 

REPUBLIKA