Cek Akomodasi Haji di Tanah Suci Melalui Aplikasi Cek Porsi Haji!

Musim Haji telah datang. Kini, calon jamaah haji bisa dengan muah mengetahui informasi seputar Akomodasi Haji di Tanah Suci dengan melihatnya melalui aplikasi berbasiskan Android melalui smartphone.

Download dan installah aplikasi Cek Porsi Haji, Klik di sini!

Informasi Akomodasi meruakan fitur terbaru dari Apliaksi Cek Porsi Haji. Fitur lainya, yang sudah banyak dimanfaatkan, di antaranya:

  1. Cek Jadwal Keberangkatan Calon Jamaah Haji berdasarkan Nomor Porsi Haji yang telah diperoleh Calon Jamaah Haji dari Kemenag RI;
  2. Artikel Islami/Dakwah setiap hari, minimal 6 kali sehari;
  3. Cek Visa Umrah. Inilah fitur yang bermanfaat bagi calon jamaah umrah untuk mengecek kepastian keberangkatanya sesuai dengan Visa yang didapat;
  4. Fitur dan informasi lainnya.

Semoga kedepannya aplikasi Porsi Haji ini makin sempurna dan lebih lengkap lagi agar bisa meberikan banyak manfaat bagi kita semua.

Semoga bagi calon jamaah haji dianugerahi Allah SWT sebagai haji mabrur, yang imbalannya surga. Dan, bag saudara-saudara lainnya yang belum mendaatkan kesempatan berhaji atau umrah, dimudahkan niat sucinya itu. Amien.

 

Pekan Depan, Jadwal Pelunasan BPIH akan Dimulai

Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama telah merilis daftar jamaah haji reguler yang berhak melunasi biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2018. Dalam rencana pelunasan BPIH tersebut akan dilakukan pada pekan depan.

“Senin atau selasa akan dimulai, tunggu keterangan resmi dari Kementerian Agama saja dulu,” ujar Kasubdit Pendaftaran Haji Direktorat Pelayanan Haji Dalam Negeri Kemenag, Noer Aliya Fitra alias Nafit saat dihubungi Republika.co.id, Jakarta, Kamis (12/4).

Menurutnya, pola pelunasannya hampir sama dengan tahun lalu. Tahap pertama, untuk jamaah lunas yang menunda berangkat tahun lalu dan jamaah nomor urut porsi yang belum haji serta sudah berusia minimal 18 tahun atau sudah menikah.

Tahap kedua, akan dilakukan jika ada sisa kuota setelah tahap 1 selesai, dialokasikan untuk jamaah yang mengalami kegagalan sistem, nomor urut porsi yang masuk kuota tahun ini yang sudah pernah haji, penggabungan suami/istri dan anak kandung orang tua terpisah, lanjut usia minimal 75 tahun dan pendampingnya, serta jamaah cadangan lima persen.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemenag, Nur Syam membenarkan tentang keluarnya Keppres tersebut. Karena itu, menurutnya, Direkrorat Pelayananan Haji dalam negeri akan segera melakukan persiapan untuk mengumumkan jadwal pelunasan jamaah haji.

“Sudah keluar nomor 7 tahun 2018. Nah kalau sudah keluar berarti lalu setelah ini harus segera dilakukan persiapan pelunasannya,” ujar Nur Syam saat ditanya Republika.co.id usai menjadi pembicara dalam kegiatan Diseminasi Advokasi Haji di Kawasan Sentul, Bogor, Selasa (10/4).

 

IHRAM

Jelang Pelunasan BPIH, Calon Jamaah Diminta Waspada

Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama telah merilis daftar jamaah haji reguler yang berhak melunasi biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2018. Proses pelunasan BPIH tersebut akan dilakukan pada awal April mendatang.

Karena itu, Kasubdit Pendaftaran Haji Direktorat Pelayanan Haji Dalam Negeri Noer Aliya Fitra alias Nafit mengimbau agar calon jamaah haji tidak mudah tertipu dengan adanya oknum. Pasalnya, kata dia, biasanya menjelang masa pelunasan BPIH ini, ada oknum yang merayu calon jamaah agar bisa berangkat lebih dulu.

“Kalau ada orang-orang atau oknum yang menawarkan bisa berangkat lebih dulu dari jamaah lain, mohon jangan mudah percaya dan tertipu, ” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (19/3).

Jika calon jamaah mengalami hal seperti itu, Nafit mengimbau agar menanyakan langsung kepada kantor Kementerian Agama setempat. “Karena biasanya menjelang pelunasan begini suka ada informasi yang kurang benar atau hoaks terkait dengan pelunasan,” ucapnya.

Nafit menjelaskan lebih lanjut, proses pelunasan BPIH tersebut hanya bisa dilakukan oleh calon jamaah yang memang sudah berhak. Pertama, kata dia, calon jamaah harus terlebih dahulu melakukan pemeriksaan tim kesehatan di kabulaten/kota.

Setelah pemeriksaan, calon jamaah akan mendapatkan berita acara tentang isthithaahkesehatan haji. Setelah jamaah mendapatkan berita acara itu, jamaah itu baru bisa melaksankan pelunasan BPIH tahap pertama.

Menurut Nafit, tahap pertama diperuntukkan bagi jamaah haji reguler yang lunas tunda tahun sebelumnya dan jamaah haji urutan masuk kuota tahun ini yang belum berhaji, telah berusia 18 tahun, atau sudah menikah.

Nafit mengatakan, saat ini pihak bank telah siap menerima pelunasan dari calon jamaah haji yang masuk daftar berangkat tahun ini. “Kalau bank itu insya Allah sampai saat ini sudah siap melayani pelunasan seperti biasanya,” katanya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tambah dia, proses pelunasan yang akan dilayani bank masih sama. Jadi, kata dia, calon jamaah haji hanya perlu datang ke bank dan melakukan setoran lunas sambil membawa bukti setoran awalnya dulu. Setelah itu, calon jamaah bisa melakukan transfer ke rekening Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk pelunasan.

“Jadi, kalau dari sistem sudah ready, jadi sepeerti tahun lalu, tidak ada perubahan regulasi terkait dengan sistem,” ujarnya.

 

IHRAM

Batas Usia Prioritas Calhaj Dinaikkan Jadi 80 Tahun

Kementerian Agama (Kemenag) menaikkan batas usia prioritas calon jamaah haji (calhaj) yang diberangkatkan ke Tanah Suci dari 75 tahun menjadi 80 tahun. Kebijakan ini dilakukan karena masih ada 20 ribu orang dalam daftar tunggu haji yang berusia lebih dari 80 tahun. Jumlah tersebut setara dengan 10 persen dari total kuota haji nasional.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Nizar Ali menjelaskan, secara bertahap batas usia prioritas akan diturunkan bila calhaj berusia 80 tahun ke atas sudah dimasukkan dalam daftar estimasi keberangkatan haji. Misalnya, 2019 batas usia prioritas diturunkan lagi menjadi 75 tahun.

 

“Jadi, kalau pada tahap pelunasan awal masih ada sisa kuota, nanti dibuka tahap kedua dan usia lanjut akan diprioritaskan,” kata Nizar saat meresmikan revitalisasi Asrama Haji Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Rabu (7/3).

Terkait hal itu, lanjut dia, Kemenag kemungkinan akan menerapkan afirmasi atau penegasan dalam bentuk regulasi bahwa usia 80 tahun ke atas akan menjadi prioritas keberangkatan haji. Menurut dia, upaya ini dilakukan untuk menjawab keluhan bahwa daftar tunggu haji di Indonesia semakin panjang. Pada saat bersamaan, tak sedikit calhaj berusia lanjut yang juga menunggu diberangkatkan.

 

“Tahun 2018-2019 usia 80 tahun ke atas akan kami selesaikan sehingga nantinya, kalau semua beres, yang berangkat haji usia-usia muda,” kata Nizar.

Selain itu, Kemenag juga mulai memberlakukan kebijakan baru tentang penggantian calhaj yang wafat. Nizar menjelaskan, calhaj yang wafat dan telah masuk dalam daftar estimasi keberangkatan bisa digantikan oleh ahli warisnya. Proses penggantiannya pun bisa langsung dilakukan tanpa mendaftar ulang.

 

“Karena ini bagian dari porsi warisan. Kalau dikembalikan biaya hajinya kan eman-eman(sayang). Rasanya tidak adil kalau tak bisa digantikan,” ujar dia.

Penerapan kebijakan ini, menurut Nizar, sudah melalui pembahasan dengan Komisi VIII DPR. Jika tak ada halangan, kebijakan penggantian calhaj yang wafat bisa mulai diterapkan pada 2018.

 

Pembahasan soal penggantian calhaj yang wafat sebetulnya sudah dilakukan sejak lama. Kebijakan ini bermula dari kepedulian kepada keluarga calhaj yang wafat. Dikhawatirkan, kesedihan anggota keluarga semakin bertambah bila kuota haji yang sudah dibayar lunas terpaksa dikembalikan.

Saat meresmikan gedung baru hasil revitalisasi di Asrama Haji Kota Padang, Sumbar, Nizar juga mengatakan, pemerintah pusat mencanangkan revitalisasi untuk seluruh asrama haji di Indonesia, termasuk di Padang. Seluruh proyek dibiayai melalui surat berharga syariah negara (SBSN) yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan.

 

Hingga 2006, Asrama Haji Tabing di Padang hanya berfungsi sebagai asrama haji transit. Namun, saat ini Asrama Haji Tabing sudah berfungsi sebagai asrama haji pemberangkatan dan pemulangan bagi jamaah haji asal Sumbar, Bengkulu, dan daerah lainnya. Di luar musim haji, asrama haji ini difungsikan untuk keperluan masyarakat umum dan pemerintahan.

Kemenag, menurut Nizar, terus memperbaiki pelayanan untuk jamaah haji. Pelayanan yang ia maksud terdiri dari pelayanan dalam negeri dan pelayanan di luar negeri atau di Tanah Suci. Revitalisasi di kompleks Asrama Haji Tabing, Padang, tersebut menelan biaya hingga Rp 11 miliar.

 

Sementara di Padang Pariaman, tak jauh dari Bandara Internasional Minangkabau, pemerintah juga merampungkan pembangunan asrama haji senilai Rp 48 miliar. Seluruh fasilitas di asrama haji akan disamakan standarnya dengan hotel bintang tiga dan empat.

Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno menilai, revitalisasi asrama haji bisa ikut mendongkrak perputaran uang di wilayah yang ia pimpin. Setiap tahunnya, Asrama Haji Tabing melayani sekitar 4.000 jamaah haji dari Sumbar, Bengkulu, dan daerah lainnya. Menurut dia, secara tak langsung kunjungan jamaah haji di Kota Padang ikut menggerakkan ekonomi, minimal dari pemanfaatan fasilitas di asrama haji. “Tak hanya itu, adanya pelayanan yang baik membawa nama Padang menjadi baik.’’ ed: wachidah handasah

 

IHRAM

Menyikapi Larangan Selfie di Masjidil Haram dan Nabawi

Pemerintah Arab Saudi pada Ahad (12/11) melansir surat edaran berisi larangan pengambilan gambar di dua masjid suci, Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Larangan tersebut tertuang dalam nota diplomatik Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang disampaikan kepada negara-negara yang kerap mengirimkan jamaah umrah dan haji ke Tanah Suci.

Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi berharap, pemerintah negara-negara yang mengirimkan jamaah dapat memberi penyuluhan mengenai hal ini. Sebab, saat ditegur, jamaah selalu berdalih pengambilan gambar bertujuan untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan telah beribadah di Tanah Suci.

Pemerintah Republik Indonesia telah merespons surat edaran Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang berisi larangan pengambilan gambar di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi. Direktur Bina Umrah dan Haji Kementerian Agama RI Muhajirin Yanis, mengatakan, Kemenag telah menyampaikan keputusan Pemerintah Arab Saudi kepada asosiasi yang menaungi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), Penyelenggara Perjalanan Ibadah Haji (PPIH), ataupun Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Dengan sosialisasi itu diharapkan, jamaah sebelum berangkat sudah paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di Tanah Suci.

Selain asosiasi dan penyelenggara umrah dan haji, Kemenag juga telah menyampaikan perihal ini ke kantor wilayah provinsi. Mereka pun diharapkan bisa meneruskan kepada jamaah di daerah setempat. Sejumlah asosiasi yang menaungi PPIU, PPIH, dan PIHK menyatakan kesiapan menyosialisasikan larangan pengambilan gambar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Sebenarnya larangan swafoto atau selfie itu bukanlah hal yang baru. Selama ini pihak keamanan khususnya di Masjidil Haram memang melarang jamaah mengambil gambar Ka’bah. Namun, masih banyak saja jamaah yang melanggar aturan itu. Karena itulah pihak Arab Saudi merasa perlu mengeluarkan aturan dan menyampaikannya kepada setiap negara pengirim jamaah haji dan umrah agar ikut mengatur perilaku jamaahnya.

Tujuan kedatangan jamaah ke Makkah dan Madinah utamanya adalah untuk melakukan ibadah umrah atau haji. Perjalanan haji dan umrah tidak sama dengan berwisata ke tempat lain. Maka itu, penting bagi jamaah untuk menjaga kekhusyukan ibadahnya dibandingkan dengan berselfie ria di dalam masjid.

Pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah jamaah haji dan umrah tentu menginginkan jamaah bisa melakukan ibadah dengan khusyuk. Tidak terganggu dengan aktivitas lain selain ibadah. Kegiatan berswafoto selain berpotensi untuk mengurangi kekhusyukan ibadah diri sendiri juga bisa mengganggu jamaah lain yang sedang beribadah. Kekhawatiran lain, gambar yang diambil dari dua masjid itu bisa dipergunakan untuk tujuan tidak baik oleh orang-oang yang tidak bertanggung jawab.

Kita mengimbau jamaah umarah dan haji yang berangkat ke Tanah Suci agar meluruskan niat. Niat utamanya adalah beribadah, bukan pamer. Jangan sampai nilai ibadah menjadi turun gara-gara kebanyakan swafoto.

(Tajuk Republika koran).

Kisah Haru Dua Sejoli yang Wafat di Tanah Suci

Pesan singkat yang masuk ke telepon Siti Nur Hayati, menggetarkan hatinya. Seketika tubuhnya kaku, air matanya mengalir membaca pesan itu.

Pesan singkat itu berisi kabar duka yang ditulis kerabat orang tuanya di Tanah Suci Makkah. “Saya dapat WA, dikabari ibu meninggal,” Kata Nur mengisahkan kepergian orang tuanya pada Republika.co.id, Kamis (7/9) sore .

Ia pun meneruskan kabar duka itu pada saudara-saudaranya. Tak berapa lama, Nur bisa berkomunikasi dengan ayahnya yang juga berada di Makkah. Percakapan singkat itu diwarnai tangis, kepergian Hajah Sumiyati (72 tahun), atau akrab disapa mbah putri, membuat keluarga besar Nur berkabung hari itu.

Dari yang diceritakan ayahnya, Haji Soedarso, saat berkomunikasi ditelepon, mbah putri meninggal setelah melaksanakan ibadah lempar jumrah di Mina pada Sabtu (2/9) siang waktu Arab Saudi. Ia meninggal di tenda sesaat setelah berbincang dengan suaminya.

“Habis lempar jumrah itu Mbah Putri bilang pengen istirahat, lalu di temani Mbah Kakung ke tenda. Mbah Kakung pergi ke belakang sebentar, saat pulang ke tenda lagi dia bangunkan Mbah Putri, tapi Mbah Putri sudah meninggal,” terangnya.

Masih basah tangis duka keluarga besar Nur di kampung Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, kabar duka kembali datang. Sehari setelah kepergian ibunya, kali ini, telepon dari sahabat dekat ayahnya di Tanah Suci mengabarkan kondisi Haji Soedarso yang terus menurun. Jamaah haji yang berusia 82 tahun itu harus mendapat perawatan khusus. Ayah Nur diinfus di pemondokan jamaah haji.

Selang beberapa jam, Haji Soedarso dikabarkan meninggal dunia. “Mbah Kakung pulang dari masjid habis Subuh lalu lemas badannya, sampai pemondokan diinfus. Jam sembilan pagi saya dikabari lagi, Mbah Kakung sudah tidak ada,” terang Nur.

Kepergian dua sejoli itu pun membuat duka seluruh rombongan jamaah haji Indonesia, khususnya teman-teman serombongan mbah kakung dan mbah putri dari Kelompok Terbang ke-36 asal Kota Solo. Jamaah kehilangan sosok sepasang suami istri yang selalu mengajarkan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan dan memberikan motivasi satu sama lainnya untuk kuat dalam menjalankan ibadah haji.

Kepala Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Kota Solo, Rosyid Ali Safitri menuturkan sejak awal keberangkatan kloter 36, dua sejoli itu menyita perhatian banyak orang. Rosyid menyaksikan betapa ikhlas dan sabarnya Soedarso mendampingi istrinya yang menggunakan kursi roda saat berangkat ke Tanah Suci.

Kabar yang diterimanya dari Makkah, suami istri yang tergolong jamaah berisiko tinggi (risti) itu sedikit pun tak melewatkan waktu untuk beribadah. Keduanya khusuk menjalani wukuf di Arafah, Mabid di Musdhalifah dan bermalam di Mina. Sudaraso dan Sumyati juga tak menyerah dengan kondisi panas di Tanah Suci yang menantang semangat setiap jamaah haji.

Rosyid mengungkapkan meski petugas pendamping haji membantu segala kebutuhan dan kepeluan jamaah, terlebih bagi Sumyati, namun Sudarso tetap turut mengurus segala keperluan istrinya yang duduk di kursi roda selama pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari menyuapi saat makan, memandikan, hingga mengganti pakaian. Keduanya pun menjadi tauladan bagi jamaah lainnya.  “Ini jadi pelajaran bagi kita semua, kesetiaan mbah kakung terhadap istrinya,” kata Rosyid.

 

Secuil Perjuangan Haji Dua Sejoli

Sumyati dikenal warga sebagai sosok nenek yang enerjik. Meski sudah sepuh, ia masih mampu mengikuti senam yang diselenggarakan warga setiap akhir pekan. Ia juga menjadi penggerak warga kampung Gonilan untuk bahu membahu membangun taman kanak-kanak Aisiyah.

Sedangkan Soedarso adalah pensiunan pegawai negeri sipil. Ia juga salah satu tokoh yang disegani warga, Sudarso kerap memberikan wejangan-wejangan menyejukan saat berkumpul bersama warga sekitar.

Sudah lama, keduanya mendambakan bisa pergi melaksanakan rukun iman kelima, pergi haji ke Baitullah. Niat itu pun disampaikan pada putra-putrinya. Dengan secuil tabungannya, Soedarso meminta anak-anaknya agar membantu mewujudkan mimpi terbesarnya.

Pada 2011, keduanya pun mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji dari Kota Solo. Namun pada 2016, panggilan berangkat hanya ditujukan pada Soedarso. Ia pun menolak, dan memilih kesempatan berhaji tahun itu diberikan pada jamaah lainnya. Sebab Soedarso ingin ibadah hajinya dilakukan bersama-sama dengan istri tercintanya.

Do’a pasusi itu terkabul, ia kembali mendapat panggilan berangkat haji bersama istrinya di tahun berikutnya. Keduanya pun mempersiapkan segala sesuatunya. Penuh semangat Sumyati dan Soerdaso menjalani rentetan prosesi persiapan ibadah haji termasuk latihan manasik haji.

Namun sepekan jelang keberangkatan, Sumyati mendadak drop, tubuhnya lemah lunglai. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit. Meski sempat pesimistis, namun suaminya menguatkan. “Waktu di Rumah sakit Mbah Kakung terus yakinin Mbah Putri bisa berangkat haji. Dia bilang, ayo ta enteni, mangkat bareng mulih bareng, ndang mari. (Saya tunggu, berangkat bareng, pulang bareng, cepat sembuh),” tutur Putut Edi Surtosno, putra Soedarso dan Sumyati.

Kondisi Sumyati pun perlahan membaik, meski sejak saat itu ia harus duduk di kursi roda. Namun tak menyurutkan semangatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Keduanya pun akhirnya bisa berangkat ke Makkah pada 7 Agustus lalu.

Dari Tanah Suci, keduanya pun sering mengirim kabar pada anak-anaknya. Sampai pada percakapan sebelum keduanya wafat, Soedarso dan Sumyati meminta putra putrinya itu agar membersihkan rumah, menyiapkan makanan dan minuman, seraya memberi pesan agar menyambut baik setiap tamu yang datang kerumahnya saat keduanya telah selesai melaksanakan ibadah haji.

Tak lupa, anak-anaknya juga diminta untuk menjaga tali silaturahmi, rukun, dan saling mendoakan. “Setelah Mbah Putri wafat, Mbah Kakung kabarnya banyak diam. Jamaah banyak yang mengingatkan untuk bersabar dan iklas, tapi Mbah Kakung bilang, kula sampun ikhlas namung langkung sae menawi kula nderek mbah putri (Saya ini sudah iklas, tapi akan lebih bagus saya ikut istri saya),” katanya.

Almarhum Sumyati dan Sudarso di shalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Sarayya, Makkah. Selamat jalan Mbah.

REPUBLIKA

Antara Haji Mabrur dan Haji Mardud

HAJI mabrur, gelar yang dikejar oleh setiap orang yang berhaji.

Gelar ini merupakan puncak prestasi seorang jemaah haji. Begitu tinggi nilainya, hingga Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam salah satu hadisnya: “Haji mabrur, tiada balasan yang pantas baginya, kecuali surga.” (HR Tabrani dari Ibnu Abbas)

Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Kebalikannya adalah haji mardud (haji yang ditolak).

Tidak mudah mengetahui apakah ibadah haji seseorang itu diterima atau ditolak Allah SWT. Ini urusan yang sifatnya sangat pribadi antara seorang makhluk dengan Tuhannya. Sama dengan apakah salat dan puasa seseorang diterima di sisi Allah SWT.

Namun satu hal yang pasti, gelar mabrur itu dapat diupayakan untuk diraih. Itulah sebabnya, baik orang yang pergi haji maupun keluarga, saudara dan orang-orang sekampungnya kerap berdoa, “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang Engkau terima (mabrur), dan dosa kami adalah dosa yang diampuni, jadikanlah sa’i kami yang merupakan tanda syukur, serta perniagaan yang tidak merugi.”

Meski sulit diukur, sebetulnya mabrur atau tidaknya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa tanda. Al Hasan Al Bishriy sewaktu memberi tafsir tentang haji mabrur mengatakan, “Setelah pulang dari haji mulailah hatinya rindu kepada akhirat dan dunia tidak mengikat hatinya lagi.” (HAMKA, Tanya Jawab Soal Islam).

Secara fisik, mabrurnya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa perubahan dalam kehidupan keseharian. Contohnya: dia bertambah rajin salat fardhu maupun sunah. Gemar membaca Alquran dan buku-buku agama, senang bersedekah, berzakat dan menolong orang-orang yang berada dalam kesulitan. Ia pun lebih ramah, bersahabat dan hormat menghadapi orang lain, lebih sabar dalam menghadapi kesukaran dan problematika kehidupan. Ia juga lebih beradab dan sopan dalam berpakaian, berkata-kata dan bertingkah laku, serta lebih senang berbuat sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak.

 

MOZAIK

 

baca juga: Awas Menyandang Gelar Haji Termasuk Riya

Kursi Roda Jamaah Haji Diberi Pita Warna

Semua koper jamaah haji akan diberi tanda pita yang sama dengan stiker yang ditempel di buku paspor. Kursi roda jamaah haji juga akan diberi pita warna serupa, stiker, dan bendera Indonesia.

“Masalah kursi roda ini krusial karena pada tahun lalu banyak jamaah kehilangan kursi roda yang dibawa dari Tanah Air,” kata Kepala Daker Bandara Arsyad Hidayat saat meninjau kesiapan fasilitas di Bandara Amir Mohammed Bin Abdulaziz, Madinah, Kamis pagi (27/7).

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak kursi roda milik jamaah ditaruh di bagian lost and found (barang hilang) karena tidak ada identitas. Letak bagian barang hilang ini juga posisinya jauh dari lokasi jamaah di bandara sehingga mereka kesulitan mendapatkan kursi rodanya.

“Coba bayangkan bagaimana jamaah yang sudah tua, yang sangat membutuhkan kursi roda tapi tidak bisa mendapatkan kursi rodanya,” ujarnya.

 

IHRAM

Musim Haji Sudah Dekat, Subdit Advokasi Ingatkan Jamaah

Jakarta (Sinhat)–Musim haji sudah dekat, jamaah haji gelombang pertama akan masuk asrama tanggal 27 Juli dan berangkat menuju Arab Saudi esok harinya 28 Juli.

“Saya yakin, jamaah haji mungkin bingung apa saja yang akan di bawa dan bingung hal lainnya,” kata Abdurrazak Alfakhir, Kasubdit Advokasi Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah melalui pesan tertulisnya, Rabu (21/06/2017).

Beli ini itu, isi tas tentengan dan koper pun bisa dibuka berkali-kali. Seperti ada saja yang kurang. Alih-alih tas koper pun membengkak jadi penuh.

“Disinilah tugas motivasi psikologi dalam memberikan rasa ketenangan dengan menyampaikan informasi yang penting, termasuk barang bawaan,” ucap Razak.

Memang kita menyadari, merubah pemikiran barang bawaan agak sulit. Faktor budaya, kebiasaan atau informasi dari kerabat menjadikan jamaah semakin bingung. Perlu menyakinkan bahwa pertama, Arab Saudi (Jeddah, Makkah dan Madinah) bukanlah kota yang terbelakang. Itu kota modern, semua fasilitas dan kebutuhan yang diperlukan ada.

Kedua, menyampaikan informasi bahwa mereka (jamaah haji) saat berangkat dan saat berada di sana akan didampingi, dilayani, dibimbing, dilindungi oleh petugas haji. Pendek kata pembinaan, pelayanan dan perlindungan melekat selalu hadir saat dan kapan pun jamaah haji butuh.

Ketiga, petugas baik di pusat, daerah maupun di Arab Saudi selalu dan tak bosan-bosannya menyampaikan informasi tentang layanan haji. “Semisal bagaimana saat berada di pesawat, bagaimana saat berada di Masjidil Haram, Masjidil Nabawi,  di Raudah, saat tawaf, sai, tahallul, di pemondokan, di pusat perbelanjaan, di Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina),” terang Razak.

Keempat, tentang kesehatan. Jamaah haji dengarkan himbauan, informasi, arahan dari petugas kesehatan. “Kita punya Klinik Kesehatan Haji Indonesia. Dokter spesialis, obat-obatan, alat kesehatan dan pendukung lainnya ada. Jadi jangan kuatir. Apabila memang ada penyakit yang memang membutuhkan obat tertentu, jamaah jangan sungkan untuk konsultasi saat di Tanah Air kepada petugas,” terangnya.

Kelima, patut kita bersyukur bahwa persiapan haji tahun ini sudah hampir rampung. Banyak hal baru yang menjadi pendukung layanan. “Menu makanan semakin variatif, volume makan ditambah, pemondokan setara hotel bintang tiga, bus yang sudah diupgread, tenda di Arafah dibuat baru berbahan PVC tahan panas dengan rangka baja dan dilengkapi pendingin udara,” terang Razak.

Keenam, soal ibadah juga jamaah haji akan dibimbing melekat. Saat di Tanah Air dilakukan bimbingan massal di kabupaten kota sebanyak 2 kali, di kecamatan sebanyak 6-8 kali dan khusus bagi Karu dan Karom pun dilakukan bimbingan agar terbangun rasa memiliki dalam melayani terkait ibadah. “Selama di Arab Saudi pun bimbingan melekat dilakukan, ada visitasi dan bimbingan di pemondokan jamaah haji,” ungkapnya.

Jadi intinya adalah apabila jamaah membutuhkan apapun maka tanyalah kepada petugas. “Semua hal terkait layanan haji insyaallah sudah ditingkatkan, jadi kalau mau bertanya maka tanyalah kepada petugas, baik saat di Tanah Air maupun saat di Arab Saudi nanti,” pungkas Razak. (ar/ha)

 

KEMENAG RI

Jamaah Haji Dapat 12 Kali Sarapan Selama di Makkah

Ongkos Naik Haji pada musim haji 2017 sedikit lebih mahal dibandingkan musim haji tahu lalu. Namun kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin, selisih sebesar Rp 249 ribu bukan kenaikan, karena jamaah haji akan mendapatkan fasilitas yang lebih bagus juga.

“Setidaknya jamaah haji akan dapat sarapan selama 12 hari selama di Makkah, yang tidak ada pada musim haji tahun lalu,” kata Lukman di Denpasar, Sabtu (8/4).

Hal itu dikemukakan Lukman menjawab wartawan seusai meresmikan gedung Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Denpasar Timur. Dalam kunjungannya ke Denpasar, Lukman juga mersmikan Masjid Baiturrahman Kampung Wanasari Denpasar, serta menghadiri pertemuan tokoh lintas agama.

Tekait pelayanan yang diberikan selama pelaksanaan ibadah haji, Lukman mengatakan, pemerintah akan mencarikan tenda dengan mesin pendingin yang lebih baik. Sehingga saat wukuf di Arofah, para jamaah haji tidak merasa kepanasan.

“Tahun lalu, fasilitas ini juga tidak ada di Arofah dan akan kami usahakan. Jadi selisih biaya itu karena kami memberikan fasilitas yang lebih baik,” katanya.

Dikatakan Menag, persiapan pelaksanaan haji tahun ini sudah semakin membaik, dan pada Senin (10/4), jamaah haji yang telah dipanggil, bisal melakukan pelunasan ONH-nya.Dia menyebut, semakin cepat melakukan pelunasan, akan semakin baik, karena pemerintah bisa melakukan persiapan semakin cepat juga.

Menag mengingatkan, agar calon haji menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Antara lain sebaik Menag, dengan menjaga ketahanan tubuh atau stamina, mengingat sebagian besar prosesi perjalanan haji dengan berjalan kaki.

“Karenanya, perlu menjaga kesehatan dengan baik, perlu latihan berjalan-jalan, agar nantinya bisa menyesuaikan diri dalam pelaksanaan haji,” katanya.

Sementara dalam sambutannya, Menag menyebutkan, tujuan orang berhaji adalah menjadi haji yang mabrur. Kemabruran itu sebutnya, tidak hanya diukur dari kesalihan individual semata, melainkan juga dengan kesalihan sosial.

“Haji yang mabrur, selain ibadahnya kepada Allah membaik, tapi hubungan sosial kemasyarakatannya juga semakin bagus,” kata Lukman.

Karena itu Menag berharap, agar pembimbing haji memberikan arahan kepada para calon jamaah haji pada pengertian-pengertian yang luas tentang esensi haji. Tentu saja sambung Lukman, tatacara manasik atau tatacara mengerjakan ibadah haji juga tetap diajarkan, agar para jamaah haji bisa menunaikan hajinya sesuai dengan syariat yang telah ditentukan.

 

IHRAM