Waktu Puasa Tasu’a dan Asyuro Jatuh pada 18-19 Agustus

Pelaksanaan ibadah sunnah puasa Tasu’a dan Asyuro yaitu pada 9-10 Muharram 1443 H bertepatan pada tanggal 18-19 Agustus 2021.

Nabi Muhammad pada masa awal Islam mengeluarkan perintah kepada umatnya untuk berpuasa Asyura. Setelah datang perintah puasa Ramadhan, Nabi SAW mempersilahkan kepada umatnya yang ingin berpuasa pada Hari Asyura, dan siapa yang tidak mengerjakannya tidak apa-apa.

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Orang-orang melaksanakan puasa hari ke-10 bulan Muharam (Asyura) sebelum diwajibkan puasa Ramadhan. Hari itu adalah ketika Ka’bah ditutup dengan kain (kiswah). Ketika Allah SWT telah mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang mau puasa Hari Asyura, laksanakanlah dan siapa yang tidak mau tinggalkanlah!'” (HR Bukhari)

Untuk niat puasa Tasu’a, yaitu “Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû’â lillâhi ta‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu’a pada besok hari karena Allah ta’ala.

Untuk niat puasa Asyuro, yakni “Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ. Yang artinya ialah “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Syekh Salim bin Ied al-Hilali, dalam ‘Ensiklopedi Larangan Menurut al-Quran dan as-Sunnah,’ yang diterjemahkan Abu ihasan al-Atsari, menjelaskan, Imam at-Turmudzi berpendapat, dalam pandangan ulama, bahwa untuk puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar. Hal ini juga menjadi pendapat Imam Asy-Syafii, Ahmad dan Ishaq.

Sedangkan untuk puasa wajib, harus sudah berniat sebelum terbit fajar. Jika niatnya setelah fajar terbit, maka sama saja tidak berpuasa. Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat sebelum terbit fajar pada bulan Ramadhan atau qadha puasa Ramadhan atau puasa nadzar.

IHRAM

Berharap Bahagia Saat ‘Berjumpa’ dengan Allah

SETIAP orang beriman, pasti memiliki keinginan, dan cita mulia, serta harapan yang diidam-idamkan. Ketika Allah ‘azza wa jalla memanggil ke haribaanNya, ia dalam keadaan suka cita nan bahagia.

Allah ridha menerimanya, dan ia pun ikhlas berserah diri menghadapNya. Itulah buah kepasrahan dan keyakinan akan indahnya sebuah “perjumpaan” dengan segala bekal yang telah dipersiapkan tentunya.

Pantaslah Rasulullah ﷺ mengajarkan do’anya untuk kita:

إِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

“Sesungguhnya adalah hak Allah untuk mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah (dengan sebab musibah itu).” (HR: Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923).

Sejenak, diri ini teringat, saat orang dekat dan sahabat menasihati dengan tulusnya. “Kita tak pernah tahu dengan cara apa Allah ‘azza wa jalla memanggil kita pulang, tapi Allah tetap akan menanyakan sekuat apa dan seperti apa ikhtiar kita; berusaha untuk tetap sehat, dan berupaya untuk tetap bertahan.”

Dalam kondisi seperti ini, kita hanya bisa berdo’a: “Ya Allah berikan hamba jiwa raga yang nyaman dan tenang untuk bisa diajak beribadah hingga hamba dipanggil olehMu. Tak mengapa terasa sakit badan ini, namun berikan kekuatan pertolongan dari sisiMu yaa Allah, kalau waktu ibadah menyeru hamba, lenturkanlah badan ini untuk bisa berdiri tegap dengan nikmat menyambut ajakanMu, ajakan untuk ruku’ dan sujud padaMu.”

Karenanya, betapa agung dan utamanya apabila diri ini memiliki sikap husnuz zhan billaah, yakni selalu berbaik sangka pada Allah ‘azza wa jalla. Tidaklah segala sesuatu yang terjadi, melainkan Dialah Dzat yang Maha mengetahui.

Semakin kita berbaik sangka pada Tuhanmu, maka Tuhanmu akan semakin sayang padamu. Kasih sayangNya tak terbatas, sedangkan kasih sayang makhluk-Nya sangat terbatas.

“Peliharalah bahagia walau sedikit, niscaya akan menyelamatkanmu. Buanglah luka jiwa walau sedikit, karena ia akan mencederai jiwa seumur hidupmu.  Tak ada jalan lain yang lebih menentramkan selain wajib bersabar dan memupuk rasa bersyukur,” demikian kata Imam Ibnu Qayyim dalam Muqaddimah ‘Iddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin (2010).

Apabila dihubungkan dengan taqdir, sabar dan syukur tetap menjadi kuncinya. Allah ‘azza wa jalla menjadikan kesabaran sebagai kuda handal yang tak akan terjungkal, sebagai pedang tajam yang tak akan tumpul, sebagai pasukan yang tak akan kalah, dan sebagai benteng kokoh yang tak akan retak dan roboh.

Demikian pula dengan syukur, ia selalu menghiasi seseorang dari segala bentuk kekurangannya. Taqdir hubungannya dengan Dzat yang Maha pencipta, sabar dan syukur adalah bentengnya ikhtiar manusia.

Menarik apa yang dituturkan Imam Al-Mawardi, sehubungan dengan hal ini:

إنك إن صبرت جرى عليك القلم و انت مأجور، و إن جزعت جرى عليك القلم و انت مأزور

“Jika engkau bersabar, taqdir tetap berlaku bagimu dan engkau akan mendapatkan pahala atas kesabaranmu. Sementara jika engkau berkeluh kesah, taqdir juga akan tetap berlaku bagimu dan engkau akan mendapatkan dosa atas keluh kesahmu.” (Lihat: Adabud Dunya wa ad-Din, hlm. 288).

Kembali ke persoalan akhir kehidupan, di mana kecintaan Allah ‘azza wa jalla saat dijumpai oleh seseorang di masa wafatnya, sangat tergantung pada seberapa jauh orang tersebut menunjukkan rasa cinta dan bahagia ketika menghadap Rabb-nya. Rasulullaah  ﷺ menuturkan dalam sabdanya:

من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه. قالت عائشة أو بعض أزواجه إنا لنكره الموت قال ليس ذاك ولكن المؤمن إذا حضره الموت بشر برضوان الله وكرامته فليس شيء أحب إليه مما أمامه فأحب لقاء الله وأحب الله لقاءه وإن الكافر إذا حضر بشر بعذاب الله وعقوبته فليس شيء أكره إليه مما أمامه كره لقاء الله وكره الله لقاءه

“Siapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya siapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya.” Dengan cepat ‘Aisyah [atau sebagian isteri beliau] berkomentar: “kami juga cemas terhadap kematian!” Nabi pun langsung bertutur: “Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar, seorang mukmin jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan karamahNya, sehingga tak ada sesuatu apa pun yang lebih ia cintai dari pada apa yang ada di hadapannya, sehingga ia begitu mencintai berjumpa dengan Allah, dan Allah pun mencintai berjumpa dengannya. Sebaliknya orang kafir jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar buruk dengan siksa Allah dan hukumanNya, sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan dari pada apa yang ada di hadapannya, ia membenci berjumpa dengan Allah, sehingga Allah pun membenci berjumpa dengannya.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallaahu ‘anh dan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Fathul Bari, no. 6142)

Hanya Allah-lah yang Maha segalanya, kita berharap Dia menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang bahagia ketika menyambut “panggilanNya”. Wahai ikhwah, masih ingatkah orang-orang bijak mengingatkan … “Kehidupan ini laksana cerita pendek, kita berharap agar kita tidak berhenti pada episode yang menyedihkan.”. Amin.*/Teten Romly Qomaruddien

HIDAYATULLAH

Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba Allah

Merdeka adalah lawan dari perbudakan, tentu kita semua ingin merdeka dan merasa bebas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidup. Kita tidak ingin juga terkekang, serta terbatas dan tidak bebas dalam menjalani kehidupan atau ada sesuatu yang memperbudak kita

Bagi seorang muslim kemerdekaan & kebahagiaan sejati adalah menjadi hamba Allah sepenuhnya dan merasa bahagia dengan menunaikan hak Allah dalam tauhid. Merasa bahagia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Merasa bahagia berakhlak mulia, membantu sesama serta memudahkan urusan orang lain.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan mengenai hal ini, beliau berkata,

العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابدا لغيره

“Menjadi hamba Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, Barang siapa yang tidak menghamba kepada Allah, dia akan menjadi hamba kepada selain-Nya”. [Al-Majmu’ Al-Fatawa 8/306]

Menjadi budak dunia & budak hawa nafsu itu belumlah merdeka.

Dalam hadis disebutkan bahwa manusia bisa menjadi budak dunia & budak harta.  Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Bagaimana dunia dan harta memperbudak manusia? Yaitu dengan mendorong manusia menjadi tamak dan tidak pernah puas. Misalnya, dunia dan harta yang telah memperbudak dengan seolah-olah mengatakan

“Carilah harta yang banyak”

“Cari lagi harta tersebut, kalau perlu lembur”

“Cari lagi harta tersebut, kalau perlu halalkan segala cara”

Kita pun melakukannya semua perintah harta dan dunia tersebut, seolah-olah harta dan dunia memperbudak kita dan kita ikuti semua perintahnya.

Ketamakan atas dunia karena kita juga diperbudak oleh hawa nafsu kita, hawa nafsu inilah yang banyak menjadikan manusia tersesat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا

“Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan rida” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 1802).

Hawa nafsu juga banyak menyesatkan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-An’am: 119).

Hawa nafsu yang tidak terkendali akan membawa kita ke arah keburukan yang terus menerus.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yusuf,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (QS. Yusuf: 53).

Apabila masih diperbudak harta dan dunia, kita belum merdeka sepenuhnya

Masih banyak manusia yang terjebak dalam hal ini. Alih-alih menghamba kepada Allah, malah menghamba kepada hawa nafsu dan setan.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata dalam Nuniyyah-nya,

هَربوا من الرق الذي خُلقوا له  فبُلُوا برِقِّ النفس والشيطان

“Mereka lari dari penghambaan (mejadi budak Allah) di mana mereka diciptakan untuk itu, lalu mereka dihukum dengan penghambaan kepada hawa nafsu dan setan” (At-Ta’liqaat Al-Fatawa Al-Hamawiyah Syaikh Al-Fauzan hal. 59).

Dengan menjadi Hamba Allah sejati yang menunaikan hak Allah itulah kemerdekaan yang mengantarkan kepada kebahagiaan

Karena hakikat kehidupan adalah beribadah kepada Allah semata dan melaksanakan perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Menjadi hamba Allah, beribadah mentauhidkan Allah serta menjalankan perintah-Nya adalah sumber kebahagiaan. Hal ini dibahas dalam kitab tauhid agar kita benar-benar menghambakan Allah. Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah menjelaskan tanda hamba yang bertauhid, beliau berkata,

إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

“(1) jika diberi kenikmatan, dia bersyukur, (2) jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar, (3) dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat), tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).

Semoga kita bisa menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepada-Nya dan tidak menjadi budak dunia dan hawa nafsu. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata dalam Nuniyyah-nya,

وَعِبَادَةُ الرَّحْمٰنِ غَايَةُ حُبِّــهِ           مَعَ ذُلِّ عَابِـدِهِ هُمَـا قُـطْبَـانِ

وَعَلَيْهِمَا فَلَكُ الْعِبَادَةِ دَائِرٌ          مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الْقُـطْبَـانِ وَمَدَارُهُ بِالْأَمْرِ أَمْرِ رَسُوْلِـهِ           لَا بِالْهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ

“Ibadah kepada Allah adalah puncak cinta  kepada-Nya

Disertai ketundukan hati orang yang beribadah kepada-Nya, keduanya adalah poros ibadah

Di atas kedua poros tersebutlah garis ibadah berputar

Dia tidak akan berputar sampai dua poros tersebut tegak

Dengan melaksanakan agama yang merupakan perintah  Rasul-Nya

Bukan mengikuti hawa nafsu, dorongan hati, dan mengikuti setan” (Syarh Qasidah Ibnil Qayyim 1/253).

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/68193-kemerdekaan-yang-hakiki-menjadi-hamba-allah.html

Permintaan Doa kepada Allah SWT Terkabul? Ini Syaratnya

Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan kunci terkabulnya permintaan doa

Doa merupakan suatu permohonan atau permintaan yang bersifat baik terhadap Allah SWT, seperti meminta kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang halal. 

Umat Islam selalu dianjurkan untuk selalu berdoa kepada Allah SWT ketika menginginkan sesuatu. Namun, apakah permintaannya tersebut pasti akan terkabul? Dalam kitab al-Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan: 

ما توقف مطلب أنت طالبه بربك ولا تيسر مطلب أنت طا لبه بنفسك “Apa yang kau minta tak akan terhalang selama kau memintanya kepada Tuhanmu. Namun, apa yang kau minta tak akan datang selama kau mengandalkan dirimu sendiri.”

Dalam syarahnya di kitab al-Hikam terbitan TuRos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi kemudian menjelaskan, permintaan yang dimaksud pada hikmah tersebut sifatnya umum, meliputi semua permintaan, baik itu yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.

Menurut dia, apa yang diminta dan dinginkan seseorang tidak akan terhalang selama dalam mencarinya orang tersebut tetap memperhatikan Tuhan-nya, menghadirkan-Nya dalam hatinya, dan bersandar kepada-Nya agar memudahkan permintaan dan urusannya.

“Namun, permintaan itu sulit kau raih bila kau lalai dari-Nya (Allah) dan bersandar kepada orang-orang di sekitarmu atau pada kekuatanmu sendiri,” kata Syekh Abdullah.

Barang siapa yang menyerahkan segala kebutuhannya kepada Allah, berlindung dan bertawakkal kepada-Nya, Allah akan mencukupi kebutuhannya, mendekatkan yang jauh darinya, dan memudahkan segala yang sulit baginya.

Barang siapa yang mengandalkan ilmu dan akalnya serta bersandar pada kekuatan dan kemampuannya, menurut Sykeh Abdullah, maka Allah akan mempersulitnya dan membuatnya gagal. Apa yang diinginkan dan dibutuhkannya itu tidak akan mudah didapatkan dan sulit diwujudkan.   

KHAZANAH REPUBLIKA

Mati Dengan Kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallah”

AKU termangu di tengah terik yang menyengat, seterik persaudaraan kita yang sedang dicabik-cabik. Hatiku menggigil mengingat Al-Qur’an surat Ali Imran yang setiap Jum’at dibacakan ayatnya. Sungguh, tidaklah perintah itu akan tertunaikan dengan sempurna, kecuali dengan mengingat ayat yang mengikutinya.

Mari sejenak kita sirami hati kita yang mendidih dengan ayat Allah ‘Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali mati melainkan kamu dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran, 3: 102).

Apa pesan Allah Ta’ala di sini? Di ujungnya adalah pesan yang sangat kuat: “janganlah sekali-kali mati melainkan kamu dalam keadaan beragama Islam”; menjadi muslim yang sungguh-sungguh muslim, menjadi orang beriman yang benar-benar mengimani Allah dan rasul-Nya beserta segala yang diperintahkan-Nya untuk kita imani.

Bukalah hati nuranimu, tengoklah bahwa yang harus engkau perjuangkan bukan hanya bagaimana caranya agar dirimu secara pribadi yang mati dalam keadaan Islam, tetapi semua yang hari ini masih memiliki iman walau hanya setipis hembusan angin di pagi hari termasuk dalam cakupan إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (kecuali kamu sekalian dalam keadaan sebagai muslim).

Masih adakah airmata yang tersisa? Gunakanlah ia untuk menangisi ummat ini, yang di negeri kita semakin hari semakin tergerus prosentasenya. Ini menandakan semakin banyaknya orang-orang yang berkemungkinan mati dalam keadaan keluar dari Islam. Padahal bukankah kita semua dituntut untuk menjaga diri kita beserta keluarga kita dari siksa api Neraka?

Masih adakah airmata yang menggenang di pelupuk mata? Gunakanlah ia untuk menangisi pertikaian demi pertikaian. Padahal tidaklah mungkin kita menjaga ummat ini agar bergerak menjadi kekuatan yang jiwanya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهَ dan ujungnya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهَ, kecuali dengan mengikuti perintah Allah Ta’ala yang mengikuti perintah-Nya agar tidak mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang-teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran, 3: 103).

Kejadian demi kejadian yang memilukan dan mencabik-cabik hati nurani ini, bukanlah kebetulan. Tidak. Sekali-kali tidak. Pasti ada yang memiliki kepentingan sangat besar di balik berbagai peristiwa yang secara terus menerus membenturkan antara kita dengan kita sendiri. Mengadu domba dan mempreteli –untuk tidak mengatakan membinasakan—kumpulan-kumpulan kaum muslimin ini satu per satu. Dan aku tidak mengingat kelompok, gerakan atau perancang besar di baliknya, kecuali dua saja, yakni Belanda saat menjajah kita serta PKI.

Terkhusus terhadap Banser, ada luka sejarah yang sangat dalam pada orang-orang PKI karena pada masa dulu, Banser inilah yang terdepan dalam melawan dan memusnahkan PKI. Maka kalau hari ini ada saudara-saudara kita dari Banser yang terjerumus amat sangat jauh dalam kerusakan, aku sungguh merasa khawatir jangan-jangan ini terjadi karena satu di antara dua hal.

Pertama, mereka taat kepada pimpinan yang rusak. Indikasinya adalah, Banser pernah mengeluarkan fatwa sendiri. Ini adab yang sangat buruk kepada ulama karena Banser tidak memiliki kewenangan untuk itu. Kedua, dan ini yang paling mendasar, di antara mereka ada yang telah keluar sangat jauh dari para ulama yang sungguh-sungguh ulama di tubuh NU. Maka jalan yang harus ditempuh adalah kembali duduk bersimpuh, mengaji dengan tawajjuh, mengkaji dengan menjaga adab dan tidak membiarkan dirinya dalam kemaksiatan semisal joged bersama.

Aku merasa sangat merinding kalau-kalau perasaan ini benar, bahwa ada skenario besar yang sedang berjalan sehingga kekuatan ummat ini akan rontok satu per satu. Dan tidak ada jalan untuk rontoknya kekuatan ini kecuali melalui perpecahan, salah satunya ketika belah bambu dan adu domba itu kita ikuti alurnya.

Kita memohon kekuatan dan perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla semoga Allah Ta’ala selamatkan bangsa ini, selamatkan ummat ini. Dan kita dimudahkan Mati Dengan Kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallah” *

Diambil dari FB: Mohammad Fauzil Adhim

HIDAYATULLAH

Kapan Puasa Sunnah Asyura di Bulan Muharram?

Puasa sunnah Asyura ada di bulan Muharram.

Umat Islam di seluruh dunia telah usai merayakan tahun baru Islam. Bulan pertama ini dikenal dengan bulan yang istimewa, karena di dalamnya ada hari yang tak kalah penting, hari Asyura.

Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan Hijriah. Bulan ini juga merupakan salah satu dari empat bulan suci yang difirmankan oleh Allah SWT.

Dalam surah At-Taubah ayat 36 disebutkan, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya”.

Muharram disebut demikian karena merupakan bulan yang suci (muharram) dan untuk menegaskan kesuciannya. Allah SWT berfirman, “…maka janganlah kamu menganiaya dirimu di dalamnya…”. 

Hal ini memberi arti, “janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri di bulan-bulan suci ini, karena dosa di bulan-bulan tersebut lebih buruk dari pada bulan-bulan lainnya”.

Adapun bulan-bulan suci dalam tahun Hijriyah ada empat, yaitu Dzul-Qi`dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab. Dosa di bulan-bulan ini lebih serius dan perbuatan baik membawa pahala yang lebih besar.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menahan diri dari dosa dan meningkatkan perbuatan baik selama bulan-bulan ini.

Sementara, hari ‘Asyura terjadi setiap tanggal 10 Muharram, yang dirayakan umat Islam dengan berpuasa. Tradisi puasa ‘Asyura sangat kuno, dimana Nabi SAW dan para sahabat biasa berpuasa pada 10 Muharram, ketika mereka berada di Makkah (sebelum hijrah).

Hari itu adalah hari di mana orang-orang Makkah biasa mengganti penutup (kiswah) Ka’bah. Orang Quraisy juga biasa berpuasa pada hari ini.

Setelah hijrah, ketika Nabi SAW datang ke Madinah, ia menemukan jika orang-orang Yahudi di Madinah juga merayakan hari ini dengan puasa. Nabi SAW lantas bertanya kepada mereka alasan puasa mereka pada hari ini.

Mereka berkata, “Ini adalah hari yang diberkati. Pada hari ini, Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka (di Mesir) dan Nabi Musa berpuasa pada hari itu sambil bersyukur kepada Allah”.

Rasulullah SAW lantas berkata, “Kami memiliki klaim lebih untuk Musa daripada Anda”. Dia pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam lainnya untuk ikut berpuasa.

Puasa ‘Asyura pada awalnya adalah wajib atau fardhu. Pada tahun kedua hijrah (624 M), ketika perintah Allah SWT datang bahwa umat Islam harus berpuasa sepanjang bulan Ramadhan, Nabi kemudian mengutus seseorang untuk mengumumkan bahwa puasa `Asyura menjadi sukarela atau sunnah.

Hal ini menunjukkan barang siapa yang ingin berpuasa, boleh berpuasa dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka tidak ada cela atas dirinya. Namun bagi yang memilih untuk berpuasa, sebaiknya berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, untuk membedakan diri dari komunitas Yahudi.

Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram merupakan sunnah Nabi. Nabi SAW berkata, “Puasa hari ‘Asyura, saya berharap Allah menerimanya sebagai penghapus untuk tahun sebelumnya”. (HR Muslim)  

KHAZANAH REPUBLIKA

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 7)

Baca pembahasan sebelumnya Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 6)

Kiat Kesebelas : Bertawasul dengan Nama dan Sifat Allah serta Tauhid kepada-Nya

Tawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya merupakan wasilah yang penting agar doa bisa dikabulkan. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan hal ini melalui firman-Nya,

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“ Hanya milik Allah al-asma’ul husna. Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma’ul husna tersebut. “ (Al-A’raf :180)

Oleh karena itu,, mayoritas doa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para nabi sebelumnya memuat di dalamnya tawasul kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Doa yang dipanjatkan mengandung nama dan sifat Allah yang sesuai dengan permintaannya. Seperti doa Nabi Syu’aib ‘alaihis salam,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“ Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. “ (Al-A’raf : 89)

Begitu juga dalam doa Nabi Isa ‘alaihis salam,

وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama. ” (Al-Maidah : 114)

Nabi pernah mengajarkan doa kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“ Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) ‘.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga mengajarkan kepada umatnya untuk bertawasul kepada Allah dengan kandungan al-asma’ul husna. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ

“ Tidak ada seorang pun yang sedang dilanda kegundahan dan kesedihan, lalu mengucapkan doa ini,

اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

”Ya Allah , sesungguhnya diri ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, hukum-Mu telah berjalan, dan keputusan-Mu merupakan keputusan yang adil, Aku memohon dengan seluruh nama-nama-Mu, yang Engkau namai diri-Mu, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau telah Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau nama yang masih engkau simpan disisi-Mu, jadikan Al-Qur’an sebagi penentram jiwaku, cahaya hatiku, pelenyap duka dan lara ku.”

إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا

“Tidaklah seseorang mengucapkan doa tersebut, melainkan Allāh akan hilangkan kesedihannya, dan akan jadikan kebahagiaan untuknya.”

Para sahabat berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ

“Wahai Rasulullah, seharusnya kita mempelajari dan menghafal doa tersebut”

Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَجَلْ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

“Betul sekali, hendaknya seorang yang mendengar doa ini untuk mempelajarinya. “ (H.R Imam Ahmad, sahih)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan yang dimaksud bertawasul dengan tauhid adalah disyariatkan dan dianjurkan untuk bertawasul dengan wasilah tauhid yang agung ini, yaitu dengan tauhid dan keimanan kepada Allah. Ini merupakan salah satu bentuk tawasul yang paling agung dan mulia. Di antara yang mempertegas tentang tawasul ini adalah apa yang Allah sebutkan tentang doanya orang beriman,

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu!’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.“ (Ali Imran : 193)

Oleh karena itu, ketika Nabi mendengar ada orang yang berdoa,

اللهمّ إنِّي أسألك بأنِّي أشهد أنَّك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, dengan saya bersaksi bahwa Engkau adalah Yang Berhak diibadahi, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa lagi Maha Sempurna Sifat-Nya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada satupun yang setara dengan-Nya”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

لقد سألت الله بالاسم الأعظم الذي إذا سئل به أعطى و إذا دُعي به أجاب

“ Sungguh Anda telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang teragung yang apabila Dia dimintai dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan memberinya, serta apabila Dia dimohon dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan mengabulkannya.”  (H.R Abu Dawud, sahih)

Kiat Keduabelas : Berdoa Diiringi dengan Sedekah

Sedekah adalah perkara yang agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam besabda,

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ

“ Sedekah secara sembunyi meredamkan amarah Allah.” (H.R Ath-Thabrani, sahih)

Tidak diragukan lagi bahwa hilangnya murka Allah pada hamba merupakan sebab terkabulnya doa dan dikabulkan permintaan.

Demikian juga dengan amal saleh yang lainnya yang disyariatkan bagi orang mukmin untuk bertawasul kepaada Allah dengan amal saleh tersebut.

Kiat Ketigabelas : Memilih Doa dengan Doa Mustajab yang Diajarkan Nabi

Setiap muslim apabila memilih doa yang disebutkan oleh Nabi, kemudian berdoa dengan doa tersebut disertai kejujuran dan merasa butuh kepada Allah, maka insyaallah doanya tidak akan sia-sia.

Contohnya adalah doanya Nabi Yunus. Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah

 لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya.’

فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi, sahih)

Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengar ada seseorang yang berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum . “

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ia telah berdoa pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdoa dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Dawud , sahih).

Penutup

Demikianlah sejumlah kaidah atau ketentuan dan adab penting dalam berdoa yang dipaparkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh untuk berupaya di dalam doanya, karena sesungguhnya tatkala terkumpul di dalamnya banyak sebab terkabulnya doa maka hal ini kan membuahkan hasil sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam ungkapan beliau,

فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا

“ Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. “

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi pokok pegangan urusan kami, perbaikilah urusan dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami, perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan kami mempunyai nilai tambah bagi kami dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian kami sebagai kebebasan dari segala keburukan.

Allahu Ta’ala A’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiiyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa shahbihi ajma’iin.

– Selesai –

Sumber : Al-Du’ā’ alladzī Lā Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192

Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S

Sumber: https://muslim.or.id/68045-kiat-kiat-agar-doa-dikabulkan-bag-7.html

Kisah Naik Haji dengan Jalan Kaki

Syekh Ali bin Muwaffaq rah.a menceritakan pengalaman perjalanan menuju Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji. Pengalaman Syekh Ali bin Muwaffaq ini ditulis oleh Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a dalam kitabnya Fadilah Haji kisah ke-38.

Pada suatu tahun Syekh Ali pergi haji dengan mengendarai unta. Di tengah jalan ia bertemu dengan orang yang berjalan kaki untuk menunaikan Haji. 

Syekh Ali senang melihat mereka berjalan kaki, dan akhirnya Ia pun turun dari untanya dan berjalan kaki bersama mereka dan membiarkan orang lain mengendarai untanya. Akhirnya mereka berjalan di jalan yang tidak biasa dilewati.

“Di sebuah tempat, ia berhenti untuk beristirahat,” tulisnya.

Di dalam tidurnya Syekh Ali bermimpi melihat gadis-gadis turun dari langit (bidadari surga) mendekati para pejalan kaki dengan membawa air dalam wadah emas dan perak. Mereka membasuh semua kaki orang yang berjalan kaki kecuali kakinya Syekh Ali yang tidak dicuci.

“Salah seorang dari mereka berkata memanggil kepada Syekh Ali.

“Kemarilah. Ia adalah seorang dari mereka.”

Yang lain menjawab,” Tidak, ia bukan termasuk salah seorang dari mereka, karena ia mempunyai binatang tunggangan yang bisa dikendarai.

“Gadis itu mendesak,”Tidak, walaupun ia mempunyai kendaraan ia memilih berjalan kaki dengan mereka.”

Kemudian mereka datang dan membasuh kaki Syekh Ali sehingga hilanglah seluruh rasa lemah dan letihnya.”

IHRAM

Hukum Bersumpah dengan Al-Quran

Di antara perkara yang ditanyakan oleh sebagian orang adalah mengenai hukum bersumpah dengan Al-Quran. Pasalnya, terdapat sebagian orang yang bersumpah bukan nama Allah, melainkan dengan Al-Quran. Misalnya, aku bersumpah, demi Al-Quran. Terkadang sebagain sambil memegang Al-Quran dan sebagian tidak. Sebenarnya, bagaimana hukum bersumpah dengan Al-Quran ini, apakah boleh?

Bersumpah dengan Al-Quran, baik sambil memegang Al-Quran atau tidak, hukumnya boleh dan sumpahnya sah. Karena itu, seseorang yang bersumpah dengan Al-Quran, maka dia wajib melaksanakan sumpahnya. Jika dia melanggar, maka dia wajib membayar kafarah sumpah.

Menurut para ulama, kebolehan bersumpah dengan Al-Quran ini didasarkan karena Al-Quran adalah kalam Allah, dan kalam Allah termasuk bagian dari sifat-sifat-Nya. Sementara bersumpah dengan salah satu sifat-Nya, termasuk dengan sifat kalam-Nya, adalah boleh dan sumpahnya sah, sebagaimana bersumpah dengan nama Allah itu sendiri.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

إن الحلف بالقرآن يمين منعقدة تجب الكفارة بالحنث فيها. وبهذا قال ابن مسعود والحسن وقتادة ومالك الشافعي وأبو عبيد وعامة أهل العلم مستدلين بأن القرآن كلام الله وصفة من صفات ذاته تنعقد اليمين به كما لو قال: وجلال الله وعظمته

Sesungguhnya bersumpah dengan Al-Quran adalah sumpah yang sah, yang wajib membayar kafar jika dilanggar. Ini telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Malik, Al-Syafii, Abu ‘Ubaid, dan kebanyakan para ulama. Mereka berdalil bahwa Al-Quran adalah kalam Allah dan termasuk bagian dari sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya. Karena itu, bersumpah dengan Al-Quran adalah terjadi atau sah, sebagaimana jika bersumpah dengan kalimat ‘Demi kemuliaan Allah dan keagungan-Nya.

Dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah juga disebutkan sebagai berikut;

فإن الحلف بالقرآن العظيم قد تعارفه الناس في أيمانهم مثل الحلف بقولهم: والله العظيم، فيكون يمينًا؛ لأن القرآن كلام الله تعالى، وممن ذهب إلى ذلك العلامة محمد بن مقاتل، وقال: وبه أخذ الجمهور

Bersumpah dengan Al-Quran termasuk sumpah yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat, sebagaimana sumpah ‘Demi Allah Yang Maha Agung.’ Karena itu, bersumpah dengan Al-Quran adalah sah karena Al-Quran adalah kalam Allah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Muhammad bin Muqatil. Beliau juga berkata; Ini pendapat yang diambil oleh kebanyakan ulama.

Dengan demikian, bersumpah dengan Al-Quran hukumnya boleh. Sumpahnya wajib dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, maka wajib membayar kafarah sumpah, seperti halnya bersumpah dengan nama Allah; Demi Allah.

BINCANG SYARIAH

Kerugian Orang-Orang yang Suka Menunda Amal

Orang yang suka menunda amal adalah orang-orang yang bodoh

Hidup di zaman teknologi, terkadang membuat orang suka menunda-nunda amal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Padahal, menurut para ulama, menunda amal ini termasuk sikap bodoh. Seperti yang disampaikan Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitabnya yang berjudul Al- Hikam, dia berkata: 

إحالتك الاعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس “Menunda amal karena menunggu waktu yang luang termasuk tanda kebodohan.”

Dalam syarahnya di kitab Al-Hikam terbitan TuRos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi menjelaskan bahwa jika seorang murid menunda-nunda amal yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya karena merasa tidak memiliki waktu luang di sela-sela kesibukan dunianya, tindakan itu merupakan tanda kebodohan jiwanya.

Menurut dia, Ibnu Athaillah menyebutnya bodoh karena dia telah menunda amalnya dengan menunggu waktu luang. Padahal, bisa jadi, alih-alih mendapatkan waktu luang untuk beramal ibadah, justru ajal yang menjemputnya tiba-tiba.

“Bisa jadi juga, justru kesibukannya semakin bertambah karena kesibukan dunia pasti akan terus bertumpuk sebab satu sama lain saling berkaitan,” jelas Syekh Abdullah

Bahkan, lanjutnya, andai kata orang itu mendapatkan waktu luang, tentu tekad dan niatnya pun sudah melemah. Oleh karena itu, menurut Syekh Abdullah, sepatutnya orang iru segera bangkit melakukan amal-amal yang mendekatkan dirinya kepada Tuhannya sebelum terlambat.

Syekh Abdullah kemudian mengutip perkataan pepatah, “Waktu ibarat pedang. Jika kau tidak bisa menggunakannya, niscaya dia akan menebasmu.” 

KHAZANAH REPUBLIKA