Alquran Sebagai Kabar Gembira dan Peringatan Bagi Manusia

Untuk apa Alquran diturunkan ke muka bumi? Dan apa fungsinya bagi manusia?

Sejatinya Alquran adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Sebagai peta atau arah jalan yang benar.

Secara spesifik, Alquran adalah sebagai pemberi peringatan dan juga penyampai kabar gembira.

“sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik,”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 2)

Kabar gembira bahwa ada ganjaran surga bagi orang yang mau menjakankan perintah Allah melalui Alquran.

Peringatan bagi orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan yang tertulis didalam Alquran.

Alquran adalah sebuah kabar gembira dan bagi mereka yang menaati dan mengharaginya.

Sedangkan akan menjadi peringatan dan kabar penghukuman bagi mereka yang mengingkari dan menistakannya.

MUSLIM TERKINI

Doa Al-Quran: Surat Ali Imran Ayat 8 untuk Ketetapan Hati dalam Iman

Ketetapan hati menjadi karakter khusus setiap hamba terbaik yang memperoleh petunjuk dan kasih sayang dari Allah SWT. Dengan ketetapan hati, setiap hamba dapat mengarungi kehidupannya sebaik mungkin. Di dalam Al-Quran dijelaskan tentang bagaimana seorang hamba memohon kepada Allah SWT tentang ketetapan hati. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran Ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٨

Rabbanaa Laa tuzigh quluubanaa ba’da idzhadaitanaa wahablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaab

Artinya: “(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Surat Ali Imran Ayat 8)

Dalam kitab tafsir Min Wahyil Quran karya Muhammad Husain Fadhlullah, dijelaskan bahwa pada ayat ini menjelaskan tentang doa yang dipanjatkan oleh “war raasikhuuna fil ‘ilmi” orang-orang yang ilmunya mendalam (disebutkan dalam ayat sebeumnya Surat Ali Imran Ayat 7). Yakni, golongan orang-orang yang perangainya baik, berilmu dengan penuh ketawadhuan dan berhati-hati dalam mengkonsumi makanan. Kelompok ini juga dalam praktik ibadahnya melebihi kualitas ibadah orang biasa dan masih banyak lagi kelebihan kelompok ini.

Dikisahkan di dalam ayat tersebut golongan “war raasikhuuna fil ‘ilmi” melantunkan doanya sebagai ungkapan syahdu dalam memohon kepada Allah SWT. Pada ayat ini diawali dengan kata “Rabbanaa” sebagai bukti kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta tentang permohonannya. Lalu pada ayat ini, lafadz “Laa tuzigh quluubana” dimaknai sebagai ketersesatan seseorang, didahului oleh subjektivitas yang tersesat yang memulai ketersesatannya.

Lafadz “Ba’da idzhadaitanaa” pada ayat ini membuktikan bahwa setiap orang telah mendapatkan petunjuk bisa saja tergelincir atau berpaling kembali dalam lubang keburukan. Konsistensi dalam meneguhkan hati pun tergoyahkan kembali karena beberapa penyebab seperti kesalahan atau dosa yang dilakukan.

Maka dari itu, seorang hamba yang totalitas dalam beribadah kepada-Nya akan memohon dengan sungguh-sungguh agar diberi keteguhan atau ketetapan hati. Seperti halnya doa yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinika

Artinya: ”Wahai (Rabb) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Hati itu ibarat benda yang dikepal di antara dua telapak tangan, mudah untuk dibolak-balikkan. Maka dari itu, betapa pentingnya setiap dari kita memohon kekuatan kepada Allah SWT agar dikaruniakan ketetapan hati untuk mengarungi kehidupan yang dijalani.

Kemudian, “Wahablanaa min ladun karahmah” dimaknai sebagai permohonan yang berisi pemberian yang diberikan secara spontan dan cepat (ilmu) serta kasih sayang yang paripurna dari Allah SWT. Lalu, “Innaka antal wahhaab” dimaknai sebagai kebesaran Allah yang memiliki sifat “Al-Wahab” berarti Maha Pemberi. Memberikan banyak karunia kepada hamba-Nya atas dasar kasih sayang dengan tanpa pamrih.

Maka dari itu, “ar raasikhuuna fil ‘ilmi” ini memohon kepada Allah SWT agar setelah menerima hidayah atau petunjuk, tidak tergelincir dalam hal-hal yang salah atau dosa. Lalu, tidak menjauh dari hidayah atau petunjuk tersebut. Kemudian, memohon dikaruniakan kasih sayang dari Allah SWT Yang Maha Pemberi.

Dapat disimpulkan bahwa kita hendaknya selalu memohon kepada Allah SWT tentang segala apa pun yang kita perlukan, khususnya dalam meneguhkan hati dalam kebaikan untuk mengarungi kehidupan yang dijalani.

Doa ini pun hendaknya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti kita berniat sungguh-sungguh karena Allah, ikhlas dalam belajar ilmu apa pun yang baik untuk kebahagiaan di dunia dan di keabadian kelak. Wallahu a’lam.

Hukum Mengubur Al-Quran yang Sudah Rusak

Ketika kita menemukan mushaf Al-Quran yang sudah rusak dan diperkirakan tidak akan dibaca lagi, biasanya kita akan membakarnya. Namun terdapat sebagian orang yang memilih untuk menguburkannya, bukan membakar. Sebenarnya, bagaimana hukum menguburkan mushaf Al-Quran yang sudah rusak ini, apakah boleh?

Menguburkan mushaf Al-Quran yang sudah rusak dan kemungkinan tidak akan dibaca hukumnya adalah boleh. Bahkan menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, jika terdapat mushaf yang sudah rusak dan kemungkinan tidak dibaca, maka ia sebaiknya dikubur sebagaimana mengubur seorang muslim.

Yaitu, dengan cara mushaf itu dibungkus dengan kain, dikuburkan di tempat yang sekiranya tidak diinjak oleh orang, dibuatkan liang lahad, dibuat papan penghalang agar tanah tidak langsung menyentuh mushaf tersebut, kemudian ditimbun dengan tanah. 

Ini sebagaiamana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

صَرَّحَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِأَنَّ الْمُصْحَفَ إِذَا صَارَ بِحَالٍ لاَ يُقْرَأُ فِيهِ، يُدْفَنُ كَالْمُسْلِمِ، فَيُجْعَل فِي خِرْقَةٍ طَاهِرَةٍ، وَيُدْفَنُ فِي مَحَلٍّ غَيْرِ مُمْتَهَنٍ لاَ يُوطَأُ، وَفِي الذَّخِيرَةِ: وَيَنْبَغِي أَنْ يُلْحَدَ لَهُ وَلاَ يُشَقَّ لَهُ؛ لأِنَّهُ يُحْتَاجُ إِلَى إِهَالَةِ التُّرَابِ عَلَيْهِ، وَفِي ذَلِكَ نَوْعُ تَحْقِيرٍ إِلاَّ إِذَا جُعِل فَوْقَهُ سَقْفًا بِحَيْثُ لاَ يَصِل التُّرَابُ إِلَيْهِ فَهُوَ حَسَنٌ أَيْضًا. ذَكَرَ أَحْمَدُ أَنَّ أَبَا الْجَوْزَاءِ بَلِيَ لَهُ مُصْحَفٌ، فَحَفَرَ لَهُ فِي مَسْجِدِهِ، فَدَفَنَهُ. وَلِمَا رُوِيَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَفَنَ الْمَصَاحِفَ بَيْنَ الْقَبْرِ وَالْمِنْبَرِ. أَمَّا غَيْرُهُ مِنَ الْكُتُبِ فَالأْحْسَنُ كَذَلِكَ أَنْ تُدْفَنَ

Ulama Hanafiyah dan Hanabilah menegaskan bahwa mushaf yang sekiranya tidak dibaca lagi, maka ia dikubur sebagaimana mengubur seorang muslim. Yaitu, mushaf itu dibungkus dengan kain yang suci, dikuburkan di tempat yang sekiranya tidak dihinakan dan diinjak.

Dalam kitab Al-Dzakhirah disebutkan bahwa sebaiknya dibuat liang lahad, bukan syaq. Ini karena dibutuhkan menimbun tanah, dan itu termasuk sebentuk penghinaan kecuali dibuatkan papan sehingga tanah tidak menyentuh langsung pada mushaf.

Tata cara ini baik juga. Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abu Al-Jawza’ memiliki mushaf yang sudah robek, lalu dia menggali tanah di tempat shalatnya dan dia menguburkan mushaf tersebut. Juga diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan menguburkan mushaf di antara kuburan dan mimbar. Adapun kitab-kitab selain mushaf, maka sebaiknya juga dikuburkan.

Dengan demikian, menguburkan mushaf Al-Quran yang sudah rusak hukumnya boleh, dan telah dicontohkan oleh sebagian sahabat dan para ulama, seperti Sayidina Utsman bin Affan dan Abu Al-Jawza’. 

BINCANG SYARIAH

Al-Quran dan Musik Itu Bagaikan Minyak dan Air

Al-Quran dan musik itu bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Sangat sulit Al-Quran dan musik berada di hati seorang hamba yang bertakwa dan berusaha dekat dengan Al-Quran. Terlebih ingin menghafalkan Al-Quran, mendalami, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah menjelaskan bahwa Al-Quran dan musik tidak akan bersatu. Beliau Rahimahullah berkata,

حُبُّ الْكِتَابِ وَحُبُّ أَلْحَانِ الْغِنَاءِ … فِي قَلْبِ عَبْدٍ لَيْسَ يَجْتَمِعَانِ

“Cinta Al-Quran dan cinta melodi nyanyian … tidak akan berkumpul di hati seorang hamba” (Nuniyyah Ibnul Qayyim hal. 368).

Di lain kesempatan, beliau menjelaskan bahwa hal itu tidak akan bersatu karena saling bertentangan. Ibarat kutub utara dan selatan. Ibarat kanan dan kiri. Beliau Rahimahullah berkata,

إِنَّ الْقُرْآنَ وَ الْغِنَاءَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي الْقَلْبِ أَبَدًا، لِمَا بَيْنَهُمَا مِن التَّضَادِّ

“Sesungguhnya Al-Quran dan nyayian itu tidak akan bersatu di hati selamanya, karena keduanya itu bertentangan” (Ighatsatul Lahfan, 1: 248).

Oleh karena itu, kita perhatikan mereka yang mulai hijrah dan mulai kembali kepada agama dan Al-Quran, mereka berusaha meninggalkan musik. Tentunya mereka sangat ingin dekat dengan Al-Quran dan mengamalkannya. Terlebih Al-Quran adalah petunjuk hidup dan jalan keselamatan dunia akhirat yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi.

Allah Ta’ala berfirman,

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).

Terkadang proses meninggalkan musik ini berat. Akan tetapi dengan kekuatan ilmu dan iman serta pertolongan dari Allah, banyak yang bisa meninggalkan musik karena ingin dekat dengan Al-Quran dan Allah gantikan dengan yang lebih baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad, sahih).

Jika seseorang ingin meninggalkan sesuatu, tentu harus ada penggantinya yang bahkan jauh lebih baik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan kaidah psikologi,

إِنَّ النُّفُوسَ لَا تَتْرُكُ شَيْئًا إِلَّا بِشَيْءٍ

“Sesungguhnya jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali jika ada penggantinya.”

Terlebih musik dan nyanyian hukumnya adalah haram sebagaimana banyak penjelasan para ulama.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan” (QS Luqman: 6).

Ibnu Katsir Rahimahullah menukil (mengutip) banyak sekali pendapat ulama yang menyatakan bahwa maksud “lahwal hadits” pada ayat tersebut adalah musik dan nyanyian. Beliau Rahimahullah menukilkan perkataan sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

الْغِنَاءِ، وَاللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلَاثَ مَرَّات

“Maksud dari lahwal hadits” adalah nyanyian. Aku bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Ibnu Mas’ud mengulangi sampai tiga kali.”

Hasan Al-Bashri Rahimahullah juga berkata,

فِي الْغِنَاءِ وَالْمَزَامِيرِ

“Maksud lahwal hadits adalah nyanyian dan seruling” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Hadis yang menjelaskan tentang hal ini juga cukup banyak. Sebagaimana hadis yang menjelaskan bahwa akan dihalalkam musik suatu saat nanti. Artinya, hal ini menunjukkan bahwa musik itu hukumnya haram.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعازِفَ

“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan (sebelumnya hukum asalnya haram, pent.) zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik” (HR. Bukhari).

Demikian juga semakna dengan hadis berikut,

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فِى هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ ». فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ « إِذَا ظَهَرَتِ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ ».

“Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di dalam umat ini akan ada longsor, perubahan bentuk rupa, dan hujan batu (dari langit).” Lalu seorang laki-laki dari kaum muslimin bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hal tersebut?” Beliau menjawab, “Jika telah nampak al-qayyinat (penyanyi-penyanyi wanita) dan alat-alat musik dan khamr telah di minum (dengan bebas).” (HR. Tirmidzi, lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 2203)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menutup telinga ketika mendengarkan musik seruling yang menunjukkan beliau tidak suka mendengarkan musik.

Nafi’ Maula Ibnu Umar berkata,

سمعَ ابنُ عُمرَ مِزمارًا فوضعَ أصبُعَيْهِ في أذُنَيْهِ، وَنَأَى عَن الطَّريقِ وقالَ لي: يا نافعُ هل تسمَعُ شَيئًا ؟ قلتُ: لا، فرَفعَ أصبُعَيْهِ مِن أذُنَيْهِ وقالَ: كُنتُ معَ النَّبيِّ – صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ – وسمعَ مثلَ هذا وصنعَ مِثلَ هذا

“Ibnu ‘Umar mendengar suara seruling, lalu ia meletakkan dua telunjuknya di telinganya dan menjauh dari jalan. Ia berkata kepadaku, ‘Hai Nafi, apakah kamu masih mendengarnya?’ Aku berkata, ‘Tidak.’ Maka ia melepas jarinya dari telinganya dan berkata, ‘Dahulu aku bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mendengar sama dengan yang aku dengar dan beliau melakukan seperti apa yang aku lakukan” (HR Abu Dawud).

Demikian, semoga bermanfaat.

@Lombok, pulau seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/69077-al-quran-dan-musik-itu-bagaikan-minyak-dan-air.html

Apa Hukum Meletakkan Al-Qur’an di Mobil dalam Rangka Mencegah ‘Ain?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu

Pertanyaan:

Apakah hukum meletakan Al-Qur’an di mobil agar terhindar dari penyakit ‘ain?

Jawaban:

لايجوز هذا ولا ينفع؛ لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه أنه يتحصن بالقرآن على هذا الوجه، وما يتوهمه بعض الناس فهو لأنه تخيّل أنّ هذا نافع، فظن أنّ انتفاء الشر والعين عن سيارته بواسطة وضع المصحف فيها

Perbuatan ini tidak boleh (dilakukan) dan tidak bermanfaat. Karena hal tersebut tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan juga para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka tidak menggunakan Al-Qur’an untuk hal tersebut.

Sebagian manusia menyangka atau berkhayal bahwa hal tersebut akan bermanfaat. Mereka menyangka bahwa keburukan dan ‘ain akan tercegah dari mobilnya dengan cara meletakkan mushaf di dalamnya.

Wallahu a’lam.

***

Sumber: Fatawa Nuur ‘Ala Ad-Darb, 4: 2https://al-maktaba.org/book/2300/86

Selesai diterjemahkan Senin, 3 Dzulqa’dah 1442 H

Penerjemah: Dimas Setiaji

Sumber: https://muslim.or.id/68303-apa-hukum-meletakkan-al-quran-di-mobil-dalam-rangka-mencegah-ain.html

Hukum Bersumpah dengan Al-Quran

Di antara perkara yang ditanyakan oleh sebagian orang adalah mengenai hukum bersumpah dengan Al-Quran. Pasalnya, terdapat sebagian orang yang bersumpah bukan nama Allah, melainkan dengan Al-Quran. Misalnya, aku bersumpah, demi Al-Quran. Terkadang sebagain sambil memegang Al-Quran dan sebagian tidak. Sebenarnya, bagaimana hukum bersumpah dengan Al-Quran ini, apakah boleh?

Bersumpah dengan Al-Quran, baik sambil memegang Al-Quran atau tidak, hukumnya boleh dan sumpahnya sah. Karena itu, seseorang yang bersumpah dengan Al-Quran, maka dia wajib melaksanakan sumpahnya. Jika dia melanggar, maka dia wajib membayar kafarah sumpah.

Menurut para ulama, kebolehan bersumpah dengan Al-Quran ini didasarkan karena Al-Quran adalah kalam Allah, dan kalam Allah termasuk bagian dari sifat-sifat-Nya. Sementara bersumpah dengan salah satu sifat-Nya, termasuk dengan sifat kalam-Nya, adalah boleh dan sumpahnya sah, sebagaimana bersumpah dengan nama Allah itu sendiri.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

إن الحلف بالقرآن يمين منعقدة تجب الكفارة بالحنث فيها. وبهذا قال ابن مسعود والحسن وقتادة ومالك الشافعي وأبو عبيد وعامة أهل العلم مستدلين بأن القرآن كلام الله وصفة من صفات ذاته تنعقد اليمين به كما لو قال: وجلال الله وعظمته

Sesungguhnya bersumpah dengan Al-Quran adalah sumpah yang sah, yang wajib membayar kafar jika dilanggar. Ini telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Malik, Al-Syafii, Abu ‘Ubaid, dan kebanyakan para ulama. Mereka berdalil bahwa Al-Quran adalah kalam Allah dan termasuk bagian dari sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya. Karena itu, bersumpah dengan Al-Quran adalah terjadi atau sah, sebagaimana jika bersumpah dengan kalimat ‘Demi kemuliaan Allah dan keagungan-Nya.

Dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah juga disebutkan sebagai berikut;

فإن الحلف بالقرآن العظيم قد تعارفه الناس في أيمانهم مثل الحلف بقولهم: والله العظيم، فيكون يمينًا؛ لأن القرآن كلام الله تعالى، وممن ذهب إلى ذلك العلامة محمد بن مقاتل، وقال: وبه أخذ الجمهور

Bersumpah dengan Al-Quran termasuk sumpah yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat, sebagaimana sumpah ‘Demi Allah Yang Maha Agung.’ Karena itu, bersumpah dengan Al-Quran adalah sah karena Al-Quran adalah kalam Allah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Muhammad bin Muqatil. Beliau juga berkata; Ini pendapat yang diambil oleh kebanyakan ulama.

Dengan demikian, bersumpah dengan Al-Quran hukumnya boleh. Sumpahnya wajib dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, maka wajib membayar kafarah sumpah, seperti halnya bersumpah dengan nama Allah; Demi Allah.

BINCANG SYARIAH

Bolehkah Membaca Alquran Tanpa Wudhu?

Anggota Komisi Fatwa Darul Iftaa Mesir Syekh Dr Muhammad Abdul Sami menyampaikan penjelasan soal membaca Alquran tanpa wudhu. Sebelumnya dia mendapat pertanyaan apa hukumnya membaca Alquran jika tidak dalam kondisi wudhu?

Syekh Abdul Sami menjelaskan bahwa tidak boleh menyentuh mushaf Alquran tanpa wudhu, sebagaimana dilansir dari laman Masrawy. Lantas bagaimana jika kebetulan seseorang sedang dalam perjalanan atau dalam kondisi tertentu yang membuatnya sulit untuk wudhu?

Syekh Abdul Sami menyampaikan, jika ada dalam keadaan tersebut, lalu ingin membaca Alquran, maka boleh membaca Alquran tanpa wudhu. Namun dengan catatan, membaca Alqurannya dilakukan melalui media selain mushaf, seperti gawai, laptop, atau lainnya.

Sedangkan, Syekh Abdul Sami menambahkan, bagi para siswa atau pelajar yang ingin menghafal atau membaca Alquran sepanjang hari dan sulit untuk berwudhu sepanjang hari, para ulama madzhab Maliki membolehkan kepada mereka untuk membaca Alquran tanpa wudhu sehingga tidak perlu melakukan wudhu sepanjang hari.

Untuk diketahui, berwudhu adalah salah satu adab dalam membaca Alquran dengan mushaf. Ini didasarkan pada pendapat Abu Ya’la Kurnaedi dalam bukunya berjudul ‘Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i’.

“Hukumnya mustahab (disukai) bagi qari Alquran untuk berwudhu sebelum memulai qiraah (membaca) dengan mushaf (bukan dengan hafalan). Bahkan, ada yang berpendapat wudhu wajib atasnya,” demikian penjelasan Abu Ya’la.

Dalam membaca Alquran pun sebaiknya dilakukan dengan cara duduk, berpakaian yang baik, menghadap kiblat, dan berada di tempat terhormat yang layak dengan keagungan Kitab-Nya.

Selain itu, seorang Muslim membaca Alquran dengan tunduk, khusyu, perlahan, diiringi tadabur dan tafakur pada ayat-ayatnya. Sedangkan hati dan inderanya tertuju pada apa yang dibaca, dan tidak memotongnya dengan perkataan manusia.

Ustadz Isnan Anshory dalam ‘Wudhu Rasulullah SAW Menurut Empat Madzhab’, memaparkan, para ulama sepakat bahwa berwudhu sebelum belajar ilmu-ilmu agama, seperti kitab tafsir, hadits, aqidah, fiqih dan lainnya, hukumnya sunnah. Namun jika di dalamnya lebih dominan terdapat ayat Alquran, maka hukumnya menjadi wajib menurut jumhur ulama.

IHRAM

Hadiah dari Alquran

Ada empat hadiah istimewa bagi setiap insan yang menghadirkan Alquran dalam dirinya.

Dari Abdullah bin Abbas RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada Alquran walaupun sedikit, dia itu ibarat rumah yang rusak.” (HR Tirmidzi).

Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya menghadirkan Alquran dalam kehidupan kita. Setiap dari kita hendaknya selalu terhiasi dengan keindahan cahaya Alquran. Karena Alquran merupakan pedoman kebahagiaan bagi setiap insan.

Ada empat hadiah istimewa yang akan diterima oleh setiap insan yang senantiasa selalu menghadirkan Alquran di dalam dirinya.

ertama, predikat insan terbaik. Rasulullah SAW senantiasa menjamin setiap umatnya agar mendapatkan posisi istimewa melalui Alquran. Bersahaja menjadikan Alquran sebagai pedoman utama kehidupan.

Dari Utsman bin ‘Affan RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik di antara kamu ialah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Kedua, hati yang tenteram. Allah mencintai setiap hamba-Nya yang senantiasa selalu mengingat-Nya. Menjadikan Alquran sebagai pembasmi setiap kegelisahan. Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar Ra’d: 28).

Ketiga, limpahan rahmat dan pahala. Kehidupan ini tentunya penuh dengan teka-teki. Maka, setiap insan hendaknya selalu berupaya menemukan solusi atas kehidupan yang dijalani. Yakni, dengan menjadikan Alquran sebagai petunjuk abadi dan jalan untuk memperoleh pundi-pundi pahala serta ridha dari sang Ilahi.

Allah SWT berfirman, “Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Alquran itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS al-Isra’: 82).

Lalu, dari Ibnu Mas’ud RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu pahala kebaikan. Setiap satu pahala kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh pahala kebaikan. Aku tidak berkata “Alif, Lam, Mim” itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Keempat, syafaat di hari kiamat. Allah mencintai setiap hamba-Nya yang senantiasa dekat dengan Alquran. Lalu, Rasulullah SAW pun mengabarkan kepada umatnya tentang hadiah istimewa yang akan didapatkan oleh siapa saja yang membiasakan membaca Alquran.

Dari Abu Umamah Al-Bahili RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Alquran, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya di hari kiamat nanti.” (HR Muslim).

Ibarat rembulan yang menyinari kesunyian malam. Alquran adalah sumber keindahan. Obat istimewa dalam menghadapi setiap kepelikan. Tanpanya, kehidupan pun tampak tak karuan. Lewat Alquran, rahmat-Nya didapatkan.

Wallahu a’lam.

OLEH MUHAMAD YOGA FIRDAUS

KHAZANAH REPUBLIKA

Kala Cahaya Alquran Mampu Tembus Relung Hati Orang Musyrik

Mukjizat Alquran sebenarnya tidak bisa dimungkiri orang musyrik

Pada dasarnya Alquran adalah pedoman bagi kalangan manapun. Alquran menjadi petunjuk sekaligus penuntun banyak orang dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang-benderang. Inilah hal terbesar dari kemukjizatan Alquran.

Petunjuk penciptaan bukanlah jalan untuk mencapai tujuan di mana jin dan manusia diciptakan. Sebab, Allah SWT telah menjadikan jalan itu sebagai salah satu tujuan wahyu Alquran.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl: 89)

Kemuliaan dan apa yang disampaikan dalam Alquran menimbulkan pengaruh kepada banyak jiwa termasuk orang musyrik. Mereka yang musyrik tidak bisa menyembunyikan perasaan yang ditimbulkannya pada diri mereka sehingga hal ini memaksa mereka memuji Alquran tanpa menyatakan keimanannya.

Al-Walid bin Al-Mughirah berkata, “Demi Allah SWT, tidak ada orang di dalam dirimu yang lebih tahu tentang syair daripada aku. Aku tidak tahu apakah syair itu bualan atau apakah itu dariku, atau syair jin. Allah SWT seperti mengatakan sesuatu tentang ini. Di bawahnya, dan itu lebih tinggi dari apa yang di atas, dan itu menghancurkan apa yang di bawahnya.”

Cahaya Alquran mampu menembus dan memengaruhi hati orang-orang musyrik. Sampai kemudian mereka memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu. Karena menyadari betapa besarnya kekuatan Alquran, kaum musyrik di zaman Nabi Muhammad SAW melarang penduduk dan para pendatang di Makkah mendengar ayat-ayat suci Alquran. 

Meski ada kampanye itu, upaya tersebut gagal. Bangsawan Arab sekelas Thufail bin Amr Ad-Dausy tidak mampu dibujuk untuk menghindari Alquran, walaupun orang Quraisy telah memperingatkannya untuk tidak mendengarkan Rasulullah. 

Namun Thufail yang juga dikenal sebagai penyair hebat itu terkesan dengan apa yang disampaikan Nabi Muhammad. Thufail mengatakan bahwa tidak sesuatu yang harus menghalangi dirinya untuk mendengarkan ucapan Nabi Muhammad.

“Jika yang dibawanya baik, aku terima. Dan jika buruk, aku tinggalkan. Rasulullah SAW menawarkan Islam kepadaku dan membaca Alquran. Dan Demi Allah, aku tidak pernah mendengar kata-kata yang lebih baik dari ini…,” kata Thufail.

Sumber: islamweb 

KHAZANAH REPUBLIKA

Hafalkanlah Al-Qur’an dan Hadits

Selain berusaha mempelajari Al Qur’an dan hadits dengan bimbingan para ulama, seorang penuntut ilmu juga hendaknya bersemangat untuk menghafalkan Al Qur’an dan hadits. Karena pondasi dari ilmu adalah Al Qur’an dan hadits.

Menghafalkan Al Qur’an

Ibnu ‘Abdl Barr rahimahullah mengatakan:

طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه

“Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barangsiapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (Al Qur’an) dan memahaminya” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2/1129).

Menghafalkan Al Qur’an juga kita lakukan dalam rangka upaya agar menjadi shahibul qur’an (pecinta Al Qur’an). Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim no.804).

Siapa itu shahibul qur’an? Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menyatakan, “Ketahuilah, makna dari shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkannya di hati. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤمُّ القومَ أقرؤُهم لِكتابِ اللَّهِ

“hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ terhadap Kitabullah” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amir radhiallahu’anhu).

Makna aqra’ adalah: yang paling hafal. Sehingga derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “menghafal Al Qur’an adalah mustahab (sunnah)” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.89906). Namun yang rajih insya Allah, menghafal Al Qur’an adalah fardhu kifayah, wajib diantara kaum Muslimin ada yang menghafalkan Al Qur’an, jika tidak ada sama sekali maka mereka berdosa (Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 17/325).

Semakin banyak hafalan seseorang, akan semakin tinggi pula kedudukan yang didapatkan di surga kelak. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يُقالُ لصاحبِ القرآنِ اقرأْ وارتقِ ورتِّلْ كما كنت تُرتِّلُ في الدنيا فإنَّ منزلَك عند آخرِ آيةٍ تقرؤُها

“Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Menghafalkan Al Qur’an hendaknya dimulai dari yang paling mudah dulu. Urutannya sebagai berikut:

  1. Hafalkan juz 30, lalu
  2. Hafalkan juz 29, lalu
  3. Hafalkan juz 28, lalu
  4. Hafalkan juz 1 – 27

Dan hendaknya dalam menghafalkan Al Qur’an, juga dibimbing oleh seorang guru yang bisa mengoreksi bacaannya dan hafalannya. Guru tersebut juga bisa memutuskan apakah ia melanjutkan hafalan yang baru ataukah mengulang hafalan yang lama. Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Mishri, “salah satu adab penuntut ilmu adalah: memberi perhatian untuk mengoreksi pelajarannya yang sudah ia hafal sebelumnya secara mutqin (sempurna) di depan syaikh (guru). Atau di depan orang lain yang bisa membantunya. Kemudian dengan cara demikian ia bisa memiliki hafalan yang mutqin. Kemudian setelah itu ia ulang-ulang hafalannya dengan baik. Kemudian dia menjadwalkan waktu-waktu untuk mengulang hafalan yang telah berlalu. Sehingga menjadi hafalan yang kokoh dan kuat” (Al Mu’lim bi Adabil Mu’allim wal Muta’allim, hal. 83).

Menghafalkan hadits-hadits Nabi

Selain menghafalkan Al Qur’an, seorang penuntut ilmu juga hendaknya bersemangat untuk menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena hadits adalah sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al Qur’an.

Menghafalkan hadits-hadits juga memiliki keutamaan yang besar. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمِعَ مَقالتي فبلَّغَها فربَّ حاملِ فقهٍ غيرِ فقيهٍ وربَّ حاملِ فقهٍ إلى من هوَ أفقَهُ مِنهُ

“Allah akan memberikan nudhrah (cerahnya wajah) kepada seseorang (di dunia dan di akhirat) yang mendengarkan sabda-sabdaku, lalu menyampaikannya (kepada orang lain). Karena betapa banyak orang yang membawa ilmu itu sebenarnya tidak memahaminya. Dan betapa banyak orang disampaikan ilmu itu lebih memahami dari pada yang membawakan ilmu kepadanya” (HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithi rahimahullah menjelaskan: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memotivasi umat untuk menghafalkan hadits. Bahkan beliau menegaskan kepada kita untuk menghafalnya dengan mutqin, sehingga kita tidak menyampaikan hadits secara makna. Beliau bersabda dalam riwayat lain:

فحفظها فأداها كما سمعها

“… sehingga ia bisa menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya”.

Kemudian perkataan [Allah akan memberikan nudhrah], maksudnya adalah nadharah, yaitu: bagusnya wajah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah mereka pada hari itu dalam keadaan nadhirah (cerah), memandang kepada Rabb mereka” (QS. Al Qiyamah: 22-23).

Karena ketika para hamba memandang kepada wajah Allah, maka wajah mereka pun bertambah indah dan bagus. Nadharah yang disebutkan dalam hadits di atas diperselisihkan oleh para ulama maknanya dalam dua pendapat:

Pertama, mereka akan dikumpulkan di hari Kiamat dalam keadaan wajah mereka memancarkan cahaya, seperti matahari. Dikarenakan ia menghafalkan as sunnah (hadits). Semakin banyak hadits yang ia hafalkan, semakin Allah tambahkan cahaya di wajahnya dan Allah akan menerangi dia dengan cahaya sunnah. Oleh karena itu, Ahlussunnah di wajah mereka ada cahaya.

Kedua, sebagian ulama mengatakan, pada wajah orang-orang Ahlussunnah terdapat cahaya yang ini terjadi di dunia. Karena Allah menjadikan para wajah mereka ada cahaya dan kecerahan wajah. Maka wajah mereka adalah wajah-wajah kebaikan. Jika engkau melihat wajah salah seorang dari Ahlussunnah, maka akan tenang hati anda. Anda akan mengetahui bahwasanya itu adalah wajah orang yang baik dan shalih. Karena ubun-ubun dan wajah itu mengikuti amalan. Allah ta’ala berfirman:

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“Ubun-ubun (orang) yang pendusta dan berbuat dosa” (QS. Al ‘Alaq: 16)” (Syarh Zaadil Mustqani’, 30/368).

Menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dimulai dari yang mudah-mudah yang ringkas terlebih dahulu. Yang paling disarankan adalah:

  1. Hafalkan hadits-hadits dalam kitab Al Arba’in An Nawawiyah, karya Imam An Nawawi rahimahullah, lalu
  2. Hafalkan hadits-hadits dalam kitab Umdatul Ahkam, karya Abdul Ghani Al Maqdisi rahimahullah, lalu
  3. Hafalkan hadits-hadits dalam kitab Bulughul Maram, karya Ibnu Hajar Al Asqalani, lalu
  4. Hafalkan hadits-hadits dalam kitab Al Adabul Mufrad, karya Imam Al Bukhari.

Setelah itu baru bisa menghafalkan Kutubus Sittah dan kitab-kitab hadits yang lebih tebal lagi. Dan ini pun hendaknya dibimbing oleh seorang guru yang bisa bacaannya dan hafalannya. Guru tersebut juga bisa memutuskan apakah ia melanjutkan hafalan yang baru ataukah mengulang hafalan yang lama.

Demikian penjelasan yang ringkas ini. Semoga menjadi motivasi bagi kita semua. Wallahu waliyut taufiq was sadaad.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.or.id