Energi Cinta Berbagi

Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu membelanjakan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran [3]: 92)

Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seseorang tidak disebut mukmin selama belum mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

Ayat dan hadis tersebut menunjukkan urgensi energi cinta berbagisebagai spirit kebajikan dan keluhuran akhlak. Energi cinta berbagidalam diri manusia perlu dididik dan diaktualisasikan dalam bentuk kedermawanan sosial.

Etos filantropi untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bersama memang harus dilandasi rasa cinta. Karena cinta menyemangati dan menggerakkan manusia untuk mewujudkan cita-cita mulia.

Kedermawanan sosial berbasis cinta (filantropi) merupakan akhlak mulia, karena etos cinta berbagi dan berderma dalam Islam intinya adalah memberi dan memberi (give more and more) rezeki Allah yang dikaruniakan kepada kita dengan semangat menyayangi dan memberdayakan sesama. Ingatlah bahwa “Tangan di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (peminta).” (HR Muslim).

Jadi, esensi cinta sejati, dalam segala hal, mulai dari cinta anak dan istri, cinta berbagi kepada sesama hingga cinta Ilahi, adalah memberi dan mendedikasikan diri. Pendidikan cinta berbagi telah dipelopori dan diteladankan Nabi Muhammad SAW dan istri beliau tercinta, Khadijah RA.

Sedemikian cintanya kepada Islam, Khadijah RA mendermakan hampir seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah dan kejayaan Islam. Para sahabat juga selalu dididik oleh Nabi SAW untuk gemar berderma dengan menyisihkan sebagian rezeki sebagai bukti cinta terhadap Islam, sekaligus sebagai sikap peduli terhadap sesama.

Sejarah membuktikan, tradisi tersebut menjadi solusi jitu dalam mengatasi masalah umat, terutama kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Pendidikan cinta berbagi termasuk ajaran Islam yang paling dini diperkenalkan Nabi Muhammad SAW setelah pendidikan iman.

Pendidikan ini ditanamkan Nabi SAW dengan menjauhkan diri dari sikap pamrih, sebab pamrih hanya akan menghilangkan nilai sedekah sekaligus menyuburkan penyakit riya’. Oleh karena itu, pada masa awal kerasulannya, Allah SWT dengan tegas menyatakan, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS al-Mudatstsir [74]: 6).

Larangan ini juga sekaligus mendidik Nabi SAW dan para sahabatnya untuk mandiri dalam membangun sistem ekonomi umat yang solid, kuat,dan menyejahterakan semua, sehingga tidak tergantung pada sistem ekonomi kapitalistik dan individualistik ala kafir Quraisy Makkah.

Keberhasilan pendidikan cinta berbagi yang ditanamkan Nabi SAW berdampak sangat positif bagi kemandirian ekonomi dan kewirausahaan umat, sehingga selama sepuluh tahun berada di Madinah tidak pernah ada krisis moneter, krisis pangan, kelaparan, gizi buruk, krisis sembako, dan sebagainya.

Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan hibah diatur dan diberdayagunakan sedemikian rupa, sehingga take and give, kebersamaan, kemitraan, dan keadilan sosial dapat terwujud dengan sangat indah. “Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu; dengarlah dan taatilah; dan dermakanlah derma yang baik untuk dirimu. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Taghabun [64]: 16).

Dengan demikian, pendidikan cinta berbagi merupakan solusi jitu untuk mengatasi kemiskinan, kemunduran, dan kebodohan. Gagasan pendirian Baitul Mal oleh Umar bin al-Khattab merupakan upaya institusionalisasi filantropi dengan menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan kekayaan dari, oleh, dan untuk kemaslahatan umat.

Baitul Hikmah dan Universitas al-Azhar di Mesir, misalnya, didirikan, dikembangkan, dan dibesarkan oleh donasi filantropi sebagai manifestasi pendidikan cinta berbagi.

Umat Islam sesungguhnya tidak akan pernah miskin jika energi cinta berbagi dalam rangka aktualisasi kedermawanan sosial umat dapat diidentifikasi, didata, dikelola, dikembangkan, dioptimalkan, dan dimanfaatkan dengan penuh amanah dan manajemen modern.

 

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

sumber: Republika Online

Tangan Berbagi

Tamu agung nan mulia itu sudah benar-benar mengunjungi kita, Ramadhan Kariim. Bulan yang secara literal betul-betul menjadi bulan pembeda dengan bulan lain. Bulan yang memiliki kekhasan tersendiri.

Beberapa pembeda Ramadhan dengan bulan lain itu di antaranya; bulan diturunkannya Alquran (QS. Al Baqarah [2]: 185), bulan yang di dalamnya ada Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) (QS Al Qadr [97] : 1-30, bulan yang digunakan untuk menjalankan salah satu Rukun Islam (Puasa) (QS Al Baqarah [2]: 183).

Ramadhan juga bulan yang jika mengerjakan perbuatan-perbuatan baik di dalamnya seperti puasa dan salat tarawih, akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu (HR Bukhari).

Selain itu, Ramadhan juga bulan yang dibuka pintu surga, dibuka pinta rahmat, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu (HR Muslim), bulan yang amalan sunah akan diganjar pahala layaknya amalan Wajib (HR Muslim), bulan yang berlipat pahala menjadi 70 kali bagi amalan wajib (HR Muslim).

Di antara yang sangat khas dengan Ramadhan adalah semangat berbagi yang mencolok. Semangat menjadikan tangan berbagi. Dari berbagai generasi. Seperti dalam rekam sejarah seorang sahabat bernama Abdullah Ibnu Umar RA.

Beliau memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan terkadang putra tercinta sahabat mulia, Umar bin Khatab RA ini tidak berbuka meski sudah Maghrib ketika keluarganya belum menghadirkan para fakir miskin di rumahnya.

Datuk dari Khalifah terkemuka Dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz ini termasuk pengusaha kaya, hartanya halal berlimpah, karena beliau seorang pedagang sukses yang amanah.

Beliau juga mendapat gaji dari Baitul Mal Negara. Namun saat Ramadhan, semua itu tidak beliau simpan sendiri, akan tetapi beliau bagikan kepada fakir miskin dan orang yang meminta-minta.

Ayub bin Wail Ar-Rasibi pernah menyaksikan kejadian menakjubkan tentang beliau. Suatu hari Ibnu Umar mendapat kiriman harta senilai 4.000 dirham (sekitar Rp 680 juta) dan satu baju yang ada bulunya. Keesokan harinya, Ayub bin Wail ini melihat Ibnu Umar di pasar membeli pakan kudanya dengan utang.

Ayub pun keheranan. Karena baru kemarin Ibnu Umar baru mendapat uang 4.000 dirham, tapi untuk membeli pakan kuda saja pakai utang. Karena penasaran, Ayub kemudian datang menemui keluarga Ibnu Umar, ingin tahu, apa gerangan yang terjadi.

Cerita keluarganya, “Uang itu belum sempat menginap semalam, namun sudah dibagikan semuanya kepada fakir miskin. Lalu beliau mengambil baju yang ada bulunya, beliau pakai keluar rumah, dan ketika pulang, baju itu sudah tidak ada. Ketika kami tanyakan, beliau sudah berikan baju itu kepada fakir miskin.”

Adakah sekarang di bulan mulia yang baru beberapa hari ini tergerak secara masif di antara kita menikmatinya dengan menjadikan tangan kita tangan berbagi, tangan Abdullah bin Umar. Insya Allah, semoga.

 

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber: Republika Online

Suamiku, Izinkan Aku tak Menurutimu Satu Kali Saja

PERTENGKARAN demi pertengkaran selalu terjadi setiap hari dalam rumah tanggaku. Seakan menjadi makanan harianku dan suami. Selalu terjadi pertengkaran, sekalipun tidak bertengkar, suamiku tetap bersikap dingin, kaku, cuek bahkan mendiamiku.

Akalasia Esaphagus, inilah awal ujian itu datang. Adikku Dika, divonis mengidap penyakit langka yang belum diketahui pasti penyebabnya. Penyakit yang membuat penderitanya akan sangat sulit untuk menelan, hanya bisa minum atau membuat makanan menjadi benar-benar cair untuk bisa tetap memberi asupan ke tubuh.

Penyakit ini membuat tenggorokan adikku tidak berfungsi untuk menelan makanan, yang ada hanya rasa panas dan terbakar di tenggorokannya saat menelan. Jika tidak dalam bentuk cairan, makanan-makanan yang masuk akan keluar kembali. Aku tidak bisa menahan air mataku, setiap kali melihat kondisi Dika, adikku.

Orangtuaku bukanlah orang berada, memiliki lima orang anak dan aku adalah yang ketiga, sementara Dika adalah adik lelaki bungsuku. Dalam keluarga, bisa dibilang akulah satu-satunya yang memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dari kakak dan adikku yang lain. Walaupun masing-masing kami telah berkeluarga, terkecuali Dika.

Inilah yang membuatku berjibaku mencari informasi pengobatan dan mengurus adikku yang sedang melawan penyakit Akalasia Esaphagus. Waktu, tenaga, dan tentunya biaya kubagi antara kehidupan rumah tanggaku dan juga pengobatan medis Dika. Allah, izinkan hamba membantu adik hamba, tanpa sedikitpun melupakan kewajiban hamba sebagai seorang istri dan ibu.

Hari demi hari berganti menjadi berbulan-bulan, entah sudah berapa bulan Dika sakit dan alhamdulillah aku tetap dipercaya Allah untuk mengurus Dika dari semua hal. Hingga pada akhirnya, suamiku meradang, ia marah. Alasan kemarahannya adalah aku terlalu fokus pada adikku, sampai tak mempedulikan dan mengurusi dirinya dan juga anakku.

Astaghfirullah, mengapa suamiku merasa demikian? Sedang ia melihat sendiri aku masih setia mengurusnya dan anak kami. Aku harus mengurangi waktuku mengurus Dika, dan yang tidak pernah kusangka adalah, ia melarangku membantu biaya pengobatan medis Dika.

Di sudut kamar Dika, aku duduk memperhatikan tubuh ringkihnya. Hatiku penuh tanya, mungkin ada berjuta tanya dalam hati. Bagaimana ini, aku berada di pilihan yang benar-benar sulit sepanjang hidupku. Satu sisi aku adalah istri yang harus menuruti perkataan dan perintah suami, sebagai imamku, sedang di satu sisi ada sosok lemah yang perlu aku bantu. Ya Allah, berikan jalan terbaik dari dua persimpangan ini.

Seorang teman, memberiku saran untuk salat istikharah dan mendirikan salat tahajud di setiap malamku. “Tanyakan pada-Nya dengan kesungguhanmu” begitu isi pesan terakhir teman ku. Setiap hari ku isi hari dengan salat istikharah dan tidak lupa dua rakaat di pertiga malamku.

Ada banyak cara Allah menjawab doa hamba-nya, dan mungkin inilah salah satunya. Tepat selesai tahajud, teman yang sama mengirim ku pesan.

“Assalammuallaikum Dewi, apakabar mu ? Maaf aku mengganggu tidurmu. Cuma ingin mengingatkan untuk tahajud. Wassalam”

“Walaikumsalam. Baik san, kamu sendiri gimana kabar? Alhamdulillah aku baru selesai tahajud” balasku.

“Alhamdulillah, begitupun dengan ku. Sudah mendapat jawaban atas kegalauan mu ?”

“Belum san, tapi keinginan untuk mengobati Dika selalu ada dalam pikiranku. Bahkan kian semangat. Tapi apalah daya san, istri harus menuruti suami bukan ?”

Lama kuterima balasan pesan dari Santi, temanku. Menjelang berakhirnya waktu subuh. Balasan pesan dari Santi seakan menjadi jawaban dari Allah dan memperkuat niatku membantu Dika.

“Dew, maaf sebelumnya. Bukan maksudku membuatmu menjadi istri durhaka dan tidak menuruti suamimu. Tapi, bisakah kau merasa ini seakan menjadi cara Allah membantumu membuat tabungan amal di Jannah-Nya melalui sakitnya Dika?. Dew, kita tidak tau kapan umur kita akan diambil, begitu juga dengan Dika. Mungkin dengan membantu pengobatan Dika, Allah juga sedang mempersiapkan atau mungkin menambah tabungan amal ibadahmu. Coba bicarakan lagi dengan suamimu. Kamu membantu orang sakit, bukan membantu orang melakukan kejahatan atau maksiat. Bismillah, yakinlah Allah bersama orang yang berniat baik.”

Siang itu juga, aku membicarakan kembali pada suami tentang niatku membantu biaya pengobatan Dika. Sungguh disayangkan, suamiku tetap pada keras hatinya, dengan alasan anak kami membutuhkan biaya sekolah. Aku meminta maaf pada suamiku, sungguh sangat memohon maaf. Aku tetap pada niatku, membantu Dika semampuku sampai Allah sendiri yang menghentikan kemampuanku.

Keesokan harinya, kubawa Dika ke salah satu rumah sakit terbaik di kotaku. Bermodal informasi dari temanku yang seorang dokter, bahwa RS tersebut sedang melakukan riset tentang Akalasia Esaphagus kubawa Dika ke sana. Muncul satu pertanyaan lagi di depanku, relakah aku menjadikan Dika kelinci percobaan riset mereka?

Bismillah, dengan yakin aku merelakan Dika dijadikan objek riset mereka. Allah, aku percaya atas kuasa dan rencana-Mu, berikan hasil terbaik untuk Dika. Aku percaya, apapun dariMu adalah yang terbaik untuk hamba-Mu.

Waktu berlalu, berkali-kali sudah Dika menjalani pengobatan di rumah sakit terbaik itu. Terlalu banyak teknik pengobatannya, sampai aku sendiri sulit mengingatnya. Tapi benar adanya, manusia hanya bisa berencana, dan serahkan hasil akhir pada sang pemilik rencana terbaik. Hari ini untuk pertama kalinya ku lihat Dika makan bubur bercampur potongan roti. Rasanya sudah lama tidak melihatnya makan senikmat itu. Walau belum sembuh total, setidaknya kondisi Dika sudah berkurang dan lebih baik dari sebelum ia dijadikan kelinci percobaan. Dan hubunganku dengan suamiku? alhamdulillah, Allah membuka pintu hati suami ku, ia sadar atas keegoisan dan ketakutannya selama ini. Alhamdulillah.. rasa syukur tiada henti ku panjatkan pada-Nya atas kondisi Dika. Dan rasa syukur yang khususku sampaikan pada pemilik hati atas hubunganku dengan suami yang semakin membaik mengikuti membaiknya kondisi Dika. []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301846/suamiku-izinkan-aku-tak-menurutimu-satu-kali-saja#sthash.tlMF5wlt.dpuf

Berpakaian Tapi Telanjang

KETIKA kita membuka lembaran surat kabar, tabloid, majalah wanita, atau saluran televisi, pemandangan yang satu ini akan kerap kita temukan. Fenomena wanita dengan pakaian seksi yang membentuk garis tubuh dan menggoda kaun Adam telah menjadi hal yang lazim.

Kini fenomena itu menjadi pemandangan bukan hanya di perkotaan, bahkan saat ini di daerah dan desa-desa terpencil sekalipun budaya membuka aurat telah menjadi pemandangan yang lumrah.

Rasulullah bersabda: “Ada dua macam penduduk neraka yang belum pernah kulihat, orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita berpakaian tapi telanjang, yang bergoyang dan membuat orang lain bergoyang, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium baunya, padahal bau surga itu bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” ( HR.Muslim)

Imam An-Nawawi memberikan penjelasan yang beragam tentang makna wanita-wanita berpakaian tapi telanjang, adalah:

Pertama: Mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian (menggunakan) nikmat Allah, namun telanjang (tidak menggunakan) dari berbuat syukur.

Kedua: Mereka adalah wanita yang berpakaian namun tidak berperilaku taat dan tidak memperhatikan urusan akhiratnya.

Ketiga: Mengenakan pakaian tetapi tampak sebagaian anggota badannya untuk menampakkan kecantikannya. Mereka itu berpakaian tetapi telanjang.

Keempat: Mengenakan pakaian tipis yang masih memperlihatkan warna kulitnya dan bentuk tubuhnya. Mereka ini berpakaian tetapi telanjang.

Ketahuilah wanita, tidak ada pakaian yang abadi dalam hidup kita. Semua hanya hiasan diri yang bila kita tidak bijak menggunakannya, pakaian-pakaian itulah yang akan mengantarkan kita ke neraka-Nya kelak. Ketahuilah, kafanlah pakaian terakhir kita, penutup seluruh tubuh kita yang telah membeku. Kita kembali dengan seluruh tubuh tertutup, sungguh tidak adil jika kita membukanya, membiarkan orang-orang lain menikmati tubuh kita. Jagalah sebaik mungkin segala titipan-Nya ini sampai kita kembali pada sang pemilik jiwa. []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301769/berpakaian-tapi-telanjang#sthash.4VB0osvC.dpuf

Waspada Selama Puasa Ramadhan!

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan, menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa merasa disaksikan dan diperhatikan Allah Swt. Tidak ada rezeki yang lebih berharga di dunia ini daripada hati yanghaqqul yaqinkepada Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Kita sudah berada di bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Pertemuan kembali dengan bulan Ramadhan adalah karunia dari Allah yang wajib disyukuri. Karena betapa banyak orang yang berharap masih memiliki kesempatan usia untuk berjumpa lagi dengannya dan menikmati jamuan Allah Swt di bulan yang penuh keberkahan ini.

Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yang berkualitas, penuh dengan lantunan al-Quran dan sholat malam serta sedekah. Waspadalah dengan hal-hal yang mengurangi kualitas puasa Anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :

1. Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa Anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa. Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya di antara perkara yang sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah.

2. Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yang terpajang di FB apalagi Youtube.

3. Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Quran, sungguh ini adalah jebakan syaithan.

4. Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yang isinya banyak memamerkan aurat wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yang tidak bermanfaat.

5. Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga.

6. Kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu. Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati. Jangan sampai Anda menutup al-Quran karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk.

7. Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yang terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Quran.

8. Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya dan ujub karena menulis ibadah di status BBM, FB, atau WA. Contoh (alhamdulillah sudah khatam Quran 5 kali), atau (Sedang itikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.

9. Itikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih itikaf

10. Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.

Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yang mulia ini. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [*]

 

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301748/waspada-selama-puasa-ramadhan#sthash.Xxysv7IA.dpuf

Apakah Suntik dan Bekam Membatalkan Puasa?

ADA sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa.

Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama, namun ada pula hanya sekedar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil.

Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian. Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajmain.

Keluar darah bukan karena keinginannya seperti luka atau karena keinginannya namun dalam jumlah yang sedikit tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam beberapa fatwanya:

a. “Keluarnya darah di gigi tidaklah mempengaruhi puasa selama menjaga agar darahnya tidak ditelan”.

b. “Pengetesan darah tidaklah mengapa bagi orang yang berpuasa yaitu pengambilan darah untuk diperiksa jenis golongan darahnya dan dilakukan karena keinginannya maka tidak apa-apa”.

c. “Pengambilan darah dalam jumlah yang banyak apabila berakibat dengan akibat yang sama dengan melakukan berbekam, seperti menyebabkan lemahnya badan dan membutuhkan zat makanan, maka hukumnya sama dengan berbekam (yaitu batal puasanya)” (Fatawa Ramadhan, 2/460-466).

Maka orang yang keluar darahnya akibat luka di giginya baik karena dicabut atau karena terluka giginya tidaklah batal puasanya. Namun dia tidak boleh menelan darah yang keluar itu dengan sengaja.

Begitu pula orang yang dikeluarkan sedikit darahnya untuk diperiksa golongan darahnya tidaklah batal puasanya. Kecuali bila darah yang dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sehingga membuat badannya lemah, maka hal tersebut membatalkan puasa sebagaimana orang yang berbekam (yaitu mengeluarkan darah dengan cara tertentu dalam rangka pengobatan).

Meskipun terjadi perbedaan pendapat yang cukup kuat dalam masalah ini, namun yang menenangkan tentunya adalah keluar dari perbedaan pendapat. Maka bagi orang yang ingin melakukan donor darah, sebaiknya dilakukan di malam hari, karena pada umumnya darah yang dikeluarkan jumlahnya besar. Kecuali dalam keadaan yang sangat dibutuhkan, maka dia boleh melakukannya di siang hari dan yang lebih hati-hati adalah agar dia mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan.

Selain itu, pengobatan yang dilakukan melalui suntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena dia berfungsi sebagai zat makanan.

Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan. Terdapat perbedaan pendapat apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan sebagaimana mulut dan hidung, ataukah bukan.

Namun wallahu alam yang benar adalah bahwa keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi yang merasakan masuknya obat ke kerongkongan tidak mengapa baginya untuk mengganti puasanya agar keluar dari perselisihan. (Fatawa Ramadhan, 2/510-511)

[Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc]

 

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301815/apakah-suntik-dan-bekam-membatalkan-puasa#sthash.9qPMyfvF.dpuf

Hukum Mencicipi Rasa Masakan ketika Puasa

ADA sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa.

Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama, namun ada pula hanya sekedar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil.

Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian. Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajmain.

Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa, dengan menjaga jangan sampai ada yang masuk ke kerongkongan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radiyallahu anhu dalam sebuah atsar:

“Tidak apa-apa bagi seseorang untuk mencicipi cuka dan lainnya yang dia akan membelinya.” (Atsar ini dihasankan As-Syaikh Al-Albani rahimahullah di Al-Irwa no. 937)

Demikian beberapa hal yang bisa kami ringkaskan dari penjelasan para ulama. Yang paling penting bagi setiap muslim, adalah meyakini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu telah menjelaskan seluruh hukum-hukum yang ada dalam syariat Islam ini.

Maka, kita tidak boleh menentukan sesuatu itu membatalkan puasa atau tidak dengan perasaan semata. Bahkan harus mengembalikannya kepada dalil dari Al Qur`an dan As Sunnah dan penjelasan para ulama. Wallahu alam bish-shawab. [Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301808/hukum-mencicipi-rasa-masakan-ketika-puasa#sthash.FvPaz27q.dpuf

Sahkah Puasa tapi Tidak Salat?

ORANG yang meninggalkan salat dengan sengaja hukumnya kufur akbar. Puasa dan ibadah-ibadah lainnya tidak sah sampai ia bertobat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Hal ini berdasarkan firman-Nya,

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Anam: 88)

Dan berdasarkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang lain semakna.

Sebagian ulama menyatakan, bahwa hal itu tidak menyebabkan kafir dan puasa serta ibadah-ibadah lainnya tidak batal jika ia masih mengakui kewajiban-kewajiban tersebut, ia hanya termasuk orang-orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkan.

Yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja walaupun mengakui kewajibannya. Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya adalah sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu)

Dan sabda beliau,

“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan keempat penyusun kitab Sunan dengan isnad shahih dari hadits Buraidah bin al-Hushain al-Aslami radhiallahu anhu)

Al-Allamah Ibnul Qayyim telah mengupas tuntas masalah ini dalam tulisan tersendiri yang berjudul “Shalat dan orang yang meninggalkannya”, risalah beliau ini sangat bermanfaat, sangat baik untuk merujuk dan mengambil manfaatnya.

[Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1/Syaikh Ibnu Baz/Abdurrazaq Hasan]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301181/sahkah-puasa-tapi-tidak-salat#sthash.87uXzi7M.dpuf

Mencium dan Memeluk Istri di Bulan Puasa, Batalkah?

ADA sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa.

Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama, namun ada pula sekadar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil.

Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian. Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadan-cetakan pertama dari penerbit Adhwaa As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajmain.

Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa apabila tidak sampai keluar air mani meskipun mengakibatkan keluarnya madzi. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda dalam sebuah hadis sahih yang artinya:

“Dahulu Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa dan memeluk (istrinya) dalam keadaan beliau puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya di antara kalian.” (Lihat takhrijnya dalam kitab Al-Irwa, hadits no. 934)

Akan tetapi bagi orang yang khawatir akan keluarnya mani dan terjatuh pada perbuatan jima karena syahwatnya yang kuat, maka yang terbaik baginya adalah menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan atau minum, tetapi juga meninggalkan syahwatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“(orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku.” (Shahih HR. Muslim)

Dan juga beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadis hasan sahih.” Dan disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di Al-Irwa)

[Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301824/mencium-memeluk-istri-di-bulan-puasa-batalkah#sthash.upmgfs8c.dpuf

 

Baca juga: Mencium Pasangan dalam Keadaan Puasa

Menjadi Ihsan

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW mendapat pelajaran penting tentang makna iman, Islam, dan ikhsan dari Malaikat Jibril yang mendatangi beliau dengan menjelma menjadi manusia biasa.

Secara berurutan, Nabi menjawab pertanyaan ujian Malaikat Jibril. Apa yang disebut iman? Nabi menjawab, ”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, percaya akan adanya perjumpaan dengan Allah, percaya kepada para rasul, dan percaya adanya hari kebangkitan.” Apa yang disebut Islam? Nabi menjawab, ”Islam adalah engkau menghamba kepada Allah dan tidak menyekutukannya, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan puasa di bulan Ramadhan.”

Apa arti ihsan? ”Engkau beribadah kepada Allah dengan kondisi seolah-olah engkau melihatnya dengan mata. Jika tidak, yakinilah bahwa Allah sedang melihatmu,” demikian jawab Nabi. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Iman, Islam, dan ihsan adalah satu kesatuan komponen agama Islam yang tak terpisahkan. Ketiga komponen tersebut seharusnya terintegrasi secara berimbang dalam keberislaman seorang Muslim. Dan pengurutan seperti itu bukanlah kebetulan. Iman didahulukan karena ia adalah pokok dari Islam. 

Selanjutnya, iman di dalam hati menjadi tidak bermakna jika tidak dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yang diimplementasikan dalam Islam. Agama Islam pada diri seorang Muslim harus dibenarkan dengan hati (iman) dan dipraktikkan dengan perbuatan (Islam).

ihsan adalah penyatuan dari iman dan Islam. Artinya, seseorang tidak akan bisa melihat Allah SWT, jika tidak percaya akan Mahawujud-Nya, serta tidak mengamalkan apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Ihsan bisa diraih jika iman dan Islam telah menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam diri seorang Muslim. Sebab, iman tidak bermakna tanpa Islam. Dan Islam tanpa iman akan rapuh.

Namun, ada sebagian ulama yang mendahulukan Islam, kemudian iman, dan ihsan. Alasannya adalah karena Islam adalah amalan lahir yang rasional, sedangkan iman adalah amalan batin yang suprarasional. Dan ikhsan adalah puncak pencapaian dari keduanya dan melampaui keduanya.

Kenapa ihsan diakhirkan? Hal itu menjadi isyarat bahwa ia adalah hal yang sulit dilakukan. Jika Islam terbatas pada lahiriah, iman terbatas pada batiniah, maka ikhsan tidak terbatas pada keduanya, karena berusaha memfokuskan kesadaran kita akan Allah SWT setiap saat. 

Oleh Juman Romarif