Cukuplah Allah sebagai Al-Wakiil

Al-Wakiil artinya Allah Maha Pelindung, dan al-Kafiil yang bisa diartikan dengan Allah Maha Menegakkan segala urusan lagi Maha Menjamin. Di dalam al-Quran amat banyak disebut tentang al-Wakiil danal-Kafiil. Bahwa Allah adalah Penjaga, Penolong, Pemelihara dan Penjamin kita. “Wa kafaa billaahi wakiil,” dan cukuplah Hus.

Jadi, barang siapa yang mencukupkan Allah sebagai Pelindung dan Penjamin, maka dengan kemurahan Allah dirinya akan terjamin dan terlindungi. Orang yang yakin kepada Allah, hidunya pasti tenang dan pasti banyak mendapat pertolongan-Nya. Karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

“Dan bertawakalah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai Wakiil.”(QS. al-Ahzb [33]: 3). Orang yang bertawakal kepada-Nya itu derajatnya tinggi. Dalam beramal pasti lillaahitaala. Tidak ada lagi niat macam-macam, sebab dia yakin Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Para ahli tawakal itu orang-orang top, sehingga jangan meremehkan mereka.

Nah, penyakit kita adalah berprasangka buruk kepada Allah, dan tidak rida terhadap ketentuan-Nya. Padahal, Allah yang melindungi, menjamin, memelihara dan menjaga segala-galanya. Secara umum, pemeliharaan Allah meliputi seluruh jenis pepohonan, binatang, hingga orang-orang yang zalim seperti yang di Israel.

“Demikian itulah Allah, Tuhan Pemelihara kamu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia. Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. al-Anm [6]: 102).Dan,“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Hd [11]: 12)

Seperti saat menulis atau membaca tulisan ini, diam-diam kita terus diurus Allah. Sedangkan kita jangankan mengurus diri sendiri, karena mandi saja kita jarang. Sekali mandi juga tidak bersih, atau kerepotan untuk mencuci seluruh tubuh. Kita paling bisanya hanya cuci mata. Sama dengan orang yang di Israel itu juga diurus oleh Allah. Mereka tidak mengerti bagaimana mengurus tubuhnya sendiri. Kita sama-sama makhluk-Nya.

Rumput, nyamuk, kambing, maupun kita yang jarang ingat kepada Allah dan mereka yang zalim, tetap dicukupi oleh Allah. Memang begitu kecukupan yang umum dari Allah. Tidak perlu lagi repot memikirkan rezeki atau jodoh datang dari mana misalnya. Hanya membuat pusing kalau semuanya dipikirkan. Kita pun tidak pernah tahu dan tidak mampu memikirkan, apa saja kebutuhan kita selama ini yang sudah dicukupi oleh Allah.

Yang harus kita kejar adalah kecukupan atau pemeliharaan yang khusus dari Allah. Yaitu kecukupan batin. Tidak sekadar lahiriah, tapi pemeliharaan atas hati, akal, amal, ibadah, hidup dan mati kita. Jaminan ketenangan dan pertolongan-Nya. Karena itulah kita harus terus-menerus berupaya agar benar-benar yakin kepada al-Wakiil.

Cukuplah Allah Pelindung kita. Contohnya terhadap orang-orang yang berkata sepenuhnya taat,“Tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari, berbeda dengan yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakalah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Penjaga, Pelindung, dan Pemelihara.” (QS. an-Nis[4]: 81)

Ayo, saudaraku! Kita cukupkan Allah sebagai Wakiil. Agar hidup kita dilindungi Allah, seperti dengan dimudahkan taat, dijauhkan dari maksiat, serta dibuat selalu ingat dan terus-menerus bersandar hanya kepada-Nya. Apa pun yang diberikan Allah, kita tidak boleh sok tahu di hadapan Yang Maha Mengetahui. Pasrahkan saja semua kepada pertolongan-Nya. Mari kita berupaya menjadi ahli tawakal! [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2271422/cukuplah-allah-sebagai-al-wakiil#sthash.VR8Qszgd.dpuf

Jadikan Sejarah Orang Saleh Sebagai Cermin Besar

IMAM al-Syafi’i berkata: “Ada banyak orang yang sudah mati, namun kemuliannya tidak mati-mati. Ada banyak orang yang masih hidup, namun telah dianggap mati oleh manusia.” Sungguh lebih baik akrab dengan orang yang sudah mati namun kemuliannya tetap bisa menggugah hati kita menjadi selalu hidup, ketimbang bersahabat dengan orang yang masih hidup yang menjadikan hati kita mati.

Membaca sejarah hidup para nabi, para sahabat nabi dan para ulama sungguh merupakan aktifitas yang menghidupkan hati. Mengetahui kesungguhan mereka dalam beragama menjadikan kita malu untuk mengaku sebagai ahli surga, tapi tak mengendorkan semangat untuk terus berupaya menjadi ahli surga. Sejarah mereka adalah sejarah teladan sejarah inspiratif, sejarah yang mencerahkan jiwa.

Melihat perilaku beberapa orang yang masih hidup yang kehidupannya dipenuhi oleh ambisi tanpa batas, bertengkar dan bertarung demi kertas-kertas yang bernama uang, fitnah kanan fitnah kiri demi ketamakan dan kedengkian sungguh menjadikan hati kita merasa ngeri dan takut hidup, buram dan semakin meredup andai saja tak istiqamah berdzikir dan berfikir positif. Dzikir begitu kuat menjadikan hati tetap tenteran, pikiran positif begitu ampuh menjadikan diri tetap benjadi bijak dan istiqamah.

Sejarah orang-orang saleh adalah cermin besar yang bisa selalu dijadikan media kita berkaca, karena sejarah mereka adalah cermin bening yang tak retak. Jangan berkaca pada cermin retak, sudah retak buramlah pula. Karena berkaca pada cermin semacam itu tak akan menjadikan kita mengetahui hakikat diri kita.

Yang paling penting untuk dijaga dan jangan sampai dilakukan adalah memecahkan kaca cermin yang bersih dan tak retak hanya untuk menutupi kejelekan wajah kita yang sesungguhnya. Perilaku seperti ini sungguh merusak cermin, merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain yang tulus ingin berkaca. Salam, AIM.

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2278266/jadikan-sejarah-orang-saleh-sebagai-cermin-besar#sthash.EgTrEYIk.dpuf

Doa Malaikat Pemikul Arsy, Untuk Kalangan Terbatas

Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah.

Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini. Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ ( ) رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ( ) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ( ) Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, ( ) dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar“. (QS. Ghafir: 7 – 9)

Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu,

  1. Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..”
  2. Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala
  3. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal.
  4. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga.
  5. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan..

MasyaaAllah, doa yang luar biasa. Kita bisa bayangkan, orang yang mendapat doa ini tentu sangat bahagia. Tapi tunggu dulu.., doa ini bersyarat:

  1. Hanya untuk orang yang beriman (mukmin)
  2. Hanya mukmin yang bertaubat
  3. Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya.

Semoga kita termasuk salah satunya…

 

Penulis: Ust. Ammi Nur Ba’its, ST., BA.

Sumber: muslimah.or.id

Inilah Empat Cara Allah Memberi Rezeki Mahkluknya

Berikut ini adalah beberapa cara Allah dalam memberikan rezeki kepada semua mahkluknya menurut al Quran:

1. Tingkat rezeki pertama yang dijamin oleh Allah

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6).

Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Hal tersebut adalah rezeki dasar yang terendah.

2. Tingkat rezeki kedua yang didapat sesuai dengan apa yang diusahakan.

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika seseorang bekerja selama dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, seseorang akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu seorang muslim atau kafir.

3. Tingkat rezeki ketiga adalah rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur.

” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Inilah rezeki bagi orang yang disayang oleh Allah. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak.

Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4. Tingkat rezeki keempat adalah rezeki istimewa dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang yang bertakwa dan bertawakal pada Allah SWT.

“. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq:2-3)

Peringkat rezeki yang keempat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Rezeki ini akan Allah berikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin pada saat seseorang berada dalam kondisi sangat sangat membutuhkan.[ ]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2275498/inilah-empat-cara-allah-memberi-rezeki-mahkluknya#sthash.93Cgraa3.dpuf

TANDA KEBESARAN DAN KEAGUNGAN ALLAH ‘AZZA WA JALLA PADA MALAIKAT PEMIKUL ‘ARSY-NYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah ta’ala berfirman,

وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

? “Dan yang memikul ‘arsy Rabbmu di hari itu ada delapan malaikat.” [Al-Haaqah: 17]

➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

? “Aku telah diizinkan untuk mengabarkan tentang para malaikat pemikul ‘arsy, sesungguhnya satu malaikat, jarak antara daun telinga sampai ke bahunya, sejauh perjalanan 700 tahun.” [HR. Abu Daud dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 151]

➡ Asy-Syaikhul Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

وهؤلاء الملائكة، قد وكلهم الله تعالى بحمل عرشه العظيم، فلا شك أنهم من أكبر الملائكة وأعظمهم وأقواهم، واختيار الله لهم لحمل عرشه، وتقديمهم في الذكر، وقربهم منه، يدل على أنهم أفضل أجناس الملائكة عليهم السلام، قال تعالى: وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

? “Dan mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah ta’ala untuk memikul ‘arsy-Nya yang agung, maka tidak diragukan lagi bahwa mereka termasuk malaikat yang terbesar, teragung dan terkuat. Dan pilihan Allah untuk mereka dalam tugas memikul ‘arsy, serta penyebutan mereka yang didahulukan dan dekatnya mereka dengan Allah, menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa malaikat yang paling mulia ‘alaihimussalaam, Allah ta’ala berfirman: “Dan yang memikul ‘arsy Rabbmu di hari itu ada delapan malaikat.” (Al-Haaqoh: 17).” [Tafsir As-Sa’di, hal. 732]

➡ Asy-Syaikhul Muhaddits Al-‘Abbad hafizhahullah berkata,

أي: فإذا كان ما بين شحمة أذنه إلى عاتقه سبعمائة عام، فكيف ببقية جسمه؟ أي فهو على ضخامة عظيمة لا يعلم كنهها وقدرها إلا الله سبحانه وتعالى. وقد ذكر هذا الحديث في هذا الباب لأنه يتعلق بإثبات العرش، والله تعالى فوق العرش

? “Makna hadits: Apabila jarak antara daun telinga sampai ke bahunya 700 tahun, maka bagaimana lagi dengan sisa bagian badannya yang lain? Artinya malaikat tersebut sangat besar sekali, tidak ada yang mengetahui bentuk dan ukuran mereka kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Dan disebutkannya hadits ini dalam bab ini, karena hadits ini terkait dengan penetapan (keimanan) terhadap adanya ‘arsy, dan Allah ta’ala di atas ‘arsy.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 27/195, Asy-Syaamilah]

?#Beberapa_Pelajaran:

1) Keagungan dan kebesaran Allah tabaraka wa ta’ala yang Maha Mampu menciptakan, menguasai dan mengatur seluruh makhluk-Nya, yang besar dan yang kecil. Dan Dialah yang Maha Besar, seluruh makhluk kecil di hadapan-Nya.

2) Dialah Allah satu-satunya yang pantas disembah, mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya adalah perendahan terhadap-Nya, karena itu berarti menyamakan-Nya dengan makhluk-makhluk yang kecil lagi hina dan kadang kotor penuh dosa dan najis, oleh karena itu kesyirikan adalah dosa, kezaliman dan kebodohan terbesar.

3) Agungnya ‘arsy Allah ta’ala sebagai makhluk terbesar dan atap seluruh makhluk, Allah di atasnya tanpa membutuhkannya sedikit pun, bahkan ‘arsy dan seluruh makhluk yang butuh kepada-Nya. Dan Allah lebih besar dari seluruh makhluk-Nya.

4) Keutamaan para malaikat yang memikul ‘arsy, maka wajib mencintai dan memuliakan mereka.

5) Keutamaan para ulama, penuntut ilmu dan pengajar kebaikan, dari tiga sisi:

➡Pertama: Allah ta’ala telah menyebutkan persaksian para ulama dan malaikat terhadap tauhid secara bersamaan,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Menegakkan Keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mempersaksikannya). Tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali Imron: 18]

➡Kedua: Para ulama, penuntut ilmu dan pengajar kebaikan senantiasa didoakan oleh para malaikat, dan yang mendoakan mereka adalah para pemikul ‘arsy (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 6/484).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya sebuah jalan menuju surga, dan sungguh malaikat menghamparkan sayapnya karena ridho kepada penuntut ilmu, dan sungguh seorang ulama itu dimohonkan ampun baginya penduduk langit dan bumi, sampai ikan di kedalaman laut, dan sungguh keutamaan orang yang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama di atas seluruh bintang-bintang, dan sungguh para ulama adalah pewaris para nabi, dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ (فِي الْبَحْرِ) لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi, sampai semut di sarangnya, bahkan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 1838]

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ

“Seorang ulama yang mengamalkan ilmu serta mangajarkannya dimuliakan para malaikat yang ada di langit.” [Diriwayatkan At-Tirmidzi]

➡Ketiga: Allah ta’ala menyebutkan orang-orang yang hadir di majelis ilmu di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya jalan ke surga, dan tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dicurahkan kasih sayang, diliputi para malaikat dan Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhyillahu’anhu]

6) Para malaikat yang besar lagi gagah perkasa tersebut tunduk kepada Allah ta’ala, senantiasa beribadah kepada-Nya dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, maka kita sebagai makhluk yang lemah lagi kecil sepatutnya lebih takut dan tunduk kepada Allah jalla wa ‘ala dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

7) Para malaikat yang sangat dekat dengan Allah dan paling mulia pun beribadah kepada-Nya, maka tidak patut mereka dipersekutukan dengan Allah ta’ala, dan tentunya makhluk-makhluk yang derajatnya lebih rendah dan lebih jauh dari Allah daripada mereka, lebih tidak patut lagi untuk dipersekutukan dengan Allah ta’ala.

8) Mengenal kebesaran dan keagungan Allah melalui ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.

9) Menyadari kelemahan dan kehinaan kita sebagai makhluk, maka sangat tidak patut untuk menyombongkan diri, dan hakikat sombong adalah menganggap remeh manusia dan menolak kebenaran.

10) Sebagaimana ‘Arsy adalah makhluk yang nyata, demikian pula Malaikat adalah makhluk yang nyata dan memiliki sifat-sifat yang terpuji, dan setan juga makhluk yang nyata dan memiliki sifat-sifat tercela, tidak seperti keyakinan sebagian ahli filsafat bahwa malaikat hanyalah potensi baik dalam diri manusia dan setan hanyalah unsur jelek dalam diri manusia, oleh karena itu diantara perusak aqidah terbesar adalah ilmu filsafat.

Sumber: sofyanruray.info

Teladani Ulama dalam Menuntut Ilmu

Berapa menit waktuku terbuang hanya untuk mengunyah makanan berlama-lama? Padahal masih banyak hal dari agama ini yang belum aku ketahui

SUNGGUH besar mujahadah para ulama kita dalam memperjuangkan dakwah Islam. Mereka mengerahkan segala yang dimiliki untuk mempelajari dan menjaga ilmu-ilmu Islam. Alhasil, buah dari ketekunan mereka pun dapat dinikmati oleh jutaan kaum muslimin di seluruh dunia. Baik berupa kumpulan hadits, tafsir, kamus, maupun kitab-kitab syari’at dan akhlak yang sangat berfaedah bukan saja untuk manusia sezamannya, tetapi juga untuk umat yang datang kemudian.

Tekun

Di kalangan mufassir, siapa yang tidak kenal Abdullah bin ‘Abbas? Semasa hidupnya, ia dikenal sangat gigih menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wa Sallam, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiallahu Anhu. Tak heran anak paman Nabi ini mendapat gelar Turjumanul Qur’an (ahli tafsir Qur’an). Bahkan karena kecerdasannya dalam masalah agama, ia diikutkan dalam majelis syuro bersama sahabat-sahabat Badar.

Salah seorang murid istimewanya, Mujahid ibnu Jabr (Imam Mujahid), seorang ulama dari generasi tabi’in berkata, sebagaimana di riwayatkan oleh Fudhail bin Maimun, ”Aku belajar kepada Ibnu ‘Abbas sebanyak tiga kali pengulangan. Ketika berhenti dalam setiap ayat, aku bertanya kepadanya tentang ayat itu, dimana, kapan dan bagaimana diturunkan. Kami menggali hikmah dalam setiap ayat, hukum-hukumnya, pemahaman dan rahasia pengetahuannya.”

Ketekunan lain ditunjukkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia hampir tidak pernah tertinggal dari kegiatan Rasulullah SAW dalam berbagai keadaan. Dialah salah satu sahabat yang selalu mempersiapkan sandal Nabi, membantu keperluan dan menyediakan air wudhunya. Sampai ia berkata, ”Tidaklah ada satu surat dan ayat Al Qur’an diturunkan, kecuali aku mengetahui dimana dan kapan diturunkan serta mengenai masalah apa ayat tersebut berkaitan. Sungguh, seandainya ada orang yang lebih alim tentang Al Qur’an, niscaya aku akan belajar kepadanya walau dengan menunggang unta yang jauh jaraknya.” Karena kecemerlangannya dalam ilmu agama, ia dijuluki sebagai ulamanya para sahabat.

Umar bin Khathtab yang disibukkan dengan perdagangan tidaklah lepas kesungguhannya untuk terus mempelajari ilmu dari Rasulullah. Ia bergantian dengan sahabat Anshor Bani Umayyah bin Zaid mendatangi majelisnya Nabi. Demikian juga yang lainnya, jika salah seorang berhalangan, maka akan bertanya kepada yang hadir.

Seseorang yang telah lanjut usia titip pertanyaan kepada murid Imam Ahmad bin Hanbal untuk diteruskan kepada sang guru, apakah masih perlu ia menuntut ilmu? Imam Ahmad menjawab, ”Kalau ia masih pantas untuk hidup, maka pantas pula ia menuntut ilmu.” Dalam kesempatan lain Imam Ahmad ditanya, “Sampai kapankah seseorang belajar?” Beliau menjawab, ”Sampai kamu masuk kubur!” Untuk keperluan menuntut ilmu, Imam Ahmad pernah berangkat dari Madinah ke Baghdad belajar kepada Imam As-Shon’aniy dengan perjalanan berhari-hari.

Abdul Qadir Jailani pernah ditimpa kelaparan dan hampir mati karena kehabisan bekal dalam menuntut ilmu. Dia pun pernah pergi ke padang rumput dan mencari pucuk-puuk daun tumbuhan untuk dimakan demi menyembuhkan rasa laparnya.

Siapa yang tidak kenal Imam Bukhari? Dalam mempelajari hadits, ia memiliki guru lebih dari 1000 syeikh. Ia melakukan perjalanan yang panjang. Buah dari ketekunannya, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 10.000 hadits.

Waktu-waktu malam hari, biasanya ia habiskan untuk mengulang dan menelaah ilmu yang ia dapatkan hingga pernah menyalakan lampu lebih dari 20 kali dalam semalam untuk menghafal hadits dan sanadnya. Jarak yang jauh dari sumber ilmu, tidak membuatnya patah arang. Ia tidak segan menjelajah gurun pasir yang panas, menembus badai dan kota-kota untuk mendapatkan hadits dari kota Bukhooro (Uzbekistan, Asia Tengah) hinga ke Makkah dan Madinah.

Menghargi Waktu

Penghargaan dan perhatian ulama dalam menggunakan waktu memang luar biasa. Imam Ibnu Abi Hatim ketika mau makan kue, ia menunggu sampai kering, setelah kering dicelupkan dalam air.

Ketika kebiasaan itu ditanyakan oleh muridnya, ia menjawab, ”Berapa menit waktuku terbuang hanya untuk mengunyah makanan berlama-lama. Masih banyak hal dari agama ini yang belum aku ketahui. Kalau roti tersebut kering lantas aku celup dengan air, bukankah hal ini mempercepat waktu makan dan hasilnyapun sama.”

Imam Syafi’I berkata, ”Bermalam-malam untuk menelaah ilmu lebih aku sukai dari pada tidur bersama wanita cantik dan kaya.” Beliau juga berkata, ”Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara yang mesti dipenuhi. Yaitu semangat, kesungguhan, kecerdasan, perbekalan yang cukup, petunjuk guru dan panjangnya waktu.” Kamar beliau penuh dengan kitab-kitab, hingga hanya sekadar untuk selonjorpun sulit.

Semangat Menyala

Imam Jauzi mengatakan, “Semangat para ulama mutaqaddimin sangat luar biasa dalam menuntut ilmu.” Di antara ulama ada yang masih sempat bertanya kepada ulama lain menjelang wafatnya. Ketika ditanya mengapa masih sempat melakukan hal demikian, iapun menjawab, ”Aku meninggal dalam keadaan mengetahui satu bab lebih baik daripada tidak mengetahuinya.”

Di antara mereka juga ada yang belajar di bawah cahaya rembulan seperti Jarir bin Hasyim. “Aku belajar kepada Al-Hasan selama tujuh tahun, dan selama kurun itu, aku tidak pernah absen,” katanya.

Selain secuil kutipan di atas, masih banyak lagi kegigihan yang dicontohkan ulama-ulama besar yang sungguh di luar nalar manusia awam dalam menekuni ilmu. Sebutlah misalnya, Imam Ibnu Qayyim Al-Juziyah, murid dari Ibnu Taimiyah yang mampu mengarang kitab Zaadul Ma’aad dalam perjalanan hajinya. Kitab tersebut terdiri 6 jilid, masing-masing jilid rata-rata 400 sampai 500 halaman.

Ada lagi Ibnu Hajar Al-Asqalani yang belajar Sunan Ibnu Majah dalam empat majelis, Shahih Muslim dalam empat majelis, Sunan Nasai dalam dua majelis, yang semua dilakukan dalam waktu yang sangat padat. Beliau juga menelorkan karya istimewa, yaitu kitab Fathul Bari syarah Shahih Bukhari yang digambarkan sebagai penutup hijrah pencerahan, yang artinya tidak ada yang mampu menandingi kitab syarah karya beliau yang lebih lengkap sesudahnya. Subhanallah!

Akhirul Kalam

Umat yang hidup hari ini layak bersyukur atas buah dari mujahadah mereka yang tak kenal lelah. Terbuktilah bahwa keterpaduan kecerdasan, kekuatan hafalan, kefasihan dan keindahan tutur kata, keluhuran akhlak, ketekunan ibadah yang luar biasa, ditambah dengan kemauan yang kuat, telah melahirkan karya yang tak lekang oleh zaman.

Manusia pun berbondong-bondong ingin menghilangkan dahaga rohaninya dengan mereguk karya-karyanya. Merekalah orang-orang pilihan Allah. Semoga kita dapat memetik sekuntum hikmah dari kisah di atas.*/diambil dari Majalah Suara Hidayatullah bulan Juni 2006

 

sumber: Hidayatullah

Wasiat Emas Imam Syafi’i seputar Menuntut Ilmu

Nama Imam Syafi’i rohimahulloh tak asing lagi di telinga kaum muslimin. Bahkan kebanyakan kaum muslimin di negeri ini menisbatkan dirinya kepada madzhab beliau rohimahulloh.

Untuk itulah, perlu kiranya kita mengetahui bagaimana Imam Syafi’i ini mewajibkan para penuntut ilmu agar kembali merujuk kepada dalil-dalil syar’i dalam mempelajari ilmu syar’i.

Mutiara Emas Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i rohimahulloh telah membuat perumpamaan bagi penuntut ilmu syar’i yang tidak berdasarkan hujjah. Beliau berkata:

مَثَلُ الَّذِيْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلاَ حُجَّةٍ كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ، يَحْمِلُ حُزْمَةَ حَطَبٍ وَفِيْهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِيْ.

Perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah adalah seperti orang yang mencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu, di mana di dalamnya terdapat ular yang siap mematuknya, sedangkan dia tidak mengetahuinya.” (Manaqib Syafi’i, karya al-Baihaqi, jilid 2, hal. 143; al-Madkhol, karya beliau juga, no. 262, hal. 211; Hilyah al-Auliya`, jilid IX, hal. 125; Adab asy-Syafi’i, karya Abu Hatim, hal. 100; Tawaali at-Ta`siis, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 135)

Dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa beliau rohimahulloh menganjurkan para penuntut ilmu ketika menuntut ilmu harus berdasarkan kepada hujjah yang berasal dari al-Qur`an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Apabila seseorang mempelajari ilmu agama, akan tetapi tidak merujuk kepada sumbernya yang asli, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka bisa saja ia akan mendapatkan masalah-masalah yang disangka termasuk agama, padahal bukan, sehingga akibatnya dapat terjatuh ke dalam penyimpangan.

Makna Ilmu

Para ulama telah menjelaskan bahwa kata ilmu apabila disebutkan secara mutlak dalam al-Qur`an, as-Sunnah, dan ungkapan para ulama adalah ilmu syar’i.

Imam Syafi’i rohimahulloh sendiri telah menyatakan:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ
إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَعِلْمَ الْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ
الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا
وَمَا سِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيْطَانِ

Setiap ilmu selain al-Qur`an adalah kesibukan,
Kecuali al-Hadits dan ilmu tentang pemahaman agama.
Ilmu itu apa yang padanya mengandung “ungkapan telah menyampaikan kepada kami” (sanad).
Sedangkan selain itu, adalah bisikan-bisikan setan.

(Diwan Imam Syafi’i, hal. 30, Darul Manar)

Selain beliau, Syaikh Bin Bazz telah menyatakan, “Sesungguhnya (kata) ilmu itu dilontarkan untuk banyak hal, akan tetapi menurut para ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Inilah yang dimaksud dalam Kitabulloh dan Sunnah RosulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam secara mutlak, yaitu ilmu tentang Alloh, Asma’-Nya, SifatNya, ilmu tentang hakNya atas hambaNya dan tentang segala sesuatu yang disyariatkan untuk mereka oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.“ (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, jilid 23, hal. 297)

Dalam muqoddimah Kitab al-‘Ilm, Syaikh ‘Utsaimin juga menjelaskan, “Yang kami maksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. yaitu ilmu yang diturunkan oleh Alloh kepada RosulNya yang berupa bukti-bukti yang nyata dan petunjuk. Jadi ilmu yang mengandung pujian adalah ilmu wahyu.” (Kitab al-’Ilm, hal. 7)

Dengan demikian, yang dimaksud dengan ilmu oleh Imam Syafi’i adalah ilmu syar’i.

Harus Berdasarkan Hujjah.

Hujjah adalah dasar dan landasan yang dijadikan sebagai penguat ilmu syariat tersebut.

Dalam ar-Risalah, beliau menyatakan:

فَكُلُّ مَا أَنْزَلَ فِيْ كِتَابِهِ – جَلَّ ثَنَاؤُهُ – رَحْمَةٌ وَحُجَّةٌ، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ.

Semua yang diturunkan (oleh Alloh) dalam kitabNya Jalla Tsanaa`uhu adalah rahmat dan hujjah. Orang yang mengetahuinya akan mengetahuinya, orang yang tidak mengetahuinya juga tidak akan mengetahuinya.” (Ar-Risalah, no. 43, hal. 19, tahqiq (diteliti) Syaikh Ahmad Syakir.)

Al-Muzani atau ar-Robi’ pernah menceritakan, “Kami pada suatu hari pernah berada di sisi Imam Syafi’i. Tiba-tiba ada seorang syaikh yang memakai pakaian dari shuf (wol), sedangkan di tangannya terdapat tongkat. Lalu asy-Syafi’i bangkit dan merapikan pakaiannya dan syaikh itu memberi salam kepada beliau lalu duduk. Syafi’i melihat syaikh tersebut dengan keadaan segan kepadanya.

Syaikh itu berkata, “Apakah aku boleh bertanya kepadamu?”

Syafi’i menjawab, “Bertanyalah!”

Orang itu berkata, “Apakah hujjah dalam agama Alloh?”

Asy-Syafi’i menjawab, “Kitabulloh.”

Syaikh itu bertanya, “Apa lagi?”

Asy-Syafi’i menjawab, “Ittifaq ummat”. (Siyar A’laam an-Nubala`: X/83-84 dan Miftah al-Jannah, karya as-Suyuti , no. 159, hal. 85-86)

Dalam sebuah atsar dari Imam Syafi’i yang lainnya adalah:

مَنْ تَعَلمََّ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْحِسَابِ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ، لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ.

“Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka kedudukannya menjadi agung, barangsiapa yang belajar fiqih maka kehormatannya menjadi mulia, barangsiapa yang menulis Hadits maka hujjahnya menjadi kuat, barangsiapa yang belajar bahasa maka tabiatnya menjadi lembut, barangsiapa yang belajar berhitung maka pendapatnya menjadi kuat, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat kepadanya.” (Tawaali at-Ta`siis bi Ma’ali Ibnu Idris, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 136)

Salah satu ungkapan beliau tersebut adalah “barangsiapa yang menulis Hadits, maka hujjahnya menjadi kuat”. Ini berarti bahwa salah satu hujjah yang dijadikan dasar dan landasan dalam agama adalah Hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, di antara hujjah yang dapat dijadikan sebagai landasan ilmu agama adalah al-Qur`an dan Hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنِِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.

Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnah NabiNya.” (HR. Hakim I/71, no. 319. Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 40, I/125.)

Maka kunci untuk dapat selamat dari kesesatan adalah dengan berpegang kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Ular yang Tersembunyipun Dapat Menggigitnya.

Dalam wasiat tersebut, Imam Syafi’i menjelaskan tentang resiko dan bahaya yang akan menimpa seorang penuntut ilmu apabila tidak berdasarkan kepada hujjah dalam mempelajari ilmu yaitu akan tersesat tanpa disadarinya.

Semoga Alloh merahmati beliau. Apabila seseorang mempelajari ilmu syariat tanpa dasar al-Qur`an dan Hadits yang shohih, maka akhirnya adalah berupa penyimpangan, kekeliruan dan kesesatan. Di antara contohnya adalah:

1. Menyangka tauhid, padahal syirik.

Apabila tidak berdasarkan dalil dari Kitabulloh atau Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menetapkan aqidah tauhidulloh, maka bisa saja meyakini bahwa suatu masalah adalah tauhid, padahal itu adalah kesyirikan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, sedangkan Alloh telah berfirman:

٤٨. إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa`: 48)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang bahayanya dalam Hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ الرحْمَنِ بْنِ أَبِيْ بَكْرَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ النِبي – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ : ((أَلاَ أُنَبِئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟))، ثَلاَثًا. قَالُوْا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : ((اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ)) .

Dari ‘Abdurrohman bin Abi Bakroh, dari bapaknya ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Ya, wahai Rosululloh!” Beliau berkata, “Menyekutukan Alloh dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhori, no. 2564 dan Muslim, no. 87)

Demikian juga tentang para malaikat, kitab-kitabNya, keterangan tentang para Nabi dan Rosul, hari akhir, qodho` dan qodar, serta masalah-masalah aqidah yang lainnya. Dimungkinkan seorang penuntut ilmu –yang tidak meruju’ kepada dalil syar’i- meyakini suatu keyakinan yang bertentangan dengan dalil-dalil yang shohih yang ada.

2. Mengira sunnah, padahal bid’ah.

Apabila mempelajari perkara-perkara yang disyariatkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam akan tetapi tidak kembali kepada al-Qur`an dan Hadits yang shohih dari beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi hanya perpegang kepada pendapat Imam Fulan dan Imam Fulan saja, maka bisa saja seseorang terjatuh dalam kebid’ahan, akan tetapi disangka termasuk sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara kami ini (yaitu perkara agama) apa yang tidak termasuk bagian darinya, maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhori, no. 2697 dan Muslim, 1718, sedangkan ini lafal al-Bukhori.)

Apabila keadaannya demikian, maka kerugianlah yang akan didapati.

3. Terjatuh ke dalam taklid yang terlarang.

Tatkala seorang penuntut ilmu mengikuti suatu pendapat di antara pendapat-pendapat ulama, akan tetapi tidak mengetahui dalil yang dijadikan sebagai landasannya, maka telah terjatuh ke dalam taklid yang terlarang.

Alloh telah berfirman:

٦٦. يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
٦٧. وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
٦٨. رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rosul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. al-Ahzab: 66-68)

Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i menjelaskan bahwa Thowus berkata:

سَادَتَنَا يَعْنِي اْلأَشْرَافَ، وَكُبَرَاءَنَا يَعْنِي الْعُلَمَاءَ.

“Pemuka-pemuka kami yaitu orang-orang mulia di antara kami, dan pembesar-pembesar kami yaitu para ulama.”

Kemudian beliau mengomentari atsar tersebut, “Maksudnya adalah kami telah mengikuti para pemuka yaitu para pemimpin dan orang-orang besar dari kalangan para syaikh dan kami telah menyelisihi para Rosul. Kami dahulu telah berkeyakinan bahwa mereka memiliki sesuatu (kebenaran, pen.) dan mereka di atas sesuatu (kebenaran, pen.), ternyata mereka tidak berada di atas sesuatu (kebenaran, pen.).” (Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim, jilid 11, hal. 245, di-tahqiq (diteliti) oleh beberapa pen-tahqiq.)

Al-Hajjaj bin Amr dahulu apabila bertemu, berkata, “Wahai sekalian orang Anshor, apakah kalian ingin mengatakan kepada Robb apabila kita menghadapNya, “Ya Robb, sesungguhnya kami dahulu telah mengikuti para pemuka dan pembesar kami, maka merekapun menyesatkan kami. Ya Robb kami, berikanlah kepada mereka dua kali lipat adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”” (Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim, hal. 246)

Selain itu, Imam Syafi’i juga telah melarang bertaklid kepada beliau dalam mutiaranya:

كُلُ مَا قُلْتُ – فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِح – فَحَدِيْثُ النَّبِيِّ أَوْلَى، فَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ.

Segala perkataanku, apabila apa yang shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyelisihi perkataanku, maka Hadits Nabi itulah yang lebih pantas untuk diikuti. Janganlah kalian bertaklid kepadaku.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir dan sanadnya dishohihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Shifat ash-Sholah, hal. 52.)

4. Menyangka suatu amalan mengandung keutamaan, padahal terdapat penyimpangan.

Tatkala dalil syar’i ditinggalkan dalam mempelajari ilmu syar’i, maka seseorang akan memperhatikan dan mengagungkan suatu amalan yang disangka mengandung keutamaan, padahal amalan tersebut menyimpang.

Imam Nawawi telah menyatakan:

لَيْسَ يَكْفِيْ فِي الْعِبَادَاتِ صُوَرُ الطَّاعَاتِ، بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ كَوْنِهَا عَلَى وِفْقِ الْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّاتِ.

Dalam melakukan ibadah-ibadah, tidaklah cukup hanya dengan bentuk-bentuk ketaatan, akan tetapi harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariat.” (Muqoddimah al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hal. 3, tahqiq Dr. Mahmud Mathroji, Darul Fikr, cet. 1, 1417 H, Beirut)

5. Apabila mendakwahkan kesesatan, maka akan menyesatkan.

Apabila perkara-perkara yang termasuk syirik, atau kekufuran atau kebid’ahan atau penyimpangan-penyimpangan syariat disampaikan kepada orang lain, maka orang yang menyampaikan ilmu syar’i tanpa dalil tersebut akan menjadi penyesat bagi orang lain.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّلاَءَ، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا.

Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu itu dengan mencabutnya dari hamba-hambaNya, akan tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai apabila tidak tersisa satu orang alimpun, maka manusia akan mengangkat para pemimpin atau penguasa yang jahil (bodoh-bodoh), lalu mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa didasari dengan ilmu, maka merekapun tersesat dan menyesatkan (orang lain).” (HR. Bukhori, no. 100, 7308 dan Muslim, no. 2673)

Al-Hafidh Ibnu Hajar asy-Syafi’i mengatakan, “Dalam Hadits ini terdapat (penjelasan) bahwa berfatwa adalah kepemimpinan yang hakiki dan celaan bagi yang melakukannya tanpa ilmu.” (Fath al-Bari, I/258 Darus Salam, Riyadh, cet. 1, 1421/2000M)

oleh Abu ‘Ashim Muhtar Arifin, Lc.

– See more at: http://www.majalahislami.com/2011/08/wasiat-emas-imam-syafi%E2%80%99i-seputar-menuntut-ilmu/#sthash.G0Exiv5W.dpuf

Roja’ bin Haiwah, Ulama’ Terkemuka di Syam

“Sesungguhnya di Kindah terdapat tiga lelaki, karena merekalah Allah menurunkan hujan. Dan karena mereka pula, Allah menangkan kaum muslimin atas musuh mereka. Salah satu dari mereka adalah Roja’ bin Haiwah” ( Maslamah bin Abdul Malik )

Pada masa tabi’in terdapat tiga lelaki yang tak ada seorangpun yang menandingi mereka karena ilmu dan ketakwaan mereka. Ketiganya adalah Muhammad bin Siirin dari Iraq. Al Qoshim bin Muhammad bin Abi Bakr dari bumi Hijaz. Dan yang terakhir Roja’ bin Haiwah dari bumi Syam.

Roja’ lahir di Palestina. Saat itu kaum muslimin sedang dipimpin oleh Usman bin Affan. Ia berasal dari kabilah Kindah. Seolah ia adalah lelaki berkebangsaan palestina, namun berasal dari Arab, dan dididik dari kabilah Kindah.

Sejak kecil ia tumbuh menjadi pemuda yang taat kepada Allah. Allah mencintainya dan menjadikan para mahluk juga cinta padanya. Ia juga telah pergi menuntut ilmu sejak belia, berharap dapat menguasai al Qur’an dan Hadits.

Ia memiliki syiar hidup yang sangat indah, yang isinya,
“Betapa indahnya islam jika diiringi dengan iman
Betapa indahnya iman jika diiringi ketakwaan
Betapa indahnya takwa jika diiringi ilmu
Betapa indahnya ilmu jika diiringi amal
Betapa indahnya amal jika diiringi kelemah lembutan”

Roja’ merupakan mentri dari para Khalifah Umayyah. Yaitu dari masa Abdul Malik bin Marwan sampai masa Umar bin Abdul Aziz. Ia begitu dekat dengan para khalifah karena kejujurannya, keikhlasan serta kepandaiannya

Ia berkisah, “Suatu hari aku bersama Sulaiman bin Abdul Malik dan beberapa orang bersama kami. Tiba tiba seorang lelaki mendekatiku. Penampilannya sungguh menarik dan elok dipandang. Lalu ia berkata,
“Wahai Roja’, engkau di uji dengan lelaki ini,” sambil menunjuk kepada Kholifah.

“Berdekatan dengannya terdapat kebaikan juga keburukan,”tambahnya.
Ia kembali menasehatiku, “Jadikanlah kedekatanmu dengan kholifah kebaikan bagimu, bagi kholifah juga bagi kaum muslimin. Ketahuilah wahai Roja’ barang siapa yang memiliki kedudukan dalam sebuah kekuasaan, lalu ia membantu yang lemah, maka ia akan bertemu dengan Allah mudahkan hisabnya. Ketahuilah wahai Roja’ barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan amal yang paling di cintai Allah adalah membahagiakan saudaranya muslim.”

Ketika aku merenungi perkataannya, kholifah memanggilku. Ia menanyaiku tentang sesuatu, lalu aku pun menjawabnya. Namun ketika aku menoleh ke lelaki tersebut ia telah menghilang. Aku terus mencarinya namun tak jua mendapatinya.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang tidak menyukai kekuasaan Dinasti Umayyah. Mengetahui hal tersebut Kholifah Abdul Malik bin Marwan berusaha menangkapnya, lalu ia akan di hukum mati. Tidak lama setelah itu kholifah berhasil menangkapnya. Namun Roja’ berkata,

“Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah memberikan apa yang engkau cintai berupa kekuasaan, maka berikan apa yang di cintai Allah berupa sifat pemaaf.”

Maka hati khalifah menjadi tenang dan memaafkan lelaki tersebut.
Roja’ sangat dekat dengan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Ia adalah penasehat terpercaya bagi khalifah. Bahkan ketika sang khalifah mendekati ajalnya, ia meminta pendapat Roja’ mengenai penggantinya. Maka Roja’ pun memilih Umar bin Abdul Aziz karna ketakwaan dan ilmunya. Khalifah juga memilih Roja’ untuk membawa surat wasiat khalifah. Sampai akhirnya di bacakan dihadapan kaum muslimin.
Sungguh mulia khalifah kaum muslimin, Sulaiman bin Abdul Malik
Ia telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan memilih seorang lelaki sholih sebagai penggantinya.

Sungguh mulia penasehat para khalifah, Roja’ bin Haiwah
Ia telah menasehati karena Allah dengan sebaik baik nasehat demi kepentingan kaum muslimin.

Semoga Allah menerima amal sekelompok manusia sholih dan memberi mereka sebaik-baik balasan.

Disarikan dari kitab Suwar min Hayatit Tabi’in

 

Oleh: Renny Istiqomah

sumber: Bumi Syam

Masya Allah, Muhammad Ali dan Mike Tyson Baca Al-Qur’an Bersama Hebohkan Netizen

Bicara soal Muhammad Ali dan Mike Tyson tentunya tidak bisa dilepaskan dari dunia olahraga tinju. Ya, kedua pria tersebut merupakan legenda tinju yang prestasinya sudah tidak perlu diragukan lagi.

Namun, tak hanya soal prestasi, kehidupan pribadi keduanya pun menarik masyarakat untuk mengetahui lebih jauh, sehingga tidaklah heran ketika foto Ali dan Tyson yang tengah membaca Alquran tersebar di dunia maya netizen langsung heboh.

Dalam foto yang beredar di sosial media, Facebook tersebut terlihat Muhammad Ali tengah memegang sebuah Alquran, sedangkan Mike Tyson duduk disamping Ali sambil tersenyum. “Mike Tyson islam ke??” komentar pemilik akun Facebook Danish Danial dalam foto tersebut.

Muhammad Ali resmi memeluk agama Islam pada tahun 1964, sebelumnya ia lebih dikenal dengan nama Cassius Clay.

Sedangkan Mike Tyson baru memeluk Islam pada tahun 90-an atau tepatnya saat ia menghabiskan waktu selama tiga tahun di dalam penjara karena memperkosa Miss Black America, Desiree Washington pada 1991. Tyson pun mengganti nama menjadi Malik Abdul Azis. Pada 2010 lalu, dia juga telah menunaikan umrah ke Tanah Suci. [AW/Bintang]

 

sumber: Panji Mas