Semua Atas Izin Allah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Tiada satupun racun, sekuat apapun racun itu, yang bisa membuat mati. Kematian terjadi hanya atas izin Allah Swt. Racun sama sekali tidak mematikan. Racun hanya jalan dari kematian yang Allah tetapkan. Ini hanya sebuah ilustrasi.

Kita tidak boleh memiliki pikiran atau keyakinan bahwa ada sesuatu yang bisa terjadi tanpa keterlibatan izin Allah. Sungguh, tidak ada selembar daunpun yang jatuh ke atas bumi melainkan ia jatuh atas izin Allah.

Perbuatan yang diusahakan oleh manusia adalah perbuatan yang Allah ridhoi dan Allah izinkan terjadi, maka perbuatan tersebut berbuah pahala. Sedangkan perbuatan yang diusahakan oleh manusia, lalu Allah mengizinkan itu terjadi namun Allah tidak ridho, maka berbuah dosa. Maka, tidak ada pencurian yang terjadi kecuali atas izin Allah, akan tetapi Allah tidak ridho dan bagi si pencuri pasti ada balasannya. Sedangkan bagi yang dicuri, jika dia tafakur, sabar dan taubat, maka baginya pahala dan naik derajatnya di hadapan Allah Swt.

Demikian pula dengan obat. Obat tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa menyembuhkan, kecuali atas izin Allah. Obat hanya jalan bagi ketetapan Allah untuk menyembuhkan seseorang.

Allah Swt. berfirman, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Yunus [10]:107)

Jadi, kejadian apapun, baik kita sukai maupun yang tidak kita sukai, pasti terjadi atas izin Allah. Semoga kita senantiasa bisa menafakuri setiap kejadian apapun dan menjadi ladang amal bagi kita untuk mencapai derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Cukuplah Allah Bagi Kita

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Merajai seluruh kekuasaan di alam semesta ini mengkaruniakan kepada kita hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Tidak ada satupun perbuatan kecuali pasti ada balasannya di sisi Alloh Swt. Tidak ada yang luput sedikitpun perbuatan dari pengetahuan Alloh. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menyaksikan.

Setiap kebaikan ganjarannya akan dilipatgandakan. Setiap keburukan pasti dapat hukuman. Dan, setiap balasan dari Alloh itu pasti ada, pasti sempurna, pasti adil, pasti tepat, pasti benar, pasti tidak meleset. Tidak ada yang bisa menolak pembalasan dari Alloh Swt.

Pada peristiwa perang Uhud ada seseorang yang berkata kepada Rosululloh Saw.,Wahai Rosululloh, sesungguhnya orang-orang (kafir) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, maka takutlah kepada mereka!Lalu beliau Saw mengucapkan,”Hasbunallah wanimal wakil”,kemudian Alloh menurunkann ayat,”(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Alloh dan Rosul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Hasbunalloh Wanimal-Wakiil”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.(QS. 3:173).(HR. Bukhori).

Cukuplah Alloh sebagai penolong kita dan tempat kita memohon perlindungan. Tidak ada yang sebaik-baik pertolongan kecuali pertolongan Alloh. Tidak ada sebaik-baik keamanan kecuali keamanan dari Alloh. Dan, tidak ada sebaik-baik balasan kecuali balasan dari Alloh Swt.

Maka saudaraku, apa yang lebih baik dari penilaian Alloh? Tidak ada. Oleh karena itu, tidak perlu risau dengan pandangan makhluk yang semu. Fokus saja pada penilaian Alloh. Boleh jadi karena ketaatan kita kepada Alloh, kita dijauhi teman, kita dipandang nyinyir orang. Semua itu tidaklah berbahaya, yang berbahaya adalah kalau kita jauh dari Alloh, yang bahaya adalah kalau Alloh tidak peduli kepada kita.

Mari, kita fokuskan diri untuk mencintai Alloh dan rosul-Nya. Niscaya Alloh akan perintahkan para malaikat dan semua penghuni langit dan bumi untuk juga mencintai kita. Cukuplah Alloh bagi kita.Wallohualambishowab.

 

[smstauhiid]

Waspada Selama Puasa Ramadhan!

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan, menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa merasa disaksikan dan diperhatikan Allah Swt. Tidak ada rezeki yang lebih berharga di dunia ini daripada hati yanghaqqul yaqinkepada Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Kita sudah berada di bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Pertemuan kembali dengan bulan Ramadhan adalah karunia dari Allah yang wajib disyukuri. Karena betapa banyak orang yang berharap masih memiliki kesempatan usia untuk berjumpa lagi dengannya dan menikmati jamuan Allah Swt di bulan yang penuh keberkahan ini.

Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yang berkualitas, penuh dengan lantunan al-Quran dan sholat malam serta sedekah. Waspadalah dengan hal-hal yang mengurangi kualitas puasa Anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :

1. Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa Anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa. Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya di antara perkara yang sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah.

2. Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yang terpajang di FB apalagi Youtube.

3. Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Quran, sungguh ini adalah jebakan syaithan.

4. Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yang isinya banyak memamerkan aurat wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yang tidak bermanfaat.

5. Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga.

6. Kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu. Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati. Jangan sampai Anda menutup al-Quran karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk.

7. Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yang terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Quran.

8. Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya dan ujub karena menulis ibadah di status BBM, FB, atau WA. Contoh (alhamdulillah sudah khatam Quran 5 kali), atau (Sedang itikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.

9. Itikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih itikaf

10. Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.

Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yang mulia ini. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [*]

 

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2301748/waspada-selama-puasa-ramadhan#sthash.Xxysv7IA.dpuf

Untung Rugi Tergantung Bagaimana Menyikapi Waktu

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya, dan hanya kepada-Nya semua akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al Ashr [103] : 1-3)

Saudaraku, jadi Allah Swt telah menciptakan tolak ukur yang jelas untuk mengukur siapa yang beruntung dan siapa yang rugi. Kalau Allah sudah menyebut “untung”, maka itu untung yang sesungguhnya, untung di dunia dan untung di akhirat. Begitu juga jika Allah sudah menyebut rugi, maka itu rugi yang sesungguhnya, rugi di dunia dan rugi di akhirat.

Dalam surat Al Ashr ini Allah Swt menjelaskan bahwa untung ruginya seseorang itu bergantung pada penyikapannya terhadap waktu. Waktu itu terbagi menjadi tiga; waktu yang sudah berlalu dan tak mungkin kembali, waktu yang akan datang dan belum tentu bisa kita alami, dan waktu yang sedang kita jalani saat ini.

Waktu yang kita miliki jatahnya sama 24 jam. Ada orang yang dengan jatah waktu tersebut mampu mengurus negara, namun ada juga yang dengan jatah waktu tersebut mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Ada orang yang dengan jatah waktu tersebut mampu memenuhi target pekerjaan dan menghapal ayat-ayat Al Quran, namun ada juga yang dengan jatah waktu tersebut boro-boro sempat menghapal ayat Al Quran, tugas pekerjaannya pun tak ada yang terselesaikan.

Jadi, semua itu bukan karena masalah waktu, tapi karena masalah keterampilan memanfaatkan waktu. Disinilah untung dan rugi itu terjadi. Beruntunglah orang yang bisa memanfaatkan waktu dan merugilah orang yang tidak bisa memanfaatkannya.

Jatah waktu yang Rasulullah Saw miliki pun 24 jam. Tapi dengan jatah yang terbatas itu, Rasulullah Saw mampu mendakwahkan Islam yang akhirnya tidak hanya menjadi milik orang-orang Arab saja, namun semakin tersebar ke seluruh penjuru bumi.Maasyaa Allah.

Maka saudaraku, ada orang yang umur jasadnya pendek, tapi umur amal sholehnya panjang. Umur amalnya terus hidup meski jasadnya telah terkubur di dalam tanah. Betapa beruntung orang yang seperti ini, orang yang mampu memanfaatkan waktunya untuk amal sholeh. Beruntung di dunia dan di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang demikian.Aamiin yaa Robbal aalamiin.

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2248752/untung-rugi-tergantung-bagaimana-menyikapi-waktu#sthash.wz7Npqfk.dpuf

Selamat dari Siksa Kubur

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga. (Q.S. al-Baqarah [2]:25)

Allah yang Maha Perkasa telah berjanji kepada seluruh makhluk-Nya tentang satu hari yang pasti akan tiba dan tak satu pun dapat menolaknya. Itulah yaumil qiyamah, hari dimana setiap makhluk akan menerima. Namun, jauh sebelum itu Allah Swt. pun telah menjanjikan datangnya satu saat, khususnya untuk jin dan manusia, cepat atau lambat. Itulah sakaratul maut.

Oleh karena itu, sekiranya amalan yang banyak kita perbuat ketika di dunia adalah amalan shalih, niscaya kendati hanya sebesar dzarrah, Allah Swt. akan memperhitungkannya dan menyediakan pahala untuknya. Ingatlah janji Allah Swt, maka Allah pun akan lebih bersungguh-sungguh lagi memberikan karunia pertolongan untuk kita.

Berikut ini dikutipkan sebagian dari hadits shahih tentang amalan yang Insya Allah bisa menyelamatkan kita dari dahsyatnya azab kubur, sebagaimana yang diuraikan oleh syaikh Muhammad Majdi asy-Syahawi, dalam risalahnya, ahwatul qubur shuwaruha asbabuhan-najatu minha.

Syahawi menuliskan, antara lain, lima hal yang menyebabkan seseorang selamat dari siksa kubur:

Berjuang di Jalan Allah

Yang dimaksud berjuang di jalan Allah adalah selalu mempertahankan Islam dan wilayah Islam serta membela umat Islam dari serangan musuh-musuh Islam.

Rasulullah Saw. bersabda:

Berjuang dalam satu hari dan satu malam di jalan Allah adalah lebih baik daripada shaum sebulanpenuh yang pada malamnya melakukan shalat malam. Jika dia meninggal, maka mengalir amalnya yang dilakukan dan Allah akan memberikan balasan yang terbaik dan menyelamatkan dari siksa kubur.” (H.R. Muslim).

“Barang siapa meninggal karena jihad di jalan Allah, maka Allah Swt. akan mengalirkan rizqinya, menyelamatkannya dari semua prahara kubur dan dibangkitkan dari kubur dengan selamat dari malapetaka yang besar.” (H.R. Ibnu Majah).

Mati Syahid

“Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagaimanakah orang-orang mukmin itu disiksa di dalam kuburnya, terkecuali orang yang meninggal syahid? “Cukup kilauan pedang di atas kepalanya adalah sebagai ujian baginya (di dunia).” Jawab Rasulullah.” (H.R. An-Nasai)

Imam al-Hakim at-Tarmidzi menafsirkan jawaban Nabi di atas sebagai berikut: Jika terjadi pertempuran antara dua pasukan dan pedang berkilauan, sementara perjuangan itu (termasuk golongan orang-orang) munafik, maka mereka akan lari dari medan jihad. Sebab, sifat orang munafik adalah selalu lari jika melihat kondisi yang demikian.

Sedangkan sikap orang mukmin adalah selalu mengorbankan jiwanya dalam jihad dan dia hanya pasrah kepada Allah Swt. adapun gelora amarahnya dalam hati semata-mata karena Allah, untuk memperjuangkan agama-Nya, dan menegakkan syariat-Nya. Hal ini merupakan bukti nyata tentang kebenaran hati seorang yang beriman. Dia berlaga di medan perang untuk siap mati di jalan Allah. Cukuplah hal itu sebagai pengganti ujian dalam kuburnya.

Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang meninggal syahid di sisi Allah itu mempunyai enam keistimewaan: 1) diampuni dosanya ketika mulai mgucur darahnya; 2) diperlihatkan tempat di surga; 3) di selamatkan dari siksa kubur dan prahara hari kiamat yang sangat dahsyat; 4) diletakkan di atas kepalanya sebuah mahkota dari mutiara yang lebih baik dari pada dunia dan seisinya; 5) disiapkan 72 istri bidadari; 6) diberi izin untuk memberi syafaat kepada 70 keluarga dekatnya.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

  1. Meninggal karena Sakit Perut

“Abdullah bin Yasykur berkata, bahwa dia sedang duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid bin Arfadhah ketika orang-orang menyebutkan adanya seseorang yang meninggal karena sakit perut. Keduanya sangat ingin untuk melayat jenazahnya dan salah satunya berkata kepada lainnya, Barangsiapa yang meninggal karena sakit perut, maka dia tidak disiksa dalam kuburnya?” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

At-Thayalisi menyebutkan riwayat dalam musnadnya, bahwa salah seorang dari mereka berdua menjawab pertanyaan kawannya. Benar barang kali orang yang sakit perut itu tidak disiksa dalam kuburnya adalah karena Nabi SAW. bersabda, “orang yang meninggal karena sakit perut adalah syahid.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu dawud dan Ahmad).

1. Membaca Surat Al-Mulk

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesunguhnya surat yang terdiri dari 30 ayat adalah surat yang memberi syafaat kepada pembacanya. Sehingga pembacanya itu diampunkan dosanya, yaitu, tabarakalladzii biyadihiln mulk” (HR. Ahmad, adz Dzahabi, dll.; al-Bani dalam shahih al-Jami).

Abdullah bin Masud berkata, “Seorang yang meninggal, dalam kuburnya itu akan didatangi oleh dua Malaikat, kemudian keduanya berkata engkau tidak berhak untuk mendapat siksa kubur. Barangsiapa yang membacanya pada malam hari maka lebih baik baginya.

2. Meninggal Hari atau Malam Jumat

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yang meninggal pada hari atau malam jumat, maka dia diselamatkan dari siksa kubur, sedangkan pada hari kiamat dia akan datang dengan membawa stempel orang-orang yang mati syahid.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

sumber: Inilah.com

Jadilah Pejabat yang Mandiri

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

ALLAH, tiada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (kekuasaan dan ilmu-Nya) meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahaagung.”(QS. al-Baqarah [2]: 255)

Saudaraku. Alam semesta beserta seluruh isinya ciptaan dan milik Allah SWT. Semua yang ada di langit dan di bumi berada dalam kekuasaan dan ilmu-Nya (Kursi-Nya). Allah sama sekali tidak merasa berat mengurus semuanya. Karena tiada tuhan selain Dia Yang Mahatinggi, Mahaagung.

Allah Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri. Dia terus-menerus mengurus makhluk-Nya tanpa mengantuk maupun tidur, dan tidak ada satu pun yang terabaikan. Allah tidak membutuhkan sesuatu pun, Dia Maha Mandiri.

Pastinya, berbeda dengan kita, makhluk-Nya, yang kemampuannya sangat terbatas. Kita pasti memerlukan sesuatu, baik dalam mengurus diri sendiri, terlebih keluarga atau orang lain. Walau pun ada yang disebut sebagai orang yang paling mandiri, ia pasti tetap membutuhkan sesuatu.

Tetapi, keterbatasan yang dimiliki bukan berarti melemahkan upaya untuk terus mandiri. Justru kita harus mengambil hikmah dari asma Allah, al-Qayyum. Yang Maha Berdiri Sendiri. Kita harus terus berupaya mandiri dalam berbuat kebajikan.

Contohnya pejabat. Setiap pejabat pasti membutuhkan bantuan pihak lain dalam mengurus tugas yang dijabatnya. Misalnya kepala desa membutuhkan perangkat desa, bupati membutuhkan kepala dinas, presiden membutuhkan menteri, direktur memerlukan manajer, dan sebagainya.

Bahkan, jangankan untuk mengurus tugasnya, seperti kadang-kadang kepala desa juga membutuhkan pihak atau sesuatu yang lain untuk mengurus dirinya sendiri. Semakin tinggi dan luas wilayah jabatan seseorang, semakin membuatnya membutuhkan banyak bantuan. Tetapi menjadi aneh kalau semuanya harus dibantu. Terlebih dalam mengurus dirinya sendiri.

Saudaraku. Kalau kita seorang pejabat, jadilah pejabat yang mandiri. Jangan manja! Jangan karena merasa berkuasa malah menikmati memerintah orang lain. Seperti menyuruh orang membawakan kacamata dari mobil ke dalam kantor. Jika masih kuat bawalah sendiri. Atau, tidak mau turun dari mobil sebelum dibukakan pintu. Ingin dipersilakan dan disambut. Diberikan kursi yang spesial, mau makan disuapin. Malah seperti di rumah sakit.

Jangan merasa bangga ketika ada yang membukakan pintu maupun mempersilakan makan. Karena keinginan diperlakukan spesial seperti itu membuat kita tidak mandiri. Tidak mendekat kepada al-Qayyum. Ada pun seseorang yang ingin dinilai sesama makhluk, pekerjaan atau perbuatannya cenderung tidak berkualitas.

Tetapi, misalkan jika memang ada orang yang mau membantu membukakan pintu, maka jangan pula lebay menahannya, atau berpura-pura tawadhu. Karena yang begitu juga tidak bagus. Lurus dan biasa saja.

Sebagaimana Rasulullah Saw yang kemuliaan beliau benar-benar asli dan tiada banding. Suatu waktu beliau memasuki masjid dan tidak mendapati tempat duduk. Beberapa sahabat ada yang berdiri, bermaksud memberikan tempat duduk untuk beliau. Tapi beliau menolak dengan hanya sekilas memberi isyarat. Kemudian beliau segera duduk di mana saja yang kira-kira masih bisa.

Demikian pula dengan Umar bin Khaththab saat menjabat khalifah. Suatu waktu Umar melaksanakan ibadah haji. Lalu pada saat berada di Mekkah tersebut, Shafwan bin Umayyah menghidangkan makanan untuk Umar, yang dibawa empat orang pembantunya dalam mangkok besar. Setelah meletakkan makanan di hadapan Umar dan yang lainnya, para pembantu pun kembali berdiri.

Kontan Umar bertanya tentang para pembantu tersebut: “Apakah kalian tidak menyukai mereka?” Lalu Abu Sufyan yang menjawab: “Bukan, wahai Amirul Mukminin. Tetapi kita hanya menguasai mereka.”

Mendengar jawaban itu, Sayyidina Umar langsung marah besar: “Mengapa suatu kaum hanya menguasai pembantu. Allah akan melakukan sesuatu sesuai kehendak-Nya karena mereka.” Kemudian Umar berkata kepada para pembantu: “Duduklah dan makanlah.” Mereka pun duduk dan menikmati hidangan. Sedangkan Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab tidak makan.

Nah, kalau saudara menjadi pejabat, jangan menginginkan diperlakukan spesial. Caranya, sering-seringlah melihat aib kita sendiri. Misalnya, bahwa orang menghormati saudara hanya karena topeng duniawi yang dititipkan. Yang dihormati orang adalah jabatannya, bukan saudara. Buktinya ketika jabatan sudah dilepas, orang-orang pun sudah tidak menghormati sebagaimana waktu menjabat.

Jadi, sudahlah. Jangan merasa spesial dengan jabatan. Walaupun ada yang memperlakukan spesial, bukan berarti memang spesial. Karena perlakuan terhadap penjahat dan jenazah lebih spesial lagi. Jadilah mandiri!

Termasuk jika kita bertindak sebagai pejabat dalam rumah tangga. Jangan sampai membuat anak kita bertanya: “Mengapa setiap hari ayah cuma bisa berkata tolong ini dan ambilkan itu? Ayah sedang sakit?” Mandirilah jadi orangtua. Ambil sendiri apa yang bisa diambilkan. Jangan menikmati menyuruh-nyuruh anak-anak.[*]

 

sumber: Inilah.com

Jangan Berlebihan Mencintai Pasangan

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

SAUDARAKU. Rasulullah saw menyebut istri beliau, Aisyah RA, dengan sebutan Humaira. Karena warna kulit Aisyah memang agak kemerah-merahan, atau mungkin tepatnya berkulit putih.

Kita sering kali suka berlebihan. Misalkan ada suami yang memuji istrinya: “Duhai rembulan.” Si suami tidak tahu jika istrinya baru membaca tentang bentuk permukaan bulan. Sehingga istri tersinggung dan membalas: “Suamiku, engkaulah jantung hati. Rempelo persisnya.” Maksud memuji malah jadi bertengkar.

Jadi, meskipun sudah menikah tetap tidak boleh berlebihan dalam memuji pasangan. Apalagi menunjukkan kemesraan kepada setiap orang. Karena biasanya cenderung akting. Sedangkan sakinah datang dari Allah bagi orang yang hatinya bersih. Bukan dari rayuan, pujian, maupun penampilan dan kosmetik.

Kita harus berhati-hati, jangan sampai suami atau istri begitu mendominasi di hati. Seperti bisa membuat serba takut, cemburu dan gelisah, yang justru menjauhkan bahagia. Misalkan istri selalu ingin sms: “Bapak di kantor di sebelah mana?” Suami menjawab: “Di kursi paling depan.” Istri SMSlagi: “Yang di samping bapak siapa?” “Supir,” kata suaminya yang berkantor di dalam angkot. “Saya dengar ada suara akhwat?” si istri masih curiga. “Jelas bu, itu penumpang mau ke pasar.”

Tidak ada bahagianya kalau begitu. Kita memiliki pasangan bukan untuk mencuri hati. Hati ini untuk Allah. Kalau hati kita bisa penuh dengan Allah, maka Allah akan menempatkan makhluk di hati kita dengan pas. Cinta kepada Allah artinya mencintai sesuatu dengan kadar yang disukai Allah. Sehingga pasangan atau siapa dan apa pun selain-Nya, tidak boleh mengalahkan Allah di hati kita.

Bukan sebaliknya. Jarang ingat kepada Allah dikarenakan pasangan. Seperti bacaan al-Quran terpotong gara-gara ada telpon atau SMSdari suami. Sempurnakan dulu membaca al-Quran, baru dibalas. Kecuali darurat. Atau, ada suami yang ditanya: “Mengapa tadi tidak ke masjid?” “Karena tadi istri saya sedang ngambek.”

Saudaraku. Memangnya pasangan kita itu siapa? Pasangan hidup kita hanya manusia yang tidak punya apa-apa. Bukan yang memberi rezeki, bukan yang menyelamatkan, bukan pula yang mendatangkan kebahagiaan. Tetapi Allah yang memiliki semuanya.

Pasangan tidak boleh mendominasi hati, karena hanya akan membuat hidup menjadi tegang. “Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. li Imrn [3]: 31)

Untuk para suami, jangan terlalu cinta terhadap istri. Cintailah istri dengan kadar yang pas, yang dibenarkan oleh syari. Sehingga siang dan malam tidak memikirkannya, dan tidak terbawa ke dalam salat dan zikir. Jangan sampai membuat istri menjadi sesuatu yang merusak hubungan kita dengan Allah.

Begitu juga dengan para istri. Tetaplah ingat kalau suami hanyalah manusia, dan bukan segala-galanya. Jika mencintainya melampaui kadar, pasti tidak bahagia. Penuhilah hati dengan mengingat Allah. Misalkan saat teringat suami yang sedang dalam perjalanan mencari nafkah di kejauhan, segeralah ingat Allah dan serahkan segala urusan kita kepada-Nya.

Berbuatlah dengan selalu menghadirkan Allah. Sebagaimana saya pernah membaca sebuah tulisan tentang seseorang yang suaminya tuna netra. Si istri tetap menjaga penampilan dan berdandan di rumahnya. walaupun suaminya tidak bisa melihat. Ketika ada yang bertanya: “Mengapa kamu tetap berdandan, padahal suamimu tidak melihat?” Maka si istri pun menjawab: “Allah pasti melihat. Mudah-mudahan Allah senang kepada saya, dan Allah yang akan menjelaskan kepada suami saya.”

Pun halnya dalam rezeki. Pernah ada seorang ibu bercerita bahwa suaminya mulai menderita suatu penyakit menahun sejak umurnya yang mendekati 40 tahun, sehingga menghabiskan banyak biaya untuk berobat. Lalu, setelah tujuh tahun sakit, dalam usia yang ke-45, suami pun wafat. Padahal mereka memiliki delapan anak. Sekarang ibu tersebut sudah mencapai usia keemasan, 71 tahun, dan mempunyai lebih dari 20 orang cucu. Hampir 30 tahun ditinggal mati suami, rezekinya tetap beres.

Maka tidak salah, ketika ada seorang suami meninggal, istrinya bersedih tapi tetap tenang. Para tetangganya yang berbela sungkawa menyampaikan: “Kami tidak tega melihat nasib ibu. Pekerjaan ibu gajinya kecil, sedangkan anak ibu banyak.” Si istri menanggapi: “Suami saya bukan pemberi rezeki. Tapi sama-sama pemakan rezeki seperti saya. Takdirnya sampai tadi malam kami bisa bersama. Allah Pencipta dan Pemiliknya sudah membawanya pulang. Saya dan anak-anak juga ciptaan Allah. Dia-lah Penjamin kami. Setelah suami tiada, Allah pasti akan selalu ada.”

Jadi, saudaraku. Pasangan kita hanya manusia, jangan berlebihan. Jangan terlalu cinta atau menganggapnya segala-galanya. Jangan mengejar cinta pasangan, tapi carilah cinta Allah. Jika tidak, waktu dan ibadah bisa terkuras oleh pasangan hidup, yang membuat kita diliputi gelisah dan ketidaknyamanan. Gapailah sakinah dan bahagia dengan cinta yang penuh kepada Allah SWT. “Ada pun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah [2]: 165)

Siksa Kubur Itu Nyata

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

“Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah Swt. (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.S. al-Anam [6]:93).

Andaikata Allah Swt. yang Maha Perkasa menakdirkan pendengaran manusia mampu menangkap betapa dahsyat dan menyayatnya jeritan dan rintihan para ahli kubur yang sedang didera siksaan karena perbuatan durjananya ketika di dunia, tentulah segenap manusia yang masih hidup ini akan sangat meyakini bahwa siksa kubur itu memang nyata adanya. Hanya karena kasih sayang-Nya juga, ternyata yang mampu mendengarkan azab kubur itu hanyalah semua binatang di bumi ini, serta tentunya Rasulullah sendiri.

Betapa Rasul sendiri yang mendapat karunia Allah Swt. berupa kemampuan mendengarkan siksa kubur tersebut, tatkala memperingatkan kaumnya. Kedua mata beliau sampai memerah. Aisyah Ra. bercerita,: “Pada suatu siang Rasulullah Saw. keluar dari rumahnya dengan menyingsingkan bajunya sementara kedua matanya memerah dan beliau memanggil para sahabatnya dengan suara lantang. “Wahai manusia, kalian telah diingkari dengan beberapa fitnah seperti malam yang kelam. Wahai manusia, jika kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Wahai manusia, memohonlah perlindungan kepada Allah Swt, dari siksa kubur. Sungguh siksa kubur itu benar!.” (H.R. Muslim).

Sungguh siksa kubur itu benar! Masih adakah yang meragukan perkataan Rasulullah sementara beliau sendiri memang ditakdirkan mampu mendengarkan siksa kubur? “Suatu ketika Rasulullah bersama para sahabatnya sedang berada di kebun milik Bani an-Najr, sementara beliau sendiri tengah mengendarai bighal-nya. Tiba-tiba bighal yang tengah ditungganginya berlari, sehingga hampir saja beliau terjatuh karenanya. Ternyata di kebun tersebut terdapat lima atau enam buah makam.

“Siapakah yang mengetahui mereka yang berada dalam kubur itu? Tanya Rasul. “Saya”, jawab seseorang, “Kapan mereka meninggal? “Mereka meninggal pada masa jahilliyah dalam keadaan musyrik”.

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Sesungguhnya umat ini dicoba dengan siksa di dalam kuburnya. Dan seandainya bukan karena aku kuatir kepada umat untuk tidak berani lagi menguburkan mayat, maka aku (akan) berdoa kepada Allah Swt. agar Dia memberikan kamu kemampuan mendengar siksa kubur, yang aku sendiri mendengarnya.” (H.R. Muslim).

Bagi orang-orang kafir kepada Allah Azza wa Jalla, saat-saat menghadapi kematian adalah saat-saat yang teramat sangat menakutkan. Sakitnya diderita yang dirasakan ketika nyawa tercabut dari badan sungguh tak terperkirakan. Tatkala meregang nyawa, ia akan merasakan seperti kawat-kawat berduri itu yang menghujam di sekujur tubuh, lalu kawat itu ditarik, sehingga mengelupaskan daging dari seluruh tubuh tersebut.

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, dimana para Malaikat memukul (mereka) dengan tangannya (sambil berkata). “Keluarkanlah nyawamu. “Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah Swt. (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Nya.” (Q.S. al-Anam [6]:93).

Saat ajal menjelang kepadanya akan datang malaikat yang sangat keras dan hitam wajahnya dengan membawa kain yang kasar dari neraka. Malaikat itu lalu duduk di depannya. Tak lama kemudian datang pula malaikat pencabut nyawa dan duduk disamping kepalanya. Malaikat berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah kamu menuju murka Allah Swt.”

Malaikat itu lalu mencabik-cabik tubuhnya dan mencabut nyawanya seperti mencabut kain dari duri, sehingga keluarlah keringat dingin dan uratnya. Semua Malaikat yang berada di antara bumi dan langit pun ramai-ramai mengutuknya, tak terkecuali Malaikat yang berada di langit. Semua pintu langit ditutup baginya, sedangkan setiap Malaikat yang berada di dekat pintu-pintu tersebut berdoa agar ruh manusia durjana itu tidak melintas di samping mereka.

Selanjutnya sang Malaikat pencabut nyawa itu mengambil nyawa orang tersebut dan melemparkannya ke kain kasar dari neraka itu. Dibawanya nyawa tersebut, yang baunya begitu menjijikan dan tercium sampai di muka bumi.

Ketika Malaikat membawa naik nyawa itu ke langit, para Malaikat yang terlewati olehnya bertanya, “Ruh siapakah yang buruk ini?” malaikat yang membawa ruh menjawab, “Si fulan bin fulan (dengan menyebut namanya yang buruk ketika di dunia).” Manakala sampai di pintu langit dan meminta dibukakan untuknya, ternyata pintu itu tidak dibuka.

Allah Azza wa jalla berfirman; “Tidak dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak masuk surga, sehingga unta masuk ke lubang jarum.” (Q.S. al-Muthaffifiin [83]:7-11).

Kemudian, diperintahkan-Nya, “Kembalikanlah hamba-Ku ini ke bumi Aku menjanjikan mereka, bahwa Aku menciptakan mereka dari bumi dan ke bumi mereka Aku kembalikan. Kemudian, akan Ku keluarkan mereka dari bumi untuk yang kedua kalinya.”

Maka, ruh itu pun terlemparkanlah dari langit sampai jatuh ke jasadnya, “Barangsiapa mempersekutukan Allah Swt, maka seolah-olah ia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Q.S. al-Hajj [22] :31).

Sungguh, sabda Rasul Saw, dia (orang yang meninggal itu) mendengar gesekan suara sandal kawan-kawannya ketika mereka meninggalkannya. Tak lama kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat yang membentak seraya mendudukkannya, “Siapa Tuhanmu?”

“Saya tidak mengerti,” jawab si ahli kubur.

Apa agamamu?”

Saya tidak tahu”.

“Apa yang kamu katakana kepada seorang lelaki yang ditus kepadamu?” Ahli kubur itu ternyata tidak mengetahui namanya, sehingga diapun diberi tahu, “Muhammad

“Ah..ah saya tidak mengerti. Saya telah mendengar manusia mengatakan itu.

Kamu tidak mengerti dan kamu tidak membaca al-Quran, “hardik kedua Malaikat.

Datanglah seruan dari langit, “Dia hamba yang pendusta. Karenanya, hamparkanlah baginya hamparan dari api dan bukakanlah kepadanya pintu neraka!.” Orang tersebut merasakan panas dan racun api neraka, sementara kuburnya menjadi sempit hingga memutuskan tulangtulang iganya.

Selanjutnya datanglah kepadanya seorang lelaki sangat buruk wajah dan perangainya, buruk pula pakaiannya, serta sangat busuk baunya. Orang tersebut berkata, “Rasakanlah (balasan atas) kejahatan yang kamu lakukan. Ini adalah hari yang dulu dijanjikan kepadamu!.”

“Dan kamu, orang yang dijadikan Allah buruk sementara wajahmu pun sangat buruk, siapakah kamu ini?” Tanya si kafir ahli kubur.

“Aku adalah amalmu yang buruk. Demi Allah., aku tidak melihatmu, melainkan sangat lamban untuk taat kepada Allah dan sangat cepat melakukan maksiat kepada-Nya. Karenanya semoga Allah membalasmu dengan keburukan.”

Amal buruk tersebut sengaja dibentuk oleh Allah berwujud manusia yang buta, tuli dan bisu sementara di tangannya tergengam martil yang kalau digunakan untuk memukul gunung niscaya gunung itu akan hancur lebur menjadi debu, Allah kemudian mengembalikan jasadnya yang sudah hancur lebur itu, sehingga menjadi seperti semula. Setelah itu dipukul lagi dengan martil, sehingga ia menjerit keras sekali yang jeritannya bisa didengar oleh segala sesuatu, kecuali oleh jin dan manusia.

Pintu neraka pun dibukakan untuknya dan diberinya hamparan dari api neraka. Si kafir durjana itupun berteriak, “Ya Rabbi, janganlah sampai terjadi hari kiamat.”

Demikianlah rangkaian perjalanan yang pasti dialami manusia yang ingkar tatkala memasuki alam kubur. Sebagian uraian di atas merupakan rangkaian hadits shahih yang dikumpulkan oleh syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang ulama ahli fiqih, sebagaimana termaktub dalam kitabnya, Ahkam al-Janaiz.

Itulah berita yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Siapapun yang ketika hidup di dunia ini senantiasa bergelimang maksiat, ingkar kepada Allah Swt., maka tunggulah akibat yang akan menjemputnya kelak.

Karenanya, tidaklah heran kalau Allah memperlihatkan kepada kita suatu kejadian tentang jenazah yang wajahnya selalu berpaling dengan sendirinya ketika ke liang lahat wajahnya dihadapkan kea rah kiblat. Adapula yang ukuran panjang kuburnya sepeti terus menerus menyempit dan tidak cukup untuk dimasuki jenazah yang siap diturunkan ke liang lahat.

Kejadian-kejadian yang seperti itu seakan-akan pemberitahuan kepada manusia yang masih hidup, bahwa lubang kuburpun seperti enggan menerima jasad durjana yang penuh berlumur dosa. Naudzu billahi min dzaalik!.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah dalam hidup dan mati, serta dari finah dajjal.” (H.R. Bukhari-Muslim).

 

sumber: Inilah.com