Cara Agar Terhindar dari Kesia-siaan

ALLAH SWT berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus [10] : 26)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman, “..Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2] : 195)

Dalam dua ayat ini Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Nah, berbuat baik seperti apa? Yaitu perbuatan baik yang diniatkan lillaahitaala. Kebaikan yang dilakukan dengan mengejar ridho Allah SWT. Kebaikan yang dilakukan dengan maksud supaya semakin dekat dengan Allah SWT. Inilah puncak kebaikan.

Karena ada juga orang yang berbuat baik supaya dianggap baik oleh orang lain. Ada yang berbuat baik supaya orang lain berhutang budi. Begitu banyak orang yang berbuat baik bukan dengan kebaikan yang asli, karena kebaikan yang asli murni hanya satu yaitu kebaikan yang tulus tanpa pamrih kecuali hanya mengharap perhatian dari Allah SWT. Tetaplah berbuat baik meskipun orang lain tidak peduli pada kebaikan kita. Karena Allah SWT senantiasa peduli pada sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh hamba yang beriman kepada-Nya.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Buah dari Perbuatan Kita Sendiri

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang wajib disembah selain Allah. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan hanya kepada-Nya kita pasti akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..” (QS. Al Isro [17] : 7)

Tidak ada yang tertukar, keburukan yang kita perbuat, pasti akan berbalik akibatnya kepada kita sendiri. Demikian juga dengan kebaikan yang kita perbuat, buahnya akan kembali kepada kita. Oleh karena itu, ketika ada keburukan menimpa diri kita, tidak boleh menyalahkan siapapun kecuali menyalahkan diri sendiri. Boleh jadi ada dosa yang belum kita taubati, boleh jadi ada keburukan kita kepada orang lain dan belum kita meminta maaf kepadanya dan belum memohon ampun kepada Allah Swt.

Prinsip ini semestinya bisa menjadi pegangan bagi kita bahwa jika kita melakukan keburukan, maka sesungguhnya kita sedang menimpakan keburukan kepada diri kita sendiri. Jika hal ini kita yakini, maka kita akan berpikir sekian ribu kali untuk berbuat buruk. Dan yang terbaik adalah manakala kita akhirnya terhindar, selamat dari perbuatan buruk kita sendiri.

Di saat yang sama, kita meyakini bahwa ketika kita berbuat kebaikan, sesungguhnya kita sedang menarik kebaikan untuk datang kepada kita. Sehingga kita semakin bersemangat melakukan amal sholeh, karena inilah yang Allah sukai.

Saudaraku, sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk Allah sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat di dalam hidup kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Hidup dengan Pertolongan Allah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang istiqomah dalam ketaatan. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Hidup ini sederhana saja sebenarnya, kalau Allah menolong kita niscaya akan ringan dan mudah bagi kita menjalani hidup ini. Sebesar apapun episode kehidupan yang sedang kita jalani. Sedangkan kalau Allah tidak menolong kita maka pasti berat bagi kita menjalani hidup ini, masalah sepele pun akan terasa besar dan rumit.

Orang yang tidak mendapat pertolongan Allah akan sibuk membesar-besarkan masalah yang sebetulnya sepele. Dia juga akan sibuk menyalahkan orang lain tanpa mau sedikitpun memeriksa kesalahan dirinya sendiri. Keadaan seperti ini akhirnya hanya semakin merumitkan masalahnya.

Oleh karena itu, janganlah takut pada masalah. Namun, takutlah kalau kita tidak ditolong Allah. Inilah kuncinya. Lalu, bagaimana agar kita ditolong oleh Allah? Di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh [2] : 153)

Sabar dan sholat adalah pembuka jalan pertolongan Allah. Bersabarlah setidaknya pada tiga tempat. Pertama, sabar ketika mentaati Allah. Kedua, sabar ketika menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ketiga, sabar ketika menghadapi kejadian yang tidak diharapkan, yaitu musibah.

Kunci kedua pembuka jalan pertolongan Allah adalah sholat. Sholat adalah doa yang paling lengkap. Dan, Allah menjanjikan bahwa barangsiapa yang berdoa kepada-Nya, niscaya Allah akan mengabulkannya. Apalagi jika sholat kita lakukan dengan khusyu, penuh kesungguhan, maka akan berbuah menjadi perilaku yang Allah ridhoi. Semakin berkualitas sholat kita, semakin berkualitas akhlak kita, maka semakin dekat kita dengan kemudahan dalam hidup ini. Inilah pertolongan Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ditolong oleh Allah Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Dzikir dan Tenang

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala perbuatan, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang senantiasa ingat kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Rodu [13] : 28)

Ada orang yang bertanya, “Mengapa saya sudah berdzikir tapi hati masih tidak tenang?!” Boleh jadi dzikirnya baru sebatas cangkang, belum kepada isi. Boleh jadi dzikirnya baru hanya gerakan atau ucapan, tidak meresap di dalam hati. Boleh jadi dzikirnya baru lisan, tidak menjadi keyakinan.

Seperti sholat. Sholat adalah bentuk dzikir kepada Allah Swt. Akan tetapi tidak sedikit, bahkan mungkin termasuk diri kita, yang sholat hanya sebatas gerakan dan bacaan saja, sedangkan hati dan pikiran ada di tempat lain, mungkin di tempat kerja atau usaha kita. Tidak heran jika kita sering lupa sudah rokaat berapa, lupa tahiyat awal terlewat. Sholat adalah memuji Allah, tapi kita tidak ingat kalau kita sedang memuji Allah. Saat sujud, tubuh kita bersujud, tapi hati kita entah ke mana. Maasyaa Allah.

Padahal Allah Maha Mengetahui semuanya, Allah melihat fisik kita, mendengar lisan kita, dan mengetahui apa yang terbersit di dalam hati dan pikiran kita. Oleh karena itu, tidak heran pula kalau setelah sholat hati kita tetap gersang, tidak terasa ketenangan. Itulah jikalau dzikir hanya sebatas cangkang, belum kepada isi.

Maka saudaraku, ketenangan hanya akan hadir jika hati dan pikiran kita senantiasa ingat kepada Allah. Dzikir yang terucap dari lisan dan perbuatan kita adalah benar-benar terlahir dari dzikir di dalam diri kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa ingat kepada-Nya. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAHMOZAIK

Doa Dikuatkan Iman dan Islam

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu di alam semesta ini. Segala kejadian yang kecil maupun yang besar ada dalam genggaman-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw seringkali mengulang-ulang doa ini, “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah Saw., kenapa doa tersebut sering beliau baca. Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku, mengapa kita perlu memanjatkan doa ini kepada Allah Swt? Karena nikmat iman dan nikmat Islam adalah karunia Allah kepada kita. Sungguh sangat mudah bagi Allah untuk menarik kembali nikmat tersebut dari diri kita. Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa Allah berbuat zholim dengan mengambil iman dan Islam dari hati kita?!”Sungguh Allah mustahil berbuat zholim kepada hamba-Nya. Iman dan Islam bisa tercerabut dari hati kita disebabkan kita menganggap remeh dosa dan jauh dari taubat. Naudzubillaahi mindzalik!

Oleh karena itu, marilah kita deraskan doa kita kepada Allah, meminta kepada-Nya agar dikuatkan iman dan Islam di dalam hati kita. Diiringi dengan menjaga kualitas ibadah, menjauhi dosa dan segera bertaubat manakala iman kita goyah atau kita sempat tergoda syaitan untuk berbuat dosa.

Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita dan memberi kita kekuatan untuk istiqomah di jalan-Nya. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Ikhlas di Tiga Waktu

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan segala yang ada. Seluruh makhluk ada dalam kekuasaan-Nya dan tiada berdaya tanpa pertolongan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman, “..Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi [18] : 110)

Ikhlas itu mesti kita jaga pada tiga waktu. Pertama, adalah ketika kita hendak beramal. Kondisikan dulu hati untuk lurus hanya mengharapkan penilaian Allah Swt. Mantapkan hati agar benar-benar bersih dari unsur ujub, riya, sumah. Ini penting karena betapa licinnya dan halusnya syaitan menggoda kita agar hati kita tergelincir. Padahal baik buruknya, benar salahnya setiap urusan kita adalah diawali dari baik buruknya, benar salahnya hati.

Kedua, adalah ketika beramal. Boleh jadi ketika kita melakukan amal kebaikan, tiba-tiba datanglah pujian, sanjungan dari orang lain. Tentu siapapun akan senang jika mendapat pujian dan sanjungan. Tapi, di sinilah terdapat celah yang rentan membuat kita terlena dan terbuai sehinga merasa diri hebat dan lupa kepada Dzat yang telah memberi kita kekuatan, Allah Swt.

Maka, perlu kita untuk bermujahadah menjaga niat yang sudah kita tekadkan sejak awal. Sehingga kita bisa istiqomah dalam keikhlasan.

Ketiga, setelah beramal. Mungkin ada penghargaan dari orang lain atas prestasi kita. Atau bahkan boleh jadi tidak ada yang memuji, menyanjung kita, malah yang ada justru orang yang tidak menghargai amal kita. Nah, di sinilah hati kita diuji. Hati bisa terbuai oleh penghargaan dari manusia, dan hati juga bisa goyah saat ada yang merendahkan kita.

Bagi orang yang hatinya lurus lillaahitaala, segala bentuk penilaian manusia itu tidaklah ada apa-apanya dibandingkan penilaian Allah Swt. Jika dipuji, maka ia akan memuji Allah dan menyerahkan pujian tersebut kepada Allah. Sedangkan jika dia dihina, direndahkan, maka ia akan beristighfar, memohon ampunan Allah karena boleh jadi itu adalah ujian agar dirinya bisa memperbaiki diri dan bersandar hanya kepada Allah semata.

Saudaraku, semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita sehingga kita menjadi orang-orang yang istiqomah menjaga niat dalam setiap ucapan dan perbuatan kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Hikmah Surat Ar Rohman

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt, Dzat Yang Maha Menciptakan segalanya dan Menguasai segalanya dengan sempurna. Tiada satupun yang lepas dari genggaman-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Surat Ar Rohman adalah satu-satunya surat yang mengulang kalimat yang sama sebanyak 31 kali. Kalimat tersebut berbunyi, “Fabiayyi aalaa-i Robbikumaa tukadzibaan”, yang artinya “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan”.

Setiap membaca kalimat ini seharusnya membuat kita merasa dicelupkan ke dalam samudera karunia Allah yang teramat luas tanpa batas sehingga tak pernah bisa kita menghitungnya. Jika kita menafakuri karunia Allah, maka sebenarnya kita akan sulit menemukan ketidaknikmatan karena ternyata sejauh mata memandang yang kita temukan adalah berbagai kenikmatan dari Allah Swt.

Karunia Allah yang begitu banyak dan luas terbentang di sekitar ini adalah kemudahan dari Allah agar kita mudah bersyukur. Tidak melulu memikirkan apa yang belum ada sedangkan yang sudah ada tidak kita perhatikan. Nikmati dan syukuri apa yang ada. Karena sikap bersyukur adalah jalan pengundang datangnya karunia Allah yang belum ada pada diri kita.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim [14]: 7)

Daripada sibuk memikirkan karunia yang belum kita miliki, apalagi sibuk dalam iri dengki karena melihat keberuntungan yang diperoleh orang lain, selain hanya menguras energi kita secara sia-sia, juga bisa menjerumuskan kita kepada kufur nikmat. Lebih baik kita sibuk menikmati dan mensyukuri karunia Allah yang sudah ada di tangan kita. Semakin kita bersyukur, semakin kita bahagia dan semakin bertambahlah karunia Allah untuk kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

INILAH MOZAIK

Bagaimana Agar Istiqomah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Kuasa, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang istiqomah di jalan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, sungguh keberuntungan besar bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah di jalan Allah Swt. Orang yang istiqomah adalah orang yang benar-benar menghayati makna dari kalimat syahadat “Asyhadu anlaa ilaaha illallooh wa asyhadu annaa Muhammadan rasulullah”.

Kalau syahadatnya sudah bagus, maka insyaa Allah hati dan amalnya akan istiqomah. Apa syahadat yang bagus itu? Yaitu, hatinya benar-benar yakin kepada Allah Swt, tiada apapun yang bisa mencuri hatinya dari selain Allah. Dunia dan segala isinya hanyalah urusan kecil dan hanya sebagai sarana untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan hidupnya bukanlah gemerlap dunia, melainkan perjumpaan dengan Allah Swt. Maasyaa Allah!

Orang yang istiqomah pasti di hatinya sudah bulat bahwa tiada yang bisa mendatangkan kenikmatan, keberuntungan, rezeki kecuali Allah Swt. Ia pun yakin bahwa tiada satupun peristiwa sekecil apapun kecuali terjadi pasti atas izin Allah Swt. Bukan makhluk yang jadi sandaran, bukan penilaian makhluk yang dicari, melainkan penilaian Allah dan hanya Allah yang menjadi tempat baginya memohon dan meminta.

Demikianlah fondasi dari pribadi yang istiqomah. Kekuatan dan kebersihan tauhiidnya membuat ia kokoh dan mantap meski menghadapi ujian dan godaan seperti apapun. Menghadapi godaan korupsi, ia mantap menolak karena hanya Allah yang menjamin rezeki. Menghadapi acaman pemecatan hanya karena menjaga diri dari harta syubhat dan haram, maka ia mantap untuk tidak gentar atas ancaman itu karena tiada yang lebih berbahaya selain dari pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah Swt.

Boleh jadi orang istiqomah ini dijauhi oleh orang lain, tapi itu tidak seberapa baginya. Karena baginya biarlah makhluk membencinya asal Allah ridho kepadanya. Karena hanya Allah Yang Maha Membolak-balik hati manusia. Sangat mudah bagi Allah mengubah cinta menjadi benci dan membalikkan benci menjadi cinta.

Tiada yang luput dari sikap istiqomah di jalan Allah selain dari kebaikan, ketenangan dan keberuntungan. Semoga Allah senantiasa melimpahi kita dengan hidayah sehingga kita bisa menjadi orang-orang yang istiqomah dan meraih husnul khotimah. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Sedikit Namun Istiqomah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menjadikan kita haba-hamba-Nya yang lurus, mantap, kokoh dalam keyakinan kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dawam/kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Jadi, amal sholeh yang sedikit tapi dilakukan secara terus-menerus ini lebih disukai oleh Allah. Kenapa? Karena kalau terus-menerus berarti dzikirnya juga terus-menerus, ingat pada Allah-nya juga terus-menerus, taqorubnya juga terus-menerus.

Sebagai contoh, ada orang yang setiap selesai sholat fardhu membaca Al Quran satu halaman. Memang sedikit. Tapi, dia melakukannya secara kontinu setiap selesai sholat. Artinya, semakin sering lisannya melafalkan firman Allah, semakin banyak matanya melihat untaian kalimat-kalimat dari firman Allah, semakin sering telinganya mendengar pembacaan ayat-ayat Allah dan semakin sering pula hatinya tersentuh dengan ingatan-ingatan kepada Allah. Semakin sering dia bersentuhan dengan ayat-ayat Al Quran, maka semakin terjaga hatinya, semakin terkontrol perilakunya, semakin baik akhlaknya. Maasyaa Allah.

Seperti sebongkah batu yang besar dan keras namun bisa memiliki cekungan halus nan indah hanya karena tetesan air yang jatuh di atasnya sedikit demi sedikit namun kontinu. Bongkahan batu itu tidak akan memiliki cekungan tersebut jikalau ditimpa air satu drum sekaligus. Inilah gambaran dari kekuatan istiqomah.

Sedekah yang sedikit nominalnya namun dilakukan secara istiqomah, maka akan bernilai sangat besar di hadapan Allah. Doa singkat yang kita baca setiap kali masuk kamar kecil, nampak seperti amal yang tak berarti, namun akan menjadi sangat berarti pada timbangan pahala di hadapan Allah karena dilakukan secara istiqomah.

Semoga Allah Swt memberikan kita kekuatan sehingga bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang mampu beramal sholeh secara istiqomah. Aamiin yaa Robbal aalamiiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Allah Maha Menjaga dan Maha Memelihara

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala isi hati, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “..Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (Huud [11] : 57) Dalam ayat-Nya yang lain Allah Swt. berfirman, “..dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Sabaa [34] : 21)

Saudaraku, tidak ada satupun di alam semesta ini kecuali seluruhnya Allah yang menciptakan. Dan, tidak ada satupun dari seisi alam ini kecuali semuanya milik Allah semata. Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, Allah juga yang mengurus seluruhnya.

Allah senantiasa sibuk menjaga dan memelihara seluruh alam beserta isinya ini, hanya saja sibuknya Allah tentu berbeda dengan sibuknya makhluk. Kesibukan kita sebagai makhluk berkaitan dengan rasa bingung, lelah, capek, penat, dan kesibukan untuk urusan yang kecil dan terbatas. Sedangkan kesibukan Allah itu sempurna.

Allah menjaga dan memelihara seluruh alam ini dengan ilmu-Nya. Allah mengetahui kemudian mencatat setiap amal perbuatan hamba-Nya tanpa ada yang terlewat sedikitpun dan menjaganya. Syariatnya malaikat pun turut mencatat. Demikian juga dengan urusan lainnya, Allah Swt. sempurna penjagaan dan pemeliharaan-Nya terhadap seluruh jagat raya.

Penjagaan dan pemeliharaan Allah itu sempurna. Sedangkan makhluk, sering lupa jikalau diamanahi untuk menjaga atau memelihara sesuatu. Tidak ada yang luput satupun kebaikan dari pengetahuan Allah, dan catatan kebaikan itu akan terjaga dengan baik di sisi-Nya dan akan dibalas dengan berlipat ganda. Maasyaa Allah.

Semoga keimanan kita senantiasa kokoh kepada Allah Swt. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita pasti akan kembali. WAllahu alam bishowab. [smstauhiid]

 

 

 

 Oleh : KH Abdullah Gymnastiar