5 Tips Berpuasa bagi Pengidap Diabetes

Mengidap penyakit diabetes bukan berarti kamu tidak bisa menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Meski seseorang yang mengidap penyakit kronis tidak diwajibkan untuk berpuasa, bukan berarti pengidap diabetes benar-benar dilarang untuk berpuasa.

Menurut dokter, berpuasa di bulan Ramadhan justru bisa menjadi langkah baik untuk para pengidap diabetes. Akan tetapi dengan sejumlah syarat dan kondisi tertentu.

“Kalau mereka yang gula darahnya sudah terkontrol saat berpuasa kecenderungannya gula darahnya semakin terkontrol lagi. Kalau tidak (dikontrol dulu), ada kondisi gula darah malah drop atau timbul ketosis,” jelas dokter spesialis penyakit dalam dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dalam webinar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Jumat (9/4/2021).

Jika kondisi tersebut telah terpenuhi, terdapat sejumlah tips yang bisa dilakukan oleh para pengidap diabetes saat sebelum berpuasa seperti dikutip dari laman Virta Health, yaitu:

Konsultasi dengan dokter

Sebelum memutuskan untuk berpuasa, pengidap diabetes disarankan untuk mengabarkan dan berkonsultasi dengan dokter yang bersangkutan terlebih dahulu. Sebab, puasa akan mempengaruhi tekanan darah dan gula darah. Apabila kamu sedang dalam pengobatan untuk diabetes atau tekanan darah tinggi, maka dokter mungkin harus menyesuaikan obat-obatan yang diberikannya.

Minum air putih yang cukup

Saat sudah diberikan izin oleh dokter untuk berpuasa, pengidap diabetes harus terus ingat untuk mengonsumsi cukup cairan saat sahur dan berbuka. Saat udara di siang hari panas selama berpuasa, kamu disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas fisik untuk meminimalisir hilangnya cairan dalam tubuh.

Cek gula darah

Hal paling berbahaya yang bisa terjadi pada pengidap diabetes adalah rendahnya gula darah, tingginya gula darah, dan dehidrasi. Oleh sebab itu, penting bagi para pengidap diabetes yang berpuasa untuk menyadari tanda-tanda gula darah tidak normal, seperti pandangan menjadi buram, detak jantung yang tidak stabil, dan pusing.

Hindari makanan manis dan berkarbohidrat tinggi

Saat sahur dan berbuka, para pengidap diabetes disarankan untuk menghindari makanan manis dan mengandung karbohidrat tinggi. Sebagai gantinya, kamu bisa mengonsumsi makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Makanan tinggi lemak akan membantu tubuh merasa kenyang lebih lama dan tidak akan meningkatkan gula darah. Namun, hal ini juga perlu dikonsultasikan oleh dokter yang bersangkutan.

Hindari makan berlebihan

Berbuka memang kerap dijadikan sesi balas dendam setelah seharian berpuasa dengan mengonsumsi banyak makanan dan minuman yang bervariasi. Sehingga, banyak orang yang justru cenderung makan berlebihan. Bagi para pengidap diabetes, hal ini harus dihindari untuk mencegah meningkatnya gula darah.

Simak Video “Amankah Penderita Diabetes Buka Puasa dengan Kurma?”
https://20.detik.com/embed/210412037?smartautoplay=true&unmute=true
(fds/fds)

DETIK

Empat Jenis Buah Kering Ini Aman Disantap Penderita Diabetes

Seorang penderita diabetes tentunya perlu mengatur pola dan taat aturan makan. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa memakan makanan manis.

Penelitian terbaru menunjukkan orang dengan diabetes dan pengikut diet berdasarkan indeks glikemik (GI) dapat menikmati buah-buahan kering karena tidak akan menyebabkan lonjakan gula darah dibandingkan makanan bertepung, seperti roti putih.

John Sievenpiper dari Rumah Sakit St Michael di Toronto dan peneliti Cyril Kendall dari Clinical Nutrition and Risk Factor Modi menunjukkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition and Diabetes ada potensi bagi produsen makanan untuk mengembangkan makanan rendah GI dengan reformulasi yang mencakup buah kering.

Indeks glikemik dikembangkan oleh David Jenkins dari Rumah Sakit St Michael pada awal 1980-an.  Indeks glikemik digunakan sebagai cara untuk menjelaskan bagaimana karbohidrat yang berbeda mempengaruhi glukosa darah. Indeks itu dibuat untuk mengetahui makanan mana yang terbaik untuk penderita diabetes.

“Makanan tinggi pada indeks GI, seperti roti putih, kebanyakan sereal sarapan, kentang, dan nasi menghasilkan lonjakan glukosa darah dan insulin. Karbohidrat dalam makanan rendah GI, termasuk pasta, kacang-kacangan, kacang lentil dan biji-bijian tertentu seperti barley dan oats dipecah lebih lambat. Karbohidrat tersebut menyebabkan peningkatan glukosa darah dan insulin lebih moderat,” kata Sievenpiper.

Penelitian ini membandingkan respons glikemik dari empat buah kering, di antaranya kurma, aprikot, kismis, dan sultana dengan roti putih. Penelitian dilakukan pada 10 peserta sehat. Penelitian menemukan buah memiliki GI lebih rendah dan dapat menurunkan respons glikemik roti putih melalui perpindahan setengah dari karbohidrat yang tersedia.

“Orang-orang sering khawatir tentang sumber gula dan buah-buahan. Apa yang kami tunjukkan di sini adalah buah kering juga memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga tidak akan menaikkan gula darah terlalu banyak, ” kata Sievenpiper.

Studi ini menemukan orang dapat menggunakan buah-buahan kering sebagai sumber makanan indeks glikemik rendah untuk menggantikan makanan indeks glikemik yang lebih tinggi. Buah kering dianggap akan lebih disukai untuk kraker atau camilan berbasis biji-bijian.

Sievenpiper mengatakan, uji coba acak yang lebih panjang dan lebih besar akan diperlukan untuk memastikan apakah buah kering dapat berkontribusi pada perbaikan berkelanjutan dalam pengendalian glikemik, dan apakah buah-buahan kering lainnya memiliki GI yang sama. Penelitian ini menerima pendanaan dari International Nut and Dry Fruit Council Foundation dan National Dried Fruit Trade Association. Makanan disediakan oleh Asosiasi Perdagangan Buah Kering Nasional di AS.