Jumat, Hari Istimewa Umat Islam: Yuk Muliakan!

ALLAH Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. an-Nahl: 124).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini,

Allah menentukan setiap penganut agama untuk memilih satu hari istimewa dalam sepekan. Hari untuk berkumpul bersama dalam rangka melakukan ibadah. Allah syariatkan untuk umat ini (umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam) agar mereka memuliakan hari jumat. Karena itu hari keenam, di mana Allah sempurnakan makhluk-Nya. Dan itu nikmat sempurna bagi mereka.

Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir,

Ada yang menyatakan bahwa Allah mensyariatkan kepada bani Israil melalui Musa untuk memuliakan hari jumat. Namun mereka menolaknya dan memilih hari sabtu. Mereka meyakini, di hari sabtu, Allah tidak menciptakan makhluk apapun, karena telah Allah sempurnakan di hari jumat. Akhirnya Allah tetapkan ibadah hari sabtu itu sebagai kewajiban untuk mereka dalam taurat. Allah wasiatkan agar mereka komitmen dengan hari sabtu dan berusaha menjaganya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Demikian pula dengan nasrani. Al-Hafdiz Ibnu Katsir melajutkan keterangannya,

Mereka terus konsisten dengan ibadah hari sabtu, sampai Allah mengutus Isa bin Maryam. Selanjutnya ada banyak versi di sana. Ada yang mengatakan, Allah memindahkannya kepada hari ahad. Ada yang mengatakan, mereka tidak meninggalkan syariat taurat, selain beberapa hukum yang dihapus dengan injil. Mereka terus konsisten dengan hari sabtu, hingga Allah mengangkat Isa. Kemudian, oleh orang nasrani, itu diubah menjadi hari ahad di zaman kerajaan Konstatinopel. Agar berbeda dengan orang yahudi. Mereka juga melakukan salat menghadap ke timur, ke arah batu di timur al-Aqsha. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Karena itulah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sangat membanggakan adanya hari jumat. Karena berarti kita benar. Kita memuliakan hari jumat, dan itu sesuai dengan apa yang Allah pilihkan. Sementara pilihan yahudi dan nasrani meleset.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan, Ketika hari jumat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

“Kita adalah umat terakhir namun pertama di hari kiamat. Kitalahlah yang pertama kali masuk surga. Meskipun mereka mendapatkan kitab suci sebelum kita dan kita mendapatkan kitab suci setelah mereka. Lalu mereka menyimpang dan kita ditunjukkan Allah kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan. Inilah hari mereka yang mereka menyimpang darinya dan Allah tunjukkan kepada kita. Beliau bersabda lagi: Hari jumat adalah hari kita dan esoknya hari Yahudi dan setelah besok adalah hari nasrani.” (HR Muslim 2017).

Sudah selayaknya kaum muslimin bersyukur dengan dijadikannya hari jumat sebagai hari besar untuk mereka dalam setiap pekan. Saatnya memuliakan hari jumat. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

Kontroversi Hukum Mandi Jumatan Sebelum Ngantor

PENDAPAT yang benar, bahwa mandi Jumat dikaitkan dengan kewajiban melaksanakan Jumatan. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadis dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian menghadiri Jumatan, hendaknya dia mandi.” (HR. Ahmad 5289, Bukhari 877 dan yang lainnya).

Dan inilah yang dipahami para sahabat. Ibnu Umar radhiallahu anhuma pernah mengatakan: “Mandi Jumat hanya wajib bagi orang yang wajib jumatan.” (HR. Bukhari secara Muallaq).

Dan tujuan utama adanya perintah mandi sebelum jumatan adalah agar kaum muslimin tidak terganggu dengan bau badan temannya selama di masjid. Aisyah Radhiyallahu anha menceritakan,

Dulu para sahabat mendatangi jumatan berangkat dari rumah mereka di pelosok. Mereka datang di masjid dengan baju berdebu, dan keringat yang mencemarkan aroma yang tidak sedap. Suatu ketika, salah satu di antara mereka mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sedang di rumahku. Karena mencium bau yang tidak sedap, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan,

“Mengapa kalian tidak mandi hari ini?” (HR. Muslim 1995 & Ibnu Hibban 1237).

Apakah Harus Mengulang Mandi?

Ulama berbeda pendapat. Dalam mazhab Malikiyah, mandi jumat harus bersambung dengan jumatan. Sehingga sekalipun seseorang telah mandi di pagi hari, dia harus mengulang mandinya ketika hendak berangkat jumatan. Imam al-Baji menyebutkan dalam Syarh al-Muwatha,

Imam Malik mengatakan, Siapa yang mandi pada hari jumat di pagi hari dengan niat untuk mandi jumat, maka mandi yang dia lakukan tidak sah. Sampai dia ulang mandi sebelum berangkat jumatan. (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, 1/186).

Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama. Mereka tidak mempersyaratkan bahwa mandi jumat harus bersambung dengan jumatan. Hanya saja, dianjurkan agar bersambung dengan berangkat jumatan. As-Syaukani dalam Nailul Authar mengatakan,

Ada tiga pendapat ulama tentang waktu mandi jumat, pertama, disyaratkan bersambung antara mandi dan berangkat jumatan. Ini merupakan pendapat Malik. Kedua, tidak disyaratkan harus bersambung, tapi tidak sah sebagai mandi jumat jika dikerjakan setelah jumatan, dan dianjurkan untuk diakhirkan menjelang berangkat jumatan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. (Nailul Authar, 1/290).

Kemudian as-Syaukani menyebutkan bahwa pendapat Imam Malik lebih kuat. Beliau mengatakan, “Dan yang lebih kuat adalah pendapat Imam Malik. Beliau memahami, hadis yang menyebutkan nama hari jumat untuk masalah mandi jumat, dikaitkan dengan waktu wajib jumatan.” (Nailul Authar, 1/290).

Sementara jumhur memahami bahwa istilah ghaslul jumah (mandi jumat) sifatnya mutlak. Bahkan beberapa hadis menyebutkan, “Mandi hari jumat.” Diantaranya hadis, “Mandi hari jumat itu wajib” (HR. Bukhari 895, Abu Daud 341 dan yang lainnya).

Karena mandi itu dilakukan di hari jumat, artinya tidak harus bersambung dengan berangkat jumatan. Selama itu dilakukan di hari jumat dan sebelum jumatan, maka sah sebagai mandi jumat. As-Syirbini ulama Syafiiyah mengatakan, “Waktu mandi jumat adalah sejak subuh. Karena hadis yang meyebutkan mandi jumat, dikaitkan dengan hari jumat.” (Mughni al-Muhtaj, 1/558).

Bagaiman dengan Bau Badan?

Mengingat hadis Aisyah di atas maka mereka yang telah mandi, kemudian keringatan hingga mengeluarkan bau badan, maka dia disyariatkan untuk mengulang mandinya. Bahkan Syaikh Abdurrahman As-Suhaim, dai ahlus sunah di Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, Riyadh menyebutnya wajib. Mengingat hadis larangan mendekati masjid bagi orang yang makan bawang, karena bau mulutnya yang mengganggu,

Siapa yang makan bawang putih ini, -di riwayat lain beliau bersabda, “Barangsiapa makan bawang merah dan putih atau bawang bakung,”- janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat terganggu dari bau yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim 564)

Karena itu, sebisa mungkin, bagi anda yang telah mandi sebelum berangkat kerja kemudian keluar bau badan, hendaknya mengulangi mandinya agar tidak mengganggu jemaah yang lain. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

 

Mencari Waktu Mustajab pada Hari Jumat

BERDOA merupakan ibadah yang wajib kita lakukan. Sebagai makhluk dhoif (lemah), manusia sangat bergantung pada Sang Khalik. Sebagai orang beriman, tentu saja kita membutuhkan Allah dalam mengatasi ujian dunia.

Dalam hadits yang berlainan, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyebutkan waktu-waktu yang mustajab. Yakni waktu-waktu yang apabila kita berdoa, maka Allah kabulkan doa kita. Tentu apabila kita berdoa, alangkah baiknya memerhatikan waktu mustajab agar Allah mengabulkan pula doa kita.

Salah satu waktu mustajab adalah (pada) hari Jumat. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).

Berdasar dalil hadits di atas, kita jadi tahu bahwa salah satu waktu mustajab dalam berdoa adalah Hari Jumat. Kalau kita perhatikan hadits di atas, kita dapat memahami bahwa waktu tersebut tidaklah sepanjang hari Jumat. Ini diisyaratkan sabda beliau bertepatan dengan waktu tersebut. Namun dalam hadits di atas, Nabi juga tidak menyebutkan kapan tepatnya waktu yang di maksud.

Menurut pendapat (ulama) yang dikenal di kaum muslimin secara luas, ada dua waktu yang mustajab pada hari Jumat. Pertama, waktu mustajab itu adalah waktu antara duduknya imam sampai selesainya shalat jumat.

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al Asyari. Ia berkata, Abdullah bin Umar bertanya padaku, Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyebut suatu hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai waktu mustajabnya doa di hari Jumat? Abu Burdah menjawab, Iya betul, aku pernah mendengar dari ayahku (Abu Musa), ia berkata bahwa Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan shalat Jumat. (HR. Muslim dan Abu Daud).

Tersebut pula hadits dari Amr bin Auf al-Muzanni Radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya pada hari jumat terdapat satu waktu, jika para hamba memohon kepada Allah, pasti akan dikabulkan oleh Allah. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, waktu kapankah itu?. Jawab beliau, Ketika shalat dimulai hingga selesai shalat.(HR. Turmudzi dan Ibn Majah).Namun hadis ini dinilai dhaif oleh al-Albani dan Syuaib al-Arnauth.

Kedua, waktu mustajab itu jatuh setelah asar pada hari Jumat. Hadits-hadits yang mendukung pendapat ini ada beberapa. Dua di antaranya adalah pertama hadits dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Di hari Jumat terdapat suatu waktu, dimana jika ada seorang hamba muslim yang memanjatkan doa kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, Allah akan memberi apa yang dia minta. Waktu itu adalah seteah Ashar. (HR. Ahmad 7631 dan dinilai shahih Syuaib al-Arnauth).

Sedangkan hadits kedua yang menunjukkan waktu mustajab pada Hari Jumat adalah bada ashar adalah hadist dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Pada hari jumat ada 12 jam. (Di antaranya ada satu waktu, apabila ada seorang muslim yang memohon kepada Allah di waktu itu, niscaya akan Allah berikan. Carilah waktu itu di penghujung hari setelah Ashar. (HR. Abu Daud dan Nasai).

Allahu Alam.

INILAH MOZAIK

 

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul BariII/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

(Disarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)

***

Penulis: Abu Abdirrohman Bambang Wahono
Artikel www.muslim.or.id

AMALAN HARI JUMAT untuk Mendapat Rezeki dan Berkah, Ada 8 Keistimewaannya

Hari Jumat, hari istimewa yang diakui seluruh umat, terutama umat Islam yang bahkan menjalankan ibadah salat Jumat, tanda betapa istimewa hari ke-7 dari satu pekan itu.

Umat Nasrani pun demikian, bahkan ada istilah Jumat Agung yang mereka sebut dalam acara Misa, yang mereka gelar di mana hari bersejarah.

Nah berikut ini, kajian secara Islam akan membahas secara detil bagaimana istimewanya hari Jumat. sebab berbagai perisitwa penting, hari kelahiran, keberkahan hari Jumat ini melebihi kebaikan hari lainnya.

Apa saja keistimewaan hari Jumat, berikut ini 8 Keistimewaannya sebagaimana dirangkum dari dokumen Sriwijaya Post serta berbagai sumber otentik.

“Hari Jumat hari paling istimewa, karena terdapat periswita yang melibatkan insan paling Agung dan hari paling istimewa di antara 7 hari lainnya,” ujar Ustadz Atoillah, Mudir Ponpes Miftahul Huda.

1. Hari Paling Istimea Dalam Setiap Pekan

TANDA istimewa hari Jumat bagaimana Allah mewajibkan setiap umat laki-laki sholat Jum’at. Pertanda ini sangat istimewa.

Bagaimana pada hari itu Islam memperlihatkan persatuan umat, yang tidak membedakan golongan dan status berkumpul dan duduk sejajar dalam satu masjid.

Bersilaturahmi setiap minggu melalui hari yang santa istimewa.

Mengenai kebesaran Hari Jumat disampaikan melalu Sabda Rasulullah:
Berikut Ini:
Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah SAW bersabda :

“Hari ini yaitu hari besar yang Allah tentukan untuk ummat Islam, jadi siapa yang akan menghadiri shalat Jum’at sebaiknya mandi terlebih dulu. ” (HR. Ibnu Majah)

2. Hari Paling Bersejarah Karena Melihat Manusia dan Insan Paling Agung

BANYAK peristiwa besar dalam kejadian yang sebagaian kita jarang memperhatikan:

– Hari Jumat kerupakan proses diciptakannya mania pertama.

– Allah membuat Nabi Adam ‘alaihissallam serta mewafatkannya.

– Kemudian Jumat pula, Hari Nabi Adam alaihissallam dimasukkan kedalam surga

– Hari Nabi Adam ‘alaihissallam di turunkan dari surga menuju bumi.

– Hari yang dipercaya akan terjadinya kiamat seperti dimanfaatkan dalam berbagai sumber di Alquran dan Al Hadist.

Mengenai hal ini tercantum dalam Sabda Rasulullah.

Seperti diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Hari terbaik di mana matahari terbit pada hari itu yaitu hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, serta pada hari itu juga Adam dimasukkan kedalam surga, dan di turunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat bakal berlangsung, pada hari itu ada satu saat di mana tidaklah seseorang mukmin shalat menghadap Allah menginginkan kebaikan terkecuali Allah bakal mengabulkan permintannya. ” (HR. Muslim)

3. Kemudian Mendapatkan Pahala dari Salat Jumat, setara dengan orang beribadah 1 tahun lamanya.

Seperti disampaikan Aus bin Aus z yang berkata: Rasulullah bersabda:

”Siapa yang mandi pada hari Jum’at, lalu bersegera pergi menuju masjid, serta tempati shaf paling depan lalu dia diam, jadi tiap-tiap langkah yang dia ayunkan memperoleh pahala puasa serta shalat sepanjang setahun, serta itu yaitu hal yang mudah untuk Allah “. (HR. Ahmad serta Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

Nah dari hal diatas dapat kita lihat bagaimana istimewa hari Jumat.

4. Hari Dihapuskannya Dosa-Dosa Jika Benar-benar Bertobat

Pengampunan dosa kepada umat jatuh pada hari Jumat. Hal ini disapaikan oleh Salman Al Farisi z berkata :

Rasulullah bersabda:

“Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai sama kekuatan, membereskan rambutnya, memoleskan minyak wangi, lantas pergi ke masjid, serta masuk masjid tanpa ada melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, lalu shalat sesuai sama tuntunan serta diam ketika imam berkhutbah, pasti diampuni dosa-dosanya diantara dua Jum’at “. (HR. Bukhari)

Hal diperkuat oleh hadis berikut.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Salman dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apakah kamu tahu hari Jum’at itu?” Aku menjawab, “Hari Jum’at adalah hari Allah mengumpulkan Nabi Adam.” Beliau menjawab,

“Tapi aku mengetahui apa hari jum’at itu. Tidaklah seseorang menyempurnakan bersucinya, lalu mendatangi shalat Jum’at, kemudian diam hingga imam selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan menjadi penghapus dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia menjauhi dosa besar.”

Masih dalam Al Musnad, dari Atha’ al Khurasani, dari Nubaisyah al Hudzaliy bahwa dia meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Bahwasanya jika seorang muslim mandi pada hari Jum’at, lalu datang ke masjid dan tidak menyakiti seseorang; dan jika dia mendapati imam belum datang di masjid, dia shalat hingga imam datang; dan jika ia mendapati imam telah datang, dia duduk mendengarkan khutbah, tidak berbicara hingga imam selesai melaksanakan khutbah dan shalatnya. Maka (balasannya) adalah akan diampuni semua dosa-dosanya pada Jum’at tersebut atau akan menjadi penebus dosa Jum’at sesudahnya.”

Jangan Sampai Terlewatkan, Ini Waktu Mustajab Doa di Hari Jumat

Hari Jumat merupakan hari yang mulia dan penuh keberkahan. Banyak hadits yang menerangkan keutamaan Hari Jumat. Salah satunya terdapat mustajab atau waktu-waktu terkabulnya doa.

Ustadz Abu Furaihan Farhan, seorang da’i di Banda Aceh, kepada Serambinews.com merincikan waktu-waktu tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Diantara duduknya imam sampai selesai Shalat Jumat

Ini sesuai dengan hadits dari Shahabat Abu Musa Al-Asy’ari-radhiyallah ‘anhu- berkata:

Aku mendengar Rasulullah-Shallallahu’ alaihi wasallam bersabda tentang waktu mustajab doa di hari Jumat:

“Waktunya adalah antara duduknya Imam ketika khutbah hingga selesai ditegakkannya shalat” (HR. Imam Muslim).

 

2. Setelah Shalat Ashar

Sebagaimana hadits dari Sahabat Jabir bin Abdillah ~ radhiyallahu ‘anhuma, berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari Jumat itu ada dua belas jam, tiada seorang Muslim

pun yang memohon sesuatu kepada Allah di waktu tersebut, melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka carilah waktu pengabulan tersebut di akhir waktu setelah Ashar” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

Agar mendapatkan waktu mustajab bakda Ashar, Ustadz Abu Furaihan Farhan menyarankan tiga cara, yaitu:

  1. Menetap di masjid mulai bakda Ashar hingga masuknya waktu shalat Maghrib sambil banyak berdoa.
  2. Datang ke masjid menjelang shalat Maghrib. Kemudian melakukan Shalat tahiyyatul masjid dan memperbanyak doa hingga waktu shalat Maghrib tiba.
  3. Memperbanyak doa di akhir sore Jumat, baik di rumah atau di tempat yang lain.

 

“Kita ketahui bersama, orang yang berdoa tidak akan pernah merugi. Karena doa itu adalah ibadah”, katanya.

Doa merupakan amalan yang menghubungkan antara hamba dan Rabbnya. Maka perbanyaklah doa di waktu tersebut untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, kerabat, tetangga, guru-guru agama anda dan seluruh kaum muslimin.

 

“Mintalah kepada Allah, istri yang shalehah, suami yang shaleh, anak keturunan yang menjadi penyejuk mata”, ujar Ustadz Abu Furaihan Farhan.

Nah, jangan dilewatkan yaaa…

 

TRIBUN NEWS

Tambah Tampan di Hari Jumat? Ternyata Ada Hadisnya

DIANTARA balasan yang Allah berikan bagi orang yang melakukan ketaatan, Allah jadikan dia semakin baik. Tidak hanya baik bathinnya, termasuk juga semakin baik fisiknya. Sehingga orang yang taat, akan ditambah kesempurnaan lahir batinnya.

Ibnu Abbas menjelaskan pengaruh umum ibadah dan ketaatan, “Kebaikan itu menyebabkan wajah semakin cerah, cahaya di hati, keluasan rizki, kekuatan fisik, dan kecintaan di hati para hamba.”

Hanya saja, tidak semua balasan amal kita diberikan di dunia. Dengan demikian, apa yang dinyatakan Ibnu Abbas, belum tentu dialami semua orang, juga belum tentu bisa dirasakan di dunia. Karena balasan yang sejatinya adalah akhirat. Sehingga jangan sampai tambah ganteng menjadi obsesi pertama ketika jumatan. Karena jika itu yang menjadi tujuan utama, jumatan anda bisa tidak bernilai.

Lelaki mukmin semakin ganteng di hari jumat. Ini terjadi ketika di surga. Allah berikan nikmat tambahan bagi penduduk surga, berupa pasar. Di pasar surga, mereka bisa bertemu dengan sesama penduduk surga. Dan setiap kali mereka pulang dari pasar, mereka semakin tampan dan semakin menawan. Sehingga membuat para istri mereka keheranan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di surga ada pasar, yang didatangi penghuni surga setiap jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan. Mereka pun berkata, Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik” (HR. Muslim 7324).

Karena itu, pernyataan setelah jumatan tambah ganteng bisa jadi benar, dan bisa jadi perlu diluruskan. Apapun itu, obsesi kita adalah surga. Kita berharap semua ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah sebagai amal soleh. Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

MOZAIK

Muliakan Hari Jumat, Bersinarlah di Akhirat

Hari Jumat adalah hari paling istimewa dari semua hari dalam sepekan bagi kaum muslimin. Ia adalah hari penuh kemuliaan dan penuh keberkahan. Allah Ta’ala mengkhususkan hari Jum’at ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari ummat-ummat sebelum Umat Rasulullah SAW dan juga umat nabi yang terdahulu.

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Hari ini dinamakan Jum’at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Allah berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)

Keutamaan yang mulia itu menuntut umat Islam untuk semangat mempelajari risalah Rasulullah SAW dan sahabatnya, memberikan pelajaran yang mulia agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Di antara beberapa keistimewaan hari Jum’at yang mulia ini sebagai berikut:

Hari Jum’at, penghulu dari hari-hari dalam sepekan yang dimuliakan oleh Allah SWT

Dari Abu Hurairah dan Hudzaifah -radhiallahu ‘anhuma- berkata, “Allah telah merahasiakan hari Jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, kemudian Allah mendatangkan umat Islam, maka Dia menunjukkan kita hari Jum’at ini, kemudian Allah menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu, ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain.” (HR. Muslim)

“Allah menyimpangkan kaum sebelum kita dari hari Jum’at. Maka untuk kaum Yahudi adalah hari Sabtu, sedangkan untuk orang-orang Nasrani adalah hari Ahad, lalu Allah membawa kita dan menunjukan kita kepada hari Jum’at.” (HR. Muslim).

Untuk itulah karena ada keistimewaan hari jumat itu dan karena memang telah dijadikan sebagai hari termulia, maka selayaknya segenap kaum muslimin senantiasa berantusias menyambut jum’at barakah dengan berlomba dalam kebaikan dan semangat serta niatan untuk beribadah. Harus ada yang berbeda pada hari jumat daripada hari-hari lain sebagaimana sejarah dan syariat kita telah mencontohkannya akan hal ini.

Hari Raya Umat Islam

Selain 2 hari raya umat islam (idul Fitri dan Idul Adha) yang datang setiap setahun sekali, Allah memuliakan hari Jum’at ini sebagai hari raya pekanan bagi kaum muslimin sebagai momen berlomba dalam kebaikan.

Dari sekian banyak keutamaan hari Jumat, Allah menjadikan pada hari Jumat sebagai hari istimewa apabila bertepatan dengan hari raya umat muslim. Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya hari ini (Jumat) merupakan hari raya, Allah menjadikannya (pada hari Jumat) istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat jum’at maka hendaklah dia mandi.” (Ibnu Majah)

Terdapat waktu doa mustajab

“Di hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” (HR. Bukhari).

Waktu mustajab terkabulnya doa pada hari Jumat diantaranya adalah pada waktu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat Jum’at. Sedangkan waktu lainnya adalah batas akhir dari waktu yang pertama tadi sampai dengan waktu setelah ‘Ashar.

Diampuni dosa-dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jum’at lainnya

Setiap jumat tiba, berharaplah ini menjadi momentum penggugur dosa bagi kita semuanya. Tidak ada manusia hidup tanpa bermaksiat walaupun itu sekecil biji sawi maka hendaklah memuliakan hari Jum’at dengan ketaqwaan.

Hal ini berdasarkan atas dalil sebuah hadist Rasulullah SAW yang artinya : “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.” ( HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Antara shalat 5 waktu, antara shalat jumat satu ke shalat jumat berikutnya, dan antara puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya merupakan pelebur untuk dosa di antara keduanya (waktu-waktu tersebut), apabila dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Maksudnya adalah bahwasannya keberkahan hari jumat lainnya adalah bahwa siapa saja yang menunaikan shalat Jum’at sesuai dengan tuntunan adab dan tata cara yang benar, maka dosa-dosanya (dosa kecil) yang terjadi antara Jum’at tersebut dengan Jum’at sebelumnya akan diampuni.

Hari Jumat = Hari Bersejarah

Terdapat beberapa peristiwa sejarah yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:

  1. Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya pada hari Jum’at.
  2. Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surge pada hari Jum’at.
  3. Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi pada hari Jum’at.
  4. Hari kiamat akan terjadi pada hari Jum’at.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

“Sungguh begitu banyak amalan-amalan di hari Jum’at, jangan kita sia-siakan untuk meraup pahala berlipat sebagai bekal perjalanan kita ke akhirat .”

 

Bersama Dakwah

Jumat Hari Pilihan bagi Umat Islam, Sabtu untuk Yahudi dan Ahad untuk Nasrani

Jum’at dikenal pula sayyidul ayyam (penghulu) diantara hari-hari dalam sepekan, bahkan Jum’at juga merupaka hari raya umat Islam, hari yang istimewa bagi umat Islam.

Bila pada hari-hari yang lain, saat tergelincirnya matahari, umat Islam memulai shalat dhuhur, tetapi tidak pada hari Jum’at, umat Islam melaksanakan shalat 2 raka’at shalat Jum’at disertai khutbah Jum’at.

Berbeda dengan umat-umat lain, umat lain jutsru dijauhkan oleh Allah dari hari Jum’at, tetapi mereka diberi hari yang lain. Misalnya Yahudi hari Sabtu, dan Nasrani hari Ahad.

***

Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

أضل الله عن الجمعة من كان قبلنا فكان لليهود يوم السبت وكان للنصارى يوم الأحد فجاء الله بنا فهدانا الله ليوم الجمعة فجعل الجمعة والسبت والأحد وكذلك هم تبع لنا يوم القيامة نحن الآخرون من أهل الدنيا والأولون يوم القيامة المقضي لهم قبل الخلائق
(م ن هـ) عن حذيفة وأبي هريرة.

“Allah telah menjauhkan bagi orang sebelum kita dari hari Jumat. Bagi Yahudi ada hari Sabtu. Bagi Nasrani ada hari Ahad. Lalu Allah memberi hidayah kepada kita di hari Jumat. Allah menjadikan (urutan) hari adalah Jumat, Sabtu dan Ahad. Demikian halnya mereka mengikuti kita di hari kiamat. Kita ini pendatang terakhir di dunia, namun golongan pertama di hari kiamat yang akan mendapatkan keputusan dari Allah sebelum makhluk yang lain” (HR Muslim, Nasai dan Ibnu Majah dari Hudzaifah dan Abu Hurairah)

Oleh : Ust. Ma’ruf Khozin

 

MuslimMediaNews