Keutamaan Itikaf di Bulan Ramadan, Apa Saja?

Selama sepuluh hari di akhir bulan Ramadan, Rasulullah mengerjakan amalan Itikaf untuk meraih keutamaan malam seribu bulan atau yang disebut malam lailatul qadar.

Allah berfirman dalam Surat Al-qadar ayat 3-5, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa malam lailatul qadar memiliki keutamaan bahwa pahala orang yang mendapatkan malam lailatul qadar mendapat keutamaan seperti pahala selama seribu bulan.

Keutamaan malam lailatul qadar dimanfaatkan Rasulullah untuk mempersungguh ibadahnya. Diriwayatkan dalam Hadis Tirmidzi, “Dari Aisyah berkata, Rasulullah sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir tidak seperti hari-hari biasa.”

Berdasarkan keutamaan malam lailatul qadar, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan itikaf pada sepuluh malam terakhir yang biasanya digelar di masjid bada isya hingga fajar.

 

LIPUTAN 6

Hal-hal Terlarang Dalam I’tikaf

BERIKUT ini aktivitas yang diperbolehkan selama Itikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

– Tawdi (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan terhadap Shafiyyah

– Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang Aisyah lakukan terhadap nabi

– Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

– Makan, minum, dan tidur ketika itikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan salat jumat bagi yang itikafnya di masjid ghairu jami, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal itikafnya.

Pembatal-pembatal Itikaf

Pembatal-pembatal tersebut antara lain:

– Secara sengaja keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar

– Murtad

– Hilang akal

– Gila

– Mabuk

– Jima (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

Aktivitas selama Itikaf

Hendaknya para mutakifin memanfaatkan waktunya selama itikaf untuk aktivitas ketaatan, seperti membaca Alquran, zikir dengan kalimat yang matsur, muhasabah, salat sunah mutlak, boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.

Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang itikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktivitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (ilat- istilahnya lam talil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang itikaf di masjid. Lalu datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beritikaf, karena ruh yang ingin beritikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis itikaf, beliau berkata:

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi itikaf terdapat ketaatan khusus, seperti salat, zikir, membaca Alquran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mutakif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi itikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuat itikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir itikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti, 6/163).

Pelajaran yang bisa kita petik dari itikaf adalah:

– Menegaskan kembali posisi masjid sebagai sentral pembinaan umat

– Sesibuk apa pun seorang muslim harus menyediakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala secara fokus dan totalitas

– Hidup di dunia hanya persinggahan untuk menuju keabadian akhirat. [dakwatuna]

 

 
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382352/hal-hal-terlarang-dalam-itikaf#sthash.mhz4kkAg.dpuf

Mau Iktikaf, Pahami Keutamaan Ibadah Ini

Iktikaf adalah ibadah yang sangat ditekankan Rasulullah selama 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau tak pernah keluar masjid selama 10 malam itu, sampai-sampai Aisyah binti Abu Bakar mengantarkan bekal makanan untuk beliau ke masjid.

Sebelum mulai melakukan iktikaf, seorang Muslim patut memahami makna, syarat, rukun, dan keutamaan ibadah ini.
“Itikaf itu tinggal di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Syaratnya, dalam keadaan suci. Iktikaf boleh diisi dengan membaca Alquran, shalat tahajud, atau berzikir,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yaqub, kepada ROL, Selasa (7/7).

Kiai Mustafa mengungkapkan, falsafah iktikaf adalah tinggal di rumah Allah. Tinggal di rumah Allah menunjukkan kecintaan seorang Muslim kepada Allah. Mencintai Allah adalah ibadah, lantaran itu tinggal di rumah Allah juga bernilai ibadah. Catatannya, itikaf harus dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan, rukun iktikaf adalah niat dan berada di masjid. Itikaf harus dilakukan di masjid, tidak boleh di rumah. Syaratnya hanya satu, suci dari hadats kecil dan hadats besar. Sebelum masuk masjid untuk i’tikaf, Muslim diharuskan berwudhu lebih dulu. Apabila batal, langsung keluar lagi untuk mengambil wudhu.

Menurut Kiai Mustafa, waktu-waktu terbaik untuk melakukan iktikaf adalah sepertiga malam. Meski menurutnya tidak ada amalan yang khusus dicontohkan Rasul, Muslim bisa mengisi waktu-waktu tersebut dengan membaca Alquran, qiyamul lail, dzikir, muhasabah, dan memperbanyak zikir.

“Ramadhan sebenarnya tidak terbatas pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Orang boleh melakukan iktikaf di luar Ramadhan. Nabi juga melakukan i’tikaf di luar bulan Ramadhan. Tapi, kebanyakan orang melakukan iktikaf pada bulan Ramadhan dalam rangka menjaring lailatul qadr,” jelas Kiai Mustafa.

 

sumber: Republika Online

Apakah Iktikaf itu?

Secara bahasa, iktikaf berasal dari kata ‘akafa-ya’kufu-ukufan’ yang berarti tetap pada sesuatu. Menurut Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam Fadhilah Ramadhan, iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat Iktikaf.

Menurut Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, iktikaf menetap di suatu tempat dan berdiam diri tanpa meninggalkan tempat itu, baik untuk melakukan amal baik dan jahat. Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada kaumnya dan bapaknya, “patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (QS Al-Anbiya [21]:52).

Sayyid Sabiq menjelaskan, maksud dari ayat diatas, mereka menetap di tempat itudengan tujuan beribadah kepada patung-patung itu. Namun kata dia, iktikaf yang dimaksud dalam ajaran islam adalah menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sedangkan menurut Al-Kubaisi, secara bahasa iktikaf bermakna menetap, mengurung diri, atau terhalangi, Allah SWT berfirman: “… tetapi janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istri), sedang kamu menetap di masjid (ber-iktikaf)…” (Al-Baqarah [2]:187)

Al-Marghaini mendefinisikan Iktikaf dengan menetap dalam masjid disertai puasa dan niat Iktikaf. Menurut Muhammad bin Famaruz, Iktikaf adalah menetapnya seorang laki-laki dalam masjid, sendirian atau berjamaah, atau menetapnya seorang perempuan dalam rumahnya (ruangan khusus) dengan niat iktikaf.

 

sumber: Republika Online

Hikmah I’tikaf Bagi Kesehatan

I’tikaf itulah kata yang sudah akrab di telinga kita sebab bagi kaum laki-laki yang setiap jumat melakukan shalat jumat di masjid itu sudah menjadi rutinitas biasa apalagi asyrul awaakhir di 10 hari akhir di bulan ramadhan. Karena di 10 hari akhir di bulan ramadhan i’tikaf merupakan pekerjaan yang sangat dianjurkan sekali oleh baginda nabi besar kita Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

الْاِعْتِكَاف هُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْئِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَة

Artinya :

Tujuan I’tikaf

Tujuan i’tikaf adalah sebagai berikut :

  1. Mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Melaksanakan Sunnah Rasul.
  3. Agar hati bersimpuh di hadapan Allah.
  4. Berkhalwat ( menyendiri ) dengan Allah.
  5. Memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.

Syarat I’tikaf

  1. Harus niat di dalam hati. (Niat Iangsung i’tikaf karena Allah Ta’ala). Kalau i’tikaf nadzar, maka dia harus niat nya juga i’tikaf nadzar.
  2. Harus bertempat di dalam masjid. Menurut Kitab Taqrib i’tikaf akan dikatakan sah kalau di dalamnya serambi masjid. Sehingga kalau di luar serambi masjid maka tidak sah.

Syarat Orang yang I’tikaf

  1. Syarat orang yang i’tikaf adalah harus Islam, berakal, suci dari haid, nifas dan jinabah.
  2. Maka tidak sah i’tikaf yang dilakukan oleh orang kafir, gila, haid, nifas, dan orang junub.
  3. Jika orang yang melakukan i’tikaf murtad atau mabuk, maka i’tikafnya menjadi batal.

Tata Cara I’tikaf

  1. Orang yang melakukan i’tikaf nadzar tidak diperbolehkan keluar dari i’tikafnya kecuali karena ada kebutuhan manusiawi seperti buang air kecil, buang air besar dan hal-hal yang semakna dengan keduanya seperti mandi jinabah.
  2. Karena udzur haid atau nifas. Maka seorang wanita harus keluar dari masjid karena mengalami keduanya.
  3. Karena udzur sakit yang tidak mungkin berdiam diri di dalam masjid. Semisal dia butuh terhadap tikar, pelayan, dan dokter.
  4. Dia khawatir mengotori masjid seperti sedang sakit diare dan beser.
  5. Sakit yang ringan seperti demam sedikit, maka tidak diperkenankan keluar dari masjid disebabkan sakit tersebut.

Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaf

  1. I’tikaf menjadi batal sebab melakukan wathi atas kemauan sendiri dalam keadaan ingat bahwa sedang melakukan i’tikaf dan tahu terhadap keharamannya.
  2. Adapun bersentuhan kulit disertai birahi yang dilakukan oleh orang yang melakukan i’tikaf, maka akan membatalkan i’tikafnya jika ia sampai mengeluarkan sperma. Jika tidak, maka tidak sampai membatalkan.

Hikmah I’tikaf bagi Kesehatan

Menurut Prof. DR. dr. H. Dadang Hawari., Sp.KJ. Guru Besar tetap Universitas Indonesia menyatakan bahwa hikmah i’tikaf adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh.
  2. Bermanfaat bagi kesehatan jiwa dimana batin menjadi lebih tenang dan bisa membangkitkan kekuatan baru.
  3. Menghidupkan kembali hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.
  4. Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.
  5. Mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.
  6. Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah SWT amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayangNya
  7. Orang yang beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Demikian i’tikaf begitu dahsyatnya hikmah yang di dapat bagi kaum muslimin dan muslimat yang mau melaksanakan. Begitu mudah dan murahnya ajaran Islam dalam memberikan solusi tentang kesehatan bagi umatNya. Beruntunglah orang yang mau mengikuti ajaranNya. Mari ber i’tikaf guna meraih ketenangan jiwa! Jiwa tenang keluarga senang!

Referensi :

  • Kitab Bulughul Marom
  • Kitab Fathul Qorib
  • http://admin.ump.ac.id

 

Sumber: Dakwatuna.com

I’tikaf di Malam Hari, Siangnya Kerja

Ada yang bertanya, bolehkah di malam hari itu melakukan i’tikaf dan di siang harinya tetap bekerja.  Permasalahan yang ditanyakan ini kembali pada masalah batasan minimal waktu i’tikaf.

Jangka Waktu Minimal I’tikaf

Mengenai waktu minimal disebut i’tikaf terdapat empat pendapat di antara para ulama.

Pendapat pertama: Yang dianut oleh jumhur (mayoritas) ulama hanya disyaratkan berdiam di masjid. Jadi telah dikatakan beri’tikaf jika berdiam di masjid dalam waktu yang lama atau sebentar walau hanya beberapa saat atau sekejap (lahzhoh). Imam Al Haromain dan ulama lainnya berkata, “Tidak cukup sekedar tenang seperti dalam ruku’ dan sujud atau semacamnya, tetapi harus lebih dari itu sehingga bisa disebut i’tikaf.”

Pendapat kedua: Sebagaimana diceritakan oleh Imam Al Haromain dan selainnya bahwa i’tikaf cukup dengan hadir dan sekedar lewat tanpa berdiam (dalam waktu yang lama). Mereka analogikan dengan hadir dan sekedar lewat saat wukuf di Arofah. Imam Al Haromain berkata, “Menurut pendapat ini, jika seseorang beri’tikaf dengan sekedar melewati suatu tempat seperti ia masuk di satu pintu dan keluar dari pintu yang lain, ketika itu ia sudah berniat beri’tikaf, maka sudah disebut i’tikaf. Oleh karenanya, jika seseorang berniat i’tikaf mutlak untuk nadzar, maka ia dianggap telah beri’tikaf dengan sekedar lewat di dalam masjid.”

Pendapat ketiga: Diceritakan oleh Ash Shoidalani dan Imam Al Haromain, juga selainnya bahwa i’tikaf dianggap sah jika telah berdiam selama satu hari atau mendekati waktu itu.

Pendapat keempat: Diceritakan oleh Al Mutawalli dan selainnya yaitu disyaratkan i’tikaf lebih dari separuh hari atau lebih dari separuh malam. Karena kebiasaan mesti dibedakan dengan ibadah. Jika seseorang duduk beberapa saat untuk menunggu shalat atau mendengarkan khutbah atau selain itu tidaklah disebut i’tikaf, haruslah ada syarat berdiam lebih dari itu sehingga terbedakanlah antara ibadah dan kebiasaan (adat). Demikian disebutkan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 6: 513.[1]

Pendapat Jumhur Ulama

Sebagaimana dikemukakan di atas, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalahlahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.” Lihat Al Majmu’ 6: 489.

Alasan jumhur ulama:

1. I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Berdiam di sini bisa jadi dalam waktu lama maupun singkat. Dalam syari’at tidak ada ketetapan khusus yang membatasi waktu minimal I’tikaf.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). … Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang membatasi waktu minimalnya dengan bilangan tertentu atau menetapkannya dengan waktu tertentu.” Lihat Al Muhalla, 5; 179.

2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

إني لأمكث في المسجد الساعة ، وما أمكث إلا لأعتكف

“Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.” Demikian menjadi dalil Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 5: 179. Al Hafizh Ibnu Hajr juga menyebutkannya dalam Fathul Bari lantas beliau mendiamkannya.

3. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.” Lihat Al Muhalla, 5: 180.

Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al Inshof, 6: 17)

Bedakan dengan I’tikaf Nadzar

Beda halnya jika i’tikafnya adalah i’tikaf nadzar, maka harus ditunaikan sesuai dengan hari yang ditentukan. Misalnya, jika ia bernadzar i’tikaf 3 hari 3 malam, maka ia harus menjalaninya tanpa keluar-keluar dari masjid ketika itu. Contohnya saja dari perbuatan ‘Umar bin Khottob yang bernadzar untuk i’tikaf semalam. ‘Umar berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ  فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

Aku dahulu pernah bernadzar di masa Jahiliyah untuk beri’tikaf selama satu malam di masjidil harom.” Beliau pun bersabda, “Tunaikanlah nadzarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656). Ibnu Hazm berkata, “Dalil ini adalah umum yaitu perintah untuk menunaikan nadzar berupa i’tikaf. Dan dalil tersebut tidak khusus menerangkan jangka waktu i’tikaf. Sehingga kelirulah yang menyelisihi pendapat kami ini.” (Al Muhalla, 5: 180)

Jawaban …

Sehingga jika ada yang bertanya, bolehkah beri’tikaf di akhir-akhir Ramadhan hanya pada malam hari saja karena pagi harinya mesti kerja? Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di malam atau di siang hari. Misalnya sehabis shalat tarawih, seseorang berniat diam di masjid dengan niatan i’tikaf dan kembali pulang ke rumah ketika waktu makan sahur, maka itu dibolehkan.

Baca penjelasan selengkapnya mengenai masalah ini di artikel: Batasan Minimal Waktu I’tikaf.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Artikel Rumaysho.Com