Membongkar Kuburan untuk Dirikan Masjid

Tidak sedikit masjid yang dibangun dari tanah (bekas) kuburan. Bagaimana Islam memandang?

Dalam Ash-Shahih lmam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Anas ibn Malik bahwa ketika waktu sholat sudah tiba, Rasulullah SAW. mendirikannya di kandang domba. Kemudian Rasulullah SAW. memerintahkan agar segera didirikan masjid. Beliau mengirim orang untuk menemui tokoh-tokoh Bani Najjar, dan’ mereka pun Iangsung datang menghadap. Kepada para tokoh itu Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai Bani Najjar, tetapkanlah harga untukku atas bangunan kalian ini.” Akan tetapi, para tokoh Bani Najjar itu menjawab, ”Demi Allah, kami tidak akan menjualnya, melainkan hanya kepada Allah saja.”

Anas juga mengatakan bahwa di tanah itu terdapat beberapa kuburan kunoorang-orang musyrik. Selain itu, juga terdapat reruntuhan bangunan dan beberapa batang pohon kurma. Rasulullah SAW. lalu memerintahkan agar kuburan orang-orang musyrik itu dibongkar, reruntuhan bekas bangunan diratakan dan pohon kurma ditebang.

Dalam mengomentari hadits “tanah penjemuran kurma” ini, Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini menjadi dalil dibolehkannya membongkar kuburan lama. Bahkan, jika tanah bekas kuburan itu sudah dibersihkan dari mayat (tulang, daging, dan darahnya), tanah tersebut boleh dijadikan sebagai tempat shalat, bahkan boleh dijadikan sebagai masjid.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa tanah yang pernah dijadikan tempat pemakaman boleh dijual, tetap menjadi milik pemiliknya yang sah, dan tetap dapat diwariskan jika hak pewarisannya belum gugur.

Para ulama sirah menyatakan bahwa beberapa  kuburan yang terdapat di tanah tempat penjemuran kurma tersebut adalah kuburan-kuburan tua. Di dalamnya sudah tidak ada lagi potongan daging mayat ataupun darahnya. Namun, seiring dengan itu, Rasulullah SAW. kemudian membongkar dan memindahkan semua tulang-belulang yang ada di dalam kuburan-kuburan tersebut.

Menurut ulama paling berpengaruh di Timur Tengah Dr.Al-Buthy, kebolehan menggunakan tanah pekuburan sebagai tempat pendirian masjid hanya berlaku jika tanah tersebut bukan tanah wakaf. Tetapi, jika tanah pekuburan itu adalah tanah wakaf, maka tanah itu sama sekali tidak boleh dialihfungsikan dari apa yang telah diniatkan oleh orang yang mewakafkannya. Diperbolehkan membongkar kuburan untuk dijadikan masjid asal tanah kuburan tersebut dibersihkan terlebih dahulu.

Wallahua’lam

BERSAMA DAKWAH

Kembali ke Masjid

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang lebih besar kekuasaannya dari kekuasaan Allah Swt. Seluruh alam dan segala kejadian yang ada di dalamnya mutlak berada dalam genggaman Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, gerakan sholat Subuh di masjid secara berjamaah yang beberapa waktu lalu kita jalankan bersama, harus menjadi momentum bagi kita untuk kembali ke masjid. Gerakan kemarin itu janganlah sampai berhenti satu kali saja. Sholat Subuh dijadikan momentumnya karena inilah waktu sholat yang paling berat dilakukan oleh seseorang.

Rasulullah Saw bersabda,“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”(HR. Buhori dan Muslim)

Oleh karena itu, jikalau kita terlatih untuk disiplin menunaikan sholat Shubuh berjamaah di masjid, maka insyaa Allahkita akan disiplin pula pada waktu-waktu sholat lainnya. Nah, semangat ini perlu kita pelihara terus-menerus, semangat kembali ke masjid sehingga masjid menjadi lebih makmur dengan padatnya sholat berjamaah di awal waktu. Dan tidak hanya itu, masjid juga makmur dengan kegiatan lainnya, karena sesungguhnya masjid bukanlah tempat sholat semata melainkan pusat kegiatan kaum muslimin.

Di masjid kita bisa selenggarakan kegiatan pendidikan, seperti belajar mengaji, majlis ilmu, bahkan hingga kegiatan keterampilan. Jika setiap kegiatan kita basiskan kepada masjid maka akan jauh lebih mendatangkan keberkahan karena setiap kegiatan tersebut senantiasa terkait dengan motivasi ibadah kepada Allah Swt., bukan hanya kegiatan duniawi saja.

Alangkah indahnya jika kaum muslimin kembali menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan mereka. Semakin kaum muslimin terbiasa sholat berjamaah di masjid maka semakin erat rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara kita. Kedisiplinan sholat berjamaah di masjid akan mengundang datangnya pertolongan Allah dalam urusan lainnya. Sehingga kaum muslimin bisa bangkit kembali menjadi umat yang menebar rahmat bagi umat lainnya dan bagi seluruh alam. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah Swt. yang hatinya senantiasa terpaut ke masjid.Aamiin yaa Robbalaalamiin.[smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Masjid Kisas, Masjid Sederhana di Tepi Laguna Penuh Sensasi

Lalu-lalang kendaraan di Jalan Madinah al-Munawwarah Kota Jeddah masih ramai, menjelang Maghrib sore itu. Di seputar kawasan Masjid Juffali beberapa kendaraan terparkir rapi. Di pinggir laguna, di samping masjid, sejumlah warga lokal nampak menikmati pemandangan.

Mereka duduk-duduk di tepi pantai, mencicipi makanan ringan sembari menatap kejernihan air laut yang kontras dengan gedung-gedung megah di seberang laguna. Sore atau malam hari memang selalu menawarkan sensasi berbeda di kawasan elite Jazirah Arabia. Apalagi, di musim panas seperti ini. Dan laguna atau pantai menjadi tempat favorit melepas penat.

Jika tepian pantai dilengkapi bangunan masjid, maka lengkap sudah ‘kesempurnaannya’ sebagai tempat wisata. Masjid itu pasti akan ramai dikunjungi orang. Sudah tradisi di berbagai kawasan Arab Saudi, panggilan azan akan selalu memutus sejenak segala bentuk aktivitas warga. Walau asyik dibuai indahnya tamasya, mereka bakal beranjak ke masjid begitu mendengar azan.

Masjid berdesain sederhana namun elegan ini berhadapan dengan kantor Departemen Luar Negeri Arab Saudi yang terletak di seberang jalan. Dipisahkan Jalan Madinah Al-Munawwarah. Masjid indah ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kisas, karena kerap digunakan sebagai tempat eksekusi para pelanggar hukum yang menerima vonis hukuman kisas.

Tempat kisas ini hanya berupa bangunan terbuka tanpa tembok, berukuran sekitar 20 meter persegi. Satu area dengan tempat parkir kendaraan. Bangunan berlantai keramik yang terletak di halaman masjid bagian belakang itu hanya didominasi empat tiang penyangga dan atap. Tak ada pernik lain yang menempel. Tak tampak pula kesan seram sebagai tempat eksekusi.

Sebagaimana masjid-masjid bersejarah lain di seputar Kota Jeddah, masjid ini juga ramai dikunjungi peziarah atau jemaah haji. Sore itu misalnya, terlihat empat unit bus memasuki halaman parkir masjid, beberapa saat setelah kumandang azan Maghrib. Dari model pakaian dan kopiah yang bertengger di kepala penumpang pria, jelas bahwa mereka adalah jamaah haji Indonesia. Ternyata mereka adalah rombongan jamaah kloter 71 Embarkasi Surabaya (SUB 72).

Ruang wudu Masjid Kisas terbilang bersih dan mewah, seperti halnya masjid-masjid besar di Kota Suci. Di ruang utama, karpet tebal nan empuk terhampar menutupi seluruh lantai tempat shalat. Tiang-tiang besar nampak kokoh menyangga bangunan. Sekeliling dinding dihiasi kaligrafi-kaligrafi indah, cuplikan beberapa surat dalam Alquran.

Melongok ke atas, sejumlah lampu kristal menggantung di atap. Seolah membentuk harmoni simetris dengan tiang yang berwarna putih. Nuansa ibadah di masjid ini kian membuat ekstase karena didukung suhu ruangan yang begitu dingin.

Keanggunan interior dan kesejukan udara yang ditopang tata cahaya nan redup merupakan satu keunggulan masjid ini. Intensitas cahaya yang memancar dari lampu-lampu di seluruh ruangan sepertinya sengaja diatur agar tak menyilaukan mata jamaah. Dengan begitu, orang yang shalat (mushalli) diharapkan dapat menyerap aura masjid ini dengan ketundukan mendalam.

“Kami senang dapat mengunjungi dua masjid bersejarah di Kota Jeddah,” tutur Sutikno, jemaah haji Kloter SUB 72, saat ditemui usai shalat. Jamaah haji dari Surabaya, Jawa Timur ini sebelumnya telah mengunjungi Masjid Ar-Rahmah atau Masjid Terapung di tepi Laut Merah.

Lawatan Sutikno dan rombongannya dikoordinasi oleh sebuah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Masing-masing jemaah membayar sebesar SAR 60 sebagai ongkos keliling Jeddah. Namun, kata dia, tak semua jamaah Kloter SUB 72 ikut rihlah. “Yang ikut hanya yang tergabung dalam KBIH saja,” tuturnya.

Dapat mendirikan shalat berjamaah di Masjid Kisas merupakan kebanggaan tersendiri bagi Sutikno dan kawan-kawan. Maklum tak semua jemaah haji mendapatkan kesempatan mengunjungi masjid ini, dengan beragam alasan yang melatarinya.Walau bernama kisas (qishash), yang secara harfiah berarti ‘pembalasan’, aura kesumat tak terasa di sini. Justru sebaliknya, masjid ini menebarkan energi positif yang memancar dari tiap sudut interior bangunan.

“Masjid ini tak seangker sebutannya,” ujar Muhammad Jum’an, warga Jeddah yang rutin shalat berjamaah di Masjid Kisas.

“Apalagi dalam setahun ini, tak ada Kisas di sini.”

Sebagai warga setempat, Jum’an mengaku, bangga dengan keberadaan Masjid Juffali, yang kerap dikunjungi jemaah haji dan umrah. Secara khusus ia melempar pujian pada jamaah haji Indonesia, yang menurutnya, santun dan ramah. “Selalu senang berjumpa dengan jamaah haji Indonesia,” sanjungnya.

Pria paruh baya ini bersyukur ada warga kaya Saudi yang membangun masjid sedemikian megah. Memang, kata Jum’an, banyak orang kaya di Saudi, namun tak semua mau membangun masjid.

“Padahal, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Salah satu bentuk ketakwaan adalah membangun masjid, oleh mereka yang diberi kelimpahan harta benda,” paparnya seraya menyitir satu ayat Alquran.

Masjid Juffali atau Masjid Kisas resmi berdiri pada 1986. Sang arsitek, Abdul Wahid al-Wakil, sengaja mendesain masjid ini dengan ‘sentuhan’ lokal. Menyesuaikan keberadaannya yang tak jauh dari Kota Tua Jeddah.

Desain nan sederhana namun elegan sengaja ditonjolkan untuk menegaskan karakteristiknya yang melebur dengan area sekitar. Justru berkat kesederhanaan itulah masjid ini masuk dalam nominasi penerima Aga Khan Award; penghargaan bergengsi di bidang arsitektur.

Masjid yang dapat menampung 1.000-an jemaah ini didirikan oleh keluarga Ibrahim al-Juffali, satu keluarga kaya di Arab Saudi. Nama keluarga yang dijadikan nama grup perusahaan ini termasuk jajaran elite taipan Timur Tengah.

Usaha keluarga Juffali terentang dari bisnis energi, minyak, kelistrikan, konstruksi, telekomunikasi, manufaktur, hingga televisi. Selain itu, Juffali juga bekerjasama dengan sejumlah perusahaan internasional macam Daimler AG, Bosch, Dow Chemical, Fluor Corp, Carrier, DuPont, Ericsson, IBM, dan lain-lain.

Satu warisan keluarga Juffali—yang hingga kini terasa manfaatnya—adalah Masjid Kisas. Masjid sederhana nan elegan di tepi laguna.

 

IHRAM

Pahala Melangkah ke Masjid

عن جابر  قالَ : أَراد بنُو سَلِمَة أَن ينْتَقِلوا قُرْبَ المَسْجِدِ فبلَغَ ذلك رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ لَهُمْ : « إِنَّه قَدْ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُربَ الْمَسْجِدِ ؟ » فَقَالُوا : نَعَمْ يا رسولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذلكَ ، فَقالَ : « بَنِي سَلِمةَ ديارَكُمْ ، تكْتبْ آثَارُكُمْ ، دِياركُم ، تُكْتَبْ آثارُكُمْ » رواه مسلم .

Dari Sayyidina Jabir رَضيَ اللَّه عنهُ berkata : “Bani Salimah – salah satu kabilah kaum Anshar yang terkenal رضيَ اللَّه عنهُم– bermaksud hendak berpindah tempat di dekat masjid. Berita itu sampai kepada Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم , kemudian beliau صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم bersabda kepada Bani Salimah itu yang maksudnya : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau semua ingin berpindah ke tempat di dekat masjid?” Mereka menjawab: “Benar, ya Rasulullah, kita berkehendak sedemikian itu.” Beliau صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم bersabda lagi yang maksudnya : “Wahai Bani Salimah, tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, akan dicatatlah langkah-langkahmu itu – pahala melangkahkan kaki dari rumah ke masjid itu pasti dicatat sebanyak yang dijalankan. Jadi tidak perlu berpindah ke dekat masjid. Tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, akan dicatatlah langkah-langkahmu itu.” (HR Imam Muslim)

 

HIDAYATULLAH

Cara Pandang Terhadap Imam Masjid Masih Konservatif

Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni menilai, belum banyak imam masjid di Indonesia yang menjadi pemantik perubahan transformasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Menurut dia, saat ini masyarakat hanya memosisikan dan memaknai imam masjid sebagai pemimpin shalat.

Ia menjelaskan, imam yang hanya diposisikan atau dimaknai sebagai seorang pemimpin proses shalat merupakan cara pandang konservatif. “Persepsi konservatif ini juga sejalan dengan pandangan dogmatis bahwa masjid hanya dimaknai sebagai tempat shalat,” ungkapnya kepada Republika.co.id, Rabu (30/3).

Padahal, pada masa Nabi Muhammad SAW, kata dia, imam masjid tidak hanya dipandang atau diposisikan demikian. “Tapi imam, seperti Nabi dan ulama-ulama pada masa silam lakukan, juga mengambil peran-peran penting yang dapat menginspirasi umat,” tutur Imam menerangkan.

Karena hal itu, pada masa Nabi, lanjutnya, imam masjid merupakan simbol atau representasi umat untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik. “Masjid pun akhirnya menjadi tempat sentral perubahan yang transformatif,” ucapnya.

Kendati demikian, kata Imam, bila ingin mengungkap tentang peran imam-imam masjid di Indonesia sebagai variabel perubahan di masyarakat, memang perlu dilakukan penelitian mendalam. Walau demikian, ia berpendapat, peran imam masjid sebagai pembawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat belum tampak secara gamblang.

 

sumber: Republika Online