Pribadi Muslim: Sehat, Pikiran Tajam, Mental Baja

ISLAM datang memberikan perhatian pada persoalan jasmaniah umat manusia. Sejak pertama berada dalam lingkup agama Islam. Rasulullah SAW pernah menyampaikan “tubuhmu mempunyai hak atas dirimu.” (HR. Muslim: 1973)

Hak yang dimaksud di sini adalah hak tubuh apabila lemah dikuatkan, bila lapar diberi makan, bila haus diberi minum, bila kotor dibersihkan, bila lelah diistirahatkan, bila sakit diobati, bahkan sebisa mungkin kita harus melindungi tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit.

Islam mendidik umat manusia dengan tiga hal yang berhubungan dengan dimensi jasmaniah, yaitu:

Pertama, kesehatan dan kebebasan dari serangan penyakit. Kita diharuskan bertubuh sehat, sesuai dengan sabda Nadi SAW “Barangsiapa di antara kalian di pagi hari aman di tengah-tengah keluarganya, sehat jasmaninya, memiliki kebutuhan pokok untuk sehari-hari, maka seakan akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi: 2268)

Kesehatan tubuh kita adalah faktor utama untuk menopang kehidupan yang aman dan tenang. Dan Rasulullah selalu meminta hal ini pada Allah Swt. Karena itu beliau berdoa “Allahummaghfirli Waahdinii Warzuqnii (ya Allah ampunilah aku, berikan aku petunjuk, karuniakan rizqi dan kesehatan padaku)” (HR. Nasai, 5440)

Kedua, ketangkasan dan kemampuan bergerak cepat (dinamis). Hendaknya kita meiliki tubuh yang tangkas, mempu menjalankan semua kewajiban, baik yang dibebankan agama maupun untuk kepentingan dunia. Allah berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal [8]:60). Tubuh yang kuat tentu bisa melakukan banyak hal dalam memenuhi kewajiban duniawi, maupun kewajiban agama.

Ketiga, ketegaran. Kita harus mendidik kaum muda supaya tegar. Karena hidup bukanlah mawar tak berduri. Tetapi adalah angin sepoi-sepoi dan badai, manis dan pahit. Maka kita perlu membekali diri untuk menghadapi hidup apa adanya. Maka kita perlu dilatih agar tegar.

Kepribadian seorang muslim, antara lain: bertubuh sehat, berpikiran tajam, dan memiliki mentalitas membaja. Kita menyambut baik olahraga, cabang-cabangnya, dan segenap olahragawan dari mancanegara. [Chairunnisa Dhiee]

Aku Bangga sebagai Muslim

ALQURAN mencatat perkataan terbaik adalah perkataan orang yang berbangga sebagai muslim.

Allah swt berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim.” (QS.Fusshilat: 33)

Menjadi seorang muslim adalah kebanggaan tersendiri bagi para pengikutnya. Bagaimana tidak, seorang muslim telah mendapat nikmat terbesar berupa petunjuk dan hidayah dari Allah swt.

Tapi kapan kita pantas untuk berbangga dengan keislaman kita?

Sungguh tak layak orang yang menepuk dada sebagai muslim tapi selalu menorehkan citra buruk bagi nama Islam. Perilakunya membuat orang di luar Islam semakin anti kepada agama rahmat ini.

Perhatikan potongan ayat ini, mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim”. Allah Meletakkan kata “mengerjakan kebaikan” sebelum berbangga sebagai muslimin.

Kesimpulannya, setelah beramal soleh dan berprilaku baik, barulah seorang muslim layak menepuk dada dan berbangga diri sebagai golongan muslimin. Karena ia telah mengharumkan nama Islam dengan perbuatan baiknya. Dan inilah sebaik-baik perkataan menurut Alquran.

 

INILAH MOZAIK

Muslim harus Memberi Manfaat sesuai Potensinya

KITA tidak diminta untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, islam mengarahkan kepada kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki.

Dan bagian dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Beramal-lah, karena setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya.” (HR. Bukhari 4949 & Muslim 6903) Semua manusia diarahkan untuk beramal sesuai dengan ujung hidupnya. Orang yang mendapat kebahagiaan di ujung hidupnya, akan dimudahkan untuk melakukan amal yang mengantarkannya kepada kebahagiaan. Dan sebaliknya.

Imam Malik pernah mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannnya mengajak Imam Malik agar jangan berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam rangka banyak beribadah. Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan pernyataan yang cukup menekan,

“Sesungguhnya Allah Taala- telah membagi amal untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa. Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat. Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling afdhal.”

Lalu beliau melanjutkan, “Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal yang diberikan oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah ditetapkan oleh Allah. was salam” (at-Tamhid, Syarh Muwatha, 7/185)

Kita tidak diminta agar semuanya menjadi dai. Atau menjadi orang kaya yang dermawan. Atau menjadi pejabat yang bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha memberikan manfaat sesuai potensi yang dimiliki.

Mereka yang memiliki jabatan, bisa memberikan manfaat bagi umat islam dengan jabatannya
Mereka yang diberi kelebihan harta, bisa memberikan manfaat dengan kelebihan hartanya.
Sebagaimana mereka yang diberi pemahaman ilmu, bisa memberikan manfaat dengan ilmunya

 

INILAH MOZAIK

Jika Seorang Muslim, Buanglah Akhlak Buruk

BELAKANGAN ini makin nyata adanya kelompok orang yang mengaku muslim dan beriman tetapi tidak menampakkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-harinya. Gejala ini sangat banyak kita temui baik dalam rutinitas keseharian apalagi di media sosial. Sumpah serapah dan caci maki, tak urung mewarnai “komunikasi” (kalau boleh disebut komunikasi) yang terjadi.

Kita pun dibuat bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin seorang yang mengaku Islam, melakukan hal-hal seperti itu?” Untuk memahaminya, perlu dijelaskan adanya perbedaan antara orang-orang muslim (ber-Islam), mukmin (beriman), dan muhsin (ber-ihsan).

Definisi keislaman dipaparkan dalam Al-Hujurat ayat 14: “Orang-orang Arab Badui (a’rab, pengembara Badui yang belum mengembangkan peradaban, bukan ‘arab) itu berkata: Kami telah beriman…. Katakanlah: Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah menjadi muslim (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.”

Sedang definisi keimanan dipaparkan dalam Al-Anfal ayat 2 -3: “Sesungguhnya orang2 beriman ialah mereka yg bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Jadi kira-kira Muslim itu yang melaksanakan kewajiban syariah secara lahiriah, sedangkan Mukmin adalah sikap hati (batiniyah). Orang beriman (Mukmin) adalah yang gemetar hatinya bila mendengar kata Allah dan bertambah terus imannya ketika membaca ayat Allah. Mukmin menjaga dan menghayati shalatnya–yakni menghadirkan hati dalam ibadah–dan melahirkan amal-amal saleh antara lain dalam bentuk sedekah.

Sedang berkenaan dengan Ihsan, Allah Swt. berfirman dalam Al-Mulk, ayat 23: “… Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih sempurna amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dalam hadis Jibril disebutkan ihsan adalah menyembahNya dalam keadaan kita (seolah-olah, yakni bukan dengan mata fisik) melihat Allah Swt. Atau kalau kita tidak bisa merasa seolah melihatNya, kita yakin bahwa Allah melihat/mengawasi kita. Dalam hadis lain dikatakan: “Allah Swt. cinta pada orang yang jika menyelesaikan pekerjaan, dia selesaikannya dengan ihsan (sempurna).”

Ada juga dalam hadis lain disebutkan: “Allah telah menetapkan al-ihsan dalam semua hal.” (HR Muslim)

Ada 166 ayat yang mengandung kata ihsan dan turunannya. Salah satunya yang populer: “Sungguh Allah menyuruh berlaku adil & berbuat ihsan serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (An-Nahl: 90 )

Segera tampak bahwa ihsan terkait erat dengan kepemilikan dan penerapan akhlak mulia secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, orang yang berihsan tak hanya menahan marah, tetapi juga memaafkan orang yang bersalah padanya dan menyempurnakannya dengan berbuat baik padanya.

Sebagaimana firmanNya dalam QS. Ali Imran: 134; “Dan orang yang menahan marahnya & yg memaafkan kesalahan org2. Dan Allah mencintai org yang menyempurnakan kebaikan (berbuat ihsan).”

Yang menarik dalam ayat di atas adalah bahwa Allah sendiri tidak pernah menyebut diriNya “mencintai orang-orang beriman” atau “orang-orang Muslim”, tetapi “mencintai orang-orang yang berihsan”.

Ihsan adalah menyempurnakan seluruh amal agar secara spiritual kita makin dekat kepadaNya. Maka tak sedikit ulama mengidentikkan Ihsan dengan tasawuf.

Dan bukan kebetulan juga tasawuf disebut mazhab cinta, yang mempromosikan hubungan saling cinta manusia dengan Allah (dan dengan manusia serta makhluk-makhluk lain). Penjelasan lbh panjang tentang tasawuf sbg mazhab cinta al. ada di buku saya: ISLAM Risalah Cinta dan Kebahagiaan.

Jadi, Islam-Iman-Ihsan sejajar dengan Syariah-Akidah-Tasawuf (akhlak). Ketiganya tak terpisahkan, tapi puncaknya adalah akhlak. Dengan kata lain, puncak keislaman kita harus terwujud pada kepemilikan/penerapan akhlak mulia. Tak akan banyak berarti bila kita mengaku Islam, dan tak akan terbukti mengaku beriman, kecuali jika kita telah benar-benar memiliki/menerapkan akhlak mulia. Inilah makna hadis Nabi Saw.: “Aku tak diutus kecuali untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Demikian juga inti dari firmanNya yang sering kita ulang-ulang: “Dan tak Kami utus kau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat (kasih-sayang) untuk alam semesta.”

Maka, orang-orang yang mengaku Muslim tapi tak berakhlak mulia bisa jadi baru mencapai tahap Islam, mungkin iman, tetapi belum ihsan. WalLah a’lam.

 

INILAH MOZAIK

Lima Karakteristik Muslim Sejati (1)

DI DUNIA, banyak sekali orang yang mengaku Muslim bahkan mengaku sebagai Muslim sejati, tapi Allah Subhanahu Wata’ala Wata’ala tidak mau mengakui keimanannya. Hal itu karena orang tersebut justru tidak mencerminkan dirinya sebagai Muslim sebenar-benarnya. Di dalam Al Qur’an Allah. tidak mengakui keimanan seseorang manakala kepribadiannya tidak mencerminkan seorang Muslim sejati.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allahdan Hari Kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah:8)

Agar seorang Muslim diterima dan diakui keimanan serta keislamanannya oleh Allah. Maka dia harus melekatkan dengan sesungguh hati karakteristik atau ciri-ciri khas pribadi Muslim dalam kepribadiannya.

Paling tidak, ada lima karakteristik pribadi Muslim sejati yang harus lekat dalam kepribadian kita.

Pertama, bertakwa kepada Allah. dengan sebenar-benarnya takwa (haqqa tuqatih). Tilawah dengan sebenar-benar tilawah (haqqa tilawatih). Berjihad dengan sebenar-benar jihad (haqqa jihadih). Hal ini diperlukan karena takwa merupakan kunci kemudahan seseorang, sehingga bagi Muslim yang sejati akan terus memperkukuhnya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, setiap jumat kita selalu mendapat wasiat dari para khotib untuk terus meningkatkan takwa. Manakala takwa telah berhasil diperkukuhnya dalam hidup ini, niscaya seorang Muslim selalu siap menghadapi kematian dalam keadaaan tunduk serta patuh kepada Allah. Keadaan inilah yang memang diharapkan Allah Subhanahu Wata’ala ada kita sebagaimana terdapat dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali- Imran:102).

ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٢١

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS: Ali Imran: 121)

وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٰهِيمَۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيۡكُمۡ وَتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِۚ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٧٨

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah Subhanahu Wata’alaSubhanahu Wata’aladengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” [QS: Ali Imran: 78]

Takwa sebagaimana dalam pengertian yang telah disepakati oleh para ulama adalah, “Takwa”: melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan meninggalkan larangan-Nya baik dalam keadaan sunyi maupun ramai.”

Merujuk pendapat Ibnu Abas, takwa adalah Alloh selalu ditauhidkan dan tidak disekutukan, Allah Subhanahu Wata’ala disyukuri nikmat-Nya dan tidak diingkarinya, Nama Allah selalu diingat dan tidak dilupakan sesibuk apapun dan bagaimanapun, Allah selalu didekati dan tidak dijauhi.

Kedua, selalu berusaha untuk masuk kedalam islam secara kaffah, menyeluruh, atau total. Hal ini berarti bahwa Muslim yang sejati itu tidak hanya menyesuaikan diri dalam suatu aspek, tetapi seluruh aspek kehidupannya akan terus diusahakan sesuai dengan ajaran islam. Oleh karena itu, dalam berbagai aspek kehidupan, dia tidak akan menempuh cara-cara yang tidak islami. Dia tidak akan memenuhi keingan-keinginan setan. Apa yang dipenuhinya adalah keinginan Allah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS: Al-Baqarah:208).

Kenyataan di dalam masyarakat kita yang mayoritas Muslim menunjukkan bahwa ketaatan berpandangan dan berperilaku yang islami umumnya belum terealisasi dengan baik. Misalnya dalam beribadah ritual sesuai dengan syariat Islam, tetapi dalam beribadah social menceraikan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikian pula dalam aspek social, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, absen dari bimbingan, arahan, dan petunjuk Allah. Sehingga, dalam bermuamalah, cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan jangka pendek (al ghoyatu tubarrirul wasail). Tidak ada pertemanan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Ketika sepi, memerlukan Allah, ketika dalam keramaian meninggalkan Allah.* Bersambung

 

Oleh: Shalih Hayim

sumber: Hidayatullah

Jadilah Muslim Berkepribadian Konsisten (2)

Sesungguhnya kepribadian Muslim selalu cenderung untuk mengatakan kebenaran, hanya karena Allah.

 

MERUPAKAN ciri khas yang seyogyanya ada pada pribadi Muslim untuk senantiasa memberi kesaksian dan pernyataan yang benar. Ia tidak akan berubah meski menjadi syahid. AllahSubhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan,

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, dan menjadi saksi bagi Allah, kendati terhadap diri kalian sendiri, dua orang tua, dan para kerabat dekat.” (an-Nisaa’: 135).

Sesungguhnya kepribadian Muslim selalu cenderung untuk mengatakan kebenaran, hanya karena Allah. Maka di dalam hatinya tidak ada seberkas pun rasa takut. Demikian ini pulalah yang telah ditanamkan Rasululah Shalallaahu ‘Alahi Wasallamterhadap orang-orang salaf.

‘Ubadah Ibn Shamid mengisahkan dari ayahnya, ia mengatakan: Ayahku telah bercerita kepadaku,

“Kami pernah berjanji setia kepada Rasulullah untuk mendengarkan dan menaatinya baik dalam kesulitan maupun kemudahan dan untuk mengatakan kebenaran di mana pun berada dan tak gentar terhadap cacian orang yang suka mencaci, ketika kami berjuang di jalan Allah.” (Muslim).

Rasulullah memperingatkan agar menegakkan kebenaran, serta tak menganggapnya sesuatu yang remeh. Namun itu bukan karena takut kepada manusia atau beberapa orang tertentu yang mengendalikan kekuasaan. Nabi menyatakan,

“Janganlah sekali-kali rasa takut salah seorang dari kalian mencegahnya mengatakan kebenaran, jika ia melihatnya.” (Ahmad).

Demikianlah, Islam mengukuhkan sifat pemberani karena benar di dalam jiwa para pengikutnya. Islam juga menyerukan kepada mereka untuk senantiasa mengikuti serta merealisasikan kebenaran itu, sehingga kebenaran dan keadilan menjadi kenyataan.

Sesungguhnya sikap konsisten terhadap kebenaran merupakan kekuatan yang tak terkalahkan, jika seorang Muslim senantiasa berpegang teguh kepada tali Allah, kitab-Nya, serta mengikuti segala petunjuk-Nya. Petunjuk Allah itu akan menguatkan orang-orang beriman, sehingga tak menyimpang dari jalan kebenaran, dalam keadaan apa pun.

Allah telah menegaskan,

Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan aI-Qur’an itu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) serta memberikan petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang Islam.” (an-Nahl: 102).

Jika ketegaran suatu pribadi adalah karena berlandaskan akidah yang benar, maka seseorang yang akidahnya tidak kuat, niscaya terombang-ambing dalam kehidupan. Selalu berubah mengikuti perubahan dunia. Ia tidak menetap dalam satu keadaan.

Tatkala mendapatkan karunia, ia merasa tenang. Namun manakala musibah dan petaka silih berganti menimpanya, ia berubah, berbalik, berlawanan dengan orang beriman yang sehat akidahnya. Dalam situasi dan keadaan apa pun, orang beriman tetap kukuh dan tegar akidahnya. Dalam hal ini Allah menjelaskan,

Ada di antara manusia yang menyembah Allah dengan tidak sungguh-sungguh. Jika mendapat kebaikan, ia merasa tenang. Tatkala mendapatkan fitnah, wajahnya berbalik, ia merugi di dunia dan akhirat. Dia adalah benar-benar orang yang rugi.” (al-Hajj: 11).

 

DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah.

 

sumber: Hidayatullah.com

Jadilah Muslim Berkepribadian Konsisten (1)

SEORANG Muslim mempunyai kepribadian konsisten, tak pernah goyah karena badai kehidupan. Berlandaskan akidah yang benar, ia tak mudah goyah karena bencana dan kejadian apa pun. Akidahnya tetap, karena kekuatan, konsistensi, serta keyakinannya yang tidak goyah. Karena itulah, kita melihat seorang Muslim yang benar akidahnya, dalam setiap keadaan, pekerjaan, serta perkataannya, selalu konsisten.

Dalam keadaan gembira, sedih, ditimpa kesulitan, atau mengalami berbagai kemudahan, ia tak berubah, selalu konsisten. Konsistensinya dalam setiap keadaan itu disebabkan akidahnya. Dalam banyak kesempatan kita bisa melihat seorang Muslim yang berakidah benar, semua sikap dan perilakunya tak pernah berubah.

Selain ketaatan serta ibadahnya yang tetap, ruang batinnya pun tak berbeda dengan apa yang dinyatakannya. Ia beribadah bukan agar dilihat manusia. Ia taat bukan sekadar pura-pura. Sebab suka mengelabuhi manusia adalah termasuk ciri orang munafik, sebagaimana diterangkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

Sesungguhnya orang-orang munafik itu bermaksud menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Jika mendirikan shalat, mereka melakukannya dengan malas dan agar dilihat manusia. Mereka tak menyebut Allah, kecuali sedikit.” (An Nisaa’: 142).

Selain bekerja, berusaha, dan berpendirian tetap, seorang Muslim tidak bermalas-malasan, apalagi meremehkan pekerjaan. Ia memegang standar kelayakan dalam bekerja. Jika menjadi tuan, ia tak berbuat aniaya terhadap orang-orang yang berbuat aniaya kepadanya. Jika menjadi pekerja, ia ikhlas dalam bekerja. Menyelesaikan pekerjaannya sampai tuntas, konsisten dalam kebenaran dan keadilan, serta tidak menipu apalagi curang. Ia pun tak menyakiti orang lain dalam setiap keadaan.

Allah telah menegaskan,

Dan mereka yang menyakiti orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, padahal mereka tak melakukan apa-apa, maka mereka benar-benar telah melakukan dusta dan dosa yang nyata.”

Dalam hadist, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, menjelaskan,

“Siapa yang mendustakan kami, maka bukan masuk golongan kami.” (Muslim).

Ketika sikap konsisten itu melekat pada kepribadian Muslim, maka jika berjanji ia akan setia menepatinya. Ia tak akan mengingkari janjinya. Allah telah menegaskan,

Tepatilah oleh kalian janji itu. Sesungguhnya janji itu harus dipertanggungjawabkan.” (al-Isra’: 34)

Sementara itu, orang-orang yang tidak menepati janji, mereka adalah kaum munafik. Rasulullah menerangkan,

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berdusta; jika berjanji ia mengingkari; dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Bukhari dan Muslim).

Sementara tanda-tanda orang beriman telah disebutkan Al-Qur’anul Karim,

Dan orang-orang yang senantiasa menjaga janji serta amanah.” (al-Mu’minun: 8).

Kemudian, ciri-ciri yang jelas bagi kepribadian islami adalah kesediaan berjuang di jalan Allah, mempertahankan kebenaran, serta menguatkan barisan. Allah telah menegaskan,

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu dengan sekelompok musuh, maka menetaplah, dan ingatlah Allah selalu, agar kalian beruntung.” (al-Anfal: 45).

Lebih jauh lagi Al-Qur’anul Karim menegaskan seruannya untuk bersabar, dan menguatkan kesabaran itu diiringi dengan selalu bertakwa kepada Allah,

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, dan kuatkanlah kesabaran itu, disertai kesiapsiagaan. Dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali-Imran: 200).

Konsistensi dalam bersikap merupakan unsur terpenting dalam pembentukan kepribadian Islami, di samping berkata serta bertindak secara benar. Rasulullah merupakan contoh yang utama dalam hal sikap konsisten.

Dalam menyiarkan Islam, misalnya, manakala menghadapi orang-orang musyrik, beliau tetap konsisten dalam sikapnya, kendati menerima respon yang kurang mengenakkan dari orang-orang kafir. Bahkan mereka mengancam, menakut-nakuti dengan berbagai sarana. Di antara pemimpin orang kafir adalah paman beliau sendiri yang tak mempercayai kenabiannya. Toh sikap Nabi tidak berubah. Tetap konsisten.

Dengan nada yang tak menyimpan ketakutan, beliau menyatakan kepada pamannya,

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tak akan berhenti sampai Allah menampakkan kebenaran atau mereka binasa.”

Begitulah beliau, sebagai contoh dari sosok yang konsisten dalam bersikap. Tetap berdakwah, sampai Allah memenangkan agama-Nya.

Benar apa yang telah difirmankan-Nya,

Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kalian, yang menaruh harapan kepada Allah dan hari kiamat dan ia memperbanyak mengingat Allah.“*

/DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah.

 

 

sumber: Hidayatullah.com

Islam, Agama Terbesar Kedua di Italia

Silaturahim yang digelar komunitas Muslim Italia diperoleh satu fakta penting.  Muslim Italia menjadi komunitas agama terbesar di Italia. Alhamdulillah.

“Dari angka Badan Statistik Nasional Italia, diketahui bahwa saat ini terdapat 1.7 juta jiwa Muslim,” ucap Izzedin Elzir, Imam Uni Organisasi Muslim Italia (UCOII), seperti dilansir onislam.net, Rabu (12/1).

Elzir mengungkap ada lebih dari 700 masjid lebih. Yang menggembirakan, komunitas Muslim menyumbang 4-5 persen PDB Italia. “Ini menandakan Islam merupakan nilai tambah bagi Italia,” ucapnya.

Melihat fakta itu, Elzir menyayangkan apabila Islam belum diakui secara resmi oleh Italia. Namun, Elzir meminta Muslim Italia tidak berkecil hati karena secara de facto Islam telah diakui.

Ahli Hukum Islam, Universitas Orientale Naples, Agostino Cilardo menilai tidak adanya pengakuan terhadap komunitas Muslim tercermin dari minimnya representasi komunitas Muslim. Ambil contoh saja, tidak ada organisasi Islam yang diakui secara resmi. “Tidak ada yang bisa berbicara atas nama Muslim Italia,” ucap dia.

Menurut Cilardo, efek dari hal itu komunitas Muslim tidak memperoleh dana khusus dari wajib pajak yang diperoleh agama lain, seperti Yahudi dan Buddha.

Harus diakui, belum sepenuhnya masyarakat Italia menerima Islam. Ini terlihat dari penolakan terhadap rencana Perdana Menteri Italia, Enrico Letta membangun sebuah museum seni Islam di Venesia.  Begitu pula rencana pembangunan masjid yang kerap gagal diwujudkan.

 

sumber: Republika Online

5 Cara Agar Jadi Muslim yang Kuat Godaan

Hidup adalah anugerah yang harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Namun, dalam hidup akan selalu dipenuhi dengan godaan dan cobaan.

Cobaan dan godaan bisa jadi semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT, namun sekaligus juga bisa menjauhkan kita dari sang pencipta. Seiring maju dan berkembangnya zaman, maka tantangan sebagai Muslim dalam menghadapi godaan dan cobaan akan semakin besar. Untuk itu, sebagai Muslim, kita harus memiliki iman yang kuat dalam mengarungi kehidupan.

Disitat dari Muslim Village, berikut ada lima poin yang bisa dilakukan agar menjadi Muslim yang kuat di tengah gempuran kemajuan zaman.

Akui Kesalahan dan Berhenti Saling Menyalahkan

Sebagian orang mungkin menyadari kesalahan-kesalahan yang ia perbuat, namun kebanyakan mereka masih menyangkal dan tidak ada upaya untuk melawan sikap abai itu.

Menjadi Muslim yang kuat berarti berani mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Sehingga, ke depannya kita bisa belajar dan menhgindari segala sesuatu yang dapat merusak keimanan.

Selalu Mengendalikan Diri

Kita harus bisa mengendalikan diri secara penuh. Dengan demikian kita dapat mengendalikan dan mengembangkan intelektual, emosional dan potensi kita secara optimal.

Mengendalikan diri bisa dilakukan dengan membentengi diri dengan membaca Alquran. Sehingga, kita memiliki iman yang kuat dalam menghadapi segala situasi.

 

Tetapkan Tujuan

Menghindari keraguan, kita perlu meyakinkan diri kita kembali dengan menilik kembali apa yang ingin dicapai.

Ini perlu agar kita bisa melangkah dengan pasti menuju tujuan yang akan kita raih. Kemudian, menggapai tujuan tersebut dengan cara-cara yang baik.

 

Berzikir

Mengingat Allah SWT akan membuat kita dekat dengan-Nya. Zikir akan mengingatkan kita jika segala seuatu terjadi karena kehendak Allah SWT.

Jadi kita tidak perlu ragu bahwa Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Keutamaan berzikir membawa Muslim berada dalam bimbingan dan berkah Allah SWT. Ini membuat seseorang berpikir ulang berbuat maksiat.

Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustaz Arifin Ilham mengutip surat Al-Azhab. Dengan banyak berzikir, Allah SWT akan mengeluarkan hambah-Nya dari kegelapan dan membawa ke cahaya.

 

 

 

Lakukan Segala Sesuatu karena Mengharap Ridha Allah SWT

Hindari tindakan-tindakan yang telah dilarang oleh Allah SWT. Harus selalu diingat apapun yang kita kerjakan harus dibarengi dengan niat mencari ridha Allah SWT. Dengan demikian, kita akan merasa dikuatkan karena niat yang lurus.

 

 

sumber: Republika Online