Membudayakan Salam

RASULULLAH saw mengabarkan kepada kita bahwa satu di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah salam tidak diucapkan kecuali kepada orang-orang yang dikenal saja. Kemudian, kaum muslimin juga mengganti kalimat salam tersebut dengan kalimat-kalimat yang sama sekali jauh dari tuntunan sunnah. Apa yang dikatakan Rasulullah tersebut telah semakin nyata kebenarannya. Terbukti, kini sebagian kaum muslimin mengucapkan salam hanya kepada orang-orang tertentu saja dari kelompoknya, partainya, golongannya, kaumnya, sukunya, atau hanya kepada orang-orang yang dikenalnya saja.

Lebih dari itu, sebagian kaum muslimin yang mengaku dirinya sebagai akademisi muslim, sarjana muslim, cendekiawan muslim, dan para ilmuwan muslim yang belajar Islam kepada Barat dan para orientalis telah mengganti kalimat salam dengan kalimat-kalimat yang menurut mereka lebih modern, gaul, dan maju, dan sesuai dengan perkembangan zaman hari ini, seperti “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat malam”, dan kalimat-kalimat lainnya yang tidak lain hanyalah adopsi dan impor dari Barat dan orang-orang kafir. Namun atas nama kemajuan, pluralis, liberalis, mereka katakan ini bagian dari Islam dan bukti bahwa Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Ajaran agama Islam benar-benar sangat mulia dan indah. Satu buktinya ialah adanya ajaran tegur sapa. Dengan bertegur sapa, hidup terasa lebih indah seindah nama Islam itu sendiri, sehingga terjalinlah komunikasi dua arah yang akan merekatkan hubungan silahturrahim sejak dini. Lihatlah, fenomena konflik di masyarakat selama ini sesungguhnya kerap muncul akibat minimnya tegur sapa. Seolah-olah baik diri kita sendiri ataupun orang lain tidak perlu tegur sapa kalau tidak ada perlunya.

Sekiranya setiap pihak mau membudayakan tegur sapa dan tidak suka merasa paling benar diri sendiri, persoalan yang muncul tidak akan melebar ke mana-mana. Saling berprasangka tidak baik berbalut sikap enggan bertegur sapa itulah yang meluapkan percikan api amarah menjadi bara perseteruan dan dendam.

Ajaran Islam sungguh tidak hanya mengurusi masalah urusan ritual saja, akan tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat, hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang sunnah, tetapi menjawabnya adalah wajib. Alquran tegas menyatakan dalam firman Allah Swt, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86).

Budaya tegur-sapa
Penghormatan dalam Islam ialah dengan mengucapkan assalamu’alaikum. Islam mengajarkan budaya tegur-sapa dengan ucapan salam, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ucapan ini memang tampak sepele dan tidak dipungut biaya apapun, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Lantas, siapa yang dianjurkan memulai salam? Dalil yang bisa dijadikan rujukan seperti dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perintah mengucapkan salam juga berlaku ketika bertemu dengan saudara sesama muslim yang tidak kita kenal. Abdullah bin Amr bin Ash pernah berkisah, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Islam bagaimana yang bagus? Beliau lantas menjawab, engkau memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata ucapan salam juga memiliki dampak sosiologis luar biasa bagus. Salam yang diucapkan secara tulus dapat melahirkan sikap kebersamaan dan keharmonisan yang baik. Inilah benih-benih kekuatan antar saudara seiman. Sebab, menurut sebagian ulama, kalimat as-salam adalah satu nama Allah, sehingga kalimat assalamualaikum berarti Allah bersamamu atau engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian ulama lain mengartikan as-salam sebagai keselamatan, sehingga kalimat assalamu’alaikum bermakna semoga keselamatan selalu menyertaimu. Kedua pemaknaan itu, jika digabungkan, akan memiliki arti semoga Allah senantiasa bersamamu sehingga keselamatan terus menyertaimu.

Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ketika Allah telah menjadikan Adam, maka Allah memerintahkan: Pergilah kepada para Malaikat dan ucapkan salam kepada mereka yang tengah duduk. Dengarkanlah jawaban salam mereka, karena itu akan menjadi ucapan salam bagi kamu dan anak cucumu kelak!” Maka pergilah Nabi Adam dan mengucapkan: Asalaamu`alaikum. Para Malaikat menjawab: Assalaamu‘alaika warahmatullaah. Mereka menambah warahmatullaah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Hadis di atas sangat jelas asal muasal ucapan salam yang berasal dari manusia pertama, yaitu Nabi Adam as, yang kemudian diikuti oleh umat muslim di seluruh dunia hingga sampai saat ini. Islam mewajibkan apabila kita bertemu dengan sesama muslim agar selalu mengucapkan salam, dengan ucapan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi barakatuh.” yang bermakna “Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan berkah kepadamu”. Begitu luar biasa doa dari orang yang mengucapkan salam, kita didoakan agar mendapatkan keselamatan, rahmat.

Dalam satu hadis dari Imran bin Hushain dikisahkan, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, assalamualaikum. Setelah menjawab, Rasulullah bersabda: Sepuluh. Tidak lama, datang lagi orang kedua, yang memberikan salam, assalamualaikum wa rahmatullahi. Setelah dijawab oleh Rasulullah, beliau pun bersabda: Dua puluh. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan, assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Rasulullah menjawab, lantas bersabda: Tiga puluh.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Syiarkan salam
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga, sehingga kamu beriman (dengan iman yang sempurna). Dan kamu tidak beriman sehingga kamu sekalian saling cinta-mencintai; Maukah kamu saya tunjukkan kepada sesuatu, bilamana kamu melaksanakan kamu akan bisa cinta-mencintai? Syiarkanlah salam di kalangan kamu.” (HR. Muslim dan Abu Dawud). Berdasarkan hadis di atas sudah sangat jelas mengenai ucapan salam, sekaligus menjadi panduan tentang mengucapkan salam yang benar untuk mendapatkan ganjaran pahala yang besar dari Allah swt.

Saat ini umat manusia di manapun berada hidup di zaman teknologi serba canggih. Aneka perangkat digital bermunculan, seperti Telepon, SMS, BlackBerry Messenger (BBM), Email, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter, Path, Skype, Instagram, WhatsApp, Talk, Line, Camfrog, Viber, Tango, dan lain-lain.

Sejumlah perangkat modern itu sangat prospektif untuk membangun kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Namun sayang, kerap muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam yang mulia itu menjadi “Askum”, “Kumlam”, “Lekum”, “Asw”, “Aslm”, dan yang mirip-mirip dengan kata-kata tersebut. Yang paling sering adalah “Ass”. Kalimat ini umumnya disampaikan lewat layanan pesan pendek (SMS) di media jejaring sosial di internet.

Maksudnya tentu untuk mempermudah penyampaian pesan. Tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justeru berakibat penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa. Kalimat “Ass”, misalnya, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang yang bodoh, pantat. Pasti pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara dengan kata-kata buruk. Namun, apa susahnya mengucapkan salam sebagaimana ajaran Rasulullah saw.

Selain kata yang singkat dan tidak panjang dan mudah diucapkan oleh siapapun. Lagi pula tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat “selamat pagi” atau “selamat sore”. Namun tidak menjadi masalah apabila setelah mengucapkan salam diucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti misalnya “Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini”, sehingga ucapan itu mengandung makna dengan doa.

Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentunya, harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan ajaran Rasulullah saw. Sebagai gantinya, menghidupkan sunnah yang demikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak kita dimulai dari sekarang dan di kemudian hari. Wallahu a’lam bishawab.

Dr. Murni, S.Pd.I, M.Pd., Dosen Prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Araniry, Darussalam-Banda Aceh.

sumber: Serambi Indonesia

Keutamaan Membudayakan Salam

Salah satu bukti keindahan dan kemuliaan Islam ialah adanya ajaran tegur sapa. Dengan tegur sapa, hidup terasa gayeng, karena relasi antarsesama terjalin intim. Perhatikan, fenomena konflik di masyarakat sesungguhnya kerap mengemuka akibat minim tegur sapa.

Sekiranya setiap pihak mau membudayakan tegur sapa dan tidak suka merasa paling benar, persoalan yang muncul tidak akan melebar ke mana-mana. Purbasangka berbalut sikap enggan bertegur sapa itulah yang meletupkan percikan api amarah menjadi bara perseteruan dan dendam.

Islam mengajarkan budaya tegur sapa dengan ucapan salam, assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Ucapan ini memang tampak sepele dan tidak dipungut biaya, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebarkan salam antarsesama Muslim.” [HR Muslim].

Mengucapkan salam, mengacu pada hadis di atas, boleh dikata merupakan perwujudan iman. Atau, dengan kalimat lain, ucapan salam itu budaya orang beriman, dan memang hanya orang berimanlah yang akan mampu membudayakan salam sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah. Perintah mengucapkan salam tidak berlaku kepada dan bagi selain orang beriman.

Ucapan salam juga memiliki dampak sosiologis luar biasa dahsyat. Salam yang diucapkan secara tulus dapat melahirkan sikap kekitaan dan kebersamaan. Inilah benih-benih kekuatan antarsaudara seiman itu. Sebab, menurut sebagian ulama, kalimat “as-salam” adalah salah satu nama Allah, sehingga kalimat “Assalamualaikum” berarti Allah bersamamu atau engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian ulama lain mengartikan “as-salam” sebagai keselamatan, sehingga kalimat “Assalamualaikum” bermakna semoga keselamatan selalu menyertaimu. Kedua pemaknaan itu, jika digabungkan, akan berbunyi semoga Allah senantiasa bersamamu sehingga keselamatan terus menyertaimu.

Era modern ditandai dengan teknologi serba canggih. Aneka perangkat digital bermunculan, seperti Facebook, Email, Twitter, Skype, Instagram, WhatsApp, Talk, Line, Yahoo Messenger, Camfrog, Viber, Tango, Telepon, SMS, dan BlackBerry Messenger. Sejumlah perangkat modern itu sangat prospektif untuk membangun kekitaan dan kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Sayang, kerap muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam yang mulia itu menjadi “Askum”, “Kumlam”, “Lekum”, “Asw”, “Aslm”, dan semisalnya.

Yang paling sering adalah “Ass”. Kalimat ini umumnya disampaikan lewat sms atau pesan di media jejaring sosial di internet. Maksudnya tentu untuk mempermudah penyampaian pesan. Tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justru berakibat penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa itu. Kalimat “Ass”, misalnya, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang yang bodoh, pantat. Pasti pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara dengan kata-kata buruk itu. Namun, apa susahnya mengucapkan salam sebagaimana ajaran Rasulullah.

Kalau alasannya malas, alangkah lebih baik kalau cukup mengucapkan “Halo”, “Hai”, “Apa kabar”, dan semisalnya. Kalau alasannya kalimat salam itu terlalu panjang, cobalah simak hadis dari Imran bin Hushain berikut. Dikisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, “Assalamualaikum”. Setelah menjawab, Rasulullah bersabda, “Sepuluh”. Tidak lama, datang lagi orang kedua, yang memberikan salam, “Assalamualaikum wa rahmatullahi”. Setelah dijawab oleh Rasulullah, beliau pun bersabda, “Dua puluh”. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan, “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Rasulullah menjawab, lantas bersabda, “Tiga puluh”. [HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi].

Terang sudah jawaban soal keluhan seputar panjangnya ucapan salam. Hadis itu sekaligus menjadi panduan bagaimana menyingkat salam yang mendapat garansi dari Rasulullah. Tiga pilihan itu, semuanya berpahala, sesuai tingkat kesempurnan ucapannya. Lain dari tiga pilihan yang disebutkan dalam hadis itu, jelas tertolak.

Lantas, siapa yang dianjurkan memulai salam? Kata Rasulullah, hendaklah yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberikan salam kepada yang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang di atas kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Jika orang-orang yang diutamakan untuk memulai salam itu tidak melakukannya, gugurkah anjuran salam atas mereka yang seharusnya berstatus penerima salam? Jawabnya, tentu tidak. Islam tetap menganjurkan umatnya untuk mengucapkan salam kepada orang lain, misalnya, yang lebih tua kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada pengendara. Sabda beliau, “Yang lebih utama dari keduanya adalah yang memulai salam.” [HR Bukhari dan Muslim].

Perintah mengucapkan salam bahkan berlaku ketika bertemu saudara sesama Muslim yang tidak kita kenal. Abdullah bin Amr bin Ash pernah berkisah, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Islam bagaimana yang bagus?” Beliau lantas menjawab, “Engkau memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” [HR Bukhari dan Muslim].

Luar biasa. Ajaran Islam sungguh tidak melulu urusan ritual, tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat, hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang sunnah, tetapi menjawabnya adalah wajib. Al-Qur’an tegas menyatakan, “Jika kamu diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” [QS An-Nisa/4: 86].

Saatnya kita budayakan ucapan salam sebagai ciri khas tata pergaulan orang beriman. Semoga kita senantiasa dilimpahi karunia dan maunah untuk dapat meniti hidup di atas rel sunnah.

 

Oleh M Husnaini
(Penulis Buku “Menemukan Bahagia”)

Email: hus_surya06@yahoo.co.id

 

sumber: Republika Online

Non Muslim Tanya tentang Salam

Hukum Salam Kepada Non Muslim

Saya adalah seorang non muslim. Suatu ketika, saya bertemu dg seorang muslim yg mana baru kami bertemu hari itu dan seorang muslim tadi tidak tahu bahwa saya adalah non muslim. Setahu saya, bagi muslim, mengucapkan salam adalah doa. Seorang muslim tadi mengucapkan kepada saya ‘Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh’. Saya dg bingung langsung menjawabnya ‘Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh’. Setelah selesai kami berbincang-bincang, seorang muslim tadi mengucapkan salam kembali. ‘Wassalamu’alaikum’. Dg bingung lagi saya menjawabnya ‘Waalaikumsalam’. Saya sgt bingung dan memang saya blm mengerti mengenai hal ini dlm ajaran agama saya sendiri. Apakah ada dlm Islam ttg salam ini? Lalu apakah yg saya lakukan (dg menjawab salam tadi) itu adalah dosa? Mohon penjelasannya..

Mohon maaf bila ada salah dlm penulisan atau salah-salah kata. Terima kasih.

 Dari Lauren

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya perkenankan kami menyampaikan keheranan atas pertanyaan yang anda sampaikan. Seorang non muslim mengajukan pertanyaan melalui situs Islam.

Meskipun sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang aneh, mengingat sejak masa silam, umat beragama selain islam, diantaranya kaum musyrikin Quraisy, umat Nasrani, dan umat Yahudi, telah mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki aturan paling lengkap dan paling sempurna.

Abu Thalib yang termasuk tokoh orang musyrik, dan sekaligus paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat syair, memuji agama yang didakwahkan oleh keponakannya:

ولقد علمت بـأن دين محمد                       من خير أديان البرية دينا

لولا الملامة أو حذاري سبة                     لوجدتني سمحا بذاك مبينا

Sungguh saya sadar, bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini.

Andai bukan karena celaan dan takut hinaan, tentu engkau akan melihatku menerima agamamu ini dengan penuh kelapangan dada  dan secara terang-terangan.

Demikian pula yang dilakukan umat Nasrani, Raja Najasyi – raja yang beragama nasrani – menangis ketika beliau mendengar bacaan surat Maryam yang disampaikan Ja’far bin Abi Thalib.

Demikian pula orang yahudi, mereka mengagumi kesempurnaan ajaran islam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari jalur Thariq bin Syihab, bahwa pernah ada orang Yahudi yang datang menemui Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, lalu mengatakan,

يا عمر، إنكم تقرءون آية في كتابكم، لو علينا معشر اليهود نزلت لاتخذنا ذلك اليوم عيدا

Wahai Umar, kalian membaca satu ayat di kitab kalian, andaikan ayat ini turun kepada kami kaum Yahudi, tentu akan kami jadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.

Umar bertanya: “Ayat apa itu?”

Jawab Yahudi: “Firman Allah,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari dimana Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan aku penuhi nikmat-Ku (nikmat hidayah) untuk kalian…” (QS. Al-Maidah: 3)

Selanjutnya, khalifah Umar berkomentar,

والله إني لأعلم اليوم الذي نزلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، والساعة التي نزلت فيها على رسول الله صلى الله عليه وسلم، نزلت عَشية عَرَفَة في يوم جمعة

“Demi Allah, saya tahu hari dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini turun di siang hari Arafah, pada hari Jumat.” (HR. Ahmad no. 188).

Dua Sumber yang Terjaga

Diantara sisi keunggulan, mengapa islam lebih lengkap dan sempurna dibandingkan ajaran agama lain, karena islam memiliki dua panduan yang menjadi sumber agama, yang keduanya otentik: al-Quran dan hadis. Semuanya terjaga keasliannya.

Kita bisa bandingkan, al-Quran ditulis dalam bahasa arab. Dan dimanapun al-Quran ini berada, teks arab tidak pernah lepas. Sekalipun harus menyesuaikan bahasa lokal, teks arab tetap ada dan hanya ditambahkan terjemahannya.

Berbeda dengan perjanjian baru dan perjanjian lama. Kitab ini pada asalnya berbahasa ibrani. Dan bisa kita lihat, hampir tidak dijumpai Bible yang mencantumkan bahasa aslinya. Sampaipun Bible yang berbahasa inggris, tidak ada teks ibraninya. Sementara kita sangat yakin bahwa yang namanya terjemahan adalah interpretasi dari penerjemah terhadap teks yang dia pahami. Kita tidak tahu, apakah Bible Indonesia itu terjemahan dari bahasa ibrani langsung ataukah terjemahan dari Bible bahasa inggris atau bahasa itali?

Demikian halnya panduan kedua. Dalam islam, hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga keotentikannya. Ada teks arabnya, dan semuanya disampaikan melalui sanad, yaitu hirarki para periwayat yang membawakan hadis itu hingga sampai pada Nabi Muhammad. Selanjutnya hadis-hadis ini dikodifikasi dalam kitab-kitab hadis, sehingga umat islam bisa dengan mudah mengetahui bagaimana perilaku dan budi pekerti nabi mereka. Karena itulah, pakar sejarah di seluruh dunia mengakui, tidak ada sosok individu yang sejarahnya paling lengkap melebihi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan saya kira, semacam ini tidak ada dalam agama lain untuk saat sekarang.

Panduan Ulama

Di samping dua sumber yang otentik, umat islam juga mendapatkan bimbingan dari karya para ulama. Melalui bimbingan mereka, kaum muslimin bisa memahami al-Quran dan hadis. Dan karya mereka luar biasa banyaknya. Hingga membuat barat merasa kalah dalam karya, dan mengambil sebagian manuskrip karya para ulama. Mengapa diambil? Ya, setidaknya dengan cara ini mereka bisa menjauhkan kaum muslimin dari bimbingan ulamanya.

Karena itu, ketika kami menyebutkan dasar dari al-Quran dan hadis, terkadang kami juga mencantumkan keterangan ulama.

Doa Untuk Non Muslim

Umat islam meyakini bahwa hanya islam agama yang benar, yang bisa mengantarkan manusia menuju surga. Dan saya kira, ini bukan hanya doktrin islam, tapi doktrin seluruh agama. Tak terkecuali umat nasrani. Semua meyakini bahwa agama merekalah satu-satunya yang benar, yang akan mengantarkan menuju surga, dan selain mereka akan masuk ke neraka.

Karena itulah, umat islam diajarkan bahwa tidak semua doa boleh diberikan kepada orang non muslim. Bukan karena kita pelit dalam memberi kebaikan, namun karena non muslim adalah orang yang durhaka kepada Tuhan, sehingga mereka tidak berhak mendapatkan kasih sayang Tuhan, jika mereka mati di atas agama selain islam.

Dalam islam, ada doa yang boleh diberikan kepada non muslim dan ada yang tidak boleh diberikan kepada mereka.

Diantara doa yang boleh diberikan kepada orang non muslim, bisa anda pelajari di,

Sementara mendoakan agar dosa non muslim diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir, hukumnya dilarang. Dalam al-Quran, Allah berfirman,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (QS. at-Taubah: 113)

Para ulama kami juga sepakat bahwa doa semacam ini dilarang.

Imam Nawawi -rohimahulloh- menjelaskan,

وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, hukumnya haram, berdasarkan dail al-Qur’an dan sepakat ulama. (al-Majmu’ 5/120).

Tidak Boleh Memulai Salam

Kami juga diajarkan agar merasa percaya diri dan lebih mulia dari pada penganut agama lain. Karena hanya umat islam yang patuh kepada Tuhan, sementara umat lain membangkang kepada Sang Pencipta. Sehingga mereka tidak selayaknya dihormati, sampaipun dalam bentuk  memulai memberikan salam kepada mereka.

Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

Janganlah kalian memulai memberi salam kepada orang yahudi dan nasrani. (HR. Muslim 5789).

Umat islam tidak diajarkan menghina orang non muslim, namun kita diajarkan untuk tidak memuliakan mereka, karena pertimbangan agama dan keyakinan.

Kita juga diajarkan, ketika ada orang yahudi atau nasrani yang memberi salam, agar kita cukup menjawab: ‘Wa alaikum’ yang artinya, “semoga juga untukmu.

Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Apabila ahli kitab memberi salam kepada kalian, jawablah, “Wa alaikum” (dan juga untukmu). (HR. Bukhari 6259 dan Muslim 5780)

Bagaimana jika tidak tahu?

Karena tidak tahu, maka itu diluar di luar tanggung jawab. Karena itu, tidak istilah dosa bagi muslim yang menjawab salam nasrani. Kejadian semacam ini pernah dialami sahabat Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu.

Diceritakan bahwa dia pernah berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, maka beliaupun menjawabnya dengan ucapan: “Wa’alaika wa rohmatulloh wabarokatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya, Dia itu nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga dia berhasil menyusulnya. Kemuduian beliau mengatakan,

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك

“Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin, akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh Syeikh Albani)

Apa yang beliau sampaikan ini sebagai nasehat bagi orang nasrani, bahwa muslim tidak diperkenankan untuk menjawab salam dari orang nasrani dengan jawaban lengkap. Namun boleh mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sementara apa yang sudah terjadi karena tidak tahu, tidak menjadi tanggung jawab muslim.

Apakah orang nasrani juga turut berdosa?

Sebenarnya yang lebih penting bukan ini. Yang lebih penting, bagaimana dia bersedia masuk islam, karena itu agama paling sempurna.

Semoga Allah memberi hidayah kita semua.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

 

sumber: Konsultasi Syariah

Memberi Salam pada Majelis yang Bercampur Muslim dan Non Muslim

Bagaimana mengucapkan salam pada majelis yang di situ terdapat muslim dan non muslim? Apakah kita mengucapkan salam, atau membiarkannya? Karena ada hadits larangan memulai mengucapkan salam pada non muslim.

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari  no. 6254 dan Muslim no. 1798).

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara muslim dan non muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk muslim. (Al Adzkar, hal. 464).

Penjelasan di atas tidak bertentangan dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167). Hadits Abu Hurairah ini umum, sedangkan hadits Usamah di atas bersifat khusus. Hadits Abu Hurairah menunjukkan tidak boleh memulai salam pada non muslim tanpa ada sebab apa-apa dan juga tanpa ada hajat. Demikian kata Ath Thobari sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11: 39-40.

Namun jika seseorang  mengucapkan salam pada non muslim yang tidak memasukkan non muslim dalam salam tersebut seperti dengan ucapan “Assalamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin” (keselamatan bagi kami dan bagi orang-orang yang sholeh), seperti ini boleh. Sebagaimana pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa salampernah menulis surat pada Heraklius dan mengucapkan salam “Salamun ‘ala manit taba’al huda” (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk). Lihat penjelasan dalam Al Fath, 11: 40.

Semoga sajian di pagi ini bermanfaat.

 

Referensi:

Al Adzkar An Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: ‘Amir bin Ali Yasin, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat tahun 1432 H.

 

sumber: Rumaysho