Awas! Ada Makruh di dalam Sholat Kita

YANG dimaksudkan dengan makruh adalah segala yang menyelisihi perkara sunah yang telah disebutkan sebelumnya. Makruh itu sendiri adalah sesuatu yang diberi pahala jika ditinggalkan dengan landasan diniatkan dan tidak diberi hukuman bagi yang melakukannya.

Contohnya, meninggalkan sunnah yang termasuk makruh adalah meninggalkan takbir intiqol yaitu takbir berpindah rukun. Melakukan takbir intiqol termasuk dalam sunah hayah, meninggalkannya termasuk makruh. Termasuk dalam yang makruh pula adalah membaca doa iftitah.

Namun ada perkara lain yang makruh untuk dilakukan dalam salat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1- Menoleh saat salat dengan memalingkan leher kecuali jika ada keperluan.

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai berpaling (menoleh) dalam salat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas menjawab,

“Itu adalah copetan yang dicopet oleh setan dalam salat seseorang.” (HR. Bukharino. 751)

Adapun jika ada kebutuhan untuk menoleh seperti saat salat khauf ketika akan datangnya musuh, maka boleh.

Bahasan di atas adalah jika menoleh dengan memalingkan wajah atau leher. Adapun jika memalingkan dada lantas menjauh dari arah kiblat, salatnya batal karena meninggalkan rukun menghadap kiblat. Adapun mencuri pandangan dengan mata, tidaklah mengapa.

Dalilnya adalah,

“Ali bin Syaiban, ia adalah seorang delegasi (utusan). Ia berkata, “Kami pernah keluar hingga kami bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kami pun membaiat beliau dan kami salat di belakang beliau. Beliau lantas mencuri pandangan lewat pelipis matanya pada seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya saat salat ketika ruku dan sujud. Ketika selesai salat, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai kaum muslimin, tidak ada salat bagi yang tidak menegakkan punggungnya saat ruku dan sujud.” (HR. Ibnu Majah no. 871 dan Ahmad 4: 23. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

2- Memandang ke langi-langit.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

“Kenapa bisa ada kaum yang mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam salatnya.” Beliau keras dalam sabda beliau tersebut, hingga beliau bersabda, “Hendaklah tidak memandang seperti itu, kalau tidak, pandangannya akan disambar.” (HR. Bukhari no. 750).

Di antara yang dimakruhkan yang lain adalah menyingsingkan atau melipat ujung pakaian di tengah-tengah salat, juga mendahulukan salat dari makan yang telah tersaji.

Rinciannya sebagai berikut.

3- Melipat atau mengumpulkan rambut dan menyingsingkan ujung pakaian di tengah-tengah salat.

Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri. Dan kami dilarang mengumpulkan pakaian dan rambut.” (HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

Yang diperintahkan adalah menjulurkan celana atau pakaian sebagaimana adanya. Namun dengan catatan, pakaian tidak isbal (tidak melebihi mata kaki), itu lebih selamat.

4- Salat ketika telah tersaji makanan dan sangat ingin sekali menyantap makanan tersebut.

Jika tidak mendahulukan, maka tidak akan khusyuk saat salat. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jika makan malam salah seorang dari kalian telah tersaji sedangkan salat telah ditegakkan, maka dahulukanlah makan malam tersebut. Janganlah tergesa-gesa, santaplah hingga habis.” (HR. Bukhari no. 673 dan Muslim no. 559). [Muhammad Abduh Tuasikal, MSc]

Sumber :rumaysho; Al Fiqhu Al Manhaji ala Madzhabil Imam Asy Syafii, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H

 

INILAH MOZAIK

Apabila Meninggalkan Rukun Islam: Salat

IBNU Rajab berkata, ada berbagai hadits yang menyatakan bahwa meninggalkan shalat mengakibatkan keluar dari Islam. Seperti hadits Jabir berikut yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Umar radhiyallahu anhu pernah berkata, “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ash-Shalah, hlm. 41-42. Dikeluarkan oleh Malik, begitu juga diriwayatkan oleh Saad dalam Ath-Thabaqat, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad-Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu Asakir. Hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil, no. 209)

Bahkan Ayyub As-Sikhtiyani berani menyimpulkan, “Meninggalkan shalat itu berarti kafir. Hal ini tidak diperselisihkan sama sekali.” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 1: 147)

Imam Ahmad dan Imam Ishaq juga mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat. Mereka samakan dengan kafirnya Iblis yang diperintahkan sujud pada Adam dan enggan. Dan Iblis juga enggan bersujud pada Allah Yang Maha Mulia. (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 1: 149)

Sebagai tanda mulianya shalat, saat lupa atau ketiduran (asalkan bukan kebiasaan) tetap dikerjakan saat ingat atau tersadar. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari, no. 597; Muslim, no. 684)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim, no. 684)

 

INILAHMOZAIK

Apabila Meninggalkan Rukun Islam: Salat

IBNU Rajab berkata, ada berbagai hadits yang menyatakan bahwa meninggalkan shalat mengakibatkan keluar dari Islam. Seperti hadits Jabir berikut yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Umar radhiyallahu anhu pernah berkata, “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ash-Shalah, hlm. 41-42. Dikeluarkan oleh Malik, begitu juga diriwayatkan oleh Saad dalam Ath-Thabaqat, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad-Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu Asakir. Hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil, no. 209)

Bahkan Ayyub As-Sikhtiyani berani menyimpulkan, “Meninggalkan shalat itu berarti kafir. Hal ini tidak diperselisihkan sama sekali.” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 1: 147)

Imam Ahmad dan Imam Ishaq juga mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat. Mereka samakan dengan kafirnya Iblis yang diperintahkan sujud pada Adam dan enggan. Dan Iblis juga enggan bersujud pada Allah Yang Maha Mulia. (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 1: 149)

Sebagai tanda mulianya shalat, saat lupa atau ketiduran (asalkan bukan kebiasaan) tetap dikerjakan saat ingat atau tersadar. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari, no. 597; Muslim, no. 684)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim, no. 684)

 

INILAH MOZAIK

Malas Mengerjakan Shalat, Belajar dari Pemuda Anshar Ini!

Banyak riwayat yang mengkisahkan shalatnya Rasulullah SAW dan para sahabat, betapa khusuk dan asyiknya mereka dalam mengerjakan shalat, sampai-sampai mereka tidak menghiraukan apa yang terjadi pada diri mereka. Salah satunya, kisah sahabat dari golongan Anshar, bernama Abbad bin Bisyr. Meski panah demi panah menancap di tubuh dan darah mengalir dari lukanya, ia tetap asyik shalat tanpa goyah sedikit pun.

Dikisahkan dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a. bahwa ketika Nabi SAW kembali dari suatu peperangan, Beliau berhenti di suatu tempat dan bersabda, “Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?” Ammar bin Yasir ra dari kalangan Muhajirin dan Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar berkata, “Kami siap berjaga malam.” Kemudian Nabi SAW menyuruh mereka agar berjaga di sebuah bukit. Di bukit itu terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang.

Keduanya pergi ke bukit itu, setibanya di sana, Abbad ra berkata kepada saudaranya Ammar ra, “Mari kita bagi malam ini menjadi dua bagian. Bagian malam pertama, aku yang berjaga dan engkau beristirahat. Dan bagian kedua, engkau yang berjaga dan aku beristirahat. Sehingga malam ini dapat kita jaga secara bergantian. Jika merasa ada musuh yang datang, maka yang berjaga dapat membangunkan yang tidur. Jika kita berdua berjaga bersama-sama, bisa-bisa kita mengantuk.”

Maka Abbad ra, pemuda Anshar, mendapat bagian yang pertama dalam berjaga, dan Ammar ra, pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas Abbad ra mendirikan shalat. Ternyata ada seorang musuh yang mengintainya. Dari jarak jauh, musuh itu membidikkan anak panahnya ke Abbad ra, namun ia masih tegak berdiri. Musuh pun melepaskan lagi anak panahnya, dan Abbad ra masih belum goyah.

Ketiga kalinya musuh melepaskan anak panahnya pada Abbad ra. Hal yang dilakukan Abbas adalah mencabut dan melemparkan setiap anak panah yang menancap di badan dengan tangannya. Ia meneruskan shalatnya, mengerjakan ruku’ dan sujud dengan tenang. Selesai shalat, Abbad baru membangunkan kawannya.

Ketika musuh melihat Abbas ra tidak sendiri, ia segera melarikan diri. Musuh yang seorang diri tidak tahu berapa banyak tentara Islam di tempat itu. Ammar ra melihat badan Abbad ra penuh darah dengan bekas tiga anak panah di tubuhnya.

Ammar ra berkata kepada saudaranya yang terluka, “Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?” Jawab Abbad ra, “Ketika tadi aku shalat, aku mulai membaca surat Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku’ sebelum menyelesaikan surat ini. Namun aku merasa, aku bisa mati jika dipanah terus menerus sehingga tugas dari Rasulullah SAW untuk berjaga tidak tertunaikan.”

Abbad ra melanjutkan perkaatannya pada saudaranya, Ammar ra, “Aku mencemaskan keselamatan Nabi SAW. Jika tidak, akan kuselesaikan bacaan surat itu sebelum ruku’, walaupun aku harus mati.” (Baihaqi, Abu Dawud).

Ada perbedaan fiqhiyah mengenai darah yang mengalir dalam shalat. Imam Abu Hanifah rah.a berpendapat dapat membatalkan wudhu sedangkan menurut madzhab Ssyafi’i tidak membatalkakn. Barangkali seperti itulah pendapat para sahabat, atau hal itu belum diteliti karena Nabi SAW tidak ada di tempat kejadian, atau karena belum ada hukum terhadap hal tersebut. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Hukum Membaca “Shadaqallahul Adzhim” Dalam Sholat

Ada yang memandang bahwa bila setelah membaca Al-Quran kita mengucapkan lafadz “Shadaqallahul ‘Adzhiem” hukumnya bid’ah. Dalam pandangan golongan ini, hal seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bagi mereka, ketika tidak ada contoh dari Rasulullah, maka hukumnya menjadi terlarang alias bid’ah.

Ada juga kalangan lain yang tak memandang bahwa hal itu bid’ah. Sebab, meski tak ada riwayat yang secara khusus menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan lafadz itu selepas baca Quran, namun tetap ada dalil yang bersifat umum tentang anjuran mengucapkan lafadz itu.

Misal ayat Quran berikut: Katakanlah, “Shadaqallah” dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus (QS. Ali Imrah: 95)

Lalu, jika ada pendapat yang tak membid’ahkan bacaan Shadaqallahul Adzhim di luar shalat, maka bagaimana hukumnya apabila itu diucapkan di dalam rakaat-rakaat shalat?

Dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah, terbitan Kementerian Mesir, disebutkan pendapat ulama mazhab perihal itu:

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Apabila seorang shalat dan mengucapkan tasbih, menurut mazhab ini, seperti shadaqallahul ‘adzhim setelah selesai dari membaca Quran, maka shalatnya tetap ‘jalan’, tak batal.

Akan tetapi, mereka mensyaratkan bahwa hal itu dilakukan dengan niat bahwa tujuannya sekadar untuk memuji, berzikir atau tilawah.

2. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Hampir sama dengan mazhab Al-Hanafiyah; siapa pun yang shalat lalu mengucapkan lafadz shadaqallahul ‘adzhim, tidak batal shalatnya. Bedanya, tanpa mensyaratkan apa pun.

Dari dua pendapatnya, kita jadi tahu, masalah ini masalah khilafiah. Tiada nash yang dengan tegas melarang akan tetapi juga tiada nash yang secara khusus memerintahkannya. Tak tepat rasanya bila kita menjadi saling bermusuhan untuk urusan yang tiada nash yang tegas.

Dengan perbedaan ini, kuncinya hanya satu: saling bertoleransi dengan sesama muslim.

 

BERSAMA DAKWAH

Salat dengan Baik Maka Rezeki Akan Datang

SELAIN kedudukan ibadah salat yang amat tinggi di sisi Allah, efek positif dari salat juga langsung menyentuh kehidupan manusia. Bukankah kita mendengar Firman Allah swt,
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.Al-Ankabut: 45).

Salat yang benar akan membentuk diri manusia untuk antiterhadap perbuatan buruk dan kejam. Tapi di samping itu, salat juga memiliki hubungan erat dengan urusan rezeki. Coba kita perhatikan dua ayat berikut ini,

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah- mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim: 37)

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS.Thaha: 132).

Pada ayat pertama, Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya di tempat yang gersang di sekitar Mekah agar mereka melaksanakan salat. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat.”

Setelah ungkapan ini ia sampaikan, baru kemudian Ibrahim berdoa agar Allah memberikan rezeki kepada keluarganya: Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Pada ayat kedua, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengajak keluarganya melakukan salat: Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.

Setelah berfirman mengenai perintah salat ini, Allah melanjutkan tentang masalah rezeki: Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.

Dua ayat ini selalu meletakkan urusan rezeki setelah urusan salat. Seakan ingin menjelaskan bahwa salatlah dengan baik, maka rezeki akan datang setelahnya. Sering kita menunda salat karena ada urusan bisnis yang belum selesai. Sering kita mempercepat salat kita karena ada pembeli yang datang. Sering kita melalaikan salat hanya karena ada orang penting yang harus kita temui.

Coba pikirkan, kenapa kita harus mempercepat salat demi pembeli sementara kita sedang menghadap Sang Pengatur Rezki?

Kenapa kita harus menunda salat demi bertemu klien sementara Allah-lah Sang Pemegang urusan itu? Kenapa kita harus bertemu orang penting dan melupakan pertemuan dengan zat yang segala urusan ada ditangan-Nya?

Mari kita perbaiki cara berpikir kita agar tidak lagi mendahulukan sesuatu yang penting dan melalaikan sesuatu yang jauh lebih penting. Semoga Allah menerima salat-salat kita.[]

 

INILAH MOZAIK

Berbagai Macam Kiat Agar Tak Malas Salat

ADA banyak cara agar tidak malas melaksanakan salat, beberapa di antaranya:

1. Jadikan salat sebagai kebutuhan bukan sekadar kewajiban

Salat bukan hanya dijadikan sebagai kewajiban saja, tetapi hendaknya juga dijadikan sebagai kebutuhan. Karena jika salat hanya dijadikan sebagai kewajiban, hal inilah yang bisa menjadi beban. Dan apabila kita bisa menjadikanya sebagai kebutuhan maka akan terasa ringan.

2. Jangan menunda salat

Selain pahala salat yang berkurang. Menunda salat juga dapat menambah rasa malas. Hal inilah yang biasa dilakukan setan untuk membujuk dan menggoda manusia. Awalnya setan hanya membujuk untuk menunda, lalu setan akan mengalihkan pikiran manusia agar lupa terhadap salatnya misalnya tidur.

3. Perbanyak mengingat Allah/zikir

Zikir/mengingat Allah akan menghidupkan hati sedangkan hati yang hidup akan selalu dekat dengan Tuhannya. Tidak berzikir atau tidak mengingat Allah maka akan menyebabkan hati menjadi mati, jika hati kita mati maka setan akan selalu mengendalikan hidup kita.

4. Mengingat Kematian

Setiap yang bernyawa pasti mati. Dengan mengingat kematian akan menimbulkan rasa takut kepada Allah.

5. Perbanyak mencari ilmu tentang keutamaan salat

Setiap kita harus mengetahui makna dan hakikat salat, urgensi dari salat yang dilakukan, dan konsekuensi dari meninggalkan salat. Dengan cara menuntut ilmu kita akan mengetahuinya. Ilmu bisa diperoleh dari membaca buku dan menghadiri majelis ilmu.

6. Bergaul dengan orang yang saleh

Bergaul dengan orang saleh akan memotivasi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintakan Allah kepada kita. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian berkumpul, kecuali dengan orang yang beriman. Jangan sampai ada yang menyantap makananmu, kecuali orang yang bertakwa.” (HR Tirmidzi)

7. Menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan/orang yang lalai

Janganlah berteman dengan orang-orang yang suka berbuat kerusakan atau orang-orang yang lalai dari mengingat Allah.

 

Ustadzah Novria

INILAH MOZAIK

Shalat dan Keberuntungan

Di antara amal yang membuat seseorang mendapatkan keberuntungan adalah shalat, baik fardu maupun sunah. Allah berfirman, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Baqarah [2]: 5)

Mereka yang dimaksud ayat ini adalah orang yang beriman kepada hal gaib, mendirikan shalat, bersedekah dari sebagian hartanya, beriman kepada Alquran dan kitab sebelumnya, serta meyakini hari akhirat (QS al-Baqarah [2]: 2-4)

Shalat secara bahasa artinya “doa”. Orang yang shalat berarti orang yang berdoa. Dalam hal ini, berdoa kepada Allah. Shalat ini ditujukan sebagai bentuk penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah.

Seperti dikatakan dalam hadis, orang yang shalat sesungguhnya tengah bermunajat kepada Allah. Ia tengah berhadapan dengan Allah. Karena itu, seluruh bacaan shalat adalah doa, zikir, dan bacaan Alquran. Tidak ada bacaan selain itu.

Orang yang shalat, seperti disebutkan di dalam ayat Alquran di atas, termasuk orang yang beruntung, tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga dalam kehidupan akhirat.

Ia beruntung karena dengan shalatnya, Allah menjadi dekat dengannya, dan dengan shalatnya pula ia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar atau perbuatan buruk, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-‘Ankabut [29]: 45).

Orang yang telah dekat dengan Allah akan selalu dicintai oleh-Nya dan dilindungi dari hal-hal tercela, doanya selalu dikabulkan, dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Jika kemudian ia tertimpa suatu cobaan, misalnya sakit, itu sejatinya ujian kesabaran dari Allah yang justru akan meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah dan manusia. Dengan shalatnya pula, seseorang akan bersih lahir batin.

Lahirnya bersih karena sebelum shalat ia selalu berwudhu, membasuh bagian-bagian wajah, tangan, kepala, dan telapak kaki, seperti disebutkan Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS al-Ma’idah [5]: 6).

Dalam hadis bahkan dikatakan, shalat fardu lima waktu itu, seperti air sungai yang dipakai mandi seseorang sehingga ia selalu bersih dari kotoran.

Orang yang shalat juga bersih batin karena kedekatannya dengan Allah melalui shalat, membuat hatinya selalu terpaut dan ingat Allah serta senantiasa mendapat cahaya petunjuk-Nya sehingga itu berimbas pada perilakunya.

Hatinya jauh dari rasa dengki, takabur, riya, sum’ah atau prasangka buruk. Hatinya selalu diisi dengan Alah, rasa syukur, ikhlas, dan prasangka baik. Hati dan perilakunya selalu terkontrol dan ketika suatu saat berbuat salah ia segera sadar dan kembali kepada Allah.

Tentu saja shalat yang dimaksud di sini adalah shalat yang diiringi hati yang penuh kekhusyukan dan ketawadhuan, sementara lahirnya bersih dari hadas kecil dan besar serta mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, bukan shalat main-main atau sebatas menuntaskan kewajiban, setelah itu tetap melakukan perbuatan buruk. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Bimbingan Supaya Salat Khusyuk

SETELAH kita mengetahui arti pentingnya khusyuk, mungkin timbul pertanyaan di benak kita bagaimana cara menghadirkan khusyuk di dalam salat?

Dalam permasalahan ini, ulama kita memberikan beberapa bimbingan. Di antaranya:

– Meminta perlindungan (istiadzah) kepada Allah azza wa jalla dari gangguan dan godaan setan.

– Meletakkan sutrah (pembatas) dan memandang hanya ke tempat sujud.

– Mengosongkan hati dari kesibukan-kesibukan lainnya. Bila terlintas pikiran lain di benak kita, maka segera ditampik dan tidak diindahkan. Bila ada kesibukan atau keinginan maka segera dituntaskan sebelum salat, seperti bila lapar maka makan terlebih dahulu, bila hendak buang air maka segera ditunaikan, dsb.

– Berupaya menghadirkan hati dan terus mengingat-ingat bahwa sekarang kita sedang berdiri di hadapan Raja Diraja (Malikul Mulk) Yang Maha Mengetahui segala perkara yang tersembunyi, baik yang samar maupun rahasia dari orang yang sedang bermunajat kepada-Nya, dan kita terus mengingat bahwasanya amalan shalat ini nantinya (di hari akhir) akan ditampakkan kepada kita.

– Menenangkan anggota badan dengan tidak melakukan sesuatu perkara yang dapat mengganggu kekhusyukan, seperti memilin-milin rambut, menggerak-gerakkan cincin, dsb.

– Berusaha memahami, merenung-kan, memerhatikan, dan memikirkan bacaan-bacaan shalat dan zikir-zikirnya, karena yang demikian itu akan menyempurnakan kekhusyukan. (al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 19/118, Taisirul Allam, 1/292)

Khusyuk yang Tercela

Di antara sifat khusyuk ini ada khusyuk yang tercela. Menurut al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, khusyuk yang tercela adalah khusyuk yang dibuat-buat dan dipaksakan. Ketika shalat di hadapan manusia, ia memaksakan diri untuk khusyuk dengan menundukkan kepalanya dan berpura-pura menangis, sebagaimana hal ini banyak diperbuat oleh orang-orang bodoh. Ini jelas merupakan tipu daya setan terhadap anak manusia. (al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 19/119)

Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar menganugerahkan kepada kita kekhusyukan hati tatkala bermunajat kepada-Nya dan kita berlindung kepada-Nya dari khusyuk yang tercela. []

Sumber asysyariah

[1] Yakni menyibukkan aku dari mengarahkan dan menghadapkan diri kepada Allah zza wa jalla karena memikirkannya. (Fathul Bari, 2/411)

[2] Dan pikiran ini tidak terus diikuti namun segera dihalau untuk kembali menghadapkan hati kepada shalat yang sedang dikerjakan.

[3] Karena Abu Jahm-lah yang menghadiahkan pakaian tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

[4] Anbijaniyah adalah pakaian yang tebal yang tidak bergambar. Ibnu Baththal mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta ganti dari Abu Jahm pakaian yang selain itu untuk memberitahukan kepadanya bahwa beliau tidaklah menolak hadiahnya karena meremehkannya.” (Fathul Bari, 1/604)

[5] Adapun menoleh karena ada keperluan maka dibolehkan seperti yang pernah dilakukan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Sahl bin Sad as-Saidi radhiallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi ke tempat Bani Amr bin Auf untuk mendamaikan perkara di antara mereka. Tibalah waktu shalat maka muadzin mendatangi Abu Bakr seraya berkata, “Apakah engkau mau mengimami manusia? Bila mau, aku akan menyerukan iqamat.” Abu Bakr menjawab, “Ya.” Maka majulah Abu Bakr sebagai imam. Ketika mereka sedang shalat, datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lalu masuk ke dalam shaf hingga berdiri di shaf yang pertama.

Orang-orang yang menyadari kehadiran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam segera memberi isyarat kepada Abu Bakr dengan menepuk tangan mereka. Sementara Abu Bakr tidak menoleh dalam shalatnya. Namun ketika semakin banyak orang yang memberi isyarat, ia pun menoleh dan melihat keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah kemudian memberi isyarat kepada Abu Bakr agar tetap di tempatnya” Demikian seterusnya dari hadits yang panjang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari no. 684.

 

MOZAIK