Bolehkah Menjamak Shalat Saat Nonton Bola?

Nonton bola merupakan salah satu hobi yang amat digemari masyarakat Indonesia. Momen nonton bola ini, sering kali kita kedapatan di jam-jam shalat. Sedangkan lokasi musala di stadion biasanya jauh dan juga harus antri panjang. Lantas bagaimana cara kita menyiasatinya? Dan apakah boleh menjamak shalat saat nonton bola?

Kewajiban Shalat

Sebelum dibahas lebih dalam tentunya kita tahu bahwa shalat merupakan kewajiban yang memiliki ketentuan, di antaranya adalah terkait waktu pelaksanaannya. 

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (an-Nisa’:103)

Melihat dari penjelasan ayat di atas maka hukum asal pelaksanaan shalat fardhu adalah dilaksanakan pada waktunya masing-masing. Namun perlu kita ketahui bahwa  Allah SWT penuh kasih sayang pada hambanya, maka diberikanlah rukhshah (keringanan) dalam melaksanakan shalat, yaitu bolehnya dua shalat dilaksanakan pada satu waktu (shalat jamak) pada kondisi tertentu.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ  – متفق عليه

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata bahwa Rasulullah saw jika  berangkat dalam bepergiannya sebelum terdelincir matahari, beliau mengakhirkan shalat dhuhur ke waktu shalat ‘ashar; kemudian beliau turun dari kendaraan kemudian beliau menjama’ dua shalat tersebut. Apabila sudah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau shalat dhuhur terlebih  dahulu kemudian naik kendaraan.” (Muttafaq ‘Alaih).

Dari hadis di atas para ulama bersepakat bahwa kondisi seseorang yang membuatnya sulit melaksanakan shalat pada waktunya membolehkannya melaksanakan shalat jamak. Kondisi sulit di antaranya adalah perang, dalam perjalanan, sakit, dan hujan.

Menjamak Shalat karena Keperluan Lain

Namun bagaimana jika shalat jamak dilakukan bukan karena alasan di atas? Misalnya menjamak shalat karena alasan nonton bola di stadion.Maka perlu dilihat pula beberapa hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ، ‌فِي ‌غَيْرِ ‌خَوْفٍ، وَلَا سَفَرٍ» قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ: فَسَأَلْتُ سَعِيدًا، لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِي، فَقَالَ: «أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ»

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW pernah menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut, juga tidak dalam keadaan safar (bepergian). Abu Az-Zubair berkata: saya bertanya kepada Sa’id, mengapa Rasulullah berbuat demikian? Maka Said menjawab: “Saya pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Ibnu Abbas, ia menjawab: Rasulullah ingin agar tidak memberatkan umatnya.” (HR Muslim No. 705).

Hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَدِينَةِ ‌فِي ‌غَيْرِ ‌خَوْفٍ ‌وَلَا ‌مَطَرٍ»، قَالَ: فَقِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَرَادَ التَّوْسِعَةَ عَلَى أُمَّتِهِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW pernah menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’, di Madinah, tidak dalam keadaan takut juga tidak sedang hujan. (HR Muslim, No. 8230).

Pendapat Sejumlah Ulama

At-Tirmidzi berpendapat yang juga dibenarkan oleh An-Nawawi bahwa tidak ada kesepakatan ulama untuk meninggalkan hadis tersebut. Artinya hadis di atas dapat diamalkan, bahwa shalat jamak dapat dilakukan meskipun tidak sedang perang, tidak sedang dalam perjalanan maupun tidak sedang ada hujan.

Namun ada juga ulama yang menolak keras hadis Ibnu Abbas di atas untuk dijadikan hujjah dalil, alasan). Di antaranya adalah As-Shanani, penyusun Subul as-Salam. Karena itu menurut as-Shan’ani lebih baik berpegang pada aturan yang sudah jelas, yaitu seperti shalat yang dikerjakan pada waktunya masing-masing. 

Jadi terkait hadis dari Ibnu Abbas di atas, dalam melakukan jamak bukan dalam perjalanan jika menjadi kemantapan kebolehannya agar tidak dijadikan kebiasaan. Jadi hanya dalam keadaan yang sangat memerlukan seperti orang sakit, takut mengalami mudharat apabila tidak melakukan jamak.

Selain itu menurut Pakar Fikih Kontemporer, Prof. Dr. KH Ahmad Zahro, menjelaskan hukum seseorang menjamak shalat karena menonton pertandingan sepak bola. Misal menjamak dzuhur dan ashar serta maghrib dan isya. Jadi jika sulit dimungkinkan untuk shalat dalam waktu yang telah ditentukan, jika tidak memungkinkan atau sulit untuk shalat secara normal menjamak shalat adalah solusi terbaik, daripada tidak shalat.

Demikian penjelasan terkait bolehkah menjamak shalat saat nonton bola? Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARAIAH

Mengenal Tuma’ninah dalam Salat Agar Ibadahmu Makin Khusyuk!

Tuma’ninah atau ketenangan dalam salat menjadi hal yang sangat penting ketika kita sedang beribadah kepada Allah. Tidak hanya terkait keabsahan ibadah kita secara fikih, namun tuma’ninah juga menjadi salah satu hal yang penting apabila kita ingin meraih kekhusyukan dalam salat. 

Apakah pengertian tuma’ninah menurut para ulama, dan bagaimana caranya agar kita dapat melaksanakan tuma’ninah dalam salat? Baca lebih lanjut artikel ini yuk biar kamu tahu ilmunya!

Arti Tuma’ninah

Sebelum membahas lebih lanjut, kita pahami dulu yuk pengertian tuma’ninah! Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tuma’ninah didefinisikan sebagai: 

Tenang atau tidak bergerak setiap mengganti gerakan salat

Bagaimanakah pengertian dari tuma’ninah menurut para ulama? Tuma’ninah menurut syeikh Salim bin Samir Al-Hadrami dalam kitab beliau Safinatun Najah  dimaknai sebagai suatu keadaan di mana kita bersikap tenang setelah melakukan gerakan salat, dan semua anggota badan sudah diam pada tempatnya, lamanya kira-kira sepanjang durasi membaca Subhanallah. 

Hadis-hadis Rasulullah menyebutkan tentang urgensi menjaga tuma’ninah dalam salat. Salah satu hadis yang dimaksud adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu di mana Rasulullah memberikan pengajaran kepada salah seorang sahabat terdapat kesalahan dalam salatnya:  

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk kemudian ia shalat. Kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. menjawab salamnya dan bersabda, “Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat (dengan shalat yang sah)!”

Lalu orang itu kembali dan mengulangi shalat seperti semula. Kemudian ia datang menghadap kepada Nabi Saw. sambil memberi salam kepada beliau. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Wa’alaikas Salaam” Kemudian beliau bersabda, “Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!”

Sehingga ia mengulang sampai tiga kali. Maka laki-laki itu berkata, “Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari shalat seperti ini, maka ajarilah aku.”

Rasulullah kemudian bersabda, “Jika Anda hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagi Anda. 

Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tuma’ninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak. 

Setelah itu, sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma’ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud. 

Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Apakah Tuma’ninah suatu kewajiban dalam salat? 

Apakah melakukan gerakan salat dengan tuma’ninah termasuk sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, dan apabila tidak kita laksanakan maka salat kita tidak sah? 

Menurut jumhur atau mayoritas ulama, termasuk ulama dari mazhab Syafi’i, tuma’ninah adalah rukun salat yang harus dilakukan setiap kali kita melakukan salat. Hal ini terutama dalam empat rukun salat, yaitu rukuk, iktidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. 

Dalil wajibnya melakukan salat dengan tuma’ninah adalah hadis di atas, di mana Rasulullah sampai memerintahkan orang tersebut untuk mengulangi salat selama beberapa kali. 

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah memberikan peringatan keras kepada orang yang tidak melakukan gerakan-gerakan salat dengan sempurna sebagai seburuk-buruk pencuri. 

Dengan demikian, menjaga kesempurnaan gerakan salat, salah satunya dengan bersikap tenang dan menjaga tuma’ninah, adalah sesuatu yang harus selalu kita upayakan agar salat kita sah dan bernilai kebaikan. 

Tata Cara melakukan gerakan salat dengan tuma’ninah 

Untuk menjaga tumakinah, bagaimana seharusnya kita melakukan gerakan-gerakan salat? Berikut penjelasannya menurut beberapa sumber!

Cara rukuk dengan tenang

  1. Posisi minimal orang melakukan rukuk adalah membungkuk hingga setidaknya kedua telapak tangan sampai di atas kedua lutut, adapun posisi rukuk yang sempurna adalah dengan membungkuk sehingga posisi punggung dan leher sejajar, datar dan tidak melengkung. 
  2. Yang perlu kita perhatikan adalah ketika kita rukuk, kita harus membungkuk dengan niat melakukan rukuk, tidak untuk niat yang lain. Misalnya seseorang telah selesai membaca Al-Fatihah, lantas merasakan gatal di lututnya, dan dia merunduk untuk menggaruknya. Apabila dalam posisi ini dia berniat untuk sekalian melaksanakan rukuk, maka rukuknya tidak sah. 
  3. Tubuhnya yang merunduk itu harus tenang dan diam minimal sepanjang durasi kalimat tasbih. 

Cara iktidal dengan tenang

  1. Bangunnya seseorang dalam rukuk ketika melakukan iktidal tidak boleh diniatkan untuk tujuan lain selain iktidal, sebagaimana penjelasan dalam contoh kasus rukuk di atas. 
  2. Posisi tubuh tegak berdiri selama durasi mengucapkan tasbih. 
  3. Iktidal tidak dilakukan tidak boleh lebih lama dari lamanya berdiri ketika membaca surah Al-Fatihah.  

Cara sujud dengan tenang

  1. Sujud di atas tujuh anggota badan, yakni kening, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kaki.
  2. Kening tidak boleh tertutup ketika sujud kecuali ada uzur, seperti dililit perban yang membahayakan jika dilepas. 
  3. Tidak boleh bersujud di atas sesuatu yang ikut bergerak seiring gerakan orang yang salat, contohnya bersujud di atas ujung serban yang menjuntai ke lantai. 
  4. Bertumpu di atas kepala ketika sujud. 
  5. Posisi bagian tubuh bagian bawah harus lebih tinggi, tidak boleh sejajar atau lebih rendah dari posisi bagian tubuh atas. 
  6. Gerakan sujud tersebut tidak boleh diniatkan untuk selain melakukan sujud. 
  7. Bersikap tenang, dan semua anggota tubuh diam sepanjang durasi orang membaca tasbih.    

Cara duduk di antara kedua sujud dengan tenang

  1. Gerakan duduk di antara dua sujud tidak boleh diniatkan untuk selain duduk di antara dua sujud. 
  2. Disunahkan untuk melakukan duduk iftirasy, yaitu duduk di atas mata kaki sebelah kiri hingga telapak kaki kiri menyentuh lantai serta telapak kaki sebelah kanan tegak dan jari-jari menghadap kiblat. 
  3. Disunnahkan untuk mengucapkan takbir ketika duduk di antara dua sujud. 
  4. Disunnahkan meletakkan tangan di atas kedua paha sejajar dengan lutut, dengan jari-jari menghadap kiblat. 
  5. Tuma’ninah, yaitu diam dengan seluruh anggota tubuh tenang ketika melaksanakan duduk di antara dua sujud setelah bangkit dari sujud pertama, dengan durasi sepanjang bacaan tasbih. 

Demikian penjelasan tentang tuma’ninah. Yuk kita biasakan melaksanakan salat dengan tuma’ninah agar dapat meraih kekhusyukan dan ketenangan yang akan menginspirasi hidup kita untuk senantiasa ingat kepadaNya. 

Untuk bantu kekhusyukan kamu dan mudahkan kamu untuk selalu mengingat pesan-pesan kebaikan, yuk download aplikasi Hijra Bank. Selain layanan perbankan sesuai syariah yang Insyaallah berkah, kamu juga bisa dapatkan inspirasi melalui fitur-fitur Islami seperti kajian dan kutipan-kutipan penuh makna untuk bantu perjalanan hijrahmu mendekat kepadaNya. 

HIJRA ID

Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyuk dalam Salat (Bag. 2)

Renungan ketika rukuk dan iktidal

Zikir salat yang paling afdal adalah zikir-zikir yang dibaca ketika berdiri. Adapun posisi yang paling baik adalah ketika dalam posisi berdiri. Ketika berdiri tersebut, dikhususkan dengan membaca pujian, sanjungan untuk Allah Ta’ala, juga membaca kalam Allah Ta’ala (Al-Qur’an). Oleh karena itu, terlarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Karena dua posisi tersebut adalah posisi yang menunjukkan kehinaan, perendahan diri, dan ketundukan. Oleh karena itu, dalam rukuk dan sujud tersebut disyariatkan zikir yang selaras dengan posisi tersebut. Sehingga dalam posisi rukuk tersebut disyariatkan untuk menyebutkan keagungan Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala disifati dengan sifat-sifat yang menunjukkan keagungan dan kebesaran.

Zikir paling utama yang dibaca ketika rukuk adalah,

سبحان ربي العظيم

Mahasuci Allah, Zat Yang Mahaagung.”

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk membaca zikir tersebut. Ketika turun ayat,

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“fasabbih bismirabbikal ‘adzim”

“(maka sucikanlah dengan nama Rabb-mu yang Mahaagung).” (QS. Al-Waqi’ah: 74)

Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ

Jadikanlah sebagai bacaan rukuk kalian.” (HR. Ahmad no. 17414, Abu Dawud no. 869, dinilai dha’if oleh Al-Albani dalam Dha’if Abu Dawud no. 152)

Ringkasnya, rahasia rukuk adalah pengagungan Allah Ta’ala, baik dengan hati, ucapan, maupun perbuatan anggota badan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ

Adapun ketika rukuk, agungkanlah Rabb kalian.” (HR. Muslim no. 479)

Kemudian dia mengangkat kepalanya untuk kembali ke posisi yang paling sempurna, yaitu posisi berdiri. Syiar dalam posisi ini (yaitu posisi iktidal) adalah pujian dan sanjungan untuk Allah Ta’ala. Syiar ini dimulai dengan ucapan,

سمِعَ اللهُ لِمَن حمِدَه

“sami’allahu liman hamidahu”

“(Allah mendengar orang yang memujinya.)”

Yaitu, “mendengar” dalam arti “mengabulkan permohonan (doa)”. Kemudian dia pun melengkapi bacaan tersebut dengan mengucapkan,

ربَّنا ولك الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ، والأرضِ، ومِلْءَ ما بينهما، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ

“Rabbana wa lakal hamdu, mil’as samawati wal-ardhi, wa mil’a ma bainahuma, wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du.”

“(Wahai Rabb kami dan segala puji bagi-Mu, pujian sepenuh langit dan bumi, sepenuh di antara langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua.)”

Dan janganlah kita melalaikan untuk membaca huruf “و” ketika mengucapkan,

ربَّنا ولك الحمدُ

Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan hal tersebut dalam Ash-Shahihain. (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411)

Huruf “و” tersebut menjadikan kalimat itu menjadi dua kalimat yang berdiri sendiri. Pada kalimat “ربَّنا” terkandung makna, “Engkaulah Rabbku, yang Maha berdiri sendiri, yang semua urusan berada di tangan-Nya, dan hanya kepada-Nyalah semua akan kembali.” Makna ini sesuai dengan kalimat selanjutnya, yaitu “ولك الحمدُ”.

Kemudian, kalimat zikir setelahnya menunjukkan bagaimanakah pujian dan keagungan Allah Ta’ala tersebut,

مِلْءَ السَّمواتِ، والأرضِ، ومِلْءَ ما بينهما، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ

… pujian sepenuh langit dan bumi, sepenuh di antara langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua …

Yaitu, bahwa pujian tersebut sepenuh alam atas (langit), alam bawah (bumi), dan alam di antara langit dan bumi. Maka, pujian untuk Allah Ta’ala itu sepenuh makhluk yang ada, yaitu sepenuh makhluk yang telah Allah Ta’ala ciptakan dengan kehendak-Nya. Pujian untuk Allah Ta’ala itu memenuhi semua makhluk yang telah dan yang akan diciptakan.

Setelah zikir tersebut, terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan bacaan berikut ini,

أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Yang berhak atas segala pujian dan keagungan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau halangi. Dan tiada berguna kekuasaan bagi orang yang memilikinya atas siksa-Mu.” (HR. Muslim no. 471)

Pada kalimat “أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ” menunjukkan kembali permulaan rakaat salat, yaitu berupa pujian dan sanjungan untuk Allah Ta’ala.

Kemudian pada kalimat,

لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga membacanya ketika selesai salat. Sehingga pada dua kondisi (keadaan) ini, terkandung pengakuan terhadap tauhid, yaitu bahwa semua nikmat berada di tangan-Nya. Terdapat beberapa kandungan dari kalimat ini, yaitu:

Pertama, Allah Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang memberi dan menahan nikmat.

Kedua, jika Allah Ta’ala ingin memberi, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mencegahnya. Sebaliknya, jika Allah Ta’ala menahan (tidak memberikan) nikmat, tidak ada satu pun makhluk yang mampu memberinya.

Ketiga, kekuasaan, kepemimpinan, dan kekayaan seseorang tidaklah bermanfaat dan tidak mampu menyelamatkan seseorang dari azab Allah Ta’ala. Yang bermanfaat hanyalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Renungan ketika sujud

Kemudian kita bertakbir dan tersungkur di hadapan Allah Ta’ala dengan bersujud kepada-Nya. Disyariatkanlah sujud dalam kondisi yang paling sempurna, keadaan yang paling menunjukkan penghambaan diri kepada Allah Ta’ala, ketika setiap anggota badan memiliki porsi masing-masing dalam bentuk penghambaan diri (‘ubudiyyah) ini.

Sujud adalah rahasia salat, rukun salat yang paling agung, dan juga penutup setiap rakaat salat. Rukun-rukun salat sebelumnya seperti muqaddimah (pendahuluan) sebelum rukun yang paling agung ini. Oleh karena itu, keadaan yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia bersujud. Sehingga tidaklah mengherankan jika doa dalam kondisi tersebut memiliki peluang yang besar untuk dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Ketika Allah Ta’ala menciptakan manusia dari tanah, maka sudah selayaknya manusia kembali ke asal penciptaannya. Akan tetapi, tabiat manusia akan mengajak manusia tersebut untuk sombong dan tidak mau kembali ke asal usul penciptaannya. Oleh karena itu, manusia pun diperintahkan untuk bersujud kepada Allah Ta’ala dengan khusyuk, sebagai bentuk ketundukan, perendahan, dan penghinaan diri kepada Penciptanya. Kekhusyukan, ketundukan, dan perendahan diri ini telah mencakup semua makna ‘ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah Ta’ala), dan sebagai koreksi atas berbagai bentuk kelalaian dan berpalingnya seseorang dari asal usul penciptaannya.

Dia meletakkan bagian tubuhnya yang paling mulia, yaitu wajah, ke tanah yang dia diciptakan darinya. Sehingga jadilah bagian tubuhnya yang paling atas menjadi yang paling bawah, karena tunduk di hadapan Allah Ta’ala yang Mahaagung. Allah Ta’ala menciptakannya dari tanah yang merupakan tempat yang hina karena tempat berpijaknya telapak kaki. Dia pun akan kembali ke tanah, dan keluar darinya ketika hari kebangkitan.

Kesimpulannya, sujud adalah puncak kekhusyukan secara lahiriah. Juga mengumpulkan semua bentuk penghambaan (‘ubudiyyah) yang dilakukan oleh anggota badan.

Lanjut ke bagian 3: [Bersambung]

***

@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1445/ 22 Juli 2023

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ta’zhim Ash-Shalaat hal. 94-98, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Dar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/86601-mereka-adalah-orang-orang-yang-khusyuk-dalam-salat-bag-2.html

Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyuk dalam Salat (Bag. 1)

Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.

Pengertian khusyuk

Khusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.

Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.

Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftah

Ketika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.

Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”

Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.

Nama-Mu penuh keberkahan; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.

Maha tinggi Engkau; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.

Renungan ketika membaca doa taawuz

Ketika seorang hamba mengucapkan,

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.

Renungan ketika membaca surat Al-Fatihah

Ketika seorang hamba mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

حَمِدَنِي عَبْدِي

“Hamba-Ku memujiku.”

Ketika seorang hamba mengucapkan,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)

Ketika seorang hamba mengucapkan,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

مَجَّدَنِي عَبْدِي

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”

Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,

عَبْدِي

“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali (HR. Muslim no. 395).

Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.

Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).

Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka(QS. Al-Isra’ [17]: 44).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya(QS. Ar-Ruum [30]: 26).

Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan(QS. Ar-Rahman [55]: 29).

Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.

Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.

Lalu dia pun membaca,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai hari pembalasan(QS. Al-Fatihah [1]: 4).

Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-istiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.

Kemudian sampailah dia dengan ayat,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan(QS. Al-Fatihah [1]: 5).

Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.

Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’alaAr-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.

Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.

Kemudian seseorang mengucapkan,

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus(QS. Al-Fatihah [1]: 6).

Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.

Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.

***

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60553-mereka-adalah-orang-orang-yang-khusyuk-dalam-salat-bag-1.html

Salat: Bagian dari Zikir yang Paling Utama

Bismillah.

Salah satu perkara yang tidak boleh luput dari perhatian kita setiap hari adalah wajibnya menunaikan salat lima waktu. Kewajiban menunaikan salat ini tentu bukan sekadar rutinitas atau kebiasaan. Lebih daripada itu, salat merupakan bentuk amalan yang sangat mulia dan menjadi sebab seorang hamba dicintai oleh Allah.

Disebutkan dalam hadis qudsi bahwa Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang sangat agung. Ia menempati kedudukan sebagai pilar dan rukun di dalam Islam. Sebuah pilar yang terpenting setelah dua kalimat syahadat.

Ketika mengutus sahabat Mu’adz ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

“Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah syahadat ‘laa ilaha illallah’ dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah …” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang paling pertama diajarkan adalah tauhid dan makna dari dua kalimat syahadat serta apa-apa yang menjadi pokok-pokok keimanan. Oleh sebab itu, dalam periode Makkah (sebelum hijrah) banyak ayat-ayat yang turun berkenaan dengan tauhid dan akidah, tentang iman kepada Allah dan hari akhir. Kewajiban salat pun baru turun pada akhir-akhir periode Makkah dalam peristiwa isra’ mi’raj yang sangat masyhur.

Salat merupakan bentuk zikir. Hal ini bisa kita pahami dari keterangan Sa’id bin Jubair rahimahullah. Beliau berkata,

الذكر طاعة الله فمن أطاع الله فقد ذكره، ومن لم يطعه فليس بذاكر وإن أكثر التسبيح وتلاوة القرآن

“Hakikat zikir adalah menaati Allah. Maka barangsiapa yang taat kepada Allah, sungguh dia telah berzikir (mengingat-Nya). Barangsiapa yang tidak taat kepada-Nya, maka dia bukanlah orang yang berzikir (dengan sebenarnya), meskipun dia banyak mengucapkan kalimat tasbih dan banyak membaca Al-Qur’an.” (dinukil dari Min A’lamis Salaf link: https://shamela.ws/book/37370/171)

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tiada yang berhak disembah, selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk berzikir/mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan salah satu penafsiran terhadap ayat ini. Beliau berkata, “Ada juga yang menafsirkan bahwa maknanya adalah peliharalah salat setelah tegaknya tauhid. Ini mengandung peringatan dan perhatian tentang betapa agung kedudukan tauhid karena di dalamnya terkandung perendahan diri dan ketundukan kepada Allah serta berdiri menghadap-Nya. Dengan demikian, maka salat merupakan bentuk dari zikir.” (dinukil dari Tafsir Al-Qurthubi link: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura20-aya14.html)

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hatinya merasa tentram dengan mengingat Allah, ingatlah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Salat menempati kedudukan yang sangat agung dalam hati kaum mukminin. Tidak kurang lima kali dalam sehari semalam kaum muslimin menunaikan kewajiban salat. Dan setiap kali salat kita selalu membaca atau mendengar bacaan surat Al-Fatihah yang di dalamnya terkandung pokok-pokok ajaran Islam dan kunci-kunci kebaikan. Di dalam surat Al-Fatihah, kita memuji Allah, menyanjung, dan mengagungkan-Nya. Di dalamnya juga terkandung kecintaan, harapan dan rasa takut kepada Allah. Di dalamnya juga terkandung prinsip tauhid, bahwa kita hanya beribadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Di dalamnya juga terkandung doa yang paling bermanfaat, yaitu meminta hidayah untuk bisa berjalan di atas jalan yang lurus.

Kita juga mengetahui bahwa salah satu bentuk amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh sebab itu, zikir (dengan makna yang luas) termasuk amalan yang paling utama. Demikian juga salat. Bahkan, kalimat tauhid juga termasuk ucapan zikir yang paling utama dan cabang keimanan yang paling tinggi. Di dalam salat pun terkandung ketaatan kepada Allah dan ajaran tauhid, permunian ibadah kepada Allah. Tauhid ini pula yang menjadi perkara paling utama yang akan menyucikan jiwa-jiwa manusia. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah menyebutkan di dalam kitabnya ‘Asyru Qawa’id fi Tazkiyatin Nafs (hal. 9) bahwa tauhid merupakan pokok dan landasan utama untuk menyucikan jiwa.

Apabila kita telah mengetahui bahwa salat merupakan bentuk zikir kepada Allah yang juga mengandung ajaran tauhid kepada-Nya dan bahwa salat itu akan memberikan ketenangan ke dalam hati kaum mukminin serta tauhid merupakan faktor utama yang akan membersihkan jiwa, maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa ketenangan hati hanya akan diraih dengan tauhid, keikhlasan, dan bersihnya hati dari hal-hal yang mengotorinya. Oleh sebab itulah, kita diperintahkan untuk banyak-banyak berzikir dan sering-sering beristigfar. Dengan mengingat Allah, maka Allah akan mengingat kita, membantu urusan kita. Sedangkan dengan istigfar, maka Allah akan mengampuni dosa serta menjadi sebab bersihnya hati dari kotoran dan noda-noda kemaksiatan.

Banyak-banyak berzikir kepada Allah akan mendatangkan cinta kepada-Nya. Dan dengan banyak beristigfar, akan semakin menundukkan hati dan jiwa kita di hadapan Allah. Kecintaan dan perendahan diri kepada Allah inilah dua pilar utama yang menjadi pondasi tegaknya penghambaan kepada Allah. Kecintaan akan timbul dengan selalu memperhatikan betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan ketundukan dan perendahan diri kepada Allah akan semakin berkembang dengan selalu memperhatikan aib pada diri dan amal kita.

Demikian sedikit catatan faedah yang dapat kami sampaikan dari para ulama. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebaikan yang telah kita ketahui. Dan kita juga berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/85315-zikir-yang-paling-utama.html

13 Tips Menjaga Shalat Wajib Agar Tak Bolong-bolong

Berikut ini 13 tips menjaga shalat wajib. Dalam Islam, melaksanakan ibadah shalat termasuk pekerjaan yang wajib. Artinya, setiap orang muslim dan mukallaf, maka dibebankan untuk melaksanakan shalat wajib, yang lima kali sehari semalam. Berdasarkan sebuah hadis, Rasulullah bersabda Allah akan memuliakan orang yang menjaga shalatnya.

وقال صلى الله عليه وسلم من حافظ على الصلاةاكرمه الله بخمس خصال: يرفع عنه ضيق العيش وعذاب القبر ويعطيه الله كتابه بيمينه ويمر على الصراط كالبرق ويدخل الجنة بغير حساب

Rasulullah bersabda”Barangsiapa menjaga salat, niscaya dimuliakan oleh Allah dengan lima perkara, yaitu Allah akan menghilangkan kesempitan hidupnya, Allah akan menghilangkan siksa kubur darinya, Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanan, dia akan melewati jembatan (shirat) cepat bagaikan kilat, dan akan masuk surga tanpa hisab”

13 Tips Menjaga Shalat Wajib Agar Tak Bolong-bolong

Pertama, menjaga niat yang kuat: Niat yang kuat dapat membantu Anda untuk terus memelihara shalat wajib meskipun dalam situasi apapun.

Kedua, menjaga waktu shalat: Penting untuk memastikan bahwa Anda melaksanakan shalat wajib tepat pada waktunya. Usahakan untuk mengatur jadwal keseharian Anda sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu waktu shalat.

Ketiga, menghindari gangguan: Hindari gangguan saat waktu shalat seperti menghindari penggunaan smartphone atau kegiatan lain yang dapat mengganggu khusyu’ dalam shalat.

Keempat, meningkatkan kualitas shalat: Usahakan untuk meningkatkan kualitas shalat Anda dengan memperdalam pemahaman mengenai tata cara shalat dan membaca doa dengan baik.

Kelima, Mencari teman untuk mendukung: Mencari teman yang juga memprioritaskan shalat wajib dalam kesehariannya dapat membantu Anda untuk saling mendukung dan memotivasi satu sama lain dalam menjaga shalat wajib.

Enam, bangun shalat tepat waktu: Usahakan untuk bangun dan melaksanakan shalat tepat waktu. Hal ini membantu untuk membentuk kebiasaan dan membantu untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya waktu dalam ibadah.

Ketujuh, siapkan diri sebelum shalat: Sebelum melaksanakan shalat, pastikan untuk membersihkan diri dan mempersiapkan diri dengan baik. Ini membantu untuk menenangkan pikiran dan mempersiapkan diri dengan baik.

Delapan, ciptakan lingkungan yang tenang: Usahakan untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk melaksanakan shalat. Jauhi gangguan atau kebisingan yang bisa mengganggu konsentrasi kita.

Sembilan, jangan melewatkan shalat berjamaah: Usahakan untuk tidak melewatkan shalat berjamaah di masjid atau di tempat lain yang disediakan. Shalat berjamaah membantu meningkatkan rasa solidaritas dan kebersamaan dengan umat muslim lainnya.

Sepuluh, perkuat niat dan motivasi: Perkuat niat dan motivasi dalam melaksanakan shalat. Ingatlah bahwa shalat merupakan ibadah yang sangat penting dalam agama Islam dan memiliki manfaat yang besar baik di dunia maupun di akhirat.

Sebelas, evaluasi diri secara rutin: Lakukan evaluasi diri secara rutin untuk melihat sejauh mana kita telah konsisten dalam melaksanakan shalat. Hal ini membantu kita untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah shalat kita.

Dua belas, memahami pentingnya shalat wajib: Memahami bahwa shalat wajib adalah salah satu kewajiban utama dalam agama Islam dan merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT dapat membantu Anda untuk memprioritaskan shalat wajib dalam keseharian Anda.

Tiga belas, Berdoa dan meminta bantuan Allah SWT: Berdoa kepada Allah SWT untuk membantu Anda memelihara shalat wajib dan memperkuat niat Anda dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Demikian penjelasan terkait 13 tips menjaga shalat wajib agar tak bolong-bolong. Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH

Meraih Keutamaan Saf Pertama

Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu lalai dari mendapatkan saf pertama dalam salat berjemaah?

Kita mungkin sudah mendengar banyak hal terkait dengan keutamaan salat berjemaah. Kita pun insya Allah terus berupaya untuk melaksanakan salat wajib kita secara berjemaah di masjid dengan semampu kita. Akan tetapi, apakah kita pernah mendengar betapa keutamaan saf pertama itu sangatlah besar?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ يعْلمُ النَّاسُ مَا في النِّداءِ والصَّفِّ الأَولِ. ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يسْتَهِموا علَيهِ لاسْتهموا علَيْهِ، ولوْ يعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِير لاسْتبَقوا إَليْهِ، ولَوْ يعْلَمُون مَا فِي العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأتوهمُا ولَوْ حبوًا متفقٌ عليه

“Jikalau manusia mengetahui apa yang ada di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan hal itu kecuali dengan berundi atasnya, maka niscaya mereka akan berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Isya dan salat Subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dalam keadaan merangkak.” [1]

Syekh Abdurrahman bin Fahd Al-Wad’an Ad-Dusiriy menjelaskan 3 (tiga) faedah utama dari hadis ini, antara lain:

Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdal

Dianjurkan bagi seorang muslim untuk berupaya agar senantiasa mendapatkan saf pertama di setiap salat berjemaah. Dan tidak dianjurkan bagi orang yang datang di awal waktu ke masjid, namun dengan sengaja terlambat untuk mengejar saf pertama kecuali dengan uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تقدموا فأتموا بي، وليأتم بكم من بعدكم، ولا يزال قومٌ يتأخرون حتى يؤخرهم الله

“Kalian majulah, dan berimamlah denganku, dan hendaklah orang sesudah kalian berimam kepada kalian. Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan salatnya, maka Allah juga melambatkan (dalam memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka).” (HR. Muslim) [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

من جاء أول الناس وصف في غير الأول، فقد خالف الشريعة

“Barangsiapa yang lebih dahulu datang dari orang lain (dalam rangka salat berjemaah di masjid -pen.) kemudian berdiri bukan di saf pertama, maka ia telah menyelisihi syariat.” [3]

Orang yang meninggalkan saf pertama telah mengharamkan dirinya dari kebaikan yang melimpah.

Al-Mutanabbi berkata,

ولم أرَ في عيوبِ الناسِ شيئًا ♦♦♦ كنقص القادرين على التمامِ

“Aku tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar, namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan.”[4]

Kedua: Menyegerakan diri menuju masjid

Maksud dari “التَّهْجِير”, yaitu menyegerakan diri untuk berangkat menuju masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk bersegera menuju masjid karena terdapat keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, seperti: mendapatkan saf pertama, melaksanakan salat di awal waktu, mengerjakan salat-salat sunah, membaca Al-Qur’an, memperoleh istigfar malaikat, serta melaksanakan salat (sunah) sembari menunggu waktu salat (wajib), dan sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari azab neraka”. (QS. Ghafir: 7)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أحدَكم إذا دخلَ المسجدَ كانَ في صلاةٍ ما كانتِ الصَّلاةُ تحبِسُهُ والملائِكةُ يصلُّونَ على أحدِكُم ما دامَ في مجلسِهِ الَّذي صلَّى فيهِ يقولونَ اللَّهُمَّ اغفِر لَهُ اللَّهُمَّ ارحَمهُ اللَّهُمَّ تب عليهِ ما لم يُحدِثْ فيهِ ما لم يؤذِ فيهِ

“Sungguh, jika salah seorang dari kalian masuk masjid, ia akan tetap dalam hitungan salat selama salatlah yang menahannya. Dan para malaikat tetap mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia berada di dalam majelisnya (tempat ia salat). Mereka berdoa, ‘Ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia, ya Allah terimalah tobatnya.’ Hal ini akan tetap berlangsung selama ia belum berhadats dan tidak menyakiti.” [5]

Ketiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan Subuh

Perhatian terhadap dua waktu salat tersebut merupakan tanda keimanan yang hakiki dan terhindar dari sifat munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا

“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [6]

Allah Ta’ala telah menyiapkan bagi hamba-Nya yang menjaganya (keistiqomahan salat berjemaah Isya dan Subuh-pen.) keutamaan yang besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kalimat “ولو يعلمون ما فيهما” (Andai mereka (umatku) mengetahui apa yang ada pada keduanya (salat Isya dan Subuh)), yaitu: pahala. Sedangkan kalimat لأتوهما ولو حبوًا (niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak) merupakan dalil atas keutamaan agung yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang senantiasa menjaga dua waktu salat tersebut secara berjemaah.

Dengan kata lain, kalimat tersebut juga mengandung makna: Laksanakan dua salat ini secara berjemaah di masjid, meskipun dengan keadaan sakit lumpuh tidak dapat berjalan. Hal ini tidak lain adalah sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan dua salat tersebut di hadapan Allah Ta’ala. Namun demikian, masih saja banyak manusia yang enggan melaksanakan salat Subuh secara berjemaah padahal keutamaannya sangat besar. Pastikan dirimu bukan bagian dari mereka.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga keistikamahan dalam memperoleh saf pertama dalam setiap salat berjemaah di masjid, serta memperoleh keutamaan dan keagungannya. Allahumma aamiin

Wallahu a’lam bishshawab

***

Penulis: Fauzan Hidayat

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/80226-meraih-keutamaan-shaf-pertama.html

Benarkah Sholat Orang yang Sudah Menikah Itu Lebih Utama?

Salah satu tujuan menikah adalah untuk menyalurkan hasrat kepada jalan yang dihalalkan oleh syariat. Selain itu, pasangan suami istri yang melakukan hubungan badan setelah menikah juga dapat dinilai ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Bahkan, dalam keyakinan beberapa masyarakat sholatnya orang yang menikah itu lebih utama daripada yang belum menikah. Lantas, benarkah sholat orang yang sudah menikah itu lebih utama?

Dalam literatur kitab hadis, dijumpai beberapa keterangan yang menyatakan bahwasanya Nabi pernah bersabda 2 rakaat sholatnya orang yang sudah menikah itu lebih utama daripada 70 rokaatnya orang yang masih belum menikah. Hal ini karena orang yang telah menikah dinilai lebih fokus daripada yang belum menikah. Namun, ulama menyatakan bahwa hadis ini adalah hadis munkar.

Sebagaimana dalam kitab At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir, juz 2, halaman 70 berikut,

 ( ركعتان من المتزوج أفضل من سبعين ركعة من الأعزب ) لأن المتزوج مجتمع الحواس والأعزب مشغول بمدافعه الغلمة وقمع الشهوة فلا يتوفر له الخشوع الذي هو روح الصلاة …. وقال هذا حديث منكر

Artinya : “Dua rokaat dari seseorang yang menikah itu lebih utama daripada 70 rokaatnya orang yang belum menikah. Karena orang yang telah menikah telah terkumpul semua indranya, sementara yang belum manikah masih disibukkan untuk mengekang syahwatnya, maka dia tidak dapat memperoleh khusu’ yang merupakan ruh sholat…. Pengarang berkata hadis ini adalah hadis munkar.”

Selain itu, banyak juga para ulama yang menyatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis maudhu’ atau palsu karena rawinya dikenal sebagai pembohong di kala itu. Sebagaimana dalam keterangan kitab Faidh al-Qadir, juz 4, halaman 50 berikut,

وفي الميزان عن ابن معين أنه أحد الكذابين ثم أورد له هذا الخبر وقال البخاري : مجاشع بن عمرو منكر مجهول وحكم ابن الجوزي بوضعه 

Artinya : “Dalam kitab Miizaan dari Ibn Mu’in dinyatakan bahwa perawi ‘Uqaily termasuk salah satu pembohong kemudian mendatangkan hadits tersebut. Imam Bukhori berkata Mujaasyi’ Bin ‘Amr diinkari dan tidak diketahui. Dan Ibn al-Jauzi menghukumi hadis tersebut sebagai hadis maudhu’ (palsu).”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, Nabi pernah bersabda 2 rokaat sholatnya orang yang sudah menikah itu lebih utama daripada 70 rokaatnya orang yang masih belum menikah. Namun, ulama menilai hadis ini sebagai hadis munkar, ada juga yang menilainya sebagai hadis maudhu’.

Demikian penjelasan mengenai benarkah sholatnya orang yang sudah menikah itu lebih utama. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH

Hukum Shalat Memakai Pakaian Curian Menurut Ulama 4 Mazhab

Pada suatu kesempatan, ada seseorang yang bertanya kepada penulis mengenai hukum mengenakan pakaian haram saat shalat. Pasalnya ia pernah menunaikan shalat dengan mengenakan pakaian haram. Dikatakannya haram karena ia mengenakan pakaian tersebut tanpa seizin pemiliknya (ghasab). Lantas apakah hukum shalat memakai pakaian curian  menurut ulama 4 mazhab? Apakah shalat tersebut sah?

Perlu diketahui bahwa pakaian haram tidak hanya tertentu kepada pakaian hasil ghasab melainkan semua pakaian yang berstatus haram. Baik haram secara dzat seperti pakaian sutra (bagi laki-laki) maupun haram secara perolehan seperti pakaian curian dan pakaian yang dibeli dengan uang haram.

Hukum Shalat Memakai Pakaian Curian

Pertama, menurut Malikiyyah dan Syafi’iyyah, shalat dengan mengenakan pakaian haram atau curian hukumnya sah tapi haram. Sebab, dalam pandangan mereka shalat dan status haram-halalnya pakaian adalah dua hal yang berbeda. Mereka tidak mensyaratkan pakaian yang dikenakan shalat harus halal. Selama pakaian yang dikenakan suci, maka shalat yang dilakukan sah-sah saja.

Hal ini sebagaimana paparan Syekh Wahbah al-Zuhailiy dalam kitabnya Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu juz I halaman 740;

‌‌الصلاة في الثوب الحرام: يصح الستر مع الحرمة عند المالكية والشافعية، وتنعقد الصلاة مع الكراهة التحريمية عند الحنفية: بما لا يحل لبسه كثوب حرير للرجل

Shalat dengan mengenakan pakaian haram: menurut Malikiyyah dan Syafi’iyyah, sah-sah saja menutup aurat dengan pakaian yang haram dikenakan seperti pakaian sutra bagi laki-laki. Namun keabsahan itu disertai keharaman. Sedangkan menurut Hanafiyyah, sah tapi makruh tahrim.

Sementara menurut Hanabilah, shalat dengan mengenakan pakaian haram hukumnya tidak sah apabila dilakukan dalam keadaan tahu dan sadar bahwa pakaian tersebut benar-benar pakaian haram. Akan tetapi, kalau yang bersangkutan tidak tahu atau tidak sadar bahwa    dikenakan adalah pakaian haram, maka hukum shalatnya sah.

Hal ini juga disampaikan Syekh Wahbah al-Zuhailiy dalam kitabnya Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu juz I halaman 740;

وقال الحنابلة: لا تصح الصلاة بالحرام كلبس ثوب حرير، أو صلاة في أرض مغصوبة ولو منفعتها أو بعضها، أو صلاة في ثوب ثمنه كله أو بعضه حرام أو كان متختماً بخاتم ذهب، إن كان عالماً ذاكراً

Hanabilah mengatakan, tidak sah shalat dengan mengenakan pakaian haram seperti sutra (bagi laki-laki) atau shalat di tanah ghasab. Tidak sah pula shalat dengan mengenakan pakaian yang dibeli dengan uang haram (baik keseluruhan atau sebagiannya) dan shalat dengan memakai cincin emas (bagi laki-laki). Dengan catatan, itu semua dilakukan dalam keadaan tahu    sadar (ingat).

Lebih lanjut beliau mengemukakan pandangan Hanabilah tersebut;

فإن جهل كونه حريراً أو غصباً، أو نسي كونه حريراً أو غصباً، أو حبس بمكان غصب أو نجس، صحت صلاته؛ لأنه غير آثم.

Namun, kalau yang bersangkutan tidak tahu atau tidak sadar bahwa yang dikenakan adalah pakaian yang terbuat dari sutra atau pakaian ghasab maka shalatnya sah karena pada saat itu dia tidak berdosa. Demikian pula sah shalatnya seseorang yang di penjara di tempat hasil ghasab atau tempat yang najis.

Sampai disini bisa disimpulkan, secara garis besar pandangan ulama 4 mazhab terkait hukum shalat dengan mengenakan pakaian haram terbagi menjadi dua; (pandangan pertama) mutlak sah tapi haram; (pandangan kedua) bisa sah dan bisa tidak sah sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Demikian penjelasan mengenai hukum mengenakan atau memakai pakaian haram atau hasil curian menurut ulama 4 mazhab. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

BINCANG SYARIAH