Malas Mengerjakan Shalat, Belajar dari Pemuda Anshar Ini!

Banyak riwayat yang mengkisahkan shalatnya Rasulullah SAW dan para sahabat, betapa khusuk dan asyiknya mereka dalam mengerjakan shalat, sampai-sampai mereka tidak menghiraukan apa yang terjadi pada diri mereka. Salah satunya, kisah sahabat dari golongan Anshar, bernama Abbad bin Bisyr. Meski panah demi panah menancap di tubuh dan darah mengalir dari lukanya, ia tetap asyik shalat tanpa goyah sedikit pun.

Dikisahkan dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a. bahwa ketika Nabi SAW kembali dari suatu peperangan, Beliau berhenti di suatu tempat dan bersabda, “Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?” Ammar bin Yasir ra dari kalangan Muhajirin dan Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar berkata, “Kami siap berjaga malam.” Kemudian Nabi SAW menyuruh mereka agar berjaga di sebuah bukit. Di bukit itu terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang.

Keduanya pergi ke bukit itu, setibanya di sana, Abbad ra berkata kepada saudaranya Ammar ra, “Mari kita bagi malam ini menjadi dua bagian. Bagian malam pertama, aku yang berjaga dan engkau beristirahat. Dan bagian kedua, engkau yang berjaga dan aku beristirahat. Sehingga malam ini dapat kita jaga secara bergantian. Jika merasa ada musuh yang datang, maka yang berjaga dapat membangunkan yang tidur. Jika kita berdua berjaga bersama-sama, bisa-bisa kita mengantuk.”

Maka Abbad ra, pemuda Anshar, mendapat bagian yang pertama dalam berjaga, dan Ammar ra, pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas Abbad ra mendirikan shalat. Ternyata ada seorang musuh yang mengintainya. Dari jarak jauh, musuh itu membidikkan anak panahnya ke Abbad ra, namun ia masih tegak berdiri. Musuh pun melepaskan lagi anak panahnya, dan Abbad ra masih belum goyah.

Ketiga kalinya musuh melepaskan anak panahnya pada Abbad ra. Hal yang dilakukan Abbas adalah mencabut dan melemparkan setiap anak panah yang menancap di badan dengan tangannya. Ia meneruskan shalatnya, mengerjakan ruku’ dan sujud dengan tenang. Selesai shalat, Abbad baru membangunkan kawannya.

Ketika musuh melihat Abbas ra tidak sendiri, ia segera melarikan diri. Musuh yang seorang diri tidak tahu berapa banyak tentara Islam di tempat itu. Ammar ra melihat badan Abbad ra penuh darah dengan bekas tiga anak panah di tubuhnya.

Ammar ra berkata kepada saudaranya yang terluka, “Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?” Jawab Abbad ra, “Ketika tadi aku shalat, aku mulai membaca surat Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku’ sebelum menyelesaikan surat ini. Namun aku merasa, aku bisa mati jika dipanah terus menerus sehingga tugas dari Rasulullah SAW untuk berjaga tidak tertunaikan.”

Abbad ra melanjutkan perkaatannya pada saudaranya, Ammar ra, “Aku mencemaskan keselamatan Nabi SAW. Jika tidak, akan kuselesaikan bacaan surat itu sebelum ruku’, walaupun aku harus mati.” (Baihaqi, Abu Dawud).

Ada perbedaan fiqhiyah mengenai darah yang mengalir dalam shalat. Imam Abu Hanifah rah.a berpendapat dapat membatalkan wudhu sedangkan menurut madzhab Ssyafi’i tidak membatalkakn. Barangkali seperti itulah pendapat para sahabat, atau hal itu belum diteliti karena Nabi SAW tidak ada di tempat kejadian, atau karena belum ada hukum terhadap hal tersebut. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Hukum Membaca “Shadaqallahul Adzhim” Dalam Sholat

Ada yang memandang bahwa bila setelah membaca Al-Quran kita mengucapkan lafadz “Shadaqallahul ‘Adzhiem” hukumnya bid’ah. Dalam pandangan golongan ini, hal seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bagi mereka, ketika tidak ada contoh dari Rasulullah, maka hukumnya menjadi terlarang alias bid’ah.

Ada juga kalangan lain yang tak memandang bahwa hal itu bid’ah. Sebab, meski tak ada riwayat yang secara khusus menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan lafadz itu selepas baca Quran, namun tetap ada dalil yang bersifat umum tentang anjuran mengucapkan lafadz itu.

Misal ayat Quran berikut: Katakanlah, “Shadaqallah” dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus (QS. Ali Imrah: 95)

Lalu, jika ada pendapat yang tak membid’ahkan bacaan Shadaqallahul Adzhim di luar shalat, maka bagaimana hukumnya apabila itu diucapkan di dalam rakaat-rakaat shalat?

Dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah, terbitan Kementerian Mesir, disebutkan pendapat ulama mazhab perihal itu:

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Apabila seorang shalat dan mengucapkan tasbih, menurut mazhab ini, seperti shadaqallahul ‘adzhim setelah selesai dari membaca Quran, maka shalatnya tetap ‘jalan’, tak batal.

Akan tetapi, mereka mensyaratkan bahwa hal itu dilakukan dengan niat bahwa tujuannya sekadar untuk memuji, berzikir atau tilawah.

2. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Hampir sama dengan mazhab Al-Hanafiyah; siapa pun yang shalat lalu mengucapkan lafadz shadaqallahul ‘adzhim, tidak batal shalatnya. Bedanya, tanpa mensyaratkan apa pun.

Dari dua pendapatnya, kita jadi tahu, masalah ini masalah khilafiah. Tiada nash yang dengan tegas melarang akan tetapi juga tiada nash yang secara khusus memerintahkannya. Tak tepat rasanya bila kita menjadi saling bermusuhan untuk urusan yang tiada nash yang tegas.

Dengan perbedaan ini, kuncinya hanya satu: saling bertoleransi dengan sesama muslim.

 

BERSAMA DAKWAH

Salat dengan Baik Maka Rezeki Akan Datang

SELAIN kedudukan ibadah salat yang amat tinggi di sisi Allah, efek positif dari salat juga langsung menyentuh kehidupan manusia. Bukankah kita mendengar Firman Allah swt,
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.Al-Ankabut: 45).

Salat yang benar akan membentuk diri manusia untuk antiterhadap perbuatan buruk dan kejam. Tapi di samping itu, salat juga memiliki hubungan erat dengan urusan rezeki. Coba kita perhatikan dua ayat berikut ini,

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah- mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim: 37)

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS.Thaha: 132).

Pada ayat pertama, Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya di tempat yang gersang di sekitar Mekah agar mereka melaksanakan salat. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat.”

Setelah ungkapan ini ia sampaikan, baru kemudian Ibrahim berdoa agar Allah memberikan rezeki kepada keluarganya: Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Pada ayat kedua, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengajak keluarganya melakukan salat: Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.

Setelah berfirman mengenai perintah salat ini, Allah melanjutkan tentang masalah rezeki: Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.

Dua ayat ini selalu meletakkan urusan rezeki setelah urusan salat. Seakan ingin menjelaskan bahwa salatlah dengan baik, maka rezeki akan datang setelahnya. Sering kita menunda salat karena ada urusan bisnis yang belum selesai. Sering kita mempercepat salat kita karena ada pembeli yang datang. Sering kita melalaikan salat hanya karena ada orang penting yang harus kita temui.

Coba pikirkan, kenapa kita harus mempercepat salat demi pembeli sementara kita sedang menghadap Sang Pengatur Rezki?

Kenapa kita harus menunda salat demi bertemu klien sementara Allah-lah Sang Pemegang urusan itu? Kenapa kita harus bertemu orang penting dan melupakan pertemuan dengan zat yang segala urusan ada ditangan-Nya?

Mari kita perbaiki cara berpikir kita agar tidak lagi mendahulukan sesuatu yang penting dan melalaikan sesuatu yang jauh lebih penting. Semoga Allah menerima salat-salat kita.[]

 

INILAH MOZAIK

Berbagai Macam Kiat Agar Tak Malas Salat

ADA banyak cara agar tidak malas melaksanakan salat, beberapa di antaranya:

1. Jadikan salat sebagai kebutuhan bukan sekadar kewajiban

Salat bukan hanya dijadikan sebagai kewajiban saja, tetapi hendaknya juga dijadikan sebagai kebutuhan. Karena jika salat hanya dijadikan sebagai kewajiban, hal inilah yang bisa menjadi beban. Dan apabila kita bisa menjadikanya sebagai kebutuhan maka akan terasa ringan.

2. Jangan menunda salat

Selain pahala salat yang berkurang. Menunda salat juga dapat menambah rasa malas. Hal inilah yang biasa dilakukan setan untuk membujuk dan menggoda manusia. Awalnya setan hanya membujuk untuk menunda, lalu setan akan mengalihkan pikiran manusia agar lupa terhadap salatnya misalnya tidur.

3. Perbanyak mengingat Allah/zikir

Zikir/mengingat Allah akan menghidupkan hati sedangkan hati yang hidup akan selalu dekat dengan Tuhannya. Tidak berzikir atau tidak mengingat Allah maka akan menyebabkan hati menjadi mati, jika hati kita mati maka setan akan selalu mengendalikan hidup kita.

4. Mengingat Kematian

Setiap yang bernyawa pasti mati. Dengan mengingat kematian akan menimbulkan rasa takut kepada Allah.

5. Perbanyak mencari ilmu tentang keutamaan salat

Setiap kita harus mengetahui makna dan hakikat salat, urgensi dari salat yang dilakukan, dan konsekuensi dari meninggalkan salat. Dengan cara menuntut ilmu kita akan mengetahuinya. Ilmu bisa diperoleh dari membaca buku dan menghadiri majelis ilmu.

6. Bergaul dengan orang yang saleh

Bergaul dengan orang saleh akan memotivasi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintakan Allah kepada kita. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian berkumpul, kecuali dengan orang yang beriman. Jangan sampai ada yang menyantap makananmu, kecuali orang yang bertakwa.” (HR Tirmidzi)

7. Menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan/orang yang lalai

Janganlah berteman dengan orang-orang yang suka berbuat kerusakan atau orang-orang yang lalai dari mengingat Allah.

 

Ustadzah Novria

INILAH MOZAIK

Shalat dan Keberuntungan

Di antara amal yang membuat seseorang mendapatkan keberuntungan adalah shalat, baik fardu maupun sunah. Allah berfirman, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Baqarah [2]: 5)

Mereka yang dimaksud ayat ini adalah orang yang beriman kepada hal gaib, mendirikan shalat, bersedekah dari sebagian hartanya, beriman kepada Alquran dan kitab sebelumnya, serta meyakini hari akhirat (QS al-Baqarah [2]: 2-4)

Shalat secara bahasa artinya “doa”. Orang yang shalat berarti orang yang berdoa. Dalam hal ini, berdoa kepada Allah. Shalat ini ditujukan sebagai bentuk penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah.

Seperti dikatakan dalam hadis, orang yang shalat sesungguhnya tengah bermunajat kepada Allah. Ia tengah berhadapan dengan Allah. Karena itu, seluruh bacaan shalat adalah doa, zikir, dan bacaan Alquran. Tidak ada bacaan selain itu.

Orang yang shalat, seperti disebutkan di dalam ayat Alquran di atas, termasuk orang yang beruntung, tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga dalam kehidupan akhirat.

Ia beruntung karena dengan shalatnya, Allah menjadi dekat dengannya, dan dengan shalatnya pula ia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar atau perbuatan buruk, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-‘Ankabut [29]: 45).

Orang yang telah dekat dengan Allah akan selalu dicintai oleh-Nya dan dilindungi dari hal-hal tercela, doanya selalu dikabulkan, dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Jika kemudian ia tertimpa suatu cobaan, misalnya sakit, itu sejatinya ujian kesabaran dari Allah yang justru akan meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah dan manusia. Dengan shalatnya pula, seseorang akan bersih lahir batin.

Lahirnya bersih karena sebelum shalat ia selalu berwudhu, membasuh bagian-bagian wajah, tangan, kepala, dan telapak kaki, seperti disebutkan Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS al-Ma’idah [5]: 6).

Dalam hadis bahkan dikatakan, shalat fardu lima waktu itu, seperti air sungai yang dipakai mandi seseorang sehingga ia selalu bersih dari kotoran.

Orang yang shalat juga bersih batin karena kedekatannya dengan Allah melalui shalat, membuat hatinya selalu terpaut dan ingat Allah serta senantiasa mendapat cahaya petunjuk-Nya sehingga itu berimbas pada perilakunya.

Hatinya jauh dari rasa dengki, takabur, riya, sum’ah atau prasangka buruk. Hatinya selalu diisi dengan Alah, rasa syukur, ikhlas, dan prasangka baik. Hati dan perilakunya selalu terkontrol dan ketika suatu saat berbuat salah ia segera sadar dan kembali kepada Allah.

Tentu saja shalat yang dimaksud di sini adalah shalat yang diiringi hati yang penuh kekhusyukan dan ketawadhuan, sementara lahirnya bersih dari hadas kecil dan besar serta mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, bukan shalat main-main atau sebatas menuntaskan kewajiban, setelah itu tetap melakukan perbuatan buruk. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Bimbingan Supaya Salat Khusyuk

SETELAH kita mengetahui arti pentingnya khusyuk, mungkin timbul pertanyaan di benak kita bagaimana cara menghadirkan khusyuk di dalam salat?

Dalam permasalahan ini, ulama kita memberikan beberapa bimbingan. Di antaranya:

– Meminta perlindungan (istiadzah) kepada Allah azza wa jalla dari gangguan dan godaan setan.

– Meletakkan sutrah (pembatas) dan memandang hanya ke tempat sujud.

– Mengosongkan hati dari kesibukan-kesibukan lainnya. Bila terlintas pikiran lain di benak kita, maka segera ditampik dan tidak diindahkan. Bila ada kesibukan atau keinginan maka segera dituntaskan sebelum salat, seperti bila lapar maka makan terlebih dahulu, bila hendak buang air maka segera ditunaikan, dsb.

– Berupaya menghadirkan hati dan terus mengingat-ingat bahwa sekarang kita sedang berdiri di hadapan Raja Diraja (Malikul Mulk) Yang Maha Mengetahui segala perkara yang tersembunyi, baik yang samar maupun rahasia dari orang yang sedang bermunajat kepada-Nya, dan kita terus mengingat bahwasanya amalan shalat ini nantinya (di hari akhir) akan ditampakkan kepada kita.

– Menenangkan anggota badan dengan tidak melakukan sesuatu perkara yang dapat mengganggu kekhusyukan, seperti memilin-milin rambut, menggerak-gerakkan cincin, dsb.

– Berusaha memahami, merenung-kan, memerhatikan, dan memikirkan bacaan-bacaan shalat dan zikir-zikirnya, karena yang demikian itu akan menyempurnakan kekhusyukan. (al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 19/118, Taisirul Allam, 1/292)

Khusyuk yang Tercela

Di antara sifat khusyuk ini ada khusyuk yang tercela. Menurut al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, khusyuk yang tercela adalah khusyuk yang dibuat-buat dan dipaksakan. Ketika shalat di hadapan manusia, ia memaksakan diri untuk khusyuk dengan menundukkan kepalanya dan berpura-pura menangis, sebagaimana hal ini banyak diperbuat oleh orang-orang bodoh. Ini jelas merupakan tipu daya setan terhadap anak manusia. (al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 19/119)

Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar menganugerahkan kepada kita kekhusyukan hati tatkala bermunajat kepada-Nya dan kita berlindung kepada-Nya dari khusyuk yang tercela. []

Sumber asysyariah

[1] Yakni menyibukkan aku dari mengarahkan dan menghadapkan diri kepada Allah zza wa jalla karena memikirkannya. (Fathul Bari, 2/411)

[2] Dan pikiran ini tidak terus diikuti namun segera dihalau untuk kembali menghadapkan hati kepada shalat yang sedang dikerjakan.

[3] Karena Abu Jahm-lah yang menghadiahkan pakaian tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

[4] Anbijaniyah adalah pakaian yang tebal yang tidak bergambar. Ibnu Baththal mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta ganti dari Abu Jahm pakaian yang selain itu untuk memberitahukan kepadanya bahwa beliau tidaklah menolak hadiahnya karena meremehkannya.” (Fathul Bari, 1/604)

[5] Adapun menoleh karena ada keperluan maka dibolehkan seperti yang pernah dilakukan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Sahl bin Sad as-Saidi radhiallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi ke tempat Bani Amr bin Auf untuk mendamaikan perkara di antara mereka. Tibalah waktu shalat maka muadzin mendatangi Abu Bakr seraya berkata, “Apakah engkau mau mengimami manusia? Bila mau, aku akan menyerukan iqamat.” Abu Bakr menjawab, “Ya.” Maka majulah Abu Bakr sebagai imam. Ketika mereka sedang shalat, datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lalu masuk ke dalam shaf hingga berdiri di shaf yang pertama.

Orang-orang yang menyadari kehadiran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam segera memberi isyarat kepada Abu Bakr dengan menepuk tangan mereka. Sementara Abu Bakr tidak menoleh dalam shalatnya. Namun ketika semakin banyak orang yang memberi isyarat, ia pun menoleh dan melihat keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah kemudian memberi isyarat kepada Abu Bakr agar tetap di tempatnya” Demikian seterusnya dari hadits yang panjang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari no. 684.

 

MOZAIK

Remehkan Salat sama dengan Sepelekan Agamanya

DALAM sehari semalam kita diwajibkan untuk menjalankan salat sebanyak lima kali. Tahukah Anda, dalam ibadah yang satu ini terkandung keistimewaan yang luar biasa?

Ternyata salat adalah ibadah yang memiliki kekhususan tersendiri dari ibadah-ibadah lainnya. Di antara kekhususan tersebut adalah berikut:

Pertama: salat adalah rukun Islam yang kedua, setelah dua kalimat syahadat.

Urutan selanjutnya, yang dilakukan oleh seorang yang masuk Islam; setelah ia mengikrarkan syahadat adalah, melaksanakan salat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan,

Islam didirikan di atas lima: Bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah bila ada kemampuan, dan puasa bulan Ramadan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kedua: Salat adalah tiang agama.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Salat adalah tiangnya agama.” (HR. Tirmidz. Beliau mengatakan, “hadis ini derajatnya hasan sahih.”)

Sahabat Umar bin Khatab radhiyallahuanhu berpesan kepada gubernur-gubernur di wilayah kekuasan khilafah beliau,

“Sungguh urusan terpenting yang ada pada kalian bagi saya adalah salat. Barangsiapa yang menjaga salatnya, maka dia telah menjaga agamanya. Sesiapa yang menyepelekan salat, maka untuk urusan lain ia akan lebih sepelekan lagi. Tak ada bagian dari Islam, untuk orang-orang yang meninggalkan salat ” (Al Mudawwanah 1/156).

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

“Siapa saja yang meremehkan urusan salat, ia akan didapati menyepelekan Islamnya. Sungguh kualitas Islam seseorang, berbanding lurus dengan kualitas salatnya. Dan loyalitasnya terhadap Islam, sesuai kadar loyalnya terhadap salat.” (Tadhzimu Qodri As Sholah hal. 22)

Ketiga: Allah mensyariatkan salat kepada RasulNya, tanpa perantara dan di malam yang paling mulia.

Berbeda dengan ibadah lainnya, seperti zakat, puasa, jihad dst. Allah mesyariatkan kebanyakkan ibadah melalui perantara malaikat Jibril. Kemudian malaikat Jibril menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahualaihi wasallam. Adapun sholat, tidak demikian. Allah langsung memanggil RasulNya ke atas langit ke 7. Ke Sidrotul Muntaha. Dalam peristiwa yang kita kenal dengan Isra Miraj. Di malam yang paling mulia yaitu malam lailatul qadr.

Ini menunjukkan betapa penting dan istimewanya sholat.

Keempat: Amalan pertama (yang berkaitan dengan hak Allah), yang akan dihisab di hari Kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu. Bahwa Nabi Muhammad shallallahualaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Taala mengatakan, Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah? Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, Ahmad, al Hakim, dan Baihaqi. Al Hakim menilai sanad hadits ini shahih. Dan disepakati oleh Adz Dzahabi).

Kelima : Akhir dari wasiat Nabi shallallahualaihi wa sallam sesaat sebelum beliau meninggal dunia. Dari Ummu Salamah radhiyallahuanha. Beliau mengatakan,

“Di antara akhir dari wasiat Nabi shallallahualaihi wa sallam adalah, “Jagalah salat jagalah salat dan budak-budak kalian.” (HR. Ahmad).

Keenam: Bagian Islam yang terakhir dicabut dari muka bumi.Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang pertama kali diangkat dari diri manusia adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim dan Tirmidzi. Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami, 2: 353).

Ketujuh: Allah menyebutkan salat sebagai ciri awal/pertama amalan orang-orang yang beruntung.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman itu. Yaitu orang-orang yang khusyu sholatnya. Menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Menunaikan zakat. Menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Sesungguhnya sarangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang menjaga amanat-amanat dan janjinya. Dan orang-orang yang menjaga salatnya” (QS. Al Mukminun: 1-9).

Kedelapan : Allah menyebut sholat sebagai Iman.

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sungguh, Allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia” (QS. Al Baqarah: 143).

Para ulama tafsir menerangkan, makna kata “Iman” pada ayat ini adalah sholat. Yakni salat yang dikerjakan sebelum terjadinya pemindahan kiblat; dari Baitul Maqdis ke Kabah. Sebagaimana disebutkan hadis riwayat Tirmidzi, Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, beliau mengatakan,

“Saat Nabi shallallahualaihi wa sallam mengalihkan kiblat ke arah Kabah, para sahabat bertanya,” Bagaimana dengan saudara-saudara kami yang telah meninggal ya Rasulullah. Sementara mereka shalat menghadap Baitul Maqdis?” Maka turunlah ayat:

“Dan Allah tidaklah menyia-nyiakan Imanmu” (HR. Tirmidzi No. 2890. Beliau berkata: Hadits ini hasan shahih)

Imam Qurtubi rahimahullah berkata, “Pada ayat ini salat disebut dengan Iman. Karena ibadah ini mencakup niat (ibadah hati), ibadah lisan, dan ibadah anggota badan.” (Lihat: Tafsir Al Qurtubi 2/440)

Kesembilan: Allah mewajibkan salat pada setiap keadaan. Tidak gugur meski saat keadaan genting sekalipun. Seperti saat perang, sakit, perjalanan jauh dan lain sebagainya. Meski ada keringanan dalam hal syarat dan jumlah rakaatnya. Namun tidak menggugurkan kewajiban salat secara keseluruhan.

Kesepuluh : Pada awalnya, Allah mewajibkan salat salam sehari sebanyak 50 kali salat. Ini bukti bahwa Allah amat mencintai ibadah ini. Namun kemudian Allah memberi keringanan, sehingga menjadi lima kali dalam sehari semalam. Lima kali salat namun pahalanya sama dengan 50 kali pahala salat. Ini menunjukkan agungnya kedudukan ibadah ini. (Lihat dalam Shahih Bukhori hadis nomor 7517 dan Muslim nomor 162. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahuanhu)

Kesebelas : Saking pentingnya ibadah ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap memerintahkan kepada orang-orang yang lupa atau tertidur saat waktu sholat untuk memqodonya saat ia ingat. Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang meninggalkan salat karena tertidur atau lupa, maka hendaknya ia melakukan salat setelah ingat dan tidak ada kafarat (pengganti) selain itu.” (HR. Bukhori Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, “Barang siapa yang kelupaan shalat atau tertidur sehingga terlewat waktu salat maka penebusnya adalah dia segera shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim )

Masuk dalam hal ini adalah orang yang pingsan. Para ulama menjelaskan, bila pingsannya tidak lebih dari tiga hari, maka wajib baginya untuk memqodo salat yang terluputkan selama tiga hari ia koma tersebut. Sebagai penjelasan ini diriwayatkan dari sahabat Amar, Imron bin Hushoin, dan Samuroh bin Jundub -radhiyallahu anhum. Adapun bila seorang koma lebih dari tiga hari, maka hukumnya disamakan dengan orang yang gila. Jadi tidak ada kewajiban memqodo salat setalah ia sadarkan diri. (Lihat: Al Mughni 2/50-52. Dan Asy-Syarhul Kabir karya Ibnu Qudamah 3/8)

Keduabelas: Allah mengkhususkan penyebutan salat dalam Alquran.

“Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat” (QS. Al Anbiya: 73).

Padahal salat sudah termasuk dalam amalan kebajikan. Namun Allah khususkan penyebutannya, untuk diketahui bahwa ibadah ini adalah ibadah yang paling penting. Dan seperti ini banyak ditemui dalam Alquran. Washallah ala Nabiyyina Muhammad, wa ala aalihi wa shohbihi wa sallam. [muslimorid]

  • Al Mudawwanah, karya Imam Malik. Cetakan ke 1 th 1415. Terbitan: Dar Kutub Ilmiyah.
  • Tafsir Al Qurtubi (Al Jami Li Ahkaamil Quran). Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdulmuhsin At Turki. Cetakan: Mu-assasah Ar Risalah.
  • Fiqhul Ibadah, Syaikh Muhammad bin Sholih al Ustaimin rahimahullah. Cetakan th 1425. Terbitan : Madar al Wathon Lin Nasyr.
  • Tadhzimu Qodri As Sholah, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr. Cetakan pertama, Terbitan : Al Humaishi, Riyadh.

 

www.alukah.net

Awas! Tingkatan Kedua “Celakalah Orang yang Salat”

Al-Hafidz Ibu Katsir pernah mengatakan, metode tafsir yang paling bagus adalah tafsir alquran dengan alquran. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/7). Firman Allah mengenai kecelakaan bagi orang yang salat, telah dijelaskan di lanjutan ayat, “Celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. al-Maun: 4 -5).

Sehingga makna, Celakahlah orang yang salat adalah mereka yang lalai dari salatnya. Bentuk lalai alam shalat, beraneka ragam. Secara umum, bisa kita bagi menjadi beberapa tingkatan,

(2) Lalai dalam bentuk tidak perhatian dengan rukun salat, sehingga salatnya batal

Umumnya yang sering menjadi korban adalah rukun thumakninah. Banyak orang yang terlalu cepat dalam mengerjakan gerakan rukun. Thumakninah adalah tenang sejenak setelah semua anggota badan berada pada posisi sempurna ketika melakukan suatu gerakan rukun salat. Tumakninah ketika rukuk berarti tenang sejenak setelah rukuk sempurna. Tumakninah ketika sujud berarti tenang sejenak setelah sujud sempurna, dst. Tumakninah dalam setiap gerakan rukun salat merupakan bagian penting dalam salat yang wajib dilakukan. Jika tidak tumakninah maka salatnya tidak sah.

Karena tumakninah hukumnya rukun salat maka kita tidak boleh bermakmum dengan orang yang salatnya terlalu cepat dan tidak tumakninah. Bermakmum di belakang orang yang salatnya cepat dan tidak tumakninah, bisa menyebabkan salat kita batal dan wajib diulangi. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan, ada seseorang yang masuk masjid dan salat 2 rakaat. Seusai salat, dia mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang kala itu ada di masjid. Namun Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulangi salatnya. beliau bersabda, “Ulangilah salatmu karena salatmu batal”

Orang inipun mengulangi salat dan datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Tapi beliau tetap menyuruh orang ini untuk mengulangi salatnya. Ini terjadi sampai 3 kali. Hingga orang ini putus asa dan menyatakan, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan salat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!”

Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan cara salat yang benar kepada orang ini. Beliau mengajarkan, “Jika engkau mulai salat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dan sertai thumaninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah dan beritidallah dengan berdiri sempurna. Kemudian sujudlah sertai thumaninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thumaninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thumaninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap salatmu.” (HR. Bukhari 793 dan Muslim 397).

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2362536/awas-tingkatan-kedua-celakalah-orang-yang-salat#sthash.JDvVKnuH.dpuf

———————————————————————————————
Umrah resmi, Hemat, Bergaransi
(no MLM, no Money Game, no Waiting 1-2 years)
Kunjungi www.umrohumat.com
atau hubungi handphone/WA 08119303297

Sahkah Salat Jika Ujung Sajadah Ada Najisnya?

JIKA bagian alas yang kena najis tidak mengenai anggota badan kita, maka tidak batal salatnya, karena tidak bisa dikatakan “membawa” najis.

Ini berbeda jika pakaian, dompet, atau handphone, jika ada najisnya dan dipakai/dibawa salat, maka salatnya tidak sah, begitu juga membawa botol yang berisi najis, walau dalam keadaan tertutup rapat, maka tidak sah salatnya.

Kalau dia salat di atas (alas) karpet yang dibawahnya ada najis, atau dipinggirnya ada najis, atau (salat) di atas ranjang yang tiang-tiangnya terdapat najis maka tidak bahaya (tidak batal salatnya). Kalau najis tersebut sejajar dengan bagian dada nya ketika sujud, atau (sejajar dengan) anggota yang lain maka ada dua wajah (pendapat), yang paling sahih adalah tidak batal salatnya karena dia tidak membawa najis dan tidak tersentuh dengan najis. (Imam Abu Bakar al Hishni (w. 829), Kifayatul Akhyar, hal. 91. Maktabah Syamilah)

Allahu Alam bishshowab. [@indonesiabertauhid]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2362111/sahkah-salat-jika-ujung-sajadah-ada-najisnya#sthash.cv8XPuV3.dpuf

 

 

———————————————————————————————————–
Umrah resmi, Hemat, Bergaransi
(no MLM, no Money Game, no Waiting 1-2 years)
Kunjungi www.umrohumat.com
atau hubungi handphone/WA 08119303297
———————————————————————————————————-

Keutamaan Menunggu Shalat

Hadits berikut akan menerangkan keutamaan berjalan ke masjid dan keutamaan menunggu shalat.

وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu  shalat setelah shalat. Itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan), itulah yang namanya ribath.” (HR. Muslim, no. 251)

 

Kesimpulan Mutiara Hadits

  1. Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits yaitu menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah sebab diampuninya dosa dan ditinggakannya derajat.
  2. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat untuk diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga.
  3. Isbaghul wudhu’ maksudnya adalah menyempurnakan wudhu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu.
  4. Itulah yang namanya ribath. Ribath asalnya bermakna menahan diri dari sesuatu. Disebut ribath di sini maksudnya orang yang melakukannya berarti menahan diri untuk melakukan amalan tersebut terus menerus (menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat). Ada juga yang memaknakan yang dimaksud adalah itulah ribath (penjagaan) yang paling afdhal. Yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah itulah ribath yang paling mudah dan mungkin dilakukan.
  5. Pengulangan dua atau kali untuk kalimat “fadzalikumur ribath”, hikmahnya menunjukkan penting dan agungnya amalan yang disebutkan.
  6. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak langkah.
  7. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang yang selalu mengaitkan hatinya dengan masjid. Keutamaan lainnya, ia juga akan mendapatkan naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
  8. Hadits ini juga merupakan dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid.
  9. Perlu adanya pengajaran hal yang kecil kemudian hal yang lebih besar. Karena seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menunggu shalat di masjid, maka sungguh sulit untuk menahan dirinya menjaga pos saat berjihad di medan perang.

Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 187-188; Syarh Shahih Muslim, 3: 125-126.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/15383-keutamaan-menunggu-shalat.html