Tips Umrah saat Pertama Tiba di Makkah

Jamaah haji Indonesia kloter pertama telah tiba di Makkah, Arab Saudi, Kamis (18/8) dinihari waktu Arab Saudi. Ada yang langsung ingin melakukan umrah meski mereka baru saja menjejakkan kaki di Tanah Suci.

Kepala Daker Makkah, Arsyad Hidayat, memberikan tips bagaimana umrah bagi jamaah yang tiba di Makkah dalam gelombang kedatangan pertama.

Pertama, kata Arsyad, setibanya di Kota Makkah, jamaah sebaiknya beristirahat sebelum berangkat umrah ke Masjidil Haram. Jamaah minimal istirahat dua sampai tiga jam untuk mempersiapkan kondisi fisik.

Jamaah tidak perlu terburu-buru karena bus salawat sudah stand by untuk mengantarkan jamaah ke Masjidil Haram. Pihak maktab juga menyiapkan pembimbingan ibadah.

Kedua, perhatikan dan kenali nama hotel yang dihuni. Ini agar jamaah tahu jalan pulang saat mereka tersesat. “PDG 01 misalnya, menempati rumah 101. Jangan lupa kalau diberi petugas berupa nomor maktab, nomor bus, atau  gelang maktab, itu dipegang betul,” pesan Arsyad.

Ketiga, jamaah jangan lupa membawa kartu identitas berupa kartu pengenal yang bisa disimpan di tas. “Masukan juga di situ kartu maktab dan kartu bus,” katanya.

Kartu identitas, lanjut Arsyad, menjadi salah satu pengaman saat jamaah kesasar atau tidak tahu jalan. Kartu identitas itu bisa ditunjukan kepada petugas sehingga memudahkannya untuk mengetahui arah pulang.

Keempat,  jamaah harap catat nomor telepon ketua regu, ketua tombongan, dan ketua kloter. Hal itu dimaksudkan agar lebih mudah menghubungi seseorang saat dalam keadaan kesasar.

Kelima, selalu bersama-sama dalam berihram. Menurut Arsyad, minimal bersama satu regu atau 10 orang. Kalau bisa satu rombongan itu lebih baik.

Perbanyak Minum Air Zamzam

Ibadah haji merupakan ibadah yang dirindukan setiap Muslim. “Untuk meraih kesempurnaan ibadah haji, perlu persiapan hati, mental, dan fisik,” kata Direktur Halimun Medical Centre (HMC) Dr Briliantono M Soenarwo SpOT kepada Republika, Rabu (19/8).

Persiapan hati, yakni orang yang pergi tentunya dengan niat untuk beribadah. “Kalau hati sudah niat ibadah seperti itu, hati gembira. Hal itu akan melahirkan hormon kegembiraan,” tuturnya.

Selanjutnya adalah menyiapkan mental. Hal ini terkait dengan pikiran dan wawasan. “Perbanyaklah pengetahuan tentang haji, sejarah haji, bagaimana Rasulullah SAW berhaji dan lain-lain. Hal itu akan membuat pikiran tenang,” tuturnya.

Ketiga, terkait persiapan fisik. “Bulan Agustus dan September merupakan saat yang sedang panas-panasnya di Tanah Suci. Hal itu memerlukan persiapan fisik yang prima, baik sewaktu masih di Tanah Air maupun selama di Tanah Suci,” paparnya.

Selama di Tanah Air, kata Tony, calon jamaah haji perlu menjaga makan empat sehat lima sempurna. “Hindari makanan berlemak dan manis sebab tubuh butuh energi lebih banyak untuk mengolahnya,” ujarnya.

Selain itu, calon jamaah haji perlu merutinkan olahraga ringan, seperti jalan kaki/joging. “Hal itu penting agar tubuh betul-betul bugar saat akan berangkat ke Tanah Suci,” kata Tony.

Sedangkan selama di Tanah Suci, Tony menjelaskan, jamaah haji juga harus mengonsumsi empat sehat lima sempurna. Selain itu, memperbanyak minum air zamzam. “Pokoknya, setiap kali merasa haus, segera minum air zamzam. Selain merupakan sunah Rasulullah, minum air zamzam sangat bermanfaat. Sebab, air zamzam merupakan air yang paling sempurna dan mengandung mineral,” paparnya.

Tony juga mengimbau jamaah untuk menghemat energi dan selalu menjaga kondisi. “Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah istirahat yang cukup,” ujarnya.

Tony menjelaskan, dalam rangkaian ibadah haji, ada yang wajib, ada pula yang sunah. “Yang wajib tentunya harus selalu kita perhatikan dan tunaikan. Sedangkan, yang sunah atau sifatnya hanya merupakan ziarah, tentunya harus kita sesuaikan dengan kondisi fisik kita,” kata Tony.

Ia  mencontohkan ziarah ke tempat-tempat tertentu. “Kalau kira-kira fisik kita tidak memungkinkan, jangan ngoyo untuk melakukan ziarah tersebut, misalnya, mendaki Bukit Jabal Rahmah,” tutur

 

 

Republika Online

Cuaca Sangat Panas, Jamaah Diminta Banyak Minum Air Putih

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Muchtaruddin Mansyur meminta jamaah haji yang berangkat untuk senantiasa menjaga kesehatannya selama di Tanah Suci. Ini penting dilakukan supaya tetap sehat dan dapat melaksanakan ibadah secara maksimal.

“Jamaah haji harus selalu menjaga kebersihan, cukup minum air putih, gunakan alas kaki karena cuaca di sana sangat panas. Dengan kesehatan optimal, ibadah juga akan maksimal,” kata Muchtar dalam siaran persnya, Kamis, (18/8).

Sampai dengan Senin (15/8) sebanyak 41.926 jamaah dari 12 embarkasi telah masuk asrama haji. Sementara berdasarkan data terakhir, Ahad (14/8) jumlah kumulatif  jamaah termasuk dengan petugas yang tiba di Madinah berjumlah 34.280 orang.

Pusat Kesehatan Haji Kemenkes mencatat jumlah dan proporsi jamaah haji dengan risiko tinggi (risti) yang telah terlaporkan dalam sistem Siskohatkes sebanyak 21.710 orang. Rincian risti dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan penggunaan warna gelang antara lain; pemakai gelang berwarna merah, yaitu bagi jamaah yang berumur lebih dari 60 tahun dengan risiko penyakit 7.632 jamaah (22,2%); pemakai gelang berwarna kuning yaitu bagi jamaah risti penyakit 11.576 jamaah (34,2%); dan pemakai gelang berwarna hijau yang berumur lebih dari 60 tahun tanpa risiko penyakit sebesar 17.766 jamaah (43,6%).

PPIH juga melaporkan jumlah jamaah haji yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Arab Saudi dengan rincian 2569 jamaah dilakukan rawat jalan; 50 jamaah telah dilakukan rawat inap; dan 63 jamaah dilakukan rujukan. Untuk penderita rawat jalan telah dilakukan analisis data di Kloter menunjukkan proporsi 3 tiga penyakit terbanyak yang diderita oleh jamaah adalah hipertensi (35%), myalgia (17%), headache (10%) dan acute nasopharingithis (9%).

Sementara itu data terakhir tanggal 14 Agustus 2016 hingga pukul 20.00 Waktu Arab Saudi terdapat 3 jamaah haji yang wafat dengan rincian 2 jamaah meninggal akibat cardiovascular diseases dan 1 jamaah meninggal akibat infeksi dan parasitic diseases.

 

Republika Online

Tetap Tenang di Masjidil Haram Walau Ketinggalan Rombongan

Anda ketinggalan rombongan saat sedang khusyuk thawaf dan sa’i di Masjidil Haram? Tak perlu khawatir. Banyak petugas Panitia Penyelanggara Ibadah Haji (PPIH) yang siap membantu Anda.

Di sejumlah pos tertentu, ada petugas dari sektor khusus Masjidil Haram yang berjaga. Lalu, ada juga tim dari tenaga kesehatan yang bersiaga di sejumlah titik di Masjidil Haram. Nah, terkait prosesi ibadah, ada juga tim pembimbing ibadah yang siaga membantu kesulitan Anda.

Petugas PPIH yang siap membantu jamaah haji yang tertinggal rombongan (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)

Para petugas itu memakai atribut resmi seperti rompi bertuliskan ‘Petugas Haji Indonesia’, topi bertuliskan PPIH dan yang paling penting memakai identitas resmi berupa id card dan tanda pengenal di bagian dada. Mereka berjaga selama 24 jam khusus untuk melayani jemaah di Masjidil Haram.

Kompol Risben, adalah salah satu anggota tim Sektor Khusus Masjidil Haram yang ikut melayani jemaah tersebut. Dia berjaga di pos-pos sekitar Masjidil Haram dan kerap memberikan arahan pada jemaah yang mencari arah pulang. Bahkan dia juga ikut membantu beberapa jemaah yang ketinggalan rombongan sampai menemukan kembali bus pulang atau rekan-rekannya.

Zaenuri, anggota tim pembimbing ibadah juga menjadi salah satu petugas yang berjaga di Masjidil Haram. Menurutnya, tim pembimbing ibadah dari tiap sektor memang memiliki jadwal tugas di Haram khusus untuk membantu prosesi ibadah para jemaah.

Petugas PPIH yang siap membantu jamaah haji yang tertinggal rombongan (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)

Salah satu aktivitas yang ditunjukkannya adalah membimbing ibadah salah seorang jemaah yang ketinggalan rombongan. Dia membantu jemaah tersebut sampai proses tahalul.

Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Ali Nurokhim mengatakan, ada empat pos yang bisa dijadikan tempat untuk para jemaah bertanya. Berikut lokasinya:

1. Pos 1 di Marwah. Para petugas akan berdiri di pintu keluar bukit marwah (lokasi setelah sa’i) untuk mengantisipasi jamaah yang datang Syib Amir dan Bab Ali dan mengarahkan jamaah yang selesai sa’i.

2. Pos 2 Thawaf. Ada petugas yang akan berjaga di lokasi thawaf, tepatnya di dekat rukun Hajar Aswad dan sekitar maqam Ibrahim. Tujuannya agar membantu jamaah yang butuh bantuan setelah thawaf.

3. Pos 3 di depan tower Zamzam. Petugas akan membantu jamaah yang datang dari Ziyad dan Misfalah.

4. Pos 4 di pintu King Abdullah, dekat hotel Dar al Tawhid. Petugas akan membantu jamaah yang datang dari arah Jarwah.

sumber: Detik.com

Mengenal Singgasana Allah

Allah SWT menyebut dalam berbagai ayat jika ia bersemayan di atas Arsy. Allah SWT berfirman, “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. (QS al-A’raf [7]: 54)

Lalu bagaimanakah sifat Arsy itu?

Dalam buku Ensiklopedi Islam Jilid I, dijelaskan arsy bisa diartikan sebagai takhta atau singgasana Tuhan. Hal ini berdasarkan kata dasar dalam bahasa Arab arsya, yang berarti bangunan, singgasana, istana, atau takhta. Arsy dengan pengertian tersebut banyak disebutkan dalam Alquran, seperti dalam surah at-Taubah ayat 129, surah Yunus ayat 3, surah al-Mu’minun ayat 86 dan 87, serta surah an-Naml ayat 26.

Arsy, menurut paham Ahlussunah waljamaah, adalah makhluk Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran,

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-pen- juru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (ke pala) mereka.” (QS al-Haaqah [69]:17)

Dalam Tafsir ad-Durr al-Mansur fi Tafsir bi al-Maksur, Jalaluddin as-Suyuti menyebutkan, ada hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi Khatimdari Wahhab bin Munabbih. Hadis tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan arsy dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. Arsy itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi.

Di sekeliling arsy itu terdapat empat sungai, yaitu sungai yang berisikan cahaya berkilauan, sungai yang berisikan api menyala kemerahan, sungai yang berisikan salju putih berkilauan, dan sungai yang berisikan air. Di setiap sungai tersebut para malaikat berdiri sambil membaca tasbih,yang berarti Mahasuci Allah. Di arsy terdapat lisan atau bahasa sebanyak lisan makhluk seluruhnya.

Setiap lisan bertasbih kepada Allah dengan bahasanya. Abu as-Syaikh meriwayatkan hadis dari asy-Sya’bi. Rasulullah Saw bersabda, “Arsy itu terbuat dari batu permata (yakut) merah. Satu malaikat di antara malaikat memandang arsy dan keagungannya.” jelas potongan hadis tersebut.

Penjelasan tentang arsy yang demikian, juga dipertegas dengan hadis yang diriwayatkan Abu asy-Syaikh dari Hammad. Rasulullah bersabda, “Allah menciptakan arsy dari permata zamrud hijau dan diciptakan baginya tiang penopang dari batu permata (yakut) merah. Di Arsy terdapat seribu bahasa (lisan). Di bumi diciptakan seribu umat. Setiap umat bertasbih kepada Allah dengan bahasa arsy.”

 

 

sumber: Republika ONline

Lailahaillallah Mengandung Dimensi Pembebasan

Muhammadiyah memang selalu menekankan kemerdekaan sebagai tugas umat. Bahkan, semangat kemerdekaan dilihat sejalan dengan perintah Allah SWT.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan peran pelayanan sosial bagi Muhammadiyah merupakan aplikasi kalimat tauhid yang diturunkan Allah SWT. Maka itu, ia menekankan fungsi sosial merupakan tugas yang sangat vital, karena memiliki visi dan misi membebaskan atau yang biasa disebut tauhid sosial.

“Kalimat tauhid lailahaillallah itu mengandung dimensi pembebasan,” kata Haedar di Rakernas MPS Muhammadiyah, Kamis (18/8).

Untuk itu, ia menegaskan bagi siapapun mereka yang merasa berkuasa dan melakukan penindasan kepada sesama, sesungguhnya telah berlawanan dengan prinsip tauhid. Pasalnya, lanjut Haedar, tauhid bukanlah semata hubungan dengan Allah SWT, melainkan harus memiliki nilai ihsan terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Haedar menerangkan, Nabi Muhammad SAW telah menekankan kalau Allah SWT akan membela siapapun hamba yang membela saudaranya. Bahkan, ia menilai pesan ini sebenarnya telah dikatakan langsung Allah SWT lewat surah Al Maun, yang menjelaskan kalau seorang Muslim sebenarnya telah mendustakan agama ketika tidak peduli dengan sesama.

Menurut Haedar, pemikiran ini melahirkan komitmen militansi dan daya jelajah tanpa kenal surut Muhammadiyah, sebagai pembaharu sejati yang mampu menangkap konteks Alquran an dengan kondisi jaman. Karenanya, ia berpesan agar umat Islam harus bisa menggali dan mengelaborasi pemikiran Islam, yang akan melahirkan praksis sosial yang lebih tajam lagi.

 

 

sumber: Republika Online

Mazhab Apa yang Harus Saya Pilih?

DALAM kitabnya, Raudhoh Al-Nadzir wa Junnah Al-Munadzir, di bab Taqlid, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620H) menyebutkan Ijma (Konsensus) para sahabat bahwa seorang awam boleh taqlid (mengikuti) mujtahid atau mazhab dalam masalah-masalah syari yang furui (cabang/fiqih), bahkan bukan cuma boleh, tapi wajib taqlid.

Sama sekali tidak diwajibkan seorang awam untuk mengetahui dalil, cukup bagi seorang awam untuk mengetahui hukum suatu masalah, dan menjalankan ibadah sesuai hukum yang ia ketahui walau tidak tahu dalil. Dan cukup baginya fatwa ulama yang ia ikuti, atau guru yang ia belajar kepadanya.

Fatwa-fatwa ulama mujtahidin bagi orang awam itu ibarat dalil syari bagi para mujtahid. (Ibrahim bin Musa as-Syathibi w. 790 H, al-Muwafaqat, h. 5/ 336).

Dan semua fatwa-fatwa ulama mujtahid itu sudah terkumpul dan terformulasikan dalam sebuah institusi besar yang kita sebut dengan mazhab. Yang mana di dalamnya berisi ribuan bahkan ratusan ribu ulama yang bekerja untuk memudahkan kita sebagai muslim dalam menjalankan syariat ini.

Nah, jadi pertanyaan lagi, kira-kira dari sekian banyak mazhab, mana mazhab yang benar? Jawabannya tidak ada yang tidak benar, semua benar dan tidak ada yang salah. Kata Imam Ibnu Qudamah:

“Karena pendapat satu tidak lebih baik di antara yang lainnya.”

Begitu kata Imam Ibnu Qudamah! Karena memang kesemuanya itu baik, dan tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, maka tidak dibenarkan untuk saling menyalahkan siapa yang mengambil fatwa berbeda dari ulama yang berbeda. Syariat ini memberikan kebebasan untuk memilih kepada siapa kita harus mengikuti.

[Ahmad Zarkasih, Lc]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2316184/mazhab-apa-yang-harus-saya-pilih#sthash.EXwx43zy.dpuf

Usia 101 Tahun Tak Surutkan Semangat Nenek Mian Menjadi Tamu Tuhan

Madinah (Pinmas) — Sekira penerbangan sembilan jam dilalui Siti Mian Sarean hingga dia mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Jumat (19/08), waktu menunjukan pukul 02.07 ketika roda pesawat Garuda Indonesia menyentuh landasan bandara.

Bersama jemaah lainnya, kehadiran Nenek Mian di Kota Nabi disambut para petugas haji Daker Airport Jeddah Madinah. Tentu lelah, namun senyum Nenek Mian yang duduk di kursi roda terus mengembang menyambut kehangatan para petugas yang menyapanya.

Kerut wajah mungkin memberi pesan bahwa nenek Mian sudah lansia. Usianya saat ini memang sudah 101 tahun, karena dia terlahir di Jakarta, 6 Desember 1915. Namun, hal itu tidak mensurutkan semangat Nenek Mian untuk hadir memenuhi panggilan Tuhan.

Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan-nikmata laka wal mulka laa syarika laka. “Iya ini pertama kalinya bisa mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah Allah SWT kasih umur yang panjang dan kesehatan yang prima sehingga bisa jalani rangkaian ibadah haji,” tuturnya bahadia saat disapa di Bandara AMAA, Jumat (19/08).

Nenek Mian tiba di Bandara AMAA Madinah dengan menggunakan penerbangan GA 7269. Dia berangkat haji bersama anak dan menantunya yang tergabung dalam Kloter JKG 16. Bersama 393 jemaah lainnya, selama di Madinah, Nenek Mian akan menempati Hotel Wefadah Al Zahra yang berada di wilayah markaziah gharbiah.

Nenek Mian akan berada di Madinah selama sembilan hari untuk menjalani ibadah Arbain, salat wajib berjamaah secara berturut-turut selama 40 waktu.

Kepada para petugas, Nenek Mian yang saat ini tinggal di Cilandak Jaksel, berbagi tips kesehatan berupa pola makan teratur dan tidak berlebihan, gaya hidup sederhana, tidak suka mengeluh, serta mensyukuri nikmat dan ikhlas dalam berbuat.
Selamat beribadah haji Siti Mian Sarean! Hajjan mabruran wa sayan masykuran! Amiin. (nurul/mkd/mkd)

 

Kemenag RI

Tips Aman Di Makkah, Jangan Sembarang Selfie dan Ambil Barang Temuan

Jemaah haji Indonesia diimbau untuk tidak melakukan swafoto (selfie) di sembarang tempat. Sebab, tidak semua tempat di Arab Saudi bebas untuk aktivitas fotografi, terutama di fasilitas strategis pemerintahan seperti kantor polisi dan lainnya. Apalagi jika sudah ada keterangan mamnu at-taswir (larangan mengambil gambar).

Imbauan ini disampaikan oleh Kepala Seksi Perlindungan Jemaah Daker Makkah Wagirun Tupan Towinangun pada apel petugas Daker Makkah, Jumat (19/08) pagi.

Menurut Wagirun, selain fasilitas strategis, foto askar atau polisi Saudi juga agar dihindari. Demikian juga ketika menemukan barang yang tercecer, Wagirun mengimbau agar jemaah tidak serta merta mengambilnya, melainkan melaporkannya ke pihak askar Saudi.

“Kalau nemukan barang berceceran, jangan dipegang atau diambil. Sebaiknya disampaikan ke askar Saudi (terdekat),” jelasnya.

Dalam rangka menjaga kenyamaan dan keamanan jemaah haji Indonesia, lanjut Wagirun, Daker Makkah sudah menetapkan aturan larangan tamu untuk naik ke kamar jemaah haji. Hal ini juga penting untuk mengantisipasi adanya penyusup yang berniat jahat.

“Untuk mengantisipasi penyusupan, jemaah harus solid. Antara satu dengan yang lain harus saling mengenal sehingga ketika ada orang asing datang kita tahu bahwa itu bukan dari jemaah kita,” ujarnya menyusul tertangkapnya 4 orang yang diduga menyusup ke salah satu pemondokan di Sektor 8.

“Kita sudah sosialisasikan kepada jemaah dan petugas maktab. Juga sudah kita buat selebaran dan spanduk di hotel agar apabila ada tamu yang datang hanya diterima di lobby dan tidak masuk ke kamar. Selain mengganggu kenyamanan rekan yang lain, juga mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan,” tandasnya. (mkd/mkd)

 

sumber: Kemenag RI

177 WNI Disebut Gunakan Paspor Filipina

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH — Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Abdul Djamil, mengatakan permasalahan 177 warga negara Indonesia (WNI) yang menggunakan paspor Filipina untuk berhaji bukanlah ranah Kementerian Agama. Abdul Djamil mengimbau masyarakat sebaiknya mengikuti regulasi jika ingin menunaikan ibadah rukun Islam kelima tersebut di Tanah Suci Makkah.

“Saya mengimbau supaya masyarakat jangan menggunakan modus-modus seperti itu. Apalagi, mereka meminta visa di negara lain. Itu konsekuensinya tentu mereka harus memiliki paspor dari negara yang bersangkutan,’’ kata Abdul Djamil usai memimpin rapat koordinasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1437H/2016M di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (20/8) waktu setempat.

Sebanyak 177 WNI menggunakan paspor Filipina agar bisa berangkat haji ke Tanah Suci Makkah. Kini mereka masih tertahan di Filipina dan akan segera dideportasi. WNI tersebut diduga memiliki paspor ganda yakni Filipina dan Indonesia.

Abdul Djamil mengatakan persoalan tersebut sebenarnya bukanlah ranah Kementerian Agama. Namun demikian, Abdul Djamil hanya mengimbau masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci itu mengikuti jalur resmi sehingga terjamin dari aspek keberangkatan, perlindungan, bimbingan dan pelayanan ibadah hajinya.

“Kalau mau berhaji, masyarakat sebaiknya daftar resmi,’’ katanya. ‘’Meski memang kuota dan permintaan haji memang masih belum berimbang.’’

Kuota haji Indonesia dan permintaan memang masih belum imbang sehingga menyebabkan daftar tunggu yang terbilang panjang. Daftar tunggu haji di Sulawesi Selatan mencapai 31 tahun, sementara Kalimantan Selatan mencapai 28 tahun. Meski demikian, kata Abdul Djalil, fenomena daftar tunggu haji juga terjadi di negara lain.

Hal tersebut tidak bisa dihindari karena terkait kapasitas Tanah Suci, Armina, dan Masjidil Haram yang terbatas. ‘’Jika Masjidil Haram kini bisa diperluas, namun permasalahannya adalah Mina yang tidak bisa diperluas karena batas-batasnya sudah ditentukan sejak zaman Rasulullah,’’ katanya.