Kala Istri Kita Takjub dengan Kekayaan Orang Lain

AYAH, coba lihat, rumah Rafi Ahmad besar sekali, kapan ya ayah kita punya rumah seperti itu? Pertanyaan yang mungkin juga pernah sahabatku dapatkan dari istri (atau anggota keluarga lainnya) yang merasa takjub atas sebuah kemegahan yang diperlihatkan di layar kaca. Memang sudah menjadi tabiat dasar manusia yang sangat merindukan kesenangan dan kebahagiaan, di mana kebahagiaan dan kesenangan tersebut senantiasa diindikasikan dengan kepemilikan harta benda yang melimpah ruah.

Ketika kita mengetahui sifat dasar manusia ini, sebaiknya kita dapat mengarahkan kepada jawaban yang lebih bijak lagi bernilai ketuhanan. Jawab saja, “Kita akan memiliki rumah yang jauh lebih megah dari itu, dan kita akan memiliki harta yang jauh lebih banyak dari yang dimiliki oleh siapa pun kelak di SURGA”. Seyogyanya jawaban dilontarkan sebijak mungkin, dengan sebuah jawaban yang bernilai ketuhanan, ketika istri merasa takjub dengan keindahan dan kemegahan dunia. Karena perlu dipahami, Allah Ta’ala pernah mengingatkan kita bahwa bermegah-megahan di dunia telah melalaikan manusia (di dalam QS. At Takatsur).

Oleh karenanya, ketika ia mulai terpukau dengan kemegahan dunia yang melalaikan, ingatkanlah ia dengan kemegahan surga yang abadi lagi penuh kesenangan di dalamnya, melebihi berbagai kesenangan yang ada di dunia. Bacakan kepada istri kita dalil naqli berikut ini:

“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau mahu, silakan kamu membaca: “Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (QS As Sajdah ayat 17)” (HR. Bukhari)

“..Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari tuhanmu dan surga yang luasnya antara langit dan bumi, telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran ayat 133)

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS At-Taubah ayat 72)

Dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala: Aku sediakan kepada hamba-hambaku yang saleh; apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam fikiran serta hati manusia” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat ayat 31)

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az Zukhruf ayat 71)

Kiranya beberapa dalil naqli di atas akan mampu mengarahkan motivasi keduniaan dengan motivasi ketuhanan, di mana kepada Allah Ta’ala tempat kembali yang baik. Setelah kita membacakan dalil mengenai kenikmatan surga, bacakan pula kepada istri kita mengenai cara menuju surga yang telah Allah Ta’ala sampaikan di dalam Firman Nya (QS. Al Mukminun ayat 1-11) yang berbunyi:

1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang yang khusyu’ dalam salatnya,
3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,
4. dan orang yang menunaikan zakat.
5. dan orang yang memelihara kemaluannya.
6. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak terceIa.
7. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8. dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,
9. serta orang yang memelihara salatnya.
10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

Wahai sahabat ku yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, jadilah imam yang baik dengan menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka, jadilah imam yang baik yang membawa keluarga menuju surga, jadilah imam yang baik dengan menghiasi diri dan keluarga dengan nilai-nilai ketuhanan, jadilah imam yang baik dengan membawa visi akhirat dalam kehidupan berkeluarga. Semoga kelak kita dipertemukan di surga wahai sahabat ku, tentunya dengan harapan diiringi oleh keluarga kita. Insya Allah.

[Oleh Maulana Ishak, S.Pi alumni MSP IPB angkatan 43, Relationship Management Rumah Zakat, Ex Staff Khusus Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS]

INILAH MOZAIK

 

Tren Hijrah Pengaruhi Jumlah Mualaf di Indonesia

Mualaf Center Indonesia (MCI) mencatat sejak 2003 jumlah mualaf ada lebih dari 50 ribu. Dalam dua tahun terakhir angkanya lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Etnis Tionghoa mendominasi populasi mualaf di Tanah Air. Berdasarkan wawancara wartawan Republika, Zahrotul Oktaviani, dengan Ketua MCI, Steven Indra Wibowo, salah satu penyebab tingginya jumlah mualaf karena tren hijrah. Berikut wawancara selengkapnya:

Berapa jumlah mualaf yang terdata di MCI?

Sejak 2003, di data kita ada 58.500-an. Rata-rata untuk demo grafi paling banyak di usia 30 ke atas hingga 40. Untuk Status Eko nomi Sosial (SES)-nya di kategori B-C di mana pengeluaran rumah tangganya antara 2-4 juta perbulan. Ini masuk kategori average atau ra ta-rata. Untuk tingkat pendidikannya di antara lulus D3 sampai S1. Untuk suku paling banyak masih dominan dari Jawa, sementara untuk etnis dominasi Tionghoa. Etnis Tionghoa ini sekitar 27 persen. Angka mualaf setahun terakhir mengalami peningkatan sekitar 18 persen dari tahun sebelumnya. Dari 2.800 menjadi 3.500 dalam satu tahun.

menunjukkan pada lingkungan dan sekitarnya bagaimana beradab dan berakhlak yang baik.

Nah yang melihat pun akhirnya tertarik. Mereka melihat orang Muslim di Indonesia baik, bagus, bisa diajak ngobrol dan bercanda. Ratarata dari teman yang mampu memberi contoh dan ilmu yang baik. Ini bagusnya tren hijrah sekarang. Nah sekarang bagaimana kita menjaga agar mereka menjadi mualaf yang betul-betul memahami Islam, bukan sekadarnya.

Sesudah mualaf, hal pertama yang diajarkan kepada mereka?

Setelah mereka mengucapkan kalimat syahadat, mereka diajari untuk shalat. Kita ajari dari thaharah, doa, dan gerakan shalat sem bari kita ajari juga membaca Alquran. Nah kita juga beri pengajaran tentang akidah-akidah dasar sem bari melancarkan bacaannya.

Target pengajaran ini dua sampai tiga bu lan, setelah itu kita lepas. Artinya, dia siap menjalankan ilmu itu di masyarakat. Cuma nanti setelahnya biasanya kita buka juga semacam kajian atau pembekalan lanjutan.

Tujuan kita kan mencetak mualaf bukan dia selamanya jadi mualaf. Namun, dengan mualafnya dia, dia bisa betul-betul hidup sebagai seorang Muslim sejati. Ilmunya juga harus bertambah. Mualaf ini kan bukan sekadar baru masuk Islam, melainkan juga orang yang terpaut dan dilembutkan hatinya untuk menerima hidayah dari Allah SWT. Tujuan kita mempersiapkan dan menciptakan Muslim yang baik dan sesungguhnya.

Apa tantangan dakwah yang diha dapi kalangan Tionghoa ini?

Tantangan ya ada. Butuh pendekatan tersendiri karena bukan hanya Tionghoa, melainkan dari su ku lain kan karakternya juga berbeda, nah itu disesuaikan lagi. Kalau dari nonmualaf ya butuh pende katan yang lebih mudah dimengerti bagi mereka. Kita lebih ke mengajari mereka bagaimana berakhlak dan beradab yang baik dan benar.

Saat perayaan imlek, apakah Mus lim Tionghoa juga ikut meraya kan? Ini disebut budaya saja atau tradisi?

Ini aku dapat banyak pertanyaan. Banyak dari mereka yang bilang bahwa dari keluarga masih ada yang mengajak untuk ikut malam xincia, ngumpul chengbeng, atau makanmakan capgo. Nah ini aku sendiri mengambil sikap, aku tidak ikut.

Imlek ini kan bentuknya sebagai syukuran kepada dewa bumi setelah tahun baru atas rezeki yang di be rikan tahun kemarin, nah setelahnya dilakukan pemujaan bagi dewa langit semoga berkahnya kembali turun. Nah ini sama dengan syirik, ada dua dewa yang disembah, nah ini dosa besar. Belum lagi bakar shio itu tidak sekadarnya, ada hitung-hi tungannya dari shio sesepuh atau leluhur yang sudah meninggal. Ini sudah menyasar pada akidah dan salah. Jadi, kalau saya sendiri lebih baik tidak usah ikut.

Bagaimana cara agar mualaf tetap menghargai dan menghormati keluarga yang merayakan Imlek?

Sabtu, 09 Feb 2019 05:00 WIB

Tren Hijrah Pengaruhi Jumlah Mualaf di Indonesia

Banyak yang mukai belajar agama lebih baik
Red: Agung Sasongko
Fian Firatmaja/ROL

Steven Indra Wibowo

Steven Indra Wibowo

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Mualaf Center Indonesia (MCI) mencatat sejak 2003 jumlah mualaf ada lebih dari 50 ribu. Dalam dua tahun terakhir angkanya lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Etnis Tionghoa mendominasi populasi mualaf di Tanah Air. Berdasarkan wawancara wartawan Republika, Zahrotul Oktaviani, dengan Ketua MCI, Steven Indra Wibowo, salah satu penyebab tingginya jumlah mualaf karena tren hijrah. Berikut wawancara selengkapnya:

Berapa jumlah mualaf yang terdata di MCI?

Sejak 2003, di data kita ada 58.500-an. Rata-rata untuk demo grafi paling banyak di usia 30 ke atas hingga 40. Untuk Status Eko nomi Sosial (SES)-nya di kategori B-C di mana pengeluaran rumah tangganya antara 2-4 juta perbulan. Ini masuk kategori average atau ra ta-rata. Untuk tingkat pendidikannya di antara lulus D3 sampai S1. Untuk suku paling banyak masih dominan dari Jawa, sementara untuk etnis dominasi Tionghoa. Etnis Tionghoa ini sekitar 27 persen. Angka mualaf setahun terakhir mengalami peningkatan sekitar 18 persen dari tahun sebelumnya. Dari 2.800 menjadi 3.500 dalam satu tahun.

ADVERTISEMENT

Rata-rata apa yang menyebabkan mereka untuk menjadi mualaf?

Untuk alasan, 61 persen masih di dominasi oleh pernikahan. Dua sisanya karena pengaruh teman dan pergaulan.

Apa yang menjadi penyebab naiknya jumlah mualaf?

Dua tahun terakhir memang signifikan perbedaannya. Salah satunya karena ada tren hijrah, banyak yang mulai belajar agama lebih baik. Mereka yang belajar adab yang baik, akhlak yang baik mampu menunjukkan pada lingkungan dan sekitarnya bagaimana beradab dan berakhlak yang baik.

Nah yang melihat pun akhirnya tertarik. Mereka melihat orang Muslim di Indonesia baik, bagus, bisa diajak ngobrol dan bercanda. Ratarata dari teman yang mampu memberi contoh dan ilmu yang baik. Ini bagusnya tren hijrah sekarang. Nah sekarang bagaimana kita menjaga agar mereka menjadi mualaf yang betul-betul memahami Islam, bukan sekadarnya.

Sesudah mualaf, hal pertama yang diajarkan kepada mereka?

Setelah mereka mengucapkan kalimat syahadat, mereka diajari untuk shalat. Kita ajari dari thaharah, doa, dan gerakan shalat sem bari kita ajari juga membaca Alquran. Nah kita juga beri pengajaran tentang akidah-akidah dasar sem bari melancarkan bacaannya.

Target pengajaran ini dua sampai tiga bu lan, setelah itu kita lepas. Artinya, dia siap menjalankan ilmu itu di masyarakat. Cuma nanti setelahnya biasanya kita buka juga semacam kajian atau pembekalan lanjutan.

Tujuan kita kan mencetak mualaf bukan dia selamanya jadi mualaf. Namun, dengan mualafnya dia, dia bisa betul-betul hidup sebagai seorang Muslim sejati. Ilmunya juga harus bertambah. Mualaf ini kan bukan sekadar baru masuk Islam, melainkan juga orang yang terpaut dan dilembutkan hatinya untuk menerima hidayah dari Allah SWT. Tujuan kita mempersiapkan dan menciptakan Muslim yang baik dan sesungguhnya.

Apa tantangan dakwah yang diha dapi kalangan Tionghoa ini?

Tantangan ya ada. Butuh pendekatan tersendiri karena bukan hanya Tionghoa, melainkan dari su ku lain kan karakternya juga berbeda, nah itu disesuaikan lagi. Kalau dari nonmualaf ya butuh pende katan yang lebih mudah dimengerti bagi mereka. Kita lebih ke mengajari mereka bagaimana berakhlak dan beradab yang baik dan benar.

Saat perayaan imlek, apakah Mus lim Tionghoa juga ikut meraya kan? Ini disebut budaya saja atau tradisi?

Ini aku dapat banyak pertanyaan. Banyak dari mereka yang bilang bahwa dari keluarga masih ada yang mengajak untuk ikut malam xincia, ngumpul chengbeng, atau makanmakan capgo. Nah ini aku sendiri mengambil sikap, aku tidak ikut.

Imlek ini kan bentuknya sebagai syukuran kepada dewa bumi setelah tahun baru atas rezeki yang di be rikan tahun kemarin, nah setelahnya dilakukan pemujaan bagi dewa langit semoga berkahnya kembali turun. Nah ini sama dengan syirik, ada dua dewa yang disembah, nah ini dosa besar. Belum lagi bakar shio itu tidak sekadarnya, ada hitung-hi tungannya dari shio sesepuh atau leluhur yang sudah meninggal. Ini sudah menyasar pada akidah dan salah. Jadi, kalau saya sendiri lebih baik tidak usah ikut.

Bagaimana cara agar mualaf tetap menghargai dan menghormati keluarga yang merayakan Imlek?

Dengan diam dan tidak menghadiri acara keluarga. Nanti pasti keluarga akan bertanya, mengapa tidak datang? Nah, baru di situ kita jelaskan alasannya, sejarah, dan tradisinya. Diam itu termasuk kita menghargai diri sendiri dan keluarga. Kalau diundang, ya, ditolak.

Kalau ada keluarga yang ngajak dengan alasan hanya kumpul-kum pul keluarga, juga kita tolak. Kalau mau kumpul-kumpul, itu bisa dila kukan 15 hari setelah Imlek. Jadi, setelah semua rangkaian imlek itu selesai, baru kita kumpul, sowan. Nanti pasti ada tuh keluarga yang nyeletuk, “Ke mana aja, lu?” Nah, itu baru kita jawab, kita beri pengertian.

REPUBLIKA

Meneladani Al Amin

SEGALA puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menjadikan kita orang-orang yang selalu semangat untuk memenuhi janji, menunaikan amanah dan hanya berkata dengan ucapan yang diridhoi oleh Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada sang Uswatun Hasanah, penyandang gelar Al Amin, Nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, salah satu kriteria yang mutlak perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah harus benar-benar memiliki kemampuan menjaga amanah. Ini penting bagi siapa saja yang saat ini sedang memikul kursi kepemimpinan dan yang sedang mendambakan punya jabatan sebagai seorang pemimpin.

Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk menyampaikan kepada umat manusia,innii lakum rosuulun amiin, yang artinya, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang terpercaya bagimu. (QS. Asy Syuara [26] : 125)

Al Amin berarti orang yang amanah, terpercaya, dan bertanggung jawab. Siapapun yang menjadi pemimpin hendaklah bertanya pada diri sendiri,Apakah saya dipercaya atau tidak oleh orang yang saya pimpin? Jika seseorang merasa ragu kepada kita, maka kesediaannya untuk patuh apalagi berkorban menjadi tipis. Semakin banyak orang yang meraguan kita maka semakin tidak efektif dalam kepemimpinan kita.

Lantas, bagaimana ciri dari seorang pemimpin yang amanah itu?

Pertama, pemimpin yang amanah adalah orang yang menjadi kuburan bagi aib orang lain, bukan yang sering membeberkannya. Karena jika seorang pemimpin membeberkan rahasia dan kekurangan orang lain, akan jatuhlah kredibilitasnya.

Berhati-hatilah terhadap orang yang sering menceritakan aib orang lain karena jika ia berani menceritakan aib-aib orang lain kepada kita, apa sulitnya dia menceritakan aib kita kepada orang lain.

Kedua, pemimpin yang amanah setiap kali mengucapkan janji berusaha sekuat tenaga memenuhinya. Nabi Muhammad Saw pernah tiga hari tiga malam datang ke sebuah tempat hanya karena ada janji dan orang yang berjanji dengan beliau itu lupa. Tetapi Nabi Sawtidak marah, karena bagi beliau memenuhi janji adalah suatu keberuntungan.

Seringkali orang mudah memberi janji padahal tidak serius berniat memenuhinya. Akan tetapi, orang yang diberi janji biasanya tidak akan lupa. Pemimpin yang amanah bisa dilihat dari kehati-hatiannya berjanji. Sedikit janjinya, tetapi selalu ditepati.

Setiap amanah yang diberikan kepada kita harus benar-benar diperhitungkan terlebih dahulu apakah kita mampu mempertanggungjawabkannya atau tidak. Setiap pejabat tentu mengucapkan sumpah sebelum mengawali tugasnya. Sepatutnya ia mengukur diri dan memeriksa niat apakah akan bersungguh-sungguh memenuhinya?

Menyatakan sumpah itu sudah merupakan janji, apalagi menyebut Demi Allah. Orang yang mempunyai jabatan, pangkat, kedudukan, jika dia tidak mampu mempertanggungjawabkannya, maka semuanya itu justru menjadi jalan kehinaan bagi dirinya. Terlebih lagi masyarakat kita sekarang sudah semakin kritis.

Semakin tinggi jabatan, jika terjatuh (karena tidak amanah), maka bantingannya akan semakin meremukkan. Oleh karenanya jangan tamak dengan kekuasaan dan jabatan, tapi bersungguh-sungguhlah menunaikan tanggungjawab.

Ketiga, pemimpin yang amanah akan bertanggungjawab terhadap setiap perkara sekecil apapun. Setiap berkata benar-benar tidak ada keraguan, tidak meremehkan waktu walau sedetikpun, karena sedetik juga berharga (telat sedetik, semenit, sejam, semuanya sama saja yaitu telat), dan jika jual beli pantang mengambil hak orang lain.

Membangun kepemimpinan diawali dengan amanah terhadap hal-hal kecil terlebih dahulu. Pemimpin yang baik tidak hanya sukses di kantor, tapi juga harus sukses di rumah. Tidak sedikit para pemimpin yang mampu mengatur sistem, kantor, atau perusahaan dengan baik, tetapi tidak berhasil membangun keluarganya dengan baik.

Tidak sedikit pejabat yang terjatuh akibat istrinya tidak dibina dengan baik. Oleh karena itu didiklah keluarga, istri, dan anak-anak kita. Jika tidak, maka kita bisa jatuh oleh istri dan anak-anak kita sendiri.

Allah Swt berfirman, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At Taghobun [64] : 14).

Semoga kita bisa meneladani sifat amanah dari Nabi Muhammad Saw dalam setiap episode dan peran kepemimpinan kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Sedekahlah, Jangan Hanya Sibuk Mengajak Orang Lain

BANYAK di antara para penyeru zakat, infak dan sedekah namun sang penyeru sendiri tidak mampu melakukan apa yang mereka serukan karena mereka sendiri berada di dalam ekonomi kelas bawah, sehingga sekalipun mereka sanggup keluarkan, bukan dalam jumlah yang besar. Tentu yang sangat kita inginkan adalah mampu beramal secara maksimal.

Sahabat, sudah kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya amil (petugas baitul mal) memang memiliki hak atas kerja-kerjanya dalam mengurusi umat, dan agama pun membenarkannya. Tapi sungguh terkadang ada sebuah ganjalan dalam hati, di mana hati saya berkata “ishak, kamu mengajak orang-orang untuk berzakat, berinfak, bersedekah. Lalu kamu pun mengajak perusahaan-perusahaan untuk mengoptimalkan dana CSR untuk program pemberdayaan yang terintegrasi dengan nilai-nilai ketuhanan, tapi kamu sendiri hampir tidak mampu membelanjakan harta mu di jalan Allah Ta’ala, karena memang pemasukan mu sebagai amil sangatlah minim?”

Tentu saja ganjalan dalam hati ini, coba saya diskusikan kepada orang-orang yang saya anggap mempunyai ilmu agama yang lebih mapan, namun hampir semua jawabannya nyaris sama, yaitu: “kamu berjuang di jalan Allah Ta’ala dengan waktu, tenaga dan pikiran itu sudah menjadi bagian dari perjuangan mu dalam mencari rida Allah Ta’ala”. Tentu saja jawaban ini sangatlah benar, namun hati saya belum merasa puas terhadap jawaban ini, sehingga saya pun terus mencari jawaban yang dapat menjawab kegundahan saya.

Tak terasa, ternyata jawaban itu saya dapatkan dari orang terdekat yang saya lupakan bahwa ia mampu menjawabnya dengan kasih sayang. Dialah ayah saya. Orangtua yang telah bersusah payah mendidik dan membesarkan saya dengan jerih payahnya. Nasihat beliau kepada saya, “Jangan biarkan waktu waktu mu banyak terbuang, manfaatkan sebaik mungkin untuk usaha yang menghasilkan, agar kamu pun mampu bersedekah dan berinfak, tidak hanya mengajak orang untuk bersedekah dan berinfak, bukankah kamu masih punya banyak waktu luang dengan profesi mu sebagai amil saat ini?”

Nah, ini nasihat yang saya butuhkan, luar biasa, malah keluar tanpa ditanya, begitulah orangtua kita, seolah ia tahu apa yang ada dalam hati anaknya, seolah Allah Ta’ala telah menggerakkan ucapannya secara spontan namun membekas. Saya pun berpikir, benar juga. Sungguh masih sangat banyak waktu luang dengan profesi amil ini, di tengah-tengah waktu mengurusi umat, masih dapat kita manfaatkan untuk berbagai hal yang menghasilkan, seperti menulis dan berbisnis atau apa pun bergantung dengan potensi yang dimiliki tiap-tiap individu. Sehingga, bisa jadi dalam satu jasad, kita mampu memegang beberapa profesi sebagai amil, sebagai mujahid pena dan sebagai pengusaha atau lainnya.

Memang benar, bekerja dengan beberapa profesi akan menjadikan kita jauh lebih sibuk dan menyita banyak waktu luang kita, namun dengannya kita yang berprofesi sebagai amil juga dapat turut meramaikan perhelatan dakwah melalui nasihat-nasihat sederhana yang dituangkan dalam tulisan, selanjutnya kita pun mampu menambahkan pundi-pundi keuangan dalam pemberdayaan melalui berbagai bisnis pribadi yang diupayakan, atau lain sebagainya.

Bukankah semua hanya tinggal pengaturan dan pembiasaan saja? Lalu kita iringi upaya kita dengan doa, semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan atas segala urusan kita, dan Allah Ta’ala menjadikan kita Super Amil yang Kontributif. Wallahu ‘alam.

[Oleh Maulana Ishak, S.Pi Alumni MSP IPB angkatan 43, Relationship Management Rumah Zakat, EX Staff Khusus Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS]

 

INILAH MOZAIK

Tolak dan jauhi budaya Valentine

Telah jelas bagi kita bahwa perayaan Valentine bukan berasal dari Islam, bahkan berasal dari kaum kuffar. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

Umar bin Khathab radhiallahu’anhu juga mengatakan:

اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ

Jauhi perayaan hari-hari raya musuh-musuh Allah” (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan).

Ditambah lagi dengan kerusakan yang ada pada peringatan ini, yaitu budaya zina, semakin menambah lagi alasan untuk menolak dan menjauhi peringatan ini bagi seorang Muslim yang takut kepada Allah.

Syaikh Abdullah bin Jibrin mengatakan:

ما يترتب على ذلك من المفاسد والمحاذير كاللهو واللعب والغناء والزمر والأشر والبطر والسفور والتبرج واختلاط الرجال بالنساء أو بروز النساء أمام غير المحارم ونحو ذلك من المحرمات، أو ما هو وسيلة إلى الفواحش ومقدماتها، ولا يبرر ذلك ما يعلل به من التسلية والترفيه وما يزعمونه من التحفظ فإن ذلك غير صحيح، فعلى من نصح نفسه أن يبتعد عن الآثام ووسائلها

“Perayaan (hari valentine) ini mengandung berbagai kerusakan dan hal-hal yang dilarang syari’at, seperti perbuatan yang sia-sia, permainan yang sia-sia, nyanyian, musik, kesombongan, terbukanya aurat wanita, tabarruj (menampakkan keindahan wanita) di depan lelaki non mahram, campur baur antara laki-laki wanita, keluarnya wanita dari rumahnya tanpa mahramnya, dan perkara-perkara haram lainnya. Atau perayaan seperti ini juga menjadi sarana terjadinya zina dan hal-hal yang mendekati zina. Hal tersebut tidak dibenarkan hanya dengan alasan mencari hiburan dan selingan, serta pengakuan mereka bahwa mereka dapat menjaga diri mereka. Ini tidak dibenarkan. Maka siapa yang sayang terhadap dirinya, hendaknya dia menjauhi perbuatan dosa dan sarana-sarananya”5.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik kepada kaum Muslimin kepada jalan yang lurus. Wallahu waliyyu dzalika wal qaadiru ‘alaihi.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/36553-maraknya-zina-di-hari-valentine.html

Allah itu Dekat

KEDEKATAN Allah adalah pengawasan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Tidak luput satu makhluk pun yang ada di langit dan bumi serta di antara keduanya, melainkan Allah mengetahui dan mengawasi mereka. Pengawasan Allah meliputi ruang dan waktu.

Kedekatan Allah juga adalah tentang pertolongan Allah. Kedekatan Allah seperti ini hanya diperoleh hambaNya yang shalih. Yakni orang beriman dan beramal shalih. Tidak semua hamba Allah mendapatkannya.

Orang-orang beriman mendekat kepada Allah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya beramal shalih. Kedekatan Allah dengan orang beriman, menjadikan doa-doa orang beriman dikabulkan Allah.

Allah Azza Wa Jalla berfirman, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memeperkenankan (doa hamba-Nya),. (Hud: 61).

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku,. (Al-Baqarah: 186)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang kedekatan Allah terhadap hambaNya yang berdoa kepadaNya. Allah juga akan mengabulkan doa bagi yang berdoa. Ayat ini pula menjadi bantahan terhadap orang-orang yang masih menjadikan sesuatu selain Allah sebagai perantara dalam doa mereka. Mereka berdoa kepada Allah namun menggunakan perantara yang Allah dan NabiNya tak pernah memerintahkan atau mencontohkannya.

Bahkan perbuatan membuat perantara dalam berdoa tanpa ada perintah dan contoh yang shahih dari Nabi-Nya,dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan. Sebenarnya mereka yang melakukan ini kebanyakan karena tidak paham. Mereka hanya ikut-ikutan.

Padahal Allah Subhanahu wa taala telah mengabarkan orang-orang seperti ini dalam firman-Nya dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 3, Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya (QS. Az-Zumar : 3).

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita untuk menapaki agamaNya dengan benar. Sesuai sunnah Nabi-Nya. Dan semoga Allah mengabulkan setiap doa kita. [*]

INILAH MOZAIK

 

Besarnya dosa zina

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra: 32).

Tingkat fatalitas zina dalam ayat ini bisa kita ketahui dari beberapa poin:

  1. Penggunaan kata “jangan dekati” ini menunjukkan kerasnya larangan berzina karena mencakup juga semua hal-hal yang bisa menjerumuskan kepada zina. Maka semua hal yang bisa menjerumuskan kepada zina itu terlarang.
  2. Zina disebut sebagai fahisyah yaitu dosa yang sangat buruk karena dipandang buruk oleh syariat, oleh akal dan oleh fitrah yang lurus. Karena dengan melakukan zina maka ia telah melanggar hak Allah, melanggar hak wanita dan suaminya, merusak rumah tangga, mengacaukan nasab dan kerusakan yang lainnya
  3. Zina disebut sebagai “jalan yang buruk”, yaitu maknanya dosa yang besar.

(Taisir Karimirrahman, Syaikh As Sa’di).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya: “dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab: “engkau menjadikan tandingan bagi Allah (baca: berbuat syirik) padahal Ia yang menciptakanmu”. Ibnu Mas’ud bertanya: “lalu apa lagi?”. Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”. Ibnu Mas’ud bertanya: “lalu apa lagi? Beliau menjawab: “engkau berzina dengan istri tetanggamu“” (HR. Al Bukhari no. 4483).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

Pezina tidak dikatakan mukmin ketika ia berzina” (HR. Bukhari no. 2475, Muslim no.57).

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

الإيمان نزه فمن زنا فارقه الإيمان ، فمن لام نفسه وراجع راجعه الإيمان

Iman itu suci. Orang yang berzina, iman meninggalkannya. Jika ia menyesal dan bertaubat, imannya kembali” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Syu’abul Iman, di-shahihkan Al Albani dalam Takhrij Al Iman, 16).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/36553-maraknya-zina-di-hari-valentine.html

Maraknya Zina Di Hari Valentine

Hari valentine bagi pemuda-pemudi barat tidak lepas dari hubungan seks, baik pra nikah maupun pasca nikah. Padahal hubungan seks pra-nikah adalah perbuatan zina yang sangat menjijikan dan merupakan dosa besar.

Hari Valentine dan Zina

Tahukah anda bahwa hari Valentine bagi sebagian pemuda-pemudi barat adalah hari yang spesial sehingga mereka berharap bisa melakukan hubungan seks pertama kali di hari itu? Bahkan hari valentine bagi mereka tidak lepas dari pembicaraan mengenai hubungan seks. Dengan mudah anda bisa membaca “rahasia umum” ini dari bahasa-bahasa menjijikkan mereka di social media seputar hari valentine. Bahkan statistia.com merilis bahwa 32% responden mereka yang merupakan warga Amerika berusia 18 tahun ke atas, menyatakan berniat untuk melakukan hubungan seks di hari Valentine1. Masih dari situs statistia.com, bahwa 16% responden yang berstatus lajang, berniat untuk melakukan hubungan seksual dan 59% responden yang berstatus berpacaran juga demikian2. Angka-angka ini menunjukkan betapa hari Valentine tidak lepas dari budaya zina. Allahul musta’an!

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menyebutkan:

عيد الحب عيد روماني جاهلي ، استمر الاحتفال به حتى بعد دخول الرومان في النصرانية ، وارتبط العيد بالقس المعروف باسم فالنتاين الذي حكم عليه بالإعدام في 14 فبراير عام 270 ميلادي ، ولا زال هذا العيد يحتفل به الكفار ، ويشيعون فيه الفاحشة والمنكر

“Hari Valentine adalah hari raya bangsa Romawi jahiliah. Hari tersebut terus berlangsung hingga masuknya bangsa Romawi ke dalam agama Nashrani. Hari ini dikaitkan dengan seorang pastur yang bernama Valentine yang dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270M. Hingga kini hari tersebut masih dirayakan orang-orang kafir dan mereka sebarkan perbuatan fahisyah (zina) serta berbagai kemungkaran di dalamnya”3.

Nahasnya, budaya zina ini mulai ditiru oleh pemuda-pemudi Islam. Awalnya mereka sekedar meniru perayaan hari Valentine saja dengan mengadakan perayaan-perayaan, membagi hadiah dan semacamnya. Namun lambat laun mereka juga meniru budaya zina di hari Valentine.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/36553-maraknya-zina-di-hari-valentine.html