Kedudukan Ilmu dan Ulama Hadits

Keutamaan Ulama Hadits

al-Buwaithi berkata: Aku mendengar Syafi’i mengatakan, “Hendaklah kalian berpegang kepada para ulama hadits, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling banyak kebenarannya.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 63)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila aku melihat salah seorang As-habul Hadits seolah-olah aku sedang melihat salah seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka. Mereka telah menjaga dalil (hadits) untuk kita. Oleh sebab itu kita sangat berhutang budi kepada mereka.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 63 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 118)

Ahmad bin Sinan al-Qaththan rahimahullah berkata, “Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid’ah kecuali dia pasti membenci ahli hadits. Maka apabila seorang membuat ajaran bid’ah niscaya akan dicabut manisnya hadits dari dalam hatinya.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 124)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 31)

Muhammad bin Abi Hatim rahimahullah mengatakan: Aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikandi berkata, “Seandainya aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku niscaya akan aku lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang lelaki biasa. Adapun kematiannya berarti lenyapnya ilmu [agama].” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 118)

Kemuliaan Ilmu Hadits

Adalah Malik bin Anas, apabila beliau ingin berangkat untuk mengajarkan hadits maka beliau pun berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Beliau mengenakan pakaiannya yang terbaik dan memakai peci. Dan beliau pun menyisir jenggotnya. Tatkala hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah, hal. 87-88)

Waki’ rahimahullah berkata, “Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih utama daripada [ilmu] hadits.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Mak-hul asy-Syami rahimahullah berkata, “al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah, daripada kebutuhan as-Sunnah terhadap al-Qur’an.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15; kitab ini dihadiahkan kepada kami oleh al-Ustadz M. Abduh Tuasikal hafizhahullah )

asy-Syarif Hatim bin ‘Arif al-‘Auni hafizhahullah mengatakan, “Oleh sebab itu benarlah jika dikatakan bahwa orang yang sedang mempelajari as-Sunnah (hadits) sebagai orang yang sedang mempelajari al-Qur’an. Dan tidaklah salah jika dikatakan kepada orang yang membaca as-Sunnah, bahwa dia sedang membaca tafsir al-Qur’an!!” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi umat manusia daripada hadits.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 32)

Ikhlas dalam Belajar Hadits

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)

Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadits sebagaimana datangnya (apa adanya, pen) maka dia adalah pembela Sunnah. Dan barangsiapa yang menimba ilmu hadits untuk memperkuat pendapatnya semata maka dia adalah pembela bid’ah.” (lihat Mukadimah Tahqiq Kitab az-Zuhd, hal. 69)

Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Fitnah/cobaan yang timbul oleh hadits lebih dahsyat daripada fitnah yang ditimbulkan dari emas dan perak.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 33)

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Fitnah yang timbul dari hadits lebih dahsyat daripada fitnah karena harta dan anak-anak.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/97])

ar-Rabi’ berkata: Aku mendengar beliau -Imam Syafi’i- mengatakan, “Langit manakah yang akan menaungiku. Bumi manakah yang akan menjadi tempat berpijak bagiku. Jika aku meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpendapat sebagaimana kandungan hadits tersebut.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 56)

Bertahap dan Terus Menerus

Ma’mar mengatakan: Aku pernah mendengar az-Zuhri mengatakan, “Barangsiapa yang menuntut ilmu secara instan maka ia akan hilang dengan cepat. Sesungguhnya ilmu hanya akan diperoleh dengan menekuni satu atau dua hadits, sedikit demi sedikit.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/70])

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Ulama hadits berpesan, tidak semestinya seorang penimba ilmu hadits mencukupkan diri mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahami kandungannya. Sebab hal itu akan membuang tenaganya dalam keadaan dia tidak mendapatkan apa-apa. Hendaknya dia menghafalkan hadits secara bertahap. Sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan siang dan malam.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/70])

Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 58)

Tatkala begitu banyak orang yang menghadiri pelajaran hadits pada masa al-A’masy maka ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Muhammad, lihatlah mereka?! Betapa banyak jumlah mereka!!”. Maka beliau menjawab, “Janganlah kamu lihat kepada banyaknya jumlah mereka. Sepertiganya akan mati. Sepertiga lagi akan disibukkan dengan pekerjaan. Dan sepertiganya lagi, dari setiap seratus orang hanya akan ada satu orang yang berhasil -menjadi ulama-.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 28)

Waki’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” (lihat mukadimah az-Zuhd karya Imam Waki’, hal. 91)

Tulisan ini disusun ulang di Kantor YPIA

Penulis: Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

Menyikapi Krisis Ekonomi di Masa Pandemi

Pandemi covid 19 yang tengah menimpa kita saat ini banyak merubah tatanan kehidupan, terlebih dalam masalah perekonomian. Banyak yang mengeluhkan pendapatan yang berkurang, barang dagangan yang kurang laku, ada yang di PHK diperusahaannya, barang-barang pokok mengalami kenaikan dan permasalahan lainnya yang serupa.

Ketahuilah bahwa hal tersebut memberikan banyak pelajaran dan menyadarkan kita bahwa hanya Allah yang berkuasa dalam mengatur harga dan perekonomian, sehebat apapun strategi bisnis seseorang jika Allah ingin buat dia bangkrut maka dia akan bangkrut dengan cara Allah.

Poin inilah yang ingin dijelaskan rasulullah ﷺ kepada umatnya, tatkala para sahabat mengeluhkan naiknya harga barang, beliau ﷺ bersabda:

إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ

“Sesungguhnya Allah lah yang mengatur harga barang, Dialah yang menyempitkan, melapangkan, dan memberikan rezeki. Sesungguhnya aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak seseorang pun dari kalian yang menuntutku untuk sebuah kezhaliman baik masalah darah maupun harta”.
(HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzy no. 1314, Ibnu Majah : 2200).

Dalam tulisan ini kami mencoba untuk mengumpulkan hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam menyikapi krisis ekonomi di masa pandemi.

1. Rezeki telah dijamin Allah

Apapun kondisi seorang hamba, kapanpun dan dimanapun dia berada, ketahuilah Allah ﷻ telah mengatur dan menjamin rezekinya. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak ada satu makhluk pun yang berjalan di atas bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam makhluk itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”
(QS. Hud : 6).

Allah juga berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak makhluk yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al – Ankabut: 60).

Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa rezeki telah ditetapkan dan dijamin oleh Allah. Allah lah yang memudahkan sampainya rezeki kepada seorang makhluk, bukan karena kekuatan dirinya atau kehebatannya.

Lihatlah para janin yang masih dalam kandungan ibunya, begitu pula seorang bayi yang baru lahir ke dunia ini, dirinya belum memliki kekuatan untuk bekerja mencari penghasilan, tapi Allah antarkan rezekinya kepada dirinya lewat perantara orang tuanya.

Dalam sebuah hadits rasulullah ﷺ bersabda:

أيها الناس اتقوا الله وأجملوا في الطلب فإن نفسا لن تموت حتى تستوفي رزقها وإن أبطأ عنها ، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب ، خذوا ما حل ودعوا ما حرم

“Wahai manusia sekalian, bertakwalah kepada Allah dan perindahlah cara meminta (kepada Allah dalam mencari rezeki), karena sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai dia mendapatkan semua rezekinya walaupun terlambat (dalam pandangannya), maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perindahlah cara meminta (dalam mencari rezeki), ambilah cara yang halal dan tinggalkanlah yang haram.”
(HR. Ibnu Majah : 2144).

Hadits diatas menjelaskan bahwa rezeki kita semua telah dijamin oleh Allah, tidak ada satu orangpun yang tidak mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan untuknya, dan dia tidak akan menemui ajalnya kecuali ketika dirinya telah menikmati semua rezekinya. Oleh karenanya, dalam hadits tersebut rasulullah ﷺ mengajak kita untuk lebih fokus dalam permasalahan ketakwaan bukan kepada rezeki, karena rezeki telah dijamin.

2. Penghalang rezeki bukan pandemi tapi maksiat.

Pandemi atau tidak pandemi tidak akan merubah keadaan bahwa Dzat yang memberikan rezeki adalah Allah. Allah lah pemberi rezeki baik di masa normal atau di masa pandemi. Sehingga satu-satunya hal yang bisa menghalangi rezeki adalah kedurhakaan kita kepada Ar-Rozzaq, Dzat yang memberikan rezeki. Sehingga Allah enggan memberikan rezekinya kepada kita.

Dalam sebuah hadits rasulullah ﷺ bersabda:

إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rezeki disebabkan dosa yang ia perbuat”
(HR. Ahmad no. 22491).

Hadits tersebut diperselisihkan ulama akan keshohihan sanadnya, namun jika ditinjau dari sisi makna, maka banyak penguat yang mendukungnya. Banyak dalil yang menunjukan bahwa ketakwaan adalah sebab utama mendatangkan rezeki, sehingga lawan dari ketakwaan yaitu kemaksiatan akan menjadi penghalang datangnya rezeki.

Allah berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi dari permasalahannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath Thalaq : 2 – 3).

Begitu pula beristighfar serta bertaubat memohon ampun kepada Allah ﷻ dari dosa – dosa yang dilakukan merupakan sebab dibukakan pintu rezeki. Allah berfirman mengisahkan seruan nabi Nuh kepada kaumnya:

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا. يرسل السماء عليكم مدرارا. ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا

“Aku (Nuh) katakan : minta ampunlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah maha pengampun. Nisacaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian. Dan Dia akan memberikan kepada kalian harta yang banyak dan anak-anak, dan Dia juga akan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian.”
(QS. Nuh : 10 -12).

Hendaknya masing-masing kita meletakkan perkara ini di depan matanya, ketika dia merasa sempit seharusnya dia lebih meningkatkan ketakwaannya kepada Allah bukan malah menggerutu dan kecewa akan ketetapan Allah dan berjalan lebih jauh lagi ke dalam kemaksiatan. Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang salaf yang berkata:

والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني

“Demi Allah, aku tidak peduli dengan kenaikan harga barang, walaupun harga sebiji gandum adalah 1 dinar (4,25 gr emas). Kewajibanku adalah berbibadah kepada Allah sesuai yang ia perintahkan, dan Dia pasti akan memberikan rezekiku sebagaimana yang telah Dia janjikan.”

Ini sesuai dengan firman Allah ﷻ:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ. إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan yang Sangat Kokoh.”
(QS. Adz – Dzariyat: 56 – 58).]

3. Tawakkal bukan berarti tidak berusaha.

Ketika hati telah meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang memberikan rezeki, maka tumbuhlah tawakkal dalam diri. Apa itu tawakkal?
Tawakkal adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah di setiap keadaan (Lihat : https://binbaz.org.sa/fatwas/17306/حقيقة-التوكل-على-الله). Tawakkal merupakan ibadah hati yang harus dijalanan oleh setiap insan yang beriman.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.
(QS. At – Taubah :51).

Namun, tawakkal bukan berarti bermalas-malasan dan tidak mengambil sebab dalam menggapai tujuan, bahkan para ulama menjelaskan bahwa mengambil sebab merupakan syarat sahnya tawakkal dalam hati. Karena orang yang bersandar kepada Allah maka dia akan melakukan sesuatu yang Allah perintahkan dan akan berjalan di atas ketetapan Allah. Allah ﷻ telah menetapkan perjalanan dunia ini dengan sebab-sebabnya. Oleh karenanya rasulullah ﷺ bersabda:

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن

“Bersemangatlah untuk meraih hal yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah, jangan pernah merasa lemah”.
(HR. Muslim: 47).

Begitu pula tidak boleh bagi seseorang untuk bersandar kepada sebab dan menjadikan sebab segalanya. Orang-orang seperti ini tidak lagi bersandar kepada Allah dan mereka tidak meyakini bahwa Allah lah yang menggerakkan sebab-sebab itu terjadi.

Sehingga, ada dua kelompok orang yang salah dalam masalah tawakkal:
1.Orang yang merasa dirinya bertawakkal, lalu tidak mau mengambil sebab. Orang – orang ini adalah orang yang tertipu, dan mengingkari ayat-ayat Allah yang mengharuskan mengambil sebab.
2.Orang yang terlalu bergantung kepada sebab, sehingga lupa bahwa Allah lah yang menetapkan segala sesuatu. Orang yang seperti ini bisa jatuh kepada kesyirikan.]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فعلى العبد أن يكون قلبه معتمداً على الله ، لا على سببٍ من الأسباب ، والله ييسر له من الأسباب ما يصلحه في الدنيا والآخرة

“Seorang hamba wajib menyandarkan hatinya hanya kepada Allah ﷻ, bukan kepada sebab. Allah yang memudahkannya menjalankan sebab yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.”
(Majmu’ fatawa: 8/528).

Sedangkan Ahlusunnah mengatakan bahwa kita harus mengikuti ketetapan Allah dan mengambil sebab yang Allah tetapkan akan tetapi hati tetap harus bergantung dan bersandar kepada Allah bukan kepada sebab.

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah.
Tawakkal merupakan sebab mudahnya seseorang mencari rezki. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar – benarnya tawakkal, maka kalian akan diberikan rezeki seperti halnya seekor burung. Burung tersebut pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”
(HR. Tirmidzy : 2344).

Alhafizh Ibnu Hajar berkata:

حديث عمر هذا يدلُّ على أنَّ النَّاس إنَّما يُؤتون مِنْ قلَّة تحقيق التوكُّل ، ووقوفهم مع الأسباب الظاهرة بقلوبهم ومساكنتهم لها ، فلذلك يُتعبون أنفسَهم في الأسباب ، ويجتهدون فيها غاية الاجتهاد ، ولا يأتيهم إلاّ ما قُدِّر لهم ، فلو حَقَّقوا التوكُّلَ على الله بقلوبهم ، لساقَ الله إليهم أرزاقهم مع أدنى سببٍ ، كما يسوقُ إلى الطَّير أرزاقها بمجرَّدِ الغدوِّ والرواح ، وهو نوعٌ من الطَّلب والسَّعي ، لكنه سعيٌ يسيرٌ

“Hadits Umar ini menunjukkan bahwa manusia mendapatkan hukuman disebabkan kurangnya pengaplikasian tawakkal dalam diri. Dan mereka terlalu bergantung dan merasa tenang dengan sebab-sebab yang zhohir, sehingga mereka berletih-letih dalam mengambil sebab, dan mengerahkan segala sesuatu yang mereka miliki, namun mereka hanya mendapatkan apa yang telah ditetapkan untuk mereka.
Kalaulah mereka benar – benar mengaplikasikan tawakkal dalam hati mereka, maka Allah yang akan membawakan rezeki kepada mereka walaupun hanya dengan sebab yang remeh, sebagaimana Allah membawakan rezeki kepada seekor burung hanya dengan terbang di waktu pagi dan pulang di sore hari, itu memang sebuah usaha dalam mencari rezeki, namun usaha yang ringan.”
(Jami’ul Ulum walhikam : 2/321).

Ditulis oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)

BIMBINGAN ISLAM

Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah

Bisa jadi ada dari saudara kita yang dahulunya istiqamah di jalan hijrah dan dakwah. Dahulunya bersemangat akan agama, amal shalih dan memberi manfaat bagi sesama, akan tetapi seiring berjalannya waktu ia hilang dari peredaran hijrah dan dakwah. Seolah-olah gugur sebelum waktunya dan mengingatkan kita pada ayat yang menjelaskan kerasnya hari seiring berjalannya waktu akibat fitnah yang begitu dahsyat.

Allah berfirman,

فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Hadiid: 16]

Saudara kita yang berguguran dijalan hijrah dan dakwah kini sudah tidak tahu rimbanya, sudah hilang dari majelis ilmu, sudah tidak lama kita berjumpa lagi. Sekali berjumpa, tiba-tiba ia terlihat sudah banyak meninggalkan sunnah dan ajaran Islam semisal sudah memotong jenggot, sudah melepas jilbab atau kembali memakai jilbab kecil dan ketat atau sudah kembali bekerja di instansi riba 

Hal ini bisa saja terjadi akibat tidak menempuh sebab-sebab istiqamah sedangkan fitnah dan manisnya dunia benar-benar menipu dan menyeret secara perlahan-lahan orang-orang yang dahulunya istiqamah. Fitnah yang datang secara perlahan-lahan dan terus-menerus inilah yang lebih berbahaya, menyebabkan orang yang terkena fitnah tidak sadar bahwa mereka digiring dalam kelalaikan akan akhirat serta tamak akan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memisalkan dengan fitnah seperti ini dengan anyaman tikar yang lepas satu-persatu dan perlahan-lahan.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا

“Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. [HR.Muslim no 144]

Agar tidak gugur di jalan hijrah dan dakwah ada dua hal yang kami sangat tekankan, meskipun banyak sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang istiqamah dalam agama. Dua poin tersebut:

Pertama: Jangan pernah tinggalkan majelis ilmu sama sekali

Setelah kita perhatikan bahwa orang-orang yang meninggalkan majelis ilmu secara perlahan-lahanlalu  hilang secara total, mereka Inilah yang futur dan berguguran di jalan hijrah dan dakwah. Pada majelis ilmu hampir terkumpul semua sebab istiqmahnya seseorang, sebagaimana dalam hadits berikut:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim]

Majelis dzikir adalah majelis apapun yang di dalamnya ada kegiatan mengingat Allah dan hari akhir. Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menjelaskan,

المراد بمجالس الذكر وأنها التي تشتمل على ذكر الله بأنواع الذكر الواردة من تسبيح وتكبير وغيرهما وعلى تلاوة كتاب الله سبحانه وتعالى وعلى الدعاء بخيري الدنيا والآخرة وفي دخول قراءة الحديث النبوي ومدارسة العلم الشرعي ومذاكرته والاجتماع على صلاة النافلة في هذه المجالس نظر والأشبه اختصاص ذلك بمجالس التسبيح والتكبير ونحوهما والتلاوة حسب وإن كانت قراءة الحديث ومدارسة العلم والمناظرة فيه من جملة ما يدخل تحت مسمى ذكر الله تعالى

 “Yang dimaksud dengan majelis-majelis dzikir adalah mencakup majlis-majlis yang berisi dzikrullah, dengan macam-macam dzikir yang ada (tuntunannya, Pent) berupa tasbih, takbir, dan lainnya. Juga yang berisi bacaan Kitab Allah Azza wa Jalla dan berisi doa kebaikan dunia dan akhirat. menghadiri majelis pembacaan hadits Nabi, mempelajari ilmu agama, mengulang-ulanginya, berkumpul melakukan shalat nafilah (sunah) ke dalam majlis-majlis dzikir adalah suatu visi. Yang lebih nyatamajlis-majlis dzikir adalah lebih khusus pada majlis-majlis tasbih, takbir dan lainnya, juga qiraatul Qur’an saja. Walaupun pembacaan hadits, mempelajari dan berdiskusi ilmu (agama) termasuk jumlah yang masuk di bawah istilah dzikrullah Ta’ala”. [Fathul Bari, 11/212]

Kedua:  Mencari teman dan lingkungan yang baik

Hal ini juga sangat penting karena agama seseorang itu tergantung dengan teman dekatnya.

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ 

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena jtu, perhatikanlah siapa
yang akan menjadi sahabat kalian ”. [HR. Abu Daud]

Teman sangat mempengaruhi dan memberikan sifat yang ‘menular’ kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)

Serta perintah Allah dalam Al-Quran agar kita senantiasa sering berkumpul bersama orang-orang yang jujur dalam keimanannya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119)

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Khalid bin Walid: Kisah Haru Islamnya Pedang Allah

Islamnya Kahlid bin Walid terjadi setelah pembebasan Makkah

Khalin bin Walid memang panglima perang legendaris yang tanguh. Kiprah pertemanya justru ketika dia membawa pasukannya di dalam perang Uhud. Atas taktiknya, kala itu membuat porak-poranda pasukan Muslim.

Tapi kali ini bukan kisah perang Uhud yang diceritakan. Namun, kisah Khalid bin Walid memeluk Islam yang baru terjadi setelah peristiwa pembebasan Makkah (Fatkhu Makkah). Kisah ini ada dalam  buku ‘Sejarah Muhammad’ karya penulis Mesir legendari, Muhammad Husain Haekal.

Begini tulisannya:

———–

Sejarah telah membenarkan perkiraannya. Begitu ia berangkat kembali ke Medinah, Khalid bin’l-Walid – Jenderal Kavaleri kebanggaan Quraisy dan pahlawan perang Uhud itu telah berdiri di tengah-tengah sidang masyarakatnya sendiri sambil berkata:

“Sekarang nyata sudah bagi setiap orang yang berpikiran sehat, bahwa Muhammad bukan tukang sihir, juga bukan seorang penyair. Apa yang dikatakannya adalah firman Tuhan semesta alam ini. Setiap orang yang punya hati nurani berkewajiban menjadi pengikutnya.”

‘Ikrima bin Abi Jahl merasa ngeri sekali mendengar kata-katanya itu. “Khalid,” kata ‘Ikrima kemudian, “engkau telah bertukar agama.”3

Selanjutnya terjadi percakapan antara mereka sebagai berikut: Khalid Aku tidak bertukar agama, tetapi aku mengikuti agama Islam. ‘Ikrima Tak ada orang akan berkata begitu di kalangan Quraisy selain engkau.

Khalid :Mengapa?

Ikrima: Ya, sebab Muhammad sudah menjatuhkan derajat ayahmu ketika ia dilukai. Pamanmu dan sepupumu sudah dibunuhnya di Badr. Demi Allah, aku tidak akan masuk Islam dan tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti kau itu, Khalid. Engkau tidak melihat Quraisy yang sudah berusaha hendak membunuhnya?

Khalid: Itu hanya semangat dan fanatisma jahiliah. Tetapi sekarang, setelah kebenaran itu bagiku sudah jelas, demi Allah aku mengikut agama Islam.

Setelah itu Khalid lalu mengutus pasukan berkudanya kepada Nabi menyatakan dirinya masuk Islam dan mengakuinya.

Khalid menganut Islam ini beritanya kemudian sampai juga kepada Abu Sufyan. Khalid di panggil.

“Benarkah apa yang kudengar tentang engkau?” tanya Abu Sufyan.

Setelah dijawab oleh Khalid, bahwa memang benar, Abu Sufyan marah-marah seraya katanya: “Demi Lata dan ‘Uzza. Kalau aku sudah mengetahui apa yang kaukatakan benar, niscaya engkaulah yang akan kuhadapi, sebelum aku menghadapi Muhammad.”

“Dan memang itulah yang benar, apa pun yang akan terjadi.”

Terbawa oleh kemarahannya ketika itu juga Abu Sufyan maju hendak menyerangnya. Tetapi ‘Ikrima yang pada waktu itu turut hadir segera bertindak mengalanginya seraya berkata:

“Abu Sufyan, sabarlah. Seperti engkau, aku juga kuatir kelak akan mengatakan sesuatu seperti kata-kata Khalid itu dan ikut ke dalam agamanya. Kamu akan membunuh Khalid karena pandangannya itu, padahal seluruh Quraisy sependapat dengan dia. Sungguh aku kuatir, jangan-jangan sebelum bertemu tahun depan seluruh penduduk Mekah sudah menjadi pengikutnya.”

Sekarang Khalid sudah pergi meninggalkan Makkah ke Madinah. Ia menggabungkan diri ke dalam barisan Muslimin

Sesudah Khalid, ikut pula ‘Amr bin’l-‘Ash dan ‘Uthman b. Talha penjaga Ka’bah, masuk Islam. Dengan masuknya mereka kedalam agama Islam, maka banyak pula penduduk Mekah yang turut menjadi pengikut agama ini. Dengan demikian kedudukan Islam makin menjadi kuat, dan terbukanya pintu Mekah buat Muhammad sudah tidak diragukan lagi.

KHAZANH REPUBLIKA

Nilai Sebuah Proses

Rahmat Allah SWT sangatlah luas tak bertepi.

Dahulu, ada seorang pembunuh “berdarah dingin” dari keturunan Bani Israil. Dalam riwayat sahih, sebanyak 99 nyawa telah melayang di tangannya. Hingga pada suatu saat, Allah SWT memercikkan secercah hidayah-Nya ke dalam hati yang kelam itu. Terbesitlah dalam dirinya untuk bertanya kepada orang yang sangat alim di muka bumi ‘apakah masih terbuka (pintu) tobat baginya?’. Lantas ditunjukkanlah dia kepada seorang rahib, ahli ibadah, “Tidak, (tobatmu tidak akan diterima),” jawabnya. Seketika, rahib itu pun dibunuh, sehingga genaplah jumlah korbannya 100  orang.

Setelah itu, sang pembunuh masih berharap ada alim yang sanggup memberi jawaban yang menenangkan hatinya. Kemudian, pergilah dia kepada seorang ulama. Untuk kedua kalinya, dia menceritakan masa lalunya yang kelam, lalu melontarkan pertanyaan yang sama saat bertemu dengan rahib. 

Orang alim itu menjawab “Ya, siapa pula yang menghalang-halangimu untuk bertobat? Pergilah dari kota ini dan (bergegaslah menuju) kota itu. Karena di sana ada kaum yang taat beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka, jangan kembali ke negerimu. Sebab, negerimu itu telah menjadi negeri yang buruk.”

Atas saran orang alim itu, pria yang telah menewaskan 100  nyawa dalam genggamannya bergegas hijrah dari negeri asalnya. Namun, tak disangka-sangka, di tengah perjalanan Allah SWT mengutus malaikal maut untuk menjemputnya untuk kembali ke haribaan-Nya. Lalu (datanglah) Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab saling berseteru soal posisi akhir kehidupannya. “Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah,” ujar Malaikat Rahmat. “Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali ?” bantah Malaikat Azab. 

Maka turunlah utusan Tuhan berupa malaikat berwujud manusia yang mengusulkan untuk mengukur ke mana jarak yang lebih dekat dari titik kematiannya. Ternyata sang pembunuh meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya (hijrah) dan ia pun kembali dalam dekapan Malaikat Rahmat.

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini (No. 2766), memberikan pelajaran berharga bagi kita akan arti sebuah proses atau usaha yang dilakukan manusia. Acap kali kita menilai perjuangan seseorang dari sederet prestasi yang ditorehkan dan tidak mencari tahu bagaimana jalan yang ia tempuh. Padahal, tidak semua proses berakhir dengan hasil yang manis.

Setidaknya, ada dua hikmah yang dapat diserap dari kisan inspiratif tersebut, yaitu : Pertama, jalan/proses yang ditempuh untuk menggapai kesuksesan sangat berharga nilainya dan akan berbeda-beda pada setiap insan. Pakar Tafsir Alquran, Prof  M Quraish Shihab mengatakan dalam nasehatnya, bahwa Tuhan tidak bertanya 5 + 5 berapa. Akan tetapi yang ditanya ialah 10 adalah hasil dari perhitungan berapa. Artinya, kita tidak bisa mengukur kesuksesan seseorang dengan ukuran siapa pun. Karena setiap kita punya porsinya masing-masing.

Kedua, tekad berbuat baik, akan berbuah kebaikan (pahala) walau tidak terealisasi (HR. Bukhori: 6491). Walaupun sang pembunuh belum sampai ke negeri yang dituju, tetapi tekadnya untuk berbuat baik tetap menghantarkannya kepada Rahmat Sang Pencipta.

Dr Umar Sulaiman dalam kitabnya, Shahihul Qososil Anbiya, mengingatkan kita dari kisah sahih di atas, bahwa rahmat Allah SWT sangatlah luas tak bertepi. Dan hanya orang-orang bodohlah yang berputus asa dari hamparan kasih sayang-Nya. Pria yang membunuh 100  orang dalam genggamannya saja, masih Allah terima tobatnya. Lantas, apa yang membuat kita kerap pasrah dari pertolongan-Nya?  Apakah kita membunuh 50  orang? Bahkan seorang pun tidak!

Semoga Allah SWT  selalu menuntun kita demi meraih pencapaian yang diridhai-Nya, Amin. Allahu’alam bishowab.

Oleh  Ihza Aulia Sururi Tanjung

KHAZANAH REPUBLIKA

Doa Agar Seharian Dijaga dari Bencana

عن أبي ذر، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قالمَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلاَةِ الفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ، وَحُرِسَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ إِلاَّ الشِّرْكَ بِاللَّهِ

Dari Abu Dzar radhiyallahu `anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Siapa yang mengatakan di setelah shalat fajar sedangkan ia bersandar kepada kedua kakinya (yakni dalam duduk tasyahud sebelum pergi), sebelum berbicara,’Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, hanya Dia semata, tidak ada baginya sekutu, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia mampu atas segala sesuatu.’

Sepuluh kali, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan, dan dihapuskan darinya sepuluh keburukan, ditinggikan untuknya sepuluh derajat, dan ia di harinya itu semuanya dalam penjagaan dari seluruh perkara yang dibenci (dari bencana-benacana)  dan dijaga dari syaitan, dan tidak boleh ada dosa yang ia kerjakan mencelakakannya dan membatalkan amalan-amalannya di hari itu, kecuali syirik kepada Allah.”

( Riwayat At Tirmidzi [2474], dan Ia mengatakan,”Ini adalah Hadits hasan shahih gharib)

HIDAYATULLAH

Tata Cara Wudhu Nabi Shallallahu “Alaihi Wa Sallam

Pengertian Wudhu

Secara bahasa wudhu berasal dari kata : wadha’ah, yang artinya indah, bagus, dan bersih. [al-Munawi, at-Tauqif `ala Muhimmaati at-Ta`arif, Dar al-Fikr, Beirut, 1410 H, fashl: Dhad]. Jika huruf wawu-nya di-fathah, sehingga dibaca wadhu, artinya air yang digunakan untuk berwudhu. Sedangkan, jika huruf wawu-nya di-dhammah, sehingga dibaca: wudhu maka artinya kegiatan berwudhu.

Secara istilah, wudhu dalam pengertian syariat adalah bersuci dengan menggunakan air pada anggota badan tertentu, dengan tata cara tertentu. (Mausu`ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 43:315)

Shalat Tidak Sah Tanpa Berwudhu

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Shalat tidak diterima tanpa bersuci dan tidak ada sedekah dari hasil korupsi”

(HR. Muslim 557)

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “Hadits ini adalah dalil tegas mengenai wajibnya thoharoh untuk shalat. Kaum muslimin telah bersepakat bahwa thoharoh merupakan syarat sah shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 3:102)

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih

Berhadats- sampai dia berwudhu.” (HR. Muslim 225)

Tata Cara Wudhu

Mengenai tata cara berwudhu diterangkan dalam hadits berikut:

حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلاَةِ

Humran mantan budak Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pernah meminta air kemudian beliau berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur sambil memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku 3 kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki 3 kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia shalat dua rakaat dengan khusyuk (tidak memikirkan urusan dunia dan yang tidak berkaitan dengan shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Ibnu Syihab berkata, “Ulama kita mengatakan bahwa wudhu seperti ini adalah contoh wudhu yang paling sempurna yang dilakukan seorang hamba untuk shalat”. (HR. Muslim 226)

Dalam hadis yang lain disebutkan,

عمرو بن أبي الحسن سأل عبد الله بن زيد عن وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم فدعا بتور من ماء فتوضأ لهم وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم فأكفأ على يديه من التور فغسل يديه ثلاثاً ثم أدخل يديه في التور فمضمض واستنشق واستنثر ثلاثاً بثلاث غرفات ثم أدخل يده في التور فغسل وجهه ثلاثاً ثم أدخل يده فغسلهما مرتين إلي المرفقين ثم أدخل يديه فمسح بهما رأسه فأقبل بهما وأدبر مرة واحدة ثم غسل رجليه.

وفي رواية (( بدأ بمقدم رأسه حتى ذهب بهما إلي قفاه ثم ردهما حتى رجع إلي المكان الذي بدأ منه ))

Dari Amr bin Abil Hasan, bahwa beliau bertanya kepada Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, tentang wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau meminta air satu bejana, dan berwudhu di hadapan mereka sebagaimana wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menuangkan air di bejana ke kedua tangannya, dan mencuci tangannya tiga kali. Lalu beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana, dan berkumur sambil menghirup air ke dalam hidung dan disemprotkan, dilakukan sebanyak tiga kali dengan tiga telapak tangan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke bejana dan mengusap wajahnya tiga kali. Kemudian memasukkan lagi tangan beliau, dan mencuci kedua tangan sampai ke siku dua kali. Kemudian beliau memasukkan lagi kedua tangan, dan digunakan mengusap kepalanya. Belilau mulai dari awal lalu ke belakang sekali. Kemudian beliau mencuci kedua kakinya.

Dalam riwayat yang lain: Beliau mulai dari depan kepalanya, kemudian ditarik sampai ke tengkuknya, lalu kembali lagi sampai depan. (Muttafaq ‘alaihi)

Dari hadits di atas dan hadits lainnya, dapat disimpulkan tahapan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

  1. Berniat – dalam hati – untuk menghilangkan hadats.
  2. Membaca basmalah : “bismillah...” dan bacaan basmalah ketika wudhu hukumnya wajib. Berdasarkan hadis:
  3. Menuangkan air ke telapak tangan dan mencuci tangan sampai pergelangan tiga kali.
  4. Mengambil air dengan tangan kanan, lalu digunakan untuk berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ) sekaligus dengan satu cidukan. Ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan satu telapak tangan, dan beliau lakukan sebanyak tiga kali. (HR. Muslim 235)
  5. Mengeluarkan air dari hidung dan mulut dengan menggunakan tangan kiri.
  6. Mencuci wajah sebanyak tiga kali.
  7. Menyela-nyelai jenggot, sekali. Berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu, beliau mengambil secakup air kemudian memasukkannya ke bawah dagunya lalu digunakan menyela-nyelai jenggot beliau. (HR. Abu Daud 145 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  8. Mencuci tangan kanan terlebih dahulu 3 kali, kemudian kiri 3 kali. Sambil menyela-nyelai jari. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sempurnakanlah wudhu dan sela-selai jari-jari”. (HR. Abu Daud 142 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  9. Mengusap kepala, di mulai dari depan, tempat tumbuhnya rambut paling awal, kemudian ditarik ke belakang, lalu kembali lagi ke depan.
  10. Mengusap telinga, tanpa mengambil air lagi, namun cukup menggunakan air bekas mengusap telinga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telinga bagian dari kepala”. (HR. Abu Daud 134, Turmudzi 37 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  11. Mencuci kaki tiga kali, dengan menyela-nyelai jari dengan menggunakan kelingking. Berdasarkan riwayat, dari Mustaurid bin Syaddad, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu, beliau menyela-nyelai jari kakinya dengan kelingkingnya. (HR. Abu Daud 148 dan dinilai sahih oleh al-Albani)

Beberapa catatan hal penting terkait wudhu

Ada beberapa catatan penting terkait wudhu yang tidak disebutkan dalam tata cara wudhu di atas. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah bilangan gerakan wudhu:
  2. Bagian siku wajib basah ketika mencuci tangan
  3. Dibolehkan mengusap kepala dengan menggunakan air sisa mencuci tangan
  4. Tiga cara dalam mengusap kepala
  5. Mengusap kepala boleh tiga kali
  6. Tertib (berurutan) dalam berwudhu
  7. Muwalah (berkelanjutan dan tidak putus) dalam wudhu

Referensi:

  • Al-Munawi, At-Tauqif `ala Muhimmaati At-Ta`arif, Dar al-Fikr, Beirut, 1410 H, fashlDhad.
  • Mausu`ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 1427 H., 43/315.

Syarh Shahih MuslimAn-Nawawi, Dar Ihya` at-Turats, Beirut, 1392 H, 3:102.

Artikel www.Yufidia.com

Ujian Terbesar bukanlah Musibah dan Kesulitan Hidup!

Allah Swt berfirman :

وَبَلَوۡنَٰهُم بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS.Al-A’raf:168)

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS.Al-Anbiya’:35)

Dari dua ayat ini cukup menjelaskan bahwa ujian di dunia ini bukan hanya berupa musibah dan kesulitan, namun setiap sisi dalam kehidupan kita adalah ujian.

Sakit adalah ujian, kesehatan pun ujian.

Kemiskinan adalah ujian, kekayaan pun ujian.

Kesengsaraan hidup adalah ujian, kesenangan pun ujian.

Tapi nyatanya, ujian berupa kesenangan sebenarnya lebih “berbahaya” daripada ujian berupa kesulitan. Mengapa?

Karena musibah dan kesulitan seringkali membuat seseorang merasa lemah dan butuh kepada pertolongan Allah, yang akhirnya menjadikannya berusaha mendekat kepada-Nya agar segala kesulitannya bisa terselesaikan.

Dalam sebuah ayat, Allah Swt Berfirman :

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٞ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ كَفُورٖ

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih.” (QS.Luqman:32)

Sementara kesenangan adalah ujian yang lebih dahsyat. Karena seringkali seorang yang mendapatkan kenikmatan terlalu sibuk dengan kenikmatan tersebut dan lupa terhadap Pemberinya. Dan pada akhirnya ia menjadi budak dari kenikmatan itu sendiri sehingga membuatnya celaka di dunia dan akhirat.

Karenanya jangan bangga bila hidup kita selalu senang dan penuh kenikmatan, karena itu semua adalah ujian terbesar yang seringkali melenakan.

Jangan dulu berbangga karena kita masih dalam ruang ujian. Boleh kita berbangga jika telah lulus dalam ujian ini yaitu selamat dari api neraka dan meraih surga.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS.Ali ‘Imran:185)

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Perkataan Makruf Lebih Baik dari ‘Sedekah Pesawat’ Sekalipun

Iman muaranya adalah akhlak mulia. Begitupun syariat tujuannya juga akhlak mulia, seperti shalat, puasa, zakat dll. Ibarat tanaman, iman adalah akar.

MANUSIA bukan hanya makhluk individu, tapi juga makhluk sosial yang harus berinteraksi satu dengan yang lain. Bukan hanya makhluk yang berinteraksi dengan Tuhannya sehingga lupa di kanan kirinya ada tetangga yang mendampinginya. Rasulullah telah mencontohkan secara sempurna, baik hubungan individu dengan Allah, dengan manusia lain dan dengan alam.

Rasulullah ﷺ adalah tipe ideal (مثل الاعلى). Beliau teladan yang baik dalam segala hal. Sebagai individu, suami, ayah, kakek bahkan hingga kepala negara. Umat Islam wajib mencontoh beliau. Selain beliau, pendapat dan perbuatannya bisa diambil juga bisa ditolak. Tokoh Islam jika diidolakan karena beliau mengikuti Rasulullah ﷺ. Saat tokoh menyimpang, maka tidak boleh diikuti. Apalagi tokoh dan idola di luar islam yang sangat jelas jauh dari petunjuk dan tidak ada jaminan selamat dunia akhirat.

Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana sabdanya yang populer :

انمابعثت لاتمم مكارم الاخلاق. اخرجه احمد والحاكم والبخاري فى ادب المفرد

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak. (Riwayat Imam Ahmad, Hakim dan Bukhari dalam kitab adabul mufrad).

Akhlak Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an. Beliau dihiasi dengan akhlak akhlak yang mulia dan dijauhkan dari akhlak yang tercela.  Beliau juga dianugerahi kalimat yang padat, ringkas dan penuh makna (jawamiul kalim).

Di antara akhlak Rasulullah ﷺ adalah berkata baik dan tidak keluar dari lisannya kecuali itu adalah wahyu. Rasulullah bersabda :

( من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليكرم ضيفه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ) رواه البخاري .

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sakiti tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam. (Hadist riwayat Bukhari)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa berkata baik atau diam adalah sebagai salah satu tanda bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Iman tidaklah cukup dalam hati saja. Namun, dibuktikan dengan perbuatan dan lisan.

Iman muaranya adalah akhlak mulia. Begitupun syariat tujuannya juga akhlak mulia, seperti shalat, puasa, zakat dll. Ibarat tanaman, iman adalah akar. Syariat adalah pohonnya dan akhlak adalah buahnya. Perkataan baik termasuk bagian dari akhlak mulia.

Di dalam surah Al-baqarah 263, Allah juga berfirman :

قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها اذى و الله غني حليم

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.

Ayat ini menjelaskan bahwa kata-kata yang baik  (akhlak yang mulia) lebih baik daripada sedekah, apabila orang yang bersedekah tersebut menyakiti orang yang diberi. Bisa dengan lisan menyebut-nyebut, mengungkit pemberiannya, atau dengan perbuatan yang sekiranya menyakitkan. Misal, aku beri engkau pesawat terbang supaya tidak miskin terus, supaya tidak kelihatan susah dst.

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perkataan baik atau akhlak mulia lebih baik daripada pemberian pesawat sekalipun. Karena lafadz صدقة / shadaqah bentuknya adalah nakirah umum, tidak menyebut sedekah spesifik tertentu. Sehingga bisa termasuk sedekah apapun.

Benarlah ungkapan bahwa :

ادب المرء خير من ذهبه

Adab seseorang itu lebih baik daripada emas atau hartanya.

Persoalan di masyarakat saat ini adalah banyak orang yang sudah tidak membantu terhadap tetangganya, tidak punya emas dan memberi emas, tapi masih banyak komentar buruk atau bahkan melakukan ghibah. Padahal seharusnya berkata baik atau diam agar selamat.

Allah menjamin surga bagi orang yang berkata-kata baik (akhlak mulia) dan termasuk orang muflis (bangkrut) jika lisannya tidak dijaga. Sebagaimana dijelaskan dalam 2 hadits ini :

Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦَّ ﻟِﻲ ﻣَﺎﺑَﻴْﻦَ ﻟِﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (farji), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk Surga.” (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis atau orang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis atau orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham (uang) maupun harta benda.”

Tetapi Nabi ﷺ berkata, “Muflis atau orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun saat di dunia dia telah mencaci dan menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain tanpa hak. Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim).

Walhasil, kata-kata yang baik termasuk akhlak yang mulia. Sedangkan akhlak mulia adalah buah dari aqidah dan syari’ah. Rasulullah pun diutus untuk menyempurnakan akhlak. Semoga kita semua mendapatkan anugerah akhlak mulia.  Wallahu a’lam.*/ Herman Anas, penulis adalah Alumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep.

HIDAYATULLAH




Fiqih: Istri tak Wajib Perhatikan Keluarga Suami

FIQIH mengatur segala aspek kehidupan manusia agar sesuai dengan syariat (syar’i). Baik kehidupan pribadi maupun hubungannya dengan makhluk lain. Selama 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Kelak, semua itu harus ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sementara Akhlak Mahmudah adalah tabiat, tingkah laku atau perangai baik dan patut, yang harus dijaga oleh setiap muslim agar senantiasa terjaga keharmonisan hubungan dengan makhluk di sekitarnya, khususnya antarsesama manusia.

Dalam hal pernikahan, misalnya;

5. Dalam Ilmu Fiqih, seorang istri tidak wajib mengurus dan memperhatikan keluarga suaminya. Termasuk ibu mertua dan ipar-nya. Sebab bagi istri, kewajiban intinya adalah melayani dan menaati suaminya. Bukan keluarga suaminya.

Jika seorang istri enggan mengurus mertuanya yang sakit, itu memang hak yang “Syar’i tapi Tidak Patut.”

Mengapa?

Sebab rumah tangga dibentuk dengan azas “mu’asyarah bil ma’ruf”. Dan itu diwujudkan dengan saling memperlakukan diri dan keluarga masing-masing dengan baik.

Slogan “Yang Penting Syar’i” ternyata belum sempurna, jika tidak mengindahkan Akhlak Mulia. Sebab kita tidak hanya diperintahkan untuk menjaga hubungan baik dengan Allah, namun juga dengan sesama manusia.

Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penghuni langit pun akan menyayangi kalian. (HR. Ahmad)

Barangsiapa tidak menyayangi penghuni bumi, maka ia tidak akan disayang oleh penghuni langit. (HR. at-Thabrani)
Wallahu A’lam Bishshawab. [Aini Aryani, Lc]

INILAH MOZAIK