Cara Shalat Jumat Bagi Makmum Masbuk

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa tata cara pelaksanaan shalat Jumat bagi makmum masbuk berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat fardhu lainnya. Disebutkan bahwa ada dua tata cara pelaksanaan shalat Jumat bagi makmum masbuk.

Pertama, makmum masbuk yang masih bisa menemui dan mengikuti rukuknya imam di rakaat kedua. Misalnya, sebelum imam rukuk di rakaat kedua, makmum sudah takbiratul ihram dan bisa mengikuti rukuk imam di rakaat kedua dengan sempurna.

Makmum masbuk jenis ini dinilai telah mengikuti satu rakaat shalat Jumat secara berjemaah bersama imam. Karena itu, setelah imam salam, dia cukup menambah satu rakaat saja namun dengan syarat bacaannya harus dinyaringkan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Minhaj Al-Qawim berikut;

وَلَا تُدْرَكُ الْجُمُعَةُ إِلَّا بِرَكْعَةٍ ) لِمَا مَرَّ مِنْ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ الْجَمَاعَةُ وَكَوْنُهُمْ أَرْبَعِيْنَ فِيْ جَمِيْعِ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى فَلَوْ أَدْرَكَ الْمَسْبُوْقُ رُكُوْعَ الثَّانِيَةِ وَاسْتَمَرَّ مَعَهُ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ أَتَى بِرَكْعَةٍ بَعْدَ سَلَامِ الْإِمَامِ جَهْرًا وَتَمَّتْ جُمُعَتُهُ

Jumat tidak dapat diraih kecuali dengan satu rakaat, karena keterangan yang lampau bahwa disyaratkan berjemaah dalam pelaksanaanya serta jamaah Jumat berjumlah 40 orang dalam keseluruhan rakaat pertama. Dengan demikian, apabila makmum masbuk menemui rukuk kedua dan berlanjut mengikuti imam sampai salam, maka ia menambahkan satu rakaat setelah salamnya imam dengan membaca keras dan Jumatnya dinilai sempurna.

Kedua, makmum masbuk yang tidak bisa menemui dan mengikuti rukuknya imam di rakaat kedua. Misalnya, setelah imam selesai rukuk di rakaat kedua, makmum baru melakukan takbiratul ihram, atau makmum takbiratul ihram pada saat imam sujud di rakaat kedua atau pada saat imam tasyahud akhir.

Makmum masbuk jenis ini tetap melakukan niat shalat Jumat saat takbiratul ihram, namun setelah imam salam, dia melakukan shalat empat rakaat sebagai shalat Dhuhur karena dia dinilai tidak mengikuti shalat Jumat secara berjemaah bersama imam.

 الجمعة – على الاصح – وإن كانت الظهر هي اللازمة له -.وقيل: تجوز نية الظهر

Dan wajib bagi makmum yang datang setelah rukuk di rakaat kedua untuk melakukan niat shalat Jumat, menurut pendapat yang lebih shahih, meskipun yang wajib baginya adalah shalat Dhuhur. Ada yang mengatakan bahwa boleh baginya niat melakukan shalat Zuhur.

BINCANGSYARIAHcom

Hukuman Bagi Yang Berpaling dari Allah Swt

Sebab utama yang akan mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat adalah kepasrahan kepada Allah dan komitmen dalam memegang syariat-Nya.

Adapun sebab utama bagi kesengsaraan seseorang di dunia dan adzab di akhirat adalah berpalingnya dia dari Allah dan keengganannya dalam menyembah-Nya dan penolakannya untuk tunduk kepada-Nya.

Al-Qur’an banyak sekali menyebutkan contoh-contoh tentang mereka yang berpaling dari Allah dan menampakkan kesombongan dihadapan-Nya. Dan Al-Qur’an pun juga menyebutkan hukuman-hukuman dahsyat yang menimpa mereka, di dunia dan di akhirat kelak.

Nah, kali ini kita akan menyebutkan sebab-sebab turunnya bencana di dunia dan tercabutnya keselamatan serta berubahnya kenikmatan menjadi bencana.

Seperti yang Allah ceritakan tentang Kaum Saba’ yang sebelumnya bergelimang kenikmatan dunia, lalu seketika kondisi mereka berubah dari kenikmatan menjadi bencana, karena mereka berpaling dari Allah Swt.

Allah Swt Berfirman :

فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. (QS.Saba’:16)

Itu adalah satu contoh hukuman yang diberikan kepada Allah kepada suatu kaum yang berpaling dari-Nya. Namun, hukuman terbesar yang menimpa orang-orang yang berpaling adalah sebagai berikut :

1). Hatinya tertutup sehingga dzikir tak mampu menyadarkannya dan matanya tak mampu memandang kebenaran. Seperti Firman Allah Swt :

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا

“Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau (Muhammad) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya.” (QS.Al-Kahfi:57)

2). Salah satu hukuman yang amat dahsyat bagi seorang yang berpaling dari Allah adalah bahwa Allah Swt juga memalingkan perhatian-Nya dari mereka. Allah menyerahkan urusan hidup mereka kepada diri mereka sendiri sehingga dikuasi oleh nafsu dan merasa perilaku bejat mereka adalah kebaikan. Sehingga mereka semakin terjerumus dalam kesesatan.

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.An-Nisa’:115)

3). Ada ancaman balasan yang menanti bagi mereka yang berpaling dari Allah. Dan siapakah yang lebih dzalim, celaka dan lebih hina dari orang yang mendapat ancaman balasan dari Allah ?

Allah Swt Berfirman:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS.As-Sajdah:22)

4). Dan salah satu hukuman terbesar yang menimpa orang-orang yang berpaling dari Allah adalah sempitnya kehidupan. Mereka merasakan kegelisahan yang dahsyat walau berada ditengah berbagai kenikmatan. Tidak ada ketenangan dalam hati mereka sehingga semua kenikmatan itu tiada artinya.

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Tha-Ha:124)

Adapun adzab akhirat bagi mereka yang berpaling dari Allah Swt sangatlah pedih. Di dalam Al-Qur’an disebutkan :

وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ذِكۡرٗا – مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ فَإِنَّهُۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وِزۡرًا – خَٰلِدِينَ فِيهِۖ وَسَآءَ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ حِمۡلٗا

“Dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. Barangsiapa berpaling darinya (Al-Qur’an), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka pada hari Kiamat.” (QS.Tha-Ha:99-101)

Itulah beberapa hukuman bagi mereka yang berpaling dari Allah Swt. Semoga kita selalu terjaga di jalan Allah hingga akhir hayat.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Ketika Alquran Jadi Perisai Bagi Pembacanya di Akhirat

Alquran akan menjadi perisai bagi para pembacanya kelak di akhirat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Keutamaan membaca Alquran juga dapat melindungi para pembacanya dari siksa pada hari kiamat. Melindungi di sini berarti menjadi perisai yang membuatnya nyaman atas apa yang telah diperbuatnya dengan Alquran. Rasulullah SAW bersabda: 

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ “Iqra-uul-Qur’ana fa innahu ya-ti yaumal-qiyamati syafi’an li-ash-habihi.” 

Yang artinya: “Bacalah kalian semua Alquran, sesungguhnya (bacaan) itu nanti dapat menjadi perisai yang menemani sahabatnya.” 

Keutamaan membaca Alquran juga dapat dirasakan terhadap psikologis jiwa dan hati para pembacanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

ما اجتمَعَ قومٌ في بيتٍ من بيوتِ اللَّهِ يتلونَ كتابَ اللَّهِ، ويتدارسونَهُ فيما بينَهم إلَّا نزلَت عليهِم السَّكينةُ، وغشِيَتهُمُ الرَّحمةُ، وحفَّتهُمُ الملائكَةُ، وذكرَهُمُ اللَّهُ فيمَن عندَهُ 

“Maa-jtama’a qaumun fi baitin min buyutillahi yatluna kitaballahi, wa yatadaarasunahu bainahum illa nazalat alaihim as-saknatu wa ghasyiyathum ar-rahmatu wa haffathumul-malaikatu wa dzakarahumullahu fi man indahu.”.

Yang artinya: “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Alquran, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat. Serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat yang berada di sisi-Nya.”

Ketulusan serta keimanan kepada Allah dalam membaca Alquran juga tak luput dari perhatian Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا قَرَأَ ابنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطانُ يَبْكِي، يقولُ: يا ويْلَهُ، وفي رِوايَةِ أبِي كُرَيْبٍ: يا ويْلِي، أُمِرَ ابنُ آدَمَ بالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الجَنَّةُ، وأُمِرْتُ بالسُّجُودِ فأبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. وفي رواية: فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Idza qara-a ibnu Adama as-sajdata fasajada I’tazala as-syaithaanu yabki, yaqulu: ya waylah, wa fi riwayati Abi Kuraibin; ya wayli, umara ibnu Adama bi-sujudi fasajada falahu al-jannatu wa umirtu bissujudi fa ubaitu faliyannaru. Wa fi riwayati: fa’ashaitu faliyannari.”

Yang artinya: “Jika anak Adam membaca ayat Sajadah, lalu dia sujud maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata: celakalah aku. Di dalam riwayat Abu Kuraibin: celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan bersujud, namun aku enggan sehingga aku pantas menjadi penghuni neraka.”  

KHAZANAH REPUBLIKA

Ambillah yang Halal dan Tinggalkanlah yang Haram dan Syubhat

Agama telah mengatur umatnya dengan larangan-larangan yang harus ditinggalkan dan perintah-perintah yang harus dilakukan. Namun, ada pula hal-hal yang masih samar halal dan haramnya yang disebut juga dengan syubhat. Lalu apa yang harus kita lakukan dengan hal-hal yang samar atau syubhat itu? Berikut penjelasannya dari Rasulullah saw. di dalam hadisnya.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمًا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ؛ فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ كَرَاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ؛ أَلاَ وَإِنَّ لِكلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ إِنَّ حِمَى اللهِ فِيْ أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم)

Dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, di antara keduanya terdapat hal yang syubhat (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barang siapa menjaga diri dari hal-hal yang samar, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang jatuh dalam perkara yang samar, maka ia telah jatuh dalam wilayah yang haram. Seperti penggembala kambing yang berada di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Ketahuilah, bahwa setiap raja mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, bahwa daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkanNya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, bila ia baik maka baik pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. di dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa hal-hal yang halal menurut agama Islam itu sudah jelas. Seperti halnya roti, susu, buah-buahan, madu, kambing, sapi, ayam, dan semua makanan, minuman, serta ucapan yang halal itu telah jelas dan tidak diragukan kehalalannya, maka kita boleh untuk mengkonsumsinya.

Ada pula hal-hal yang telah jelas keharamannya, seperti babi, anjing, minuman keras, bangkai, serta makanan atau minuman yang haram dikonsumsi. Atau tindakan yang jelas keharamannya seperti membunuh, berzina, menggosip, dan berbohong. Maka, tugas kita juga jelas, yakni meningggalkan perkara haram tersebut.

Namun ada juga hal-hal yang masih samar (syubhat) kehalalan dan keharamannya, sehingga masih banyak orang yang belum tahu hukumnya dengan jelas. Maka, jika perkara syubhat tersebut memang belum ada dalil secara sharih di dalam Al-Qur’an dan hadis, serta belum ada ulama yang berijtihad melalui metode qiyas maupun ijma tentang hal itu, maka perkara itu sama dengan perkara haram yang tugas kita adalah meninggalkannya.

Sehingga ketika kita mampu meninggalkan hal-hal yang syubhat atau masih sama kehalalan dan keharamannya tersebut, maka berarti kita telah mampu menjaga agama dan kehormatan kita dari perkara yang belum jelas halal haramnya itu.

Di dalam sabdanya yang terakhir, Rasulullah saw. mengingatkan kita bahwa hati adalah raja di dalam tubuh kita. Hatilah yang mampu menggerakkan tubuh kita untuk mampu menahan diri dari hal-hal yang haram serta syubhat atau tidak. Dan hatilah yang mampu menggerakkan tubuh kita untuk mampu mengambil semua hal-hal yang telah jelas kehalalannya. Oleh karena itu, ketika hati itu buruk, maka buruklah seluruh tubuh kita, dan ketika hati itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita.

Dengan demikian, kunci utama adalah hati. Senantiasalah bersihkan hati Anda dengan rajin beribadah, beramal shalih, dan berdoa agar seluruh aktifitas yang dilakukan menjadi baik. Dan ketika hati baik, maka ia akan mendorong kita untuk mengambil dan melakukan hal-hal yang jelas halalnya, meninggalkan hal-hal yang jelas haramnya ataupun yang belum jelas halal haramnya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

BINCANG SYARIAH

Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah Nabi

Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah Ta’ala [1]

Pertanyaan:

Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salaam adalah para Nabi?

Jawaban:

الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياء

Mereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir [2] dan ulama lain Rahimahumullah telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah Ta’ala menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.

[Selesai]

Sumber: http://iswy.co/e42ls

Penerjemah: Muhammad Fadhli, ST.

Muslim.or.id

_________________________

Catatan kaki:

[1] Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.

[2] Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan,

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam- diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan Al-Ashbath” (QS. Al-Baqarah: 136).

Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan al-Ashbath. Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan al-Qaba’il (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘ajam (non-Arab) disebut dengan syu’ub. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari al-Ashbath di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah Ta’ala menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah al-Ashbath itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan al-Ashbath itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 4: 327, Asy-Syamilah)

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 4)

Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Dahulu, manusia bersatu di atas tauhid

Pada awalnya, manusia itu umat yang satu, karena mereka bersatu di atas agama tauhid. Allah Ta’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213).

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كان بين نوح وآدم عشرة قرون كلهم على شريعة من الحق فاختلفوا فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين

“Antara Nabi Adam (Nabi dan manusia pertama) dan Rasul Nuh (Rasul pertama) ada 10 abad. Mereka semua berada di atas syariat dari Al-Haq (Allah). Kemudian mereka saling berselisih [1]. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan [2].”

Ikrimah Rahimahullah berkata,

كان بين آدم ونوح عشرة قرون كلهم على الإسلام

“Antara Nabi Adam dan Rasul Nuh ada 10 abad. Mereka semua berada di atas Islam (Tauhid) [3].”

Sebab kesyirikan pertama di muka bumi

Tahukah Anda, apa penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi ini?

Penyebabnya adalah karena mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang saleh pada kaum Rasul Nuh Alaihis salaam.

Dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’” (QS. Nuuh: 23).

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,

هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت

“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kaum Nabi Nuh Alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka,’Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi orang-orang saleh itu, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut. Dan sewaktu itu, patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu (tentang tauhid dan tujuan awal pembuatan patung) telah dilupakan, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”

Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, lebih dari seorang Salafusshalih yang mengatakan,

لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم

“Tatkala orang-orang shalih itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang shalih tersebut.”

Dari kutipan di atas, nampak bahwa pakar tafsir di kalangan sahabat Radhiyallahu ‘anhum, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan ayat di atas bahwa kaum Nabi Nuh Alaihis salam berwasiat agar manusia terus menyembah tuhan-tuhan selain Allah tersebut. Padahal Nabi mereka, Nuh Alaihis salam, telah melarang mereka berbuat syirik.

Dan pada asalnya, tuhan-tuhan mereka itu adalah orang-orang saleh di kalangan mereka. Namun setan menggoda kaum tersebut agar bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh itu setelah mereka meninggal dunia. Berawal dari sikap berlebihan dengan cara mendirikan patung-patung mereka, sampai akhirnya keturunan kaum pendiri patung itu menyembah orang-orang saleh tersebut.

Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumi

Tahap Pertama

Kaum Rasul Nuh Alaihis salam, mereka turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan keturunan Nabi Adam Alaihis salam berada di atas tauhid hingga kehadiran orang-orang saleh yang taat kepada Allah Ta’ala, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.

Kemudian ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang-orang ketika itu – jika ingin menambah semangat dalam beribadah – mereka pergi ke makam orang-orang saleh tersebut, berlama-lama berdiam diri, merenung, dan menangis di sisi makam tersebut, lalu menjadi bertambahlah semangat manusia dalam beribadah sepulang dari makam tersebut.

Suatu saat setan pun datang di makam tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung dari orang-orang saleh itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di makam-makam mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Mereka sebatas memandang patung-patung itu, sehingga mereka mengenang kembali kesalehan orang-orang saleh yang dipatungkan tersebut.

Tahap Kedua

Umur kaum Rasul Nuh Alaihis salam itu panjang, sehingga setan memiliki kesempatan untuk membuat tipu daya pada tahapan tipu daya yang kedua, yaitu agar mereka meletakkan patung-patung tersebut di rumah-rumah mereka, agar semangat mereka dalam beribadah bisa semakin mudah terdorong, seperti ibadahnya orang-orang saleh tersebut. Lalu mereka pun memindahkan patung-patung itu di rumah-rumah mereka, bahkan terkadang mereka pun membawanya ketika sedang safar.

Jadi, pada tahapan awal patung-patung tersebut tidaklah disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalehan orang-orang saleh tersebut. Sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.

Tahap Ketiga

Masa panjang pun berlalu. Ketika ilmu tauhid sudah banyak hilang dan hilang pula (ilmu tentang) maksud awal pembuatan patung di dada-dada banyak manusia, lalu orang-orang yang tidak memiliki ilmu itu pun beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang kami membuat patung-patung itu kecuali karena patung-patung tersebut adalah sesembahan yang layak untuk disembah atau karena patung-patung tersebut dikeramatkan.

Akhirnya, mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang saleh itu bisa memperantarai diri mereka dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah. Mereka menyembah patung-patung tersebut.

Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam kesyirikan akbar [4].

[Bersambung]

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

Muslim.or.id

Penyebab Ghuluw (Ekstrem) dalam Beragama Menurut Syekh Yusuf Al-Qardawi

Melihat perkembangan isu-isu nasional dan internasional, selalu ada kelompok yang masih berpikir ghuluw (ekstrem) dalam beragama atau memandang agama, baik kanan (konservatif, tradisional, dan tekstualis) maupun kiri (liberal, progresif, dan reformis). Pikiran-pikiran tadi sering kali menuai banyak masalah misalnya tindakan makar dan teror, memicu konflik antar umat atau antar ormas dan sebagainya.

Ghuluw bukan lahir tanpa sebab, Dr. Yusuf al-Qardawi menjelaskan panjang lebar perihal faktor-faktor timbulnya pemikiran tadi dalam kitabnya, as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf. Di sini kami tampilkan 3 faktor saja, sebagiamana berikut;

Kurangnya Pengetahuan yang Memadai Tentang Hakikat Agama

Yang dimaksud dengan kurangnya pengetahuan bukan berarti tidak tahu sama sekali tentang agama melainkan kurangnya ilmu. Indikator ini misalnya ketika seseorang merasa dirinya sudah masuk dalam kategori ulama padahal masih banyak yang belum ia ketahui seperti misalnya al-Maqashid ar-Raisiyyah atau tujuan-tujuan pokok syariat Islam. Abdullah bin Umar bin al-‘Ash berkata;

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Saya mendengar Nabi bersabda; sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari para hambanya melainkan akan mencabutnya dengan cara mencabut ulama sehingga bila tidak ada orang alim satupun niscaya masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai tokohnya. nantinya mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan menyesatkan.(HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, j; 1, h; 32)

Imam Malik bin Anas berkata; Robi’ah pernah menangis dengan tangisan yang sangat menyedihkan, lalu dia ditanya; apakah engkau ditimpa musibah? Dia menjawab; tidak, melainkan masyarakat sudah minta fatwa kepada orang yang tidak berilmu. Sesungguhnnya kurangnya pengetahuan yang diselimuti oleh rasa ‘ujub dan tipu daya lebih membahayakan dari pada tidak tahu sama sekali namun mengakui kebodohan itu.(as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf, h; 63)

Berpedoman pada Makna Tekstual dalam Memahami Teks-Teks Agama

Menurut Syekh Yusuf al-Qardawi sudah tidak asing lagi bahwa banyak di antara mereka (kelompok ghuluw) yang berpedoman pada makna harfiyyah dan makna eksplisit saja tanpa meninjun pada makna implisit dan maqashidnya. Model pemahaman semacam inilah yang sering mengabaikan hukum syariat yang dikaitkan dengan alasan-alasan atau ‘illat yang rasional, menolak qiyas, dan memandang bahwa syariat membedakan dua hal yang sama dan menyatukan dua yang yang berbeda.

Beliau dan para pakar hukum Islam lainnya memandang bahwa ada perbedaan antara prinsip dalam ibadah dan muamalah;

أَنَّ الْاَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ هُوَ التَّعَبُّدُ بِهَا دُوْنَ نَظَرٍ إِلَى مَافِيْهَا مِنْ مَصَالِحَ وَ مَقَاصِدَ بِخِلَافِ مَايَتَعَلَّقُ بِالْعَادَاتِ وَ الْمُعَامَلَاتِ

Sesungguhnya asas dalam ibadah adalah at-ta’abbud(penghambaan secara total) tanpa harus menalar alasan hukum baik berupa maslahat atau maqashid. Berbeda dengan hal-hal yang berkaitan dengan adat dan muamalah.(as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf, h; 64)

Berikut hadis-hadis yang berkaitan dengan muamalah di mana alasan-alasan hukum-hukum di dalamnya bisa dinalar dan dipahami.

Hadis pertama diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa;

Nabi saw melarang seseorang bepergian ke daerah orang kafir atau musuh sambil membawa al-Qur’an. (HR. Muslim, Shohih Muslim,  j; 6, h; 30)

Alasan atau ‘illat dari larangan ini ialah khawatir orang kafir menghina atau merendahkan Al-Qur’an. Dengan demikian orang muslim boleh membawa al-Quran bila alasan tadi tidak ada. Tentunya kita melihat konteks saat ini di mana kitab suci baik milik umat Islam atau nonmuslim sengaja dipublikasikan dan disebarkan ke berbagai negara dengan tujuan dakwah dan itu tidak dipermasalahkan bahkan al-Quran sendiri sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. (as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf, h; 65)

Hadis kedua diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda;

إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الْغَيْبَةَ فَلاَ يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلاً.

Apabila seseorang lama pergi maka jangan pulang ke rumah keluarganya di waktu malam.(HR. Al-Bukhori, Shohih al-Bukhori, j; 7, h; 50)

Salah satu alasan kenapa dilarang pulang di malam hari sebab istri tidak tahu kapan datangnya suami sehingga tidak sempat berdandan, menyambutnya dengan ceria, bahagia, dan menyediakan makanan yang baik, dan sebagainya. Sementara dengan berkembangnya teknologi, suami bisa memberi tahu kapan dia akan datang misalnya dengan menelpon, chattingan, atau video call. (as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf, h; 66-67)

Minimnya Pengetahuan akan Sejarah, Konteks, Hukum Alam dan Kehidupan.

Tidak asing lagi dipikiran kita mengenai kelompok-kelompok ghuluw yang kadang kala melakukan aksi bunuh diri (dalam bahasa Arab dikenal dengan intihariyyah) dengan alasan jihad, membela Islam, dan meneruskan perjuangan Rasulullah, padalah sesungguhnya kalau melihat sejarah, perbuatan itu tidak patut dan tidak tepat.

Selama 13 tahun di Makkah, Nabi hanya mengajak dan mendidik di saat yang bersamaan kemusyrikan mengelilingi kanan dan kiri beliau. Ka’bah di penuhi kurang lebih 360 berhala sedangkan Nabi tetap salat dan tawaf di sana bukan malah sibuk menyingkirkan dan membuang berhala itu.  beliau tahu kalau itu dilakukan berarti sama saja dengan bunuh diri. Karena di waktu awal-awal Islam, kaum muslimin belum memiliki kekuatan yang cukup besar.

Meski misalnya dibuang atau dihancurkan, orang kafir akan mengganti dengan patung yang baru. Hal ini disebabkan ajaran watsaniyyah (menyembah berhala) sudah tertanam kokok di pikiran mereka.

Akhirnya Nabi bukan sibuk menghancurkan berhala yang terlihat namun sibuk membasmi kepercayaan yang tertanam di hati dan pikiran orang kafir dengan cara mengajak untuk mengesakan Tuhan, menyucikan hati mereka dilengkapi dengan akhlakul karimah beliau yang sudah masyhur di tanah Arab saat itu. Dan hasilnya kita nikmati sampai saat ini, rahmatan lil alamin. (as-Shohwah al-Islamiyyah Baina al-Juhud wa at-Tatarruf, h; 98-99). Semoga Allah menjaga kita dari sikap ghuluw dalam beragama.

BINCANG SYARIAH

Ucapan Salam Lengkap Ketika Bertamu ke Rumah Orang Lain

Ketika kita hendak memasuki rumah kita, atau hendak masuk rumah orang lain saat bertamu, maka kita dianjurkan untuk mengucapkan salam. Ucapan salam paling sedikit adalah sebagai berikut;

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

Assalamu ‘alaikum.

Semoga keselamatan atas kalian.

Adapun ucapan salam yang paling lengkap adalah sebagai berikut;

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْل الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, assalaamu ‘alaikum ahlal baiti wa rohmatullaahi wa barokaatuh.

Semoga keselamatan atas kita dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Semoga keselamatan atas kalian, wahai penghuni rumah, juga rahmat Allah dan keberkahan-Nya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يُسْتَحَبُّ إِذَا دَخَل بَيْتَهُ أَنْ يُسَلِّمَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَحَدٌ وَلْيَقُل: السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ وَكَذَا إِذَا دَخَل مَسْجِدًا، أَوْ بَيْتًا لِغَيْرِهِ فِيهِ أَحَدٌ، يُسْتَحَبُّ أَنْ يُسَلِّمَ وَأَنْ يَقُول: السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْل الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Disunnahkan bagi seseorang ketika hendak memasuki rumahnya untuk mengucapkan salam meskipun tidak ada orang. Hendaknya dia mengucapkan; Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Begitu juga ketika dia hendak memasuki masjid, atau hendak memasuki orang lain yang ada orangnya, maka dia dianjurkan mengucapkan salam dan mengatakan; Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, assalaamu ‘alaikum ahlal baiti wa rohmatullaahi wa barokaatuh.

BINCANG SYARIAH

Trik Terhindar dari Sifat Ujub Menurut al-Ghazali

Adakah cara atau trik terhindar dari sifat ujub ? Ulama banyak membahas kalau sifat ujub (berbangga diri) merupakan salah satu penyakit hati. Seseorang yang terjangkit penyakit ini akan merasa mulia dan menganggap dirinya besar, sementara kepada orang lain cenderung ada rasa meremehkan dan merendahkan.

Al-Ghazali mengatakan bahwa buah dari penyakit ujub ini adalah banyaknya sifat keakuan. Aku lebih baik dari itu, aku begini, begitu dan lain sebagainya. Lebih lanjut al-Ghazali menuturkan bahwa sifat ujub mirip dengan sifat takabbur dalam hal definisi. Orang yang takabur merasa dongkol atau kesal saat diberi nasehat sementara kasar ketika memberi nasihat. Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain maka dialah orang yang sombong sejatinya.

Lantas, bagaimana agar seseorang bisa terhindar dari sifat ujub ini? Berikut 5 trik terhindar dari sifat ujub menurut al-Ghazali yang dikutip dari kitabnya Bidayatu al-Hidayah (h.135-136),

بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك

Selayaknya ketahuilah olehmu bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah kelak di akhirat. Hal itu merupakan perkara yang ghaib (tidak diketahui) sehingga menunggu adanya kematian. Keyakinanmu bahwa dirimu lebih baik dari orang lain merupakan sebuah kebodohan. Sepantasnya engkau tidak memandang orang lain melainkan dengan pandangan bahwa ia ebih baik dari dirimu dan mempunyai kelebihan daripada dirimu.”

Secara gamblang, trik-trik agar seseorang terhidar dari sifat ujub, takabbur, atau berbangga diri tersebut adalah berikut ini,

  1. bila memandang anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah sementara engkau yang lebih tua darinya justru sebaliknya. Sehingga dengan demikian sudah jelas bahwa ia lebih baik darimu.
  2. Bila melihat orang lain yang lebih tua maka yakinlah bahwa dirinya lebih dulu beribadah kepada Allah, sehingga ia lebih baik dari dirimu.
  3. Bila orang lain tersebut berilmu maka yakinlah bahwa ia mendapatkan anugerah yag tidak engkau dapatkan, menjangkau apa yang belum engkau jangkau dan mengetahui apa yang tidak engkau tahu. Jika sudah demikian, bagaimana engkau bisa sepadan dengannya atau bahkan lebih unggul?
  4. Bila orang lain itu bodoh maka anggaplah bahwa ia melakukan maksiat dengan kebodohannya. Sementara engkau bermaksiat dengan berlandaskan ilmu. Inilah yang menjadi bukti penguat kelak di pengadilan akhirat.
  5. Bila orang lain itu kafir maka yakinlah bahwa kondisi akhir (kematian) seseorang tidak ada yang tahu. Bisa saja orang kafir itu masuk Islam sebelum mati dengan amalan baik (husnul khatimah). Sementara dirimu bisa jadi menjadi sesat dan menjadi kafir sebelum kematian menjemputmu, sehingga engaku meninggal dengan amalan buruk (su’ul khatimah).
  6. Itulah kiat-kiat supaya seorang hamba bisa terhindar dari sifat ujub ataupun takabbur yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali, semoga kita semua bisa terhindar dari penyakit hati tersebut, amin.Wallahu a’lam

Bincang Syariah.com

Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Minhajul Islam menyebut setidaknya ada empat cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup, yakni:

Menaati keduanya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya dalam hal perbuatan yang bukan termasuk maksiat kepada Allah:

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15).

Menghormati dan mengagungkan keduanya, merendahkan diri kepadanya, memuliakannya dengan perkataan atau perbuatan hingga memanggil keduanya dengan namanya tapi dengan sebutan ayah dan ibu.

Berbakti kepada keduanya dengan memberikan makanan dan pakaian, mengobati penyakit hingga menghidari gangguan yang mengusik keduanya.

Bersilaturahim dengan kerabat orang tua, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi kerabat-kerabatnya.

Adapun bagi orang tua yang telah meninggal, kita bisa berbakti dengan melakukan anjuran Nabi Muhammad SAW seperti yang disebut dalam hadist riwayat Abu Daud. Dalam hadis tersebut seorang pemuda Anshar bertanya tentang cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal. Nabi lalu bersabda yang artinya:

“Ada empat hal yang bisa kamu lakukan, mendoakan keduanya agar memperoleh rahmat, memohon ampunan untuk keduanya, menunaikan haji untuk keduanya, memuliakan tamu keduanya, serta menyambung tali silaturahim kepada orang yang belum pernah bersilaturahim denganmu kecuali melalui keduanya. Itulah kesempatan bagimu yang bisa kamu lakukan untuk berbakti kepada keduanya setelah keduanya meninggal.” 

Sementara doa yang bisa dibaca untuk orang tua bisa kita ambil dari banyak ayat dalam Alquran:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Latin: “Rabbanaghfirlanaa wa li ikhwanina alladzina sabaqunaa bil iiman, wa laa taj’al fii quluubina gillallilladziina aamanuu rabbana innaka rouufurrohiim,”

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

Atau juga sepeeti firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 24:

رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا 

Latin: “Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira,”

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”  

IHRAM