Hati-Hati dengan Hatimu!

Allah Swt Berfirman :

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS.Al-Anfal:24)

Ya Allah …

Ayat ini ingin mengingatkan kepada kita tentang suatu hal yang sangat penting.

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.”

Engkau bukanlah pemilik hatimu. Maka jangan pernah kau bersandar pada dirimu sendiri. Karena manusia tak pernah tau bagaimana akhir nasib dari hidupnya. Apakah hatinya tetap lurus atau sudah berpaling dari kebenaran.

Karenanya :

Jangan pernah sombong dengan amal-amalmu…

Jangan pernah mengandalkan kehebatan dan kekuatanmu…

Jangan pernah merasa bangga dengan prestasi-prestasimu…

Karena keselamatanmu bergantung pada hatimu.

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ – إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syu’ara:88-89)

Maka perbanyaklah berdoa kepada Allah agar menjaga hati kita untuk berada dalam kebenaran hingga akhir hayat. Lazimkan doa ini setiap hari :

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوب ثَبِّتْ قَلبِي عَلَى دِينِك، اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ القُلُوب اِصرِف قَلبي إِلَى طَاعَتِك.

Ya Allah… Duhai yang membolak-balikkan hati, kokohkan hatiku di atas agamamu. Duhai yang merubah hati, tetapkan hatiku dalam ketaatan kepada-Mu.”

Semoga Bermanfaat….

KHAZANAH ALQURAN

Urus Hatimu Terlebih Dahulu!

 Allah Swt berfirman :

إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syu’ara:89)

Ayat ini menyebut khusus tentang hati karena hati adalah tolok ukur keselamatan seseorang. Karena apabila hati selamat maka seluruh tubuh akan selamat. Dan apabila hati telah rusak maka seluruh tubuh akan menjadi rusak.

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

“Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan shalat.” (QS.Al-Qiyamah:31)

“Membenarkan” adalah perbuatan hati. Karenanya hal ini lebih di dahulukan sebelum amal yang dilakukan dengan anggota badan seperti Solat misalnya.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu.” (QS.Al-Baqarah:10)

Ketika Al-Qur’an menceritakan tentang amal dan perilaku orang-orang munafik yang menyimpang, disebutkan pula bahwa hati mereka sedang sakit. Karena semua amal buruk itu sumbernya adalah karena hati mereka yang sakit.

إِنَّمَا يَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (QS.At-Taubah:45)

Mereka enggan untuk berjihad bersama Rasulullah Saw dengan membawa berbagai alasan palsu, mengapa ?

Karena hati mereka dipenuhi keraguan tentang apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw !

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS.Ali ‘Imran:7)

Mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan seenaknya saja dan mempermainkannya karena hati mereka condong pada kesesatan. Mereka tidak akan pernah bisa menangkap makna dari Al-Qur’an dan menyerap cahayanya karena hati mereka terkunci.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS.Muhammad:24)

Dan akhirnya, ketika kita ingin berjalan lurus di atas agama suci ini dan tidak menyimpang darinya, maka seringlah berdoa agar Allah tidak memalingkan hati kita dan mengokohkannya di atas jalan yang lurus.

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS.Ali ‘Imran:8)

Ayat-ayat di atas semua semua membicarakan mengenai pentingnya menjaga dan membersihkan hati. Maka urus hatimu.. hatimu.. terlebih dahulu !

Karena orang yang selamat dan sukses di akhirat hanyalah orang yang selamat hatinya.

إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syu’ara:89)

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Alat Pendeteksi Kebenaran Yang Paling Canggih!

semua hal bisa dinilai dengan mata. Tidak segala sesuatu bisa terdeteksi oleh telinga. Bahkan akal manusia pun karena keterbatasannya, seringkali tertipu oleh tipuan-tipuan fatamorgana.

Lalu bagaimana cara kita mencari kebenaran yang sejati? Bila menilainya saja sulit sekali?

Dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman :

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٌ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٌ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS.Al-Hajj:46)

Ayat ini sungguh memberikan jawaban yang sangat indah. Seakan semua indera yang ada dalam tubuh kita sangat bergantung dengan kondisi hati.

Bila hati itu kotor, maka mata juga akan menjadi buta dan sulit melihat kebenaran.

Bila hati itu kotor, maka telinga juga akan tuli dalam mendengarkan seruan kebenaran.

Bila hati itu kotor, maka akal pun akan tumpul dalam menilai kebenaran.

Karena hati itu bagaikan cermin, bila cermin itu penuh noda maka ia tidak akan bisa memantulkan benda yang begitu jelas dihadapannya. Begitupula hati, bila hati itu kotor ia tidak akan bisa menyerap kebenaran walau sangat nyata dihadapannya.

Bila engkau ingin mencari kebenaran, maka langkah pertama adalah bersihkan hatimu! Karena hati adalah wadah utama yang akan menampung kebenaran tersebut. Karenanya, ketika Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk mendatangi Fir’aun, pertama yang disampaikan oleh Nabi Musa as adalah :

فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ

Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri?” (QS.An-Nazi’at:18)

Bersihkan hati dari kesombongan, iri, dengki, merasa lebih baik dari orang lain dan noda-noda lainnya hingga matamu, telingamu dan akalmu mampu bekerja dengan baik untuk mendeteksi kebenaran.

Semoga bermanfaat….

KHAZANAH ALQURAN

Noda Di Hati, Yang Membandel

Banyak orang yang sangat memperhatikan penampilan lahiriah. Ketika baju terkena sedikit noda, akan segera dicuci dan tidak rela membiarkan noda tadi membandel. Sejatinya perilaku seperti ini tidaklah mengapa. Sebab Islam memang menyukai penampilan yang indah dan mencintai kebersihan. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu’anhu).

Namun, amat disayangkan, kerap perhatian kita terhadap kebersihan luar tidak sebanding dengan perhatian kita terhadap kebersihan dalam. Alias kita lebih memperhatikan penampilan lahiriah dibanding penampilan batin. Padahal dampak buruk kotornya hati, jauh lebih berbahaya dibanding dampak kotornya baju. Sebab akan terasa hingga di akhirat.

Perlu diketahui, bahwa sebagaimana noda di atas baju jika dibiarkan akan membandel. Begitu pula halnya saat noda dalam hati tidak segera dibersihkan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).

Bukanlah aib manakala seorang hamba terjerumus kepada perbuatan dosa, sebab tidak mungkin manusia biasa suci dari dosa. Namun aib itu bilamana setelah terjerumus kepada perbuatan dosa, seorang insan tidak segera memperbaikinya, malah justru ia semakin tenggelam dalam kubangan dosa. Nabiyullah shallallahu’alaihi wasallam menasehatkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan di manapun engkau berada. Serta iringilah perbuatan buruk dengan kebajikan supaya ia bisa menghapuskannya” (HR. Tirmidzy dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim).

Mari kita berusaha untuk terus menerus menjaga kebersihan hati kita. Tidak hanya sekedar memperhatikan kebersihan pakaian luar kita!

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

Ya Allah karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya”. (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu’anhu).

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html

Hati Adalah Cermin, Sudahkah Jernih dan Bening?

HATI itu bagaikan cermin. Ia mungkin saja bening, jernih dan memancarkan bayangan seindah aslinya. Namun ia juga bisa jadi buram, kotor dan menampakkan wajah kepalsuan.

Orang yang waras pasti menyukai cermin yang bening yang mampu memberikan gambaran kenyataan sebagaimana adanya. Hanya orang yang gila yang menyukai cermin buram dan kotor untuk menutupi kekurangan dan kekotoran dirinya sendiri. Ada kaidah sosial yang sering kita saksikan kebenarannya: “Orang kotor seringkali menuduh orang lain itu kotor untuk menyembunyikan kekotoran dirinya.”

Hati orang mukmin bagaikan cermin yang dimiliki seorang pengantin perempuan. Tak pernah dibiarkan cerminnya kotor sedikitpun karena setiap saat selalu ia gunakan untuk melihat tampilan dirinya. Hati orang fasik adalah bagai cermin yang dimiliki lelaki sepuh buruk muka, cermin itu tak pernah dibersihkan karena ditatapnyapun hanya setahun sekali.

Hati perlu bening biar bias cahaya semakin terang benderang. Jangan biarkan hati itu kotor dan gelap karena ia tak akan mampu memantulkan apa-apa dan bahkan senang bersahabat dengan kegelapan itu sendiri. Hati yang gelap akan disukai oleh iblis dan setan, karena iblis dan setan memang penyuka kegelapan. Sementara itu hati yang bening bercahaya akan disuka oleh Allah dan mailakat-malaikatNya.

Saudaraku dan sahabatku, kalau Anda melihat film horor, hantu, genderuwo, kuntilanak dan sejenisnya selalu muncul dalam kegelapan. Tidak pernah para setan itu muncul dalam cuaca terang benderang. Kalaupun ada, itu penulis skenario dan sutradaranya salah paham pada dunia iblis dan setan.

Sekarang, bagaimanakah caranya membeningkan hati? Sungguh jawaban atas pertanyaan ini menjadi sangat penting utuk diketahui demi kebahagiaan hati kita, demi kebercahayaan hati kiti. Semoga ita ada waktu untuk membahasnya. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif laam Miim Surabaya. [*]

 

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

Nilai Manusia Terletak pada Hatinya

URUSAN hati adalah hal penting yang selalu diperhatikan oleh Alquran. Bahkan nilai manusia terletak pada hatinya. Kali ini kita akan menyimak 8 hati yang sehat menurut Alquran. Apa saja 8 hati itu?

1. Hati yang tunduk. Yaitu hati yang tunduk, tenang dan yakin dengan keputusan Allah Ta’ala. “Dan tunduk hati mereka kepadanya (Alquran).” (QS.al-Hajj:54)

2. Hati yang selamat. Yaitu hati yang ikhlas karena Allah Ta’ala. Dan bersih dari kekufuran, kemunafikan dan kehinaan. “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.ash-Shuara:89)

3. Hati yang kembali. Yaitu hati yang selalu kembali dan bertobat kepada Allah. Kemudian bertekad untuk selalu taat kepada-Nya. “Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak terlihat (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.” (QS.Qaf:33)

4. Hati yang takut. Yaitu hati yang takut amalnya tidak diterima oleh Allah dan dia selalu khawatir tidak selamat dari azab-Nya. “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS.al-Mukminun:60)

5. Hati yang bertakwa. Yaitu hati yang men-agungkan syiar-syiar Allah. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS.al-Hajj:32)

6. Hati yang mendapat hidayah. Yaitu hati yang rela dan pasrah dengan ketentuan Allah Ta’ala. “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS.at-Taghabun:11)

7. Hati yang tenang. Yaitu hati yang tentram dengan meng-Esakan Allah dan selalu mengingat-Nya. “Dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.” (QS.ar-Rad:28)

8. Hati yang hidup. Yaitu hati yang mau merenungkan apa yang terjadi pada umat-umat terdahulu yang melawan perintah Allah Ta’ala. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Qaf:37)

Inilah 8 tipe hati yang sehat dalam Alquran. Semoga hati kita termasuk dalam salah satu kriteria di atas. [Khazanahalquran]

Hati Tenteram dengan Tauhid

Ketenteraman hati merupakan impian setiap insan, hilangnya rasa duka, rasa sedih, rasa keterpurukan sudah menjadi cita-cita setiap manusia, namun tak semua manusia dapat merasakannya, Allah Ta’ala memberikan semua rasa itu hanya kepada yang Ia inginkan, namun Allah Ta’ala juga memberikan sebuah jalan untuk mendapatkan, jalan itu adalah jalan ketauhidan.

Ikhwati fillah jika kita lihat diri ini sering terpuruk, sering di rundung kesedihan dan kecemasan, ketahuilah itu karena tauhid kita yang lemah, sebab tauhid dalam diri bagai pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasiya lemah maka bangunan pun akan cepat rapuh dan hancur, begitu pula hati seorang muslim jika tauhidnya lemah maka imannya akan cepat rapuh dan hancur.

Di dalam ketauhidan ada penawar untuk kesedihan, di dalam tauhid ada dasar dari setiap kebahagiaan, padanya terdapat tali ikatan antara hamba dan Rabbnya. Rasulullah bersabda,

Musa ‘alaihis salam pernah berkata: “Wahai Rabb-ku! Ajarkan kepadaku sesuatu yang bisa kugunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah menjawab: “Katakanlah, wahai Musa: laa ilaaha illallaah.” Musa berkata: “Wahai Rabb-ku! Semua hamba-Mu mengatakan ucapan ini?”. Allah berkata: “Wahai Musa! Seandainya langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya selain Aku, demikian pula bumi yang tujuh diletakkan di atas daun timbangan, kemudian laa ilaaha illallaah di atas daun timbangan yang satu, niscaya yang lebih berat adalah timbangan laa ilaaha illallaah” (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih).

Nabi Musa ‘Alaih Salam bertanya akan dzikir yang paling baik, dan ia mendapatkan jawaban tauhid. Karena memang tauhid pujian paling tinggi untuk Allah Jalla wa ‘Alla, dan hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Bahkan doa yang diajarkan Rasulullah saat dilanda kesedihan adalah

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Yang Maha Agung, Maha lembut, Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Rabb Al ‘Arsy Yang Agung, Tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Rabbnya langit-langit dan Rabbnya bumi, Rabbnya “Arsy Yang Mulia.”( HR. Bukhari dan Muslim).

Doa yang lain, dari Abu Bakrah radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “doanya orang yang terkena kesulitan adalah:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Wahai Allah, Rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah sandarkan aku kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah keadaanku seluruhnya, tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 3294).

Doa yang lain, dari Anas bin Malik ia berkata, dahulu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika dilanda keresahan beliau membaca,

 يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Wahai yang Maha hidup, Maha berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4777).

Dari doa-doa yang di ajarkan Rasulullah saat di landa keresahan semuanya kembali kepada Tauhid, bersaksi bahwa dirinya adalah hamba dan Allah Rabb tempat bergantung, pertolongan hanya ada dariNya, tiada lagi yang berhak di sembah kecuali Allah, Rabb semesta alam, Rabb ‘Arsyal Adzim.

Namun, bagaimanakah agar Tauhid ini menjadi penawar bagi kesedihan?

Allah ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” (QS. Muhammad: 19).

Yaa, ketahuilah! Berilmulah! Bahwa tiada Tuhan yang berhak di sembah dengan benar melainkan Allah ‘Azza wa Jalla, itulah perintah Allah yang tersirat lewat ayat ini, selalu pertebalah ketauhidan dalam hati. Karena hati tidak akan tenteram kecuali dengan tauhid, dan tauhid tidak akan di dapat kecuali dengan ilmu.

Madinah, 24 Safar 1436
6 Desember 2015

***

Penulis: Muhammad Halid Syar’i

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/27887-hati-tenteram-dengan-tauhid.html

Cinta Pertama: Hanya kepada Allah

SEMUA pernah merasakan cinta pertama, ada suka dan duka, bahagia dan benci, senang dan sedih. Rasa ini senantiasa menghiasi setiap hari. Indah rasanya.

Tak heran, banyak yang mencurahkan cinta hanya pada manusia. Sesungguhnya sang Pencipta telah menanamkan benih-benih untuk mencintai dan dicintai.

Namun, karena keterbatasan manusia, tak jarang semuanya berakhir hampa dan terus merasa ada yang kurang. Cinta pertama seolah menjadi jalan kekecewaan yang menuntut mencari cinta yang lain.

Beruntunglah manusia yang menjadikan ‘cinta pertamanya’ hanya kepada Allah SWT. Dialah pemilik cinta manusia, cinta yang paling agung, paling tinggi dan paling abadi.

Sebagai manusia, kita menyukai kesempurnaan, mengelu-elukan orang terkenal seperti artis, orang pintar, genius, dan pahlawan. Mereka semua kita anggap sempurna. Kita mendambakan mereka tiap saat. Bahkan kita ingin seperti mereka. Pernahkah terpikirkan ada kesempurnaan yang maha sempurna dari orang-orang yang kita impikan itu? Kesempurnaan yang dimiliki Allah.

Kita senang dengan orang yang berbuat baik. Tak jarang jiwa pun akan mencintai seseorang yang berbuat baik pada kita. Namun adakah yang berbuat baik pada kita melebihi kebaikan Allah? Segala kebaikan dan nikmat yang kita rasakan, hanya berasal dari-Nya.

Jika demikian, tidakkah Allah berhak mendapatkan cinta kita? Mengapa kita tidak mencintai Allah, lebih dari mencintai sesama manusia?

Mengapa cinta kepada Allah tidak menghiasi relung jiwa, pikiran, dan hati kita? Dan mengapa kita lupa memberikan Cinta Pertama kita pada-Nya?

Rasa cinta ke sesama manusia membuat kita seakan menjadi budak perasaan. Kita begitu sedih jika orang yang kita kasihi tidak ada kabar, dan mungkin tidak peduli dengan kita. Tapi pernahkah kita memikirkan betapa sedihnya kekasih sejati kita, Allah Swt saat kita menomorduakan-Nya, saat kita bermalas-malasan saat telah ada panggilan untuk menjumpai-Nya, sujud pada-Nya.

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi Ala Ta’atik’

“Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu” [HR. Muslim (no. 2654) [Chairunnisa Dhiee]

Ajari Hati Selalu Ridho Bahagia, Caranya?

SELAMAT pagi saudaraku dan sahabatku. Sebentar lagi matahari akan terbit menyapa bumi. Ia tetap seperti biasanya, hadir membawa serta vitamin D dan cahaya penerang sudut-sudut bumi yang lama dalam gelap karena terselimuti malam. Kira-kira, bisakah kita sesetia matahari dalam memberikan vitamin kehidupan bagi orang lain dan dalam membuat terang hati manusia yang berada dalam ruang gelap kehidupan?

Untuk bisa seperti matahari, miliki vitamin-vitamin kehidupan yang dibutuhkan banyak orang. Belilah vitamin-vitamin itu dari apotek kehidupan, yaitu mushalla, masjid, madrasah dan pesantren. Tanyakan kepada para “petugas” atau pejabat yang menjaga apotek itu jenis vitamin dan fungsinya agar tak salah pilih dan salah konsumsi. Lebih dari itu juga, miliki sumber cahaya agar bisa menuntun yang lain menuju jalan yang dituju. Allah adalah sumber cahaya dan mengingatNya (dzikir) adalah cara “charging” yang paling jitu.

Mustahil akan mampu membahagiakan orang lain kalau dirinya belum bahagia. Mustahil bisa berbagi vitamin kepada orang lain kalau dirinya sendiri tak memiliki vitamin. Bagaimana mungkin akan menerangi jalan orang lain jika dirinya saja berada dalam gelap tanpa memiliki sumber cahaya terang. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah bahagiakan hati kita. Ajari hati kita untuk ridla bahagia.

Bagaimana cara mengajari hati menjadi ridla bahagia? Saya sangat tersentuh dengan anjuran atau nasehat Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi: “Janganlah Anda melihat apa yang hilang dari Anda, lihatlah apa yang masih tetap ada bersama Anda.” Saudaraku dan sahabatku, Anda masih punya banyak hal yang patut disyukuri, lantas apa alasan kita menghabiskan waktu untuk mengeluhkan apa yang hilang dan lepas dari kita. Kata nenek moyang kita: “Gugur satu, tumbuh seribu.” Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi |

Ciri Buta Hati

SAUDARAKU, kita sering merasa prihatin, kasihan, kepada orang yang matanya tidak bisa melihat (tuna netra). Padahal tidak bisa melihat dunia sebenarnya bukan masalah besar. Masalah yang besar itu adalah ketika hati yang buta. Apa hati yang buta itu? Yakni hati yang tidak bisa melihat kebenaran.

Salah satu ciri hati yang buta adalah tidak bisa membedakan mana yang kekal, dan mana yang fana. Kebutaan hati akan membuat seseorang tidak mengenal Allah SWT. Yang dikenalnya hanyalah dunia. Sehingga, orang yang mata hatinya buta, dia lebih sibuk mencari duniawi dibanding kedudukan di sisi Allah SWT.

Hati yang buta adalah disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosa yang terus-menerus kita lakukan. Hati yang buta adalah akibat dari dosa yang tidak kita taubati dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dampaknya, ia tidak bisa melihat cahaya kebenaran, ia akan tersesat dalam kehidupan dan celaka pada hari kemudian.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang buta hati. Kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberi petunjuk untuk selalu menjaga diri kita dari berbagai perbuatan yang bisa membutakan mata hati.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK