Kemenag Tetapkan Kuota Haji 2017, Ini Rinciannya

Kementerian Agama menetapkan bahwa kuota haji 1438H/2017M sebesar 221 ribu. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 75 Tahun 2017 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1438H/2017M.

Dalam KMA yang ditandatangani Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 9 Februari 2017 lalu, disebutkan kuota haji Indonesia pada 1438H/2017M sejumlah 221 ribu orang yang terdiri atas kuota haji reguler sebanyak 204 ribu orang dan kuota haji khusus sebanyak 17 ribu orang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Agama, Rabu (22/2).

KMA 75/2017 ini juga mengatur bahwa kuota haji reguler terdiri atas kuota jemaah haji reguler sebanyak 202.518 orang dan kuota petugas haji daerah (TPHD) sebanyak 1.482 orang. Sedangkan kuota haji khusus terdiri atas kuota jamaah sebanyak 15.663 orang dan kuota petugas sebanyak 1.337 orang.

Pembagian kuota bervariasi dari satu provinsi ke provinsi lain. Dari 33 provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mendapat kouta haji reguler terbanyak di atas 30 ribu. Sementara Nusa Tenggara Timur mendapat kuota paling sedikit yakni 670 yang terdiri atas 665 untuk jamaah reguler dan lima orang untuk petugas.

Kuota Jawa Barat sebanyak 38.852 orang yang terdiri atas kuota TPHD 259 orang dan jamaah haji reguler 38.593 ribu. Jawa Tengah mendapat kuota total 30.479, 254 di antaranya unguk TPHD dan untuk jamaah reguler 30.225. Jawa Timur mendapat kuota 35.270 dimana kuota 235 untuk TPHD dan 35.035 untuk jamaah.

Sementara untuk haji khusus, kuota jamaah haji sebesar 15.663 orang dan petugas haji 1.337. Kompisisi kuota untuk petugas haji khusus terdiri atas kuota untuk pengurus PIHK 756 orang, kuota pembimbing ibadah 378 orang, kuota dokter 189 orang, dan kuota pengurus asosiasi 14 orang.

Dalam KMA 75/2017 ini juga disebutkan, kepada gubernur yang hendak membagi kuota tersebut ke kabupaten dan kota, pembagian mempertimbangkan proporsi jumlah Muslim atau lama waktu tunggu di tiap kota dan kabupaten. Bila di akhir periode masa pelunasan BPIH masih ada sisa kuota, sisa kuota bisa digunakan sesuai aturan. Bila ada provinsi yang tidak memenuhi kuota haji reguler, maka kuota dapat diberikan kepada provinsi lain dalam satu embarkasi.

 

sumber:IhramCoId

Para Calon Haji Bersiaplah Agar Mampu Berjalan Jauh!

Tanpa terasa renovasi Masjidil Haram akan segera tuntas. Semenjak Ramadhan lalu bentuk perluasan mataf (pelataran tawaf) sudah bisa terlihat. Bagian bangunan berbentuk kerucut putih peninggalan Kesultanan Otoman sudah tidak akan terlihat lagi. Satu persatu pilar, atap, dan tembok banguan yang berdiri pada 1920-an dirobohkan. Lantai mataf kian leluasa hingga makin terasa lapang ketika melakukan tawaf,

Saat itu, sebelum tiba bulan Ramadhan, atau berbarengan dengan penggusuran bangunan atap berbentuk kubus putih tersebut, tempat tawaf sementara knock down juga ikut dibongkar. Satu persatu besi penyangganya dicopoti. Pagi, siang, malam, ratusan pekerja sibuk melakukan pembongkaran. Pekerjaan hanya berhenti ketika waktu shalat tiba.

Maka keluhan bila melakukan tawaf di lantai dasar atau berada di tempat tawaf yang di seputaran Ka’bah terasa sesak kini mereda. Namun, meski berbagai penyekat dari proyek perluasan masjidil haram dan bangunan lama di sekitar mataf itu sudah tak ada lagi, khusus untuk jamaah yang memakai kursi roda  tetap dilarang melakukan tawaf di mataf. Mereka diminta melakukan tawaf di lantai dua Masjidil Haram.

Sebagai akibat kian purnanya perluasan Masjidil Haram, maka bangunan ini pun akan segera semakin luas. Bangunan masjid baru yang berada di samping belakang kini sudah siap disambungkan. Tinggal beberapa pengerjaan finishing yang tengah dilakukan seperti pembuatan jembatan, pemasangan lantai, dan pengerjaan berbagai panel listrik, pendingin udara, dan lainnya.

Memang bagi jamaah umrah atau jamaah haji yang muda dan berbadan sehat suasana masjid yang lapang dan indah kini telah hadir di depan mata. Luas lantai tawaf (maaf) menjadi berlipat-lipat, kapasitasnya empat kali dari yang dahulu. Dipastikan, suasana berdesakan akan lumayan terurai terutama di masa akhir Ramadhan dan puncak haji.

Namun, setelah pacaperluasan lantai mataf usai,  beban baru jamaah lanjut usia atau mereka yang jamaah yang mengunakan kursi roda bertambah berat. Mereka harus melakukan tawaf di lantai dua Masjidil Haram. Akibatnya, jarak tempuh putaran tawaf enjadi semakin panjang. Setiap satu putarannya akan mencapai sekitar  satu kilo meter. Jadi kalau jumlah putaran tawaf mencapai tujuh putaran, maka nanti jamaah lansia dan mengenakan kursi roda tersebut, harus menempuh perjaanan hingga lebih dari tujuh kilo meter.

Tentu saja, setelah melakukan tawaf untuk menuntaskan ibadah haji atau umrah sebelum diperbolehkan melakukan tahalul, para jamaah harus juga melakukan sa’i. Prosesi untuk mengenang gerak Siti Hajar yang ini dilakukan dengan berjalan biasa hingga berlari kecil antara buit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, maka bila satu putaran tawaf jaraknya mencapai 500 meter, maka untuk tujuh kali jalan tersebut jamaah pun harus berjalan hingga 3,5 kilometer.

Alhasil bila ditotal, untuk menyelesaikan prosesi tawaf dan sa’i seorang jamaah haji dan umrah harus menempuh perjalanan sekitar 11 kilometer. Sebuah jarak yang lumayan jauh.

 

Lalu berapa lama tawaf diselesaikan seandainya ada jamaah yang mengantarkan orang tuanya melakukan tawaf dengan menggunakan kursi roda? Jawabnya: Memang relatif!

Mengapa demikian? Ini karena tergantung dari kemampuan jasmani, kesempatan waktu, suasana kepadatan area  tawaf yang ada di Masjidil Haram. Pada hari ketika tidak ada jamaah umrah (yakni setelah Idul Fitri sampai datangnya rombongan pertama jamaah haji), suasana arena tawaf memang masih lenggang. Orang tawaf memang masih tetap ada sepanjang waktu, cuma jumlahnya tak terlalu banyak. Bahkan antrean untuk mencium Hajar Aswad hanya sekitar sepuluh orang saja.

Nah, pada saat itu orang yang berada di Masjidil Haram dapat mencium Hajar Aswad secara lebih leluasa. Waktu untuk tawaf pun sangat singkat, tak lebih hanya 10 menit untuk tujuh putaran. Saking longgarnya pada saat itu bisa shalat sunat di Hijir Ismail sepuasnya atau berulang kali.

Namun, suasana ini sontak berbalik ketika jamaah haji sudah mulai berdatangan atau pada bulan-bulan biasa ketika kesempatan umrah dibuka. Area tawaf menjad hiruk-pikuk. Mencium Hajar Aswad dan shalat di Hijir Ismail atau berdoa persis di depan Multazam menjadi barang langka.

Nah, dalam suasana padat itu maka tawaf di lantai dua bersama para lansia dan jamaah yang memakai kursi roda benar-benar jadi pilihan. Bahkan, para asykar yang pada hari biasa masih mau memberikan sedikit kelonggaran bagi jamaah berkursi roda untuk tawaf di mataf, maka kala itu yakni bila  menjumpai jamaah seperti ini mereka pun  langsung mengarahkan agar naik tempat tawaf yang berada di lantai dua.

Alhasil, karena memakai area tawaf di lantai dua itu, waktu tawaf menjadi panjang yang awalnya tak lebih dari 10 menit itu. Berangkat dari pengalaman melakukan umrah pada awal pertengahan tahun lalu, bila melakukan tawaf di lantai dua sembari mendorong kursi roda, proses ini bisa memakan waktu hingga 3,5 jam. Dan total jendral, bila disertai dengan Sa’i ditambah istirahat serta mengerjaan berbagai shalat sunat dan istirahat, maka proses ini akan memakan waktu sekitar lima jam. Ini dijalani dalam suasana hari umrah biasa, bukan pada masa puncak haji atau akhir Ramadhan.

Semakin panjangnya jalur tawaf setelah usainya proyek perluasan Masjidil Haram dibenarkan salah satu pejabat di Kantor Urusan Haji (KUH) KBRI di Jeddah. Menurutnya, dengan semakin luasnya area tawaf, maka proses tawaf akan memakan jarak yang lama. Memang kalau memakai tempat tawaf di lantai dua dan sealigus menyelesaikan sa’i maka setiap jamaah harus menempuh perjalanan sepanjang 11 kiometer.

“Maka para calon jamaah haji harus menyiapkan kebugaran jasmani yang baik. Ingat ibadah haji itu lebih banyak merupakan ibadah fisik,’’ katanya.

Menyadari kenyataan tersebut, terutama untuk para calon haji dan umrah yang lanjut usia atau memakai kursi roda, mulai sekarang bersiaplah secara serius. Pahamilah bahwa haji itu ibadah yang membutuhkan kesemaptaan fisik. Paling tidak kepada para calon jamaah yang akan berangkat pada tahun ini, hendaklah semenjak hari ini hingga tiba waktu keberangkatan haji, merekai sudah terbiasa berjalan jauh.

 

sumber:RepublikaOnline

Ini Hal-Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat Haji

Kankemenag Kota Palembang H Darami memberikan bimbingan manasik haji mandiri kepada seluruh calon jamaah haji mandiri di daerah ini yang laksanakan di Masjid Baitul Amal. Kata dia, haji merupakan rukun Islam kelima yang dilakukan selama sebulan penuh di tanah suci.

Oleh karena membutuhkan waktu yang relatif lama dan waktu yang sudah ditentukan, kata Darami, maka setiap jamaah calon haji tentu harus benar-benar mempersiapkan diri, baik lahir dan batin. Perjalanan yang cukup lama dan jauh ini memerlukan persiapan yang cukup matang.

“Untuk itu, hal-hal yang perlu kita siapkan sebelum berangkat haji salah satunya adalah mental kita. Terutama menghilangkan perasaan dan pikiran negatif yang dapat mengganggu konsentrasi beribadah. Persiapan mental yang mencakup hal-hal yang terkait dengan kebersihan hati,” ujar darami.

Selain itu, kesiapan fisik (terutama kesehatan) juga harus benar-benar diperhatikan. Apalagi, kata Darami, perbedaan suhu udara antara di Tanah Air dan Tanah Suci Makkah jauh berbeda. “Jangan abaikan masalah kesehatan ini, terutama pada calon jamaah haji yang sudah lanjut usia. Bila dirasa kondisi tubuh ada sesuatu yang tidak biasanya, maka segera datangi petugas kesehatan,”ujarnya.

Selain itu, kata Darami, calon jamaah haji juga harus ikhlas meninggalkan apa yang kita punya sekarang baik harta, anak maupun istri atau suami. “Yakinlah bahwa Allah akan menjaga keluarga kita selama perjalanan haji yang sedang kita laksanakan dan yakin akan kemudahan serta pertolongan Allah SWT pada saat kita menjalankan ibadah di Tanah Suci,” ucapnya.

Darami juga berpesan, bahwa setiap ibadah, hendaknya diniatkan hanya untuk beribadah. Ibadah harus dilakukan semata-mata tulus dan ikhlas untuk Allah SWT. “Dengan meluruskan niat, kita berharap bisa memberishkan diri dari sikap riya, ujub, dan sombong,” ujarnya.

 

sumber:Ihram.co.id

Jangan Tergiur Umrah Berbiaya Murah, Ini Alasannya

Calon jamaah umrah diminta mewaspadai keberadaan biro perjalanan (travel) umrah ‘nakal’. Pasalnya travel jenis terbut hanya akan merugikan calon jamaah.

Anggota Komisi VIII DPR RI Khatibul Umam Wiranu mengatakan, masyarakat jangan mudah tergiur dengan travel umrah berbiaya murah. Harga murah di bawah standar  akan membawa dampak negatif bagi jamaah saat di Tanah Suci.

Misalnya penelantaran transportasi jamaah hingga katering makanan yang tidak layak. “Harusnya regulasi dibenerin. Untuk itu kami mengusulkan adanya undang-undang haji dan umrah,” kata dia kepada Republika.co.id saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2).

Namun mengingat proses pengadaan UU tersebut cukup lama, maka harus ada tindakan tegas kepada penyelenggara travel ‘nakal’. Politikus dari Partai Demokrat tersebut mengatakan tindak lanjut travel ‘nakal’ jangan hanya diserahkan ke kepolisian, tapi juga harus ada sanksi dari pemerintah misalnya dengan pembekuan izin travel.

Dia mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan tawaran umrah berbiaya murah plus iming-iming wisata tambahan dan lainnya. Selama ini, dia melihat jamaah umrah yang terlantar adalah mereka yang dijanjikan harga murah.

Jangan juga percaya travel umrah model multilevel marketing (MLM). Misalnya apabila satu orang bisa mengajak lima atau sepuluh orang umrah, maka seseorang tersebut bisa mendapatkan perjalanan umrah gratis.

“Banyak yang tertipu. Inginnya untung, tapi di ujung merugi, malah harus berurusan dengan polisi,” ujarnya.

 

 

sumber:Ihram.coid

Saudi Rancang Peraturan Perlindungan Jamaah Baru

Kementerian Haji dan Umrah mengeluarkan seperangkat aturan untuk melindungi hak-hak jamaah. Perlindungan termasuk tindak lanjut komite pengawasan dan pusat komunikasi penerima keluhan dan pengamatan.

Dilansir dari Saudi Gazette, Ahad (8/1), peraturan akan menjamin hak-hak jamaah asing dengan memantau komitmen dan layanan kontrak seperti akomodasi, makanan dan transportasi. Langkah itu merujuk kepada keluhan jamaah atas komite khusus yang akan memberikan hukuman terhadap pelanggar.

Hak keselataman dan kenyamanan saat melakukan umroh termasuk transportasi, pengiriman barang-barang, konformasi pemesanan tiket pesawat, dan tiket pesawat alternatif bagi yang hilang. Sedangkan, hak jamaah haji termasuk implementasi penuh dari kewajiban kontrak dengan perusahaan penyedia jasa.

Terlebih, jaminan keuangan terhadap perusahaan untuk memastikan mereka menghormati kontrak. Bahkan, kabarnya peraturan yang baru akan diterbitkan itu akan memastikan representasi di pengadilan atas kasus-kasus keberatan pelayanan haji dengan kompenasasi finansial.

 

sumber:Ihram.co.id

Arab Saudi Pulihkan Kuota Haji Tahun Ini

Pemerintah Arab Saudi telah memutuskan mengembalikan kembali kuota jamaah haji untuk tahun ini. Sebelumnya, pengurangan kuota jamaah haji telah diberlakukan selama lima tahun belakangan.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, yang juga Ketua Komite Haji, Putra Mahkota Muhammad Bin Naif, sepakat untuk mengembalikan kuota haji yang ada sebelum pemotongan. Dia pun berterima kasih kepada Raja Salman yang kembali menaikkan kuota baik bagi calon jamaah baik dari dalam maupun luar negeri.

Dia mengatakan, bahwa pihak yang berwenang telah melakukan persiapan untuk menerima jumlah tambahan calon jamaah untuk musim haji yang akan datang. Sebelumnya, otoritas yang berwenang memberlakukan pemotongan kuota 20 persen untuk calon jamaah dari luar negeri. Angka tersebut berlaku bagi masing-masing negara.

Sementara jumlah orang yang diizinkan untuk melakukan haji dalam Kerajaan Arab Saudi berkurang 50 persen. Pengurangan kuota tersebut untuk menjamin keamanan dan kenyamanan selama renovasi di sekitar Kabah dan beberapa proyek besar di tempat suci.

Muhammad bin Naif meminta, semua kementerian terkait bersiap-siap menerima sejumlah besar jamaah untuk haji mendatang. Dia memerintahkan, agar pemulihan kuota dilakukan secara bertahap.

Jumlah calon jamaah yang datang dari masing-masing negara akan ditentukan oleh Kementerian Haji dan Umrah. Namun, dia meyakinkan bahwa kuota setiap negara akan tetap utuh. Berdasarkan sistem kuota yang mulai berlaku pada dekade lalu, setiap negara diperbolehkan mengirimkan 1.000 warganya setiap musim haji.

Sejumlah perwakilan negara di Jeddah ikut mengapresiasi adanya pemulihan kuota haji. Salah satunya Konsul Jenderal India Mohammed Noor Rahman Sheikh. Menurut dia, itu adalah langkah besar. “Komite Haji India bisa mengakomodasi hanya seperempat dari pelamar setelah dipotong kuota. Kuota dikurangi untuk calon jamaah di bawah Komite Haji adalah 100.020 orang, tetapi jumlah pelamar melebihi 400 ribu orang tahun lalu,” ujarnya seperti dikutip Kashmir Reader, Ahad (8/1).

Sebanyak 136.020 jamaah India melakukan haji selama lima tahun terakhir setelah pengenaan pemotongan kuota pada 2012. Sebanyak 100.020 orang di bawah Komite Haji dan 36 orang lainnya datang melalui operator tur pribadi. Kuota India untuk haji 2012 adalah 170 ribu, tetapi kemudian pemerintah mengurangi kuota sebesar 20 persen.

 

sumber: Ihram.co.id


Download Aplikasi CEK HAJI, klik di sini!

Jamaah Haji Indonesia Puas dengan Layanan Haji 2016

Dari survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks kepuasan jamaah haji indonesia (IKJHI) di Arab Saudi pada 2016 menunjukkan jamaah puas dengan layanan haji yang diberikan.

Berdasarkan jenis layanan, petugas kloter mendapat penilaian kepuasan tertinggi dan transportasi Bus Armina mendapat apresiasi terendah.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, total keseluruhan sampel jamaah 18.500 orang yang dicuplik dari jamaah pemberangkatan gelombang satu, dua, dan jamaah yang sakit.

Jenis layanan yang dinilai yakni layanan petugas kloter, layanan petugas non kloter, layanan ibadah, layanan akomodasi, layanan bus, layanan catering, layanan Kesehatan, dan layanan lainnya.

Survei dilakukan menggunakan quisioner dan wawancara mendalam kepada jamaah haji. Selain itu petugas BPS juga melakukan observasi dengan mengamati fasilitas dan pelayanan sebagai pendukung saat analisis. Dari sana, dihasilkan Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI).

Secara keseluruhan, hasil survei BPS menunjukkan IKJHI 2016 sebesar 83,83 persen yang berarti memuaskan atau di atas standar. Angka itu membaik dari IKHJI 2015 sebesar 82,67 persen.

Dari sembilan jenis layanan, semua layanan sudah mendapat penilaian di atas 75 persen, tiga di antaranya bahkan sudah di atas 85 yakni layanan petugas kloter, transportasi Bus Shalawat, dan layanan ibadah.

”Layanan petugas kloter mendapat nilai sebesar 86,4 persen karena ada upaya khusus, di mana petugas kesehatan mendatangi jamaah ke pemondokan. Ini, karena banyak jamaah haji risiko tinggi pada 2016,” ungkap Suhariyanto dalam paparan IKJHI 2016 di hadapan Menteri Agama dan jajaran Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag di Kantor BPS, Selasa (15/11).

Bus Shalawat mendapat nilai 85,54 persen. Karena penambahan ada armada dan semua bus dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya. Rasio layanan Bus Shalawat pada 2016 mencapai satu berbanding 400 orang, membaik dari rasio satu berbanding 700 orang tahun 2015.

Pun bus antar kota juga dinilai lebih baik meski tetap ada saran perbaikan. Catatan dari jamaah diberikan pada Bus Armina. Sementara layanan ibadah diapresiasi dengan nilai 85,54 persen karena adanya tiga konsultan ibadah.

 

sumbe:RepubliaOnline

Dubes Saudi Janji Tambah Kuota Haji Indonesia

Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Osama Mohammed Al Shuibi berjanji negaranya akan memberikan tambahan kuota jamaah haji asal Indonesia. “Seperti diketahui saat ini ada renovasi di Makkah. Tapi kami akan memberikan penambahan ‘sedikit’ untuk membantu masyarakat Indonesia yang akan menjalani ibadah haji,” katanya seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa (15/11).

Menurut dia, penambahan itu akan diberikan sesegera mungkin setelah renovasi di Makkah selesai. Penyelesaian proyek itu sendiri diperkirakan memakan waktu hingga dua tahun ke depan. “Setelah dua tahun itu, saya jamin kuota haji setiap negara akan kembali tertata,” ujarnya di Kantor Wapres di kompleks Istana Merdeka, Jakarta.

Mengenai kemungkinan Indonesia bisa memanfaatkan kuota haji Filipina dan Singapura, Osama menegaskan tidak akan terjadi karena pengaturan kuota sudah disesuaikan dengan jumlah umat Islam di setiap negara. Sehingga tidak dapat diubah atau ditukar satu sama lain.

Meskipun demikian, pihaknya juga berjanji akan mempermudah urusan visa haji bagi jamaah haji asal Indonesia sekaligus keamanannya. Dalam kesempatan tersebut, Osama dan Kalla sama sekali tidak membahas mengenai ibadah umrah.

Dalam pertemuan pertamanya dengan Wapres itu, keduanya membahas peningkatan hubungan Arab Saudi dengan Indonesia. “Tidak hanya bidang keagamaan, kami juga membicarakan bisnis, kebudayaan, media, dan investasi,” ujarnya. Osama menambahkan bahwa pihaknya menginginkan Indonesia memberikan peningkatan investasi bagi pengusaha asal Arab Saudi.

 

Saudi Tambahkan Tanda pada Kain Kiswah Permudah Jamaah Tawaf

Kain penutup kabah yang dikenal dengan kiswah memiliki tambahan penanda. Pemerintah Saudi mengizinkan untuk menambahkan penanda awal dan akhir titik tawaf dimulai pada kain kiswah.

Dilansir dari Saudigazette, Selasa (15/11), pemerintah Saudi berharap, dengan tambahan penanda ini, jamaah haji dan umrah akan terbantu dalam menghitung jumlah thawaf yang telah dilakukan. Penanda ini berbentuk simbol Allahu akbar (Allah Maha Besar) dengan empat logo kecil.

Penambahan tanda ini dilakukan agar jamaah tidak mengalami kebingungan dan harus mengulang-ulang tawafnya. Tanda ini tepat berada di atas Hajar Aswad.

Sebelumnya, Saudi pernah menambahkan penanda garis berwarna coklat. Namun, penanda tersebut yang berdekatan dengan Hajar Aswad justru menyebabkan kerumunan yang memperlambat tawaf.

 

sumber: Republika Onlne

Paspor Palsu Filipina, Taruhan Nyawa, dan Perjalanan Berbahaya Jamaah Haji

Pada Kamis, 4 Agustus 12.08 WIB,  sebuah pesan pendek mampir ke telepon selular. Isinya mengejutkan, unik, dan sekaligus ajaib. Sebuah penawaran berangkat haji dengan harga selangit.

Isi pesan pendek (SMS,red) itu sebagai berikut: “Ass. Paket Haji Plus, daftar langsung berangkat tahun ini, tempat terbatas hrg US$ 13.500, Info hub: HP/WA 0812 xxxx xxxx.”

Bagi banyak orang yang suka memperhatikan isu soal haji, pesan pendek ini terlalu biasa. Apalagi pada saat yang sama juga ke luar ‘desas-desus’ baru bila ada peluang memakai jatah kursi haji milik negara Timor Leste. Harganya separuh dari tawaran tersebut, yakni sekitar 6.500 – 7000 dolar Amerika Serikat.

Dan tanpa diduga dipertengahan Agustus ini muncul berita menghebohkan. Sebanyak 177 calon haji dari Indonesia ditahan oyoritas imigrasi negara jiran Philipina. Dan setelah diusut, mereka ternyata memakai paspor dan visa haji asal negara itu. Maka publik pun geger. Apalagi para calon haji itu kini harus mendekam dalam rumah tahanan imigrasi di Filipina.

Maka kementerian luar negeri pun dibuat sibuk. Pekerjaan mereka bertambah yang tadinya hanya mengurus soal sandera WNI oleh kelompok Abu Sayaf, kini ditambah beban soal WNI yang terbelit visa dan paspor haji di Filipina.

“Saya tekankan kembali bahwa 177 jamaah haji WNI ini adalah korban, sekali lagi mereka adalah korban,” lanjut Menlu Retno Marsudi. Ia pun berjanji berusaha keras memulangkan mereka secepatnya ke Indonesia.

Minat berhaji orang Indonesia memang luar biasa. Antrean sudah begitu panjang. Jumlah yang mengantre sudah mencapai 2,5 juta orang. Tahun antrean pun dibanyak wilayah sudah mencapai 20 tahun.

Akibat panjangnya antrean berhaji, maka berbagai cara ditempun agar bisa menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima ini. Bukan rahasia bila banyak jamaah hajiberangkat dari negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan yang terakhir ‘tercium’ dari Filipina. Pendek kata, berbagai cara ditempuh asal bisa berhaji, tak peduli berangkat dari negara mana.

Mengacu pada kajian Martin van Bruinessen ‘Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji’ semenjak dahulu minta pergi haji orang asal Nusantara (Indonesia,red) tetap tinggi. Bahkan, di antara seluruh jemaah haji, orang Nusantara selama satu setengah abad  terakhir merupakan proporsi yang sangat menonjol. Pada akhir abad ke-19 dan  awal abad ke-20, jumlah mereka berkisar antara 10 dan 20 persen dari seluruh  haji asing, walaupun mereka datang dari wilayah yang  lebih jauh daripada yang lain. Malah pada dasawarsa 1920-an sekitar 40 persen dari seluruh hajiberasal dari Indonesia.

Orang Indonesia yang tinggal bertahun-tahun atau menetap di  Makkah pada zaman itu juga mencapai jumlah yang cukup berarti. Di antara semua bangsa yang berada diMakkah, orang ‘Jawah’ (Asia Tenggara) merupakan salah satu kelompok terbesar.

Sekurang-kurangnya sejak tahun 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua diMakkah, setelah bahasa Arab.

Kita tidak mempunyai data statistik mengenai jamaah haji Indonesia abad-abad  sebelumnya. Sebelum munculnya kapal api jumlah mereka pasti lebih sedikit, karena perjalanan dengan kapal layar cukup berbahayadan makan waktu lama sekali. Namun bagi umat Islam Indonesia ibadah haji sejak lama mempunyai peranan amat penting. Ada kesan bahwa orang Indonesia lebih mementingkan haji daripada banyak bangsa lain, dan bahwa penghargaan masyarakat terhadap para haji memang lebih tinggi. Keadaan ini mungkin dapat dikaitkan dengan budaya tradisional Asia Tenggara.

 

Martin selanjutnya menulis, perjalanan panjang dan berbahaya sebelum ada kapal api, perjalanan haji tentu saja ha rus dilakukan dengan perahu  layar, yang sangat tergantung kepada musim. Dan biasanya para haji  menumpang pada kapal dagang, berarti mereka terpaksa sering pindah kapal.

Perjalanan membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di Nusantara ke Aceh,
pelabuhan terakhir di Indonesia (oleh karena itu dijuluki ‘serambi Makkah’), di mana mereka menunggu kapal ke India. Di India mereka kemudian mencari  kapal yang bisa membawa mereka ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke  Jeddah.

Perjalanan ini bisa makan waktu setengah tahun sekali jalan, bahkan lebih. (Perjalanan Sultan Haji dari Banten, yang sudah pulang satu setengah  tahun setelah berangkat, terhitung cepat). Dan para haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Tidak jarang perahu yang mer eka tumpangi karam  dan penumpangnya tenggelam atauterdampar di pantai tak dikenal. Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau, malah, awak perahu
sendiri.

Para musafir haji yang sudah sampai ke tanah Arab pun belum aman juga, karena  di sana suku-suku Badui sering merampok rombongan yang menuju Makkah. Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji, di perjalanan maupun di tanah Arab.

Naik haji, pada zaman itu, memang bukan pekerjaan ringan. Tidak  banyak orang Nusantara yang pernah menulis catatan  perjalanannya, namun  dalam ceritera legendaris mengenai ulama-ulama besar petualangan mereka  dalam perjalanan ke Makkah sering diberikan tempat menonjol.

Penuturan yang sangat jelas mengenai kesulitan dan bahaya perjalanan dengan kapal layar ke Makkah ditinggalkan oleh pelopor sastra Melayu modern, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Abdullah naik haji p ada tahun 1854, tidak
ama sebelum kapal layar digantikan oleh kapal api.

Mendekati Tanjung Gamri di Seylon (Sri Lanka) kapalnya diserang angin kencang: Allah, Allah, Allah! Tiadalah dapat hendak dikhabarkan bagaimana kesusahannya dan bagaimana besar gelombangnya, melainkan Allah yang amat mengetahuinya. Rasanya hendak masuk ke dalam perut ibu kembali; gelombang dari kiri lepas ke kanan dan yang  dari kanan lepas ke kiri.

Maka segala barang-barang dan peti-peti dan tikar bantal berpelantingan. Maka sampailah ke dalam kurung air bersemburan, habislah basah kuyup. Maka masing-masing dengan halnya, tiadalah lain lagi dalam fikiran melainkan mati. Maka hilang-hilanglah kapal sebesar itu dihempaskan gelombang. Maka rasanya gelombang itu terlebih tinggi daripada pucuk tiang kapal. Maka sembahyang sampai duduk berpegang.

Maka jikalau dalam kurung itu tiadalah boleh dikhabarkan bunyi muntah dan kencing, melainkan segala kelasi selalu memegang bomba. Maka air pun selalu masuk juga ke dalam kapal. (…)

Maka pada ketika itu hendak menangis pun tiadalah berair mata, melainkan masing-masing keringlah bibir. Maka berbagailah berteriak akan nama Allah dan rasul kerana Kepulauan Gamri itu, kata mualimnya, sudah termasyhur ditakuti
orang:

“Kamu sekalian pintalah doa kepada Allah, kerana tiap-tiap tahun di sinilah beberapa kapal yang hilang, tiadalah mendapat namanya lagi, tiada hidup
bagi seorang, ah, ah, ah!’…..

Dari kajian Marin, pada masa itu, Belanda juga mencatat bahwa banyak orang yang telah berangkat ke Makkah tidak kembali lagi. Antara tahun 1853 dan1858, jemaah haji yang pulang dari Makkah ke Hindia Belanda tidak sampai separuh dari jumlah orang yang telah berangkat naik haji.

 

sumber: Republika Online