Ini Daftar Jamaah Haji Korban Crane Asal Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Sebuah crane besar jatuh di Masjidil Haram bersamaan dengan hujan lebat yang mengguyur Makkah disertai angina kencang pada Jumat (11/09), sore. Musibah ini menelan 107 korban meninggal dan 238 terluka.

Para korban adalah jamaah haji lainnya dari berbagai negara yang sedang beribadah di Masjidil Haram, termasuk jamaah haji asal Indonesia.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, dirinya secara resmi diutus oleh Presiden RI Joko Widodo untuk mengunjungi sejumlah program yang masih ada di rumah sakit. “Intinya, pemerintah sangat berduka atas musibah ini dan tentu mengharapkan para korban luka khususnya dan para keluarganya bisa lebih memperbesar sabar. Mudah-mudahan ada hikmah dari musibah ini,” kata Menag.

Menurut Lukman, Pemerintah Arab Saudi telah dengan seksama melakukan tindakan pengobatan dengan membawa para korban ke sejumlah rumah sakit. Korban di RS Annoor sudah ditangani para tenaga medis yang professional.

“Mudah-mudahan mereka segera pulih kembali kesehatannya. Tentu pemerintah akan memberikan santunan bagi korban jiwa maupun korban luka yang mengalami cacat fisik sebagaimana ketentuan asuransi yang ada pada setiap jamaah haji kita,” tambahnya.

Berikut ini daftar nama yang dirilis oleh Daerah Kerja Makkah:

1. ITI RASTI DARMINI, No Paspor: B0716645, Kloter: JKS – 023 (Keterangan: Wafat)
2. MASNAULI SIJUADIL HASIBUAN, No. Paspor: B1061545, Kloter: MES – 009 (Wafat)
3. SUJI SYARBAINI IRONO, No Paspor: B1306321, Kloter: BTH – 014 (dirawat BPHI Makkah)
4. ERNAWATI MUHAMMAD SAAD, No. Paspor A4761751, Kloter: BTH – 001 (dirawat di RSAS)
5. KURSIA NANTING LEMBONG, No. Paspor B0507644, Kloter: BTH – 017 (dirawat di RSAS)
6. NASRIAH BINTI MUHAMMAD ABDURRAHMAN, No Paspor: B1175082, Kloter: BTJ – 001, (dirawat di RSAS)
7. ARDIAN SUKARNO EFFIEN, No. Paspor: B0907275, Kloter: JKG – 007, (dirawat di RSAS)
8. TETI HERAWATI MAD SALEH, No. Paspor: B0941422,  Kloter: JKS – 005, (dirawat di RSAS)
9. APIP SAHRONI ROHMAN, No. Paspor: B0941479, Kloter: JKS – 005, (dirawat di RSAS)
10. EMMIWATY JANAHAR SALEH, No Paspor:  B1354467, Kloter: MES – 008, (dirawat di RSAS)
11. NUR BAIK NASUTION, No. Paspor: B1061239, Kloter: MES – 009, (dirawat di RSAS)
12. SOPIAH TAIZIR NASUTION, No. Paspor: A6773447,  Kloter: MES – 009, (dirawat di RSAS)
13. TRI MURTI ALI, No. Paspor:  B0396519, Kloter: PDG – 003, (dirawat di RSAS)
14. ZULFITRI ZAINI HAJI, No. Paspor: A3910753, Kloter: PDG – 003, ( dirawat di RSAS)
15. ZALNIWARTI MUNAF UMMA, No. Paspor: B0393772, Kloter: PDG – 004, (dirawat di RSAS)
16. ALI SABRI SELAMUN, No. Paspor: B0785804, Kloter: PDG – 007, (dirawat di RSAS)
17. UMI DALIJAH AMAT RAIS, No. Paspor B0957604, Kloter: SOC – 024, (dirawat di RSAS)
18. ENDANG KASWINARNI POERWOMARTON, No. Paspor: B1107076, Kloter: SOC – 046, (dirawat di RSAS)
19. DJUMALI JAMARI SETRO WIJOYO, No. Paspor: B1496896, Kloter: SOC – 052, (               dirawat di RSAS)
20. MURODI YAHYA KASANI, No. Paspor:  B0754094, Kloter:  SUB – 001, ( dirawat di RSAS)
21. HASAN MANSUR AHMAD, No. Paspor: B0746467, KLoter: SUB – 010, (dirawat di RSAS)
22. SAINTEN SAID TARUB, No. Paspor: B0992684, Kloter:  SUB – 015, (dirawat di RSAS)
23. NURUDDIN BAASITH SUJIYONO, No. Paspor:  B1035292, Kloter: SUB – 021, (dirawat di RSAS)
24. ISNAINY FADJARIJAH ABDUL DJUMALI, No. Paspor: B1052806, Kloter SUB – 021, (dirawat di RSAS)
25. SAHARMI UMAR PASSIRE, No. Paspor: B0590380, Kloter: UPG – 002, (dirawat di RSAS)
26. NORMA LATANG KULASSE, No. Paspor: B1161965, Kloter: UPG – 005, (dirawat di RSAS)
27. ROSNALLANG CACO BABA, No. Paspor: B0901348, Kloter: UPG – 005, (dirawat di RSAS)
28. HADIAH SYAMSUDDIN SAK, No. Paspor: B1162080, Kloter: UPG – 015, (dirawat di RSAS)
29. MUHAMMAD HARUN ABDUL HAMID, No . Paspor: B1163100, Kloter: UPG – 016, (dirawat di RSAS)
30. FATMAWATI ABDUL JALIL, No. Paspor: B1162645, KLoter: UPG – 018, (dirawat di RSAS)
31. ABDUL JALIL CONCI LETA, No. Paspor:  B1162600, Kloter:  UPG – 018, (dirawat di RSAS)
32. ROSDIANA MUDU TOHENG, No. Paspor: B1162756, Kloter: UPG – 018, (dirawat di RSAS); dan
33. ERNI SAMPE DOSEN,, No. Paspor: B1162715, Kloter: UPG – 018, (dirawat di RSAS).

Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan layanan telepon lewat nomor +966 543603154 yang bisa diakses langsung oleh keluarga jemaah Indonesia yang menjadi korban robohnya alat berat di Masjidil Haram.

“Nomor tersebut bisa diakses langsung sekarang,” kata Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat, Sabtu (12/09) dini hari.

Redaktur : Ilham

Dua Jamaah Haji Indonesia Wafat dan 21 Luka dalam Kecelakaan Crane

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Dua jamaah haji Indonesia dikabarkan wafat dalam kecelakaan jatuhnya crane di Masjidil Haram. Sementara korban luka dari Indonesia yang terdata mencapai 21 orang.

Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah, Alfarizi menjelaskan bahwa kedua jamaah haji Indonesia yang wafat tersebut berasal dari embarkasi Medan dan Jawa Barat. Sementara hingga saat ini korban luka yang terdata ada 21 orang yang tersebar di empat rumah sakit di sana.

Jamaah yang wafat ini rencananya akan dimakamkan di Arab Saudi. Pihak pemerintah akan melakukan koordinasi dengan pihak maktab untuk pemakamannya.

Redaktur : Joko Sadewo

‘Mewukufkan’ Ketauhidan Allah dalam Hati

Wukuf di Padang Arafah menjadi aktivitas puncak dalam ritual ibadah haji. Seluruh jamaah haji wajib melakukan wukuf atau berdiam di Padang Arafah dalam kondisi apa pun.

Namun, apa itu wukuf?
Guru Besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya, Aswadi mengatakan, jamaah perlu memaknai wukuf dalam prosesi ibadah haji. “Mengapa sih di Arafah? Apa yang dilakukan di Arafah? Apa itu wukuf?” kata dia, kepada jamaah haji yang tinggal di Pemondokan 208, Sektor 2, Mahbas Jin, Makkah, seperti dilaporkan wartawan Republika, Ratna Puspita, Selasa (8/9)

Secara harafiah, wukuf berarti berdiam diri atau berhenti. Namun, menurut Aswadi, pemahaman wukuf jangan terbatas pada berdiam diri di Arafah. Jamaah perlu mencamkan dalam diri bahwa wukuf di Arafah untuk mendapatkan ma’rifat atau pengertian yang maksimal.

Untuk mendapatkan pengertian yang maksimal, jamaah perlu mewukufkan ketauhidan dan iman kepada Allah Swt dalam hatinya. Setelah mewukufkan ketauhidan dan iman kepada Allah SWT, jamaah dapat mengembangkan agar menjadi pengajaran dalam kehidupannya.

Aswadi menerangkan makna wukuf di Padang Arafah harus dapat dikembangkan ketika jamaah berada di tanah air. Lalu, makna itu ditularkan sehingga jamaah dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat itu harus dikembangkan.

“Bukan berarti wukuf di sana lalu itu hanya berada di sana. Wukuf itu iman dan takwa berada di dalam hatinya menjadi pedoman sehingga dalam kehidupannya dapat menjadi kebaikan bagi masyarakat,” kata Aswadi.

Wukuf di padang Arafah merupakan salah satu rukun haji. Jika prosesi ini tidak dilakukan maka tidak sah ibadah haji seorang jamaah. Jika jamaah sakit maka dia harus disafariwukufkan. Apabila dia meninggal dunia sebelum sempat melaksanakan wukuf di Arafah maka dia harus dibadalhajikan. Ritual ini dilakukan mulai dari tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijjah.

Ikhlas

Prosesi setelah wukuf, yaitu mabit atau bermalam di Mudzalifah. Dari Mudzalifah, jamaah bergerak ke Mina untuk bermalam dan melontar jumrah. Aswadi menerangkan makna melontar jamrah aqabah adalah jamaah siap meninggalkan keburukan, dosa, dan noda. “Kita lempar sampai tujuh kali, itu adalah lapisan sistem kemanusiaan, sampai ruhnya terkena,” kata dia.

Aswadi mengatakan prosesi melontar jamrah jangan disertai dengan kebencian, kecongkakan, dan kebohongan. “Doa melontar itu dengan ridho Allah Swt,” kata dia. Dia menambahkan melontar disertai hati senang dan ikhlas untuk melepaskan segala yang buruk.

Setelah tahalul, Aswadi mengatakan, tidak berarti jamaah bebas melakukan hal yang buruk. Sebaliknya, jamaah harus meneruskan melakukan perbuatan positif dan menghindari hal-hal buruk.

 

sumber: Republika Online

Bersiaplah untuk Armina

Makkah (Pinmas) —- Jamaah haji asal Indonesia yang sudah berada di Makkah, Arab Saudi, harus mulai bersiap untuk rangkaian ibadah haji d Arafah, Mudzalifah, dan Mina (Armina) dua pekan mendatang. Jamaah diimbau menjaga kesehatan dengan tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram atau melakukan umrah berkali-kali.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dr Fidiansjah mengingatkan jamaah untuk menjaga kesehatan dengan memilih ibadah-ibadah yang termasuk rukun dan wajib haji. “Jangan terforsir dengan ibadah-ibadah sunnah yang akan meletihkan jamaah itu sendiri,” katanya, di Pemondokan Nomor 201, Sektor 2, Mahbas Jin, Makkah, Selasa (08/09).

Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dilakukan dalam berhaji. Rukun haji tersebut, yaitu, ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa’i, mencukur rambut, dan tertib. Rukun haji harus dilakukan secara berurutan dan menyeluruh. Jika salah satu ditinggalkan maka hajinya tidak sah.

Sedangkan wajib haji, yaitu memulai ihram dari miqat, yaitu batas waktu dan tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah haji dan umrah. Lalu, melontar jumrah, mabit atau menginap di Mudzdalifah, dan mabit di Mina, dan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda).

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan Pengawasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Tawwabuddin mengatakan, jamaah dapat mempersiapkan diri menjelang Arafah dengan berbagai cara. Pertama, jamaah jangan memaksakan diri melakukan umrah berkali-kali karena dapat membuat tubuh letih. Kedua, jamaah dapat melaksanakan shalat di mushala yang ada di hotel. “Karena fisik kita harus dipersiapkan untuk Arafah,” ujar dia.

Pelaksana Bimbingan Ibadah Daker Makkah Profesor Aswadi mengatakan, jamaah perlu mengingat bahwa mereka berada di Makkah yang merupakan tanah haram. Selama di tanah suci, menunaikan shalat di mushala hotel tidak mengurangi kemuliaan atau fadilah beribadah. “Walaupun di tempat masjid dan hotel dan sebagainya ini masih bersinergi dengan masjidil haram. Karena, ini di tanah haram,” ujar dia.

Tanah Suci memang memberikan kesempatan bagi jamaah untuk memaksimalkan perilaku dan nilai ibadah. Namun, Aswadi mengatakan, upaya mengoptimalkan ibadah harus dibarengi dengan usaha menjaga kesehatan. Dia pun mengingatkan jamaah memiliki kewajiban memelihara jiwa sekaligus menyehatkan akal dan fisik sehingga ruh ibadah bisa tercapai.

Dia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu di tanah suci untuk membesarkan kuasa Allah Swt lewat dzikir, tasbih, dan takbir. “Di mana pun, kapan pun, kita hanya melihat kebesaran dan keagungan Allah Swt,” ujar Guru Besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya, ini. (ratna/mch/mkd)

 

sumber: Portal Kemenag

Inilah Makna Shalat Arbain di Masjid Nabawi

Ustaz, selama 9 hari jamaah haji Indonesia melakukan arbain di Madinah. Apa sebenarnya makna arbain itu? Apakah masuk dalam rukun atau wajib haji? Amalan apa yang harus dilakukan selama arbain?

Ridwan
Bandung, Jawa Barat

Waalaikumussalam Wr Wb

Baik gelombang pertama maupun gelombang kedua, jamaah haji Indonesia akan melewati fase 8 atau 9 hari di Madinah. Baik sebelum maupun setelah ibadah haji. Sering dimotivasi agar melaksanakan shalat arbain di Masjid Nabawi. Makna “arba’in” atau “arba’un” adalah melaksanakan shalat empat puluh waktu tanpa terputus berjamaah di Masjid Nabawi.

Kadang jamaah merasa melaksanakan arbain ini menjadi keharusan dan ketika tidak bisa melakukannya maka ia sangat menyesal dan meyakini hajinya tidak afdhal bahkan tidak sah. Sebenarnya arbain itu sama sekali tidak termasuk “wajib haji” apalagi menjadi “rukun haji” karena semua kegiatan haji itu adanya di Makkah bukan di Madinah.

Kalaupun jamaah tidak sampai berziarah ke Madinah maka tidaklah ia melanggar kewajiban haji dan membayar dam. Begitu juga hal itu tidak berpengaruh terhadap sah atau tidaknya haji.

Selama di Madinah inti ibadah adalah memperbanyak shalat di Masjid Nabawi sesuai dengan sabda Nabi “Dari Abu Hurairah Ra bahwa Nabi SAW bersabda: ”satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhori Muslim). Hadis muttafaq ‘alaih yang tidak diragukan keshahihannya ini sebenarnya sudah cukup untuk menyemangati kita agar selalu berupaya memaksimalkan ibadah di Masjid Nabawi.

Adapun pelaksanaan arbain didasarkan pada hadis dari Anas bin Malik Ra “Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia  bebas dari kemunafikan” (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits ini tentu sangat mendorong untuk beribadah di Masjid Nabawi, akan tetapi Hadits ini ternyata banyak dikritisi oleh ulama. Sebagiannya menyatakan hadits ini dhoif  (lemah). Titik lemahnya adalah dimasukkannya Nubaith sebagai rawi yang memang tidak dikenal (majhul).

Syekh MuqbilAl Wadi’iy ulama hadis dari Yaman menilai bahwa hadit ini tidak shahih dari Rasulullah SAW. Syekh Nashiruddin Al Bany menilai hadits ini munkar ia menyatakan “sanad hadits ini dho’if. Ada seorang perawi yang bernama Nubaith yang tidak dikenal statusnya”. Syekh  Su’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini lemah karena status Nubaith bin Umar yang tidak diketahui.

Berbeda dengan pendapat Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawa’id yang mengatakan bahwa periwayat hadits di atas itu //tsiqoh// (terpercaya). Akan tetapi Syekh Nashiruddin Al Bany mengomentari “Beliau sudah salah sangka karena Nubaith bukanlah periwayat dari Kitab Shahih, bahkan dia bukan periwayat dari kutubus sittah lainnya”.

Hadis dari Anas Bin Malik Ra yang justru disepakati keshahihannya adalah hadits “arbain” lain, yaitu shalat berjamaah “empat puluh hari” yang membebaskan dari neraka dan bebas dari kemunafikan. Sabda Nabi SAW “Barangsiapa shalat empat puluh hari dengan berjamaah dan mendapati takbiratul ihramnya imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua perkara, yaitu bebas dari api neraka dan bebas dari kemunafikan” (HR Turmudzi).

Adapun amalan yang dikerjakan oleh jamaah selama  8 atau 9 hari di Madinah yaitu memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, berziarah ke makam Rasulullah, menghayati kehidupan Nabi dan para shahabat dahulu, mengambil ibrah dari tempat tempat bersejarah, serta kegiatan amal-amal saleh lain seperti banyak membaca Alquran, bersedekah, shalawat dan salam kepada Nabi, menyerap ilmu dari taushiyah yang diadakan di Masjid Nabawi atau masjid lainnya.

Bagi jamaah yang akan berhaji dari Madinah, maka arbain adalah momentum untuk lebih memahami syari’ah, meluruskan aqidah, dan membina akhlakul karimah agar saat melaksanakan haji ia benar-benar tercelup “sibghah”  keteladanan Rosulullah SAW.

Sedangkan bagi yang telah melaksanakan haji, Madinah adalah tempat yang sangat mulia dan berguna bagi pemantapan perjalanan ibadah haji yang baru dilaluinya. Madinah adalah tempat untuk mewisuda kemabruran haji. Rasulullah SAW adalah “syahidan” (saksi) dan “mubasyiran” (pemberi kegembiraan) bagi jihad jamaah dalam beribadah kepada Allah SWT.

 

Diasuh oleh: Ustaz HM Rizal Fadillah

 

sumber: Republika Online

Tanazul Diajukan di Makkah Dengan Beberapa Syarat

Madinah (Sinhat)–Jemaah haji Indonesia sejatinya tidak boleh melakukan pindah kelompok terbang (kloter) agar menjaga ketertiban pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji. Kendati demikian, terhambatnya proses penyelesaian visa mengakibatkan banyak jamaah haji Tanah Air yang berangkat tidak sesuai kloternya semula.

Kepala Daerah Kerja Madinah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah Jasam mengatakan, sebenarnya jemaah boleh saja pindah kloter (tanazul) asalkan memenuhi tiga kriteria. Pertama, jemaah haji yang sakit yang sehingga harus dipulangkan lebih cepat atau diundur keberangkatannya melalui kloter selanjutnya.

Kedua, kata Nasrullah, jemaah yang kembali ke kloter awal setelah ditunda keberangkatannya karena sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Adapun yang ketiga, jemaah haji yang harus pulang lebih cepat karena kepentingan dinas.

“Kepentingan dinas harus dibuktikan dengan surat tugas yang sah,” kata Nasrullah di Madinah, Arab Saudi, Rabu (26/08).

Dia menegaskan, guna memberikan hal pelayanan kepada jemaah haji dan kesesuaian pertanggungjawaban serta melaksanakan ketentuan dari Muassasah Adilla, jemaah tidak diperbolehkan melakukan proses (tanazul) selama di Madinah.

“Apabila ada jemaah yang sesuai tiga kriteria tadi dan harus melakukan (tanazul), maka seluruhnya dapat mengajukan prosesnya di daerah kerja Makkah,” ujar Nasrullah. (ismail/mch/ar)

Menag: Tidak Ada Istilah Gagal Berangkat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tidak akan ada yang gagal berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun ini kendati terdapat jamaah yang mengalami masalah visa.

“Tidak ada istilah gagal berangkat. Ini penundaan berangkat. Seluruh jamaah yang mendapatkan porsi dan ditetapkan berangkat haji tahun ini ‘insya Allah’ akan kami berangkatkan,” kata Menag Lukman seusai melepas penerima beasiswa Program 5000 Doktor di kantornya, area Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (24/8).

Menurut dia, memang ada sebagian jamaah yang tertunda keberangkatannya kendati penundaan itu hanya berlangsung satu-tiga hari pertama sejak keberangkatan kelompok terbang awal dilakukan 21 Agustus 2015.
Kemenag, kata dia, terus berupaya menyelesaikan persoalan visa calon jamaah haji ini. Bagi mereka yang tertunda keberangkatannya akan menjadi prioritas untuk diselesaikan urusan visanya.

Kendala visa, kata dia, banyak disebabkan oleh sistem digitalisasi dokumen haji “e-hajj” yang diterapkan oleh otoritas Arab Saudi mulai tahun ini. Sementara tahun lalu, sistem haji elektronik tersebut baru berupa tahapan uji coba.
Meski sudah diuji coba, kata Lukman, Kemenag tetap mengalami kendala dalam mengurusi visa haji.

“Antisipasi sudah dilakukan tapi terkait visa ini domain pemerintah Arab Saudi. Ini harus diketahui masyarakat luas bahwa permasalahan itu bukan di pihak pemerintah,” kata dia.

Sementara itu,Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil mengatakan masih terdapat 4.312 calon jamaah haji yang belum menerima visa dari otoritas Arab Saudi. Ditargetkan, semua jamaah yang visanya masih bermasalah akan kelar pada Senin malam.

Menag Jamin Konflik Yaman Tak Pengaruhi Jamaah Haji Indonesia

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin memastikan konflik yang terjadi di Yaman tak akan memengaruhi jamaah haji Indonesia.

Hal itu didasarkan pada jaminan yang diutarakan oleh pemerintah Arab Saudi kepada seluruh negara muslim yang mengirimkan jamaah haji.

“Pemerintah Arab sudah menjamin bahwa tahun ini jamaah haji akan mendapat pengamanan maksimal, konflik di Yaman sama sekali tidak akan pengaruhi mereka, jaraknya jauh dan sudah dijamin ya,” terangnya saat jumpa pers di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Jumat (21/8/2015).

Menurut Lukman, saat ini Indonesia akan memberangkatkan sekira 371 kloter seluruh Indonesia. “Total kloter 371, 210 kloter di angkut pakai Garuda, sisanya Saudi Airlines, untuk yang berangkat hari ini dari Jakarta ada 435 jamaah,” terangnya.

Sementara itu, Lukman mengatakan penginapan bagi jamaah haji tahun ini untuk di Madinah lebih dekat dibanding dengan tahun sebelumnya.

“Di Madinah paling jauh radius 1 km wilayah Markaziyah, sementara di Makkah awalnya karena ada rehab Masjidil Haram, maka banyak hotel yang di bongkar, jadi paling jauh 4 km,” tandasnya.

(fid)

 

sumber: OkeZone.com

Cegah Kepanasan di Tanah Suci, Alat Semprot Air Dibagikan Buat Calon Haji

Kementerian Agama Kantor Wilayah Sumatra Barat (Kemenag Sumbar) melalui panitia penyelenggara ibadah haji, akan membagikan alat semprot air untuk perlengkapan beribadah calon jamaah haji (calhaj) ketika berada di Tanah Suci.

Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Sumbar,Syamsuir menuturkan, pemberian alat semprot merupakan kerjasama antara pemerintah dengan BRI sebagai upaya untuk memberikan pelayanan dan persiapan kepada calhaj.

“(Perlengkapan) termasuk nanti dibagikan alat semprot air,” kata dia di Padang, Jumat (15/8).

Ia mengatakan, berdasarkan hasil komunikasi terakhir dengan direktur luar negeri, suhu di Tanah Suci mencapai 46 derajat Celsius.

Sehingga, menurutnya alat semprot air sangat berguna mengantisipasi kondisi cuaca yang akan dihadapi calhaj. Serta untuk mengantisipasi kondisi dehidrasi sampai heat stroke akibat suhu udara yang tinggi.

“Jadi semua jamaah diberi alat semprot, diisi air, jalan ke masjid bisa sambil semprot-semprot,” ujar Syamsuir.

Sebelumnya, melalui program pembinaan kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memantau kondisi kesehatan jamaah calon haji (calhaj) agar mereka benar-benar siap diberangkatkan ke Tanah Suci.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Fidiansjah menjelaskan, para calhaj juga akan diberi pelatihan untuk menghadapi kondisi cuaca dan lingkungan di Tanah Suci.

Misalnya, berlatih membiasakan diri minum air dua liter sehari, membiasakan terpapar panas matahari karena suhu di Tanah Suci saat musim haji nanti diprediksi di atas 40 derajat Celsius, serta membiasakan diri memakai masker.

Hal ini penting karena mereka akan berinteraksi dengan jamaah dari berbagai negara, termasuk jamaah dari sejumlah negara tertentu yang dinilai rentan menularkan virus berbahaya, seperti ebola dan virus korona yang menyebabkan sindroma pernapasan Timur Tengah (MERS).

 

sumber: Republika Online

Ini Pesan Kemenag untuk Calon Jamaah Haji

Memasuki musim haji tahun 2015, Kementerian Agama meminta calon jamaah memperhatikan beberapa hal agar proses ibadah haji dapat berjalan lancar. Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama, Abdul Djamil mengatakan, calon jamaah memiliki kewajiban untuk memperlajari tata urutan ibadah haji dan menghapal doa-doa yang diperlukan.

“Ini bisa dilakukan melalui buku yang sudah distribusikan ke seluruh Indonesia. Untuk menghapal doa juga bisa  lewat audio bagi yang tidak gaptek. Jadi upload doa tawaf dan syai dan dengarkan,” ujar Abdul Djamil saat ditemui di kantor kementerian Agama Jakarta, Senin (6/7).

Selain itu, calon jamaah haji diminta untuk memperhatikan kondisi kesehatan fisik dengan melakukan konsultasi dengan petugas kesehatan. Ini dikarenakan proses ibadah haji menuntut kesehatan fisik. Khususnya untuk risiko tinggi (risti) dan lanjut usia (lansia). Calon jamaah diminta juga untuk mempersiapkan air saat melakukan ibadah karena suhu di Arab Saudi mencapai 42 derajat celcius.

Ia melanjutkan, calon jamaah harus untuk mengikuti proses bimbingan yang dilakukan petugas haji. Sehingga dapat memahami apa yang harus dilakukan di minah dan Arafah.

 

sumber: Republika Online